Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are herePaskah

Paskah


Fenomena Figur & Jalur Independen (Bangun Demokrasi dari Sudut Pandang Paskah Kristus sebagai Paskah Politik)

Oleh: Sefnat A. Hontong

Ada satu narasi dalam kitab Injil Matius yang mengatakan bahwa sampai pada peristiwa Paskah Kristus masih ada juga beberapa murid Yesus yang merasa ragu-ragu dengan apa yang mereka alami (bandk. Mat. 28:17). Pertanyaan saya adalah: mengapa begitu? Menarik sekali adalah catatan yang dibuat oleh Douglas R.A. Hare dalam Mattew Interpretation, A Bible Commentary for Teaching and Preaching (p. 332-333), yaitu bahwa yang membuat mereka merasa ragu-ragu adalah bukan karena apa yang mereka lihat, melainkan karena apa yang mereka dengar.

Memang Douglas kelihatannya sedang mempertentangkan antara apa yang dilihat dan apa yang didengar orang. Bagi saya, sebenarnya tidak harus begitu. Apa yang dilihat orang dan apa yang didengar orang, adalah sama-sama penting dan sama-sama bisa menjadi referensi untuk mengatakan bahwa sesuatu itu benar. Namun kesimpulan seperti ini, hendak mengingatkan kita kepada pendekatan ala Barat yang rasionalistis, yang seringkali merasa curiga terhadap unsur kepercayaan mistis (agama asli) dalam narasi kitab Injil.

Paskah Melawan Harmoni Palsu

Oleh: Sefnat A. Hontong

Ke-harmoni-an adalah ide tertinggi dalam hidup bersama, bahkan sejak dalam agama asli dulu. Di Halmahera, orang melakukan itu dalam tradisi dan ritual ‘gomatere/gomahate’ saat terjadi gangguan dalam hidup mereka. Tujuan mereka adalah terciptanya sikon hidup yang harmoni, alias tidak ada pertentangan-pertentangan. Hal ini mau memberi petunjuk kepada kita bahwa ‘pertentangan’ adalah sesuatu yang negatif/tidak baik. Pertentangan adalah penghambat, bahkan penghancur yang harus diwaspai. Pertentangan adalah ‘musuh’ terbesar dari manusia yang menginginkan ke-harmoni-an/san dalam membangun hubungan-hubungan sosial. Pertentangan harus diantisipasi dan dijauhkan, jika bisa, ia tidak bisa muncul dalam hidup bersama.

Kebangkitan Kristus: Peristiwa Transformatif Bagi Orang Percaya

Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, SE, M.Th
 
Kekristenan memahami Paskah sebagai perayaan dan peringatan kebangkitan Kristus dari kematian. Kebangkitan Kristus (Paskah) tidak bisa dipisahkan dari peristiwa kematianNya (Jumat Agung) baik secara historikal maupun teologikal. Untuk mencapai tujuan penyelamatan maka signifikansi peristiwa yang satu hanya bisa dipahami dalam korelasi dengan peristiwa lainnya. Paulus menegaskan “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor 15:3-4).

Lalu, apakah arti dari kebangkitan Kristus bagi kita? Majalah TAHETA edisi April 2012 di halaman 8, saya menyebutkan enam signifikansi dari kebangkitan Kristus, yaitu : (1) konfirmasi kebenaran pernyataanNya dan kebenaran prediksi Kitab suci; (2) bukti keilahianNya; (3) Verifikasi korbanNya yang sempurna dan diterima Allah Bapa; (4) transformatif bagi manusia; (5) pondasi dari Kekristenan; dan (6) Memberi dampak pada kekekalan dan kekinian kita.

Aksesoris ‘Salib’ di Pinggiran Jalan

Oleh: Sefnat A. Hontong

Sejak tahun 2001 hampir di seluruh wilayah Halmahera di mana terdapat jemaat Gereja Masehi Injili di Halmahera (GMIH), selalu pada saat menjelang perayaan Paskah (masa pra Paskah); --seperti sekarang ini--, akan terlihat fenomena ‘Salib’ di pinggiran jalan. Seolah-seolah tanpa ‘salib’ di pinggiran jalan, belumlah lengkap suasana dan perayaan masa pra Paskah. Beberapa orang pernah bercerita dan menganalisa fenomena yang dianggap baru ini. Sebagian dari mereka mengatakan ‘tradisi’ ini diadopsi dari kebiasaan warga jemaat di Gereja Masehi Inili di Minahasa (GMIM) dalam merayakan masa pra Paskah. Sebagian lagi menyatakan merasa heran dan bingung karena fenomena ini secara tiba-tiba muncul dan terus lestari hingga kini.

Tanpa mempersoalkan dari mana tradisi ini disumberkan, saya lebih memilih untuk melihatnya sebagai sebuah fakta dari dalam, yang saya sebut dengan ‘fakta kontinuitas hidup pasca rusuh’, yang membutuhkan sebuah symbol aplikatif-survived. Berikut saya ingin menjelaskannya!

Masa Penghayatan Penderitaan Kristus

Oleh: Yon Maryono

Pada saat seorang pendoa dalam doanya mengucapkan kami tolak menderita, tolak sakit ginjal, tolak kemiskinan, tolak kegagalan dan sebagainya. Timbul pertanyaan pada diri saya, kalau menderita atau dianiaya oleh karena kebenaran Tuhan (Mat 5:10), bagaimana? Setiap manusia pasti pernah menderita. Ada banyak sebab manusia menderita: akibat perbuatan dosa, akibat perbuatan bodoh, atau karena hal itu merupakan realitas hidup di dunia yang berdosa ini. Namun, ada juga orang yang menderita karena kehendak Allah untuk menunaikan misi-Nya, termasuk para Rasul Yeus yang akhir hidupnya mati karena dianiaya, disiksa, disalib bahkan dipenggal kepalanya seperti Rasul Paulus. Dalam fakta kehidupan, manusia tidak bisa berbuat lain kecuali menghadapinya. Oleh karena itu, pemahanan makna penderitaan yang salah dapat menimbulkan sikap rohani yang salah pula. Seseorang dapat menyalahkan diri sendiri, bila ia tidak berhasil atau gagal atau terserang penyakit. Biasanya pertanyaan yang muncul: Apa dosa saya kepada Tuhan? Padahal sakit gatal karena tidak pernah mandi, dianggap penyakitnya terjadi karena dosa, atau di PHK karena krisis ekonomi akibat dosanya. Bukankah Nabi Elia juga terkena dampaknya ketika terjadi kekeringan (I Raja-raja 17:5-6)?

Oleh karena itu, merenungkan makna penderitaan adalah penting, karena karena penderitaan itu merupakan fakta yang tidak dapat kita hindarkan. Justru di dalam dunia sekuler diyakini No Crisis No Growth. Inilah salah satu maksud penetapan perayaan minggu-minggu sengsara, yang dikenal masa Pra-Paskah, dalam kalender gerejawi. Sebuah penghayatan terhadap penderitaan Yesus untuk direnungkan dan dihayati maknanya dalam kehidupan kita.

The Forgiven Unforgiven

Pengirim: Andy Lesmana

Namaku tidaklah penting. Sejarah tidak mencatatnya. Arkeolog tidak dapat menemukan apa pun tentang aku. Atau mungkin mereka tidak berniat mencarinya. Aku sama tidak pentingnya seperti namaku. Tapi aku mau menceritakan sebuah kisah. Sebuah cerita tentang hidupku. Sebuah kisah dari sudut pandangku. Sebuah cerita dari tangan pertama. Sebuah kisah yang aku percaya sangat penting untuk kamu ketahui. Sebuah cerita untuk hati yang patah. Sebuah kisah untuk kaum terbuang. Sebuah cerita untuk yang kesepian. Sebuah kisah tentang setiap kita. Sebuah cerita yang dapat mengubah hidupmu.

Dapat dikatakan hidupku berwarna. Sebagian besar gelap. Ya, aku pernah jatuh cinta. Aku pernah tertawa. Aku pernah bahagia. Tapi seringnya aku merasa disisihkan. Aku dilupakan. Aku ditinggalkan. Aku tidur dengan rasa takut sebagai bantal, dan penderitaan sebagai selimutnya. Aku tidak ingin seperti ini, tapi inilah aku. Aku terjebak menjadi pribadi yang aku benci. Mungkin aku dikutuk.

Signifikansi Kebangkitan Kristus

Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th *

“Esensi Injil adalah kematian dan kebangkitan Kristus. Jika Kristus tidak dibangkitkan dari kematian, maka iman kita menjadi sia-sia dan Injil bukanlah kabar baik” - by STG -

Kematian dan kebangkitan Kristus tidak bisa dipisahkan, baik secara historikal maupun teologikal. Signifikansi peristiwa yang satu hanya bisa dipahami dalam korelasi dengan peristiwa lainnya. Kedua peristiwa ini penting untuk mencapai tujuan penyelamatan Allah (Roma 4:25).

Adakah Makna Paskah Telah Kehilangan Arah?

Oleh: Yon Maryono

Perayaan Paskah telah berlalu bersama waktu. Sederetan acara dalam liturgi dan perayaan Paskah, dimulai dari Penderitaan, Kematian dan Kebangkitan Yesus Kristus, kelihatan sedemikian pentingnya. Liturgy didasarkan bacaan Alkitab yang bersumber dari leksionary telah dipersiapkan 5 pekan berturut-turut. Rangkaian proses liturgi disertai drama tentang jalan salib, dan kotbah tentang pengalaman Maria telah melihat Tuhan, adalah bagian dari prosesi yang diharapkan mampu menggugah jemaat terhadap peristiwa kurang lebih 2000 tahun yang lalu. Demikian pula kotbah dan perayaan di bebeapa denominasi Gereja tidak kalah meriahnya. Kotbah Paskah selalu mengingatkan anak-anak Allah tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan Kristus serta menerima tubuh dan darah-Nya, sehingga mereka kembali pada cara hidup yang kudus dan selalu siap diutus berbagi hidup bagi dunia.

Seorang Narapidana yang Menerima Anugerah

Oleh: Pendeta Jeremiah C.

Lukas 13:39-42

Yesus yang dipercayai oleh orang Kristen adalah Kristus yang telah disalibkan. Apakah Anda tahu implikasi dari Yesus yang telah disalibkan? Hari ini, Gereja seringkali menggambarkan Yesus dengan penuh kemuliaan disalibkan di atas kayu salib. Namun, rasul Paulus melukiskan Yesus yang tersalib sebagai batu sandungan bagi orang Yahudi di 1 Kor.1:23 dan dipandang sebagai suatu kebodohan di mata orang-orang non-Yahudi. Jika penyaliban Yesus adalah suatu hal yang mulia, mengapa hal itu menjadi batu sandungan bagi orang Yahudi? Mengapa orang non-Yahudi memandang peristiwa itu sebagai kebodohan?

Apa arti penting kebangkitan Yesus bagi kita?

Oleh: Pendeta Eric Chang
(1 Petrus 1:3)

Apa arti penting kebangkitan Kristus bagi kita?

Hari ini, saya ingin menjelaskan makna dari kebangkitan Yesus untuk kita. Apakah makna penting dari kebangkitan Kristus? Yesus telah bangkit dari antara orang mati, dan itu merupakan hal yang baik karena dia tidak perlu terus mati. Akan tetapi apakah hubungannya dengan saya? Apakah hubungannya dengan Anda? Apa itu kebangkitan? Apakah hubungan antara kematian dan kebangkitan Yesus dengan setiap dari kita?

Tinggalkan Komentar