Santa Zita: Pelindung para pelayan rumah tangga

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Penulis : Sr. Maria Andrea, P.Karm

Santa Zita adalah pelindung para pelayan rumah tangga. Orang tuanya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Zita lahir di Monte Sagrati, Italia Tengah, pada tahun 1218. Kakak perempuannya seorang biarawati Cistercian dan pamannya yang telah meninggal, Graziano, adalah seorang eremit yang oleh orang-orang setempatnya dianggap sebagai seorang kudus. Sejak kecil bagi Zita, cukuplah jika ibunya berkata: "Hal ini menyenangkan Tuhan" atau "Hal ini tidak menyenangkan Tuhan" maka dia akan segera taat. Pada umur dua belas tahun Zita pergi ke Lucca untuk bekerja sebagai pelayan di rumah Pagano Fatinelli yang mempunyai bisnis wol dan sutera. Jarak Lucca dan desa kelahirannya sekitar delapan mil. Zita mempunyai kebiasaan bangun untuk berdoa di malam hari. Dia juga menghadiri Misa harian yang pertama di Gereja San Frediano. Dia seorang yang sangat murah hati dan penuh belas kasih. Makanan yang dimilikinya dibagikannya kepada para miskin. Dia tidur tanpa kasur karena kasur miliknya sudah diberikan kepada seorang pengemis.

[block:views=similarterms-block_1]

Namun demikian, dia harus menanggung banyak beban dari sesama pelayan. Mereka menghina cara hidupnya dan memandang ketekunan kerja Zita sebagai celaan tanpa kata-kata bagi mereka. Secara terang-terangan mereka menunjukkan kebencian mereka terhadap Zita, antara lain dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan buruk dan kecurangan-kecurangan. Walaupun Pagano pernah terpengaruh oleh mereka sehingga menentangnya, namun Zita menanggung semua cobaan-cobaan itu tanpa mengeluh. Suatu ketika seorang pelayan pria berniat tidak sopan terhadapnya, maka Zita mencakar wajah pelayan tersebut. Namun, ketika Pagano bertanya-tanya dan menyelidiki apa penyebab luka di wajah pelayan itu, Zita tidak mengajukan pembelaan diri sama sekali. Lambat laun kesabaran Zita menaklukkan permusuhan mereka dan Pagano mulai menyadari betapa berharga harta yang mereka miliki dalam diri Zita.

Bagi Zita, pekerjaannya merupakan bagian dari hidup rohani atau agamanya. Oleh karena ketekunan dan perhatiannya maka Zita dijadikan kepala pengurus rumah tangga.

Suatu hari Pagano berniat mengecek persediaan buncis yang menurutnya akan mendapat pemasaran baik saat itu. Setiap keluarga kristen di tempat itu dan pada saat itu menyumbangkan makanan kepada orang-orang yang kelaparan. Zita mengaku kepada Pagano bahwa karena kasihan dia menyumbangkan buncis itu. Pagano sangat marah. Zita hanya mampu melambungkan doa ke surga dengan kaki gemetar. Namun, ternyata tidak ditemukan adanya pengurangan jumlah buncis di gudang. Secara ajaib persediaan buncis telah penuh kembali.

Di saat lain Zita terserap dalam devosinya, lupa bahwa hari itu adalah hari membuat roti. Dengan tergesa-gesa dia berlari ke dapur dan berpikir bahwa dia telah terlambat membuat adonan roti. Setiba di sana dilihatnya roti-roti sudah tersedia dan siap dimasukkan oven.

Pada suatu malam Natal yang sangat dingin, Zita tetap berniat pergi ke Gereja. Pagano meminjamkan jas bulunya kepada Zita sambil berpesan agar berhati-hati menjaga jas bulu itu. Di pintu masuk Gereja San Frediano dia melihat seorang bapak yang berpakaian compang-camping dengan gigi yang bergemertakan karena menahan dingin. Zita segera mengenakan jas bulunya kepada orang tersebut dan mengatakan bahwa dia boleh memakainya sampai saat Zita keluar dari Gereja. Zita pun masuk ke gedung gereja dan mengikuti Misa Malam Natal. Namun, seusai Misa, tak tampak lagi si bapak yang berpakaian compang-camping tadi, tidak tampak juga jas bulu yang dipinjamkan Zita kepadanya. Zita pun pulang untuk menerima kemarahan Pagano yang tentu saja sangat kesal kehilangan jas bulu yang sangat berharga baginya. Beberapa jam kemudian saat Pagano baru saja duduk untuk makan malam Natal muncullah seorang asing di pintu ruangan itu sambil membawa jas bulu tersebut dan memberikannya kepada Zita. Tuan dan nyonya Pagano dengan tidak sabar memandang orang tersebut. Akan tetapi, dalam sekejap mata orang itu lenyap dari pandangan, secepat saat dia muncul tadi, sambil meninggalkan suatu sukacita surgawi dalam hati semua yang melihatnya. Sejak itu penduduk Lucca memberi nama "Pintu Malaikat" kepada pintu masuk San Frediano, tempat Zita meminjamkan jas bulu kepada si orang asing.

Zita menjadi teman dan penasihat seisi rumah. Akan tetapi, semua penghormatan yang diberikan kepadanya justru membuatnya merasa malu dan tak pantas, lebih daripada semua beban atau penghinaan yang diterimanya dahulu. Kemudian dia juga dibebaskan dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sehingga dia bebas mengunjungi orang-orang sakit, orang-orang miskin, maupun mereka yang dalam penjara. Zita mempunyai perhatian khusus terhadap para narapidana yang akan dijatuhi hukuman mati. Dia berdoa berjam-jam bagi mereka. Dengan karya-karya belas kasih dan devosi seperti itulah Zita menjalani masa senja hidupnya sebelum akhirnya dia meninggal dengan sangat tenang pada tanggal 27 April 1278. Tubuhnya diletakkan di gereja San Frediano di Lucca. Pada tahun 1696, ia digelari "kudus" oleh Paus Innocentio XII (1691-1700).

Hidup para kudus, termasuk Santa Zita, merupakan Sabda Tuhan yang diterjemahkan dalam kehidupan. Membaca riwayat hidup Santa Zita membuat kita teringat akan sabda-sabda Tuhan sendiri, antara lain:

"Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat 22: 37,39)

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Mat. 5:44)

"Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Mat. 25:40)

"Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?" (Mat. 5:46)

Hal lain yang menarik dalam hidupnya adalah Santa Zita tidak memisahkan hidup rohani dan doanya dari pekerjaannya. Relasi pribadinya yang mesra dengan Tuhan mendasari dan menjiwai seluruh hidupnya. Tidak ada tembok-tembok pemisah yang menghalangi Sabda Tuhan masuk dalam setiap bidang hidupnya, termasuk bidang karier dan pekerjaannya. Dia bukan orang yang berprinsip: "Saat bekerja saya akan memakai cara-cara duniawi macam apapun dan meninggalkan cara-cara surgawi yang dipesankan Tuhan dalam sabda-Nya. Saat berdoa barulah saya akan memegang sabda dan perintah-perintah Tuhan." Pekerjaannya merupakan ungkapan cintanya pada Tuhan. Cintanya yang tulus pada Tuhan membuatnya setiap saat dan di mana pun selalu mencari dan melakukan apa yang menyenangkan-Nya.