Santa Zita: Pelindung para pelayan rumah tangga
Penulis : Sr. Maria Andrea, P.Karm
Santa Zita adalah pelindung para pelayan rumah tangga. Orang tuanya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Zita lahir di Monte Sagrati, Italia Tengah, pada tahun 1218. Kakak perempuannya seorang biarawati Cistercian dan pamannya yang telah meninggal, Graziano, adalah seorang eremit yang oleh orang-orang setempatnya dianggap sebagai seorang kudus. Sejak kecil bagi Zita, cukuplah jika ibunya berkata: "Hal ini menyenangkan Tuhan" atau "Hal ini tidak menyenangkan Tuhan" maka dia akan segera taat. Pada umur dua belas tahun Zita pergi ke Lucca untuk bekerja sebagai pelayan di rumah Pagano Fatinelli yang mempunyai bisnis wol dan sutera. Jarak Lucca dan desa kelahirannya sekitar delapan mil. Zita mempunyai kebiasaan bangun untuk berdoa di malam hari. Dia juga menghadiri Misa harian yang pertama di Gereja San Frediano. Dia seorang yang sangat murah hati dan penuh belas kasih. Makanan yang dimilikinya dibagikannya kepada para miskin. Dia tidur tanpa kasur karena kasur miliknya sudah diberikan kepada seorang pengemis.
Ajakan untuk Mendoakan Gereja Di Italia
Sehubungan dengan semakin dekatnya jadwal pemilihan untuk referendum mengenai reproduksi buatan di Italia pada tanggal 12-13 Juni, berikut penulis melaporkan beberapa perkembangan yang terjadi di Italia, bahwa meskipun dilanda kritik di sana-sini, Gereja Katolik Italia senantiasa menganjurkan kepada umat beriman untuk tidak datang memilih demi membela kehidupan manusia.
Paus - Santo Subito
Penulis : Mang Ucup
Bagi mereka yg menyaksikan upacara pemakamannya Bapa Paus Yohannes Paulus II di TV, mereka bisa melihat ketika para pelayat di Vatikan mereriakkan ber-kali2 secara bersama: "Santo, subito" yg berarti "Santo segera" sebab banyak sekali umat Katolik diseluruh dunia ini mendukung bahkan mengharapkan agar Bapa Paus Yohannes Paulus II, segera diangkat menjadi Santo. Sebenarnya sudah merupakan satu keajaiban tersendiri dimana empat juta orang bersedia untuk pergi datang melayat hanya untuk pemakaman seorang manusia, belum lagi ratusan juta orang di seluruh bumi ini yg turut menyaksikan pemakamannya melalui TV.
Benediktus, Tidak Sekadar Sebuah Nama
Ketika Kardinal Joseph Ratzinger (78) terpilih menjadi Paus ke-265, ia kemudian memilih nama Benediktus XVI. Mengapa ia tidak memilih nama Yohanes Paulus III? Bukankah Ratzinger sangat menghormati Yohanes Paulus II yang wafat 2 April lalu? Atau mengapa ia tidak menggunakan nama Paulus VII sebagai kelanjutan dari pemerintahan konservatif Paus Paulus VI (1963-1978)? Tentu Kardinal Ratzinger memilih nama Benediktus-artinya 'yang diberkati'-bukan karena ia membaca Ramalan St Malachi (sekitar 1139). Ramalan itu menyebutkan bahwa Paus pengganti Yohanes Paulus II adalah seseorang yang hidup dan kerjanya memiliki ciri sebagai Gloria Olivae (Kemuliaan Zaitun). Tafsiran mengenai nama simbolik tersebut memang mengaitkannya dengan seorang tokoh bernama Benediktus dari Nursia, Italia (480-543).