Laptop

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Yvonne Sumilat

Zaman dahulu, ketika saya kuliah, saya perlu mesin ketik. Mesin ketik itu pasti tidak dibawa ke ruang kelas. Jika mengetik sembari kuliah, pastilah mengganggu suasana belajar mengajar. Namun, laporan baca dan tugas paper pastilah harus dikumpulkan dalam bentuk tulisan mesin ketik.

Akan tetapi, sekarang zamannya sudah berbeda. Anak SMP sudah diperbolehkan membawa laptop ke ruang kelas. Tugas diserahkan kepada guru lewat e-mail. Laptop bukanlah barang murah, tetapi mahasiswa yang tidak memiliki laptop, pastilah kalang kabut.

Sebagai mama zaman "now", saya memikirkan kebutuhan anak saya akan laptop. Anak saya baru saja tamat SMA. Sekarang, dia sedang bersiap-siap memasuki bangku kuliah.

Saya menghitung uang yang ada. Tabungan saya harus dibagi untuk beberapa kebutuhan. Sebagian untuk membayar seragam anak yang bungsu untuk memasuki sekolah barunya di SMK, dia baru tamat SMP. Untuk urusan seragam ini, jujur saja saya terkejut. Ada 5 pasang seragamnya. Seragam putih abu-abu, seragam pramuka, seragam batik, seragam olahraga, dan seragam untuk aktivitas praktik. Lima pasang seragam itu lumayan juga nominalnya. Selain seragam, dia juga memerlukan tas baru karena tas lamanya sudah rusak. Jadi, ada dua anak yang harus saya cukupi kebutuhannya.

Siang ini, saya dikejutkan dengan WA yang mengirim foto bukti transfer. Bahwa ada uang masuk ke rekening saya sebesar harga laptop baru. Oya? Syukur kepada Tuhan, tak terhingga. Tuhan selalu punya cara dan acara yang indah untuk diceritakan.

17 Juli 2018