Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereLain-lain / Globalisasi; Kolonialisme Tahap Ketiga

Globalisasi; Kolonialisme Tahap Ketiga


Penulis : Markus Rani

ALLAH hadir dalam globalisasi. Paling sedikit, dari perspektif Allah, globalisasi mempunyai arah, sasaran, dan tujuan tertentu. Dengan demikian, globalisasi mempunyai dimensi teologis, bukan suatu proses yang sekuler belaka. Karena itu, tugas gereja bukan bagaimana meniadakan globalisasi, melainkan bagaimana mengisi. Hal itu perlu dilakukan karena Mamon juga tidak kurang hadir dalam (arus) globalisasi.

Rumusan di atas merupakan petikan pemikiran Eka Darmaputera, PhD, dan Dr JB Banawiratma dalam Seminar Agama-Agama XXI di Cipayung, Bogor, Jawa Barat, 13-17 September. Seminar bertema "Globalisasi, Kebangsaan, dan Agama-agama di Indonesia" itu, diselenggarakan Departemen Penelitian dan Pengembangan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (Litbang-PGI).

Eka mengawali paparannya dengan mengutip Roma 11:36 "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dia-lah kemuliaan sampai selama-lamanya."

Di depan sekitar 70 peserta seminar, Eka menjelaskan, tiga hal mendasar yang dikatakan Alkitab mengenai Allah, yakni (a) bahwa Ia Maha-Kuasa (omnipotent); (b) bahwa Ia Maha-Mengetahui (omniscient); dan (c) bahwa Ia Maha-Hadir (omnipresent).

Menurut Eka, "Maha-Kuasa" artinya, tak ada satupun yang terjadi bisa terjadi tanpa perkenan dan pengendalian-Nya. "Maha-Mengetahui" artinya, tak ada satu pun yang terjadi bisa terjadi tanpa pengetahuan dan keterlibatan-Nya. Sedangkan "Maha-Hadir" artinya, tak ada satu pun yang terjadi bisa terjadi tanpa Ia ada di sana. Implikasi pemahaman seperti itu adalah: segala sesuatu yang ada, itu ada bukan sekadar kebetulan atau by chance belaka, melainkan karena ada penciptanya, ada maksudnya, dan ada tujuannya.

Dengan demikian, kata Eka, globalisasi-paling sedikit dari perspektif Allah-mempunyai arah, sasaran, dan tujuan tertentu. Dengan perkataan lain, globalisasi mempunyai dimensi teologis, bukan suatu proses yang sekuler belaka. Karena itu, dapat dikatakan bahwa tugas utama kita sekarang bukan bagaimana meniadakan globalisasi, tetapi bagaimana mengisinya.

Pernyataan Eka itu, secara tidak langsung menjawab makalah dan diskusi yang cukup "panas" dalam seminar itu. Salah seorang peserta dari GKE, Kalimantan, mengatakan, ketika terjadi kerusuhan antarsuku di Kalimantan, umat Kristen minta tolong kepada Tuhan, tetapi tidak ada jawaban. Pertolongan tidak diberikan. Ketika masyarakat berbalik minta tolong kepada (roh) nenek moyang, maka pertolongan segera datang.

Kekerasan Ganda

Dalam makalah berjudul "Globalisasi dari Bawah", Dr JB Banawiratma mengutip dokumen teologis Thou Shall Not Worship Other Gods: Towards a De-colonizing Theology yang dikeluarkan Asian Theological Conference V yang diselenggarakan oleh Ecumenical Association of Third World Theologians (EATWOT) di Kandy, Sri Lanka 9-15 Januari 2000. Dalam dokumen itu disebut bahwa globalisasi sebagai kolonialisme tahap ketiga setelah kolonialisme merkantil dan kapitalisme pasca-Revolusi Industri di Eropa.

Menurut Banawiratma, apa yang digambarkan Boff dan Pixley (1989:12) sebagai integrasi trans-nasional dapat dipakai untuk menerangkan kolonialisme tahap ketiga itu. Dikatakan, dalam integrasi trans-nasional tidak pertama-tama digambarkan hubungan antarbangsa dan antarnegara, melainkan antarkelas dari berbagai negara.

Kaum miskin dan tertindas mengalami kekerasan ganda, oleh vested interest perusahaan trans- nasional dan oleh dominating classes negara miskin sendiri.

Dikatakan pula, kolonialisme tahap ketiga dapat juga digambarkan dengan apa yang dikemukakan David Korten (1999:59-60) sebagai pergeseran kekuatan dari rakyat ke sistem keuangan global. Kekuasaan uang terpisah dari kepekaan manusiawi, dan rakyat menjadi tidak berdaya. Terjadi pergeseran kekuasaan dari rakyat ke keuangan global.

Korten, dan juga Francois Houtart dan kawan-kawan, mengusulkan agenda untuk memulihkan hak-hak untuk hidup, yakni mewujudkan demokrasi politis; akhiri korporasi sebagai badan hukum; hapuskan kesejahteraan korporasi; kembalikan peran uang sebagai sarana tukar-menukar; dan majukan demokrasi ekonomis. Menurut Banawiratma, agenda semacam itu tidak disukai oleh mereka yang mempromosikan proyek-proyek neoliberalistis, namun resistensi terhadap proyek semacam itu semakin meluas.

Disebutkan, dua forum berhadapan frontal, diselenggarakan pada saat yang bersamaan. Pada 23-28 Januari 2003 diadakan pertemuan World Economic Forum di Davos, Swiss. Sementara di Porto Alegre, Brasil, berlangsung World Social Forum. Forum pertama menggulirkan globalisasi yang membawa marginalisasi, sementara forum yang kedua menggerakkan globalisasi dari bawah yang liberatif. Forum Porto Alegre bertujuan menciptakan ruang alternatif bagi pemikiran-pemikiran teoretis, sosial kultural, ekonomis, dan politis.

Model Lain

Di Porto Alegre dicanangkan model globalisasi lain yang tidak membawa marginalisasi melainkan menuju kesejahteraan bersama. Diharapkan juga agar semakin kuat jaringan berbagai organisasi yang menggerakkan resistensi terhadap proyek neoliberalisme. Pertemuan Porto Alegre menunjukkan bahwa gerakan dari bawah bukanlah sekadar cita-cita hampa, melainkan sedang digulirkan.

Menurut Banawiratma, agama tidak netral, agama dapat melegitimasikan globalisasi kolonial atau menggulirkan globalisasi dari bawah, membela kaum marginal. Dijelaskan, pada 1993 Parlemen Agama-agama Sedunia mencanangkan "Declaration toward a Global Ethic" (Kueng 1996:9-26). Tanpa etika global tidak akan ada tatanan global yang baru. Tuntutan yang mendasar adalah perlakuan manusiawi terhadap semua orang.

Deklarasi yang baru disebut mengungkapkan empat arahan, yakni, tekad untuk mewujudkan budaya tanpa kekerasan dan hormat terhadap kehidupan; budaya solidaritas dan tata ekonomi yang adil; budaya toleransi dan kehidupan yang setia pada kebenaran; dan budaya dengan hak-hak sederajat beserta kemitraan laki-laki dan perempuan.

Dijelaskan, menjadi orang Kristen berarti mengikut Yesus Kristus sebagai Jalan, berada bersama Dia di mana Dia berada dan menjalankan apa yang sedang Dia kehendaki. Bagi gereja yang hidup di tengah-tengah kenyataan globalisasi yang memojokkan kaum miskin, di tengah- tengah akumulasi kekayaan tanpa berbagi perlu kiranya mengingat Lukas 16:13 yang menegaskan: "Kami tidak dapat melayani Allah dan melayani Mamon."

Dikatakan, Mamon dalam bahasa Yunani mamonas berasal dari bahasa Aramea mamon. Kata benda itu dibentuk dari kata kerja ´mn, yang berarti percaya, mempercayakan diri. Dalam teks rabbinis dan Perjanjian Baru arti kata mamon berkembang menjadi "milik, kekayaan" dengan nada negatif, yang diusahakan secara tidak jujur.

Bagi mereka yang miskin, korban dari Mamon, Allah mengadakan pakta perjanjian untuk melawan musuh bersama, yakni Mamon itu sendiri. Menurut Banawiratma, gereja menjadi gereja kalau bersatu dengan kaum miskin dan tertindas, kalau bersatu dengan kaum marginal, dengan mereka yang menjadi korban Mamon, dengan orang-orang yang menderita.

Dijelaskan, dalam masyarakat Indonesia sekarang, gereja dipanggil guna menemukan cara baru untuk hidup yang terbuka sebagai murid-murid Yesus. Dalam hal itu, perlu kiranya dikembangkan komunitas basis yang kontekstual, dalam aras persekutuan Kristiani, dan komunitas basis manusiawi dalam aras antar-iman sebagai komunitas dialog dan transformasi.

Menjadi Satu

Dengan demikian, orientasi pemberdayaan komunitas basis merupakan cara baru hidup bergereja. Yang menentukan dalam cara baru hidup menggereja ini adalah kaum miskin, para korban. Itu sebabnya, Yesus (dan murid-murid) dalam pelayanan kepada mereka yang tertindas, menempatkan diri (satu) di antara yang dila-yani. Jadi bukan sebagai orang asing, orang yang datang dari luar komunitas si miskin.

Kita memahami sikap Yesus kepada orang miskin, orang menderita, orang yang lemah sering bertentangan status-quo yang ada. Marcel Gervais lewat tulisannya berjudul God and the Poor dalam buku Middle Classes the Poor God, Donum Dei Nomor 25 (1979) halaman 86, mengatakan, jemaat di Qumran, memandang orang lumpuh dan yang cacat lainnya terkucil dari keselamatan eskatologis. Tetapi Yesus mengatakan, mereka itu berbahagia, karena bagi merekalah Kerajaan Allah (Lukas 6:20).

Tindakan Yesus melanggar status-quo, juga dapat dibaca dalam Lukas 5:12-16 tentang penyembuhan seorang yang sakit kusta. Orang Yahudi memandang orang sakit kusta itu najis, sehingga harus dikucilkan dari masyarakat, dari persekutuan umat Allah.

Orang kusta dicap sebagai orang yang terkutuk. Penyakit tersebut dianggap penyakit yang sukar disembuhkan. Nyata dari ucapan-ucapan pengajar kesusilaan Yahudi yang menganggap orang sakit kusta sebagai mayat bergerak, sehingga menyembuhkan orang dari penyakit ini sama sukarnya dengan menghidupkan kembali orang yang sudah mati. (J Sutopo, SJ dalam Mysterium Christy, Penjelasan Injil Markus, bagian I, Kanisius, 1970, hal. 79).

Dalam kisah itu, Yesus tidak hanya melanggar hukum agama 329g ketat, melanggar status-quo sehingga membiarkan diri-Nya didekati orang kusta. Yesus bahkan bersedia menyembuhkan penyakit kusta yang oleh orang Yahudi dianggap paling sulit disembuhkan.

Tujuan pelayanan Yesus dan murid-murid-Nya, dengan demikian tujuan pelayanan gereja sekarang ini, adalah satu atau sama dengan maksud Allah, yaitu kebahagiaan bagi umat manusia. Allah mau supaya umat-Nya secara bertanggung jawab mewujudkan hubungan yang harmonis antara sesamanya manusia, antara manusia dengan ciptaan lainnya.

Dalam kerangka itulah, globalisasi hendaknya disambut dan diisi agar sifat-sifat Mamon yang terkandung di dalamnya diminimalkan, bahkan ditiadakan. Globalisasi harus ditumbuhkan dari bawah sehingga tidak ada yang tercecer.

Sumber: Suara Pembaruan Daily

Tinggalkan Komentar