Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereAlkitab / Kebangkitan Yesus: Refleksi Historis-Teologis

Kebangkitan Yesus: Refleksi Historis-Teologis


Pertanyaan tentang kebangkitan Yesus pada Paskah subuh sudah lama menjadi persoalan sejarah dan teologis. Banyak pakar yang meragukan historisitas dari laporan kebangkitan Yesus seperti yang ditemukan dalam Perjanjian Baru. Namun di sisi lain perlu dicatat keraguan akan hal ini bukanlah hal yang baru. Sejak abad pertama, pertanyaan dan sikap skeptik yang meragukan kebangkitan Yesus sudah sering dan berulang-ulang ditemukan.

Ketika Paulus berkotbah di Athena tentang kebangkitan Yesus (Kis 17), orang-orang, khususnya para intelektual zaman itu, mentertawakan pernyataan dan keyakinan Paulus. Alasannya sederhana saja, karena orang mati biasanya memang tidak bangkit lagi. Pada saat yang sama, gereja mula-mula juga memahami bahwa kebangkitan orang mati memang normalnya tidak terjadi. Bisa dikatakan sejak zaman kuno, baik para intelektual maupun orang awan, sama-sama memahami bahwa kebangkitan orang mati adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Karena itu kebangkitan Yesus sebagai suatu pusat kesaksian gereja mula-mula, memang merupakan gejala dan peristiwa yang sangat unik.

Kalau kita menelusuri pikiran tenatng kebangkitan dalam sejarah, keyakinan akan kebangkitan orang mati memang bukanlah ide yang baru. Setidaknya sejak masa Plato, orang sudah beranggapan bahwa orang mati punya kehidupan setelah kematian. Namung, kebangkitan dalam pikiran Plato adalah kehidupan roh, dimana seseorang exist dalam suatu bentuk kehidupan lain selain jasmaniah. Pada masa kini orang pada umumnya juga menerima adanya bentuk kehidupan seperti ini.

Yang penting untuk di catat disini adalah, jika kita mempelajari Judaisme pada masa Yesus, kebangkitan tidak pernah dipahami dalam kategori rohani seperti ini. Kebangkitan pada masa itu, selalu berarti ´kembali kepada kehidupan fisik setelah mengalami kematian´. Dengan kata lain ´KEHIDUPAN SETELAH KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN´. Keyakinan akan adanya kehidupan seperti ini diteruskan oleh gereja mula-mula. Dalam hal ini mereka tidak berbeda dengan Judaism masa itu. Mereka percaya setelah kematian, orang-orang percaya akan beristirahat bersama dengan Tuhan. Tetapi ini bukan akhir cerita, kemudian mereka akan dibangkitkan dalam bentuk jasmaniah pada akhir zaman.

Dimana perbedaan Judaism masa itu dengan kekristenan? Yang menjadi perbedaan yang mencolok dan bisa dikatanan ´inti keyakinan gereja mula-mula´ adalah bahwa ´PERISTIWA AKHIR ZAMAN INI TELAH TERJADI DI DALAM DIRI YESUS KRISTUS´. Dimana pengharapan eskatologis Jahudi mengalami suatu kejutan sejarah, dan buah pertama dari kedatangan Kerajaan Allah telah terjadi di dalam Yesus Kristus.

Orang Jahudi tidak percaya bahwa peristiwa itu telah terjadi lebih dahulu pada Yesus sebagai yang sulung sebelum kebangkitan terjadi pada semua orang. Khususnya kelompok Farisi, mereka memiliki keyakinan yang kuat mengenai kebangkitan, namun pengakuan akan kebangkitan Yesus tidaklah masuk akal mereka. Mereka melihat, kebangkitan akan terjadi bagi seluruh orang Israel, tetapi bagaimana mungkin itu terjadi pada diri seorang manusia yang disebut Yesus? Disinilah Injil dan Paulus memberikan suatu presentasi yang unik. Yesus adalah Israel itu sendiri, Dia adalah Anak Allah sebagaimana Israel adalah anak Allah. Didalam kebangkitanNya, maka nubuatan akan penggenapan bagi restorasi Israel telah dimulai, tetapi belum sampai pada kesempurnaannya. Ketegangan antara ´already´ and ´not-yet´ menjadi corak pemberitaan akan kebangkitan Israel didalam kebangkitan Yesus.

Dokumen tertua Perjanjian Baru adalah surat-surat Paulus (kl. 40-50 AD). Dalam bagian ini telah ditemukan pengakuan akan kematian dan kebangkitan Yesus. Banyak pakar liberal membuat suatu perbedaan yang tegas antara Yesus, sosok sejarah yang berasal dari Galilea, dengan Kristusnya Paulus, yang diperTuhankan dan di sembah oleh gereja mula-mula. Dikotomi antara Yesus sejarah dan Kristus Iman, terus menerus menjadi paradigma kebanyakan pakar. Meski harus diakui bahwa dikotomi seperti ini tidak ditemukan dalam tulisan Paulus sendiri. Bagi Paulus, Kristus yang diakui sebagai messias Israel adalah Yesus sejarah yang telah mati dan bangkit. Dikotomi ini sering diangkat didasarkan pada asumsi bahwa ajaran Yesus dan ajaran Paulus nyata-nyata berbeda. Yesus adalah rabbi yang sangat menekankan etika dan kedatangan Kerajaan Allah, sedangkan Paulus menganut Teologi Salib.

Namun dikotomi ini hanya benar dalam melihat adanya PENEKANAN YANG BERBEDA antara Yesus dan Paulus. Perbedaan ini menjadi dikotomi karena mereka melihat baik Paulus maupun Yesus adalah DUA PENDIRI AGAMA. Namun baik Paulus maupun Yesus tidak pernah berpikir bahwa mereka adalah pendiri agama atau pengajar suatu ajaran yang baru.

Kalau kita melihat Perjanjian Baru dengan teliti, maka kita akan menemukan Yesus sebagai seseorang yang melihat dirinya sebagai pribadi yang didalamnya penantian dan nubuatan Israel telah mencapi klimaksnya. Dia adalah puncak dari penggenapan janji Allah kepada Israel. Narrative Israel di Perjanjian Lama ditandai dengan kejahatan yang mengungkung Israel dan umat manusia secara universal. Dengan menyadari panggilanNya, Yesus menarik dan menyerap semua kejahatan tersebut ke dalam diriNya, mati di dalam penggenapan akan nubuat keselamatan, dan menaklukkan kejahatan itu sekali untuk selamanya di atas salib. Dalam konteks ini, PAULUS PERCAYA BAHWA YESUS TELAH BERHASIL DALAM MENGEMBAN PANGGILAN TERSEBUT. Keberhasilan Yesus dikonfirmasikan oleh penyataan Allah yang membangkitkan Dia dari kematian. Fakta kebangkitan Yesus bagi Paulus adalah suatu twist sejarah yang mengejutkan. Apa yang dinantikan si-farisi ini ternyata telah terjadi dalam suatu bentuk yang tak terpikirkan sebelumnya. Kebangkitan Israel telah dimilai dengan kebangkitan Yesus, anak Allah yang mewakili umatNya Israel. Karena itu tugas Paulus bukan untuk melakukan kembali apa yang Yesus sudah lakukan, tetapi memberitakan apa yang sudah Yesus capai, atau lebih tepatnya mengimplementasikan apa yang Yesus telah capa2i.

Perbedaan antara Yesus dan Paulus adalah dalam hal ´ACHIEVING´ dan ´IMPLEMENTING´. Perbedaan ini ibarat perbedaan antara Composer dengan Conductor dalam komposisi musik. Composer menciptakan, Conductor melakukan. Kalau Conductor melakukan lagi apa yang dilakukan oleh Composer maka dia sudah menciptakan suatu yang baru, atau dia adalah seorang Conductor yang jelek. Conductor yang baik memainkan apa yang sudah ada, yang telah ditulis Composer. Demikian juga Paulus, untuk meneruskan apa yang telah dilakukan Yesus, Paulus tentu saja tidak melakukan apa yang Yesus lakukan, tetapi memberitakan apa yang telah dicapai oleh Yesus. Yesus mengalahkan kejahatan di salib dan menyempurnakannya dalam kebangkitanNya, Paulus melihat tugasnya adalah memberitakan apa yang sudah dicapai oleh Yesus dalam hidup, kematian dan kebangkitanNya.

Selanjutnya banyak pakar juga yang meragukan kebangkitan Yesus didasarkan pada laporan yang berbeda yang ditemukan dalam Injil Perjanjian Baru. Misalnya, dalam versi tertua dari Markus, tidak ada laporan tentang penampakan Yesus. Lukas Menggeser fokus kesaksian dari Galilea ke Jerusalem. Dan hanya Yohanes yang menghubungkan kebangkitan Yesus dengan ke-TuhananNya. Namun kritik seperti ini, dibela dari sudut manapun, tidak akan pernah habis-habisnya. Kalau seandainya ceritanya persis sama, maka pakar bisa saja berkata, bahwa hanya satu yang asli, dan yang lainnya hanya meng-copy saja dari yang asli. Atau malah bertanya kalau sama saja untuk apa ada empat versi laporan kebangkitan Yesus.

Terlepas dari kritik seperti ini, yang menarik dari cerita Paskah adalah perbedaan yang sangat mencolok dari KATA YANG DIGUNAKAN. Hal ini menunjukkan bahwa dalam melaporkan peristiwa ini, para penulis Injil cukup independent dalam menuturkannya, namun disis lain mereka memiliki suatu PENGERTIAN YANG SAMA TENTANG APA YANG TERJADI PADA PASKAH SUBUH TERSEBUT.

Lebih menarik lagi, detail dari peristiwa yang mereka laporkan dapat dikatakan begitu mirip, meskipun kata-kata mereka yang digunakan sangat berbeda. Data ini menunjukkan bahwa dalam tradisi oral ketika peristiwa ini kerap dituturkan dalam perkumpulan komunitas Kristen purba, laporan kebangkitan memiliki versi yang beragam sesuai dengan saksi mata dan penutur yang menjadi sumber berbagai komunitas. Yang penting bagi kita adalah bukan perbedaan detail kisahnya, tetapi kehadiran kisah-kisah ini yang sangat universal dalam berbagai komunitas Kristen purba. Ini menunjukkan bahwa kisah ini sudah sejak semula menjadi pusat dari pemberitaan dari komunitas Kristen, karena itu central bagi identitas umat Kristen. Itu makanya Paulus berkata, tanpa kebangkitan sia-sialah kepercayaan Kristen.

Dalam laporan Paulus tentang kebangkitan (IKor 15) kita menemukan tradisi gereja yang sudah baku tentang kebangkitan. Yang menarik dalam pengakuan iman IKor 15 kita, tidak ditemukan adanya kisah tentang saksi mata perempuan. Tapi pada saat yang sama, di keempat Injil kita menemukan secara konsisten bahwa saksi mata pertama peristiwa ini adalam perempuan. Pada za319 itu, melaporkan suatu peristiwa yang luar biasa dengan saksi mata perempuan adalah suatu blunder retorika. Hal ini karena kebudayaan pada masa itu, meragukan kebenaran dan keakuratan dari cerita dan penuturan perempuan. Seandainya para penulis Injil hanya mengarang kisah kebangkitan Yesus, maka menempatkan wanita sebagai saksi mata adalah keanehan yang luar biasa. Dengan kata lain, sulit sekali untuk menerima bahwa laporan ini hanyalah fiktif semata.

Beberapa pakar mencoba menjelaskan laporan kebangkitan Yesus dengan memberikan sudut pandang psikologis. Para murid yang kehilangan pemimpin mengalami goncangan psikologis yang membuat mereka memprojeksikan Yesus yang bangkit. Namun kalau kita melihat sejarah Palestina sekitar 200 SM- 200 AD, kita menemukan adanya tokoh-tokoh seperti Yudas dari Galilea, Teudas dan Bar-Kokhba yang merupakan pemimpin besar gerakan agama yang kemudian mati, tetapi tanpa ada laporan tentang kebangkitan mereka. Satu demi satu para pemimpin ini di bunuh oleh Roma dan para pengikut mereka tercerai berai. Mengapa tidak satupun dari mereka yang jelas-jelas mengalami kondisi psikologis yang tergoncang kemudian menciptakan cerita tentang kebangkitan pemimpin mereka? Mengapa? Ini menarik sekali! Pada zaman itu penyakit psikologis modern yang suka berhalusinasi tidaklah populer seperti sekarang ini. Gerakan yang dikalahkan biasanya bubar, menyerah dan kembali kepada aktivitas mereka, atau gerakan itu memilih seorang pengganti untuk menjadi pemimpin mereka. Karena itu laporan kebangkitan Yesus yang secara konsisten diberitakan gereja purba adalah sesuatu yang unik.

Pakar lain coba untuk menerima laporan tentang kebangkitan Yesus sebagai kesaksian yang tak tertolak. Tapi mereka menolak bahwa itu berarti Yesus adalah anak Allah, mungkin Yesus hanyalah seorang nabi yang secara luar biasa diberkati oleh Tuhan, tetapi bukan berarti Dia adalah Tuhan atas segala sesuatu. Pandangan seperti ini banyak dianut oleh pakar dengan latar belakang Jahudi. Namun kalau kita coba untuk memahami kebangkitan Yesus dengan latar belakang semua TINDAKAN YANG DIA LAKUKAN BERDASARKAN LAPORAN INJIL, seperti membersihkan Bait Allah, menyembuhkan dan membangkitkan orang mati, lalu akhirnya Dia bangkit, maka dari sudut pandang Teologi Judaism masa itu, Dia adalah messias yang diutus Allah, dan dengan kata lain ´Lord of all´. Ini memiliki dimensi politik yang kental karena itu berarti gereja berkata bahwa ´Kaisar Romawi bukanlah Tuhan dan Penguasa, tetapi YESUSLAH TUHAN DAN PENGUASA DUNIA!´ Tindakan Paulus menyebut Yesus ´Tuhan´ dalam pembukaan surat-suratnya adalah suatu tindakan provokatif dan subversif, khususnya mengingat dia sendiri adalah warga negara Romawi. Dengan demikian dia sedang mengatakan bahwa Kaisar itu hanyalah raja kecil yang masih berada dibawa Yesus Kristus, Kaisar atas segala kaisar.

Ketika kita mempelajari dokumen Perjanjian baru kita menemukan suatu perkembangan yang unik, dalam waktu 20-30 tahun setelah kebangkitan Yesus, maka gereja telah sampai kepada keyakinan yang solid bahwa Yesus adalah messiah yang didalamNya Yahweh Israel dikenal dan dinyatakan, dengan perkataan lain Dia adalah inkarnasi dari Yahweh Israel. Pernyataan-pernyataan seperti yang ditemukan dalam tulisan Paulus dan Injil menunjukkan kenangan Para Rasul dan komunitas Kristen purba akan Yesus sebagai Tuhan dan penyataan Allah. Dalam konteks monotheisme yang ketat dari Jahudi, penyembahan kepada Yesus hanya bisa dimengerti sebagai suatu pengakuan akan Yesus sebagai messias yang didalamNya Yahweh telah menyatakan diri. Dia adalah penyataan dari Yahweh Israel, kalau tidak maka gereja mula-mula telah melakukan suatu penyembahan berhala, suatu dosa yang disadari dengan sensitif oleh orang Jahudi masa itu.

Dengan memberikan kritik dan kupasan diatas, bisa kita lihat bahwa menempatkan laporan Kebangkitan Yesus dalam konteks Judaisme abad pertama membuat laporan Paulus dan Injil Perjanjian Baru menjadi masuk akal dan penuh dengan makna yang relevan bagi pembaca pertama dokumen-dokumen tersebut. Dalam konteks narasi Israel, kebangkitan Yesus adalah mutlak untuk memahami ungkapan keyakinan Paulus yang luar biasa akan kemesias-an Yesus dan penuturan Injil akan keilahianNya.

Ulasan ini kiranya menjadi suatu penyegar bagi keyakinan kita akan signifikansi kebangkitan Yesus bagi komunitas Kristen. Kebangkitan Yesus adalah suatu buah sulung dari kebangkitan orang percaya. Didalam kebangkitanNya kita menemukan klimaks dari perjanjian Allah kepada Israel dan umat manusia, dimana kejahatan dan maut telah ditaklukkan, dan kepada kita semua diberikan undangan untuk berpartisipasi dalam kerajaan Allah yang telah menerobos masuk ke dalam sejarah manusia dan memberikan suatu perubahan yang final akan arah sejarah dan tujuan bumi ciptaan Tuhan. Dalam konteks meta-narrative yang berpusat pada kebangkitan Yesus, kiranya kita menemukan makna dan kuasa dalam narrative kehidupan kita, khususnya di dunia yang semakin kehilangan pusat kehidupan ini.

Tinggalkan Komentar