Paskah dan Bencana Alam

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Penulis : Dr. Eben Nuban Timo (Pendeta GMIT)

Paskah menurut PL dan PB:
PASKAH berasal dari kata Ibrani, Pasach. Artinya berlalu. Kata ini menggambarkan berlalunya masa hidup sebagai budak di Mesir selama 450 tahun dan dimulainya masa sebagai orang merdeka untuk berjalan menuju tanah perjanjian. Sepuluh bencana yang dahsyat berada di belakang mereka. Di depan mereka menanti sepuluh firman yang memberi kehidupan dan sukacita (Maz. 19:8 dst). Tetapi yang masuk ke dalam janji kehidupan sukacita itu Israel sebagai satu bangsa harus menjalani satu disiplin hidup yang ketat. Mereka perlu belajar menanggalkan kebiasaan-kebiasaan dan praktek hidup yang lama sekaligus melatih diri dengan pola dan perilaku hidup yang baru. Pasach di Israel berhubungan dengan peristiwa keluaran (rexodus) dari tanah Mesir, negeri perbudakan (Kel. 20:2).

[block:views=similarterms-block_1]

Kata Pasach punya hubungan dengan kata Pesach, artinya bergegas. Kata ini menunjuk pada suasana perayaan Pasach. Pada perayaan itu segala sesuatu harus dilakukan secara cepat, buru-buru. Makanan yang disiapkan tidak perlu dipersiapkan secara lambat. Daging pada pesta itu tidak boleh dipotong kecil-kecil. Waktu makan pun harus dilakukan sambil berdiri. Waktu tangan yang satu menyantap makanan, tangan yang lain memegang tongkat atau memikul ransel. Sepatu sudah harus dipasang di kaki. Pesta itu diadakan dalam suasana bersiap-siap untuk pergi (Kel. 12:110).

Masa baru itu sangat menarik sehingga Israel harus bergegas untuk meninggalkan suasana hidup lama dan menerima hidup dan status baru yang ada. Jauh hari setelah peristiwa exodus Pesach tetap dirayakan, juga masih dalam keadaan siaga. Ini sengaja dibuat supaya generasi muda (anak-anak) dalam keluarga mengajukan pertanyaan: "Apakah artinya perayaan ini?" (Kel. 12:26). Pertanyaan ini menjadi pintu masuk bagi tiap orang tua untuk mengisahkan kembali peristiwa exodus kepada anak-anak, supaya mereka mengenang peristiwa itu dan hidup sesuai dengan tuntutan yang berlaku dalam zaman baru tersebut. Ada hubungan antara Pasach dan perilaku hidup orang Israel. Bahkan kita bisa katakan bahwa semua aturan dan tata tertib hidup umat Israel sebagai bangsa, maupun sebagai pribadi, baik di bidang kultis maupun etis, dengan bidang politik, ekonomi, sosial maupun budaya bersumber dari perenungan mereka akan peristiwa exodus.

Oleh gereja paskah dihubungkan dengan peristiwa Kebangkitan Yesus Kristus. Keadaan tergesa-gesa dan bergegas juga dialami murid-murid pada peristiwa paskah yang pertama. Mereka yang berada di Golgota sore itu harus tergesa-gesa mengemas tubuh Yesus yang sudah meninggal di atas salib. Perempuan-perempuan pulang dari kubur Yesus dengan berlari-lari untuk memberitahukan kepada Petrus, dkk apa yang mereka lihat dan dengar (Mat. 8). Petrus yang mendengar berita dari para perempuan, cepat-c8epat pergi ke kubur. Sulit bagi dia untuk mengerti rentetan peristiwa yang berlangsung begitu cepat (Luk. 24:120). Perjanjian Baru, terutama sura-surat Paulus mengklaim bahwa kebangkitan Yesus Kristus mengawali datangnya zaman baru di dunia yang lama. Menurut JJ Buskes, kebangkitan Yesus merupakan sepotong dunia baru yang sedang menerobos masuk dalam dunia lama dan menciptakan sejarah. Penerobosan ini menuntut pembaharuan hidup manusia. Etos hidup dan kerja manusia setelah peristiwa kebangkitan harus berbeda dengan sebelumnya. Perubahan itu harus segera, sekarang juga, sebab yang lama sudah berlalu, sedangkan yang baru sedang datang.

Paskah dalam kitab-kitab Injil
Ada cukup banyak perbedaan mencolok antara kesaksian kitab-kitab injil mengenai kehidupan dan karya Yesus Kristus. Tetapi laporan kitab-kitab Injil mengenai kisah kebangkitan Yesus secara umum memiliki kemiripan. Mereka sepakat bahwa paskah bukan sebuah ilusi, refleksi, teori atau mitos. Paskah adalah fakta atau kejadian historis. Para imam kepala dan ahli Tauratlah yang menyebarkan teori atau ilusi bahwa Yesus tidak bangkit melainkan mayatNya dicuri oleh murid-muridNya (Mat. 28:12-15). Kitab-kitab Injil mengajukan sebuah bukti tak terbantahkan, yaitu "Kubur Yang Kosong". Kepada para perempuan yang datang ke kubur Yesus, malaikat berkata: "Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada disini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia" (Mrk. 16;6 dan yang sejajar).

Fakta sejarah ini memiliki kuasa atau pengaruh luar baisa terhadap perilaku hidup para rasul. Dari orang-orang penakut (Yoh. 20:19), murid-murid berubah menjadi saksi-saksi yang berani. Mereka rela menanggung risiko bahkan rela mati demi mempertahankan kebenaran kesaksian mereka. Kita lihat itu dalam cerita dua murid dalam perjalanan ke Emaus (Luk. 24:13-35) dan sikap Petrus di hadapan Mahkamah Agama (Kis. 4:19-20). Hidup murid-murid berubah dalam tenggang waktu yang singkat. Pengalaman mengatakan bahwa perubahan hidup dalam waktu yang singkat hanya mungkin terjadi jika bersumber pada sebuah kejadian yang nyata. Tetapi perubahan itu biasanya berlangsung lambat, secara bertahap dan membutuhkan waktu yang relatif lama.

Paskah: antara perfectum dan futurum
Dalam gereja ada kidung paskah. Kebangkitan Kristus dilukiskan sebagai akhir dari penderitaan. Kita sudah diselamatkan. Dunia sudah ditebus. Kematian tidak ada lagi. Ratapan dan airmata sudah berlalu. Dengan sangat indah ayat tiga dari Kidung Jemaat 188 melukiskan hal ini dalam syair berikut: Kuasa kubur menyerah, haleluyah/ Dan neraka takluklah, haleluyah Kristus Jaya atas maut, haleluyah/ Dan terbukalah Firdaus, haleluyah. Benarkah maut dan kematian tidak ada lagi? Kita bernyanyi pada hari Minggu: "Kuasa kubur menyerah dan neraka takluklah". Tetapi pada hari Senin kita memanggul jenazah salah seorang teman kita menuju ke tempat pemakaman. Dan, pada hari Rabu jenazah kita sendiri diusung ke liang lahat. Kematian masih mengancam kita. Dunia sudah ditebus! Bisakah kita mengatakan hal itu, kalau kita mendengar tentang anak-anak yang diperkosa dan tentang kakak adik di kampung yang saling membunuh? Apakah iblis sudah kalah kalau kita mendengar kisah tentang bencana gempa bumi di Nias yang terjadi justru satu hari setelah umat Kristen merayakan Paskah (28 Maret 2005).

Paulus, sang rasul yang berkhotbah dengan sangat tegas tentang Paskah, berbicara dalam Roma 8 tentang penderitaan zaman sekarang. Dia katakan bahwa seluruh makhluk mengeluh, Gereja juga mengeluh dan ditaklukkan oleh kesia-siaan. Penebusan ternyata belum terjadi (Rom. 8:19 dst). Pembenaran manusia memang sudah tuntas dikerjakan Allah di atas salib, tetapi pengudusan manusia belum selesai. Manusia yang te8lah direbut kembali oleh Allah dari kematian mengalami kehancuran yang parah. Hidupnya diporak-porandakan oleh maut. Ia belum bisa langsung dipermuliakan. Terlebih dahulu ia perlu dipulihkan. Pemulihan itu butuh waktu. Kita sudah diselamatkan tetapi penebusan kita belum selesai. Paskah adalah akhir dari salib. Tapi ia bukan akhirat. Kebangkitan Yesus adalah akhir, tapi sekaligus permulaan baru, awal dari sejarah keselamatan. Alkitab melihat kebangkitan Yesus dalam hubungan dengan salib, yakni kematian Yesus tetapi juga dengan kemenangan yang final, yakni kedatangan-Nya sebagai hakim. Pendamaian adalah sebuah perfectum. Yesus sudah membayar hutang dosa kita sekali untuk selamanya. Ungkapan "sekali untuk selamanya" menunjuk pada dimensi perfectum sekaligus futurum dari peristiwa Paskah.

Sebagai gereja kita belum bisa dan tidak boleh membanggakan diri sebagai yang suci dan tanpa dosa. Gereja memang datang dari kebangkitan. Tetapi kebangkitan itu bukan akhirat. Ia adalah permulaan masa baru yang masih akan datang. Dalam perjuangan itu kita masih mengalami banyak pencobaan, bahkan ada pengkhianatan. Bencana masih muncul dan menggerogoti hidup dunia yang sudah selamatkan Kristus. Itu terjadi karena beberapa alasan. Salah satunya, seperti yang sudah kita sebut tadi, dunia yang sudah dibenarkan Allah masih terus dibentuk untuk menjadi dunia yang layak bagi kedatangan kerajaan Allah. (Bdg, Wah. 21:1-2). Tepatlah apa yang dikatakan S Kierkegaard: "Kita belum gereja. Kita seadng menjadi gereja". Mengapa bencana tetap ada? Drs. H Sianturi, M.Si, pakar Fisika di FMIP Undana-Kupang dalam orasi ilmiah mengenai gempa bumi dan tsunami menegaskan sebagai berikut: "Sesungguhnya bumi yang kita diami ini tidaklah diam, akan tetapi lempengan-lempengan bumi ini selalu bergerak kelajuan sekitar 2-11 cm per tahun". Bumi tidaklah diam. Dia terus bergerak. Ada alasan-alasan ilmiah dan rasional yang diajukan. Dari sudut pandang teologis kenyataan bahwa bumi terus bergerak juga ditandaskan berulang-ulang oleh para teolog besar dalam gereja. Karl Barth umpamanya mengatakan hal yang sangat mengejutkan tentang ciptaan Allah: "Penciptaan sudah terjadi tetapi belum selesai". Artinya ciptaan yang keluar dari tangan Allah masih terus berada dalam proses menjadi. Apa yang kita lihat dan alami saat ini, termasuk hidup kita adalah satu keberadaan yang sementara. Akan tiba masanya, di mana keadaan yang sementara ini akan diganti dengan keadaan yang sempurna (Church Dogmatics II/1, 15).

Penciptaan belum berakhir.
Yesus berkata: Bapa-Ku bekerja sampai sekarang (Yoh. 5:17). Allah terus bekerja untuk membenahi ciptaan-Nya s243217ai dengan rencana-Nya yang kekal: menjadikan mereka sebagai umat-Nya Pekerjaan Allah pasca penciptaan itulah yang dikenal dalam ilmu teologi dengan nama Providentia Dei. Ciptaan Allah dipelihara. Pemeliharaan itu tidak dilakukan seorang diri oleh Allah. Dalam melakukan pekerjaan penciptaan Allah lakukan itu sendiri, tanpa manusia, tetapi dalam karya pemeliharaan ciptaan Allah mau lakukan bersama-sama manusia.

Ciptaan Allah perlu dipelihara.
Salah satu alasan teologis yang diberikan adalah demikian. Dalam dunia ciptaan Allah ada kuasa jahat. Kuasa-kuasa itu tidak disangkali Alkitab. Apa yang Allah buat pada waktu menciptakan langit dan bumi adalah menaruh batas kepada kuasa-kuasa itu. Kuasa-kuasa itu dimetaforakan dengan khosek, kegelapan dan tehom, samudera raya. Kita bisa lihat itu dalam kisah penciptaan yang dilakukan Allah pada tiga hari pertama: Pada hari pertama Allah menciptakan terang (ha or) untuk menghalau kegelapan (ha khosek). Tetapi karena terang yang adalah ciptaan itu tidak sepenuhnya dapat menghalau kegelapan itu, maka Allah memisahkan saja terang itu dari gelap. Ya, Allah menaruh batas. Ini berlaku juga pada hari kedua dan ketiga. Di mana Allah memisahkan air yang di atas dan air yang di bawah. Kemudian menaruh batas bagi air yang ada di bumi. Mereka disuruh berkumpul di laut.

Batas yang ditetapkan Allah itu kadang-kadang dilanggar.
Tsunami adalah bukti bahwa batas itu seringkali dilangkahi. Penyakit yang kita derita juga adalah bentuk-bentuk dari pelanggaran batas itu oleh kegelapan. Dalam penciptaan Allah belum menghancurkan musuh dari ciptaan Allah secara total. Allah hanya menaruh batas kepadanya. Daya rusak dari si jahat itu dibatasi dan dikendalikan oleh Allah. Akan ada waktu di mana Allah secara total dan definitif menonaktifkan daya rusak dan menghalau si jahat dari muka bumi. Itu baru akan terjadi nanti, belum sekarang (Wh. 21:1, 22:5).

Dari sudut pandang ini, bencana terjadi karena dunia masih terus ada dalam proses terjadi. Ia terus dibentuk ke arah wujudnya yang sempurna dan final. Di sini bencana serta penderitaan perlu agar manusia yang menjadi partner Allah dalam pekerjaan providentia Dei menyadari tanggung jawab dan tugasnya. Penutup

Paskah artinya berlalu.
Masa yang penuh bencana dan penderitaan sudah lewat. Masa yang penuh sukacita dan damai sedang datang. Kedatangan masa baru itu adalah sudah terjadi tetapi belum selesai. Tugas untuk menghadirkan sukacita dan damai yang sempurna dan final itu adalah karya bersama antara Allah dan manusia. Jadi pasca Paskah adalah masa di mana manusia dalam ketaatan kepada Allah harus mewujudkan damai dan sukacita dari Allah itu dalam tiga dimensi relasi, dengan Allah, dengan alam dan dengan sesama.