Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereKesaksian / Sebuah Kesaksian Kesembuhan

Sebuah Kesaksian Kesembuhan


Oleh : Herlianto

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! (Matius 7:21-23)

Kelihatannya banyak orang yang berseru kepada Tuhan dan mengadakan banyak nubuatan, menyembuhkan bahkan melakukan mujizat ternyata bukan dari Tuhan bahkan ditolak Tuhan, kalau begitu apakah mujizat terutama kesembuhan Ilahi masih dilakukan Tuhan sekarang? Penulis juga sering mengalami kesembuhan ilahi secara pribadi maupun keluarga, atau mendoakan orang lain, baik mendatangkan kesembuhan instan, gradual, ataupun tidak sembuh, dan dari pengalaman itu ada dua pengalaman tentang pembuluh darah yang bisa kita renungkan.

Pada medio 1988, anak penulis mengalami demam tinggi dan muntah-muntah. Ketika dibawa ke dokter langsung dimasukkan rumah sakit dan dari scanning diketahui terjadi perdarahan otak. Setelah pemotretan angiography dideteksi bahwa penyebabnya adalah kelainan formasi pembuluh darah halus otak yang bocor sejak bayi dan biasanya baru diketahui setelah terjadi perdarahan (AVM = Arterio Venous Malformation). Setelah pengobatan konvensional diberitahukan bahwa pembuluh halus yang bocor itu bisa setiap waktu mangalami perdarahan lagi secara fatal bak bom waktu! Kelainan pembuluh otak harus dioperasi dan biayanya mahal dan itupun kala itu hanya bisa dilakukan di Amerika, Eropah atau Jepang. Saudara ipar di Amerika siap membantu bedah otak asal bisa kesana, saudara ipar bendahara Yabina yang neurolog di Nederland ingin mengusahakan disana, dan dokter bedah saraf otak Satyanegara mengusulkan di Kyoto, semuanya membutuhkan dana besar.

Menghadapi ini penulis mempertanyakan Tuhan mengapa penulis yang telah meninggalkan dunia sekular untuk melayani harus menyediakan dana begitu besar, yang tidak menjadi masalah kalau berpraktek arsitek? Dalam situasi demikian penulis sekeluarga berdoa dengan tekun mohon mujizat Tuhan. Heran pada malam Natal 1988 ada informasi di TVRI bahwa ada tehnik pengobatan baru yang tanpa operasi tapi dengan kateterisasi (dengan menyemprotkan zat penyumbat ke bocoran) yang kala itu belum dikenal di Indonesia, informasi mana segera diminta melalui TVRI dan dokter di Amerika Serikat yang ditayangkan TVRI. Mujizat lain terjadi karena kawan dokter tadi yang lebih senior dari Paris akan mendemonstrasikan penemuan baru itu di Singapura! Pada bulan Oktober 1989 pengobatan dijalankan dengan berhasil di General Hospital dan National University Hospital. Mujizat ini bukan usaha manusia tetapi anugerah Allah! Kesembuhan ini disaksikan di majalah Panasea (Maret 1990).

Enam mujizat dialami, yaitu: (1) Tidak perlu dibedah otak tapi dengan tehnik kateterisasi saja; (2) Pengobatan dilakukan di Singapore yang dekat; (3) Dirumah sakit pemerintah yang murah; (4) Mendapat potongan 50% biaya dokter; dan (5) Ada spontanitas teman yang punya apartemen di Singapore untuk ditempati; dan (6) Ada teman yang mencukupi biaya operasi (malah lebih hingga bisa dikembalikan setengahnya). Dari keseluruhan ini biaya yang dikeluarkan hanya sekitar 15% saja dari kalau dibedah otak secara konvensional. Sekalipun dokter menyuruh 6 bulan kembali ke Singapore untuk check-up, penulis tidak kesana karena yakin Tuhan sudah menyembuhkan secara total, dan saat ini sudah 17 tahun lewat dimana si anak yang kala itu masih di SMP bisa berhasil menyelesaikan S-1nya, bahkan sudah setahun ini mencoba bermukim dinegeri dingin tanpa biaya orang tua. Puji Tuhan!

Lain lagi pengalaman penulis. Di tahun 2002 sering dirasakan rasa sakit di dada yang makin kerap terjadi, bahkan ketika melayani di Semarang dirasakan tiga kali rasa sakit dalam waktu 2 hari! Sekembali ke Bandung langsung ke dokter dan di threadmill dan malam itu juga disuruh ke dokter di Jakarta, dan besoknya langsung di kateterisasi, terjadi penyempitan di beberapa tempat dan harus dibalonisasi (tidak di by-pass). Penulis berdoa mohon mujizat kesembuhan Tuhan tetapi Tuhan tidak memenuhi permintaan, itu berarti pembuluh darah jantung harus dibalonisasi. Sementara menunggu dokter yang dua minggu mengikuti seminar di mancanegara dengan istirahat yang cukup sambil doa tetap dipanjatkan dan 10 pelayanan dalam waktu tiga bulan kedepan terpaksa dibatalkan termasuk undangan ke Pematang Siantar, Medan, Serukam, Denpasar, dan Australia.

Mengapa Tuhan tidak menyembuhkan secara ajaib kasus pembuluh darah yang sama padahal anak penulis bisa mengalaminya dan malah 10 pelayanan harus dibatalkan? Rupanya Tuhan punya rencana lain dan mendidik penulis karena selama ini kurang menjaga kesehatan dan keenakan ditraktir jemaat sering makan makanan berlemak (kasus kolesterol mulai mencuat ketika pulang dari mengikuti Billy Graham School of Evangelism 1997 dan mampir ke LA dan dijamu dan menghabiskan satu piring besar kepiting). Sudah 30 tahun penulis melayani dengan non-stop dan belum pernah cuti dan baru kali ini bisa berdiam diri selama 3 bulan untuk mengevaluasikan pelayanan dan setelah dilakukan balonisasi bisa mempersiapkan beberapa buku baru dan pelayanan melalui internet dan sesudahnya dirasakan kesehatan yang jauh lebih prima dari sebelum balonisasi sehingga pelayanan meningkat! Di tahun 1995 penulis berjalan di The Great Wall dan hanya kuat berjalan di tembok miring itu sejauh 200 meter saja dan sekarang seminggu tiga kali bisa berjalan 4 Km di jalan miring pegunungan.

Penulispun beberapa kali diminta mendoakan orang-orang yang sakit parah dan dalam kondisi tidak tersembuhkan. Dalam situasi demikian penulis sering mendoakan mereka dan meminta Tuhan mendatangkan mujizat kesembuhan yang tuntas tetapi jikalau Tuhan berkenan hendaklah Tuhan memanggil si penderita karena penderitaan penderita dan keluarganya sudah tidak tertanggungkan. Mengherankan beberapa di antara mereka benar-benar dipanggil Tuhan dalam beberapa hari sesudah didoakan, padahal mereka sudah berstatus hidup tidak matipun tidak selama berbulan-bulan! (Ada penginjil penyembuh yang men sugesti jemaat agar tetap mendoakan dengan iman menuntut Tuhan menyembuhkan sambil menumpangi jenazah isterinya!)

Yesus tetap sama dari dahulu sampai sekarang, dan Yesuspun banyak menyembuhkan orang tetapi tidak semua disembuhkan dan tidak melakukan penyembuhan massal. Ia dikerumini banyak orang yang memegang jubahnya dan hanya seorang yang disembuhkan, Ia menyembuhkan 10 orang berpenyakit kusta dan hanya seorang yang memiliki hubungan iman dengan Dia, dan menurut Yesus, orang buta yang disembuhkan bukan buta karena dosa orang tua atau dosanya sendiri tetapi agar firman Tuhan dinyatakan!

Paulus juga melakukan pelayanan kesembuhan dan Timotius disembuhkan olehnya tetapi Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit, bahkan Paulus sendiri mengalami sakit tubuh (Gal.4:13) dan tiga kali meminta doa kesembuhan tetapi tidak disembuhkan dan dijawah Yesus: dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2Kor.12:7-10). Rasul Paulus justru merasakan ketidak sembuhannya sebagai kasih karunia Tuhan yang mengingatkannya agar meninggikan diri dan mengandalkan kekuatan diri sendiri!

Lalu bagaimana dengan praktek kesembuhan ilahi pada masa kini? Umumnya: (1) Konsep penebusan yang ekstrim dan keliru yang menganggap bahwa penebusan Kristus memulihkan tubuh manusia dari sakit-penyakit dan kematian; (2) Kesembuhan ilahi masakini sudah banyak disusupi praktek perdukunan/new age (words of faith) yang menekankan hubungan sebab akibat bahwa beriman pasti sembuh kalau tidak beriman tidak sembuh, ini menjadikan banyak yang tidak sembuh frustrasi dan putus asa karena merasa ditolak Tuhan (bukan kebetulan bahwa para penginjil Words of Faith menganggap manusia = allah-allah kecil ); (3) Para penginjil kesembuhan masakini menjadikan kesembuhan sebagai promosi utama demi popularitas berpusat diri dan memperkaya diri, dan menempatkan kesembuhan sebagai prestasi sipenginjil dan ketidak sembuhan sebagai kesalahan sipenderita yang dianggap kurang beriman; dan (4) Kejahatan seperti penipuan dilakukan banyak penginjil penyembuh yang umumnya memperkaya diri dan hidup mewah dan menjadikan doa dan kesembuhan sebagai komoditi, menipu jemaat dengan hipnose massa dan trik-trik promosi kesembuhan, dan menyihir jemaat memberikan persembahan. Semua ini jauh berbeda dengan rasul Paulus sendiri yang tidak disembuhkan padahal ia adalah pahlawan iman dan menekankan konsep iman yang membuat banyak orang bertobat, dan menyerahkan kemuliaan kepada Tuhan.

Banyak media sekuler sudah menyorot mal-praktek dikalangan penginjil penyembuh yang lebih banyak menghasilkan kesembuhan semu karena sugesti dan menolak adanya pemeriksaan medis atas mereka yang dianggap sembuh, KKR kesembuhan ilahi masakini lebih merupakan penyajian teatrikal dengan hipnose massa, jadi dapat dimaklumi kalau adanya kesembuhan-kesembuhan sugestif yang kemudian dirasakan beda kalau seseorang sudah keluar dari situasi ibadat massal yang memukau itu. Memang tidak bisa dibantah bahwa KKR demikian bisa mendatangkan kesembuhan, tetapi kesembuhan perdukunan bukankah termasuk yang disalahkan Tuhan Yesus pada ayat di atas? Tidak juga mustahil adanya orang yang benar-benar memiliki hubungan iman pribadi yang erat dengan Tuhan dan disembuhkan saat ia memohon dalam suasana KKR, dengan iman yang sama ia sebenarnya bisa disembuhkan kalau berada di gereja yang sepi. Kesaksian penulis diatas terjadi mula-mula dirumah dan penulis adalah anggota gereja yang tidak biasa dengan ibadat kesembuhan ilahi.

John Sung juga melakukan kesembuhan ilahi, tetapi berbeda dengan penginjil masakini, John Sung menekankan percaya kepada Yesus dan pertobatan sehingga membuat seorang yang beristeri muda bertobat dan kembali kepada isteri sahnya, dan pertobatan seorang konsul yang akhirnya membentuk sekolah Alkitab yang sekarang sudah menghasilkan ribuan hamba Tuhan. Ia mendoakan secara khusus orang-orang dengan sering meminta foto mereka untuk diingat dan ia tidak memperkaya diri karena keluarganya sering hidup dalam kekurangan, bahkan gelar doktornya dibuang dan tawaran sebagai direktur perusahaan mesiu ditolak demi menjadi berkat sebagai pelayan kerajaan Allah.

Lepas dari semua itu, gereja-gereja memang harus meminta kuasa Tuhan dalam penyembuhan sakit-penyakit di kalangan jemaat gereja, dan para penginjil yang banyak berpraktek kesembuhan ilahi agar memikirkan ulang prakteknya dan tidak mengulangi kesalahan para penginjil kesembuhan yang banyak menipu jemaat, dan kembali menjalankan doa kesembuhan yang tidak palsu yang tidak dikarenakan hipnose massa dan kekuatan batin iman penderita dan sugesti penginjil yang mempraktekkan perdukunan, melainkan dengan doa disertai iman, dan berharap Tuhanlah yang menyembuhkan atau tidak menurut kehendak-Nya dan bukan menurut kehendak manusia!

Tinggalkan Komentar