Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereMasyarakat

Masyarakat


Paskah Melawan Harmoni Palsu

Oleh: Sefnat A. Hontong

Ke-harmoni-an adalah ide tertinggi dalam hidup bersama, bahkan sejak dalam agama asli dulu. Di Halmahera, orang melakukan itu dalam tradisi dan ritual ‘gomatere/gomahate’ saat terjadi gangguan dalam hidup mereka. Tujuan mereka adalah terciptanya sikon hidup yang harmoni, alias tidak ada pertentangan-pertentangan. Hal ini mau memberi petunjuk kepada kita bahwa ‘pertentangan’ adalah sesuatu yang negatif/tidak baik. Pertentangan adalah penghambat, bahkan penghancur yang harus diwaspai. Pertentangan adalah ‘musuh’ terbesar dari manusia yang menginginkan ke-harmoni-an/san dalam membangun hubungan-hubungan sosial. Pertentangan harus diantisipasi dan dijauhkan, jika bisa, ia tidak bisa muncul dalam hidup bersama.

Membangun Masyarakat yang Jujur dan Benar

Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh
 
Sebagai warga gereja dalam terang kesetiaan kepada Tuhan, dan tanggung jawab sebagai warga negara banyak tugas dan tanggungjawab orang Kristen yang dapat dilakukan untuk membangun bangsa Indonesia. Kita harus memperjuangkan kondisi dan situasi masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kejujuran dan kebenaran apabila kita tidak mengasihi sesama dimana kita tinggal.

Bertekad melakukan perubahan yang lebih baik. Inilah tugas yang menjadi prioritas dari setiap orang Kristen, yaitu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, karena bangsa kita sedang dilanda persoalan-persoalan yang di dalamnya termasuk korupsi yang marak mendapat perbincangan di Republik ini, seperti yang ditayangkan media cetak dan televisi swasta akhir-akhir ini.

Waras

Oleh: Lay Sion Antonius

Dalam sebuah perkuliahan, seorang dosen menceritakan sebuah kisah sebagai berikut: Di sebuah desa pada suatu saat timbul sebuah mata air. Lambat laun mata air ini berubah menjadi sebuah danau kecil. Lalu lewatlah seorang pengembara dan berkata kepada penduduk desa, air di danau tersebut jangan pernah di minum, sebab setiap orang yang meminumnya pasti akan menjadi gila. Setelah mendengar larangan pengembara tersebut, terjadilah perdebatan diantara penduduk desa, ada yang percaya dan ada pula yang tidak mempercayai ucapan si pengembara. Pada hari itu semua kembali ke rumah masing-masing tanpa sesuatupun yang terjadi. Rupanya malam itu ada seorang penduduk yang terus memikirkan hal tersebut dan dia termasuk orang yang tidak percaya pada perkataan si pengembara. Esok harinya dia bertekad untuk menjadi orang pertama yang membuktikan kebohongan si pengembara. Ia mengambil air di danau tersebut lalu meminumnya dan seketika itu juga orang tersebut menjadi gila.

Perempuan dan Masyarakat

Penulis : Bagus Pramono

3.1. PEREMPUAN YANG CANTIK

Dalam stereotip masyarakat kita, masih menuntut bahwa perempuan harus selalu tampil cantik, sehingga subur sekali sekali lahan-lahan produk-produk kecantikan, dan fasion. Sungguh mujur para perempuan yang terlahir cantik, berbahagialah atas anugerah ini. Menjadi cantik dan menarik mungkin menyebabkan perempuan lebih mudah mendapatkan pasangan, pujian, atau bahkan pekerjaan. Tetapi apakah kecantikan fisik selalu berakibat baik? Malah kita melihat banyak perempuan yang memang aslinya sudah cantik mempunyai tekanan yang lebih besar daripada perempuan yang kurang, atau tidak cantik. Mengapa? Mereka sering mengalami tekanan untuk mempertahankan kecantikannya, tekanan karena takut tua, takut menjadi gemuk sehingga menyiksa diri dengan sangat membatasi nutrisi yang dimakan, atau tekanan karena "she is just simply beautiful". Kadang kadang seorang yang cantik itu mempunyai tekanan, bahwa kecantikannya itu akan menjadi sasaran pelecehan seksual.

Tinggalkan Komentar