Memotong Siklus Balas dendam
Oleh : Yon Maryono
Hampir berita dunia khususnya diwilayah Timur Tengah akhir-akhir ini
diwarnai dengan kekerasan. Seorang remaja Arab di Yerusalem dilaporkan
menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh tiga pemuda Israel.
Diperkirakan kejadian ini menjadi bentuk balas dendam atas
meninggalnya tiga remaja Israel yang sebelumnya diculik. Berita
selanjutnya, serangan roket baik dari Gaza dan dari Israel semakin
sering dilakukan menyusul adanya pembunuhan tiga remaja Israel dan
remaja Arab tersebut.
Kekerasan Oleh & Kepada Siapa
Oleh: Sefnat Hontong
Abstraksi:
Tulisan ini mempersoalkan mengapa ada fakta kekerasan dalam masyarakat. Jika pada lazimnya orang berpandangan bahwa kaum laki-lakilah sang pelaku kekerasan, maka saya dalam tulisan ini hendak berpendapat bahwa kekerasan sebenarnya dilakukan oleh orang yang ‘kuat’ dan punya ‘kedudukan’ tertentu. Oleh karena itu, ia (kekerasan) bisa saja dilakukan baik oleh kaum laki-laki maupun perempuan. Dimana pembuktian ide itu saya buat dengan cara melihat pengalaman secara pribadi lalu menganalisanya berdasarkan beberapa pemikiran yang sedang bergulir sekarang ini (metode komparatif).
Dulu Aku Hanya Seorang Pengemis
Kesaksian: Suparno
Dari kolong sebuh jembatan, Suparno dan kelima adiknya dibesarkan. Ia berasal dari keluarga yang turun-temurun bekerja sebagai pengemis. Karena keadaannya Suparno sepertinya tidak memiliki harapan untuk mengubah nasibnya.
Saya turun ke jalanan sejak umur lima tahun. Saya sekolah dari kelas satu SD sampai kelas enam saja. Saya dibiayai dari hasil bapak saya mengemis. Waktu saya kelas satu kelas dua saya punya cita-cita menjadi polisi. Bapak saya pernah bilang: "Kita orang susah, kita orang miskin, jangan neko-nekolah (macam-macam)". Kata-kata semacam itu tertanam dalam pikiran saya. Cita-cita itu musnah dalam hidup saya. Bahkan saya pernah berpikir saya tidak layak di dunia ini.
Perempuan dan Masyarakat
Penulis : Bagus Pramono
3.1. PEREMPUAN YANG CANTIK
Dalam stereotip masyarakat kita, masih menuntut bahwa perempuan harus selalu tampil cantik, sehingga subur sekali sekali lahan-lahan produk-produk kecantikan, dan fasion. Sungguh mujur para perempuan yang terlahir cantik, berbahagialah atas anugerah ini. Menjadi cantik dan menarik mungkin menyebabkan perempuan lebih mudah mendapatkan pasangan, pujian, atau bahkan pekerjaan. Tetapi apakah kecantikan fisik selalu berakibat baik? Malah kita melihat banyak perempuan yang memang aslinya sudah cantik mempunyai tekanan yang lebih besar daripada perempuan yang kurang, atau tidak cantik. Mengapa? Mereka sering mengalami tekanan untuk mempertahankan kecantikannya, tekanan karena takut tua, takut menjadi gemuk sehingga menyiksa diri dengan sangat membatasi nutrisi yang dimakan, atau tekanan karena "she is just simply beautiful". Kadang kadang seorang yang cantik itu mempunyai tekanan, bahwa kecantikannya itu akan menjadi sasaran pelecehan seksual.