Membajak

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Ajaran Tuhan Yesus memukau atau menggugah di sepanjang zaman. Beberapa ajaran Tuhan Yesus menggunakan istilah-istilah atau kosakata dari agrikultural/pertanian. Hal ini menarik bagi saya.

Zaman berubah dari masa ke masa. Teknologi berkembang menjadi lebih baik dan menjadi efisien. Kompor minyak tanah sudah ditinggalkan, sekarang beralih ke kompor gas. Ada banyak orang berhenti abunemen telepon. Pesawat telepon mulai ditinggalkan dan beralih ke pesawat HP. Sistem konvensional pada transportasi sudah mulai ditinggalkan, dari taxi sistem konvensional berubah menjadi sistem online, dengan Grab, misalnya. Dan, jika kita lanjutkan pada bidang lain, ada daftar yang panjang.

Poin saya adalah, bahwa walaupun sekarang sudah sangat modern, tetapi dunia pertanian yang sederhana sekalipun masih menjadi dunia yang bisa dipahami pada zaman ini.

Dari dunia pertanian, Tuhan Yesus menyampaikan bahwa iman sebesar biji sesawi bisa memindahkan gunung. Biji sesawi itu sangatlah kecil, jika digambarkan, dia hanya sebesar titik. Lebih kecil dari tanda koma. Namun, jika biji sesawi itu sudah bertumbuh menjadi pohon, pohonnya bisa besar.

Di lain kesempatan, Tuhan Yesus membahas tentang:
- benih dan 4 macam tanah
- pokok anggur
- bunga bakung
- pohon ara
- gandum
- dan sebagainya.

Saya tidak akan membahas semua. Kali ini, kita mempelajari satu ayat saja. Di dalam Injil, ayat berikut ini hanya ditulis oleh Lukas. Lukas 9:62, Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." Semua kerajaan memiliki aturannya sendiri. Di sini, jelas kualifikasi apa yang dikehendaki dari Kerajaan Allah.

1. Pertama, siap untuk membajak.
Membajak itu perlu suatu kesiapan. Yang artinya adalah tidak semua orang siap. Ini bukan sekadar bicara mampu atau tidak mampu. Bisa atau tidak bisa. Pandai atau tidak pandai. Cakap atau tidak cakap. Ini bicara soal kesiapan.

Pekerjaan saya mendongeng. Saya perlu mencari buku yang siap dipakai sebagai bahan mendongeng. Kemudian, saya perlu membaca buku itu hingga saya menguasai alur dan tokohnya. Mungkin, saya perlu membacanya beberapa kali hingga saya menghafalnya. Setelah itu, barulah saya siap menyampaikan dongeng. Kesiapan itu sendiri ada langkah-langkahnya, ada prosesnya. Bukan ujuk-ujuk siap. Bukan sekejap, lalu tiba-tiba siap.

Baru-baru ini, ada yang viral di WA, yaitu video Bapak Jokowi yang naik motor menuju arena ajang opening ceremony Asian Games 2018. Apakah kemeriahan dan kemewahan opening ceremony itu tanpa persiapan? Berapa lama persiapannya hingga mereka bisa tampil sempurna dan rapi? Bagaimana persiapan teknis untuk lighting dan sound system-nya?

2. Kedua, kata "membajak" itu menarik. Masa membajak adalah masa mempersiapkan tanah yang subur. Masa membajak adalah masa meninggalkan tanah yang keras. Sebaik apa pun benih yang akan ditaburkan jika tanahnya keras, benih itu akan kesulitan untuk berakar. Alhasil adalah benih yang bagus dan mungkin mahal itu akan terganggu pertumbuhannya sehingga tidak maksimal hasilnya.

Dalam sebuah nyanyian syukur karena berkat Allah, pemazmur menggunakan kata "bajak". Demikian bunyi Mazmur 65:11:

"Engkau mengairi alur bajaknya, Engkau membasahi gumpalan-gumpalan tanahnya, dengan dirus hujan Engkau menggemburkannya; Engkau memberkati tumbuh-tumbuhannya."

Yang artinya adalah bahwa jikalau Tuhan memberkati, maka sejak masa membajak itulah, berkat Tuhan sudah tercurah. Sebelum benih ditaburkan, Tuhan sudah memberkati segala persiapan menyambut benih.

Di bagian kitab hikmat, penulis kitab Amsal juga menaruh perhatian tentang "membajak" dan dia menggunakan ini pada salah satu ayatnya, Amsal 20:4,

"Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa."

Membajak adalah pekerjaan orang rajin. Sebaliknya, pemalas akan melipat tangannya. Apakah orang malas akan dipakai Tuhan? Mungkin saja, tetapi orang rajin akan memiliki dampak yang punya kuasa dan luas kuasanya.

Ada satu peristiwa perjumpaan Nabi Elia dan Nabi Elisa ketika Elisa sedang membajak. Tuhan memanggil orang yang sedang bekerja keras,
1 Raja-raja 19:19,

"Setelah Elia pergi dari sana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya."

Ayat itu bicara soal luasnya tanah dan kekayaan Elisa. Tanah yang sempit tidak akan dibajak dengan 12 pasang lembu. Hanya orang yang sangat kayalah yang akan membajak tanahnya dengan 12 pasang lembu. Lembu yang dipakai untuk membajak saja ada 24 ekor. Apakah masih ada lembu yang lainnya? Yang jelas Tuhan bukan hanya memanggil seseorang menjadi nabi dari kalangan ekonomi sedang ataupun miskin, Alkitab juga mencatat ada orang kaya yang dipanggil Tuhan menjadi nabi-Nya. Yang menarik, yaitu orang kaya yang rajin, itulah yang menjadi kesukaan Tuhan.

Di dokumen yang lebih kuno lagi, yaitu pada masa Yusuf, dengan jelas dituliskan bahwa membajak itu dikaitkan dengan tuaian. Tujuh tahun tidak membajak artinya 7 tahun tidak ada tuaian. Kejadian 45:6,

"Karena telah dua tahun ada kelaparan dalam negeri ini dan selama lima tahun lagi orang tidak akan membajak atau menuai."

3. "tetapi menoleh ke belakang"

Bukan hanya bicara soal kesiapan membajak, tetapi ada syarat lain lagi, yaitu tidak diperkenankan menoleh ke belakang. Berkonsentrasilah untuk apa yang ada di depan mata. Arahkan pandangan mata ke depan. Itulah kualifikasi untuk Kerajaan Allah.

Ingatlah istri Lot yang menoleh ke belakang, seketika itu juga dia menjadi tiang garam.

Sebagai penutup, saya akan menyampaikan sebuah fabel. Ada domba nakal. Domba yang tidak mau mengarahkan pandangannya ke depan. Ketika semua kawanan domba pulang ke kandang yang aman, domba nakal menoleh ke arah lain. Dia mengikuti kata hatinya sendiri.

Dia tidak tahu betapa bahayanya jauh dari gembalanya. Baru dia menghirup napas kebebasannya, sudah tiba di dekatnya serigala lapar. Domba mencoba merayu serigala buas.

"Aku tahu bahwa kamu akan menerkam aku, tetapi tunggulah dahulu barang sejenak saja."

"Wah, kamu tidak bisa luput dari cengkeramanku. Walaupun kamu lari sekencang-kencangnya, aku pasti bisa mengejarmu."

"Ah, aku bukannya mau lari. Aku mau mengajarimu cara makan yang nikmat."

"Apa katamu?"

"Aku mau mengajarimu cara makan yang nikmat."

"Hmm, bagaimana itu?"

"Begini loh, aku tadi 'kan banyak makan rumput. Dari siang hingga sore, aku makan, makan, makan rumput. Di perutku, ada banyak sekali rumput hijau, tetapi rumput itu belum dicerna. Supaya rumput itu cepat dicerna, aku harus banyak gerak. Jadi, aku akan menari-nari. Entar rumput di perutku cepat hancur dan menjadi daging sehingga dagingku tebal dan lezat."

"Oh, begitu yach? Masuk akal."

Domba melepas kalung loncengnya.

"Nah, aku ada kalung lonceng. Entar kamu bunyikan lonceng ini. Buatlah ritme. Aku akan menari mengikuti ritme itu."

"Ritme itu apa?"

"Ritme itu ketukan. Begini contohnya." Domba memberi contoh ritme dari suara lonceng.

Ketika domba sudah menari-nari beberapa saat, domba menghentikan,

"Stop!"

"Kenapa berhenti?"

"Serigala, kamu kurang keras. Yang keras dong!"

Serigala membunyikan lonceng keras sekali hingga suaranya sampai ke telinga gembala yang ada di kandang.

Gembala mendengar suara lonceng itu. Maka gembala menyuruh dua anjing herder untuk menyelamatkan dombanya yang hilang.

Dua anjing itu menyerbu serigala. Maka selamatlah domba nakal itu. Domba itu pulang dan dia bertobat. Dia bertekad selalu mengarahkan pandangannya ke depan.

-- 20 Agustus 2018

Kata Kunci: