Pelayanan Gereja

Artikel-artikel tentang dunia pelayanan dan gereja

100 Th GPM Bethel Ambon

Disensor Jepang sampai Kerusuhan Ambon

Tak terasa, 29 Mei 2004 merupakan saat Gedung Gereja Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Bethel Klasis Kota Ambon genap berusia 100 tahun. Hal ini juga menandakan 100 tahun sudah perjalan jemaat GPM Bethel dalan bersaksi dan melayani. Berdasarkan bukti- bukti sejarah, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 ini diberi nama Bethel. Selanjutnya, jemaat setempat juga dinamai Jemaat GPM Bethel sampai dengan sekarang. Demikian tulis Izaac Tulalessy untuk Sinar Harapan.

Nama Bethel dipilih karena makna teologis dan sejarahnya dapat kita temui dalam Alkitab khususnya pada kitab Kejadian 28: 10-22 terungkap bahwa suatu tempat di mana Yakub bertemu dengan Tuhan Allah di dalam mimpinya sewaktu tidur di Kota Lus. Tempat ini lalu ia yakini sebagai "rumah Allah" atau "pintu gerbang surga". Yakub kemudian mendirikan sebuah tugu peringatan dari batu pengalasan kepalanya sewaktu tidur dan tempat ini dinamai Bethel yang artinya "rumah Allah" atau "pintu gerbang surga".

Berdasarkan prasasti yang terpahat pada dinding gereja terungkap, gedung Gereja yang dibangun sejak tanggal 29 Mei 1904 itu peletakan batu pertamanya dilakukan oleh pendeta asal Belanda di Kota Ambon, Pendeta JC Van Hoeven, dan seluruh pekerjaan pembangunan dikoordinir oleh RL Sahupala. Namun, kapan selesainya pembangunan gedung Gereja Bethel ini maupun diresmikannya belum diketahui secara pasti sebab tidak ada prasastinya.

Jemaat Kota Ambon
Jemaat GPM Bethel diperkirakan bukan saja baru lahir pada tahun 1904, tetapi berdasarkan sejumlah data-data sejarah diperkirakan jemaat ini telah ada sekitar empat abad sebelumnya sejak masa misi Gereja Katholik pada abad ke-16.

Pada tahun 1926, terjadi perkembangan baru, yaitu peningkatan status Kota Ambon menjadi Kota Praja yang dikepalai seorang wali kota. Dengan demikian, jemaat Bethel menjadi Jemaat Kota Ambon. Pelayanan jemaat saat itu dilakukan dalam berbagai bentuk baik itu dalam bentuk ibadah minggu, katekisasi, dan sekolah minggu dan ditujukan kepada semua anggota jemaat dengan menggunakan bahasa Belanda dan Melayu Ambon. Penggunaan dua bahasa ini mencerminkan status sosial seseorang. Kelompok berbahasa Belanda pada umumnya adalah orang-orang berpendidikan, pegawai, dan guru sedangkan penduduk biasa pada umumnya mempergunakan bahasa Melayu Ambon.

Pada tahun 1935, lahirlah institusi Gereja Protestan Maluku (GPM) dan pada tahun 1937 resmi ditetapkan dan diberlakukan tata gereja baru yang disebut "Peratoeran Geredja dan Peratoeran Sinode dan Geredja Maloekoe tahoen 1937". Menurut tata gereja ini, Badan Majelis Jemaat merupakan instansi tertinggi di tingkat jemaat. Badan inilah yang menggariskan program pelayanan bagi jemaat sesuai dengan hasil keputusan persidangan sinode dan klasis dan sekaligus merupakan pihak pelaksana program tersebut.

Perang Dunia II
Bagi jemaat GPM Bethel, Perang Dunia (PD) II atau yang lebih dikenal dengan masa pendudukan Jepang merupakan saat-saat penuh tantangan dan penderitaan. Pihak Jepang memandang ada hubungan yang erat antara pihak gereja dan umat Kristen dengan pihak Belanda yang berhasil ditaklukan Jepang saat itu.

Pihak Jepang pun melakukan pengawasan ketat terhadap semua kegiatan gereja dan umat Kristen, termasuk di Jemaat GPM Bethel. Pejabat gereja atau anggota jemaat yang dicurigai bekerja sama dengan Belanda langsung ditahan dan banyak di antara mereka yang disiksa oleh tentara Jepang. Selain itu sebagian gedung gereja ditutup dan sejumlah guru Kristen ditahan. Naskah khotbah disensor untuk mencegah dimasukkannya unsur-unsur politik yang dapat merugikan kepentingan penguasa Jepang.

Gedung Gereja Bethel pada tahun pertama masa pendudukan Jepang masih bertahan, bahkan pada tahun 1942 setelah pendaratan tentara Jepang di Ambon, gedung ini masih dipakai sebagai tempat persidangan GPM yang berlangsung pada tanggal 22-24 Oktober 1942. Namun beberapa waktu kemudian, gedung gereja ini hancur akibat dibom sekutu. Selama masa pendudukan Jepang, sebagian besar anggota jemaat Bethel mengungsi ke hutan menyelamatkan diri, namun pelayanan tetap dilakukan oleh Pendeta FR Siwabessy dibantu Pendeta Hanafusa dari Jepang.

Menuju Kemandirian
Dalam perkembangan, ternyata penderitaan yang jemaat GPM Bethel tidak kunjung berakhir. Baru lima tahun sesudah PD II, ketika pembenahan sementara dilakukan di berbagai bidang, telah timbul pula pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada tahun 1950. Peristiwa ini telah melahirkan kesulitan baru di bidang materi dan mental umat sebagai akibat serangan TNI dan blokade laut yang dilakukan terhadap Pulau Ambon dalam rangka menumpas gerakan tersebut.

Suatu realitas yang menarik adalah di tengah-tengah situasi GPM yang memprihatinkan itu, Jemaat GPM Bethel terus berusaha membenahi diri termasuk mencari bentuk pelayanan baru. Khusus untuk menciptakan ibadah yang lebih khusyuk sekaligus sebagai pengganti gedung lama yang hancur dibom sekutu maka dibangun sebuah gedung gereja permanen yang dimulai pada tanggal 11 Agustus 1953 dan diresmikan penggunaanya pada tanggal 31 Oktober 1955.

Kegiatan penting lainnya yang perlu dicatat karena merupakan sumbangan jemaat ini kepada GPM ialah pembentukan sebuah perkumpulan yang anggota-anggotanya terdiri dari anak-anak dengan maksud dibina menjadi pencinta-pencinta pekabaran injil. Pelopor kegiatan ialah ibu- ibu yang tergabung dalam Kaum Ibu Kristen Bethel. Perkumpulan ini kemudian diresmikan oleh Ketua Bagian Pekabaran Injil GPM, Pendeta Th P Pattiasina, denga nama Tunas Pekabaran Injil Gereja Protestan Maluku pada tanggal 31 Desember 1956. Jemaat Khusus Kota Ambon pun dimekarkan menjadi Klasis GPM Kota Ambon pada tanggal 20 Mei 1973 sehingga satus Jemaat Wijk Bethel ditingkatkan menjadi Jemaat GPM Bethel.

Bersaksi dan Melayani
Perkembangan Jemaat GPM Bethel yang cukup pesat pada dekade 1960-an membuat daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung dan daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru. Demi efisiensi pelayanan, oleh Badan Majelis Jemaat dirasa perlu untuk diadakan pemekaran. Rencana ini kemudian direalisasikan pada tanggal 6 September 1963 sehingga kemudian jemaat ini dimekarkan menjadi Jemaat GPM Bethabara yang daerah pelayanannya mencakup daerah Batu Merah sampai ke Batu Merah Tanjung, serta sebagian daerah Karang Panjang dan juga Jemaat GPM Imanuel yang daerah pelayanannya mencakup sebagian besar daerah Karang Panjang sampai ke Ahuru.

Di bidang organisasi gereja, sesuai Keputusan Sinode GPM, demi terciptanya efektivitas pelayanan bagi seluruh anggota jemaat diterapkan sistem sektor dan unit. Setiap sektor terdiri dari tiga sampai empat unit dan setiap unit terdiri dari 30-40 keluarga. "Sampai tahun 2004 ini, wilayah pelayanan jemaat ini mencakup 20 sektor pelayanan yang melayani 1.634 keluarga dengan jumlah keselurahan anggota jemaat sebanyak 6.925 jiwa.

Sehubungan dengan kerusuhan yang terjadi sejak Januari 1999 maka jemaat ini telah kehilangan tiga sektor pelayanan di Mardika dan Batu Merah, yaitu Sektor 16, 17, dan 18 karena anggota-anggotanya mengungsi ke tempat lain," ungkap Ketua Majelis Jemaat GPM Bethel Pendeta M Peilouw STh kepada SH di Ambon.

Pembaruan lainnya yang dilakukan di bidang organisasi ialah penerapan pembidangan pada departemen di tingkat sinode diterapkan pula ditingkat jemaat dengan nama bidang-bidang pelayanan. Bidang yang dimaksud adalah Keesaaan dan Kesaksian (KEKES), Pelayanan, Pendidikan, dan Pembangunan (PELPEM), Finansial dan Ekonomi (FINEK) dan Kerumahtanggaan, Pekabaran Injil dan Komunikasi (PIKOM). "Di bidang liturgi ibadah pembaruan pertama yang dirasakan ialah menyangkut isi yang lebih kontekstual dan keterlibatan anggota jemaat didalamnya yang lebih menonjol," jelasnya.

Pembaruan lainnya yang tampak dalam bidang ini, menurut Pendeta Peilouw adalah pemakaian buku nyanyian. Secara resmi buku yang dipakai adalah Kidung Jemaat sedangkan buku-buku nyanyian seperti Mazmur dan Nyanyian Rohani, Mazmur dan Tahlil, dan Dua Sahabat Lama, penggunaannya lebih bersifat insidentil.

Di bidang pembinaan umat, perhatian terhadap semua golongan di dalam jemaat terus ditingkatkan. Selain pelaksanaan program yang diturunkan Departemen KEKES melalui wadah-wadah pelayanan khusus yang ditetapkan sinode Pelayanan Perempuan, Pelayanan Laki-laki, Pelayanan Pemuda, serta Pelayanan Anak dan Remaja.

Di bidang pekabaran injil, di samping pelaksanaan program yang diturunkan oleh Sinode lewat Departemen PIKOM juga diadakan kegiatan internal jemaat dalam rangka pelaksanaan tugas tersebut.

Di bidang sosial, kegiatan-kegiatan yang digariskan terutama melalui persidangan jemaat, pada umumnya ditujukan kepada pihak-pihak tertentu yang dianggap membutuhkan baik perorangan maupun lembaga/kelompok baik di dalam maupun di luar jemaat.

Sejak timbulnya kerusuhan di awal tahun 1999 lalu, kegiatan-kegiatan ibadah lebih ditingkatkan. Sejak Januari 1999 diadakan doa pergumulan tiap hari ol594Badah Majelis Jemaat. Juga di sejumlah sektor dibuka posko-posko doa sekaligus posko-posko bantuan logistik bagi jemaat- jemaat yang membutuhkan bantuan darurat karena ditimpa kerusuhan.

Selama 100 tahun perjalanan sejarah Jemaat GPM Bethel terlihat jemaat ini semakin sadar akan keterpanggilannya sebagai gereja yang berperan bersaksi dan melayani baik secara internal di lingkungan jemaatnya maupun eksternal terhadap masyarakat di masa kini dan dalam menapaki masa depan.

Sumber: Gloria Cyber Ministries

55 Tahun Gerakan Oikoumene PGI

Penulis : Weinata Sairin

Pada tanggal 25 Mei 2005 Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) tepat berusia 49 tahun. Madah syukur layak dikidungkan bagi Allah oleh karena anugerah-Nya, PGI sebagai lembaga oikoumene di aras nasional masih tetap eksis dan mampu mengukir karya di tengah kekinian sejarah.

Berbicara tentang PGI, tak bisa tidak harus berbicara juga tentang istilah oikoumene. Banyak orang amat membutuhkan informasi tentang kandungan makna istilah oikoumene, sebab istilah itu sudah terlanjur digunakan secara tidak pas oleh banyak lembaga, dan penamaan oikoumene itu sekadar untuk menunjukkan bahwa lembaga tersebut terdiri dari berbagai denominasi gereja.

Istilah oikoumene (dari kata Yunani yang berarti "dunia yang didiami") dengan gambar perahu membawa salib, berlayar di tengah lautan, telah menjadi "simbol resmi" PGI, sejak organisasi itu didirikan dengan nama Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI), tanggal 25 Mei 1950 di Jakarta.

Menurut Dr Abineno, seorang teolog Indonesia yang bertahun-tahun memimpin DGI, istilah oikoumene itu sendiri telah dipakai oleh Herodotus sejak abad kelima sebelum Masehi dan setelah melalui perjalanan sejarah yang panjang, pengertiannya mengalami banyak perkembangan. Dalam kajian Abineno, istilah oikoumene pernah diberi arti kebudayaan, kerajaan, bahkan juga gereja.

Menurut tradisi Yunani, oikoumene identik dengan dunia kebudayaan , sebab itu mereka yang berada di luar oikoumene adalah orang-orang yang tidak berbudaya. Sementara itu dalam Alkitab Perjanjian Baru istilah oikoumene cenderung memiliki pengertian kerajaan, jelasnya kerajaan Romawi. Oikoumene dalam arti gereja mula-mula dipakai oleh Origines (185-254 SM) yang kemudian diteruskan oleh pimpinan- pimpinan gereja yang lain, sehingga istilah itu menjadi semakin dikenal di lingkungan gereja.

Istilah oikoumene kemudian lazim dipakai untuk suatu pertemuan/konsili yang dilakukan oleh gereja-gereja, termasuk di dalamnya gereja Katolik. Dalam hubungan dengan pengertian oikoumene sebagai gerakan untuk mempersatukan seluruh gereja yang ada di dunia, peranan Uskup Agung Soderblom dari Upsala, amat penting. Berkat pengaruhnyalah gerakan oikoumene merambah ke setiap gereja lokal sehingga menjadi sebuah gerakan dari seluruh warga gereja.

Tidak Hanya Gerakan Elit

Ketika Dewan Gereja-gereja di Indonesia didirikan, isu persatuan dan kesatuan baik dalam konteks gereja maupun nasional amat menonjol. Gereja-gereja saat itu hidup terserak-serak di berbagai wilayah Nusantara, dalam lingkungan denominasi sendiri, dan sebab itu hampir tidak pernah mampu menampilkan peran yang memadai di tengah kecamuk dunia. Sementara itu kerinduan untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa begitu menggebu-gebu, justru karena kemajemukan masyarakat Indonesia dengan keluasan wilayahnya amat disadari oleh pimpinan nasional kala itu.

Berangkat dari lingkungan strategis seperti itu, maka rumusan tujuan DGI ketika didirikan adalah "Pembentukan Gereja Kristen Yang Esa di Indonesia" dan itulah aktualisasi terminologi oikoumene, yang hingga kini menjadi simbol PGI. Rumusan tujuan seperti itu tidak pernah mengalami perubahan substansial hingga saat ini.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia kini beranggota 81 Sinode/Pusat gereja dan menghimpun 85% umat Protestan di Indonesia. Dalam usianya menjelang setengah abad, PGI tetap menggunakan lambang perahu yang membawa salib, melayari lautan, ditambah dengan istilah oikoumene melingkari salib itu. Itu menunjuk pada komitmen bahwa ia adalah organisasi gerejawi di aras nasional yang terus-menerus mengupayakan terwujudnya persatuan, kesatuan dan keesaan di kalangan umat Kristen di Indonesia.

Dalam kapasitas seperti itu, maka PGI harus berperan menjadi lokomotif gerakan oikoumene, menjadi pengemban aspirasi umat Kristen Indonesia dan yang sigap melakukan sesuatu jika gerbong-gerbong itu ternyata tidak lagi berjalan pada rel yang telah disepakati. PGI dan umat Kristen Indonesia tidak akan bisa memberi kontribusi apa-apa dalam hal persatuan dan kesatuan bangsa jika dirinya sendiri rapuh, pecah dan tercerai-berai.

Gerakan oikoumene sebagai gerakan yang berupaya mempersatukan seluruh gereja, harus menjadi gerakan dari setiap umat Kristen, tidak hanya gerakan dari segelintir elite kepemimpinan gereja. Gerakan oikoumene harus benar-benar menjadi real dan operasional tidak boleh berhenti pada slogan, motto, serta rumusan tanpa jiwa. Gerakan oikoumene harus menjadi roh, menjadi darah daging dari setiap aktivitas warga jemaat. Inilah agenda penting yang perlu dilakukan oleh PGI.

Jangan Jadi Alat Parpol

PGI juga tidak boleh terbelenggu oleh sikap introvert dan eksklusif sehingga menutup mata terhadap lingkungan eksternalnya. Berdasar visi teologisnya yang kukuh, PGI bersama gereja-gereja harus dengan sigap dan tanggap mengungkapkan suara kenabiannya di tengah-tengah kehidupan umat sebagai wujud ketaatan kepada Tuhan. Inilah agenda eksternal PGI yang perlu dijalankan di masa-masa mendatang dengan arif dan tanpa takut.

Di zaman seperti ini ini PGI perlu membarui diri dengan mengembangkan organisasi yang makin solid, kolegialitas yang andal, manajemen yang transparan dan modern, penyiapan SDM yang berkualitas yang mampu menjawab perubahan zaman.

Di tengah kondisi politik yang menghadirkan multipartai, PGI juga harus benar-benar bertindak cermat sehingga tidak mengasosiasikan institusinya dan atau pejabat terasnya dengan salah satu kekuatan sosial politik tertentu. Sebab, jika hal itu terjadi maka PGI/gereja tidak bisa lagi bersifat objektif kepada umat dan tidak akan dapat lagi mengembangkan sikap inklusif. Gereja harus benar-benar netral, tidak menjadi alat parpol dan kekuasaan.

Di masa datang, PGI juga harus punya kesungguhan untuk memberdayakan PGI Wilayah - sesuai dengan tema "visi sentral-prakarsa desentral" sehingga PGI tidak menjadi kekuatan yang sentralistik yang bisa membuahkan sikap arogan, otoriter, paternalistik yang bertentangan dengan pola pelayanan Kristus yang rendah hati, bersikap hamba; bahkan PGI harus benar-benar menjadi pelayan gereja-gereja, bukan atasan gereja. Sikap aristokrat, arogan dan mengutamakan kekuasaan tidak boleh menjadi gaya kepemimpinan para pejabat PGI.

Oikoumene adalah sebuah gerakan; ketika para pengguna simbol itu tidak lagi mempunyai sikap dinamik, kreatif, dan proaktif dalam menyelesaikan serta mencari solusi terhadap berbagai permasalahan yang digumuli umat manusia di tengah kekinian sejarah, maka oikoumene adalah sebuah contradictio in terminis.

Sumber: Sinar Harapan Sabtu

Arti dan Karakteristik Gereja Sejati

Oleh: Samuel T. Gunawan, M.Th *

PROLOG

Jhon MacArthur menulis, “Ketika suatu zaman hanya menilai gereja berdasarkan penampilan luarnya, hal yang sangat penting diketahui adalah bagaimana menentukan sebuah gereja yang benar-benar sehat. Kriteria Alkitabiah untuk melihat kesehatan rohani dari sebuah gereja bukanlah apa yang tampak diluar dihadapan dunia, tapi apa yang tampak di dalam di hadapan Allah”.

Buramnya gambar gereja sejati saat ini disebabkan berbagai faktor. Pertama, ketidakjelasan terhadap ekklesiologikal yaitu pengajaran tentang gereja yang benar menurut ajaran Kitab Suci. Kedua, munculnya berbagai teori para “pakar” tentang pertumbuhan gereja dengan berbagai “istilah” bukannya menambah jelas pokok persoalan seputar ekklesiologikal ini tetapi justru menyebabkan kebingungan saat teori tersebut diadopsi dan diterapkan pada gereja-gereja lokal. Ketiga, banyaknya denominasi gereja yang masing-masing mengklaim sebagai yang paling benar dalam menafsirkan Kitab Suci dan merasa sebagai yang superior menjadikan masalah ini semakin rumit.

Lalu, bagaimana kita bisa membedakan bahwa suatu gereja lokal (denominasi) termasuk bagian dari gereja sejati?

PEMAHAMAN YANG KELIRU TENTANG GEREJA

Ada berbagai macam pengertian dan pemahaman yang keliru tentang gereja. Karena itu penulis berpendapat bahwa sebelum mendefinisikan gereja perlu untuk mengetahui apa itu yang bukan gereja.

Pertama, Gereja bukanlah kelanjutan dari Yudaisme. Gereja jelas merupakan entitas yang berbeda dari Israel. Ketika Tuhan kita Yesus Kristus mengatakan ”Aku akan mendirikan jemaatKu” jelas tertulis dalam bentuk kata kerja yang akan datang, yang menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang belum dikerjakan Kristus sampai saat itu (Matius 16:18). Sesungguhnya Gereja baru mulai sebagai realita yang berfungsi ketika Roh Kudus dicurahkan pada Hari Pentakosta. Gereja bukanlah kesinambungan dari Israel, walaupun ada terdapat kesinambungan antara mereka yang ditebus dari segala zaman yang berhubungan dengan surga sebagai tujuan Mereka. Gereja belum ada dalam zaman Perjajian Lama, namun baru ditetapkan pada hari Pentakosta.

Kedua, Gereja bukanlah kerajaan Allah. Walaupun Gereja merupakan bagian dari Kerajaan Allah, tetapi Gereja bukanlah Kerajaan Allah. Kerajaan Allah adalah kerajaan yang bersifat universal dan kekal; dari awal sampai akhir, semuanya termasuk di dalamnya atau inklusif, kemarin, sekarang dan selama-lamanya. Kerajaan Allah meliputi segala sesuatu yang adalah milik Allah. Kitab Suci menegaskan bahwa Kristus adalah Kepala Gereja bukan Raja Gereja karena Gereja tidak pernah direncanakan menjadi sebuah kerajaan secara geografis maupun politis.

Ketiga, Gereja bukanlah denominasi ataupun organisasi, bukan juga gedung atau bangunan fisiknya. Menurut Alkitab, gereja adalah Tubuh Kristus yaitu kumpulan orang-orang yang telah menempatkan iman mereka pada Yesus Kristus untuk keselamatan (Yohanes 3:16; 1 Korintus 12:13).

ARTI DARI GEREJA SEJATI    

Pertama, kata Gereja dalam bahasa Inggris Church yang artinya That Which Belongs to the Lord. Gereja disebut dengan istilah Yunani Ekklesia berasal dari dua kata, yaitu "Ek" yang berarti keluar dan "Kaleo" yang berarti memanggil. Ekklesia berarti orang-orang yang dipanggil Allah dari dunia, untuk kemudian menjadi umat-Nya. Gereja ialah kumpulan orang-orang yang percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, yang ditebus, dipanggil keluar dari dunia dan menjadi umat Tuhan. Kata ini dipakai untuk menyatakan secara khusus identitas orang yang percaya.

Kedua, Gereja Sejati dibangun di atas Kristus sebagai Pondasi atau Batu Penjurunya. Yesus Kristus Tuhan kita adalah pendiri Gereja. Ia berkata ”Aku akan mendirikan jemaatKu” jelas tertulis dalam bentuk kata kerja yang akan datang yang menunjukkan pada sesuatu yang akan digenapi di kemudian hari. Gereja adalah milikNya (Mat 16:18); Dia adalah dasar Gereja (1 Kor 3:11); Dia adalah Batu Penjuru Gereja (KPR 4:11; Ef 2:20); Dia adalah Kepala dari Gereja (Ef 1:20-23); Ia memberikan karunia-karunia kepada anggota-anggota tubuhNya (Ef 4:8) dan mengirim Roh Kudus yang menghidupkan Gereja sehingga dapat sungguh-sungguh berfungsi (KPR 2:23).

Ketiga, Gereja itu unik dan paradoks. Unik karena disebut dengan metaforikal seperti, Bangunan Allah, Ladang Allah, Bait Allah, Pengantin Kristus, dan Tubuh Kristus. Paradoks karena memiliki dua sisi yang berbeda tetapi menyatu dan tak dapat dipisahkan satu dengan lainnya walau dapat dibedakan. Di satu sisi gereja itu bersifat tidak kelihatan (Invisible Church) dan di lain sisi gereja itu nyata (Visible Church). Gereja yang tidak kelihatan disebut universal sedangkan gereja yang kelihatan disebut gereja lokal.

KARAKTERISTIK DARI GEREJA SEJATI

John Calvin menyebutkan dua tanda dari Gereja sejati, yaitu pemberitaan firman Tuhan dan pelaksanaan sakramen. Beberapa kredo Reformed kemudian menambahkan satu tanda lagi, yaitu disiplin gereja. Perbedaan ini tidak berarti bahwa Calvin mengabaikan disiplin, sebaliknya, Calvin sangat menekankan hal ini. Hanya, dia tidak menganggap point ini sebagai salah satu tanda sejati dari gereja. Penulis telah mengamati, setidaknya ada 7 karakteristik gereja sejati.

Pertama, Kristus sendirilah yang menjadi Kepala Gereja. Kristuslah yang memberi petunjuk dan perintah kepada gerejaNya. Gereja harus menanggapi perintah itu secara positif. Sebagai Kepala, Kristus memberikan perintah itu melalui Roh Kudus kepada tubuhNya, dan tubuh itu harus melakukan apa yang dikehendaki oleh Kepala. Jika hubungan tubuh terputus dari Kepala, maka tubuh akan terputus dari SUMBER kehidupan. (Ef 1:22-23).

Kedua, adanya hiraraki yang jelas di dalam gereja. Kitab suci mengajarkan bahwa Allah adalah Kepala dari semua, yang telah memberikan kepada AnakNya kedudukan sebagai pemimpin (headship) atas gereja (Ef 1:20-23). Saat ini Kristus bekerja di dalam gereja melalui pelayanan Roh Kudus (Yoh 14:18,26). Ia bekerja melalui para rasul (Ef 2:20) dan pemimpin gereja selanjutnya (Ef 4:11-12) untuk menjalankan kepemimpinan di dalam gereja dan memperlengkapi jemaat bagi pekerjaan pelayanan bagi pembangunan tubuhNya. Perjanjian Baru menyebutkan bahwa gereja memiliki dua pejabat gereja yang ditahbiskan yaitu Penatua dan Diakon (Flp 1:1).

Ketiga, Keimamatan dan pelayanan setiap orang percaya. Keunikan dari pekerjan Tuhan saat ini adalah bahwa Ia tidak membesarkan nama salah satu pemimpin tetapi Ia menggunakan seluruh Tubuh Kristus menjadi alatNya, dengan penuh kuasa Ia bekerja melalui seluruh Tubuh Kristus di seluruh dunia. Roh Kudus memberikan karunia-karunia tertentu (spesifik) kepada setiap orang percaya untuk melayani tubuh Kristus (1 Kor 12:4-11; Ef 4:11-13).

Keempat, Kitab Suci harus menjadi otoritas utama bagi iman dan praktik kehidupan Jemaat. Rasul Paulus menasihati Titus demikian “Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat” (Tit 2:1). Selanjutnya Rasul Paulus menghubungkannya ajarah sehat dengan praktek kehidupan sehari-hari (Tit 2:1-14). Ajaran sehat adalah doktrin atau (didaskalia). Kata ini berkaitan dengan apa yang diajarkan. Ajaran sehat akan memelihara orang percaya agar tetap sehat dan terhindar dari kekeliruan. Doktrin yang sehat menghasilkan pertumbuhan dan paktek kehidupan kudus dan berkenan kepada Allah.

Kelima, merupakan kumpulan orang yang telah mengalami pembaharuan (KPR 2:41-42). Gereja yang memiliki anggota jemaat dalam jumlah besar, tidak identik dengan gereja yang benar. Ini bisa terjadi jika jemaat yang dimaksud belum mengalami pertobatan atau lahir baru. Orang-orang yang telah lahir baru disebut murid Kristus. Kristus menginginkan semua bangsa menjadi muridNya atau mathetes, yaitu para pengikut Yesus atau orang-orang yang mengaku bahwa Yesus adalah Kristus dan Tuhan.

Keenam, melaksanakan dua ordinansi. Kedua ordinansi (atau sakramen) tersebut adalah baptisan air dan perjamuan kudus. Walaupun kedua ordinansi ini tidak dimaksudkan untuk mendatangkan keselamatan atau anugerah tetapi kedua peraturan ini ditetapkan oleh Kristus agar dilaksanakan oleh gereja (Mat 28:19; 1 Kor 11:23-26).

Ketujuh, pelaksanaan amanat agung Kristus (Mat 28;18-20). Memperhatikan prioritas dari program-program dan berbagai aktivitas gereja lokal sekarang ini, kita mungkin bertanya-tanya apakah gereja telah lupa atau bingung akan misinya sebagai orang-orang percaya. Gereja sibuk, tetapi sibuk mengerjakan apa? Berapa banyak program, pertemuan, dan aktivitas benar-benar menghasilkan jiwa-jiwa baru? Gereja sejati adalah gereja yang mengemban misi amanat Kristus.

EPILOG

Sebagaimana disebut di atas, bahwa buramnya gambar gereja sejati disebabkan berbagai faktor, yang utamanya adalah ketidakjelasan terhadap ekklesiologikal yaitu pengajaran tentang gereja yang benar menurut ajaran Kitab Suci. Isu ini sangat krusial karena dengan memahami doktrin gereja yang benar akan mengarahkan para pemimpin gereja dan jemaat kepada praktek yang benar pula, dengan demikian setidaknya sebagian permasalahan yang ada di sekitar gereja dapat dicegah dan disikapi dengan lebih bijak.

Akhirnya, penting diingat bahwa gereja adalah kumpulan orang-orang yang tidak sempurna, yaitu orang-orang yang mengakui bahwa mereka adalah orang-orang berdosa yang telah diperbaharui (ditebus), ingin bertumbuh dan butuh kasih karunia Tuhan. Memahami arti dan karakteristik dari gereja yang sejati justru membawa setiap jemaat bisa hidup damai meski masing-masing memiliki perbedaan dan keragaman dalam berbagai denominasi saat ini.

* Penulis berpendirian Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT lainnya. Mendapatkan gelar S.E dari UNPAR; S.Th Christian Education, M.Th Christian Leadership (2007) dan M.Th Theology Systematic (2009) dari STT-ITC Trinity.

Bagaimana Memulai Sebuah Kelompok Sel?

Sistem kelompok sel yang pertama ditemukan dalam Perjanjian Baru dan hal itu dimulai, diinspirasi dan dipimpin oleh Roh Kudus. Tuhan Yesus Kristus sebagai kepalanya. Efesus 1:20-23, "Yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kananNya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu."

  • Kelompok Sel merupakan sistem informal yang secara keseluruhan dipimpin oleh Roh Kudus.

  • Sistem ini bukan merupakan sebuah metode, tehnik atau taktik tetapi lebih merupakan sebuah sistem yang terbuka di mana Tuhan Yesus Kristus dapat berkarya secara bebas dengan kekuatan Roh Kudus untuk membangun karyaNya yang hebat, dalam segala hal terhadap umatNya.

    Roma 8:14, "Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah."

    Kelompok Sel yang pertama memiliki 5 struktur jabatan, seperti yang tertulis dalam Efesus 4:11. Kelima unsur ini dibutuhkan di dalam gereja. Efesus 4:11-12, "Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus."

    Para pelayan ini dipakai oleh Tuhan untuk menyempurnakan orang-orang kudus sehingga mereka dapat bekerja dalam pelayanan. Para pelayan ini melatih orang-orang kudus tersebut untuk lebih mengenal Yesus Kristus sehubungan dengan melakukan pekerjaanNya dalam gereja.

    Mereka diberi kekuatan oleh Roh Kudus dan Roh Kudus memberikan anugerah ini kepada orang-orang kudus. Seluruh anugerah ini diberikan secara bertahap seperti yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus Kristus.

  • Orang-orang kudus ini berada dalam komuni dengan Tuhan kemudian mereka baru berada satu komuni dengan orang lain setiap hari.
  • Kis. Rasul 2:41-47, "Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan seaga kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya,

  • Rasul Paulus mengajar orang-orang yang diselamatkan di muka umum dan dari rumah ke rumah.
  • Kis. Rasul 20:20-21, "Sungguhpun demikian, aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus."

    RINGKASAN:

    Sebuah Kelompok Sel pertama kali harus diawali dengan melayani Tuhan, berdoa dan berada dalam sebuah kesatuan. Tuhan akan memimpin seperti yang kita minta padaNya.

    Tujuh orang yang berada dalam sebuah kesatuan dapat menghalau beribu-ribu kekuatan jahat. Jika mungkin dan lebih baik, ketujuh orang ini dapat dipilih dari jemaat (yang hidup sesuai dengan firman Allah).

    Tuhan membangun umatNya sebagai Rumah Doa bagi segala bangsa. Dia tidak menginginkan rumahNya (kita, umat Kristen adalah umatnya) menjadi sarang pencuri dan sebuah rumah bagi barang dagangan.

    Matius 6:33, "Tetapi carilah dulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

    Pendeta akan melatih tujuh orang pelayan ini dengan menempatkan mereka dalam kelompok sel tersendiri. Ketujuh orang ini akan dilatih dalam berdoa, pertobatan, bahasa Roh dan penginjilan sehingga mereka dapat belajar bagaimana memimpin Kelompok Sel mereka sendiri.

    Mereka akan mempelajari bagaimana patuh terhadap pemimpin. Taat pada Tuhan dan yang lain merupakan prasyarat bagi kepemimpinan dalam tubuh Kristus.

    Pemimpin akan mempertahankan hati pengikutnya pada ketujuh orang tersebut, dan tujuh anggota akan dibimbing secara tersendiri selama beberapa waktu sehingga mampu mengawali Kelompok Sel mereka sendiri. Seluruh keputusan akan diawali dengan doa permohonan.

    Ketika tujuh anggota Kelompok Sel awal ini dilengkapi untuk memimpin Kelompok Sel mereka sendiri, kemudian peta wilayah mereka dapat dibagi dalam tujuh wilayah berdasarkan tempat di mana Kelompok Sel akan dilaksanakan dalam tiap-tiap minggu.

    Setelah tujuh anggota Kelompok Sel menjadi tujuh pemimpin Kelompok Sel mereka harus bertemu secara bersama-sam sedikitnya sekali seminggu untuk doa intensif, sharing dan konseling.

    Pendeta senior dalam jemaat akan berlaku sebagai seorang guru, pengawas dan penasehat bagi tujuh orang pemimpin Kelompok Sel. Pendeta akan hadir dalam sesi doa tiap-tiap minggu. Ketujuh pemimpin Kelompok Sel tersebut memberi dukungan, membesarkan hati dan sebagai sumber bagi ketujuh pimpinan Kelompok Sel dalam jalur yang tepat.
    Ketika sebuah Kelompok Sel menjadi lebih besar dalam sebuah lokasi dan seorang pemimpin Kelompok Sel yang baru muncul dari dalam nya, pemimpin tersebut dapat memulai Kelompok Sel yang baru dari rumah nya sendiri.

    Berdasarkan proses ini, sistem Kelompok Sel dapat tumbuh di RT/RW, Desa, Kelurahan,Kabupaten, Kota bahkan sampai luar pulau … dst.
    Proses ini menciptakan sebuah tipe ‘fishing net’ (Kita diajarkan Tuhan Yesus untuk menjadi penjala manusia).
    Matius 4:18-19, "Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: "Mari, ikutlah aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia."

    Sebagai contoh, apabila sebuah Kelompok Sel mencapai anggota 20-30 orang, pemimpin yang baru dapat mengambil setengahnya dan membentuk Kelompok Sel yang baru.
    Bagaimanapun juga setiap pemimpin Kelompok Sel harus meminta petunjuk Tuhan berkenaan dengan orang untuk memimpin dan pembagian waktu bagi proses pembagian sel.
    Kelompok Sel akan ditempatkan di mana jemaat baru dan orang-orang kudus akan diajar dan dilengkapi pekerjaan pelayanan.

    Amanat Agung Tuhan Yesus:

    Matius 28:16-20, "Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. Ketika melihat Dia mereka menyembahNya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Yesus mendekati mereka dan berkata: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergila, jadikanlah semua bangsa muridKu dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman."

    Setiap hal harus dikerjakan dengan baik, dan doa harus merupakan hal terpenting.
    1 Korintus 3:6-7, "Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan.
    Sistem Kelompok Sel dalam Perjanjian Baru harus dibangun di atas dasar yang kokoh, seperti Dia menyediakan pertumbahan di dalam gereja. Dia adalah kepala dan fungsi gerejaNya berada di bawah pimpinanNya.

    Kelompok Sel adalah gerejaNya, yang mana sudah dibayar dengan darah Nya, kita telah diangkat untuk menjadi murid Tuhan Yesus, bukan murid atau pengikut gereja-gereja, doktrin-doktrin, golongan atau pribadi-pribadi. Kita harus menyangkal diri kita sendiri dan rutinitas kita dan menerima salib dan pengikut Tuhan Yesus dan sebaliknya kita harus mengajar, dan menguatkan yang lain.

    Sistem Kelompok Sel adalah metode yang sangat bagus untuk mencapai tujuan yang maksimal dari penyempurnaan orang-orang kudus dalam pekerjaan pelayanan.

    Efesus 4:13, "Sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus.Efesus 1:20-23, "Yang dikerjakanNya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia dari antara 518ng mati dan mendudukkan Dia di sebelah kananNya di sorga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang. Dan segala sesuatu telah diletakkanNya di bawah kaki Kristus dan Dia telah diberikanNya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada. Jemaat yang adalah tubuhNya, yaitu kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan segala sesuatu."

    Sumber: Full Gospel Indonesia

    Benarkan Saudara Murid Yesus?

    Oleh: Yon Maryono

    Bagi orang Kristen mendengar kisah Metafora penjala ikan menjadi penjala manusia bukan asing lagi. Kisah ini dapat dibaca dalam keempat Injil dalam Alkitab bahkan sering didengarkan dalam khotbah di gereja. Dikisahkan, ketika Yesus mengundang “Ikutlah aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” Simon dan Andreas mengikuti-Nya. Tetapi, Simon Petrus dan Andreas menyatakan ikut Yesus tidak serta merta. Ini adalah sebagai tindakan iman atas yang mereka dengarkan, lihat, saksikan dan mereka mengalami mujizat didalam kehidupan mereka atas karya Yesus di dalam kemuliaan-Nya. Yesus adalah Terang, seorang Mesias yang ditunggunya sebagaimana nubuat Nabi Yesaya. Yesus memanggil mereka untuk dijadikan sesuatu dan melakukan sesuatu.

    Kita sebagai orang percaya saat ini, juga mengaku percaya Yesus sebagai Juru Selamat. Dan kita juga percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan sebagai tuntunan hidup. Bahkan sebagaimana Simon kita juga mengalamai berkat dan mujizat dalam kehidupan kita. Bila ditanya, benarkah saudara memenuhi criteria sebagai murid Yesus sebagaimana Simon dan Andreas ? jawabannya mungkin belum atau sudah dengan ragu-ragu, sehingga diantara itu bermakna kita kurang yakin pada diri sendiri apakah benar kita sebagai murid Yesus? Apalah artinya mengaku dipanggil menjadi murid bila ternyata tidak melakukan sesuatu sesuai tugas penggilannya.

    Bila demikian keadaannya, kisah metafora penjala manusia itu ternyata hanya sebuah cerita bukan firman Tuhan yang merupakan pernyataan diri dan maksud Allah bagi manusia (Yoh. 1:1-18). Umat yang mengaku percaya Alkitab tidak menemukan makna Firman Allah didalamnya. Dengan demikian, apalah artinya Firman itu kita dengar melalui khotbah maupun kita baca setiap hari ternyata tidak mengubah sikap kita untuk merespons dengan tindakan iman untuk mengikut Yesus sebagai Penjala manusia. Mengapa demikian, karena kita belum menyadari bahwa masing-masing kita punya nilai dan kehadiran kita dibutuhkan bagi sesama. Ibarat lukisan yang indah ditempat ruang kosong yang tidak disaksikan dan memancarkan keindahan untuk sekitarnya.

    Mungkin kita bukan pendeta, pastor, penginjil, gembala, misionaris atau pewarta firman Tuhan yang bertalenta. Mereka menggunakan jala untuk menyiarkan pewartaan melalui khotbah, dialog, ceramah dan sebagainya. Tetapi Metoda pewartaan sesungguhnya tidak hanya mengajarkan kebenaran firman Tuhan tetapi juga bagaimana melakukannya dalam perilaku kehidupan keseharian didalam dunia dengan segala masalahnya. Jala yang tepat untuk pengajaran perilaku adalah menjadi saksi melalui teladan atau gaya hidup sebagaimana Tuhan Yesus ajarkan. Mewujudkan nilai-nilai Kerajaan Surga dalam hidup sehari-hari akan menjadikan kita saksi-saksi Kristus. Orang-orang di sekitar kita akan menyaksikan betapa kita hidup dalam kasih setia dan mewujudkan sepenuhnya nilai-nilai Injili.

    Memang tidak mudah menjadi penjala manusia, tetapi bukan berarti tidak bisa, karena terang kepada murid-murid juga diberikan kepada setiap orang yang datang ke pada-Nya. Ketika Tuhan berkata, “Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum?” Mereka langsung menjawab, “Kami dapat.” (Mat. 20:22). Dengan usaha yang terus menerus dan berkat Tuhan, kita bisa mengikuti Yesus, menjadi penjala manusia dalam hidup dan karya kita setiap hari.
    Tuhan memberkati kita.

    Berjalan Bersama Tuhan

    Oleh: Sunanto

    Kel 33:15-16 Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?"

    Dalam perjalanan menuju Kanaan, bangsa Israel dipimpin oleh Tuhan dengan menggunakan tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Namun karena bangsa ini sering memberontak maka akhirnya Tuhan menjadi murka dan menyuruh mereka pergi tanpa penyertaanNya. Musa menolak untuk pergi tanpa pimpinan Tuhan walaupun Tuhan menjanjikan akan mengutus seorang malaikat untuk mengalahkan musuh-musuh mereka. Musa mengetahui bilamana Tuhan tidak menyertai mereka maka mereka tidak akan memiliki kebahagiaan meskipun berhasil masuk ke tanah perjanjian.

    Bagi Musa, tanpa adanya hadirat Tuhan percuma saja memiliki tanah Kanaan yang berlimpah susu dan madunya itu. banyak gereja yang ia rintis atau berapa banyak negara yang ia sudah layani. Kesuksesan sejati diukur dari seberapa dalam kita mengenal Allah dan taat melakukan kehendakNya. Sekalipun tidak ada seorangpun yang mengenal kita tetapi bila kita mengenal Allah dengan intim dan taat kepadaNya maka di mata Tuhan kita merupakan orang yang sukses. Saya percaya sesampainya di surga nanti akan banyak orang yang terkejut sebab banyak orang yang tidak dikenal di dunia ini justru menempati posisi yang tinggi di surga. Selama hidupNya di dunia ini Yesus tidak pernah berusaha mencari reputasi atau popularitas sebab ukuran kesuksesan bagiNya bukanlah berapa banyak orang yang mengikuti dan mengagumi Dia melainkan diukur dari keberhasilanNya untuk mentaati kehendak Bapa.

    Pemimpin-pemimpin dunia lainnya berusaha mencari reputasi dan mengumpulkan sebanyak mungkin pengikut akan tetapi Yesus malah berusaha agar diriNya tidak dikenal (tidak bereputasi) sebab Ia ingin memberikan semua kemuliaan bagi Bapa. Harta terbesar yang Tuhan ingin berikan kepada kita bukanlah kekayaan dunia ini melainkan hadiratNya. Bukannya salah memiliki harta dan popularitas sebab itu juga bisa merupakan salah satu bentuk berkat dari Allah tetapi berkat utama yang Ia ingin berikan kepada kita adalah hadiratNya. Saya tidak ingin hidup satu hari di dunia ini tanpa mengalami indahnya hadirat Tuhan. Saya tidak menolak bila Tuhan memberkati hidup saya dengan kekayaan dunia ini tetapi bagi saya yang utama itu adalah memiliki hadiratNya sebab tanpa hadiratNya semua harta yang dimiliki itu percuma saja ( tidak dapat dinikmati ).

    Akan tetapi saya lebih memilih untuk hidup sederhana namun disertai hadiratNya daripada hidup kaya tanpa disertai hadiratNya. Saya bertemu dengan banyak orang kristen yang tidak bahagia meskipun mereka memiliki kekayaan dunia ini sebab mereka tidak memiliki hadirat Allah dalam hidup mereka.

    Banyak pelayan Tuhan yang mengira jika pelayanan mereka maju maka mereka akan bahagia sehingga mereka bekerja keras supaya pelayanan mereka berkembang namun tanpa penyertaan hadirat Tuhan justru kemajuan itu akan menjadi beban bagi mereka sehingga tidak sedikit yang kerohaniannya malah menjadi kering.

    Doa saya setiap hari, “Oh Tuhan kiranya hadiratMu senantiasa memimpin dan menyertai hidupKu. Aku tidak ingin hidup seharipun tanpa mengalami hadiratMu “. Kerinduan saya agar anda semua juga bisa memiliki hidup yang disertai oleh hadiratNya sebab tidak ada yang lebih indah dalam hidup ini selain menikmati hidup dalam hadirat Tuhan. Bill Bright berkata tidak ada orang kristen yang taat tetapi tidak bahagia dan tidak ada orang kristen yang tidak taat tetapi bahagia.Hiduplah dalam ketaatan dan ijinkan Dia memimpin seluruh aspek hidup anda maka anda akan menikmati kebahagiaan hidup dalam hadiratNya!

    Cikal Bakal Lahirnya Gereja Barat dan Gereja Timur

    Oleh: Phasa Joshua

    Istilah Timur dan Barat dalam hal ini berdasarkan pengertian Ilmu Bumi. Tetapi istilah “Timur-Barat” itu dapat juga dipakai dengan cara lain. Dalam hal ini berbicara mengenai Gereja Timur dan Gereja Barat. “Barat” berarti: yang suasananya dipengaruhi oleh pendapat-pendapat seperti yang timbul di kekaiseran Romawi bagian Timur. Gereja-gereja bercorak “Timur” gereja Orthodoks Timur (a.l. Rusia). Gereja-gereja bercorak “Barat” ialah Gereja Roma-Katolik dan gereja-gereja Protestan.

    Gereja timur dengan Gereja Barat berpisah satu dengan yang lainnya mulai abad ke-3, karena Gereja Barat mulai mempergunakan bahasa Latin. Pada abad ke-4 terjadi perpecahan serius karena pertikaian mengenai doktrin ketritunggalan. Tetapi kedua pihak kemudian rujuk kembali setelah penyelesaian oleh Gereja Timur setelah konsili Konstantinopel tahun 381. Namun pada abad ke-5 dengan runtuhnya kekaiseraan Barat, kesatuan politik kedua wilaya buyar sama sekali dan hubungan kedua gereja makin renggang disebabkan oleh perkembangan yang semakin menjauhi satu dengan yang lainnya. Perubahan ini terjadi karena kaisar-kaisar Timur tetap menaruh perhatian terhadap Roma dan dan para Paus masi ingin membangun hubungan perastuan dengan Gereja Timur, yaitu dengan dunia beradab.

    Tetapi pada abad ke-2 terjadi perubahan di Roma. Timbullah “kepausan yang hendak mereformasikan,” yang perhatiannya lebih tertuju pada Eropa utara dan Barat daripada Gereja Timur. Pendekatan baru ini membawa serta sikap yang lebih tegas terhadap Gereja Timur, antara lain dengan menmbahkan kata filique (dan anak) pada pengakuan Iman Nicea – Konstantinopel. Akibatnya pada tahun 1054, kedua gereja saling mengekskomunikasi. Namun ceritanya belum selesai di sini, karena masih ada usaha-usaha untuk rukun kembali pada abad keempatbelas dan kelimabelas, ketika Konstantinopel menghadapi kapitulasi seluruh wilaya kaum muslim. Akan tetapi kerukunan ini tidak mungkin bertahan karena sikap Roma yang mengotot mempertahan kekuasaan paus, hal mana tidak mungkin diterima oleh Gereja Timur.

    Gereja Timur menyebut dirinya Gereja Orthodoks atau Gereja Gerika Katolik yang mempertahan gereja lama, yaitu semua uskup sama derajatnya. Kaidah untuk kebenaran Gereja Timur adalah Alkitab dan tradisi, teristimewa keputusan dari ketujuh konsili besar (oikumenis) yang penghabisannya di Necea tahun 787. Kini Gereja Orthodoks terdapat di Rusia dan Balkan. Sungguhhpun mereka dianiaya pada abad ke-20 oleh kaum komunis, teristimewa di Rusia, namun jumlah anggotanya masih banyak sekali, kira-kira 200 juta jiwa.

    Perbedaan yang terlihat dengan jelas adalah, Gereja Barat lebih aktif tabiatnya mementingkan perbuatan, oleh sebab itu yang diutamakan adalah ajaran tentang amal dan jasa praktek penitensia (penebusan dosa atau penyesalan) dan organisasi gereja. Keselamatan itu adalah perbuatan Allah. Kematian Kristus di kayu salib tidak lain daripada perbuatan kasih Juruselamat itu.

    Tetapi di bagian Timur, perenunganlah yang dipentingkan; merenungkan Allah (mistik) dan merenugkan kebenaran (daging). Dalam suasan itu filsafat Kristen, dan mistik, askese dan kerahiban berkembang . keselamatan dianggap sebagai suatu keadaan baru yang dikaruniakan Tuhan kepada manusia. Teologia Timur menekankan masuknya Tuhan ke dalam daging manusia (inkarnasi) dan kebangkitan Kristus, yang karena-Nya manusia memperoleh hidup kekal.

    PERKEMBANGAN GEREJA BARAT

    Sebelum membahas perkembangan Gereja Barat, penulis ingin memberikan gambaran pergerakan teologia yang terajadi di Timur. Di Timur masih memegang gagasan kuno bahwa gereja adalah ciptaan Roh Kudus, tempat dimana manusia dipersatuakan dengan Kristus, melalui perayaan Perjamuan Kudus. Berbicara mengenai gereja-gereja di Timur berarti tentang Allah dan Surga. Bentuk gedung-gedung gereja khususnya di Rusia, dengan atap yang berbentuk kubah, mencerminkan pemahaman itu, yaitu bahwa orang masuk gereja seakan-akan masuk Surga.

    Sedangkan di Barat ada banyak perkembanagan setelah perpisahan dengan Gereja Timur. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat dilihat dari berbagai segi seperti hal-hal berikut ini.

    1. Perkembangan Organisasi

    Gereja mula-mula tidak luput dengan ancaman-ancaman kehilangan kesegaran kerohanian. Namun dengan adanya penghambatan-penghambatan, Tuhan kembali mengijinkan semuanya itu untuk memelihara kekencangan kerohanian umat-Nya. Tuhan juga memperhatikan kuantitatif umat-Nya di gereja-Nya, yaitu melalui kediktatoran para pemerintah saat itu. Bukan hanya itu, tantanagan dari bidat-bidat pun turut menyerang gereja Tuhan. Tetapi dengan semuanya itu, gereja memperhatiakn kedisiplinannya dalam pengajaran, administrasi dan struktur organisasi. Khususnya dalam abad ini, perkembanagan beberapa aspek semakin mempengaruhi pertumbuhan gereja.

    - Spontanitas dalam kebaktian diganti dengan tata ibadah yang tertib.
    - Munculnya monopoli kepemimpinan dalam kebaktian oleh para “episkopoi” (uskup, penilik, pendeta)
    - Munculnya perbedaan antara kaum awam dengan golongan Imam.
    - Melalui sistem pewarisan jabatan rasuli; imamat am, orang-orang percaya beralih kepada kepemimpinan para Imam yang semakin dikhsuskan.
    - Anggota-anggota gereja kehilangan kesempatan untuk mempraktekan karunia-karunia iman yang diberikan oleh Tuhan.
    - Hierarki gereja berkembang; penilik-penilik di kota besar dianggap lebih penting dan lebih tinggi kedudukan mereka, sehingga ditempatkan di daerah-daerah sekitar mereka.

    2. Perkembangan Kepausan

    Sudah sejak abad ke-2 uskup-uskup di Roma menuntut kepemimpinan dalam gereja dan suatu kedudukan yang lebih tinggi daripada semua uskup dan patriakh yang lain. Pada akhir abad ke-2, uskup Viktor dari Roma mengancam gereja-gereja di Asia kecil dengan pengucilan. Jika gereja-gereja itu terus-menerus tidak mengikuti cara gereja di Roma dalam hal merayakan Paskah. Pada tahun 343, Sinode di Sardika menuntut supremasi (kepemimpinan yang lebih tinggi). Pada permulaan abad ke-5, bapak-bapak gereja, seperti Agustinus (354-430) merumuskan pengertian ini dengan satu kalimat bahasa Latin “Roma Lucuta Finita” artinya, “Bila Roma telah berbicara dan mengemukakan pendapatnya , maka tidak usah lagi berbicara, keputusan terakhir sudah diambil dan perkaranya sudah selesai”.

    Biasanya Leo I Agung (440-460) dianggap paus yang pertama. Ia menganggap dirinya sebagai wali dan wakil Kristus di bumi. Tetapi pada abad ketujuh, Yerusalem, Antiokhia, Alexandria dan Karthago jatuh ke tangan bangsa Arab, sehingga pengaruhnya berkurang, dan kehilangan peluang dalam persaingan di dalam Gereja untuk dapat mencapai supremasi itu. Persaingan dan kompetisis ini merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya perpecahan antara Gereja Barat dengan Gereja Timur pada tahun 1054.

    3. Perjamuan Kudus Menjadi Misa

    Pada permualaan sejarah Gereja, gereja rasuli berkumpul dan memecahkan roti di rumah mereka masing-masing secara bergilir (Kis. 2:46). Jemaat membawa hidanagan masing-masing, dan hidangan tersebut dianggap sebagai lanjutan Perjamuan Kudus Tuhan Yesus. Kemudian perjamuan ini dipandang selaku kelanjuatan dari persembahan syukur (korban), seprti di dalam PL. Dari padangan ini kemudian berkembang menjadi suatu ritual keagamaan, dimana dalam acara tersebut setiap roti dan anggur didoakan dan dipercaya pada saat itu zat roti dan zat air anggur itu berubah menjadi tubuh dan darah Kritus. Pandangan ini disebut transubstansi. Perjamuan Kudus (misa) ini sangat erat kaitannya dengan fungsi dan keistimewaan Klerus (imam) di dalam Gereja Katolik-Roma. Istilah misa sendiri berasal dari ucapan imam ‘ite missa est concio!’ yang melepaskan mereka dari anatara para hadirin kebaktian yang tidak berhak mengikuti “misa” (mittere, mitti, missum, artinya mengutus).

    4. Perkembangan Pengertian Tentang Baptisan

    Baptisan adalah pemberian penghapusan dosa secara kelihatan, pemberitaan rahmat dan kasih Allah dan sekaligus juga suatu meterai anugerah Allah. Jadi penekanannya ada pada perbuatan dan inisiatif Allah, yakni kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus yang mewakili kita di kayu salib. Namun lama-kelamaan unsur magis masuk ke dalam pengertian baptisan itu. Jemaat mulai percaya bahwa air baptisan itu mengandung suatu khasiat istimewah, sehingga air dapat menyucikan secara magis dan realistis. Oleh kuasa-kuasa Ilahi di dalam air batisan itu, sehingga Iblis dan pengaruhnya didalam kehidupan dia yang dibaptis diusir (sejak abad ke-20 upacara baptisan mengandung pengusiran Setan/ exorcisme).

    5. Masalah Moral

    Khotbah dan uraian-uraina teologis tentang Yesus sebagai Juruselamat mulai beralih penekanannya. Penekanan yang dipakai adalah bahwa Yesus Kristus hanya sebagai teladan dan guru. Banyak orang yang belum bertobat masuk ke dalam gereja, maka tuntutan etika, disiplin pribadi, dan disiplin gereja mulai ditekankan, sehingga kesegaran kerohanian mulai hilang. Hari jumat menjadi hari puasa sehubungan dengan hari Jumat Agung dan kematian Tuhan Yesus; mengucapkan banyak doa tertentu dianggap perbuatan baik; bertarak terhadap nafsu seksual; membujang dianggap lebih suci daripada hidup menikah. Kemurnian Injil ditinggalkan pemberitaan dan penekanan dalam penggembalaan beralih kepada moralisme dan legalisme.

    6. Teologia Gereja Barat

    Gereja Barat mengikuti jejak Tertullianus dan Agustinus, yang menjadi pokok teologi ialah “Bagaimana manusia bisa menjadi benar di hadapan Allah “. Teologi Barat berkisar soal-soal dosa dan rahmat. Tentu saja Gereja Barat dan Gereja Timur mempunyai banyak perbedaan dalam hal teologi, namun yang penulis ambil hanyalah perkembanagan teologi di Gereja Barat. Contoh perbedaan yang ada adalah masalah hubungan seorang Kristen terhadap hidup bermasyarakat. Menurut Gereja Timur, sikap yang patut bagi seorang Kristen ialah sikap kasih dan kerendahan hati. Dengan sikap demikian mereka sudah merenungkan sikap ketidakfanaan kelak. Menurut Gereja Barat, hal itu sudah patut dilakukan oleh orang Kristen, tetapi tidak ada pengaruhnya dengan keselamatan. Beberapa teolog Gereja Barat.

    1. Ambrosius. Ambrosias adalah orang yang mewakili pemikiran Gereja Barat tentang hubungan Gereja-Negara. Beberapa kali ia bentrok dengan Kaisar-kaisar pada zamannya, karena ia menganggap tindakan mereka berlawanan dengan kehendak Allah.

    2. Agustinus. Agustinus adalah bapak Gereja Barat yang paling masyur. Kepribadianyalah dan jalan hidupnyalah juga yang paling dikenal,oleh kitabnya yang berjudul “Confession” (pengakuan) Agustinus dipersiapkan Tuhan dengan latar belakang yang berlawanan dengan nilai-nilai kekristenan. Agustinus pernah menuntut ilmu di Karthago belajar ilmu retorika, belajar filsafat, mempelajari salah satu aliran Gnostik, yaitu manikheime. Pada awalnya ia sangat anti dengan Alkitab, hematnya PL tidak layak jadi Firman Allah. Tetapi melalui khotbah Ambrosius, Agustinus menjadi tertarik untuk mempelajari Alkitab. Namun sebelum itu ia terlebih dahulu mempelajari Neo-Platonisme. Dengan demikian ia pun menjadi lebih dekat lagi dengan kekristenan sehingga ia juga suka menyelidiki surat-surat Paulus . akhirnya pada hari raya Paskah tahun 387, dalam usia 32 tahun, ia dibaptis oleh Ambrosius. Karier terakhirnya adalah menjadi uskup di Hippo (sekarang Bone/Annaba di Aljazair Timur).

    Gereja di bagian Barat pada abad ke-4 dan ke-5 sangat ditentukan oleh krisis yang disebabkan oleh Donatisme. Akar krisis ini, yang memecahkan gereja di afrika Utara sejak awal abad ke-4, terletak dalam penghambatan yang dialami gereja sebelumnya. Penghambatan-penghambatan yang dialami mendorong gereja untuk memikirkan kembali sikap keras terhadap metreka yang kurang mentakan sikap bertekun dalam mengakui Kristus di depan pemerintah. Dapat dikatakan bahwa kaum Donatus mengecam gereja karena kesungguhan iman dan kesucian hidup, menurut mereka di sana kurang diperhatikan. Menurut mereka pula, kesucian para pejabat dan anggota gereja menjamin kebenarannya. Hanya iman yang suci dan tidak pernah goyah sedikitpun pada masa penghambatan dan melayani sakramen-sakramen yang sah. Secara singkat dapat dikatakan kaum Donatus berpendapat bahwa gereja hanya dapat disebut suci kalau kesucian itu nyata dalam kehidupan semua pejabat dan anggotanya hanya gereja tanpa cacat atau kerut (Efesus 5:27, suatu nats yang sering dipakai oleh kelompok-kelompok ketat) dapat menjadi tempat dimana manusia dapat memperoleh keselamatan.

    Kaum Donatus mengatakan bahwa hanya iman dan hidup yang suci serta tidak pernah goyah sedikitpun pada masa penghambatan yang dapat melayani sakramen-sakramen yang sah. Hal ini tentu saja tidak ada yang mampuh. Oleh sebab itu seorang teolog yang bernama Optatus, uskup Mileve, pada tahun 365 menolak harapan Donatus, dengan alasan – keabsahan sakramen-sakramen tidak tergantun dari imam-imam yang melayani, melainkan dari Allah Tritunggal, yang melayani melalui tangan para pejabat gereja. Lebih jauh kesucian gereja tidak tergantung dari kelakuan manusia melainkan dari Allah saja yang mengaruniakan karunia-karunia kudus kepada gereja.

    Demikian juga Agustinus, meneruskan pandangan Optanus, dengan mengatakan bahwa kekudusan gereja bukan karena tokoh-tokoh pemimpin di dalamnya kudus, melainkan kerena persekutuan gereja berporos pada pemberian Allah yang kudus, yakni pada firman dan sakramen.

    KESIMPULAN

    Ada beberapa hal pokok yang menjadi bahan perdebatan antara Gereja Barat dengan Gereja Timur, yaitu diantaranya adalah masalah doktrinal, masalah status sosial, dan tatangan konteks zaman yang turut mempengaruhi perkembangan sejarah kedua gereja. Perpisahan sebagai jalan tengah yang diambil oleh kedua gereja menjadi keputusan yang tidak bisa terelakkan lagi, mengingat adanya banyak perbedaan dalam pandangan mengenai Kristologi, eklesiologi, dan hubungan gereja dengan Negara.

    Rupanya dari semua peristiwa yang terjadi, Allah mempunyai rencana yang indah. Ketika gereja Barat menempuh jalan baru bukan berarti Gereja Barat menuju pada kehancuran tetapi menujuh pada pemulihan dari cara-cara hidup atau praktik hidup yang mulai mengadopsi adat istiadat dan kebudayaan hasil pemikiran manusia yang tidak memuliakan Tuhan. Mula-mula bagian Gereja di Timur itulah yang terpenting, namun setelah itu hilang sama sekali baik kuasanya maupun pengaruhnya. Ditambah pula ketika agama Islam membanjiri segalah negeri di sebelah timur dan selatan Laut Tengah pada abad ke-vii, maka Gereja Timur lekas runtuh, karena kehidupan kerohaniaannya mulai mundur. Hal ini disebabkan oleh karena Gereja itu kurang sadar akan tanggung jawabnya yerhadap dunia.

    Gereja di Barat meskipun sesat, dan beraib, namun masih terus bersemangat dalam mengemban tugasnya, yaitu menyiarkan Injil di antara segala bangsa. Setiap gereja yang hanya mengingat diri sendiri dan melupakan panggilannya hampir sama dengan prisip hidup gereja Timur pada saat itu. Akan tetapi harus berhati-hati, jangan sampai kelangsungan gereja-gereja tersebut cepat berakhir pula kehadirannya dalam kanca pertumbuhan Injil zaman sekarang.

    Perpisahan Gereja Timur dan Gereja Barat adalah rencana Tuhan untuk menghindarkan gerja-Nya dari campuran-campuran ajaran mistik yang sangat kuat pada zaman itu. Sejak saat itu Gereja Barat juga lebih mengutamakan ajaran tentang kasih yang diwujudkan lewat amal dan jasa, serta perkembangan organisasi gereja dan penghayatan karya keselamatan yang dilakukan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Walaupun ada kekeliruan dalam pelaksanaan tatanan gerejawi, namun itu semua merupakan cara Allah untuk memurnikan gereja-Nya, yakni dengan munculnya ajaran-jaran sesat. Ajaran-ajaran sesat yang muncul mendorong gereja untuk tidak terlena dalam buain zaman yang terus mengalir, gereja mulai mempertahankan pemahaman-pemahaman iman Kristen. Tatah ibadah yang duluhnya bersifat buru-buru, kini mulai disusun dengan rapih dan teratur, sehingga menimbulkan kekhusukkan dalam beribadah.

    Satu hal yang menarik adalah perkembangan kekristenan yang mmenjurus ke arah barat khususnya bagian Eropah. Hal ini menjadi pertanyaan. Tidak bisa diambil alasan-alasan tertentu untuk mendukung mengapa perkembanagan ini hanya terjadi di bagian barat. Selain alasan-alasan perbedaan pendapat dan sistem kerja antara kedua gereja tersebut, ternyata masih ada alasan lain yang lebih tepat untuk hal ini.

    Menurut penulis perpisahan Gereja Timur dan Gereja Barat ini terjadi karena beberapa alasan penting, yaitu antara lain masalah penggenapan janji Allah dan eksistensi gereja. Pertama, penggenapan janji Allah, hal ini sesuai dengan amanat Agung dari Tuhan Yesus ketika Ia memerintahkan murid-muridnya untuk pergi beritakan Injil ke seluruh bangsa, tanpa memandang bangsa manapun. Tetapi pertanyaan mengapa hanya di bagian barat terjadi perkembanagan jemaat yang begitu pesat dan mengapa bukan di bagian timur saja. Ternyata hal ini bisa dijawab. Bagi penulis perkembangan Injil di bagian Timur kurang berkembang dan bahkan berhenti di tengah jalan karena-selain ketetapan Allah- masalah ketaatan pada ajaran-ajaran dasar keristenan. Pengajaran selalu dicampuradukkan dengan tatacara penyembahan berhala, yang diadopsi dari kepercayaan-kepercayaan kuno.

    Kedua, eksistensi gereja Tuhan. Kini tetap terlihat bahwa gereja tuhan tetap ada yang walaupun terdiri dari banyak golongan. Keberadaan gereja tidak tergoyahkan perubahan zaman. Bahkan gereja turut memberikan andil bagi perkembangan beberapa bangsa khususnay di Eropah. Melalui Gerakan Reformasi mulai terlihat pertumbuhan gereja yang sesunggunya. Maksud penulis adalah gereja bebas berdiri sendiri dan lepas dari wewenang paus mulai bertumbuh oleh jasa Martin Luther dan para pendukungnya. Inilah puncak perkembangan gereja Barat. Di mana gereja Barat mendapat tempat yang layak bagi perkembangan gereja-gereja yang bertumbuh kemudiannya. Perkembanagan gereja Barat terjadi secara progresif seturut dengan perkembangan zaman. Kadangkala gereja pun masih dipengaruhi oleh zaman, namun ini dapat dimaklumi karena gereja pun adalah bagian dari zaman di mana gereja dapat berorientasi bersama-sama dalam waktu yang ada.

    Sekarang menjadi perhatian umat manusia bukan lagi Sejarah Gereja Timur dan Barat, tetapi yang menjadi perhatian utama adalah Sejarah Gereja Kristus di bumi ini. Namun tidak bisa dikatakan bahwa ini adalah akhir dari perkembanagan sejarah gereja karena perkembanagan Injil secara seDunia sebenarnay baru dimulai. Gereja muda pada umumnya hanya merupakan golongan kecil di antara bangsa kafir dan Islam. Masih ada daerah-daerah yang tidak terkatakan luasnya masi belum mengenal Injil karena memang belum diperdenganrkan, seperti halnya di bagian Afrika serta di antara dan di pertengahan Asia.

    Persoalan lain yang mau tidak mau harus dihadapi adalah penolakan dari dunia yang kini hanya memperhatikan semangat kebangsaannya, dan semangat ini jarang menyukai agama Kristen, karena Injil menjadi kebodohan bagi manusia kodrati. Nasionalisme itu juga menjadi seruan bagi gereja muda masa kini supaya tidak terulang kesalahan yang sama, di mana negara mengatur gereja serta negara berotoritas atas gereja.

    Akhir kata adalah gereja harus terus menyeruhkan Injil kebenaran kepada seluruh umat di muka bumi, yang walaupun banyak tantangan, namun itu semua harus dimengerti sebagai wujud kasih Allah untuk menuntun umat-Nya supaya terus memperhatikan setiap pengajaran sehingga tidak penyelewengan ajaran yang menyesatkan banyak orang. Melalui tantangan zaman gereja dapat menunjukkan kemurniannya dalam perkembangan-perkembangan filsafat-filsafat zaman yang penuh dengan kepalsuan.

    DAFTAR PUSTAKA
    Berkhof, H. dan Enklaar., Sejarah Gereja (Jakarta:BPK Gunung Mulia,2001)
    End, Thomas Van den., Harta Dalam Bejana (Jakarta: BPK Gunung Mulia,2004)
    Jonge, Christian de., Gereja Mencari Jawab (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003)
    Jonge, Christian de., Apa dan Bagaimana Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia,1995)
    Khul, Dietrich., Sejarah Gereja Ringkas (Batu: YPPII, 1998)
    Lane, Tony., Runtut Pijar (Sejarah Pemikiran Kristiani). Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1996

    Blog penulis: http://unikjoshua.blogspot.com/

    Diakonia Gereja: Kepedulian kepada Umat-Nya yang Terkena Bencana

    Oleh: Pdt Midian KH Sirait, M.Th. (Pendeta HKBP Resort Kalimantan Timur)

    Bencana berupa gempa, tanah longsor, banjir, dan kekeringan bertubi-tubi melanda berbagai daerah di Tanah Air. Wujud perilaku peduli seseorang terhadap orang lain membutuhkan perhatian konkrit dalam bentuk biaya dan pertolongan lainnya. Banyak korban gempa yang meminta layanan pengobatan dan memanfaatkan fasilitas layanan medis. Penanganan pos pengungsian, yang tetap memprioritaskan keselamatan dan kesehatan menuju kehidupan yang baik dan harmoni.

    Di tengah keadaan yang seperti itu, kita, sebagai gereja yang Tuhan tempatkan di bumi Indonesia, terpanggil untuk bersama-sama mengulurkan tangan mengatasi permasalahan yang terjadi tersebut. Yaitu, membantu terbentuknya komunitas baru dan membantu menuju kemandirian masyarakat pengungsi sehingga dapat menjadi masyarakat pengungsi mandiri. Kita harus berupaya untuk menguatkan mereka untuk melihat masa depan bersama Kristus.

    Diakonia Sebagai Tugas Gereja

    Fungsi gereja sebagai satu komunitas yang terdiri dari berbagai unsur dan latarbelakang yang berbeda-beda tetapi satu dalam komunitas yang tidak jemu-jemu berbuat baik, diwujudkan dalam kebersamaan jemaat untuk berbuat baik dan bertolong-tolongan.

    Jadi, komitmen dan itikad baik terhadap orang lain saling berbagi dalam beban, agar kelebihan kita mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kita, supaya ada keseimbangan. Paulus menegaskan komitmen tersebut, bahwa orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan (2 Kor. 8: 14-15).

    Kutipan nats Firman di atas ini ingin menggugah kita bersama untuk hidup berdiakonia. Berdiakonia adalah pelayanan kasih untuk kesejahteraan manusia (orang lain). Dalam berdiakonia harus ada kesadaran, memberi uluran kepada sesama. Sehingga, berdiakonia juga dapat diartikan berkorban.

    Berkorban adalah syarat mutlak untuk mendatangkan kesejahteraan bagi orang lain. Ini keputusan teologis karena gereja di Indonesia melihat bahwa pada Pancasila, khususnya melalui sila Ketuhanan Yang Maha Esa, terbuka koridor keterlibatan agama Kristen untuk berpartisipasi pada proyek bersama berbangsa.

    Berdiakonia Adalah Kasih Tanpa Bersyarat

    Kegiatan diakonia yang berurusan dengan kemanusiaan, yang materi, yang fisik dapat terlaksana dengan baik hanya bila dimulai dengan Roh Tuhan (Gal 5:22). Sifat-sifat roh manusia yang baik selalu dipenuhi rasa kasih sayang, bertanggung jawab, lemah lembut, kesetiaan, suka menolong, murah hati, berhati suci, terus-terang, bersahabat, dan masih banyak lagi.

    Hal itu merupakan potensi yang sangat dahsyat bila semuanya diberdayakan dan diberi peran sesuai dengan talenta yang diberikan Tuhan dalam rangka peningkatan kesejahteraan bersama. Yaitu: memberi dari yang ada, membuat apapun yang dilakukan tidak terpaksa, atau harus berhutang. Kemudian memberi yang terbaik, sehingga semua yang dilakukan penuh dengan keseriusan dan rasa penuh tanggung jawab. Dengan demikian berdiakonia adalah jiwa dan raga yang berkorban untuk mendatangkan kesejahteraan bagi orang lain. Paulus meminta agar gereja saling mendukung, memikul, dan menopang.

    Tugas jemaat adalah "saling membantu". Seharusnya bersatu padu menghadapi bencana pada saat banyak rakyat membutuhkan uluran tangan dari mana saja. Semua yang dilakukan hanya untuk Tuhan, dan memberkati orang lain. Mengucap syukur dan penuh sukacita adalah kunci untuk melakukan pelayanan ini dengan hati yang siap, terbuka, penuh semangat, dan tulus.

    Hidup Bersama-Sama Selaku Satu Bangsa dan Negara

    Dalam Pancasila ada tali-temali yang kukuh antara agama-agama, yang berketuhanan itu, dan hidup bersama-sama selaku satu bangsa dan negara. Komitmen kebangsaan akan makin kuat kalau dari dalam komunitas agama bisa dialami kebebasan yang membuka ruang bagi kesejahteraan bersama. Pada Pancasila, khususnya melalui sila Ketuhanan Yang Mahaesa, terbuka koridor keterlibatan agama Kristen untuk berpartisipasi pada proyek bersama berbangsa. Dalam Pancasila ada tali-temali yang kukuh antara agama-agama, yang berketuhanan itu, dan hidup bersama-sama selaku satu bangsa dan negara.

    Tersedianya ruang-ruang sosial tempat warga Indonesia mengalami kebebasan dan juga perbaikan mutu hidupnya akan menjadi pilar menguatkan komitmen kebangsaan itu. Ini sungguh penting di tengah modus hidup sehari-hari kita kini sebagai “kualitas relasional yang hangat dan perhatian terhadap yang lain, percaya, afeksi, mengakui, dan mengasihi.” Sehingga dalam kehidupan bersama, bahkan yang sangat dibutuhkan adalah kepedulian dan kepekaan terhadap orang-orang lain.

    Oleh karena itu, kita seluruh umat Tuhan mengembalikan seluruh aktifitas sebagai jati dirinya, yang mengasihi Allah dan sesamanya. Atas dasar itulaj dalam menyalurkan bantuan untuk usaha menolong saudara-saudara kita yang ditimpa musibah tersebut. Biarlah semangat, sukacita dan berkat yang kita terima dari kemurahan Tuhan dapat kita salurkan juga untuk dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tengah menderita.

    Berdoa Untuk Para Korban

    Untuk menjawab persoalan-persoalan sosial yang sedang kita hadapi. Demi mewujudkan hal itu, manusia perlu menajamkan rasa dan hati, sama tajamnya dengan rasio dan akalnya, dengan jalan untuk bersama-sama menanggung beban berat ini, dengan menyalurkan bantuan untuk usaha menolong saudara-saudara kita yang ditimpa musibah tersebut.

    Itu sebabnya di tengah pergumulan dan tantangan berat itu, kita mohon dan berdoa agar Tuhan benar-benar campur tangan. Dalam berbagai masalah dan situasi sulit yang melanda negeri dan keluarga kita, Dia justru memberi kekuatan dan hikmat kebijaksanaan (1 Raja-Raja 3:12). Bahtera keluarga yang kita rasakan tengah diterpa ombak, benar-benar dikemudikan Tuhan. Kebutuhan keluarga dan jemaat yang kita rasakan tidak cukup, justru dicukupkan oleh Dia yang Maha Pengasih.

    Biarlah semangat, sukacita, dan berkat yang kita terima dari kemurahan Tuhan kepedulian kita dapat disalurkan juga untuk dapat dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tengah menderita di tanah air kita Indonesia; seperti di Irian, Mentawai, dan Jawa Tengah. Seraya terus berdoa bagi para korban dan usaha-usaha memulihkan keadaan yang lebih baik. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu, dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera, Ef. 4: 3-4). Dalam doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar bumi persada Indonesia dijauhkan dari bencana alam, menyusul musibah banjir dan longsor serta gunung meletus serta tsunami yang telah mendera saudara kita sebangsa dan setanah air.

    Akhirnya, tidak ada yang tidak mungkin bagi Dia. Masa depan kita tetap terbuka lebar dan tidak akan tertutup. Sebagaimana Dia telah merangkul dan menciptakan ketahanan yang kuat pada masa lampau, demikian juga sekarang dan yang akan datang. Mari kita sebagai warga gereja mengkosentrasikan diri terhadap pelayanan, merendahkan diri di hadapan Dia dan semuanya mengarah kepada Yesus Kristus yang memberi tugas suruhan membantu sesama jemaat dan warga lainnya. Amin.

    Dipenuhi Di dalam Seluruh Kepenuhan Allah

    Oleh: Sunanto

    Ef 3:18-19 “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”

    Dalam hidup ini biasanya ada beberapa kejadian yang sulit untuk dilupakan. Salah satu kejadian yang sulit saya lupakan terjadi ketika saya menghadiri malam pujian penyembahan yang diadakan oleh Hillsongs Church Sydney sekitar bulan Agustus 2000. Kebetulan waktu itu saya duduk hanya beberapa baris dari panggung sehingga dengan jelas dapat melihat sang pemimpin penyembahan yaitu Darlene Szchech. Darlene mengawali malam pujian penyembahan itu dengan menyanyikan beberapa lagu penyembahan. Ketika lagu pertama dinaikkan, saya sudah merasakan begitu kuatnya hadirat Tuhan yang begitu indah itu. Pada saat lagu ketiga dinaikkan, saya merasakan seakan-akan terangkat ke sebuah tempat yang begitu indah dan penuh kedamaian sehingga tanpa terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi saya. Rasanya saya tidak ingin meninggalkan tempat yang begitu indah dan penuh kedamaian tersebut. Saya percaya itulah yang dinamakan keindahan hadirat Tuhan seperti yang dirasakan oleh Daud ketika dia mengatakan lebih baik satu hari dipelataranMu daripada seribu hari di tempat lain.

    Saat ini setelah lebih dari enam tahun, oleh karena kemurahanNya Tuhan telah membawa saya ke dalam sebuah dimensi rohani dimana saya bisa merasakan hadiratNya setiap hari seperti yang saya rasakan di malam pujian penyembahan itu.

    Abraham Maslow mengatakan hanya sedikit saja orang yang mengetahui diri mereka dan berhasil menjalani kehidupan mereka secara penuh. Banyak orang Kristen yang hanya puas dengan pengalaman keselamatan dan berhenti sampai di titik tersebut. Padahal Tuhan telah menyediakan sebuah kehidupan yang dipenuhi oleh kasih dan kuasaNya. Kita tidak perlu menunggu sampai meninggal nanti untuk dapat merasakan keindahan suasana sorgawi. Kita dapat mengecap keindahan sukacita sorgawi itu selama kita masih ada di dunia ini.

    Menurut Maslow , manusia secara umum mengejar rumah, makanan, keamanan, kekuasaan dan pemenuhan kebutuhan sexsual. Hal-hal yang bersifat jasmaniah tersebut memang merupakan keinginan manusiawi yang sangat normal tetapi menjadi sangat berbahaya bila kita membiarkannya menguasai kehidupan kita. Agar kita tidak dikuasai oleh keinginan tersebut maka kita harus mengembangkan sebuah kelaparan dan kehausan akan Allah. Calvin Miller mengatakan kita harus berfokus pada sebuah keinginan baru yaitu lapar dan haus akan Kristus dan juga keinginan untuk menjadi semakin serupa denganNya. Tanpa memiliki hubungan yang intim dengan Allah maka kita akan cenderung mengisi kekosongan hidup kita dengan hal-hal jasmaniah.

    Kebanyakan hamba Tuhan yang jatuh ke dalam perselingkuhan mengakui bahwa bukan keinginan mereka terhadap perselingkuhan tersebut yang menyeret mereka sehingga jatuh pada dosa perzinahan. Pada awalnya mereka merasa sendirian dan merasa gereja telah mengabaikan mereka. Mereka merasa sangat letih secara rohani dan tidak ada yang dapat diajak untuk berbicara. Perselingkuhan yang mereka lakukan terjadi bukan karena mereka sengaja ingin melakukannya tetapi lebih banyak karena didorong oleh kekosongan dalam batin mereka. Fenomena teman tapi mesra (TTM) yang saat ini merebak di daerah perkotaan juga terjadi akibat kekosongan yang dialami oleh manusia-manusia yang hidup di jaman modern ini. Saya percaya kebanyakan orang yang jatuh ke dalam perselingkuhan sebenarnya tidak ingin melakukannya tetapi mereka tidak bisa menahannya akibat kebutuhan untuk mengisi kekosongan yang mereka alami. Para pecandu narkoba pasti mengetahui resiko dan bahaya dari perbuatan mereka tetapi toh mereka tetap melakukannya sebab itulah satu-satunya cara yang mereka ketahui untuk mengisi kekosongan hidup mereka.

    Hanya Yesus satu-satunya pribadi yang dapat memberikan kepuasan yang sejati kepada kita. Hanya Dialah yang dapat memberikan kita sebuah hidup yang penuh kebermaknaan. Milikilah rasa lapar dan haus akan Kristus sebab hanya Dialah jawaban bagi segala kekosongan yang sedang anda hadapi. Tidak ada kasih di dunia ini yang seindah kasih yang diberikan oleh Kristus. Doa saya agar setiap anda mengalami indahnya hidup dalam kepenuhan Kristus !

    Diperbaharui Untuk Memperbaharui

    Oleh: Pdt. Midian KH Sirait, MTh.

    Tanpa terasa waktu berjalan dengan sangat cepat, akankah  HKBP membawa bendera Salib Kristus juga akan ditentukan oleh pembaharuan yang dibawa oleh para pemimpinnya. Landasan dan gagasan untuk membawa bahtera HKBP mengarungi lautan yang luas, dengan kepastian bahwa Tuhan Yesus akan menyertainya. Jika Allah yang berkarya, tentu kehendak Allah yang berlaku dan berkata-kata di salam semua tapak pelayanan, rela memberikan hati, pikiran, hati dengan dasar takut akan Tuhan. Di sanalah berlaku pembaharuan yang mesti terus menerus dibaharui agar sesuai dengan kehendak Sang Pemilik Gereja.

    HKBP sudah waktunya harus memperbaharui kembali kehidupan bergereja, seperti  menata kerohanian, mengasah kepribadian, meningkatkan kebersamaan, meningkatkan kemampuan pelayanan, memaksimalkan potensi yang ada dan lain sebagainya.  Hal itu amat penting mengingat perjalanan gereja HKBP yang melaksanakan panggilannya dalam berkoinonia, bermarturia dan berdiakonia. Di sana dan di sini tentu masih banyak yang belum tuntas dilaksanakan, komitment itulah yang harus diemban oleh kepemimpinan berikutnya. Biarlah jemaatNya dan pelayanNya mampu berkata seperti Pemazmur “Bersyukurlah kepada Tuhan sebab Ia baik” Karena Tuhan–lah yang memulai pekerjaanNya, Tuhan juga yang sedang bekerja di HKBP. Kita semua berkeyakinan Ia juga yang akan meneruskan pekerjaan-Nya.


    Hidup kita harus terus menerus diperbaharui

    Seiring dengan semboyan gereja reformasi “Ecclesia Reformata Semper Reformanda”, Gereja adalah Gereja yang terus menerus memperbaharui dirinya patut menghiasi hati selain syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Dalam rangka pembaruan itulah maka HKBP harus mengevaluasi kehidupan gerejanya agar sesuai dengan yang diinginkan oleh Alkitab menjadi garam dan terang dunia.

    Mengapa perlu diperbaharui, karena Tuhan ingin gerejaNya terus menerus diperbaharui (Kol 3:10).  Seperti jemaat di Kolose, Paulus mengingatkan status orang percaya di Kolose. Bahwa di dalam Tuhan, mereka sudah menjadi manusia yang baru. Oleh sebab itu karakter dan perilaku mereka harus diperbaharui. Kebiasaan-kebiasan lama harus ditinggalkan atau dilepaskan. Namun pembaharuan semacam itu tidak hanya terjadi sekali saja, tetapi perlu terus menerus, supaya gereja semakin serupa dengan Kristus.

    Pembaharuan semacam ini akan mengakibatkan terjadinya sebuah perubahan ke arah yang lebih baik. Roma 12:2 mengatakan ”berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Pembaharuan budi menghasilkan sebuah perubahan. Kata perubahan dalam ayat ini memakai kata metamorfosis, sebuah istilah yang umum dipakai dalam ilmu biologi. Ketika, ulat berubah menjadi kepompong dan kemudian berubah lagi menjadi kupu-kupu. Perubahan kearah yang lebih baik. Dari ulat yang menjijikkan menjadi kupu-kupu yang indah. Dari ulat yang suka merusak tanaman menjadi kupu-kupu yang membantu penyerbukan tanaman. Untuk mewujudkan sebuah pembaharuan perlu tindakan dan kerelaan. Kerelaan untuk dibentuk oleh Tuhan.

    Kalau gereja secara pribadi perlu diperbaharui, maka gereja secara lembaga juga perlu diperbaharui. Banyak gereja yang tidak bisa maju atau justru mengalami kemunduran, karena tidak bersedia diperbaharui. Oleh sebab itu sangat penting bagi gereja untuk membuka diri kepada Tuhan untuk dibentuk sesuai dengan kehendakNya. Oleh sebab itu gereja perlu peka dengan kehendak Tuhan dan bukan menurut pada kehendak dunia ini. Kebaharuan itu dapat tercipta dari iman yang selalu diperbaharui dan memperbaharui. Amin (Praeses HKBP Distrik XI Toba Hasundutan)

    Fundamentalisme dan Tanggapan Gereja Asia

    Penulis : Henrikus Pedor

    Fenomena fundamentalisme timbul sebagai produk modernitas yang telah menyebabkan situasi hidup manusia berubah. Fundemantalisme terkait erat dengan upaya kelompok atau masyarakat tertentu yang terkait dengan upaya pencarian identititas diri. Kelompok-kelompok fundamentalisme memiliki ciri tertentu antara lain: konservatif, liberal, etnosentris, integratif, dogmatik, fanatik, militan dan sebagainya. Akhir-akhir ini fundamentalisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kenyataan hidup religius di seluruh dunia. Beberapa dari antara kelompok fundamentalis yang terkenal adalah kaum muslim shiite di Iran, Sudan, Pakistan, Liberia, juga sekarang sudah masuk ke Indonesia; kelompok-kelompok fundamentalis Kristen Protestan seperti: Religious Right di Amerika Utara, Gush Emumin, champions of Hindutva di India, Soka Gokkai Budhis di Jepang, Temple Mount dan Heredim di Israel, Dukwah di Malaysia, Sikh di Punjabi.

    Fundamentalisme adalah fenomena multidimensional. Ia merupakan produk dari lingkungan sosio budaya dan politik ekonomi yang khas dengan perwujudan yang spesifik serta ditandai dengan faktor-faktor, psikologis, kultural, religius, ekonomi, politik dan sejarah. Fundamentalisme merupakan akibat dari simptom ketertutupan identitas sosial atau individual manusia. Seorang fundamentalis memandang nilai atau ideologi tertentu sebagai non negotiable yang harus dilindungi secara sempurna dalam perubahan situasi apapun. Mereka takut kehilangan nilai-nilai primordial. Dalam praktek untuk mempertahankan nilai atau ideologi kaum fundamentalis seringkali bertindak agresif dan destruktif.

    Beberapa kejadian kekerasan akhir-akhir ini seperti aksi terorisme memiliki background fundamentalisme agama. Al-Qaida di Afghanistan, Abu Sayyaf di Filipina Selatan, Jemaah Islamiyyah di Indonesia dan beberapa kelompok yang sudah disebutkan di atas telah menebar problem sosial di berbagai belahan dunia. Perjuangan kelompok fundamentalisme mengancam hidup bersama. Keharmonisan hidup beragama di negara-negara yang bernuansa plural ada dalam kondisi kritis. Gereja di Asia yang hidup dalam pluralisme agama perlu mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menanggapi fundamentalisme agama.

    Untuk menghambat perkembangan fundamentalisme, Gereja di Asia pertama, membutuhkan teologi pluralisme. Teologi ini berpendapat bahwa perbedaan agama tidak ada tetapi perbedaan tanggapan pada misteri Ilahilah yang ada. Manusia dalam perbedaan budaya, situasi dan waktu mengalami dan mengekspresikan hubungan antara yang terbatas dan tak terbatas secara berbeda. Maka pluralitas termasuk bagian dari struktur realitas yang dirasakan oleh manusia selama hidup. Realitas tidak bisa tidak berdimensi plural sekaligus singular. Kedua dimensi ini dalam tataran realitas selalu berada dalam ketegangan dialektis. Singularitas hanya bisa dipahami bersama pluralitas dan pluralitas hanya dipahami dalam singularitas. Namun demikian singularitas tidak sama dengan pluralitas. Ketegangan antara pluralitas dan singularitas inheren pada aspek sosialitas manusia terutama budaya dan Agama. Problem pluralitas terjadi ketika singularitas dipertahankan dan problem singularitas terjadi ketika pluralitas dipertahankan.

    Kedua, Gereja di Asia perlu menampilkan teologi inklusif dan merelativir pernyataan-pernyataan yang ekslusif. Dalam masyarakat pluralistik religius, orang harus menerima dimensi kesadaran diri yang baru bahwa semua manusia berelasi sebagai ciptaan Tuhan. Meskipun banyak agama cenderung membentuk sebutan-sebutan eksklusif bagi Kebenaran Ilahi. Eksklusivitas semacam ini mempersempit hubungan Tuhan dengan semua orang dalam pluriformitas dan membangun benteng bagi masa depan agama. Tuhan bersifat absolut karena itu manusia dapat mengalami, menangkap dan mengekspresikan Tuhan itu secara relatif. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang relatif tidak dapat diabsolutkan. Kenyataan pluralisme agama hendaknya mengarah pada dialog yang kreatif untuk saling memperkaya dan membentuk masyarakat yang manusiawi.

    Ketiga, Gereja di Asia hendaknya mempertimbangkan kembali metodologi-evangelisasi. Dalam konteks perkembangan fundamentalisme, kaum kristiani perlu memahami evangelisasi sebagai shering iman atau pengalaman akan Allah dan injil dengan penganut agama lain. Evangelisasi bukan berarti mengkristenkan orang yang sudah beragama, melainkan sebagai upaya tranformatif bagi manusia. Pewartaan injil hendaknya bersifat dialogis.

    Keempat, Gereja Asia hendaknya terlibat dalam keprihatinan dunia. Agama yang benar adalah agama yang mampu menuntun semua orang pada keterlibatan dan kerjasama yang kreatif dalam memecahkan problem-problem hidup. Tujuan keterlibatan Gereja dalam wilayah sosial, pendidikan dan politik harus menjadi pembebasan masyarakat yang total. Memperjuangkan hak asasi dan keadilan menjadi praksis pembebasan Gereja dalam dunia.

    Gereja Asia dalam kondisi plural dan ancaman fundamentalisme agama harus mengambil sikap lebih terbuka, dialogis terhadap kelompok iman lain. Dialog merupakan tindakan yang tepat dalam relasi antara kristianitas dengan agama lain. Namun tindakan dialogis Gereja di Asia perlu berorientasi pertama-tama bukan demi dirinya sendiri tetapi bagi kepentingan manusia secara universal. Karena itu sikap dialog Gereja mesti dibangun di atas dasar, antropologis, sosiologis, budaya, dogma dan teologi. Dengan demikian Gereja Asia dapat diterima oleh agama lain dan dapat menyumbangkan nilai-nilai positif yang mengarah pada hidup bersama yang lebih baik.

    Berhadapan dengan pluralitas, tantangan bagi kristianitas adalah komitmen pada imannya sendiri dan terbuka pada iman lain. Bagaimana kaum kristiani sungguh-sungguh mengikatkan diri pada Kristus dan terbuka pada agama-agama lain? Kaum kristiani dituntut untuk terbuka pada sapaan Allah melalui penganut dan tradisi agama lain. Dengan kata lain kemuridan (discipleship) kristiani membutuhkan dialog. Konsili Vatikan II telah menyatakannya dengan jelas bahwa keterbukaan pada iman lain sebagai bagian esensial dari Gereja yang bersifat global.

    Komitmen Gereja ini membuka pintu yang lebar bagi agama-agama lain di Asia untuk berdialog. Lantas bagaimana genesis dialog ini bisa terjadi? Genesis dialog paling konkret terjadi di Asia (locus dialog). Tidak ada cara lain bagi Gereja di Asia untuk hidup selain dengan upaya genesis dialog. Teologi di Asia punya peran besar dalam genesis dialog. Teologi -sebagai refleksi sistematis atas pengalaman iman-harus mempunyai orientasi pada genesis dialog. Teologi kristiani di Asia berjuang untuk merefleksikan pengalaman imannya (genesis iman ) dan sekaligus terbuka pada iman lain (genesis dialog).

    GENESIS DIALOG

    Genesis dialog dapat kita artikan sebagai asal-usul dari dialog. Dari mana datangnya dialog?Apa yang menjadi cikal bakal dialog dan bagaimana masa depan dialog? Lantas bagaimana isi dan bentuk dialog yang pas dengan lokus dialog? Pertanyaan dasar ini perlu kita gali dalam rangka membangun dialog antar agama baik dan berguna.

    Motivasi dan Orientasi : Keselamatan Universal

    Motif dialog Gereja dengan agama lain pertama-tama berdasar pada segi antropologis. Dalam perjumpaan seorang individu dengan individu lain, mereka pasti saling belajar. Demikian juga dalam dialog antaragama, kelompok agama tertentu tidak hanya sampai pada penghargaan yang tinggi pada agama lain, tetapi juga memahami diri mereka sebagai orang beriman secara lebih mendalam. Manusia secara esensial sebagai pengada sosial, adalah makhluk dialog yang selalu membutuhkan perspektif lain dan pertanyaan yang mengejutkan. Melalui percakapan orang bertumbuh secara emosional dan intelektual. Dialog merangkulkan kita satu sama lain; dialog menuntut rasa percaya dan resiko dari setiap partisipan2.

    Dialog tidak hanya sebagai perangkat diskusi atau klarifikasi pendapat, tetapi sebagai tindakan religius, tindakan iman (yang datang dari pendengaran), penghargaan timbal-balik atas kondisi manusia. Melalui keragaman sudut pandang dan pertanyaan-petanyaan yang tak terduga orang beriman berhadapan dengan batas-batas pengandaian, prinsip dan horison; orang beriman diajak membuka diri untuk mempelajari hal-hal yang baru dan lebih mendalam. Kebuntuan yang kita hadapi hanya dapat terbuka jika ada orang tidak berpikir sama dengan kita. Teologi agama-agama merefleksikan pengalaman iman yang konkret dan plural seperti penderitaan dan ketidakadilan. Keprihatinan teologi agama-agama terhadap problem manusiawi dan ekologis. Teologi agama juga senantiasa merefleksikan tradisi agama secara universal3.

    Ada tahapan dalam evolusi teologi agama-agama yang menandai perubahan sikap kaum kristiani terhadap agama lain setiap tahapan memiliki orientasi masing-masing. Pertama, model eklesiosentris. Model ini lahir pada awal berdirinya Gereja dan berpuncak pada konsili Trente. Model ini menekankan bahwa rencana keselamatan hadir secara eksklusif bagi Gereja. Semboyan yang terkenal dari St. siprianus: EXTRA ECCLESIAM NULLA SALUS menjadi spiritualitas hidup Gereja. Oleh Kristus Gereja menjadi tangan kanan pelaksanaan karya kesel596tan. Gereja menjadi sakramen Kristus di dunia. Meskipun model ini sangat bersifat eksklusif karena berdasar pada pemikiran patristik, namun konsili Trente telah memiliki pemahaman bahwa rahmat Allah juga bekerja secara tak kelihatan pada orang-orang kafir.

    Kedua, model kristosentris. Di Era 60 an Karl Rahner mencoba mendalami karya Otto Karrer yang menyatakan bahwa agama lain juga dapat menjadi jalan keselamatan (Heilswege). Tindakan penyelamatan Allah itu bersifat universal, sehingga ia dapat mewujudkankan dirinya (inkarnasi) dalam komunitas lain di luar Gereja. Dengan demikian jika kita sungguh yakin bahwa Allah berhendak menyelamatkan semua orang maka kitapun harus memandang agama lain sebagai kendaraan yang membawa orang pada keselamatan. Pandangan Rahner ini secara substansial menjadi spirit bagi konsili Vatikan II. Gereja konsili Vatikan II membawa kaum kristiani pada penerangan yang agung bahwa agama lain bukan dunia kegelapan karena terang Sabda dan Roh bersinar juga di dalam agama lain.

    Kristus lebih besar daripada Gereja dan tidak dapat dipasung di dalam mereka.

    Ketiga, teosentrik (pluralisme mistik). Model ini cenderung menekankan pendekatan mistik pada agama dan perjumpaan antaragama. Agama dipahami sebagai misteri. Pada pengalaman religius yang otentik dan dialog agama, kaum teosentris yakin ada pengalaman akan Mysterion. Meskipun para mistikus dan filsuf Barat berpendapat bahwa misteri ini hanya dapat ditangkap melalui wujud historis, mediasi verbal, tetapi juga selalu melampaui mediasi dan wujud apapun. Kaum teosentris percaya bahwa meskipun manusia tidak dapat mendefinisikan esensi semua agama dan tidak dapat mengungkapkan kembali kekayaan ekspresi agama yang beranekaragam terdapat Theos atau Mysterion, Kekososongan / Kepenuhan dalam semua pengalaman religius.

    Keempat, adalah model soteriosentris (pluralisme etis). Menurut model ini, pusat atau basis atau titik pijak dialog kristiani dengan orang beriman lain bukan Gereja atau Kristus, bahkan Allah tetapi Kerajaan Allah. Dalam perjumpaan kita dengan yang lain motivasinya bukan kehadiran Kristus Anonim dalam agama lain atau keyakinan mereka pada pengada yang tertinggi melainkan harapan, semangat, keinginan mereka untuk mencapai keselamatan. Kaum kristiani melambangkan keselamatan itu dengan kerajaan Allah. Oleh karena itu seorang Kristen yang sosterisentris akan memandang penganut lain bukan sebagai calon anggota Gereja, kristen anonim atau teis anonim tetapi sebagai kolaborator dalam peningkatan hidup manusiawi.

    Sejalan dengan para ahli kitab suci dan teolog kontemporer yang menyampaikan kepada kita pemahaman Yesus sendiri tentang Basilea tou Theou, kaum soteriosentris memahami soteria atau kerajaan Allah sebagai realitas yang esensial termasuk keberadaan hidup manusia di dunia. Kerajaan Allah berarti penegakan hidup dan penolakan mekanisme dan struktur sosial yang mematikan baik manusia maupun lingkungan. Tanpa promosi keadilan dan kepenuhan hidup soteria tidak sejalan dengan visi Yesus.

    Tahap keempat mempunyai orientasi yang mirip dengan teologi pembebasan. Karena itu pada tahap keempat ini dialog agama perlu menimba spirit dari teologi pembebasan. Soteria atau keselamatan dalam teologi pembebasan terjadi dalam realitas (kini dan sini), dan sekaligus bersifat eskatologis. Karena itu ketidakadilan, kemiskinan adalah bentuk anti soteria. Dengan terang teologi pembebasan, dialog antaragama perlu berorintasi pada upaya mengatasi problem-problem sosial yang merupakan wujud dari anti soteria.

    Isi dan Bentuk Dialog :Kristologi Sakramental dan De-absolutisasi Yesus Kristus

    Isi pokok dialog antaragama adalah pengalaman iman dan bentuk yang paling dasar adalah sharing. Pengalaman iman itu terkait dengan gambaran-gambaran religius. Sehingga ketika orang membagikan pengalaman iman, secara tersirat memaparkan imajinasi imannya. Gambaran atau imajinasi iman menyebabkan pengalaman religius menjadi lebih hidup. Semua gambaran iman kristiani itu berpusat pada Yesus kristus sebagai simbol Allah. Gambaran tentang Yesus dalam iman kristiani tentu saja selalu mendapat arti yang baru, sesuai dengan konteks zaman, sosial, budaya dan politik. Dengan demikian kaum kristiani tiap generasi, atau dalam konteks budaya yang baru mempunyai jawaban sendiri atas pertanyaan Yesus kepada para murid:"Menurut kamu siapakah aku"(Mrk 8:27)4.

    Jika pertanyaan Yesus tentang diriNya ditempatkan dalam konteks pluralisme agama maka gambaran kita tentang Yesus harus dikomunikasikan. Untuk itu bagaimana pemahaman tentang imaginasi dalam iman-komitmen kristiani membantu kita untuk terbuka pada imaginasi iman yang lain? Beberapa teolog seperti Roger haight, Edward Schillebeeckx, Paul F. Knitter mengusulkan isi dan bentuk dialog dari sudut pandang kristologi sakramental. Pendekatan kristologis sakramental menggambarkan Yesus pertama-tama bukan sebagai pribadi yamg hidup di Palestina 2000 tahun yang lalu, tetapi sebagai simbol yang universal.

    Menurut Paul F. Knitter Gereja Kristen perlu mengembangkan dan mewartakan kristologi sakramental. Dengan kristologi ini, kita memahami Yesus (putera Allah) dan apa yang ia lakukan (menyelamatkan dunia) dengan mengalami dan merefleksikan bagaimana Dia sungguh dan nyata menjadi sakramen Allah bagi dunia. Sesuatu menjadi sakramen ketika mengantarai, mewujudkan, melambangkan realitas Allah bagi kita. Pemahaman Yesus sebagai sakramen Allah berarti, kita dapat memahami keilahian dan peranannya sebagai penyelamat sehingga kita kita sungguh terikat padaNya tetapi sekaligus terbuka pada sakramen lain, karena Allah dapat menggunakan seluruh sejarah5.

    Mengenai keilahian Yesus, Edward Schillebeeckx dan Roger Haight menekankan bahwa doktrin Yesus sebagai putera Allah berakar di dalam pengalaman Yesus sebagai sakramen. Para ahli kitab suci perjanjian baru kontemporer nampaknya setuju: kaum Kristiani tidak mewartakan bahwa Yesus adalah putera Allah karena Yesus mengatakan begitu kepada mereka tetapi karena mereka merasakannya demikian. Berjumpa dengan Yesus bagi mereka sama dengan berjumpa dengan Allah. Yesus sungguh ilahi, karena ia adalah simbol atau sakramen Allah. Kristologi sakramental dapat juga menjelaskan Yesus sebagai Penyelamat dengan cara yang lebih bebas dari pada penjelasan tradisional yang menggunakan model satisfaksi dan substitusi.

    Menurut model satisfaksi, peran penyelamatan Kristus dijelaskan secara prinsipil sebagai causa efficiens (penyebab efisien). Sebagai penyebab efisien, Yesus menyelamatkan kita karena ia menyebabkan segala sesuatu, atau melakukan sesuatu-sering dipahami sebagai suatu tindakan yang dalam cara tertentu "mereparasi"; hubungan antara Allah dan manusia. Sebagai penyebab sakramental, Yesus menyelamatkan kita karena karena ia memperlihatkan atau mewahyukan sesuatu; sebagai sakramen (sacramentum), Dia melambangkan sesuatu yang sudah ada (res sacramenti).

    Pendekatan kristologi sakramental terbuka pada iman lain. Karena itu keunikan gambaran iman Kristiani perlu dipertimbangkan kembali, dalam rangka dialog. Penyebab efisien secara intrinsik bersifat singular. Tetapi penyebab sakramental secara potensial bersifat plural. Apa yang telah diwahyukan dalam sejarah dapat diwahyukan lagi. Apa yang telah diketahui dalam suatu budaya, dapat diketahui dalam budaya lain secara berbeda. Bahkan lebih secara mendalam, ketika isi dari apa yang diwahyukan menjadi tidak terbatas dan misteri kehadiran dan cinta ilahi selalu dinamis.

    Esensi suatu dialog kristologis ialah bahwa suatu pemahaman dan tindakan mengikuti Yesus membutuhkan perjumpaan dengan yang lain, yakni dalam hubungan dan percakapan dengan mereka yang berjalan dalam jalan iman yang lain. Mungkin alasan yang paling mendasar adalah kristologi sakramental tidak hanya memahami posibilitas tetapi probabilitas, bahkan nesesitas, dari simbol-simbol atau sakramen-sakramen ilahi dalam keseluruhan sejarah. Perspektif ini memperlihatkan bahwa Yesus adalah seseorang yang yang mewujudkan keterbukaan pada yang lain. Dia mewujudkan dirinya dalam seluruh waktu. 6 Konsekuensi pendekatan sakramental adalah de-absolutisasi Yesus Kristus. Kaum Kristiani mengakui bahwa Yesus adalah Kristus. Namun keyakinan ini tidak membatasi makna intervensi Allah dalam sejarah manusia. Kristus bukanlah prinsip abstrak atau penampakan Allah yang hanya dihadirkan oleh simbol-simbol sebagai alfa dan omega. Tetapi dia adalah simbol yang hidup bagi totalitas realitas: manusia, yang ilahi dan alam semesta. Sehingga pertanyaan tetap terbuka apakah nama yang melebihi segala nama ini (Ef 1:21) dapat diatributkan dengan realitas lain seperti Krishna, Purusha, Isvara.Mengapa keabsolutan Yesus dalam iman kristiani perlu dikoreksi kembali. Alasannya setiap kristologi bersifat lokal dan ephemeral namun tetap berdasar pada kejadian konkret manusia historis Yesus, inkarnasi, karya pelayanan, salib dan kebangkitan. Karena itu kristologi setiap saat bisa berubah sesuai dengan konteks hidup manusia. Yesus adalah simbol Allah yang hidup secara dinamis dan mengatasi ruang dan waktu. Dengan demikian kristologi perlu membahasakan kembali Yesus Kristus dalam tek597s pluralisme7.

    Kristologi sakramental membuka ruang untuk berdialog dengan agama lain. Dengan dialog kristologi ini, umat kristiani dimampukan untuk setia pada Yesus dan terbuka kepada umat beriman lain. Dengan kata lain dialog kristologi memperteguh dialog Gereja. Namun ada hambatan dalam dialog kristologi baru-baru ini akibat dari dokumen Dominus Jesus yang dimunculkan oleh kongregasi ajaran iman. Dokumen ini menimbulkan reaksi dari kalangan intern maupun ekstern Gereja. Dari beberapa komunitas katolik dengan tegas mengatakan "Yang seperti ini bukan iman kami". Persoalan ini timbul oleh satu kata: "hanya". Kristus merupakan satu-satunya pembawa keselamatan dari Allah. Dokumen ini jelas bisa menjadi penghalang dalam dialog antaragama. Karena itu kristologi perlu menempatkan Yesus bukan sebagai tokoh penyelamat yang absolut. Tetapi merupakan simbol/sakramen Allah yang universal.

    Bentuk Baru Dialog Interreligius

    Saat ini dunia kita menghadapi krisis yang menantang dan menuntut tanggapan dari semua agama. Dalam bukunya yang terbaru, Hans K�ng menyuarakan tantangan dan program supaya bangsa- bangsa dan agama-agama di dunia tidak hanya memperhatikan persoalannya sendiri. Dia berpendapat bahwa bangsa-bangsa dunia akan mampu menghadapi dan mengatasi krisis yang mengancam umat manusia jika menyepakati etika global dalam teori dan praksis. Namun kesepakatan ini tidak tercapai kecuali ada kerja sama di antara agama-agama. Dengan demikian tidak ada damai, kesatuan, dialog di antara bangsa-bangsa kecuali ada damai kesatuan dan dialog di antara agama-agama. Lantas bagaimana program Hans ini dapat diwujudkan? Paul Knitter mendukung proyek King dengan menegaskan dialog antaragama yang bertitik tolak pada persoalan problem manusia dan lingkungan hidup8.

    Menurut Paul Knitter berpendapat bahwa salah satu alasan mayor mengapa terjadi perpecahan dan perselisihan karena agama-agama tidak melaksanakan misinya dengan baik. Padahal agama punya potensi dan nilai-nilai yang dapat menciptakan kesatuan dan damai di antara umat manusia. Mengapa agama tidak menjalankan misinya? Mengapa agama-agama lebih mudah saling berseteru daripada bekerjasama. Lebih jauh orang dapat bertanya: mengapa dialog belum terjadi? Ada banyak jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Namun tidak ada cara lain selain dengan dialog. Persoalan-persoalan yang ada harus dilihat sebagai kairos untuk "membebaskan" atau "menebus" agama dari situasi yang menyedihkan ini.

    Realitas penderitaan manusia, ketidakadilan struktural dan problem ekologis membutuhkan pembebasan. Upaya pembebasan yang universal membutuhkan dialog agama yang universal. Dengan demikian pembebasan menjadi alasan dasar dialog antar agama. Peran agama-agama untuk membebaskan manusia dari penderitaan terkait erat dengan pesan keselamatan yang menjadi misi utamanya. Karena itu dialog dapat berpusat pada pembebasan. Para teolog pembebasan seperti Boff dan Gutierez dialog merupakan langkah kedua. Menurut mereka perjumpaan tidak mulai dengan percakapan mengenai doktrin atau ritual, bahkan doa atau meditasi (meskipun semua elemen ini sangat mendasar), tetapi dimulai dengan praksis liberatif. Mereka ikut serta di dalam usaha untuk membebaskan diri mereka atau orang lain dalam konteks hidupnya secara bersama-sama9.

    Setiap agama diajak untuk bekerja sama dalam upaya mengidentifikasikan dan memahami penyebab penindasan atau penderitaan yang mereka hadapi. Mereka perlu berbagi analisis sosial ekonomi dan upaya pemecahan masalah dengan diinspirasikan oleh pemahaman-pemahaman religius. Kemudian partner dialog diajak untuk melakukan aksi bersama. Praksis liberatif berarti mengenal dengan dan belajar dan beri mereka semangat dalam praksis liberatif.

    Apa yang menjadi pengalaman teologi pembebasan Kristiani dapat diwujudkan dalam dialog antaragama. Komunitas basi Kristiani Amerika Latin dapat menjadi model bagi dialog antaragama yang berpusat pada pembebasan. Dalam kelompok kecil akar rumput, kaum kristiani bertemu untuk membaca kembali kitab suci dan keyakinan mereka dalam cahaya penindasan dan usaha untuk mengatasinya. Dalam konteks Asia yang plural menjadi kelompok basis manusia. Kelompok ini tidak hanya mengumpulkan orang dari macam-macam agama yang membagikan suatu komitmen untuk untuk bekerja dengan mereka yang tertindas dan mengatasi penderitaan.

    1. Christ and Culture, Ed. Jacob Kavunkal & F. Hrangkhuma, St. Pauls Bandra, Bombay, 1994, hal. 115-116.

    2. Many Paths, Eugene Hillman, Orbis Book, Mary Knoll, New York, 1989, hal. 60-61.

    3. Mission and Dialog, ed. Leonardo N. Mercado & James Knight, Divine Word, Manila, hal.186-196.

    4. Commitment to One-Openess to Other, Paul Knitter, Horizons, Xavier University, 2001, hal. 255.

    5. Ibid. hal. 263.

    6. Ibid. 264.

    7. Many Paths, Eugene Hillman, Orbis Book, Mary Knoll, New York, 1989, hal. 55-56

    8. Interreligius dialogue and the unity of humanity, Paul Knitter, Journal of Dharma, Xavier university, hal. 282.

    9. Ibid. 287-289

    GEMBALAKAN DOMBA-DOMBA MUDA

    Oleh : Pdt. David Sudarko STh. | GIA Kediri

    Bukanlah sebuah rahasia lagi bahwa di Amerika dan di beberapa negara di Eropa telah terjadi degradasi iman kekristenan. Banyak gedung gereja yang kosong tidak ada aktivitas peribadahan, bahkan telah dijual dan di alih fungsikan untuk kegiatan yang lain. Tidak sedikit juga orang-orangnya yang berpindah pada agama yang lain. Mengapa hal ini terjadi? Beberapa pengamat menyimpulkan bahwa keadaan ini terjadi oleh karena akibat the lost generation - ‘hilangnya generasi’.

    Mereka telah kehilangan generasi yang mewarisi iman Bapa Leluhur; Abraham, Ishak, dan Yakub. Ajaran dan warisan iman itu telah terabaikan oleh berbagai ‘fasilitas’, ‘aktivitas’ dan ‘pengetahuan’ dunia. Budaya konsumerisme dan hedonisme, ditambah lagi dengan ‘duitisme’ (apa-apa duit = uang segalanya) telah merebut perhatian mereka ketimbang berurusan dengan yang ‘spiritualisme’. Maka angin segar ‘atheisme’ pun makin leluasa menghembusi mereka dan membuat mata spirit (rohani) mereka tak mampu melihat, alias buta.

    Kebutaan rohani ini sebenarnya telah bergerilya di negara kita, bahkan sudah masuk di kota kita. Segala fasilitas, aktivitas dan pengetahuan dunia itu telah nyata di depan kita, dan tidak jauh; yakni ada dalam genggaman tangan kita. Bukan hanya kita orang dewasa, mulai dari anak SD saja pun sudah menggunakan HP, Smartphone, Iphone, Tablete dan lain-lain. Di sekitar kita juga telah banyak cafe-cafe, rumah karaoke, dan diskotik. Dimana disana selalu sarat dengan tawaran ‘kepuasan daging’ (dosa). Mulai dari kepuasan mata memandang (pornografi), sampai kepada praktik (pornoaksi) perzinahan pergaulan bebas. Inilah yang membuat hilangnya generasi beriman. Jika ini juga diabaikan oleh gereja-gereja di negara kita, maka hal yang sama akan terjadi pada kita. Tentunya saudara juga tidak setuju kan jika itu terjadi? Oleh karenanya saya menulis refleksi ini dengan maksud menawarkan sebuah WASIAT dari Sang Sumber Iman, yakni Yesus Kristus Sang Gembala yang Sejati. Wasiat itu adalah; “Gembalakanlah domba-domba-KU!” Dan wasiat ini telah diulang lebih dari dua kali. Itu berarti harus dicamkan dan dilaksanakan, sifatnya segera dan tidak boleh diabaikan.

    Gembala dan domba muda

    Gembala adalah berbicara tentang seorang pemimpin. Pemimpin dalam artian fungsionalnya, bukan soal kedudukannya. Sebab banyak realita yang terjadi justru seorang pemimpin (pejabat/gembala jemaat) yang tidak berfungsi sebagai pemimpin, melainkan sebagai ‘bos’. Pemimpin di sini yang dibutuhkan adalah seorang yang meskipun bukan sebagai pemimpin dalam struktural namun ‘piawai’ (kapabel) dalam mempengaruhi, mengelola, merawat dan melayani orang lain. Kriteria itulah yang layak masuk dalam kepribadian seorang gembala. Ada lebih baiknya lagi jika secara struktural sudah menduduki posisi pemimpin dan secara fungsionalnya juga dapat melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan benar.

    Domba muda adalah berbicara tentang generasi muda (saat ini). Yang tergolong sebagai domba muda adalah mereka anak-anak usia pra remaja sampai pemuda - dewasa (usia 10th – 25 th). Mereka inilah yang harus mendapatkan perhatian penuh di dalam pengawalan dan pengawasan (atas berbagai paham dan ajaran yang menyesatkan imannya). Sederhananya adalah, mereka harus digembalakan oleh gembala yang benar. Jika mereka tidak digembalakan oleh gembala yang benar, maka mereka akan digembalakan oleh dunia (dosa). Dunia akan menyeret mereka semakin jauh dari Tuhan. Dan skenario endingnya adalah sama dengan yang terjadi di Barat dan di Eropa sana, hilangnya generasi yang beriman.

    Di dalam menggembalakan para kawanan domba muda ini, kita perlu mewaspadai beberapa medan berbahaya yang dapat membayakan jiwa mereka. Medan apa sajakah itu;
    1. Medan percintaan
    Sudah hampir lebih dari 7 tahun saya mendampingi kehidupan dan kerohanian para domba-domba muda. Selama waktu itu sampai buku ini ditulis, pokok permasalahan yang menduduki peringkat teratas adalah persoalan C.I.N.T.A. Percintaan memang selalu sangat menarik dari jaman ke jaman, mulai dari Ngkong Adam dan Emak Hawa. Percintaan juga tidak hanya berhenti pada kisahnya Om Romeo dan Tante Juliet, namun sampai hari ini dia selalu hidup dan menarik semua insan. Tidak mengenal orang kota, orang desa, orang kaya, orang miskin, orang yang berpangkat maupun tidak. Bahkan anak-anak siswa SD di desapun sudah mengenal cinta. Aura CINTA memang begitu kuat, semerbak harumnya, bahkan begitu licin sehingga mampu menembus ‘dinding-dinding’ setebal apapun, sehingga siapapun orang bisa merasakannya. Malah tidak sedikit ada yang sampai tergila-gila karenanya.

    Percintaan memang mampu membawa emosi positif, namun bisa menjadi medan berbahaya bagi domba-domba muda yang tidak hati-hati pada arus cinta tersebut. Dalam medan ini mereka membutuhkan penggembalan secara benar. Sebab tidak sedikit remaja-remaja Kristen yang jatuh dalam dosa mengikuti gaya berpacaran zaman sekarang, bahkan banyak yang meninggalkan Yesus demi menikah dengan yang lain iman (agama). Tentu ini merupakan keprihatinan yang mendalam. Namun gereja (gembala jemaat/rohaniwan/majelis) tidak boleh hanya sebatas prihatin saja. Gereja harus segera mengambil tindakan untuk menggembalakan mereka, agar tidak bertambah jiwa yang hilang.

    2. Medan pergaulan
    Salah satu kelebihan dari anak-anak remaja pemuda adalah segi pergaulannya. Mereka cepat berkomunitas dalam pengaruh trend, hobi dan kesamaan pandangan. Ada beberapa komunitas anak remaja muda yang saat ini sedang ngetrend, diantaranya; komunitas anak band, komunitas anak dance, komunitas olahraga (futsal), komunitas sepeda motor gaul, komunitas pecinta artis Korea, dsb. Namun ada beberapa komunitas yang sedikit ekstrim, seperti; komunitas punk (pang/anak jalanan), dan ada juga komunitas “gombal-gambul” alias komunitas “ora genah” (tidak karuan). Komunitas ini hanya ngumpul karena tidak punya kerjaan tetap, dan tidak punya tujuan jelas tapi suka menghambur-hamburkan uang.

    Mereka juga suka berpikir kotor dan hal-hal porno, sehingga kata-kata yang keluar dari mulutnya juga kata-kata kotor, porno dan sia-sia belaka. Jika ada seorang wanita lewat di depannya, mereka cepat koneck untuk menggoda, entah wanita itu cantik ada tidak, single atau sudah menikah – atau malah sudah janda, mereka tidak peduli. Yang penting ‘pokoknya’ wanita, bisa menghibur otaknya. Jadi tidak heran jika saat mereka sedang ngumpul, selalu membuat resah orang lain. Mereka sering minum minuman keras bahkan sampai mabuk dan sering juga bertindak kasar. Namun anehnya komunitas ini malah yang disukai oleh anak-anak remaja pemuda saat ini.

    Komunitas ‘gombal-gambul’ menjadi tantangan pergaulan anak remaja dan pemuda jaman ini. Bahayanya jika anak-anak remaja Kristen berada di sekitarnya dan sering bergaul dengan mereka lalu tertarik dan bergabung dalam komunitasnya. Lambat laun akan terpengaruh untuk praktek merokok, minum – mabuk, keluyuran - pulang malam, pornografi dan pornoaksi, bahkan bersikap brutal; memberontak orangtua, krisis moral dan sosial, juga bisa bertindak asusila. Angka pergaulan yang salah ini makin tambah tahun justru makin meningkat. Hal ini yang perlu diwaspadai oleh gereja. Bisa dibayangkan jika 10 tahun kedepan negara ini dipenuhi oleh orang-orang yang bergaul dengan komunitas ‘gombal-gambul’ seperti ini, akan seperti apakah negara kita nanti? Bisa ditebak sendiri. Begitu juga gereja. Bisa kehilangan generasi yang mau hidup benar. Jika dibiarkan begitu terus, maka keadaan “tohu wabohu” (kacau balau) pada zaman awal dunia diciptakan akan terjadi lagi. Kondisi ini megancam masadepan dan menimbulkan kegelisahan banyak pihak.

    Untuk menjawab kegelisahan ini, gereja harus segera bertindak turun tangan merebut pergaulan mereka. Gereja yang dimaksudkan secara khusus adalah para pemimpinnya (Pendeta/Gembala, Rohaniwan, Majelis dan pengurusnya). Para pemimpin inilah yang pertama-tama harus menangkap visi dan pewahyuan, lalu meminta hikmat Tuhan untuk mengerjakannya. Mau tidak mau, suka atau tidak suka para pemimpin gereja inilah yang berjuang keras merangkul anak-anak muda yang setia dan takut akan Tuhan untuk berkreasi dan berinovasi bahkan rela mendanai sebuah kegerakan anak muda agar hidup lebih baik.

    Gereja harus mulai memikirkan, merumuskan, dan membuat komunitas-komunitas yang sama namun beda. Sama dalam artian kebutuhannya, namun beda muatannya. Muatan yang dimaksud adalah ‘isi kebenaran Firman Tuhan’ yang diaplikasikan secara kontekstual dan tepat sasaran. Jauhkan dulu dari keinginan rutinitas aktivitas ‘liturgi ibadah’ dalam ‘kotak gereja’. Namun lebih intens dalam bergaul dari hati ke hati terlebih dahulu. Ibarat memancing ikan jenis kakap, begitu juga dalam merangkul anak-anak remaja dan pemuda. Tangkaplah lebih dahulu dan ajak bermain bersama, jangan buru-buru dimasukkan dalam ‘karantina rohani’. Kita musti membalikkan keadaan melalui “pergaulan yang baik, pasti akan memperbaiki kebiasaan yang buruk.” Gereja harus membangun sebuah pergaulan yang sehat untuk anak-anak remaja pemuda ini, hingga mereka menemukan jalan kebenaran dan keberhargaan hidup. Hal ini akan menjadi pondasi yang kuat untuk mencintai dan melayani Tuhan sepanjang masa.

    Selain kedua medan berbahaya di atas, masih ada beberapa medan yang lumayan berbahaya juga. Yakni; medan perhatian, medan keakuan, dan medan pekerjaan. Kebutuhan anak-anak remaja pemuda akan kebutuhan ‘untuk diperhatikan’ sangatlah tinggi. Jika mereka tidak mendapat perhatian dan kasih sayang dari orangtua, maka mereka akan mencari perhatian dari pihak lain. Akan sangat disayangkan jika perhatian itu di dapatkan dari pihak yang tidak benar jalan hidupnya (berlawanan dengan Firman Tuhan). Selain perhatian, mereka juga sedang ingin menonjolkan keakuannya (egosentris). Merasa dirinya yang paling ‘ter-‘ dari segalanya; terganteng, tercantik, terpandai, terseksi, dan ‘ter-‘ ‘ter-‘ yang lainnya. Hal ini belum mereka sadari bahwa suatu kelak, semua itu akan menjatuhkan dirinya sendiri. Yang terakhir adalah kebutuhan akan penghasilan atau income. Rata-rata yang sudah lulus dari bangku SMU maupun kesarjanaan, mereka akan mencari pekerjaan. Di dunia pekerjaan inilah segala godaan dan cobaan datang bagaikan peluru yang memberondong kehidupannya. Pada kondisi inilah banyak dari mereka yang mulai berguguran imannya. Di sinilah peran penggembalaan sangat dan teramat dibutuhkan, gembala yang dapat merawat, menuntun, melindungi dan memberi makan untuk kepuasan dan ketenangan fisik dan batinnya.

    Penutup
    Saya punya harapan bahwa apa yang saya tuliskan di atas bukan hanya sekedar bahan bacaan saja. Melainkan untuk segera ditindaklanjuti. Kepada para Hamba Tuhan, para senior saya; baik yang sudah menjadi gembala jemaat maupun yang belum, dan kepada rekan-rekan sejawat yang terpanggil dalam melayani domba-domba Tuhan, serta kepada para Majelis dan pengurus gereja, marilah dengan segera kita bertindak memberikan perhatian penuh terhadap generasi muda. Dengan mengingat pesan Rasul Petrus ;

    “Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. (I Petrus 5:2)


    Sekali lagi mari kita gembalakan para domba muda ini dengan rela hati dan bukan karena paksaan, serta dilandasi oleh semangat pengabdian diri.
    Ada baiknya juga mengumpulkan beberapa pemimpin dan domba-domba muda yang sudah aktif untuk menyatukan visi, merumuskan misi dan menciptakan kreasi yang lebih menarik dari yang dunia tawarkan. Semua ini butuh dukungan besar, mulai dari doa dan puasa, pemikiran yang selalu baru, tenaga, bahkan ‘duit besar’ juga. Tapi semua ini bukan sesuatu yang tidak mungkin untuk dilakukan, sebab kita punya ahlinya ketidakmungkinan/kemustahilan. Yaitu Yesus Kristus Tuhan kita Sang Gembala yang Baik. Selamat menggembalakan, Soli Deo Gloria.

    Gereja Bersalah!!!

    Oleh: Sefnat A. Hontong

    Di sekitar kita, pada satu pihak ada banyak saudara yang tidak sehat, putus sekolah, tinggal di gubuk derita, tidak punya HP, TV, apalagi sepeda motor karena tidak beruntung menjadi orang yang banyak rejeki. Sementara pada pihak yang lain, ada juga beberapa saudara kita yang suka mabuk-mabukan, gunakan narkoba, jalan-jalan ke tempat ‘hiburan’ sebagai kebutuhan hidup karena bebas menggunakan duitnya. Paling banter dari semua itu adalah ternyata ada beberapa saudara lain yang menjadi preman, PSK, pengedar togel dan koruptor untuk membiayai hidupnya. Pertanyaan saya adalah: mengapa bisa begitu ya……?

    Banyak orang sudah memberi jawab terhadap pertanyaan dan fenomena tersebut. Ada yang mengaitkannya dan berpendapat bahwa sebagian dari fakta di atas disebabkan oleh ‘dosa’ pribadi dan ‘dosa’ turunan. Dalam artian bahwa beberapa dari fenomena itu bisa terjadi karena ‘kutuk’ kepada orang-orang yang ‘tidak setia’ bahkan telah ‘melawan’ kebenaran tertentu yang diklaim sebagai kehendak Tuhan, misalnya: malas, tak peduli, tidak punya semangat wirausaha, apatis, dan konsumtif. Ada juga yang menegaskan bahwa beberapa perbuatan a-moral di atas bisa terjadi karena kurangnya pendidikan moral dalam keluarga, masyarakat, dll.

    Dalam kacamata saya, yang agak kabur-kabur sedikit, melihat bahwa fenomena-fenomena yang terjadi itu justru disebabkan oleh ‘dosa’ struktur yang kemudian memaksa setiap pribadi maupun kelompok untuk ‘terjun bebas’ ke dalamnya dan menjadi tercemar. ‘Dosa’ struktur yang saya maksudkan ialah telah terjadi sebuah kesalahan besar dalam hal membangun struktur hidup dalam masyarakat, baik oleh para elite yang berada dalam sebuah lembaga dalam masyarakat, beserta dengan lembaganya, maupun oleh masyarakat sendiri dalam pola pikir dan penghayatan-penghayatan ideologisnya. Hans K?ng menyebutkan hal ini sebagai kesalahan terbesar dalam membangun paradigma kehidupan.

    Terkesan seolah-olah saya mau menghindari ‘dosa’ pribadi. Bukan itu tujuan saya. Saya sangat sadar dengan ‘dosa’ pribadi. Namun bagi saya, kesadaran mengenai adanya ‘dosa’ pribadi jangan dimaknai sebagai sesuatu yang terlepas begitu saja dari gayutan dan pengaruh ‘angin topan’ serta jerat ‘dosa’ struktur buatan tangan dan ide kita sendiri; malah ke situlah sebenarnya arah dan orientasi kesadaran mengenai ‘dosa’ pribadi. Ibarat kertas putih yang dicoret-coret sehingga menjadi kotor, tabularasa-nya Jhon Lucke.

    Fakta empiristis seperti itu akan lebih menarik apabila kita menghubungkannya dengan diskusi yang dibangun oleh J?rgen Habemas dalam seluruh struktur berpikirnya. Bagi saya, konsep berpikir J?rgen Habermas jika dibuat secara sederhana akan memberi kesimpulan kepada kita bahwa ia sebenarnya sedang mengkritisi pola pikir dan paradigma ideologis masyarakat yang cenderung dikotomis dalam realitas. Misalnya bisa kita lihat dalam teori ‘tindak-tutur’ yang dirumuskannya, yakni: “fakta kebenaran adalah tidaklah seperti benda atau peristiwa di muka bumi yang disaksikan atau didengar atau dilihat, diputus atau dijungkir-balikkan, disela atau diperpanjang, ditendang, dihancurkan, diperbaiki atau berbunyi nyaring’, melainkan adalah tindakan oleh subjek yang bertindak. Artinya, sebuah komunikasi tentang kebenaran yang hendak disampaikan oleh seseorang kepada orang lain, bukan sebatas kata-kata saja, namun harus teraktualisasi dalam tindakannya. Inilah fakta dari sebuah komunikasi yang sesungguhnya tentang kebenaran. Oleh karena itu, sebuah interaksi sosial (yang komunikatif) dalam masyarakat bagi Habermas adalah wadah dimana subjek-subjek yang berbicara dan bertindak menjalinkan ‘tindak-tutur’ mereka secara bersama-sama untuk saling membangun dan saling membagi.

    Menerapkan konsep berpikir Habermas tersebut ke dalam fakta yang saya sebut sebagai ‘dosa’ struktur di atas, maka paling-tidak, kita harus sepakat bahwa sejumlah fenomena ‘negatif’ yang muncul dalam realitas masyarakat, seperti yang saya sebutkan di atas, salah satunya disebabkan oleh kecenderungan masyarakat dalam membangun struktur hidupnya dalam jalur reality-dichotomistic. Dimana dalam struktur berpikir seperti ini orang selalu memandang ada dunia ‘sorgawi’ dan dunia ‘duniawi’. Dalam bahasa Habermas bisa disebut sebagai fakta kekurangan dalam rangka komunikasi yang efektif dalam masyarakat, sebab orang terbiasa melakukan pemisahan antara tindakan dan tuturan dalam berkomunikasi. Akibatnya adalah terjadi ketidak-seimbangan dalam merancang kehidupan beserta program-program pengembangannya, baik oleh individu (keluarga) maupun oleh lembaga-lembaga sosial dalam masyarakat. Tidak jarang, hal ketidak-seimbangan itu turut memberi ruang bagi terciptanya tindakan manipulatif dan ‘penipuan’ penampilan setiap person dan masyarakat dalam hidupnya. Karena orang pada umumnya berpikir bahwa tindakan manipulatif dan ‘penipuan’ wajah diri itu adalah urusan masing-masing pribadi nanti di dunia ‘sorgawi’ di sana. Orang tidak diajak sama sekali untuk berpenampilan jujur dan tulus dalam dunia ‘duniawi’-nya, karena tokh dunia ‘duniawi’ ini adalah ‘jahat’.

    Dalam kehidupan menggereja, paling-tidak yang bisa saya lihat, dalam konteks di Halmahera, kecenderungan membeda realitas dalam dua (2) bagian seperti itu masih cukup kuat. Sebenarnya juga menarik, karena pada satu pihak di kalangan para teolog (orang yang betul-betul membangun teologi) kesadaran adanya kritik dikotomistis seperti itu sudah cukup menjadi tekanan bahkan terkesan sedang dalam upaya dan kerangka membangun teologi jemaat. Namun di pihak yang lain, terutama berasal dari respon dan tanggapan warga jemaat justru terus menggoda untuk bertahan pada posisi dikotomistis seperti itu. Bukan hanya dari kalangan warga jemaat yang biasa dengan rada pendidikan yang standar, namun juga dari kalangan warga jemaat dengan intelektual yang lebih maju.

    Bagi saya, itulah ‘dosa’ dan kesalahan struktur, yang salah satunya justru diciptakan dan dihidupi oleh gereja. Dalam sejarah gereja di Halmahera (GMIH), fakta ini umumnya dianalisis sebagai akibat dari penekanan teologi pietisme yang dulu sangat digandrungi oleh para misionaris sehingga terwarisi hingga kini. Namun bukan itu saja, menurut penelitian James Haire, kenyataan itu juga diperkuat dan disupport oleh kultur dan tradisi masyarakat Halmahera yang lebih dekat pada pendekatan dan keyakinan akan hal-hal yang ‘rohani’ ketimbang yang jasmani. Akibatnya adalah paradigmatis dikotomistis itu tidak bisa dikekang secara gampang dalam sejarah GMIH. Hal ini masih membutuhkan waktu yang cukup panjang ke depan. Namun kesadaran yang muncul sekarang ini tentang dampak yang ditimbulkannya, bagi saya sudah menjadi sebuah modal yang besar untuk terus berpikir dan berteologi ke depan.

    Salah satu dasar Alkitab yang bisa saya kutip untuk memberi dukungan bagi upaya-upaya berteologi dalam rangka mengkritisi ideologi yang hidup dalam konsep reality-dichotomistic seperti itu adalah isi dari Khotbah Yesus tentang ‘Akhir Zaman’ sebagaimana yang dicacat oleh penginjil Matius dalam pasal 25:34-40. Singkat khotbah-Nya adalah: yang perlu dilakukan oleh gereja (secara institusi dan individu) adalah melayani sesamanya sebagai hal yang utama dalam menggariskan seluruh kebijakan hidup menggereja. Dimana apabila hal ini telah dilakukan secara efektik dan efisian, maka secara otomatis akan mendorong orang untuk bersyukur dalam kebaktiannya kepada Tuhan. Bukan sebaliknya, yang ditekankan dan diprogramkan sebagai yang utama oleh jemaat/gereja adalah dampak dari rasa syukur orang tersebut, yakni: program-program kebaktian, padahal ia belum sama sekali melayani sesamanya.

    Saya tidak mengatakan bahwa kebaktian itu tidak penting, namun dalam pandangan saya, kebaktian pada hakekatnya adalah akibat dan rasa syukur orang setelah ia menyelesaikan tugas-tugas melayani sesamanya. Jadi, yang wajib diatur dan diprogramkan oleh gereja/jemaat adalah bagaimana ia harus melayani sesama, bukan bagaimana orang harus rajin masuk kebaktian dan bagaimana kebaktian bisa berjalan, sekalipun hal ini penting. Dalam konteks berpikir seperti itu-lah, maka apabila ada fenomena negatif yang muncul dalam masyarakat sebagaimana yang telah saya sebutkan beberapa diantaranya di atas, maka gereja-lah yang paling utama harus berada di garda depan dalam mencari solusinya, dan bukan hanya berdoa saja, apalagi mengutuknya sebagai sesuatu yang ‘jahat’ dan menjauhinya. Apabila hal ini masih dilakukan oleh gereja, yaitu: hanya mengatur kebaktian sebagai program utamanya, dan mengesampingkan pelayanan terhadap manusia dan sesamanya (termasuk lingkungan hidup), maka sikon seperti inilah yang saya maksudkan dalam pernyataan ‘Gereja Bersalah!!!’

    Situs penulis: http://sefnathontong.blogspot.com/

    Gereja Dan Sakramen

    Oleh: Wiempy Wijaya

    Shalom Aleichem, Di bawah ini akan saya bahas mengenai Gereja Dan Sakramen.

    1. Apakah yang dimaksud dengan gereja ? Gereja berasal dari kata Ekklesia yang berarti di panggil keluar untuk berkumpul. Dalam Perjanjian Baru berarti kumpulan orang-orang yang di panggil keluar dari dunia yang berdosa, lalu dipisahkan untuk melayani Kristus ( 1 Petrus 1 : 1 - 2 )
    2. Apa yang dimaksud dengan gereja yang am ? Gereja am artinya persekutuan orang yang percaya di seluruh dunia sebagai anggota tubuh Kristus. Pengakuan bahwa gereja am terdapat di dalam Pengakuan Iman Rasuli.
    3. Apa yang dimaksud dengan gereja lokal ? Gereja lokal ialah persekutuan orang-orang percaya dalam suatu lokasi tertentu yang mengatur diri sendiri.
    4. Apakah sifat gereja itu ?
    * Sbg Tubuh Kristus ( Efesus 4 : 15 - 16 )
    * Sbg Mempelai ( Efesus 5 : 22 - 27 )
    * Sbg Bait Allah Rohani.
    5. Mengapa di dunia ini banyak terdapat aliran gereja ? Banyaknya gereja adalah akibat kebebasan yang Tuhan berikan kepada gereja lokal untuk mandiri. Namun seringkali juga di sebabkan perbedaan pandangan. Misalnya gereja Protestan keluar dari gereja Roma Katolik karena Martin Luther ingin menegakkan kebenaran Allah yg telah dilanggar oleh gereja Katolik Roma waktu itu.
    6. Darimanakah asal usulnya gereja Protestan ? Gereja Protestan berasal dari gereja Roma Katolik. Pada abad ke-16 pemimpin gereja Roma Katolik telah menyesatkan umat Tuhan maka seorang uskup bernama Martin Luther dan pengikutnya memprotes tingkah laku pemimpin mereka. Akibatnya Martin Luther dan pengikutnya dikucilkan dan diberi gelar protestan yang artinya si tukang protes.
    7. Kapankah gereja mulai didirikan ? Menurut penafsiran pada umumnya gereja berdiri pada hari turunnya Roh Kudus di kota Yerusalem. Dan jemaat yang pertama ialah 3000 orang yang bertobat mendengar khotbah Petrus pada waktu itu ( Kisah Para Rasul 2 )
    8. Siapakah pendiri gereja dan apakah dasarnya ? Pendiri dan dasar gereja ialah Kristus ( 1 Korintus 3 : 11 )
    9. Apakah Matius 16 : 18 menunjukkan bahwa Petruslah dasar gereja ? Para penafsir cenderung mengatakan bahwa gereja didirikan diatas pengakuan Petrus dan bukan atas pribadi Petrus.
    10. Apakah tugas dari gereja ?
    * Memuliakan Allah
    * Mengabarkan Injil ( Matius 28 : 18 - 20, Kisah Para Rasul 1 : 8 )
    * Membaptiskan orang percaya ( Matius 28 : 20 )
    * Mengajar orang percaya ( [Matius 28 : 20 )
    * Diakonia (Pelayanan Sosial) ( Kisah Para Rasul 6 : 1 - 7 )
    * Menyelenggarakan Sakramen ( 1 Korintus 11 : 23 - 26 )
    * Menjaga kesucian jemaat ( 1 Korintus 5 : 1 - 8 )
    * Mendoakan pemerintah ( 1 Timotius 2 : 1 - 2 )
    11. Siapakah pejabat gereja itu ?
    * Tuhan mengutus gembala, guru, pengajar untuk melengkapi jemaat-Nya supaya bertumbuh ( Efesus 4 : 11 - 16 )
    * Diakon ( 1 Timotius 2 : 1 - 2 )
    12. Apakah yang dimaksud dengan Sakramen ? Sakramen adalah upacara khusus yang diajarkan oleh Yesus dan para Rasul yang semuanya tercatat dalam Alkitab dan sering dilakukan dalam kehidupan orang Kristen mula-mula.
    13. Ada berapa Sakramen bagi orang Kristen Protestan ? Alkitab mengajarkan ada dua buah Sakramen yaitu Sakramen Baptisan dan Sakramen Perjamuan Kudus ( Matius 28 : 19, 1 Korintus 11 : 23 - 26 )
    14. Apakah arti Sakramen Baptisan ?
    1. Kesaksian seorang pengikut Yesus kepada keluarganya, orang banyak, dan Iblis bahwa dia sungguh-sungguh menjadi milik Kristus.
    2. Lambang mati dan bangkit bersama Kristus ( Roma 6 : 4 )
    3. Janji seorang murid Kristus.
    15. Apakah Baptisan Kudus dapat menyelamatkan manusia ? Baptisan Kudus ialah kesaksian bagi yang sudah diselamatkan sebab itu keselamatan harus mendahului baptisan. Baptisan hanya suatu lambang (dhi upacara) saja ( Kisah Para Rasul 8 : 36 - 37 )
    16. Kalau Baptisan hanya suatu lambang saja, apakah orang percaya harus menerima Baptisan Kudus ? Yesus sendiri dibaptis oleh Yohanes, dan Yesus memberi perintah untuk membaptiskan orang yang telah menerima-Nya ( Matius 28 : 19 - 20 ). Orang percaya namun tidak mau dibaptis sama seperti sepasang muda-mudi yang saling mengasihi namun tidak mau menikah selama-lamanya.
    17. Ada berapa carakah pembaptisan itu ?
    * Baptis Selam --> Badan orang percaya dimasukkan kedalam air seluruhnya.
    * Baptis Percik --> Orang percaya hanya dipercik air sedikit saja.
    18. Cara baptis yang bagaimanakah yang sering dipakai di dalam Alkitab ? Cara selam adalah yang paling sering dipakai, namun tidak di persoalkan apakah harus di air yang mengalir atau tidak.
    19. Apakah arti Perjamuan Kudus itu ? Perjamuan Kudus diadakan untuk mengenang dan memberitakan kematian dan kedatangan Yesus yang kedua kalinya.
    20. Apakah yang dilakukan dalam Sakramen Perjamuan Kudus ? Orang-orang percaya bersama-sama dengan saudara seiman mereka memecahkan roti tidak beragi dan minum anggur, seperti yang di perintahkan oleh Yesus ( Kisah Para Rasul 2 : 41 - 42 )
    21. Siapa sajakah yang membaptis atau memimpin Perjamuan Kudus ? Alkitab tidak menjelaskan hal ini, namun menurut tradisi, bahwa orang yang mempunyai tanggung jawab paling besarlah dalam bidang kerohanian yang akan memimpin upacara ini. Misalnya : Pendeta, Guru Injil, Tua-tua (sekarang disebut Penatua) atau Majelis
    22. Ada gereja yang hanya menggunakan anggur yang sejati (asli), dan kalau tidak ada maka tidak diadakan Perjamuan Kudus ? Bagaimanakah sikap gereja kita terhadap hal tsb ?

    Alangkah baiknya jika upacara Perjamuan Kudus itu diadakan semirip mungkin dengan Perjamuan Malam Yesus beserta murid-murid-Nya, namun jika berada dalam lokasi yang tidak memungkinkan memperoleh anggur sejati, anggur pengganti pun diperbolehkan untuk dipakai. Yg perlu ditekankan disini adalah yg penting dlm acara Perjamuan Kudus hati kita terarah penuh dan rindu untuk mengenang kembali apa yg telah dilakukan Tuhan Yesus beserta murid-murid-Nya pada waktu itu.

    Gereja Efesus ( Hari Pentakosta 30 AD - 100 AD )

    Oleh:Andre Widodo

    Gereja Efesus dikategorikan oleh para ahli Alkitab sebagai Gereja Kerasulan atau Apostolic Church. Masa Gereja Kerasulan dimulai dari saat Hari Pentakosta pada tahun 30 AD sampai dengan tahun 100 AD.Ciri khas Gereja Kerasulan ini adalah mereka mempunyai semangat/gairah yang besar dalam hal penginjilan. Pada masa itu,seluruh anak-anak Tuhan begitu berapi-api untuk memberitakan Keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.Dan banyak kaum Yahudi yang bertobat dan terima
    Yesus sebagai
    Tuhan dan Juruselamat. Cerita tentang Gereja Efesus dapat dibaca di Kisah 18:19 sampai Kisah 19:11.

    Jika kita melihat di Peta Alkitab,kota Efesus ini berada di Asia Kecil,saat ini berada di wilayah negara Turki.Kota Efesus kuno sudah terkenal dengan penyembahan berhalanya kepada dewi Artemis.Tetapi walupun berada dalam lingkungan sekelilingnya yang menyembah berhala,gereja Efesus tercatat sebagai gereja yang setia dan penuh semangat penginjilan.Kisah penginjilan Paulus bersama jemaat Efesus
    dapat dibaca di Kisah 20:17-38.Dalam ayatnya yang ke 19 dikatakan bahwa perjuangan Paulus bersama anak-anak Tuhan di Efesus penuh dengan
    cobaan dan cucuran air mata.

    Arti kata Efesus adalah kerinduan yang satu.Ini menggambarkan kerinduan anak-anak Tuhan saat itu untuk mengabarkan Injil ke seluruh penjuru dunia.Hal ini dapat dilihat di Peta Alkitab dimana ke-Kristenan berkembang mulai dari kota Antiokhia,terus ke barat ke daerah Asia Kecil,ke Macedoniadan sampai ke Roma. Saat itu kota Roma
    adalah pusat pemerintahan Kerajaan Romawi kuno.

    PUJIAN untuk Gereja Efesus
    Wahyu 2:2-3

    Aku tahu segala pekerjaanmu:baik jerih payahmu maupun ketekunanmu.Aku tahu bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat,bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul,tetapi yang sebenarnya tidak demikian,bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena NamaKu dan engkau tidak mengenal lelah.

    Tuhan Yesus mengerti benar jerih payah dan ketekunan mereka dalam pelayanan gereja.Seperti yang telah kita baca di Kisah 20:19,mereka berjuang dengan penuh cucuran air mata dan pencobaan.Mereka tetap setia kepada Kristus.TuhanYesus akan selalu mengingat jerih payah dan pengorbanan mereka yang mengasihiNya.Matius 10:42.

    Dr. M.R DeHaan salah seorang pengajar Alkitab pernah mengatakan : TO
    COME TO CHRIST COST NOTHING,TO FOLLOW CHRIST COST SOMETHING,BUT TO
    SERVE CHRIST COST EVERYTHING.

    Matius 10:39 menjelaskan tentang hal ini.

    Gereja Efesus tercatat sebagai gereja yang murni dimata Tuhan.Mereka tidak membaurkan diri dengan kebudayaan berhala disekeliling mereka saat itu.Masyarakat sekeliling mereka adalah penyembah dewi Artemis.Ini adalah suatu pengorbanan juga,untuk tetap menjaga kemurnian agar tidak tercemar oleh budaya penyembahan berhala.

    GEREJA dalam bahasa Yunani adalah ECCLESIA, artinya adalah MEREKA YANG
    DIPANGGIL KELUAR.

    Gereja adalah kumpulan orang yang dipanggil keluar dari kegelapan untuk masuk ke TERANG FIRMAN TUHAN.Dipanggil keluar dari keduniawian untuk masuk ke dalam TERANG FIRMAN TUHAN. Itulah arti kata gereja.

    Gereja memang masih ada di dunia ini,tetapi gereja bukan berasal dari dunia ini dan Hades/alam maut tidak akan menguasainya.Matius 16:18b.Karena gereja adalah ECCLESIA,maka gerakan gereja untuk menjadi ECUMANIA/Oikumene adalah sangat tidak Alkitabiah.

    Gerakan ECUMANIA adalah gerakan penyatuan gereja untuk membuat satu
    gereja dunia,tidak melihat latar belakang pengakuan imannya. Gerakan ECUMANIA ini membuat gereja yang SUDAH DIPANGGIL KELUAR DARI KEDUNIAWIAN,kembali lagi ke KEDUNIAWIAN.Hal ini membuat gereja berbaur dengan roh-roh dunia ini dan tidak menguduskan dirinya lagi.

    TEGURAN untuk Gereja Efesus

    Wahyu
    2:4

    Namun demikian Aku mencela engkau,karena engkau telah meninggalkan
    kasihmu yag semula.

    Walaupun hanya 1 macam teguran,tapi teguran ini sangat serius,yaitu meninggalkan kasih kita yang mula-mula.Hal ini terjadi ketika generasi para rasul telah tinggal sedikit karena sebagian dari mereka telah menjadi martir karena Nama Yesus.Yang tertinggal dari generasi para rasul hanya rasul Yohanes.Meskipun jemaat Efesus mengasihi Tuhan tetapi mereka kehilangan kasih yang spontan kepada Kristus.Mereka kehilangan kasih yang meluap-luap ketika saat pertama kali berjumpa Kristus.

    FIRST LOVE EXPERIENCE atau Kasih yang semula kepada Kristus, jangan
    sampai kita kehilangan yag satu ini.

    NASIHAT untuk Gereja Efesus

    Wahyu 2:5

    Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan.Jika tidak demikian,Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya,jkalau engkau tidak bertobat.Kembali kepada Kasih yang semula.Jika kita mengasihi Tuhan maka kita akan mematuhi perintah-perintahNya.

    Yohanes 14:15
    Jikalau kamu mengasihi Aku,kamu akan menuruti segala perintahKu

    Wahyu 2:6
    Tetapi ini yang ada padamu,yaitu engkau membenci segala perbuatan
    pengikut-pengikut Nikolaus yang juga Ku benci.

    Apa itu doktrin Nikolaus?

    Doktrin Nikolaus adalah doktrin yang mengajarkan bahwa masyarakat awam
    tidak boleh mengambil bagian dalam setiap urusan gereja tapi justru mereka harus taat kepada setiap keputusan gereja.Taat secara buta.Taat tanpa ada pertanyaan.

    Nikolaus berasal dari kata Yunani. Niko : artinya mengatasi. Laos :
    artinya orang awam.

    Jadi kalau ada jemaat yang ingin bertanya sesuatu tentang Firman Tuhan,gereja tidak mau memberikan penjelasannya.Pokoknya turuti saja.Kemudian mulai dibentuk hirarki-hirarki di dalam lembaga kegerejaan sepaerti kepasturan,keuskupan,kekardinalan dan kepausan.Ini menyebabkan gereja-gereja lokal menjadi budak dari sekelompok orang-orang tertentu.Tingkat keimanan seorang pemimpin gereja menjadi tolok ukur keimanan gereja itu.

    Akibat dari doktrin Nikolaus ini membuat gereja-gereja menjadi lebih bergantung kepada manusia dan tidak bergantung pada Roh Kudus.Padahal Tuhan Yesus berkata di Yohanes 16:13…ROH KUDUS,IA AKAN MEMIMPIN KAMU KE DALAM SELURUH KEBENARAN.

    Intinya adalah:
    Jika satu orang manusia mulai mengontrol kerohanian seseorang dan mengontrol/mendominasi kerohanian di gerejanya,maka Roh Kudus dikalahkan oleh orang itu.Ia yang memimpin gereja,bukan Roh Kudus lagi.

    Doktrin ini merusak banyak jemaat dan tidak membuka Kebenaran Firman
    Tuhan.

    Selain itu,doktrin Nikolaus ini juga mengajarkan pemisahan antara roh dan fisik.Maksudnya adalah percaya kepada Yesus akan menyelamatkan roh
    manusia,tetapi fisik/kedagingan manusia tetap boleh dipuaskan. Dengan doktrin ini,manusia diberikan alasan untuk melegalkan dosa.

    Hal-hal seperti ini masih kita jumpai sekarang.Contoh : anak-anak Tuhan yang sudah percaya Yesus tetapi masih merokok,atau masih minum alcohol atau kedagingan lainnya.Nanti kalau ke gereja kita bisa minta ampun pada Yesus.

    Itu adalah salah satu praktek doktrin Nikolaus.

    Doktrin Nikolaus ini membuat gereja-gereja menjadi lebih manusiawi dan
    tidak bergantung pada Roh Kudus.

    PENGHARGAAN
    untuk Gereja Efesus

    Wahyu 2:7b

    Barang siapa menang,dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang
    ada di Taman Firdaus Tuhan. Pohon kehidupan adalah lambang dari kehidupan kekal.

    Siapakah itu para pemenang?

    1 Yoh.5:4-5
    Sebab semua yang lahir dari Tuhan mengalahkan dunia.Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia : IMAN KITA.Siapakah yang mengalahkan dunia?selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Tuhan.

    Demikian pembahasan Gereja Efesus di Wahyu 2:1-7. Selanjutnya adalah Gereja Smirna dimulai dari than 100 AD ­ 312 AD. Pembahasan Gereja Smirna akan dilanjutkan nanti Tuhan Yesus memberkati Shalom

    Gereja Filadelfia ( 1700 AD ­ Rapture)

    Oleh: Andre Widodo

    Wahyu 3:7-13

    Gereja Filadelfia dikategorikan oleh para ahli dan sarjana Alkitab sebagai Gereja Yang Kristus Kasihi atau The Church Christ Loved.Masa Gereja Filadelfia dimulai dari tahun 1750 AD sampai dengan Rapture/Pertemuan di angkasa.

    Penjelasan tentang Rapture ada di 1 Tesalonika 4:13-18.Rapture adalah masa ketika Tuhan Yesus menjemput mempelaiNya yang kudus di awan-awan,sehingga mempelaiNya yang kudus ini DILUPUTKAN dari Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Tetapi kepada mempelaiNya yang tidak siap sedia,Tuhan akan mengijinkan mereka untuk masuk ke dalam Masa 7 Tahun Kesusahan Besar. 7 Tahun Masa Kesusahan Besar adalah masa selama 7 tahun murka Tuhan dicurahkan ke dunia ini untuk memberikan penghukuman. Dalam masa ini Antichrist akan menyatakan dirinya dan siapa yang memakai tanda bilangan namanya yaitu 666,akan dilupakan Tuhan selamanya. Mari kita kembali ke Gereja Filadelfia.

    Setelah melewati masa-masa gereja yang menyedihkan mulai dari Gereja Pergamus,Gereja Tiatira dan Gereja Sardis,kini kita tiba di masa Gereja Filadelfia.Dalam masa Gereja Filadelfia kita akan menemukan beberapa hal yang akan membuat kita mengerti gereja seperti apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Kalau kita melihat Peta Alkitab,kota Filadelfia terletak di Asia Kecil.Kota ini merupakan kota pusat dari kebudayaan Yunani kuno dan didirikan kira-kira 189 tahun sebelum Masehi.Kota Filadelfia mempunyai jemaat-jemaat Kristus yang selalu memegang teguh Firman Tuhan,kota ini tetap ada sampai pertengahan abad 14,ketika Kerajaan Turki menaklukan kota Filadelfia.

    Arti kata Filadelfia adalah KASIH PERSAUDARAAN.Setelah lahirnya Gerakan Reformasi Protestant,ternyata gereja-gereja Protestant yang lahir ini menjadi gereja-gereja negara.Gereja-gereja ini kembali dikontrol oleh politikus-politikus negara.Pada masa Gereja Sardis ini lahirlah Church of England,Church of Holland,Church of France dan lain-lain gereja di setiap negara Eropa yang keluar dari system ke hirarkian Katholik yang berpusat di Vatikan,Roma.

    Karena Gerakan Reformasi ini membuat gereja menjadi gereja negara maka membuat gereja lebih bergantung kepada pemimpin-pemimpin negara bukan kepada Roh Kudus.Hal ini membuat Gereja Sardis kehilangan api Roh Kudus sehingga gereja­gereja ini menjadi dingin dan mati. Tetapi hal ini tidak terjadi pada zaman Gereja Filadelfia.Gereja Filadelfia dikenal karakternya sebagai gereja yang selalu semangat akan Firman Tuhan.Pada zaman Gereja Filadelfia,Tuhan bekerja dengan cara luar biasa karena melihat semangat anak-anakNya yang selalu rindu akan Firman Tuhan.Sebagai akibat dari penterjemahan Alkitab ke dalam banyak bahasa,banyak anak-anak Tuhan mulai mengerti Firman Tuhan.Revival mulai terjadi.Gerakan revival terjadi di mana-mana di Eropa.Mulai dari Inggris sampai menyebar ke Amerika. Gerakan revival ini yang kita kenal sebagai gerakan misionaris modern ke manca negara.

    Pada tahun 1793 di Inggris seorang tukang tambal sepatu bernama William Carey,karena begitu cinta akan Firman Tuhan,ia pergi menginjil ke India dan ia tercatat sebagai misionaris asing pertama dari Inggris.Roh Kudus terus bekerja,setelah William Carey,Tuhan menggerakkan Adoniram Judson,David Livingstone,Jonathan Goforth dan lain-lain. Tuhan menggerakkan mereka ke Afrika,China,Jepang,Korea,Amerika Selatan dan semua pulau-pulau di dunia. Mengapa banyak revival terjadi saat itu? KARENA ALKITAB BOLEH DIBACA OLEH KALANGAN UMUM. KARENA ALKITAB BANYAK DITERJEMAHKAN KE DALAM BAHASA BAHASA LAIN. KARENA SEMANGAT ANAK-ANAK TUHAN ZAMAN FILADELFIA INI YANG SELALU HAUS AKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN.

    Jadi,saat William Carey masih muda,ia membaca Matius 28:19-20,yaitu perintah Tuhan Yesus untuk” Pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu”,William Carey langsung terpanggil untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang tambal sepatu menjadi penginjil. Hal lain yang menyebabkan banyak terjadinya gerakan misionaris ini adalah banyak anak-anak Tuhan pada tahun 1750 AD dan seterusnya mempelajari tentang tanda-tanda Akhir Zaman. Mereka mempelajari tanda-tanda Tuhan Yesus mau datang yang ke dua kalinya. Mereka terpanggil untuk memberitakan Injil Kristus Yesus kepada setiap suku bangsa di muka bumi ini yang belum pernah mendengar berita Injil.

    Semakin kita tahu tanda-tanda kedatanganNya semakin dekat,semakin giat kita memberitakan Injil,sehingga membuat orang-orang yang jauh dari Tuhan bertobat dan kembali kepada Kristus Yesus. Mari kita bahas Wahyu 3:7. Ada 4 karakter Tuhan Yesus yang dinyatakan di Wahyu 3:7.

    Yang Kudus,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita akan kekudusan-Nya. Adalah baik jika kita melihat ayat lain yang terdapat di 1 Petrus 1:16.”Kuduslah kamu,sebab Aku kudus. Ayat ini mengingatkan kita bahwa karakter kita harus kudus,karena Tuhan kita pun kudus. Gereja-gereja pada zaman Filadelfia ini, mereka memisahkan diri dari sistem kenegaraan dan dari sistem ke hirarkian di Katholik,lalu menjadi gereja yang mandiri dan hanya bergantung kepada Roh Kudus.Mereka belajar menjadi gereja yang kudus.

    Yang Benar,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita bahwa hanya Dialah satu-satunya yang Benar. Sama seperti yang terdapat di Yohanes 14:6,bahwa Yesuslah KEBENARAN itu. Musa tidak memberikan roti hidup,tetapi Yesuslah ROTI HIDUP itu. Tidak ada kebenaran di dalam dunia ini selain di dalam KEBENARAN Kristus Yesus.

    Yang memegang kunci Daud, Daud adalah raja Israel yang berkuasa mengalahkan lawan-lawannya di Kanaan. Pada masanya Israel berjaya. Tuhan Yesus memegang kunci Daud artinya adalah Dialah sumber kemenangan-kemenangan kita. Yesuslah yang menjadi pahlawan kita. Apabila Ia membuka,tidak ada yang dapat menutup,apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Yang dimaksud di ayat ini adalah tentang pintu penginjilan.Tuhan telah memberikan perintah,pergilah,jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Pintu penginjilan ini yang mengontrol adalah Tuhan kita sendiri,Tuhan Yesus Kristus.Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuka/menutup pintu penginjilan ini.

    PUJIAN
    Wahyu 3:8
    Aku tahu segala pekerjaanmu,lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu. Tuhan Yesus telah membuka pintu penginjilan,maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh banyak anak-anak Tuhan untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia.Tuhan tahu bahwa kekuatan kita tidak banyak,tetapi seperti kata Roh Kudus kepada Paulus,”Ketika aku lemah,justru di situ aku kuat”.Di saat kedagingan kita lemah,justru di situ Tuhan ada dan memberikan kita kekuatan.

    Namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu, anak-anak Tuhan masa Filadelfia ini,dari tahun 1750 AD,mereka bukan saja percaya akan Firman Tuhan,tetapi mereka juga menjadi pelaku-pelaku Firman. Dan dalam mengabarkan Injil,mereka tidak menyangkal nama Yesus,sekalipun nyawa taruhannya. Gerakan Reformasi pada tahun 1520 AD yang melahirkan gerakan Protestant, mereka juga percaya akan Firman Tuhan. Mereka mulai membaca dan mendalami Firman Tuhan tetapi mereka belum berkarakter sebagai pelaku-pelaku Firman.Lain dengan Protestant angkatan tahun 1750 AD, mereka percaya akan Firman Tuhan dan menjadi pelaku-pelaku Firman.

    TEGURAN
    Tidak ada.Tuhan tidak menegur gereja-gereja zaman Filadelfia.

    JANJI
    Wahyu 3:9
    Lihatlah beberapa orang dari jemaah Iblis,yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi,tetapi yang sebenarnya tidak demikian,melainkan berdusta,akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku bahwa Aku mengasihi engkau. Dalam ayat ini,Tuhan Yesus berjanji bahwa semua orang yang menganut FALSE RELIGION atau yang disebut jemaah Iblis,mereka akan kembali kepada Kristus. FALSE RELIGION adalah praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, bertentangan dengan isi Alkitab.

    Seseorang bisa saja mengaku percaya kepada Yesus,tetapi tanpa ia sadari ia mempraktekkan FALSE RELIGION. Contohnya adalah penganut Saksi Yehova,Christian Science,Mormonisme,Advent Hari Ketujuh dan termasuk juga Katholik. FALSE RELIGION adalah cara Iblis yang ampuh untuk menyusupkan niat jahatnya secara halus ke dalam gereja sehingga gereja tanpa disadari menciptakan doktrin yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Karena itu, untuk mencegah terjadinya FALSE RELIGION/FALSE DOCTRINE ini, cara satu-satunya adalah mari kita semua BACK TO THE BIBLE. Mari kita semua anak-anak Tuhan kita kembali ke Alkitab.Dan kemudian kita beritakan Firman Tuhan yang ada di Alkitab ini.

    2 Timotius 4:2
    BERITAKANLAH FIRMAN,SIAP SEDIALAH BAIK ATAU TIDAK
    BAIK WAKTUNYA,NYATAKANLAH APA YANG SALAH,TEGORLAH DAN
    NASIHATILAH DENGAN SEGALA KESABARAN DAN PENGAJARAN.

    Wahyu 3:10
    Karena engkau menuruti firmanKu,untuk tekun menantikan Aku,maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. Ayat ini menegaskan kembali janji Tuhan kepada gereja-gereja Filadelfia,bahwa mereka akan Tuhan luputkan dari hari pencobaan.Tuhan akan meluputkan mereka dari Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Mereka akan Rapture sebelum dimulainya Masa 7 Tahun Kesusahan Besar. 7 Tahun Masa Kesusahan Besar adalah masa yang sangat mengerikan.Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang masa ini seperti yang tertulis di Matius 24:21.
    SEBAB PADA MASA ITU AKAN TERJADI SIKSAAN YANG DAHSYAT SEPERTI YANG BELUM PERNAH TERJADI SEJAK AWAL DUNIA SAMPAI SEKARANG DAN YANG TIDAK AKAN TERJADI LAGI.

    Saat itu sedang datang ke dunia ini.Tapi itu bukan bagian kita. Bagian kita adalah Rapture.Karena itu marilah kita dengan tekun BACK TO THE BIBLE.Kita kembali ke Firman Tuhan,dan kita wartakan Firman Tuhan kepada dunia ini.Ingatkan akan hari pencobaan dahsyat yang akan datang ke dunia ini. Kita percaya bahwa masa kesusahan besar ini akan tiba saat Antichrist menandatangani perjanjian damai dengan Israel selama 7 tahun. Hal ini akan jelas kalau kita mempelajari Wahyu 4 sampai Wahyu 5. Dan Wahyu 6 membahas tentang awal 7 Tahun Kesusahan Besar itu.

    NASIHAT
    Wahyu 3:11
    Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak ada seorangpun mengambil mahkotamu.

    Aku datang segera,ini berarti bahwa tipe gereja ini masih tetap ada sampai sekarang. Saat ini tipe gereja Filadelfia masih ada.Anak-anak Tuhan yang selalu haus akan Firman Tuhan, yang selalu memberitakan Injil kepada dunia dan menyerukan pertobatan menjelang hari pencobaan besar di dunia ini. Karakter mereka adalah hati yang penuh revival akan Firman Tuhan. Dr,Adrian Rogers menyebutkan bahwa ada 3 hal penting dalam membangun jemaat yang berkarakter revival oleh Roh Kudus,yaitu EVANGELISM, MISSIONS dan BIBLE TEACHING.

    Gereja-gereja Tuhan saat ini haruslah mempunyai 3 karakter tersebut. Kita anak-anak Tuhan harus membangun karakter kita didasari oleh Firman Tuhan lalu melakukan evangelism, missions dan Bible Teaching. Untuk mencapai itu kita perlu BACK TO THE BIBLE. Problema yang ada di gereja-gereja Tuhan saat ini adalah mereka kurang memahami tentang Firman Tuhan. Kalau kita tidak memahami Firman Tuhan,bagaimana kita mau melakukan evangelism,missions dan Bible Teaching? Karena itu, melalui tulisan ini, saya mengajak saudara-saudara semua yang percaya kepada Kristus Yesus Tuhan, APAPUN DENOMINASINYA,untuk BACK TO THE BIBLE. Dengan BACK TO THE BIBLE, kita akan mengerti janji-janji Tuhan kepada kita anak-anakNya terutama tentang janji kedatanganNya yang kedua kali. Jadi kita akan semakin mempersiapkan diri menjelang kedatanganNya. Kita TIDAK TAHU kapan Ia datang,tetapi lebih baik kita BERJAGA-JAGA. Berjaga akan hidup kita, berjaga akan keluarga kita, berjaga akan saudara seiman kita dan berjaga akan dunia di luar kita untuk selalu SESUAI dengan Firman Tuhan/SESUAI dengan apa kata Alkitab. Ada mahkota yang Tuhan sediakan bagi kita.Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak lupa memberikan upah buat kita.Amin?

    PENGHARGAAN
    Wahyu 3:12
    Barangsiapa menang,ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ,dan padanya akan Kutuliskan nama AllahKu, nama kota AllahKu,yaitu Yerusalem baru,yang turun dari sorga dari AllahKu dan namaKu yang baru.

    Tuhan akan membuat kita menjadi sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu,SUNGGUH LUAR BIASA penghargaan yang Tuhan berikan kepada kita yang mau berkarakter seperti jemaat Filadelfia ini.Kita yang adalah hanya seorang manusia,tetapi Tuhan tempatkan sebagai sokoguru di BaitNya.

    Penulisan nama Tuhan ini adalah menunjukkan bahwa anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh,mereka akan diidentifikasikan Tuhan sebagai HIS BELOVED CHILDREN, yang mempunyai hak untuk masuk ke kota kudusNya, Yerusalem baru.Yerusalem baru ini dibahas di Wahyu 21:9 sampai Wahyu 22:6. Bagi kita yang setia pada Firman Tuhan,kita akan melihat Tuhan Yesus Kristus yang kita sembah, yang kita puji dalam Roh dan Kebenaran sesuai dengan Kebenaran Firman Tuhan. Kita akan melihat Tuhan kita FACE TO FACE. Haleluya!!!

    Ini akan menjadi pengalaman yang paling berharga,DAPAT FACE TO FACE dengan Tuhan Yesus.Ini tersedia bagi kita semua yang setia kepada Firman Tuhan dan tetap berakar di dalam Terang FirmanNya menjelang kedatanganNya. Demikian pembahasan Gereja Filadelfia,selanjutnya adalah pembahasan Gereja Laodekia dari tahun 1900 AD-Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.

    Gereja Filadelfia ( 1700 AD ­ Rapture)

    Oleh: Andre Widodo

    Wahyu 3:7-13
    GEREJA FILADELFIA
    Gereja Filadelfia dikategorikan oleh para ahli dan sarjana Alkitab sebagai Gereja Yang Kristus Kasihi atau The Church Christ Loved.Masa Gereja Filadelfia dimulai dari tahun 1750 AD sampai dengan Rapture/Pertemuan di angkasa.

    Penjelasan tentang Rapture ada di 1 Tesalonika 4:13-18.Rapture adalah masa ketika Tuhan Yesus menjemput mempelaiNya yang kudus di awan-awan,sehingga mempelaiNya yang kudus ini DILUPUTKAN dari Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Tetapi kepada mempelaiNya yang tidak siap sedia,Tuhan akan mengijinkan mereka untuk masuk ke dalam Masa 7 Tahun Kesusahan Besar. 7 Tahun Masa Kesusahan Besar adalah masa selama 7 tahun murka Tuhan dicurahkan ke dunia ini untuk memberikan penghukuman. Dalam masa ini Antichrist akan menyatakan dirinya dan siapa yang memakai tanda bilangan namanya yaitu 666,akan dilupakan Tuhan selamanya. Mari kita kembali ke Gereja Filadelfia.

    Setelah melewati masa-masa gereja yang menyedihkan mulai dari Gereja Pergamus,Gereja Tiatira dan Gereja Sardis,kini kita tiba di masa Gereja Filadelfia.Dalam masa Gereja Filadelfia kita akan menemukan beberapa hal yang akan membuat kita mengerti gereja seperti apa yang Tuhan Yesus kehendaki. Kalau kita melihat Peta Alkitab,kota Filadelfia terletak di Asia Kecil.Kota ini merupakan kota pusat dari kebudayaan Yunani kuno dan didirikan kira-kira 189 tahun sebelum Masehi.Kota Filadelfia mempunyai jemaat-jemaat Kristus yang selalu memegang teguh Firman Tuhan,kota ini tetap ada sampai pertengahan abad 14,ketika Kerajaan Turki menaklukan kota Filadelfia.

    Arti kata Filadelfia adalah KASIH PERSAUDARAAN.Setelah lahirnya Gerakan Reformasi Protestant,ternyata gereja-gereja Protestant yang lahir ini menjadi gereja-gereja negara.Gereja-gereja ini kembali dikontrol oleh politikus-politikus negara.Pada masa Gereja Sardis ini lahirlah Church of England,Church of Holland,Church of France dan lain-lain gereja di setiap negara Eropa yang keluar dari system ke hirarkian Katholik yang berpusat di Vatikan,Roma.

    Karena Gerakan Reformasi ini membuat gereja menjadi gereja negara maka membuat gereja lebih bergantung kepada pemimpin-pemimpin negara bukan kepada Roh Kudus.Hal ini membuat Gereja Sardis kehilangan api Roh Kudus sehingga gereja­gereja ini menjadi dingin dan mati. Tetapi hal ini tidak terjadi pada zaman Gereja Filadelfia.Gereja Filadelfia dikenal karakternya sebagai gereja yang selalu semangat akan Firman Tuhan.Pada zaman Gereja Filadelfia,Tuhan bekerja dengan cara luar biasa karena melihat semangat anak-anakNya yang selalu rindu akan Firman Tuhan.Sebagai akibat dari penterjemahan Alkitab ke dalam banyak bahasa,banyak anak-anak Tuhan mulai mengerti Firman Tuhan.Revival mulai terjadi.Gerakan revival terjadi di mana-mana di Eropa.Mulai dari Inggris sampai menyebar ke Amerika. Gerakan revival ini yang kita kenal sebagai gerakan misionaris modern ke manca negara.

    Pada tahun 1793 di Inggris seorang tukang tambal sepatu bernama William Carey,karena begitu cinta akan Firman Tuhan,ia pergi menginjil ke India dan ia tercatat sebagai misionaris asing pertama dari Inggris.Roh Kudus terus bekerja,setelah William Carey,Tuhan menggerakkan Adoniram Judson,David Livingstone,Jonathan Goforth dan lain-lain. Tuhan menggerakkan mereka ke Afrika,China,Jepang,Korea,Amerika Selatan dan semua pulau-pulau di dunia. Mengapa banyak revival terjadi saat itu? KARENA ALKITAB BOLEH DIBACA OLEH KALANGAN UMUM. KARENA ALKITAB BANYAK DITERJEMAHKAN KE DALAM BAHASA BAHASA LAIN. KARENA SEMANGAT ANAK-ANAK TUHAN ZAMAN FILADELFIA INI YANG SELALU HAUS AKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN.

    Jadi,saat William Carey masih muda,ia membaca Matius 28:19-20,yaitu perintah Tuhan Yesus untuk” Pergilah jadikanlah semua bangsa muridKu”,William Carey langsung terpanggil untuk meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang tambal sepatu menjadi penginjil. Hal lain yang menyebabkan banyak terjadinya gerakan misionaris ini adalah banyak anak-anak Tuhan pada tahun 1750 AD dan seterusnya mempelajari tentang tanda-tanda Akhir Zaman. Mereka mempelajari tanda-tanda Tuhan Yesus mau datang yang ke dua kalinya. Mereka terpanggil untuk memberitakan Injil Kristus Yesus kepada setiap suku bangsa di muka bumi ini yang belum pernah mendengar berita Injil.

    Semakin kita tahu tanda-tanda kedatanganNya semakin dekat,semakin giat kita memberitakan Injil,sehingga membuat orang-orang yang jauh dari Tuhan bertobat dan kembali kepada Kristus Yesus. Mari kita bahas Wahyu 3:7. Ada 4 karakter Tuhan Yesus yang dinyatakan di Wahyu 3:7.

    Yang Kudus,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita akan kekudusan-Nya. Adalah baik jika kita melihat ayat lain yang terdapat di 1 Petrus 1:16.”Kuduslah kamu,sebab Aku kudus. Ayat ini mengingatkan kita bahwa karakter kita harus kudus,karena Tuhan kita pun kudus. Gereja-gereja pada zaman Filadelfia ini, mereka memisahkan diri dari sistem kenegaraan dan dari sistem ke hirarkian di Katholik,lalu menjadi gereja yang mandiri dan hanya bergantung kepada Roh Kudus.Mereka belajar menjadi gereja yang kudus.

    Yang Benar,Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita bahwa hanya Dialah satu-satunya yang Benar. Sama seperti yang terdapat di Yohanes 14:6,bahwa Yesuslah KEBENARAN itu. Musa tidak memberikan roti hidup,tetapi Yesuslah ROTI HIDUP itu. Tidak ada kebenaran di dalam dunia ini selain di dalam KEBENARAN Kristus Yesus.

    Yang memegang kunci Daud, Daud adalah raja Israel yang berkuasa mengalahkan lawan-lawannya di Kanaan. Pada masanya Israel berjaya. Tuhan Yesus memegang kunci Daud artinya adalah Dialah sumber kemenangan-kemenangan kita. Yesuslah yang menjadi pahlawan kita. Apabila Ia membuka,tidak ada yang dapat menutup,apabila Ia menutup, tidak ada yang dapat membuka. Yang dimaksud di ayat ini adalah tentang pintu penginjilan.Tuhan telah memberikan perintah,pergilah,jadikanlah semua bangsa murid-Ku. Pintu penginjilan ini yang mengontrol adalah Tuhan kita sendiri,Tuhan Yesus Kristus.Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat membuka/menutup pintu penginjilan ini.

    PUJIAN
    Wahyu 3:8
    Aku tahu segala pekerjaanmu,lihatlah Aku telah membuka pintu bagimu yang tidak dapat ditutup oleh seorangpun. Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu. Tuhan Yesus telah membuka pintu penginjilan,maka kesempatan ini dimanfaatkan oleh banyak anak-anak Tuhan untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia.Tuhan tahu bahwa kekuatan kita tidak banyak,tetapi seperti kata Roh Kudus kepada Paulus,”Ketika aku lemah,justru di situ aku kuat”.Di saat kedagingan kita lemah,justru di situ Tuhan ada dan memberikan kita kekuatan.

    Namun engkau menuruti firmanKu dan engkau tidak menyangkal namaKu, anak-anak Tuhan masa Filadelfia ini,dari tahun 1750 AD,mereka bukan saja percaya akan Firman Tuhan,tetapi mereka juga menjadi pelaku-pelaku Firman. Dan dalam mengabarkan Injil,mereka tidak menyangkal nama Yesus,sekalipun nyawa taruhannya. Gerakan Reformasi pada tahun 1520 AD yang melahirkan gerakan Protestant, mereka juga percaya akan Firman Tuhan. Mereka mulai membaca dan mendalami Firman Tuhan tetapi mereka belum berkarakter sebagai pelaku-pelaku Firman.Lain dengan Protestant angkatan tahun 1750 AD, mereka percaya akan Firman Tuhan dan menjadi pelaku-pelaku Firman.

    TEGURAN
    Tidak ada.Tuhan tidak menegur gereja-gereja zaman Filadelfia.

    JANJI
    Wahyu 3:9
    Lihatlah beberapa orang dari jemaah Iblis,yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi,tetapi yang sebenarnya tidak demikian,melainkan berdusta,akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku bahwa Aku mengasihi engkau. Dalam ayat ini,Tuhan Yesus berjanji bahwa semua orang yang menganut FALSE RELIGION atau yang disebut jemaah Iblis,mereka akan kembali kepada Kristus. FALSE RELIGION adalah praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan Firman Tuhan, bertentangan dengan isi Alkitab.

    Seseorang bisa saja mengaku percaya kepada Yesus,tetapi tanpa ia sadari ia mempraktekkan FALSE RELIGION. Contohnya adalah penganut Saksi Yehova,Christian Science,Mormonisme,Advent Hari Ketujuh dan termasuk juga Katholik. FALSE RELIGION adalah cara Iblis yang ampuh untuk menyusupkan niat jahatnya secara halus ke dalam gereja sehingga gereja tanpa disadari menciptakan doktrin yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Karena itu, untuk mencegah terjadinya FALSE RELIGION/FALSE DOCTRINE ini, cara satu-satunya adalah mari kita semua BACK TO THE BIBLE. Mari kita semua anak-anak Tuhan kita kembali ke Alkitab.Dan kemudian kita beritakan Firman Tuhan yang ada di Alkitab ini.

    2 Timotius 4:2
    BERITAKANLAH FIRMAN,SIAP SEDIALAH BAIK ATAU TIDAK
    BAIK WAKTUNYA,NYATAKANLAH APA YANG SALAH,TEGORLAH DAN
    NASIHATILAH DENGAN SEGALA KESABARAN DAN PENGAJARAN.

    Wahyu 3:10
    Karena engkau menuruti firmanKu,untuk tekun menantikan Aku,maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi. Ayat ini menegaskan kembali janji Tuhan kepada gereja-gereja Filadelfia,bahwa mereka akan Tuhan luputkan dari hari pencobaan.Tuhan akan meluputkan mereka dari Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Mereka akan Rapture sebelum dimulainya Masa 7 Tahun Kesusahan Besar. 7 Tahun Masa Kesusahan Besar adalah masa yang sangat mengerikan.Tuhan Yesus memberikan gambaran tentang masa ini seperti yang tertulis di Matius 24:21.
    SEBAB PADA MASA ITU AKAN TERJADI SIKSAAN YANG DAHSYAT SEPERTI YANG BELUM PERNAH TERJADI SEJAK AWAL DUNIA SAMPAI SEKARANG DAN YANG TIDAK AKAN TERJADI LAGI.

    Saat itu sedang datang ke dunia ini.Tapi itu bukan bagian kita. Bagian kita adalah Rapture.Karena itu marilah kita dengan tekun BACK TO THE BIBLE.Kita kembali ke Firman Tuhan,dan kita wartakan Firman Tuhan kepada dunia ini.Ingatkan akan hari pencobaan dahsyat yang akan datang ke dunia ini. Kita percaya bahwa masa kesusahan besar ini akan tiba saat Antichrist menandatangani perjanjian damai dengan Israel selama 7 tahun. Hal ini akan jelas kalau kita mempelajari Wahyu 4 sampai Wahyu 5. Dan Wahyu 6 membahas tentang awal 7 Tahun Kesusahan Besar itu.

    NASIHAT
    Wahyu 3:11
    Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak ada seorangpun mengambil mahkotamu.

    Aku datang segera,ini berarti bahwa tipe gereja ini masih tetap ada sampai sekarang. Saat ini tipe gereja Filadelfia masih ada.Anak-anak Tuhan yang selalu haus akan Firman Tuhan, yang selalu memberitakan Injil kepada dunia dan menyerukan pertobatan menjelang hari pencobaan besar di dunia ini. Karakter mereka adalah hati yang penuh revival akan Firman Tuhan. Dr,Adrian Rogers menyebutkan bahwa ada 3 hal penting dalam membangun jemaat yang berkarakter revival oleh Roh Kudus,yaitu EVANGELISM, MISSIONS dan BIBLE TEACHING.

    Gereja-gereja Tuhan saat ini haruslah mempunyai 3 karakter tersebut. Kita anak-anak Tuhan harus membangun karakter kita didasari oleh Firman Tuhan lalu melakukan evangelism, missions dan Bible Teaching. Untuk mencapai itu kita perlu BACK TO THE BIBLE. Problema yang ada di gereja-gereja Tuhan saat ini adalah mereka kurang memahami tentang Firman Tuhan. Kalau kita tidak memahami Firman Tuhan,bagaimana kita mau melakukan evangelism,missions dan Bible Teaching? Karena itu, melalui tulisan ini, saya mengajak saudara-saudara semua yang percaya kepada Kristus Yesus Tuhan, APAPUN DENOMINASINYA,untuk BACK TO THE BIBLE. Dengan BACK TO THE BIBLE, kita akan mengerti janji-janji Tuhan kepada kita anak-anakNya terutama tentang janji kedatanganNya yang kedua kali. Jadi kita akan semakin mempersiapkan diri menjelang kedatanganNya. Kita TIDAK TAHU kapan Ia datang,tetapi lebih baik kita BERJAGA-JAGA. Berjaga akan hidup kita, berjaga akan keluarga kita, berjaga akan saudara seiman kita dan berjaga akan dunia di luar kita untuk selalu SESUAI dengan Firman Tuhan/SESUAI dengan apa kata Alkitab. Ada mahkota yang Tuhan sediakan bagi kita.Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak lupa memberikan upah buat kita.Amin?

    PENGHARGAAN
    Wahyu 3:12
    Barangsiapa menang,ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ,dan padanya akan Kutuliskan nama AllahKu, nama kota AllahKu,yaitu Yerusalem baru,yang turun dari sorga dari AllahKu dan namaKu yang baru.

    Tuhan akan membuat kita menjadi sokoguru di dalam Bait Suci AllahKu,SUNGGUH LUAR BIASA penghargaan yang Tuhan berikan kepada kita yang mau berkarakter seperti jemaat Filadelfia ini.Kita yang adalah hanya seorang manusia,tetapi Tuhan tempatkan sebagai sokoguru di BaitNya.

    Penulisan nama Tuhan ini adalah menunjukkan bahwa anak-anak Tuhan yang sungguh-sungguh,mereka akan diidentifikasikan Tuhan sebagai HIS BELOVED CHILDREN, yang mempunyai hak untuk masuk ke kota kudusNya, Yerusalem baru.Yerusalem baru ini dibahas di Wahyu 21:9 sampai Wahyu 22:6. Bagi kita yang setia pada Firman Tuhan,kita akan melihat Tuhan Yesus Kristus yang kita sembah, yang kita puji dalam Roh dan Kebenaran sesuai dengan Kebenaran Firman Tuhan. Kita akan melihat Tuhan kita FACE TO FACE. Haleluya!!!

    Ini akan menjadi pengalaman yang paling berharga,DAPAT FACE TO FACE dengan Tuhan Yesus.Ini tersedia bagi kita semua yang setia kepada Firman Tuhan dan tetap berakar di dalam Terang FirmanNya menjelang kedatanganNya. Demikian pembahasan Gereja Filadelfia,selanjutnya adalah pembahasan Gereja Laodekia dari tahun 1900 AD-Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.

    Gereja Laodikia ( 1900 AD ­ 7 Tahun Masa Kesusahan Besar )

    Oleh: Andre Widodo

    Wahyu 3:14-22
    Gereja Laodikia dikategorikan oleh para ahli dan sarjana Alkitab sebagai Gereja suam-suam kuku atau The Lukewarm Church.Ada juga yang mengkategorikan gereja ini sebagai Gereja Murtad.Mungkin terlalu keras kata-kata ini,tetapi kita akan menemui beberapa alasannya nanti dalam pembahasan Gereja Laodikia. Masa gereja Laodikia dimulai dari tahun 1900 AD sampai dengan 7 Tahun Masa Kesusahan Besar.

    Di Peta Alkitab kota Laodikia terletak di Asia Kecil.Kota ini hanya berjarak 40 miles dari kota Efesus. Kota Laodikia juga termasuk kota yang kaya pada saat Pemerintahan Romawi.Sekarang kota ini berada di wilayah Negara Turki,dan kalau kita melihat reruntuhan kota Laodikia sekarang,kita dapat menjumpai bekas reruntuhan 3 gereja yang cukup besar dari peninggalan Romawi. Dari bekas peninggalan gereja di Laodikia itu kita dapat melihat bahwa gereja-gereja saat itu adalah gereja-gereja yang kaya. Tetapi disamping kekayaannya,tidak ada satupun kita baca di Alkitab yang menceritakan pelayanan-pelayanan dari kota Laodikia. Tetapi justru kota di tetangganya yaitu Efesus yang banyak tercatat di Alkitab tentang pelayanan-pelayanannya. Kalau kita memperhatikan masa kronologis 6 gereja yang sudah dibahas sebelumnya,maka kita akan tahu bahwa sampai saat ini hanya ada 4 tipe gereja berdasarkan Kitab Wahyu.Gereja-gereja itu adalah Tiatira,Sardis,Filadelfia dan Laodikia. Ke 4 gereja ini masih ada sampai sekarang.

    Mengenai masa Gereja Laodikia, masa ini dimulai dari tahun 1900 AD dan intensitasnya semakin bertambah menjelang Hari Kedatangan Tuhan. Karakter gereja Laodikia ini adalah gereja yang suam-suam kuku,lebih berkonsentrasi pada gerakan oikumene untuk menciptakan gereja-gereja oikumene.

    PUJIAN
    Tidak ada satu ayat pun yang memuji Laodikia.Tuhan Yesus tidak memuji tipikal gereja ini.

    TEGURAN
    Wahyu 3:15
    Aku tahu segala pekerjaanmu,engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas.

    Wahyu 3:16
    Jadi karena engkau suam-suam kuku,dan tidak dingin atau panas,Aku akan MEMUNTAHKAN engkau dari mulutKu. Dari ayat 15,kita tahu bahwa Tuhan sangat memperhatikan kondisi gereja-gereja di akhir zaman ini. Kata-kata TIDAK DINGIN DAN TIDAK PANAS ini menunjukkan kepada perbuatan-perbuatan gereja-gereja ini yang hanya mementingkan keorganisasian,program-program sosial,pembentukan komite,kegiatan kemanusiaan lainya tapi sebenarnya di mata Tuhan mereka tidak mempunyai power.

    Roh Kudus mengingatkan Paulus di 2 Timotius 3:5
    SECARA LAHIRIAH MEREKA MENJALANKAN IBADAH MEREKA,TETAPI PADA HAKEKATNYA MEREKA MEMUNGKIRI KEKUATANNYA.JAUHILAH MEREKA ITU!
    Firman Tuhan cukup tegas, JAUHILAH MEREKA ITU!.

    Gereja-gereja Laodekia ini lebih tertarik kepada aksi-aksi sosial mereka dari pada terlibat dalam pewartaan Injil.Mereka lebih tertarik pada PLANNING dari pada PRAYING,mereka lebih tertarik kepada reformasi dari pada transformasi. Satu hal mengenai reformasi yang sekarang sedang menjadi tema di beberapa gereja di Indonesia,saya ingin mengatakan REFORMASI BAGI BANGSA KITA/BAGI GEREJA KIA TIDAK AKAN TERWUJUD KALAU GEREJA TIDAK MENGUTAMAKAN FIRMAN TUHAN DIATAS SEGALA-GALANYA. REFORMASI TIDAK AKAN TERWUJUD KALAU FIRMAN TUHAN TIDAK DIBERITAKAN. REFORMASI TIDAK AKAN TERWUJUD JIKA KITA MASIH TOLERANSI TERHADAP DOSA. Mau menegor yang salah menurut Firman Tuhan masih takut,karena takut menyinggung perasaannya. Dengan kata lain lebih mementingkan HATI MANUSIA daripada HATI TUHAN.

    Bagaimana transformasi bisa terwujud?

    Yang bisa men-transform hanyalah Roh Kudus. Dan Roh Kudus hanya akan bekerja men-transform jika kita punya karakter lebih TAKUT AKAN TUHAN daripada TAKUT AKAN MANUSIA. Yohanes 14:21: Barang siapa memegang perintahKu dan melakukannya,dialah yang mengasihi Aku. 2 Timotius 4:2 BERITAKANLAH FIRMAN,SIAP SEDIALAH BAIK ATAU TIDAK BAIK WAKTUNYA, NYATAKANLAH APA YANG SALAH,TEGORLAH DAN
    NASIHATILAH DENGAN SEGALA KESABARAN DAN PENGAJARAN.

    Karena itu mari kita semua kembali ke Alkitab.Tegorlah saudara-saudara kita yang masih hidup bertentangan dengan Firman Tuhan.Dan berdoalah minta Roh Kudus men-transfer hidup kita agar menjadi garam dan terang bagi sesama kita. Ayat 16,dikatakan bahwa Tuhan akan MEMUNTAHKAN mereka. Mari kita lihat Matius 7:21-23. Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu Tuhan,Tuhan!akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,melainkan dia yag melakukan kehendak BapaKu yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepadaKu: Tuhan,Tuhan bukankah kami bernubuat demi namaMu dan mengusir setan demi namaMu dan mengadakan mujizat demi namaMu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: AKU TIDAK PERNAH MENGENAL KAMU!ENYAHLAH DARIPADAKU KAMU SEKALIAN PEMBUAT KEJAHATAN. Di usir oleh Tuhan,itulah artinya dimuntahkan oleh Tuhan.

    Wahyu 3:17
    Karena engkau berkata: aku kaya dan aku telah memperkaya diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa,dan karena engkau tidak tahu,bahwa engkau melarat dan malang, miskin, buta dan telanjang.

    Gereja-gereja Laodikia saat ini digambarkan dalam ayat 17 sebagai gereja-gereja yang kaya. Mereka mempunyai bangunan yang indah,dan mahal,mempunyai banyak organisasi yang disponsori oleh gereja-gereja tersebut dan juga banyak keanggotaannya di program-program sosial lainnya. Mereka berkata,kita gereja yang kaya,gereja yang besar tetapi mereka tidak sadar bahwa sesungguhnya mereka miskin secara rohani. Kuasa Firman Tuhan tidak ada dalam mereka.

    Manusia boleh mengatur banyak macam organisasi,mereka boleh membangun gedung-gedung gereja yang indah,mereka boleh berkhotbah,mereka boleh mengajar, TETAPI hanya ROH KUDUS yang membuat manusia berbalik bertobat kepada Tuhan. HANYA ROH KUDUS YANG DAPAT MENTRANSFORM HIDUP SESEORANG.

    Apa kata Yesus tentang Roh Kudus? Apa ciri-ciri Roh Kudus?
    Yohanes 16:14 : IA akan memuliakan Aku,sebab IA akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu. Inilah ciri-ciri Roh Kudus. Roh Kudus akan memuliakan Yesus saja. Jika ada suatu roh yang ternyata memuliakan seseorang manusia selain dari Tuhan Yesus sendiri,maka itu bukan Roh Kudus. Apakah roh nya memuliakan Yesus? Ini caranya kita menguji setiap roh. Gereja-gereja Laodikia ini,mereka tidak tinggal di dalam pengajaran Alkitab,tetapi justru mereka banyak berkecimpung dalam aktivitas-aktivitas sosial. Mereka banyak terjun ke dalam aktivitas legalisasi homoseksual dan lesbian.

    Mereka mengatakan homoseksual dan lesbian juga adalah anugerah. Mereka juga memperjuangkan bahwa aborsi adalah hak setiap wanita. Banyak macam aktivitas yang mereka ikuti. Dan yang terakhir adalah berita dari seorang Uskup wanita dari Amerika yang melegalkan homoseksual dan lesbian. Kita tidak perlu menyebutkan dari jenis gereja apa,tetapi yang penting kita tahu,bahwa Tuhan menentang gereja-gereja seperti ini. Firman Tuhan adalah Terang. Karena itu Tuhan berkata di Lukas 12:2
    TIDAK ADA SESUATUPUN YANG TERTUTUP YANG TIDAK AKAN DIBUKA DAN TIDAK ADA SESUATUPUN YANG TERSEMBUNYI YANG TIDAK AKAN DIKETAHUI.

    NASIHAT
    Wahyu 3:18
    Maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari padaKu emas yang telah dimurnikan dari dalam api, agar engkau menjadi kaya,dan juga pakaian putih,supaya engkau memakainya,agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan, dan lagi minyak untuk melumas matamu,supaya engkau dapat melihat.

    Di mata Tuhan, gereja Laodikia ini miskin,tetapi mengapa Tuhan menasihatkannya untuk membeli emas dari Tuhan Yesus? Kalau kita membaca Yesaya 55:1, kita akan mengerti bahwa Tuhan mengundang seluruh umat manusia untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, mengundang manusia untuk menerima KESELAMATAN secara GRATIS. KESELAMATAN adalah ANUGERAH dan KASIH KARUNIA. Bukan karena usaha manusia. Karena itu yang termiskin dari antara yang miskin pun dapat diselamatkan asalkan dia BERTOBAT,MEMANGGIL NAMA YESUS dan PERCAYA dalam NAMA YESUS.

    Pakaian putih dalam ayat 18 ini, menggambarkan pakaian pengantin wanita dalam setiap pernikahan. Pengantin wanita yang siap menyambut Pengantin Pria maka ia akan mengenakan pakaian putih yang melambangkan kekudusan. Yesaya 61:10 menjelaskan tentang hal ini. Kita adalah mempelai wanita dan Kristus adalah mempelai pria. Dalam menyonsong kedatanganNya,kita harus siap dengan kekudusan kita. Minyak dalam ayat 18 yang dipakai untuk melumaskan mata ini, adalah lambang Roh Kudus.
    Sering kali dalam banyak ayat di Alkitab, Roh Kudus dilambangkan dengan minyak. Roh Kudus akan membukakan mata kita sehingga kita dapat melihat bagaimana tipu muslihat Iblis. Roh Kudus yang akan menerangi hidup kita ini,sehingga kita TIDAK lagi hidup di dalam kegelapan.

    Wahyu 3:19
    Barangsiapa Kukasihi,ia Kutegor dan Kuhajar,sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah! Kasih Tuhan adalah TOUGH LOVE, bukan SOFT LOVE. Hal ini yang perlu dipahami oleh anak-anak Tuhan. TOUGH LOVE adalah kalau kita salah, kita ditegor,kita dihajar, kita dihantam.Tapi itu artinya Tuhan masih mengasihi kita. Hosea 6:1 menjelaskan karakter TOUGH LOVE nya Tuhan Yesus.

    Wahyu 3:20
    Lihat, Aku berdiri dimuka pintu dan mengetok,jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku akan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Pintu dalam ayat ini menggambarkan pintu hati.Karena dari hati terpancarlah kehidupan.Amsal 4:23.

    Tuhan Yesus dengan sabar mengetok hati kita,Ia tidak memaksa kita,tetapi jika kita membuka hati untuk Dia,Dia akan hidup dalam kita dan kira di dalam Dia. Kalau Yesus sudah ada dalam kita dan kita di dalam Yesus, maka jaminan kita adalah hidup yang kekal.Yohanes 5:24. Salah satu cara Tuhan mengetuk pintu hati manusia adalah melalui anak-anakNya. Anak-anakNya dalam hal ini bukanlah pembicara-pembicara terkenal seperti DL Moody,Billy Graham,Adrian Rogers,Charles Stanley dan lain-lainya. Anak-anakNya dalam hal ini adalah kita semua orang-orang biasa yang TAKUT AKAN TUHAN.

    Selain itu Tuhan juga mengetuk hati kita melalui Roh Kudus. Roh Kudus diutus untuk menginsafkan manusia akan dosa. Untuk mengingatkan manusia akan KEBENARAN dan akan PENGHAKIMAN. Juga,Tuhan mengetuk hati kita melalui pengalaman-pengalaman hidup kita. Seperti sakit, kekecewaan dan lain sebagainya. Itu adalah ketukan Tuhan di hati kita. Apakah kita peka mendengar ketukanNya?

    PENGHARGAAN
    Wahyu 3:21
    Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta Ku sebagaimana Aku pun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa Ku di atas takhtaNya. Penghargaan ini adalah penghargaan untuk duduk dan memerintah bersama Kristus Yesus di dalam KerajaanNya yang akan datang.

    Wahyu 3:22
    Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. Ayat 22 ini menunjukkan bahwa hendaklah kita bertelinga,supaya kita dapat mendengarkan apa kata Roh Kudus dalam hati kita. Di tengah kesibukan kita di dunia serba modern ini,tetaplah asah telinga kita untuk mendengar Firman Tuhan. Karena semakin lama, dunia ini semakin jahat.

    Kita jangan berharap melihat revival-revival besar di masa Laodikia ini karena semakin lama gereja-gereja tipe Laodikia ini akan semakin banyak.Gereja akan semakin disibukkan oleh perkara-perkara duniawi.
    Mereka akan semakin disibukkan dengan Gerakan Oikumene,Gerakan Penyatuan Gereja. Sampai nanti Tuhan Yesus datang untuk yang ke dua kalinya ada 4 macam tipe gereja saat ini,yaitu TIATIRA, SARDIS, FILADELFIA dan LAODIKIA.

    Tetapi ingatlah akan gereja-gereja Filadelfia.Gereja-gereja inilah yang Tuhan kasihi. Gereja-gereja Filadelfia juga masih tetap ada di zaman gereja Laodekia ini. Bahkan Roh Kudus makin mencurahkan KasihNya bagi gereja-gereja Filadelfia. Karakternya adalah EVANGELISM,MISSIONS dan BIBLE TEACHING. Karena itu,sebagai penutup dari pembahasan 7 macam sejarah gereja berdasarkan Kitab Wahyu ini, saya ingin mengingatkan saudara BERSIAP-SIAP LAH dan BERJAGA-JAGALAH menjelang Hari KedatanganNya,karena kita semua tidak tahu kapan IA akan datang. TETAPLAH di dalam Firman Tuhan,dan BERSEKUTULAH senantiasa bersama ROH KUDUS. SIAP SEDIALAH dengan PAKAIAN PUTIH kita,dengan KEKUDUSAN.

    Gereja Pergamus ( 312 AD - 606 AD )

    Oleh: Andre Widodo
    Wahyu 2:12-17

    Gereja Pergamus dikategorikan oleh para ahli Alkitab sebagai Gereja yang Manja atau The Indulged Church. Masa Gereja Pergamus dimulai dari tahun 312 AD-606 AD. Kalau kita melihat peta dunia Perjanjian Baru di peta Alkitab, kota Pergamus terletak di Asia Kecil dan menjadi kota utama untuk penyembahan berhala dewa-dewi bangsa Yunani.

    Pemerintah lokal Romawi saat itu tidak dapat membendung tradisi penyembahan berhala yang telah menjadi tradisi turun temurun di kota itu.Banyak macam agama penyembahan berhala di kota Pergamus,mulai dari tradisi agama Babylonia,Persia sampai dengan agama Yunani masih terus berlangsung selain dari agama Romawi sendiri.

    Salah satu dewa utama di kota Pergamus adalah dewa Bacchus (dewa kesenangan) dan dewa Asclepius (dewa kesembuhan).Karena itu kota Pergamus disebut sebagai tempat tahta Iblis atau kota tempat dimana Iblis tinggal,seperti ditulis di Wahyu 2:13.

    Kalau kita mempelajari Alkitab,kita akan mengetahui bahwa Satan/Iblis memiliki kerajaan juga.Ingat khotbah Yesus di Matius 12:25-26. Dan Alkitab mencatat bahwa Babylon adalah tempat pertama tahta Iblis.

    Alkitab mencatat bahwa Babylon adalah kota dan kerajaan pertama di muka bumi yang didirikan oleh Nimrod,Kejadian 10:9-10.Nimrod adalah anaknya Kusy,dan Kusy adalah anaknya Ham.Ham adalah anak yang dikutuk oleh Nuh.Jadi keturunan Ham,Kusy,Nimrod dan seterusnya adalah keturunan yang terkutuk.

    Karena itu Iblis memakai Nimrod untuk memperluas kerajaannya.Nimrod dan ibunya yang bernama Semiramis harus disembah.Semiramis dinobatkan sebagai Ratu Sorga dan Nimrod anaknya adalah sang dewa.Dan tradisi penyembahan berhala dalam bentuk penyembahan kepada manusia dimulai dari sini dan menyebar keseluruh penjuru dunia.Bahkan figur Semiramis ini menyusup kedalam ajaran Katholik sekarang ini,hanya figurnya yang berlainan.Semiramis adalah Ratu Sorga di dalam agama Babylon,sedangkan Maria menjadi Bunda Maria Ratu Sorga di Katholik.Selengkapnya penyembahan ratu sorga dapat dibaca di Yeremia 7:16-20.Tuhan jelas-jelas menentang sistem penyembahan ratu sorga.

    Padahal Alkitab mengajarkan,bahwa Maria adalah hanya manusia biasa.Bukti ayatnya di Lukas 1:38. Manusia tidak boleh disembah.Hanya Tuhan saja yang layak untuk disembah. Kel.20:4-6; Ul.5:7-10
    JANGAN MEMBUAT PATUNG YANG MENYERUPAI APAPUN JUGA UNTUK DISEMBAH. Yesaya 44:9
    ORANG-ORANG YANG MEMBENTUK PATUNG SEMUANYA ADALAH KESIA-SIAAN DAN BARANG-BARANG KESAYANGAN MEREKA ITU TIDAKLAH MEMBERI FAEDAH.PENYEMBAH-PENYEMBAH PATUNG ITU TIDAKLAH MELIHAT DAN TIDAKLAH MENGETAHUI APA-APA,OLEH KARENA ITU MEREKA AKAN MENDAPAT MALU.

    Tradisi penyembahan kepada manusia ini terus berlangsung karena Babylon saat itu merupakan kerajaan yang terkuat di dunia dengan menara Babelnya.Walaupun menara itu tidak pernah selesai. Saat Tuhan membuat kekacauan di menara Babel,kerajaan Babylon melemah,manusia mulai terpencar ke seluruh penjuru dunia,tapi tradisi penyembahan berhala ini masih terus berlangsung dalam sejarah manusia,dan Iblis kini membuat tahtanya yang baru di kota Pergamus,karena kota ini sangat kental dengan tradisi penyembahan berhalanya.

    Satan telah belajar dari pengalaman di zaman Gereja Smirna,bahwa penganiayaan terhadap gereja tidak dapat menghentikan ke-Kristenan,tetapi malah membuat revival dimana-mana pada saat Gereja Smirna. Maka Satan membuat cara lain untuk menghancurkan gereja Tuhan,yaitu secara halus Satan mulai menyusupkan tradisi-tradisi penyembahan berhala/ritual-ritual penyembahan berhala dari agama-agama kuno ke dalam gereja Tuhan.

    Kalau kita melihat sejarah gereja,setelah kaisar Diocletian tidak berhasil menghancurkan gereja-gereja Tuhan,maka kaisar Constantine menggantikannya menjadi kaisar di Romawi.Constantine memenangkan kursi kaisar nya setelah berhasil mengalahkan saingannya yaitu Maxentius. Sebelum menjadi kaisar Romawi,Constantine telah tertarik dengan ke-Kristenan dan sebelum dia mengalahkan Maxentius,dia mengatakan bahwa dia mendapat penglihatan tentang gambar salib di langit dan dia mendengar suara yang mengatakan “dalam tanda salib ini,engkau akan mengalahkan”.

    Constantine percaya bahwa penglihatan ini adalah pesan dari Tuhan dan setelah ia naik menjadi kaisar Romawi,maka dia membuat ke-Kristenan menjadi agama resmi kerajaan Romawi/The Religion of Roman Empire. Agama ini dinamai agama Katholik melalui "Edict of Milan" tahun 313 AD. Maka lahirlah Katholik yang menjadi agama resmi kerajaan Romawi/ROMAN CATHOLIC IS THE NEW RELIGION OF ROMAN EMPIRE.

    Constantine men-deklarasikan bahwa dirinya adalah pelindung dan benteng ke-Kristenan di kerajaan Romawi.Tidak ada lagi penindasan/penganiayaan bagi umat Kristen.Dan umat Kristen pada periode ini menjadi umat Kristen yang manja,karena Negara melindunginya.

    Sekarang mari kita lihat ke Constantine.Apakah Constantine benar-benar sudah menjadi Kristen? Ternyata TIDAK.Dia dibesarkan dalam tradisi-tradisi Romawi yang menyembah berhala.Dan dia tidak mempunyai konsep ke-Kristenan yang jelas.Bahkan diapun belum mengalami kelahiran baru oleh Roh Kudus.Dia tetap mempertahankan tradisinya untuk menyembah dewa-dewi bangsa Romawi.Dia menjalani kehidupan Kristen dan kehidupan berhala.Dia adalah penyembah dewa matahari. Satu hal yang patut mendapat pujian dari Constantine adalah ketika dia memerintahkan Eusebius,Uskup di Roma untuk memproduksi Alkitab lebih dari 50 copy dan dibagikan kepada semua gereja di kerajaan Romawi melalui Konsili Nicaea.

    Sedikit pembahasan tentang Konsili Nicaea :
    Konsili Nicaea diadakan bukan untuk menentukan ke-Tuhan-an Yesus seperti yang ditulis Dan Brown dalam DaVinci Code.Karena sejak zaman Gereja Efesus,gereja-gereja telah mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan.Buktinya adalah lihat kesaksian-kesaksian para martir Kristus,yang tidak mau menyangkal Kristus Yesus.

    Konsili Nicaea diadakan bukan untuk membuat Kitab Perjanjian Baru.Karena sejak zaman Gereja Efesus/tahun 30 AD anak-anak Tuhan telah mulai menyusun Perjanjian Baru. Konsili Nicaea diadakan hanya untuk menyatukan visi gereja-gereja dibawah pemerintahan Romawi sehingga tidak terpecah belah.Saat itu aliran Arian banyak mempengaruhi ke-Kristenan.Arian mengajarkan bahwa Yesus hanya manusia biasa.Yesus bukan Tuhan.Aliran Arian ini yang akan menjadi cikal bakal aliran Saksi Yehova.Ajarannya adalah Yesus bukan Tuhan.Yesus hanya ciptaan Tuhan yang paling mulia dan utama.Mengingat saat itu ke-Kristenan menjadi agama Negara dan banyak macam tipe ke-Kristenan saat itu,maka Constantine menyelenggarakan Konsili Nicaea.Mengapa saat itu banyak macam tipe ke-Kristenan?Karena gereja mulai berbaur dengan tradisi,doktrin,praktek penyembahan berhala.

    Saat itu pemerintah Romawi menyediakan dana untuk menunjang kegiatan-kegiatan gereja dan banyak kuil-kuil penyembahan berhala yang diambil dan dijadikan gereja. Maka untuk menyenangkan pemerintah Romawi, banyak gereja saat itu yang mulai mengadopsi tradisi/praktek penyembahan berhala.

    GEREJA MENJADI PENUH TOLERANSI TERHADAP BUDAYA PENYEMBAHAN BERHALA. ITU SEBABNYA PADA KURUN WAKTU INI,BANYAK LAHIR ALIRAN KEBATINAN SEPERTI GNOSTICISM.MEREKA MENCOBA MENCAMPURKAN KEBENARAN FIRMAN TUHAN DENGAN TRADISI/AJARAN PENYEMBAHAN BERHALA.MAKA PADA MASA INI BANYAK DITULIS INJIL LAIN SELAIN 4 INJIL MATIUS,MARKUS,LUKAS,YOHANES. LAHIRLAH INJIL MARIA MAGDALENA,INJIL YUDAS,INJIL THOMAS DAN LAIN-LAIN.

    Gnosticism berasal dari kata Yunani,GNOSIS,yang artinya adalah PENGETAHUAN.Gnosticism adalah aliran yang mengajarkan bahwa PENGETAHUAN adalah tuhan atas hidup manusia.Aliran ini mengajarkan bahwa yang manusia butuhkan bukan pengampunan tetapi pengetahuan. Gnosticism bukan ke-Kristenan.Ajaran-ajaran mereka sangat bertentangan dengan Alkitab.Walaupun mereka menyusupkan ajaran Gnostic ini melalui banyak macam injil Galatia 1:8 mengingatkan kita akan hal ini.

    Kembali ke Pergamus,pengaruh penyembahan berhala pada masa Pergamus ini semakin bertambah dari tahun ke tahun,sehingga gereja semakin lama semakin kehilangan api Roh Kudus. Gereja dengan pengaruh budaya penyembahan berhalanya semakin menjadi gereja yang penuh misteri,penuh kegelapan dan praktek-praktek di gereja semakin sama dengan praktek-praktek mistik dari agama Babylon.

    Berikut ini adalah praktek-praktek/tradisi-tradisi okultisme/penyembahan berhala yang muncul di Gereja Pergamus :

    Tahun 300 AD…Gereja mulai mendoakan orang mati.
    Tahun 300 AD…Pemakaian tanda salib.
    Tahun 375 AD…Pemujaan terhadap orang-orang kudus dan malaikat.
    Tahun 431 AD…Pemujaan kepada Bunda Maria.
    Tahun 500 AD…Pendeta mulai memakai pakaian yang berbeda dari
    orang awam.
    Tahun 526 AD…Pemakaian minyak suci.
    Tahun 593 AD…Doktrin Api Penyucian dikenalkan.
    Tahun 600 AD…Khotbah di gereja harus pakai bahasa Latin.
    Tahun 600 AD…Semua doa harus ke Bunda Maria.

    Jadi sejak tahun 312 AD,gereja-gereja menjadi lebih berbudaya Romawi dari pada berbudaya Kristen.Dan karena gereja telah menjadi satu dengan pemerintahan Romawi,menjadi satu dengan keduniawian maka gereja mulai kehilangan berkat-berkat rohani.

    Sebelum tahun 312 AD,gereja-gereja adalah merupakan gereja-gereja yang independent.Hanya bergantung kepada Roh Kudus.Tapi di masa Pergamus ini,gereja menjadi alat negara dan Iblis mulai menyusupkan serangan-serangannya secara halus untuk menjauhkan kita dari Kasih Kristus.

    PUJIAN
    Wahyu 2:13
    Aku tahu dimana engkau diam,yaitu di sana,di tempat tahta Iblis dan engkau berpegang kepada NamaKu dan engkau tidak menyangkal imanmu kepadaKu,juga tidak pada zaman Antipas,saksiKu yang setia kepadaKu,yang dibunuh dihadapan kamu,dimana Iblis diam.

    TEGURAN
    Wahyu 2:14
    Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau,diantaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam,yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel,supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.

    Wahyu 2:15
    Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.

    Apakah ajaran Bileam itu?

    Untuk mengerti ini kita perlu membaca Bilangan 22-31.Singkatnya,Bileam adalah seorang nabi di Israel.Balak adalah raja Moab.Saat itu Balak sangat takut akan kekuatan Israel,karena Tuhan ada dipihak Israel.Lalu Balak menyewa Bileam untuk mengutuk Israel.Bileam dibayar dengan materi untuk memenuhi keinginan Balak.Tetapi ketika Bileam hendak mengutuk Israel,bukan kutuk yang datang,tetapi berkat yang datang bagi Israel.Lalu Bileam menyarankan kepada Balak untuk menghancurkan Israel melalui penyembahan berhala.Orang-orang Moab dikawinkan dengan orang-orang Israel.Perzinahan rohani terjadi.

    Ajaran Bileam adalah ajaran yang tidak menghargai karunia yang sudah Tuhan berikan lalu dikomersialkan demi materi,demi uang.

    Bagaimana cara menghadapi agar tidak jatuh dalam dosa perzinahan rohani/penyembahan berhala?

    Kolose 2:6-8
    KAMU TELAH MENERIMA KRISTUS YESUS,TUHAN KITA.KARENA ITU HENDAKLAH HIDUPMU TETAP DI DALAM DIA.HENDAKLAH KAMU BERAKAR DI DALAM DIA DAN DIBANGUN DI ATAS DIA,HENDAKLAH KAMU BERTAMBAH TEGUH DALAM IMAN YANG TELAH DIAJARKAN KEPADAMU DAN HENDAKLAH HATIMU MELIMPAH DENGAN SYUKUR.HATI-HATILAH SUPAYA JANGAN ADA YANG MENAWAN KAMU DENGAN FILSAFATNYA YANG KOSONG DAN PALSU MENURUT AJARAN TURUN TEMURUN DAN ROH-ROH DUNIA TETAPI TIDAK MENURUT KRISTUS.

    Lalu apakah ajaran Nikolaus?

    Ajaran Nikolaus pernah ditolak pada masa Gereja Efesus.Tetapi pada masa Gereja Pergamus ini,gereja-gereja mulai bertoleransi terhadap ajaran Nikolaus.Nikolauisme adalah ajaran tentang pembatasan kaum awam dalam kegiatan-kegiatan gereja.Gereja hanya diketuai 1 orang.Dan apa kata pemimpin gereja adalah mutlak tidak terbantahkan,karena ia dianggap sebagai wali dari Kristus.Apa kata dia adalah sama levelnya dengan Firman Tuhan.Jadi gereja tidak dipimpin lagi oleh Roh Kudus tetapi ditentukan oleh 1 orang pemimpinnya di dunia ini.Hal ini masih terus berlangsung dalam sistem hirarki di Katholik.Itu adalah ajaran Nikolaus.

    NASIHAT

    Wahyu 2:16
    Sebab itu bertobatlah!Jika tidak demikian,Aku akan segera datang
    kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang mulutKu
    ini.

    Nasihat Tuhan Yesus singkat dan jelas untuk anak-anak Tuhan Pergamus/anak-anak Tuhan yang masih hidup sampai sekarang dan masih menyembah berhala,masih berzinah rohani,masih menerapkan ajaran Nikolaus. BERTOBATLAH!
    Bertobat atau akan dihakimi oleh FirmanNya.

    Terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupmu. Berakar di
    dalam pengajaran Kristus. Jangan menyembah berhala.Jangan menyembah
    patung.Jangan menyembah manusia. Jangan menjadi pengikut Nikolaus.
    LET’S BACK TO THE BIBLE! AND LET’S THE HOLY SPIRIT COME INTO YOUR
    LIFE,AND BECOME YOUR GUIDANCE.

    Hosea 6:6
    SEBAB AKU MENYUKAI KASIH SETIA,DAN BUKAN KORBAN SEMBELIHAN,DAN
    MENYUKAI PENGENALAN AKAN TUHAN,LEBIH DARIPADA KORBAN-KORBAN
    BAKARAN.
    PENGENALAN AKAN TUHAN di atas segalanya.
    PENGENALAN AKAN YESUS TUHAN di atas segalanya.

    Itu sebabnya Paulus mengatakan di Filipi 3:8

    Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena PENGENALAN AKAN KRISTUS YESUS,TUHANKU,lebih mulia dari pada semuanya,Oleh karena DIA lah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah,supaya aku memperoleh Kristus.

    Paulus adalah anak didik Gamaliel,orang terkemuka di agama Yahudi.Dalam mentaati hukum-hukum Tuhan,Paulus tidak ada cacat.Tapi apa kata Paulus setelah ia ketemu Yesus? SEMUA ITU ADALAH SAMPAH KARENA PENGENALAN AKAN KRISTUS YESUS LEBIH MULIA DARIPADA SEMUANYA.

    PENGHARGAAN
    Wahyu 2:17b
    Barangsiapa menang,kepadanya akan Kuberikan dari manna yang
    tersembunyi dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih yang di
    atasnya tertulis nama baru yang tidak diketahui oleh siapapun selain
    oleh yang menerimanya.

    Manna adalah makanan sorgawi yang diberikan kepada bangsa Israel sewaktu mengembara di padang gurun.Manna ini adalah lambang dari makanan sorgawi kita,yaitu Firman Tuhan sendiri.Barangsiapa menang,Tuhan akan memberikan pengertian kepada kita untuk memahami setiap Firman Tuhan.

    Batu putih adalah lambang dari pembebasan dari tuduhan. Sistem
    pengadilan zaman dulu menggunakan batu putih untuk membebaskan
    seseorang dari tuduhan bahwa ia bersalah.Kristus telah mati bagi
    kita.IA telah membebaskan kita dari semua tuduhan si Iblis.Jadi batu
    putih adalah lambang pembebasan kita karena iman kita kepada Yesus
    sebagai Tuhan dan Juruselamat kita yang telah menebus pelanggaran
    kita.

    Demikian pembahasan Gereja Pergamus,selanjutnya adalah Gereja Tiatira dari tahun 606 AD-Masa Kesusahan Besar.Tipe Gereja Tiatira masih ada sampai saat ini dan akan terus ada sampai nanti Masa 7 tahun Kesusahan Besar.

    Gereja Sardis ( 1520 AD ­ 7 Tahun Masa Kesusahan Besar )

    Oleh: Andre Widodo
    Shalom

    Apa kabar saudara-saudara terkasih di dalam Tuhan kita Yesus Kristus?Saya berdoa semoga kita semua tetap berakar dan tinggal dalam Kasih Kristus.Masih setia mengikut Tuhan Yesus kan?AMIN. Dalam mempelajari Alkitab hendaknya kita bersikap seperti anak-anak Tuhan di kota Berea.Kisah 17:11b. KARENA MEREKA MENERIMA FIRMAN ITU DENGAN SEGALA KERELAAN HATI DAN SETIAP HARI MEREKA MENYELIDIKI KITAB SUCI UNTUK MENGETAHUI,APAKAH SEMUANYA ITU BENAR DEMIKIAN.

    Yang patut diperhatikan adalah :
    SETIAP HARI mereka MENYELIDIKI KITAB SUCI untuk mengetahui apakah semuanya benar demikian. Sekarang mari kita membahas topik selanjutnya,yaitu Gereja Sardis. Gereja Sardis ( 1520 AD ­ 7 Tahun Masa Kesusahan Besar )

    Wahyu 3:1-6
    GEREJA SARDIS
    Gereja Sardis dikategorikan oleh para sarjana Alkitab sebagai Gereja Mati atau The Dead Church.Masa Gereja Sardis dimulai dari tahun 1520 AD-Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.Jadi tipe gereja ini masih ada sampai masa kini,dan akan terus ada Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.

    Kalau melihat di Peta Alkitab,kota Sardis juga terletak di Asia Kecil.Kota ini sangat terkenal dengan industri karpetnya,sehingga membuat kota Sardis menjadi kota yang kaya dan tetapi pada akhirnya kota ini hancur karena gempa bumi yang hebat. Sardis artinya adalah YANG BERHASIL MELOLOSKAN DIRI.Arti dari nama ini,memberikan gambaran yang cocok saat muncul Gerakan Reformasi di gereja-gereja.Gerakan Reformasi Protestant lahir akibat dari terus berlangsungnya penyimpangan-penyimpangan dari Gereja Roma Katholik yang banyak mengadopsi doktrin/praktek penyembahan berhala di dalam gereja yang notabene sebenarnya sangat bertentangan dengan Firman Tuhan. Inti pengajaran dari Gerakan Reformasi Protestant ini sebenarnya adalah dari perkataan Martin Luther,berasal dari Jerman, yang ia kutip dari Roma 1:17,ORANG BENAR AKAN HIDUP OLEH IMAN.

    Hal ini untuk mengembalikan lagi doktrin Roma Katholik yang mengatakan bahwa KESELAMATAN ADALAH KARENA PERBUATAN-PERBUATAN BAIK KITA. Tetapi ada beberapa hal yang perlu diketahui dari Gerakan Reformasi Protestant ini adalah :
    Gereja-gereja Protestant saat itu menjadi gereja-gereja Negara.Sebagai contoh,Martin Luther,ia mencari izin dari para pemimpin politik untuk setiap pembangunan gereja.yang akhirnya adalah para pemimpin politik inilah yang memimpin gereja-gereja aliran Luther.Gereja Luther menjadi gereja negara di Jerman,lalu diikuti oleh beberapa negara Eropa lainnya.Yang berbahaya dari sistem Luther ini adalah gereja menjadi dependan terhadap para pemimpin politik,gereja tidak memiliki independensi untuk menentukan visinya,sehingga gereja Luther ini kehilangan relationship individu terhadap Tuhan Yesus,sebagai Kepala Gereja.

    Gerakan Reformasi Protestant ini, tidak merubah banyak tradisi-tradisi dari Roma Katholik dan ajaran-ajaran Roma Katholik.Hal-hal seperti praktek pembaptisan bayi masih terus dilakukan walaupun tidak ada dasar ayatnya di Alkitab,selain itu juga baptis percik masih terus dilakukan di gereja-gereja Luther dan beberapa ritual-ritual beserta sakramen-sakramen yang masih dipertahankan.

    Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan,harus disembah di dalam roh dan kebenaran.Ritual-ritual yang diadopsi dari sistem penyembahan berhala tidak mungkin berasal dari Roh Kudus.Karena sebenarnya Roh Kudus adalah Roh Kebenaran.Yohanes 14:17.

    Ritual/praktek tersebut bukan berasal dari Roh Kebenaran,karena alasan itulah maka Tuhan menentang ritual-ritual tersebut. Mari kita lihat PUJIAN,TEGURAN,NASIHAT dan PENGHARGAAN bagi Gereja Sardis.

    PUJIAN
    Wahyu 3:1c
    Aku tahu segala pekerjaanmu. Cukup mengejutkan apa kata Tuhan Yesus tentang Gereja Sardis.Pujian yang diberikan Tuhan hanya pendek saja. Tuhan Yesus mengetahui segala pekerjaan Gerakan Reformasi Protestant ini,ketika Martin Luther dan lainnya memutuskan untuk keluar dari sistem hirarki Roma Katholik.Bahkan ketika nyawa menjadi taruhannya bagi kaum Protestant ini untuk kembali mematuhi seperti apa yang tertulis di Alkitab,Tuhan Yesus mengetahui semuanya ini.

    TEGURAN
    Wahyu 3:1c
    Engkau dikatakan hidup,padahal engkau mati. Hal ini mengacu ketika Gerakan reformasi Protestant ini berusaha untuk mempelajari Firman Tuhan yang adalah sumber kehidupan setiap umat manusia,untuk mengetahui kebenaran Alkitab,tetapi pada prakteknya dilapangan gereja-gereja Luther ini tetap mempertahankan ritual-ritual Roma Katholik yang sebenarnya bertentangan dengan Firman Tuhan.Dari pembahasan ini kita mengetahui bahwa mengikuti apa kata Firman,itu adalah hidup yang kekal.Yohanes 12:50.

    NASIHAT
    Wahyu 3:2
    Bangunlah,dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati,sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna dihadapan TuhanKu.

    Perkataan “Bangunlah” adalah merupakan semacam ekspresi dari Tuhan Yesus untuk membukakan gereja-gereja Luther dari ketidaksadaran akan penyimpangan-penyimpangan yang masih terus terjadi di gereja-gereja Protestant.Tuhan membangunkan gereja-gereja Luther yang masih suam-suam kuku untuk menjadi terang dunia. Beberapa hal yang masih kurang dari gereja-gereja Luther adalah pengajaran tentang Bible Prophecy. Karena Bible Prophecy sangat erat berhubungan dengan Roh Kudus,dan di gereja-gereja Luther hal-hal yang berbau Roh Kudus masih seperti hal yang aneh.Padahal Roh Kudus adalah janji Tuhan Yesus kepada kita sebagai anak-anakNya.Lihat di Yohanes 14:15-31. Kuatkanlah apa yang masih tinggal. Hal ini menunjuk kepada pentingnya untuk memperkuat pengajaran-pengajaran yang bersumber dari Alkitab itu sendiri. BACK TO THE BIBLE. Bukan mengadopsi dari praktek-praktek/ritual-ritual penyembahan berhala.

    Wahyu 3:3
    Karena itu ingatlah,bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya,turutilah itu dan bertobatlah!Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga,Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu. Kembali pada ayat ini,Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita tentang betapa pentingnya Bible Prophecy,supaya kita berjaga-jaga sebelum Hari Kedatangan Tuhan.Tuhan menghendaki gerejaNya untuk bergantung hanya padaNya,tidak bergantung pada negara,karena gereja adalah mempelaiNya.Tuhan ingin agar mempelaiNya siap menyongsong Hari Kedatangan Nya. Turutilah…menunjukan kepada Firman Tuhan yang harus dipatuhi oleh gereja-gereja.Jangan patuh kepada doktrin/ritual/tradisi,tetapi PATUHLAH HANYA KEPADA FIRMAN TUHAN ITU SENDIRI.

    Dan bertobatlah…Pertobatan,itulah yang harus dilakukan juga oleh Gerakan Reformasi Protestant.Gereja harus bertobat dan KEMBALI kepada Alkitab.BACK TO THE BIBLE,SEEKING HIS WILL AND HIS SPIRIT TEACHING daripada mencari doktrin-doktrin yang diinterpretasikan secara manusiawi. Karena jika engkau tidak berjaga-jaga,Aku akan datang seperti pencuri…Ini menunjukkan bahwa mayoritas gereja-gereja Luther,mereka kehilangan awareness untuk menyambut Hari Kedatangan Tuhan.Mereka menjadi gereja yang tidak berjaga-jaga.Mereka menjadi 5 pengantin wanita yang tidak bijaksana yang kehabisan minyak.Matius 25:1-13.

    Salah satu bukti dari hilangnya awareness itu adalah ketika gereja-gereja Reformasi ini yang tergabung di World Council of Churches mengadakan program Gereja Oikumene. Gereja Oikumene adalah Gereja Persatuan yang bertujuan untuk menyatukan Protestant dan Katholik. Bahkan semua agama-agama di dunia ini termasuk Islam,Hindu dan Budha dicoba untuk dipersatukan.

    Untuk informasi tambahan,dalam pembahasan Kitab Wahyu tentang Akhir Zaman,kita akan mengetahui bahwa setelah Rapture terjadi, gereja-gereja yang tertinggal akan membuat suatu gerakan oikumene untuk menciptakan satu organisasi gereja dunia yang sebenarnya program satu organisasi gereja dunia ini adalah taktik yang dipakai Iblis untuk mengontrol dunia melalui tangan Antichrist.Salah satu tipe gereja yang tertinggal Rapture adalah tipe gereja-gereja Luther.Selain dari gereja Roma Katholik.

    Wahyu 3:4
    Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya,mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih,karena mereka adalah layak untuk itu. Pada masa Gereja Sardis ini,dijumpai juga anak-anak Tuhan yang tetap setia kepada Firman Tuhan.Mereka benar-benar menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat,mereka hidup di dalam Kristus dan Kristus hidup di dalam mereka.Mereka tidak menjadi anak-anak Tuhan yang berkompromi. Untuk ikut Tuhan memang harus bayar harga.

    Ada satu kisah nyata dari seorang gadis kecil warganegara Armenia,yang menjadi pengungsi karena di negaranya ke-Kristenan ditindas begitu kejamnya.Gadis kecil ini datang ke kamp pengungsian dengan sorot mata lemahnya yang menandakan bahwa ia sedang menahan penderitaan yang hebat. Seorang staff medis bertanya kepada gadis kecil ini,apakah kamu sakit,sayang? Gadis ini menjawab,Saya sekarang memakai salib.Saya sekarang memakai salibnya Tuhanku Yesus Kristus.Sekarang saya tahu,betapa hebatnya Tuhan sangat menderita ketika Ia harus disalib.

    Staff medis itu tidak mengerti perkataan gadis itu,sampai ketika tiba di tenda-tenda pengungsian,salah seorang dokter memeriksa bahunya dan ia melihat di kulit gadis kecil itu sebuah salib yang di tanamkan dengan besi panas ke bahu gadis kecil itu.

    Luka itu sudah menjadi infeksi.

    Gadis kecil itu dengan polosnya bercerita bahwa setiap hari para tentara di negaranya datang ke rumahnya dan bertanya Muhammad atau Yesus? Ketika saya menjawab Yesus,saat itu pula mereka menanamkan besi panas ke bahu saya dengan gambar salib. Gadis kecil itu berkata,SEKARANG SELAMA SAYA HIDUP,SAYA AKAN TERUS MEMPUNYAI TANDA SALIB INI DI BAHU SAYA,SAMPAI SUATU HARI NANTI KETIKA SAYA KETEMU TUHAN YESUS,SAYA AKAN MERASA SENANG MENUNJUKKAN SALIB INI KEPADA TUHANKU. Gadis kecil dari Armenia ini sudah tahu apa artinya BAYAR HARGA. Bagaimanakah dengan kita?Sudahkah kita pikul salib dan ikut Yesus?

    PENGHARGAAN
    Wahyu 3:5
    Barangsiapa menang,ia akan dikenakan pakaian putih yang demikian,Aku tidak akan menghapus namanya dari Kitab Kehidupan,melainkan Aku akan mengaku namanya dihadapan BapaKu dan dihadapan para malaikatNya. Barangsiapa menang…hal ini mengacu kepada mereka yang telah lahir baru oleh Roh Kudus,1 Yohanes 5:1-4. Pakaian putih…hal ini mengacu kepada 2 Korintus 5:21,Kristus telah dibuatNya menjadi dosa karena kita,supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Tuhan.Dibenarkan oleh Tuhan,berarti kita diberikan pakaian putih.

    Aku tidak akan menghapus namanya dari Kitab Kehidupan…ini merupakan jaminan anak-anak Tuhan untuk lepas dari Hukuman yang Terakhir di Wahyu 20:11-15. Kitab Kehidupan adalah Kitab yang berisi nama-nama semua yang hidup. Adalah suatu hal yang mungkin,nama seseorang di buang dari Kitab Kehidupan jikalau dia: Berdosa terhadap Tuhan, Keluaran 32:33. Tidak menjadi umat pemenang,atau tidak lahir baru oleh Roh Kudus,1 Yohanes 5:1-4. Menambahkan atau mengurangkan nubuat-nubuat dari Kitab Wahyu,Wahyu 22:19. Singkatnya adalah,jika seseorang mempunyai dosa,maka namanya akan dibuang dari Kitab Kehidupan.

    Wahyu 3:6
    Siapa bertelinga hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat. Apakah anda mendengarkan atau tidak adalah ditentukan oleh apakah anda sudah mendengar peringatan-Nya untuk lahir baru di dalam Roh Kudus. Satu-satunya jalan agar nama anda tercatat dalam Kitab Kehidupan adalah berdoa memohon Tuhan Yesus agar mengampuni dosa-dosa anda,membersihkan dosa-dosa anda dan biarkan Roh Kudus memimpin hidup anda terus menerus.

    Tuhan Yesus memberkati

    Gereja Smirna ( 100 AD ­ 312 AD )

    Oleh:Andre Widodo

    Wahyu 2:8-11

    Gereja Smirna dikategorikan oleh para ahli Alkitab sebagai Gereja yang
    Teraniaya atau The Persecuted Church.Masa Gereja Smirna dimulai dari tahun 100 AD ­ 312 AD. Masa ini bisa disebut sebagai masa aniaya terbesar yang pernah terekam/dialami anak-anak Tuhan dalam sejarah gereja.Satan melakukan segala macam cara untuk menganiaya gereja,untuk menghambat gereja. Tetapi yang terjadi adalah : semakin anak-anak Tuhan dianiaya,semakin besar kebangunan rohani yang terjadi.

    Semakin dianiaya,justru membuat gereja semakin dekat kepada Kristus.
    Di Peta Alkitab,kota Smirna terletak di Asia Kecil.Kota ini didirikan oleh Alexander The Great raja Yunani kira-kira 300 tahun sebelum kelahiran Kristus. Kota ini adalah pusat komersial di Asia Kecil, karena kota Smirna menjadi tempat transit dari jalur perdagangan dari India dan Persia menuju ke Roma.

    Para arkeolog menemukan beberapa peninggalan mata uang kuno dari bekas
    reruntuhan kota Smirna.Hal ini menunjukkan bahwa kota Smirna adalah
    kota yang maju saat itu.

    Tetapi ditengah kemajuan kota Smirna,anak-anak Tuhan justru hidup dalam masa penganiayaan dan kemiskinan.Ini karena mereka tidak mau menyangkal iman mereka kepada Kristus Yesus.

    PUJIAN

    Wahyu 2:9
    Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu-namun engkau kaya dan fitnah
    mereka,yang menyebut dirinya orang Yahudi,tetapi yang sebenarnya tidak
    demikian : sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.

    Pada masa itu,gereja mengalami penganiayaan yang sangat dari Kerajaan
    Romawi. Bukan hanya penganiayaan fisik saja tetapi juga mengalami
    penganiayaan secara ekonomi yang menyebabkan mereka menjadi sangat
    miskin.Saat itu,jika masyarakat mengetahui bahwa seseorang adalah pengikut Kristus,mereka akan ditangkap,dianiaya atau mereka akan dikucilkan dari masyarakat.Para pedagang Kristen diboikot barang dagangannya sehingga tidak ada yang mau membeli barang mereka.Sehingga banyak dari mereka menjadi miskin.

    Tetapi di dalam kesusahan dan kemiskinan mereka,roh mereka semakin
    diteguhkan oleh Roh Kudus. Mereka mengalami kebangkitan rohani.Mereka bersuka cita karena mereka boleh dianiaya oleh karena Tuhan Yesus.Dan kasih mereka kepada Kristus semakin bertambah-tambah.Karena itu walaupun mereka miskin materi tetapi mereka kaya rohani.

    SEMAKIN KITA DEKAT PADA KRISTUS,SEMAKIN KAYA KITA.SEMAKIN KITA JAUH DARI KRISTUS,SEMAKIN MISKIN KITA.

    Sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis.
    Iblis/Satan,mempunya keyakinannya sendiri.Satan juga mempunyai jemaatnya sendiri,yang sering disebut jemaah Satan/gereja Satan.

    SETIAP GEREJA YANG MENGKHOTBAHKAN INJIL LAIN SELAIN DARIPADA INJIL TENTANG TUHAN KITA YESUS KRISTUS ADALAH GEREJA SATAN.

    Saat ini banyak macam gereja Kristen,tapi mereka bukan gereja Kristen yang sebenarnya karena mereka tidak memberitakan Injil Kristus.Contoh : Saksi Yehova,Mormon,Science Kristen dan lain-lain.

    Alkitab menyebut mereka adalah jemaah Iblis.

    TEGURAN
    Tidak ada.Tuhan Yesus tidak menegur Gereja Smirna.

    NASIHAT
    Wahyu 2:10

    Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita!Sesunguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama 10 hari.Hendaklah engkau setia sampai mati,dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan. 10 hari di ayat ini adalah 10 masa ke-kaisaran Romawi yang menindas anak-anak Tuhan.

    10 kaisar itu adalah :
    * Nero,dari tahun 54 AD ­ 68 AD.
    * Pada masa kaisar Nero,Paulus dipenggal dan Petrus disalib terbalik.
    * Domitian,dari tahun 81 AD ­ 96 AD.
    * Yohanes diasingkan ke pulau Patmos.
    * Trajan,dari tahun 98 AD ­ 117 AD.
    * Ignatius dibakar.
    * Marcus Aurelius,dari tahun 161 AD ­ 180 AD.
    * Justin Martyr dari tanah Palestina dibunuh.
    * Severus,dari tahun 193 AD ­ 211 AD.
    * Maximinius,dari tahun 235 AD ­ 238 AD.
    * Decius,dari tahun 249 AD ­ 251 AD.
    * Valerian,dari tahun 253 AD ­ 260 AD.
    * Aurelian,dari tahun 270 AD ­ 275 AD.
    * Diocletian,dari tahun 284 AD ­ 305 AD.

    Pada masa Diocletian ini terjadi penganiayaan yang amat hebat dibanding dengan penguasa sebelumnya.Ia membuat banyak keputusan untuk memusnahkan Alkitab dari muka bumi.Dan juga banyak anak-anak Tuhan ditangkap dan dibawa ke Colloseum untuk dijadikan makanan bagi singa-singa yang lapar,dijadikan makanan bagi anjing-anjing liar,dibakar dengan ter dan minyak.

    Pada tahun 156 AD,murid Yohanes yang bernama Polycarpus di rebus hidup-hidup di minyak penggorengan yang mendidih. Total korban diduga mencapai 5 juta anak-anak Tuhan menjadi martir pada masa
    10 ke-kaisaran ini.

    Tuhan Yesus menguatkan anak-anakNya.

    JANGAN TAKUT!

    Siapa yang memiliki Kristus Yesus dalam hidupnya,JANGAN TAKUT,walaupun
    betapa hebat penganiayaannya.Ketika kasih dibutuhkan,kasih akan
    dicurahkan,ketika keberanian dibutuhkan,keberanian akan dicurahkan,karena kita memiliki janji itu di dalam kuasa namaNya.

    Filipi 4:19

    Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.

    Karena itu tetaplah setia kepadaNya,walaupun sampai maut taruhannya.JanjiTuhan kepada mereka yang setia sampai mati,kita akan memerintah bersama Tuhan 1000 tahun lamanya di bumi, seperti tertulis di Wahyu 20:6.

    PENGHARGAAN

    Wahyu 2:11b
    Barangsiapa menang,ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.

    Kita sudah mengetahui bahwa dengan kebangkitan Kristus,IA memegang kunci maut dan kerajaan maut.

    Wahyu 1:18 menjelaskan hal ini.

    Apakah kematian yang kedua?
    Wahyu 20 :14
    Lautan api adalah kematian yang kedua.

    Setiap anak-anak Tuhan harus memahami apa arti KEMATIAN menurut
    definisi Alkitab. Kematian adalah terpisahnya/putusnya hubungan antara manusia dengan Tuhan.Karena tidak ada hubungan,maka walaupun masih hidup di dunia ini,manusia itu tetap dikatakan sebagai manusia yang mati.

    Kematian yang kedua adalah kematian bagi mereka yang telah mati/meninggal di luar Kristus lalu pada dibangkitkan hanya untuk dibuang ke lautan api yang menyala-nyala untuk selamanya.

    Kematian yang kedua ini tidak pernah ditakuti oleh anak-anak Tuhan,karena Tuhan kita Yesus Kristus telah membeli kita lunas dengan darahNya.Dan nama kita ada di kitab kehidupan.

    APAKAH NAMA ANDA SUDAH TERCATA DI KITAB KEHIDUPAN?

    Kalau belum,terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupmu.Biarkan nama anda tercatat di kitabNya.

    Demikian pembahasan Gereja Smirna,selanjutnya adalah Gereja Pergamus dari tahun 312 AD ­ 606 AD.Pembahasan Gereja Pergamus akan dilanjutkan nanti.

    Tuhan Yesus memberkati.

    Gereja Tiatira ( 606 AD ­ 7 Tahun Masa Kesusahan Besar )

    Oleh: Andre Widodo

    Wahyu 2:18-29
    Gereja Tiatira dikategorikan oleh para ahli/sarjana Alkitab sebagai Gereja dalam Masa Kegelapan atau The Church of The Dark Ages.Masa Gereja Tiatira dimulai dari tahun 606 AD-Masa 7 Tahun Kesusahan Besar.

    Kalau kita melihat Peta Alkitab,kota Tiatira juga ada di Asia Kecil.Kota ini didirikan oleh Alexander Agung raja Yunani kira-kira 300 tahun sebelum kelahiran Tuhan Yesus.Kota Tiatira adalah termasuk kota yang maju dan Alkitab mencatat pada saat Paulus di Filipi,ada warga Tiatira yang bernama Lidia bertobat dan terima Kristus Yesus sebagai Tuhan.Dapat dibaca di Kisah 16:14-15.

    Mengapa masa Gereja Tiatira ini dikatakan sebagai Gereja dalam Masa Kegelapan?

    Sejarah gereja mencatat bahwa setelah masa Gereja Pergamus,penyusupan praktek-praktek/doktrin-doktrin penyembahan berhala semakin bertambah di gereja.Gereja yang seharusnya menjadi terang dunia,seperti yang dikatakan Yesus di Matius 5:13-16,kini menjadi kebalikannya.Gereja mulai kehilangan terangNya dan mulai menjadi gelap sampai nanti terjadi Reformasi pada abad 15.

    Menyambung sejarah gereja setelah masa Gereja Pergamus,mari kita memperhatikan fakta-fakta sejarah mengenai perubahan-perubahan doktrin dan ajaran yang terjadi di gereja pada masa Gereja Tiatira akibat dari penyusupan praktek penyembahan berhala:

    Tahun 607 AD Bonafice III mengangkat Paus pertama dan menobatkan Paus sebagai wali gereja di muka bumi.
    Tahun 709 AD jemaat harus mencium kaki Paus.
    Tahun 786 AD pemujaan/penghormatan kepada gambar-gambar.
    Tahun 850 AD pemakaian air suci dimulai.
    Tahun 995 AD kanonisasi orang-orang kudus yang telah meninggal.
    Tahun 998 AD Hari Jumat diharuskan puasa.
    Tahun 1079 AD semua pelayan Tuhan harus membujang/tidak boleh menikah.
    Tahun 1190 AD penjualan suratmuntuk menghapus dosa.
    Tahun 1220 AD pemujaan terhadap hosti/wafer.
    Tahun 1229 AD Alkitab dilarang dibaca untuk orang awam.
    Tahun 1439 AD doktrin Api Penyucian disahkan.
    Tahun 1439 AD doktrin 7 sakramen disahkan.
    Tahun 1508 AD lagu Ave Maria menjadi lagu gereja.
    Tahun 1534 AD kelompok Jesuit didirikan untuk mempertahankan Katholikisme.
    Tahun 1545 AD tradisi gereja dianggap setingkat dengan Firman Tuhan.
    Tahun 1546 AD kitab Apocryphal ditambahkan di Alkitab.
    Tahun 1854 AD doktrin Bunda Maria adalah orang kudus ditetapkan.
    Tahun 1870 AD jabatan Paus dinyatakan untuk seumur hidup.
    Tahun 1930 AD sekolah-sekolah umum bertentangan dengan agama Katholik.
    Tahun 1965 AD Bunda Maria dinobatkan sebagai Ibu Gereja.

    Arti dari kata TIATIRA adalah SACRIFICE dan CONTINUAL.Maksud dari kata ini adalah CONTINUAL SACRIFICE.atau pengorbanan yang terus menerus. Seperti yang kita ketahui,Gereja Roma menyangkal bahwa karya penyelamatan Kristus sudah genap/telah selesai.Tetapi Gereja Roma menganggap bahwa CONTINUAL SACRIFICE adalah kelanjutan dari karya keselamatan Kristus.Itu sebabnya dalam beberapa sakramennya ada beberapa bagian agar umatnya mendoakan orang-orang yang telah mati. INI ADALAH FALSE DOCTRINE!

    Kalau kita mau menyelidiki tentang CONTINUAL SACRIFICE ini lebih mendetail,maka kita akan mendapatkan bahwa CONTINUAL SACRIFICE ini diambil dari budaya agama Babylonia,yang adalah induk dari praktek penyembahan berhala di dunia ini. CONTINUAL SACRIFICE ini tidak pernah ditulis dan tidak pernah diajarkan di Alkitab.Tetapi agama Katholik menganjurkan untuk terus melakukan CONTINUAL SACRIFICE dan menolak bahwa karya penyelamatan Kristus sudah selesai.Mereka terus mendoktrinkan bahwa keselamatan adalah melalui perbuatan-perbuatan baik kita,melalui materi kita,melalui surat penebusan dosa dan lain-lain.

    Akhirnya adalah sejak tahun 606 AD sampai saat ini,agama Katholik yang berpusat di Roma secara perlahan mulai berubah menjadi agama Babylonia modern. Satu hal yang paling mengejutkan di abad 20 ini adalah ketika Gereja Roma Katholik mulai menaikkan derajat Bunda Maria menjadi seperti Tuhan. Bunda Maria diangkat menjadi IBUNYA TUHAN dan RATU SORGA.Untuk bisa ke sorga Bunda Maria juga berhak menentukannya. Bahkan segala sesuatu sebelum sampai ke Tuhan Yesus harus melalui Bunda Maria.

    Padahal Alkitab mengatakan :
    Yohanes 14:6
    KATA YESUS KEPADANYA : AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP.TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DATANG KEPADA BAPA KALAU TIDAK MELALUI AKU.

    Kisah 4:12
    DAN KESELAMATAN TIDAK ADA DI DALAM SIAPAPUN JUGA SELAIN DI DALAM DIA,SEBAB DI BAWAH KOLONG LANGIT INI TIDAK ADA NAMA LAIN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA YANG OLEHNYA KITA DAPAT DISELAMATKAN.

    Salah seorang pengajar Alkitab bernama Tim Lahaye pernah bersaksi.Beberapa tahun yang lalu ia dan istrinya pergi ke Mexico City.Disana mereka ikut tour kota dan diberikan kesempatan untuk melihat bagaimana cara beribadah Katholik di Kathedral Shrine of Guadeloupe di Mexico City.Tim Lahaye begitu terkejut,ketika ia dan istrinya menyaksikan bagaimana kemiripan ibadah Katholik itu dengan praktek-praktek kuno penyembahan berhala di agama Babylonia kuno.Beberapa hal yang ditemui Tim Lahaye adalah :

    Cara penebusan dosa. Banyak dari mereka yang berguling-guling di aspal yang panas dengan menggunakan tangan dan lutut mereka,sehingga banyak yang dari mereka sampai berdarah- darah.Menurut mereka, hal ini adalah usaha mereka untuk menghukum diri mereka sendiri agar diselamatkan dari dosa. Padahal Alkitab mengatakan KITA DISELAMATKAN KARENA ANUGERAH TUHAN MELALUI IMAN KEPADA KRISTUS YESUS. Mari kita baca Efesus 2:8-9.

    Ruang ibadah yang gelap. Tempat ibadah yang penuh dengan nuansa
    gelap.Sehingga menimbulkan kesan penuh misteri. Penuh dengan patung-
    patung pemujaan/penghormatan. Tim menemui banyak patung di dalam
    Kathedral tersebut.Dan kita tahu bersama bahwa
    penyembahan/pemujaan/penghormatan kepada patung adalah tradisi
    penyembahan berhala yang dilarang oleh Tuhan.Mari kita baca lagi di
    Keluaran 20:4.

    Bunda Maria menjadi sentral figur dalam ibadah. Tim melihat bahwa
    figur Bunda Maria menjadi figur utama dalam praktek ibadah. Hal ini
    bertentangan dengan Kolose 1:18,yang menyatakan bahwa Kristus Yesuslah
    yang sulung,yang utama,yang harus menjadi sentral figur.

    Continual Sacrifice. Pengorbanan yang terus menerus.Kalau kita
    lihat di gereja-gereja Katholik,kita akan menemukan patung Tuhan Yesus
    yang terus menerus tergantung di kayu salib.Ini adalah sebenarnya
    lambang dari doktrin Continual Sacrifice yang bertentangan dengan
    Firman Tuhan.Dan apa kata Tuhan Yesus tentang hal ini? Wahyu 2: 17-18.
    AKU ADALAH YANG AWAL DAN YANG AKHIR,DAN YANG HIDUP.AKU TELAH MATI
    NAMUN LIHATLAH AKU HIDUP SAMPAI SELAMA-LAMANYA DAN AKU MEMEGANG SEGALA
    KUNCI MAUT DAN HADES. Jadi Yesus tidak terus terpaku di kayu salib,tetapi DIA BANGKIT,DIA HIDUP.

    PUJIAN
    Wahyu 2:19
    Aku tahu segala pekerjaanmu:baik kasihmu maupun imanmu,baik pelayananmu maupun ketekunanmu.Aku tahu,bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak daripada yang pertama.

    Melalui ayat ini,Tuhan Yesus mengatakan bahwa Tuhan tahu segala pekerjaan anak-anak Tuhan yang telah begitu setia dalam mengikut Kristus,Tuhan Yesus tahu kasihmu,Tuhan Yesus tahu imanmu,Tuhan Yesus tahu pelayananmu dan ketekunanmu. Beberapa tokoh yang setia kepada Firman Tuhan dalam zaman Gereja Tiatira ini adalah John Wycliffe,John Hus,Savonarola dan banyak lagi tokoh lainnya yang setia kepada Alkitab/Firman Tuhan sehingga mereka menjadi martir dalam mempertahankan iman mereka.

    Mareka menjadi martir karena melawan Paus di Roma.Mereka mencoba menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa negara mereka dan akhirnya martir dibakar diatas kayu api. Pada masa ini,kebanyakan para narapidana adalah orang-orang yang berusaha membaca dan menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa negara mereka.Penjara justru dipenuhi oleh anak-anak Tuhan yang bekerja luar biasa buat Tuhan.Ini adalah akibat peraturan yang dikeluarkan dari Roma untuk memberangus orang-orang yang mencoba belajar Alkitab.Karena itu zaman ini disebut sebagai zaman Gereja dalam Masa Kegelapan.

    TEGURAN
    Wahyu 2:20
    Tetapi Aku mencela engkau,karena engkau membiarkan wanita Izebel yang menyebut dirinya nabiah mengajar dan menyesatkan hamba-hambaKu supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.

    Wahyu 2:21
    Lihatlah,Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat,tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya itu.

    Tuhan Yesus mengajak kita kembali ke Perjanjian Lama untuk memahami cerita tentang Izebel.Dapat dibaca di 1 Raja-raja 16:29-! Raja-raja 19:18.Izebel adalah nama seorang wanita yang membawa agama Baal ke dalam bangsa Israel.Membawa penyembahan berhala ke dalam bangsa Israel.Sama halnya pada zaman Tiatira ini ketika banyak praktek/doktrin penyembahan berhala dibawa ke dalam gereja.

    Doktrin tentang Izebel ini mencakup 2 hal yaitu:

    Menarik anak-anak Tuhan melakukan perzinahan rohani dengan cara
    melakukan praktek-praktek penyembahan berhala yang menyakiti hati
    Tuhan. Mengajarkan makan makanan persembahan berhala.Melambangkan
    gereja Tuhan yang mulai mengikuti tradisi agama-agama kuno penyembah
    berhala.Gereja mulai bersifat duniawi,bukan lagi rohani.Dibawah
    control Paus,gereja berusaha memperluas daerahnya di dunia ini.Padahal
    Tuhan Yesus berkata bahwa KERAJAANKU BUKAN DARI DUNIA INI.Lihat
    Yohanes 18:36.

    Tuhan Yesus telah memberikan kesempatan untuk bertobat,tetapi GEREJA INI TIDAK MAU BERTOBAT DARI DOSA DAN KESALAHANNYA.
    APA AKIBATNYA DARI TIDAK MAU BERTOBAT DARI PENYEMBAHAN BERHALA?
    Wahyu 2:22
    Lihatlah,Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam KESUSAHAN BESAR,jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu

    Wahyu 2:23
    DAN ANAK-ANAKNYA AKAN KUMATIKAN DAN SEMUA JEMAAT AKAN MENGETAHUI BAHWA AKULAH YANG MENGUJI BATIN DAN HATI ORANG DAN BAHWA AKU AKAN MEMBALASKAN KEPADA KAMU SETIAP ORANG MENURUT PERBUATANNYA.

    Tuhan Yesus mengatakan bahwa gereja-gereja yang menyembah berhala ini/gereja Roma Katholik ini akan Tuhan ijinkan untuk masuk MASA 7 TAHUN KESUSAHAN BESAR seperti yang terdapat di Wahyu 17.
    Peringatan dari Tuhan Yesus ini jangan dianggap main-main!!!.

    MASA 7 TAHUN KESUSAHAN BESAR ADALAH MASA DIMANA KASIH TUHAN TIDAK ADA LAGI DI MUKA BUMI INI.YANG ADA ADALAH MURKA TUHAN. JANGAN SAMPAI MASUK KE DALAM MASA INI!!! TUHAN AKAN MEMBINASAKAN ANAK-ANAK KALIAN!!!

    Binasa atau kematian dalam Alkitab adalah berhubungan dengan kematian yang kedua.Kematian yang kedua adalah kematian karena nama kita tidak ada dalam Kitab Kehidupan,Wahyu 20:15.

    Selain itu ingat Keluaran 20:5
    KALAU KITA BERDOSA,MAKA AKIBAT DOSA ITU AKAN DITANGGUNG OLEH ANAK-ANAK KITA,KE KETURUNAN KITA YANG KE 3 DAN YANG KE 4.

    Alkitab memberikan buktinya :
    Abraham.Secara iman Abraham patut dicontoh.Tetapi Abraham berdosa ketika ia berbohong kepada Abimelekh ketika ia mengatakan Sarah adalah adiknyaLihat Kejadian 20:1-18.Lalu dosa Abraham ini turun kepada Ishak.Ishakpun melakukan hal yang sama seperti Abraham.Lihat Kejadian 26:7. Daud.Ia adalah pahlawan Tuhan.Tetapi ketika ia berzinah dengan Batsyeba,apa yang terjadi?Absalom anaknya melakukan hal yang sama,meniduri gundik-gundik ayahnya didepan mata rakyatnya.Anaknya yang lain juga berzinah,lihat cerita Amnon dan Tamar.

    Mari kita ingat PESAN Tuhan Yesus di Wahyu 2:23 ini!!!
    Dan adalah tugas kita semua sebagai anak-anak Tuhan untuk membagikan hal ini kepada saudara-saudara kita dari Katholik.Karena gereja yang menyembah berhala,lama kelamaan akan berubah menjadi gereja yang duniawi.Menjadi gereja yang sifatnya oikumene dan toleransi.Padahal sebagai gereja,kita anak-anak Tuhan haruslah segala sesuatu diuji berdasarkan Firman Tuhan.

    NASIHAT
    Wahyu 2:24
    Tetapi kepada kamu,yaitu orang-orang lain di Tiatira,yang tidak mengikuti ajaran itu dan yang tidak menyelediki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis,kepada kamu Aku berkata:Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu

    Wahyu 2:25
    Tetapi apa yang ada padamu,peganglah itu sampai Aku datang. Bagi anak-
    anak Tuhan yang menolak untuk ikut dalam penyembahan berhala ini,Tuhan
    Yesus berkataPEGANGLAH ITU SAMPAI TUHAN DATANG.

    PENGHARGAAN
    Wahyu 2:26
    Dan barangsiapa menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya,kepadanya akan Aku karuniakan kuasa atas bangsa-bangsa.

    Wahyu 2:27
    Dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi,mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk,sama seperti yang Kuterima dari BapaKu

    Wahyu 2:28
    Dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur. Penghargaan Tuhan Yesus jelas. Siapa yang bertahan,Tuhan akan menempatkan mereka sebagai para pemimpin di Kerajaan 1000 tahun di muka bumi ini.Dan Tuhan akan mengaruiakan kepadanya bintang timur.Bintang timur adalah lambang dari Tuhan Yesus sendiri.

    Wahyu 22:16b
    Aku adalah Tunas,yaitu keturunan Daud,Bintang Timur yang gilang gemilang.Tuhan akan menjadi bagian kita untuk selama-lamanya. TERPUJILAH TUHAN YESUS!!!HALELUYA!!!
    1 Yohanes 5:5
    Siapakah yang mengalahkan dunia,selain dari pada dia yang percaya bahwa Yesus adalah Anak Tuhan. Demikian pembahasan Gereja Tiatira,selanjutnya adalah Gereja Sardis dari tahun 1520 AD-Masa Kesusahan Besar.Tipe Gereja Sardis masih ada sampai saat ini dan akan terus ada sampai nanti Masa 7 tahun Kesusahan Besar.

    Gereja dan Bahasa Indonesia

    Penulis : Weinata Sairin

    Persatuan bangsa yang menjadi cita-cita dan kerinduan para pendiri negara kita, sering kali dipandang hanya dari satu segi, tidak dilihat secara holistik dan komprehensif. Pertentangan antar-suku, agama, ras dan golongan acap dianggap sebagai satu-satunya persoalan yang sangat krusial yang bisa memicu disintregasi bangsa. Padahal soal persatuan bangsa turut ditentukan juga oleh adanya bahasa nasional, yang menjadi bahasa persatuan di suatu negara. Bagi masyarakat Indonesia, adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional sangat penting. Persatuan bangsa memang terus-menerus perlu dijaga, dipelihara dan dilestarikan, justru dalam konteks masyarakat Indonesia yang serbamajemuk. Salah satu sarana untuk pelestarian persatuan itu adalah bahasa Indonesia.

    Dengan demikian, penyadaran untuk menggunakan serta menguasai bahasa nasional menjadi hal yang sangat penting, mendasar dan strategis. Dalam sebuah tulisan di tahun 1966 Prof. Dr Ihromi, M.A. ahli bahasa Semit Universitas Indonesia dan pernah mengajar di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta menyatakan, bahasa Indonesia memainkan peranan yang sangat penting dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

    Menurut Dr Ihromi, kesadaran tentang pentingnya peranan bahasa nasional lebih ditimbulkan lagi oleh penghargaan dari luar; terutama sekali melalui percakapan dengan tokoh Gereja Sri Lanka. Tokoh Sri Lanka itu dalam percakapan dengan Dr. Ihromi mengagumi peranan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan mengkhawatirkan adanya pertentangan-pertentangan mengenai bahasa dan tulisan di Sri Lanka antara orang-orang yang berbahasa Singal dan Tamil.

    Pemersatu

    Dalam Kongres Bahasa Indonesia yang berlangsung di Jakarta tanggal 14 - 17 Oktober 2003 semangat para peserta untuk memahami bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa benar-benar hidup dan mewarnai suasana kongres. Itulah sebabnya ketika seorang penceramah menyatakan agar bahasa daerah bisa juga digunakan dalam forum-forum peradilan misalnya, agar proses peradilan dapat lebih dipahami oleh penutur bahasa daerah tersebut, peserta dari floor dengan tegas menolak hal itu. Ia menyadarkan penceramah bahwa dalam konteks seperti itu, bahasa daerah bisa menjadi elemen yang merusak persatuan bangsa.

    Dalam kongres itu Menteri Pendidikan Nasional menegaskan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional yang sekaligus juga bahasa negara, sebab itu setiap orang dituntut untuk menguasai bahasa Indonesia agar ia dapat menjalankan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Bahasa asing memang perlu di era globalisasi, tetapi sejalan dengan itu, kata Menteri, kita harus menanamkan kecintaan, kebanggaan dan kesetiaan kita terhadap bahasa nasional dan bahasa daerah. Hubungan timbal balik antara bahasa asing, nasional dan daerah perlu diatur sehingga terjadi keseimbangan dan keharmonisan dalam pengajaran dan pemakaiannya.

    Wacana yang berkembang dalam Kongres Bahasa selain pemikiran-pemikiran bagaimana pengajaran bahasa dan sastra dilakukan lebih baik di lembaga-lembaga pendidikan, adalah juga perlunya ada ketentuan perundangan yang mengatur tentang kebahasaan.

    Pemikiran tentang undang-undang kebahasaan ini telah muncul sejak Kongres Bahasa 5 tahun yang lalu mengingat makin parahnya penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat, termasuk yang dilakukan oleh para pemimpin.

    Undang-undang tentang bahasa merupakan tindak lanjut dari rumusan pasal 36 C UUD 1945 yang berbunyi: "Ketentuan lebih lanjut mengenai Bendera, Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan diatur dengan undang-undang".

    Kekacauan

    Kesalahan penggunaan bahasa Indonesia terjadi hampir setiap saat, di setiap tempat di semua aras dan oleh setiap orang. Cobalah simak pembacaan berita pada televisi, begitu sering terjadi kesalahan dan atau kerancuan dalam penggunaan bahasa Indonesia. Cobalah dengarkan pidato-pidato dan juga kotbah-kotbah di gereja: berapa banyak kesalahan berbahasa yang terjadi di sana, cobalah cermati ungkapan protokol/pembawa acara di suatu pesta atau di suatu acara gereja. Kerancuan penyebutan istilah/kata terjadi a.l. pada kata : "identitas" (sering disebut indentitas), "Plaket" (sering disebut plakat), "faksi" sering dikacaukan dengan fraksi.

    Kekacauan penggunaan kata terjadi pada kata "merubah", yang seharusnya mengubah. Di dalam kebaktian minggu, seorang penghkotbah memulai kotbah dengan mengatakan "Saudara-saudara yang terkasih" seharusnya "Saudara-saudara yang saya kasihi".

    Gereja, umat Kristen dan lembaga-lembaga kristiani bisa berperan banyak dalam rangka pelestarian bahasa Indonesia atau dalam rangka penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Gereja/lembaga kristiani bisa melakukan pelatihan kebahasaan bagi para pejabat gereja; para pendeta dilengkapi dengan Kamus Bahasa Indonesia; dokumen-dokumen tertulis yang dikeluarkan gereja harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lembaga Alkitab Indonesia dapat dikatakan sebagai salah satu lembaga kristiani yang sejak berpuluh tahun memberi perhatian terhadap bahasa Indonesia dan bahasa daerah bahkan bahasa-bahasa asing.

    Penerjemahan Alkitab dari bahasa Ibrani dan Yunani ke bahasa Indonesia, penerjemahan Alkitab bahasa Indonesia kebahasa-bahasa daerah adalah wujud kepedulian LAI terhadap upaya pelestarian dan pengembangan bahasa Indonesia.

    Pada awal bulan ini LAI telah menyelenggarakan kebaktian syukur berkenaan dengan terbitnya Alkitab dwi-bahasa: bahasa Arab dan Indonesia. Penerjemahan ini menggunakan Good News Arabic - Lembaga Alkitab Libanon 1997 dimaksudkan sebagai upaya melengkapi para mahasiswa teologi dalam studi mereka. Bahasa adalah cermin budaya bangsa, pemakaian bahasa Indonesia secara baik dan benar seharusnya adalah bagian dari rasa bangga sebagai bangsa.

    Namun kondisi realistik yang kita temui dalam pengalaman praktis, belum sepenuhnya mengarah pada ideal-ideal diatas.

    Selain memang ada tahap penguasaan bahasa Indonesianya masih perlu dipacu; tak jarang ada yang merasa rendah diri jika menggunakan bahasa Indonesia. Gereja dan umat Kristen Indonesia dapat memainkan peran signifikan dalam upaya mendorong masyarakat menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Gereja dan Pelayanan Inklusif

    Penulis: Aart van Beek

    Gereja pelayanan saya, bertempat di pinggir utara sebuah taman
    bernama Southside Park. Itu sebabnya, gereja putih kecil itu disebut
    Park-view. Gereja saya beranggotakan orang-orang keturunan Asia,
    namun di sampingnya ada gereja Katolik Meksiko besar. Gereja itu
    merupakan salah satu tempat paling suci bagi orang-orang Meksiko di
    seluruh Amerika Serikat, sehingga setiap minggu 6.000 jemaat datang
    untuk mengikuti kebaktian, yang semuanya diselenggarakan dalam
    bahasa Spanyol.

    Di sebelah timur taman Southside Park, ada gereja Baptis dengan
    jemaat kecil beranggota keturunan Eropa dan sebuah jemaat African
    Methodist Episcopal yang didirikan sekitar 100 tahun yang lalu oleh
    seorang budak yang dibebaskan di bagian selatan Amerika Serikat.

    Di sebelah barat taman tersebut, berdiri dua "gereja" asal aliran
    Shinto Jepang, yaitu "Tenrikyo" dan "Konko". Kalau belok kiri dari
    situ, lalu berjalan kaki seratus meter, kelihatan jemaat kecil
    Katolik Portugis bernama Fatima, dan di seberang jalan ada sebuah
    mesjid orang-orang Pakistan. Tidak jauh, menyeberangi jalan besar
    ada tempat beribadah agama Buddha yang sangat besar.

    Beriman Tetapi Terpisah
    Ketika saya berjalan di "kampung" downtown itu kok semua kelihatan
    rukun dan beraneka ragam, seolah-olah ideal Amerika tercapai di
    situ. Memang, kota Sacramento ini pernah dicap oleh majalah Time
    sebagai kota yang paling beraneka ragam dan rukun dari segi suku dan
    ras di Amerika Serikat, karena sebenarnya tidak ada mayoritas etnis
    di kota itu. Ini nampak dalam jumlah pernikahan yang lintas-budaya
    dan antara ras.

    Namun demikian, kenapa setiap kelompok etnis mempunyai jemaat
    sendiri? Kenapa, kalau kita memasuki gereja beranggota keturunan
    Afrika, kita tidak melihat orang-orang Kristen dari ras yang lain.
    Kenapa kalau kita memasuki gereja Katolik "Guadalupe" yang menganut
    tradisi Meksiko, hampir tidak ada orang yang berasal dari negara
    selain Meksiko itu? Kenapa, kalau ada pengunjung orang putih di
    jemaat Asia yang saya gembalakan (yang kini secara resmi disebut
    multi-cultural Asian, bukan lagi Japanese-American seperti dulu),
    mereka tidak pernah kembali.

    Jawabannya cukup mudah dicari: karena di gedung gereja kita ingin
    menemui orang seperti kita sendiri. Di gereja kita tidak sanggup
    merasa asing. Gereja adalah tempat di mana rasa memiliki diharapkan
    akan paling murni. Anggota jemaat kita merupakan cermin di mana kita
    memandang wajah sendiri.

    Dalam buku mereka berjudul United by Faith, the multiracial
    congregation as an answer to the problem of race (New York: Oxford
    University Press, 2003) para penulis mengutarakan hasil penelitian
    mereka. Mereka menyatakan bahwa jemaat yang beraneka ragam dapat
    menjawab persoalan rasisme dan sukuisme.

    Mereka memberikan contoh jemaat Antiochia dan Korinthus, pada zaman
    kuno sebagai gereja yang mempersatukan sejumlah kelompok dari
    beberapa latar belakang etnis. Para penulis juga menjelaskan bahwa
    pada permulaan sejarah Amerika Serikat, jemaat-jemaat tidak
    dipisahkan atas dasar ras, tetapi atas dasar kelas. Baru setelah
    periode kolonial selesai, gereja dengan suku tersendiri mulai
    berkembang sesungguhnya.

    Di Indonesia, perbedaan ras tidak begitu main peranan, meskipun
    masih cukup sering orang dipandang rendah karena warna kulit, daerah
    asal dan lain sebagainya. Ternyata kita mengetahui bahwa jemaat yang
    beraneka ragam dari segi suku dan budaya tidak gampang dikembangkan,
    karena dalam kebaktian tradisi budaya dan bahasa memiliki fungsi
    penting.

    Tidak jauh dari jemaat saya-jalan kaki dua puluh menit ke utara-ada
    taman lagi. Taman ini lebih besar dan menarik, karena di pusatnya
    ada gedung Capitol, markas besar pemerintahan bagian negeri
    California. Di Capitol itu, ada kantor Gubernur dan pemain film
    berotot besar yang terkenal, yaitu Arnold Schwarzenegger.

    Barangkali dari jendela kantornya, Arnold dapat melihat gedung
    jemaat Presbyterian Westminster. Di sana, ada juga tempat kumpulan
    jemaat kecil orang Indonesia. Pada perayaan Natal lalu, banyak orang
    Indonesia datang dari seluruh California Utara: termasuk wakil
    Konsul RI dari San Francisco. Juga, ada wanita Indonesia yang
    berjilbab, mereka datang untuk menghormati sesama warga negara
    Indonesia. Yang mempersatukan mereka bukan agama, tetapi kebangsaan
    (dan juga sedikit: masakan Indonesia yang lezat).

    Rasa kebangsaan kadang lebih menyatukan kita daripada agama dan
    iman. Rupanya agama banyak memisahkan kita. Memang ini periode
    konyol. Di seluruh dunia, termasuk di Amerika Serikat, rupanya
    fundamentalisme sangat berkuasa dan suara orang moderat kurang
    terdengar.

    Bagi saya, Indonesia masih merupakan salah satu harapan dunia,
    karena kerukunan jauh lebih membudaya daripada radikalisme. Saya
    berpendapat bahwa budaya Asia Tenggara yang begitu mementingkan dan
    merayakan anak-anak kecil, tidak mungkin menonjolkan jiwa pahit.
    Negara berbudaya seperti itu akhirnya akan mementingkan perdamaian
    dan kerukunan.

    Jemaat Beraneka Ragam
    Namun politik negara selalu berubah. Tidak mungkin kita
    mempercayakan politik untuk selalu mempersatukan kita dalam negara
    kita masing- masing. Persatuan manusia pasti berakar lebih dalam.

    Seharusnya, iman kita juga bisa mempersatukan manusia. Jemaat-
    jemaat yang tidak dapat mengafirmasikan seluruh manusia sebagai anak-
    anak Allah tidak boleh disebut orang-orang beriman. Para penulis
    buku "United by Faith" menegaskan bahwa gereja-gereja ".....
    seharusnya merupakan tempat di mana manusia merasa diangkat secara
    rohani dan diafirmasi secara pribadi..." (hal. 134) Implikasi
    gagasan itu adalah bahwa semua mahluk patut diafirmasi. Dengan kata
    lain, gereja harus bersikap dan bersifat inklusif, bukan eksklusif.

    Para penulis "United in Faith" (DeYoung, Emerson, Yancey, dan Chai
    Kim) menekankan, bahwa jemaat beraneka ragam dari segi suku dan
    budaya akan menjadi pedoman untuk masyarakat secara umum. "Jemaat-
    jemaat multirasial kemungkinan besar akan menjadi persekutuan
    paralel dalam masyarakat yang rasistis. Jemaat-jemaat itu akan
    menjadi tempat di mana mereka yang ingin mempelopori pola
    persekutuan inklusif secara rasial ...menemukan perlindungan dari
    masyakat yang terpolarisir.." (hal. 141).

    Walaupun masalah rasisme atau sukuisme di Indonesia tidak setajam
    seperti di Amerika Serikat, peraneka ragaman institut di Indonesia
    pasti juga masih mengalami hambatan tertentu.

    Otentik dan Mendamaikan

    Para penulis buku di atas yakin, bahwa persekutuan-persekutuan
    beriman harus harus menjadi teladan:"masa depan kekristenan dalam
    abad kedua puluh satu bergantung pada contoh-contoh praktis dan
    hidup beriman yang otentik dan mendamaikan. (Hal. 143) Kata-
    kata "otentik"(authentic) dan "mendamaikan" penting
    sekali. "Authentic" berarti "tangan asli" tetapi dalam konteks ini
    juga berimplikasi "berhati asli" atau "berjiwa asli." Apa maksudnya
    iman yang otentik?

    Jawabannya wajar; kalau kita kembali ke iman yang "tangan
    asli", "berhati asli" ataupun "berjiwa asli" kita kembali ke suatu
    pemahaman yang mendahului ras dan kelas dan agama pun. Kita kembali
    ke gagasan bahwa manusia diciptakan bersatu dan setaraf. Dengan kata
    lain, yang mempersatukan kita bukan suku kita atau daerah asal kita
    atau bahasa kita atau kelas ekonomis atau pendidikan atau kebangsaan
    atau pun agama. Yang mempersatukan kita secara "otentik" adalah
    warisan kita bersama sebagai ciptaan sayangan dari Yang Mulia.

    Gereja dan Pelayanan inklusif di Indonesia Dalam masyarakat yang
    beraneka ragam, dari segi budaya atau pun dari segi agama, pelayanan
    bermutu adalah sarana utama orang beriman untuk menunjukkan kasih
    kepada mereka yang menderita. Pelayanan bermutu berarti pelayanan
    yang mulai dengan kebutuhan penderita secara menyeluruh.

    Gereja jangan mengatakan dengan sikapnya, "Inilah pelayanan kami,
    terserah anda mau menerimanya atau tidak. Datanglah kepada kami dan
    kami akan melayanimu sesuai dengan minat, kemampuan dan pendidikan
    kami".

    Sebaliknya, gereja hendak menjawab kebutuhan mereka yang menderita
    secara yang kreatif dengan datang kepada penderita. Walaupun tidak
    dijelaskan dalam buku "United by Faith", orang-orang beriman hanya
    dapat mempersatukan kembali manusia kalau kasih para pelayan beriman
    merupakan kasih yang sungguh-sungguh, tanpa kesombongan dan paksaan
    atau agenda tersembunyi.

    Keaslian sikap para pelayan selalu akan nampak pada yang membutuhkan
    pelayanan. Gereja hanya akan inklusif kalau pelayan-pelayan beriman
    sungguh dalam menunjukkan kasih. Tanpa kasih yang murni, kata-kata
    orang beriman akan seperti gaung saja, dan pelayanan mereka akan
    berjiwa kosong.

    Hanya kasih yang tulus dalam pelayanan gereja dapat mengarahkan
    masyarakat menuju kerukunan. Selalu akan terdapat perbedaan antara
    manusia, tetapi pada dasarnya seluruh manusia mengerti apa itu kasih
    yang sungguh-sungguh, dan siapa pelayan yang tulus itu.

    .........................................................................................................................................
    Penulis adalah mantan dosen konseling pastoral di Universitas
    Kristen Satya Wacana Salatiga dan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta
    Sumber: Suara Pembaharuan

    Gereja dan Pendidikan

    Penulis : Weinata Sairin

    Krisis yang menghantam Indonesia sejak beberapa tahun terakhir ini telah mengantar bangsa dan negeri ini pada kondisi yang amat memprihatinkan. Realitas yang sedemikian itu hampir terjadi di semua aspek. Media massa menurunkan laporan yang amat transparan dan rinci tentang carut-marut wajah Indonesia, tanpa harus merasa risih dan rikuh. Dilaporkan misalnya Indeks Pembangunan Manusia mengalami kemerosotan dari 0,684 ke 0,682 sehingga peringkat Indonesia turun dari posisi 110 menjadi 112 dari 175 negara di dunia (Kompas, 10-07-2003).

    Meski angka sering tidak menunjukkan fakta senyatanya, namun dengan mata telanjang dapat dilihat penurunan kualitas manusia Indonesia terjadi di mana-mana. Hal ini dapat dilacak dari kondisi masyarakat kelas bawah yang tidak da- pat lagi menjangkau pelayanan kesehatan, tidak dapat lagi membeli kebutuhan pokok sehari-hari dengan layak, dan tidak dapat lagi menjangkau pelayanan pendidikan.

    Upaya bunuh diri yang dilakukan seorang anak SD beberapa waktu lalu, maraknya aksi teror, kekerasan, pembunuhan adalah contoh paling segar tentang rendahnya, bahkan makin tidak beradabnya manusia Indonesia. Dalam hal korupsi misalnya "prestasi" Indonesia amat memalukan. Menurut laporan media massa baru-baru ini Indonesia menempati peringkat keenam sebagai negara terkorup di dunia.

    Menanggapi kondisi ini, Nurcholish Madjid dengan amat keras menyatakan bahwa Allah melaknat yang menyuap, yang menerima suap dan yang menjadi perantara suap-menyuap.

    Menurut Nurcholish, rakyat Indonesia harus melaksanakan ajaran Allah di dalam kehidupannya, dan dengan cara itu bangsa Indonesia yang paling korup sekaligus bangsa paling laknat, bisa diakhiri.

    Ironisnya korupsi bahkan bisa terjadi dalam jumlah besar justru di kantor-kantor pemerintah yang mengurusi soal-soal keagamaan. Apa sebenarnya yang sedang terjadi dalam kehidupan bangsa ini? Orang banyak kemudian dengan mudah mempertanyakan tentang dunia pendidikan, bahkan menuding bahwa pendidikan tidak berhasil mendidik bangsa ini. Padahal dunia pendidikan juga memiliki masalah-masalah yang tidak kecil dan sederhana. Para pakar dan birokrat pendidikan mencatat beberapa permasalahan mendasar yang sejak lama digumuli dunia pendidikan.

    Meski pun belum maksimal, namun pelaksanaan wajib belajar 9 tahun telah berhasil mendorong perluasan kesempatan belajar di SD dan SLTP. Krisis ekonomi sejak pertengahan 1997 berdampak buruk tersebut karena terjadi penurunan angka partisipasi murni yang berakibat tingginya angka putus sekolah dan menurunnya murid baru.

    Mutu pendidikan adalah aspek yang tidak dapat dipisahkan dari pemerataan dan perluasan kesempatan belajar. Asumsinya, perluasan dan pemerataan pendidikan yang bermutu akan mendorong terwujudnya kelompok masyarakat yang bermutu.

    Relevansi pendidikan berkaitan dengan sejauhmana lulusan suatu sekolah dapat langsung diserap oleh dunia kerja pada umumnya lebih-lebih dewasa ini perkembangan iptek berjalan dengan amat cepat. Masalah relevansi secara umum lebih mengarah pada pendidik- an kejuruan dan profesional yang berorientasi pada penyiapan tenaga kerja terdidik pada berbagai tingkatan untuk mengisi kesempatan kerja.

    Permasalahan akibat pengelolaan pendidikan yang sangat sentralistis, kurang berkembangnya kemampuan daerah dalam mengatur dan mengelola sektor pendidikan di daerah. Selain itu, selama ini sekolah juga tidak mempunyai otonomi dalam mengelola sekolah, sekolah hanya menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang lebih tinggi.

    Soal pembiayaan tidak terlalu mudah apalagi jika sekolah-sekolah tidak memiliki kreativitas dalam menggalang dana di tengah masyarakat. Masalah-masalah makro dunia pendidikan akan lebih rumit dan kompleks lagi jika lebih menukik pada problema yang dihadapi oleh sekolah-sekolah Kristen khususnya dalam mengimplementasi UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

    Dalam UU No 20 Tahun 2003 eksistensi perguruan swasta terdapat dalam Pasal 55 Ayat (1) masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama...Penjelasan ayat tersebut: "Kekhasan satuan pendidikan yang diselenggarakan masyarakat tetap dihargai dan dijamin oleh undang-undang ini".

    Dasar yang Kukuh

    Pasal ini memberikan dasar yang kukuh dan legitim bagi sekolah-sekolah Kristen untuk memberikan kontribusi optimal dan terbaik bagi upaya pencerdasan bangsa.

    Dalam peraturan pemerintah nanti mesti terjamin bahwa sekolah-sekolah Kristen memiliki otonomi, kemandirian untuk mengekspresikan ciri-khasnya dengan leluasa. Pemerintah dan masyarakat menghargai dan menjamin eksistensi sekolah Kristen berdasarkan undang-undang.

    Pada tanggal 13-16 Oktober 2003 di Manado diselenggarakan Sidang Pengurus Pleno (SPP) III Majelis Pendidikan Kristen di Indonesia yang diikuti oleh utusan MPK Wilayah seluruh Indonesia dan lembaga-lembaga mitra yang bergerak di bidang pendidikan. SPP III MPK di Indonesia harus meneguhkan kembali komitmen lembaga pendidikan Kristen di Indonesia, yaitu bahwa melalui ciri-khasnya sekolah-sekolah Kristen akan terus memberi kontribusi bagi pencerdasan bangsa.

    Pendidikan Kristen perlu dibangun dengan mengembangkan: lingkungan sekolah yang aman dan tertib, ada visi dan target mutu yang ingin dicapai, ada kepemimpinan yang kuat, adanya komitmen dari kepala sekolah, guru, dan para siswa untuk berprestasi, adanya pengembangan staf sekolah yang terus-menerus sesuai dengan tuntutan iptek, adanya pelaksanaan evaluasi yang terus-menerus terhadap berbagai aspek akademik dan administratif, dan pemanfaatan hasilnya untuk penyempurnaan/ perbaikan mutu, dan adanya komunikasi dan dukungan intensif dari orangtua murid/masyarakat.

    Dalam rangka implementasi UU Sisdiknas dan era otonomi daerah di sektor pendidikan, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sosialisasi kritis tentang materi UU Sisdiknas; pemberdayaan wilayah/lembaga pendidikan: education watch/advokasi dan bantuan hukum pendidikan, mencermati perda di daerah, mencermati/mengkaji Rancangan PP.

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Gereja telah Menjadi Musuh Allah?

    Penulis : Daniel Alamsyah

    Tahun 2005 telah kita lewati separuhnya... Tanda-tanda transformasi yg dicanangkan oleh para pemimpin umat bahwa negeri ini akan terjadi transformasi pada tahun ini belum juga kunjung tiba! Kita semua patut merenungkan kembali, terlebih para pemimpin umat Tuhan, kenapa transformasi belum terjadi di negeri ini? Apa salah kita sehingga Tuhan belum melawat negeri ini?

    Semua usaha telah dilakukan melalui berbagai macam conference, pertemuan2 akbar di berbagai kota2 besar di seluruh Indonesia, entah sudah menghabisi dana berapa M? Hasilnya belum terasa dan mubazir? Terjalinnya kesatuan gereja2 hanya sebatas dipertemuan dan conference secara ceremonial saja! Supaya dilihat umat bersatu? Tetapi kenyataan masyarakat gereja dan pemimpin umat yang membuat kerajaan surga terpecah2, masing2 berdiri di atas prinsip2 denominasi dan bukan di atas kebenaran firman Tuhan, prinsip2 denominasi yang memecah belah gereja, mereka yang sering merasa gerejanya yang paling benar dan diberkati di dalam Tuhan, justru prinsip inilah yang membuat tembok pemisah antara satu gereja dan gereja lainnya, gereja terpecah-pecah. Dan pemimpin umat harus bertanggung jawab kepada Tuhan, karena Tuhan menghendaki gereja bersatu, sebagaimana doa Tuhan Yesus ketika Dia masih melayani di dunia, "Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa , di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." (Yoh. 17 : 21)

    Kita telah menjadi musuh Allah?

    Bagaimana transformasi bisa terjadi? Gereja telah berpaling dari kasih, di saat-saat saudara2 kita di Nias dan Aceh sedang mengalami bencana musibah, yang harus kita tolong dan bantu, justru para pemimpin umat sibuk dengan conference2 dan pertemuan2 yang katanya untuk menyongsong transformasi menuju Indonesia baru! Saat ini gereja hanya sedang concern di perobahan secara physik yang dapat dilihat oleh kasad mata, agar dipandang dunia dan sibuk dengan hal-2 seperti orang duniawi, pertemuan2 diadakan di hotel2 mewah dan bermalam di hotel2 berbintang, bukankah itu sama seperti orang duniawi? Gereja sendiri yang melakukannya dan mencontoh orang2 dunia, gereja tidak sadar telah menjadi musuh Allah! Karena firman Tuhan yang mengatakan, "Hai kamu orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barang siapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah." (Yakobus 4:4).

    Gereja harus mengfokuskan dahulu membangun spiritual umat Tuhan, menjadikan umat yang dewasa rohaninya, dan harus dimulai para pemimpin umat untuk benar2 hidup dalam kebenaran firman Tuhan, bukan untuk mempertahankan prinsip gerejanya yang paling benar, karena si Iblis akan menaruhkan prinsip2 yang berbeda2 agar dapat memecah belah gereja.

    Gereja harus menjadi pelaku Firman.

    Pemimpin umat yang sering mengatakan, "Kita harus menjadi pelaku Firman", tetapi masih sering terdengar bahwa bukannya menjadi pelaku melainkan menjadi pendebat firman, seperti ahli2 Taurat dan orang2 Farisi yang berdebat tentang firman, mempertahankan prinsip kebenaran dan berdiri di atas prinsip denominasi gerejanya, dan memandang orang lain itu sesat.

    Mari kita tinggalkan perbedaan2 kita dan menjadi pelaku2 firman, dan menyebarkan Kasih Tuhan kepada saudara2 kita yang terabaikan di desa, lereng2 gunung, yang membutuhkan pertolongan dan menjadi mitra kerja Tuhan, justru pemimpin2 umat Tuhan harus turun, jangan hanya berkhotbah atau mengadakan seminar dan conference2 di hotel-hotel mewah, cobalah turun ke pelosok-plosok desa dan bukankah lebih baik membangun kesejahteraan umat, supaya semuanya bisa menjadi saksi untuk Tuhan?

    "Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6: 2)

    Transformasi akan terjadi dari para pemimpin umat dahulu dan umat Tuhan dan masyarakat dan negara, dan ini bisa terjadi kalau gereja sudah menjadi pelaku Firman.

    Gereja, Perpustakaan dan Minat Baca

    Penulis : Weinata Sairin

    Dalam perspektif kristen, gereja bukan hanya berarti bangunan tempat umat Kristen beribadah. Gereja adalah persekutuan yang telah dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang (I Petrus 2:9-10). Jadi gereja tidak semata-mata persekutuan biasa yang dibentuk, dipimpin oleh sekelompok orang. Gereja adalah persekutuan milik Allah yang diberi mandat oleh Allah untuk menebarkan syalom di tengah-tengah sejarah dunia. Ada aspek vertikal/transendental yang penting digarisbawahi ketika kita berbicara tentang gereja. Gereja ada oleh karena kuasa Allah. Gedung gereja dapat saja ditutup, dirusak/dibakar oleh siapapun, tetapi sebagai persekutuan milik Allah gereja tak pernah bisa dihabisi - kecuali atas kehendak Allah. Itulah sebabnya "gereja liar" tak pernah ada. Istilah itu amat menyinggung perasaan umat Kristus. Keresmian sebuah gereja sama sekali tidak pernah berada pada manusia, atau kuasa apapun, apalagi pada sebuah SKB; tapi pada Yesus Kristus Raja dan Kepala Gereja.

    Gereja-gereja di Indonesia menyadari ia adalah bagian tak terpisahkan dari seluruh bangsa Indonesia. Ia lahir dari tengah- tengah bangsa Indonesia sebagai buah pekerjaan Roh Kudus, dan telah ditempatkan oleh Tuhan sendiri untuk melaksanakan tugas panggilannya dan menjadi berkat bagi semua di dalam Negara Pancasila, yang sedang memulihkan diri dari berbagai krisis multi-dimensi, dijiwai oleh semangat reformasi yang dipelopori mahasiswa tahun 1997. Kehidupan gereja-gereja sering mengalami kemerosotan tingkat solidaritas satu terhadap yang lain, yang ikut melemahkan gereja dalam memenuhi tugas panggilan dan pengutusan di tengah-tengah masyarakat, bangsa dan negara Indonesia. Gereja juga tidak jarang terjebak dalam pemahaman tentang spiritualitas yang sempit dan gereja formalisme di mana secara formal gereja itu ada tapi tidak fungsional untuk berperan di tengah-tengah masyarakat

    Perpustakaan

    Salah satu bentuk interaksi gereja dengan masyarakat luas, sejak masa-masa yang lampau adalah buku. Ketika pada bulan Oktober 1946 didirikan penerbit BPK Gunung Mulia, dimaksudkan agar gereja mampu memperkenalkan nilai-nilai kekristenan dalam bentuk tulisan dalam sebuah negara Indonesia yang merdeka.

    Peran para kolportir yang membawa buku-buku kerohanian kepada masyarakat luas amat penting maknanya dalam memperkenalkan kekristenan dan sekaligus memperluas wawasan para pembaca dengan nilai-nilai kekristenan. Relasi gereja dengan dunia buku menjadi sesuatu yang tak terbantahkan.

    Alkitab menyatakan "pada mulanya adalah Firman". Firman, kata menjadi unsur fundamental dalam kedirian manusia. Kata berarti bahasa, dan bahasa melahirkan buku. Dalam konteks itu buku adalah bagian integral dari degup kehidupan umat. Bagaimana perhatian gereja terhadap perpustakaan? Apakah perpustakaan telah dilihat sebagai bagian dari upaya gereja untuk mengembangkan wawasan warga jemaat? Secara umum dapat dikatakan gereja/jemaat belum memberi perhatian yang lebih sungguh terhadap pengadaan/pelayanan perpustakaan. Perpustakaan masih dilihat sebagai barang mewah dan tidak dipahami sebagai alat penopang bagi pelayanan gereja.

    Dalam era informasi, perpustakaan memegang peranan amat penting dan strategis, yaitu sebagai agen perubahan, agen pembangunan, agen budaya dan pengembangan iptek. Perpustakaan dapat mengubah nilai, mencerahkan, mengajarkan sehingga wawsan seseorang lebih luas dan mendalam. Perpustakaan memiliki nilai-nilai yang positif dalam kehidupan umat jika dikelola dengan baik dan profesional. Beberapa nilai perpustakaan adalah: nilai pendidikan, nilai informasi, nilai ekonomi, nilai sejarah dan dokumentasi, nilai demokrasi dan keadilan, nilai perubahan, nilai hiburan atau rekreasi, nilai sosial dan budaya.

    Minat Baca

    Mereka yang memanfaatkan perpustakaan akan mendapatkan nilai-nilai tersebut bagi kehidupanannya. Perpustakaan memiliki makna penting bagi masyarakat, bahkan dapat membantu dalam pelaksanaan pelayanan jemaat. Maka kehadiran perpustakaan dalam kehidupan gereja/jemaat sangat dibutuhkan. Gereja perlu membentuk komisi/panitia khusus dalam rangka pengelolaan perpustakaan.

    Perpustakaan berkaitan erat dengan minat baca. Walaupun ada perpustakaan dengan jumlah buku yang lengkap, jika minat baca tidak ada, maka perpustakaan itu akan sepi pengunjung. Oleh karena itu, program perpustakaan mesti dibarengi dengan peningkatan minat baca. Program ini dapat dilakukan dalam kerja sama antarkomisi/bidang pelayanan yang ada di jemaat.

    Bagi remaja, pemuda, wanita, pria dalam rangka HUT Gereja, atau Hari Raya gerejawi dapat dilakukan perlombaan meringkas/meresensi buku. Minat baca warga gereja harus dipacu agar mengalami pencerahan dan pencerdasan dalam kehidupannya. Perlu dorongan dari lembaga gerejawi kepada gereja/jemaat agar memahami perpustakaan sebagai bagian dari program pelayanan gereja.

    Hubungan akrab gereja dengan buku mesti dibina kembali, paket buku untuk pimpinan jemaat perlu diprogramkan; bantuan kepada gereja/jemaat tidak harus dalam bentuk dana tapi buku-buku yang bermutu untuk menjadi modal awal perpustakaan. Buku dan membaca buku mesti menjadi bagian integral dari kehidupan warga gereja; Pengetahuan, wawasan, imajinasi, dapat diperoleh melalui membaca buku. Seorang tokoh pernah berucap: "mencintai kegiatan membaca adalah mengubah jam-jam penuh kebosanan dengan jam-jam penuh kesenangan".

    Sumber: Sinar Harapan, Jumat, 07 Oktober 2005

    Hal Ajaib Bernama Gereja

    Penulis : JED-ReVoLuTiA

    Aku bersyukur kepada Tuhan yang telah mengasihiku dan memeliharaku. Dia telah memeliharaku secara jasmani dan juga secara rohani. Dia telah memberikan aku sebuah keluarga jasmani yang rela dan tidak malu untuk merawat dan membesarkan seorang anak yang bermasalah sepertiku.

    Dan bukan itu saja, Dia telah memberikanku sebuah keluarga rohani, dimana aku bisa memiliki dan mendapatkan kasih sayang ilahi lewat pribadi-pribadi yang telah rela dan tidak malu untuk merawat dan membesarkan seorang anak yang bermasalah sepertiku. Seperti halnya keluarga jasmaniku telah mendidikku dan membentukku sehingga aku menjadi manusia yang beradab secara rohani, demikian pula keluarga rohani, yang menyebut diri mereka gereja, telah meletakan dasar-dasar untuk aku bisa beradab berhubungan denganMu ya Tuhanku. Sebagaimana aku didisiplin ketika aku masih balita, aku pun juga didisiplin di dalam keluarga rohani. Sebagaimana aku diberi nutrisi yang baik oleh keluarga jasmani, demikian juga aku diberi makan susu-susu penggemuk yang diberikan lewat keluarga rohaniku yang mengasihi dan merawatku. Mereka adalah orangtuaku, patronku, dan pencetakku. Mereka adalah sumber kepercayaanku yang paling dasar dan hakiki. Aku tahu mereka tidak akan membalikan badan kepadaku. Mereka adalah sang pahlawan sejati bagi hidupku, meskipun mereka dibenci orang lain, mereka tetap adalah orangtua yang melahirkanku, merawat dan membesarkanku. Merekalah jati diriku, merekanya identitasku, merekalah yang membuat aku seperti mereka. Mereka tidak pernah salah. Mereka adalah Jagoanku. Jangan harap ada yang menjelekan orangtuaku dihadapanku, karena aku tidak akan pernah memaafkannya.

    Setelah aku mulai beranjak besar dan dewasa, aku mulai dimasukan ke dalam sekolah oleh orangtuaku. Mereka ingin aku lebih pintar dari mereka. Mereka ingin aku sukses dan berhasil dan menjadi kebanggaan mereka. Mereka menginginkan segala yang baik bagiku sehingga terkadang mereka melakukan hal-hal yang salah. Mereka bersedia curang demi cinta buta mereka kepadaku. Mereka bersedia memanjakan dan menuruti apa yang kumau, karena akulah mereka dan merekalah aku. Aku terkadang benci melihat aksi jijik mereka, namun mereka lakukan itu semua bagiku, untukku, dan karenaku. Aku dijadikan alasan. Aku dibela tanpa batas oleh mereka. Padahal aku tidak suka yang mereka contohkan. Mereka munafik dan tidak adil. Sebagaimana keluarga jasmani, demikian pula keluarga rohani.

    Aku mulai semakin pintar, pintar, dan pintar karena aku tidak lagi belajar dari orangtuaku. Aku belajar dari segala sesuatu yang membuat aku semakin berpengetahuan. Aku sekarang lebih pintar dari orangtuaku. Aku lihat semakin hari, semakin bodohlah orangtuaku. Mereka tidak seperti yang aku pikirkan dahulu. Mereka tidaklah sempurna. Mereka penuh cacat. Mereka penuh intrik, manipulasi, dan muslihat. Mereka adalah bodoh, tidak beradab, dan ignorant (masa bodoh). Mereka hancur dihadapanku. Kutahu semua cacat mereka. Kutahu kalau mereka sangatlah munafik. Kutahu mereka sangatlah bodoh. Kutahu aku bukanlah lagi mereka dan mereka bukanlah lagi aku. Aku ingin lari meninggalkan mereka. Aku tidak suka ada di dekat mereka karena akan berselisih paham selalu. Aku mau kabur. Aku mau kehidupanku. Aku mau bebas. Sebagaimana keluarga jasmani, demikian pula keluarga rohani.

    Semakin aku dewasa, semakin aku sadari. Aku tidaklah tidak menjadi seperti mereka, tetapi aku semakin seperti mereka setiap hari. Bekas yang sama. Luka yang sama. Cacat yang sama. Aku juga munafik seperti mereka. Aku juga penuh intrik, manipulasi, dan muslihat seperti mereka. Aku juga bodoh, tidak beradab, dan ignorant seperti mereka. Cetak-cetak itu mulai tampak dihidupku. Aku bukanlah mereka, tetapi aku semakin mulai seperti mereka. Sebagaiman keluarga jasmani, demikian pula keluarga rohani.

    Aku bersyukur pada Tuhan yang telah memberikanku keluarga yang tidak sempurna, supaya aku bisa belajar akan ketidaksempurnaanku. Aku bersyukur akan keluarga yang penuh intrik, manipulasi, dan muslihat karenanya aku bisa lepas dari jerat orang licik dan si licik, supaya aku bisa tahu semuya strategi mereka. Aku bersyukur untuk keluarga yang bodoh, tidak beradab, dan ignorant karena aku bisa semakin menjadi dewasa, pribadi utuh, mandiri, independen, dan mengenal kebenaran dan sang benar. Sebagaimana keluarga jasmani, demikian juga keluarga rohani.

    Semakin kulihat kebelakang, semakin kucinta keluargaku. Merekalah yang membuat aku menjadi sempurna, dan sempurna, dan semakin sempurna. Merekalah yang aku butuhkan untuk membuat aku menjadi manusia dewasa yang penuh dan utuh. Merekalah dengan segala kelemahan dan cacatnya, telah menjadi malaikat penolong di tengah kesunyian dunia. Di saat aku jatuh, dan remuk, dan hancur, semakin aku tahu bahwa kelurgaku selalu akan menerima aku sepenuhnya kerena mereka sama seperti aku, telah jatuh, remuk, dan hancur.

    Semakin kumerenung, semakin kebersyukur. Keluargaku adalah yang terbaik bagiku. Masa bodoh dengan segala kelemahan dan ketidaksempurnaan mereka. Masa bodoh dengan segala kesalahan mereka yang kutahu. Karena kutahu sesuatu: Mereka akan tetap sempurna bagiku meski dalam segala ketidaksempurnaan mereka. Mereka adalah keluargaku. Masa bodoh semua pengetahuan. Masa bodoh dengan kebenaran. Masa bodoh realitas. Mereka akan selalu menjadi yang terbaik bagiku karena aku juga akan menjadi yang terbaik bagi mereka apapun yang terjadi. Terima kasih Tuhan untuk keluargaku dan gerejaku.

    Integritas Orang Percaya

    Penulis : Saumiman Saud

    Philipi 2:5
    Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.

    Integritas orang percaya, realita atau ilusi?
    Pertanyaan ini muncul karena di lapangan sulit sekali kita bertemu dengan orang percaya yang benar-benar dikategorikan berintegritas. Sering yang kita temukan adalah, orang percaya yang integritasnya polesan atau tempelan. Mengapa kita katakan demikian? Sebab kenyataannya kebanyakan orang percaya itu "kelihatan" nya sebagai orang percaya hanya pada hari Minggu dan di gereja saja, sedangkan kalau berada di lokasi lain, sangat sulit dibedakan antara orang percaya maupun yang bukan?

    Setiap pagi, begitu kita buka mata dan melangkah masuk ke kantor atau duduk di bangku kuliah, kita sudah menemukan berbagai macam orang percaya dengan sifat yang kadang sulit dibedakan dengan mereka yang di luar sana. Ciri-ciri khasnya menjadi pudar begitu saja, keputusan-keputusan yang diambil juga tidak ada bedanya, bahkan kadang menyerempet sehingga bertentangan dengan apa yang di ajarkan oleh Alkitab. Ketika mendapat teguran, mereka malah membela diri, masalah bisnis jangan disamakan dengan hal-hal rohani.

    Ternyata kita sering keliru, sebab orang-orang di luar justru tidak memisahkan kita dari status, justru ia tahu kita ini orang percaya, dan karena kita ini orang percaya maka ia percaya pada kita, sehingga bersedia kerja sama usaha. Tatkala kita membuka kerja sama usaha dengan orang lain, maka mereka berkata, ini dia orang gereja, jangan takut mereka pasti orang baik-baik. Lalu permisi tanya, apakah benar tidak boleh takut atau curiga terhadap orang percaya? Celakanya orang-orang percaya kadang tidak dapat dipercaya!!

    Secara definisi kata integritas berasal dari bahasa Inggris yakni integrity, yang berasal dari akar kata integer yang mana artinya menyeluruh, lengkap atau segalanya. Ini adalah bentuk ketaatan secara keagamaan terhadap kode moral, nilai dan kelakuan. Kalau kita peragakan , maka integritas ini melebihi karakter seseorang, aksi yang dapat dipercaya (trustworthy action) dan komitmen yang bertanggung jawab (responsible commitment). Kalau boleh ditentukan, maka integritas itu adalah standard terhadap anti suap (incrorruptibility) menolak melakukan kesalahan terhadap kebenaran, bertanggung-jawab atau janji (pledge)

    Sebagai contoh coba kita lihat
    Ulangan 32:4 Gunung Batu, yang pekerjaan-Nya sempurna, karena segala jalan-Nya adil, Allah yang setia, dengan tiada kecurangan, adil dan benar Dia.

    Dan lihat juga,

    Ayub 1:1 Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.
    Titus 1:8melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri,
    Titus 2:12Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan duniawi dan supaya kita hidup bijaksana, adil dan beribadah di dalam dunia sekarang ini.

    Kehidupan model begini harus dimiliki oleh orang-orang yang mengaku percaya, dalam hal ini percaya bahwa Yesus itu juruselamatnya.

    Integritas Kristen merupakan paket hidup yang standard bagi orang Kristen normal. Integritas Kristen juga merupakan image atau gambaran kehidupan orang percaya yang hidupnya memiliki Yesus Kristus. Hal itu akan tercermin di dalam kelakuan sehari-harinya, baik di tempat umum maupun di tempat terpencil sekalipun.

    INTEGRITY IS DISCIPLINED BEHAVIOR

    (Integritas Mendisiplinkan Kelakuan)

    Kita ini secara tidak langsung setiap hari selalu mengambil keputusan, saya kurang tahu untuk hari ini saja sudah ada berapa keputusan penting yang sudah anda ambil. Bangun dari tempat tidur saja itu merupakan suatu keputusan, ia akan menjadi orang Kristen yang berintegritas tinggi kalau setiap hari memiliki kebiasaan bangun pagi, namun integritasnya akan dipertanyakan apabila setiap hari bangunya kesiangan.

    Sebagai seorang mahasiswa, tatkala semua teman-teman di kampus berlaku curang sewaktu ujian, lalu bagaimana dengan anda? Apakah tetap disiplin untuk taat pada peraturan sekolah? Apakah anda merasa tersendiri dan ditinggalkan kalau harus mengambil keputusan yang beda dari orang-orang? Atau juga

    Jos 24:14
    Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN.

    Jos 24:15
    Tetapi jika kamu siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

    Pada waktu Yosua
    Yosua 24:15
    Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau Allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

    Rut 1:16
    Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;

    Menjadi siapa kita ini tergantung apa yang menjadi keputusan di dalam kita, tatkala kita memilih untuk berbuat yang tidak baik , maka sorotan dari masyarakat sudah langsung menilai kita. Seorang pria yang memutuskan untuk mengisap rokok, bahkan kadang juga ganja, maka sekitar masyarakat sudah menilainya .

    INTEGRITY IS DETERMINED BEHAVIOR

    (Integritas Menentukan Kelakuan)

    Kondisi kehidupan manusia itu berbeda-beda, demikian juga masalah yang dihadapinya, namun ada kunci kode Integritas Kristen yang tidak boleh beda. Pada waktu menghadapi persoalan dan kelakuan yang kita ekspresikan ke orang-orang itu sangat kelihatan sekali. Nah orang percaya, mestinya memiliki ekspresi yang sudah dipatron dalam Alkitab.

    Dalam kitab Daniel 3:1 Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel. Semua rakyat diminta untuk menyembah patung yang dibuatnya. Namun Sadrak, Mesakh dan Abednego teman-temannya Daniel ini tidak bersedia menyembah pada patung itu. Lalu raja menjdai marah, kemudian ia bertnaya , lihat
    Daniel 3:14
    berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: "Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?

    Lanjutkan lihat
    Daniel 3:15
    Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?" Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

    Titus 1 :12
    Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.

    Pernah terjadi di Tiongkok, ada sebuah penjara yang narapidananya pada lari keluar, padahal tembok penjaranya tinggi, dikunci dengan gembok raksasa, penjaganya juga banyak. Mengapa demikian? Ternyta setelah diselidiki, yang bermasalah adalah integritas penjaga pintu penjara itu, ia dapat dibeli dengan uang, sehingga pintu yang digembok dengan gembok raksasa itu dapat dibuka begitu saja. Integritas seseorang, menentukan kelakuannya, kalau integritasnya tinggi, pastilah ia tidak bakal tergoda dengan uang itu.

    INTEGRITY DEMONSTRATED BEHAVIOR

    (Integritas Mendemonstrasikan Kelakuan)

    Integritas adalah lifestyle (gaya hidup) karakter yang tinggal di dalam diri seseorang yang mengaku dan taat pada Tuhan.
    1 Yohanes 2 :5-6
    Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia. Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.

    Pada tahun 1943, tentara pendudukan Jepang mengirim ratusan musuh nasional" Amerika dan Eropa ke tempat penampungan di Propinsi Shantung di Cina. Selama berbulan-bulan mereka harus menahan kebosanan, frustrasi, kepadatan yang berlebihan, dan ketakutan. Pertentangan kepribadian timbul, kemarahan meledak. Beraneka macam pertengkaran picik.

    Tetapi menurut catatan seorang tawanan, ada seorang pria yang "tanpa diragukan lagi adalah seorang yang sangat didambakan, dihormati dan dicintai", Eric Liddell, seorang misionaris dari Skotlandia.

    Seorang pelacur dari Rusia belakangan mengenang bahwa Liddell adalah satu-satunya pria yang mau melakukan sesuatu untuknya tanpa menginginkan bayaran setimpal. Saat ia pertama kali tiba di tahanan, sendiri dan dihina, Liddell membuatkan rak baginya.

    Tawanan yang lain mengatakan bahwa,"Ia memiliki ketenangan, cara yang penuh humor untuk menghadapi kemarahan yang menggebu-gebu." Pada salah satu pertemuan yang penuh amarah dari para tahanan, semua orang menginginkan agar seseorang mau melakukan sesuatu kepada anak-anak remaja yang bermasalah. Liddell memecahkan masalah tersebut. Dia mengadakan bermacam olahraga, bermacam ketrampilan dan kelas-kelas untuk anak-anak, dan mulai menghabiskan waktu malamnya bersama mereka.

    Liddell mendapatkan kemasyuran dan pujian pada Olimpiade tahun 1924, mendapat medali emas pada lomba lari 400 meter. Tetapi pada saat yang tegang lainnya ia juga menunjukkan dirinya sebagai seorang pemenang dalam perlombaan Kristiani, yang dikagumi oleh hampir semua tahanan duniawi.

    Apa yang membuat Liddell begitu istimewa? Pernah terjadi, ada perlombaan lari 100 m,yang menurut perkiraan Liddell bakal menang , namun ia tidak mau ikut bertanding karena perlombaannya di hari Minggu. Mengapa? Karena Liddell mau ke gereja hari Minggu. Penggemarnya kecewa berat, ada yang marah juga padanya. Anda dapat menemukan rahasianya,. Mengapa Liddell begitu terpuji akhirnya? Ia mendemontrasikan kelakuannya, inilah Integritas dia.

    Saya sering menemukan banyak angggota gereja yang tidak hadir ke gereja pada hari Minggu, ketika ditanya ia menjawab dengan gampang saja, tidak bisa bangun, soalnya pagi sekali. Saya juga bingung, jam 10.00 pagi kebaktian masih terlalu pagi? Lalu yang lain berkata ada tamu datang ke rumah. Bukankah justru kalau ada tamu datang, inilah kesemptan membawa tamunya ke gereja, sekaligus memperkenalkan gereja anda? Yang lain lagi berkata ada pertandingan olah-raga? Wah ini mirip Liddell, Kalau Liddell yang merupakan pertandingan besar saja, ia tidak bersedia tanding karena hari Minggu, lalau mengapa anda tidak dapat menolaknya? Apa yang kita kerjakan, tatkala kita mendemonstrasikan kelakuan, maka terlihat seberapa integritas kita?

    Lalu yang menarik dari Lidell yang lain adalah, setiap jam 6 pagi hari. Itulah saat dia berjalan berjingkat-jingkat melewati teman-temannya yang sedang tidur, duduk di meja, dan menyalakan sebuah lampu kecil untuk menerangi buku catatan dan Alkitabnya. Eric Liddell mencari anugerah dan kekuatan setiap hari dari kekayaan firman Tuhan Allah. Chariots of Fire merupakan film yang sangat terkenal untuk menceritakan riwayatnya

    Setiap kita membutuhkan Kehidupan yang berintegritas. Contoh konkretnya kehidupan Tuhan Yesus sampai ajalnya tetap menjadi standard yang benar dan lengkap bagi orang percaya? Integritas kehidupan kemanusiaan Tuhan Yesus sungguh bertahan sampai akhir hidupNya di dunia.

    Jaminan Hidup Rohani yang Kemenangan

    Oleh: Dr Donald Siahaan

    Bahan Bacaan Utama: Efesus 6:10-20

    1. HIDUP DALAM MEDAN PERANG

    2. Kitab Efesus didiktekan oleh Paulus saat dipenjara di Roma bagi jemaat di Efesus. Efesus adalah kota provinsi Asia yang penting pada jaman Paulus. Kota ini dipenuhi dengan penyembahan berhala (Kisah Para Rasul 19:13-20). Kota ini menjadi penting dalam kekristenan, karena menjadi salah satu pusat peradaban Romawi. Kita mengenal tokoh-tokoh Alkitab tertentu berkaitan dengan Efesus: Timotius, Onesimus budak Filemon, bahkan Yohanes dan Maria ibu Yesus tinggal di sana.

      [block:views=similarterms-block_1]

      Salah satu persoalan jemaat Efesus adalah tekanan lingkungan rohani yang dipenuhi penyembahan berhala (baik okultisme maupun berhala modern: kekayaan, kepangkatan, dll.). Situasi ini mirip dengan situasi kita sekarang di Indonesia. Kita masih mendengar bahkan ditayangkan di TV bentuk-bentuk okultisme. Kita juga berhadapan dengan semangat kemajuan peradaban (modernisasi). Banyak fakta membuktikan orang-orang Kristen pun dapat gagal dalam hidup kekristenan: pindah agama, takut berhadapan dengan hantu dan roh jahat, kemiskinan, hedonisme, pementingan diri sendiri, dll.. Banyak orang Kristen tidak sadar bahwa karena statusnya sebagai warga kerajaan Sorga (Filipi 3:20) harus berperang melawan kekuasaan jahat yang menguasai dunia ini?

      Bila Tuhan kita mahakuasa, mengapa banyak orang Kristen gagal hidup benar bahkan gagal menjadi saksi? Apakah tidak ada jaminan kemenangan dalam hidup kekristenan? Bila ada, bagaimana memilikinya? Pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dalam ceramah ini.

    3. KENALI SIAPA MUSUHMU

    4. Bagaimana mungkin Anda dapat menang bila Anda tidak mengenali (kelebihan dan kelemahan serta sifat) musuhmu?

      Siapa musuhmu. Perjuangan hidup kekristenan menghadapi musuh-musuh tertentu. Alkitab mengatakan bahwa musuh tersebut adalah ... ... ... (silahkan isi merujuk ayat 12). Kuasa yang dikelola oleh si Setan melalui roh-roh jahat di udara, itulah yang sedang merongrong kita orang Kristen agar kehilangan statusnya sebagai warga kerajaan Sorga. Lawanmu yang terutama bukan bosmu, orang tuamu, dirimu, tapi Iblis dengan kerajaannya. Teliti lebih detail siapa Setan menurut Alkitab: Yesaya 14:12-15, Yehezkiel 28:12-18, Efesus 2:2.

      Pekerjaan dan Strategi si Setan

      1. Penyesatan. Kejadian 3:4-5; II Kor 3-4. Bagaimana mengatasi situasi ini? 1 Yoh 4:1
      2. Pencobaan. Kej 3:6, Yakobus 1:15, Ibr 4:15
      3. Hidup dalam Dosa. Apakah dosa? Menentang Tuhan melalui perbuatan; bahkan dimulai dari keadaan hati (Mat 5:28). Bandingkan dengan Efesus 4:18-19, Yakobus 1:15 dan Yohanes 10:10.

      Kenali kemampuan si Iblis:

      1. Kuasanya terbatas: Ayub 1:12
      2. Kuasanya telah dikalahkan oleh Yesus Kristus di kayu salib
      3. Otoritasnya dapat dikendalikan anak Tuhan (Yak 4:7)
    5. JAMINAN/METERAI 1: DARAH YESUS

    6. Darah Yesus adalah meterai atau jaminan kekal atas keselamatan kekal. Pengakuan atas kematian Kristus di kayu salib menjadi satu-satunya cara dan jaminan penghapusan dosa dan pelanggaran kita: keselamatan. Darah Kristus yang kudus itu diperoleh dengan ketaatan pada Yesus Kristus (1 Petrus 1:2). Dengan darah Anak Domba Tuhan, pakaian dosa kita menjadi putih bersih (Wahyu 7:13-14, bandingkan Yoh 1:29). Darah Kristus menyucikan kita orang yang percaya pada salib Kristus (Ibrani 9:14).

      Perhatikan, orang Kristen tidak otomatis berarti orang suci sebelum diperciki/dicuci dengan darah Yesus [Darah Kristus adalah meterai (I Kor 11:25)]. Banyak orang Kristen menaruh lambang berhala di rumah fisiknya, di rumah rohaninya. Orang Kristen yang berdukun, menaruh lambang berhala di rumahnya, tidak mendapat perlindungan keselamatan dari darah Yesus (Yesaya 57:8). Orang Kristen yang mabuk-mabukan, menjadi hamba uang, menjadi hamba keinginan hatinya, lebih mementingkan ekonominya atau keluarganya, adalah telanjang secara rohani. Iblis dengan mudah menyerang Anda dalam berbagai bentuk: kekuatiran, ketakutan, dendam, kemarahan, suam-suam kuku dalam ibadah, hidup berputar-putar (tidak jelas pekerjaan, teman hidup, status rohani).

      Kenakanlah pakaian putih dan bersih, yaitu hidup yang telah disucikan dengan darah Kristus. Ikutilah dengan tekun ibadah perjamuan kudus dengan sikap pertobatan dari dosa dan ketaatan pada Kristus. Dengan cara demikian, Anda terjamin keselamatannya pada kekekalan.

    7. JAMINAN/METERAI 2: ROH KUDUS

    8. Ada sebagian orang Kristen mengganggap bahwa kemenangan atas si Iblis dan masalah pribadi cukup diperoleh dengan kegiatan rohani: berdoa, bersaat teduh, persekutuan, penyembahan, dan pelayanan. Seluruh aktivitas rohani haruslah dilihat sebagai wujud ketaatan kita kepada Tuhan, bukan jaminan kemenangan atas kuasa jahat dan persoalan hidup kita.

      Setelah Anda dibaptis dalam darah Kristus, Roh Kudus turun mengisi hidup kita yang telah kudus tersebut. Roh Kudus menjadi jaminan kemenangan dalam kehidupanmu (2 Kor 1:22, Ef 1:13). Roh Kudus yang memberi pengertian tentang firman Tuhan (1 Kor 2:10-12), menegur dosa, memberi hikmat untuk mengambil keputusan hidup, saluran kuasa Tuhan.

    9. PERLENGKAPAN PERANG: SENJATA ROHANI

    10. Banyak orang bertanya, "Mengapa Tuhan membiarkan Kerajaan Iblis berkuasa sekarang? Mengapa tidak menyerahkan saja kepada penghukuman kekal?" Alasannya, Bapa ingin kita bertumbuh melalui latihan peperangan rohani di dalam hidup kita yang dipimpin oleh Roh Kudus. Tanpa perang tiada kemenangan, maka berperanglah dengan gagah berani.

      Syukur kepada Tuhan, Dia menyediakan perlengkapan perang rohani yang lengkap sebagaimana tertulis pada Efesus 6:11-17. Perhatian bahwa senjata itu bukan senjata Anda tetapi "senjata Tuhan".

      1. Ikat pinggang dan baju zirah kebenaran (ay. 14). Prajurit Romawi menggunakan ikat pinggang untuk menutupi perut dan mengencangkan baju besinya. Perut secara rohani melambangkan bagian-bagian batin kita. Perut tempat kekuatan dan kehidupan. Baju zirah atau baju besi adalah perlindungan terhadap organ vital dari tubuh, agar tak mengalami luka. Milikilah kebenaran dalam batinmu (Maz 51:6) pengetahuan yang menyeluruh tentang firman Tuhan.

      2. Kasut (ay. 15): kerelaan melayani (memberitakan Injil damai sejahtera). Kasut atau sandal atau sepatu sangat penting dalam pergerakan warga sorga. Tanpa kasut, Anda akan tertahan bergerak; Anda tidak dapat tegak berdiri. Kerikil-kerikil tajam dan duri kehidupan akan menusuk kaki rohani kita sehingga menahan gerakan penyebaran kerajaan Sorga.

      3. Melayani di sini dapat dilakukan secara langsung dengan pemberitaan injil, dapat dengan cara tidak langsung melalui pelayanan mandat budaya: pekerjaan (cari makan: Yoh. 6:27), rumah tangga, kehidupan sosial dll.

      4. Perisai iman (ay. 16). Peperangan di zaman dahulu dilakukan dengan panah (api) dan lembing. Alat bertahan yang pokok adalah perisai. Panah dan lembing Setan dan antek-anteknya adalah perkataan licin dan licik yang dilontarkan untuk menyebabkan keraguan dan penyesatan orang kudus. Iman menjadi saran perlindungan terhadap hal tersebut. Perisai kulit prajurit Romawi diurapi dengan minyak untuk memadamkan panah api musuh. Iman harus diurapi dengan Roh Kudus agar efektif melawan musuh.

      5. Ketopong keselamatan (ay. 17). Ketopong adalah sejenis helm untuk melindungi kepala. Pertempuran rohani juga berkecamuk di kepala kita. Musuh kita si Iblis membombardir pikiran kita agar tersiksa. Ingatlah, bahwa apapun juga usaha si Iblis, keselamatan orang percaya terjamin di masa lalu (pembenaran, lahir baru), di masa sekarang (pengudusan) dan di masa mendatang (pemuliaan) di dalam darah Yesus. Jangan terpengaruh oleh serangan Iblis pada pikiran Anda.

      6. Pedang Roh: firman Tuhan. Pedang adalah satu-satunya senjata Tuhan untuk menyerang (yang lain untuk bertahan). Satu-satunya senjata Tuhan untuk menyerang dan mematikan otoritas si Iblis adalah firman Tuhan, yang disamakan dengan pedang bermata dua (Ibrani 4:12). Yesus menggunakannya untuk mematahkan serangan si Iblis (Matius 4).

      Seberapa banyak perlengkapan perang yang dianjurkan dipakai oleh prajurit Kristus? (ay. 12, 13). Benar, seluruhnya. Gagal menggunakan salah satu saja, ada kemungkinan serangan iblis dapat masuk, melukai, melumpuhkan bahkan mematikan Anda sebagai prajurit kerajaan Tuhan.

    11. PENUTUP

    12. Anda adalah warga kerajaan Sorga. Otomatis Anda adalah duta Kristus di muka bumi yang dikuasai oleh si Iblis. Tidak ada jalan lain, Anda harus turut berperang atau Anda mati. Peperangan menjadi jalan menuju kemenangan. Puji Tuhan, Dia menyediakan jaminan atas kemenangan. Darah Kristus menjadi meterai atas keselamatan dan perlindungan kekal. Roh Kudus menjadi jaminan hadirnya kuasa Tuhan yang tak terbatas dan berdaulat. Musuh manakah yang dapat tahan atas kuasa itu? Bahkan Tuhan menyediakan senjata rohani untuk bertahan dari serangan bahkan menyerang balik si Iblis. Buktikan Anda memiliki ciri orang percaya (Markus 16:17-18). ANDA PASTI MENANG.

    Keterangan: Bahan ini disampaikan pada Retreat Pembinaan Pelayanan Misi Kristus, Yayasan Karya Misi Kasih

    Diskusi lebih lanjut dengan penulis dapat dilakukan melalui donaldjts@yahoo.com.

    Kesatuan dalam Persekutuan

    Penulis : Saumiman Saud

    Gereja bukan sekadar organisasi saja, namun Gereja merupakan kumpulan anggota gereja yang menyadari bahwa mereka memiliki sesuatu yang lazim diantara mereka yankni hidup bersekutu mempelajari firman Tuhan. Apa beda Perusahaan (Organisasi) dan Gereja? Dalam suatu organisasi kalau salah satu departemennya "mogok" paling-paling yang mogok itu di PHK, kita cari orang lain yang menggantikan, sebab banyak yang sedang antri untuk bekerja. Tetapi di dalam Gereja kalau ada salah satu anggotanya mogok, kita akan usahakan supaya dia kembali. Kita akan berusaha memahami kesulitannya, kita akan mendoakan dia, kita akan menolong dia, kita akan besuk dia, kita akan turut simpati keadaannya.

    Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah
    (Efesus 2:19). Kesatuan dan kebersamaan orang-orang percaya di dalm Kristus disebut persekutuan

    Kata yang dipakai untuk persekutuan dalam bahasa Yunani adalah Koinonia yang berasal dari kata dasar koinos yang berarti lazim atau umum. Artinya berkaitan dengan kebersamaan. Adapun kata lain yang dihubungkan dengan koinonia, yakni koinonos yang berarti, sekutu atau kawan sekerja. Kata lainnya yang seringkali dikaitkan dengan koinonia adalah allelous ( berarti satu terhadap yang lain) . Kata ini dipakai dengan pengertian hubungan yang timbal balik. Yesus berkata
    Aku memberikan perintah baru kepada kamu yaitu, supaya kamu saling mengasihi sama seperti aku telah mengasihi kamu, demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi (Yohanes 13:34-35)

    Apa saja yang harus ada di dalam menjalin Kesatuan dalam persekutuan Kristen?

    Mengasihi bukan hanya sekadar simpati saja ataupun dalam perkataan saja. Kasih itu dinyatakan dalam perkataan dan perbuatan. Yohanes mengatakan Anak anakku, janganlah kita hanya sekadar mengatakan bahwa kita mengasihi orang lain; marilah kita sungguh-sungguh mengasihi mereka dan menunjukkan kasih kita dengan perbuatan kita ( 1 Yohanes 3:18). Semua ini dapat dilakukan dengan cara praktis seperti pemberian uang ataupun makanan kepada saudara-saudara seiman yang membutuhkan. Saling mengasihi merupakan suatu tanda bahwa orang-orang Kristen adalah benar-benar pengikut Kristus. Kita tidak mungkin bersekutu tanpa adanya kasih.

  • Harus saling melayani
    Tuhan Yesus adalah teladan kita dalam pelayanan. Dia memperlihatkan keteladanan seorang hamba dengan menanggalkan jubahnya, dan berpakaian seperti seorang hamba membasuh karti murid-murid-Nya. Aku telah meberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah kuperbuat kepadamu (Yoh 13:15. Pelayanan adalah akibat dari kasih, sehingga ada orang mengatakan kamu bisa melayani tanpa kasih, tetapi engkau tidak mengasihi tanpa melayani Paulus sendiri pernah mengatakan Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (lihat Galatia 5 :13)
  • Harus saling membantu menanggung beban
    (Galatia 6:2) Hendaklah kalian saling membantu menanggung beban orang supaya dengan demikian kalain mentaati perintah Kristus. Perintah ini merupakan perintah praktis yang dirangkai oleh Paulus secara relasional. Tema gereja kita tahun ini adalah Gereja adalah Keluarga Allah, dimana orang-orang Kristen itu merupakan anggota Keluarga Allah, keyakinan ini seharusnya tidak berhenti dalam suatu teori yang mati atau dalam perdebatan teologis, melainkan harus teraplikasi di dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap orang percaya yang hidup dalam persekutuan mestinya memiliki karakter-karakter dasar Kristiani yakni rendah hati, lemah lembut, sabar dan mengasihi. Dengan adanya karakter dasar itulah memungkinkan kita untuk turut meraskan kesulitan orang lioan, bukan hanya itu kita juga akan membantu mereka.
  • Harus saling mengampuni
    Mengampuni dan melupakan, dua hal yang berbeda, orang yang melupakan saja belum tentu mengampuni, tetapi yang paling penting adalah walaupun kita tidak melupakannya tetapi ada pengampunan. Tuntutannya dalam satu tubuh Kristus yang hidup dalam persekutuan adalah saling mengampuni. Bagaimana kita bisa bersekutu dengan tenang, kalau di depan kita masih ada musuh.
  • Suatu sore saya pulang dari gereja di Surabaya, udara waktu itu sangat panas dan saya merasa haus, lalu saya melihat di Kulkas masih sisa sebuah Mangga, kan di sana terkenal Mangga Mana Lagi. Lalu langsung saja tangan saya meraih Mangga itu dan ambil pisau untuk mengupas kulitnya, namun karena terburu-buru, kupasan pertama saja telah melukai tangan saya. Namun karena Mangga itu begitu enak, maka dengan tangan yang sudah tergores pisau, darah mengalir sedikit, tangan saya saja memegang Mangga, sekarang tanpa mengupas kulitnya langsung saja dimakan. Pertanyaannya, tatkala tangan kanan saya memotong tangan kiri saya, apakah tangan kiri saya langsung akan membalas menggores tangan yang kanan? Tentu tidak saudara, mengapa? Karena akan terjadi kesakitan lebih mendalam lagi. Demikian juga kita yang merupakan anggota tubuh Kristus, semakin kita saling menyakiti maka semakin sakit, itu sebabnya Paulus mengingatkan kita, Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (lihat Efesus 4:31-32 cf. Kolose 3:12-13 dan kembali ke Efesus 4:1-3)

  • Harus saling mengaku dosa dan saling mendoakan
    Hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh...
    (Yakobus 5:16). Seorang Kristen boleh mengaku dosanya kepada yang lain dan menerima bahwa dosanya itu telah diampuni oleh Yesus (lihat 1 Yohanes 1:9).
  • Konsep keimaman orang-orang percaya sangat penting di sini, namun dalam praktek kehidupan sehari-hari, jarang sekali orang-orang Kristen mengaku dosanya kepada saudara seiman. Orang-orang tidak percaya satu dengan yang lain, nah kalau ada itu dalam kesatuan tubuh, itu artinya ada masalah. Kalau misalnya tangan saya yang tergores pisau gara-gara Mangga Harum Manis itu tidak boleh diketahui sakitnya oleh tubuh bagian yang lain, maka itu berarti ada masalah, mungkin karena ada urat yang kejepit atau yang terpotong. Yakobus mencatat dalm suratnya bahwa Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya (Yak 5:16b).

  • Harus saling menasihati
    Menasihati sesama tidak perlu sampai dengan memakai gaya emosi atau marah besar, cukup dengan bisik-bisik. Mengapa demikian? Sebab jujur saja tidak semua orang mau dinasehati. Karena semua merasa lebih dari pada yang lain. Sebagai tubuh Kristus, anggota keluarga Allah tidak bisa demikian, semua harus tumbuh dan sama merata sesuai dengan keberadaannya. Jikalau ada seorang anak, yang tubuhnnya mulai besar, lalu tangannya dan kakinya serta kepalannya tetap kecil, maka sebagai orang tua, ia akan bawa anak ini ke dokter, untuk mengobatinya, karena itu abnormal, tidak mestinya demikian. Demikain juga kalau ada salah satu anggota tubuh kita bersalah (sakit), perlu diobati = dinasehati.
  • Harus saling menghiburkan
    Mana lebih gampang Menangis bersama atau bersukacita bersama?? Tidak gampang ikut bersuka-cita dengan orang lain, tatkala orang lain berhasil, tatkala orang lain sukses, ; sering kali yang ada dalam pemikiran kita adalah, mengapa tidak saya yang sukses? Mengapa tidak saya yang berhasil? Keegoisan kita begitu berpengaruh dalam kehidupan kita, sehingga membuat kita tidak bisa menerima kesukacitaan orang lain. Rasaul Paulus hendak menghancurkan tembok keegoisan itu.
  • Mari kita baca !

    Tesalonika 4: 18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain Orang-orang di Tesalonika pada waktu itu kebingungan tentang kedatangan Kristus sehubungan dengan kematian beberapa orang dari antara mereka. Tetapi Paulus menjelaskan bahwa kedatangan Yesus tidak hanya menyangkut orang-orang yang masih hidup melainkan orang-orang mati juga. Mari, salinglah menghibur.

    Kiranya melalui tulisan ini, setiap kita rindu meyatukan diri dalam persekutuan, dengan kesatuan kita akan kokoh, kuat dan tak tergoyah. Masih ingatkah anda akan Bhinneka Tunggal Ika? Bersatu kita teguh, bercerai kita rubuh.

    Kesuksesan

    Oleh: Sion Antonius

    Tidak ada satu orang pun yang ingin disebut gagal, semua orang ingin sukses. Tulisan berikut adalah meninjau tentang kesuksesan dalam hal kehidupan melayani Tuhan. Banyak orang melayani Tuhan ingin dikategorikan sebagai pelayan yang sukses atau berhasil. Ada yang mungkin tidak setuju dengan pendapat ini, tapi faktanya memang seperti demikian, karena sukses di sini adalah mengenai soal seseorang menjadi puas atas apa yang sudah di capai, di mana penilaiannya berdasarkan opini dari diri sendiri atau orang lain kepada kita.

    Saya sudah mengatakan bahwa di dalam pelayanan gereja pun seringkali orang mau di kategorikan sukses, apa buktinya?

    Coba anda tanyakan kepada mereka yang baru selesai mengadakan sebuah acara atau kepada panitia sebuah acara gereja, biasanya mereka punya target jumlah peserta dan keindahan penampilan acara tersebut, mungkin tarian atau drama atau nyanyian. Ketika jumlah kehadiran "pengunjung" itu tercapai atau acara itu telah berjalan sesuai dengan rencana dan mendapat sambutan yang bagus dari "penonton" maka cenderung mereka atau orang yang melihat akan berkata acara tersebut telah sukses. Merekapun saling bersalaman dan saling mengatakan rasa puas atas keberhasilan yang sudah diperoleh. Benarkah itu layak disebut kesuksesan dalam melayani Tuhan?

    Kesuksesan dalam melayani Tuhan di sebuah gereja tolok ukurnya seringkali terlalu dangkal, karena parameter yang di pakai adalah dari diri sendiri atau kelompoknya. Kita harus memakai sudut pandang yang lain, yaitu dari sisi Tuhan yang dilayani. Ketika melayani Tuhan, maka Dia adalah subyek dari pelayanan. Sebagai subyek maka Dia yang berotoritas. Kita yang melayani adalah obyeknya, sebagai obyek tidaklah berhak untuk berganti posisi menjadi subyek. Jadi beginilah seharusnya tentang penilaian dari sebuah pelayanan:

    PERTAMA, siapa yang harus menjadi penilai keberhasilan kita dalam melayani Tuhan? Maka jawabannya adalah Tuhan, dalam perumpamaan talenta jelas sekali bahwa yang mengatakan pekerjaan itu berhasil adalah Tuannya. Orang-orang yang diberikan talenta itu hanya mengusahakan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Tuannya. Setelah Tuannya melihat hasil pekerjaan si hamba maka keluarlah sebuah penilaian. Bagi yang berhasil baik maka si Tuan memuji hambanya, sedangkan yang tidak baik selain tidak dipuji juga dihukum. Jadi di sini kita tidak berhak untuk meng-klaim bahwa sebuah pelayanan itu sudah sukses, karena kita bukan Tuhan. (Matius 25:14-30)

    KEDUA, untuk siapa kita melayani Tuhan? Jawabannya pasti untuk Tuhan, jadi sebuah pelayanan di sebut sukses apabila membawa akibat yang tertuju kepada Tuhan. Kita ambil contoh: seorang menyanyi dengan sangat indah, selesai menyanyi orang yang menonton memuji, jika si penyanyi selesai menyanyi hanya puas atas pujian dari penampilannya, dia tidak mengembalikan pujian itu untuk Tuhan dan pendengar juga hanya puas atas lagu yang di dengarnya tanpa ada perubahan hidup karena lagu tersebut maka pelayanan tersebut adalah gagal. Persoalan ini sangat penting dan serius untuk kita pahami. Pelayanan gereja bukan tentang pendetanya, bukan tentang kemegahan acaranya, bukan tentang jumlah pesertanya, bukan tentang nyanyiannya tetapi adalah tentang Tuhan. Pada saat Tuhan tidak disertakan maka semegah apapun dan seagung apapun pekerjaan itu adalah sia-sia. Kitab Markus mencatat tentang seorang wanita yang memakai minyak Narwastu untuk mengurapi Yesus, dan itu dicatat sebagai hal yang pantas, mengapa? Karena semua itu ditujukan untuk Tuhan Yesus. Ketika ada orang yang mengatakan itu tindakan yang mubazir, Tuhan tidak membenarkan pendapat tersebut. Tindakan wanita itu bagi orang lain mungkin menjadi terlalu berlebihan, tapi sudut pandang Tuhan tidak sama dengan manusia. Ketika suatu hal dilakukan tertuju kepada Tuhan maka tidak ada yang bisa dikatakan terlalu berlebihan. Tetapi kitapun jangan ceroboh, dengan mengatasnamakan untuk Tuhan maka bisa menggunakan uang gereja untuk sesuatu yang mewah, ini sebuah kesalahan. Tuhan Yesus membenarkan tindakan si wanita karena motivasinya sudah tepat, dilakukan dengan tepat dan untuk hal yang tepat. (Markus 14:3-9)

    KETIGA, perubahan apa yang terjadi dari setiap individu yang melayani Tuhan? Saya sering melihat orang yang ketika di atas mimbar terlihat begitu "rohani", berkata dengan tutur kata yang begitu mulia, namun pada saat di bawah mimbar sibuk dengan dirinya sendiri. Seperti Marta melayani Tuhan Yesus, pergi sana-pergi situ tidak mau rendah hati di ajar oleh firman Tuhan. Sering juga kita menemukan anak muda yang ketika melayani Tuhan penuh dengan kata-kata rohani tapi tidak punya sopan santun dalam kehidupan masyarakat. Belum lama ini dalam sebuah retreat, seorang pemudi mengambil makanan yang cukup banyak, makanan itu tidak dihabiskan, dia berkata bahwa sebenarnya sedang diet, betapa mengerikan, sudah tahu bakal makan sedikit lalu mengambil banyak untuk dibuang. Perubahan pada diri sendiri ini menjadi sangat penting bagi yang melayani Tuhan. Jika sudah bertahun-tahun melayani Tuhan tetapi dalam konsep berpikir, apa yang dilakukan, apa yang dikatakan, semuanya itu tidak ada perubahan maka orang seperti itu belum berhasil dalam melayani Tuhan. Melayani Tuhan harus menghasilkan buah Roh. Contoh yang paling sering dan jelas untuk diteladani adalah kisah mengenai Zakheus, ketika dia bertobat maka secara total hidupnya berubah, tujuan hidupnya berubah, cara hidupnya berubah. Zakheus meninggalkan hidupnya yang lama, digantikan dengan yang baru, bahkan ia berani untuk membayar harga kepada orang-orang yang pernah disakitinya. Ada yang memberi penafsiran bahwa mungkin ia menjadi miskin karena membayar ganti rugi kepada orang yang pernah diperasnya, penafsiran ini sangat logis dan sangat menggambarkan betapa ketika kita mau menjadi pengikut Kristus, hidup nya harus berubah total. (Lukas 19:1-10)

    KEEMPAT, seseorang berhasil menjadi pelayan Tuhan ketika di akhir hidupnya dia masih setia beriman kepada Dia. Dalam kitab Raja-Raja kita banyak melihat catatan tentang raja yang hidupnya berkenan kepada Tuhan atau tidak berkenan. Penilaian ini dilakukan dari lahir sampai matinya sang raja. Totalitas hidup ini yang dinilai, jangan menilai ketika baru sepertiga, setengah atau tigaperempat bagian dari hidup seseorang. Pelayan yang berhasil akan dinilai pada akhir hidupnya, karena bisa saja setengah bagian bagus lalu dibagian akhir menyangkali imannya. Raja Saul bisa jadi contoh sebagai orang yang gagal dihadapan Tuhan. Ia pada mulanya begitu mulia, menjadi orang yang diurapi Tuhan, sehingga Daud tidak berani untuk membunuhnya. Tapi diakhir hidupnya, memiliki kerohanian yang terus menurun, pada puncaknya ia mati bunuh diri. (1 Samuel 31), sedangkan Daud adalah orang yang berhasil di hadapan Tuhan. Daud tidak selamanya benar dihadapan Tuhan. Diapun pernah berdosa, memiliki keluarga yang berantakan, anaknya mempermalukan dia, tapi hidupnya senantiasa bersama dengan Tuhan. Ketika berdosa, ia datang kepada Tuhan untuk minta pengampunan. Ketika persoalan-persoalan muncul, dia selalu bergantung kepada Tuhan. Maka diakhir hidupnya ia masih setia kepada Tuhan. (2 Samuel 23:1-7, 1 Raja-Raja:2:1-12). Jadi melayani Tuhan adalah persoalan sampai akhir hidup kita. Oleh karenanya sangatlah tidak tepat menanyakan kepada orang Kristen, apakah masih pelayanan? Sepanjang hidup orang kristen haruslah dipakai untuk melayani Tuhan.

    Dengan empat sebab yang telah saya sebutkan, maka kita lihat bahwa seharusnya pelayan Tuhan tidak melakukan penilaian terhadap pelayanan yang dilakukan. Jadi ketika melayani Tuhan biarkan itu berjalan tanpa perlu kita memberi penilaian. Tugas kita adalah laksanakan sebuah pelayanan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap tenaga, kemudian serahkan semuanya dalam doa kepada Tuhan supaya Dia berkenan.

    Dengan tidak melakukan penilaian terhadap pelayanan yang sudah dilakukan maka kita akan bisa lebih bersikap rendah hati, tidak menjadi orang yang sombong rohani. Kita pun akan bisa mengontrol diri sehingga tidak merasa lebih superior dibandingkan orang lain. Pada umumnya yang menjadi pemimpin ketika merasa sukses, langsung pula merasa itu adalah karena kerja kerasnya. Saya sering mendengar orang berkata, "Hebat sekarang komisi XYZ, itu karena ada orang A menjadi pengurus.", atau "Karena saya yang mengurus maka semua menjadi beres". Kata-kata yang memuji diri sendiri atau orang-orang tertentu hendaknya tidak diucapkan. Hendaknya yang harus keluar dari mulut kita adalah Tuhan pakailah pelayananku yang sederhana ini, sehingga menjadi luarbiasa karena ada kuasa daripada-MU, biarlah orang-orang melihat bahwa Tuhan memang sepantasnya untuk disembah dan dimuliakan.

    Kristen Kupu-Kupu

    Penulis : Martin L Peranginangin

    Istilah Kristen kupu-kupu pertama kali saya dengar ketika retreat Mamre beberapa waktu lalu. Entah siapa yang pertama kali yang mempopulerkannya, tapi yang jelas istilah ini timbul semacam kritikan bagi jemaat gereja dewasa ini yang suka bergereja secara nomaden alias berpindah-pindah.

    Hal ini memang menjadi suatu kecendrungan yang menarik untuk dicermati, sebab semakin banyak jemaat yang pergi ke gereja berdasarkan kebutuhan. Orang yang menganut welfare religion pingin hidup sejahtera cendrung menikmati kotbah-kotbah tentang berkat Tuhan. Orang miskin katanya tidak diberkati?! Orang-orang sakit doyan pergi KKR penyembuhan. Orang yang terserang virus selebritas suka kotbah-kotbah dari orang yang terlanjur terkenal. Orang muda suka gereja yang nge-band, funky, boleh pake jins sobek. Orang yang suka mendengar kebenaran firman gado-gado tertarik dengan pengkotbah yang mengutip ayat-ayat dengan hafal.

    Jemaat, terutama di kota-kota besar memang beruntung bisa mendapatkan banyak pilihan menu yang diberikan banyak gereja, persekutuan doa, dan institusi-institusi lain. Ada gereja modern ada yang tradisional. Ada gereja sorak-sorai ada yang cool. Ada gereja dengan iringan musik band, mulai dari nge-pop sampai yang rada-rada hard rock, dan masih banyak lagi macamnya. Bahkan di Ancol pernah digelar konser musik rohani yang benar-benar trash metal. Katanya untuk memenuhi kebutuhan kaum metal. Mereka juga butuh siraman rohani! Edan.

    Pemahaman bergereja bagi sementara kita mungkin masih sebatas ritual oriented. Ya, karena hari minggu pergi ke gereja. Sebab sejak kecil disuruh ke gereja kebetulan hari minggu. Malah kadang-kadang harus di beri uang jajan baru pergi ke gereja. Tidak jelas tujuan dan apa maksud ke gereja, karena itu setelah besar juga senang jajan rohani. Kondisi ini memang membawa kita ke dalam kondisi egosentris yakni mencari kesenangan diri sendiri dahulu baru kehendak Tuhan, dan bukan sebaliknya: kita dahulu mencari kehendak Tuhan (teosentris) baru kemudian memikirkan diri kita. Bila saja kita mampu mencari kehendak Tuhan dahulu maka sampailah kita pada tahap practical oriented. Jadi renungan firman pada hari minggu itu dapat menjadi dasar moral kehidupan kita. Seperti ditulis dalam Yakobus 2 ayat 17: iman tanpa perbuatan adalah mati.

    Kalau saja pergi ke gereja sebagai jadwal rutin, jadilah isi kotbah menjadi kurang makna. Karena kita hanya berorientasi kepada “Apakah saya sudah ke gereja minggu ini? atau mungkin cendrung malah datang ke gereja sebagai tim juri, “Apakah kotbah hari ini menarik? Lalu, bila tidak menarik kita pun mencari-cari kesenangan menurut hati kita. Sehingga seolah-olah gereja mirip mall, bebas keluar masuk.

    Bergereja bukan sekedar teori “bertambah-tambah, tetapi juga “praktek berbagi-bagi. Kita datang ke gereja bukan hanya menambah kuat iman kita dan semakin meningkat kesejahteraan kita karena diberkati, tetapi juga praktek membantu mereka yang masih lemah keyakinannya dan menolong orang yang masih serba kekurangan. Kalau kita hanya rajin saja ke gereja terlebih berpindah-pindah, kapan waktu kita untuk berbagi-bagi? Kita perlu meluangkan waktu untuk persekutuan, berbakti bagi Tuhan dan jemaat yang iain. Ingat selalu tiga tugas gereja : kononia, marturia dan diakonia (bersekutu, bersaksi, dan melayani). Jangan seperti lirik lagu Karo, bagi kaba-kaba si mbulan: ingan kabang ipebelang-belang, ingan cinep bagi sikurang.

    Liberalisme di Belanda

    Liberalisme di Belanda

    Oleh: Herlianto

    Di Eropa, negeri yang paling sekuler dan liberal adalah Belanda, ini dimungkinkan karena bangsa Belanda termasuk yang paling bebas, terbuka, dan sangat toleran, ini berarti bahwa sifat itu membawa negeri Belanda pada situasi dimana semua faham baru dan perilaku bisa ditoleransikan. Akibat kebebasan sekuler dan liberal telah menjadikan Amsterdam sebagai pusat peredaran obat bius bahkan ada anggota dewan kota yang pecandu narkoba, dan juga menjadi surga perilaku homoseksual.

    Kebebasan bukannya tidak terbatas, dalam dua dasawarsa terakhir masyarakat umum mulai mempertanyakan: tidakkah kebebasan di Belanda sudah terlalu jauh? (Backlash and Debate, Permissiveness: the Dutch are wondering if things have gone too far, Time Magazine, August 1987, hlm.20-25). Soalnya, kebebasan penggunaan narkoba, pornografi, sex bebas dan perilaku homoseksual sudah merangsang peningkatan kejahatan dan mengganggu kebebasan penduduk lainnya. Belanda adalah negara pertama yang melegalkan Euthanasia. Ruud Lubbers, ketika menjabat perdana menteri, mengeluhkan bahwa Belanda sudah menghadapi Demokrasi yang kelewat batas.

    Eropa kini menjadi makin sekuler, dan negara yang paling sekuler adalah Belanda. ... Menurut Prof Jongeneel ... penduduk Amsterdam, yang 200 tahun yang lalu hampir seluruhnya beragama Kristen (99%), sekarang tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja, kebanyakan mereka tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. (Sekularisasi Ancaman Bagi Semua Agama, Berita Oikumene, September 1995).

    Di Belanda, sejalan dengan sekularisme, liberalisme masuk jauh termasuk kedunia gereja. Kenyataan ini memperngaruhi banyak pendeta dan teolog yang termasuk Nederlandze Hervormde Kerk (NHK) yang sudah lebih dahulu terpengaruh Liberalisme maupun

    Sebenarnya GKN sangat ketat menganut faham pengakuan iman reformasi yang teguh dan melepaskan diri dari NHK tetapi sejak tahun 1960-an NHK mengikuti keterbukaan dimana beberapa teolognya mulai menganggap tradisi gereja sebagai tradisi manusia belaka dan Alkitab sekedar buku dongeng. Keterbukaan akan kesimpulan kritik historis mulai menghinggapi pemikiran para teolog muda setelah para teolog konservatif satu-persatu memasuki masa pensiun mereka.

    Dalam hubungan perubahan arah digereja arus utama di Belanda, teolog Klaas Runia mengemukakan bahwa penyebab utamanya adalah sekularisme yang kuat melanda negeri Belanda. Dan seperti biasanya usaha para teolog muda untuk menyesuaikan berita mimbarnya dengan tuntutan sekularisme, suatu usaha yang akhirnya tidak bisa direm, sehingga sejak tahun 1972 banyak kritik justru datang dari kalangan Reformed Ecumenical Council (REC, organisasi gereja-gereja Reformed Sedunia) ditujukan kepada GKN, bahkan liberalisme yang makin jauh dipraktekkan pendeta-pendeta GKN, dalam beberapa Sidang Raya REC kemudian, GKN diusulkan untuk dikeluarkan. (Klaas Runia, Perplexing Cousins: The Dutch Churches, The Banner Magazine, May 31, 1993, hlm.8).

    Memang NHK dan GKN cenderung lebih berurusan dengan pertanyaan modern mengenai Apa arti iman bagi manusia sekuler, apa berita yang bisa disampaikan pada orang di luar gereja, bagaimana mencegah para pemuda keluar dari gereja, dan bagaimana mengembalikan hubungan transendental dengan yang ilahi yang makin menghilang? Namun, karena pendekatan yang dilakukan adalah lebih bersifat sekuler dan liberal, maka hasilnya banyak gereja ditinggalkan jemaatnya terutama kaum muda. Banyak gereja menjadi kosong, diubah peruntukannya menjadi kelab malam atau bar, bahkan ada gereja yang dibeli konglomerat Indonesia dan dijadikan mesjid!

    Menarik mendengarkan komentar ahli sosiologi agama Jan Jonkers berkenaan dengan kecenderungan gereja-gereja mapan di Belanda sekarang, yaitu adanya tiga kemungkinan:

    1. Gereja kembali kepada tradisionalisme kuno dan konservatisme kaku, atau
    2. Gereja terus menerus membuka diri terhadap sekularisme, atau
    3. Gereja mencoba secara kreatif mencari terobosan baru dalam menjawab kebutuhan dunia modern.

    Jonkers mengatakan bahwa kemungkinan 1 dan 2 menjurus pada jalan buntu, karena itu sebaiknya kita memilih kemungkinan ke-3, tetapi ia juga mengatakan bahwa kemungkinan ke-3 tidak hanya membutuhkan kreativitas saja tetapi juga spritualitas yang dalam, ini diaminkan oleh Klaas Runia yang yakin bahwa hal itu membutuhkan:
    dengar-dengaran dengan taat akan firman Tuhan, disertai doa yang terus menerus agar gereja diurapi dengan kaya oleh Roh Kudus, khususnya juga para teolog dan para pemimpin gereja. (Klaas Runia, Perplexing Ciousins: Where Are The Dutch Churches Headed?, The Banner Magazine, June 7 1993, hlm.13)

    Yang menarik untuk diamati bahwa akhir abad-20 peradaban dunia diwarnai dengan semangat kembali kepada transendentalisme, maka bilamana gereja membuang yang transendental, dan liberalisme cenderung mengerlingkan mata kepada spiritualitas mistik pantheisme (new age), maka sebagian umat mendapat jalan keluar dalam persekutuan-persekutuan injili dan kharismatik yang kembali menekankan spiritualitas Kristen yang membuka diri pada pekerjaan Roh Kudus.

    Bagaimana dengan di Indonesia? Gereja-gereja mapan di Indonesia memang umumnya berdiri karena pekerjaan misi NHK (NZG dan NZV) dan juga GKN (NGZV). Sebagian besar gereja-gereja mapan (GPIB, GKI, GKJW, GKP, GMIM dll.) berasal dari pekerjaan misi Hervorm, dan ada juga yang berasal dari pekerjaan misi Gereformeerd (GKI Jateng, GKJ), namun gereja-gereja mapan di Indonesia ini tidak mengalami nasib malang seperti saudara-saudara mereka gereja di Nederland. Ini disebabkan beberapa kondisi yang berbeda:

    1. Para utusan misi NHK dan GKN perintis gereja-gereja itu adalah pendeta/utusan misi yang beriman konservatif;
    2. Masyarakat Indonesia sebagai bagian masyarakat Timur masih konservatif dan jauh dibandingkan liberalisme Belanda. Orang-orang Indonesia yang konservatif masih sangat terbuka akan hal-hal transendental berbeda dengan orang-orang Belanda yang sekuler dan liberal. Sekularisme belum menjadi masalah;
    3. Dikalangan jemaat Tionghoa, ada pengaruh pelayanan penginjil John Sung yang berbekas pada jemaat Tionghoa baik yang baba dan terutama yang totok (Di Tiongkok John Sung melayani bersama Andrew Gih, karena berbeda orientasi dimana Sung menekankan penginjilan massal sedangkan Gih menekankan pelayanan gereja dan sekolah Teologi, keduanya kemudian berjalan sendiri-sendiri. Andrew Gih juga melayani ke Indonesia dan mendirikan Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT);
    4. Sekalipun pengaruh liberalisme masuk juga melalui beberapa utusan misi Belanda/Barat terutama melalui pendidikan di STT tertentu, tetapi pengaruh mereka baru sebatas pengaruh terhadap pribadi-pribadi pendeta dan kaum elit tertentu, pengaruhnya kecil ditengah mayoritas jemaat Indonesia yang konservatif;
    5. Adanya kebangunan gerakan Injili dan Kharismatik dalam kekristenan di Indonesia merupakan nafas segar bagi konservatisme Kristen (fakta menunjukkan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir, nyaris tidak ada pembukaan STT ekumenis yang baru, tetapi pada saat yang sama puluhan STT injili dan kharismatik berdiri).

    Dari pengalaman di Belanda itu, kita bisa melihat bahwa liberalisme cenderung membuat gereja kosong, tetapi konservtisme membuat gereja tetap bertahan mengarungi ombak jaman.

    Sumber: www.yabina.org

    Lima Lampu Merah dalam "Gereja Yang Tidak Sehat"

    Penulis : Mike Fehlauer

    Belum ada gereja yang sempurna, namun Allah tidak menginkan anda ada di suatu tempat yang menyalah gunakan hal-hal rohani. Berikut adalah bagaimana anda bisa mengetahui bilamana harus berpisah dengan gembala saudara.

    Suara yang berbicara ketika pada suatu malam telepon berdering, tidak asing: "Markus, dapatkah kita berbicara sebentar? Saya benar-benar prihatin, kalau gereja kami seakan-akan menjadi suatu kultus." Sudah selama tiga tahun Markus tidak mendengar dari sahabatnya, Stevan. Mereka berdua dahulu beribadah di suatu gereja charismatic yang sama , sampai karir Markus menyebabkan dia harus pindah ke negara bagian yang lain. Akibatnya mereka tidak lagi saling berhubungan. Kini, dalam keputus-asaannya, Steve merangkul seseorang yang diluar lingkungannya yang terjalin ketat.

    Jelas bahwa keprihatinan Steve berdasarkan pemantauannya pribadi dan bukan dari gossip jemaat. Sampai sekarang, Steve menjaga untuk tidak membicarakan pikirannya dengan siapapun. Bahkan ia malahan takut berbincang mengenai pokok ini. Steve khususnya terganggu oleh sikap rahasia kalau mengenai keuangan gereja." Kalau ada orang yang berani bertanya bagaimana uang gereja gigunakan, maka gembala menuduhnya sebagai "tidak percaya´´ atau ´´tidak patuh´´, jelas Steve. Dan selama tiga tahun terakhir, ia tambahkan, khotbah-khotbah selalu berfokus pada topik mengenai tunduk kepada otoritas rohani.

    "Kalau ada yang meninggalkan gereja," Steve katakan kepada Markus, maka para gembala mencap dia ´pemberontak´ atau mereka katakan ´dia tersinggung´. Markus bertambah prihatin ketika Steve dengan gugup memberitahu lebih banyak ditel."Gembala juga mengatakan kepada kami bahwa karena Allah telah membawa kami ke gereja itu, maka dia adalah bapak rohani kami, dan kami tidak pernah boleh meninggalkannya kecuali Allah memberitahukan itu kepadanya terlebih dahulu,"kata Steve." Dia bahkan mengatakan kepada kami, bahwa kalau kami meninggalkan gereja itu tanpa ijin gembala, maka kami akan mudah dihancurkan oleh iblis."

    Ketika pembicaraan mereka berakhir, Markus sadar bahwa temannya , Steve tejebak ke dalam situasi rohani yang sangat tidak sehat. Ia mendorong temannya untuk bertemu dengan gembalanya denga maksud memperhadapkan keprihatinannya kepadanya." kau tidak boleh menaklukkan dirimu dan keluargamu kepada pengendalian sebegitu, Steve,"nasehat Markus kepadanya.

    Seminggu kemudian, Markus berbicara dengan Steve kembali dan menemukan betapa kuat pengaruh gembalanya atas jemaatnya. Steve telah meminta maaf kepada gembala karena membicarakan dengan orang luar problemanya dengan gereja, dan ia telah berjanji bahwa ia tidak akan pernah lagi berbicara dengan Markus.

    Sejak itu markus tidak pernah dengar lagi dari Steve.

    CIRI-CIRI YANG MEMATIKAN ROH YANG SUKA MENGUASAI

    Yang saya sampaikan di atas adalah suatu situasi yang benar terjadi dan banyak diantara kita tidak mau mengakui bahwa itu adalah hal yang tidak asing. Sebenarnya, keadaan manipulasi otoritas yang tidak sehat dihadapi oleh banyak jemaat dalam berbagai taraf yang menyedihkan, hal mana dapat mengakibatkan penyalahgunaan kerohanian yang menghancurkan kalau tidak diperbaiki. Penyalahgunaan yang sedemikian telah mengakibatkan ribuan orang kristen yang terluka dan kecewa; mereka percaya bahwa mereka telah "dihabisi" justru oleh lembaga itu yang seharusnya menolong mereka.

    Jangan salah tanggap, saya menaruh kepercayaan pada gereja lokal. Jemaat setempat adalah sakral dan itu adalah sesuai pemikiran Allah. Semua orang percaya harus bersekutu dalam sebuah gereja lokal menurut Ibrani 10:24,25. Ada suatu dinamika kasih karunia Allah yang hanya didapati dalam hubungan yang konsisten dengan suatu tubuh lokal yang sehat.

    Ibrani 10:24-25

    10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

    10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

    Adalah tujuan Allah dari semula bahwa terdapat gereja lokal yang sehat, yang memberi kehidupan dan berpusat pada Kristus. Namun, oleh karena Ia memilih untuk memakai pribadi-pribadi yang rentan terhadap dan dapat berdosa untuk memimpin gerejaNya, maka selalu terdapat kemungkinan bahwa suatu jemaat lokal dapat terpedaya atau jatuh kedalam pola-pola rohani yang tidak sehat.

    Jadi bagaimana kita bisa tahu bahwa gereja kita telah dipengaruhi oleh roh menguasai? Dibawah ini dekemukakan lima tanda peringatan:

    1. Menonjolkan Kekuasaan.

    Tentunya harus diberikan tempat bagi pengajaran Alkitab mengenai otoritas rohani. Namun, kalau seorang gembala berbicara mengenai pokok ini setiap minggu, selalu mengingatkan semua orang bahwa ia yang memegang kekuasaan, maka kita dapat memastikan bahwa ada sesuatu yang sedang muncul. Dalam gereja yang tidak sehat, gembala sebenarnya mulai mengambil tempatnya Yesus dalam kehidupan kita. Dalam kasus Steve, ia diberitahu bahwa ia tidak dapat meniggalkan gerejanya dengan diberkati Allah kecuali ia telah menerima ijin dari gembala. Allah tidak akan memberkatinya.

    Pemimpin rohani yang mau berkuasa memakai alasan semacam ini untuk memanipulasi umat. Kita perlu mengerti proses yang dialami suatu gereja untuk sampai pada titik tertipu ini. Oleh karena para gembala tidak ada cara untuk mengukur keberhasilan mereka kecuali melalui jumlah jiwa yang hadir, mereka bisa kecewa kalau jiwa-jiwa meninggalkan gerejanya. Kalau mereka merasa terancam, mereka bahkan dapat mengembangkan suatu doktrin untuk menghentikan jiwa-jiwa meninggalkan gerejanya.

    Mereka bisa berkhotbah tentang loyalitas tanpa pamrih, dengan memakai cerita-cerita Alkitab tentang Daud dan Yonatan, atau Elisa dan Elia. Dengan memakai contoh seperti ini , sang pemimpin bahkan dapat memperoleh dasar "Alkitabiah" untuk mengendalikan juga hal-hal pribadi dari anggota jemaatnya. Seorang pemimpin yang mau menguasai bisa juga berusaha menanamkan perasaan berhutang dengan mengingatkan jemaatnya tentang apa saja yang ia telah lakukan bagi mereka. Cara berkhotbah begini mengakibatkan anggota gereja mencari kedudukan yang menguntungkan pada gembala daripada suatu keinginan yang tulus untuk menyenangkan Allah dan bukan manusia (lihat Kis 5:29).

    Kisah Para Rasul 5:29

    5:29 Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia.

    Yesus juga menempelak cara menyenangkan manusia seperti ini ketika Ia mengatakan kepada orang Parisi: "Aku datang dalam nama BapaKu dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu akan menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?" (Yoh. 5:43,44)

    Yohanes 5:43-44

    5:43 Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia.

    5:44 Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?

    Kalau kita mengejar hormat dari manusia, kita melakukannya dengan merugikan hubungan kita dengan Dia. Berangsur-angsur manusia mengambil tempatnya Allah dalam kehidupan kita. Suatu hubungan jiwa yang tidak sehat tercipta, dan rasa percaya diri kita ditentukan oleh bagaimana hubungan kita dengan mereka yang dalam pimpinan.

    Penguasaan seperti ini akan menghancurkan orang secara rohani. Sebuah gereja yang sehat tidak akan membiarkan perhatian penggembalaan yang murni melanggar batasnya dan memanipulasi atau menguasai. Seorang gembala yang benar akan menggunakan pengaruhnya untuk menarik anggota-anggota jemaat kedalam hubungan yang lebih erat dengan Yesus, yang adalah satu-satunya "kepala gereja". (Ef. 5:23).

    Efesus 5:23

    5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

    Seorang gembala yang benar menyadari bahwa jiwa-jiwa dalam jemaat bukan miliknya, mereka adalah kawanan domba Allah.

    2. Suasana Merahasiakan.

    Apabila seorang anggota gereja menaklukkan diri kepada suatu sistem penguasaan, sang pemimpin memberi informasi terbatas kepada setiap pribadi, sambil memonitor dengan teliti setiap hubungan. Akibatnya setiap anggota hanya dapat berhubungan dengan anggota lain berdasarkan informasi yang ia terima dari pimpinan. Dengan cara begini, kalau gembala atau staff gereja berpendapat bahwa salah satu anggota mulai "berbahaya" mereka memiliki suatu siasat untuk tetap pegang kendali yang mereka rasa diperlukan.

    Hasilnya, gereja dapat memutuskan hubungan apabila perlu dan menyembunyikan proses ini dibelakang tabir kerahasiaan. Hal ini tidak terbatas pada anggota jemaat. Saya kenal seorang gembala yang telah melakukannya dengan staffnya. Ketika berbincang-bincang dengan 420tai ia memberi komentar yang mengakibatkan seorang anggota staffnya menjadi curiga terhadap yang lain. Atau ia mengatakan sesuatu yang menyebabkan salah satu anggota staff merasa lebih baik dari yang lain.

    Suasana begini memberi angin kepada ambisi mementingkan diri sendiri dan persaingan antara para staff. Namun itu telah menjadi cara bagaimana gembala tetap mengendalikan dan memastikan bahwa staffnya tidak pernah dapat menantang otoritasnya. Setelah beberapa waktu, gembala pembantu memahami apa yang terjadi dan akhirnya mereka berangkat. Dalam jemaat yang tidak sehat, merahasiakan juga dapat menutupi keuangan.

    Gembala-gembala dapat menghimbau dengan semangat untuk mencari dana namun mereka tidak memberi kepastian bahwa keuangan gereja ditangani dengan tanggung jawab dan jujur. Saya bahkan mendengar gembala-gembala memberitahu kepada jemaat bahwa mereka tidak mengumumkan kebijaksanaan keuangan gereja karena "jemaat tidak memiliki pengertian rohani atau kedewasaan untuk mengerti dinamika keuangan gereja." Pernahkah anda mendengar alasan seperti ini? Ada gembala yang berkhotbah :"Tidak masalah apa yang kami lakukan dengan uangmu. Tanggung jawab saudara adalah untuk memberi." Akan tetapi Alkitab menyuruh kita menjadi bendarahawan yang baik dan dalamnya termasuk memastikan sistem pertanggung-jawaban yang baik untuk menangani korban-korban persembahan. Kalau kita mengetahui bahwa ada penanganan keuangan yang tidak benar, maka sebagai bendaharawan/pelayan yang baik kita harus bertanggung jawab dimana kita menabur benih keuangan kita.

    Saya tidak dapat membayangkan orang yang akan terus memberi setelah mengetahui bahwa ada penyalah gunaan keuangan. Namun mungkin mereka masih merasa didorong untuk memberi kalau keinginan mereka untuk diperkenan oleh pimpinan lebih penting daripada kejujuran dalam keuangan.

    3. Sikap Elitis.

    Sikap yang mematikan ini menghasilkan mental "siapa kamu siapa saya". Ini adalah gereja yang percaya bahwa sebenarnya tidak ada yang memberitakan injil kecuali mereka. Atau paling sedikit, tidak ada yang memberitakan injil sebaik seperti mereka! Roh elite tidak mendorong anggota gerejanya untuk mengunjungi gereja lain atau menerima bimbingan dari siapapun yang tidak masuk gereja mereka. Apabila ada yang mengunjungi gereja lain, maka ia dianggap sebagai tidak sepakat." Apapun yang kau butuhkan bisa didapat dalam rangka kelompok kita. "Semua yang kau perlu tahu, kau akan terima dari gembala dan pengajarannya." Sehingga rasa hormat terhadap denominasi lain hanya sedikit saja, bahkan mungkin tidak sama sekali.

    Gereja yang sehat menghormati dan merayakan ungkapan-ungkapan lain dalam Tubuh Kristus yang beranggotakan banyak. Suatu gereja yang berpusat pada Kristus menyadari bahwa tidak ada denominasi atau gerja lokal yang dapat memenangkan suatu kota seluruhnya, betapapun besarnya pemimpin yang berpusat pada Kristus, yang berpakaikan kerendahan hati, mengakui bahwa gereja yang kecil sama berarti seperti yang besar, gereja Baptis sama vitalnya seperti Kharismatik dan setiap suku bangsa mendapat tempat pada meja Tuhan.

    Gereja yang sehat akan mempromosikan gereja-gereja lain di dalam kotanya, daripada hanya mempromosikan acara dan kegiatannya sendiri terus-menerus. Sebuah gereja yang sehat akan menyokong kebangunan rohani dalam semua gereja daripada memajukan pemikiran bahwa ia memiliki sesuatu dokrin yang lebih baik. Gereja yang sehat akan memperlihatkan sikap yang tertulis dalam Pilipi 2:3-4 ".. dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga."

    4. Mementingkan Perbuatan.

    Kesempatan melayani banyak sekali dalam banyak gereja. Namun dalam gereja yang suka menguasai, kesempatan begini bukan demi melayani. Aktifitas diperlukan supaya dapat membuktikan komitmen kepada organisasi. Apakah itu merupakan hadir dengan setia dalam kebaktian atau bekerja dalam satu departemen, loyalitas adalah kuncinya.

    Tentu saja menghadiri kebaktian adalah penting untuk pertumbuhan rohani kita. Namun kalau kita hadir dalam kebaktian supaya mendapat kebaikan dari gembala atau memperoleh kepercayaannya, maka kita meleset dari sasaran. Dalam Galatia 2:16 kita diberi tahu bahwa "tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus."

    Galatia 2:16

    2:16 Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena melakukan hukum Taurat.

    Kita tidak dapat bekerja untuk mendapat sorga atau kasih Allah. Berita tentang kasih karunia Allah tidak membatalkan perlunya melayani, itu justru membuka "mengapanya" kita melayani. Sekalipun kita diajar untuk menjalankan disiplin tertentu dalam kehidupan Kristiani, disiplin-disiplin itu bukan jalan untuk diperkenan Allah. Itu dimaksudkan sebagai perayaan kasih dan kemurahan Allah yang tak terhingga.

    5. Memotivasikan Takut.

    Apabila seorang gembala mengatakan kepada jemaat bahwa mereka yang meninggalkan gerejanya atau tidak patuh kepada otoritasnya berada dalam bahaya pehukuman Allah, anda dapat memastikan bahwa orang ini bekerja dengan mau berkuasa. Ia memakai takut sebagai cara daging/manusia untuk menahan jiwa-jiwa dalam gereja. Biasanya pengungkapan seperti ini: "Kalau anda meninggalkan gereja kami, berkat Allah akan diangkat dari kehidupanmu dan kau akan keluar dari kehendak Allah. "Yang lain mengatakan, "Kalau anda meninggalkan gereja kami, maka itu adalah pemberontakan dan iblis dengan bebas dapat mengganggu kehidupanmu. "Disini motivasinya adalah ketakutan bukan kasih.

    Anda dapat memastikan bahwa alasan seperti ini bukan dari Allah. Yesus tidak pernah memotivasikan orang dari sebab takut. Dalam gereja yang suka berkuasa atas umat, takut adalah bentuk manipulasi. Yang tidak tercapai oleh kasih dan sikap hamba, suatu gereja yang mau berkuasa akan berusaha mencapainya melalui manipulasi. Ini adalah sama sekali bertolak belakang dengan l Yoh.4:18, yang mengatakan, "Didalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan......".

    Bagaimakah baiknya respon anda kalau gerejamu menunjukkan satu atau lebih dari ciri-ciri yang tidak sehat ini? Dibawah ada beberapa nasehat.

    * Bicaralah dengan gembala saudara mengenai keprihatinanmu, sambil mengingat bahwa kalau ia memang benar dimotivasi oleh roh yang suka menguasai, anda dapat dihadapkan dengan usaha manipulasi (=mempengaruhi/mengendalikan/mengakali untuk kepentingan sendiri) selama pembicaraan. Tetaplah bersikap rendah hati daripada menjadi marah atau membela diri.

    * Seorang pemimpin gereja yang suka menguasai akan menghalangi anda untuk membicarakan keprihatinmu dengan orang lain manapun. Namun, Alkitab mengatakan bahwa: ".... jikalau penasehat banyak, keselamatan ada." (Ams. 11:14). Mintalah nasehat dari seorang pemimpin yang dewasa dan objektif dalam gereja yang lain atau seorang kristen yang dewasa. Ada kemungkinan bahwa apa yang anda lihat sebagai sikap mau menguasai sebenarnya perhatian yang tulus, jadi berdoalah agar dapat membedakannya.

    * Jika sesudah anda menerima nasehat anda yakin bahwa gereja anda terperangkap roh suka menguasai, maka anda bebas untuk meninggalkannya. Anda tidak memikul tanggung jawab untuk orang lain manapun yang masih loyal kepada gereja itu, jadi jangan coba menyelamatkan mereka. Berdoalah untuk jiwa-jiwa itu agar mereka mengenali situasinya.

    * Pada mulanya anda akan merasa seperti tidak mempercayai seorang gembala lain lagi, namun lawanlah pikiran itu dan cari suatu gereja yang sehat, dimana Alkitab dikhotbahkan tanpa kompromi dan dimana nyata ada kasih. Allah menyediakan gereja yang sehat bagimu. Gembala yang baik sanggup sepenuhnya untuk memimpin anda kepada rumput yang hijau (Maz.23) dimana anda dapat bertumbuh dalam Dia. Kalau saudara mengijinkan Allah memimpinmu, Ia juga akan mengurapi kepalamu dengan minyak dan menyembuhkan luka-luka dari lingkungan yang menyalahgunakan sesama.

    Sumber: Lima Lampu Merah dalam "Gereja Yang Tidak Sehat"

    Loyalitas Seorang Hamba

    Oleh : Sujud Prasetio

    PENDAHULUAN

    Tak ingin karier Anda berakhir dengan pemecatan? Jangan pernah melakukan hal-hal berikut (sumber: yahoo news).

    1. Tidak disiplin
    Setiap perusahaan memiliki peraturan masing-masing. Ada yang mengharuskan datang pukul 08.00, ada juga yang mewajibkan memakai seragam. Jika tidak bisa tunduk pada peraturan perusahaan, maka besar sekali kemungkinan Anda untuk dipecat.
    Pelajari dengan baik peraturan perusahaan sejak awal penandatanganan kontrak kerja. Jika memang ada yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang Anda anut, sebaiknya bicarakan sejak awal. Jangan sampai Anda justru dianggap sebagai karyawan yang membangkang alias tidak patuh.2. Tidak fleksibel
    Tugas Anda memang sudah ditentukan sesuai dengan jabatan yang telah diberikan, namun terkadang tak tertutup kemungkinan Anda masih harus mengerjakan hal yang lain (demi mendukung tugas utama). Menolak pekerjaan tambahan bukanlah hal yang baik. Itu akan memberikan kesan bahwa Anda pemalas, tak bisa bekerjasama juga tak patuh pada perintah atasan.

    3. Malas-malasan
    Di kantor Anda lebih sering buka akun jejaring sosial ketimbang kerja, lebih sering tidur siang ketimbang berdiskusi soal pekerjaan. Tak hanya itu, Anda bahkan sering meninggalkan meja kerja tanpa keterangan jelas. Jika ini terus berlanjut, Anda memberi alasan kuat bagi atasan untuk memecat Anda.

    4. Koruptor
    Tak ada alasan untuk memaafkan seorang koruptor kan?

    5. Ratu/Raja Drama
    Anda selalu membesar-besarkan konflik dan masalah, baik masalah pribadi atau kantor. Tak jarang Anda membuat kehidupan kantor layaknya sinetron yang sarat drama. Suasana kantor jadi tak nyaman karena Anda. Jangan heran jika surat pemecatan Anda terima.

    6. Pelecehan seksual
    Pelaku pelecehan seksual tak bisa dimaafkan, termasuk di lingkungan kantor.

    7. Tak bisa beradaptasi dengan lingkungan
    Dalam bekerja, Anda harus beradaptasi dengan lingkungan. Tak sedikit pekerjaan Anda yang akan bersinggungan dengan divisi lain. Jika Anda tak bisa beradaptasi dan menjadi karyawan yang individual, kemungkinan besar nama Anda akan muncul di daftar teratas orang-orang yang akan dipecat. Kemampuan bekerjasama dan adaptasi adalah salah satu kunci sukses dalam bekerja.

    I Samuel 9:1-10

    Kita akan belajar dari seseorang yang namanya pun Alkitab tidak pernah menulisnya secara detil tetapi sebenarnya memiliki peran dalam menentukan Destiny seorang yang bernama Saul menjadi Raja atas Israel. Dia adalah Bujangnya Saul...

    Seorang yang memiliki Hati Hamba adalah:

    1. Seorang yang mau berusaha menyenangkan Tuannya (ayat 5-6).
    Saat Saul sudah merasa frustasi dan menyerah untuk mencari keledai-keledainya yang hilang karena mereka sudah menempuh perjalanan yang panjang dan berhari-hari, Bujangnya Saul yang menemaninya dalam mencari keledai-keledai tuannya menyarankan Saul untuk tidak menyerah, maka itu dia rindu ingin menyenangkan hati tuannya. Dia ingin berhasil dalam tugasnya. Berhasil dalam menjalankan mandat dari tuannya.
    Secara manusia dia bisa saja langsung menyetujui Saul untuk kembali pulang, tetapi tidak demikian ia mau keledai-keledai tuannya yang juga sudah menjadi tanggung-jawabnya bisa ditemukan.
    Bujang itu sebelumnya juga gagal menjaga piaraan yang dipercayakan kepadanya. Tetapi tanggung jawabnya, mendorongnya untuk berusaha. Dia orang yang optimis.
    Saul berkata, “Mari pulang!”
    Bujangnya berkata, “Tunggu,…!!
    Bujang itu mendapat mandat menemani Saul agar menemukan kembali keledai-keledai yang hilang. Itu targetnya. Menyenangkan hati tuannya. Meskipun membutuhkan waktu berharihari hanya mencari barang yang hilang. Tetapi semangat kerinduan untuk menyenangkan tuannya yang mendorongnya untuk tidak menyerah sebelum ia pulang membawa keledainya pulang kembali.

    Sebagai orang percaya, kita adalah anak-anak Tuhan. kita adalah hamba-hamba Tuhan. kita wajib memberi yang terbaik bagi Tuhan. menyenangkan hati Tuhan. mungkin masih terjadi kegagalan-kegagalan disana-sini, persoalannya kita berhenti, dan putus asa. Dan tidak mau mencoba lagi. Jika kita mengasihi Tuhan, saya percaya dalam keadaan apa pun, kita akan berusaha bangkit untuk memberikan yang lebih baik lagi.

    Jangan pulang ke surga sebelum kita memberi yang terbaik bagi Tuhan. Ada banyak orang buru-buru ingin cepat selesai, bukan dengan dasar menyelesaikan tugasnya dengan baik, tetapi supaya lepas dari tanggung jawab. Ada orang yang ingin sekali cepat kembali ke sorga, bukan karena rindu bertemu dengan Tuhan, melainkan karena frustasi, tidak sanggup menghadapi segala tanggung jawab yang diberikan.
    Dosen saya mengkritisi lagu “Hati Hamba”. “Ku tak membawa apapun juga saatku datang ke dunia.” “tak membawa apa-apa saat ku kembali ke sorga.” Menurutnya itu bukan mencerminkan hati hamba. Haamba itu selalu menghasilkan buat tuannya.

    Orang yang ingin cepat selesai dengan tanggung jawabnya, tanpa didasari kerinduan memberi yang baik akan menhasilkan sesuatu yang berbeda dibanding dengan orang yang benar-benar ingin loyal dengan Tuhannya.

    Saya percaya sikap yang demikian akan menghasilkan sesuatu yang biasa-biasa saja, tetapi yang mempunyai kerinduan untuk menyenangkan Tuhan pasti menghasilkan yang lebih baik.

    Kita mungkin ingat bagian kisah dari Martin Luther King, jr. suatu kali ia jalan-jalan di taman, kemudian bertemu dengan seorang pemuda yang sedang menyapu di taman itu. Dia menghampiri, lalu berkata kepadanya, “Anak muda, sapu taman ini hingga bersih, berikan hasil yang terbaik, jika suatu waktu engkau tidak disini lagi, orang akan mencari-cari kamu. Dan orang akan berkata, Dimana pemuda yang dulu pernah bekerja ditaman ini, tidak ada orang yang membersihkan taman ini, sebersih pemuda itu.”

    Bujang Saul, juga begitu. Gol-nya itu untuk menemukan keledai2nya.
    Bagaimana dengan kita? Ada orang yang bangga, "lihat nih saya punya tanggung jawab besar, banyak kepercayaan yang diberikan kepada saya." Iya sih, bagus. Tetapi jika tidak bisa bekerja dengan baik, untuk apa?

    2. Seorang hamba yang bergantung kepada Tuhan. (6)
    Ayat 6 ini menunjukkan akan ketergantungannya kepada Tuhan. Akan imannya kepada Tuhan. Setelah gagal dalam berbagai cara untuk menemukan keledai yang hilang, maka ia ingat bahwa ada seorang hamba Tuhan. seorang pelihat.
    Bujang Saul ini mengerti masih ada Tuhan dan Nabi-Nya yang sanggup menolong mereka dengan mengatakan bahwa ...segala yg dikatakannya pasti terjadi.. (ay 6) ini menunjukkan bahwa Bujang Saul ini mengenal Tuhan dan mempercayai NabiNya.
    Kisah ini menunjukkan bahwa sekalipun dia hanya bujang, hanya hamba, namun ia mempunyai iman kepada Allah Israel.
    Kalau kita cermati kisah bujang ini, kita mengingat kisah Namaan. Dimana seorang gadis kecil yang akirnya menjadi berkat.
    Seringkali kita melihat dalam pelayanan kita, kita berkata “wahh, ini tuh sudah ga bisa. Sudah kartu mati.” Kita lupa punya Tuhan.
    Seorang pernah berkata begini, “Jika kita mengandaalkan manusia, kita akan mendapatkan apa yang dapat di hasilkan oleh manusia, jika kita mengandalkan Tuhan, kita akan mendapatkan hasil dari pekerjaan Tuhan.”

    3. Hamba yang mau berkorban untuk tuannya( ayat 7-8).
    Setelah kita mengetahui dari awal, ketika mereka berhari2 mencari keledai yang hilang, pada akhirnya mereka mendapatkan jalan buntu. Atau tidak dapat menemukannya. Jalan satu-satunya adalah mereka mencari Pelihat. Mencari nabi Tuhan. Mencari pertolongan Tuhan. Tetapi, persoalannya adalah, seperti kebiasaan zaman itu, jika seseorang datang kepada Hamba Tuhan, mesti memberikan persembahan. Persoalannya adalah si Saul tidak bawa uang, tidak punya apa2 untuk diberikan kepada nabi. Tidak ada sesuatu yang berharga yang dapat ia berikan. Yang luar biasa adalah hamba ini mau berkorban.
    Bujangnya tidak berkata, “Tuanku Saul, saya masih ada seperempat syikal perak, ini pakai punyaku dulu, tapi nanti sampai di rumah tolong di ganti ya,.” Tidak ada kata seperti itu.
    Tidak lazim, jika seorang bawahan berkorban bagi tuannya. Tidak biasa jika seorang hamba memberi kepada tuan. Yang biasa terjadi adalah, kamu beri saya 1 saya balas 1. Kalau lebih, bayar donk, hitung lembur. Tetapi, ini yang terjadi, bujang ini memberi kepada Saul. Saya rasa ini sikap yang luar biasa. Sikap yang rela berkorban. Dengan kata lain, si bujang Saul ini memberikan lebih dari yang wajib ia berikan.
    Seringkali karyawan hitung2an dengan Bos. Waktunya pulang, tetapi tidak pulang2 sudah mengerutu. Waktunya libur, tetapi harus masuk, ngomel-ngomel. Waktunya istirahat, karena banyak costumer harus rela tidak istirahat. Gaji di beri pas, seperti surat kontraknya tapi merasa kurang. Inilah yang luar biasa dari bujang Saul, memberi lebih dari yang seharusnya ia beri.
    Hati hamba. Hati yang mengabdi. Hati yang tulus untuk melayani. Seharusnya ia diberi, justru bujang ini yang memberi.
    Demikian juga seharusnya kita, jika kita memiliki sikap Hati Hamba, yang mau Menyenangkan Tuhan kita harus siap BERKORBAN...mungkin itu KORBAN waktu, perasaan, tenaga, uang bahkan APAPUN termasuk HIDUP KITA jika TUHAN minta..kita harus mau berikan karena kita tahu dengan melakukan hal-hal itu kita sedang menyenangkan Hati Tuhan.. Berhenti untuk minta orang lain BERKORBAN bagi kita mulai dari diri kita dulu mau BERKORBAN bagi sesama kita.

    4. Seorang yang mengerti Otoritas Pemimpin (ayat 27).
    Keberadaan bujang Saul di dekat Saul saya percaya bukan kebetulan. Jika kita kembali ke ayat sebelumnya, bujang Saul itu adalah orang pilihan ternyata. Tidak sembarang di tugaskan. Ada peranan Tuhan di dalamnya. Dia di tempatkan di sisi Saul, supaya Saul menemukan panggilan hidupnya.

    Tentu, jika kita pelajari tadi, peran bujang ini, peran budak ini, peran hamba ini, peran orang bawahan ini menjadi penentu distiny bagi Saul. Berperan besar akan keberhasilan Saul. Kalau saja pada waktu Saul berkata, mari kita pulang, dan bujang itu berkata ayo kita pulang saja, maka pada waktu itu, Saul tidak bertemu Samuel. Samuel pun pada akhirnya tidak akan mengurapi Saul.

    Namun, Tuhan tidak salah orang untuk menempatkannya di sisi Saul. Dialah yang membawa Saul sampe kepada panggilannya.
    Tetapi yang menarik adalah, ketika Samuel menyuruh Saul memerintah bujang itu pergi meninggalkan mereka berdua, pergi mendahului mereka, bujang itu tidak berkata. “hai Saul, aku sudah berkorban demi kamu, berkorban banyak untuk kamu aku sudah memberikan semua yang aku punya untuk kamu, aku yang mempunyai ide untuk bertemu dengan nabi Samuel, koq aku justru di suruh pergi.” Alkitab tidak mencatat tentang itu. Setelah ayat-ayat selanjutnya nama bujang ini tidak disebut lagi, kecuali Samuel dan Saul saja. Itu membuktikan si bujang ini menuruti apa kata Saul, sebagai tuannya, sebagai atasannya.

    Bujang ini tetap tunduk kepada otoritas, sekalipun sebenarnya bujang ini layak untuk diberikan penghargaan. Namun, bujang ini mengetahui bagiannya.

    Saya selalu percaya, tentang otoritas. Mulai dari pemerintahan, perusahaan dan gereja pun ada rencana Tuhan disitu. Jika kita tahu panggilan kita, maka kita akan mengetahui bagian kita. Tunduk kepada otoritas. Hormat kepada struktur pemimpin kita. Saya percaya, berkat itu diturunkan melalui pemimpin kita.
    Sebelum saya masuk sekolah teologi, dulu ada ketua pemuda, yang secara umur masih lebih saya. Kadang muncul pikiran, waah kamu itu masih anak-anak, main perintah-perintah saya aja,. Adaa loh saudara. Tetapi ya dgn sedikit terpaksa mesti ikut, karena dia secara organisasi ada di atas saya.

    Seringkali, kesombongan ini menjadi penyakit kita. Kita merasa yang palaing senior, yang paling kuat, yang paling pinter, sehingga merasa tidak harus diperintah-perintah. Tidak perlu untuk disuruh-suruh. Bagaimana pun, senioritas itu harus dihormati, tetapi tetaap harus ingat senioritas harus tetap di bawaha otoritas.
    Jika organisasi mau berjalan dengan baik, harus tunduk kepada otoritas. Masing-masing ada bagiaanya yang perlu untuk dilakukan. Inilah sikap dari kerendahan hati. Yesus yang adalah Tuhan, Raja segala raja, mau melayani kita, yang seharusnya melayani Dia.

    Ilustrasi

    Pegunungan Himalaya yang terbentang di daerah perbatasan Butan, Tibet, India, Nepal, Pakistan, Burma, dan Afganistan merupakan pegunungan tertinggi di dunia. Puncak tertingginya adalah puncak Everest (8849 meter di atas permukaan laut). Banyak orang berusaha untuk menaklukkan puncak tersebut.

    Tanggal 29 Mei 1953, Edmund Hillary, asal Inggris menjadi manusia pertama yang berhasil menaklukkan puncak Everest. Kesuksesannya menjadi sangat fenomenal pada zamannya. Apalagi pada waktu itu, Inggris baru saja pulih dari dampak perang dunia kedua.

    Di balik kesuksesan Sir Edmund Hillary, ada suatu kisah yang menarik. Salah seorang wartawan memutuskan untuk mewawancarai salah seorang anggota tim pendakian Hillary. Ia adalah seorang penduduk asli Nepal yang bernama Tenzing Norgay. Norgay bekerja sebagai seorang sherpa, penunjuk jalan bagi pendaki gunung. Wartawan itu bertanya, “Bila ia seorang penunjuk jalan, bukankah seharusnya ia yang berada di depan Hillary, berarti ia adalah orang pertama yang sampai di puncak Everest?” Tenzing Norgay menjawab bahwa memang benar ia berjalan di depan Hillary, tetapi ketika kurang satu langkah untuk sampai di puncak, ia menyingkir dan mempersilahkan Edmund Hillary untuk maju dan menjadi orang pertama yang sampai di puncak itu.

    Wartawan itu penasaran, ia bertanya kembali, “Mengapa Anda lakukan itu?” Dengan tenang Norgay menjawab, “Karena itu bukan impian saya. Itu adalah keinginan Edmund Hillary. Keinginan saya adalah membantunya untuk mewujudkan keinginannya.”

    Menjadi hamba bagi sesama bukan sebuah teori atau dongeng belaka, tetapi merupakan suatu wujud nyata dari sebuah keinginan hati. Adakah Anda memiliki hati seorang hamba?

    APA YANG DIPEROLEH BUJANG SAUL??

    MENDAPATKAN KEHORMATAN. Ayat 22 bahwa si Bujang ini mendapatkan kehormatan bersama Saul untuk duduk di bagian utama di hadapan para pembesar dan menikmati jamuan mewah yang dihidangkan Samuel. Bahkan ia bukan undangan (Ay. 13).

    Sumber: Artikel Pribadi

    Melayani Tuhan vs Melayani Pekerjaan Tuhan

    Oleh: Kenia Oktaviani

    Semester ini hidup saya diwarnai dengan list pelayanan yang begitu panjang. Ada begitu banyak hal yang terjadi di luar prediksi saya, ketika menerima tanggung jawab pelayanan. Deretan list yang harus saya kerjakan setiap harinya membuat saya begitu lelah.

    Inilah awalnya mengapa saya begitu bergumul tentang apa makna pelayanan yang sebenarnya. Siang itu, saya membaca artikel yang berisi pertanyaan : "Apakah saya melayani Tuhan atau melayani pekerjaan Tuhan?" Pertanyaan ini mengusik hati saya, membuat saya bergumul dan terus memeriksa hati saya. Sebenarnya apa yang selama ini saya kerjakan? Benarkah yang saya kerjakan pada hakikatnya adalah untuk menyenangkan Tuhan?

    Untuk menjawab hal ini, saya bertanya kepada beberapa orang yang saya kenal, tentang perbedaan melayani Tuhan dan sekedar melayani pekerjaan Tuhan. Dua orang teman saya menjawab pertanyaan ini dengan jawaban yang sangat mirip dan begitu menegur saya.

    Perbedaannya terletak pada fokus hati kita. Melayani Tuhan berfokus pada mengerjakan apa yang Tuhan mau untuk kita kerjakan, sedangkan melayani pekerjaan Tuhan berfokus pada menyelesaikan list-list pekerjaan pelayanan. Melayani Tuhan menghasilkan buah-buah roh, melayani pekerjaan Tuhan menghasilkan kelelahan yang panjang. Melayani Tuhan tidak menuntut penghargaan, melayani pekerjaan Tuhan menuntut pengakuan.

    Seringkali seorang Kristen terjebak dalam dilema kedua hal ini. Sulit untuk membedakan keduanya ketika kita disibukkan dengan begitu banyak aktivitas dan rutinitas pelayanan. Sulit untuk memiliki waktu sejenak, berfleksi, dan menggumulkan sebenarnya di posisi mana kita berdiri, khususnya ketika begitu banyak tuntutan pelayanan yang harus kita kerjakan. Melayani Tuhan menjadi begitu melelahkan dan menguras emosi. Melayani Tuhan agaknya menjadi beban yang harus dipikul orang percaya setiap harinya.

    Saya mulai bergumul bagaimana saya bisa keluar dari dilema ini. Saya menemukan bahwa sesungguhnya tidak ada yang salah dengan banyaknya pekerjaan pelayanan yang saya harus kerjakan. Tidak ada yang salah dengan tanggung jawab yang dipercayakan kepada saya. Yang menjadi persoalannya adalah dari titik point mana saya berpijak? Sudahkah saya melihat pelayanan dengan konsep pola pikir yang benar?

    Lukas 17 membantu saya merefleksikan hal ini sejenak.

    (7) Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan! (8) Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum. (9) Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya? (10) Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan."

    Bagaimana kita melihat diri kita di hadapan Tuhan? Apakah kita menyadari bahwa sesungguhnya posisi kita di hadapan Tuhan adalah sebagai seorang hamba? Saya berhutang, Anda berhutang, kita berhutang terlalu banyak kepada Allah. Penebusannya di kayu salib adalah anugerah yang seharusnya tidak layak kita terima. Pantaskah seorang hamba mengharapkan terima kasih setalah ia melakukan apa yang seharusnya memang ia kerjakan?

    Kami hanya melakukan apa yang seharusnya kami lakukan, bukankah kata- kata ini yang seharusnya terus terngiang-ngiang setiap kali kita memiliki kesempatan untuk melayani Tuhan? Dan lebih dari itu, bukankah kesempatan ini adalah anugerah? Kenyataannya Allah dapat memakai siapa saja, bahkan apa saja untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Bukankah suatu anugerah untuk berbagian dalam pekerjaan pelayanan Tuhan? Pernahkah justru kita membalik pertanyaan kita dari "Mengapa saya yang harus melakukan pekerjaan-pekerjaan ini?" menjadi "mengapa Tuhan memilih saya untuk mengerjakannnya?"

    Kelelahan, kekecewaan, keputusasaan, bahkan perasaan frustasi sangat mungkin terjadi ketika kita melayani Tuhan. Tapi maukah kita mengambil keputusan untuk sekedar menilik kembali posisi di mana seharusnya kita berdiri, dan melihat semua tanggung jawab sebagai anugerah yang dipercayakan kepada kita? Melayani Tuhan bukan beban, melayani Tuhan adalah kesempatan dan anugerah.

    Pada akhirnya, marilah kita terus memiliki kerinduan, untuk ketika kita berhadapan muka dengan muka dengan Tuhan kelak, kita dapat mendengar Ia memanggil kita dengan sebutan; Hai hambaku yang baik dan setia. Mari tunaikan tugas pelayanan dengan gentar, semata-mata karena anugerah Tuhan. :)

    Memaknai Relasi Gereja dengan Sekolah

    Penulis : Weinata Sairin

    PENDIDIKAN adalah salah satu aspek yang sangat penting dan strategis bagi kehidupan manusia. Sebagai sesuatu yang khas dan spesifik bagi manusia, pendidikan berperan amat signifikan dalam membekali manusia untuk menyongsong masa depan yang akan dijalani yang diwarnai dengan berbagai tantangan dan perubahan. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang disahkan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) tanggal 11 Juni 2003, merumuskan bahwa "Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan prestasi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara."

    Suatu program pendidikan yang tidak mampu membawa perubahan, baik dalam informasi, pengetahuan, keterampilan, maupun dalam sikap mental akan kehilangan maknanya yang hakiki dalam konteks upaya pencerdasan manusia.

    Lembaga-lembaga keagamaan memiliki peran yang amat penting dalam pelayanan di bidang pendidikan. Kelahiran sekolah-sekolah Katolik akhir abad ke-19, sekolah-sekolah Muhammadiyah (tahun 1912), sekolah- sekolah Kristen (1920) dan lembaga pendidikan Maarif tahun 1929 adalah bukti nyata kepedulian lembaga keagamaan terhadap bidang pendidikan.

    Sekolah-sekolah tersebut yang dibangun dengan menampilkan ciri khas dan identitas masing-masing, diakui banyak orang telah memberi kontribusi yang tidak kecil bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Dalam sambutan pada acara Pembukaan Munas VII Musyawarah Perguruan Swasta tanggal 15 Juli 1996, Prof Dr Wardiman Djojonegoro (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) menyatakan bahwa sepanjang sejarahnya sekolah-sekolah swasta telah membuktikan kelebihannya dalam hal kemandirian pengelolaan sekolah dan kebebasan mengembangkan ciri khasnya.

    Kreatif

    Dengan kemandirian itu, pimpinan dan pengelola sekolah-sekolah swasta dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif dalam meningkatkan penampilan sekolah. Sehubungan dengan ciri khas, Wardiman menyatakan, "Selama ini ciri khas meliputi ciri khas yang berkaitan dengan agama, kebudayaan, kebangsaan dan lain-lain. Pada era selanjutnya dituntut untuk lebih memperluas cici-ciri khas ini selaras dengan tuntutan zaman. Sebagai ilustrasi misalnya, sekolah-sekolah swasta yang mempunyai ciri khas keagamaan hendaknya dapat berfungsi maksimal dalam mengembangkan nilai-nilai agama yang menunjang era industrialisasi."

    Senada dengan itu, Indrajati Sidi dalam kapasitasnya sebagai Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Depdiknas pada pembukaan penataran pembina sekolah swasta tanggal 27 Juli 1998 di Jakarta menyatakan, pengembangan sekolah swasta di era keterbukaan dan globalisasi dihadapkan pada tuntutan mutu dan layanan yang sangat terkait dengan visi dan misi yang harus dikembangkan.

    Visi pendidikan pada perguruan swasta antara lain mencakup: (1) menumbuhkan komitmen serta mampu memotivasi perguruan swasta untuk mengembangkan dirinya; (2) membuat kehidupan perguruan swasta lebih bermakna dan terarah; (3) menimbulkan standarisasi operasional pendidian perguruan swasta yang prima dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat; (4) meningkatkan mutu perguruan swasta untuk tetap mampu berdaya saing; (5) mampu menjembatani masa kini dan masa depan.

    Sedangkan misi sekolah swasta pada dasarnya tidak profit oriented, mencakup empat aspek (catur citra): (1) kemandirian; (2) mutu; (3) ciri khas; dan (4) tanggung jawab sosial. Tentang ciri khas, sekolah swasta merupakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat pengguna jasa pendidikan. Ciri khas tersebut dimaksudkan untuk menampung aspirasi masyarakat yang berbeda-beda.

    Sekolah-sekolah swasta di zaman pra-kemerdekaan tidak dapat disangkal telah ikut berperan dalam menggelorakan semangat kemerdekaan bagi para peserta didik, sehingga melalui sekolah- sekolah swasta itu juga kehendak rakyat untuk mencapai kemerdekaan ikut terdorong.

    Pemahaman wawasan kebangsaan serta penyadaran tentang pentingnya makna kemerdekaan bagi suatu bangsa telah menjadi agenda pokok dalam perguruan-perguruan swasta di zaman pra kemerdekaan, walaupun latar belakang, identitas dan ciri khas perguruan tersebut beraneka ragam.

    Wahana Strategis

    Gereja-gereja di Indonesia telah sejak lama memahami bahwa Sekolah- sekolah Kristen (baca: lembaga pendidikan Kristen) adalah wahana yang paling strategis tidak saja dalam konteks pencerdasan kehidupan bangsa, tetapi juga dalam memperkenalkan membagikan serta mentransfer nilai-nilai kristiani kepada para peserta didik.

    Sekolah-sekolah merupakan ujung tombak tatkala gereja dan komunitas Kristen berinteraksi denagn masyarakat luas.

    Sekolah-sekolah Kristen sepanjang sejarahnya telah turut membentuk pola pikir, wawasan, sikap perilaku para peserta didik, sehingga ketika mereka telah menjadi pemimpin dalam suatu organisasi atau komunitas, wawasan dan kebijakan mereka amat dipengaruhi oleh proses pendidikan yang telah mereka alami di sekolah-sekolah Kristen tersebut.

    Dalam konteks itu, di masa depan hubungan Gereja dengan sekolah harus terus menerus dipelihara, dibina dan dikembangkan. Gereja tidak boleh apatis dan membiarkan sekolah berjalan sendiri, lepas dari visi dan misi yang diemban oleh gereja sebagai persekutuan yang diberi mandat oleh Tuhan untuk mewujudkan Syaloom di kekinian zaman.

    Memantau

    Manajemen sekolah proses belajar-mengajar, sarana dan prasaran, pengorganisasian, kesejahteraan guru dan pegawai non-kependidikan, tak dapat tidak mesti menjadi perhatian serius dari gereja agar iklim kondusif bagi upaya pencerdasan dapat ter- wujud secara optimal di sekolah.

    Gereja juga harus terus-menerus memantau agar sekolah Kristen tidak terpenjara pada kekristenan simbolik, kekristenan ornamental.

    Artinya, sebuah kekristenan yang hanya dipresentasi melalui pengadaan kebaktian dan doa, pada hiasan-hiasan ayat Alkitab yang terpampang di dinding; tapi kekristenan yang menjadi norma, standar, roh dari kehidupan dalam sekolah tersebut.

    Dan, hal itulah yang harus menjadi agenda gereja dan sekolah di masa depan. Penyiapan para pemimpin bangsa, pemimpin umat tak bisa tidak harus menjadi bagian dari agenda sekolah-sekolah kita itu berarti mutu sekolah akan memegang peranan penting.

    Di tengah era kompetisi dan liberalisasi sekarang ini, tatkala mutu menjadi andalan utama, masyarakat tidak akan mempersoalkan lembaga mana yang menjadi penyelenggara sebuah lembaga pendidikan. Masyarakat akan berduyun-duyun memasuki sekolah-sekolah bermutu, tanpa mempersoalkan siapa penyelenggara.

    Memang pergumulan ke depan adalah bagaimana sebuah sekolah yangbermutu tetap mampu menjangkau masyarakat yang lemah ekonominya. Gereja dan sekolah dapat bersama-sama memecahkan masalah ini dengan mengembangkan pola subsidi silang atau beasiswa, misalnya sehingga peran sekolah sebagai wahana pencerdasan dan penumbuhan nilai-nilai Kristiani tetap terwujud.

    Bermutu

    Sekolah-sekolah BPK Penabur telah mengukir karya terbaik bagi masyarakat luas selama kurun waktu 55 tahun milik GKI Jabar. Prestasi yang diraih selama ini oleh BPK Penabur telah membuktikan bahwa sebuah sekolah yang dikelola oleh Gereja adalah sekolah yang bermutu, andal, terpercaya dan menjadi kebanggaan masyarakat luas.

    Demikian juga halnya prestasi yang dicapai Yayasan IPEKA dari Gereja Kristus Yesus (GKY) dalam usia 25 tahun amat menonjol. Banyak gereja di Indonesia yang concern terhadap dunia pendidikan demi pencerdasan kehidupan bangsa.

    Beberapa dapat disebut: BPPK-GKP, YAPENDIK- GPIB, DPP HKBP, YP GMI, Yayasan Pendidikan Kalam Kudus, dan sebagainya.

    Concern gereja-gereja terhadap upaya pencerdasan bangsa merupakan sebuah komitmen teologis yang perlu terus-menerus diwujudkan di ruang sejarah.

    Sumber: Suara Pembaruan Daily

    Membangun Masyarakat yang Jujur dan Benar

    Oleh: Pdt Midian KH Sirait, MTh
     
    Sebagai warga gereja dalam terang kesetiaan kepada Tuhan, dan tanggung jawab sebagai warga negara banyak tugas dan tanggungjawab orang Kristen yang dapat dilakukan untuk membangun bangsa Indonesia. Kita harus memperjuangkan kondisi dan situasi masyarakat yang adil, damai dan sejahtera.Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kejujuran dan kebenaran apabila kita tidak mengasihi sesama dimana kita tinggal.

    Bertekad melakukan perubahan yang lebih baik. Inilah tugas yang menjadi prioritas dari setiap orang Kristen, yaitu menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, karena bangsa kita sedang dilanda persoalan-persoalan yang di dalamnya termasuk korupsi yang marak mendapat perbincangan di Republik ini, seperti yang ditayangkan media cetak dan televisi swasta akhir-akhir ini.
     
    Keadilan dan kebenaran merupakan anugrah Tuhan

    Tuhan Yesus datang ke dunia menjamin adanya kebebasan dan perdamaian yang benar, baik dalam keluarga, komunitas gereja maupun masyarakat dunia. Firman Tuhan Yesus berkata, "berikan kepada Kaisar yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan berikanlah kepada Allah yang wajib kamu berikan kepada Allah". Dengan kata lain, Yesus tidak mengizinkan para pengikutnya melakukan tindakan manipulasi karena berkolusi dengan kejahatan sehingga melakukan tindakan korupsi yang merugikan pemerintah dan mengecewakan Allah.

    Adil berarti tidak berat sebelah, berpihak kepada yang benar dan berpegang pada kebenaran. Orang mengakui hak sesamanya tanpa pilih kasih. Keadilan tidak hanya mengatur kehidupan perorangan melainkan dan terutama kehidupan bersama. Keadilan adalah suatu prinsip menata dan membangun masyarakat yang damai sejahtera. Sejahtera adalah keseluruhan kondisi hidup masyarakat,yang memungkinkan individu atau kelompok agar dapat lebih lancar mencapai kesempurnaan mereka sendiri. Sejahtera adalah hak untuk memiliki sesuatu yang menjamin martabatnya sebagai manusia.
     
    Dipanggil untuk berperan aktif
     
    Tuhan Yesus yang telah mendamaikan kita dengan diri-Nya, menghendaki agar manusia hidup dalam damai sejahtera dengan sesamanya. Juruselamat akan membangun Kerajaan-Nya di bumi, dimana manusia akan mangalami kesejahteraan lahir dan batin. Dengan demikian tiap orang Kristen dipanggil untuk berperan aktif dalam membangun Kerajaan Allah di dunia. Dalam dinamika kondisi seperti itu gereja juga terpanggil untuk melaksanakan dan mewujudkan amanat Yesus Kristus, yaitu untuk membawa kejujuran dan kebenaran.
     
    Peran itu untuk menjawab kecemasan warga dan masyarakat zaman sekarang, yang juga merupakan keprihatinan gereja. Oleh karena itu yang perlu diusahakan membangun masyarakat dalam mencita-citakan keajujuran dan kebenaran tsb dengan memberdayakan mereka yang menjadi korban ketidakadilan, dengan memberikan kesaksian hidup melalui keterlibatan untuk menciptakan keadilan dalam diri sendiri terlebih dahulu. Usaha memperjuangkan keadilan dan kesetiakawanan bersama dengan mereka yang diperlakukan tidak adil, tidak boleh dilakukan dengan kekerasan. Meskipun untuk membangunnya pasti ada kendala-kendala yang harus dihadapi, yaitu  adanya anggota masyarakat yang bersikap acuh tak acuh dan pasrah saja. Ada kelemahan – kelemahan manusiawi yang dapat menyulitkan dalam memperjuangkan keadilan.
     
    Membangun masyarakat berperadaban
     
    Dengan usaha mengembangkan tugas tsb menjadi kewajiban kita semua untuk ikut serta ambil peran dalam usaha bersama bangsa kita untuk mewujudkan masyarakat berperadaban, yaitu benar dan jujur, dinegara kita tercinta Republik Indonesia. Karena terbentuknya masyarakat yang berperadaban itu adalah bagian mutlak dari wujud cita-cita kenegaraan, yaitu mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 menyatakan hasrat dan keinginan rakyat Indonesia untuk hidup dalam suatu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Kita sudah merdeka, bersatu dan berdaulat.
     
    Kunci dari upaya semuanya untuk keluar dari krisis sekarang ini adalah mengembalikan kepercayaan, kepercayaan kita pada diri sendiri. Kita memang harus lugas dan realistis dalam melihat keadaan yang berat tersebut. Tetapi kita tidak boleh  putus  asa  dan pesimis. Masyarakat berperadaban memerlukan adanya pribadi-pribadi yang dengan tulus mengikatkan nuraninya kepada wawasan kejujuran dan kebenaran. Dan tindakan kebaikan kepada sesama manusia harus didahului dengan diri sendiri menempuh hidup kebaikan, seperti dipesankan Allah. Pengawasan sosial adalah konsekuensi langsung dari itikad baik yang diwujudkan dalam tindakan kebaikan.
     
    Membangun potensi untuk kesejahteraan kota
     
    Keadilan adalah suatu syarat atau keadaan hidup di kerajaan Allah. Berdasarkan pandangan yang optimis-positif itu, kita harus memandang bahwa setiap orang mempunyai potensi untuk benar dan baik. Karena itu, setiap orang mempunyai potensi untuk menyatakan pendapat dan untuk didengar. Inilah yang harus diperjuangkan bersama semua orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Sebab diyakini bahwa keadilan dan kejujuran adalah bagian tabiat Allah. Kesaksian Alkitab mengatakan,”Ia tidak akan kenyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang”. (Yes 11:5). Orang yang hidup dalam kebenaran, yang berbicara dengan jujur, yang menolak untung hasil pemerasan, yang mengebaskan tangannya, supaya jangan menerima suap, yang menutup telinganya, supaya jangan mendengarkan rencana penumpahan darah, yang menutup matanya, supaya jangan melihat kejahatan” (Yesaya 33:15).
     
    Yesus sendiri sangat menentang ketidakjujuran dan ketidak adilan. Kebenaran ini ialah kebenaran yang dicapai Kristus sendiri dalam ketaatan-Nva yang sempurna pada kehendak Bapak dalam hidup dan mati, dalam mana Ia memikul kutuk Allah akibat pelanggaran-pelanggaran hukum ilahi. Bahkan jauh sebelum itu Yeremia sebagai nabi Allah mengidam-idamkan agar tercipta masyarakat kota yang sejahtera. Keunikan isi surat nabi Yeremia tersebut adalah mampu memberikan solusi yang lebih kongkrit, lebih realistis dan lebih positif.  Sejahtera dalam arti di dalamnya berlaku kejujuran dan kebenaran. Kata nabi, "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu." (Yer 29:7). Ini adalah seruan Tuhan bagi kita untuk mengusahakan sesuatu untuk kota dimana kita ditempatkan. Artinya di tengah-tengah situasi yang paling buruk sekalipun, kita selaku umat percaya dipanggil oleh Tuhan untuk ambil bagian secara bersengaja mewujudkan kesejahteraan dan keselamatan bagi orang-orang di sekitar kita.
     
    Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kejujuran dan kebenaran apabila kita tidak mengasihi sesama dimana kita tinggal. Alkitab mengatakan: "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Pekerjaan baik sudah dipersiapkan Allah lewat Kristus, ini termasuk dalam mengusahakan keadilan dan kebenaran. Dan Tuhan mengatakan bahwa Dia mau kita hidup di dalamnya. Kesejahteraan kota akan sangat menentukan seberapa jauh kesejahteraan kita.
     
    Membangun dan siap mengemban misi Kristus
     
    Akhirnya, melalui Kristus, Allah menyatakan diriNya dan karyaNya yang menyelamatkan. Sehingga ke manapun Kristus hadir, di situlah karya pemulihan Allah terjadi. Karya Kristus senantiasa menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi umat manusia. Selaku gereja atau umat Allah hidup seperti Kristus, ke manapun kita pergi dan hadir, seharusnya kita menciptakan keselamatan dan kesejahteraan bagi banyak orang. Ketika kita hadir, seharusnya orang-orang di sekitar kita  merasa tenang, teduh dan sejahtera. Pada sisi yang lain ketika mereka mendengar ucapan, pemikiran dan nasihat-nasihat kita, seharusnya menimbulkan pengharapan dan inspirasi baru yang membuat sesama kita makin bertumbuh dan berkualitas.
     
    Dalam keadaan apapun, sebagai umat Allah, sebagai warga gereja, dan juga sebagai warga negara, mempunyai tugas khusus sebagai saksi Kristus dalam hal memprakarsai lahirnya masyarakat baru yang berasaskan kebenaran dan keadilan. Menjadi orang Kristen berarti siap mengemban misi Kristus, menjadi terang di tengah-tengah kegelapan dan juga menjadi saksi Kristus di tengah-tengah dunia ini. Bagaimanapun sulitnya tetap harus tetap berusaha menjadi garam yang masih asin rasanya dan menjadi terang yang bersinar di tengah-tengah kegelapan, (Mat 5:13+15).

    Sehingga haruslah diusahakan agar setiap orang mengambil bagian dan menjadi subjek dan melakukan interaksi yang mampu membangun masyarakat yang komunikatif. Biarlah Gereja dibangun atas dasar persekutuan yang berazaskan kebebasan, persamaan dan persaudaraan dimana tembok-tembok sosial diruntuhkan (band Gal 3:26-29; 1 Kor 6:5-7; 1 Kor 12:12).. 

    (Penulis Praeses HKBP Distrik XI Toba Hasundutan)

    Memiliki Allah Sebagai Milik Pusaka

    Oleh: Sunanto

    II Kor 6:10 “sebagai orang berdukacita, namun senantiasa bersukacita; sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang; sebagai orang tak bermilik, sekalipun kami memiliki segala sesuatu.”

    Pernyataan Rasul Paulus dalam ayat ini agak sedikit aneh dan dulu saya tidak dapat mengerti apa yang dimaksud dengan pernyataan tersebut. Bagaimana mungkin sebagai orang miskin namun bisa memperkaya banyak orang ? Bagaimana bisa merasa sebagai orang tak bermilik sekalipun memiliki segala sesuatu ? Pernyataan tersebut sukar untuk dipahami secara mendalam bila kita belum mengalaminya sendiri.

    Dalam bukunya yang sangat terkenal “The Pursuit Of God” A.W. Tozer mengatakan “Manusia yang memiliki Allah sebagai milik pusakanya memiliki segalanya di dalam Dia. Harta dunia mungkin tidak akan membahagiakannya atau jika ia diijinkan untuk memilikinya maka kenikmatannya pun tidak akan memberikan kebahagiaan kepadanya. Atau jika ia harus merelakan harta dunianya, satu demi satu, ia tidak akan merasa kehilangan karena ia memiliki sumber dari segalanya di dalam Dia yang memberikan seluruh kepuasan, seluruh kesenangan dan seluruh kesukaan.”

    Ketika membuat pernyataan di atas, Rasul Paulus sudah mengalami sebuah tingkat rohani dimana ia sudah memiliki Allah sebagai milik pusakanya yaitu sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya sehingga meskipun secara materi ia miskin dan tidak punya apa-apa tetapi secara rohani ia merasa memiliki segala sesuatu.

    Sangat sedikit sekali orang kristen yang mencapai sebuah tingkat rohani dimana Allah menjadi harta pusaka dan sumber utama bagi kebahagiaan (kepuasan) mereka. Kebanyakan orang kristen hanya mengetahui kebenaran ini sejauh teori namun tidak mengalaminya dalam kehidupan nyata. Salah satu kerinduan yang Tuhan taruh di hati saya adalah melihat bangkitnya sebuah generasi yang berjalan dan bergaul dengan Allah dimana kesukaan mereka yang terbesar adalah bersekutu dengan Allah.

    Mereka tidak lagi digerakkan oleh ambisi atau agenda pribadi melainkan sepenuhnya telah mati dari semua itu sehingga Tuhan akan memakai mereka untuk memulihkan bangsa-bangsa. Saya percaya generasi ini yang nantinya akan dipakai oleh Tuhan untuk mengubah sejarah bangsa ini dan bangsa-bangsa lain.

    Untuk dapat memiliki Allah sebagai harta pusaka (yang paling berharga), kita harus terlebih dahulu mengalami sebuah proses penanggalan/pengosongan beban atau proses penyerahan total Setiap orang kristen yang ingin mengalami sebuah tingkat rohani yang intim dengan Allah dimana Allah menjadi kesukaan mereka yang terbesar harus mengalami proses tersebut. Kita tidak bisa mengatakan Tuhan adalah segalanya bagiku dalam pengertian yang mendalam sebelum kita mengalami sebuah keadaan bahwa memang hanya Dia satu-satunya hal yang kita miliki.

    Salah satu contoh tokoh di alkitab yang mengalami proses pengosongan/penyerahan tersebut adalah Musa. Selama 40 tahun pertama dalam kehidupanya, Musa menghabiskannya dengan belajar sebagai seorang pangeran di Mesir. Setelah itu Musa mencoba dengan kekuatannya sendiri untuk menggenapi panggilan hidupnya sebagai penyelamat bangsa Yahudi dengan membunuh seorang Mesir. Tetapi waktu itu Musa belumlah siap dipakai oleh Tuhan walaupun ia memiliki ilmu yang tinggi hasil didikan di Mesir. Secara kemampuan otak, Musa memang sudah siap tetapi hatinya masih harus dipersiapkan oleh Tuhan. Untuk menyiapkan hatinya, Musa harus mengalami proses pengosongan/penyerahan selama 40 tahun dengan menggembalakan kambing domba. Jika Tuhan memakai Musa sebelum dia dipersiapkan hatinya maka saya percaya hari ini riwayat bangsa Yahudi hanya akan tinggal menjadi sejarah. Hati Musa yang begitu lembut sehingga sampai memohon pengampunan kepada Tuhan agar jangan membinasakan orang Israel merupakan hasil tempaan selama 40 tahun di padang belantara.

    Saat ini di Indonesia terdapat sekitar 500 sekolah teologia yang setiap tahunnya menghasilkan ribuan lulusan sarjana teologia. Belajar teologia tentu sangat baik dan diperlukan untuk dapat menjadi seorang pelayan Tuhan yang berkualitas. Saya percaya salah satu sebab mengapa Tuhan mengijinkan Musa dibesarkan oleh puteri Firaun adalah agar ia bisa belajar pengetahuan di Mesir dan pengetahuan itu dibutuhkan untuk menggenapi panggilan hidupnya. Namun memiliki pengetahuan saja tidaklah cukup, sama seperti Musa kita harus mengalami sebuah proses pengosongan/penyerahan sebelum dapat dipakai dengan efektif oleh Tuhan. Sekolah teologia mungkin dapat menghasilkan para teolog tetapi untuk dapat menghasilkan orang-orang kudus harus melewati sekolah padang gurun.

    Hati saya sungguh merindukan bangkitnya orang-orang kristen yang dewasa rohaninya dan mengenal Allah dengan intim. Saya percaya ini juga merupakan kerinduan hati Allah untuk melihat anak-anakNya bertumbuh menjadi dewasa. Allah sedang mencari umat yang yang rela mati terhadap diri mereka sendiri untuk melaksanakan pekerjaan dan kehendakNya. Allah sedang mencari orang-orang yang bersedia untuk diproses dan dibentuk menjadi alat bagi kemuliaaNya. Tidak ada jalan pintas yang mudah dan cepat untuk dapat bertumbuh menjadi dewasa rohani dan intim dengan Allah. Kita harus membayar harga yang mahal untuk proses pertumbuhan dan pendewasaan Allah, tetapi kita membayar harga yang lebih mahal lagi jika kita menolak untuk berubah. Maukah anda menjadi salah satu orang yang memiliki Allah sebagai milik pusakanya ? Bersediakah anda melewati proses pengosongan tersebut lewat sekolah padang gurun ? Doa saya supaya anda semua yang bersedia untuk diproses dan dibentuk oleh Tuhan dapat berhasil mencapai tingkat kedewasaan dan memiliki Allah sebagai milik pusaka anda !

    Mencintai Gereja Kita

    Penulis : Wiempy

    Nats Alkitab: I Ptr 2:9

    Gereja selalu diibaratkan sbg tubuh Kristus dan anggota Jemaat diibaratkan sbg anggota tubuh. Antara kedua hal ini terjalin suatu hubungan erat. Ada 5 macam jabatan / amanat bagi kita selaku anggota gereja :

    Akhir kata, Tuhan Yesus memberkati Anda semua.

    Mengalami Salib

    Oleh: Sunanto

    I Kor 1:18 “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.”

    Kadang saya bingung juga bila ditanya saya ini orang kristen yang berasal dari aliran apa ? Ketika masih kecil dulu saya pernah ikut sekolah minggu di sebuah gereja injili tetapi bersekolah di sekolah kristen yang beraliran pentokosta. Ibu saya yang bukan kristen selalu menasehati “ kamu boleh jadi orang kristen namun jangan jadi fanatik apalagi sampai nangis-nangis segala”.

    Dalam kedaulatanNya, saya akhirnya menerima Kristus secara pribadi dalam sebuah kebaktian kebangunan rohani di sebuah sekolah yang diadakan oleh pesekutuan doa yang Oikomene (interdenomasi). Setelah itu saya berjemaat di sebuah gereja karismatik yang pada awalnya sempat membuat saya kaget (shock) akibat mendengar ada orang yang berbahasa Roh.

    Dalam perjalanan berikutnya, saya banyak dipengaruhi oleh pengajaran dari tokoh-tokoh injili terutama ketika Dia melawat dan mengubah hidup saya lewat salah satu buku karya Billy Graham. Oleh karena itu saya agak bingung bila ditanyakan berasal dari aliran mana sebab bagi saya semua aliran gereja itu (kecuali yang sesat) memiliki kelebihan masing-masing dan seharusnya dapat saling melengkapi.

    Kalau saja ada denominasi salib dalam gereja Tuhan maka saya mau disebut orang kristen yang berasal dari aliran salib sebab bagi saya salib Kritus merupakan pusat dari kekristenan.

    Iblis tidak takut dengan orang kristen yang hanya memiliki pengetahuan teologia. Iblis tidak takut dengan orang kristen yang hanya memiliki banyak karunia Roh. Iblis juga tidak takut dengan orang kristen yang memiliki keduanya tetapi ia sangat gemetar menghadapi orang kristen yang telah mengalami salib. Perbedaan doktrin seharusnya tidak menjadi penghalang bagi gereja untuk bersatu, sebaliknya itu justru bisa membuat gereja saling melengkapi satu dengan yang lainnya. Sebenarnya hal utama yang membuat gereja terpecah-belah bukanlah perbedaan doktrin melainkan kesombongan.

    Beberapa waktu yang lalu ketika Benny Hinn datang ke Jakarta sempat terjadi pro dan kontra dikalangan orang kristen termasuk dalam beberapa mailing list yang saya ikuti. Saya sama sekali tidak memberikan komentar untuk hal itu sebab tidak ingin menambah panjang perdebatan yang terjadi. Akibat pro-kontra yang mengarah pada perdebatan tersebut, seorang anak Tuhan mengirimkan email kepada saya untuk menanyakan pendapat saya mengenai Benny Hinn karena dia menjadi bingung. Menurut saya perbedaan pendapat itu sah-sah saja tetapi bila sampai terjadi perdebatan yang saling memaksakan pendapatnya dan saling menjelekkan itu sudah diluar batas. Sebenarnya bila kita semua memiliki kedewasaan dan kerendahan hati tidak akan terjadi pro-kontra (perdebatan) tersebut. Inti masalahnya bukanlah perbedaan teologis melainkan keakuan (baca: kesombongan) kita yang membuat kita merasa paling benar dibanding orang lain.

    Saya memiliki mimpi satu waktu setiap kita yang berasal dari berbagai aliran gereja ini bisa memiliki kesatuan yang sejati. Saya bermimpi satu waktu orang injili, karismatik, pentakosta, baptis, advent, katolik dan aliran-aliran lainnya bisa mengalami kesatuan yang kudus.

    Kesatuan yang sejati ini terjadi bukan karena doktrin dan tata cara ibadah kita sudah disamakan melainkan karena kita semua memiliki kedewasaan dan kerendahan hati karena telah mengalami salib. Saya percaya doa Yesus agar gerejaNya bisa bersatu satu waktu pasti akan digenapi.

    Salah satu kunci kebangunan rohani di Cina dan Argentina adalah karena gereja Tuhan di sana benar-benar telah mengalami salib. Gereja Tuhan di Cina bisa mengalami kebangunan rohani karena hidup mereka benar-benar berpusat pada salib. Marilah kita masing-masing menguji diri kita sendiri apakah hidup kita ini sudah benar dihadapan Allah sehingga kita boleh bermegah melihat keadaan sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain ( Gal 6:4). Ujilah diri kita, sudahkah kita benar-benar mengalami salib Kristus ? Akhir kata, marilah kita saling mendoakan dan melengkapi agar bangsa ini melihat kemulianNya dan bisa dimenangkan bagi Kristus ! Amin.

    Mengembangkan Budaya Keramahan

    Penulis : Andreas A Yewangoe

    SALAH satu topik penting yang dibicarakan dalam Sidang Raya ke-9 Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD) di Porto Alegre-Brazil adalah tentang pluralitas agama-agama dalam kaitannya dengan pemahaman diri kekristenan (Religious Pluralism and Christian Self-Understanding). Sudah tidak dapat diabaikan, bahkan hampir merupakan "hukum besi" di dalam perkembangan peradaban abad ini bahwa kita hidup di dalam pluralitas masyarakat, baik kebudayaan maupun agama-agama. Tidak ada lagi ruang di dunia ini di mana hanya terdapat satu kebudayaan dan agama yang tidak dipengaruhi oleh kebudaya- an-kebudayaan dan agama- agama lainnya.

    Proses pluralisasi yang menguasai hampir seluruh bidang kehidupan juga mempengaruhi kehidupan keberagaman kita. Ini mengisyaratkan bahwa tidak mungkin lagi, bahkan tidak boleh agama-agama mengisolasi dirinya di dalam dinding-dinding tradisi mereka sendiri. Bahkan, munculnya sikap-sikap ekstrem di dalam agama-agama disebabkan terutama oleh sikap mengisolasi diri itu. Ada semacam sikap triomfalisme di situ yang mengesampingkan agama-agama lain. Seakan- akan para penganut agama-agama lain telah diperuntukkan bagi kebinasaan. Padahalnya kita semua, apapun agama kita, adalah peziarah bersama menuju masa depan dalam upaya kita mencapai kebenaran. Tak Seorang pun yang boleh mengklaim bahwa ia telah menggenggam kebenaran itu di dalam tangannya sendiri. Allah begitu mahakaya dan maha sempurna, sehingga tidak mungkin dapat dibahasakan secara penuh hanya oleh cara formulasi tertentu oleh tradisi agama tertentu.

    Tantangan

    Maka sikap yang memut- lakkan dan mengklaim kebenaran dalam tangan sendiri itu tidak dapat dipertahankan lagi. Kekristenan yang untuk waktu yang cukup lama melihat dirinya sebagai satu-satunya agama yang memiliki kebenaran, justru ditantang oleh kehadiran dari agama- agama lain itu. Kekristenan dengan demikian ditantang untuk melihat kehadiran agama-agama lain itu secara baru.

    Kekristenan ditantang untuk mengakui kehadiran "yang lain" (the others) dalam perbedaan-perbedaan mereka, menyambut mereka, kendati kadang-kadang mereka mengancam kita. Dengan kata-kata lain, kita (kekristenan) ditantang untuk memperkembangkan suatu iklim spiritual (spiritual climate) dan pendekatan teologis yang menyumbang kepada terciptanya relasi-relasi yang kreatif dan positif di antara tradisi- tradisi dari agama-agama dunia.

    Maka, sebagai yang melakukan ziarah bersama, kita saling memperkaya spiritualitas kita masing-masinng. Perjalanan ziarah spiritual kekristenan sendiri telah memperkaya dan membentuk perkembangannya sendiri. Kekristenan misalnya dipengaruhi oleh kehidupan Yahudi- Helenistis.

    Kekristenan pun pernah mengalami apa artinya menjadi "orang asing"(stranger), dan sebagai demikian dianiaya dan ditindas. Tetapi ketika kekristenan menjadi agama dunia, maka ia pun mengalami keterpecahan di mana-mana. Keterpecahan itu tidak dapat dilepaskan dari kebudayaan yang mempengaruhinya.

    Maka, dalam kaitan dengan kebudayaan ini, perlu ditegaskan, kekristenan justru dibentuk olehnya. Tapi hal yang sama dapat pula dikatakan untuk agama-agama lain. Bahkan tidak ada satu agama pun yang tidak dipengaruhi oleh agama-agama lain dalam perjalanan bersama ini.

    Menghadapi kenyataan-kenyataan yang tidak terelakkan ini, maka pertanyaannya adalah bagaimanakah kekristenan menghadapinya? Satu kata penting yang dikemukakan dalam Sidang Raya itu adalah "hospitality" (keramahan). Keramahan dilihat sebagai kata kunci hermeneutis dan titik masuk ke dalam percakapan-percakapan selanjutnya. Bahkan di dalam pergaulan-pergaulan yang lebih mendalam.

    Tentu saja ini mempunyai akarnya di dalam Alkitab. Allah adalah Allah semua bangsa-bangsa, demikian ditegaskan di dalam Perjanjian Lama. Ia adalah Allah yang aktif di dalam semua ciptaan, bahkan sudah sejak awal. Sedangkan di dalam Perjanjian Baru, inkarnasi (menjadi daging-Nya) Firman Allah, yang oleh rasul Paulus diartikulasikan sebagai keramahan, dan sebagai kehidupan yang mengarah kepada "orang lain". Dalam bahasa puji-pujian (doksologi), Paulus menegaskan, bahwa Ia (Kristus) berada dalam rupa Allah, namun tidak memandang kesetaraan dengan Allah itu sebagai yang dipertahankan. Sebaliknya, Ia mengosongkan dirinya dan taat hingga mati di kayu salib.

    Bagi orang Kristen, pengosongan diri ini, di mana Kristus mengambil kemanusiaan kita sebagai wajah-Nya, merupakan inti (pusat) dari pengakuan iman kita. Maka tidak diragukan lagi, kita pun dipanggil untuk "mengosongkan diri" menyambut "yang lain"itu sebagai saudara. Dalam bahasa yang dipakai oleh Sidang Raya PGI yang baru lalu, Kristus adalah manusia Bagi Orang Lain. Maka risikonya adalah, gereja pun mestilah menjadi "gereja Bagi Orang Lain". Itu tidak berarti bahwa sikap seperti itu bukannya tanpa risiko. Dalam situasi dimana ketegangan-ketegangan politik dan agama terjadi, sikap-sikap keramahan membutuhkan keberanian dan ketabahan. Bisa saja sikap keramahan ini ditafsirkan lain, misalnya sebagai taktik baru untuk kristenisasi. Namun, budaya keramahan (the culture of hospitality) mesti terus diperkembangkan. Inilah yang memberi harapan bagi lestarinya kehidupan manusia (dan kemanusiaan).

    Apa maknanya ini bagi kita di Indonesia ? Orang Indonesia dikenal sebagai orang- orang yang sangat ramah tamah, yang menyambut orang- orang lain, bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga sendiri. Keberbagaian para penganut agama-agama di Indonesia mestinya tidak harus merupakan alasan untuk saling curiga satu terhadap yang lainnya.

    Kita adalah keluarga besar bernama Indonesia. Kita hidup bersama di dalam sebuah "rumah" bernama Indonesia. Rumah itu telah kita bangun bersa-ma dengan darah dan airma-ta Maka sebagai keluarga, keramah- tamahan mestinya menjadi budaya yang dihirupi dan yang mengarahkan kehidupan. Para penganut agama-agama yang berbeda-beda itu mestinya makin membuka diri kepada "the others", siapa pun mereka.

    Menjadi Bahan Ejekan : Intisari Pelayanan Kristus

    Oleh : John Piper

    Apa yang kita lihat beberapa waktu lalu mengenai demonstrasi atas karikatur Denmark yang menghina Muhammad memberikan penjelasan apa yang membedakannya dan Kristus, dan apa artinya bagi para pengikut mereka masing-masing. Tidak semua orang Muslim setuju dengan kekerasan. Tetapi ada suatu pelajaran yang mendalam: pelayanan Muhammad didasarkan atas penghormatan dan pelayanan Kristus didasarkan atas penghinaan. Ini menghasilkan dua reaksi yang sangat berbeda dalam menanggapi ejekan.

    Jika Kristus tidak dihina, maka tidak akan ada keselamatan. Ini adalah karya keselamatan-Nya: dihina dan mati untuk menyelamatkan para pendosa dari kemurkaan Allah. Sudah ada nubuatan di dalam Mazmur jalan orang yang diejek: “Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya” (Mazmur 22:7). “Ia dihina dan dihindari orang… sehingga orang menutup mukanya… dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan.” (Yesaya 53:3).

    Ketika penghinaan tersebut benar-benar terjadi, ini bahkan lebih buruk dari yang dibayangkan. “Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja! Mereka meludahi-Nya” (Matius 27:28-30). Reaksi-Nya atas semua ini adalah kesabaran. Untuk inilah Dia datang. “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yesaya 53:7).

    Hampir seluruh orang Muslim diajarkan bahwa Yesus tidak disalib. Seorang Muslim Sunni menulis, “Orang-orang Muslim percaya bahwa Allah telah menyelamatkan Mesias dari aib penyaliban.” Yang lain menambahkan, “Kami menghormati Isa (Yesus) lebih dari yang kalian (orang-orang Kristen) lakukan… Kami menolak untuk percaya bahwa Allah membiarkan Isa menderita hingga mati di atas kayu salib.” Sebuah dorongan hati orang Muslim adalah untuk menghindari “aib” penyaliban.

    Itulah yang merupakan perbedaan yang paling mendasar antar pemimpin dan antar pengikutnya. Bagi Kristus, menahan segala ejekan penyaliban adalah intisari dari misi-Nya. Dan bagi seorang pengikut Kristus yang sejati menahan penderitaan dengan sabar bagi kemuliaan Kristus adalah intisari dari ketaatan. “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” (Matius 5:11). Selama hidup-Nya di bumi Yesus disebut anak haram (Yohanes 8:41), seorang pemabuk (Matius 11:19), seorang penghujat (Matius 26:65), seorang iblis (Matius 10:25); dan Dia berkata kepada pengikut-Nya hal yang sama: “Jika sang tuan rumah mereka sebut Beelzebul, betapa lebih kerasnya lagi mereka akan memfitnah seisi rumah-Nya” (Matius 10:25).

    Karikatur penghinaan Yesus Kristus masih berlanjut hingga hari ini. Martin Scorsese melukiskan Yesus dalam The Last Temptation of Christ sebagai puing-puing keraguan dan dikuasai nafsu birahi seksual. Andres Serrano didanai oleh Sumbangan Nasional bagi Seni untuk melukiskan Yesus yang disalib tenggelam di dalam botol air kencing. The Da Vinci Code menggambarkan Yesus sebagai seorang manusia belaka yang menikah dan menjadi ayah. Dan masih banyak hinaan lainnya.

    Bagaimana seharusnya para pengikut-Nya bereaksi atas pelecehan ini? Di sisi lain, kita sedih dan marah. Di sisi yang lainnya, kita mengenal Kristus, dan memeluk penderitaan-Nya, dan bersukacita di dalam kesengsaraan kita, dan sepaham dengan rasul Paulus bahwa pembalasan adalah hak Tuhan, mari kita mengasihi musuh-musuh kita dan memenangkan mereka dengan kasih. Jika Kristus mengerjakan pelayanan-Nya dengan dihina, kita juga harus melaluinya demikian.

    Ketika Muhammad digambarkan di dalam dua belas kartun oleh surat kabar Denmark Jylland Posten, kegaduhan di seluruh dunia Muslim meningkat dan banyak disertai kekerasan. Bendera-bendera dibakar, kedutaan-kedutaan dibakar, gereja-gereja dibakar, dan dilaporkan sedikitnya 58 orang Kristen tewas dibantai dalam demonstrasi tersebut. Para pengarang kartun ini menuju persembunyian dalam ketakutan mereka, seperti Salman Rushdie (penulis buku Satanic Verses yang juga dianggap melakukan penghujatan) sebelum mereka. Kita setuju bahwa kita seharusnya saling menghormati dan tidak mencela satu sama lain.

    Tapi apa artinya ini?

    Ini artinya bahwa suatu agama dengan juru selamat yang tidak dihina tidak akan sanggup menahan cercaan dan ejekan untuk memenangkan para pengejeknya. Ini artinya bahwa agama ini diperuntukkan bagi mereka yang memikul beban yang berat yaitu menjunjung tinggi kehormatan seseorang yang mati dan tidak bangkit kembali. Ini artinya Yesus Kristus masih menjadi satu-satunya harapan perdamaian dengan Allah dan sesama manusia. Dan ini artinya bahwa para pengikutnya harus dengan rela untuk “berbagi dalam penderitaan-Nya, di mana menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Filipi 3:10).

    Menjadi Bahan Ejekan: Intisari Pelayanan Kristus

    Oleh : John Piper

    Apa yang kita lihat beberapa waktu lalu mengenai demonstrasi atas karikatur Denmark yang menghina Muhammad memberikan penjelasan apa yang membedakannya dan Kristus, dan apa artinya bagi para pengikut mereka masing-masing. Tidak semua orang Muslim setuju dengan kekerasan. Tetapi ada suatu pelajaran yang mendalam: pelayanan Muhammad didasarkan atas penghormatan dan pelayanan Kristus didasarkan atas penghinaan. Ini menghasilkan dua reaksi yang sangat berbeda dalam menanggapi ejekan.

    Jika Kristus tidak dihina, maka tidak akan ada keselamatan. Ini adalah karya keselamatan-Nya: dihina dan mati untuk menyelamatkan para pendosa dari kemurkaan Allah. Sudah ada nubuatan di dalam Mazmur jalan orang yang diejek: “Semua yang melihat aku mengolok-olok aku, mereka mencibirkan bibirnya, menggelengkan kepalanya (Mazmur 22:7). “Ia dihina dan dihindari orangsehingga orang menutup mukanyadan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. (Yesaya 53:3).

    Ketika penghinaan tersebut benar-benar terjadi, ini bahkan lebih buruk dari yang dibayangkan. “Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-NyaMereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: "Salam, hai Raja! Mereka meludahi-Nya (Matius 27:28-30). Reaksi-Nya atas semua ini adalah kesabaran. Untuk inilah Dia datang. “Seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya (Yesaya 53:7).

    Hampir seluruh orang Muslim diajarkan bahwa Yesus tidak disalib. Seorang Muslim Sunni menulis, “Orang-orang Muslim percaya bahwa Allah telah menyelamatkan Mesias dari aib penyaliban. Yang lain menambahkan, “Kami menghormati Isa (Yesus) lebih dari yang kalian (orang-orang Kristen) lakukanKami menolak untuk percaya bahwa Allah membiarkan Isa menderita hingga mati di atas kayu salib. Sebuah dorongan hati orang Muslim adalah untuk menghindari “aib penyaliban.

    Itulah yang merupakan perbedaan yang paling mendasar antar pemimpin dan antar pengikutnya. Bagi Kristus, menahan segala ejekan penyaliban adalah intisari dari misi-Nya. Dan bagi seorang pengikut Kristus yang sejati menahan penderitaan dengan sabar bagi kemuliaan Kristus adalah intisari dari ketaatan. “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. (Matius 5:11). Selama hidup-Nya di bumi Yesus disebut anak haram (Yohanes 8:41), seorang pemabuk (Matius 11:19), seorang penghujat (Matius 26:65), seorang iblis (Matius 10:25); dan Dia berkata kepada pengikut-Nya hal yang sama: “Jika sang tuan rumah mereka sebut Beelzebul, betapa lebih kerasnya lagi mereka akan memfitnah seisi rumah-Nya (Matius 10:25).

    Karikatur penghinaan Yesus Kristus masih berlanjut hingga hari ini. Martin Scorsese melukiskan Yesus dalam The Last Temptation of Christ sebagai puing-puing keraguan dan dikuasai nafsu birahi seksual. Andres Serrano didanai oleh Sumbangan Nasional bagi Seni untuk melukiskan Yesus yang disalib tenggelam di dalam botol air kencing. The Da Vinci Code menggambarkan Yesus sebagai seorang manusia belaka yang menikah dan menjadi ayah. Dan masih banyak hinaan lainnya.

    Bagaimana seharusnya para pengikut-Nya bereaksi atas pelecehan ini? Di sisi lain, kita sedih dan marah. Di sisi yang lainnya, kita mengenal Kristus, dan memeluk penderitaan-Nya, dan bersukacita di dalam kesengsaraan kita, dan sepaham dengan rasul Paulus bahwa pembalasan adalah hak Tuhan, mari kita mengasihi musuh-musuh kita dan memenangkan mereka dengan kasih. Jika Kristus mengerjakan pelayanan-Nya dengan dihina, kita juga harus melaluinya demikian.

    Ketika Muhammad digambarkan di dalam dua belas kartun oleh surat kabar Denmark Jylland Posten, kegaduhan di seluruh dunia Muslim meningkat dan banyak disertai kekerasan. Bendera-bendera dibakar, kedutaan-kedutaan dibakar, gereja-gereja dibakar, dan dilaporkan sedikitnya 58 orang Kristen tewas dibantai dalam demonstrasi tersebut. Para pengarang kartun ini menuju persembunyian dalam ketakutan mereka, seperti Salman Rushdie (penulis buku Satanic Verses yang juga dianggap melakukan penghujatan) sebelum mereka. Kita setuju bahwa kita seharusnya saling menghormati dan tidak mencela satu sama lain.

    Tapi apa artinya ini?

    Ini artinya bahwa suatu agama dengan juru selamat yang tidak dihina tidak akan sanggup menahan cercaan dan ejekan untuk memenangkan para pengejeknya. Ini artinya bahwa agama ini diperuntukkan bagi mereka yang memikul beban yang berat yaitu menjunjung tinggi kehormatan seseorang yang mati dan tidak bangkit kembali. Ini artinya Yesus Kristus masih menjadi satu-satunya harapan perdamaian dengan Allah dan sesama manusia. Dan ini artinya bahwa para pengikutnya harus dengan rela untuk “berbagi dalam penderitaan-Nya, di mana menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Filipi 3:10).

    Mentalitas McChurch Versus Mentalitas Kerajaan ALLAH

    Fenomena keberagamaan belakangan ini banyak diwarnai dengan kecenderungan dan orientasi untuk sekedar memenuhi kekeringan rohani. Charles Colson mengatakan, di abad ini, iman telah menjadi semacam komoditi, dimana gereja berperan sebagai ritail outlet-nya. Kehadiran jemaat dalam setiap peribadatan, semata-mata untuk memenuhi kepuasan mereka. Akibatnya, alasan ingin mendapatkan khotbah yang bagus atau musik yang menyentuh serta alasan sejenis itu, banyak mengemuka tatkala ia ditanya alasan kedatangannya ke gereja.

    Mentalitas sebagai konsumenlah yang menjadi pemicu fenomena ini. Colson menyebutnya sebagai mentalitas McChurch. Suatu mentalitas yang telah menjadikan gereja sebagai salah satu pemain dalam persaingan bisnis modern. Jemaat pun dimanjakan dengan produk-produk pelayanan spiritual semisal urapan ilahi, doa pemulihan, hingga kesembuhan ilahi. Fenomena ini berdampak pada krisis identitas gereja. Gereja sebagai simbol Kerajaan ALLAH menjadi wadah pemenuhan kepuasan spiritual jemaat belaka. Survei yang dilakukan Business Week misalnya menyebutkan angka penjualan buku di toko-toko buku Kristen didominasi oleh buku-buku yang terfokus pada penghargaan, kepuasaan, dan analisa pribadi, dimana rujukan utamanya adalah pengalaman hidup sang penulis.

    Di satu sisi, fenomena semacam ini merupakan fenomena yang wajar sebagai dampak dari upaya gereja menjawab tantangan perubahan zaman. Namun, di sisi lain, fenomena menjawab kebutuhan pasar ini menjadikan teologi gereja sebagai teologi individualis.

    Teologi yang dapat mengaburkan pesan atau kerugma gereja yang sesungguhnya, sebagai alat ALLAH untuk-tidak saja menghibur, tapi juga-menyampaikan pesan kenabian. Dampak lain dari fenomena ini adalah munculnya modernisasi mistik. Ibadah ala perdukunan beberapa abad silam, disulap menjadi ibadah penyembuhan atas nama Kristus. Spanduk besar bertuliskan Kesembuhan Ilahi pun menjadi harga jual sebuah ibadah.

    Dalam bahasa yang lebih lugas, Colson mengatakan, kecenderungan gereja untuk menjawab kebutuhan pasar telah menodai semangat Injil. Betapa tidak, gereja kini menawarkan therapy penghapusan dosa melalui ibadah-ibadah urapannya, padahal Injil mengajarkan bahwa harapan penghapusan dosa hanya bisa terwujud melalui kesadaran diri yang penuh dan pertobatan yang tulus. Dampak lebih jauh dari mentalitas McChurch adalah menelanjangi otoritas gereja. Gereja kehilangan 2D yang sangat vital: disciple (pemuridan) dan discipline (disiplin). Hal ini disebabkan karena gereja lebih berorientasi pada upaya membahagiakan jemaat, bukan lagi membuat mereka kudus.

    Secara teologis, manifestasi keberagamaan dalam bentuk mentalitas McChurch-sekali lagi-merupakan hal yang wajar, mengingat salah satu aspek agama adalah memberikan kepastian dan ketentraman pada umat pemeluknya. Namun demikian, mesti diingat kembali bahwa agama tidak berperan melulu hanya demi kepentingan pribadi dan batin saja.

    Tujuan utama setiap agama tidak sekedar pada orientasi umat secara pribadi, tetapi lebih pada tujuan dan cita-cita universalnya: menciptakan tatanan dunia yang lebih beradab, sejahtera, berkeadilan, penuh kedamaian bagi kehidupan seluruh mahluk ciptaan ALLAH di muka bumi.

    Puncak capaian tatanan situasi semacam inilah yang diidealkan oleh berbagai agama: menghadirkan Kerajaan ALLAH di dunia. Suatu kerajaan yang tidak melulu berbicara tentang kepuasan batin, tetapi lebih didominasi oleh kepentingan kesejahteraan bersama. Ia tidak bertanya apa yang dibutuhkan jemaat saja, tetapi ia akan mencari jawaban atas pertanyaan apa yang dibutuhkan dunia.

    Dengan demikian, mentalitas Kerajaan ALLAH, adalah mentalitas yang mendorong umat untuk berpikir bahwa kesejahteraan bangsa, negara, dan dunia adalah kesejahteraannya juga, bukan mentalitas yang hanya melulu menjadikan umat larut dalam upaya menyelesaikan krisis pribadi, sehingga lalai memikirkan orang lain. Kasihilah ALLAH, Tuhanmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu& dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri... (Mat. 22:37, 39) Mentalitas Kerajaan ALLAH adalah mentalitas yang mendorong umat untuk berpikir bagaimana menyembuhkan penyakit dunia ini, bukan mentalitas yang mendorong umat untuk mencari kesembuhan bagi penyakitnya sendiri [JRC]

    Menyelamatkan Bumi Melalui Gereja

    Penulis : Gurgur Manurung

    Kita seringkali mendengar pemanasan global di media elektronik dan media cetak. Hutan dibababat orang-orang nakal yang sering disebut illegal logging. Kita dikejutkan dengan berhasilnya departemen kehutanan bersama aparat keamanan menyelamatkan triliunan rupiah uang negara dari penangkapan illegal logging di Papua baru-baru ini. Kita juga dikejutkan kasus Teluk Buyat yang kontraversi itu. Kita tahu tragedy banjir bandang di Bukit Lawang kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara. Hal itu semua terjadi akibat ulah rakusnya manusia. Hal itu tidak terjadi apabila manusia memahami keseimbangan alam. Apakah kita pernah membicarakan krisisnya bumi ini di Gereja?. Seberapa jauh Gereja peduli tentang hal itu?. Atau, jangan-jangan penghuni Gereja yang terlibat orang-orang rakus itu. Dan, apakah mereka para penyumbang bagunan Gereja?. Sudah berapa banyak Gereja yang menyuarakan jemaatnya agar memelihara bumi?. Jangan-jangan para pendeta masih mengkotbahkan “kuasailah bumi?. Kuasailah bumi dalam pengertian apa yang disampaikan para pendeta?. Sudah berapa kali pendeta kita mengkhotbahkan keseimbangan alam?

    Sebenarnya apakah krisisnya bumi menjadi tugas Gereja?. Bukankah itu tugas negara?. Bagaimana sebenarnya konsep yang benar?. Konsep yang benar dalam hal ini agaknya sulit kita cari, karena masih jarang kita dengar. Kita patut prihatin melihat Gereja yang masih sibuk mengurus dirinya sendiri tanpa ada tanda-tanda yang menggembirakan.

    Dari pengamatan saya, baru satu kali pernah terjadi Gereja secara institusi bersuara akibat krisis lingkungan. Hal itu pernah dilakukan secara kolektif oleh para pemimpin Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Kristen Batak Simalungun (GKPS), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) untuk menolak almarhum PT.Inti Indorayon Utama (PT IIU) tatkala mau berubah nama menjadi PT.Toba Pulp Lestari (PT.TPL). Itupun tatkala masyarakat Porsea telah menderita.

    Secara umum Gereja bertugas untuk membina Jemaatnya untuk taat kepada Firman Tuhan dan kemudian para jemaat menjadi garam terang ditengah-tengah dunia yang penuh kemunafikan ini. Dalam pembinaan itu berfungsi untuk mendorong para Jemaat untuk mengabarkan Injil dimana dan kemana jemaat akan pergi. Kenyataanya, kini penginjilan semakin hari semakin tidak menggema. Kadang pemahaman pluralisme dianggap sebagai toleransi untuk tidak mengabarkan Injil. Semangat pluralisme dianggap seolah-olah melupakan kita akan pentingnya pemberitaan Injil. Bahkan, kita tidak jarang mendengar teologia yang mengatakan bahwa ada keselamatan di luar Kristus. Jikalau ada keselamatan di luar Kristus, untuk apa kita mengabarkan Injil Kristus?. Disini saja Gereja kini memiliki masalah yang sangat besar. Disatu sisi Gereja yang memiliki semangat penginjilan, seringkali lupa akan pembinaan Jemaat untuk melestarikan keseimbangan alam. Disisi lain Gereja yang lupa penginjilan sangat semangat menyuarakan pelestarian lingkungan walaupun masih tahap wacana. Pola hidup kedua Gereja ini belum pada tahap yang ideal sebagai umat Allah. Kita sangat jarang melihat Gereja yang semangat penginjilan yang tinggi menunjukkan jemaat dengan pola hidup sederhana. Celakanya, ada Gereja yang menawarkan kemakmuran hidup dengan mengatakan mengikuti Yesus hidup adalah mapan secara ekonomi, sebab kemiskinan adalah kutuk. Saya pribadi sangat miskin secara materi. Apakah saya ini kutuk dari Allah?. Saya kira pendapat ini sungguh memprihatinkan. Di tengah kemiskinan materi yang saya miliki, tiap hari, jam, menit, detik saya selalu mengucap syukur karena kebaikan Tuhan. Apakah pemilik materi lebih bahagia dari hidup saya?. Bagi saya, kesederhanaan hidup, memberi hidup bagi sesama adalah syarat untuk menyelamatkan bumi yang diobok-obok para konsumerisme. Kerusakan alam telah menimbulkan berbagai penyakit, kemiskinan kelompok masyarakat pinggiran, penggundulan hutan telah memiskinkan masyarakat di sekitar hutan. Sementara hasil hutan dinikmati para konsumerisme yang umumnya tinggal di perkotaan.

    Melihat semakin kritisnya alam, khususnya di Indonesia maka Gereja harus terpanggil memberikan kontribusi. Kita harus sadar, bahwa kerusakan lingkungan bersumber dari perilaku manusia. Perilaku kolektif manusia yang konsumtif telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kita memahami bahwa bumi ini menjadi tanggungjawab kita kepada Tuhan. Oleh sebab itu, pelestarian bagi umat Kristus semestinya bagian yang tidak terpisahkan dari Penginjilan. Jikalau kita telah menerima Injil Yesus Kristus, semestinya kita menjadi pelopor untuk melestarikan lingkungan hidup dengan cara memulai diri sendiri, komunitas Kristen yang kemudian bersama-sama dengan umat lain untuk melestaraikan lingkungan hidup.

    BAGAIMANA HARUS MEMULAINYA?.

    Saya sudah menjelaskan bahwa penyelamatan lingkungan adalah perilaku, maka gaya hidup kita sehari-hari harus berubah. Dimulai dari kebutuhan makan, minum, perjalanan, tidur, mandi dan lain sebagainya. Dengan kata lain segala aktifitas kita harus mempertimbangkan ramah lingkungan atau tidak. Misalnya, jika anda mau membeli pulsa telepon genggam apakah lebih memilih pulsa elektronik dibandingkan voucher yang memiliki sampah puluhan tahun baru hilang. Jika anda mau membeli makanan, cobalah pikirkan sampah mana yang paling sedikit atau memilih yang sampahnya bisa di recycling, reuse, dan direcovery. Waktu membeli minuman, apakah anda lebih memilih produk yang ramah lingkungan atau tidak. Singkatnya, pilihlah kebutuhan kita sehari-hari atau usahakan membeli produk yang sampahnya sangat minimal bahkan yang tidak memiliki sampah menahun.

    Kita sadar, bahwa petunjuk pemerintah kita kepada masyarakat dalam memilih mana produk yang ramah lingkungan atau tidak belum memadai, tapi sebelum itu muncul sebagai orang yang menerima Injil harus menjadi pionir dalam melestarikan lingkungan.

    Jika kita sudah memulai menyelamatkan lingkungan dari selektifnya kita untuk kebutuhan pribadi dan keluarga, kemudian kita sudah mulai berbicara untuk kalangan Gereja kita. Apakah kebutuhan Gereja kita sudah mempertimbangkan ramah lingkungan?. Mulai dari kertas, kebutuhan listrik, investasi seperti kendaraan, dan perilaku jemaat sudah ramah lingkungan?. Masihkah perilaku jemaat kita lebih menonjolkan kemewahan daripada ramah lingkungan?. Misalnya, apakah makanan untuk rapat atau kegiatan Gereja lebih memilih produk dalam negeri dengan mempertimbangkan agar ekonomi masyarakat lokal meningkat?. Seperi lebih memilih pepaya, apel Malang, jeruk berastagi agar petani pepaya, jeruk Berastagi dan apel Malang itu ekonominya meningkat?. Mulailah kita mempengaruhi jemaat yang lain, sehingga Gereja menunjukkan suasana yang sederhana dan pionir untuk menyelamatkan bumi dan peduli sesamanya. Jadi, jika seseorang warga jemaat masih bergaya kemewahan, dengan sendirinya berubah menjadi menunjukkan kesederhanaan.

    Menyikapi Peraturan Bersama Dua Menteri

    Penulis: Andreas A Yewangoe

    Bagaimanakah kita menyikapi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No 9 Tahun 2006/No 8 Tahun 2006 (PBM)? Pertama- tama, mesti ditegaskan, bahwa peraturan itu adalah peraturan bersama kedua menteri. Bukan peraturan lembaga-lembaga atau majelis-majelis agama, kendati mereka ikut mendiskusikannya.

    Penanggung jawab terakhir terletak di pundak kedua menteri terkait. Maka, apa yang disampaikan oleh wakil-wakil majelis-majelis agama adalah masukan-masukan. Sebagai masukan, ada yang diterima, ada yang tidak diterima.

    Kedua, kita mesti bertolak dari prinsip, bahwa peraturan ini (mestinya) melindungi warga negara yang beribadah. UUD 1945 bukan saja menjamin hak beragama, tetapi juga hak beribadah.

    Sebagai demikian, PBM ini tidak boleh dipakai untuk menghalang-halangi orang beribadah, apa pun alasannya. Atau, untuk mengkriminalkan orang-orang yang sedang berbakti. Kalau sampai terjadi, PBM dipakai guna menghalang-halangi orang beribadah, maka peraturan ini tidak memenuhi tujuannya.

    Dengan sendirinya, PBM mesti dicabut. Ini juga menegaskan bahwa PBM tidak boleh ditafsirkan terlepas dari Pancasila dan UUD 1945. Kerangka yang dipakai untuk memahaminya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila sebagaimana diproklamasikan pada tahun 1945.

    Ketiga, PBM tidak boleh dilepaskan dari pemahaman mendalam terhadap hak-hak asasi manusia, yang menjamin kebebasan seseorang untuk mengekspresikan agamanya melalui ibadah, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya, dan menegaskan bahwa hak itu bukanlah pemberian negara atau golongan, tetapi tertanam di dalam kemanusiaannya manusia itu.

    Pokok-pokok pemikiran ini hendak menegaskan (lagi), bahwa adanya sebuah PBM yang mengatur kehidupan beragama warga-negara bukanlah sesuatu yang ideal. Mestinya PBM tidak dibutuhkan.

    Para ahli hukum menjelaskan, bahwa suatu peraturan menteri sesungguhnya bersifat internal dan teknis. Artinya, hanya diberlakukan di dalam lingkungan kementerian dan/atau departemen yang bersangkutan. Kalau penjelasan para ahli hukum ini benar, maka hal beragama dan beribadah mestinya tidak diatur oleh sebuah peraturan menteri.

    Apalagi, kalau sampai sebuah peraturan menteri betentangan dengan UUD sebagaimana halnya dengan SKB No 01/BER/mdn-mag/1969. Akan halnya SKB, sejak dari semula, PGI (waktu itu DGI) dan KWI (waktu itu MAWI) telah menolak pemberlakuannya, sebab tidak sesuai, bahkan bertentangan dengan UUD 1945.

    Dalam Memorandum tertanggal 10 Oktober 1969, yang disampaikan kepada Pemerintah, kedua lembaga gerejawi tersebut menegaskan bahwa SKB termaksud "tidak dapat menjamin kemerdekaan beragama seperti tercantum dalam pasal 29 Undang-Undang Dasar 1945, bahkan dapat membahayakan kesatuan dan persatuan Negara dan Bangsa Indonesia."

    Kendati demikian, SKB tetap diberlakukan, dengan berbagai ekses yang ditimbulkannya maka PGI berkali-kali meminta Pemerintah mencabut SKB tersebut.

    Adanya gelombang penutupan rumah-rumah ibadah di beberapa daerah yang didalihkan atas belum adanya izin menurut SKB, mendorong berbagai lembaga gerejawi maupun lembaga-lembaga kemanusiaan lainnya menuntut Pemerintah mencabut SKB tersebut.

    Alhasil, Pemerintah cq Menteri Agama meninjau kembali SKB tersebut. Menteri Agama berpendapat, bahwa SKB (atau semacamnya) masih tetap dibutuhkan dalam masyarakat Indonesia yang majemuk ini. Hanya saja, demikian Menag SKB itu terlampau "longgar" sehingga terbuka kemungkinan orang menafsirkannya secara berbeda. Maka disusunlah sebuah draft peraturan baru yang lebih rinci.

    Dalam pada itu wakil-wakil majelis-majelis agama diminta ikut-serta menyampaikan masukan-masukan. Sebagaimana kita ketahui, tidak mudah mencapai kesepakatan-kesepakatan di antara majelis-majelis agama itu, karena adanya berbagai persepsi dan interpretasi terhadap pasal-pasal dan ayat-ayat yang terdapat di dalam draft. Dibutuhkan 10 kali putaran sebelum tiba pada keputusan terakhir. Mengakhiri putaran kesepuluh, majelis-majelis agama menyampaikan catatan-catatan mereka, karena ketidakberhasilan mencapai kesepakatan atas beberapa pasal dan ayat-ayat.

    Maka draft yang sudah dibahas dengan catatan-catatan itu dikembalikan kepada Pemerintah. Pemerintahlah yang menetapkan apakah keputusan bersama ini diteruskan atau tidak. Ternyata Pemerintah, dalam hal ini kedua menteri terkait, berpendapat bahwa sebuah keputusan bersama Menteri tetap dibutuhkan sebagai pengganti SKB itu. Itulah yang kemudian ditandatangani oleh kedua menteri pada tanggal 21 Maret 2006.

    Apakah PBM itu memuaskan semua pihak? Tentu saja, tidak. Saya kira setiap majelis-majelis agama masih menyisakan berbagai pertanyaan-pertanyaan, keberatan-keberatan dan usulan-usulan yang tidak semuanya diakomodasi dalam PBM tersebut. PGI misalnya berkeberatan terhadap ketentuan jumlah pengguna rumah ibadat paling sedikit 90 orang (Pasal 24 ayat 2a). PGI mengusulkan 60 orang.

    Demikian juga dengan Pasal 18, 19, dan 20 yang mengatur izin sementara pemanfaatan bangunan gedung ibadah. PGI menghendaki tidak perlu ada izin, apalagi kalau izinnya mesti dikeluarkan oleh bupati/wali kota. Pengalaman memperlihatkan bahwa guna mengurus izin pembangunan gedung ibadah pada waktu lalu dibutuhkan waktu bertahun- tahun. Bahkan ada yang izinnya tidak pernah diberikan.

    Orang tidak bisa berhenti beribadah hanya karena tidak ada izin. Dalam kaitan ini, PGI meminta penjelasan pemerintah tentang apa yang dimaksud dengan "laik fungsi" pada PBM tersebut. Apakah ini dimaksudkan untuk mempersulit atau menghalangi umat untuk beribadat di ruko-ruko, mal atau bangunan lain (karena umat belum memilik rumah ibadat permanen)?

    Dr Atho Mudzhar, Kepala Balitbang Depag RI, atas nama Menag, menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan untuk mempersulit, tetapi mencegah jangan sampai bangunan yang tidak layak, yang mudah runtuh karena rayap, dan sebagainya dipergunakan.

    Maka, pengertian layak fungsi di sini adalah fisik semata. Terhadap rumah-rumah ibadat yang sudah dipergunakan dalam waktu lama tetapi belum memperoleh ijin, PGI mengusulkan agar diputihkan saja. Namun, tidak diterima dan tetap dimintakan agar disesuaikan dengan PBM. Namun ditegaskan, agar bupati/wali kota membantu memfasilitasi penerbitan IMB untuk rumah ibadah dimaksud (Pasal 28 ayat 3).

    Apa artinya ini semua? Ini berarti, bahwa kendati PMB ini tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, namun peraturan ini sudah ada di depan kita. Kita percaya, bahwa PMB ini mau membantu masyarakat Indonesia yang sangat majemuk ini menjalankan ibadahnya dengan baik. Bukan untuk menghalang-halangi.

    Keberatan berbagai pihak yang mau mengadakan judicial review, class action, unjuk rasa, bahkan pembangkangan sipil dapat dipahami. Dalam negara demokrasi dibolehkan. Trauma masa lalu dalam penerapan SKB/1969 telah menyebabkan adanya keberatan-keberatan itu.

    Namun demikian, PBM ini dapat menjadi titik-berangkat bagi terjadinya percakapan-percakapan intens dan berbuah di antara anggota-anggota FKUB. Maka kita menganjurkan agar PBM ini diujicobakan di lapangan selama satu atau dua tahun.

    Kalau ternyata PBM ini lebih melancarkan pembangunan gedung-gedung ibadah sebagai wujud kerukunan otentik di antara warga, maka ia telah menjadi berkat bagi negeri ini. Kalau sebaliknya, maka PBM ini mesti ditinjau kembali, bahkan dicabut.

    Sumber: Suara Pembaruan

    Namanya Jono

    Penulis: Kristian.N

    Sebut saja dia Jono. Seorang guru agama Kristen di sebuah sekolah menengah negeri yang cukup terkenal. Beberapa tahun terakhir ini dia semakin giat dengan apa yang dia sebut sebagai panggilan pelayanan. Entah mengapa semakin banyak saja undangan untuk menyampaikan khotbah atau membawakan renungan di berbagai acara persekutuan dan gereja yang dia terima.

    Jono begitu bersemangat, baginya ini adalah kepercayaan yang besar dari Tuhan untuk dirinya. Penampilannya pun berubah. Sekarang dia lebih sering terlihat mengenakan kemeja lengan panjang celana kain lengkap dengan dasi dibandingkan baju safari. Satu stel jas selalu dia siapkan di mobilnya. Pantang bagi Jono menolak undangan khotbah yang dia terima. "Firman harus disampaikan siap atau tidak siap waktunya". Mungkin itu semboyan dia. Sekarang dia mendapat titel baru Ev. Jono .

    Perubahan Jono sebenarnya kurang bisa diterima oleh beberapa rekan guru di tempatnya mengajar saat ini. Bahkan banyak muridnya yang mengeluh. Karena Jono lebih sering meninggalkan jam-jam dimana dia seharusnya mengajar, menggantikannya dengan setumpuk tugas yang selalu ia titipkan ke guru jaga. Tapi begitulah Jono, bahkan ketika berdiri di antara barisan guru saat upacara bendera pun dia terlihat berbeda. Lebih mirip manajer daripada guru. Beberapa kali mendapat teguran kiri kanan, Jono tetap stabil meskipun digunjingkan dia tidak bergeming sebab dia akan siap dengan jawaban "atas nama pelayanan". Gunjingan dan pengucilan adalah harga yang harus dibayar dan salib yang harus dipikul.

    Suatu hari mungkin kita pernah menghadapi atau bertemu dengan Jono-jono yang lain. Alasan dan cara Jono menanggapi kesempatan melayani Tuhan memang tidak seratus persen salah. Hanya saja dia belum mengetahui makna dari melayani seperti maksud Tuhan. Jono lupa bahwa tugasnya sebagai guru juga adalah pelayanan. Tuhan tidak melihat besar kecilnya apa yang kita kerjakan, yang Tuhan lihat adalah bagaimana sikap dan tanggung jawab kita terhadap pekerjaan kita itu. Setiap manusia menjalankan beberapa peran dan tugas dalam hidupnya baik dalam pekerjaan, sebagai orangtua, sebagai anak, sebagai istri maupun sebagai suami. Tuhan ingin agar manusia bisa menjalankan semua peran yang mereka miliki dengan seimbang. Yang satu tidak boleh lebih penting dari yang lain. Jono lupa akan tugas dan tanggung jawab yang telah diberikan Tuhan dan dipercayakan kepadanya tugas sebagai guru, pelayanan sebagai penginjil tidak lebih mulia dari ugas sebagai guru. Keberhasilan pelayanan Jono menimbulkan ketidak seimbangan yang menyebabkan batu sandungan bagi orang lain. Mungkin sudah saatnya bagi Jono untuk memutuskan mengundurkan diri sebagai guru dan mendedikasikan dirinya menjadi pelayan Tuhan penuh waktu. Dengan demikian dia akan memiliki fokus pelayanan yang jelas. Dan tidak lagi menjadi batu sandungan. Memang tetap ada kemungkinan untuk bisa kedua-duanya dilakukan bersamaan, tapi terbukti Jono tidak mampu.

    Menjadi militan dihadapan Tuhan memang suatu keharusan. Dan Tuhan senang dengan kesungguhan dan keteguhan hati kita mencari Dia dan dalam pelayanan kita kepada-Nya. Tapi jika sikap militan kita justru mendatangkan syak menimbulkan ketidak seimbangan diantara peran-peran yang menjadi tugas dan tanggung jawab yang harus kita pikul yang akhirnya menmbulkan batu sandungan, maka sudah pasti ada yang salah.

    Lebih baik kita belajar setia dengan perkara kecil yang diberikan Tuhan kepada kita dari pada mencoba meraih perkara besar yang kita sendiri tidak mampu melakukannya bukan?

    Sumber: Kristian Blog
    Share With Us

    Okultisme

    Herlianto

    Menarik membawakan ceramah Okultisme dan Gereja Setan di GKI di bilangan Kayu Putih hari ini, soalnya pada minggu yang sama juga diundang berceramah soal Injil Yudas di GKJ. Yang menarik adalah kedua tema itu paling banyak dinantikan jemaat di antara tema-tema lain pada tahun ini. Beberapa bulan lalu gereja GKI di bilangan Kwitang juga mengundang tema Okultisme dan bulan depan diminta gereja Gepembri, dan kalangan Mahasiswa di Bandung juga meminta tema sama.

    Memang empat kali ceramah Okultisme masih kalah dari belasan undangan tema Injil Yudas pada tahun 2006 ini, tema yang sedang hangat-hangatnya. Sekalipun dalam rangka hari Paskah 2007 sudah datang undangan dari salah satu gereja GKI di Surabaya tentang Injil Yudas, tapi sama halnya dengan tema The Da Vinci Code paling-paling bersifat situasional yang hanya bertahan satu-dua tahun saja. Namun, tema D&R menulis cover-story mengenai Gereja Setan di Manado yang kemudian disusul majalah-majalah lain. Ini berarti Okultisme bersifat langgeng.

    Misteri mendapat ranking tinggi dalam tv-tv di Indonesia, banyak buku bertema Okult sekarang menghiasi rak-rak toko buku, dan iklan TV banyak yang mempromosikan praktek okult secara terang-terangan. Gejala apa ini?

    Ketika rasionalisme dan pencerahan berusaha mengikis realita sura-natural dari benak manusia, okultisme bertahan menunjukkan identitasnya dimana-mana, dan ketika manusia pasca-modern kemudian kembali membuka diri terhadap yang transendental di era Posmo, ketika itu okultisme sudah menanamkan akarnya dan meluas di Eropah dan Amerika, dunia Barat yang dahulu ingin memberantas habis okultisme tanpa hasil. Menurut laporan MARC, di Perancis yang mayoritas penduduknya Roma Katolik, kini tercatat dukun-klenik dua kali jumlah pastor yang ada, dan di Jerman tercatat jumlah dukun-klenik tiga kali lebih banyak dari pendeta. Di kampus-kampus di California, penyebaran The Satanic Bible sepuluh kali banyaknya penyebaran The Bible.

    Perkembangan di toko buku menunjukkan hal yang sama. Ketika buku The World of the Paranormal yang mahal laris-manis ketika dijual di Indonesia. Kalau buku-buku tentang cult dulu paling-paling hanya membahas Astrologi dan Spiritisme (lihat Gereja dan Aliran-Aliran Modern). Kini buku-buku demikian memuat beberapa Bab mengenai Cult Watch, New Age Cults & Religions, dan The Challence of the Cults & New Religions dll.), bahkan buku-buku karya Kurt Koch mengkhususkan diri membahas tema tersebut (Between Christ & Satan, Christian Counseling & Occultism, Demonology, dll.).

    Okultisme adalah faham yang menyangkut hakekat supra-natural dan adanya kekuatan gaib yang berhubungan dengan kuasa-kuasa misteri/kegelapan/setan. Dari buku-buku mengenai Okultisme kita dapat mengenal tujuh bentuk praktek yang dicakup Okultisme.

    1. Tahyul mempercayai adanya hubungan sebab-akibat antara kejadian-kejadian di alam ini dengan hidup manusia (angka-angka mujur/sial);
    2. Nasib mempercayai bahwa hidup manusia ini bergantung pada tata-letak dan peredaran rasi bintang (Geomancy/Hongsui, Shio), dan dari sini tumbuh dukun-klenik yang ingin mengubah nasib dengan
    3. Peruntungan (Gwamia, Tarot).
    4. Mistik mempercayai adanya daya hidup semesta yang merupakan sumber semua yang hidup; dan
    5. Magis mempercayai bahwa daya hidup itu adalah kekuatan yang bisa diolah dan diatur manusia baik untuk kesaktian maupun untuk kebaikan (White Magic) atau kejahatan (Black Magic).
    6. Spiritisme mempercayai bahwa roh orang dan binatang mati tetap hidup dan dapat berhubungan dan mengganggu kehidupan manusia, dan puncak segala bentuk okult ini adalah:
    7. Satanisme yang menganggap bahwa ada pribadi/kekuatan Setan yang harus disembah dengan taat.

    Dalam film Devil Worship, The Rise of Satanism, disebutkan bahwa pengikut Satanisme dibagi dalam empat macam, yaitu: (1) The Dabbler (amatiran) menunjukkan anak-anak atau orang dewasa yang suka menggunakan lambang-lambang setan semacam pentagram dan 666; (2) Religious yang menyerupai organisasi gereja seperti yang dianut The Church of Satan (Anton le Vey); (3) Non-Traditional yang tidak terorganisir tetapi merupakan kelompok-kelompok ibadat (coven) biasa terdiri dari sekelompok orang yang melakukan praktek sadis termasuk pembunuhan anak-anak dan perawan dalam black-mass; dan (4) Generational yang menjadi satanis secara turun-temurun. Banyak perempuan yang bertobat dan keluar dari keluarga ini mengaku sejak kecil oleh orang tua dijadikan breeder untuk melahirkan bayi-bayi yang dipersiapkan untuk korban diatas altar satanisme.

    Film Devil Worship diawali dengan penangkapan Ramirez yang dijuluki The Night Stalker yang mengejutkan dunia karena ketika ditangkap mengaku telah membunuh 13 korbannya yang diperkosa dan dianiaya sebelumnya, dan ditubuh para korban biasa diberi gambar pentagram dengan coretan pisau. Ketika ia dibawa kepengadilan ia berkali-kali berseru Hail Satan! (Pujilah Setan).

    Kasus Satanisme di Indonesia tersingkap di tahun 1999 dengan adanya Gereja Setan di Manado, kota pusat kristen di Sulawesi Utara, dan selanjutnya diberitakan ternyata sudah beroperasi di banyak kota. Di Jakarta ada beberapa lokasi diliput wartawan dimana kelompok demikian biasa berkumpul, malah di Bandung ada mahasiswa terlibat jauh ke dalam Satanisme sehingga perlu didatangkan beberapa pendeta/penginjil untuk membantu pemulihannya.

    Bagaimana sikap gereja menghadapi Okultisme dan pengikut Satanisme? Gereja-gereja tradisional umumnya tidak siap, apalagi kalau pendetanya tidak percaya Setan, namun gejala-gejala keterlibatan jemaat pada salah satu bentuk Satanisme bisa dijumpai disemua gereja. Dalam hal ini umumnya jemaat mencari pertolongan pendeta/penginjil aliran Pentakosta/Kharismatik yang memang melakukan pelayanan spesialisasi melawan musuh bebuyutan yang mengganggu jemaat itu.

    Banyak gereja tidak siap menghadapi pengaruh Satanisme yang menyerang melalui tayangan film dan TV. Tepat seperti yang dikemukakan oleh Verkuyl bahwa umat Kristen berada diantara libertinisme dan farisiisme. Disatu kutub ada orang-orang kristen liberal yang membiarkan umat secara bebas berhubungan dengan dunia okult, sehingga jemaat terbiasa menyerap faham okultisme melalui film dan TV dan buku-buku semacam serial Harry Potter. Di kutub yang lain ada kelompok Kristen yang tergolong konservatif kaku yang bahkan nonton film dan TV dianggap haram.

    Ketika berbicara di PGI beberapa waktu yang lalu membahas Anak dan Mass Media, forum menyadari bahwa umat Kristen tidak mungkin melarang anak-anak menonton film/TV, tetapi sebaliknya juga disadari bahwa adalah tidak bijaksana kalau anak-anak dibiarkan menonton segala tayangan sebebasnya, kita harus selektif. Ada film anak-anak yang lebih banyak manfaatnya daripada mudharatnya seperti Teletubbies dan Winnie the Pooh, namun ada film-film yang lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya seperti Pokemon dan Dragon Ball anak-anak menjadi agresip dan suka membantah. Film Satanisme, Sadisme dan Sex. Para pendidik di Amrik menyorot dampak negatip dari film Rasanya sudah tiba saatnya gereja-gereja sadar dan bersiap sedia menghadapi dunia okult dan satanisme yang makin marak berada ditengah kita dan dengarlah nasehat rasul Paulus:

    Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, didalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh persenjataan Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran, dan berbaju zirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang roh, yaitu firman Allah, dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus. (Efesus 6:10-18)

    Pandangan yang Salah Terhadap Gereja

    Ketika Yesus hidup di dunia, Ia melayani dengan tubuh fisiknya. Kemana pun Ia pergi, Ia menyembuhkan, menasehati, menunjukkan belas kasihan, mengajar, dan menjalani kehidupan yang menjadi teladan untuk diteladani orang lain. Ketika Yesus kembali ke surga setelah kebangkitan-Nya, tubuh fisik-Nya lenyap dari dunia, tetapi Ia meninggalkan tubuh lain untuk meneruskan pelayanan-Nya. Tubuh baru Kristus yang masih ada hingga hari ini adalah gereja.

    Pandangan yang Salah Terhadap Gereja

    Para pria dan wanita modern telah membangun sebuah pandangan yang salah terhadap gereja. Banyak orang yang memandang gereja sebagai organisasi yang tidak berhubungan dengan kesalehan atau hanyalah sekumpulan orang-orang munafik yang percaya pada Tuhan tetapi hanya mengutamakan penambahan jumlah anggota, mengembangkan program- program, berpolitisi dalam masyarakat, membangun gedung-gedung gereja yang besar dimana selama hampir satu minggu penuh dibiarkan kosong tanpa kegiatan apapun. Uraian ini mungkin berlebihan, tetapi sungguh itu mewakili gambaran gereja yang ada hari ini bahkan mungkin masih menjadi pandangan dari beberapa pengunjung gereja yang paling setia sekalipun.

    Pandangan Alkitabiah Tentang Gereja

    Sudah jelas pandangan di atas jauh dari model gereja yang digambarkan dalam Alkitab. Gereja seharusnya merupakan tubuh dari orang-orang percaya yang telah 8menyerahkan hidup mereka pada Yesus Kristus dan telah diperlengkapi dengan karunia rohani yang mereka sadari dan mereka kembangkan (Efesus 4; 1Petrus 4:10). Karunia- karunia ini, yang diuraikan dalam Roma 12, 1Korintus 12, dan Efesus 4, termasuk juga hal-hal seperti bernubuat, mengajar, menginjili, menolong, menasehati (seperti yang kita tahu, karunia- karunia yang digambarkan ini sangat mirip dengan konseling), bahasa lidah, menyembuhkan, iman, hikmat, pengetahuan, ketajaman pikiran, menunjukkan belas kasihan, melaksanakan dan memberi. Semua karunia ini berasal dari Roh Kudus, yang diberikan sesuai dengan kehendak- Nya (1Korintus 12:11).

    Berdasarkan Efesus 4:12,13 pemberian karunia-karunia Roh memiliki dua tujuan. Pertama, mempersiapkan orang-orang percaya secara individu untuk melayani sebagai bagian dari Tubuh Kristus. Yesus datang untuk menyampaikan Kabar Baik, untuk menerangi, membebaskan mereka yang dalam perbudakan, dan memproklamirkan kebenaran (Lukas 4:18). Tubuh Kristus yang modern juga memiliki fungsi yang sama, dan sama seperti Roh Kudus memberi kuasa pada Yesus (Lukas 4:18), demikian juga Ia akan memberi kuasa pada kita dan karunia yang memampukan kita untuk melayani satu sama lain.

    Kedua, tujuan dari pemberian karunia Roh adalah untuk membangun Tubuh Kristus supaya kita bisa dipersatukan, berpengetahuan, dan menjadi pria dan wanita yang dewasa. Orang-orang seperti itu tidak terombang-ambingkan oleh gaya atau filsafat hidu8p yang baru. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang stabil, penuh kasih, dan hidupnya berpusatkan pada Kristus (Efesus 4:12-16).

    Tubuh Kristus hadir untuk berbagai tujuan, masing-masing anggotanya bisa memiliki pengaruh yang besar terhadap setiap orang. Ketika Tubuh berfungsi secara maksimal, maka akan menghasilkan:

    [[Cat.Red.: Keempat poin berikut ini diambil dari buku Dr. Gary Collins, "How To Be A People Helper", namun penjelasan untuk masing-masing poin tidak kami sertakan. Kami hanya mengutip ayat- ayat referensinya saja.]]

    Sumber: tise

    Pelayanan Berbasis Jemaat

    Penulis : Gurgur Manurung

    Ada isu yang mengatakan bahwa ada pendeta yang takut ke pedesaan. Ada isu yang mengatakan bahwa pendeta berebutan lahan basah. Ada isu bahwa masyarakat Batak itu sekitar 1 juta orang, jadi kalau menyumbang sekitar Rp 2.000.000 saja/orang/tahun itu berarti terkumpul triliunan rupiah. Uang triliunan rupiah kita gunakan membuat pabrik yang menyerap tenaga kerja yang banyak. Dengan demikian pengagguran teratasi.

    Dapatkah anda bayangkan jikalau daerah Tapanuli menjadi daerah pabrik pulp, sepatu, karet?. Beberapa tahun yang lalu, saya diusir seorang pejabat Tobasa dari kantornya dengan alasan yang tidak jelas. Dia mengatakan bahwa dimana ada daerah makmur tanpa industri?. Menurut sang pejabat itu bahwa industri itu adalah pabrik seperti PT.TPL. Tentu saya agak geleng-geleng kepala mendengar "kebodohan" sang pejabat. Bos, film juga industri, pariwisata juga industri, perikanan juga bisa industri, mengelola gadong (ubi) juga bisa industri, jawabku setengah mengejek. Maklum, saya sudah sangat kesal dengan emosinya yang main usir saja.

    Wajar saja dia marah-,marah padaku, karena saya bertanya perihal kesiapan instansinya untuk mengontrol PT.Toba Pulp Lestari. Saya katakan bahwa kesiapan pemerintah Tobasa sama sekali tidak kapabel untuk mengontrol pabrik yang dibenci masyarakat Porsea itu. Dia mengatakan bahwa Kepala Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) telah memiliki sertifikat AMDAL C. Tentu saya makin tertawa mendengarnya. Saya katakan bahwa sertifikat AMDAL C itu ibarat kurikulum anak SD dan pekerjaan PT.TPL adalah karya para sarjana. Mungkinkah sarjana disidik anak SD?. Pusinglah dia tujuh keliling. Sejak dia pusing, tak pernah lagi saya diusir. Maklum, sebelumnya saya dianggap sebagai sopir angkot yang belajar menjadi wartawan dan ingin cari uang alias nanduk.

    Saya tidak mau larut dengan persoalan diatas. Hanya, saya mau katakan mari kita jernih melihat persoalan. Pertanyaanya adalah tepatkah daerah Tapanuli menjadi tempat pabrik?. Pertanyaan berikutnya adalah bagimana cara meningkatkan ekonomi masyarakat yang miskin itu?.

    Sebenarnya, potensi masyarakat Tapanuli tidaklah miskin. Hanya, mereka diperbudak sistem ekonomi yang tidak jelas. Coba bayangkan seandainya harga dasar gabah ditetapkan pemerintah, harga tanaman jahe, sayur-sayuran, jagung dan lain sebagainya. Penetapan harga dasar produk petani akan memacu mereka bekerja keras untuk meningkatkan produksi.

    Apa hubungannya dengan pendeta?. entahlah, saya bermimipi bahwa pendeta adalah pusat gerakan pembaruan moral, ekonomi, politik, sosial, budaya. Pendek kata, pendeta harus mampu menggerakkan Jemaat secara terintegrasi (holistik). Dengan demikian, sistem berjalan dengan baik.

    Aneh, pendeta sibuk protes sistem penggajian, pendeta sibuk membicarakan hubungan sesama pendeta, pendeta sibuk membicarakan temanya pendeta yang kena sanksi. Padahal topik semacam itu sudah usang. Idealnya, ketika pendeta A mensharingkan pergumulannya ke pendeta B maka dengan sendirinya mereka akrab dan ditutup dengan Doa.

    Dua bulan lalu, seorang pendeta Gereja Kristen Jawa yang baru menikah meminta saya mempromosikan hasil industri rumah tangga Jemaatnya di Bogor, saya sungguh terharu. Hampir tiga jam beliau menceritakan pergumulanya dengan peningkatan ekonomi Jemaatnya. Tentunya, kami membicarakan secara holistik. Saya setuju dengannya, bahwa pendeta harus ikut memikirkan ekonomi Jemaatnya. Hari makin larut, dari awal hingga akhir kami tidak membicarakan kebutuhan kami. Hanya, si mas nanya " mengapa belum menikah bang Gurgur"?. Saya hanya senyum dan melanjutkan diskusi mulai dari PGI, politik, korupsi, budaya hingga bercanda.

    Saya mengira, hal itu terjadi karena saya melihat si Mas itu begitu rindu akan pelayanan. Bisakah anda bayanagkan apa yang kami bicarakan seandainya tidak memiliki kerinduan yang sama?. Apalagi kepentingan yang berbeda?.

    Jadi, jikalau banyak pendeta seperti si Mas itu, maka ekonomi berbasis jemaat akan tercapai. Jikalau kita jujur, berepa banyak jemaat kita yang menjadi rentenir?.Adakah kasih antar sesama bagi rentenir?. Tentu hal ini menjadi debat yang manis dan perlu kita bukakan. Bukankah banyak rentenir diberkati Tuhan juga?. Nah, hal ini janganlah kita buat menjadi yang sensitif. Tapi, mari kita akui secara jujur bahwa sungguh banyak permasalahan yang kita hadapi. Tentu yang ideal adalah saling membantu antara satu jemaat dengan jemaat lain sehingga benarlah kita satu Tubuh di dalam Kristus.

    Jika kita satu tubuh dalam Kristus maka jemaat memikirkan kebutuhan pendeta, pendeta memikirkan jemaat dan jemaat saling memperhatikan. Dengan demikian suasana Gereja kita bersuka cita. Tidak akan ada perebutan jabatan ini dan itu. Kalau saya sebagai jemaat mengangkat kursi atau meja atau menyapu Gereja maulah aku, karena fisikku kuat. Kalau saya dipilih jadi Ketua pembanugunan Gereja, saya bersedia juga. Pastinya, semua akan transparan.

    Pelayanan Kaum Awam (2)

    Oleh: Herlianto

    Menyusul artikel Pelayanan Kaum Awam beberapa hari yang lalu, ada pengalaman lebih segar yang menunjukkan rencana Tuhan yang indah di akhir zaman ini. Hari Senin kemarin, ketika diminta mengajar 3 sessi (sehari) di Pembinaan Alumni Kristen di Bandung dialami pengalaman baru yang menunjang pengalaman yang diceritakan dalam artikel Pelayanan Kaum Awam. Pembinaan itu diikuti 17 sarjana (dari berbagai disiplin ilmu termasuk Sarjana Teologi) dari berbagai wilayah di tanah air, dan itu sudah angkatan ke-XIX.

    Pembinaan kepada para alumni perguruan tinggi yang merasakan terpanggil tetapi tidak bisa masuk sekolah teologi karena pekerjaan mereka itu dicetuskan sekitar 20 tahun yang lalu. Kala itu beberapa aktivis gereja ekumenis tergerak pelayanan misi OMF (misi dari Inggris yang umumnya mengirim tenaga-tenaga misi yang punya keahlian sekular sekaligus teologi) yang antara lain membantu pelayanan di gereja ekumenis itu. Salah satu dari tenaga misi itu adalah doktor ahli kimia tanah lulusan Oxford yang juga teolog dan menjadi dosen di IPB, dan lulusan sekolah musik di London yang kemudian belajar teologi dengan gelar doktor dari Tubingen yang juga mengajar di ITB. Tim nasional terdiri dari para ahli lokal, termasuk seorang dipl. Ing yang kini menjadi salah satu pimpinan di Siemens, disamping itu ada pengacara, dokter, dosen ITB, dan beberapa lainnya yang bersehati membimbing pelayanan dengan waktu, keahlian dan uang mereka.

    Belasan tahun silam, salah satu peserta adalah alumnus ITB yang mengikuti program 2 bulan itu (diadakan setahun sekali) sekalipun saat itu ditawari menjadi dosen di ITB karena prestasinya, setelah mengikuti program pembinaan itu, ia memenuhi tawaran dan diterima menjadi dosen ITB dan beberapa tahun kemudian mendapat kesempatan mengambil Master dan Doktor di USA.

    Di Amrik, ia tidak hanya mengisi dirinya dengan ilmu pengetahuan tetapi bersama-sama dengan beberapa profesional asal Indonesia lainnya melakukan fellowship yang menumbuhkan iman dan wawasan teologi mereka, alhasil banyak diantaranya kemudian pulang ke Indonesia dengan iman yang segar dan dorongan misi yang besar, termasuk si doktor yang kemudian menjadi pengurus aktif di pembinaan di Bandung itu, dan juga seorang yang dulunya sarjana sipil dengan magister dari Australia yang kemudian belajar lama di Amrik dan sekarang menjadi dosen di universitas di Surabaya. Salah satu peserta fellowship itu adalah doktor ahli fisika yang baru-baru ini menerima penghargaan dari presiden atas prestasinya. Salah satu misionari OMF yang dahulu merintis program pembinaan alumni itu yang kemudian pulang dan mengajar di Oxford, Inggris, juga secara berkala ikut membina kelompok profesional di Amrik itu.

    Pembinaan Alumni itu cukup unik karena tidak hanya mengisi para peserta dengan dasar-dasar teologi saja tetapi juga mengisi pengalaman profesionalisme mereka. Seusai pembinaan, beberapa peserta yang belum memiliki pekerjaan diusahakan magang di beberapa perusahaan, ini dimungkinkan karena para pengurus program itu adalah para profesional yang umumnya memiliki jabatan di perusahaan-perusahaan dan memiliki jaringan dengan rekan-rekan mereka di perusahaan-perusahaan lain. Para sarjana plus itu beberapa diantaranya bahkan kemudian diserap oleh perusahaan-perusahaan dimana mereka magang.

    Yang menarik, sistem pembinaan disitu cukup komprehensip, karena setelah mereka kembali, mereka memperoleh follow-up dengan bahan-bahan berupa kaset, CD, maupun internet, dan sewaktu-waktu dikunjungi oleh senior mereka dari Bandung. Di daerah, umumnya mereka meneruskan program itu dengan menginisiasi program semacam di daerah mereka, dan sudah direncanakan akan adanya gabungan program Bandung dengan program daerah menuju suatu program regional. Sungguh bola salju telah bergulir makin jauh dan makin besar karena adanya beban panggilan para profesional yang tidak hanya memikirkan karier dan kesejahteraan keluarga mereka tetapi memiliki hati kasih untuk menolong para sarjana yang merasa terpanggil di daerah-daerah. Beberapa di antara para lulusan pembinaan itu kemudian melanjutkan teologi formal di berbagai STT.

    Di Indonesia, sebenarnya pelayanan di kalangan mahasiswa dan sarjana sudah lama dilakukan GMKI, tapi sebagai institusi ekumenis, sayang kecenderungannya lebih bersifat horisontalis. Memang diakui bahwa aktivitas GMKI melengkapi para mahasiswa dan sarjana kristen dengan visi dan misi organisatoris yang kuat dimana para alumninya banyak menduduki posisi di partai-partai politik, dan bahkan ada aktivisnya yang kebablasan dengan ikut-ikutan berdemo mengutuk Israel (tanpa menyalahkan juga kaum Hizbollah). Namun sayang kerinduan mereka soal hal-hal yang bersifat rohani makin luntur sehingga nyaris tidak ada bedanya dengan ormas kemahasiswaan sekuler.

    Di balik kelesuan rohani GMKI, pada dasawarsa 1960-an kekosongan itu diisi dengan makin maraknya kehadiran persekutuan mahasiswa Injili seperti Perkantas, LPMI (Campus Crusade), dan Para Navigator. Dua dasawarsa kemudian persekutuan mahasiswa Kharismatik ikut meramaikan pelayanan di kampus-kampus.

    Bila dilihat GMKI yang Ekumenis sangat bersifat horisontalis, Gerakan Mahasiswa Injili dan Kharismatik justru bersifat vertikalis. Karena itu bila kedua aspek positip dua kubu itu disatukan, sebenarnya kerjasama keduanya bisa membantu pelayanan mahasiswa dan sarjana secara utuh, baik vertikalis maupun horisontalis, baik rohani maupun organisatoris. Memang tidak mudah untuk menyatukan kubu Ekumenis dan Injili/Kharismatik karena banyak faktor menyertainya seperti faktor emosional dan politis. Tapi ada juga gereja-gereja yang sudah mengalami hal ini bahwa memang keduanya dibutuhkan dalam pengembangan kerajaan Allah di gereja-gereja mereka.

    Ada pengalaman menarik di salah satu Sinode. Sinode GKI berasal dari latar belakang gereja Tionghoa yang semula mengalami rintisan dari misionari Belanda (Hervorm dan Gereformeerd) tetapi juga ada pengaruh dari pelayanan penginjil John Sung. Sekalipun ada resistensi kuat kalangan pendeta tertentu yang alergi terhadap STT-Injili, dimana secara formal lulusan STT-Injili ditolak menjadi pendeta di lingkungan sinoda tersebut, secara non-formal fakta menunjukkan bahwa di sinode ini ada klasis yang berlatar belakang Injili, dan yang berlatar belakang Hervorm dan Gereformeerd saat ini sudah ada puluhan pendetanya yang lulusan STT Injili (terutama SAAT) bahkan saat ini ketua Sinode wilayah Jatim dipegang pendeta yang notabena adalah lulusan SAAT.

    Sekalipun masih saja ada ketakutan di kalangan beberapa pendeta muda (yang umumnya berlatar belakang STT-Ekumenis) bahwa keterbukaan akan STT-Injili dikuatirkan menyebabkan perpecahan, fakta menunjukkan bahwa kehadiran pendeta-pendeta STT Injili di gereja-gereja ekumenis ternyata banyak mendatangkan berkat bagi pertumbuhan jemaat, bahkan ada jemaat yang pendetanya fobia terhadap STT-Injili, jemaatnya rindu pelayanan Injili dan kemudian mengundang lulusan STT-Injili menjadi pendeta kedua.

    Pengalaman sinoda GKI ini (bukan pengalaman antipatinya tetapi pengalaman simpatinya) dengan membuka diri terhadap lulusan STT-Injili bisa dijadikan cermin sinode-sinode ekumenis lainnya yang berasal dari pelayanan misi Belanda dan Jerman. Kehadiran mereka sangat banyak mendatangkan berkat bagi jemaat. Contoh jemaat Ekumenis yang dicertakan diawal artikel ini menunjukkan bahwa mereka terbuka akan misi OMF yang Injili dan menghasilkan gerakan Awam yang membantu pelayanan gereja (para pengurusnya banyak yang menjadi majelis jemaat di gereja ekumenis).

    Entah apa rencana Tuhan di akhir zaman ini, yang jelas dikala gereja-gereja kurang menaruh perhatian kepada dunia kampus dan nyaris tidak berusaha melayani mahasiswa dan sarjana di kampus-kampus sekuler, ditengah itu pelayanan mahasiswa kristen dan pembinaan alumni menjadi suplemen yang sangat dibutuhkan. Bukan untuk dijadikan obyek irihati dan dianggap saingan tetapi perlu dijadikan rekan sekerja yang positip. Kita mengucap syukur kepada Tuhan karena belakangan ini makin banyak gereja-gereja ekumenis yang membuka diri terhadap gerakan Injili/Kharismatik dan mengajak mereka sebagai mitra pelayanan untuk memajukan jemaat, ini jauh lebih baik daripada jemaat lari dari gereja dan pindah ke gereja-gereja Injili/Kharismatik.

    Pengalaman Dr. Eka Darmaputera dari GKI sangat positif, dikala beberapa rekannya sangat alergi bahkan mengidap fobia terhadap STT-SAAT yang Injili, dikala itu ia yang alumnus STT-ekumenis bahkan mengajar di SAAT bukan untuk melatih calon pesaing-pesaing tetapi untuk melatih hamba-hamba Tuhan yang makin beriman dan berkwalitas. Eka telah meninggalkan kita, tetapi semangat ekumenisnya perlu menjadi cermin yang terus menerus di jadikan tempat berkaca diri.

    Pelayanan Kaum Awam

    Oleh: Herlianto

    Beberapa hari yang lalu, ketika melayani undangan ceramah di sebuah gereja, yang menjemput adalah seorang anggota Majelis Jemaat yang menyetir sendiri mobilnya. Ngobrol-ngobrol dengannya, akhirnya ditanyakan: Kerjanya dimana? Terkejut juga mendengar jawabannya! Ternyata ia adalah seorang pebisnis karier yang pernah beberapa kali menjadi direktur di beberapa perusahaan bahkan pernah menjabat direktur pada perusahaan asing, isterinya juga wanita karrier dan menjabat posisi penting disebuah perusahaan. Luar biasa! Yang lebih luar biasa adalah pengakuannya bahwa ia merasa terpanggil untuk melayani Tuhan dan ia saat ini sedang belajar teologi paruh waktu di STT-Injili di Jakarta dan juga di Cipanas, dan sedang menyiapkan diri untuk meninggalkan profesinya dan masuk ke Trinity Seminary di Singapore secara full time!

    Di tengah-tengah makin banyaknya lulusan SMU yang tidak diterima di universitas kemudian masuk Sekolah Teologi dan ditengah banyaknya pebisnis yang gagal lalu berpindah profesi menjadi pendeta dengan harapan dapat banyak persembahan, dan di tengah adanya pendeta yang imannya ambigu yang dimimbar beda dengan dihati dan menjadikan pelayanan sekedar profesi, orang-orang yang sudah sukses secara duniawi seperti profesional yang rela menjemput pembicara dengan menyetir sendiri mobilnya yang kemudian merasa terpanggil melayani, merupakan angin segar bahwa masih banyak yang bisa diharapkan bahwa pemberitaan di mimbar merupakan ungkapan keyakinan yang dihati dari orang-orang yang menyerahkan diri dan berani mengorbankan segala sesuatunya untuk melayani Tuhan yang memanggilnya!

    Tiga bulan yang lalu ketika melayani di Denpasar, terlihat
    perkembangan penggilan semacam itu yang menarik untuk disimak. Tiga
    tahun sebelumnya seorang majelis jemaat gereja yang mengundang juga
    menjemput ke Airport, dan dalam bincang-bincang diketahui bahwa ia
    adalah manager di salah satu hotel di Nusa Dua. Ketika itu ia mengaku
    juga terpanggil untuk melayani dan membantu pelayanan yayasan misi dan
    mulai bergumul untuk masuk ke sekolah teologi. Tiga tahun kemudian
    ketika bertemu kembali, ia sudah belajar paruh waktu di dua STT-
    Injilli di Denpasar, dan sekarang sedang dalam proses pendaftaran
    menjadi mahasiswa penuh waktu di STT-Injili di Malang.

    Ada juga kasus menarik dimana seorang sarjana IT pernah menjabat Manager disebuah perusahaan software di Jakarta. Karena prestasinya ia kemudian diangkat menjadi representative oleh perusahaan perangkat lunak komputer Softdesk untuk pengembangan bisnis perusahaan di Asia Tenggara dan ditempatkan di Manila. Berita terakhir menyebutkan bahwa setelah beberapa tahun berkarya di situ, ia memutuskan untukm meninggalkan bisnis itu dan menjadi pendeta.

    Kasus-kasus panggilan semacam ini belakangan ini banyak terjadi, bahkan bukan saja beberapa kesaksian menarik untuk dipelajari, puluhan kasus penggilan yang sama bisa dicatat. Memang panggilan demikian yang dialami para profesional bukan saja tidak didukung oleh umumnya pendeta penuh khususnya di gereja-gereja ekumenis, tetapi kebangunan kaum awam demikian tidak bisa dicegah terus terjadi termasuk di jemaat gereja-gereja ekumenis.

    Ada pengalaman menarik kesaksian seorang majelis gereja yang direktur sebuah perusahaan kontraktor yang karena tergerak merasakan panggilan Tuhan kemudian masuk ke sebuah Sekolah Teologi Injili. Ketika ia melaporkan hal itu kepada pendetanya digereja ekumenis dimana ia bergabung, si pendeta mengatakan kepadanya: Mengapa tidak masuk STT-ekumenis agar bisa ditampung sebagai pendeta di gerejanya? Ia menjawab: Saya tidak butuh lowongan pekerjaan, tetapi saya membutuhkan sekolah teologia yang bisa memupuk iman dan memperteguh panggilan saya.

    Memang kebangunan kaum awam yang notabena sudah memiliki bekal pengalaman profesional dan umumnya sudah pernah menduduki jabatan profesional dan berhasil menurut ukuran duniawi bisa dihadapi dengan dua sisi. Ada pendeta-pendeta yang menyambutnya dengan gembira dan setelah lulus menjadikannya sebagai bagian pelayanan gereja, tetapi ada juga pendeta-pendeta yang iri hati dan menganggapnya sebagai saingan sehingga segala cara digunakan untuk menutup pelayanan jemaatnya yang sudah dibekali itu.

    Ada seorang pendeta gereja ekumenis yang sangat alergi ketika jemaatnya yang profesional masuk ke STT-Injili. Tidak tahunya, selang beberapa lama anaknya yang masuk IPB terlibat persekutuan mahasiswa Injili Perkantas. Betapa sedih hatinya mendengar bahwa ketika si anak lulus kemudian menyampaikan hasrat hatinya kepada si ayah bahwa ia merasa terpanggil untuk masuk ke STT-Injili dimana dulu si ayah berkeberatan jemaat profesionalnya masuk (si ayah lulusan STT-Ekumenis).

    Kehadiran para profesional yang terpanggil dalam gereja sebenarnya merupakan keuntungan bagi gereja, soalnya mereka umumnya punya tingkat keberhasilan tertentu dalam dunia profesional karena itu mereka yang umumnya sudah mapan tidak lagi membutuhkan bantuan beasiswa atau fasilitas gereja karena mereka menggunakan uang simpanan mereka sendiri untuk belajar di STT, demikian juga setelah mereka lulus, umumnya mereka ingin membantu pelayanan tanpa membutuhkan lowongan pekerjaan di Gereja. Namun, kehadiran para pelayan awam ini memang bisa dimaklumi kalau dianggap saingan oleh pendeta karier, soalnya disamping ketergantungan pendeta karier kepada keuangan gereja yang menyebabkannya menutup diri bila ada saingan, pada umumnya para pelayan awam itu mengalami panggilan dalam posisi mereka sebagai sarjana bahkan banyak yang sudah menduduki karier kepemimpinan di dunia profesional, mereka pada umumnya sudah memiliki bekal ilmu dan dana yang cukup sehingga keberhasilan mereka mempelajari teologi tentu lebih banyak daripada seorang yang lulus SMU kemudian masuk STT dengan cita-cita menjadi pendeta dan mendambakan rumah dinas, gaji cukup, dan jaminan pensiun, hal-hal yang tidak dikejar oleh para pelayan awam yang profesional yang merasakan panggilan Tuhan secara pribadi.

    Namun, lepas dari semua itu, panggilan yang dialami oleh para profesional perlu ditindak lanjuti dengan persiapan pendidikan yang memadai, soalnya seorang profesional yang memulai dari suatu posisi tertentu tidak mudah untuk mempelajari teologi dari dasar, banyak yang mengambil jalan pintas khususnya mereka yang berlatar belakang Kharismatik.

    Ada manager dari perusahaan IBM yang kemudian menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan dan hanya belajar teologi kharismatik selama beberapa bulan. Sekalipun berhasil menghimpun banyak jemaat dan bisa menulis Tafsiran Wahyu, kelihatannya dasar belajar yang minim menyebabkan penafsirannya sangat kacau. Bayangkan, Yohanes Calvin sendiri tidak berani manfsirkan kitab Wahyu karena kesulitannya tinggi, tetapi si pendeta sudah berani menulis tafsiran atas buku itu. Alhasil imannya juga mudah terombang-ambing, karena ketika ada bala ajaran Toronto Belssing ia terpengaruh pula dan mengakibatkan gerejanya pecah!

    Ada juga seorang dokter gigi yang kemudian terpengaruh ajaran kharismatik yang keliru tentang nubuatan-nubuatan pribadi dan kemudian bersaksi bahwa ia sering mendengar suara Tuhan secara langsung sehingga tidak membutuhkan pendidikan teologi. Jadinya, pelayanannya lebih menjual sensasi nubuatan daripada mengajar dan menumbuhkan iman jemaat.

    Di kalangan Injili, belakangan ini juga banyak terjadi pendidikan teologi bagi para profesional dengan jalan pintas. Pada umumnya yang paling banyak terjadi adalah mengikuti program MA atau MDiv yang pendek dan bisa diikuti secara off-campus. Akibatnya, mereka sering belajar secara kurang matang sehingga tidak bisa menghayati masalah teologis secara utuh karena dasar teologisnya kurang utuh.

    Di kalangan ekumenis, memang pendidikan teologi yang diajarkan tinggi, namun sayang pengetahuan teologi itu tidak diiringi penggilan iman yang otentik, akibatnya masa kini kita banyak mendengar kotbah mimbar yang seakan-akan beriman tetapi hatinya berbeda dengan itu, bahkan banyak yang menjalani kehidupan mendua/ambigu yang potensial membuat seseorang menutupi frustrasi yang terjadi dalam dirinya. Masih jujur kalau ada lulusan STT yang frustrasi lalu kembali kedunianya semula, daripada ia mengecoh jemaat dengan kehidupan imannya yang terbelah.

    Baik sekali kasus yang dijalani majelis yang diceritakan sebagai pembuka artikel ini bahwa ketika ia mengalami panggilan ia kemudian memasuki pendidikan ekstensi karena waktunya berbagi juga dengan pekerjaannya, tetapi kemudian disadari bahwa ia membutuhkan pendidikan yang intensif sehingga ia bermaksud masuk ke sekolah teologi formal sebagai mahasiswa penuh.

    Kita perlu mengucap syukur bahwa Tuhan banyak memanggil para profesional untuk melayani mereka dengan kesungguhan hati dan segenap hidup mereka, namun marilah kita mendoakan agar para profesional itu bertanggung jawab kepada Tuhannya dengan mempelajari pendidikan teologi secara utuh dan penuh, agar benar-benar pelayanannya lebih nyata hasilnya dengan bekal yang telah disiapkan secara matang pula. Semoga.

    Pelayanan Pendeta

    Oleh: Herlianto

    Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu, jangan dengan paksa, tetapi dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, dan jangan karena mau mencari keuntungan, tetapi dengan pengabdian diri. Janganlah kamu berbuat seolah-olah kamu mau memerintah atas mereka yang dipercayakan kepadamu, tetapi hendaklah kamu menjadi teladan bagi kawanan domba itu . (LAI, 1 Petrus, 5:2-3).

    Dalam retret yang digelar Komisi Dewasa sebuah gereja dikawasan Jakarta Pusat sekitar tanggal 17 Agustusan di Pacet, sebagai keynote speakers diundang dua pembicara (masing-masing 5 sesi), yaitu seorang pendeta dari gereja di kawasan Kelapa Gading dan seorang penceramah awam.

    Menarik ngobrol-ngobrol dengan pendeta itu, sebab ditengah alam segar Pacet, pembicaraan mengungkapkan keadaan yang tidak segar yang terjadi di Kawasan Kelapa Gading yang terkenal dengan mal panjang dengan food-courtnya yang luas yang selalu ramai dikunjungi orang itu. Pendeta itu mengungkapkan bahwa di kawasan Kelapa Gading ada 80 gereja yang beroperasi. Lebih lanjut diungkapkan bahwa berbagai usaha dilakukan untuk menyatukan gereja-gereja itu agar menjadi kesaksian bagi penduduk kawasan itu, baik melalui usaha PGIW, JDN (yang markasnya ada di kawasan itu), maupun lainnya. Namun sejauh ini usaha kearah keesaan gereja di kawasan itu tidaklah mudah dijalankan.

    Kesan demikian juga mewarnai usaha keesaan yang dilakukan PGI ditingkat nasional. Menurut salah satu pimpinan PGI, usaha keesaan gereja di Indonesia yang dikenal sebagai gerakan Ekumene memang sudah dilakukan lama, namun sejauh ini usaha itu masih bagaikan berjalan ditempat dan tidak menunjukkan kemajuan yang berarti.

    Ternyata menyatukan gereja-gereja yang diwakili pendeta-pendetanya tidaklah mudah dilakukan, bahkan pendeta-pendeta yang biasa aktif dalam forum-forum pluralisme antar umat beragama yang ideal itupun tidak bisa mewujudkannya dilingkungan agamanya sendiri.

    Mengapa gereja-gereja yang diwakili pendeta-pendetanya sukar untuk diajak duduk bersama semeja demi keesaan gereja? Kelihatannya ucapan rasul Petrus diatas belum banyak dihayati (apalagi dilaksanakan) oleh pendeta-pendeta sehingga usaha keesaan itu maju tak mau, mundur tak mau.

    Anjuran rasul Petrus diatas menarik untuk direnungkan kembali, soalnya sejak awal sejarah gereja sudah terungkap bahwa segera setelah kematiannya, orang berebut menuntut posisi Petrus yang dianggap sebagai primat gereja, sehingga terbentuklah ke paus an, ke uskup an, ke penatua an, dan ke pendeta an, padahal sekalipun Tuhan Yesus menyebut pengakuan iman Petrus bahwa Yesus Messias, Anak Allah yang hidup sebagai batu karang yang menjadi fundasi gereja, ia sendiri tidak menganggap itu sebagai hak pribadinya mengatasi yang lain. Sekalipun semula Petrus berwatak temperamental dan impulsif, dan suka menonjolkan diri, pergumulan imannya dengan Tuhan Yesus telah mengubah hidupnya menjadi baru sehingga bisa menasehati rekan kerjanya dengan ucapannya diatas, dan malah sebelumnya ia mengatakan bahwa ia cuma sesama teman pelayanan sebagai penatua:

    Aku menasehatkan para penatua di antara kamu, aku sebagai teman penatua dan saksi penderitaan Kristus... (LAI, 1 Petrus 5:1).

    Banyak orang menjadi pendeta tanpa perubahan hati dan pikiran sehingga kependetaan bukan dianggap sebagai pelayanan tetapi sebagai jabatan yang memungkinkan baginya untuk memaksa jemaat. Petrus menasehati agar melakukannya dengan sukarela sesuai kehendak Allah. Rupanya, pada masa hidup Petrus sudah ada yang bukan bermotivasi untuk melayani tetapi untuk memperoleh keuntungan atau menjadikan pelayanan sebagai sekedar profesi, dalam hal ini ia kembali menekankan agar mengabdikan diri. Rasul Petrus juga mensinyalir bahwa ada teman penatua yang menjadikan mandat yang mereka terima bukan untuk melayani tetapi untuk memerintah mereka yang dipercakan kepadanya yaitu kawanan domba, dan Petrus mengingatkan mereka agar menjadi teladan yang baik.

    Ucapan rasul Petrus itu tetap bergema hingga saat ini, dan kelihatannya sudah makin kurang dihayati oleh para pendeta pada masakini sehingga usaha ke arah keesaan juga makin merupakan impian disiang hari. Pelayanan sudah sering dibelokkan menjadi kehendak diri dan bukan kehendak Allah, pelayanan dilakukan dengan memaksakan kehendak diri kepada jemaatnya padahal seharusnya dilakukan dengan sukarela. Belum lagi pelayanan sudah sering dijadikan sumber mencari uang yang menguntungkan padahal seharusnya sebagai pengabdian diri. Organisasi gereja dan jabatannya juga sering oleh pendeta-pendeta tertentu menjadi alat kekuasaan untuk memerintah jemaatnya padahal seharusnya menjadi teladan bagi jemaatnya. Rasul Yohanes pun mengungkapkan dalam suratnya mengingatkan para pelayan Tuhan bahwa:

    Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. (LAI, 1 Yohanes 3:16). Kita patut mengucapkan syukur bahwa masih banyak pendeta yang mengikuti nasehat rasul Petrus di atas, yang masih berjiwa gembala, yang melayani dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, yang mengadikan diri dengan tulus, dan yang menjadi teladan bagi jemaatnya.

    Marilah kita mengingatkan dan mendoakan para pendeta yang belum menghayati nasehat rasul Petrus itu agar mereka menghayati benar arti pelayanan yang mereka emban. Adanya pendeta-pendeta yang mendengarkan nasehat rasul Petrus akan sangat mendorong kearah keesaan yang didambakan Tuhan Yesus (Yohanes 17), bukan kesatuan organisasi tetapi kesatuan kasih dengan Tuhan Yesus dan sesama manusia.

    Pelayanan adalah Anugerah

    Oleh: Ev. Margareth Linandi

    Dalam kehidupan ini, ada banyak macam bentuk pelayanan antara lain adalah ada orang yang bisa bermain musik, ada orang yang bisa memimpin pujian dan lainnya. Pelayanan adalah anugrah terbesar dari Tuhan selain keselamatan dan kesempatan untuk hidup. Dalam perumpamaan tentang talenta( Mat 25:14-30) sang tuan mau pergi ke satu tempat dan sebelum ia pergi ia mempercayakan talenta untuk dikembangkan. Dia membagikan kepada 3 orang hamba. Akan tetapi talenta yang diberikan tidak sama. Hamba ke 1 diberikan 5 talenta. hamba ke 2 diberikan 2 talenta dan hamba ke-3 diberikan 1 talenta.

    Mengapa sang tuan memberikan talenta tidak dengan jumlah yang sama tetapi malahan berbeda? Apakah tuan ini bersikap sangat tidak adil? Ternyata tidak, karena tuannya sangat mengetahui seberapa besar kemampuan yang dimiliki oleh masing-masing hambanya dan tuannya hanya ingin hamba-hambanya menggunakan kepercayaan dari hambanya untuk mengembangkan talenta.

    perumpamaan-tentang-talenta

    I. Sikap hamba-hamba itu terhadap talenta yang diberikan.

    Hamba ke-1 dan ke 2 sangat respons kepada tugas yang dipercayakan oleh tuannya kepadanya dan mereka menjalankan talentanya dan bahkan beroleh keuntungan( dapat melipat gandakan pelayanan). Sedang hamba ke 3 dia tidak peduli dan malahan tidak mau mengembangkan talenta yang diberikan kepadanya dan bahkan menyimpannya dalam tanah.

    Saat ini, ketika kita diminta oleh gembala sidang kita untuk melayani Tuhan apa jawab kita? Apakah kita akan acuh, tidak peduli, menolak dengan seribu macam alasan, atau menerima dan melaksanakan tugas pelayanan sebaik mungkin?

    Dalam PL banyak nabi Tuhan yang dipercayakan Tuhan untuk melayani tetapi responnya juga bermacam-macam, antara lain:

    1. Musa.

    Perintah Tuhan yaitu menjadi pemimpin bangsa Israel mengeluarkan bangsa Israel dari Mesir.

    Sikap Musa:

    - menolak alasannya:

    a. Siapa saya?

    b. Siapa namaMu? Aku adalah Aku ( Kel 3;14)

    c. Takut jika orang Israel tidak percaya dan mendengar perkataan Tuhan ? Tuhan memberikan mujizat.

    d. Tidak pandai bicara, berat mulut dan lidah.

    e. Meminta Tuhan untuk mengutus orang lain saja.

    Akhirnya Tuhan juga memakai Harun menjadi juru bicara Allah dalam berbicara atau menghadap Firaun, selain Musa.

    2. Yunus.

    Perintah Tuhan yaitu memberitakan Injil kepada bangsa lain yang tidak mengenal Tuhan yaitu bangsa Niniwe , namun sikap Yunus adalah melarikan diri dari panggilan Tuhan dan ia malah pergi ke Tarsis dan ia marah kepada Tuhan karena Tuhan tidak jadi menghukum Niniwe jika Niniwe bertobat. Akibatnya adalah Tuhan mendatangkan seekor ikan besar yang menelan Yunus dan Yunus tinggal dalam perut ikan 3 hari 3 malam, sampai akhirnya Yunus jadi memberitakan Injil kepada Niniwe dan Niniwe bertobat.

    3. Yeremia.

    Perintah Tuhan adalah menjadi nabi/ penyambung lidah Tuhan. Sikap Yeremia awalnya adalah menolak karena dia merasa tidak pandai berbicara dan merasa masih muda. Akhirnya Tuhan memberikan penguatan kepada Yeremia dan akhirnya Yeremia menjadi nabi Tuhan.

    Namun disamping itu ada juga nabi yang menerima panggilan Tuhan yaitu nabi Yesaya dan respon Yesaya : ” ini aku,utuslah Tuhan.”( Yesaya 6:8)

    II. Pelayanan adalah anugrah.

    Mengapa pelayanan adalah anugrah?

    1. karena tidak semua orang dipanggil ( Roma 8:28-29)

    2. karena kita tidak tahu sampai kapan kita masih bisa hidup ( Pengkotbah 3:1-2)

    3. karena kalau kita tidak mau menggunakan karunia yang Tuhan berikan kepada kita maka karunia itu akan diambil dan akan hilang karena kita tidak menggunakan karunia itu dengan baik. ( Mat 25:29)

    III. Tips untuk menghargai pelayanan sebagai anugrah Tuhan.

    - Jadilah hamba yang setia ( Mat 25:16)

    - Jadilah hamba yang rendah hati ( Mat 20:28)

    - Jadilah hamba yang menggunakan karunia yang ada dengan sebaik-baiknya. ( I Kor 12).

    Kiranya Tuhan memberkati kita dan menguatkan kita untuk setia terhadap pelayanan yang Tuhan percayakan karena pelayanan adalah anugerah Tuhan. Amin.

    Sumber : http://artikelkristen.com/pelayanan-adalah-anugerah.html#sthash.Ns4lGK7G.dpuf

    Pemimpin Demo Itu Meminta Maaf...

    Wawancara dengan: Rev. Dr. Peter Youngren

    Rev. Dr. Peter Youngren ialah seorang penginjil yang amat diberkati. Pria asal Kanada ini dikenal memiliki kerinduan besar kepada orang-orang yang belum tersentuh firman Allah. Peter telah melakukan perjalanan penginjilan ke lebih dari 70 negara. Ia telah melayani Kebaktian Kebangunan Rohani yang dihadiri sampai 500 ribu jiwa dalam satu kebaktian. Di Indonesia Rev. Dr. Peter Youngren telah mengadakan Festival dan KKR di berbagai kota, seperti Semarang, Bandung dan Manado.

    Peter juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar "Global Harvest Praise". Dalam dua kali ibadah di Graha Bethany Nginden, pendiri World Impact Ministries ini melayani Kebaktian Kesembuhan Ilahi dihadiri 20 ribu jemaat di setiap kali ibadahnya.

    Suasananya amat meriah. Mujizat kesembuhan terjadi. Yang stroke dipulihkan, yang datang dengan kursi roda pulang dalam keadaan merdeka. Yang tuli bisu sejak lahir mulai bisa mendengar bunyi tepukan dan belajar mengucapkan kata-kata.

    Kesembuhan terjadi di saat doa kesembuhan dinaikkan. Bahkan ada beberapa jemaat dipulihkan dari sakitnya saat Firman Tuhan dilangsungkan.

    Tim Warta Plus Bethany yang didampingi Pdp. Sinwo Susanto, MM, MA telah melangsungkan obrolan santai dengan Dr. Peter Youngren pada tanggal 17 Januari, 2005, dalam perjalanan pulang menuju bandara Juanda.

    Dr. Peter Youngren, pada dasarnya, apakah yang dimaksud dengan kesembuhan ilahi itu?

    Kesembuhan ilahi didasarkan pada karya Kristus yang sudah dilakukan bagi kita, yang disediakan bagi kita lewat kematian Kristus, kebangkitan-Nya dan juga pencurahan Roh Kudus-Nya. Kesembuhan ilahi merupakan suatu hasil proklamasi dari Injil Kristus dimana kita mengkhotbahkan apa yang telah Tuhan Yesus lakukan dan kesembuhan mengikutinya.

    Jadi kesembuhan memang sudah tersedia dalam setiap pemberitaan Injil?

    Saya ingin mengatakan demikian bahwa kita memberikan informasi tetapi Tuhan yang memberikan konfirmasi atau peneguhan kepada siapa yang percaya.

    Kalau demikian, berarti percaya atau beriman sangat penting dalam memperoleh kesembuhan ilahi?

    Menurut saya, yang paling penting adalah proklamasi itu sendiri. Ada kuasa dalam proklamasi. Kami menemukan bahwa kalau kami melakukan KKR atau yang kami sebut dengan festival selama beberapa malam di suatu kota, saat kami memproklamasikan apa yang Kristus telah kerjakan maka iman secara otomatis akan bertumbuh. Jadi, kami tidak berkata bahwa orang yang sakit itu harus memiliki iman, karena hal ini akan menjadi beban bagi si sakit. Misalkan seseorang yang telah menderita kanker dan hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Jika kita berkata, “Engkau harus memiliki iman, maka pernyataan ini akan menjadi beban tambahan bagi si penderita karena bebannya memang sudah berat. Walau pun iman memang penting tetapi dalam keadaan seperti ini orang yang sakitnya parah akan sulit untuk bisa percaya. Yang kami lakukan bukan mengatakan engkau harus beriman, tapi kami memproklamasikan apa yang Yesus telah lakukan, maka iman akan dihasilkan dalam hati mereka. Sebab iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus.

    Ada ayat dalam Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa Tuhan akan kirimkan Firman-Nya dan sembuhkan sakit penyakit kita. Kalau begitu Firman itulah yang sesungguhnya menyembuhkan sakit penyakit?

    Benar, karena dikatakan bahwa “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Kristus Yesus. Jadi saat Firman disampaikan berarti Bapa mengirim Yesus. Masih ingat bahwa Firman Tuhan berkata mengenai Filipus yang mengkhotbahkan Kristus? Saat kita khotbahkan bahwa Kristus adalah kebenaran, maka ini berarti kita memberikan posisi aman pada seseorang sehingga dia menyadari betapa Tuhan sungguh mengasihi dia. Saya percaya bahwa semakin seseorang merasakan kasih Tuhan maka semakin mudah bagi orang itu untuk menerima kesembuhan. Adalah suatu yang alamiah untuk menerima sesuatu yang baik dari seseorang yang sungguh mengasihi kita.

    Bukankah sesungguhnya dalam hati Bapa, Dia tidak ingin menahan seorang pun dari anak-Nya untuk menerima kuasa kesembuhan-Nya?

    Itu benar. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya mencoba berkhotbah secara kuat dan saya katakan bahwa si sakit yang mau sembuh memerlukan iman, perlu ini dan itu. Walau ini benar tetapi ini tidak menghasilkan iman. Jadi sekarang saya hanya khotbahkan sesuatu yang menghasilkan iman saja. Saya tidak membicarakan masalahnya tapi saya khotbahkan solusinya. Saya tidak mengutuk kegelapan tapi saya khotbahkan tentang terang.

    Dalam festival yang Anda layani, jemaat yang sakit selalu didoakan secara umum saja dan banyak yang disembuhkan. Tetapi mengapa masih ada juga yang mendesak maju ke mimbar untuk ditumpangkan tangan, padahal sudah dijelaskan bahwa yang maju untuk ke mimbar hanya mereka yang akan bersaksi karena telah menerima kesembuhan dari Tuhan?

    Kita harus memahami sifat alamiah umat Tuhan. Saya tidak terganggu dengan hal ini. Dalam berbagai festival yang kami adakan saya sudah belajar suatu hal bahwa jika saya mendoakan mereka secara individu maka hasilnya ada yang sembuh dan ada juga yang tidak sembuh, sehingga terjadi disintegrasi dalam ibadah. Memang ada yang minta didoakan secara individu tetapi saya tidak menanggapi hal ini secara negatif tapi dalam ibadah yang kami adakan selama 4-5 hari berturut-turut, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Ada yang berkata bahwa dia sudah mengikuti dari hari pertama sampai ketiga dan hari itu dia disembuhkan Tuhan. Dengan cara inilah Tuhan membantu saya, dan hasilnya pun jauh lebih banyak walaupun saya tidak menolak untuk mendoakan orang secara individu. Saya doakan mereka secara umum dan dalam doa kesembuhan itu saya ucapkan apa yang Yesus telah lakukan. Saya juga belajar dari pengalaman Pdt. T.L Osborn yang memberikan KKR di Surabaya pada tahun 1954 di mana KKR berlangsung sedemikian indahnya dan kesembuhan terjadi pada ribuan orang yang hadir dalam KKR itu. Jika saya harus menumpangkan tangan pada seseorang secara individu maka saya akan menjadi sangat keletihan.

    Dengan banyaknya yang sembuh di festival-festival itu, apakah ini seturut dengan khotbah Anda yang disebut dengan kesembuhan massal?

    Kesembuhan massal didasarkan pada penanganan Tuhan secara pribadi dengan umat-Nya, juga iman si individu di dalam Kristus. Tetapi itu semua terjadi pada waktu yang bersamaan.

    Karena bersifat individu, apakah itu sebabnya tidak semua yang sakit memperoleh kesembuhan?

    Jika dalam festival itu kita berikan pengajaran selama beberapa hari maka iman akan bertumbuh. Seringkali yang hadir berkata bahwa dia telah mengikuti festival selama beberapa hari dan pada hari ketiga, dia telah disembuhkan dari segala sakit penyakitnya. Jika ada yang tidak sembuh kita tidak menghakimi atau menghukum mereka dengan mengucapkan perkataan yang negatif, tetapi kita bertanya berapa dari saudara yang sudah mendengarkan Firman Tuhan selama beberapa hari dan merasa imannya sudah dikuatkan?

    Saya tidak berusaha kumpulkan alasan mengapa ada yang sembuh dan mengapa sebagian dari mereka tidak sembuh, tapi saya serahkan ini semua kepada Tuhan. Paulus berkata agar kita tidak menilai sesuatu dari luarnya. Tugas saya adalah memberitakan kabar baik kepada mereka dan bukan untuk menghakimi mereka.

    Seringkali ada juga yang disembuhkan setelah beberapa hari dan bukan seketika di tempat festival berlangsung. Apakah ini yang disebut kesembuhan progresif?

    Kesembuhan progresif bisa saja terjadi karena Firman Tuhan masih sedang bekerja dalam hati orang itu. Demikian juga dalam pelayanan Yesus, ada yang seketika sembuh tetapi ada juga yang sembuh beberapa saat kemudian setelah didoakan.

    Mengapa dalam ibadah kesembuhan Anda menyebutnya sebagai Festival dan bukan Crusade atau Revival Meetings (KKR)?

    Kata Crusade (KKR) adalah kata yang melukai saudara sepupu kita dari agama lain, sedangkan kata Revival tidak kita gunakan dalam ibadah kita. Kita menyebutnya Festival atau Celebration (perayaan). Misalkan kalau diadakan di Surabaya, kami menyebutnya di poster sebagai Surabaya Festival bukan Jesus Festival atau Festival Injil. Ini sama sekali tidak memberikan kesan agamawi. Orang bertanya apa ini? Mereka tidak tahu dan datang menghadirinya. Kita bahkan tidak gunakan lambang gereja seperti salib dan sebagainya. Ada yang bertanya kepada saya apakah saya telah berkompromi? Kita tidak berkhotbah di poster atau di iklan tetapi kita berkhotbah di festival. Setelah mereka ada di festival, baru kita sampaikan Injil kepada mereka.

    Seringkali orang Kristen memiliki suatu konsep yang salah dalam hal bersaksi tentang Kristus kepada orang lain yaitu dengan cara membawa orang ke gereja atau menjadikan dia Kristen dan bukan memberitakan Kristus kepada orang tersebut. Apakah pendapat Bapak tentang hal ini? Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menjadi Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus (Jesus" believers). Bukan merubah agama orang itu. Yesus dan Petrus sendiri tidak pernah menggunakan istilah Kristen untuk orang percaya. Saya juga tidak gunakan istilah ini. Kalau hal ini terjadi maka kita akan disangka mengkristenkan mereka. Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.

    Bagaimana Anda mulai mengalir dalam pelayanan kesembuhan seperti ini?

    Saya menerima panggilan dari Tuhan saat berusia 19 tahun. Panggilan ini berjalan dalam beberapa tahap yang terus berkelanjutan, bukan dalam seketika secara sekaligus. Pertama, Tuhan meletakkan rasa lapar di hati saya dan untuk mengenal kuasa kesembuhan-Nya dan juga mereka yang terhilang tanpa Kristus. Lalu saya mulai mengejar setiap kesempatan ketika masih berusia remaja dan satu hal itu terus menuntun saya untuk lebih maju dalam hal berikutnya. Saat saya melihat pernyataan mujizat Tuhan dinyatakan, iman saya terus bertumbuh untuk lakukan hal yang lebih besar. Dalam Festival saya yang pertama di Toronto, saya belum pernah melihat seorang pun yang disembuhkan, satu-satunya orang yang disembuhkan Tuhan adalah seorang pria dengan telinga yang tuli. Saya tidak berdoa untuk dia, bahkan saya tidak berani bertanya apakah ada yang sembuh. Sesuatu yang tidak bisa saya percaya yaitu saat dia berkata bahwa dia telah disembuhkan dari tulinya.

    Apakah anda juga mengkhotbahkan tentang kesembuhan pada saat itu?

    Saya memang mengkhotbahkan tentang kesembuhan. Sesungguhnya ada perbedaan yang besar antara seseorang yang berkhotbah tentang kesembuhan dengan hamba Tuhan yang mempraktekkan tentang kesembuhan itu. Orang yang berkhotbah tentang kesembuhan tidak terjadi sesuatu lalu jemaat pulang setelah ibadah selesai. Tapi, yang mempraktekkan kesembuhan akan berkata bahwa kesembuhan itu akan terjadi sekarang. Iman saya bertambah setelah menyaksikan pria yang telinganya disembuhkan dari tulinya. Beberapa bulan kemudian saya melihat yang matanya buta melihat. Dua tahun setelah peristiwa itu, iman saya bertambah kuat saat saya melihat yang timpang berjalan. Pria itu bukan seorang Kristen tetapi Hindu, saat saya doakan secara umum dia belum bangkit dari tempat tidurnya tetapi keluarganya menempatkan dia di tengah mimbar. Saat saya doakan dia secara pribadi, dia tiba-tiba bangkit dan berjalan. Sejak saat itu saya mulai menyadari bahwa kuasa kesembuhan Tuhan itu nyata.

    Festival Anda di Bandung tahun lalu dihentikan oleh massa yang tidak senang dengan pelayanan Anda. Sesungguhnya, apa yang terjadi di sana?

    Singkatnya, sebelum festival berlangsung, mereka yang dari kelompok agama yang fanatik mengadakan demo dan berbaris hampir di seluruh kota Bandung. Foto saya diinjak-injak mereka sambil menjerit-jerit. Polisi ada di mana-mana dan mereka hanya ijinkan dua hari saja untuk festival di Bandung. Tetapi pada malam kedua, terjadi hal yang luar biasa indahnya. Sebelumnya, polisi berkata agar festival harus dihentikan pada pukul 19.00 WIB tetapi pada pukul 18.57 WIB, Tuhan ikut campur tangan saat seorang wanita dari agama sepupu kita tiba-tiba bangkit dari kursi rodanya dan berjalan. Demo itu tiba-tiba berhenti dan semua orang yang di luar mendesak masuk. Setelah itu banyak yang timpang berjalan. Yang tidak banyak orang ketahui adalah bahwa setelah festival usai para pemimpin dari agama lain dan pemimpin partai politik di sana datang kepada saya dan meminta maaf. Ini sangat mengharukan. Salah satu dari mereka yang menangani anak-anak cacat berkata bahwa beberapa dari anak asuh mereka telah disembuhkan Tuhan. Mereka meminta saya untuk datang kembali ke kota Bandung, bahkan saya ditawari militer sipil untuk melindungi saya. Hal ini sangat positif. Mereka berkata bahwa kalau saja mereka tahu bahwa pelayanan saya seperti ini mereka tidak akan ijinkan demo terjadi. Mereka juga menyurati saya dan berkata bahwa mereka sudah tidak sabar untuk menantikan kedatangan saya berikutnya di kota Bandung dan berkata kepada gereja-gereja agar mendukung festival saya. Tentu saja kita tidak berharap mereka akan duduk di mimbar bernyanyi atau berkhotbah, tetapi dukungan mereka dalam bentuk bantuan keamanan. Jadi setiap saya pergi ke suatu kota saya senantiasa mencoba bertemu dengan para pemimpin agama mayoritas di sana, berdiskusi sambil makan malam. Alkitab berkata bahwa seorang yang bodoh selalu memulai suatu pertengkaran, tetapi orang yang bijak akan mencari sahabat. Saya memilih untuk menjadi orang bijak dan hasilnya di Bandung justru di luar dugaan banyak orang. Kami semua mengalami waktu yang menyenangkan di sana.

    (sinwo, jojo, jos)
    2 Agustus 2005.
    sumber :http://www.bethanygraha.org/

    Pendeta Borju dan Pendeta Burjo

    Penulis : Xavier Quentin Pranata/Purnawan Kristanto

    "Jangan menikah dengan pendeta," ujar seorang ayah kepada anak gadisnya, "masa depanmu akan suram." Ucapan yang dulu catat: dulu sering kita dengar, belakangan ini makin jarang kita dengar. Mengapa? Menjadi seorang pendeta pada zaman dulu memang serba susah, apalagi kalau sedang perintisan.

    Mereka sering berpuasa, bukan karena sengaja, tetapi terpaksa. Uang kolekte yang tidak sampai sepuluh ribu rupiah setiap kali kebaktian BAHANA pernah melayani di sebuah gereja di pegunungan yang kolektenya Rp 6.500,- setiap kali kebaktian dan persembahan bulanan yang tidak selalu berupa uang, membuat pendeta harus super irit. Seorang pendeta yang hendak naik mimbar seringkali tidak sempat sarapan, bukan karena tidak ada waktu, tetapi tidak ada makanan. Ada juga yang memakai strategi makan dua kali sehari. Agar siangnya tidak lapar, dia baru makan sekitar jam 11 siang. Itu pun hanya burjo alias bubur kacang ijo yang harganya paling murah di warung mi instan. Sebaliknya, dewasa ini, semakin banyak saja pendeta yang hidupnya makmur, sehingga tidak lagi makan burjo, tetapi malah bergaya borju (bourgeois, Perancis). Sebenarnya, manusia memang memiliki kecenderungan seperti itu. Abraham Maslow sejak lama mengatakan bahwa semakin tinggi penghasilan seseorang, semakin tinggi juga jenjang kebutuhannya. Jika kita baru pada taraf cari makan, maka untuk sampai ke kebutuhan aktualisasi diri masih jauh di awan-awan.

    Karena BAHANA bergaul dengan hamba Tuhan dari kalangan mana pun, maka bertaburanlah contoh-contoh dari kedua jenis pendeta di atas. Kita mulai saja dari yang dianggap borju.

    Yang Dianggap Borju

    Suatu siang di resto steak ternama di Jakarta. BAHANA ditraktir makan siang oleh seorang penginjil yang sudah malang melintang di dunia pelayanan. Meskipun tidak ada yang nambah, karena steak yang kami pesan daging impor, maka bill yang harus dibayar penginjil itu mencapai ratusan ribu rupiah. Saat mengobrol, BAHANA tahu bahwa kebiasaan mentraktir sesama rekan pelayanan itu sudah menjadi hal yang biasa baginya. "Berkat yang aku terima dari Tuhan harus aku bagikan kepada orang lain," ujarnya.

    Hal senada diucapkan juga oleh Pdm. Hanny Layantara, MA. Suami Ev. Agnes Maria ini mempunyai kebiasaan yang baik. "Kami menganggarkan sampai 30% untuk memberkati sesama hamba Tuhan," ujarnya tanpa nada sombong.

    BAHANA yang mengenal dekat pasangan ini menyaksikan secara langsung bagaimana cara mereka mengatur keuangan. Meskipun tidak bermaksud mengintip tabungan mereka, BAHANA tahu mereka sangat care terhadap sesama tubuh Kristus. Beberapa hamba Tuhan yang BAHANA kenal, mengatakan mereka memperoleh berkat dari pasangan yang harmonis dan serasi ini. "Studiku di STII juga disponsori oleh mereka," ujar seorang pendeta kepada BAHANA.

    Lalu, bagaimana dengan gaya hidup mereka? Orang luar memang menyaksikan pendeta terkenal identik dengan pola hidup mewah. Setiap kali mereka diundang pelayanan, mereka naik pesawat (bahkan ada yang executive/first class), menginap (baca: diinapkan) di hotel berbintang, dan makan (baca: diajak makan) di restoran kelas atas atau di hotel-hotel berbintang. Pakaian mereka pun mulai hem, dasi, jas dan sepatu selalu yang branded atau jahitan boutique dan taylor papan atas.

    Bagaimana kalau di kotanya sendiri? Sama saja. Sebagai wartawan dan rohaniwan, BAHANA sering diundang untuk peliputan atau pelayanan Firman mulai dari kota metropolitan Jakarta sampai pelosok tanah air. Hamba Tuhan kelas atas senantiasa necis dalam penampilan. Rumah mereka pun di atas rata-rata rumah kebanyakan. Mobilnya juga relatif muda. Namun, jangan langsung mencap mereka glamour. Mereka hanya menyesuaikan diri dengan jemaat yang mereka layani. Contohnya: pendeta yang melayani di seputar segi tiga emas di Jakarta tentu berpenampilan necis karena jemaat yang mereka layani pun rata-rata berpenampilan demikian. Sebaliknya hamba Tuhan yang melayani di pedesaan akan tampak mencolok kalau mereka mengenakan jas mahal dan sepatu mengkilap.

    Meskipun demikian, tidaklah bijak menilai orang hanya dari penampilannya saja. Dari pengamatan BAHANA di lapangan banyak di antara mereka yang sangat care dan peduli terhadap jemaat maupun sesama hamba Tuhan. Keluarga Hanny Layantara, misalnya. Bersama Agnes mereka menyisihkan sebagian berkat yang mereka terima untuk menolong hamba Tuhan lain. Gembala GBI Happy Family Center ini tidak saja berbagi materi, tetapi juga hati. "Kami senang sekali mengajak hamba Tuhan yang ke Surabaya untuk makan bersama," ujarnya, "dengan demikian kami bisa saling belajar."

    Hanny dan Agnes banyak membantu keluarga-keluarga Kristen untuk memaksimalkan potensi mereka dan terutama keharmonisan mereka. Itulah sebabnya gereja mereka memiliki motto: "Changing the World through Family." Semuanya itu tertuang dalam visi gerejanya, "Gereja yang sangat berpengaruh bagi masyarakat dalam pengajaran, penyembahan, dan misi."

    Pdt. Ir. Timotius Arifin adalah contoh lainnya. Gembala GBI Lembah Pujian, Denpasar, ini malah membatasi dirinya sendiri untuk memakai berkat yang Tuhan berikan. Bukan membatasi berkat Tuhan, tetapi membatasi haknya dalam memakainya. "Saya digaji kok," ujarnya. Saat membangun gerejanya yang bisa menampung ribuan orang sekaligus, dia menyisihkan 10% dana pembangunan untuk membangun gereja lain di luar denominasinya. "Kalau saya memakai semua hak saya, saya bisa plempeken (Jawa: kelebihan)," ujarnya kepada BAHANA.

    Meskipun memiliki jas-jas buatan luar negeri yang mahal, di dalam kesehariannya, dia tampak bersahaja. Sikap, ucapan dan perilakunya pun tidak sombong dan menyombongkan diri. "Aku ingin satu hal dalam hidupku," ujar suami Pdm. Fifi Sarah Yasaputra ini, "yaitu Christ likeness (seperti Kristus, red.)."

    Yang Burjo

    Taraf dan gaya hidup yang berbeda dialami dan dijalani oleh Pdt. Danny Susanto. Ketika pertama kali memasuki Gunungkidul, tahun 1964, wilayah itu masih sangat gersang dan terkenal dengan wabah penyakit busung lapar. Penduduknya masih makan thiwul (makanan dari tepung ketela pohon) karena begitu miskinnya. Selain itu, pada musim kemarau juga pasti mengalami kekurangan air bersih secara serius. Keadaan ini tidak menyurutkan tekad Danny muda untuk melaksanakan misi dari Majelis Pusat Dewan Pantekosta Indonesia, yaitu merintis jemaat Pantekosta di Gunungkidul.

    Benih yang ditanamnya mulai bertumbuh dan menghasilkan buah. Ada banyak jiwa baru di Wonosari ibukota Gunungkidul yang dimenangkan. Anak-anak kecil juga mengikuti acara Sekolah Minggu dengan bergairah. Namun karena suatu sebab, jemaat itu pecah menjadi tiga. Masing-masing digembalakan oleh Pdt. Danny, Pdt. Yamto dan Pdt. Barsilla. Jemaat yang di bawah pimpinan Pdt. Barsila berkembang dengan pesat dan sudah punya gedung gereja yang megah. Sementara itu, Pdt. Danny hanya "kebagian" 20 jemaat.

    Ketika Purnawan dari BAHANA berkunjung ke rumahnya, kami duduk di kursi sofa yang sudah tua. Di samping kiri, ada meja besar dengan pesawat TV 14 inchi yang warnanya sudah pudar di atasnya. Di bagian belakang terdapat dua lemari besar dengan kaca yang besar. Dindingnya terbuat dari tripleks dengan hiasan kalender yang memajang foto Yacob Nahuway. Di sepanjang dinding terlihat tempelan gambar-gambar bunga dan buah-buahan dari kalender bekas. Selain sebagai hiasan, gambar ini sekaligus berfungsi menutupi bagian tripleks yang mulai terkelupas. Lantainya berupa tegel dari batu kapur yang mulai pecah. Di bagian tengah terlihat tiang rumah dari kayu kasar, karena tidak diserut dengan halus. Dari ruang tamu itu, BAHANA bisa melihat atap dari genting yang disangga bambu.

    Danny lalu bercerita bahwa ketika muda, dia mendapat bantuan untuk bersekolah Alkitab di Beji, Malang. Di sekolah itu, Danny muda mendapat tugas praktik kerja di luar Jawa. Setelah lulus, dia lalu melayani di Jakarta. Di bawah pimpinan A.H. Mandey, Danny mendapat tanggung jawab untuk mengajar Sekolah Minggu di Jakarta. Kemudian mendapat tugas untuk merintis jemaat di Gunungkidul.

    Selama bincang-bincang itu, BAHANA harus bicara dengan suara keras karena fungsi pendengaran pria dari Salatiga ini sudah menurun. Untunglah, kami banyak mendapat bantuan dari Rut, anak bungsu Danny, yang mendampinginya selama wawancara. Gangguan kesehatan itu mendera Danny, semenjak dia mengalami kecelakaan lalu lintas beberapa tahun lalu. Waktu itu, dia memboncengkan temannya dalam rangka ikut seminar di kota Jogja. Dari Wonosari, jaraknya sekitar 40 km dan harus melewati jalan yang berkelok-kelok.

    Sepeda motor yang dikendarai Danny berserempetan dengan sebuah mobil. Keduanya terjatuh dan Danny langsung tidak sadarkan diri. Dalam kecelakaan itu, suami Eka Susanto ini (meninggal tahun 1991) harus mengalami pembedahan otak. Setelah operasi itu, Danny mengalami penurunan fungsi kerja otak. Dia mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Meski begitu, pria 64 tahun ini masih bersemangat melayani Tuhan. Dia masih mampu memimpin kebaktian dan berkhotbah.

    Soal pemenuhan kebutuhan hidupnya, ayah dari empat anak ini mengaku hanya mengandalkan Tuhan. Bagaimana tidak, secara logika jumlah persembahan dari 20 atau 451 jemaat di desa jelas jauh dari kata cukup. Karena itulah, Danny bersyukur karena Tuhan menggerakkan dua Yayasan yang masing-masing memberi bantuan sebesar Rp. 200 ribu. Sekali waktu, Danny juga mendapat kiriman uang dari bekas-bekas murid Sekolah Minggu di Jakarta. Selain itu, juga menerima perpuluhan dari salah satu pemilik toko di kota Wonosari. Dengan kondisi, itu dia bisa hidup sederhana dan menyekolahkan anak-anaknya.

    Keseimbangan

    Jika kita melihat kehidupan hamba Tuhan kota dan desa, kita melihat betapa besar kesenjangannya dalam taraf hidup maupun gaya hidup mereka. Namun, jika kita melihat isi hati mereka yang paling dalam, mereka memiliki kesamaan paling tidak dalam dua hal. Pertama, mereka ingin melayani Tuhan di ladang pelayanan mereka masing-masing. Kedua, mereka memiliki kerinduan yang dalam untuk memiliki karakter Kristus. Yang utama dan terutama adalah keseimbangan. "Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan" (II Korintus 8:13-14).

    Bagi jemaat, kita tidak perlu memperuncing kesenjangan itu dengan menganggap pelayanan yang satu lebih utama dari pelayanan yang lain. Yang justru perlu kita lakukan adalah memberkati mereka dengan apa pun yang bisa kita lakukan. Doa. Dana. Dorongan.

    Peran Gereja dalam Kebuntuan

    Penulis: Denni Pinontoan

    Gereja tidak hadir di dunia maya. Ia nyata dan mestinya berpengapa dalam kehidupan riil dunia yang kompleks dengan persoalan. Mimbar dan khotbah-khotbah manis dan mengecam, mestinya hanyalah salah satu dari banyak instrumen gereja untuk komitmen pembebasan dan pemerdekaan yang berujung pada pemanusiaan dan pemuliaan hidup manusia dan alam dunia ini.

    Gereja adalah institusi ataupun sistem kepercayaan orang-orang yang mendasari aktivitas rohani, politik, sosial, ekonomi dan budayanya dengan kasih Yesus yang membebaskan dan memerdekakan: menyelamatkan. Ia mestinya hadir dan berpengapa dengan kehidupan manusia-manusia yang memprihatinkan karena dominasi kekuasaan politik negara, kapitalisme yang mengeksploitasi dan alam yang terancam rusak. Termasuk sebenarnya kritik terhadap kekakuan doktrin dan tradisinya sendiri. Harus ada sikap yang dialogis dan konstruktif untuk suatu visi. Visinya adalah keselamatan keutuhan ciptaan.

    Tapi dalam usaha pencapaian visi itu, gereja akhirnya harus berhadapan dengan persoalan terjebak dan menjebakan diri dalam simbiosis mutualis dengan kepentingan penguasa yang cenderung korup dan menghisap. Buntutnya terjadilah pemandulan peran gereja dalam usaha pemerdekaan dan pembebasan. Yang terjadi belakangan adalah sikap gereja yang memperbudak diri dalam melayani kepentingan penguasa. Gereja kemudian menjadi tumpul dalam kritik.

    Tapi gereja atau Kristen tidak sendiri. Islam di Indonesia juga berhadapan dengan persoalan itu. Abdurrahman Wahid, biasa disapa Gus Dur, memetahkan persoalan Islam itu dalam artikelnya di Kompas, (Rabu, 30 Agustus 2006) yang berjudul Birokratisasi Gerakan Islam. Tesis Gus Dur dalam artikelnya itu bahkan lebih luas, bahwa krisis multidimensi yang terjadi hingga sekarang salah satunya adalah karena, gerakan Islam (juga gerakan-gerakan lain) sudah terlalu jauh mengalami birokratisasi. Perhatikan kalimat dalam tanda kurung. Barangkali yang dimaksud salah satunya adalah juga gereja. Itu kalau kita memahami gereja juga sebagai sebuah gerakan.

    Birokratisasi. Itu yang ditekankan oleh Gus Dur untuk menyebut sumber masalah dari pemandulan gerakan Islam. Birokratisasi yang dimaksudnya adalah keadaan yang berciri utama kepentingan birokrat menjadi ukuran. Prosesnya panjang. Kehadiran Departemen Agama adalah yang disebut oleh Gus Dur sebagai lembaga negara yang mempertegas birokratisasi gerakan Islam. Katanya, kehadiran Departemen Agama ini membuat segala hal dicoba untuk diagamakan.

    Dalam konteks Kristen atau Islam, juga agama-agama lain, birokratisasi ini seolah-olah sebagai cara pemerintah (khususnya rezim Orde Baru) untuk mengontrol dan menjadikan agama sebagai alat kekuasaan. Ke dalam, di masing-masing agama itu buntutnya adalah sama, pemandulan gerakan, kritik, dan peran memajukan umat yang adalah warga negara untuk berhadap-hadapan dengan kekuasaan negara yang cederung ototriter.

    Dalam konteks Kristen di daerah ini misalnya, entah pejabat gereja kita sadar atau tidak, yang jelas apa yang disebut oleh Gus Dur itu, tampak di hadapan kita sekarang bukan lagi usaha sengaja secara sepihak oleh negara yang memakai instrumen pemerintah (yang di dalamnya antara lain ada kaum birokrat). Tapi, ini kemudian menjadi seolah-seolah usaha saling mencari keutungan. Berbaik hati dengan penguasa untuk bantuan uang, semen, pasir, besi, dan lain-lain demi kantor Sinode yang megah, harus dilakukan oleh institusi gereja terbesar di Tanah Minahasa yaitu GMIM. Tidak pusing bantuan itu halal atau haram, hasil keringat sendiri atau korupsi, yang penting kantor sinode sebagai lambang kemegahan juga keberhasilan kehadiran GMIM di tanah ini bisa selesai untuk dipakai berkantor. Udara sejuk kota Tomohon lebih membuat yang memakainya terlena dengan kemegahan. Semenrtara, anggota jemaat yang miskin di desa yang jauh, sekolah berlogo GMIM yang hampir roboh karena keadaan bangunan yang sudah rapuh, soal keadilan dan kebenaran, harus dilupakan dulu.

    Antara gereja dan penguasa akhirnya menjadi mitra untuk usaha mencapai kepentingannya masing-masing. Saya memberi ini padamu, tapi kau harus berbaik hati padaku. Kalau perlu kau juga harus mendoakan uang korupsi ku agar menjadi suci di hadapan rakyat. Kalau dihadapan Tuhan, itu nanti. Gereja kepada penguasa (negara) tidak lagi menjadi mitra kritis. Padahal, Kristen Protestan lahir dan berkembang berawal dari gugatan atas perselingkuhan yang sangat mesra antara gereja dan penguasa (negara) di abad-abad pertengahan. Gereja mestinya adalah kritik itu sendiri.

    Bukan tidak tahu sejarah, tapi sengaja tidak ingat.

    Persoalan ini sebenarnya kompleks. Antara lain, karena gereja agaknya tidak ingin berusaha untuk mandiri secara dana maupun ideologi. Berikut, mental dan paradigma berteologi gereja yang cenderung mengarah ke teologi sukses. Ada duit, ada sorga. Gereja akhirnya menjadi seolah manusia yang punya keinginan terlalu tinggi; ingin beli mobil, ingin bikin rumah bertingkat sepuluh dan lain-lain, padahal dana tidak cukup. Maka, yang dilakukan adalah berhutang di sana sini, atau juga gadai ini dan itu. Hasilnya, adalah ketergantungan dan pengadaian idealisme. Karena sudah tak mampu mengembalikan hutang, maka diripun dijadikan jaminan. Hasilnya adalah penghambaan idealisme dan lembaga. Kini derajatnya menjadi sangat rendah. Seperti sapi, tali kekang kanannya di tarik ke kanan, maka dia ke kanan, ke kiri, ya dia kiri. Kalau di tarik kedua-duanya, maka dia berhenti. Uh, kasihan!!!

    Hasil terakhirnya, gereja mengalami kebuntuan dalam usaha pemerdekaan dan pembebasan apalagi pencapaian visi keselamatan. Bagaimana tidak, dari segi dana dan berteologi sudah tidak merdeka, apalagi ingin memerdekakan dan membebaskan ciptaan Tuhan. Gereja sudah sangat lain dari semangat awal lahirnya sebagai gerakan spiritual dan moral yang mandiri dan bebas dari pengaruh negara dan kepentingan institusi manapun.

    Ini terjadi antara lain karena kita salah menilai orang. Karena, bicara paradigma berteologi, sistem dan manajemen institusi kita juga harus bicara siapa orang-orang yang berperan di sana . Artinya, antara dua hal ini sangat terkait. Hal berikut, karena gereja akhirnya telah melembaga. Beda dengan komunitas awal Kekristenan. Bukankah institusi, termasuk gereja juga merupakan ladang pertarungan kepentingan?

    Tidak bisakah gereja menjadi gerakan untuk pemanusiaan dan pemuliaan manusia dan alam yang independen, bebas dan tidak terikat dengan segala macam kepentingan negara?

    Ternyata usaha pemerdekaan dan pembebasan harus mulai dari dalam!

    Tomohon, 31 Agustus 2006

    Sumber: Harian Komentar

    Persekutuan Yang Sejati

    Oleh: Wiempy Wijaya

    Di dlm kehidupan yg kita jalani ini, tdk dapat dipungkiri bahwa kita harus hidup bersama dgn org lain. Kita tdk bisa hanya mengandalkan diri sendiri dlm menjalani kehidupan ini, tapi kita tetap membutuhkan org lain untuk berbagi kebahagiaan, saling membantu jika terdapat kesulitan hidup, sharing ttg permasalahan hidup, dll. Alkitab menyebut pengalaman untuk berbagi dgn sesama sebagai persekutuan. Kebangkitan Yesus melahirkan suatu persekutuan yg di dalamnya Ia tetap hadir melalui Roh-Nya. Persekutuan tdk hanya berarti hadir dlm kebaktian di gereja saja. Persekutuan berarti kita semua sbg org Kristen bersama-sama mengambil inisiatif untuk hidup bersama. Di dlm persekutuan terdapat kasih yg tulus serta tdk mementingkan diri sendiri, sharing permasalahan hidup dgn jujur, saling menguatkan jika ada masalah hidup, bersedia mengorbankan waktu dan tenaga untuk menolong sesama.

    Di dlm persekutuan, kita akan berusaha mengatakan hal yg jujur saja yg telah dialami dlm kehidupan yg kita jalani ini. Di dlm persekutuan yg sejati, sebisa mungkin kita bicara dari hati ke hati dgn teman persekutuan untuk mengeluarkan isi hati yg selama ini terpendam. Saling berbagi masalah yg telah kita alami, saling berdiskusi untuk mencari solusi yg terbaik bagi masalah tsb, dan akhirnya kita mendapatkan berbagai macam solusi yg mungkin bisa membantu kita dlm memecahkan masalah yg kita hadapi. Karena di dlm persekutuan kita merasa nyaman dan tentram dlm berbagi permasalahan hidup, membuat diri kita dpt mengeluarkan isi hati ttg permasalahan hidup. Kita merasa yakin di dlm persekutuan dgn teman seiman, dlm kondisi saling mendoakan dan saling menguatkan teman seiman yg mempunyai masalah, permasalahan hidup yg kita hadapi dapat dicarikan solusinya dgn sharing permasalahan yg kita hadapi dgn teman seiman. Dibutuhkan kejujuran dan integritas yg tinggi dlm persekutuan yg sejati. Kita harus melepas rasa takut untuk mengungkapkan permasalahan yg menimpa hidup kita, saling percaya terhadap teman seiman.

    Dlm persekutuan yg sejati ada saatnya kita memberi solusi bagi teman seiman yg sedang mengalami permasalahan, ada saatnya juga kita menerima solusi atas permasalahan yg sedang kita hadapi. Persekutuan yg sejati membutuhkan komitmen yg luar biasa dari para anggotanya. Kita semua harus mau komitmen dgn apa yg telah dilakukan selama ini. Juga diperlukan rasa tanggung jawab yg tinggi dari para anggota persekutuan untuk saling berbagi dlm suka dan duka dlm menghadapi permasalahan yg ada. Kita semua harus konsisten dlm iman, ketika kita menghadapi masalah dan ketika kita berusaha menguatkan rekan seiman yg sedang menghadapi masalah.

    Dan juga ingatlah, Alkitab dlm Kolose 3:15 (CEF) berkata demikian: "Kamu masing-masing adalah bagian dari tubuh Kristus, dan kamu dipilih untuk hidup bersama di dlm damai sejahtera"

    Hal ini dipertegas dlm Mazmur 133 ayat 1 yg berbunyi: "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara2 diam bersama dgn rukun!"

    Di dlm persekutuan sejati, kita semua akan merasakan sedih atas penderitaan teman seiman kita, kita semua akan merasakan gembira atas keberhasilan teman seiman kita dlm karier. Kita dapat merasakan bagaimana rasanya mengalami penderitaan yg dialami teman seiman. Semua itu akan membuka mata hati, bahwa sangat wajar setiap manusia pasti mempunyai masalahnya tersendiri. Kita dpt mengerti dan memahami mengapa Tuhan memberi percobaan dan masalah dlm hidup kita ini. Semua hal itu tdk terlepas dari mempelajari dan mengambil hikmah dari permasalahan2 yg sudah di-sharing dan dicarikan solusinya dlm persekutuan.

    Di dlm persekutuan yg sejati, dibutuhkan rasa kebersamaan dan kekompakan dlm memecahkan dan mencari solusi permasalahan yg ada. Kita harus mau mendengar secara sungguh2 permasalahan hidup yg menimpa teman seiman kita. Kalau bisa kita ikut serta memberikan solusi atas permasalahan tsb. Ingatlah apa yg dikatakan oleh Paulus dlm 1 Korintus 15:58 yg berbunyi demikian: "Karena itu, saudara-saudaraku yg kekasih, berdirilah teguh, jgn goyah, dan giatlah selalu dlm pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dlm persekutuan dgn Tuhan jerih payahmu tdk sia-sia"

    Akhir kata, persekutuan yg sejati mendasarkan segala sesuatu di dalamnya dgn kasih karunia, dimana kita semua mau menolong teman seiman tanpa mengungkit-ungkit kejelekan sifat dan perbuatan yg dilakukan oleh teman seiman, sehingga muncul permasalahan yg mendera teman seiman tsb.

    Santa Zita: Pelindung para pelayan rumah tangga

    Penulis : Sr. Maria Andrea, P.Karm

    Santa Zita adalah pelindung para pelayan rumah tangga. Orang tuanya adalah orang-orang Kristen yang saleh. Zita lahir di Monte Sagrati, Italia Tengah, pada tahun 1218. Kakak perempuannya seorang biarawati Cistercian dan pamannya yang telah meninggal, Graziano, adalah seorang eremit yang oleh orang-orang setempatnya dianggap sebagai seorang kudus. Sejak kecil bagi Zita, cukuplah jika ibunya berkata: "Hal ini menyenangkan Tuhan" atau "Hal ini tidak menyenangkan Tuhan" maka dia akan segera taat. Pada umur dua belas tahun Zita pergi ke Lucca untuk bekerja sebagai pelayan di rumah Pagano Fatinelli yang mempunyai bisnis wol dan sutera. Jarak Lucca dan desa kelahirannya sekitar delapan mil. Zita mempunyai kebiasaan bangun untuk berdoa di malam hari. Dia juga menghadiri Misa harian yang pertama di Gereja San Frediano. Dia seorang yang sangat murah hati dan penuh belas kasih. Makanan yang dimilikinya dibagikannya kepada para miskin. Dia tidur tanpa kasur karena kasur miliknya sudah diberikan kepada seorang pengemis.

    Namun demikian, dia harus menanggung banyak beban dari sesama pelayan. Mereka menghina cara hidupnya dan memandang ketekunan kerja Zita sebagai celaan tanpa kata-kata bagi mereka. Secara terang-terangan mereka menunjukkan kebencian mereka terhadap Zita, antara lain dengan kata-kata maupun perbuatan-perbuatan buruk dan kecurangan-kecurangan. Walaupun Pagano pernah terpengaruh oleh mereka sehingga menentangnya, namun Zita menanggung semua cobaan-cobaan itu tanpa mengeluh. Suatu ketika seorang pelayan pria berniat tidak sopan terhadapnya, maka Zita mencakar wajah pelayan tersebut. Namun, ketika Pagano bertanya-tanya dan menyelidiki apa penyebab luka di wajah pelayan itu, Zita tidak mengajukan pembelaan diri sama sekali. Lambat laun kesabaran Zita menaklukkan permusuhan mereka dan Pagano mulai menyadari betapa berharga harta yang mereka miliki dalam diri Zita.

    Bagi Zita, pekerjaannya merupakan bagian dari hidup rohani atau agamanya. Oleh karena ketekunan dan perhatiannya maka Zita dijadikan kepala pengurus rumah tangga.

    Suatu hari Pagano berniat mengecek persediaan buncis yang menurutnya akan mendapat pemasaran baik saat itu. Setiap keluarga kristen di tempat itu dan pada saat itu menyumbangkan makanan kepada orang-orang yang kelaparan. Zita mengaku kepada Pagano bahwa karena kasihan dia menyumbangkan buncis itu. Pagano sangat marah. Zita hanya mampu melambungkan doa ke surga dengan kaki gemetar. Namun, ternyata tidak ditemukan adanya pengurangan jumlah buncis di gudang. Secara ajaib persediaan buncis telah penuh kembali.

    Di saat lain Zita terserap dalam devosinya, lupa bahwa hari itu adalah hari membuat roti. Dengan tergesa-gesa dia berlari ke dapur dan berpikir bahwa dia telah terlambat membuat adonan roti. Setiba di sana dilihatnya roti-roti sudah tersedia dan siap dimasukkan oven.

    Pada suatu malam Natal yang sangat dingin, Zita tetap berniat pergi ke Gereja. Pagano meminjamkan jas bulunya kepada Zita sambil berpesan agar berhati-hati menjaga jas bulu itu. Di pintu masuk Gereja San Frediano dia melihat seorang bapak yang berpakaian compang-camping dengan gigi yang bergemertakan karena menahan dingin. Zita segera mengenakan jas bulunya kepada orang tersebut dan mengatakan bahwa dia boleh memakainya sampai saat Zita keluar dari Gereja. Zita pun masuk ke gedung gereja dan mengikuti Misa Malam Natal. Namun, seusai Misa, tak tampak lagi si bapak yang berpakaian compang-camping tadi, tidak tampak juga jas bulu yang dipinjamkan Zita kepadanya. Zita pun pulang untuk menerima kemarahan Pagano yang tentu saja sangat kesal kehilangan jas bulu yang sangat berharga baginya. Beberapa jam kemudian saat Pagano baru saja duduk untuk makan malam Natal muncullah seorang asing di pintu ruangan itu sambil membawa jas bulu tersebut dan memberikannya kepada Zita. Tuan dan nyonya Pagano dengan tidak sabar memandang orang tersebut. Akan tetapi, dalam sekejap mata orang itu lenyap dari pandangan, secepat saat dia muncul tadi, sambil meninggalkan suatu sukacita surgawi dalam hati semua yang melihatnya. Sejak itu penduduk Lucca memberi nama "Pintu Malaikat" kepada pintu masuk San Frediano, tempat Zita meminjamkan jas bulu kepada si orang asing.

    Zita menjadi teman dan penasihat seisi rumah. Akan tetapi, semua penghormatan yang diberikan kepadanya justru membuatnya merasa malu dan tak pantas, lebih daripada semua beban atau penghinaan yang diterimanya dahulu. Kemudian dia juga dibebaskan dari pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sehingga dia bebas mengunjungi orang-orang sakit, orang-orang miskin, maupun mereka yang dalam penjara. Zita mempunyai perhatian khusus terhadap para narapidana yang akan dijatuhi hukuman mati. Dia berdoa berjam-jam bagi mereka. Dengan karya-karya belas kasih dan devosi seperti itulah Zita menjalani masa senja hidupnya sebelum akhirnya dia meninggal dengan sangat tenang pada tanggal 27 April 1278. Tubuhnya diletakkan di gereja San Frediano di Lucca. Pada tahun 1696, ia digelari "kudus" oleh Paus Innocentio XII (1691-1700).

    Hidup para kudus, termasuk Santa Zita, merupakan Sabda Tuhan yang diterjemahkan dalam kehidupan. Membaca riwayat hidup Santa Zita membuat kita teringat akan sabda-sabda Tuhan sendiri, antara lain:

    "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." (Mat 22: 37,39)

    "Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Mat. 5:44)

    "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Mat. 25:40)

    "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?" (Mat. 5:46)

    Hal lain yang menarik dalam hidupnya adalah Santa Zita tidak memisahkan hidup rohani dan doanya dari pekerjaannya. Relasi pribadinya yang mesra dengan Tuhan mendasari dan menjiwai seluruh hidupnya. Tidak ada tembok-tembok pemisah yang menghalangi Sabda Tuhan masuk dalam setiap bidang hidupnya, termasuk bidang karier dan pekerjaannya. Dia bukan orang yang berprinsip: "Saat bekerja saya akan memakai cara-cara duniawi macam apapun dan meninggalkan cara-cara surgawi yang dipesankan Tuhan dalam sabda-Nya. Saat berdoa barulah saya akan memegang sabda dan perintah-perintah Tuhan." Pekerjaannya merupakan ungkapan cintanya pada Tuhan. Cintanya yang tulus pada Tuhan membuatnya setiap saat dan di mana pun selalu mencari dan melakukan apa yang menyenangkan-Nya.

    Sejarah Bait Suci dalam Alkitab

    Sumber: Milis Sahabat Kristen

    Manusia, sejak kejatuhan Adam dan Hawa, adalah mahluk fana yang tunduk pada tabiat dosa. Adam dan Hawa di usir dari taman Eden dan mulai beranak cucu. keturunan mereka pun tidak terlepas dari pengaruh dosa, sehingga semakin menjauhi Allah yang Maha Kudus (dosa = najis, tidak kudus). Itulah yang disebut sebagai dosa warisan. Semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah (Roma 3:23) Namun Allah mengasihi manusia, dan memiliki rencana untuk menyelamatkan manusia dari jerat iblis, yaitu dosa dan maut. Allah berbicara kepada seseorang bernama Abram, mengubah namanya menjadi Abraham dan mengadakan perjanjian, bahwa keturunannya akan menjadi bangsa besar, dan mereka akan menjadi umat Allah yang benar (Kej 17:1- 27). Perjanjian Allah juga diadakan kepada keturunan Abraham, yaitu Ishak (Kej 26:2-5) lalu berlanjut pada Yakub yang diubah namanya oleh Allah menjadi Israel (Kej 35:10-12) yang berarti pangeran Allah. Allah adalah Raja dari kerajaan Sorga, dan Israel adalah anak- anakNya. Oleh karena itu, Allah yang benar disebut sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub, atau disebut juga sebagai Allah Israel.

    Allah merencanakan agar bangsa Israel harus menderita dalam perbudakan di Mesir selama 400 tahun, setelah itu, barulah Allah menyelamatkan mereka dan menuntun mereka menuju tanah perjanjian, Kanaan. Musa ditunjuk sebagai seorang nabi dan perantara Allah kepada bangsa Israel, karena bangsa tersebut takut melihat cahaya kemuliaan Allah. Setelah bebas dari perbudakan Mesir, Hadirat Allah turut menyertai perjalanan bangsa Israel. Bagaimana caranya? Allah memberikan HukumNya, 10 Perintah Allah, ditulis oleh jari Allah sendiri dalam 2 loh batu, lalu Musa menempatkan dalam sebuah tempat penyimapana yang dinamakan sebagai Tabut Perjanjian. Artinya, selama mereka mentaati hukum Allah, Allah akan menyertai dan menolong mereka, dan juga sebaliknya, jika mereka melanggar Hukum Allah, maka Allah akan menjadi lawan mereka.

    Musa memimpin bangsa Israel dari tanah mesir ke tanah perjanjian selama 40 tahun. Jumlah mereka ditaksir sebanyak 500.000 laki-laki dewasa, jika ditambah perempuan dan anak-anak kira-kira 2 juta orang. Allah Israel memelihara mereka semua selama 40 tahun perjalanan mereka. Tuhan memberi mereka makan manna dan burung puyuh, pakaian mereka tidak menjadi usang dan kaki mereka tidak menjadi bengkak. Itulah kedahsyatan tangan Tuhan yang benar.

    Bagaimana caranya Allah menyertai mereka? Allah memerintahkan Musa untuk membuat kemah suci dengan terperinci (Kel 26:1-37) beserta perkakas dan cara beribadahnya. Mereka melihat tanda kehadiran Allah, yaitu tiang awan pada siang hari, dan tiang api pada malam hari. Pertama kali kemah suci dibuat, awan tersebut menutupi kemah. Dan mereka baru berangkat jika awan tersebut naik dan pergi (Bil 9:15-23).

    Setelah bangsa Israel memasuki tanah perjanjian dan menetap disana, dan setelah mereka mengangkat Daud menjadi raja, Daud berpikir untuk mendirikan sebuah rumah bagi Tuhan. Allah menjawab Daud lewat perantaraan nabi Natan, bahwa Ia tidak pernah memerintahkan untuk mendirikan rumah bagiNya (II Samuel 7:1-17), Namun Daud tetap ingin membuatkan rumah untuk Allah, dan meminta anaknya, Salomo untuk membuatnya (I Tawarikh 22:2-19)

    Raja Daud wafat dan digantikan oleh Salomo, dan dibuatlah bangunan Bait Suci dengan denah yang mirip dengan kemah suci dan ditempatkanlah Tabut perjanjian Allah, barulah kemuliaan Allah menaungi Bait Suci (II Tawarikh 5:2-6:2). Api turun dari langit dan memakan habis korban bakaran dan korban sembelihan.

    Jelaslah bahwa sebenarnya Allah yang benar hadir ketika perjanjianNya ada pada umatNya, dan bahwa sebenarnya Allah tidak pernah memerintahkan umatNya untuk mendirikan bangunan Bait Suci, karena Bait Suci yang sejati hanyalah setiap manusia yang percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dimana Roh Allah tinggal dalam hati setiap orang percaya.

    Beginilah firman TUHAN: Langit adalah tahtaKu dan bumi adalah tumpuan kakiKu; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagiKu, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentianKu? Bukankah tanganKu yang membuat semuanya ini, sehingga semuanya ini terjadi? demikianlah firman Tuhan. (Yesaya 66:1-2a)

    Tuhan Yesus memberkati.

    Setitik Nila dalam Pelayanan

    Oleh : Yon Maryono

    Peribahasa mengatakan karena setitik nila rusak susu sebelanga artinya hanya disebabkan oleh kesalahan atau kejahatan sekelompok kecil pelayan Tuhan, maka seluruh perkara pelayanan menjadi ternoda.. Setitik nila tak ubahnya dengan sebuah masalah, seperti orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, tetapi karena Akhan… mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.” (bdk Yosua 7:1)Kisah dalam Alkitab dan Jaman Sekarang

    Pada tahun sekitar 56 Masehi Paulus menerima kabar buruk dari orang-orang Kloe. Berita buruk tersebut adalah timbulnya persoalan-persoalan, seperti keikutsertaan jemaat Korintus dalam upacara-upcara keagamaan kafir, penghakiman di depan orang-orang kafir dan pelacuran, selain masalah-masalah etis dan moral jemaat di Korintus. Paulus menulis suratnya di Efesus kemudian mengirimkan surat penggembalaan sekaligus teguran kepada Jemaat di Korintus karena penyimpangan moral jemaat Korintus yang dipengaruhi Gnostisisme. Demikian pula, Jemaat di Korintus juga terlibat dalam praktik penyembahan berhala, dan dipengaruhi oleh pemikiran Yunani yang rasionalis.
    Pada jaman sekarang, pada saat diberitakan seorang Pendeta dari Kolombia ditangkap di Bandara Sheremetyevo, Moskow karena selundupkan narkoba, dengan alasan tidak punya pilihan karena dipaksa oleh sebuah gang mafia. Persistiwa lain, Uskup Gereja di Australia diminta mundur oleh karena tindakan amoral. Demikian pula, kita dengar ulah amoral dalam jabatan Gerejawi juga terjadi di negeri ini. Akhirnya pelayanan kepada Tuhan dihadapkan suatu pilihan antara Pelayanan sebagai karier atau panggilan; Pelayanan sebagai Keharusan atau sampingan, Pelayanan kepada Tuhan tempat ajang persaingan, serta dilema yang rumit lainnya yang merusak konsentrasi Pelayanan
    Belajar dari situasi dan kondisi jaman Paulus dan saat ini tampak ada persamaan dan perbedaan yang menonjol. Persamaannya, mereka yang terlibat “melayani Tuhan” terjebak kebingungan dalam memilih, apa yang baik dan utama dalam pelayanannya. mereka terpengaruh iblis yang menawarkan kenikmatan duniawi yang membuat hati gamang. Perbedaannya, Rasul Paulus menganggap peristiwa itu sangat serius sehingga perlu mengirim surat tegoran sekaligus penggembalaan bagi jemaat Korintus. Saat ini, pada saat belum muncul dilingkungan umat Kristen seorang tokoh yang menjadi panutan, dan belum kuatnya lembaga koordinasi antar denominasi, peristiwa itu seperti setitik nila dalam pelayanan, dibiarkan seolah waktu yang akan menyelesaikan.

    Pelayan yang Berintegritas

    Pelayan Tuhan yang gagal sering disebut bahwa mereka tidak mempunyai Integritas. Integritas, saat ini selalu menjadi jargon utama dalam Ilmu manajemen. Banyak artikel menulis tentang Integritas (integrity), termasuk dalam Pelayanan yang kenyataannya memang mudah diucapkan, namun sulit bahkan ada yang gagal melaksanakan. Integritas didefinisikan sebagai satunya pikiran dengan kata-kata dan tindakan secara konsisten. Integritas juga berhubungan erat dengan standar-standar moral dan kejujuran intelektual yang menjadi kerangka tingkah laku kita (Warren Bennis, 2001). Konsep manajemen terkait karakter integritas sepenuhnya ada didalam Alkitab. Seperti karakter setia, benar dan jujur, takut akan Allah seperti perintah hidup sempurna seperti Kristus hidup. Pertanyaannya, mengapa ada pelayan yang jatuh dalam pilihan yang salah dalam melayani Tuhan ? Apakah mereka tidak mengerti dan memahami unsur integritas dalam pelayanan ?
    Dalam organisasi sekuler, penegakan Integritas dapat dilakukan melalui peraturan, pakta organisasi, penilaian keinerja dan sebagainya. Demikian pula, ada dorongan sejawat berupa komitmen secara bersama untuk menerapkan dan menegakkan kode etik, peduli pada yang melanggar dengan menegur atau melaporkan adanya pelanggaran kode etik atau aturan perilaku akan mendorong ditegakkannya integritas dan nilai etika. Tetapi bagaimana penegakan integritas dalam pelayanan kepada Tuhan. Yesus menegur Martha ketika ia kehilangan sense of integritynya. Paulus mengirimkan surat penggembalaan sekaligus teguran kepada Jemaat di Korintus karena penyimpangan moral di jemaat Korintus. Apa ada rekan sejawat yang menegur atau mengggembalakan seperti dilakukan Yesus kepada Martha atau Paulus kepada jemaat di Korintus ?
    Apa yang harus dilakukan, sementara kebingungan terus terjadi ? Adalah baik bila direnungkan tentang sikap Pelayanan dalam satu Tubuh Kristus melalui tindakan nyata. Antara lain, Penyatuan etika Pelayanan antar denominasi ; Menumbuhkan, mengembangkan Sikap Toleransi antar pelayan dalam satu dan atau antar denominasi, Membuka Forum Komunikasi Pelayanan lintas denominasi agar teman sejawat ada yang menegurnya. Mari kita berdoa dan berharap. Tuhan memberkati kita semua.

    Sumber: Pribadi

     

    Suara Jemaat

    Penulis : Sari, berdasarkan laporan Eman, Bowo, Fanny, Sonny, Joko dan Wawan

    Nampaknya, masalah kesenjangan kesejahteraan antara pendeta yang kaya dan miskin, tidak luput dari perhatian jemaat. Berikut ini komentar beberapa jemaat di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya yang berhasil dihimpun BAHANA.

    Idealnya Seperti Paulus
    Menurut Wanwan, panggilan akrab Chandrawati, kesenjangan kesejahteraan antara pendeta di gereja besar dan gereja kecil memang tidak dapat dihindarkan. Karena kesejahteraan pendeta tidak dapat dilepaskan dari kondisi jemaatnya. “Kalau jemaatnya banyak yang kekurangan, tentu saja mereka tidak bisa memberi apaapa, ujarnya. Namun, tak hanya berhenti disitu. Pemilik toko buku “Syalom ini berpendapat, kesejahteraan pendeta itu juga disebabkan oleh tiga faktor yaitu berkat Tuhan, didukung jemaat dan harus memiliki talenta khusus dalam memimpin jemaat. Alumnus Universitas Trisakti ini memiliki gambaran hamba Tuhan yang ideal yaitu seperti Paulus, yang tidak menggantungkan kehidupan pribadinya pada jemaat. Sebaliknya, dengan hasil kerjanya sebagai pembuat tenda, ia malah bisa mem­bangun jemaatnya secara ekonomi. Dengan kata lain, ia mengidealkan hamba Tuhan memiliki pekerjaan lain yang bisa menopang kehidupan ekonominya namun dapat tetap melayani jemaat sepenuh hati. “Kalau untuk di desa, ia bisa garap tanah toh tidak setiap hari ia harus menangani jemaatnya sedangkan kalau yang tinggal di kota bisa mempercayakan bisnisnya kepada orang lain, katanya.

    (Chandrawati, pemilik toko buku “Syalom, jemaat Abbalove Jakarta)

    Banyak yang Sudah Bergeser Orientasinya
    Menurut pengamatan Andi, saat ini banyak pendeta yang sudah bergeser orientasinya. Mereka sepertinya sudah lupa dengan panggilan awalnya sebagai hamba Tuhan sehingga lebih senang bermobil mewah dan tinggal di gedung megah. Andi mengaku sangat menghormati hamba Tuhan namun sekaligus prihatin melihat perilakunya. “Saya sedih mendengar ada hamba Tuhan yang pilihpilih dalam melayani. Jika yang mengundang orang biasa, ia punya seribu alasan untuk tidak bisa. Namun jika yang mengundang konglomerat, ia cepatcepat seakan rintangan semua hilang, kata Andi yang enggan identitasnya disebutkan lengkap. Andi memiliki gambaran ideal seorang hamba Tuhan, yang menurutnya tidak terlalu tinggi. Intinya, hamba Tuhan itu harus mau hidup bersama jemaatnya dalam segala situasi dan mampu membangkitkan semangat jemaat yang loyo. Dan, yang lebih penting ia punya hati untuk semua umatnya. “Saya ngomong begini karena mencintai gereja, para hamba Tuhan dan Tuhan Yesus, katanya menutup obrolan dengan BAHANA.

    (Andi, aktivis sebuah LSM, jemaat Gereja Bethany, Jakarta)

    Miskin, Tak Berarti Tidak Diberkati
    Perempuan cantik ini melihat kesejahteraan pendeta sangat ditentukan oleh kondisi jemaatnya. Karena itu, wajar saja jika kesejahteraan pendeta yang melayani di jemaat besar yang jumlah persembahannya hingga ratuasan juta rupiah akan sangat berbeda dibandingkan dengan jemaat kecil yang jumlah persembahannya hanya puluhan ribu rupiah saja. Namun, ia sangat tidak setuju dengan ang­gapan, pendeta miskin berarti tidak diberkati. Baginya, hidup sejahtera tidak disebabkan karena kaya atau miskin. “Justru yang berada di daerah minus tapi tetap setia melayani, itulah pelayanan yang murni. Kalau ada yang mengatakan begitu, saya bertanya balik apa­kah dia diberkati Tuhan atau tidak,“ tegas perempuan yang merasa prihatin melihat gaya hidup beberapa hamba Tuhan yang cenderung ekslusif ini. Untuk mengatasi kesenjangan yang terjadi, ibu tiga orang anak ini berpendapat sebaik­nya pendeta yang hidupnya berkelimpahan harus mau berbagi dengan pendeta yang berkekurangan tanpa melihat denominasi. Sama seperti Chandrawati, Vivien juga menyebut Paulus sebagai profil hamba Tuhan yang ideal. “Sederhana tapi setia me­layani. Tidak usah harus miskin juga. Karena kalau miskin dia mudah sakit bagaimana dia bisa melayani? Hiduplah sesuai de­ngan amanat melayani. Jangan berpikir bahwa dia akan mendapat imbalan dari jemaat walaupun memang seorang yang bekerja berhak mendapat upahnya,“ kata istri seorang ahli bedah ini bijak.

    (Vivien Limengka, pemilik album “Kuberbahagia, jemaat GKI Kemang Pratama, Jakarta)

    Tidak Perlu Dicemburui
    Menurut Bob, ketimpangan yang terjadi bukan merupakan sesuatu yang perlu dicemburui, karena masingmasing memiliki talenta dan karunia yang berbeda. “Tetapi dalam memandang kesejahteraan, jangan hanya dilihat dari segi materi tetapi juga sukacita. Jika ada pendeta yang karena talenta hidupnya menjadi lebih dari cukup itu berarti berkat Tuhan atasnya berlaku, dan tentu saja berkat itu datang karena tanta­ngan, ujian dan cobaan yang berat dan besar mampu dilewa­tinya ber­sama Kristus, kata direk­tur utama PT Citra Ayu Samudera Biru. “Tuhan tidak menjanjikan kaya, tetapi menghendaki kita hidup berkecukupan, tambah Ekel. Se­dangkan untuk mengatasi ke­tim­pangan terse­but, terutama terhadap pendeta di pedesaan, Ekel menyarankan perlunya organisasi gereja melalui depar­temen penginjilan dan diakonia memaksimalkan peran dan aktifvitasnya. “Keberadaan organisasi gereja kan salah satunya untuk me­ngatasi kesulitan kehidupan pendeta yang dikategorikan kecil. Dengan itu berkat yang ada di gerejagereja besar dapat tersalurkan dengan rapi dan teratur. Bagaimanapun juga kita tidak dapat menghindar dalam urusan keuangan, di gereja ada juga korupsi dan kebohongan, katanya.

    (Bob Albert Ekel, direktur utama PT Citra Ayu Samudera Biru, jemaat Gereja Tiberias Indonesia (GTI) Kelapa Gading, Jakarta)

    Diperlukan Program Pembapaan
    Menurut pengamatan Paulus, kesejahteraan hamba Tuhan sekarang ini memang belum merata. Mereka yang tinggal di kota cenderung lebih terjamin ketimbang yang di desa. Realita ini membawa dampak bagi motivasi dan cara pelayanan mereka. “Tidak jarang, hamba Tuhan dari desa, sering dianggap melulu membawa proposal atau list sumbangan atau dengan kata lain dicap mata duitan. Ini yang menjadi keprihatinan kita bersama, kata Paulus. Senada dengan Daniel, Paulus melihat hal ini dapat terjadi karena pendeta dituntut menjadi seorang hamba di dalam arti hidup dan pasrah dengan keadaannya. Ia tidak boleh terlalu menuntut sebab Tuhan sendiri yang akan menjadi penjamin mereka. Untuk mengatasi ketimpangan ini, Paulus mengusulkan, “Gereja perlu mengadakan program diakonia yang konstan khusus untuk hambahamba Tuhan yang kesejahteraannya kurang dengan melakukan program pembapaan. Gereja besar membimbing atau membapai gereja kecil dengan membantu mulai dari maintenance, manajemen hingga keuangan sampai gereja itu mandiri, ujarnya.

    (Paulus W. Wijaya, Jemaat GPdI Mahanaim, Semarang)

    Ubah Konsep Hamba
    Daniel berpendapat, penilaian kesejahteraan hamba Tuhan tidak bisa distandarkan karena itu bergantung pada pandangan setiap gereja di dalam menyejahterakan pendetanya. “Gerejagereja yang beranggapan bahwa hamba Tuhan adalah hamba umumnya memperlakukan pendetanya sebagai hamba. Artinya, apa pun yang diberikan dari denominasi harus diterima secara pasrah, berapa pun besarnya,“ jelas Daniel. Perlakuan yang berbeda akan diterapkan oleh gereja yang sudah menempatkan hamba Tuhan sebagai seorang wakil Tuhan di dunia yang punya tugas dan tanggungjawab besar di dalam membangun kerajaan Allah didunia. “Mereka lebih dan sangat mengutamakan kesejahteraan pendetanya. Dalam konsep mereka, hamba Tuhan adalah seorang yang perlu dihargai baik secara martabat maupun di dalam kesejahteraannya, tambahnya. Untuk mengatasi ini, hal utama yang perlu dilakukan adalah mengubah konsep tentang hamba. Menurut Daniel, melayani Tuhan sebagai seorang hamba di dalam pengertian yang sebenarnya sudah tidak tepat dalam konteks yang sekarang ini. “Jemaat atau denominasi perlu menghargai hamba Tuhannya dan menjamin kesejahteraan atau kebutuhannya. Tidak perlu dibiarkan hidup sebagai hamba! ujar Daniel tegas.

    (Daniel Djoko Hadi Rahardja, Jemaat JKI Injil Kerajaan, Semarang)

    Ada Standar Gaji
    Menurut ibu dua putri ini, kesenjangan kesejahteraan pendeta jelas ada karena kemampuan gereja yang berbedabeda. “Pendapatan pendeta kan disesuaikan dengan jemaat masingmasing, tutur ketua Komisi Wanita GKIN Torsina, Surabaya ini. Artinya, pendeta yang melayani di jemaat besar tentu akan lebih sejahtera dibanding jemaat kecil. Untuk mengatasi kesenjangan ini, ia punya saran, “Mungkin dengan ada aturan dari sinode gereja secara keseluruhan, jadi bukan satu sinode saja, di Indonesia ini. Saya bayangkan, alangkah enaknya, jika semua gaji hamba Tuhan sama. Tapi standarnya jangan pada standar gaji pendeta di gereja besar. Jadi hamba Tuhan gereja kecil pun makin terpacu dalam pelayanan,“ kata Ashye, panggilan akrabnya. Menurut Ashye, bagaimanapun pendeta itu sudah memberikan hidup bagi jemaatnya maka jemaat wajib “mengisinya karena mereka juga memiliki keluarga yang membutuhkan biaya untuk hi­dup.

    (Marsefio Sevyone Luhukay, S. Sos, Dosen FIKOM, Universitas Kristen Petra Surabaya, jemaat GKIN Torsina, Surabaya)

    Yang Besar Mengayomi Yang Kecil
    Kennedi sangat prihatin melihat kenyataan masih banyak pendeta yang jauh dari kesejahteraan. Penghasilan mereka tidak memadai saat dihadapkan pada situasi sekarang, harga barang terus naik. “Akhirnya keadaan ini membuat pendeta mencari tambahan penghasilan sehingga konsentrasi terhadap tugas pelayanannya sering terganggu, katanya prihatin. Keprihatinannya makin mendalam saat melihat kesenjangan yang terjadi. “Pendeta kota melayani dengan dasi yang mahal dan pakaian bermerk di gedung yang serba lux, sementara pendeta desa harus mengelus dada karena atap gereja yang bocor dan berpikir tentang persembahan jemaat yang kecil,“ tambahnya. Untuk mengatasi ini, Ia menyarankan, “Pendeta yang berkecukupan jangan melalaikan kekurangan rekan sekerjanya yang kekurangan. Tanpa memandang denominasi, gereja besar bisa mengayomi gereja yang kecil, entah di desa atau di kota. Mungkin Galatia 6:10 bisa kita jadikan dasar untuk mengingat “kawankawan kita seiman.

    (Kennedi S, jemaat Gereja Sidang Jemaat Allah, Bandung)

    Saling Melengkapi dan Berbagi
    Andri melihat realita kesenjangan kesejahteraan antara pendeta kota dan kota merupakan sesuatu yang tidak dapat disembunyikan. Dan, itu seringkali mempengaruhi keputusan seseorang untuk lebih memilih melayani di kota daripada di desa. Kunci untuk membuatnya seimbang adalah saling berbagi dan melengkapi. “Pendeta dari gereja yang berkelebihan harus membantu pendeta yang berkekurangan. Dari segi materi, pendeta desa memang tidak bisa memberi kecukupan materi kepada pendeta kota. Tetapi mungkin bisa dengan bentuk pelayanan lain, misalnya doa. Jika masingmasing sadar, nama Tuhanlah yang ditinggikan,“ ujarnya bijak.

    (Andri Aditya Prasepto, jemaat GBI Jemaat “Istana Regency, Bandung)

    Lebih Peduli

    Pinkan juga melihat kesejahteraan pendeta saat ini tidak merata, ada yang sudah berkelimpahan tapi ada pula pendeta yang paspasan. “Mereka mengalami kesulitan untuk membiayai pendidikan anakanaknya, karena penghasilan mereka hanya cukup untuk kebutuhan seharihari saja, katanya. Supaya seimbang, ia mengharapkan, “Pendeta kota yang mendapat lebih banyak berkat harus lebih peduli dan menyalurkannya bagi hambahamba Tuhan di desa. Mungkin tidak hanya memberi uang saja tetapi juga berpikir ke depan, bagaimana membangun daerah, sarana dan prasarana serta SDM sehingga pendeta desa tidak lagi kesulitan, tambahnya.

    (Pinkan M. Indira, jemaat GBI Jemaat “Hotel Mutiara, Bandung)

    Perlu Bantuan dari Pusat

    Saat dimintai tanggapan tentang kesejahteraan pendeta, dengan tegas putri pendeta GPdI Gunung Kidul ini menjawab, “Kehidupan pendeta itu sejahtera karena mereka mencari donatur ke luar kota un­tuk membangun gereja dan kesejahteraan mereka. Itulah sebabnya me­reka bisa membangun gereja yang megah, Senada dengan yang lain, ia juga berpendapat jika jemaatnya sejahtera maka pendetanya ju­ga ikut sejahtera. Ia melihat kesejahteraan jemaat di desa cenderung kurang dibandingkan dengan yang di kota karena jumlah orang kaya di desa jauh lebih sedikit ketimbang kota. “Meskipun begitu, Majelis Daerah atau Pusat tidak pernah memberikan bantuan, tapi puji Tuhan, selalu saja ada orang yang tergerak hati untuk membantu kami, katanya penuh ucapan syukur. Ia lalu mengharapkan, “Sebaiknya Majelis Pusat lebih memperhatikan pendetapendeta yang ada di de­sa.

    (Rut Dianawati, jemaat GPdI di Gunungkidul, Yogyakarta)

    Optimalkan Peran PGI

    Menurut master alumni Cleveland State University ini, penyebab utama terjadinya kesenjangan adalah kurangnya interaksi dan komunikasi antargereja. Untuk meminimalkan kesenjangan itu, dibutuhkan persekutuan gereja lintas denominasi. Persekutuan semacam itu sudah lama tumbuh di Cleveland, Ohio, Amerika Serikat. “Ketika sekolah di Cleveland, saya melihat gereja di sana kompak. Hubungan antara satu gereja dengan gereja lainnya sangat guyub, yang kuat mendukung yang lemah, kata pria yang sedang melanjutkan studi doktornya di UGM ini. Untuk dapat menciptakan itu memang harus ada yang memulai. “Jika di Indonesia, dibutuhkan lembaga netral seperti PGI untuk menyatukan gerejagereja. Tidak perlu seluruh kota, tetapi dapat dimulai dari wilayah yang lingkupnya kecil dulu, usul ayah satu putra ini. Jika persekutuan ini sudah terbentuk diharapkan gereja menjadi tahu kondisi “saudaranya yang sebenarnya sehingga mereka tidak ragu lagi untuk membantu. “Selama ini jika mereka tidak saling membantu, itu disebabkan mereka tidak mengenal dengan baik satu sama lain, kata dosen yang memiliki hobi surfing di internet ini.

    (Wisnu Prajogo, MBA, dosen STIE YKPN, majelis jemaat GKI Gejayan, Yogyakarta)

    Sumber: http://www.bahanamagazine.com/nov2003/laput02.htm

    Sukses dan Skandal

    Penulis : Eka Darmaputera

    David McCracken dalam bukunya "GOD´S EMERGING LEADERSHIP", menuliskan pengamatannya yang jujur mengenai situasi umum gereja-gereja di abad 20. Tapi kita tahu, "kejujuran" saja tidak cukup.

    Kejujuran adalah kebajikan, ya, namun memerlukan kebijakan. "Kebenaran" juga butuh pakaian, tak bisa telanjang.

    Itu sebabnya racikan obat yang pahit, perlu dimasukkan ke kapsul atau dibungkus selaput gula. Supaya apa? Supaya tak terasa pahitnya, namun tanpa hilang khasiatnya.

    Menurut saya, pernyataan McCracken-walaupun benar-"terlalu terus terang". Bagaikan obat tanpa lapisan gula. Sebab itu, bagi sebagian, mungkin pahit.

    Ia mengemukakan tiga hal, sebagian "kabar baik", sebagian "kabar buruk". Mari kita mulai dengan "kabar baik"nya terlebih dahulu. Menurut penilaiannya, abad 20 yang baru berlalu ini, puji Tuhan, merupakan "abad pemulihan" dan "abad kebangkitan kembali"-rennaisance-gereja. Gereja-gereja Tuhan-sebagian, paling tidak-berhasil menemukan kembali dinamika dan vitalitasnya. Terjaga dari tidurnya yang lama.

    Kebangkitan ini, katanya, terutama dipicu oleh "ditemukannya kembali" makna dan dinamika KUASA ALLAH dan KARUNIA ROH KUDUS. Ya! Setelah sekian lama keduanya-kuasa Allah dan karunia Roh-itu, seakan-akan menghilang dari kehidupan gereja dan orang Kristen. Maksud saya, kehadiran dan dampaknya tak dirasakan atau memang sengaja diabaikan.

    MENGHILANG? Ya. Sebab tertutup serta tertimbun oleh rutinisme, formalisme, dan verbalisme gereja. Apa yang ia maksudkan dengan "isme-isme" itu?

    "Rutinisme" -secara sederhana-terjadi, ketika gereja secara mekanis hanya menjalankan apa yang "rutin". Artinya, apa yang telah "biasa" ia lakukan, dari waktu ke waktu-sejak dulu. Enggan mencari terobosan baru. Malas menjajaki rute-rute baru. "Begini saja sudah jalan, untuk apa susah-susah cari yang baru?!", dalihnya.

    Orang masih ke gereja pada hari Minggu, tapi tanpa penghayatan. Pokoknya, ini hari Minggu dan saya adalah orang Kristen, ya saya ke gereja. Bahwa di sana saya hanya "numpang tidur" itu lain perkara. Itulah, antara lain, ekspresi rutinisme.

    Yang kedua, yang disebut oleh McCracken, adalah "formalisme". Apa ini? Secara sederhana, "formalisme" dapat diterjemahkan sebagai sikap serba "resmi-resmian". Semuanya mesti serba resmi dan serba sah. Harus berjalan sesuai dengan ketentuan yang ada. Sampai ke titik-koma. Bagaimana pun situasi dan kondisinya.

    Ekstremnya begini. Ada orang mengalami kecelakaan hebat, persis di seberang sebuah gedung gereja. Ia membutuhkan darah segera, saat itu juga. Gereja sebenarnya bisa menolong, sebab mempunyai sejumlah donor.

    Namun ini tidak ia lakukan. Mengapa? Sebab "SK" untuk menolongnya belum ada. Sedang untuk menerbitkan "SK", mesti rapat dulu. Dan supaya rapat bisa mengambil keputusan yang sah, kuorum harus tercapai. Lalu untuk mengusahakan agar kuorum tercapai, maka undangan rapat sudah harus disebarkan paling sedikit tiga hari sebelumnya.

    Apa yang terjadi ketika akhirnya keputusan resmi dapat diambil? Pertolongan itu sudah tidak diperlukan lagi. Si korban telah mati, tiga hari sebelumnya. Yang ia butuhkan adalah darah, bukan "SK".

    Dengan "formalisme"nya itu, gereja bisa tetap eksis. O ya! Tapi eksis bagaikan "tugu". Kokoh dan menjulang. Namun selebihnya, cuma diam. Tak mampu berkiprah apa-apa. Tak berdaya untuk merespon kebutuhan.yang segera. Kaki dan tangannya tercencang oleh 1.001 macam peraturan.

    Akhirnya, yang ketiga, adalah "verbalisme". Diterjemahkan secara populer, "verbalisme" tidak lain adalah "cuman ngomongnya doang". Segala sesuatu seolah-olah beres, selesai, dan terlaksana dengan sendirinya, hanya karena telah di"omong"kan, diucapkan, diputuskan. Tidak satunya perkataan dan perbuatan.

    Gereja-gereja yang terperosok dalam "verbalisme", adalah gereja-gereja yang omongannya terbang membubung, dan pernyataan-pernyataannya tinggi melambung. Tapi praktiknya? Tingkah lakunya? Pelaksanaannya? Nol besar!

    Sikap seperti inilah yang membuat gereja acap kali bukan hanya "mandul" ke dalam, tapi sekaligus juga menjadi "skandal besar" ke luar. Ketika yang diteriakkan adalah "kasih", tapi yang ditebar adalah "kebencian". Yang dianjurkan adalah "rendah hati", tapi yang nampak adalah "arogansi". Yang diklaim adalah "keselamatan", tapi-seperti kata Gandhi-mereka kok tidak menunjukkan kelebihan apa-apa tuh.

    RUTINISME, formalisme dan verbalisme ini secara gradual membuat gereja seperti "mumi" -kelihatannya saja hidup, namun hakikatnya mati. Mati, sebab ia berubah menjadi tidak lebih dari sebuah "organisasi", bukan lagi "organisme".

    Sekadar lembaga atau jawatan, bukan lagi gerakan. Beku, karena ke"baku"annya. Spontanitas dimatikan, sebab semuanya mesti "tertib". Dan "ketertiban" diidentikkan dengan "keseragaman".

    Dalam gereja yang seperti ini, "kuasa Allah" dan "karunia Roh" tidak lagi mendapat tempat, apa lagi peran. Tata gereja dan aturan gereja lebih "berkuasa". Sampai "karunia Roh" pun harus lolos seleksi terlebih dahulu - lulus "fit and proper test". Apakah ia sesuai dengan rutinitas dan formalitas yang ada?

    Apa akibatnya? Tatkala kuasa Allah dan karunia Roh tersingkir dari gereja, maka yang tersisa hanyalah keterbatasan kemampuan manusia. Yang ada hanyalah rantai birokrasi yang panjang. Dan yang dominan adalah seperangkat aturan yang lebih memasung ketimbang menolong. Tatkala "kuasa Allah" dan "karunia Roh" lenyap dari kehidupan yang nyata, maka yang Anda temukan hanyalah "abu", bukan "api". Hanya "ampas" bukan "santan".

    MASIH herankah Anda, mengapa gereja ada dan kelihatannya bertumbuh, orang kristen pun banyak serta terus bertambah, tapi rasa-rasanya kok tak ada dampaknya yang berarti bagi sekitar? Anda tahu apa sebabnya? Sebab ia tidak mampu lagi menawarkan apa-apa yang baru dan menarik bagi dunia.

    Kehidupannya sendiri hanya menjadi etalase keboborokannya dan kelemahannya. Anda lihat sendiri, bukan, betapa gereja hampir selalu tertinggal? Nyaris selalu kalah bersaing dan berlomba? Tempatnya di belakang, di sudut, di pinggiran, yang tak berarti?

    Bukankah itu yang pernah, atau malah mungkin masih, kita alami? Ketika ibadah-ibadah terasa kering kerontang, sebab semua berjalan secara mekanis.Ketika kotbah-kotbah terdengar steril, tidak menyentak atau pun menyapa. Sebab yang dibicarakan begitu jauh dari persoalan nyata.

    Ketika hidup persekutuan begitu dingin walaupun gaduh. Seperti kerumunan orang banyak yang menunggu datangnya kereta. Cuma beradu badan, tapi tak bersentuh jiwa. Ketika pelayanan berlangsung rutin - kalau tidak ke panti asuhan ya rumah jompo; kalau tidak bagi-bagi pakaian bekas ya sembako. Dan ketika kesaksian kita semakin lirih tak terdengar, sebab memang tak ada pengalaman yang otentik dan nyata dari kehidupan pribadi yang pantas dibagikan.

    Itulah yang terjadi, ketika gereja dan orang kristen adalah semuanya dan segalanya, tapi minus kuasa dan karunia Allah. Bila yang ilahi itulah yang sirna maka, o, tolong beri tahu saya, apa lagi yang tersisa? Kecuali rutinisme, formalisme dan verbalisme tadi. Ketika itulah gereja menabuh genderang kematiannya sendiri.

    MENURUT McCracken, dua hal vital itulah yang, puji Tuhan. berhasil ditemukan dan dialami kembali. Berhasil diposisikan kembali ke tempatnya yang sentral dan vital. Maka inilah yang terjadi. Bagaikan ban yang kempis yang kini kembali diisi dengan udara, gereja-gereja menggeliat. Bagaikan tanaman yang menderita kekeringan cukup lama, kini bagaikan tersiram hujan semalam, gereja-gereja bangun. Bangkit. Dengan dinamika dan vitalitas yang baru.

    Kebangkitan ini, menurut McCracken, terutama terjadi melalui gereja-gereja Pentakosta dan gerakan kharismatik Mereka amat berjasa dalam mengembalikan Tuhan ke pengalaman nyata dan sehari-hari manusia. Tuhan yang rutin dan formal, menjadi Tuhan yang hidup! Kuasa-Nya tidak lagi sekadar menjadi konsumsi khotbah atau diskusi ilmiah semata, tapi hadir secara kongkret dalam kehidupan sehari-hari manusia.

    Itulah yang terjadi, ketika karunia nubuat, kuasa mujizat dan kesembuhan ilahi, dan sebagainya, memperoleh peran dan tempat yang mengemuka dalam kegiatan gereja. Iman diberi kebebasan mengekspresikan dirinya, dilepaskan dari belenggu rutinisme, verbalisme, dan formalisme, yang selama ini mengungkungnya. Spontanitas diberi kesempatan seluas-luasnya. Suasana menjadi hangat, hidup, dinamis! Suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, kita dengan gerakan-gerakan itu, bukti-bukti obyektif dari "jasa" mereka ini, tak dapat kita sangkal.

    Tapi apakah yang terjadi hanyalah "kisah sukses" melulu? Ternyata tidak! "Sukses" selalu bagaikan pedang bermata dua. Bisa menggairahkan orang semakin maju. Tapi juga dapat menjerat orang terperosok jatuh. Inilah dimensi yang harus selalu dicamkan dalam kehidupan, khususnya dalam kepemimpinan. Bahwa ada bahaya yang selalu mengintai, teristimewa di balik sukses. Inilah aspek berikut yang akan kita bicarakan.

    Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadsuks.html

    Tempatmu di Band Musik Tuhan

    Berpartisipasi atau Bertolak ?

    Penulis : Max Lucado

    Ketika berumur belasan tahun, dua tahun lamanya saya meniup tuba di marching band sekolah kami. Ibu saya ingin supaya saya bisa membaca musik, dan paduan suara sudah penuh, sedangkan marching band kekurangan peniup tuba, jadi saya ikut band. Ini memang tidak bisa disebut panggilan Tuhan, tetapi pengalaman itu tidak sia-sia. Saya belajar bahwa kalau kita tidak tahu musiknya, kita harus pura-pura tahu dan menempatkan bibir pada tuba daripada memainkan alatnya dan menghilangkan semua keraguan. Dan saya juga belajar beberapa fakta mengenai keharmonisan yang ingin saya teruskan pada Anda.

    Tempat saya dalam barisan di sebelah pemain drum bas. Wah, suaranya hebat sekali. Bum! Bum! Bum! Kedengaran berat seperti dalam goa dan mengguntur. Pada irama yang tepat dalam musik yang tepat, tidak ada bunyi yang lebih bagus dari bunyi drum bas. Bum! Bum! Bum! Dan pada ujung sisi saya berbaris seksi suling. Wah, musiknya menanjak tingi. Berbisik, terangkat, melayang ke arah awan.

    Di depan saya, di depan baris kami, terdapat terompet pertama. Anggota band seratus persen. Kalau yang lain berbuat hal-hal lain seperti naik mobil dengan kencang, ia main terompet. Dan memang kentara. Coba ia ditempatkan di lapangan. Ia bisa tiup terompetnya keras sekali. Ia bisa memberi semangat. Bahkan sedemikian rupa, sehingga ia dapat menyebabkan atap stadion terangkat -- kalau ada atapnya, dengan kata lain menyebabkan keributan besar.

    Bunyi suling dan terompet berlainan (Betul, kan? Saya banyak belajar dalam band itu). Suling itu berbisik. Terompet berteriak. Suling menghibur. Terompet memanggil. Tidak ada yang bunyinya seperti terompet -- dalam dosis terbatas tentunya.

    Orang hanya tahan ditiupi terompet untuk waktu tertentu. Setelah itu orang ingin mendengar buyui yang lebih lembut. Lebih manis. Anda perlu mendengar seruling kecil. Tetapi bunyi suling pun bisa menjadi sember kalau tidak ada irama atau kadans. Sebab itu diperlukan juga drum. Tetapi siapa mau mendengar drum saja. Anda pernah lihat band yang hanya terdiri dari drum bas? Anda mau ke konser dari seratus drum? Mungkin sekali tidak. Tetapi, band mana yang mau berjalan tanpa drum bas atau suling atau terompet?

    Suling lembut
    memerlukan
    terompet kuningan
    memerlukan
    drum yang mantap
    memerlukan
    suling lembut
    memerlukan
    terompet kuningan.

    Sudah jelas? Kata yang penting adalah memerlukan. Alat-alat ini saling memerlukan. Sendiri-sendiri mereka menghasilkan musik. Tetapi bersama-sama mereka menghasilkan pesona.

    Nah. Yang saya lihat pada band dua dekade yang lalu, saya lihat sekarang di gereja. Kita saling memerlukan. Tidak semua kita memainkan alat musik yang sama. Ada orang percaya yang mulia, dan yang lain kokoh. Ada yang mengikuti irama sedangkan yang lain memimpin band. Tidak semua kita menghasilkan bunyi yang sama. Ada yang lembut bunyinya, ada yang nyaring. Dan tidak semua kita mempunyai kemampuan yang sama. Ada yang membutuhkan berbunyi keras sekali. Ada yang perlu bermain di latar belakang memainkan musik dukungan. Tetapi kita masing-masing mempunyai tempat dalam band.

    Ada yang bermain drum (seperti Marta)
    Ada yang main suling (seperti Maria)
    Dan ada yang main terompet (seperti Lazarus).

    Maria, Marta dan Lazarus sudah seperti keluarga dari Yesus. Setelah Tuhan membangkitkan lazarus, mereka memutuskan untuk mengadakan pesta makan untuk Yesus. Mereka memutuskan untuk menghormatinya dengan mengadakan pesta itu untuk Dia (Yoh 12:2).

    Mereka tidak bertengkar tentang siapa harus mendapat tempat terhormat. Mereka tidak iri terhadap kemampuan masing-masing. Mereka tidak mencoba untuk saling menindas atau berlomba-lomba menunjukkan kehebatan mereka. Ketiga-tiganya bekerja sama untuk satu tujuan. Tetapi masing-masing mencapai tujuan itu dengan caranya masing-masing yang unik. Marta melayani; ia selalu menjaga agar setiap orang mengikuti irama. Maria menyembah; ia mengurapi Tuhan dnegan pemberian yang sangat mahal, dan aromanya memenuhi seluruh rumah. Lazarus mempunyai cerita dan ia sudah siap untuk menceritakannya.

    Tiga orang, masing-masing dengan ketrampilan berbeda, kemampuan berbeda-beda. Tetapi masing-masing bernilai sama. Coba pikirkan. Apakah keluarga itu dapat hidup tanpa salah satu dari mereka? Apakah kita dapat hidup tanpa salah satu dari ketiga itu dewasa ini? Apakah kita dapat hidup terus tanpa salah satu dari tiga serangkai itu?

    Setiap gereja memerlukan seorang Marta. Ganti itu. Setiap gereja memerlukan seratus Marta. Lengan baju sudah digulungnya, siap untuk melayani. mereka menjaga supaya semua berjalan menurut irama dalam gereja. Karena Marta Marta ini, keuangan gereja beres, pekerjaan yang perlu dikerjakan, dan gereja dibangun. Anda tidak suka kepada Marta sampai Marta tidak hadir, lalu semua Maria dan lazarus berlari kian kemari mencari-cari kunci, termostat dan overhead projector.

    Marta Marta ini adalah kelinci-kelinci berbaterai energizer gereja. Mereka berjalan terus saja dan terus lagi. Mereka menyimpan tenaga seperti seekor onta menyimpan air. Karena mereka tidak berusaha mendapat sorotan, mereka pun tidak hidup dari tepuk tangan orang banyak. Itu tidak berarti mereka tidak memerlukannya. Hanya mereka tidak kecanduan.

    Marta Mara ini punya misi. Sebenarnya, Marta Marta ini mempunyai kelemahan. Mereka cenderung mengangkat misi itu diatas sang Guru. Masih ingat apa yang dibuat Marta? Marta yang lebih muda mengundang Yesus yang lebih muda untuk makan malam. Yesus menerima undangan itu dan membawa murid-muridNya. Adegan yang dilukiskan Lukas ialah bahwa Maria duduk-duduk, sedangkan Marta geregetan. Marta marah karena Maria, aduh memalukan sekali, sedang duduk di kaki Yesus. Tidak praktis sama sekali! Tidak relevan! Tidak perlu! Maksud saya, siapa punya waktu untuk duduk dan dengar, padahal roti masih harus dibakar, meja diatur, dan jiwa-jiwa diselamatkan? Jadi, marta mengeluh, "Tuhan, apakah Tuhan tidak peduli Maria membiarkan say bekerja sendirian saja? Suruh dia menolong saya" (Lukas 10:40).

    Wah, bukan main! Sebal sekali kita. Tiba-tiba Marta berubah sikap dari melayani Yesus menjadi menuntut kepada Yesus. Suara-suara di ruangan terdiam. Para murid menundukkan kepala dan melihat ke bawah. Maria menjadi merah. Dan Yesus berbicara. Ia tidak hanya bicara kepada Marta dari Betania, tetapi kepada ssemua Marta yang cenderung berpendapat bahwa drum itu satu-satunya alat musik suatu band.

    "Marta, Marta!" jawab Tuhan, "Engkau khawatir dan sibuk memikirkan ini dan itu; padahal yang penting hanya satu. Dan maria sudah emilih yang baik, yang tidak akan diambil dari dia" (Lukas 10: 41-42).

    Rupanya Marta mengerti maksudh Yesus, sebab kemudian kita tahu bahwa ia sudah melayani lagi.

    "Di sana Yesus dijamu oleh mereka, dan Marta melayani. Lazarus dan taum-tamu duduk makan bersama-sama dengan Yesus. Kemudian Maria datang dengan kira-kira setengah liter minyak wangi narwastu yang mahal sekali. Ia menuang minyak itu ke kaki Yesus, lalu menyekanya dengan rambutnya. Seluruh rumah menjadi harum karena minyak wangi itu" (Yoh 12:2-3).

    Apakah Maria di dapur? Tidak, ia bermain suling untuk Yesus. Ia menyembah, sebab itu yang ia suka lakukan. Tetapi kali ini Marta tidak protes. Ia sekarang paham bahwa ada waktu untu kmemuji dan menyembah dan itulah yang dilakukan Maria. Dan apa bagian Maria pada makan malam itu? Ia membawa minyak wangi yang sangat mahal dan menuangkannya ke atas kaki Yesus, lalu mengeringkan kaki Yesus dengan rambutnya. Rumah itu penuh dengan harumnya minyak wangi itu, seperti bunyi puji-pujian yang memenuhi ruang gereja.

    Marta yang dulu akan memprotes. Tindakan seperti itu adalah pemborosan, terlalu mahal, terlalu berlebihan. Tetapi Marta yang sudah matang ini sudah mengerti bahwa seperti ada tempat unuk pelayanan pengorbanan, begitu juga ada tempat untuk pelayanan berlimpah ruah.

    Maria maria berbakat untuk memuji. Mereka tidak hanya menyanyi, mereka beribadah. Mereka tidak hanya ke gereja; mereka pergi untuk mempersembahkan pujian mereka. Mereka tidak hanya berbicra tentang Kristus; mereka memancarkan Kristus dari dirinya.

    Maria Maria ini kakinya yang satu sudah disruga, sedangkan kaki yang satu lagi di awan-wawan. Tidak mudah bagi mereka untuk turun ke dunia, tetapi kadang-kadang mereka perlu turun juga. Kadang-kadang mereka harus diingatkan bahwa rekening-rekening harus dibayar dan kelas menunggu untuk diajar. Tetapi jangan terlalu tegas mengingatkan mereka. Seruling itu benda halus. Maria Maria ini adalah jiwa-jiwa yang berharga dengan hati yang lembut. Kalau mereka sudah mendapatkan tempat di kaki Yesus, jangan minta mereka pergi dari sana. Lebih baik minta mereka untuk berdoa untuk Anda.

    Ity yang saya buat. Kalau saya bertemu dengan seorang Maria (atau Michael), saya langsung menanyakan, "Bagaimana saya bisa masuk daftar doa Anda?"

    Setiap gereja memerlukan beberapa Maria. Kita membutuhkan mereka untuk mendoakan anak-anak kita. Kita butu91 n mereka untuk membuat ibadah kita lebih bergairah. Kita butuhkan mereka menciptakan lagi pujian dan menyanyi lagu memuliakan. Kita butuh mereka untuk berlutut dan menangis dan mengangkat tangan mereka dan berdoa. Kita membutuhkan mereka karena kita sendiri suka lupa bahwa Tuhan menyukai ibadah. Maria Maria ini tidak lupa. Mereka tahu bahwa Tuhan ingin dikenal sebagai Sang Bapa. Mereka tahu bahwa tidak ada yang lebih disukai seorang bapa daripada melihat anak-anaknya duduk di kakinya dan meluangkan waktu bersama dia.

    Maria maria mahir dalam hal-hal seperti diatas.

    Tetapi mereka juga harus berhati-hati. Mereka harus sering merenungkan Lukas 6:46 ("Mengapa kaliang memanggil Aku, ´Tuhan, Tuhan,´ tetapi tidak melakukan apa yang Kukatakan kepadamu?").

    Maria Maria harus ingat bahwa pelayanan adalah ibadah.
    Marta Marta harus ingat bahwa ibadah adalah pelayanan.
    Dan Lazarus? Ia harus ingat bahwa tidak semua orang bisa main terompet.

    Soalnya, setahu kita, Lazarus tidak berbuat apa-apa pada malam makan-makan itu. Ia menyimpan tindakan-tindakan untuk nanti di luar rumah. Bacalah baik-baik Yohanes 12:9; "Banyak orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di Betania, jadi mereka pergi ke sana. Mereka pergi bukan saja karena Yesus, tetapi juga karena mereka mau melihat Lazarus yang sudah dibangkitkan dari mati olehNya. Itu sebabnya imam-imam kepala mau membuhun Lazarus juga; karena ia menyebabkan banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus." Lazarus diberikan terompet. Ia harus memberi kesaksian-kesaksian yang luar biasa!

    Pasti ia akan mengatakan, "Saya selalu orang baik. Saya selalu bayar rekening-rekening saya. Saya sayang adik-adik saya. Bahkan saya senang berada bersama Yesus. Tetapi saya bukang pengikut. Saya tidak dekat seperti Petrus dan Yakobus dan yang lain-lain. Saya menjaga jarak. Bukannya saya ada apa-apa dengan pribadinya Yesus. Saya cuma tidak mau dilanda emosi. Tetap ikemudian saya jatuh sakit. Dan mati. Maksud saya mati betulan. Tidak ada apa-apa lagi. Mati total. Tidak ada hidup. Tidak ada napas. Tidak ada apa-apa. Saya mati terhadap segala sesuatu. Saya melihat kehidupan dari dalam kuburan. Lalu Yesus memanggil saya keluar dari kuburan. Ketika Ia berbicara, jantung saya dan jiwa saya bergetar dan saya hidup lagi. Dan saya ingin supaya saudara tahu bahwa Ia dapat melakukan yang sama untuk saudara."

    Allah memberi Marta drum bas pelayanan. Allah memberi Maria seruling untuk pujian. Dan Allah memberi terompet kepada Lazarus. Dan ia berdiri di tengah-tengah panggung dan memainkannya.

    Allah masih tetap meberi terompet-terompet. Allah masih memanggil orang dari sumur yang dalam. Allah masih memberi kesaksian sejenis "cubit saya karena saya takut seang mimpi, yang terlalu bagus sehingga sulit dipercaya". Tetapi tidak semua orang mempunyai kesaksian yang dramatis. Siapa mau mendengar band yang penuh dengan terompet-terompet?

    Ada yang menyelamatkan mereka yang sesat. Ada lagi yang memberi semangat kepada mereka yang diselamatkan. Dan adalagi yang menjaga supaya semua berjalan menurut irama. Semua dibutuhkan.

    Kalau Tuhan memanggil Anda menjadi seorang Marta, melayanilah! Ingatkan kami yang lain bahwa penginjilan juga terjadi dengn memberi makan kepada orang miskin dan kita beribadah dengan merawat orang sakit.

    Kalau Tuhan memanggil Anda menjadi seorang Maria, melayanilah! Ingatkan kami yang lain bahwa kita tidak perlu sibuk-sibuk untuk menjadi kudus. Desak kami melalui contohmu untuk meletakkan klipboard dan microphone dan berdiam dalam ibadah.

    Dan kalau Tuhan memanggil Anda menjadi seorang Lazarus, bersaksilah. Ingatkan kami yang lain bahwa kita pun mempunyai seusatu untuk diceritakan. Kita pun mempunyai tetangga yang sesat. Kita pun sudah mati lalu dibangkitkan kembali.

    Kita masing-masing punya tempat di meja Tuhan. Kecuali satu. Ada satu di rumah Marta yang tidak mendapatkan tempatnya. Meskipun ia dekat yesus lebih lama dari yang lain, ia paling jauh dalam hal iman. Namanya Yudas. Ia pencuri. Ketika Maria menuangkan minyak wanginya, ia pura-pura beriman, "Mengapa minyak wangi itu tidak dijual saja ... dan uangnya diberikan kepada orang miskin?", katanya. Tetapi Yesus mengenal hati Yudsas, dan Yesus membela ibadah Maria. Bertahun-tahun kemudian, Yohanes juga mengenal hati Yudas dan ia menerangkan bahwa Yudas adalah pencuri (Yoh 12:6). Selama tahun-tahun ini Yudas selalu mengambil dari kas mereka. Alasan mengapa ia mau supaya minyak wangi itu dijual ialah supaya uang itu dimasukkan lagi ke kas mereka dan ia dapat mengambil lagi daripadanya.

    Akhir yang sedih bagi cerita yang dimulai dengan bagus. Tetapi tepat sekali penutupan itu. Sebab, di setiap geeja ada yang seperti Marta yang menyisihkan waktu untuk melayani. Ada lagi yang seperti Maria yang meluangkan waktu untuk beribadah. Dan ada lagi yang seperti Lazarus yang mengambil waktu untuk bersaksi.

    Dan ada juga yang seperti Yudas yang mengambil dan mengambil dan mengambil dan tidak pernah mengembalikan. Apakah Anda seperti seorang Yudas. Saya bertanya dengan hati-hati tetapi jujur. Apakah Anda dekat Kristus tetapi jauh dari hatiNya? Apakah Anda hadir pada makan malam itu tetapi dengan jiwa yang kesal? Apakah Anda selalu mengritik pemberian orang lain, namun Anda sendiri tidak pernah memberi? Apakah Anda mengambil manfaat dari gereja tetapi tidak pernah memberi kepada gereja? Apakah orang lain memberi penuh pengorbanan, sedangkan Anda kalau memberi pelit sekali? Apakah Anda seorang Yudas?

    Apakah Anda mengambil, mengambil, mengambil, dan tidak pernah memberi? Kalau begitu Anda adalah Yudasnya dalam cerita ini.

    Kalau anda seorang Marta, teguhkanlah hatimu. Tuhan melihat pelayanan anda.
    Kalau anda seorang Maria, bersemangatlah. Tuhan menerima pelayananmu.
    Kalau anda seorang Lazarus, tetaplah tegar. Tuhan menghormati keyakinanmu.
    Tetapi kalau anda seorang Yudas, hati-hatilah. Tuhan melihat keserakahan anda.

    Sumber: A Gentle Storm

    Urusan Politis, Urusan Gereja

    Oleh: Sefnat A. Hontong

    Pengantar

    Sebagai awal kata, saya harap artikel ini bisa berfungsi sebagai pengantar diskusi, yang bisa saja dianggap belum memadai. Selanjutnya, saya sadar betul bahwa judul seperti ini bisa dan pasti mengundang banyak kontroversial di antara kita. Namun jangan dulu terburu-buru menuding saya secara sinis, oleh sebab hanya judul artikel ini. Berikanlah kesempatan kepada saya untuk menguraikan apa yang saya pikirkan ketika membuat judul artikel ini.

    Pertama, yang saya maksudkan dengan arti kata ‘politik’ di sini adalah seperti yang dimaknai oleh Robert P. Borrong, yakni kata politik berasal kata Yunani: (politeia), yang menunjuk pada prinsip-prinsip dan tindakan-tindakan yang bersangkut paut dengan kehidupan umat, masyarakat dan negara atau ‘pengelolaan hidup umat, masyarakat dan negara’. Dengan begitu, maka pengertiannya melebihi pengertian yang sempit dan praktis, sebagaimana orang pada umumnya membaca dan memberi makna terhadap kata ini (politik). Jika ia (politik) adalah sesuatu yang bersangkut paut dengan kehidupan umat, masyarakat dan negara, saya yakin, tidak ada seorangpun yang bisa lepas dari apa yang dinamai politik.

    Kedua, adalah makna kata ‘urusan’. Kata ‘urusan’ berarti segala sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Dengan begitu, maka makna judul ini adalah: hal pengelolaan hidup umat, masyarakat, dan negara pada hakekatnya adalah juga pekerjaan dan tanggung jawab gereja. Dalam kata yang singkat: makna judul artikel ini adalah: politik itu bisnisnya gereja juga.

    Kisah Jokowi & JK Sebagai Kritik

    Pada bagian ini saya ingin membuka wawasan diskusi kita dengan menampilkan dua (2) kisah yang sangat menarik, yang diharapkan bisa mengantar kita berdiskusi di sekitar tanggung jawab agama (baca: gereja) dalam realitas politik. Pada tanggal 29 Mei 2013, Joko Widodo (Jokowi), Gubernur DKI Jakarta, akhirnya menghampiri para ulama dan majelis taklim di kota Jakarta dalam rangka mensukseskan program Kartu Jakarta Sehat (KJS) dan Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang meng-GRATIS-kan 100% biaya bagi rakyat yang tak mampu. Pendekatan Jokowi ini, selain sebagai bentuk sosialisasi, juga sebagai upaya menanggapi adanya sejumlah Anggota DPRD yang menandatangani Hak Interpelasi terhadapnya, karena tak setuju dengan program tersebut. Katanya: menurut Jokowi, para ulama dan majelis taklim di Jakarta dengan senang hati memenuhi permintaannya. Tidak lama lagi, demikian dilansir berita ini: Jokowi akan menghampiri tokoh agama yang lain, dengan maksud yang sama.

    Saya sangat senang membaca berita seperti itu, apalagi ada berita bahwa para ulama dan majelis taklim bersedia dengan senang hati memenuhi permintaan Jokowi. Pertanyaan saya ialah mengapa bukan yang pertama-tama Jokowi meminta kesediaan para pendeta untuk mendukungnya? Apakah karena ia lebih dekat dengan para ulama, karena ia sebagai seorang muslim? Atau jangan-jangan sudah pernah ia dekati, namun tidak diberitakan oleh media. Saya tidak tahu pasti. Namun bisa saja gambaran ini mau memperlihatkan kepada kita tentang gaya berteologi gereja-gereja di Indonesia yang tidak peduli dengan urusan-urusan sosial dan politik. Sehingga orang merasa sungkan meminta bantuan atau kesediaan gereja. Sebaliknya jika terdapat gedung gereja yang digusur atau disegel (seperti kasus GKI Yasmin), baru di situlah gereja hadir dan berbicara menuntut keadilan bahkan sampai ke ujung bumi. Dalam hal ini, tidak salah jika Jusup Kalla, mantan Presiden RI kita, akhirnya angkat bicara sebagaimana yang dilansir oleh Kompas tanggal 3 Maret 2013, sbb:

    “Jusuf Kalla yang kini menjadi Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) menanggapi secara tegas pertanyaan tentang GKI Yasmin, Bogor, di hadapan 700 ratus pendeta di Makassar: “Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia, tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini anda sampai bicara ke seluruh dunia? ….. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja, Tuhan tidak masalah kamu mau doa di mana. Izin Membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan Walikota,” begitu khasnya Jusuf Kalla dengan nada yang tinggi.

    Terlepas dari benar atau tidaknya pernyataan JK tersebut, bagi saya, komentar ini menarik dan memberi sebuah ‘gambar’ tentang model berteologi gereja-gereja di Indonesia yang sangat ritualistis. Saut Sirait mengatakan: inilah wajah gereja Indonesia yang linglung (hilang pikiran). Oleh karena dibentuk oleh tradisi teologis vertikal ala Belanda, akhirnya tumpul dalam reaksi dan respon secara horizontal dalam masyarakat. Akibatnya, kekristenan bukan hanya tidak memiliki kemampuan visioner dan antisipatif, tetapi juga sangat terseok-seok mengikuti arus perputaran perubahan politik. Dalam hemat saya, kita sedang membutuhkan sebuah pola beriman yang baru, yang berbeda dengan itu, supaya kita bisa berurusan dan peka dengan kompleksitasnya dunia politik.

    Kisah Jemaat Mula-mula Sebagai Solusi

    Memperhatikan dua (2) kisah dan kritik Sirait di atas, menurut hemat saya, sebagai gereja kita perlu belajar kepada kehidupan jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47. Teks ini menjelaskan tentang pola beriman umat yang saya sebut dengan pola beriman sosial-ritual. Artinya pola hidup beriman yang mendahulukan karya-karya sosial, politik, ekonomi (karya-karya melayani sesama lebih dulu, aspek social-politik-ekonominya), dan baru sesudah itu bersyukur dalam kebaktian (aspek ritualnya). Kesalahan terbesar dalam hidup menggereja kita selama ini adalah telah mengabaikan panggilan pada aspek sosial dan kemasyarakatan, dan hanya menekankan aspek ritual/kebaktian saja. Padahal, jika kita mengingat isi khotbah Yesus tentang ‘Akhir Zaman’, yang tertulis dalam Matius 25 ayat 34 s/d 40, kita akan menjadi sadar bahwa ukuran orang bisa menjadi ahli waris Kerajaan Sorga ialah apabila mereka dalam hidup ini sungguh-sungguh memperhatikan aspek social-ekonomi-politik (melayani orang yang lapar, yang haus, orang asing, telanjang, sakit, di penjara, alias orang-orang hina), ketimbang aspek ritualnya. Saya menyebutkan hal ini sebagai bisnisnya gereja juga.

    Dalam rangka itulah, saya berpendapat sudah waktunya kita beriman bukan lagi dalam pola ‘ora et labora’ (berdoa dan bekerja), sebab nanti hanya ‘ora’-nya (doa) yang diutamakan; pola beriman ritualistis. Namun harus dengan pola yang baru, yaitu: ‘labora nex ora’ (berkarya sosial-ekonomi-politik dulu, baru berdoa), maka yang terjadi nanti adalah kita akan bersungguh-sungguh mengutamakan karya-karya sosial kita dalam hidup ini. Lalu apabila tiba waktunya kita berdoa, maka doa kita akan sungguh-sungguh menjadi ungkapan rasa syukur kepada Tuhan, karena sudah memberi berkat dalam karya-karya sosial-ekonomi-politik kita itu; pola beriman sosial-ritual.

    Penutup

    Demikianlah secara singkat apa yang ingin saya katakan dengan judul artikel ini. Sebagai bentuk nyata bahwa urusan politis adalah urusan gereja, maka hal itu akan nampak pada kepedulian gereja membela orang-orang yang menderita dan sengsara oleh berbagai alasan, terutama karena alasan ketidakadilan dan ketidak-benaran. Memperhatikan mereka secara serius, sama dengan mengurus soal-soal politis.

    Referensi:
    Borrong, R.P. Etika Politik Kristen; Serba-Serbi Politik Praktis. Jakarta: PSE STT Jakarta, 2006.
    Hontong, S.A., Ora et Labora versus Labora nex Ora. Tobelo: Radar Halmahera tanggal 20 Mei 2013.
    Poerwadarminta, W.J.S. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 2006.
    Sirait, S. Politik Kriten di Indonesia; Suatu Tinjauan Etis. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.
    http://m.beritajakarta.com/home/read/54619/Soal-KJP-dan-KJS,-Jokowi-Minta-Dukungan-Ulama (diakses tanggal 31 Mei 2013)
    http://forum.kompas.com/nasional/257871-tanggapan-jusuf-kalla-mengenai-kontroversi-gki-yasmin-bogor.html (diakses tanggal 31 Mei 2013)
    http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/13/03/30/mkgerq-ini-hebatya-muslim-di-indonesia-menurut-jk (diakses tanggal 31 Mei 2013).

    Blog penulis: http://sefnathontong.blogspot.com/

    Workshop Music

    Penulis : Tommyanto

    Sabtu lalu, cukup beruntung bisa mengikut workshop paduan suara yg diselenggarakan di GKI Surya Utama.
    Sejumlah point yg mungkin menarik: Dari pembicara bapak Tommyanto:


    Workshop yg kmd diberikan menunjukan hasil yg menakjubkan. sebuah lagu dapat dikuasai dng cepat ketika setiap kali kesalahan dikoreksi.

    Tommyanto kandisaputra adalah director bandung choral society. yg juga voice supervisor elfa seciora serta conductor utk beberapa event choir olympic tk dunia.

    Berikut catatan lain:

    Ibu rev. esther nasrani. memberikan basic singing technique pada sesi pertama di kelas singing. benar-benar basic singing technique, dan seorang pakar pada bidangnya memberikan bobot penguasaan mendalam ketika penggalan-penggalan lagus tsb disampaikan dengan penguasaan yg mumpuni.

    Selama lebih dari 1.5 jam peserta dibuat terkesima dng penguasaan teknik & contoh2 "sederhana" yg demikian memukau. kidung2 jemaat yg sudah terlalu "biasa" menjadi untaian permata ketika itu dilantun dalam olah teknik vocal yg benar. rangkaian contoh suara dan penjelasan lisan tsb yg membuat materi2 kemarin sulit sekali direproduksi dalam tulisan. maafkan. berikutnya adalah kesan:

    Ada 3 point penting yg scr padat disampaikan: dukungan pernafasan yg tepat, tenggorokan terbuka & nada yg beresonansi. 3 pengertian sederhana itu tidaklah sederhana dalam penjelasannya. hampir satu jam pertama beliau menghabiskan waktu utk menjelaskan halaman pertama makalah yg diberikan.

    Ia menceritakan. sewaktu mengikuti program doktoralnya, ia secara khusus belajar pada dokter THT dan seluk beluk anatomi organ tubuh yg memproduksi suara. info ini cukup menjelaskan bahwa teknik vocal yg dia kuasai benar2 lahir dari pengetahuan yg benar & latihan yg terus menerus. menurutnya: umur & sejarah hidup seseorang terekam dan memberi warna pada suara yg dihasilkan.

    Ibu esther adalah dosen di beberapa sekolah tinggi musik gereja. kalau tidak salah beliau melayani di gereja baptis yg tgl 1 mei nanti -lagi2 sumber tidak resmi- gereja tsb akan mengadakan konser paduan suara utk sebuah acara internal mereka. masih cari info apakah acara ini terbuka utk umum atau tidak.

    Usai break makan siang. peserta sempat dimanjakan sejenak utk menikmati 10 lagu dari vox angelorum, "suara para malaikat"; http://www.voxangelorum.org dari muda-mudi katolik di paroki maria bunda karmel.

    Pada dua hari mendatang (22, 23 april) masih akan tampil penabur children chorus & diani chorus. selain pembicara lain spt Aris sudibyo, direktur musik univ kristen petra surabaya [yg tgl 30 nanti kelompoknya akan tambil di sarbini utk konser acara STT jakarta].

    Ibu chatarina leimena, dosen IKJ, seorang pakar yg cukup dikenal. dia pula dalam catatan tulisan disebut sbg salah satu guru vocal tommyanto dan kalau tak salah.... guru vocal KD.

    Dan juga menghadirkan christina mandang.

    Ditengah kesibukan dan rutinitas yg bising spt skr ini. olah vocal barangkali adalah sebuah cendela hidup yg menawarkan cakrawa dunia yg lain. ada sesuatu yg baru ketika peta atau daftar pencapaian tsb dibentangkan. kearah mana seseorang mestinya melangkah dalam pengembangan atau peningkatan olah vocalnya. bagi saya, justru ketika pertama-tama sebuah lagu hanya bisa kita nikmati seorang diri.

    wahai para pelantun suara, bersuaralah!

    Sumber: Tommyanto - GKI Surya Utama

    X-Fellowship

    Penulis : Donny A. Wiguna

    Ada berapa banyak gereja yang dapat kita jumpai saat ini? Banyak. Di kota Bandung saja, ada sebuah jalan yang terisi gereja di kiri dan kanannya sampai belasan, bila kita menyusuri jalan itu dari ujung ke ujung. Ada berbagai macam denominasi, berbagai cara dan gaya ibadah, hanya di satu jalan saja. Bagaimana dengan kota Anda? Tapi, mari kita simpan sebentar hal ini. Mari kita lihat, bagaimana permasalahan terjadi di dalam gereja.

    Ada gereja yang bermasalah dengan kurangnya pemain musik. Ada yang bermasalah dengan kurangnya pengajar-pengajar Alkitab. Ada yang bermasalah dengan kurangnya sumber dana, walau banyak jemaatnya memiliki bakat. Ada yang bermasalah dengan organisasi dan administrasi. Ya, kita tahu di setiap gereja selalu saja ada masalah kurang ini dan itu, bahkan dalam gereja yang cukup besar. Rasanya cukup sering terdengar seruan untuk berdoa kepada Tuhan dan memohon agar diberikan pengerja untuk ini dan itu, bukan?

    Jika kita menggabungkan kedua kenyataan di atas, apa yang terlintas dalam benak kita? Ada begitu banyak gereja. Ada begitu banyak masalah. Lalu bagaimana gereja-gereja menyelesaikan masalah-masalah ini?

    Beberapa waktu yang lalu, saya pernah menulis sebuah artikel tentang keberadaan berbagai macam gereja. Waktu itu pembahasannya berangkat dari posisi bahwa satu gereja dan gereja lain saling berlomba, seperti yang diarahkan dalam surat Ibrani. Setiap orang, juga setiap gereja, harus berjuang seperti dalam perlombaan yang diwajibkan Tuhan, untuk memberikan yang terbaik. Dibutuhkan suatu kesadaran untuk menata segala sesuatunya agar gereja dapat bergerak maju dalam perlombaan itu.

    Tetapi saat itu, yang terpikir oleh saya adalah kenyataan bahwa setiap gereja cenderung bergerak dengan kekuatannya sendiri. Perlombaan gereja adalah seperti perlombaan perahu layar, di mana setiap perahu memiliki awak masing-masing yang tidak berinteraksi dengan perahu lain. Jika ada kelebihan orang, di simpan sendiri. Jika ada kekurangan orang, di tanggung sendiri. Karena ini perlombaan, maka setiap gereja membuat acaranya masing-masing, yang sedapat mungkin menarik banyak orang. Di sini ada semacam perlombaan pula untuk mengadakan acara paling baik. Maka, bila ada sebuah gereja yang berhasil menyusun sesuatu yang baik dan menarik, ada kecenderungan gereja lain meniru acara atau program yang berhasil ini, dengan harapan gerejanya dapat melaju pula dan jemaat tidak perlu jajan ke gereja lain.

    Masalahnya, seringkali sebuah program yang berhasil merupakan puncak dari kerjasama berbagai faktor, baik orang, tempat, atau fasilitas, yang tersusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan acara yang menarik. Program dan rencana program bisa ditiru, tetapi infrastrukturnya tidak semudah itu disediakan. Perlombaan gereja menjadi ajang adu cepat memperoleh sumber-sumber yang bisa diandalkan masing-masing gereja untuk membangun infrastruktur masing-masing. Dan di sini sering muncul jalan buntu, karena ternyata Tuhan tidak senantiasa memberikan orang-orang yang paling kompeten kepada setiap gereja dan lembaga yang meminta kepada-Nya.

    Sebaliknya, jika kita perhatikan benar-benar, gereja-gereja terbentuk dengan suatu kapasitas khusus yang berbeda-beda. Ada yang muncul sebagai gereja yang sanggup menghadirkan program Pemahaman Alkitab yang berhasil. Gereja lain amat menonjol dalam bidang musik dan penyembahan. Yang lain mempunyai program yang kuat dalam konseling dan pelayanan pastoral. Yang lain lagi menonjol dalam pelayanan sosial. Malah kalau diperhatikan benar, rasanya tidak ada satu gereja pun yang kompeten dalam segala bidang, atau memiliki setiap alternatif fasilitas. Yang ada adalah gereja-gereja dengan keterbatasan dan kelebihan masing-masing.

    Kembali kepada masalah semula, antara begitu banyak gereja dan begitu banyak kebutuhan, mari kita pikirkan satu hal ini: apakah memang setiap gereja HARUS menyediakan semua program dan fasilitas yang dibutuhkan? Apakah sebuah gereja harus menjadi seperti sebuah hypermart yang mempunyai segala macam barang yang mungkin diperlukan dalam sebuah rumah?

    Keadaan kadang-kadang begitu mendesak, sehingga muncul suatu kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi sendiri. Apa yang dilakukan? Ada gereja yang kemudian berpaling ke luar, untuk mendapatkan semua kebutuhan dengan uang. Yang bekerja bisa siapa saja, dan tidak jarang mereka bukan orang Kristen. Ironisnya, tak jauh dari gereja itu ada gereja lain yang telah memiliki keunggulan dalam bidang yang dibutuhkan tersebut. Hanya saja, tidak ada orang yang pernah cukup dekat untuk menyadari keadaan, dan gereja-gereja benar-benar terpisah satu sama lain walau jarak fisiknya tidak lebih dari 5 km.

    Sekarang, mari kita melihat apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus tentang persekutuan atau fellowship:

    1 Kor 12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

    Nah, konteks ayat ini adalah pengungkapan pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Ada yang diberi karunia secara khusus dan berbeda, sesuai kehendak Allah. Perhatikan: keberadaan jumlah yang banyak tidak mencerminkan perpecahan atau keberadaan kekristenan yang terpecah belah, sebaliknya justru meneguhkan bahwa semuanya adalah bagian dari SATU tubuh yang sama, yaitu Kristus. Karena tubuh senantiasa terdiri dari berbagai-bagai anggota yang berbeda-beda, yang terspesialisasi untuk melakukan sesuatu, tetapi untuk melayani satu tujuan yang sama.

    Kita bisa mengatakan hal yang sama atas begitu banyaknya gereja. Ada banyak gereja, tetapi keberagaman ini mencerminkan satu tubuh Kristus yang utuh dan tidak terbagi. Setiap gereja merupakan BAGIAN dari satu kumpulan tubuh yang besar dan meliputi seluruh dunia, yaitu satu tubuh Kristus. Jadi, bagaimana dengan masalah kekurangan tadi? Mungkin sekarang nampak betapa anehnya keadaan ini: setiap gereja berusaha menjadi segala-galanya bagi jemaat, sementara pengajaran dan pengakuan imannya mengatakan bahwa gereja adalah kudus dan AM. Mengapa tidak saling membuka diri?

    Terpesialisasi Kalau dilihat lebih mendalam, banyak denominasi yang dicirikan oleh talenta tertentu yang dominan di dalamnya. Ya, ini memang bukan suatu penggolongan yang umum, melainkan suatu cara praktis untuk membedakan gereja. Misalnya begini: jika kita menemukan ada gereja yang mempunyai program penyembahan dan puji-pujian yang baik - nampak dari keseriusan latihan musik, penggemblengan song leader dan backing vocal, serta lagu-lagu yang kontemporer, mungkin kita sudah memiliki satu bayangan tentang gereja pentakosta atau kharismatik.

    Lain lagi jika kita menemukan ada program pembinaan teologia yang terarah, kelas-kelas Sekolah Alkitab Malam misalnya, serta kegiatan penginjilan yang terstruktur dan intensif berdasarkan pemahaman Alkitab. Bayangan yang kita miliki adalah tentang gereja injili atau gereja misionaris-reformis.

    Dan jika kita menemukan adanya program sosial serta organisasi sosial yang terstruktur dengan baik, dengan dukungan penuh atas kegiatan kemasyarakatan untuk mewujudkan kasih Allah secara sosial bagi siapa saja, mungkin kita memiliki gambaran tentang gereja-gereja prebyterian mainstream, seperti umumnya gereja protestan tradisional di Indonesia.

    Kita lihat, ini hanyalah contoh. Tentu ada banyak sekali variasi, misalnya ada saja gereja Pentakosta yang mempunyai kegiatan sosial yang intensif, tetapi hal itu lebih merupakan kekhususan, suatu diferensiasi. Malah mungkin akan nampak agak mengherankan, daripada dipahami sebagai sesuatu yang normatif untuk dilakukan. Bahkan mungkin, gereja Pentakosta yang melakukan itu tidak lagi dianggap sebagai gereja Pentakosta, apalagi jika namanya sudah tidak menunjukkan denominasi tertentu.

    Sekarang, apakah sebuah gereja cukup baik bila hanya kuat dalam pujian dan penyembahan saja? Atau hanya dalam program-program PA? Atau hanya dalam kegiatan sosial? Tentu, kesadaran hampir semua pihak mengatakan: tidak. Karena itu gereja-gereja sibuk memperlengkapi diri untuk mampu di segala bidang, tanpa melihat ke kiri dan ke kanan lagi. Tetapi kenyataan bahwa talenta yang Tuhan berikan menjadi suatu pokok yang terspesialisasi, tetap tidak dapat dilepaskan. Jadinya ya seperti itu tadi: menjadi bagian tubuh yang aneh dari Kristus.

    X-Fellowship Sudah waktunya, kesadaran gereja-gereja dibuka. Saat ini ada tiga hal yang menjadi faktor kunci, yang mungkin tidak kita temukan dahulu. Keseluruhannya menuju kepada suatu persekutuan, yang saya sebut X-Fellowship (baca: cross-fellowship). Mari kita lihat:

    Yang pertama, ada faktor teknologi komputer dan komunikasi yang kita kenal sebagai internet, yang dahulu tidak ada. Di masa lalu, komunikasi antar gereja kebanyakan merupakan kegiatan surat-menyurat, yang terbatas pada sekelompok kecil orang di gereja di dalam hubungan ecumenical. Tetapi saat ini internet memungkinkan informasi dari gereja yang satu dapat disampaikan ke gereja yang lain dalam hitungan detik. Dan hal ini bukannya tidak terjadi: buktinya, saat ini sudah ada puluhan milis Kristen Indonesia, dalam berbagai denomi110i dan pembahasan, yang meliputi seluruh dunia. Ada yang di Eropa, ada yang di Amerika, dan kebanyakan tentu saja di Indonesia.

    Begitu banyak milis, dengan anggota RIBUAN orang, tetapi kenapa tidak ada satu pun milis yang menjadi sumber informasi dan kerjasama antar GEREJA? Selain milis, ada lagi fasilitas web yang saat ini sudah mempunyai kemampuan interaksi yang amat baik, murah, dan relatif mudah dilakukan. Semua ini sebenarnya menyediakan jalan untuk membentuk suatu sistem saraf bagi kekristenan, di mana setiap gereja dapat mengambil bagian di dalamnya. Bisa terlibat dan berperan, tanpa perlu harus mengubah apa-apa, selain kesediaan untuk bersekutu dengan gereja lain yang berbeda.

    Yang kedua, ada faktor pluralisme, yang di saat yang sama justru menjadikan gereja lebih mudah melewati tembok-tembok denominasi. Coba perhatikan: saat ini, sudah ada tingkat penerimaan yang lebih besar antara jemaat yang satu dengan jemaat yang lain. Semakin banyak persekutuan antar-denominasi diadakan, bahkan dalam program-program bersama seperti yang diadakan Equip yang mengajarkan kepemimpinan. Jika dahulu jemaat "injili" tidak mau bergaul dengan jemaat "kharismatik" dan sebaliknya, hari ini penerimaan sudah lebih terbuka lebar satu sama lain.

    Di saat yang sama, kebersatuan antar-jemaat telah mengembalikan dasar-dasar kekristenan. Kini yang penting bukan lagi cara atau gaya dalam beribadah dan bergereja, melainkan ketaatan kepada Alkitab. Kita bisa melihat gerakan ini serupa dengan gerakan fundamentalisme yang terjadi awal abad 20, tetapi kini terjadi pada banyak denominasi. Mungkin ini adalah akibat langsung dari runtuhnya liberalisme dan modernisme, yang disusul oleh pandangan post-modern dan post-liberal. Tetapi filsafat serba-relatif seperti ini sama sekali tidak mempunyai dasar yang meyakinkan, dan jemaat kembali ke dasar-dasar keyakinan iman (dan fenomena ini sebenarnya terjadi di hampir semua agama, termasuk islam. Karena itu, kita saat ini melihat juga kebangkitan fundamentalisme Islam di Indonesia).

    Dengan berdiri di atas dasar yang sama, yang sudah lama tidak terjadi, persekutuan X-Fellowship mempunyai momentum yang besar, yang terjadi secara alami di mana-mana. Bagian kitalah untuk membuat gerakan ini menjadi lebih efektif, menciptakan sinergi yang tidak pernah terjadi sebelumnya.

    Yang ketiga, ada faktor tekanan ekonomi dan politik, yang menghapuskan pandangan-pandangan yang menyesatkan. Teologi kemakmuran, misalnya, yang mendapatkan landasan di saat booming ekonomi antara tahun 1988-1997, kini telah kehilangan dayanya. Orang Kristen jelas tidak menjadi lebih makmur daripada kebanyakan orang lainnya, sebaliknya tidak sedikit yang justru jatuh miskin! Demikian juga dengan teologi liberal, yang sebenarnya telah runtuh sejak Karl Barth mengeluarkan tafsiran surat Roma, juga kehilangan pendukung. Teologi post-liberal yang tidak jelas malah lebih sukar lagi diterima jemaat secara umum. Kebutuhan mendasar manusia di tengah-tengah kesulitan adalah mendapatkan kepastian keselamatan, sekalipun keselamatan itu belum nampak di dunia ini. Orang harus menginjak bumi, sekaligus melihat langit.

    Ada yang mengatakan, bahwa dari jaman ke jaman selalu saja ada tekanan. Tetapi saya ingin menunjukkan, bahwa kali ini tekanannya berbeda, karena saat ini terjadi globalisasi -- suatu hal yang belum pernah ada sebelumnya. Ada kadar intensitas, kompleksitas, dan periode yang terus menerus, menciptakan tekanan dari segala penjuru tanpa ada penyelesaian yang jelas. Perubahan terjadi amat cepat, melebihi waktu-waktu sebelumnya, menciptakan suatu kondisi hypercompetition di mana keunggulan dihancurkan sendiri oleh penciptanya demi membuat keunggulan baru.

    Tekanan-tekanan ini mendesak setiap gereja untuk memikirkan opsi X-Fellowship, karena sekarang tidak dapat lagi berjalan sendiri. Tak ada gereja yang dapat mengabaikan kerja sama dengan gereja lain. Maka, X-Fellowship bukan lagi pilihan, melainkan menjadi suatu keharusan!

    Implementasi Bagaimana melakukan X-Fellowship? Ini dapat menjadi pembahasan yang panjang. Sebenarnya harapan saya adalah suatu gerakan untuk mewujudkannya...dan sambil berjalan, kita memikirkan bagaimana melakukannya. Yang terpikir sekarang ini barulah tentang infrastruktur, tentang bagaimana membangun sebuah Pusat Data yang dapat diakses oleh gereja apa saja.

    Bayangkan, sebuah gereja kharismatik dapat membuka kelas pelatihan musik dan song leader bagi jemaat-jemaat dari gereja injili. Lalu ada gereja injili yang membuka kelas-kelas teologi dan PA bagi gereja kharismatik. Bidangnya bisa diperluas: materi sekolah minggu, pelayanan kesehatan (ada banyak dokter juga di gereja), kelas-kelas bimbingan sekolah untuk anak dan remaja, konseling dan terapi, bahkan termasuk bantuan untuk membuat arsitektur bangunan gereja! Semua ini menjadi bagian dari informasi -- ada gereja yang menawarkan dan ada yang membutuhkan, di mana yang memberi dan menerima bisa dipertemukan dengan sekejap mata.

    Tidak lagi sukar untuk mendapatkan tenaga-tenaga terspesialisasi -- selama setiap orang menghormati cara dan gaya orang lainnya. Seperti tubuh yang sesungguhnya, setiap bagian bisa bekerja melayani bagian lain tanpa harus berubah dari keadaannya sendiri, untuk melayani Tubuh Kristus berdasarkan Kepala yang sama - Tuhan Yesus Kristus.