Kesaksianku

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Yohana Cahyadi

Nama saya Yohana Cahyadi. Melalui kesempatan ini saya ingin memberikan kesaksian hidup dari mama saya. Saya anak pertama dari 4 bersaudara. Saya lahir dari seorang mama yang mengasihi Tuhan. Dari kecil saya sudah dididik untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Mama pun juga adalah seorang yang melayani Tuhan dalam gereja.

Kejadian ini bermula pada tanggal 3 Juli 2010, di mana mama divonis dokter mengidap kanker usus stadium 4 dan sudah menyebar ke bagian paru-paru, rahim dan bagian lainnya. Keadaan demikian membuat mama dan keluarga kehilangan semangat. Saya bertanya pada Tuhan kenapa mama seorang yang mengasihi dan melayani Tuhan bisa mengalami hal yang demikian. Namun di tengah kondisi yang demikian kami tetap datang pada Tuhan.

Pada saat itu mama mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah salah, rancangan-Nya adalah yang terbaik. Kata-kata itulah yang membuat saya sekeluarga kembali dikuatkan. Setelah divonis demikian akhirnya pihak keluarga sepakat agar mama mengambil langkah kemotherapy. Pada masa kemo saya dapat melihat bahwa Tuhan yang saya miliki adalah Tuhan yang setia yang menyediakan semua keperluan mama untuk pengobatan. Kami sekeluarga bukan keluarga yang kaya, namun untuk keperluan pengobatan mama selalu aja tercukupi tepat pada waktunya.

Pada saat itu keluarga mulai melihat sedikit pengharapan supaya mama dapat sembuh. Namun setelah kemo yang ketiga ditemukan tumor besar pada bagian otak belakang mama. Tumor ini menjepit syaraf otak sehingga mama merasakan sakit di kepala seperti ditusuk jarum. Saya baru pertama kali melihat mama menangis karena menahan sakit. Saat itu mama menangis karena tidak kuat menahan sakit demikian, namun saat kondisi demikian mama tetap memanggil Tuhan Yesus. Dalam kondisi demikian tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mama yang menyalahkan Tuhan. Mama selalu berkata jalan Tuhan itu benar. Ada sebuah nyanyian berkata, "Sandar Yesus, mesra, nyaman, alami kuasa darah; iman sederhana saja, semua sakit sirnalah." Mama mengalami pujian ini. Setiap ada saudara/saudari menjenguk, mama malah menghibur dan menguatkan saudara/saudari melalui doanya.

Hari demi hari dilewati mama dengan terus bersandar pada Tuhan. Banyak kenalan yang tidak percaya ketika diberitahu kondisi mama yang kanker stadium 4 karena memang badan mama tidak terlihat seperti orang yang memiliki sakit yang mengerikan itu. Hanya saja memang mukanya terlihat pucat. Satu hari sebelum mama meninggal, mama masih sempat mendorong anak rohaninya untuk tetap setia mengikut Tuhan. Bahkan di saat terakhirnya mama menyanyikan sebuah lagu yang berkata, "Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku." Saudara/saudari inilah Tuhan yang kita miliki di dalam kita. Meskipun kita berada dalam situasi sulit asalkan kita datang kepada-Nya, belajar bersandar pada-Nya, Tuhan bisa kita alami secara riil. Banyak pelajaran rohani yang mama ajarkan kepada saya selama ia sakit. Satu hal yang paling berharga yang dia ajarkan kepada anak-anaknya adalah imannya. Saya sungguh bersyukur atas kesaksian hidup seorang mama yang Tuhan berikan untuk saya.