Saksi Hidup untuk Bersaksi

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh : Hwian Christianto

Bagi sebagian besar orang Kristen istilah saksi dan bersaksi tentu saja bukan merupakan hal yang baru lagi. Saksi merupakan identitas kita sebagai orang yang sudah ditebus oleh Kristus. Identitas ini membawa kita kepada satu panggilan untuk memberitakan Kristus di dalam hidup kita. Namun, semudah itukah kita menjadi saksi Kristus? Apakah hanya dengan mengaku percaya, seseorang dapat secara otomatis beridentitaskan saksi Kristus? Bersaksi merupakan satu tugas untuk memberitakan sesuatu yang telah dialami. Jika kita saksi Kristus berarti kita harus menyaksikan Kristus dalam hidup kita, tapi apa dan bagaimana syaratnya? Mengapa selama ini banyak orang Kristen belum bersaksi secara efektif?

[block:views=similarterms-block_1]

Orang Kristen adalah saksi hidup

Di pengadilan ada 3 syarat wajib untuk seseorang dapat diakui sebagai saksi : dia harus melihat sendiri peristiwa itu, dia harus mendengar sendiri peristiwa itu, dan dia harus mengalami peristiwa itu. Nah, kredibilitas seorang kristen juga diukur dari ketiga syarat itu, yaitu : melihat, mendengar, dan mengalami Injil Kristus.

1. Aku harus melihat sendiri peristiwa (Injil) itu.

Memang kita tidak mungkin bisa melihat kejadian 2008 tahun lalu secara fisik, saat Tuhan Yesus berinkarnasi, melayani, menderita, disalibkan, dan bangkit dari kematian. Lalu bagaimana kita dapat "melihat" Injil itu? Melalui Firman Allah, kita bisa dengan iman melihat Injil Tuhan, ikut merasakan pergumulan Yesus pada saat itu, dan saat-saat Kristus mati di atas kayu salib. Dasar inilah yang mengesahkan kita menjadi saksi-Nya dari syarat (1) melihat Injil itu. Sama seperti Maria dan murid-murid Tuhan telah mensaksikan kebangkitan Tuhan secara pribadi lepas pribadi (Yoh 20:18;25).

2. Aku harus mendengar sendiri Injil itu

Prinsip dasar iman Kristen mengakui bahwa berita Injil mewartakan Allah yang berinisiatif mencari manusia yang berdosa melalui Kristus saja. Ini berarti iman seseorang tidaklah tergantung dari hubungan keluarga, persaudaraan, atau iman kelompok tetapi merupakan pertanggungjawaban iman tiap pribadi (swarga nunut, neraka katut). Allah menuntut pertanggungjawaban iman kita secara pribadi. Iman ini berasal dari mendengar Firman Allah yaitu Injil itu sendiri. Mendengarkan Firman secara kontinyu dan memahaminya adalah wujud ketertundukan kita di hadapan Allah untuk diajar. Banyak orang yang merasa sudah tahu, menjadi sombong dan berkata tidak perlu lagi mendengar khotbah. Dalam hal ini perlu adanya sikap mendengar dengan hati yang terbuka dan rendah hati untuk diajar dan belajar Injil itu sendiri sehingga kita bisa menjadi saksi.

3. Aku harus mengalami Injil itu

Satu bagian ini begitu penting karena inilah wujud respons dan tanggung jawab kita setelah menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Inilah yang disebut sebagai mengalami Injil secara pribadi. Kita harus menempatkan Yesus sebagai Tuhan atas hidup kita dan menjalankan apa yang Yesus mau. Jika kita selama ini hanya mendengar Injil tetapi belum taat kepada Tuan kita, maka kita tidak layak jadi saksiNya. Itulah jawaban mengapa saat ini banyak orang Kristen malas bersaksi, mungkin mereka belum benar-benar menyerahkan hidup kepada Kristus.

Hidup untuk bersaksi

Setelah kita menerima Kristus apakah ada yang berbeda dari hidup kita? Ya, bahkan berubah 180 derajat. Paulus berkata hidup yang dahulu adalah sampah tetapi satu yang dia ketahui sekarang adalah Kristus. Setelah manusia diperdamaikan dengan Allah dan menjadi umat pilihanNya, inilah identitas kita: Saksi Hidup Yang Bersaksi Bagi Injil Allah! Segala orientasi hidup kita harus menyenangkan Allah bukan menyenangkan diri kita. Sebagai hamba Allah kita harus mewartakan Injil dimana dan apapun posisi kita. Keindahan berita sukacita ini harus tampak dalam kehidupan sehari-hari lewat cara berbicara yang penuh kehangatan, sikap yang penuh sopan, penghargaan pada orang lain, dan sikap kasih kepada semua orang. Pengabaran Injil sangatlah perlu didukung dengan sikap dan perilaku yang mencerminkan itu sendiri. Jika Yesus sudah menebus kita, masihkah kita menahan diri untuk bersaksi bagi namaNya? Saudaraku kita adalah saksi Kristus yang menghidupi anugerahNya dan hidup untuk membawa jiwa yang terhilang kepada Kristus lewat kehidupan kita (Mat 28:19-20). Soli deo glori