artikel
Anda Kristen?
Oleh: Hendry
Anda Kristen? Anda bergereja? Anda mencintai Tuhan? Tahukah anda seharusnya kalau kita menjawab semua pertanyaan di atas dengan kata “iya”, seharusnya kita menjadi Kristen yang radikal. Namun kenyataannya kita tidak seperti itu bukan? kehidupan kita biasa-biasa saja dengan suatu kekristenan, bahkan kita cenderung lebih tertarik membahas hal tentang politik, berita, gosip, dan semua tentang dunia ini daripada hal tentang Tuhan.
Berani Karena Benar Dalam Persepsi Alkitab
Oleh : Yon Maryono
Kita sering mendengar ungkapan “Berani karena benar” ini, bahkan sebagai nasehat penting dalam kehidupan. Dalam bahasa jawa dikenal Nglurug tanpo bolo, menang tanpa ngasorake. Sebuah ungkapan filosofi jawa yang dalam terjemahan harfiah bahasa Indonesia, adalah : Mendatangi lawan tanpa bantuan, menang tanpa menghinakan (lawan). Maknanya, berani menghadapi siapapun, permasalahan apapun tanpa mengharapkan bala bantuan dari orang lain, dan menempuh kemenangan dengan cara elegan, tanpa harus mempermalukan lawan yang dikalahkan. Sifat berani yang dimaksud dalam konteks ini ialah sebuah karakter orang yang berjiwa besar karena perkataan dan tindakannya menegakkan dan mempertahankan kebenaran tanpa rasa takut mengahapi maut atau kematian sekalipun.
Memotong Siklus Balas dendam
Oleh : Yon Maryono
Hampir berita dunia khususnya diwilayah Timur Tengah akhir-akhir ini
diwarnai dengan kekerasan. Seorang remaja Arab di Yerusalem dilaporkan
menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh tiga pemuda Israel.
Diperkirakan kejadian ini menjadi bentuk balas dendam atas
meninggalnya tiga remaja Israel yang sebelumnya diculik. Berita
selanjutnya, serangan roket baik dari Gaza dan dari Israel semakin
sering dilakukan menyusul adanya pembunuhan tiga remaja Israel dan
remaja Arab tersebut.
Mengenal Diri
Oleh: Daniel Yosafat
Apa yang terlintas di dalam benak Saudara ketika mendengar kata
empowering? Bisa jadi yang terlintas adalah Saudara sedang menguatkan
orang lain dan membantu mereka untuk mencapai potensi mereka. Namun
sebelum hal itu terjadi kita harus memahami dasar dari meng-empowered
orang lain. Sesungguhnya yang terjadi adalah sebelum kita mengenal dan
menerima diri kita sendiri, kita tidak akan pernah merasa secure dan
akibatnya kita juga tidak akan pernah dapat meng-empowered orang lain
dengan maksimal. Hubungan kita dengan orang lain akan selalu dipenuhi
oleh motif-motif tertentu yang membuat kita tidak bebas untuk melihat
orang lain apa adanya dan mengasihi mereka. Oleh karena itu, sebelum
kita mulai membahas untuk meng-empowered orang lain, kita harus
belajar untuk mengenal diri kita terlebih dahulu.
Apakah Yesus Mengijinkan Perceraian? Sebuah Kajian Teologis Eksegetis Matius 19:3-12
Khotbah Ibadah Raya GBAP Bintang Fajar Palangka Raya
Pdt. Samuel T. Gunawan, SE., M.Th
Teolog Protestan Kharismatik, Pendeta di GBAP Bintang Fajar Palangka
Raya; Dosen Filsafat-Apologetika Kharismatik di STT AIMI, Solo.
Mendapat gelar S.E. dari Universitas Negeri Palangkaraya (UNPAR),
gelar M.Th. (Christian Leadership) & gelar M.Th. (Systematic Theology)
dari STT Trinity
Mencintai Hidup Berarti Meng”harga”i Hidup
Judul dari artikel ini sesungguhnya tercetus ketika melihat label
harga (price tag)yang tercantum di setiap produk yang ditawarkan di
pusat-pusat perbelanjaan. Pada saat itulah muncul pemikiran bahwa
kita, secara sadar atau tidak, seringkali menaruh label harga atau
price tag terhadap segala sesuatu, termasuk anak, pasangan, keluarga,
teman bahkan pada diri kita sendiri. Segala sesuatu memang memiliki
nilai dan harga. Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di
Korintus menulis demikian,”Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang
jugapun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus
menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya
demikian.”(2 Korintus 5:16). Menilai berarti menaksir harga atau
kualitas dari sesuatu. Di sini terlihat dengan jelas bahwa bagi
Paulus, seseorang atau bahkan Tuhan Yesus pun memiliki ”nilai” atau
”harga”. Mencintai hidup (Loving Life) memang tidak dapat dilepaskan
dari meng”harga”i hidup dan itu dimulai dari bagaimana cara kita
meng”harga”i diri kita sendiri.
Lihatlah Pada Pekerjaan Tuhan dan Bersukacitalah Karenanya (Mazmur 66:5-7)
Sahabat, saat ini banyak sekali peristiwa yang menyita perhatian kita:
- pesawat penumpang jatuh/hilang,
- penyebaran virus ebola yang mematikan,
- peperangan tiada henti di Gaza/Suriah/Irak,
- pembunuhan disertai mutilasi di Riau,
- pembunuhan brutal dan tak manusiawai oleh ISIS,
- .... masih banyak lagi
Ketika Pintu Sudah Ditutup
Oleh : Renida Ambarita
Di hari Senin sore itu saya sedang berada di satu bank swasta terkenal. Ditemani anak gadis saya yang berusia 11 tahun, saya ingin melakukan satu transaksi perbankan yang tidak bisa dilakukan lewat atm tetapi harus lewat teller atau cashier. Begitu selesai memarkirkan kendaraan saya, sedikit tergesa-gesa kami bergegas masuk ke gedung karena waktu sudah menunjukkan pukul 14.55 wib, itu artinya hanya ada waktu 5 menit saja, karena tepat pukul 15.00 wib jam operasional bank sudah ditutup untuk semua nasabah yang akan masuk, kecuali mereka yang sudah berada di dalam gedung sebelumnya.
Waspadalah Bangun dan Bangkit
Oleh: Nikodemus Rindin
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat.
Karena itu kuasailah (control) dirimu dan jadilah tenang
bersiap siaga seperti penjaga yang siap menunggu kepulangan presiden),
Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
(1 Petrus 4:7)