Namanya Jono
Sebut saja dia Jono. Seorang guru agama Kristen di sebuah sekolah menengah negeri yang cukup terkenal. Beberapa tahun terakhir ini dia semakin giat dengan apa yang dia sebut sebagai panggilan pelayanan.
Kristen Kupu-Kupu
Penulis : Martin L Peranginangin
Istilah Kristen kupu-kupu pertama kali saya dengar ketika retreat Mamre beberapa waktu lalu. Entah siapa yang pertama kali yang mempopulerkannya, tapi yang jelas istilah ini timbul semacam kritikan bagi jemaat gereja dewasa ini yang suka bergereja secara nomaden alias berpindah-pindah.
Mencintai Gereja Kita
Penulis : Wiempy
Nats Alkitab: I Ptr 2:9
Gereja selalu diibaratkan sbg tubuh Kristus dan anggota Jemaat diibaratkan sbg anggota tubuh. Antara kedua hal ini terjalin suatu hubungan erat. Ada 5 macam jabatan / amanat bagi kita selaku anggota gereja :
- Bangsa yg terpilih.
Allah yg menguasai alam semesta, yg Maha Tinggi telah memilih kita oleh karena kasihNya. Hal ini merupakan sesuatu yg amat mulia. Dipilih maksudnya: Kita menjadi milikNya, menyembah dan beribadah padaNya serta memuliakanNya. Dlm hukum taurat I merupakan kita hanya boleh menyembah Tuhan saja dan hukum taurat IV mengajar kita mengingat dan menguduskan hari Sabat. Kita beribadah dgn hormat dan taat, serta di dalam roh dan kebenaran, maka kita menikmati kasih yg tdk ada bandingannya (Ul 5:33). Kita telah dipilih, maka harus taat perintahNya, mengasihi gereja dan tdk kehilangan bagian yg terbaik ini.
Mengembangkan Budaya Keramahan
Penulis : Andreas A Yewangoe
SALAH satu topik penting yang dibicarakan dalam Sidang Raya ke-9 Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) di Porto Alegre-Brazil adalah tentang pluralitas agama-agama dalam kaitannya dengan pemahaman diri kekristenan (Religious Pluralism and Christian Self-Understanding). Sudah tidak dapat diabaikan, bahkan hampir merupakan "hukum besi" di dalam perkembangan peradaban abad ini bahwa kita hidup di dalam pluralitas masyarakat, baik kebudayaan maupun agama-agama. Tidak ada lagi ruang di dunia ini di mana hanya terdapat satu kebudayaan dan agama yang tidak dipengaruhi oleh kebudaya- an-kebudayaan dan agama- agama lainnya.
Hal Ajaib Bernama Gereja
Penulis : JED-ReVoLuTiA
Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah mengasihiku dan memeliharaku. Dia telah memeliharaku secara jasmani dan juga secara rohani. Dia telah memberikan aku sebuah keluarga jasmani yang rela dan tidak malu untuk merawat dan membesarkan seorang anak yang bermasalah sepertiku.
Santa Zita: Pelindung para pelayan rumah tangga
Penulis : Sr. Maria Andrea, P.Karm
Santa Zita adalah pelindung para pelayan rumah tangga. Orang tuanya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Zita lahir di Monte Sagrati, Italia Tengah, pada tahun 1218. Kakak perempuannya seorang biarawati Cistercian dan pamannya yang telah meninggal, Graziano, adalah seorang eremit yang oleh orang-orang setempatnya dianggap sebagai seorang kudus. Sejak kecil bagi Zita, cukuplah jika ibunya berkata: "Hal ini menyenangkan Tuhan" atau "Hal ini tidak menyenangkan Tuhan" maka dia akan segera taat. Pada umur dua belas tahun Zita pergi ke Lucca untuk bekerja sebagai pelayan di rumah Pagano Fatinelli yang mempunyai bisnis wol dan sutera. Jarak Lucca dan desa kelahirannya sekitar delapan mil. Zita mempunyai kebiasaan bangun untuk berdoa di malam hari. Dia juga menghadiri Misa harian yang pertama di Gereja San Frediano. Dia seorang yang sangat murah hati dan penuh belas kasih. Makanan yang dimilikinya dibagikannya kepada para miskin. Dia tidur tanpa kasur karena kasur miliknya sudah diberikan kepada seorang pengemis.
Gereja dan Pendidikan
Penulis : Weinata Sairin
Krisis yang menghantam Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini telah mengantar bangsa dan negeri ini pada kondisi yang amat memprihatinkan. Realitas yang sedemikian itu hampir terjadi di semua aspek. Media massa menurunkan laporan yang amat transparan dan rinci tentang carut-marut wajah Indonesia, tanpa harus merasa risih dan rikuh. Dilaporkan misalnya Indeks Pembangunan Manusia mengalami kemerosotan dari 0,684 ke 0,682 sehingga peringkat Indonesia turun dari posisi 110 menjadi 112 dari 175 negara di dunia (Kompas, 10-07-2003).
Gereja dan Bahasa Indonesia
Penulis : Weinata Sairin
Persatuan bangsa yang menjadi cita-cita dan kerinduan para pendiri negara kita, sering kali dipandang hanya dari satu segi, tidak dilihat secara holistik dan komprehensif. Pertentangan antar-suku, agama, ras dan golongan acap dianggap sebagai satu-satunya persoalan yang sangat krusial yang bisa memicu disintregasi bangsa. Padahal soal persatuan bangsa turut ditentukan juga oleh adanya bahasa nasional, yang menjadi bahasa persatuan di suatu negara. Bagi masyarakat Indonesia, adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sangat penting. Persatuan bangsa memang terus-menerus perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan, justru dalam konteks masyarakat Indonesia yang serbamajemuk. Salah satu sarana untuk pelestarian persatuan itu adalah bahasa Indonesia.
Memaknai Relasi Gereja dengan Sekolah
Penulis : Weinata Sairin
PENDIDIKAN adalah salah satu aspek yang sangat penting dan strategis bagi kehidupan manusia. Sebagai sesuatu yang khas dan spesifik bagi manusia, pendidikan berperan amat signifikan dalam membekali manusia untuk menyongsong masa depan yang akan dijalani yang diwarnai dengan berbagai tantangan dan perubahan. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tanggal 11 Juni 2003, merumuskan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan prestasi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara."