Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereKekerasan

Kekerasan


Kekerasan Oleh & Kepada Siapa

Oleh: Sefnat Hontong

Abstraksi:

Tulisan ini mempersoalkan mengapa ada fakta kekerasan dalam masyarakat. Jika pada lazimnya orang berpandangan bahwa kaum laki-lakilah sang pelaku kekerasan, maka saya dalam tulisan ini hendak berpendapat bahwa kekerasan sebenarnya dilakukan oleh orang yang ‘kuat’ dan punya ‘kedudukan’ tertentu. Oleh karena itu, ia (kekerasan) bisa saja dilakukan baik oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Dimana pembuktian ide itu saya buat dengan cara melihat pengalaman secara pribadi lalu menganalisanya berdasarkan beberapa pemikiran yang sedang bergulir sekarang ini (metode komparatif).

Dulu Aku Hanya Seorang Pengemis

Kesaksian: Suparno

Dari kolong sebuh jembatan, Suparno dan kelima adiknya dibesarkan. Ia berasal dari keluarga yang turun-temurun bekerja sebagai pengemis. Karena keadaannya Suparno sepertinya tidak memiliki harapan untuk mengubah nasibnya.

Saya turun ke jalanan sejak umur lima tahun. Saya sekolah dari kelas satu SD sampai kelas enam saja. Saya dibiayai dari hasil bapak saya mengemis. Waktu saya kelas satu kelas dua saya punya cita-cita menjadi polisi. Bapak saya pernah bilang: "Kita orang susah, kita orang miskin, jangan neko-nekolah (macam-macam)". Kata-kata semacam itu tertanam dalam pikiran saya. Cita-cita itu musnah dalam hidup saya. Bahkan saya pernah berpikir saya tidak layak di dunia ini.

Perempuan dan Masyarakat

Penulis : Bagus Pramono

3.1. PEREMPUAN YANG CANTIK

Dalam stereotip masyarakat kita, masih menuntut bahwa perempuan harus selalu tampil cantik, sehingga subur sekali sekali lahan-lahan produk-produk kecantikan, dan fasion. Sungguh mujur para perempuan yang terlahir cantik, berbahagialah atas anugerah ini. Menjadi cantik dan menarik mungkin menyebabkan perempuan lebih mudah mendapatkan pasangan, pujian, atau bahkan pekerjaan. Tetapi apakah kecantikan fisik selalu berakibat baik? Malah kita melihat banyak perempuan yang memang aslinya sudah cantik mempunyai tekanan yang lebih besar daripada perempuan yang kurang, atau tidak cantik. Mengapa? Mereka sering mengalami tekanan untuk mempertahankan kecantikannya, tekanan karena takut tua, takut menjadi gemuk sehingga menyiksa diri dengan sangat membatasi nutrisi yang dimakan, atau tekanan karena "she is just simply beautiful". Kadang kadang seorang yang cantik itu mempunyai tekanan, bahwa kecantikannya itu akan menjadi sasaran pelecehan seksual.

Sepenggal Duka Dari Bandung

Penulis : Joshua MS

Siang yang terik. Gemah Ripah, nama taksi yang membawa rombongan kami, meluncur menyusuri jalanan Kota Bandung. Entah karena efek global pemanasan bumi atau apalah, Kota Bandung sekarang sungguh berbeda bila dibanding 10 tahun yang lalu. Waktu itu untuk pertama kalinya aku mengunjungi Bandung, suhunya masih terasa sejuk. Itulah sebabnya setiap kali liburan semester, aku lebih suka ke Bandung daripada pulang kampung ke Sumatera. Gedung itu beralamat di Jalan Dewi Sartika Nomor 104 Bandung. Gedung yang lebih mirip sebagai rumah toko, memanjang ke belakang. Sepintas aku sudah dapat menduga-duga bahwa ruangan-ruangan yang ada di dalamnya pasti mirip ruko. Kami segera membongkar bagasi taksi. Siang ini, kami akan berbagi kasih dengan anak-anak Panti Asuhan Peduli Kasih. Kami membagikan paket sembako dan paket perlengkapan sekolah. Beberapa anak dengan sigap menyambut paket yang aku jinjing. Mereka sungguh terlatih untuk membantu dan melayani. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya muncul dari pintu bagian dalam. Dengan senyuman yang ramah, wanita itu menyalami kami.

Tinggalkan Komentar