Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereRenungan / Mencari Tahu Maksud Tuhan

Mencari Tahu Maksud Tuhan


Penulis : Lesminingtyas

Beberapa waktu yang lalu saya menuliskan tentang "Apa Kehendak Tuhan di Balik Kenaikan Harga BBM". Beberapa orang dengan cepat bereaksi dengan mengatakan bahwa kenaikan harga BBM adalah murni kehendak pemerintah, bukan kehendak Tuhan. Memang betul, sesesuatu bisa terjadi pada diri kita karena ulah pemerintah atau gara-gara orang lain.

Sebagai orang percaya, seharusnya kita tidak boleh berhenti menyalahkan keadaan dan mencari kambing hitam. Kita juga tidak perlu mempertanyakan mengapa begini, mengapa begitu. Kita harus memaknai setiap peristiwa, baik suka maupun duka dengan mencari tahu apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Buat apa kita buang-buang waktu untuk bertanya mengapa begini mengapa begitu, kalau kita tidak pernah mendapatkan jawaban yang pasti. Kalaupun kita bisa mereka-reka jawaban, buat apa kalau jawaban tersebut tidak bisa merubah keadaan menjadi lebih baik?

Sebagai orang yang hidup berpengharapan di dalam Tuhan, kita harus selalu memandang bahwa Tuhan mengijinkan segala sesuatu terjadi pada diri kita, supaya hidup kita lebih baik lagi. Kita harus percaya bahwa baik suka maupun duka, dipakai Tuhan untuk kebaikan kita. Melalui kesulitan-kesulitan hidup, Tuhan ingin membentuk supaya kita benar-benar kuat, tegar, memiliki kemampuan untuk recovery atau bahkan memiliki resilience yang tinggi.

Ada juga orang yang berpendapat bawa segala sesuatu yang membuat kita takut, kuatir dan meresahkan, termasuk kenaikan harga BBM merupakan pekerjaan iblis. Tapi tunggu dulu, bukankah Ayub yang hidup saleh, jujur, takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan tetap diijinkan hidup menderita dalam kesengsaraan yang begitu panjang? Kalau waktu itu Ayub bersungut-sungut atau marah dan mempertanyakan sikap Tuhan yang dipandang begitu tega terhadap dirinya, mungkin saja ia akan mati dalam keputusasaan. Namun dengan kesetiaannya, Ayup bisa recovery dan memiliki resilience yang sangat bagus.

Pada akhir kisah Ayup baru kita menyadari bahwa rencana Tuhan memang indah pada waktuNya. Ternyata Tuhan memulihkan dan memberkati kehidupan Ayub selanjutnya, lebih dari kehidupan yang sebelumnya (Bandingkan Ayub 1 dan 2 dengan Ayub 42 : 10-17).

Belajar dari kisah Ayup, kita menjadi tahu bahwa melalui setiap kejadian, Tuhan tidak ingin kita terbujuk oleh iblis sehingga kita bersungut-sungut, marah, putus asa dan tak berpengharapan. Sesulit apapun keadaan yang kita hadapai, kita tetap harus berpengharapan di dalam Tuhan. Kesetiaan hidup di dalam Tuhan hendaknya kita pancarkan dalam menghadapi setiap peristiwa, di mana kita harus selalu bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki di balik peristiwa ini?"

Dengan bertanya seperti itu, secara psikis kita telah menemukan 50% solusi dari setiap peristiwa yang terjadi. Selebihnya kita bisa berserah diri dan percaya bahwa Tuhan jugalah yang akan memampukan kita untuk menghadapi setiap kesulitan.

Suatu kali, saya hampir tidak bisa menerima kenyataan hidup ini. Saya yang berprofesi sebagai sekreatis di sebuah organisasi internasional, masih muda, ramah, baik hati, suka menolong dan aktif melayani Tuhan dan sesama, tiba-tiba menderita sakit TBC. Apakah penyakit yang menakutkan, menjijikkan dan bisa mematikan itu datangnya dari iblis? Lalu mengapa saya yang setia melayani Tuhan, masih bisa "dikutuk" oleh iblis? Mengapa Tuhan membiarkan penyakit itu membuat saya dikucilkan oleh lingkungan, sedangkan sebelumnya saya gemar melayani dan mengasihi sesama? Apakah kuasa Tuhan kalah hebatnya dari kuasa iblis? Kalau penyakit itu bukan dari iblis, tetapi dari Tuhan, apakah Tuhan saya sudah buta dan tidak tahu kebaikan yang harus diberikan kepada umatNya yang telah setia melayaniNya?

Saya pantas bersyukur kalau waktu itu saya tidak marah atau bertanya seperti di atas. Kalau saja, saya terus larut mempertanyakan keadaan saya, mungkin saya sudah mati karena putus asa. Ketika saya mencoba bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki di balik penyakit yang menjijikkan itu?". Ternyata saya menjadi semakin yakin bahwa Tuhan adalah mentor terbaik dalam kehidupan saya. Sepanjang jalan kehidupan saya, saya baru mengerti arti pentingnya kesehatan setelah Tuhan mengijinkan saya sakit. Setelah Tuhan memulihkan saya, saya pun mengerti bahwa kesehatan lebih berharga dari pada materi.

Dengan merasakan betapa pahit dan sakitnya ketika menderita sakit TBC, saya pun bisa berempati dan peduli terhadap penderita TBC yang tersisih dan tercecer. Dengan merasakan betapa sepinya hidup dikucilkan karena penyakit TBC, saya pun menjadi semakin bijaksana untuk memanusiakan penderita TBC. Ketika dunia ini meninggalkan saya, kemudian Tuhan mengirimkan anak-anakNya untuk menolong dan menguatkan saya, saya semakin yakin hakul yakin bahwa kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup saya tidak pernah berkesudahan.

Suatu ketika, seseorang yang sangat saya cintai pergi meninggalkan saya. Pantaskan saya mempertanyakan kepada Tuhan, mengapa semua itu bisa terjadi? Layakkah saya bertanya "Mengapa orang yang tidak mengenal Kristus bisa hidup bahagia, sedangkan saya yang setia mengikutNya, Tuhan biarkan hidup merana?" Mungkin kalau saya tak henti-hentinya bertanya mengapa begini mengapa begitu, saya pun akan mati karena kesepian.

Saya bersyukur karena jauh-jauh hari sebelum saya ditinggalkan orang yang sangat saya cintai, sudah ada Ayup yang kehilangan tujuh anak laki-laki, tiga anak perempuan, ribuan ternak serta harta bendanya. Saya sadar betul bahwa penderitaan saya belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan penderitaan Ayup. Kalau Tuhan sanggup memulihkan Ayup yang remuk redam, maka hati saya yang tergores sedikit pasti lebih gampang dipulih oleh jamahan kasih Tuhan. Saya pun akhirnya menyadari bahwa dengan hidup ditinggalkan kekasih, justru membuat saya bisa merasakan dan menikmati cinta kasih Tuhan yang melampaui segala cinta manusia. Dengan kesendirian dan kelemahan saya, tangan Tuhan yang kuat dan penuh kasih sungguh sangat terasa.

Ketika kenaikan gaji saya tidak sebesar rekan kerja yang lain, apakah saya layak besungut-sungut, marah, sirik, kecewa atau berprasangka buruk bahwa pimpinan saya tidak bijaksana dan pilih kasih? Tentunya Tuhan tidak menghendaki demikian. Yang bisa saya lakukan adalah mensyukuri keadaan sambil mencari tahu apa maksud Tuhan di balik peristiwa tersebut. Bisa jadi, Tuhan mengijinkan saya untuk mendapatkan kenaikan gaji yang lebih kecil, karena rekan kerja yang lain lebih banyak membutuhkan uang. Tuhan juga menghendaki supaya saya pandai bersukur bukan hanya pada saat berkelimpahan, tetapi dalam kondisi pas-pasan pun saya harus tetap bersukur. Melalui peristiwa itu Tuhan juga ingin membentuk saya menjadi pribadi yang murah hati walaupun harus dengan berhemat diri. Tentunya Tuhan tidak membiarkan saya kelimpungan, dengan penghasilan kecil tetapi tetap harus berbagi kepada orang lain. Tuhan memperlengkapi saya dengan kemampuan mengendalikan pengeluaran secara bijaksana. Tuhan juga mencukupi kebutuhan saya bukan hanya dari gaji, supaya saya selalu sadar bahwa Tuhan Yesus lah Sumber Berkat yang sejati.

Ketika saya tahu banyak gereja ditutup, dirusak, dibakar serta dibom dan orang-orang Kristen hidup tertindas di negeri ini, layakkah saya resah, takut, marah, mendendam dan menuntut balas? Saya yakin Tuhan tidak menghendaki demikian, karena Ia telah berfirman bahwa pembalasan adalah hakNya. Melalui peristiwa itu Tuhan ingin supaya saya menjadi pengikutNya yang sunggung-sungguh militant dan selalu berjaga-jaga menunggu hariNya tiba. Tuhan memberi kita kekuatan sehingga walau kita ditindas, namun tidak terjepit; walau habis akal namun tidak putus asa, walau dianiaya namun tidak ditinggal sendirian, walau dihempaskan namun tidak binasa (II Kor 4 : 8).

Roma 12 : 14 juga mengajarkan kepada kita untuk memberkati orang-orang yang menganiaya kita. Dengan kita mengampuni, mengasihi dan memberkati para perusak rumah Tuhan dan penindas umat Kristen itu, saya yakin suatu saat nanti dunia ini tahu bahwa orang Kristen itu baik karena Yesus adalah Baik. Suatu saat nanti mata dunia akan dicelikkan bahwa orang Kristen cinta damai karena Tuhan Yesus lah Raja Damai.

Kembali ke persoalan awal tentang kenaikan harga BBM, pantaskah kita bersungut-sungut, menggerutu, marah, kuatir, berteriak-teriak menuding bahwa kebijakan pemerintah tidak adil dan tidak berpihak pada rakyat kecil? Jawabannya sangat sederhana : Buat apa kuatir, kalau kekuatiran itu tidak menyelesaikan masalah. Buat apa marah atau berteriak-teriak kalau toh tidak bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Saya setuju jika kita bisa menggunakan cara-cara yang kristiani untuk mempengaruhi pemerintah supaya bisa menghasilkan kebijakan yang benar-benar bijaksana. Namun bila memang keadaan sudah tidak bisa kita ubah, dan kenaikan harga BBM sudah tidak bisa kita tawar, paling bijaksana adalah menerima keadaan dengan legowo. Marilah kita bertanya "Apa yang Tuhan kehendaki dari keputusan pemerintah yang gila-gilaan menaikkan harga BBM itu?"

Setidaknya Tuhan menghendaki kita untuk tetap tenang dan tidak kuatir. Seperti tertulis dalam Matius 6 : 21 "Siapakah di antara kamu yang karena keku165rannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?"

Lalu bagaimana dengan kenaikan harga BBM yang pasti akan berimbas pada kenaikan harga semua bahan pokok dan biaya hidup lainnya? Apapun yang terjadi, kita tetap berpegang pada Firman Tuhan, seperti tertulis yang dalam Mat 6 : 25 "Karena itu Aku berkata kepadamu : Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang henak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaiaan?"

Lalu bagaimana dengan orang-orang miskin dan kaum marginal yang sebelum kenaikan harga BBM saja hidupnya sudah kembang kempis, makannya pun Senin Kamis (hanya makan di hari Senin dan Kamis)? Apakah Tuhan begitu tega membiarkan orang-orang miskin yang sebagian besar belum menerima Kristus itu menderita kelaparan?

Tuhan akan dipandang tega, pelit dan tak berperasaan kalau kita; anak-anakNya tidak menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Kasih Kristus akan dipandang oleh dunia sebagai bualan murahan kalau kita; anak-anakNya tidak mewujudnyatakan kasih melalui pelayanan kepada sesama. Injil Kristus juga dianggap tidak lebih baik dari komik Doraemon jika kita sebagai Alkitab terbuka tidak memancarkan Kasih Kristus. Sekarang, kita bisa bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah menjadi Alkitab yang terbuka bagi orang lain? Apakah orang lain bisa menyaksikan bahwa hidup kita benar-benar penuh pengharapan? Apakah orang lain bisa membaca dan melihat kebaikan dan kasih Kristus di dalam kita?

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menolong korban terparah dari kenaikan harga BBM, khususnya anak-anak dan perempuan miskin dan masyarakat marginal pada umumnya, sedangkan keadaan perekonomian kita sendiri ikut gonjang-ganjing? Bagaimanapun sulitnya hidup kita, Tuhan ingin kita memberi makan kepada orang yang kelaparan, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada mereka yang tak berdangau, memberi pakaian kepada yang telanjang dan melawat orang yang sakit dan kesepian. Itu semua harus kita lakukan bukan hanya sebagai tugas sosial, tetapi lebih merupakan pelaksanaan dari Amanat Agung yang Tuhan mandatkan dalam Matius 25: 31-46.

Mungkin para pembaca akan bertanya "Lho, sekarang ini kita sendiri sedang berada pada posisi yang sama sebagai korban kenaikan harga BBM? Kalau korban diharuskan menolong korban lain, apakah tidak sama dengan jeruk menolong jeruk? Mana mungkin!". Jawabannya adalah : "Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan!"

Sebagian orang mungkin akan mengeluh betapa sulitnya menjadi pengikut Kristus. Kalau kita berpikir bahwa itu sulit, maka segala sesuatu akan benar-benar sulit. Namun kalau kita mau membuka diri dan menyatakan iman, pengharapan dan kasih dalam kehidupan sehari-hari, maka Tuhan pasti akan menolong kita.

Dengan kerinduan untuk menolong orang-orang miskin yang putus asa dan tak berpengharapan gara-gara kenaikan harga BBM, maka Tuhan akan memperlengkapi kita dengan ketrampilan hidup berhemat dan kemampuan untuk hidup sederhana. Bisa jadi Tuhan tidak menambahkan berkat materi untuk mengejar kenaikan harga barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tetapi Tuhan akan memperlengkapi kita dengan kreativitas untuk menikmati hidup dalam suasana yang pas-pasan. Bisa jadi, dengan kenaikan harga BBM ini kita terlatih untuk mengganti daging sapi, ayam, lobster, cumi-cumi, keju dan makanan mewah lain dengan tempe, tahu, ikan asin, telor dan kacang merah yang tak kalah nilai gizinya.

Bisa jadi, dengan semakin meroketnya harga-harga kebutuhan pokok, kita bisa lebih selektif untuk memilih makanan yang tidak terlalu mahal tetapi sehat, bergizi, tetapi non kolestrol dan non fat. Bisa jadi dengan semakin mahalnya beras, kita bisa lebih kearif memanfaatkan singkong, ubi, kentang, talas atau ganyong sebagai sumber karbohidrat. Atau jangan-jangan inilah saatnya bagi kita yang sudah over weight untuk mengurangi asupan karbohidrat dan protein, sehingga badan lebih ramping, sehat dan menarik.

Bagaimana dengan biaya transport yang sebentar lagi akan naik? Kita bisa tetap berpikir positif tentang hal tersebut. Mungkin sudah waktunya kita memutuskan untuk bepergian untuk hal-hal yang penting saja. Untuk menuju tempat yang berjarak kurang lebih 1 km, mungkin ada baiknya kita membiasakan diri untuk berjalan kaki. Selain menghemat uang, cara ini tentu sangat baik untuk kesehatan. Siapa tahu dengan semakin sering kita berjalan kaki, kita pun bisa saling menyapa dengan tetangga atau bahkan bisa mendapat kenalan baru.

Bisa jadi, dengan semakin mahalnya biaya transport, kita terpaksa menghentikan kegiatan di luar rumah yang tidak mendatangkan kemuliaan Tuhan dan tidak membawa kebaikan untuk diri sendiri dan sesama. Shopping yang bersifat hura-hura atau sekedar cuci mata di mall, dugem ke diskotik atau tempat hiburan malam sudah pasti lebih baik dihentikan demi kemuliaan Tuhan dan demi menyelamatkan kantong.

Marilah kita syukuri dan maknai setiap peristiwa yang terjadi, sambil mencari tahu apa maksud Tuhan di balik itu. Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa Tuhan telah memiliki master plan yaitu Rencana dan Karya Penyelamatan yang begitu indah dan sangat baik untuk kita. Dengan memohon berkat dan kekuatan dariNya, kita bisa memaknai setiap peristiwa, memandang hidup ke depan dan berkontribusi secara positif dalam master plan yang telah Tuhan siapkan.

Tinggalkan Komentar