Artikel-artikel tentang dunia pelayanan dan gereja
Oleh: Andre Widodo
Wahyu 3:14-22
Gereja Laodikia dikategorikan oleh para ahli dan sarjana Alkitab sebagai Gereja suam-suam kuku atau The Lukewarm Church.Ada juga yang mengkategorikan gereja ini sebagai Gereja Murtad.Mungkin terlalu keras kata-kata ini,tetapi kita akan menemui beberapa alasannya nanti dalam pembahasan Gereja Laodikia. Masa gereja Laodikia dimulai dari tahun 1900 AD sampai dengan 7 Tahun Masa Kesusahan Besar.
Di Peta Alkitab kota Laodikia terletak di Asia Kecil.Kota ini hanya berjarak 40 miles dari kota Efesus. Kota Laodikia juga termasuk kota yang kaya pada saat Pemerintahan Romawi.Sekarang kota ini berada di wilayah Negara Turki,dan kalau kita melihat reruntuhan kota Laodikia sekarang,kita dapat menjumpai bekas reruntuhan 3 gereja yang cukup besar dari peninggalan Romawi. Dari bekas peninggalan gereja di Laodikia itu kita dapat melihat bahwa gereja-gereja saat itu adalah gereja-gereja yang kaya. Tetapi disamping kekayaannya,tidak ada satupun kita baca di Alkitab yang menceritakan pelayanan-pelayanan dari kota Laodikia. Tetapi justru kota di tetangganya yaitu Efesus yang banyak tercatat di Alkitab tentang pelayanan-pelayanannya. Kalau kita memperhatikan masa kronologis 6 gereja yang sudah dibahas sebelumnya,maka kita akan tahu bahwa sampai saat ini hanya ada 4 tipe gereja berdasarkan Kitab Wahyu.Gereja-gereja itu adalah Tiatira,Sardis,Filadelfia dan Laodikia. Ke 4 gereja ini masih ada sampai sekarang.
Mengenai masa Gereja Laodikia, masa ini dimulai dari tahun 1900 AD dan intensitasnya semakin bertambah menjelang Hari Kedatangan Tuhan. Karakter gereja Laodikia ini adalah gereja yang suam-suam kuku,lebih berkonsentrasi pada gerakan oikumene untuk menciptakan gereja-gereja oikumene.
PUJIAN
Tidak ada satu ayat pun yang memuji Laodikia.Tuhan Yesus tidak memuji tipikal gereja ini.
TEGURAN
Wahyu 3:15
Aku tahu segala pekerjaanmu,engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas.
Wahyu 3:16
Jadi karena engkau suam-suam kuku,dan tidak dingin atau panas,Aku akan MEMUNTAHKAN engkau dari mulutKu. Dari ayat 15,kita tahu bahwa Tuhan sangat memperhatikan kondisi gereja-gereja di akhir zaman ini. Kata-kata TIDAK DINGIN DAN TIDAK PANAS ini menunjukkan kepada perbuatan-perbuatan gereja-gereja ini yang hanya mementingkan keorganisasian,program-program sosial,pembentukan komite,kegiatan kemanusiaan lainya tapi sebenarnya di mata Tuhan mereka tidak mempunyai power.
Roh Kudus mengingatkan Paulus di 2 Timotius 3:5
SECARA LAHIRIAH MEREKA MENJALANKAN IBADAH MEREKA,TETAPI PADA HAKEKATNYA MEREKA MEMUNGKIRI KEKUATANNYA.JAUHILAH MEREKA ITU!
Firman Tuhan cukup tegas, JAUHILAH MEREKA ITU!.
Gereja-gereja Laodekia ini lebih tertarik kepada aksi-aksi sosial mereka dari pada terlibat dalam pewartaan Injil.Mereka lebih tertarik pada PLANNING dari pada PRAYING,mereka lebih tertarik kepada reformasi dari pada transformasi. Satu hal mengenai reformasi yang sekarang sedang menjadi tema di beberapa gereja di Indonesia,saya ingin mengatakan REFORMASI BAGI BANGSA KITA/BAGI GEREJA KIA TIDAK AKAN TERWUJUD KALAU GEREJA TIDAK MENGUTAMAKAN FIRMAN TUHAN DIATAS SEGALA-GALANYA. REFORMASI TIDAK AKAN TERWUJUD KALAU FIRMAN TUHAN TIDAK DIBERITAKAN. REFORMASI TIDAK AKAN TERWUJUD JIKA KITA MASIH TOLERANSI TERHADAP DOSA. Mau menegor yang salah menurut Firman Tuhan masih takut,karena takut menyinggung perasaannya. Dengan kata lain lebih mementingkan HATI MANUSIA daripada HATI TUHAN.
Bagaimana transformasi bisa terwujud?
Yang bisa men-transform hanyalah Roh Kudus. Dan Roh Kudus hanya akan bekerja men-transform jika kita punya karakter lebih TAKUT AKAN TUHAN daripada TAKUT AKAN MANUSIA. Yohanes 14:21: Barang siapa memegang perintahKu dan melakukannya,dialah yang mengasihi Aku. 2 Timotius 4:2 BERITAKANLAH FIRMAN,SIAP SEDIALAH BAIK ATAU TIDAK BAIK WAKTUNYA, NYATAKANLAH APA YANG SALAH,TEGORLAH DAN
NASIHATILAH DENGAN SEGALA KESABARAN DAN PENGAJARAN.
Karena itu mari kita semua kembali ke Alkitab.Tegorlah saudara-saudara kita yang masih hidup bertentangan dengan Firman Tuhan.Dan berdoalah minta Roh Kudus men-transfer hidup kita agar menjadi garam dan terang bagi sesama kita. Ayat 16,dikatakan bahwa Tuhan akan MEMUNTAHKAN mereka. Mari kita lihat Matius 7:21-23. Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu Tuhan,Tuhan!akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,melainkan dia yag melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan,Tuhan bukankah kami bernubuat demi namaMu dan mengusir setan demi namaMu dan mengadakan mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: AKU TIDAK PERNAH MENGENAL KAMU!ENYAHLAH DARIPADAKU KAMU SEKALIAN PEMBUAT KEJAHATAN. Di usir oleh Tuhan,itulah artinya dimuntahkan oleh Tuhan.
Wahyu 3:17
Karena engkau berkata: aku kaya dan aku telah memperkaya diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa,dan karena engkau tidak tahu,bahwa engkau melarat dan malang, miskin, buta dan telanjang.
Gereja-gereja Laodikia saat ini digambarkan dalam ayat 17 sebagai gereja-gereja yang kaya. Mereka mempunyai bangunan yang indah,dan mahal,mempunyai banyak organisasi yang disponsori oleh gereja-gereja tersebut dan juga banyak keanggotaannya di program-program sosial lainnya. Mereka berkata,kita gereja yang kaya,gereja yang besar tetapi mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya mereka miskin secara rohani. Kuasa Firman Tuhan tidak ada dalam mereka.
Manusia boleh mengatur banyak macam organisasi,mereka boleh membangun gedung-gedung gereja yang indah,mereka boleh berkhotbah,mereka boleh mengajar, TETAPI hanya ROH KUDUS yang membuat manusia berbalik bertobat kepada Tuhan. HANYA ROH KUDUS YANG DAPAT MENTRANSFORM HIDUP SESEORANG.
Apa kata Yesus tentang Roh Kudus? Apa ciri-ciri Roh Kudus?
Yohanes 16:14 : IA akan memuliakan Aku,sebab IA akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu. Inilah ciri-ciri Roh Kudus. Roh Kudus akan memuliakan Yesus saja. Jika ada suatu roh yang ternyata memuliakan seseorang manusia selain dari Tuhan Yesus sendiri,maka itu bukan Roh Kudus. Apakah roh nya memuliakan Yesus? Ini caranya kita menguji setiap roh. Gereja-gereja Laodikia ini,mereka tidak tinggal di dalam pengajaran Alkitab,tetapi justru mereka banyak berkecimpung dalam aktivitas-aktivitas sosial. Mereka banyak terjun ke dalam aktivitas legalisasi homoseksual dan lesbian.
Mereka mengatakan homoseksual dan lesbian juga adalah anugerah. Mereka juga memperjuangkan bahwa aborsi adalah hak setiap wanita. Banyak macam aktivitas yang mereka ikuti. Dan yang terakhir adalah berita dari seorang Uskup wanita dari Amerika yang melegalkan homoseksual dan lesbian. Kita tidak perlu menyebutkan dari jenis gereja apa,tetapi yang penting kita tahu,bahwa Tuhan menentang gereja-gereja seperti ini. Firman Tuhan adalah Terang. Karena itu Tuhan berkata di Lukas 12:2
TIDAK ADA SESUATUPUN YANG TERTUTUP YANG TIDAK AKAN DIBUKA DAN TIDAK ADA SESUATUPUN YANG TERSEMBUNYI YANG TIDAK AKAN DIKETAHUI.
NASIHAT
Wahyu 3:18
Maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dari dalam api, agar engkau menjadi kaya,dan juga pakaian putih,supaya engkau memakainya,agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan, dan lagi minyak untuk melumas matamu,supaya engkau dapat melihat.
Di mata Tuhan, gereja Laodikia ini miskin,tetapi mengapa Tuhan menasihatkannya untuk membeli emas dari Tuhan Yesus? Kalau kita membaca Yesaya 55:1, kita akan mengerti bahwa Tuhan mengundang seluruh umat manusia untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mengundang manusia untuk menerima KESELAMATAN secara GRATIS. KESELAMATAN adalah ANUGERAH dan KASIH KARUNIA. Bukan karena usaha manusia. Karena itu yang termiskin dari antara yang miskin pun dapat diselamatkan asalkan dia BERTOBAT,MEMANGGIL NAMA YESUS dan PERCAYA dalam NAMA YESUS.
Pakaian putih dalam ayat 18 ini, menggambarkan pakaian pengantin wanita dalam setiap pernikahan. Pengantin wanita yang siap menyambut Pengantin Pria maka ia akan mengenakan pakaian putih yang melambangkan kekudusan. Yesaya 61:10 menjelaskan tentang hal ini. Kita adalah mempelai wanita dan Kristus adalah mempelai pria. Dalam menyonsong kedatanganNya,kita harus siap dengan kekudusan kita. Minyak dalam ayat 18 yang dipakai untuk melumaskan mata ini, adalah lambang Roh Kudus.
Sering kali dalam banyak ayat di Alkitab, Roh Kudus dilambangkan dengan minyak. Roh Kudus akan membukakan mata kita sehingga kita dapat melihat bagaimana tipu muslihat Iblis. Roh Kudus yang akan menerangi hidup kita ini,sehingga kita TIDAK lagi hidup di dalam kegelapan.
Wahyu 3:19
Barangsiapa Kukasihi,ia Kutegor dan Kuhajar,sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Kasih Tuhan adalah TOUGH LOVE, bukan SOFT LOVE. Hal ini yang perlu dipahami oleh anak-anak Tuhan. TOUGH LOVE adalah kalau kita salah, kita ditegor,kita dihajar, kita dihantam.Tapi itu artinya Tuhan masih mengasihi kita. Hosea 6:1 menjelaskan karakter TOUGH LOVE nya Tuhan Yesus.
Wahyu 3:20
Lihat, Aku berdiri dimuka pintu dan mengetok,jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Pintu dalam ayat ini menggambarkan pintu hati.Karena dari hati terpancarlah kehidupan.Amsal 4:23.
Tuhan Yesus dengan sabar mengetok hati kita,Ia tidak memaksa kita,tetapi jika kita membuka hati untuk Dia,Dia akan hidup dalam kita dan kira di dalam Dia. Kalau Yesus sudah ada dalam kita dan kita di dalam Yesus, maka jaminan kita adalah hidup yang kekal.Yohanes 5:24. Salah satu cara Tuhan mengetuk pintu hati manusia adalah melalui anak-anakNya. Anak-anakNya dalam hal ini bukanlah pembicara-pembicara terkenal seperti DL Moody,Billy Graham,Adrian Rogers,Charles Stanley dan lain-lainya. Anak-anakNya dalam hal ini adalah kita semua orang-orang biasa yang TAKUT AKAN TUHAN.
Selain itu Tuhan juga mengetuk hati kita melalui Roh Kudus. Roh Kudus diutus untuk menginsafkan manusia akan dosa. Untuk mengingatkan manusia akan KEBENARAN dan akan PENGHAKIMAN. Juga,Tuhan mengetuk hati kita melalui pengalaman-pengalaman hidup kita. Seperti sakit, kekecewaan dan lain sebagainya. Itu adalah ketukan Tuhan di hati kita. Apakah kita peka mendengar ketukanNya?
PENGHARGAAN
Wahyu 3:21
Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta Ku sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa Ku di atas takhtaNya. Penghargaan ini adalah penghargaan untuk duduk dan memerintah bersama Kristus Yesus di dalam KerajaanNya yang akan datang.
Wahyu 3:22
Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. Ayat 22 ini menunjukkan bahwa hendaklah kita bertelinga,supaya kita dapat mendengarkan apa kata Roh Kudus dalam hati kita. Di tengah kesibukan kita di dunia serba modern ini,tetaplah asah telinga kita untuk mendengar Firman Tuhan. Karena semakin lama, dunia ini semakin jahat.
Kita jangan berharap melihat revival-revival besar di masa Laodikia ini karena semakin lama gereja-gereja tipe Laodikia ini akan semakin banyak.Gereja akan semakin disibukkan oleh perkara-perkara duniawi.
Mereka akan semakin disibukkan dengan Gerakan Oikumene,Gerakan Penyatuan Gereja. Sampai nanti Tuhan Yesus datang untuk yang ke dua kalinya ada 4 macam tipe gereja saat ini,yaitu TIATIRA, SARDIS, FILADELFIA dan LAODIKIA.
Tetapi ingatlah akan gereja-gereja Filadelfia.Gereja-gereja inilah yang Tuhan kasihi. Gereja-gereja Filadelfia juga masih tetap ada di zaman gereja Laodekia ini. Bahkan Roh Kudus makin mencurahkan KasihNya bagi gereja-gereja Filadelfia. Karakternya adalah EVANGELISM,MISSIONS dan BIBLE TEACHING. Karena itu,sebagai penutup dari pembahasan 7 macam sejarah gereja berdasarkan Kitab Wahyu ini, saya ingin mengingatkan saudara BERSIAP-SIAP LAH dan BERJAGA-JAGALAH menjelang Hari KedatanganNya,karena kita semua tidak tahu kapan IA akan datang. TETAPLAH di dalam Firman Tuhan,dan BERSEKUTULAH senantiasa bersama ROH KUDUS. SIAP SEDIALAH dengan PAKAIAN PUTIH kita,dengan KEKUDUSAN.
Disensor Jepang sampai Kerusuhan Ambon
Tak terasa, 29 Mei 2004 merupakan saat Gedung Gereja Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Bethel Klasis Kota Ambon genap berusia 100 tahun. Hal ini juga menandakan 100 tahun sudah perjalan jemaat GPM Bethel dalan bersaksi dan melayani. Berdasarkan bukti- bukti sejarah, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 ini diberi nama Bethel. Selanjutnya, jemaat setempat juga dinamai Jemaat GPM Bethel sampai dengan sekarang. Demikian tulis Izaac Tulalessy untuk Sinar Harapan.
Nama Bethel dipilih karena makna teologis dan sejarahnya dapat kita temui dalam Alkitab khususnya pada kitab Kejadian 28: 10-22 terungkap bahwa suatu tempat di mana Yakub bertemu dengan Tuhan Allah di dalam mimpinya sewaktu tidur di Kota Lus. Tempat ini lalu ia yakini sebagai "rumah Allah" atau "pintu gerbang surga". Yakub kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan dari batu pengalasan kepalanya sewaktu tidur dan tempat ini dinamai Bethel yang artinya "rumah Allah" atau "pintu gerbang surga".
Berdasarkan prasasti yang terpahat pada dinding gereja terungkap, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 itu peletakan batu pertamanya dilakukan oleh pendeta asal Belanda di Kota Ambon, Pendeta JC Van Hoeven, dan seluruh pekerjaan pembangunan dikoordinir oleh RL Sahupala. Namun, kapan selesainya pembangunan gedung Gereja Bethel ini maupun diresmikannya belum diketahui secara pasti sebab tidak ada prasastinya.
Jemaat Kota Ambon
Jemaat GPM Bethel diperkirakan bukan saja baru lahir pada tahun 1904, tetapi berdasarkan sejumlah data-data sejarah diperkirakan jemaat ini telah ada sekitar empat abad sebelumnya sejak masa misi Gereja Katholik pada abad ke-16.
Pada tahun 1926, terjadi perkembangan baru, yaitu peningkatan status Kota Ambon menjadi Kota Praja yang dikepalai seorang wali kota. Dengan demikian, jemaat Bethel menjadi Jemaat Kota Ambon. Pelayanan jemaat saat itu dilakukan dalam berbagai bentuk baik itu dalam bentuk ibadah minggu, katekisasi, dan sekolah minggu dan ditujukan kepada semua anggota jemaat dengan menggunakan bahasa Belanda dan Melayu Ambon. Penggunaan dua bahasa ini mencerminkan status sosial seseorang. Kelompok berbahasa Belanda pada umumnya adalah orang-orang berpendidikan, pegawai, dan guru sedangkan penduduk biasa pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu Ambon.
Pada tahun 1935, lahirlah institusi Gereja Protestan Maluku (GPM) dan pada tahun 1937 resmi ditetapkan dan diberlakukan tata gereja baru yang disebut "Peratoeran Geredja dan Peratoeran Sinode dan Geredja Maloekoe tahoen 1937". Menurut tata gereja ini, Badan Majelis Jemaat merupakan instansi tertinggi di tingkat jemaat. Badan inilah yang menggariskan program pelayanan bagi jemaat sesuai dengan hasil keputusan persidangan sinode dan klasis dan sekaligus merupakan pihak pelaksana program tersebut.
Perang Dunia II
Bagi jemaat GPM Bethel, Perang Dunia (PD) II atau yang lebih dikenal dengan masa pendudukan Jepang merupakan saat-saat penuh tantangan dan penderitaan. Pihak Jepang memandang ada hubungan yang erat antara pihak gereja dan umat Kristen dengan pihak Belanda yang berhasil ditaklukan Jepang saat itu.
Pihak Jepang pun melakukan pengawasan ketat terhadap semua kegiatan gereja dan umat Kristen, termasuk di Jemaat GPM Bethel. Pejabat gereja atau anggota jemaat yang dicurigai bekerja sama dengan Belanda langsung ditahan dan banyak di antara mereka yang disiksa oleh tentara Jepang. Selain itu sebagian gedung gereja ditutup dan sejumlah guru Kristen ditahan. Naskah khotbah disensor untuk mencegah dimasukkannya unsur-unsur politik yang dapat merugikan kepentingan penguasa Jepang.
Gedung Gereja Bethel pada tahun pertama masa pendudukan Jepang masih bertahan, bahkan pada tahun 1942 setelah pendaratan tentara Jepang di Ambon, gedung ini masih dipakai sebagai tempat persidangan GPM yang berlangsung pada tanggal 22-24 Oktober 1942. Namun beberapa waktu kemudian, gedung gereja ini hancur akibat dibom sekutu. Selama masa pendudukan Jepang, sebagian besar anggota jemaat Bethel mengungsi ke hutan menyelamatkan diri, namun pelayanan tetap dilakukan oleh Pendeta FR Siwabessy dibantu Pendeta Hanafusa dari Jepang.
Menuju Kemandirian
Dalam perkembangan, ternyata penderitaan yang jemaat GPM Bethel tidak kunjung berakhir. Baru lima tahun sesudah PD II, ketika pembenahan sementara dilakukan di berbagai bidang, telah timbul pula pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950. Peristiwa ini telah melahirkan kesulitan baru di bidang materi dan mental umat sebagai akibat serangan TNI dan blokade laut yang dilakukan terhadap Pulau Ambon dalam rangka menumpas gerakan tersebut.
Suatu realitas yang menarik adalah di tengah-tengah situasi GPM yang memprihatinkan itu, Jemaat GPM Bethel terus berusaha membenahi diri termasuk mencari bentuk pelayanan baru. Khusus untuk menciptakan ibadah yang lebih khusyuk sekaligus sebagai pengganti gedung lama yang hancur dibom sekutu maka dibangun sebuah gedung gereja permanen yang dimulai pada tanggal 11 Agustus 1953 dan diresmikan penggunaanya pada tanggal 31 Oktober 1955.
Kegiatan penting lainnya yang perlu dicatat karena merupakan sumbangan jemaat ini kepada GPM ialah pembentukan sebuah perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri dari anak-anak dengan maksud dibina menjadi pencinta-pencinta pekabaran injil. Pelopor kegiatan ialah ibu- ibu yang tergabung dalam Kaum Ibu Kristen Bethel. Perkumpulan ini kemudian diresmikan oleh Ketua Bagian Pekabaran Injil GPM, Pendeta Th P Pattiasina, denga nama Tunas Pekabaran Injil Gereja Protestan Maluku pada tanggal 31 Desember 1956. Jemaat Khusus Kota Ambon pun dimekarkan menjadi Klasis GPM Kota Ambon pada tanggal 20 Mei 1973 sehingga satus Jemaat Wijk Bethel ditingkatkan menjadi Jemaat GPM Bethel.
Bersaksi dan Melayani
Perkembangan Jemaat GPM Bethel yang cukup pesat pada dekade 1960-an membuat daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung dan daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru. Demi efisiensi pelayanan, oleh Badan Majelis Jemaat dirasa perlu untuk diadakan pemekaran. Rencana ini kemudian direalisasikan pada tanggal 6 September 1963 sehingga kemudian jemaat ini dimekarkan menjadi Jemaat GPM Bethabara yang daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung, serta sebagian daerah Karang Panjang dan juga Jemaat GPM Imanuel yang daerah pelayanannya mencakup sebagian besar daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.
Di bidang organisasi gereja, sesuai Keputusan Sinode GPM, demi terciptanya efektivitas pelayanan bagi seluruh anggota jemaat diterapkan sistem sektor dan unit. Setiap sektor terdiri dari tiga sampai empat unit dan setiap unit terdiri dari 30-40 keluarga. "Sampai tahun 2004 ini, wilayah pelayanan jemaat ini mencakup 20 sektor pelayanan yang melayani 1.634 keluarga dengan jumlah keselurahan anggota jemaat sebanyak 6.925 jiwa.
Sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi sejak Januari 1999 maka jemaat ini telah kehilangan tiga sektor pelayanan di Mardika dan Batu Merah, yaitu Sektor 16, 17, dan 18 karena anggota-anggotanya mengungsi ke tempat lain," ungkap Ketua Majelis Jemaat GPM Bethel Pendeta M Peilouw STh kepada SH di Ambon.
Pembaruan lainnya yang dilakukan di bidang organisasi ialah penerapan pembidangan pada departemen di tingkat sinode diterapkan pula ditingkat jemaat dengan nama bidang-bidang pelayanan. Bidang yang dimaksud adalah Keesaaan dan Kesaksian (KEKES), Pelayanan, Pendidikan, dan Pembangunan (PELPEM), Finansial dan Ekonomi (FINEK) dan Kerumahtanggaan, Pekabaran Injil dan Komunikasi (PIKOM). "Di bidang liturgi ibadah pembaruan pertama yang dirasakan ialah menyangkut isi yang lebih kontekstual dan keterlibatan anggota jemaat didalamnya yang lebih menonjol," jelasnya.
Pembaruan lainnya yang tampak dalam bidang ini, menurut Pendeta Peilouw adalah pemakaian buku nyanyian. Secara resmi buku yang dipakai adalah Kidung Jemaat sedangkan buku-buku nyanyian seperti Mazmur dan Nyanyian Rohani, Mazmur dan Tahlil, dan Dua Sahabat Lama, penggunaannya lebih bersifat insidentil.
Di bidang pembinaan umat, perhatian terhadap semua golongan di dalam jemaat terus ditingkatkan. Selain pelaksanaan program yang diturunkan Departemen KEKES melalui wadah-wadah pelayanan khusus yang ditetapkan sinode Pelayanan Perempuan, Pelayanan Laki-laki, Pelayanan Pemuda, serta Pelayanan Anak dan Remaja.
Di bidang pekabaran injil, di samping pelaksanaan program yang diturunkan oleh Sinode lewat Departemen PIKOM juga diadakan kegiatan internal jemaat dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut.
Di bidang sosial, kegiatan-kegiatan yang digariskan terutama melalui persidangan jemaat, pada umumnya ditujukan kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap membutuhkan baik perorangan maupun lembaga/kelompok baik di dalam maupun di luar jemaat.
Sejak timbulnya kerusuhan di awal tahun 1999 lalu, kegiatan-kegiatan ibadah lebih ditingkatkan. Sejak Januari 1999 diadakan doa pergumulan tiap hari ol594Badah Majelis Jemaat. Juga di sejumlah sektor dibuka posko-posko doa sekaligus posko-posko bantuan logistik bagi jemaat- jemaat yang membutuhkan bantuan darurat karena ditimpa kerusuhan.
Selama 100 tahun perjalanan sejarah Jemaat GPM Bethel terlihat jemaat ini semakin sadar akan keterpanggilannya sebagai gereja yang berperan bersaksi dan melayani baik secara internal di lingkungan jemaatnya maupun eksternal terhadap masyarakat di masa kini dan dalam menapaki masa depan.
Sumber: Gloria Cyber Ministries
Penulis : Weinata Sairin
Pada tanggal 25 Mei 2005 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tepat berusia 49 tahun. Madah syukur layak dikidungkan bagi Allah oleh karena anugerah-Nya, PGI sebagai lembaga oikoumene di aras nasional masih tetap eksis dan mampu mengukir karya di tengah kekinian sejarah.
Berbicara tentang PGI, tak bisa tidak harus berbicara juga tentang istilah oikoumene. Banyak orang amat membutuhkan informasi tentang kandungan makna istilah oikoumene, sebab istilah itu sudah terlanjur digunakan secara tidak pas oleh banyak lembaga, dan penamaan oikoumene itu sekadar untuk menunjukkan bahwa lembaga tersebut terdiri dari berbagai denominasi gereja.
Istilah oikoumene (dari kata Yunani yang berarti "dunia yang didiami") dengan gambar perahu membawa salib, berlayar di tengah lautan, telah menjadi "simbol resmi" PGI, sejak organisasi itu didirikan dengan nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta.
Menurut Dr Abineno, seorang teolog Indonesia yang bertahun-tahun memimpin DGI, istilah oikoumene itu sendiri telah dipakai oleh Herodotus sejak abad kelima sebelum Masehi dan setelah melalui perjalanan sejarah yang panjang, pengertiannya mengalami banyak perkembangan. Dalam kajian Abineno, istilah oikoumene pernah diberi arti kebudayaan, kerajaan, bahkan juga gereja.
Menurut tradisi Yunani, oikoumene identik dengan dunia kebudayaan , sebab itu mereka yang berada di luar oikoumene adalah orang-orang yang tidak berbudaya. Sementara itu dalam Alkitab Perjanjian Baru istilah oikoumene cenderung memiliki pengertian kerajaan, jelasnya kerajaan Romawi. Oikoumene dalam arti gereja mula-mula dipakai oleh Origines (185-254 SM) yang kemudian diteruskan oleh pimpinan- pimpinan gereja yang lain, sehingga istilah itu menjadi semakin dikenal di lingkungan gereja.
Istilah oikoumene kemudian lazim dipakai untuk suatu pertemuan/konsili yang dilakukan oleh gereja-gereja, termasuk di dalamnya gereja Katolik. Dalam hubungan dengan pengertian oikoumene sebagai gerakan untuk mempersatukan seluruh gereja yang ada di dunia, peranan Uskup Agung Soderblom dari Upsala, amat penting. Berkat pengaruhnyalah gerakan oikoumene merambah ke setiap gereja lokal sehingga menjadi sebuah gerakan dari seluruh warga gereja.
Tidak Hanya Gerakan Elit
Ketika Dewan Gereja-gereja di Indonesia didirikan, isu persatuan dan kesatuan baik dalam konteks gereja maupun nasional amat menonjol. Gereja-gereja saat itu hidup terserak-serak di berbagai wilayah Nusantara, dalam lingkungan denominasi sendiri, dan sebab itu hampir tidak pernah mampu menampilkan peran yang memadai di tengah kecamuk dunia. Sementara itu kerinduan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa begitu menggebu-gebu, justru karena kemajemukan masyarakat Indonesia dengan keluasan wilayahnya amat disadari oleh pimpinan nasional kala itu.
Berangkat dari lingkungan strategis seperti itu, maka rumusan tujuan DGI ketika didirikan adalah "Pembentukan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia" dan itulah aktualisasi terminologi oikoumene, yang hingga kini menjadi simbol PGI. Rumusan tujuan seperti itu tidak pernah mengalami perubahan substansial hingga saat ini.
Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia kini beranggota 81 Sinode/Pusat gereja dan menghimpun 85% umat Protestan di Indonesia. Dalam usianya menjelang setengah abad, PGI tetap menggunakan lambang perahu yang membawa salib, melayari lautan, ditambah dengan istilah oikoumene melingkari salib itu. Itu menunjuk pada komitmen bahwa ia adalah organisasi gerejawi di aras nasional yang terus-menerus mengupayakan terwujudnya persatuan, kesatuan dan keesaan di kalangan umat Kristen di Indonesia.
Dalam kapasitas seperti itu, maka PGI harus berperan menjadi lokomotif gerakan oikoumene, menjadi pengemban aspirasi umat Kristen Indonesia dan yang sigap melakukan sesuatu jika gerbong-gerbong itu ternyata tidak lagi berjalan pada rel yang telah disepakati. PGI dan umat Kristen Indonesia tidak akan bisa memberi kontribusi apa-apa dalam hal persatuan dan kesatuan bangsa jika dirinya sendiri rapuh, pecah dan tercerai-berai.
Gerakan oikoumene sebagai gerakan yang berupaya mempersatukan seluruh gereja, harus menjadi gerakan dari setiap umat Kristen, tidak hanya gerakan dari segelintir elite kepemimpinan gereja. Gerakan oikoumene harus benar-benar menjadi real dan operasional tidak boleh berhenti pada slogan, motto, serta rumusan tanpa jiwa. Gerakan oikoumene harus menjadi roh, menjadi darah daging dari setiap aktivitas warga jemaat. Inilah agenda penting yang perlu dilakukan oleh PGI.
Jangan Jadi Alat Parpol
PGI juga tidak boleh terbelenggu oleh sikap introvert dan eksklusif sehingga menutup mata terhadap lingkungan eksternalnya. Berdasar visi teologisnya yang kukuh, PGI bersama gereja-gereja harus dengan sigap dan tanggap mengungkapkan suara kenabiannya di tengah-tengah kehidupan umat sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Inilah agenda eksternal PGI yang perlu dijalankan di masa-masa mendatang dengan arif dan tanpa takut.
Di zaman seperti ini ini PGI perlu membarui diri dengan mengembangkan organisasi yang makin solid, kolegialitas yang andal, manajemen yang transparan dan modern, penyiapan SDM yang berkualitas yang mampu menjawab perubahan zaman.
Di tengah kondisi politik yang menghadirkan multipartai, PGI juga harus benar-benar bertindak cermat sehingga tidak mengasosiasikan institusinya dan atau pejabat terasnya dengan salah satu kekuatan sosial politik tertentu. Sebab, jika hal itu terjadi maka PGI/gereja tidak bisa lagi bersifat objektif kepada umat dan tidak akan dapat lagi mengembangkan sikap inklusif. Gereja harus benar-benar netral, tidak menjadi alat parpol dan kekuasaan.
Di masa datang, PGI juga harus punya kesungguhan untuk memberdayakan PGI Wilayah - sesuai dengan tema "visi sentral-prakarsa desentral" sehingga PGI tidak menjadi kekuatan yang sentralistik yang bisa membuahkan sikap arogan, otoriter, paternalistik yang bertentangan dengan pola pelayanan Kristus yang rendah hati, bersikap hamba; bahkan PGI harus benar-benar menjadi pelayan gereja-gereja, bukan atasan gereja. Sikap aristokrat, arogan dan mengutamakan kekuasaan tidak boleh menjadi gaya kepemimpinan para pejabat PGI.
Oikoumene adalah sebuah gerakan; ketika para pengguna simbol itu tidak lagi mempunyai sikap dinamik, kreatif, dan proaktif dalam menyelesaikan serta mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang digumuli umat manusia di tengah kekinian sejarah, maka oikoumene adalah sebuah contradictio in terminis.
Sumber: Sinar Harapan Sabtu
Sistem kelompok sel yang pertama ditemukan dalam Perjanjian Baru dan hal itu dimulai, diinspirasi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Tuhan Yesus Kristus sebagai kepalanya. Efesus 1:20-23, "Yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kananNya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu."
Roma 8:14, "Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah."
Kelompok Sel yang pertama memiliki 5 struktur jabatan, seperti yang tertulis dalam Efesus 4:11. Kelima unsur ini dibutuhkan di dalam gereja. Efesus 4:11-12, "Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus."
Para pelayan ini dipakai oleh Tuhan untuk menyempurnakan orang-orang kudus sehingga mereka dapat bekerja dalam pelayanan. Para pelayan ini melatih orang-orang kudus tersebut untuk lebih mengenal Yesus Kristus sehubungan dengan melakukan pekerjaanNya dalam gereja.
Mereka diberi kekuatan oleh Roh Kudus dan Roh Kudus memberikan anugerah ini kepada orang-orang kudus. Seluruh anugerah ini diberikan secara bertahap seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus Kristus.
Kis. Rasul 2:41-47, "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan seaga kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya,
Kis. Rasul 20:20-21, "Sungguhpun demikian, aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus."
Sebuah Kelompok Sel pertama kali harus diawali dengan melayani Tuhan, berdoa dan berada dalam sebuah kesatuan. Tuhan akan memimpin seperti yang kita minta padaNya.
Tujuh orang yang berada dalam sebuah kesatuan dapat menghalau beribu-ribu kekuatan jahat. Jika mungkin dan lebih baik, ketujuh orang ini dapat dipilih dari jemaat (yang hidup sesuai dengan firman Allah).
Tuhan membangun umatNya sebagai Rumah Doa bagi segala bangsa. Dia tidak menginginkan rumahNya (kita, umat Kristen adalah umatnya) menjadi sarang pencuri dan sebuah rumah bagi barang dagangan.
Matius 6:33, "Tetapi carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."
Pendeta akan melatih tujuh orang pelayan ini dengan menempatkan mereka dalam kelompok sel tersendiri. Ketujuh orang ini akan dilatih dalam berdoa, pertobatan, bahasa Roh dan penginjilan sehingga mereka dapat belajar bagaimana memimpin Kelompok Sel mereka sendiri.
Mereka akan mempelajari bagaimana patuh terhadap pemimpin. Taat pada Tuhan dan yang lain merupakan prasyarat bagi kepemimpinan dalam tubuh Kristus.
Pemimpin akan mempertahankan hati pengikutnya pada ketujuh orang tersebut, dan tujuh anggota akan dibimbing secara tersendiri selama beberapa waktu sehingga mampu mengawali Kelompok Sel mereka sendiri. Seluruh keputusan akan diawali dengan doa permohonan.
Ketika tujuh anggota Kelompok Sel awal ini dilengkapi untuk memimpin Kelompok Sel mereka sendiri, kemudian peta wilayah mereka dapat dibagi dalam tujuh wilayah berdasarkan tempat di mana Kelompok Sel akan dilaksanakan dalam tiap-tiap minggu.
Setelah tujuh anggota Kelompok Sel menjadi tujuh pemimpin Kelompok Sel mereka harus bertemu secara bersama-sam sedikitnya sekali seminggu untuk doa intensif, sharing dan konseling.
Pendeta senior dalam jemaat akan berlaku sebagai seorang guru, pengawas dan penasehat bagi tujuh orang pemimpin Kelompok Sel. Pendeta akan hadir dalam sesi doa tiap-tiap minggu. Ketujuh pemimpin Kelompok Sel tersebut memberi dukungan, membesarkan hati dan sebagai sumber bagi ketujuh pimpinan Kelompok Sel dalam jalur yang tepat.
Ketika sebuah Kelompok Sel menjadi lebih besar dalam sebuah lokasi dan seorang pemimpin Kelompok Sel yang baru muncul dari dalam nya, pemimpin tersebut dapat memulai Kelompok Sel yang baru dari rumah nya sendiri.
Berdasarkan proses ini, sistem Kelompok Sel dapat tumbuh di RT/RW, Desa, Kelurahan,Kabupaten, Kota bahkan sampai luar pulau … dst.
Proses ini menciptakan sebuah tipe ‘fishing net’ (Kita diajarkan Tuhan Yesus untuk menjadi penjala manusia).
Matius 4:18-19, "Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."
Sebagai contoh, apabila sebuah Kelompok Sel mencapai anggota 20-30 orang, pemimpin yang baru dapat mengambil setengahnya dan membentuk Kelompok Sel yang baru.
Bagaimanapun juga setiap pemimpin Kelompok Sel harus meminta petunjuk Tuhan berkenaan dengan orang untuk memimpin dan pembagian waktu bagi proses pembagian sel.
Kelompok Sel akan ditempatkan di mana jemaat baru dan orang-orang kudus akan diajar dan dilengkapi pekerjaan pelayanan.
Amanat Agung Tuhan Yesus:
Matius 28:16-20, "Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergila, jadikanlah semua bangsa muridKu dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman."
Setiap hal harus dikerjakan dengan baik, dan doa harus merupakan hal terpenting.
1 Korintus 3:6-7, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
Sistem Kelompok Sel dalam Perjanjian Baru harus dibangun di atas dasar yang kokoh, seperti Dia menyediakan pertumbahan di dalam gereja. Dia adalah kepala dan fungsi gerejaNya berada di bawah pimpinanNya.
Kelompok Sel adalah gerejaNya, yang mana sudah dibayar dengan darah Nya, kita telah diangkat untuk menjadi murid Tuhan Yesus, bukan murid atau pengikut gereja-gereja, doktrin-doktrin, golongan atau pribadi-pribadi. Kita harus menyangkal diri kita sendiri dan rutinitas kita dan menerima salib dan pengikut Tuhan Yesus dan sebaliknya kita harus mengajar, dan menguatkan yang lain.
Sistem Kelompok Sel adalah metode yang sangat bagus untuk mencapai tujuan yang maksimal dari penyempurnaan orang-orang kudus dalam pekerjaan pelayanan.
Efesus 4:13, "Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.Efesus 1:20-23, "Yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara 518ng mati dan mendudukkan Dia di sebelah kananNya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu."
Sumber: Full Gospel Indonesia
Oleh: Sunanto
Kel 33:15-16 Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?"
Dalam perjalanan menuju Kanaan, bangsa Israel dipimpin oleh Tuhan dengan menggunakan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Namun karena bangsa ini sering memberontak maka akhirnya Tuhan menjadi murka dan menyuruh mereka pergi tanpa penyertaanNya. Musa menolak untuk pergi tanpa pimpinan Tuhan walaupun Tuhan menjanjikan akan mengutus seorang malaikat untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Musa mengetahui bilamana Tuhan tidak menyertai mereka maka mereka tidak akan memiliki kebahagiaan meskipun berhasil masuk ke tanah perjanjian.
Bagi Musa, tanpa adanya hadirat Tuhan percuma saja memiliki tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya itu. banyak gereja yang ia rintis atau berapa banyak negara yang ia sudah layani. Kesuksesan sejati diukur dari seberapa dalam kita mengenal Allah dan taat melakukan kehendakNya. Sekalipun tidak ada seorangpun yang mengenal kita tetapi bila kita mengenal Allah dengan intim dan taat kepadaNya maka di mata Tuhan kita merupakan orang yang sukses. Saya percaya sesampainya di surga nanti akan banyak orang yang terkejut sebab banyak orang yang tidak dikenal di dunia ini justru menempati posisi yang tinggi di surga. Selama hidupNya di dunia ini Yesus tidak pernah berusaha mencari reputasi atau popularitas sebab ukuran kesuksesan bagiNya bukanlah berapa banyak orang yang mengikuti dan mengagumi Dia melainkan diukur dari keberhasilanNya untuk mentaati kehendak Bapa.
Pemimpin-pemimpin dunia lainnya berusaha mencari reputasi dan mengumpulkan sebanyak mungkin pengikut akan tetapi Yesus malah berusaha agar diriNya tidak dikenal (tidak bereputasi) sebab Ia ingin memberikan semua kemuliaan bagi Bapa. Harta terbesar yang Tuhan ingin berikan kepada kita bukanlah kekayaan dunia ini melainkan hadiratNya. Bukannya salah memiliki harta dan popularitas sebab itu juga bisa merupakan salah satu bentuk berkat dari Allah tetapi berkat utama yang Ia ingin berikan kepada kita adalah hadiratNya. Saya tidak ingin hidup satu hari di dunia ini tanpa mengalami indahnya hadirat Tuhan. Saya tidak menolak bila Tuhan memberkati hidup saya dengan kekayaan dunia ini tetapi bagi saya yang utama itu adalah memiliki hadiratNya sebab tanpa hadiratNya semua harta yang dimiliki itu percuma saja ( tidak dapat dinikmati ).
Akan tetapi saya lebih memilih untuk hidup sederhana namun disertai hadiratNya daripada hidup kaya tanpa disertai hadiratNya. Saya bertemu dengan banyak orang kristen yang tidak bahagia meskipun mereka memiliki kekayaan dunia ini sebab mereka tidak memiliki hadirat Allah dalam hidup mereka.
Banyak pelayan Tuhan yang mengira jika pelayanan mereka maju maka mereka akan bahagia sehingga mereka bekerja keras supaya pelayanan mereka berkembang namun tanpa penyertaan hadirat Tuhan justru kemajuan itu akan menjadi beban bagi mereka sehingga tidak sedikit yang kerohaniannya malah menjadi kering.
Doa saya setiap hari, “Oh Tuhan kiranya hadiratMu senantiasa memimpin dan menyertai hidupKu. Aku tidak ingin hidup seharipun tanpa mengalami hadiratMu “. Kerinduan saya agar anda semua juga bisa memiliki hidup yang disertai oleh hadiratNya sebab tidak ada yang lebih indah dalam hidup ini selain menikmati hidup dalam hadirat Tuhan. Bill Bright berkata tidak ada orang kristen yang taat tetapi tidak bahagia dan tidak ada orang kristen yang tidak taat tetapi bahagia.Hiduplah dalam ketaatan dan ijinkan Dia memimpin seluruh aspek hidup anda maka anda akan menikmati kebahagiaan hidup dalam hadiratNya!
Oleh: Sunanto
Ef 3:18-19 “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”
Dalam hidup ini biasanya ada beberapa kejadian yang sulit untuk dilupakan. Salah satu kejadian yang sulit saya lupakan terjadi ketika saya menghadiri malam pujian penyembahan yang diadakan oleh Hillsongs Church Sydney sekitar bulan Agustus 2000. Kebetulan waktu itu saya duduk hanya beberapa baris dari panggung sehingga dengan jelas dapat melihat sang pemimpin penyembahan yaitu Darlene Szchech. Darlene mengawali malam pujian penyembahan itu dengan menyanyikan beberapa lagu penyembahan. Ketika lagu pertama dinaikkan, saya sudah merasakan begitu kuatnya hadirat Tuhan yang begitu indah itu. Pada saat lagu ketiga dinaikkan, saya merasakan seakan-akan terangkat ke sebuah tempat yang begitu indah dan penuh kedamaian sehingga tanpa terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi saya. Rasanya saya tidak ingin meninggalkan tempat yang begitu indah dan penuh kedamaian tersebut. Saya percaya itulah yang dinamakan keindahan hadirat Tuhan seperti yang dirasakan oleh Daud ketika dia mengatakan lebih baik satu hari dipelataranMu daripada seribu hari di tempat lain.
Saat ini setelah lebih dari enam tahun, oleh karena kemurahanNya Tuhan telah membawa saya ke dalam sebuah dimensi rohani dimana saya bisa merasakan hadiratNya setiap hari seperti yang saya rasakan di malam pujian penyembahan itu.
Abraham Maslow mengatakan hanya sedikit saja orang yang mengetahui diri mereka dan berhasil menjalani kehidupan mereka secara penuh. Banyak orang Kristen yang hanya puas dengan pengalaman keselamatan dan berhenti sampai di titik tersebut. Padahal Tuhan telah menyediakan sebuah kehidupan yang dipenuhi oleh kasih dan kuasaNya. Kita tidak perlu menunggu sampai meninggal nanti untuk dapat merasakan keindahan suasana sorgawi. Kita dapat mengecap keindahan sukacita sorgawi itu selama kita masih ada di dunia ini.
Menurut Maslow , manusia secara umum mengejar rumah, makanan, keamanan, kekuasaan dan pemenuhan kebutuhan sexsual. Hal-hal yang bersifat jasmaniah tersebut memang merupakan keinginan manusiawi yang sangat normal tetapi menjadi sangat berbahaya bila kita membiarkannya menguasai kehidupan kita. Agar kita tidak dikuasai oleh keinginan tersebut maka kita harus mengembangkan sebuah kelaparan dan kehausan akan Allah. Calvin Miller mengatakan kita harus berfokus pada sebuah keinginan baru yaitu lapar dan haus akan Kristus dan juga keinginan untuk menjadi semakin serupa denganNya. Tanpa memiliki hubungan yang intim dengan Allah maka kita akan cenderung mengisi kekosongan hidup kita dengan hal-hal jasmaniah.
Kebanyakan hamba Tuhan yang jatuh ke dalam perselingkuhan mengakui bahwa bukan keinginan mereka terhadap perselingkuhan tersebut yang menyeret mereka sehingga jatuh pada dosa perzinahan. Pada awalnya mereka merasa sendirian dan merasa gereja telah mengabaikan mereka. Mereka merasa sangat letih secara rohani dan tidak ada yang dapat diajak untuk berbicara. Perselingkuhan yang mereka lakukan terjadi bukan karena mereka sengaja ingin melakukannya tetapi lebih banyak karena didorong oleh kekosongan dalam batin mereka. Fenomena teman tapi mesra (TTM) yang saat ini merebak di daerah perkotaan juga terjadi akibat kekosongan yang dialami oleh manusia-manusia yang hidup di jaman modern ini. Saya percaya kebanyakan orang yang jatuh ke dalam perselingkuhan sebenarnya tidak ingin melakukannya tetapi mereka tidak bisa menahannya akibat kebutuhan untuk mengisi kekosongan yang mereka alami. Para pecandu narkoba pasti mengetahui resiko dan bahaya dari perbuatan mereka tetapi toh mereka tetap melakukannya sebab itulah satu-satunya cara yang mereka ketahui untuk mengisi kekosongan hidup mereka.
Hanya Yesus satu-satunya pribadi yang dapat memberikan kepuasan yang sejati kepada kita. Hanya Dialah yang dapat memberikan kita sebuah hidup yang penuh kebermaknaan. Milikilah rasa lapar dan haus akan Kristus sebab hanya Dialah jawaban bagi segala kekosongan yang sedang anda hadapi. Tidak ada kasih di dunia ini yang seindah kasih yang diberikan oleh Kristus. Doa saya agar setiap anda mengalami indahnya hidup dalam kepenuhan Kristus !
Penulis : Henrikus Pedor
Fenomena fundamentalisme timbul sebagai produk modernitas yang telah menyebabkan situasi hidup manusia berubah. Fundemantalisme terkait erat dengan upaya kelompok atau masyarakat tertentu yang terkait dengan upaya pencarian identititas diri. Kelompok-kelompok fundamentalisme memiliki ciri tertentu antara lain: konservatif, liberal, etnosentris, integratif, dogmatik, fanatik, militan dan sebagainya. Akhir-akhir ini fundamentalisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kenyataan hidup religius di seluruh dunia. Beberapa dari antara kelompok fundamentalis yang terkenal adalah kaum muslim shiite di Iran, Sudan, Pakistan, Liberia, juga sekarang sudah masuk ke Indonesia; kelompok-kelompok fundamentalis Kristen Protestan seperti: Religious Right di Amerika Utara, Gush Emumin, champions of Hindutva di India, Soka Gokkai Budhis di Jepang, Temple Mount dan Heredim di Israel, Dukwah di Malaysia, Sikh di Punjabi.
Fundamentalisme adalah fenomena multidimensional. Ia merupakan produk dari lingkungan sosio budaya dan politik ekonomi yang khas dengan perwujudan yang spesifik serta ditandai dengan faktor-faktor, psikologis, kultural, religius, ekonomi, politik dan sejarah. Fundamentalisme merupakan akibat dari simptom ketertutupan identitas sosial atau individual manusia. Seorang fundamentalis memandang nilai atau ideologi tertentu sebagai non negotiable yang harus dilindungi secara sempurna dalam perubahan situasi apapun. Mereka takut kehilangan nilai-nilai primordial. Dalam praktek untuk mempertahankan nilai atau ideologi kaum fundamentalis seringkali bertindak agresif dan destruktif.
Beberapa kejadian kekerasan akhir-akhir ini seperti aksi terorisme memiliki background fundamentalisme agama. Al-Qaida di Afghanistan, Abu Sayyaf di Filipina Selatan, Jemaah Islamiyyah di Indonesia dan beberapa kelompok yang sudah disebutkan di atas telah menebar problem sosial di berbagai belahan dunia. Perjuangan kelompok fundamentalisme mengancam hidup bersama. Keharmonisan hidup beragama di negara-negara yang bernuansa plural ada dalam kondisi kritis. Gereja di Asia yang hidup dalam pluralisme agama perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menanggapi fundamentalisme agama.
Untuk menghambat perkembangan fundamentalisme, Gereja di Asia pertama, membutuhkan teologi pluralisme. Teologi ini berpendapat bahwa perbedaan agama tidak ada tetapi perbedaan tanggapan pada misteri Ilahilah yang ada. Manusia dalam perbedaan budaya, situasi dan waktu mengalami dan mengekspresikan hubungan antara yang terbatas dan tak terbatas secara berbeda. Maka pluralitas termasuk bagian dari struktur realitas yang dirasakan oleh manusia selama hidup. Realitas tidak bisa tidak berdimensi plural sekaligus singular. Kedua dimensi ini dalam tataran realitas selalu berada dalam ketegangan dialektis. Singularitas hanya bisa dipahami bersama pluralitas dan pluralitas hanya dipahami dalam singularitas. Namun demikian singularitas tidak sama dengan pluralitas. Ketegangan antara pluralitas dan singularitas inheren pada aspek sosialitas manusia terutama budaya dan Agama. Problem pluralitas terjadi ketika singularitas dipertahankan dan problem singularitas terjadi ketika pluralitas dipertahankan.
Kedua, Gereja di Asia perlu menampilkan teologi inklusif dan merelativir pernyataan-pernyataan yang ekslusif. Dalam masyarakat pluralistik religius, orang harus menerima dimensi kesadaran diri yang baru bahwa semua manusia berelasi sebagai ciptaan Tuhan. Meskipun banyak agama cenderung membentuk sebutan-sebutan eksklusif bagi Kebenaran Ilahi. Eksklusivitas semacam ini mempersempit hubungan Tuhan dengan semua orang dalam pluriformitas dan membangun benteng bagi masa depan agama. Tuhan bersifat absolut karena itu manusia dapat mengalami, menangkap dan mengekspresikan Tuhan itu secara relatif. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang relatif tidak dapat diabsolutkan. Kenyataan pluralisme agama hendaknya mengarah pada dialog yang kreatif untuk saling memperkaya dan membentuk masyarakat yang manusiawi.
Ketiga, Gereja di Asia hendaknya mempertimbangkan kembali metodologi-evangelisasi. Dalam konteks perkembangan fundamentalisme, kaum kristiani perlu memahami evangelisasi sebagai shering iman atau pengalaman akan Allah dan injil dengan penganut agama lain. Evangelisasi bukan berarti mengkristenkan orang yang sudah beragama, melainkan sebagai upaya tranformatif bagi manusia. Pewartaan injil hendaknya bersifat dialogis.
Keempat, Gereja Asia hendaknya terlibat dalam keprihatinan dunia. Agama yang benar adalah agama yang mampu menuntun semua orang pada keterlibatan dan kerjasama yang kreatif dalam memecahkan problem-problem hidup. Tujuan keterlibatan Gereja dalam wilayah sosial, pendidikan dan politik harus menjadi pembebasan masyarakat yang total. Memperjuangkan hak asasi dan keadilan menjadi praksis pembebasan Gereja dalam dunia.
Gereja Asia dalam kondisi plural dan ancaman fundamentalisme agama harus mengambil sikap lebih terbuka, dialogis terhadap kelompok iman lain. Dialog merupakan tindakan yang tepat dalam relasi antara kristianitas dengan agama lain. Namun tindakan dialogis Gereja di Asia perlu berorientasi pertama-tama bukan demi dirinya sendiri tetapi bagi kepentingan manusia secara universal. Karena itu sikap dialog Gereja mesti dibangun di atas dasar, antropologis, sosiologis, budaya, dogma dan teologi. Dengan demikian Gereja Asia dapat diterima oleh agama lain dan dapat menyumbangkan nilai-nilai positif yang mengarah pada hidup bersama yang lebih baik.
Berhadapan dengan pluralitas, tantangan bagi kristianitas adalah komitmen pada imannya sendiri dan terbuka pada iman lain. Bagaimana kaum kristiani sungguh-sungguh mengikatkan diri pada Kristus dan terbuka pada agama-agama lain? Kaum kristiani dituntut untuk terbuka pada sapaan Allah melalui penganut dan tradisi agama lain. Dengan kata lain kemuridan (discipleship) kristiani membutuhkan dialog. Konsili Vatikan II telah menyatakannya dengan jelas bahwa keterbukaan pada iman lain sebagai bagian esensial dari Gereja yang bersifat global.
Komitmen Gereja ini membuka pintu yang lebar bagi agama-agama lain di Asia untuk berdialog. Lantas bagaimana genesis dialog ini bisa terjadi? Genesis dialog paling konkret terjadi di Asia (locus dialog). Tidak ada cara lain bagi Gereja di Asia untuk hidup selain dengan upaya genesis dialog. Teologi di Asia punya peran besar dalam genesis dialog. Teologi -sebagai refleksi sistematis atas pengalaman iman-harus mempunyai orientasi pada genesis dialog. Teologi kristiani di Asia berjuang untuk merefleksikan pengalaman imannya (genesis iman ) dan sekaligus terbuka pada iman lain (genesis dialog).
GENESIS DIALOG
Genesis dialog dapat kita artikan sebagai asal-usul dari dialog. Dari mana datangnya dialog?Apa yang menjadi cikal bakal dialog dan bagaimana masa depan dialog? Lantas bagaimana isi dan bentuk dialog yang pas dengan lokus dialog? Pertanyaan dasar ini perlu kita gali dalam rangka membangun dialog antar agama baik dan berguna.
Motivasi dan Orientasi : Keselamatan Universal
Motif dialog Gereja dengan agama lain pertama-tama berdasar pada segi antropologis. Dalam perjumpaan seorang individu dengan individu lain, mereka pasti saling belajar. Demikian juga dalam dialog antaragama, kelompok agama tertentu tidak hanya sampai pada penghargaan yang tinggi pada agama lain, tetapi juga memahami diri mereka sebagai orang beriman secara lebih mendalam. Manusia secara esensial sebagai pengada sosial, adalah makhluk dialog yang selalu membutuhkan perspektif lain dan pertanyaan yang mengejutkan. Melalui percakapan orang bertumbuh secara emosional dan intelektual. Dialog merangkulkan kita satu sama lain; dialog menuntut rasa percaya dan resiko dari setiap partisipan2.
Dialog tidak hanya sebagai perangkat diskusi atau klarifikasi pendapat, tetapi sebagai tindakan religius, tindakan iman (yang datang dari pendengaran), penghargaan timbal-balik atas kondisi manusia. Melalui keragaman sudut pandang dan pertanyaan-petanyaan yang tak terduga orang beriman berhadapan dengan batas-batas pengandaian, prinsip dan horison; orang beriman diajak membuka diri untuk mempelajari hal-hal yang baru dan lebih mendalam. Kebuntuan yang kita hadapi hanya dapat terbuka jika ada orang tidak berpikir sama dengan kita. Teologi agama-agama merefleksikan pengalaman iman yang konkret dan plural seperti penderitaan dan ketidakadilan. Keprihatinan teologi agama-agama terhadap problem manusiawi dan ekologis. Teologi agama juga senantiasa merefleksikan tradisi agama secara universal3.
Ada tahapan dalam evolusi teologi agama-agama yang menandai perubahan sikap kaum kristiani terhadap agama lain setiap tahapan memiliki orientasi masing-masing. Pertama, model eklesiosentris. Model ini lahir pada awal berdirinya Gereja dan berpuncak pada konsili Trente. Model ini menekankan bahwa rencana keselamatan hadir secara eksklusif bagi Gereja. Semboyan yang terkenal dari St. siprianus: EXTRA ECCLESIAM NULLA SALUS menjadi spiritualitas hidup Gereja. Oleh Kristus Gereja menjadi tangan kanan pelaksanaan karya kesel596tan. Gereja menjadi sakramen Kristus di dunia. Meskipun model ini sangat bersifat eksklusif karena berdasar pada pemikiran patristik, namun konsili Trente telah memiliki pemahaman bahwa rahmat Allah juga bekerja secara tak kelihatan pada orang-orang kafir.
Kedua, model kristosentris. Di Era 60 an Karl Rahner mencoba mendalami karya Otto Karrer yang menyatakan bahwa agama lain juga dapat menjadi jalan keselamatan (Heilswege). Tindakan penyelamatan Allah itu bersifat universal, sehingga ia dapat mewujudkankan dirinya (inkarnasi) dalam komunitas lain di luar Gereja. Dengan demikian jika kita sungguh yakin bahwa Allah berhendak menyelamatkan semua orang maka kitapun harus memandang agama lain sebagai kendaraan yang membawa orang pada keselamatan. Pandangan Rahner ini secara substansial menjadi spirit bagi konsili Vatikan II. Gereja konsili Vatikan II membawa kaum kristiani pada penerangan yang agung bahwa agama lain bukan dunia kegelapan karena terang Sabda dan Roh bersinar juga di dalam agama lain.
Kristus lebih besar daripada Gereja dan tidak dapat dipasung di dalam mereka.
Ketiga, teosentrik (pluralisme mistik). Model ini cenderung menekankan pendekatan mistik pada agama dan perjumpaan antaragama. Agama dipahami sebagai misteri. Pada pengalaman religius yang otentik dan dialog agama, kaum teosentris yakin ada pengalaman akan Mysterion. Meskipun para mistikus dan filsuf Barat berpendapat bahwa misteri ini hanya dapat ditangkap melalui wujud historis, mediasi verbal, tetapi juga selalu melampaui mediasi dan wujud apapun. Kaum teosentris percaya bahwa meskipun manusia tidak dapat mendefinisikan esensi semua agama dan tidak dapat mengungkapkan kembali kekayaan ekspresi agama yang beranekaragam terdapat Theos atau Mysterion, Kekososongan / Kepenuhan dalam semua pengalaman religius.
Keempat, adalah model soteriosentris (pluralisme etis). Menurut model ini, pusat atau basis atau titik pijak dialog kristiani dengan orang beriman lain bukan Gereja atau Kristus, bahkan Allah tetapi Kerajaan Allah. Dalam perjumpaan kita dengan yang lain motivasinya bukan kehadiran Kristus Anonim dalam agama lain atau keyakinan mereka pada pengada yang tertinggi melainkan harapan, semangat, keinginan mereka untuk mencapai keselamatan. Kaum kristiani melambangkan keselamatan itu dengan kerajaan Allah. Oleh karena itu seorang Kristen yang sosterisentris akan memandang penganut lain bukan sebagai calon anggota Gereja, kristen anonim atau teis anonim tetapi sebagai kolaborator dalam peningkatan hidup manusiawi.
Sejalan dengan para ahli kitab suci dan teolog kontemporer yang menyampaikan kepada kita pemahaman Yesus sendiri tentang Basilea tou Theou, kaum soteriosentris memahami soteria atau kerajaan Allah sebagai realitas yang esensial termasuk keberadaan hidup manusia di dunia. Kerajaan Allah berarti penegakan hidup dan penolakan mekanisme dan struktur sosial yang mematikan baik manusia maupun lingkungan. Tanpa promosi keadilan dan kepenuhan hidup soteria tidak sejalan dengan visi Yesus.
Tahap keempat mempunyai orientasi yang mirip dengan teologi pembebasan. Karena itu pada tahap keempat ini dialog agama perlu menimba spirit dari teologi pembebasan. Soteria atau keselamatan dalam teologi pembebasan terjadi dalam realitas (kini dan sini), dan sekaligus bersifat eskatologis. Karena itu ketidakadilan, kemiskinan adalah bentuk anti soteria. Dengan terang teologi pembebasan, dialog antaragama perlu berorintasi pada upaya mengatasi problem-problem sosial yang merupakan wujud dari anti soteria.
Isi dan Bentuk Dialog :Kristologi Sakramental dan De-absolutisasi Yesus Kristus
Isi pokok dialog antaragama adalah pengalaman iman dan bentuk yang paling dasar adalah sharing. Pengalaman iman itu terkait dengan gambaran-gambaran religius. Sehingga ketika orang membagikan pengalaman iman, secara tersirat memaparkan imajinasi imannya. Gambaran atau imajinasi iman menyebabkan pengalaman religius menjadi lebih hidup. Semua gambaran iman kristiani itu berpusat pada Yesus kristus sebagai simbol Allah. Gambaran tentang Yesus dalam iman kristiani tentu saja selalu mendapat arti yang baru, sesuai dengan konteks zaman, sosial, budaya dan politik. Dengan demikian kaum kristiani tiap generasi, atau dalam konteks budaya yang baru mempunyai jawaban sendiri atas pertanyaan Yesus kepada para murid:"Menurut kamu siapakah aku"(Mrk 8:27)4.
Jika pertanyaan Yesus tentang diriNya ditempatkan dalam konteks pluralisme agama maka gambaran kita tentang Yesus harus dikomunikasikan. Untuk itu bagaimana pemahaman tentang imaginasi dalam iman-komitmen kristiani membantu kita untuk terbuka pada imaginasi iman yang lain? Beberapa teolog seperti Roger haight, Edward Schillebeeckx, Paul F. Knitter mengusulkan isi dan bentuk dialog dari sudut pandang kristologi sakramental. Pendekatan kristologis sakramental menggambarkan Yesus pertama-tama bukan sebagai pribadi yamg hidup di Palestina 2000 tahun yang lalu, tetapi sebagai simbol yang universal.
Menurut Paul F. Knitter Gereja Kristen perlu mengembangkan dan mewartakan kristologi sakramental. Dengan kristologi ini, kita memahami Yesus (putera Allah) dan apa yang ia lakukan (menyelamatkan dunia) dengan mengalami dan merefleksikan bagaimana Dia sungguh dan nyata menjadi sakramen Allah bagi dunia. Sesuatu menjadi sakramen ketika mengantarai, mewujudkan, melambangkan realitas Allah bagi kita. Pemahaman Yesus sebagai sakramen Allah berarti, kita dapat memahami keilahian dan peranannya sebagai penyelamat sehingga kita kita sungguh terikat padaNya tetapi sekaligus terbuka pada sakramen lain, karena Allah dapat menggunakan seluruh sejarah5.
Mengenai keilahian Yesus, Edward Schillebeeckx dan Roger Haight menekankan bahwa doktrin Yesus sebagai putera Allah berakar di dalam pengalaman Yesus sebagai sakramen. Para ahli kitab suci perjanjian baru kontemporer nampaknya setuju: kaum Kristiani tidak mewartakan bahwa Yesus adalah putera Allah karena Yesus mengatakan begitu kepada mereka tetapi karena mereka merasakannya demikian. Berjumpa dengan Yesus bagi mereka sama dengan berjumpa dengan Allah. Yesus sungguh ilahi, karena ia adalah simbol atau sakramen Allah. Kristologi sakramental dapat juga menjelaskan Yesus sebagai Penyelamat dengan cara yang lebih bebas dari pada penjelasan tradisional yang menggunakan model satisfaksi dan substitusi.
Menurut model satisfaksi, peran penyelamatan Kristus dijelaskan secara prinsipil sebagai causa efficiens (penyebab efisien). Sebagai penyebab efisien, Yesus menyelamatkan kita karena ia menyebabkan segala sesuatu, atau melakukan sesuatu-sering dipahami sebagai suatu tindakan yang dalam cara tertentu "mereparasi"; hubungan antara Allah dan manusia. Sebagai penyebab sakramental, Yesus menyelamatkan kita karena karena ia memperlihatkan atau mewahyukan sesuatu; sebagai sakramen (sacramentum), Dia melambangkan sesuatu yang sudah ada (res sacramenti).
Pendekatan kristologi sakramental terbuka pada iman lain. Karena itu keunikan gambaran iman Kristiani perlu dipertimbangkan kembali, dalam rangka dialog. Penyebab efisien secara intrinsik bersifat singular. Tetapi penyebab sakramental secara potensial bersifat plural. Apa yang telah diwahyukan dalam sejarah dapat diwahyukan lagi. Apa yang telah diketahui dalam suatu budaya, dapat diketahui dalam budaya lain secara berbeda. Bahkan lebih secara mendalam, ketika isi dari apa yang diwahyukan menjadi tidak terbatas dan misteri kehadiran dan cinta ilahi selalu dinamis.
Esensi suatu dialog kristologis ialah bahwa suatu pemahaman dan tindakan mengikuti Yesus membutuhkan perjumpaan dengan yang lain, yakni dalam hubungan dan percakapan dengan mereka yang berjalan dalam jalan iman yang lain. Mungkin alasan yang paling mendasar adalah kristologi sakramental tidak hanya memahami posibilitas tetapi probabilitas, bahkan nesesitas, dari simbol-simbol atau sakramen-sakramen ilahi dalam keseluruhan sejarah. Perspektif ini memperlihatkan bahwa Yesus adalah seseorang yang yang mewujudkan keterbukaan pada yang lain. Dia mewujudkan dirinya dalam seluruh waktu. 6 Konsekuensi pendekatan sakramental adalah de-absolutisasi Yesus Kristus. Kaum Kristiani mengakui bahwa Yesus adalah Kristus. Namun keyakinan ini tidak membatasi makna intervensi Allah dalam sejarah manusia. Kristus bukanlah prinsip abstrak atau penampakan Allah yang hanya dihadirkan oleh simbol-simbol sebagai alfa dan omega. Tetapi dia adalah simbol yang hidup bagi totalitas realitas: manusia, yang ilahi dan alam semesta. Sehingga pertanyaan tetap terbuka apakah nama yang melebihi segala nama ini (Ef 1:21) dapat diatributkan dengan realitas lain seperti Krishna, Purusha, Isvara.Mengapa keabsolutan Yesus dalam iman kristiani perlu dikoreksi kembali. Alasannya setiap kristologi bersifat lokal dan ephemeral namun tetap berdasar pada kejadian konkret manusia historis Yesus, inkarnasi, karya pelayanan, salib dan kebangkitan. Karena itu kristologi setiap saat bisa berubah sesuai dengan konteks hidup manusia. Yesus adalah simbol Allah yang hidup secara dinamis dan mengatasi ruang dan waktu. Dengan demikian kristologi perlu membahasakan kembali Yesus Kristus dalam tek597s pluralisme7.
Kristologi sakramental membuka ruang untuk berdialog dengan agama lain. Dengan dialog kristologi ini, umat kristiani dimampukan untuk setia pada Yesus dan terbuka kepada umat beriman lain. Dengan kata lain dialog kristologi memperteguh dialog Gereja. Namun ada hambatan dalam dialog kristologi baru-baru ini akibat dari dokumen Dominus Jesus yang dimunculkan oleh kongregasi ajaran iman. Dokumen ini menimbulkan reaksi dari kalangan intern maupun ekstern Gereja. Dari beberapa komunitas katolik dengan tegas mengatakan "Yang seperti ini bukan iman kami". Persoalan ini timbul oleh satu kata: 'hanya'. Kristus merupakan satu-satunya pembawa keselamatan dari Allah. Dokumen ini jelas bisa menjadi penghalang dalam dialog antaragama. Karena itu kristologi perlu menempatkan Yesus bukan sebagai tokoh penyelamat yang absolut. Tetapi merupakan simbol/sakramen Allah yang universal.
Bentuk Baru Dialog Interreligius
Saat ini dunia kita menghadapi krisis yang menantang dan menuntut tanggapan dari semua agama. Dalam bukunya yang terbaru, Hans K�ng menyuarakan tantangan dan program supaya bangsa- bangsa dan agama-agama di dunia tidak hanya memperhatikan persoalannya sendiri. Dia berpendapat bahwa bangsa-bangsa dunia akan mampu menghadapi dan mengatasi krisis yang mengancam umat manusia jika menyepakati etika global dalam teori dan praksis. Namun kesepakatan ini tidak tercapai kecuali ada kerja sama di antara agama-agama. Dengan demikian tidak ada damai, kesatuan, dialog di antara bangsa-bangsa kecuali ada damai kesatuan dan dialog di antara agama-agama. Lantas bagaimana program Hans ini dapat diwujudkan? Paul Knitter mendukung proyek King dengan menegaskan dialog antaragama yang bertitik tolak pada persoalan problem manusia dan lingkungan hidup8.
Menurut Paul Knitter berpendapat bahwa salah satu alasan mayor mengapa terjadi perpecahan dan perselisihan karena agama-agama tidak melaksanakan misinya dengan baik. Padahal agama punya potensi dan nilai-nilai yang dapat menciptakan kesatuan dan damai di antara umat manusia. Mengapa agama tidak menjalankan misinya? Mengapa agama-agama lebih mudah saling berseteru daripada bekerjasama. Lebih jauh orang dapat bertanya: mengapa dialog belum terjadi? Ada banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Namun tidak ada cara lain selain dengan dialog. Persoalan-persoalan yang ada harus dilihat sebagai kairos untuk 'membebaskan' atau 'menebus' agama dari situasi yang menyedihkan ini.
Realitas penderitaan manusia, ketidakadilan struktural dan problem ekologis membutuhkan pembebasan. Upaya pembebasan yang universal membutuhkan dialog agama yang universal. Dengan demikian pembebasan menjadi alasan dasar dialog antar agama. Peran agama-agama untuk membebaskan manusia dari penderitaan terkait erat dengan pesan keselamatan yang menjadi misi utamanya. Karena itu dialog dapat berpusat pada pembebasan. Para teolog pembebasan seperti Boff dan Gutierez dialog merupakan langkah kedua. Menurut mereka perjumpaan tidak mulai dengan percakapan mengenai doktrin atau ritual, bahkan doa atau meditasi (meskipun semua elemen ini sangat mendasar), tetapi dimulai dengan praksis liberatif. Mereka ikut serta di dalam usaha untuk membebaskan diri mereka atau orang lain dalam konteks hidupnya secara bersama-sama9.
Setiap agama diajak untuk bekerja sama dalam upaya mengidentifikasikan dan memahami penyebab penindasan atau penderitaan yang mereka hadapi. Mereka perlu berbagi analisis sosial ekonomi dan upaya pemecahan masalah dengan diinspirasikan oleh pemahaman-pemahaman religius. Kemudian partner dialog diajak untuk melakukan aksi bersama. Praksis liberatif berarti mengenal dengan dan belajar dan beri mereka semangat dalam praksis liberatif.
Apa yang menjadi pengalaman teologi pembebasan Kristiani dapat diwujudkan dalam dialog antaragama. Komunitas basi Kristiani Amerika Latin dapat menjadi model bagi dialog antaragama yang berpusat pada pembebasan. Dalam kelompok kecil akar rumput, kaum kristiani bertemu untuk membaca kembali kitab suci dan keyakinan mereka dalam cahaya penindasan dan usaha untuk mengatasinya. Dalam konteks Asia yang plural menjadi kelompok basis manusia. Kelompok ini tidak hanya mengumpulkan orang dari macam-macam agama yang membagikan suatu komitmen untuk untuk bekerja dengan mereka yang tertindas dan mengatasi penderitaan.
1. Christ and Culture, Ed. Jacob Kavunkal & F. Hrangkhuma, St. Pauls Bandra, Bombay, 1994, hal. 115-116.
2. Many Paths, Eugene Hillman, Orbis Book, Mary Knoll, New York, 1989, hal. 60-61.
3. Mission and Dialog, ed. Leonardo N. Mercado & James Knight, Divine Word, Manila, hal.186-196.
4. Commitment to One-Openess to Other, Paul Knitter, Horizons, Xavier University, 2001, hal. 255.
5. Ibid. hal. 263.
6. Ibid. 264.
7. Many Paths, Eugene Hillman, Orbis Book, Mary Knoll, New York, 1989, hal. 55-56
8. Interreligius dialogue and the unity of humanity, Paul Knitter, Journal of Dharma, Xavier university, hal. 282.
9. Ibid. 287-289
Penulis : Weinata Sairin
Persatuan bangsa yang menjadi cita-cita dan kerinduan para pendiri negara kita, sering kali dipandang hanya dari satu segi, tidak dilihat secara holistik dan komprehensif. Pertentangan antar-suku, agama, ras dan golongan acap dianggap sebagai satu-satunya persoalan yang sangat krusial yang bisa memicu disintregasi bangsa. Padahal soal persatuan bangsa turut ditentukan juga oleh adanya bahasa nasional, yang menjadi bahasa persatuan di suatu negara. Bagi masyarakat Indonesia, adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sangat penting. Persatuan bangsa memang terus-menerus perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan, justru dalam konteks masyarakat Indonesia yang serbamajemuk. Salah satu sarana untuk pelestarian persatuan itu adalah bahasa Indonesia.
Dengan demikian, penyadaran untuk menggunakan serta menguasai bahasa nasional menjadi hal yang sangat penting, mendasar dan strategis. Dalam sebuah tulisan di tahun 1966 Prof. Dr Ihromi, M.A. ahli bahasa Semit Universitas Indonesia dan pernah mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta menyatakan, bahasa Indonesia memainkan peranan yang sangat penting dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
Menurut Dr Ihromi, kesadaran tentang pentingnya peranan bahasa nasional lebih ditimbulkan lagi oleh penghargaan dari luar; terutama sekali melalui percakapan dengan tokoh Gereja Sri Lanka. Tokoh Sri Lanka itu dalam percakapan dengan Dr. Ihromi mengagumi peranan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan mengkhawatirkan adanya pertentangan-pertentangan mengenai bahasa dan tulisan di Sri Lanka antara orang-orang yang berbahasa Singal dan Tamil.
Pemersatu
Dalam Kongres Bahasa Indonesia yang berlangsung di Jakarta tanggal 14 - 17 Oktober 2003 semangat para peserta untuk memahami bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa benar-benar hidup dan mewarnai suasana kongres. Itulah sebabnya ketika seorang penceramah menyatakan agar bahasa daerah bisa juga digunakan dalam forum-forum peradilan misalnya, agar proses peradilan dapat lebih dipahami oleh penutur bahasa daerah tersebut, peserta dari floor dengan tegas menolak hal itu. Ia menyadarkan penceramah bahwa dalam konteks seperti itu, bahasa daerah bisa menjadi elemen yang merusak persatuan bangsa.
Dalam kongres itu Menteri Pendidikan Nasional menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang sekaligus juga bahasa negara, sebab itu setiap orang dituntut untuk menguasai bahasa Indonesia agar ia dapat menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Bahasa asing memang perlu di era globalisasi, tetapi sejalan dengan itu, kata Menteri, kita harus menanamkan kecintaan, kebanggaan dan kesetiaan kita terhadap bahasa nasional dan bahasa daerah. Hubungan timbal balik antara bahasa asing, nasional dan daerah perlu diatur sehingga terjadi keseimbangan dan keharmonisan dalam pengajaran dan pemakaiannya.
Wacana yang berkembang dalam Kongres Bahasa selain pemikiran-pemikiran bagaimana pengajaran bahasa dan sastra dilakukan lebih baik di lembaga-lembaga pendidikan, adalah juga perlunya ada ketentuan perundangan yang mengatur tentang kebahasaan.
Pemikiran tentang undang-undang kebahasaan ini telah muncul sejak Kongres Bahasa 5 tahun yang lalu mengingat makin parahnya penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat, termasuk yang dilakukan oleh para pemimpin.
Undang-undang tentang bahasa merupakan tindak lanjut dari rumusan pasal 36 C UUD 1945 yang berbunyi: "Ketentuan lebih lanjut mengenai Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan diatur dengan undang-undang".
Kekacauan
Kesalahan penggunaan bahasa Indonesia terjadi hampir setiap saat, di setiap tempat di semua aras dan oleh setiap orang. Cobalah simak pembacaan berita pada televisi, begitu sering terjadi kesalahan dan atau kerancuan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Cobalah dengarkan pidato-pidato dan juga kotbah-kotbah di gereja: berapa banyak kesalahan berbahasa yang terjadi di sana, cobalah cermati ungkapan protokol/pembawa acara di suatu pesta atau di suatu acara gereja. Kerancuan penyebutan istilah/kata terjadi a.l. pada kata : "identitas" (sering disebut indentitas), "Plaket" (sering disebut plakat), "faksi" sering dikacaukan dengan fraksi.
Kekacauan penggunaan kata terjadi pada kata "merubah", yang seharusnya mengubah. Di dalam kebaktian minggu, seorang penghkotbah memulai kotbah dengan mengatakan "Saudara-saudara yang terkasih" seharusnya "Saudara-saudara yang saya kasihi".
Gereja, umat Kristen dan lembaga-lembaga kristiani bisa berperan banyak dalam rangka pelestarian bahasa Indonesia atau dalam rangka penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Gereja/lembaga kristiani bisa melakukan pelatihan kebahasaan bagi para pejabat gereja; para pendeta dilengkapi dengan Kamus Bahasa Indonesia; dokumen-dokumen tertulis yang dikeluarkan gereja harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lembaga Alkitab Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu lembaga kristiani yang sejak berpuluh tahun memberi perhatian terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah bahkan bahasa-bahasa asing.
Penerjemahan Alkitab dari bahasa Ibrani dan Yunani ke bahasa Indonesia, penerjemahan Alkitab bahasa Indonesia kebahasa-bahasa daerah adalah wujud kepedulian LAI terhadap upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Indonesia.
Pada awal bulan ini LAI telah menyelenggarakan kebaktian syukur berkenaan dengan terbitnya Alkitab dwi-bahasa: bahasa Arab dan Indonesia. Penerjemahan ini menggunakan Good News Arabic - Lembaga Alkitab Libanon 1997 dimaksudkan sebagai upaya melengkapi para mahasiswa teologi dalam studi mereka. Bahasa adalah cermin budaya bangsa, pemakaian bahasa Indonesia secara baik dan benar seharusnya adalah bagian dari rasa bangga sebagai bangsa.
Namun kondisi realistik yang kita temui dalam pengalaman praktis, belum sepenuhnya mengarah pada ideal-ideal diatas.
Selain memang ada tahap penguasaan bahasa Indonesianya masih perlu dipacu; tak jarang ada yang merasa rendah diri jika menggunakan bahasa Indonesia. Gereja dan umat Kristen Indonesia dapat memainkan peran signifikan dalam upaya mendorong masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Penulis: Aart van Beek
Gereja pelayanan saya, bertempat di pinggir utara sebuah taman
bernama Southside Park. Itu sebabnya, gereja putih kecil itu disebut
Park-view. Gereja saya beranggotakan orang-orang keturunan Asia,
namun di sampingnya ada gereja Katolik Meksiko besar. Gereja itu
merupakan salah satu tempat paling suci bagi orang-orang Meksiko di
seluruh Amerika Serikat, sehingga setiap minggu 6.000 jemaat datang
untuk mengikuti kebaktian, yang semuanya diselenggarakan dalam
bahasa Spanyol.
Di sebelah timur taman Southside Park, ada gereja Baptis dengan
jemaat kecil beranggota keturunan Eropa dan sebuah jemaat African
Methodist Episcopal yang didirikan sekitar 100 tahun yang lalu oleh
seorang budak yang dibebaskan di bagian selatan Amerika Serikat.
Di sebelah barat taman tersebut, berdiri dua "gereja" asal aliran
Shinto Jepang, yaitu 'Tenrikyo' dan "Konko". Kalau belok kiri dari
situ, lalu berjalan kaki seratus meter, kelihatan jemaat kecil
Katolik Portugis bernama Fatima, dan di seberang jalan ada sebuah
mesjid orang-orang Pakistan. Tidak jauh, menyeberangi jalan besar
ada tempat beribadah agama Buddha yang sangat besar.
Beriman Tetapi Terpisah
Ketika saya berjalan di "kampung" downtown itu kok semua kelihatan
rukun dan beraneka ragam, seolah-olah ideal Amerika tercapai di
situ. Memang, kota Sacramento ini pernah dicap oleh majalah Time
sebagai kota yang paling beraneka ragam dan rukun dari segi suku dan
ras di Amerika Serikat, karena sebenarnya tidak ada mayoritas etnis
di kota itu. Ini nampak dalam jumlah pernikahan yang lintas-budaya
dan antara ras.
Namun demikian, kenapa setiap kelompok etnis mempunyai jemaat
sendiri? Kenapa, kalau kita memasuki gereja beranggota keturunan
Afrika, kita tidak melihat orang-orang Kristen dari ras yang lain.
Kenapa kalau kita memasuki gereja Katolik "Guadalupe" yang menganut
tradisi Meksiko, hampir tidak ada orang yang berasal dari negara
selain Meksiko itu? Kenapa, kalau ada pengunjung orang putih di
jemaat Asia yang saya gembalakan (yang kini secara resmi disebut
multi-cultural Asian, bukan lagi Japanese-American seperti dulu),
mereka tidak pernah kembali.
Jawabannya cukup mudah dicari: karena di gedung gereja kita ingin
menemui orang seperti kita sendiri. Di gereja kita tidak sanggup
merasa asing. Gereja adalah tempat di mana rasa memiliki diharapkan
akan paling murni. Anggota jemaat kita merupakan cermin di mana kita
memandang wajah sendiri.
Dalam buku mereka berjudul United by Faith, the multiracial
congregation as an answer to the problem of race (New York: Oxford
University Press, 2003) para penulis mengutarakan hasil penelitian
mereka. Mereka menyatakan bahwa jemaat yang beraneka ragam dapat
menjawab persoalan rasisme dan sukuisme.
Mereka memberikan contoh jemaat Antiochia dan Korinthus, pada zaman
kuno sebagai gereja yang mempersatukan sejumlah kelompok dari
beberapa latar belakang etnis. Para penulis juga menjelaskan bahwa
pada permulaan sejarah Amerika Serikat, jemaat-jemaat tidak
dipisahkan atas dasar ras, tetapi atas dasar kelas. Baru setelah
periode kolonial selesai, gereja dengan suku tersendiri mulai
berkembang sesungguhnya.
Di Indonesia, perbedaan ras tidak begitu main peranan, meskipun
masih cukup sering orang dipandang rendah karena warna kulit, daerah
asal dan lain sebagainya. Ternyata kita mengetahui bahwa jemaat yang
beraneka ragam dari segi suku dan budaya tidak gampang dikembangkan,
karena dalam kebaktian tradisi budaya dan bahasa memiliki fungsi
penting.
Tidak jauh dari jemaat saya-jalan kaki dua puluh menit ke utara-ada
taman lagi. Taman ini lebih besar dan menarik, karena di pusatnya
ada gedung Capitol, markas besar pemerintahan bagian negeri
California. Di Capitol itu, ada kantor Gubernur dan pemain film
berotot besar yang terkenal, yaitu Arnold Schwarzenegger.
Barangkali dari jendela kantornya, Arnold dapat melihat gedung
jemaat Presbyterian Westminster. Di sana, ada juga tempat kumpulan
jemaat kecil orang Indonesia. Pada perayaan Natal lalu, banyak orang
Indonesia datang dari seluruh California Utara: termasuk wakil
Konsul RI dari San Francisco. Juga, ada wanita Indonesia yang
berjilbab, mereka datang untuk menghormati sesama warga negara
Indonesia. Yang mempersatukan mereka bukan agama, tetapi kebangsaan
(dan juga sedikit: masakan Indonesia yang lezat).
Rasa kebangsaan kadang lebih menyatukan kita daripada agama dan
iman. Rupanya agama banyak memisahkan kita. Memang ini periode
konyol. Di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat, rupanya
fundamentalisme sangat berkuasa dan suara orang moderat kurang
terdengar.
Bagi saya, Indonesia masih merupakan salah satu harapan dunia,
karena kerukunan jauh lebih membudaya daripada radikalisme. Saya
berpendapat bahwa budaya Asia Tenggara yang begitu mementingkan dan
merayakan anak-anak kecil, tidak mungkin menonjolkan jiwa pahit.
Negara berbudaya seperti itu akhirnya akan mementingkan perdamaian
dan kerukunan.
Jemaat Beraneka Ragam
Namun politik negara selalu berubah. Tidak mungkin kita
mempercayakan politik untuk selalu mempersatukan kita dalam negara
kita masing- masing. Persatuan manusia pasti berakar lebih dalam.
Seharusnya, iman kita juga bisa mempersatukan manusia. Jemaat-
jemaat yang tidak dapat mengafirmasikan seluruh manusia sebagai anak-
anak Allah tidak boleh disebut orang-orang beriman. Para penulis
buku "United by Faith" menegaskan bahwa gereja-gereja ".....
seharusnya merupakan tempat di mana manusia merasa diangkat secara
rohani dan diafirmasi secara pribadi..." (hal. 134) Implikasi
gagasan itu adalah bahwa semua mahluk patut diafirmasi. Dengan kata
lain, gereja harus bersikap dan bersifat inklusif, bukan eksklusif.
Para penulis "United in Faith" (DeYoung, Emerson, Yancey, dan Chai
Kim) menekankan, bahwa jemaat beraneka ragam dari segi suku dan
budaya akan menjadi pedoman untuk masyarakat secara umum. "Jemaat-
jemaat multirasial kemungkinan besar akan menjadi persekutuan
paralel dalam masyarakat yang rasistis. Jemaat-jemaat itu akan
menjadi tempat di mana mereka yang ingin mempelopori pola
persekutuan inklusif secara rasial ...menemukan perlindungan dari
masyakat yang terpolarisir.." (hal. 141).
Walaupun masalah rasisme atau sukuisme di Indonesia tidak setajam
seperti di Amerika Serikat, peraneka ragaman institut di Indonesia
pasti juga masih mengalami hambatan tertentu.
Otentik dan Mendamaikan
Para penulis buku di atas yakin, bahwa persekutuan-persekutuan
beriman harus harus menjadi teladan:"masa depan kekristenan dalam
abad kedua puluh satu bergantung pada contoh-contoh praktis dan
hidup beriman yang otentik dan mendamaikan. (Hal. 143) Kata-
kata "otentik"(authentic) dan "mendamaikan" penting
sekali. "Authentic" berarti "tangan asli" tetapi dalam konteks ini
juga berimplikasi "berhati asli" atau "berjiwa asli." Apa maksudnya
iman yang otentik?
Jawabannya wajar; kalau kita kembali ke iman yang "tangan
asli", "berhati asli" ataupun "berjiwa asli" kita kembali ke suatu
pemahaman yang mendahului ras dan kelas dan agama pun. Kita kembali
ke gagasan bahwa manusia diciptakan bersatu dan setaraf. Dengan kata
lain, yang mempersatukan kita bukan suku kita atau daerah asal kita
atau bahasa kita atau kelas ekonomis atau pendidikan atau kebangsaan
atau pun agama. Yang mempersatukan kita secara "otentik" adalah
warisan kita bersama sebagai ciptaan sayangan dari Yang Mulia.
Gereja dan Pelayanan inklusif di Indonesia Dalam masyarakat yang
beraneka ragam, dari segi budaya atau pun dari segi agama, pelayanan
bermutu adalah sarana utama orang beriman untuk menunjukkan kasih
kepada mereka yang menderita. Pelayanan bermutu berarti pelayanan
yang mulai dengan kebutuhan penderita secara menyeluruh.
Gereja jangan mengatakan dengan sikapnya, "Inilah pelayanan kami,
terserah anda mau menerimanya atau tidak. Datanglah kepada kami dan
kami akan melayanimu sesuai dengan minat, kemampuan dan pendidikan
kami".
Sebaliknya, gereja hendak menjawab kebutuhan mereka yang menderita
secara yang kreatif dengan datang kepada penderita. Walaupun tidak
dijelaskan dalam buku "United by Faith", orang-orang beriman hanya
dapat mempersatukan kembali manusia kalau kasih para pelayan beriman
merupakan kasih yang sungguh-sungguh, tanpa kesombongan dan paksaan
atau agenda tersembunyi.
Keaslian sikap para pelayan selalu akan nampak pada yang membutuhkan
pelayanan. Gereja hanya akan inklusif kalau pelayan-pelayan beriman
sungguh dalam menunjukkan kasih. Tanpa kasih yang murni, kata-kata
orang beriman akan seperti gaung saja, dan pelayanan mereka akan
berjiwa kosong.
Hanya kasih yang tulus dalam pelayanan gereja dapat mengarahkan
masyarakat menuju kerukunan. Selalu akan terdapat perbedaan antara
manusia, tetapi pada dasarnya seluruh manusia mengerti apa itu kasih
yang sungguh-sungguh, dan siapa pelayan yang tulus itu.
.........................................................................................................................................
Penulis adalah mantan dosen konseling pastoral di Universitas
Kristen Satya Wacana Salatiga dan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta
Sumber: Suara Pembaharuan
Penulis : Weinata Sairin
Krisis yang menghantam Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini telah mengantar bangsa dan negeri ini pada kondisi yang amat memprihatinkan. Realitas yang sedemikian itu hampir terjadi di semua aspek. Media massa menurunkan laporan yang amat transparan dan rinci tentang carut-marut wajah Indonesia, tanpa harus merasa risih dan rikuh. Dilaporkan misalnya Indeks Pembangunan Manusia mengalami kemerosotan dari 0,684 ke 0,682 sehingga peringkat Indonesia turun dari posisi 110 menjadi 112 dari 175 negara di dunia (Kompas, 10-07-2003).
Meski angka sering tidak menunjukkan fakta senyatanya, namun dengan mata telanjang dapat dilihat penurunan kualitas manusia Indonesia terjadi di mana-mana. Hal ini dapat dilacak dari kondisi masyarakat kelas bawah yang tidak da- pat lagi menjangkau pelayanan kesehatan, tidak dapat lagi membeli kebutuhan pokok sehari-hari dengan layak, dan tidak dapat lagi menjangkau pelayanan pendidikan.
Upaya bunuh diri yang dilakukan seorang anak SD beberapa waktu lalu, maraknya aksi teror, kekerasan, pembunuhan adalah contoh paling segar tentang rendahnya, bahkan makin tidak beradabnya manusia Indonesia. Dalam hal korupsi misalnya "prestasi" Indonesia amat memalukan. Menurut laporan media massa baru-baru ini Indonesia menempati peringkat keenam sebagai negara terkorup di dunia.
Menanggapi kondisi ini, Nurcholish Madjid dengan amat keras menyatakan bahwa Allah melaknat yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara suap-menyuap.
Menurut Nurcholish, rakyat Indonesia harus melaksanakan ajaran Allah di dalam kehidupannya, dan dengan cara itu bangsa Indonesia yang paling korup sekaligus bangsa paling laknat, bisa diakhiri.
Ironisnya korupsi bahkan bisa terjadi dalam jumlah besar justru di kantor-kantor pemerintah yang mengurusi soal-soal keagamaan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam kehidupan bangsa ini? Orang banyak kemudian dengan mudah mempertanyakan tentang dunia pendidikan, bahkan menuding bahwa pendidikan tidak berhasil mendidik bangsa ini. Padahal dunia pendidikan juga memiliki masalah-masalah yang tidak kecil dan sederhana. Para pakar dan birokrat pendidikan mencatat beberapa permasalahan mendasar yang sejak lama digumuli dunia pendidikan.
Meski pun belum maksimal, namun pelaksanaan wajib belajar 9 tahun telah berhasil mendorong perluasan kesempatan belajar di SD dan SLTP. Krisis ekonomi sejak pertengahan 1997 berdampak buruk tersebut karena terjadi penurunan angka partisipasi murni yang berakibat tingginya angka putus sekolah dan menurunnya murid baru.
Mutu pendidikan adalah aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pemerataan dan perluasan kesempatan belajar. Asumsinya, perluasan dan pemerataan pendidikan yang bermutu akan mendorong terwujudnya kelompok masyarakat yang bermutu.
Relevansi pendidikan berkaitan dengan sejauhmana lulusan suatu sekolah dapat langsung diserap oleh dunia kerja pada umumnya lebih-lebih dewasa ini perkembangan iptek berjalan dengan amat cepat. Masalah relevansi secara umum lebih mengarah pada pendidik- an kejuruan dan profesional yang berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik pada berbagai tingkatan untuk mengisi kesempatan kerja.
Permasalahan akibat pengelolaan pendidikan yang sangat sentralistis, kurang berkembangnya kemampuan daerah dalam mengatur dan mengelola sektor pendidikan di daerah. Selain itu, selama ini sekolah juga tidak mempunyai otonomi dalam mengelola sekolah, sekolah hanya menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang lebih tinggi.
Soal pembiayaan tidak terlalu mudah apalagi jika sekolah-sekolah tidak memiliki kreativitas dalam menggalang dana di tengah masyarakat. Masalah-masalah makro dunia pendidikan akan lebih rumit dan kompleks lagi jika lebih menukik pada problema yang dihadapi oleh sekolah-sekolah Kristen khususnya dalam mengimplementasi UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam UU No 20 Tahun 2003 eksistensi perguruan swasta terdapat dalam Pasal 55 Ayat (1) masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama...Penjelasan ayat tersebut: "Kekhasan satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat tetap dihargai dan dijamin oleh undang-undang ini".
Dasar yang Kukuh
Pasal ini memberikan dasar yang kukuh dan legitim bagi sekolah-sekolah Kristen untuk memberikan kontribusi optimal dan terbaik bagi upaya pencerdasan bangsa.
Dalam peraturan pemerintah nanti mesti terjamin bahwa sekolah-sekolah Kristen memiliki otonomi, kemandirian untuk mengekspresikan ciri-khasnya dengan leluasa. Pemerintah dan masyarakat menghargai dan menjamin eksistensi sekolah Kristen berdasarkan undang-undang.
Pada tanggal 13-16 Oktober 2003 di Manado diselenggarakan Sidang Pengurus Pleno (SPP) III Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia yang diikuti oleh utusan MPK Wilayah seluruh Indonesia dan lembaga-lembaga mitra yang bergerak di bidang pendidikan. SPP III MPK di Indonesia harus meneguhkan kembali komitmen lembaga pendidikan Kristen di Indonesia, yaitu bahwa melalui ciri-khasnya sekolah-sekolah Kristen akan terus memberi kontribusi bagi pencerdasan bangsa.
Pendidikan Kristen perlu dibangun dengan mengembangkan: lingkungan sekolah yang aman dan tertib, ada visi dan target mutu yang ingin dicapai, ada kepemimpinan yang kuat, adanya komitmen dari kepala sekolah, guru, dan para siswa untuk berprestasi, adanya pengembangan staf sekolah yang terus-menerus sesuai dengan tuntutan iptek, adanya pelaksanaan evaluasi yang terus-menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/ perbaikan mutu, dan adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orangtua murid/masyarakat.
Dalam rangka implementasi UU Sisdiknas dan era otonomi daerah di sektor pendidikan, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sosialisasi kritis tentang materi UU Sisdiknas; pemberdayaan wilayah/lembaga pendidikan: education watch/advokasi dan bantuan hukum pendidikan, mencermati perda di daerah, mencermati/mengkaji Rancangan PP.
Sumber: Suara Pembaruan Daily
Oleh: Wiempy Wijaya
Shalom Aleichem, Di bawah ini akan saya bahas mengenai Gereja Dan Sakramen.
1. Apakah yang dimaksud dengan gereja ? Gereja berasal dari kata Ekklesia yang berarti di panggil keluar untuk berkumpul. Dalam Perjanjian Baru berarti kumpulan orang-orang yang di panggil keluar dari dunia yang berdosa, lalu dipisahkan untuk melayani Kristus ( 1 Petrus 1 : 1 - 2 )
2. Apa yang dimaksud dengan gereja yang am ? Gereja am artinya persekutuan orang yang percaya di seluruh dunia sebagai anggota tubuh Kristus. Pengakuan bahwa gereja am terdapat di dalam Pengakuan Iman Rasuli.
3. Apa yang dimaksud dengan gereja lokal ? Gereja lokal ialah persekutuan orang-orang percaya dalam suatu lokasi tertentu yang mengatur diri sendiri.
4. Apakah sifat gereja itu ?
* Sbg Tubuh Kristus ( Efesus 4 : 15 - 16 )
* Sbg Mempelai ( Efesus 5 : 22 - 27 )
* Sbg Bait Allah Rohani.
5. Mengapa di dunia ini banyak terdapat aliran gereja ? Banyaknya gereja adalah akibat kebebasan yang Tuhan berikan kepada gereja lokal untuk mandiri. Namun seringkali juga di sebabkan perbedaan pandangan. Misalnya gereja Protestan keluar dari gereja Roma Katolik karena Martin Luther ingin menegakkan kebenaran Allah yg telah dilanggar oleh gereja Katolik Roma waktu itu.
6. Darimanakah asal usulnya gereja Protestan ? Gereja Protestan berasal dari gereja Roma Katolik. Pada abad ke-16 pemimpin gereja Roma Katolik telah menyesatkan umat Tuhan maka seorang uskup bernama Martin Luther dan pengikutnya memprotes tingkah laku pemimpin mereka. Akibatnya Martin Luther dan pengikutnya dikucilkan dan diberi gelar protestan yang artinya si tukang protes.
7. Kapankah gereja mulai didirikan ? Menurut penafsiran pada umumnya gereja berdiri pada hari turunnya Roh Kudus di kota Yerusalem. Dan jemaat yang pertama ialah 3000 orang yang bertobat mendengar khotbah Petrus pada waktu itu ( Kisah Para Rasul 2 )
8. Siapakah pendiri gereja dan apakah dasarnya ? Pendiri dan dasar gereja ialah Kristus ( 1 Korintus 3 : 11 )
9. Apakah Matius 16 : 18 menunjukkan bahwa Petruslah dasar gereja ? Para penafsir cenderung mengatakan bahwa gereja didirikan diatas pengakuan Petrus dan bukan atas pribadi Petrus.
10. Apakah tugas dari gereja ?
* Memuliakan Allah
* Mengabarkan Injil ( Matius 28 : 18 - 20, Kisah Para Rasul 1 : 8 )
* Membaptiskan orang percaya ( Matius 28 : 20 )
* Mengajar orang percaya ( [Matius 28 : 20 )
* Diakonia (Pelayanan Sosial) ( Kisah Para Rasul 6 : 1 - 7 )
* Menyelenggarakan Sakramen ( 1 Korintus 11 : 23 - 26 )
* Menjaga kesucian jemaat ( 1 Korintus 5 : 1 - 8 )
* Mendoakan pemerintah ( 1 Timotius 2 : 1 - 2 )
11. Siapakah pejabat gereja itu ?
* Tuhan mengutus gembala, guru, pengajar untuk melengkapi jemaat-Nya supaya bertumbuh ( Efesus 4 : 11 - 16 )
* Diakon ( 1 Timotius 2 : 1 - 2 )
12. Apakah yang dimaksud dengan Sakramen ? Sakramen adalah upacara khusus yang diajarkan oleh Yesus dan para Rasul yang semuanya tercatat dalam Alkitab dan sering dilakukan dalam kehidupan orang Kristen mula-mula.
13. Ada berapa Sakramen bagi orang Kristen Protestan ? Alkitab mengajarkan ada dua buah Sakramen yaitu Sakramen Baptisan dan Sakramen Perjamuan Kudus ( Matius 28 : 19, 1 Korintus 11 : 23 - 26 )
14. Apakah arti Sakramen Baptisan ?
1. Kesaksian seorang pengikut Yesus kepada keluarganya, orang banyak, dan Iblis bahwa dia sungguh-sungguh menjadi milik Kristus.
2. Lambang mati dan bangkit bersama Kristus ( Roma 6 : 4 )
3. Janji seorang murid Kristus.
15. Apakah Baptisan Kudus dapat menyelamatkan manusia ? Baptisan Kudus ialah kesaksian bagi yang sudah diselamatkan sebab itu keselamatan harus mendahului baptisan. Baptisan hanya suatu lambang (dhi upacara) saja ( Kisah Para Rasul 8 : 36 - 37 )
16. Kalau Baptisan hanya suatu lambang saja, apakah orang percaya harus menerima Baptisan Kudus ? Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes, dan Yesus memberi perintah untuk membaptiskan orang yang telah menerima-Nya ( Matius 28 : 19 - 20 ). Orang percaya namun tidak mau dibaptis sama seperti sepasang muda-mudi yang saling mengasihi namun tidak mau menikah selama-lamanya.
17. Ada berapa carakah pembaptisan itu ?
* Baptis Selam --> Badan orang percaya dimasukkan kedalam air seluruhnya.
* Baptis Percik --> Orang percaya hanya dipercik air sedikit saja.
18. Cara baptis yang bagaimanakah yang sering dipakai di dalam Alkitab ? Cara selam adalah yang paling sering dipakai, namun tidak di persoalkan apakah harus di air yang mengalir atau tidak.
19. Apakah arti Perjamuan Kudus itu ? Perjamuan Kudus diadakan untuk mengenang dan memberitakan kematian dan kedatangan Yesus yang kedua kalinya.
20. Apakah yang dilakukan dalam Sakramen Perjamuan Kudus ? Orang-orang percaya bersama-sama dengan saudara seiman mereka memecahkan roti tidak beragi dan minum anggur, seperti yang di perintahkan oleh Yesus ( Kisah Para Rasul 2 : 41 - 42 )
21. Siapa sajakah yang membaptis atau memimpin Perjamuan Kudus ? Alkitab tidak menjelaskan hal ini, namun menurut tradisi, bahwa orang yang mempunyai tanggung jawab paling besarlah dalam bidang kerohanian yang akan memimpin upacara ini. Misalnya : Pendeta, Guru Injil, Tua-tua (sekarang disebut Penatua) atau Majelis
22. Ada gereja yang hanya menggunakan anggur yang sejati (asli), dan kalau tidak ada maka tidak diadakan Perjamuan Kudus ? Bagaimanakah sikap gereja kita terhadap hal tsb ?
Alangkah baiknya jika upacara Perjamuan Kudus itu diadakan semirip mungkin dengan Perjamuan Malam Yesus beserta murid-murid-Nya, namun jika berada dalam lokasi yang tidak memungkinkan memperoleh anggur sejati, anggur pengganti pun diperbolehkan untuk dipakai. Yg perlu ditekankan disini adalah yg penting dlm acara Perjamuan Kudus hati kita terarah penuh dan rindu untuk mengenang kembali apa yg telah dilakukan Tuhan Yesus beserta murid-murid-Nya pada waktu itu.
Oleh:Andre Widodo
Gereja Efesus dikategorikan oleh para ahli Alkitab sebagai Gereja Kerasulan atau Apostolic Church. Masa Gereja Kerasulan dimulai dari saat Hari Pentakosta pada tahun 30 AD sampai dengan tahun 100 AD.Ciri khas Gereja Kerasulan ini adalah mereka mempunyai semangat/gairah yang besar dalam hal penginjilan. Pada masa itu,seluruh anak-anak Tuhan begitu berapi-api untuk memberitakan Keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.Dan banyak kaum Yahudi yang bertobat dan terima
Yesus sebagai
Tuhan dan Juruselamat. Cerita tentang Gereja Efesus dapat dibaca di Kisah 18:19 sampai Kisah 19:11.
Jika kita melihat di Peta Alkitab,kota Efesus ini berada di Asia Kecil,saat ini berada di wilayah negara Turki.Kota Efesus kuno sudah terkenal dengan penyembahan berhalanya kepada dewi Artemis.Tetapi walupun berada dalam lingkungan sekelilingnya yang menyembah berhala,gereja Efesus tercatat sebagai gereja yang setia dan penuh semangat penginjilan.Kisah penginjilan Paulus bersama jemaat Efesus
dapat dibaca di Kisah 20:17-38.Dalam ayatnya yang ke 19 dikatakan bahwa perjuangan Paulus bersama anak-anak Tuhan di Efesus penuh dengan
cobaan dan cucuran air mata.
Arti kata Efesus adalah kerinduan yang satu.Ini menggambarkan kerinduan anak-anak Tuhan saat itu untuk mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia.Hal ini dapat dilihat di Peta Alkitab dimana ke-Kristenan berkembang mulai dari kota Antiokhia,terus ke barat ke daerah Asia Kecil,ke Macedoniadan sampai ke Roma. Saat itu kota Roma
adalah pusat pemerintahan Kerajaan Romawi kuno.
PUJIAN untuk Gereja Efesus
Wahyu 2:2-3
Aku tahu segala pekerjaanmu:baik jerih payahmu maupun ketekunanmu.Aku tahu bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat,bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul,tetapi yang sebenarnya tidak demikian,bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena NamaKu dan engkau tidak mengenal lelah.
Tuhan Yesus mengerti benar jerih payah dan ketekunan mereka dalam pelayanan gereja.Seperti yang telah kita baca di Kisah 20:19,mereka berjuang dengan penuh cucuran air mata dan pencobaan.Mereka tetap setia kepada Kristus.TuhanYesus akan selalu mengingat jerih payah dan pengorbanan mereka yang mengasihiNya.Matius 10:42.
Dr. M.R DeHaan salah seorang pengajar Alkitab pernah mengatakan : TO
COME TO CHRIST COST NOTHING,TO FOLLOW CHRIST COST SOMETHING,BUT TO
SERVE CHRIST COST EVERYTHING.
Matius 10:39 menjelaskan tentang hal ini.
Gereja Efesus tercatat sebagai gereja yang murni dimata Tuhan.Mereka tidak membaurkan diri dengan kebudayaan berhala disekeliling mereka saat itu.Masyarakat sekeliling mereka adalah penyembah dewi Artemis.Ini adalah suatu pengorbanan juga,untuk tetap menjaga kemurnian agar tidak tercemar oleh budaya penyembahan berhala.
GEREJA dalam bahasa Yunani adalah ECCLESIA, artinya adalah MEREKA YANG
DIPANGGIL KELUAR.
Gereja adalah kumpulan orang yang dipanggil keluar dari kegelapan untuk masuk ke TERANG FIRMAN TUHAN.Dipanggil keluar dari keduniawian untuk masuk ke dalam TERANG FIRMAN TUHAN. Itulah arti kata gereja.
Gereja memang masih ada di dunia ini,tetapi gereja bukan berasal dari dunia ini dan Hades/alam maut tidak akan menguasainya.Matius 16:18b.Karena gereja adalah ECCLESIA,maka gerakan gereja untuk menjadi ECUMANIA/Oikumene adalah sangat tidak Alkitabiah.
Gerakan ECUMANIA adalah gerakan penyatuan gereja untuk membuat satu
gereja dunia,tidak melihat latar belakang pengakuan imannya. Gerakan ECUMANIA ini membuat gereja yang SUDAH DIPANGGIL KELUAR DARI KEDUNIAWIAN,kembali lagi ke KEDUNIAWIAN.Hal ini membuat gereja berbaur dengan roh-roh dunia ini dan tidak menguduskan dirinya lagi.
TEGURAN untuk Gereja Efesus
Wahyu
2:4
Namun demikian Aku mencela engkau,karena engkau telah meninggalkan
kasihmu yag semula.
Walaupun hanya 1 macam teguran,tapi teguran ini sangat serius,yaitu meninggalkan kasih kita yang mula-mula.Hal ini terjadi ketika generasi para rasul telah tinggal sedikit karena sebagian dari mereka telah menjadi martir karena Nama Yesus.Yang tertinggal dari generasi para rasul hanya rasul Yohanes.Meskipun jemaat Efesus mengasihi Tuhan tetapi mereka kehilangan kasih yang spontan kepada Kristus.Mereka kehilangan kasih yang meluap-luap ketika saat pertama kali berjumpa Kristus.
FIRST LOVE EXPERIENCE atau Kasih yang semula kepada Kristus, jangan
sampai kita kehilangan yag satu ini.
NASIHAT untuk Gereja Efesus
Wahyu 2:5
Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.Jika tidak demikian,Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya,jkalau engkau tidak bertobat.Kembali kepada Kasih yang semula.Jika kita mengasihi Tuhan maka kita akan mematuhi perintah-perintahNya.
Yohanes 14:15
Jikalau kamu mengasihi Aku,kamu akan menuruti segala perintahKu
Wahyu 2:6
Tetapi ini yang ada padamu,yaitu engkau membenci segala perbuatan
pengikut-pengikut Nikolaus yang juga Ku benci.
Apa itu doktrin Nikolaus?
Doktrin Nikolaus adalah doktrin yang mengajarkan bahwa masyarakat awam
tidak boleh mengambil bagian dalam setiap urusan gereja tapi justru mereka harus taat kepada setiap keputusan gereja.Taat secara buta.Taat tanpa ada pertanyaan.
Nikolaus berasal dari kata Yunani. Niko : artinya mengatasi. Laos :
artinya orang awam.
Jadi kalau ada jemaat yang ingin bertanya sesuatu tentang Firman Tuhan,gereja tidak mau memberikan penjelasannya.Pokoknya turuti saja.Kemudian mulai dibentuk hirarki-hirarki di dalam lembaga kegerejaan sepaerti kepasturan,keuskupan,kekardinalan dan kepausan.Ini menyebabkan gereja-gereja lokal menjadi budak dari sekelompok orang-orang tertentu.Tingkat keimanan seorang pemimpin gereja menjadi tolok ukur keimanan gereja itu.
Akibat dari doktrin Nikolaus ini membuat gereja-gereja menjadi lebih bergantung kepada manusia dan tidak bergantung pada Roh Kudus.Padahal Tuhan Yesus berkata di Yohanes 16:13…ROH KUDUS,IA AKAN MEMIMPIN KAMU KE DALAM SELURUH KEBENARAN.
Intinya adalah:
Jika satu orang manusia mulai mengontrol kerohanian seseorang dan mengontrol/mendominasi kerohanian di gerejanya,maka Roh Kudus dikalahkan oleh orang itu.Ia yang memimpin gereja,bukan Roh Kudus lagi.
Doktrin ini merusak banyak jemaat dan tidak membuka Kebenaran Firman
Tuhan.
Selain itu,doktrin Nikolaus ini juga mengajarkan pemisahan antara roh dan fisik.Maksudnya adalah percaya kepada Yesus akan menyelamatkan roh
manusia,tetapi fisik/kedagingan manusia tetap boleh dipuaskan. Dengan doktrin ini,manusia diberikan alasan untuk melegalkan dosa.
Hal-hal seperti ini masih kita jumpai sekarang.Contoh : anak-anak Tuhan yang sudah percaya Yesus tetapi masih merokok,atau masih minum alcohol atau kedagingan lainnya.Nanti kalau ke gereja kita bisa minta ampun pada Yesus.
Itu adalah salah satu praktek doktrin Nikolaus.
Doktrin Nikolaus ini membuat gereja-gereja menjadi lebih manusiawi dan
tidak bergantung pada Roh Kudus.
PENGHARGAAN
untuk Gereja Efesus
Wahyu 2:7b
Barang siapa menang,dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang
ada di Taman Firdaus Tuhan. Pohon kehidupan adalah lambang dari kehidupan kekal.
Siapakah itu para pemenang?
1 Yoh.5:4-5
Sebab semua yang lahir dari Tuhan mengalahkan dunia.Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia : IMAN KITA.Siapakah yang mengalahkan dunia?selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Tuhan.
Demikian pembahasan Gereja Efesus di Wahyu 2:1-7. Selanjutnya adalah Gereja Smirna dimulai dari than 100 AD 312 AD. Pembahasan Gereja Smirna akan dilanjutkan nanti Tuhan Yesus memberkati Shalom
Oleh: Andre Widodo
Wahyu 3:7-13
Gereja Filadelfia dikategorikan oleh para ahli dan sarjana Alkitab sebagai Gereja Yang Kristus Kasihi atau The Church Christ Loved.Masa Gereja Filadelfia dimulai dari tahun 1750 AD sampai dengan Rapture/Pertemuan di angkasa.
Penjelasan tentang Rapture ada di 1 Tesalonika 4:13-18.Rapture adalah masa ketika Tuhan Yesus menjemput mempelaiNya yang kudus di awan-awan,sehingga mempelaiNya yang kudus ini DILUPUTKAN dari Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Tetapi kepada mempelaiNya yang tidak siap sedia,Tuhan akan mengijinkan mereka untuk masuk ke dalam Masa 7 Tahun Kesusahan Besar. 7 Tahun Masa Kesusahan Besar adalah masa selama 7 tahun murka Tuhan dicurahkan ke dunia ini untuk memberikan penghukuman. Dalam masa ini Antichrist akan menyatakan dirinya dan siapa yang memakai tanda bilangan namanya yaitu 666,akan dilupakan Tuhan selamanya. Mari kita kembali ke Gereja Filadelfia.
Setelah melewati masa-masa gereja yang menyedihkan mulai dari Gereja Pergamus,Gereja Tiatira dan Gereja Sardis,kini kita tiba di masa Gereja Filadelfia.Dalam masa Gereja Filadelfia kita akan menemukan beberapa hal yang akan membuat kita mengerti gereja seperti apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Kalau kita melihat Peta Alkitab,kota Filadelfia terletak di Asia Kecil.Kota ini merupakan kota pusat dari kebudayaan Yunani kuno dan didirikan kira-kira 189 tahun sebelum Masehi.Kota Filadelfia mempunyai jemaat-jemaat Kristus yang selalu memegang teguh Firman Tuhan,kota ini tetap ada sampai pertengahan abad 14,ketika Kerajaan Turki menaklukan kota Filadelfia.
Arti kata Filadelfia adalah KASIH PERSAUDARAAN.Setelah lahirnya Gerakan Reformasi Protestant,ternyata gereja-gereja Protestant yang lahir ini menjadi gereja-gereja negara.Gereja-gereja ini kembali dikontrol oleh politikus-politikus negara.Pada masa Gereja Sardis ini lahirlah Church of England,Church of Holland,Church of France dan lain-lain gereja di setiap negara Eropa yang keluar dari system ke hirarkian Katholik yang berpusat di Vatikan,Roma.
Karena Gerakan Reformasi ini membuat gereja menjadi gereja negara maka membuat gereja lebih bergantung kepada pemimpin-pemimpin negara bukan kepada Roh Kudus.Hal ini membuat Gereja Sardis kehilangan api Roh Kudus sehingga gerejagereja ini menjadi dingin dan mati. Tetapi hal ini tidak terjadi pada zaman Gereja Filadelfia.Gereja Filadelfia dikenal karakternya sebagai gereja yang selalu semangat akan Firman Tuhan.Pada zaman Gereja Filadelfia,Tuhan bekerja dengan cara luar biasa karena melihat semangat anak-anakNya yang selalu rindu akan Firman Tuhan.Sebagai akibat dari penterjemahan Alkitab ke dalam banyak bahasa,banyak anak-anak Tuhan mulai mengerti Firman Tuhan.Revival mulai terjadi.Gerakan revival terjadi di mana-mana di Eropa.Mulai dari Inggris sampai menyebar ke Amerika. Gerakan revival ini yang kita kenal sebagai gerakan misionaris modern ke manca negara.
Pada tahun 1793 di Inggris seorang tukang tambal sepatu bernama William Carey,karena begitu cinta akan Firman Tuhan,ia pergi menginjil ke India dan ia tercatat sebagai misionaris asing pertama dari Inggris.Roh Kudus terus bekerja,setelah William Carey,Tuhan menggerakkan Adoniram Judson,David Livingstone,Jonathan Goforth dan lain-lain. Tuhan menggerakkan mereka ke Afrika,China,Jepang,Korea,Amerika Selatan dan semua pulau-pulau di dunia. Mengapa banyak revival terjadi saat itu? KARENA ALKITAB BOLEH DIBACA OLEH KALANGAN UMUM. KARENA ALKITAB BANYAK DITERJEMAHKAN KE DALAM BAHASA BAHASA LAIN. KARENA SEMANGAT ANAK-ANAK TUHAN ZAMAN FILADELFIA INI YANG SELALU HAUS AKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN.
Jadi,saat William Carey masih muda,ia membaca Matius 28:19-20,yaitu perintah Tuhan Yesus untuk” Pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu”,William Carey langsung terpanggil untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang tambal sepatu menjadi penginjil. Hal lain yang menyebabkan banyak terjadinya gerakan misionaris ini adalah banyak anak-anak Tuhan pada tahun 1750 AD dan seterusnya mempelajari tentang tanda-tanda Akhir Zaman. Mereka mempelajari tanda-tanda Tuhan Yesus mau datang yang ke dua kalinya. Mereka terpanggil untuk memberitakan Injil Kristus Yesus kepada setiap suku bangsa di muka bumi ini yang belum pernah mendengar berita Injil.
Semakin kita tahu tanda-tanda kedatanganNya semakin dekat,semakin giat kita memberitakan Injil,sehingga membuat orang-orang yang jauh dari Tuhan bertobat dan kembali kepada Kristus Yesus. Mari kita bahas Wahyu 3:7. Ada 4 karakter Tuhan Yesus yang dinyatakan di Wahyu 3:7.
Yang Kudus,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita akan kekudusan-Nya. Adalah baik jika kita melihat ayat lain yang terdapat di 1 Petrus 1:16.”Kuduslah kamu,sebab Aku kudus. Ayat ini mengingatkan kita bahwa karakter kita harus kudus,karena Tuhan kita pun kudus. Gereja-gereja pada zaman Filadelfia ini, mereka memisahkan diri dari sistem kenegaraan dan dari sistem ke hirarkian di Katholik,lalu menjadi gereja yang mandiri dan hanya bergantung kepada Roh Kudus.Mereka belajar menjadi gereja yang kudus.
Yang Benar,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita bahwa hanya Dialah satu-satunya yang Benar. Sama seperti yang terdapat di Yohanes 14:6,bahwa Yesuslah KEBENARAN itu. Musa tidak memberikan roti hidup,tetapi Yesuslah ROTI HIDUP itu. Tidak ada kebenaran di dalam dunia ini selain di dalam KEBENARAN Kristus Yesus.
Yang memegang kunci Daud, Daud adalah raja Israel yang berkuasa mengalahkan lawan-lawannya di Kanaan. Pada masanya Israel berjaya. Tuhan Yesus memegang kunci Daud artinya adalah Dialah sumber kemenangan-kemenangan kita. Yesuslah yang menjadi pahlawan kita. Apabila Ia membuka,tidak ada yang dapat menutup,apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Yang dimaksud di ayat ini adalah tentang pintu penginjilan.Tuhan telah memberikan perintah,pergilah,jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Pintu penginjilan ini yang mengontrol adalah Tuhan kita sendiri,Tuhan Yesus Kristus.Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuka/menutup pintu penginjilan ini.
PUJIAN
Wahyu 3:8
Aku tahu segala pekerjaanmu,lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu. Tuhan Yesus telah membuka pintu penginjilan,maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh banyak anak-anak Tuhan untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia.Tuhan tahu bahwa kekuatan kita tidak banyak,tetapi seperti kata Roh Kudus kepada Paulus,”Ketika aku lemah,justru di situ aku kuat”.Di saat kedagingan kita lemah,justru di situ Tuhan ada dan memberikan kita kekuatan.
Namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu, anak-anak Tuhan masa Filadelfia ini,dari tahun 1750 AD,mereka bukan saja percaya akan Firman Tuhan,tetapi mereka juga menjadi pelaku-pelaku Firman. Dan dalam mengabarkan Injil,mereka tidak menyangkal nama Yesus,sekalipun nyawa taruhannya. Gerakan Reformasi pada tahun 1520 AD yang melahirkan gerakan Protestant, mereka juga percaya akan Firman Tuhan. Mereka mulai membaca dan mendalami Firman Tuhan tetapi mereka belum berkarakter sebagai pelaku-pelaku Firman.Lain dengan Protestant angkatan tahun 1750 AD, mereka percaya akan Firman Tuhan dan menjadi pelaku-pelaku Firman.
TEGURAN
Tidak ada.Tuhan tidak menegur gereja-gereja zaman Filadelfia.
JANJI
Wahyu 3:9
Lihatlah beberapa orang dari jemaah Iblis,yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi,tetapi yang sebenarnya tidak demikian,melainkan berdusta,akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku bahwa Aku mengasihi engkau. Dalam ayat ini,Tuhan Yesus berjanji bahwa semua orang yang menganut FALSE RELIGION atau yang disebut jemaah Iblis,mereka akan kembali kepada Kristus. FALSE RELIGION adalah praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, bertentangan dengan isi Alkitab.
Seseorang bisa saja mengaku percaya kepada Yesus,tetapi tanpa ia sadari ia mempraktekkan FALSE RELIGION. Contohnya adalah penganut Saksi Yehova,Christian Science,Mormonisme,Advent Hari Ketujuh dan termasuk juga Katholik. FALSE RELIGION adalah cara Iblis yang ampuh untuk menyusupkan niat jahatnya secara halus ke dalam gereja sehingga gereja tanpa disadari menciptakan doktrin yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Karena itu, untuk mencegah terjadinya FALSE RELIGION/FALSE DOCTRINE ini, cara satu-satunya adalah mari kita semua BACK TO THE BIBLE. Mari kita semua anak-anak Tuhan kita kembali ke Alkitab.Dan kemudian kita beritakan Firman Tuhan yang ada di Alkitab ini.
2 Timotius 4:2
BERITAKANLAH FIRMAN,SIAP SEDIALAH BAIK ATAU TIDAK
BAIK WAKTUNYA,NYATAKANLAH APA YANG SALAH,TEGORLAH DAN
NASIHATILAH DENGAN SEGALA KESABARAN DAN PENGAJARAN.
Wahyu 3:10
Karena engkau menuruti firmanKu,untuk tekun menantikan Aku,maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. Ayat ini menegaskan kembali janji Tuhan kepada gereja-gereja Filadelfia,bahwa mereka akan Tuhan luputkan dari hari pencobaan.Tuhan akan meluputkan mereka dari Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Mereka akan Rapture sebelum dimulainya Masa 7 Tahun Kesusahan Besar. 7 Tahun Masa Kesusahan Besar adalah masa yang sangat mengerikan.Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang masa ini seperti yang tertulis di Matius 24:21.
SEBAB PADA MASA ITU AKAN TERJADI SIKSAAN YANG DAHSYAT SEPERTI YANG BELUM PERNAH TERJADI SEJAK AWAL DUNIA SAMPAI SEKARANG DAN YANG TIDAK AKAN TERJADI LAGI.
Saat itu sedang datang ke dunia ini.Tapi itu bukan bagian kita. Bagian kita adalah Rapture.Karena itu marilah kita dengan tekun BACK TO THE BIBLE.Kita kembali ke Firman Tuhan,dan kita wartakan Firman Tuhan kepada dunia ini.Ingatkan akan hari pencobaan dahsyat yang akan datang ke dunia ini. Kita percaya bahwa masa kesusahan besar ini akan tiba saat Antichrist menandatangani perjanjian damai dengan Israel selama 7 tahun. Hal ini akan jelas kalau kita mempelajari Wahyu 4 sampai Wahyu 5. Dan Wahyu 6 membahas tentang awal 7 Tahun Kesusahan Besar itu.
NASIHAT
Wahyu 3:11
Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak ada seorangpun mengambil mahkotamu.
Aku datang segera,ini berarti bahwa tipe gereja ini masih tetap ada sampai sekarang. Saat ini tipe gereja Filadelfia masih ada.Anak-anak Tuhan yang selalu haus akan Firman Tuhan, yang selalu memberitakan Injil kepada dunia dan menyerukan pertobatan menjelang hari pencobaan besar di dunia ini. Karakter mereka adalah hati yang penuh revival akan Firman Tuhan. Dr,Adrian Rogers menyebutkan bahwa ada 3 hal penting dalam membangun jemaat yang berkarakter revival oleh Roh Kudus,yaitu EVANGELISM, MISSIONS dan BIBLE TEACHING.
Gereja-gereja Tuhan saat ini haruslah mempunyai 3 karakter tersebut. Kita anak-anak Tuhan harus membangun karakter kita didasari oleh Firman Tuhan lalu melakukan evangelism, missions dan Bible Teaching. Untuk mencapai itu kita perlu BACK TO THE BIBLE. Problema yang ada di gereja-gereja Tuhan saat ini adalah mereka kurang memahami tentang Firman Tuhan. Kalau kita tidak memahami Firman Tuhan,bagaimana kita mau melakukan evangelism,missions dan Bible Teaching? Karena itu, melalui tulisan ini, saya mengajak saudara-saudara semua yang percaya kepada Kristus Yesus Tuhan, APAPUN DENOMINASINYA,untuk BACK TO THE BIBLE. Dengan BACK TO THE BIBLE, kita akan mengerti janji-janji Tuhan kepada kita anak-anakNya terutama tentang janji kedatanganNya yang kedua kali. Jadi kita akan semakin mempersiapkan diri menjelang kedatanganNya. Kita TIDAK TAHU kapan Ia datang,tetapi lebih baik kita BERJAGA-JAGA. Berjaga akan hidup kita, berjaga akan keluarga kita, berjaga akan saudara seiman kita dan berjaga akan dunia di luar kita untuk selalu SESUAI dengan Firman Tuhan/SESUAI dengan apa kata Alkitab. Ada mahkota yang Tuhan sediakan bagi kita.Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak lupa memberikan upah buat kita.Amin?
PENGHARGAAN
Wahyu 3:12
Barangsiapa menang,ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ,dan padanya akan Kutuliskan nama AllahKu, nama kota AllahKu,yaitu Yerusalem baru,yang turun dari sorga dari AllahKu dan namaKu yang baru.
Tuhan akan membuat kita menjadi sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu,SUNGGUH LUAR BIASA penghargaan yang Tuhan berikan kepada kita yang mau berkarakter seperti jemaat Filadelfia ini.Kita yang adalah hanya seorang manusia,tetapi Tuhan tempatkan sebagai sokoguru di BaitNya.
Penulisan nama Tuhan ini adalah menunjukkan bahwa anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh,mereka akan diidentifikasikan Tuhan sebagai HIS BELOVED CHILDREN, yang mempunyai hak untuk masuk ke kota kudusNya, Yerusalem baru.Yerusalem baru ini dibahas di Wahyu 21:9 sampai Wahyu 22:6. Bagi kita yang setia pada Firman Tuhan,kita akan melihat Tuhan Yesus Kristus yang kita sembah, yang kita puji dalam Roh dan Kebenaran sesuai dengan Kebenaran Firman Tuhan. Kita akan melihat Tuhan kita FACE TO FACE. Haleluya!!!
Ini akan menjadi pengalaman yang paling berharga,DAPAT FACE TO FACE dengan Tuhan Yesus.Ini tersedia bagi kita semua yang setia kepada Firman Tuhan dan tetap berakar di dalam Terang FirmanNya menjelang kedatanganNya. Demikian pembahasan Gereja Filadelfia,selanjutnya adalah pembahasan Gereja Laodekia dari tahun 1900 AD-Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.
Oleh: Andre Widodo
Wahyu 3:7-13
GEREJA FILADELFIA
Gereja Filadelfia dikategorikan oleh para ahli dan sarjana Alkitab sebagai Gereja Yang Kristus Kasihi atau The Church Christ Loved.Masa Gereja Filadelfia dimulai dari tahun 1750 AD sampai dengan Rapture/Pertemuan di angkasa.
Penjelasan tentang Rapture ada di 1 Tesalonika 4:13-18.Rapture adalah masa ketika Tuhan Yesus menjemput mempelaiNya yang kudus di awan-awan,sehingga mempelaiNya yang kudus ini DILUPUTKAN dari Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Tetapi kepada mempelaiNya yang tidak siap sedia,Tuhan akan mengijinkan mereka untuk masuk ke dalam Masa 7 Tahun Kesusahan Besar. 7 Tahun Masa Kesusahan Besar adalah masa selama 7 tahun murka Tuhan dicurahkan ke dunia ini untuk memberikan penghukuman. Dalam masa ini Antichrist akan menyatakan dirinya dan siapa yang memakai tanda bilangan namanya yaitu 666,akan dilupakan Tuhan selamanya. Mari kita kembali ke Gereja Filadelfia.
Setelah melewati masa-masa gereja yang menyedihkan mulai dari Gereja Pergamus,Gereja Tiatira dan Gereja Sardis,kini kita tiba di masa Gereja Filadelfia.Dalam masa Gereja Filadelfia kita akan menemukan beberapa hal yang akan membuat kita mengerti gereja seperti apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Kalau kita melihat Peta Alkitab,kota Filadelfia terletak di Asia Kecil.Kota ini merupakan kota pusat dari kebudayaan Yunani kuno dan didirikan kira-kira 189 tahun sebelum Masehi.Kota Filadelfia mempunyai jemaat-jemaat Kristus yang selalu memegang teguh Firman Tuhan,kota ini tetap ada sampai pertengahan abad 14,ketika Kerajaan Turki menaklukan kota Filadelfia.
Arti kata Filadelfia adalah KASIH PERSAUDARAAN.Setelah lahirnya Gerakan Reformasi Protestant,ternyata gereja-gereja Protestant yang lahir ini menjadi gereja-gereja negara.Gereja-gereja ini kembali dikontrol oleh politikus-politikus negara.Pada masa Gereja Sardis ini lahirlah Church of England,Church of Holland,Church of France dan lain-lain gereja di setiap negara Eropa yang keluar dari system ke hirarkian Katholik yang berpusat di Vatikan,Roma.
Karena Gerakan Reformasi ini membuat gereja menjadi gereja negara maka membuat gereja lebih bergantung kepada pemimpin-pemimpin negara bukan kepada Roh Kudus.Hal ini membuat Gereja Sardis kehilangan api Roh Kudus sehingga gerejagereja ini menjadi dingin dan mati. Tetapi hal ini tidak terjadi pada zaman Gereja Filadelfia.Gereja Filadelfia dikenal karakternya sebagai gereja yang selalu semangat akan Firman Tuhan.Pada zaman Gereja Filadelfia,Tuhan bekerja dengan cara luar biasa karena melihat semangat anak-anakNya yang selalu rindu akan Firman Tuhan.Sebagai akibat dari penterjemahan Alkitab ke dalam banyak bahasa,banyak anak-anak Tuhan mulai mengerti Firman Tuhan.Revival mulai terjadi.Gerakan revival terjadi di mana-mana di Eropa.Mulai dari Inggris sampai menyebar ke Amerika. Gerakan revival ini yang kita kenal sebagai gerakan misionaris modern ke manca negara.
Pada tahun 1793 di Inggris seorang tukang tambal sepatu bernama William Carey,karena begitu cinta akan Firman Tuhan,ia pergi menginjil ke India dan ia tercatat sebagai misionaris asing pertama dari Inggris.Roh Kudus terus bekerja,setelah William Carey,Tuhan menggerakkan Adoniram Judson,David Livingstone,Jonathan Goforth dan lain-lain. Tuhan menggerakkan mereka ke Afrika,China,Jepang,Korea,Amerika Selatan dan semua pulau-pulau di dunia. Mengapa banyak revival terjadi saat itu? KARENA ALKITAB BOLEH DIBACA OLEH KALANGAN UMUM. KARENA ALKITAB BANYAK DITERJEMAHKAN KE DALAM BAHASA BAHASA LAIN. KARENA SEMANGAT ANAK-ANAK TUHAN ZAMAN FILADELFIA INI YANG SELALU HAUS AKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN.
Jadi,saat William Carey masih muda,ia membaca Matius 28:19-20,yaitu perintah Tuhan Yesus untuk” Pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu”,William Carey langsung terpanggil untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang tambal sepatu menjadi penginjil. Hal lain yang menyebabkan banyak terjadinya gerakan misionaris ini adalah banyak anak-anak Tuhan pada tahun 1750 AD dan seterusnya mempelajari tentang tanda-tanda Akhir Zaman. Mereka mempelajari tanda-tanda Tuhan Yesus mau datang yang ke dua kalinya. Mereka terpanggil untuk memberitakan Injil Kristus Yesus kepada setiap suku bangsa di muka bumi ini yang belum pernah mendengar berita Injil.
Semakin kita tahu tanda-tanda kedatanganNya semakin dekat,semakin giat kita memberitakan Injil,sehingga membuat orang-orang yang jauh dari Tuhan bertobat dan kembali kepada Kristus Yesus. Mari kita bahas Wahyu 3:7. Ada 4 karakter Tuhan Yesus yang dinyatakan di Wahyu 3:7.
Yang Kudus,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita akan kekudusan-Nya. Adalah baik jika kita melihat ayat lain yang terdapat di 1 Petrus 1:16.”Kuduslah kamu,sebab Aku kudus. Ayat ini mengingatkan kita bahwa karakter kita harus kudus,karena Tuhan kita pun kudus. Gereja-gereja pada zaman Filadelfia ini, mereka memisahkan diri dari sistem kenegaraan dan dari sistem ke hirarkian di Katholik,lalu menjadi gereja yang mandiri dan hanya bergantung kepada Roh Kudus.Mereka belajar menjadi gereja yang kudus.
Yang Benar,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita bahwa hanya Dialah satu-satunya yang Benar. Sama seperti yang terdapat di Yohanes 14:6,bahwa Yesuslah KEBENARAN itu. Musa tidak memberikan roti hidup,tetapi Yesuslah ROTI HIDUP itu. Tidak ada kebenaran di dalam dunia ini selain di dalam KEBENARAN Kristus Yesus.
Yang memegang kunci Daud, Daud adalah raja Israel yang berkuasa mengalahkan lawan-lawannya di Kanaan. Pada masanya Israel berjaya. Tuhan Yesus memegang kunci Daud artinya adalah Dialah sumber kemenangan-kemenangan kita. Yesuslah yang menjadi pahlawan kita. Apabila Ia membuka,tidak ada yang dapat menutup,apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Yang dimaksud di ayat ini adalah tentang pintu penginjilan.Tuhan telah memberikan perintah,pergilah,jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Pintu penginjilan ini yang mengontrol adalah Tuhan kita sendiri,Tuhan Yesus Kristus.Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuka/menutup pintu penginjilan ini.
PUJIAN
Wahyu 3:8
Aku tahu segala pekerjaanmu,lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu. Tuhan Yesus telah membuka pintu penginjilan,maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh banyak anak-anak Tuhan untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia.Tuhan tahu bahwa kekuatan kita tidak banyak,tetapi seperti kata Roh Kudus kepada Paulus,”Ketika aku lemah,justru di situ aku kuat”.Di saat kedagingan kita lemah,justru di situ Tuhan ada dan memberikan kita kekuatan.
Namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu, anak-anak Tuhan masa Filadelfia ini,dari tahun 1750 AD,mereka bukan saja percaya akan Firman Tuhan,tetapi mereka juga menjadi pelaku-pelaku Firman. Dan dalam mengabarkan Injil,mereka tidak menyangkal na