Kesaksian

Artikel-artikel yang berisi kesaksian atau pengalaman hidup seseorang yang dapat dibagikan untuk memberkati orang lain.

(Artikel-artikel lain tentang kesaksian dapat dibaca di situs KEKAL)

200 Tahun Hans Christian Andersen

Penulis : Andar Ismail

TAHUN 2004 ini merupakan tahun persiapan menyambut perayaan "200 Tahun Hans Christian Andersen". Perayaan itu akan berpuncak pada tanggal 2 April 2005. Seluruh dunia akan merayakan "200 Years HCA". Siapakah Hans Christian Andersen? Apakah makna hidup dan karyanya? Hans Christian Andersen (selanjutnya: HCA) mengarang 156 buku cerita yang sudah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa. Bukunya disukai oleh tua dan muda di segala benua. Beberapa ceritanya sudah begitu meluas sampai orang tidak tahu lagi bahwa itu karangan HCA. Misalnya, cerita tentang raja yang keranjingan baju mewah sehingga tertipu membeli kain "begitu halus sampai tidak tampak" padahal sebenarnya ia telanjang bulat. Atau cerita tentang anak yang menyalakan korek api dagangannya sebatang demi sebatang untuk menahan dingin salju lalu batang terakhir menyala menjadi sinar dari sorga bersama neneknya yang menjemput dia.

Tahun ini penerbit di seluruh dunia sibuk mencetak ulang atau mencetak perdana buku-buku HCA. Selain itu, puluhan buku cerita akan digubah menjadi naskah sandiwara untuk dipentaskan oleh murid sekolah. Di Kopenhagen, Denmark, sebagai pusat perayaan "200 Tahun HCA" akan diluncurkan buku The Complete Works of HCA terdiri dari 18 jilid setebal 9.000 halaman langsung dalam berbagai bahasa.

Cerminan Realitas
Ciri pertama cerita HCA adalah unsur otobiografi. Di situ terselip secuil riwayatnya sendiri. HCA lahir dalam keluarga miskin pada tanggal 2 April 1805 di Odense, Denmark. Ayahnya tukang sepatu, ibunya tukang cuci.

Para pelaku cerita HCA tampil hidup karena mereka adalah simbolisasi orang- orang di masa kecil HCA. Di situ ada Si Baik dan Si Jahat. Hidup ini terdiri dari babak yang indah dan buruk yang silih berganti.

Contohnya terdapat dalam buku Siti Jempol. Siti Jempol lahir dalam kelopak bunga dan badannya hanya sebesar jempol orang. Angin dan arus air mudah menyeretnya. Dalam jalan hidupnya ada tokoh-tokoh yang menjahati dia, seperti Si Katak dan Si Kumbang. Namun banyak pula tokoh yang suka menolong seperti Si Kupu-Kupu dan Si Burung. Dalam buku Anak Bebek yang Jelek diceritakan penderitaan seekor anak bebek yang dicibirkan masyarakat, padahal kemudian ternyata ia sebenarnya seekor angsa yang anggun.

Terpuruk untuk Bangkit Kembali
Cerita-cerita HCA mengandung nilai edukatif. Pelaku cerita dihadang kendala dan krisis. Ia terpuruk. Kuncinya ada pada mental pelaku itu sendiri. Apakah ia cuma meratapi keterpurukannya? Apakah ia cuma berputar-putar di situ juga dan sibuk mencari kambing hitam? Apakah ia melarikan diri dari akar persoalan lalu mengurusi perkara sepele? Atau sebaliknya, ia punya sense of crisis, cepat bertindak mencari solusi dan bekerja keras memperbaiki situasi lalu bangkit kembali.

Banyak cerita HCA memandang penderitaan dan kejatuhan dari perspektif iman. Pelaku cerita bisa mencari dan menemukan hikmah di balik musibah. Allah bisa menjadikan suatu kegagalan sebagai sebuah pelajaran yang membuat kita lebih kreatif dan dinamis. Yusuf memakai perspektif itu ketika ia berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud..." (Kejadian 50:20).

Tamat Bukan Kiamat
Pelaku cerita HCA juga menghadapi realitas bahwa tidak ada keberhasilan yang abadi. Kita bisa naik ke bukit namun tidak bisa seterusnya ada di puncak bukit. Cepat atau lambat, semua akan tamat. Kiprah HCA pun tamat. Ia menjadi tua renta, sakit kanker dan tidak punya cukup uang untuk berobat. Ia meninggal dalam usia 70 tahun.

Penderitaan masa tua HCA tergambar dalam buku Pohon Cemara. Di situ diceritakan tentang sebatang pohon cemara kecil yang ingin cepat menjadi besar. Benarlah ia cepat bertumbuh menjadi pohon yang bagus. Lalu ia ditebang dan dijadikan pohon Natal di sebuah rumah. Seusai Natal ia dibuang ke luar dan diinjak-injak orang. Daunnya layu. Ia menjadi sampah buangan. Sambil menitikkan air mata ia berdesah, "Masa jayaku di hutan telah berlalu. Masa indahku sebagai pohon Natal juga sudah berlalu. Riwayatku sudah tamat. Tetapi aku tidak menyesal. Pada malam Natal di rumah itu, aku mendengar cerita Natal. Itu cerita bagus ..."

Riwayat pohon cemara itu sudah tamat. Namun hidupnya tidak sia-sia. Ia telah memberi diri untuk dijadikan pohon Natal. Sebaliknya, ia telah menerima diri Sang Tokoh cerita Natal.

Riwayat HCA pun sudah tamat. Namun cerita-ceritanya terus bergema ke seluruh dunia selama 200 tahun ini. Hari kelahiran HCA, yakni 2 April, kini dirayakan sebagai Hari Buku Anak Internasional (International Children"s Book Day).

Sumber: Suara Pembaruan Daily

Abraham Kuyper: Kesaksian Hidup Kristen Holistik

Penulis : S.P. Sinambela

"There is not a single inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is sovereign over all, does not cry: Mine!"
Itulah kalimat terkenal dari Abraham Kuyper yang masih terus menggema sampai saat ini. Dilahirkan 29 Oktober 1837 di Maassluis, Belanda, dengan ibu seorang guru dan ayah seorang gembala di Dutch Reformed Church.

Sebagai seorang mahasiswa muda di akhir 1850-an, Kuyper diajar berdasarkan pekembangan teologi modern Jerman dan Belanda yang sangat liberal. Kehidupan kampusnya dipengaruhi banyak oleh professor teologinya, J.H. Scholten (1811-1885) dan professor literaturnya, M. de Vries (1820-1892).

Salah satu pengaruh yang didapatnya adalah ketika Kuyper - atas undangan de Vries - berhasil menggondol medali emas dan penghargaan lainnya atas sebuah perlombaan penulisan essay yang bertema tentang perbandingan pemikiran Calvin dan J. A Lasco atas gereja. Dia menyelesaikan penulisan ini selama tujuh bulan, dan akhirnya keletihan dan tidak dapat mengikuti studinya. Dengan terpaksa, Kuyper mengajukan istirahat selama enam bulan. Dia akhirnya menyelesaikan studi dan paper tersebut dijadikannya disertasi doktoralnya (Th.D.) di Universitas Leyden, Belanda. Sebelumnya, Kuyper menyelesaikan tingkat sarjananya dalam bidang literature, filsafat dan bahasa klasik dengan summa cum laude.

Gembala yang Diubahkan
Kuyper menjadi gembala pada kongregasi pertamanya di sebuah desa, Beesd. Di sini Tuhan mengubahnya menjadi seorang beriman ortodoks melalui "sekumpulan kecil Calvinis keras kepala yang sudah ketinggalan zaman" yang sangat bertentangan dengan teologi liberalnya. Kumpulan orang-orang sederhana ini begitu kuat imannya dan pemahaman atas doktrin tradisional Calvin. Dalam setiap perbincangan, mereka membicarakan tentang Kebenaran Sejati yang telah menjadi abstrak dalam pemikiran Kuyper yang liberal. Kuyper mengungkapkan kesaksiannya atas jemaat tersebut dengan mengatakan:

"I did not set myself against them, and still thank my God that I made the choice I did. Their unwavering persistence has been a blessing for my heart... In their simple language, they brought me to that absolute conviction in which alone my soul can find rest - the adoration and exaltation of a God who works all things, both to do and to will, according to his good pleasure." (Louis Praamsma, Let Christ be King: Reflection on the Life and Times of Abraham Kuyper, Jordan Station, Ontario, Canada: Paideia Press, 1985.p.49)

Berangkat dari titik ini, Kuyper menjadi sangat dipakai Tuhan dalam pelayanan Firman Tuhan. Kuyper membentuk satu pengajaran Firman Tuhan dan pemahaman iman reformed ortodoks. Dengan pemahaman yang semakin dewasa secara biblical, Kuyper banyak mengadakan perubahan dalam Dutch Church dan masyarakat Belanda. Perubahan ini berpengaruh dalam penggembalaan gereja-gereja di Utrecht dan Amsterdam dan masih tersisa sampai pada abad ke-20.

Jurnalis
Kuyper menjadi editor-in-chief pada koran mingguan De Heraut (The Herald) mulai 1871 dan chief editor pada harian De Standaard (The Standard) sejak 1872. Melalui media ini Kuyper memberikan kepemimpinan yang jelas dan inspirasional yang sangat berpengaruh terhadap reformasi kekristenan - dari teologi yang liberal menuju teologi reformed di Belanda. Kuyper menulis kepada orang kelas bawah seperti petani, nelayan, dan pegawai toko sama-baiknya dengan dia menulis kepada guru-guru sekolah, pelajar, mahasiswa, gembala dan pebisnis. Pesannya singkat namun dalam: "prinsip-prisip Iman Kristen terhadap dosa, keselamatan dan pelayanan harus diaplikasikan dalam setiap area kehidupan untuk kemuliaan Allah."

Dalam sebuah komentarnya pada De Standaard tanggal 18 September 1877, atas sebuah pergumulan percaya dan ketidakpercayaan mengenai permasalahan konsep pendidikan publik dan pendidikan Kristen, Kuyper menuliskan,

"Those who have definitely broken with Christendom defend the religiously neutral public school with all their might. They may claim that such a school is not anti-Christian, but is what it promotes. Christians, on other hand, recognize that education in Christian virtues without Christ leads to doctrinal vagueness. They deny that Christian Education leads to rank intolerance. The Liberals in public express their hatred for Christian education, while many Christian schools witness to the truth of our claims."

Kuyper menghabiskan waktu hampir 50 tahun sebagai editor pada harian De Standaard. Dia menghasilkan kira-kira 4.700 tulisan pada harian ini, dengan berbagai topik mulai filsafat, teologi, pendidikan, politik dan budaya. Selain itu Kuyper juga menulis beberapa buku teologi, salah satu yang terkenal berjudul The Crown of Christian Heritage, yang aslinya ditulis dengan judul Lectures on Calvinism (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1931)

Politikus dan Negarawan
Pada tahun 1869, Kuyper bertemu dengan Green van Prinsterer, seorang Calvinis yang juga anggota parlemen. Dengan Prinsterer, Kuyper membentuk suatu partai politik modern bernama Anti-Revolutionary Party. Partai ini memiliki program politik yang mencakup semua bidang hukum publik, pergumulan sekolah, masalah penjajahan dan masalah- masalah sosial. Kuyper dan partainya juga mencetuskan penghentian penjajahan atas negara-negara koloni Belanda dan perbaikan kesejahteraan buruh industri. Di akhir 1901, partai ini meraih suara yang sangat besar di parlemen, yang mengantarkan Kuyper menjadi Perdana Menteri Belanda. Kuyper melayani dalam kapasitas ini sampai pada 1905.

Fitur karakteristik dalam pemikiran politik yang diperkenalkan oleh Abraham Kuyper adalah prinsip soevereignity in eigen kring atau dalam bahasa Inggrisnya Sphere Sovereignity. Sphere Sovereignity berimplikasi pada tiga hal: (1) Kedaulatan yang Mutlak hanya milik Allah; (2) semua kedaulatan yang ada di muka bumi berada di bawah dan diturunkan dari Kedaulatan Allah; (3) tidak ada satu kedaulatan di bumi yang lebih tinggi dari kedaulatan lain yang ada di bumi. Sphere sovereignity berfungsi sebagai cara untuk membatasi manusia dan institusi yang korup dan memberikan tuntunan dalam tindakan ketika konflik terjadi.

Pendidik dan Teolog
Selain mengajar di Free University, Belanda, yang dibentuk Kuyper untuk menghasilkan sarjana-sarjana menantang jamannya saat itu, melalui kuliah-kuliahnya di Princeton Theological Seminary dan Westminster Seminary Kuyper juga membuka wawasan teologia bagi dunia- berbahasa-Inggris dengan Stone Lectures, judul yang dibawakannya dalam mata kuliah Calvinisme. Kuliah ini adalah sebuah pemahaman komprehensif atas kekristenan yang ditarik dari tradisi Calvin. Stone lectures berisi enam diktat membahas tentang: (1) On Calvinism as a Life System; (2) On Calvinism and Religion; (3) On Calvinism and Politics; (4) On Calvinism and Science; (5) On Calvinism and Art dan (6) On Calvinisme and the Future. Dalam teologi, J. Gresham Manchen dari Baltimore dan Cornelius van Til adalah dua orang yang sangat dipengaruhi Kuyper Hampir semua hidup Abraham Kuyper dibaktikan untuk men-TUHAN-kan Kristus dalam segala aspek. Sangat sulit untuk menjumpai seorang gembala yang juga teolog, politikus, jurnalis, pendidik, ilmuwan, budayawan di zaman kita ini.

"Kuyper"s greatest legacy is the witness of a worldview - a witness that is greatly needed in our dying culture."
McKendree R. Langley

Akar Berani

Oleh: Sefnat A. Hontong

Suatu saat, anak saya yang kedua bertanya kepada mamanya: mama kira-kira ada ka tarada tu akar barani e... (mama kira-kira ada atau tidak akar berani itu)? Mamanya balik bertanya: ngana mo biking apa kong (kau mau buat apa dengan akar berani)? Ceh... tarada mama, kita cuma baba tanya saja (oh... tidak mama, saya cuma bertanya saja). Lalu mamanya berkata: akar berani itu ada. Dulu, orang tua-tua kalau dorang mo pi baku parang itu, dorang makang dulu tu akar barani, supaya dorang tara tako menghadapi musuh (di zaman dulu, jika orang hendak berperang, mereka selalu makan akar berani, supaya tidak merasa takut menghadapi musuh). Ceh... ada, mama??? Dimana???? (Oh ya.. ada mama? Dimana?), kata anak saya itu. Nampaknya dia mulai terposa dengan keterangan mamanya. Dalam hati, saya berkata: ini anak ingin sekali  akar ini (mengapa anak ini suka dengan akar itu). Saya lalu bilang ke mamanya, e.... ngana cek bae-bae dulu tu anak, biking apa kong dia tanya tu barang itu (ah.. periksa dulu baik-baik anak itu, mengapa dia bertanya mengenai akar berani). Ternyata setelah cek par cek (diperiksa), memang betul.... dia sangat membutuhkan akar itu, karena dia akan ujian praktek bernyanyi di sekolah. Kebetulan anak saya ini sangat sulit jika diminta menyanyikan sebuah lagu.

Nah, keberanian memang penting dalam hidup kita, asal jangan pake akar (pakai akar). Tetapi kalau mo pake juga tidak apa-apa (jika mau menggunakannya tidak apa), silahkan saja, 'kan yang penting beraninya, buka akarnya to? Tanpa keberanian, seseorang bisa gagal, hanya oleh karena sedikit tantangan. Anak saya tadi, jika tidak berani, pasti tidak lulus mata pelajaran kesenian. Padahal hanya soal menyanyi saja. Seperti kita yang tidak bisa bernyanyi di hadapan umum, kita tiba-tiba diminta menyanyikan sebuah lagu, pasti kita punya banyak alasan. Padahal intinya hanya karena takut, takut fals, takut ditertawakan, takut totofore, takut gugup, dll. Jadi, intinya keberanian sangat penting.

Warga jemaat mula-mula, sebagaimana yang diceritakan oleh teks Kis. 4:23-31 ini, dalam hemat saya, kelihatannya sedang mengalami sedikit soal mengenai keberanian. Hal itu nampak dalam Doa yang mereka sampaikan kepada Tuhan, yang tertulis pada ayat 29: "Dan sekarang ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hambaMu keberanian untuk memberitakan FirmanMu". Bisa terjadi ada Dua sampai Tiga situasi yang mempengaruhi isi Doa mereka ini.
Pertama, mungkin saja mereka merasa takut setelah mendengar cerita yang disampaikan oleh Simon dan Petrus Yohanes; yang baru saja dibebaskan dari Penjara dan Pengadilan Mahkamah Agama Yahudi, sebagaimana yang diceritakan dalam 4:1-22. Dimana mereka sungguh-sungguh dilarang dan diancam supaya jangan pernah lagi memberitakan nama Yesus di sekitar Yerusalem pada pasca Kebangkitan itu. Oleh karena itu, dalam doa mereka memohon agar rasa ketakutan itu dijauhkan dan diganti oleh keberanian.
Kedua, bisa terjadi isi Doa ini bukan didorong oleh rasa takut, tetapi sungguh-sungguh didorong oleh keyakinan bahwa apapun resikonya, mereka tetap dan terus memberitakan nama Yesus yang sudah Bangkit itu. Oleh karena itu, dalam doa ini, mereka meminta agar keyakinan mereka tidak pudar, tidak loyo, dan tidak berubah, karenanya butuh keberanian yang total untuk maju.
Tetapi yang Ketiga, bisa juga terjadi pada saat itu mereka sedang marah besar, setelah mendengar berbagai ancaman yang diceritakan oleh Simon Petrus dan Yohanes. Bahwa seolah-olah mereka dianggap remeh dan enteng oleh para pemimpin agama Yahudi, sehingga memohon keberanian untuk melawannya.
Namun apabila kita terus membaca kisah ini terus sampai pada ayat 31, yang berbunyi: "Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan Firman Allah dengan berani". Agaknya yang lebih cocok adalah situasi yang Kedua, yakni isi Doa mereka bukan didorong oleh rasa takut, tetapi sungguh-sungguh didorong oleh keyakinan yang sungguh bahwa apapun resikonya, mereka tetap dan terus memberitakan nama Yesus yang sudah Bangkit itu.
Latar belakang isi Doa mereka yang seperti itu, juga cocok apabila kita menerjemahkannya langsung dari naskah asli Alkitab, yang kira-kira berbunyi sbb: "Dan sekarang ya Tuhan, lihatlah pada ancaman-ancaman mereka, dan berikanlah kepada hamba-hambaMu dengan segala keberanian dan keyakinan mengatakan dihadapan umum tentang Kabar Baik itu". Jadi mereka sebenarnya tidak takut, mereka tidak grogi, mereka tidak gugup, mereka tidak putus asa, mereka tidak hilang harapan, walau dibuntuti dan diikuti oleh berbagai ancaman. Isi doa mereka ini sebenarnya menunjukkan bahwa mereka sungguh-sungguh berani, dan atas dasar keberanian itu mereka memohon agar direstui dan dikawali oleh Tuhan yang telah menganugerahkan keberanian itu kepada mereka. Lalu penginjil Lukas mencatat: hal itulah yang sudah terjadi, dimana dengan sangat berani mereka terus memberitakan nama Yesus yang bangkit itu, di tengah-tengah ancaman dan tekanan dari para pemimpin agama Yahudi.
Keberanian yang dinampakkan oleh warga jemaat mula-mula itu tidak akan bisa dihasilkan oleh akar barani. Keberanian seperti ini hanya bisa dimiliki seseorang apabila ia hidup dalam keyakinan yang penuh kepada apa yang ia anggap sebagai kebenaran. Tanpa akar berani-pun keberanian model itu bisa kita miliki, syaratnya hanya satu, yakni: yakin pada apa yang kita yakini sebagai kebenaran.
Jika kepada Anda orang Kristen ditanyakan, apakah yang dimaksudkan dengan kebenaran itu? Saya yakin Anda akan menjawab sama seperti yang Simon Petrus dan Yohanes katakan dalam Kis. 4:12: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini, tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita dapat diselamatkan". Tetapi apakah hanya pemahaman menegenai kebenaran yang kita yakini? Tidak ada lagikah aspek lain, selain aspek yang ini?
Dalam hemat saya, kebenaran bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat dunia, tidak usah kita perdebatkan dan persoalkan, ini adalah harga mati secara iman Kristen. Namun agaknya, hal itu belum lengkap, jika tidak disertai dengan sebuah kebenaran lain, yang juga sangat ditekankan oleh Yesus dan cara hidup jemaat mula-mula, sebagaimana yang tercatat dalam Kisah Para Rasul. Dan bagi saya, aspek yang satu ini, sangat membutuhkan keberanian dari kita; baik untuk mengatakannya maupun untuk menghayatinya dalam hidup menggereja kita. Tanpa keberanian ini, saya pastikan hidup menggereja kita, tidak akan pernah utuh dan lengkap, sebagaimana yang dikehendaki oleh Yesus Kristus sang Kepala Gereja.
Hal itu adalah, aspek pelayanan sosial/diakonal yang sejauh ini belum menjadi perhatian serius dalam hidup menggereja kita. Dalam sebuah buku, yang sedang saya persiapkan untuk diterbitkan, saya antara lain menulis ini: sudah lama orang Kristen merasa dirinya dekat dengan Tuhan, bahkan nyaris menjadi satu-satunya orang beragama yang dipercaya melaksanakan urusan-urusan Tuhan di dalam dunia. Rasa itu, selain nampak dalam doa yang disampaikannya, misalnya: menyapa Tuhan sebagai Bapanya sendiri dan bapa orang Kristen saja, juga dalam sikap memandang remeh penghayatan iman orang beragama lain, sebagai yang sesat dan perlu ditobatkan, yaitu dengan cara mau menjadikan mereka sebagai anggota gereja.
Sementara pada pihak yang lain, jangankan di luar lingkungan gereja, di dalam lingkungan gereja sendiri ada banyak warga yang tidak sehat, putus sekolah, tinggal di gubuk derita. Ada juga yang suka mabuk-mabukan, gunakan narkoba, suka jalan-jalan ke tempat 'hiburan malam' karena bebas menggunakan duitnya. Paling banter dari semua itu adalah ternyata ada juga beberapa orang yang menjadi preman, PSK, pengedar togel dan koruptor untuk membiayai hidupnya.
Pertanyaan saya ialah: apa arti semua ibadah ritual kita kepada Dia sang Juruselamat, namun dalam penghayatan hidup hari-hari dalam hidup menggereja kita, kita tidak pernah menyentuh hidup sesama kita yang sedang dalam penderitaan dan pergumulan hidup? Perhatikanlah isi Doa jemaat mula-mula dalam teks Kisah Para Rasul 4:30a "Ulurkanlah tanganMu untuk menyembuhkan orang". Doa mereka adalah Doa untuk pelayanan terhadap sesama. Doa mereka adalah Doa yang tidak sebatas dalam acara ritual saja, namun untuk pelayanan diakonal. Perhatikan juga cara mereka hidup seperti yang tertulis dalam ayat 2:42 akhir & 46-47a. Ayat 42 (akhir): 'Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa'. Ayat 46 (akhir) s/d 47 (awal): 'Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah (bisa berarti: berdoa)'. Dari sini ada dua aspek penting yang perlu disimak secara serius, yaitu: (1) aspek memecahkan roti dan makan bersama-sama, dan (2) aspek memuji Allah atau berdoa. Aspek memecahkan roti dan makan bersama-sama, adalah aspek diakonal/sosial, dan aspek memuji Allah atau berdoa adalah aspek ritual. Yang menarik di sini ialah justru aspek diakonal/sosial-lah yang disebut lebih awal, baru sesudah itu aspek ritualnya.
Artinya apa? Artinya ketika dalam hidup ini kita melakukan pelayanan diakonal/sosial, hal itu sekaligus merupakan wujud dari nilai-nilai yang kita hayati dalam acara ritual kita. Di sini, pelayanan sosial menjadi wujud nyata dari ritual kita dalam konteks sosial. Begitu pula sebaliknya, apabila kita berritual, hal itu menjadi wujud kesadaran perlunya pelayanan-sosial dalam hidup beriman kita dalam konteks liturgis (baik pribadi maupun persekutuan). Di sini, ritual kita menjadi wujud nyata dari kesadaran sosial dalam konteks liturgis.
Kedua hal itu (sosial dan ritual) tidak bisa dipisahkan, apalagi dibedakan; keduanya adalah satu yang dibentuk oleh makna keduanya juga. Hidup beriman yang hanya menekankan ritual, pasti akan membawa ketimbangan; tidak saja dalam kehidupan sosial, namun juga dalam hidup beragama itu sendiri. Sebaliknya, jika hanya menekankan pelayanan sosial semata-mata, tanpa peduli dan menghiraukan ritual adalah wujud hidup beragama yang kering dan tandus tanpa spiritual.
Perhatikan juga maksud perumpamaan Yesus tentang Orang Samaria yang Murah Hati dalam Lukas 10. Siapakah yang akhirnya masuk Sorga dari antara seorang Imam, seorang Lewi dan seorang Samaria? Dalam Luk 10:25b dikatakan, ternyata yang masuk Sorga adalah Orang Samaria, yang konon dianggap sebagai orang yang tidak mengenal Allah. Mengapa ia masuk Sorga? Karena ialah yang melayani orang yang sedang sekarat di pinggir jalan itu.
Dalam konteks hidup menggereja, wujud penghayatan model hidup beriman seperti ini berarti kita tidak sekedar mau menjadikan orang lain menjadi warga dan anggota gereja saja, namun harus melayani mereka dengan Kasih yang tanpa batas. Terutama kepada mereka-mereka yang sedang tidak sehat, sudah putus sekolah, tinggal di gubuk derita, yang suka mabuk-mabukan, yang menggunakan narkoba, preman, PSK, pengedar togel dan koruptor. Agar sekalipun perlahan-lahan, mereka bisa keluar dari lingkungan yang membelenggu itu, agar bisa menerima nuansa hidup bebas di dalam Kasih Kristus yang memberdayakan. Untuk melakukan hal semacam ini, dalam hidup menggereja kita, tidak perlu susah-susah mencari akar berani, yang perlu adalah keberanian untuk mengaturnya dalam program-program pelayanan di jemaat-jemaat kita.

Aku Harus Pergi

Oleh:Walsinur Silalahi

Waktu umur pernikahan kami menjelang lima tahun dan anak-anak sudah mulai sekolah,isteri saya banyak memberikan waktunya hanya kepada anak-anak.Kami tdk mempunyai pembantu,sehingga isteri saya sendiri bekerja ngepel lantai rumah,mencuci,seterika dll. Seringkali dia bekerja hingga larut malam. Badannya mulai kurus,tdk secantik dulu lagi dan setiap hari kelihatan capek. Suatu hari saya melihatnya sedang membersihkan tumpukan pakaian kotordi kamar mandi.Dahinya basah oleh cucuran keringat. Lalu aku pelan2 menghampirinya dan tiba2 aku peluk tubuhnya dan berkata:"Ma,biarkan aku membersihkan pakaian2 kotor ini".Dia tersenyum,dan mempersilahkan saya meneruskan pekerjaan mencuci.

Begitulah saya membantunya pada saat2 libur.Setiap saya membantunya senyumnya selalu menghiasi wajahnya.Aku turut senang dan bahagia. Tetapi suatu ketika saya kecewa berat dibuatnya.Kejadiannya pada suatu Minggu,setelah mencuci pakaian dan menjemurnya sampai kering. Karena saya merasa lelah,saya tiduran di sofa,dan dia langsung melihat hasil cucian saya.Tiba2 dia berteriak keras dan marah:"Pa,koq cuciannya masih kotor?",coba lihat nih,katanya sembari menunjukkan saku celana anakku.Ternyata memang masih ada ditemukan kotoran berupa pasir. Kesalahan saya saat itu,tdk mebuka saku celananya. Ya, deh..aku ngaku salah,,jawabku kepada sang isteri.Dia mengambil semua pakaian yg sdh kering itu dan memasukkannya lagi ke ember untuk dicuci."Mengapa semua mama ambil?"tanyaku !,Dia diam,dan sambil berjalan dia berkata:"kalau papa tdk dari hati mengerjakannya,biarlah mulai saat ini,papa tdk usah membantuku."Biarkan saja saya yg mengerjakannya"

Mulai saat itu hubungan kami sebagai suami/isteri terganggu.Dalam hatiku,aku berkata:"Biar saja,aku bantu koq,gak diterima. Karena kesibukannya terus-menerus,sehingga perhatiannya terhadapku juga berkurang.Tadinya,kami biasa bersenda gurau,sdh tidak ada lagi canda..Mukanya yang tdk ceria membuatku tdk betah dirumah.Saya sengaja pulang dari kantor malam hari,agar langsung istirahat tidur. Setelah jam kerja usai,saya biasa dating atau curhat kepada teman satu kelasku dulu di Sumut.Dia seorang wanita yg butuh perhatian dari seorang pria.Wanita tsb belum menikah karena tdk ada pria yang menaksirnya berhubung sebelah kakinya lumpuh sejak kecil.Keluarganya termasuk orang berada.She is chinese girl.Aku pernah minta tolong kepadanya untuk mengirimkan kue putu medan dan mika ambon ke rumahku. Alamat dan nomor telepon rumah juga kuberikan kepadanya.Nama temanku itu si " Ong Lie".Kami saling curhat ttg suka maupun duka.Dia benar2 sahabat yang baik,dan selalu memberi solusi bila aku kesukaran.

"Bang",aku tadi sdh mengirimkan pesananmu ke alamatmu,katanya dalam teleponnya.Aku senang,dan hari itu aku bergegas pulang ke rumah Sampai dirumah,aku melihat isteriku menangis diatas korsi."Mengapa mama menangis?"tanyaku.Dia langsung berdiri,dan memarahiku:"Ternyata kamu punya simpanan isteri ya..dia menuduhku.Mika ambon dan putu medan terletak diatas meja.Itu buktinya,kiriman dari isterimu yang di Medan..dia menunjuk kearah kiriman itu...Oh..itu yang bikin kamu marah toh? Mengapa isteriku menuduh demikian?Ternyata sebelum aku tiba Ong lie bertelepon ke rumah menanyakan kiriman tsb apakah sdh sampai.Yang angkat telepon isteriku sendiri yang mengaku sebagai adikku. Pengakuan Ong lie sendiri kepada isteriku bahwa dia hanya sahabat.tetapi isteriku tdk percaya. "Saya harus pergi menemuinya,kata isteriku" Besoknya, pagi2 sekali,isteriku pergi ke Medan menemui Ong lie dengan pesawat Adam Air.Buru2 aku hubungi Onglie,agar tdk kaget menghadapi isteriku nanti.Katakan saja apa adanya tentang hubungan kita sebagai sahabat ,kataku kepada Ong lie.

Isteriku sampai di Medan,dan langsung menuju alamat sebuah bangunan mewah,isteriku mengetok pintunya.Seorang gadis cacat mempersilahkan masuk.Isteriku mengira dia adalah pembantu di rumah mewah itu.Aku ingin bertemu dengan Ong lie,kata isteriku. Ibu siapa?,tanya Ong lie. Oh..Saya datang dari Jakarta,saya ingin bertemu dengan Ong lie,kata isteriku mendesak. Sayalah yang bernama Ong lie,kata sahabatku itu.Isteriku tdk percaya mendengar jawabannnya.Setelah berkali-kali dikatakan,isteriku baru percaya dan menanyakan ttg hubungan kami.Bu,kami hanya sahabat biasa,kata onglie.Isteriku baru yakin bahwa kami hanya sahabat biasa,dia bukan isteri gelapku.Begitulah seorang isteri,bila tdk mempercaya suaminya,akhirnya mengeluarkan biaya yg tdk sedikit untuk mencari kepastian. Seorang isteri bila tdk memperhatikan suaminya,maka suami bisa mencari teman yang dapat memperhatikannya.Untung suami pergi ke sahabatnya,bukan mencari jalan yang salah atau meninggalkan isterinya. Mulai saat itu isteri mulai memperhatikan suami dan kebahagiaan yang hilang spt canda,senda gurau,pelukan..kami raih kembali.

Anak-anak Gunung

Penulis : Daniel Alamsjah

Suatu pagi dibulan Februari yang cerah, jam baru menunjukan jam 6 pagi Anak-anak sudah rapi bergerombol didepan gereja dengan seragam dari TK, SD dan SMP. Mereka adalah anak-anak sekolah minggu yang ingin berangkat ke sekolah Dari wajah2 mereka sangat ceria setelah melewati liburan hari minggu, Mereka membiasakan diri berdoa digereja sebelum berangkat ke sekolah yg berjarak 3 km Pagi itu aku berniat bersama-sama mereka untuk pulang setelah pelayanan semalam di desa.

3 tahun yl, Tuhan memanggilku untuk masuk desa ini dalam pelayanan perintisan mereka yang saat ini duduk di SMP masih di SD, adik2 mereka belum bersekolah.. aku ingat diantara mereka masih ada yang bersandal pergi ke sekolah waktu itu. Puji Tuhan kini mereka semuanya sudah bisa bersepatu seperti anak2 dikota, Ada 4 anak yg baru masuk TK kecil bersama-sama kakak-kakaknya. Sepeda ontelpun belum bisa digunakan untuk daerah ini, Biasanya ku masuk desa ini dengan Taft tuaku tahun 81.. Karena terlalu seringnya keluar masuk desa, turun naik gunung,saat ini sering rewel, Minggu ini aku terpaksa harus naik kendaran umum, berjalan kaki utk sampai didesa.

Hatiku kagum memuji Tuhan.. melihat anak-anak ini yang begitu riang gembira menapakkan kakinya ditanah setapak yg masih lembab karena guyuran hujan semalam, mereka sudah menjadi bagian dalam hidupku, terbesit dalam pikiranku, kalau saja anak-2 dikota tinggal didaerah seperti ini pasti mereka tidak bisa kesekolah, karena mereka bukan seperti anak-anak gunung, dikota- anak2 sudah terlalu dimanja, anak2 desa ini mereka sudah terbiasa harus melewati jalan2 setapak yang curam, turun naik perbukitan, melewati sungai dengan jembatan bambu, karena harus memotong pintas kejalan raya yang terdekat. Lia yang terkecil baru berusia 4,5 tahun, aku ter-kagumkagum melihatnya, ia ber-lari2 tidak nampak keletihan, usiaku yang sudah memasuki kepala enam, dengan nafas yg tersengal-sengal ketika harus melewati jalan yang mendaki, anak-anak harus menunggui aku beberapa kali

Ketika berada didesa jemaat ada yang bercerita baru2 terjadi terhadap penduduk yang sedang mencari rumput ditebing gunung, karena terpeleset masuk kedalam jurang dan ditemukan sudah meninggal dunia. Hatiku pagi itu hanya bisa ber-teriak2 kepada anak2 yang berjalan di-muka hati-hati, karena aku sendiri telah beberapa kali terpeleset ingin jatuh. Setiap pagi pergi sekolah dan pulang sekolah mereka harus melewati jalan2 tikus yang membahayakan itu untuk memotong jalan pintas yang terdekat dari desa mereka ke jalan raya, kemudian dari jalan raya baru mereka menantikan kendaraan umum yg akan membawa mereka kesekolah

Tuhan, tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka, Engkau yang menjaga langkah2 kaki mereka agar tidak terjatuh, bahkan kehidupan mereka kelakjadikan mereka menjadi anak-anakMu yang berhasil untuk membangun keterbelakangan desa mereka. Amin

Arti Sebuah Pengharapan

Penulis : Joshua MS

Semilir angin bertiup. Aku mencoba untuk tetap terlihat tenang. Koridor Rumah Sakit PGI Cikini murung dan kaku. Sekali aku kaget ketika seorang berteriak keras. Satu kali lagi aku merinding karena seorang menangis tersedu-sedu sambil memegang ponsel kuat-kuat. Kali ini aku benar-benar bergidik ngeri.

Ruangan yang penuh alat-alat menyeramkan bergantungan di dinding putih. Beberapa bunyi aneh mengikuti garis-garis di monitor terasa sangat menyiksa. Kalau bisa, aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan aneh dan asing ini. Bergegas aku meninggalkan ruangan M2. Seorang Efendy Troy Sitorus, SH terbaring lemah di balik kaca ruangan cuci darah. Sudah hampir dua jam dia menjalani proses cuci darah di sana. Walau dia mencoba tersenyum, aku tahu dia menderita kesakitan yang tak tergambarkan. Perlahan aku mengalihkan perhatian. Aku tidak mau kegundahan hatiku tergambar jelas di matanya. Seorang perempuan 50 tahun, Ibu yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang seorang notaris muda yang memiliki masa depan cerah. Saksi dari seorang Efendy Sitorus yang seharusnya duduk di kantor menangani banyak order dari klien, tetapi sekarang terkapar tak berdaya. Sebuah riwayat penyakit berantai membelenggunya. Seolah enggan pergi, penyakit itu begitu erat dan kuat mencengkeram. Penyakit itu seperti sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya.

"Dia anak ke-2 dari 6 bersaudara." Ibu Sitorus berupaya untuk memulai pembicaraan pastoral dengan aku. Ini menjadi sedikit berbeda karena tidak dilakukan di kantor gereja sebagaimana biasanya. Koridor rumah sakit yang lengang menjadi sebuah pilihan untuk duduk dan bercerita dengan seorang ibu yang tertatih dalam tuntutan memikul salib. Mengikut Kristus dalam perjalanan panjang padang gurun yang gersang. Pembicaraan pastoral yang menjadi sangat berbeda karena disampaikan oleh seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki dengan segala cinta dan kasih sayang. Seorang ibu bagi anak laki-laki yang tergeletak tak berdaya dalam gerogotan penyakit yang silih berganti.

"Awalnya ibu tidak menyangka jadi serumit ini." Raut wajah perempuan itu terlihat lelah, bukan hanya karena semalaman dia tidak bisa tidur mengingat darah kental yang kehitam-hitaman dimuntahkan anak yang paling dikasihinya. Lebih dari itu, raut wajahnya perempuan itu menggambarkan penderitaan selama bertahun-tahun merawat anak laki-laki yang terkasih.

"Waktu itu, keluarga kita terpaksa harus pindah-pindah karena tugas bapak." Ibu Sitorus mengatur posisi duduknya yang sejak tadi kaku dan tegang.

"Bapak bekerja sebagai hakim dan sering berpindah-pindah. Tapi karena anak-anak sudah kuliah, Efendy akhirnya kuliah di UNILA Lampung. Setelah tamat ambil S2 di UI. Dalam waktu yang singkat, dia dapat panggilan kerja di sebuah instansi pemerintah. Tapi karena lebih suka usaha sendiri, Efendi lebih memilih mundur dan membuka kantor sendiri. Dia memulai kantor Notaris dan PPAT di Jawa Barat tepatnya Kota Padalarang." Ibu Sitorus berdiam sejenak.

"Ketika kantor di Padalarang siap operasional, tiba-tiba Efendy jatuh sakit. Ibu kira mungkin karena dia kecapaian jadi ibu minta pulang ke Jakarta sekalian medical chek up. Tapi sangat aneh, ketka dicek oleh dokter tensi darah Efendy sangat tinggi dan sangat berisiko. Kami semua kalang kabut. Dokter menganjurkan untuk tes laboratorium. Diagnosis sementara dokter, Efendy mengalami gangguan ginjal." Aku melihat mendung bergayut di raut muka Ibu Sitorus.

"Berita buruk itupun akhirnya datang, ginjal Efendy tinggal 9%. Ibu mulanya berpikir yang rusak 9% tetapi ternyata yang tertinggal justru hanya 9%. Ibu sungguh terpukul dengan angka-angka yang membingungkan itu. Menurut dokter, satu-satunya cara adalah transplantasi ginjal. Seluruh anggota keluarga berunding dan diputuskan untuk segera dibawa ke Mount Elizabeth Hospital di Singapore. Kami tidak mau ambil risiko. Setibanya di Singapura, dokter di sana geleng-geleng kepala, mereka berkata mengapa selalu setelah parah baru dibawa ke sini? Ibu tidak mau pusingkan itu, yang penting anakku sembuh." Ibu Sitorus mengusap wajahnya yang kuyu. Garis-garis wajahnya masih terlihat cantik. Perempuan Batak kelahiran Pematang Siantar ini memang masih tetap terlihat cantik di usianya yang menjelang senja.

"Singkat cerita, seluruh keluarga berunding, adik perempuannya yang sekarang tinggal di Lampung bersedia mendonorkan ginjalnya. Puji Tuhan, setelah melalui beberapa tes medis yang ketat, semua syarat-syarat medis untuk transplantasi memenuhi syarat. Hati Ibu benar-benar terguncang dan pilu ketika melihat kedua kakak beradik itu didorong ke ruang bedah. Ibu hanya berdoa dan menangis. Tuhan tolonglah kami, hanya itu yang dapat ibu katakan."

"Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik dan ketakutan yang sempat dipikirkan keluarga ternyata tidak terjadi. Adik perempuan Efendy ternyata tetap dapat melahirkan dan Efendy dapat hidup dengan normal dengan ginjal dari adiknya sendiri. Ibu berpikir Tuhan sudah membawa keluarga ini keluar dan melalui badai yang berat. Walau semua harta tersita dan terkuras untuk membayar semua biaya rumah sakit, akomodasi, dan transportasi ke Singapura, yang penting semua anak- anak sehat dan bahagia, itu doa Ibu." Aku melihat ada setitik garis sendu di wajah Ibu Sitorus. Garis senyum yang memancarkan aura keteguhan iman dan hatinya. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan kesaksiannya.

"Selama hampir satu tahun, semua berjalan dengan baik. Ginjal Efendy berfungsi dengan baik. Tapi tahun kedua masalah baru datang. Efendy waktu itu sudah pindah kantor ke Jakarta, jadi ibu dapat mengontrol. Lagi-lagi Efendy harus dilarikan ke rumah sakit. Hasil diagnosis dokter, levernya mengalami gangguan serius. Ibu menyaksikan sendiri perlahan-lahan perut Efendy membesar. Seperti perempuan hamil delapan bulan. Ya! Seperti orang yang sedang hamil, sedangkan badannya kurus kering. Ibu kembali menjerit kepada Tuhan. Dokter menganjurkan agar cairan yang tidak terkendali akibat lever yang tidak berfungsi disedot secara rutin. Ya Tuhan, ujian apa lagi ini yang harus kami alami? Ibu benar-benar sangat bingung." Mendung kembali bergayut di raut wajahnya.

"Ibu berdoa, Tuhan aku minta lagi mujizat-MU. Jikalau cairan yang memenuhi perut anak saya harus di sedot, aku minta cukup satu kali saja. Ajaib sekali, Tuhan mendengarkan doa ibu. setelah di sedot satu kali, Efendy bisa pulang ke rumah dan tidak perlu di sedot lagi. Belakangan dokter yang melakukan operasi penyedotan itu bertemu Efendy setelah satu tahun berlalu. Tuhan bekerja dengan sangat ajaib. Bahkan dokterpun terhera-heran. Ibu sungguh sangat terheran-heran dan mengucap syukur atas mujzat ini." Segaris senyum di paras ibu Sitorus.

"Waktu bergulir, ternyata Tuhan masih terus menguji. Sejujurnya Ibu sudah tidak kuat. Bermula dari ketiadaan dana untuk pulang-pergi ke rumah sakit di Singapura, akhirnya perawatan dirujuk di salah satu rumah sakit di Jakarta. Entah karena apa, anak saya jatuh sakit lagi, kali ini benar-benar berat dan tidak terkira-kira."

"Dua hari yang lalu Ibu pergi mengunjungi adik ipar Efendy di Pondok Kopi, Jakarta Timur, adik iparnya yang berdarah Eropa itu jatuh sakit. Tapi karena takut rumah sakit Indonesia, dia tidak mau di bawa ke rumah sakit. Di rumah Ken, adik ipar Efendy, sangat tiba-tiba suhu badan Efendy naik. Dia juga merasa mual dan pusing. Ibu mencoba mengolesi dengan minyak angin. Bukan membaik, ternyata malah semakin tidak keruan," katanya.

"Puncaknya, Efendy muntah darah kental yang menghitam. Ibu panik, keluarga panik, kami semua panij dan menjerit-jerit. Segera kami larikan dia ke rumah sakit PGI Cikini." Ibu Sitorus mengatur desah nafasnya. Rasa galau, takut, dan sedih bercampur aduk tidak karuan.

"Apalagi Tuhan yang hendak Engkau lakukan? Ibu terus bertanya-tanya pada Tuhan. Tapi kali ini Tuhan memvonis sangat berat, analisis dokter sudah positif, Efendy terserang Hepatitis C. Dugaan sementara penularan penyakit akibat terapi dan penggunaan alat-alat medis rumah sakit yang tidak steril. Sepertinya dunia ini berwarna kelabu, hitam pekat dan mengerikan. Ibu benar-benar terpukul, anakku terserang penyakit yang mengerikan. Ibu pikir Tuhan sudah keterlaluan!" Ibu Sitorus terengah-engah. Nafasnya memburu, air matanya mulai jatuh, biji matanya berkaca-kaca menambah sendu dan suaranya pun mulai serak.

"Kemarin ususnya mengalami varises, jadi pembuluh darahnya ada yang pecah. Efendy harus menjalani rawat intensif. Cuci darah secara rutin. Ibu sudah pasrah, Ibu tidak punya apa-apa lagi. Uang sudah habis dan semua angota keluarga sudah letih. Yang Ibu tahu dan masih ingat Tuhan Yesus tidak memberikan ujian melebihi kemampuan kita. Ibu masih percaya bahwa Tuhan dapat melakukan apa yang mustahil bagi manusia. Ibu percaya mujizat."

Aku terhenyak mendengar kata-kata Ibu Sitorus kali ini. Dalam keadaan terempas dan tergeletak, Ibu yang berhati teguh ini berhasil mengkhotbahi aku. Pikiranku cepat-cepat berlari kepada sebuah ayat dalam Kitab Suci, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab A265239h setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberkan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." 1 Korintus 10:13. Matahari sudah tergelincir ke ufuk barat. Senja mulai membiaskan jingga di langit Jakarta. Perlahan-lahan malam akan turun menyelimuti bumi. Akupun telah sedari tadi pamit setelah menumpangkan tangan dan berdoa.

"Firman Tuhan berkata, Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh, jadi berdoalah dengan Iman!" Aku mencoba untuk membangun kembali iman dan pengharapan ibu yang hampir terpuruk ini. Masih sempat aku bacakan beberapa ayat yang sudah menjadi kesukaanku sebagai seorang pelayan dan konselor Kristen kalau akan mendoakan orang sakit. Akupun masih menyaksikan wajah Effendy yang berseri-seri dan mengangguk-angguk. Dia sangat senang mendengar Yesaya 53 : 3-5 yang sengaja aku bacakan lembut di sampingnya. Sekarang akupun harus pulang dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit yang telah menguras segenap perasaanku. Meningalkan Ibu Sitorus yang dengan setia tidak mau beranjak dari sisi anak laki-laki kesayangannya. Langkahku berat menuruni tangga. Sebuah pikiran aneh tiba-tiba mengejarku. Tuhan apakah aku tidak sedang menipu diriku sendiri? Sejujurnya akupun tidak menyakini akan mampu berdiri tegar dengan ujian seberat Effendy. Aku bahkan hampir tidak bisa berpikir akan ada sebuah mujizat lagi yang akan menyelamatkan dia dari penyakit maut itu. Ah, peduli amat dengan apa yang aku pikirkan. Yang aku tahu, aku punya iman yang membuatku harus menawan segala pikiran dan menaklukkannya. Aku harus mengenakan pikiran Kristus. Bukankah dengan mendengarkan firman Tuhan akan mengalirkan iman dalam jiwa? Aku kemudian berjalan melintas pelataran parkir. Jiwaku mulai menghafalkan ayat favoritku, "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1 :37)".Amin.

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/

Ayahku Membuka Mata Hatiku Tentang Hal Memaafkan

Oleh: Janni

Menurut saya, ayah adalah seorang yang jahat. Namun, di lubuk hati terdalam saya mengetahui bahwa dia melakukan yang terbaik untuk saya. Dia melarang kami, anak-anaknya, untuk berpacaran. Dia selalu memberi nasehat bahwa pacaran bisa dilakukan saat kami sudah kuliah atau sudah berkerja. Itu adalah salah satu perintah ayah yang saya langgar.

3 Februari 2006 adalah hari yang paling mengecewakan dalam hidup saya. Waktu itu, saya bersama ayah pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan, karna keesokan harinya ada acara keluarga di rumah. Waktu itu hari Sabtu, saya baru saja pulang sekolah dan sangat capek. Ayah saya menyuruh mama untuk ikut ke pasar membeli barang-barang, tapi mama urung ikut karena sedang sakit. Saya merasa kasihan kalau ayah harus ke pasar sendirian, akhirnya, saya putuskan untuk menemani ayah belanja.

Sesampainya di pasar, kami langsung membeli semua barang-barang yang diperlukan. Namun, ayah lupa membeli satu barang. Akhirnya, ayah menyuruh saya menjaga barang-barang yang sudah dibeli sementara dia kembali ke dalam pasar untuk membeli barang yang "terlupakan" tersebut. Ketika ayah kembali, dia menanyakan di mana ikan tadi. Ternyata, saya tidak sadar kalau ikan yang dibeli kami sudah dicuri orang. Saya tidak sanggup berkata-kata. Karena terlalu emosi, akhirnya ayah memukul saya, tepat di mata saya. Saya merasa malu sekali, karena saya anak perempuan dan dipukul di tempat umum seperti itu.

Semenjak saat itu, saya mulai melanggar perintahnya. Mulai dari pacaran, sampai-sampai saya sempat mengeluarkan kata, "Sampai saya kerja nanti, kau tidak boleh injak rumah yg saya beli/saya tempati."

Tidak terasa tiga tahun sudah terlewati tanpa ada kata maaf dari ayah. Saya pun egois tidak ingin minta maaf. Dalam hati saya berpikir, kalau ayah saya yang maju ke mimbar dan memberitakan firman (Ayah saya seorang majelis di gereja), berarti detik itu pun saya akan keluar dari gereja, atau paling tidak saya akan tertawa agar dia merasa bersalah atau apalah.

Akhirnya, waktu itu saya akan berangkat ke Bali untuk ikut kursus bahasa Inggris. Sebelum berangkat, ayah memimpin saya dalam doa. Sebelum berdoa, ayah berkata, "Maaf, karna ayah pernah pukul kamu." Tersentak, waktu itu saya menangis sampai-sampai air mata saya hampir kering. Tiba-tiba ada suara yang berbisik di telinga saya, "Seperti itulah yang Tuhan kita Yesus Kristus lakukan." Hal itulah yang membuat saya terus menangis sampai saya tiba di Bali.

Semoga jadi berkat buat semua pembaca.

Pengampunan yang sesungguhnya hanya datang dari Bapa di surga.

Baik dan Buruk

Oleh: Sefnat Hontong


Saudara-saudara, pasti masih ingat inisial JK, alias Jusup Kala, seorang mantan wakil presiden RI periode pertama SBY. Dia sering berkata, setiap orang selalu ingin pekerjaannya baik, rencana hidupnya berjalan baik, hubungannya dengan orang lain terjalin baik, rumahnya tetap baik, pendapatannya baik, pacarnya baik, orang tuanya baik, anaknya baik, dll baik-baik saja.

Artinya apa? artinya tidak ada orang yang ingin sesuatu yang buruk terjadi dalam hidupnya, selain kalau orang itu so laef (pikun). Contoh, ada seorang bapa yang so laef (pikun) lama. Ia sangat suka berjalan kaki baik siang atau malam, baik panas atau hujan. Suatu waktu ada seorang ibu, ingin menawarkan jasa baiknya kepada bapa yang so laef ini. Kebetulan ibu ini punya mobil. Ia berkata kepada bapa itu: “om mari sudah nae oto (naik mobil) kebetulan saya juga mau menuju ke sana”. Lalu bapa itu berkata: “oh ibu tara usah sudah (tidak perlu), kamuka sudah (duluan saja), soalnya kita mo bacapat (saya mau mengejar), jadi bajalang (berjalan kaki) saja, he…he…..he….”.

Memang berjalan kaki belum tentu buruk, malah bisa lebih sehat. Tetapi dari sudut waktu ‘kan lebih baik naik mobil ketimbang berjalan kaki. Artinya: yang baik itu selalu menjadi pilihan dari setiap orang dalam hidupnya.

Namun, coba kita perhatikan bahan-bahan cerita kita di setiap hari. Atau membaca Koran dan bulletin, atau menonton TV; Atau apa yang selalu kita cari dan yang selalu kita ceritakan ulang? Pasti adalah sesuatu yang tidak baik, alias buruk. Misalnya: kasus Akil Mochtar, kasus Ratu Atut, kasus Anas Urbaningrum, SBY yang tidak toleran, teroris yang tertangkap, KPK menangkap pejabat korup, om itu pangmabo, tante itu cerewet, anak itu narkoba, pemuda itu malas, mahasiswa itu bodoh, dosen ini tidak bertanggung jawab, polisi ini sewenang-wenang, majelis gereja itu tidak melayani, warga jemaat ini kapala batu, dll. Yang babagini ini (begini ini) yang ada di ruang kehidupan kita. Di ruang hidup, yang pada satu segi selalu mengingini dan mengharapkan yang berbeda dengan hal-hal itu.

Kita mengingin tidak ada korupsi, namun yang suka kita ceritakan adalah kasus korupsi. Kita ingin agar ada toleransi dalam hidup beragama, namun yang suka kita kisahkan adalah praktek-praktek anti toleransi. Kita ingin gereja utuh, namun yang suka kita sejarahkan adalah bibit-bibit perpecahan. Kita ingin orang tidak mabuk, namun yang suka kita historikan adalah alkoholisme. Kita ingin Rumah tangga yang harmonis, namun yang suka kita tularkan adalah kisah-kisah kekerasan Rumah tangga orang lain. Kita mengharapkan anak-anak menjadi baik, namun yang suka kita keluhkan adalah anak yang bandel. Kita mengharapkan jemaat bisa bertumbuh, namun yang suka kita perdebatkan adalah soal-soal kemundurannya. Intinya kita mengharapkan yang baik, namun yang suka kita bahas justru adalah hal yang buruk-buruk.

Apakah hal semacam itu adalah keliru? Saya kira tidak keliru, karena dengan berbuat itu kita bisa mendeteksi kelemahan dan kesalahan kita untuk diperbaiki supaya menjadi baik. Namun akan menjadi keliru, ketika kita tidak pernah lagi suka membahas, membangun cerita, membangun kisah, mencatat narasi tentang sesuatu yang baik dalam hidup kita, dan hanya melulu membahas yang buruk-buruk. Karena jika kita suka membahas yang buruk-buruk atau yang buruk-buruk selalu menjadi yang utama, maka sikon itu akan membentuk kita untuk terlena pada keluhan-keluhan dan tidak mempunyai pilihan lagi untuk membangun harapan baru.

Kisah hidup orang yang suka membahas dan mencatat atau melihat sesuatu yang baik, sekalipun ia sedang menghadapi sikon hidup yang buruk bisa kita lihat dalam diri pemazmur 139 tadi. Jika kita mendalami ayat 19 – 24 (yang belum sempat kita baca), ada Empat hal yang sedang digumuli oleh sang pemazmur, al:
1. Ayat 19-20; Ia sedang bertanya kepada Tuhan: Tuhan, bisakah Engkau membinasakan orang-orang fasik, para penumpah darah, yang selalu berkata dusta dan melawan engkau? Supaya mereka menjauh dari hidupku?
2. Ayat 21, apakah bisa aku membenci orang-orang yang membenci Engkau atau merasa jemu dengan orang-orang yang melawan Engkau?
3. Ayat 22-23; aku sungguh-sungguh membenci mereka. Namun demikian, semua ini kuserahkan padamu. Ujilah hatiku dan pikiranku.
4. Ayat 24: Jika sikap, hatiku dan pikiranku yang membenci itu keliru, tuntunlah aku ke jalan yang benar.

Aspek yang paling menarik di sini ialah: sekalipun ia sedang menghadapi suatu sikon hidup yang buruk, yakni: ada sekian banyak orang fasik, para penumpah darah, dan para pendusta yang selalu mengganggu hidupnya, dan ia secara jujur katakan kepada Tuhan bahwa ia sungguh-sungguh membenci mereka semua, namun akhirnya ia meminta Tuhan untuk menilainya; jika sikapnya ini keliru, ia memohon agar Tuhan menuntun kembali jalan hidupnya agar tidak serong atau tidak salah jalan.

Saya memberi kesimpulan bahwa sikap sang pemazmur ini bisa dibilang tidak terlena dan jatuh pada logika permasalahan, namun memilih untuk mengikuti logika jalan keluar/solusi. Artinya apa: artinya sang pemazmur ketika sedang menghadapi sikon hidup yang buruk, ia tidak terlena dengan segala yang buruk-buruk itu, lalu jatuh dalam putus asa mempersalahkan mereka dan tenggelam dalam keluhan semata-mata, namun bercakap-cakap dengan Tuhan meminta jalan keluar dari Tuhan. Jarang ada orang yang begini, dan kita nampaknya harus belajar kepada orang ini, ketika menghadapi berbagai permasalahan atau sikon hidup buruk dalam hidup kita.

Nah, mari kita bertanya kepada sang pemazmur , apa kira-kira gambarannya tentang Tuhan atau apa konsepnya tentang Tuhan sehingga ia mau berdialog mempertanyakan sikapnya itu kepada Tuhan. Dari sekian banyak penegasan sang pemazmur mulai ayat 1-18; sebagaimana yang telah kita baca tadi, menurut hemat saya hanya satu hal yang ia tegaskan sebagai wujud keyakinannya tentang Tuhan, yakni Tuhan yang ia sembah adalah Tuhan yang mengenal hidupnya secara total.
Ayat 1, dst…………………

Pertanyaan saya kepada ibu, bapa dan saudara-saudara adalah: bagaimana kita bisa bisa mengenal pribadi seseorang secara total? Tidak ada cara lain, selain dengan cara kita menjadi bagian dari kehidupan orang itu.

Saya bisa saja bilang, atau bahkan ibu dan bapak warga jemaat pasti bisa bilang torang (kita) samua mengenal pa’ SBY. Jika ada orang bertanya: eh…. kanal (mengenal) pak SBY? Kita semua pasti berkata: ya, saya kenal. Tetapi pengenalan saya, pengenalan kita semua, terhadap pa’ SBY tentu tidak secara total.

Kita hanya mengenal sebagian saja dari beliau (paling-paling hanya luarnya saja). Gambaran yang total (baik luar dan dalam) tentang siapa pa’ SBY, hanya isteri dan anak-anaknya yang tahu. Artinya, kita hanya bisa mengenal seseorang secara total apabila kita sungguh-sungguh menjadi bagian dari orang itu.

Nah, Tuhan yang digambarkan oleh sang pemazmur adalah Tuhan yang mengenal secara total hidup kita. Pertanyaannya dari mana Tuhan tahu secara total hidup kita?

Tidak dari mana-mana, hanya karena Ia mau menjadi bagian dari hidup kita, sekalipun seringkali kita hendak menolak atau melupakannya. Inilah Tuhan kita, begitu setia mau menjadi bagian dari hidup kita. Malah menurut ayat 4; sebelum kita berkatapun, Ia sudah tahu apa yang hendak kita katakan, karena ia adalah bagian dari hidup kita.

Kita selalu dijadikan oleh Tuhan tidak lengkap jika tanpa diriNya. Jadi, sebenarnya hari-hari hidup yang kita jalani ini adalah hari-hari kehidupan Tuhan di dalam diri kita. Dia tahu kelemahan kita, Dia tahu kekurangan kita, tetapi Dia juga tahu kelebihan dan kekuatan kita. Oleh karena itu, selalu tersedia kepada kita saat yang tepat untuk membaharui diri dan hidup kita, apabila ada permasalahan dan persoalan yang kita hadapi. Permasalahan dan persoalan bukan akhir dari segalanya, tetapi awal dari kita menghitung-hitung kekuatan dan kelebihan yang ada pada kita untuk bangkit dan menjalani kehidupan baru.

Oleh karena itu, marilah kita jalani hidup kita ini, apapun sikonnya, termasuk juga sikon yang buruk, dengan hati yang teguh dan langkah yang mantap, karena kita mempunyai Tuhan yang mengenal secara total bentuk kehidupan kita. Ia tahu kelemahan yang ada dalam diri kita masing-masing, karena itu pasti ia tidak menuntut sesuatu yang melebihi kemampuan kita.

Jika ada persoalan dan hal-hal buruk yang kita hadapi, ingat bahwa kita mempunyai kemampuan dan kelebihan untuk keluar dari berbagai persoalan itu sebagaimana yang telah anugerahkan kepada kita untuk digunakan dalam hidup ini. Jangan terlena dengan persoalan dan hal-hal yang buruk, namun carilah solusi untuk menghadapinya. Inilah berita baik yang harus terus kita ceritakan ulang dalam kehidupan yang banyak diwarnai oleh hal-hal yang buruk.

Sumber: pribadi
Situs Anda: sefrnathontong.blogspot.com

Bayang-Bayangnya Berbentuk Salib

(Kisah Selamatnya Seorang Atlit Olimpiade)

Pada tahun 1967 ketika mengikuti pelajaran di kelas fotografi Universitas Cincinnati, aku berkenalan dengan seorang pemuda bernama Charles Murray, siswa pada sekolah yang sama, yang sedang dilatih untuk persiapan Olimpiade musim panas tahun 1968 sebagai seorang pelompat indah papan kolam renang. Charles sangat sabar terhadapku ketika aku berbicara selama berjam-jam dengannya tentang Yesus Kristus dan bagaimana Ia telah menyelamatkanku.

Charles tidak dibesarkan di dalam keluarga yang berbakti di gereja manapun, jadi semua yang kuceritakan kepadanya mempesonakannya. Ia bahkan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan dosa. Akhirnya tibalah harinya di mana aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Aku bertanya apakah ia menyadari kebutuhan dirinya akan seorang penebus dan apakah ia siap untuk mempercayai Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Aku melihat wajahnya berubah dan perasaan bersalah tergambar di situ. Namun jawabannya tegas sekali "Tidak".

Di hari-hari berikutnya, ia tampak diam dan sering kali aku merasa bahwa ia menjauhiku, sampai aku menerima telepon, yang datangnya dari Charles. Ia ingin mengetahui di mana ia dapat menemukan beberapa ayat di dalam Perjanjian Baru yang telah kuberikan kepadanya mengenai keselamatan.

Aku memberikan kepadanya referensi menuju beberapa pasal dan bertanya apakah aku dapat menemuinya. Ia menolak tawaranku dan mengucapkan terima kasih untuk ayat-ayat yang kuberikan. Aku dapat menebak bahwa ia amat gelisah, namun aku tak tahu di mana ia berada atau bagaimana cara untuk menolongnya. Oleh karena ia sedang berlatih untuk pertandingan Olimpiade, maka Charles memperoleh fasilitas khusus di kolam renang Universitas kami.

Di antara pukul 22.30 dan 23.00 malam itu, ia memutuskan untuk berenang dan melakukan sedikit latihan lompat papan. Malam di bulan Oktober itu sangat cerah dan bulan tampak penuh dan cemerlang. Kolam renang Universitas kami berada di bawah langit-langit kaca sehingga bulan dapat bersinar terang melalui puncak dinding di areal kolam.

Charles mendaki papan lompat yang paling atas untuk melakukan lompatannya yang pertama. Pada saat itu, Roh Allah mulai menempelaknya akan dosa-dosanya. Semua ayat-ayat yang telah dibacanya, semua saat-saat bersaksi kepadanya tentang Kristus, mulai memenuhi benaknya. Ia berdiri di atas papan dengan membelakangi kolam untuk melakukan lompatannya, merentangkan kedua tangannya untuk keseimbangan, memandang ke atas dinding dan melihat bayang-bayangnya sendiri yang disebabkan oleh cahaya bulan. Bayang-bayangnya berbentuk sebuah salib. Ia tak dapat menahan beban dosanya lebih lama lagi. Hatinya hancur dan ia duduk di atas papan lompat itu dan meminta Allah untuk mengampuninya dan menyelamatkannya. Ia percaya kepada Yesus Kristus di ketinggian lebih dari pada dua puluh kaki dari tanah.

Tiba-tiba, lampu-lampu di areal kolam menyala. Petugasnya masuk untuk mengadakan pemeriksaan kolam. Ketika Charles menengok ke bawah dari atas papannya, maka yang dilihatnya adalah kolam yang kosong yang telah dikeringkan untuk beberapa perbaikan. Hampir saja ia menerjunkan dirinya menuju kematian, namun salib telah menghentikannya dari bencana tersebut.

I Korintus 1:18 "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."

Sumber: Highways Of Hope

Beda Agama

Oleh : Walsinur Silalahi

Aku,Sony sdh bekerja 10 tahun sebagai sopir bis PPD.Saat itu umurku sdh menjelang 32 tahun.Orangtuaku sdh sering menanyakan via surat agar aku segera menikah.Permintaan mereka aku anggap wajar2 saja,berhubung di usia demikian berbagai pertanyaan timbul dari sanak-saudara .Ada perasaan minder didalam hatiku untuk mempersunting gadis Tapanuli.Salah satunya karena biaya pernikahan/adat sangat menguras biaya.

Padahal pendapatan seorang sopir bis tdk terlalu banyak.Cari pagi makan sore.Nggak sempat menabung.Dengan pertimbangan itu aku berketetapan hati menikah dengan seorang gadis jawa yg berprofesi sebagai guru SD.Pacarku itu putri seorang haji. Pada saat hubungan pacaran kami sudah menjelang satu tahun dan sdh mengenal pribadi masing2,kami berdua sepakat untuk menikah. Tibalah kami pada persoalan acara nikah apakah dilakukan dengan cara agama Islam atau diberkati digereja.Saya ngotot tdk mau dinikahkan dengan cara agama Islam.Diapun berkeras tdk mau diberkati di gereja.Jalan tengah kami ambil yaitu menikah di kantor catatan sipil.

Kehidupan baru berjalan biasa-biasa saja.Sebagaimana keluarga lainnya,keluarga kami dikaruniakan 4 orang anak. Selama itu juga isteriku selalu melakukan sholat 5 waktu dengan tekun.Saya juga selalu melakukan doa bersama dengan anak2 di rumah.Setiap hari minggu saya dan anak ibadah di gereja.Demikianlah kami menjalani kehidupan beragama dan saling menghormati agama masing-masing. Kami saling mengingatkan kewajiban beribadah.Memang ,satu hal yang kujaga adalah agar aku selalu dekat dengan anak-anak. Setiap malam,aku sisihkan waktuku bagi anak-anak untuk berdoa bersama-sama.Setiap kami kebaktian,saya selalu bilang sama isteriku demikian:"Ma..kami dan anak2 mau kebaktian dulu,karena mama Islam,saya mhn agar mama masuk kamar atau sholat saja".

Demikianlah saya lakukan selama sembilan tahun kehidupan rumah tangga kami.Rupanya dari pantauan isteri saya selama ini:Dia bekata dalam hati demikian(pengakuan isteri saya):"koq kompak amat ,anak dgn bapa?".Diam2,tanpa saya ketahui,selama itu juga dia mepelajari Alkitab. Dia membaca Firman Tuhan dalam Matius 22 ;37-40 yaitu tentang kasih.Selama ini dia selalu berpikir negatif ttg Alkitab bhw itu adalah tulisan manusia yg sdh dirubah disana-sini.Informasi ini dia dapat dari kotbah2 jumat di Masjid.Kitab suci orang Kristen ternyata mengajarkan Kasih. Yang dikatakan pemimpin2 agama Islam di Masjid ternyata tdk benar.Itulah kesimpulan isteriku.

Suatu hari aku berkata sama isteriku:"Ma..aku mau membawa anak2 untuk di babtis."Tak saya sangka pernyataan Isteriku demikian:"Pa..jangan anak-anak saja di baptis,aku juga ikut dibabtis". Hatiku sangat bersuka saat itu.Pengakuan yang datang dari mulut isteri saya sendiri.Aku menangis terharu karena begitu gembiranya saya saat itu. Puji Tuhan,aku bersyukur,ternyata Tuhan mengabulkan doaku yang cukup lama.Ternyata kita harus bertekun dalam doa menunggu waktu Tuhan. Pada hari Minggu berikutnya,kami sama-sama pergi ke gereja dan hamba Tuhan membaptis Isteriku dan anak-anak.. Demikianlah kesaksian hidup Sony dalam menjalani kehidupan beda agama.Akhirnya mereka bersatu dalam kasih Tuhan yesus.

Berjuang dalam Pertandingan Iman

Oleh: Sendra Cornelia

Kini aku sudah tidak berhak lagi memilih jalan hidupku sendiri. Dalam tahun ini aku benar-benar diajar menyerahkan seluruh masa depanku kepadaMu, aku di tuntut untuk percaya penuh padaMu. Tapi kenapa aku selalu berjuang hanya untuk percaya. Apakah yang Engkau mau lebih baik dari yang aku mau? [block:views=similarterms-block_1]

Kadang aku sering berpikir "akulah yang tau diriku sendiri". Kenapa aku selalu curiga keinginanMu tidak pernah yang terbaik bagiku. Kenapa aku selalu curiga bahwa Engkau akan menghancurkan semua mimpi-mimpiku, kenapa aku selalu curiga Kau akan membuat perjuangan keluarga kami sia-sia, terkadang aku mencari alasan kenapa kecurigaan ini sangat besar terjadi? Karena aku melihat setiap jalan yang aku tempuh dan jalan yang Kamu rencanakan teramat sangat berbeda. Terkadang aku berpikir Kau tidak pernah kompak denganku, tidak pernah sejalan, tidak pernah satu ide, terkadang aku selalu berpikir kita berseberangan.

Aku berusaha dan berjuang untuk berdamai dan percaya padaMu, tapi Kau suruh aku melaui proses perendahan. Kau bawa aku sampai Palangkaraya untuk bekerja, sampai di kantor aku di suruh mengerjakan tugas gambar, aku sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Aku pulang dengan perasaan memalukan. Apa gunanya pengalaman kerjaku selama ini? Apa gunanya ijazah serjanaku? Bahkan aku sempat berpikir apa gunanya aku melaksanakan pekerjaan religius dengan seluruh yang terbaik dari padaku kalau hanya mengerjakan pekerjaan gambar saja aku tidak bisa. Aku hanya dilihat punya nilai tambah dalam pekerjaan relegius, sedangkan di mata dunia aku NOL BESAR, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingat akhir tahun 2008 aku mendapat janji pekerjaan sebanyak 5 tempat, dengan petunjuk dalam mimpi Engkau sampai bawa aku ke Jogja, disitu satu persatu apa yang terjadi dalam mimpiku kau nyatakan. Semuanya memberi janji yang hanya selangkah lagi akan dinyatakan.

Masuk awal tahun 2009 di kelompok sel aku belajar tentang banyak hal, salah satunya adalah " menanggalkan kasut ". Di awal tahun 2009 juga, satu persatu tawaran pekerjaan hampir dijawab tapi tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Saat itu aku masih bisa mengucap syukur karena masih ada cadangan yang lain,misalnya masih ada tawaran di Palangkaraya, Muara Teweh, Barabai. Setelah pekerjaan di Bandung dan Serang di tutup, tiba-tiba teman yang ada di Palangkaraya menelpon dan minta bergabung dan bahkan dia menjanjikan akan memberi tiket untuk pergi.

Dengan sebuah mujizat aku pergi ke Palangkaraya. Sampai di Palangkaraya pekerjaan pun tidak bisa aku dapati karena aku belum bisa gambar dan ahirnya aku terdampar di Palangkaraya tanpa mendapatkan apa-apa. Uang tiket tidak di ganti, uang kos pun tidak ada, uang makan terbatas. Intinya bahwa dari ke-5 janji itu satupun aku tidak dapat dan malah aku rugi. Dalam kondisi seperti ini apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa menangis dan menangis dan menangis lagi. Disela tangisanku aku selipkan sebuah kata " ucapan syukur " yang mungkin bunyinya tidak keras, hanya aku dan Dia.

27 Januari 2009 menjelang hari ulangtahunku Dia datang dan ingin mengajak aku berbicara, tetapi aku menolak, aku tidak mau berdamai dan membahas masalah itu. Aku cuek dan tidur sampai pagi. Tanggal 28 Januari di hari ultahku Dia datang lagi mengunjungi aku dan mengucapkan HaPpy BiRtHdAy. Dia mulai bicara :

Tuhan: Maukah kamu di hari ulang tahunmu, kamu tidak menerima apa-apa, tetapi kamu justru memberi. Mungkin di tahun kemarin kamu berada di tengah - tengah orang - orang yang mengasihimu, ada kue tart, ucapan selamat, hadiah, tapi sekarang sekali lagi Aku meminta, maukah kamu di tahun ini " memberi bukan menerima "

Sendra: Mau Tuhan. Lihatlah sekarang aku ada di dapanMu, dalam proses seperti ini bahkan aku tetap berdiri mencari Engkau dalam batinku, aku tidak bisa menjauh dari padaMu dan aku tidak mampu membenci Engkau karena memory yang pernah kita alami telalu dalam dan sangat berkesan. aku terlalu mencintaiMu melebihi dari logikaku.

Tuhan: Apakah kamu tau kenapa Aku membawa kamu jauh sampai ke tempat ini? karena Aku terlalu cemburu kepadamu. Aku terlalu mencintaimu, Aku hanya ingin menjadi nomor satu di hatimu. Aku terlalu mencintaimu karena ketaatanmu melampaui kekuatan manusia, kamu terlalu percaya hal yang supranatural. Aku membawamu ketempat ini karena Aku hanya ingin menikmati cintamu yang murni, Aku mau menikmati cintamu seorang diri. Terima kasih nak sudah memberi yang terbaik untukKu. Ucapanmu terbukti ketika kamu pernah katakan sekalipun kamu tidak mendapatkan apa-apa dari semua yang Aku janjikan, kamu tetap memiliki hati yang mau berjuang untuk tetap mengucap syukur, terima kasih atas ketaatanmu, terima kasih atas persembahan yang terbaik bagiKu.

Sendra: Tuhan, terima kasih atas pewahyuan ini. Aku mengucap syukur sampai aku berada di tempat ini semua karena rencanaMu, karena aku sangat sedih kalau apa yang aku alami ini adalah karena sebuah kesalahanku. Berarti selama ini aku tidak berjalan dalam kesalahan. Sekarang aku mau bangkit dan berlari lagi untuk menyelesaikan pertandingan ini, ulurkan tanganMu Tuhan, dan bawa aku berlari kembali.

Kita sudah masuk kedalam sebuah pertandingan iman, ingatlah ketika semua kita masuk untuk memulai petualangan seperti ini "ucapan syukur" adalah persembahan yang terharum di hadapan Tuhan, meskipun harus berlinang air mata, mengalami kesendirian, apapun yang terjadi kita harus berjuang untuk mengucap syukur (1 Korintus 10:13).

Ketika aku disini, aku benar-benar bergantung dengan Tuhan (Matius 6: 25-34). Hari ini ketika aku mengerti semua rencana Tuhan , semua berkat itu terbuka dan aku bisa melihat betapa besarNya Tuhan yang kita sembah. Tuhan belum selesai denganku. Terserah Dia akan membawa aku kemana lagi untuk diperlengkapi. Petualangan di tempat ini benar- benar memperlengkapi petualangan yang pernah aku alami bersama dengan Dia.

Selamat Berjuang dalam Pertandingan Iman
Gbu All

Berjuang dengan Maut Diatas Mobil

Malam itu hujan deras luar biasa membasahi dusun Wates, waktu telah menunjukan jam 7,30, jemaat baru sebagian yang hadir untuk kebaktian malam, hati ku bertanya-tanya, kenapa masih banyak keluarga yg belum hadir, apakah hujan yang menghalangi mereka? Ataukah terlalu cape mereka, karena siang harinya warga dusun Wates baru saja merayakan Saparan, dimana seluruh warga dusun tsb. Merayakan bulan Sapar seperti lebaran, tiap keluarga memasak paling tidak memotong seekor ayam dan membuat jenang, pokoknya hari itu aku kenyang sekali, tiap warga mengundangku untuk mencicipi masakan keluarga mereka, kita tidak etis kalau diundang warga tidak makan, walau aku sudah katakan, "kulo nembih mawon "(aku baru saja makan), tidak sopan kalau tuan rumah sudah menyediakan makanan kita tidak makan, biarpun sedikit kita harus makan.

Malam itu kebaktian agak terlambat dimulai, banyak yg tidak hadir usai kebaktian hujan masih turun, sampai jam 10 lewat masih belum berhenti, hawa dingin dilereng gunung Merbabu membuat tidurku malam itu tak bisa lelap seperti aku tidur di rumah, sekitar jam 3 pagi aku dikejutkan Tuan rumah Bp Hadi mengetok- ngetok pintu kamarku, rupanya ada warga yang sakit ingin melahirkan untuk meminta tolong aku menghantarkan ke rumah sakit, aku meloncat dari tempat tidur langsung kemobil untuk menghidupkan mobil, dengan susah payah karena jalan yang licin karena hujan semalam achirnya tiba juga didepan rumah Pak Selamet, kulihat orang2 desa sudah pada kumpul, isteri dan anak2 Pak Selamat lagi menangiskan kakanya yang akan melahirkan sejak jam 6 sore belum juga keluar bayinya, aku melihat ani ibu yg akan melahirkan digotong badannya sudah lemas kemobil, untung hari itu aku membawa mobil kijang yg bangku tengahnya bisa dilipat sehingga ibu ani bisa direbahkan didalam mobil, perjalanan dari dusun Wates kekota yang terdekat di Magelang memakan waktu 1,5 jam perjalanan, aku hanya berdoa Tuhan berikan kekuatan pada ibu ani, hatiku dak dik duk dijalan Keluar desa yang berbatuan dan menanjak mesin mobil berhenti tidak kuat menanjak, aku berteriak dalam hati "Tuhan tolong" aku serba salah kalau tancap gas, bagaimana nantinya ibu ani yg akan melahirkan pasti kesakitan karena jalannya bergelombang, aku hanya berdoa Tuhan tolong perjalanan ini dan kuatkan ibu ani , penumpang yg ikut berjumlah 7 orang, ketika mesin mobilnya mati 2 orang langsung turun mencari batu untuk mengganjal ban agar tidak turun kebelakang sangat bahaya sekali karena sebelah kiri adalah jurang, mobil kuhidupkan kembali untung mobil kuat sampai diujung jalan yg menanjak, dalam 20 menit perjalanan berbatuan yg bergelombang baru sampai dijalan raya beraspal ke Magelang, suasana pagi yg masih gelap dan banyak kabut yang membuat perjalanan tidak lancar, aku hanya berani menjalankan mobil sekitar 40km /jam, konsentrasi ku pusatkan kedepan jalan yg selalu menurun tajam, aku sudah hafal melewati jalan yg berliku2 menurun ini, sudah hampir 4 tahun aku lewati jalan ini setiap minggu, kali ini perjalanan yg sama aku tidak bisa menikmati pagi indah dengan pemandangan pegunungan, suasana sekitarnya masih gelap gulita, se-kali2 papasan dengan mobil yg dari bawah, dan tangisan2 kaum ibu yg mengantar dibelakang kemudiku meminta agar ibu ani jangan memejamkan matanya supaya eling, aku mempercepat larinya kendaraan dengan hati-2.

Tak kudengar teriakan kesakitan dari ibu ani seperti biasanya teriakan2 wanita atau isteriku yg akan melahirkan, aku menyuruh mereka yg dibelakang memijat jari2 tangan dan kakinya ibu ani, aku takut jangan2 dia pingsan, perjalanan yg menegangkan aku hanya dapat berdoa : tolong Tuhan, berikan ia kekuatan sampai dirumah sakit, kira2 � jam perjalanan, aku mendengar suara bayi menangis, rupanya ibu ani telah melahirkan dimobilku, aku berteriak bagaimananih? Berhenti atau terus jalan? Aku disuruh terus berjalan, waktu itu baru setengah perjalanan, hatiku berdebar-debar dan berdoa tolong Tuhan kuatkan ibu ani, lewat Tegalrejo aku baru mendengar suaru azan subuh, berarti jam 5 pagi baru sampai di Magelang, teriakan dan tangisan dari arah belakang kemudiku meminta ibu ani Eling menyebut Gusti, didekat Banyu Asin aku diminta berhenti dan rupanya ada rumah bidan, pintu diketok-ketok keluar seorang ibu rupanya ia bidannya, kemudian ia memotong tali pusarnya bayi, ibu ani digotong kedalam ruang prateknya dan setelah diperiksa oleh ibu bidan sebentar dan ia berkata " maaf dibawah keluar lagi saya tidak sanggup menolongnya harus dibawah kerumah sakit segera" terpaksa kami gotong kembali ibu ani yg sudah tidak bergerak itu ke rumah sakit RSU Magelang, dalam seperempat jam aku sudah sampai diMagelang, dan ibu ani didorong keruang ICU, hanya sebentar dokter jaga keluar lagi menemui kami dan berkata, dia sudah tidak ada apakah ari-arinya mau dikeluarkan atau dibiarkan saja, ketika itu juga suami dan ibu2 yg mengantar meraung-raung menangis memecahkan kesunyian pagi diruang ICU, sampai aku yg menjawab kepada dokter itu utk mengeluarkan ari2nya, terpaksa pagi itu aku membawah kembali ibu ani yg sudah tak bernyawa itu kedusun wates, suaminya ber-teriak2 menangis, membuat aku teringat 20 tahun yg lewat, dimana aku menyaksikan sendiri bagaimana isteriku berjuang dengan maut ketika akan melahirkan Yosua anakku yg kini sedang kuliah, isteri ku mengalami takdir seperti ibu ani, tetapi aku percaya isteriku sudah berada dirumah Bapa disurga saat ini dibanding ibu ani yg belum mengenal Tuhan.

Disepanjang perjalanan pulang suaminya berteriak-teriak memanggil nama isterinya, aku dari balik stir hanya bisa menasehatkan Parwidi suaminya, "Tuhan mempunyai rencana indah buat kamu Par, Pakde telah mengalami sendiri seperti kamu, tabahkan hatimu", hatiku bertanya-tanya sama Tuhan apakah ini rencanaMu Tuhan, semua boleh terjadi agar Parwidi bisa kembali lagi kepadaMu, dahulu sebelum menikah dengan ibu ani, Parwidi sebenarnya adalah anak Tuhan yg sudah mengenal Yesus, tetapi sejak dia mengenal dengan gadis ani, dia sudah jarang kegereja, bahkan meninggalkan Tuhan dan murtad menikah di KUA, aku bertanya- tanya dalam hati apakah ini semua rencanaMu Tuhan…? karena terus terang jemaat masih sering berdoa untuknya.

Hari itu aku benar2 cape sekali, pulangnya ke Borobudur , mobilku yg kurang fit hampir masuk jurang, untung Tuhan senantiasa menyertaiku, orang2 desa berbondong-bondong mengangkat mobil yg tinggal 15 cm dari tepi jurang. Itulah suka dukanya melayani dipedesaan.

Peristiwa kelahiran seorang bayi dan kematian ibu ani diatas mobil, sebagai hamba Tuhan mengingatkan kaum muda-mudi, jangan engkau tinggalkan Yesus karena "Cinta", peristiwa ini juga mengingatkan saya, dimana saya yang saat itu melihat sendiri disaat-saat orang yg saya kasihi sedang berjuang dengan maut, dan achirnya dia menang kesurga, secara manusia saat itu juga aku ingin ikut dengannya, aku shock aku dipressi waktu itu, tetapi ada seorang yg menguatkan saya melalui firmanNya:

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firnman Tuhan, yaitu rangcangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" Yermia 29 : 11 Terima kasih Tuhan… karena sejak itu aku dididik oleh Tuhan untuk melayani Tuhan, bahkan Tuhan percayakan aku utk mengelola sebuah bukit doa di Borobudur dan melayani dipedesaan.

Bruder Henk

BRUDER Henk (59) tiba-tiba memutus pembicaraan dan batal menyuap nasi. Sorot matanya tajam mengikuti gerakan benda mungil tak beraturan di sela-sela pepohonan taman di belakang sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. "Itu kupu-kupu pendatang di Papua," kata dia menelisik. Bruder kelahiran Heerlen, Belanda, itu selain seorang misionaris juga dikenal sebagai pencinta serangga sejati, khususnya kupu-kupu.

KETAJAMAN matanya mengidentifikasi kupu-kupu sebaran Papua terasah sejak tahun 1974, awal pertama kali tiba di pulau tersebut. Sejak itu, seakan tiada hari tanpa observasi kupu-kupu. Hingga kini, jumlah koleksinya berkisar 40.000 ekor dengan 4.000-an jenis. Semua disimpan di ruangan khusus; gelap dan berpendingin udara. Di sana, deretan lemari berisi ribuan rak berpenutup kaca. Semua ia tangani sendiri. Baru sekitar dua tahun lalu dua dosen dan satu mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) membantu komputerisasi data. "Awalnya saya minta kiriman alat pengawet dari ayah," kata bruder yang berayah peminat serangga amatir itu. Minat yang ditularkan sang ayah itulah yang katanya membuat dirinya tak bisa berjauhan dari dunia seputar serangga, khususnya kupu-kupu. Dan, hutan-hutan Papua pun menjadi "laboratorium" alam yang tak habis-habis ia jelajahi. Beberapa seminar pun ia ikuti. Intensitas penjelajahan di pedalaman Papua membuatnya kagum atas pengetahuan masyarakat adat terhadap fenomena alam. Pengetahuan mereka terhadap jenis serangga riang ria (serangga hutan yang berbunyi) ternyata sama persis dengan data ilmiah pakar serangga di Amsterdam, Belanda. Beda penamaan saja. "Mata alam suku-suku Papua sungguh sangat mengagumkan," tutur dia. Kini, ia sangat senang karena menemukan beberapa anak muda yang mencintai ilmu dengan hati, bukan sekadar rutinitas.

PERTEMUAN dengan bruder ramah itu bersamaan dengan peluncuran buku panduan lapangan setebal 126 halaman berjudul Kupu-kupu untuk Wilayah Mamberamo sampai Pegunungan Cyclops, yang ia tulis bersama sarjana lulusan Fakultas Pertanian Uncen yang pernah ia bimbing pengerjaan skripsinya, Edy Michelis Riyanto. Buku dengan sponsor Conservation International Indonesia itu merupakan satu-satunya buku kupu-kupu daerah Papua di Indonesia. Bahkan, dunia. Sebelum menjadi buku, di sela-sela kesibukannya sebagai ekonom Keuskupan Agung Jayapura-kini bruder Henk menjabat sebagai Delegate Keuangan dan Harta Benda-dibantu beberapa dosen dan mahasiswa Jurusan Biologi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Uncen, ia keluar masuk hutan untuk observasi lapangan. Itu dilakukan mulai Mamberamo hingga pulau-pulau di pantai Timur, Ubrub, serta di kaki pegunungan Cyclops, Yongshu. Tarekatnya memberinya keleluasaan selama tanggung jawabnya lancar. Tak pelak, hari-hari sibuknya mengurus harta milik umat semakin dipadati observasi, membaca literatur, serta wawancara dengan para ahli serangga dari Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang. Asal tahu saja, identifikasi biologis bukan pekerjaan ringan. Akhirnya, setelah efektif bekerja lima tahun, buku yang didedikasikan bagi mahasiswa, akademisi, peneliti, dan pencinta kupu- kupu itu pun terbit. Bruder Henk puas karena para peminat kupu-kupu dapat memperoleh referensi lebih baik. Gratis lagi. Sebelumnya, para peneliti di lapangan umumnya harus membawa buku tebal dengan berat hingga satu kilogram. Selain berbahasa asing, harga buku-buku itu ada yang mencapai 1.500 euro. "Saya punya, tapi tidak saya kasih pinjam. Maaf ya," kata bruder yang tinggal di biara St Fransiskus, Jayapura, itu sambil tertawa. Meski memuaskan, lemahnya inventarisasi kekayaan keanekaragaman hayati Papua merupakan fakta lain. Khusus kupu-kupu, masih banyak yang belum bernama atau terdata. Beberapa di antaranya terpublikasi dalam skripsi mahasiswa bimbingannya. Bagi bruder Henk, terbitnya buku serupa hanya soal waktu seiring tumbuhnya api semangat meneliti. Sebagai indikator mutu lingkungan, hilangnya satu jenis kupu-kupu pada kurun waktu tertentu di suatu kawasan mengindikasikan terjadinya degradasi lingkungan. Di Inggris, misalnya, kepunahan satu jenis kupu-kupu ternyata disebabkan punahnya satu jenis semut yang menjadi kunci siklus hidup kupu-kupu tersebut. Para petani memusnahkan jenis semut itu karena menganggapnya musuh. "Itu hanya bisa dihindari bila sebelumnya ada informasi detail saling keterkaitan sesama penghuni alam," kata dia.

BRUDER Henk merupakan anak kedua pasangan Eef van Mastrigt, seorang arsitek dan ahli serangga (entomolog) amatir Belanda, dengan An van Doorn. Ia bernama asli Henk van Mastrigt. Ia tiba di Indonesia setelah tamat sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam tahun 1973. Ada dua pilihan pengabdian, Brasil atau Papua. "Keduanya memiliki hutan dan kekayaan alam anugerah Tuhan yang luar biasa," kata bruder yang pernah bercita-cita menjadi polisi hutan itu. Papua menjadi pilihan karena banyak masukan dari rekannya yang pernah bertugas di sana. Keseriusan, kecintaan, dan dedikasi membuat dirinya dipercaya membimbing skripsi mahasiswa Uncen sejak tahun 1996. Dan, makin intensif empat tahun kemudian. Rencananya, tahun ini ia akan melepaskan jabatannya di keuskupan dan berkonsentrasi membimbing dosen serta mahasiswa. Bila di keuskupan ia memiliki kader, di bidang penelitian kupu-kupu ia mengaku belum menemukan kader yang siap menggantikannya. "Kegiatan meneliti kupu- kupu merupakan salah satu alasan kenapa saya masih bertahan di Papua," kata dia. Ia menerima tawaran membimbing dengan syarat tidak hanya sebatas mendampingi penelitian di Jayapura. Semua mahasiswa yang ingin ia bimbing pun harus berpengalaman dua tahun meneliti di lapangan. Alasannya, menghindari kesamaan obyek penelitian. Ia menghindari meneliti sesuatu yang pernah diteliti. Bersama besarnya minat meneliti kupu-kupu dan serangga lain, hatinya gundah melihat langsung eksploitasi kekayaan alam Papua habis- habisan. Kegundahan hatinya ia tunjukkan ketika menutup pidato dalam peluncuran bukunya. Di sana ia berujar, "Syukur dan pujian kepada Tuhan semoga nyata dalam memelihara alam." Amin

Sumber: Kompas

Ceritakan Pada Dunia Untukku

Penulis : John Powell, S.J.

Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm dibawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh.

Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.

Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?" Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.

"Oh," sahutnya.

"Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu."

Tommy mengangkat bahu, lalu pergi.

Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.

Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.

Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy ! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi."

"Kamu mau membicarakan itu?"

"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?"

"Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?" Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang "utama" dalam hidup ini."

Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. "Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital,saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga.

Tapi tak terjadi apa pun.."

Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu."

"Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka.

Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya. "Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya." "Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja." "Pa, ini penting sekali." Korannya turun perlahan 8 cm. "Ada apa?" "Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. "Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."

"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.

"Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."

"Tommy," aku tersedak,

"Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih."

"Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"

Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.

Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali. Saya tak akan mampu hadir di kuliah Pastor," katanya. "Saya tahu, Tommy." "Maukah Pastor menceritakannya untuk saya? Maukah Pastor menceritakannya pada dunia untuk saya?" "Ya, Tommy. Saya akan melakukannya."

Dalam Hikmatnya Sendiri

Dalam Hikmatnya Sendiri, Manusia Sering Menggunakan Agama Sebagai Alat Mencapai Tujuannya!!

Penulis : Nomi Br Sinulingga

Beberapa waktu yang lalu, satu keluarga selebriti yang keluar dari agama Kristen mengatakan bahwa di dalam agama mereka yang baru, mereka mendapatkan ketenangan dan sangat cocok bagi kehidupan mereka. Mereka yang dulunya ada dalam kegiatan gerejawi dan mungkin tidak jauh dari pelayanan memiliki pandangan dan perasaan bahwa agama yang tidak mengenal Kristus itu lebih baik bagi jiwa mereka. Mereka bukanlah orang yang mudah dipengaruhi oleh orang lain untuk pindah agama. Semua yang mengenal mereka akan mengakui kalau mereka cerdas dalam pemikiran. Ketika mereka memutuskan memeluk agama yang sekarang, pastilah mereka sudah memikirkannya matang-matang. Dan dalam kebijakan mereka dan dengan penuh hikmat manusia, merekapun memberitahukan kepada umum kalau mereka bukan orang Kristen lagi.

Alkitab sudah mengingatkan supaya kita tidak menipu diri sendiri. Kesalahan yang fatal dari orang yang mengaku Kristen adalah mereka tidak menjadikan Alkitab sebagai santapan bagi jiwa mereka. Sehingga kekayaan firman Tuhan tidak pernah mereka mengerti. Manusia kadang lebih peduli dengan makanan jasmani saja, mereka mau membayar mahal kepada seorang dokter untuk mengatur makanan mereka. Mereka bisa menggunakan waktu berjam-jam untuk olahraga supaya mereka mendapat kesegaran jasmani. Tetapi untuk kebutuhan jiwa yang jauh lebih mulia daripada kebutuhan jasmani tidak mereka penuhi. Alkitab yang merupakan santapan bagi jiwa, yang akan membuat jiwa yang haus dipuaskan dan jiwa yang lapar dikenyangkan tidak pernah mereka sentuh. Olah jiwa yang akan memberikan mereka jiwa yang kuat melalui perbuatan kasih kepada sesama dan menjadi pelaku firman Tuhan, mereka abaikan.

Orang yang menyebut dirinya Kristen sering menipu dirinya sendiri, (I Kor 3 : 18). Bahkan banyak orang Kristen yang tidak pernah mengatakan, saya merasa nyaman dengan agama saya yang baru, namun sesungguhnya mereka juga nyaman dengan agama Kristen mereka yang tertera di KTP saja, tanpa pernah menjadi orang Kristen yang sesungguhnya. Agama sering menjadi alat untuk memenuhi semua yang kita inginkan dalam hidup ini. Hal ini membuat banyak orang Kristen yang memiliki pemahaman menjadi murid Kristus sangat dangkal. Agama bukan menjadi kehidupan yang mejadi nafas dalam hidup mereka tetapi agama menjadi alat bagi mereka untuk mencapai tujuan mereka.

Mereka menginginkan kenyamanan dan ketenangan dalam hidup ini dan menurut mereka seharusnya agama memberikan itu. Mereka lupa bahwa sejarah memberikan banyak bukti bahwa kedamaian dan kenyamanan mengikut Yesus bukan seperti apa yang diimpikan manusia. Hidup yang damai sejahtera dari Allah sering diwarnai dengan pengejaran dari orang yang ingin membinasakan murid Kristus, diiringi dengan kesulitan dan penyiksaan serta disingkirkan dari komunitas. Namun semua itu memberikan sejahtera dalam hati karena bisa mengalami penderitaan karena menjadi saksi Kristus.

Kedamaian yang dari Allah adalah kedamaian yang melampaui akal dan pikiran manusia.

Kita juga tidak menutup mata kalau banyak anggota permata menjadikan agama dan gereja adalah alat untuk mendapatkan keinginnya, seperti untuk mendapatkan jodoh, teman atau kepopuleran. Mereka menggumulkan teman hidup dan dengan hikmatnya sendiri mencarinya di tengah-tengah gereja. Mencari jodoh melalui kegiatan gereja tidak salah, dan memang lebih baik kita mendapatkan teman hidup dari komunitas gereja. Tetapi ketika kehadiran di tengah Permata dijadikan alat untuk mendapatkan semua yang diinginkan ini, maka mereka akan kecewa ketika tidak mendapatkannya. Kegagalan mereka mendapatkan tujuan melalui kehadirannya dalam kegiatan Permata sering membuat mereka akhirnya menjauh dari Permata. Kebutuhan akan teman hidup lebih besar daripada kebutuhan untuk bersekutu dalam tubuh Kristus. Jadi jangan heran kalau mereka bisa juga keluar dari Kristen karena mendapatkan teman hidup yang bukan agama Kristen. Tepatnya, seseorang yang menjadi religius dengan tujuan memperoleh dunia ini akan dengan senang hati membuang agama untuk memperolehnya. Yudas sudah dengan pasti memiliki tujuan dalam dunia ini dengan menjadi beragama, dia juga dengan pasti menjual agama dan Tuannya untuk tujuan yang sama.

Ketika orang Kristen karena pernikahan, jabatan atau banyak alasan lain meninggalkan agama Kristen, kita sangat sedih dan ingin melakukan sesuatu supaya hal itu tidak terjadi. Hal ini sangat baik dan memang seharusnya kita melakukan sesuatu untuk mencegahnya, karena tugas kita untuk menyatakan kebenaran kepada orang lain. Namun sering sekali mata mereka sudah tertutup dan mereka merasa bahwa keputusan mereka itu tepat dan bijak sekali, Allah mengatakan bahwa hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Dalam hikmatnya sendiri, manusia akan memperalat agama untuk memenuhi keinginannya yang fana. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia ini, akan dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang berhikmat. Dalam I Korintus 1 : 25 tertulis, sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia.

Desember 1902

Penulis : Esther Ueberall

Hari ini hari Jumat, hari pertama kami membuka usaha kami. Dengan berseri-seri, saya (17 tahun, pengantin baru) berdiri di sebelah suami saya Solomon, di dalam toko kami yang bernama UEBERALL 3-9-19 Sen. Terletak di Brooklyn, Amerika Serikat, toko ini menjual barang-barang dengan harga pas, senilai 3, 9 atau 19 sen. Tamu pertama kami melangkah masuk. Belia u seorang Pastor Katolik muda usia, dari sebuah gereja (Katolik) kecil, namanya Pastor Caruana. Beliau berbelanja sedikit, dan mukanya gelap, semuram warna jubahnya. "Mengapa sedih Bapa?" suami saya bertanya. Pastor Katolik biasa disapa dengan sebutan Father/Bapa, Solomon tergolong orang yang sangat mudah "jatuh hati".

Pastor tersebut berbicara pelan, seolah menerawang menjawab, "Gereja kami harus ditutup...." "Mengapa?" bagi suami saya, agama adalah penyembahan dari menit ke menit. Kami menjalankan semua ritual agama kami. Keluarga Ueberall, sebagaimana sebagian besar orang-orang Yahudi, beragama Yahudi. Mereka menyembah Allah Yehovah yaitu Allah Abraham, Ishak & Yakub, dan mematuhi hukum Taurat Musa. Mereka bukan beragama Kristen Katolik. Bukan demi ritus itu semata-mata, namun kepatuhan kami kepada Allah. Pastor tersebut menjelaskan bahwa Beliau membutuhkan $500, untuk Senin mendatang. Jemaatnya miskin, dan tidak mungkin memenuhi tuntutan $500 itu. Gereja pusatnya tidak dapat membantu, dan rasanya tidak ada jalan keluar.

Suami saya mendengarkan dengan cermat, dan tangannya meremas-remas jemari saya. Saya merasakan perasaan hatinya yang terdalam.

Kami berdua ad alah orang-orang Yahudi, pindah dari Austria (suami saya) dan saya dari Rusia. Kami mencari kehidupan yang lebih aman dan baik di Amerika. Di Eropa, keadaannya kurang begitu baik untuk bangsa kami. "Tidak! tidak boleh terjadi...." Solomon menggerutu. Ia berpikir keras, dan kemudian berkata: "Jangan kawatir Bapa, kita usahakan uang itu...." Saya melotot ke arah Solomon. Nggak salah? Lima dollar saja tidak kami miliki saat ini. Pastor Caruana juga melotot memandangi suami saya. Kemudian dengan wajah tidak percaya, Beliau meninggalkan kami. Solomon menatap saya. "Esther, kita memiliki begitu banyak hadiah pernikahan. Kita gadaikan itu semua. Suatu saat kita tebus itu semua kembali, namun sekarang kita cari 500 dollar...." Solomon melepaskan jam emas beserta rant ainya yang merupakan hadiah dari ayah saya. Ia melihat kepada cincin kawin saya. Terpaksa saya buka perlahan dan menyerahkan kepadanya.

MASIH KURANG BANYAK

Solomon kembali petang itu dengan wajah kurang cerah. Ia hanya berhasil mendapatkan $250. Pada saat makan malam ia menjadi riang kembali dan berseri-seri berkata: "Saya tahu, kita pinjam! Keluarga kita besar dan kompak bukan?" Dan sepanjang hari minggu i tu, Solomon pergi mengunjungi para paman, ipar, sepupu, dan kawan kawan yang pernah ia tolong. Beberapa dengan simpatik langsung menolong. Beberapa berkeras hati. Solomon memohon-mohon, ia mengemis-ngemis, ia menghimbau, ia membangkit-bangkit, akhirnya terkumpul lagi sebesar $250.-. Sejak saat itu, tiap hari Senin, Pastor Caruana merupakan pengunjung toko kami yang paling pagi. Beliau senantiasa membawa sebuah dompet kulit, dan membayar sebagian demi sebagian. Uang tersebut adalah hasil kolekte jemaatnya. Persahabatan kami meningkat. Kemudian seluruh hutangnya terbayar lunas....

BERKAT MELIMPAH

Cincin kawin saya telah berhasil ditebus, dan semua barang-barang yang kami gadaikan kembali dengan selamat. Keberuntungan senantiasa mewarnai toko kami, dan berkat bagaikan luber tercurah. Tak lama sesudah itu kami mengganti nama toko menjadi TOKO SERBA ADA UEBERALL. Demikianpun dengan jemaat Pastor Caruana. Dengan pelan namun pasti, jemaat itu makin kuat dan makin besar. Mereka bahkan bisa membangun gereja yang lebih kokoh dan bagus, dengan nama Santa Lucia. Tahun 1919 Pastor Caruana dipanggil pulang ke Roma, dan perpisahannya dengan Solomon lebih merupakan perpisahan dua saudara kandung.

TAHUN - TAHUN KEMUDIAN

Solomon secara tiba tiba dipanggil Allah pulang, meninggalkan saya dan dua anak anak. Pukulan keras ini berdampak dua tahun. Saya kemudian bekerja sendiri, dan melatih putera saya mengambil alih usaha. Secara pelan-pelan, ingatan akan Pastor Caruana menghilang dari pikiran saya. Perang dunia II meletus, dan Hitler menderap masuk Austria. Kesulitan besar terjadi di sana, dan kami menerima surat-surat permohonan dari saudara serta kerabat Solomon, yang ingin disponsori untuk pindah ke Amerika. Tanpa kepindahan ini, kamp-kamp konsentrasi dan maut menanti mereka. Saya berusaha keras menolong. Namun pemerintah Amerika kemudian menutup kemungkinan migrasi dengan memberlakukan sebuah kuota. Surat-surat permintaan terus masuk. Tiap menerima sebuah, terasa satu tikaman di ulu hati saya. Saya akan bersandar di dinding dan menangis: "Oh Solomon, kalau saja engkau masih hidup...."

Akhirnya saya menghubungi Departemen Perburuhan di Washington, dan mereka menyarankan agar saya membiayai para pelarian masuk Cuba. (Saat itu Cuba masih bersahabat dgn Amerika Serikat). Syaratnya, harus ada tokoh kuat di Cuba yang bisa mensponsori, dan menjamin akan kelangsungan hidup di sana. Siapa? Saya tak kenal seorang pun di Cuba. Terbersit sebuah ilham. Cuba negara Katholik, mungkin gereja Santa Lucia bisa menolong. Seorang Pastor muda langsung mengirim kawat (telex) kepada pimpinan Gereja Katholik di Havana memberi kabar kedatangan saya.

HAVANA INTERNATIONAL AIRPORT, CUBA, 2 HARI KEMUDIAN...

Turun dari pesawat terbang, udara hangat menerpawajah. Seorang anak laki-laki kecil berlari-lari menemui saya di tangga pesawat dengan sebuah buket kembang mawar. Saya mencium pipi anak kecil ini, terheran heran akan penyambutan VIP macam ini. Pelan pelan saya melihat sepasang sepatu coklat di sisi anak itu. Mata saya naik ke atas, terpandang sebuah gaun beludru berwarna merah darah dengan rumbai-rumbai kuning. Mata saya terangkat lagi ke atas, dan melihat langsung kepada sepasang mata ramah, berkeriput, yang memandang dalam-dalam, dengan riak-riak gelombang hangat di dalamnya. Orang itu tersenyum kepada saya. Saya memusatkan perhatian. Tangannya terulur kepada saya, dan berkata pelan: "Esther Ueberall... tidak ingatkah kau pada saya?" Pastor Caruana!! Saya berenang dalam air mata....Di dalam mobil menuju pusat kota, Pastor Caruana bercerita bagaimana Beliau kemudian ditugaskan Roma di Cuba, dan menjadi Bishop Kepala (Uskup Agung?) di sana.

Dengan pertolongannya, dua lusin keluarga kami melarikan diri dari cengkeraman Hitler, dan tiba di Cuba. Mereka menantikan dibukanya kuota imigrasi Amerika, dan tidak diperkenankan bekerja. Namun, gereja Katolik Cuba melindungi mereka, memberi makanan, pakaian, sayur mayur segar dari kebun-kebun sendiri, daging, dan enam bulan kemudian mereka telah aman di Amerika.

KEMBALI KE AMERIKA SERIKAT

Sejak saat itu, saya dan Pastor Caruana berkirim-kiriman surat. Beliau kemudiah jatuh sakit dan dirawat di kota Philadelphia, Amerika Serikat. Beberapa kali saya menyempatkan diri menengok, dan dalam tiap doa.... saya selalu ingat keadaan beliau.

Suatu hari, sebuah surat tiba di meja kerja saya, dari pimpinan Gereja Katolik Philadelphia, dan isinya mengatakan bahwa keadaan Pastor Caruana sangat gawat.

Beliau tidak ingin ditemui oleh siapapun, namun terus menerus memanggil-manggil nama saya. 3 jam kemudian saya telah tiba di sana, dan duduk dengan diam di sisi tempat tidurnya. Beliau tampak kurus, lemah, dan tidak berdaya...

"Esther....", katanya memegang tangan saya. Kami berdiam diri disana, saling memand ang. Saya tahu, bahwa Beliau sebentar lagi akan "berangkat".

Kemudian Beliau berkata: "Esther, jaga diri baik-baik, saya selalu berdoa untukmu dan untuk keluargamu" Kemudian, dengan banyak kesulitan, Beliau mengeluarkan dari bawah bantalnya sesuatu yang diletakkan dalam genggaman tangan saya. Beliau memberikan kepada saya sebuah bros perak yang selalu dikenakannya.

Air mata yang panas membanjiri saya, dan sambil memegang tangannya erat-erat. Pergilah dengan tenang Bapa, KENANGAN akan engkau sangat MANIS di dalam hati saya. Lambang dari suatu hubungan yang manis, dari sekian banyak perbedaan-perbedaan umat manusia, namun...saling berbuat baik, karena kenal DIA!! Ini adalah terjemahan bahasa Indonesia, riwayat kehidupan Esther Ueberall ini, dimuat dua kali dalam majalah Guideposts, Februari 1974 dan Mei 1987.

Pesan dari PHW : " Di tengah ketidakadilan yang semakin sering umat Kristen alami di negeri ini, marilah kita menyingkirkan semua perbedaan kita dan saling membantu satu sama lain sebagai umat yang mengenal Allah...."

Don't Give Up

Oleh: Dede"s Parent

Berjuang Melawan Kanker

Kami tidak pernah menyangka ataupun siap menerima ketika harus menghadapi masalah ini. Dede (nama panggilan/kesayangan), anak kedua kami, yang periang, lucu, dan aktif, ternyata mengidap penyakit berbahaya dalam tubuhnya. Vonis dokter tentang penyakit Dede kami terima saat berumur 5 tahun, dan betapa hancur hati kami saat kami mendengarnya.

Kira-kira awal tahun 2006, kaki Dede sering sekali memar, kami berpikir bahwa itu disebabkan karena terbentur sesuatu. Memang Dede adalah anak yang tak bisa diam, aktif sekali. Maka, setiap kali dia memar kami beri dia Thrombopop gel. Namun belum satu memar hilang dari kakinya, sudah ada memar baru lagi. Di samping itu, setiap kali dia muntah, di mukanya akan muncul bintik-bintik merah seperti pembuluh darah yang pecah. Bintik merah itu muncul pertama kali pada saat dia pingsan karena tersedak makanan. Peristiwa itu terjadi satu minggu sebelum Natal 2004. Dia muntah dan ada potongan daging ayam yang menyangkut di lehernya dan tersedak. Mukanya membiru dan badannya telah lemas. Puji Tuhan, saya masih bisa memberikan pertolongan secepatnya meskipun dalam kepanikan yang amat sangat saat itu. Sejak saat itu setiap kali dia muntah muncul bintik-bintik merah lagi di muka atau badannya.

Setelah kami memeriksakan kondisi tersebut, dokter menyarankan agar Dede diperiksa darahnya. Dan hasil pemeriksaan mengejutkan kami karena menunjukkan bahwa ada kemungkinan Dede mengidap leukemia, namun untuk kepastiannya harus diperiksa sumsum tulang belakangnya. Kami masih tidak percaya dengan hasil itu sehingga kami berusaha mencari second dan third opinions. Semuanya mengatakan harus dilakukan biopsy, yaitu Dede harus di-test sumsum tulang belakangnya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya kami memutuskan untuk membawa Dede berobat ke Singapore. Pada saat itu trombositnya hanya 14.000 (normalnya adalah 150.000)! Dokter mengatakan untuk dijaga agar tidak kecapaian dan pendarahan, namun kami harus segera bawa dia ke Singapore. Hati kami galau dan stress, namun kami dikuatkan dengan dukungan teman-teman kami untuk segera membawanya ke Singapore.

Segera, Minggu 30 April 2006, kami berangkat ke Singapore tanpa ada perjanjian dengan dokter di Singapore. Saat itu, kami berkeyakinan bahwa Dede tidak sakit leukemia. Bahkan kami tidak memberitahu dia sehingga dia tidak tahu bahwa kepergian kami ke Singapore adalah untuk memeriksakan dia ke dokter. Dia masih sempat menanyakan kenapa kakaknya tidak ikut dan minta kakaknya nanti menyusul dia. Kami hanya mengatakan mau ke Singapore pergi ke dokter seperti biasa kalau dia sedang terkena flu atau sakit ringan.

Kami berdoa agar bisa bertemu dengan dokter yang bagus dan tepat untuk menangani sakit anak kami. Puji Tuhan, Tuhan mendengarkan doa kami. Prof. Tan, dokter kepala bagian haematology/oncology mau menerima kami meskipun tidak ada appointment sebelumnya. Beliaupun mengatakan bahwa Dede harus menjalani pemeriksaan sumsum tulang (Bone Marrow Aspiration-BMA), dan dirawat.

Hati dan mental yang telah kami siapkan, ternyata tak kuasa menahan kesedihan, setelah mendengar hasil BMA. Dokter memberitahukan bahwa Dede menderita leukemia jenis AML (Acute Myeloid Leukemia) - an aggressive leukemia, dan harus dirawat di Singapore paling tidak selama 6 bulan! Biaya pengobatannya pun sangat mahal, dan semua itu belum termasuk biaya transplantasi, jika diperlukan.

Tangis kami tak terbendung setelah dokter pergi meninggalkan kami. Saya masih sempat menguatkan istri saya untuk tetap berpegang kepada Yesus, iman kita jangan goyah, dan jangan menangis di depan anak kita. Dengan seluruh keyakinan, iman dan harapan kepada Kristus, akhirnya kami menguatkan diri dan hanya berserah diri seutuhnya kepada-Nya dan berjuang melalui cobaan ini.

Pada hari ketiga di rumah sakit Dede dioperasi kecil untuk ditanamkan port a-cath di dalam dada kanannya. Dengan port a-cath tersebut, pemberian obat, termasuk chemotherapy dan pengambilan darah bisa dilakukan. Obat tersebut akan langsung masuk ke jantung dan tidak beredar dulu ke tubuh, sehingga mengurangi penderitaan Dede, seperti kulit yang gosong akibat terbakar obat chemo, serta efek negatif lainnya.

Meskipun efek chemo seperti penurunan immune system, sehingga mudah terinfeksi kuman, demam, diare, maupun kerontokan rambut menyiksa Dede, namun ia tetap tegar dan semangat untuk sembuh, keceriaannya telah kembali, sebelumnya dia selalu menangis minta pulang dan hati kami rasanya teriris memdengarnya. Kami selalu memberi semangat kepada Dede untuk selalu beriman dan berserah total kepada Yesus, dan kami ceritakan kisah-kisah dari Kitab Suci terutama menjelang tidur.

Tuhan Yesus Cinta Kami

Setelah chemo yang pertama, yang ternyata memaksa kami untuk tinggal di rumah sakit selama satu bulan karena ada demam setelah chemo, Dede diizinkan pulang ke apartemen teman kami.

Ketika saya dan Dede tengah mengobrol berdua di ruang TV, tiba-tiba dia berjalan menuju lukisan Perjamuan Terakhir Yesus dengan murid-murid-Nya dan menyentuh gambar Yesus itu, dan lalu kembali kepada saya. Lalu dia berkata, "Papah, Dede sudah sembuh karena sudah sentuh jubah Yesus." Saya terkejut mendengarnya! Begitu besar iman dia, begitu besar harapan dia kepada Yesus. Memang saya pernah menceriterakan kepadanya cerita dari Kitab Suci di mana seorang perempuan yang sakit pendarahan namun memiliki iman yang besar dan berkata, "Asal bisa kujamah jubah-Nya saja maka aku akan sembuh". Dan ternyata cerita itu membekas di hatinya dan dia simpan cerita itu di hati dan dia mengimaninya. Maka saat dia melihat lukisan Yesus di ruang itu, dia sentuh Yesus! Luar biasa! Ternyata benar apa kata Tuhan kita, "Firman-Ku tak akan pernah kembali dengan sia-sia." Jadi janganlah kita bosan menyampaikan firman Tuhan, ceritakanlah kisah-kisah Injil kepada anak-anak kita.

Hal yang menyentuh hati juga terjadi saat kami mau pulang ke apartemen setelah selesai chemo yang ketiga. Saya ajak dia ke Gereja Novena. Kami berdoa di sana dan pada saat berjalan pulang saya tanya apa doanya. Diapun menjawab, "Dede minta supaya darah Dede diganti dengan darah Tuhan Yesus, biar Dede sembuh". Oh, my God, begitu indah doanya. Saya hampir tak percaya bahwa anak seumur dia dapat berdoa dengan begitu indahnya!

Hampir enam bulan kami menemani dia berobat di Singapore. Terkadang kami pun merasa lelah dengan beratnya beban ini. Kami merasa dihajar bertubi-tubi, tidak hanya fisik, finansial, mental, maupun rohani. Namun saya berusaha untuk tidak protes dan memohon kekuatan kepada-Nya.

Puji Syukur kepada Tuhan, Ia menjawab semua doa kami. Dari segi finansial Tuhan secara ajaib menyediakannya. Kami mendapatkan bantuan dari berbagai pihak dan mobil Stream kami pun terjual dengan harga yang cukup fair. Tuhan memberikan kami teman-teman yang luar biasa yang senantiasa mendoakan kami sehingga memberikan kekuatan kepada kami untuk menjalani semuanya ini. Mukjizat pun banyak terjadi untuk Dede. Sel leukemia yang awalnya 54%, dapat turun secara drastis menjadi 3% dari treatment chemo yang pertama! Luar biasa! Lalu turun lagi menjadi 1% dan terakhir 0%. Kami bersyukur, Dede tidak perlu sampai harus ditransplantasi sumsum tulangnya. Cukup dengan 4 kali chemo, ia sudah boleh pulang ke Indonesia, namun ia tetap harus rutin check up. Dan dia bisa melanjutkan sekolahnya lagi di TK semester II-nya.

Cobaan Itu Masih Ada

Liburan telah tiba! kedua anak kami, Dede dan kakaknya mendapatkan nilai rapor yang cukup baik, dan hadiah liburan kami sesuaikan dengan jadwal check-up Dede.

Setiap bulan kami selalu memonitor kondisi darah Dede, dan bulan Mei lalu (sebelum liburan) hasil test darah menunjukkan hasil yang bagus, semua komponen darah ada di standard range. Tapi betapa terkejutnya kami, ketika Prof. Tan mengatakan kepada kami kalau Dede mengalami relapse. Ada blast cell lagi di darahnya sebanyak 44%, dan trombositnya hanya 93.000. Bagaimana mungkin, bulan lalu hasil test darahnya masih ok? Apa yang menyebabkan relapse? "No one knows, that"s cancer. Difficult to predict." Prof. Tan menjelaskan dan kali ini harus ditransplantasi! Kami benar-benar shock kembali dan tak percaya! "Oh, Tuhan, mengapa ini harus terjadi lagi? Berlebihankah permintaan kami apabila kami mohon Dede sehat selamanya? Terlalu mulukkah? Tuhan berapa lama kami harus di jalan ini? Oh, Tuhan kuatkanlah kami semua untuk menghadapi ini kembali. Buatlah kami mengerti akan kehendak-Mu." Pergumulan berkecamuk di hati kami dan kami berjuang berat antara protes, bingung, dan mencoba berpasrah diri ... sampai akhirnya kami mencoba untuk berserah kepada Yesus, apapun yang terjadi Dia tahu yang terbaik untuk kami. Kami masih tetap berharap dan berdoa bahwa hasil pemeriksaan darah yang kemarin adalah salah dan BMA akan menunjukkan hasil yang berbeda.

Sementara menunggu hasil BMA kami diizinkan untuk pulang Indonesia terlebih dahulu. Kami pun sempat mencari alternatif tempat pengobatan untuk Dede di rumah sakit Amsterdam, Belanda, karena dulu teman kami di Amsterdam mempunyai anak juga leukemia tetapi tidak perlu ditransplantasi. Namun dengan beberapa pertimbangan (biaya, jarak dan ternyata prosedur transfer medisnya tidak mudah, dll), akhirnya kami mengambil keputusan untuk tetap membawa kembali Dede ke Singapore. Melihat kami begitu sibuknya, dia menanyakan kepada kami, "Kenapa Pah, emang Dede sakit lagi? Dede khan udah sembuh!" Kami begitu trenyuh dan kami pun menjelaskan kepadanya dengan hati-hati." Dan kami berpesan kepadanya untuk "Never Give Up!"

Sebelum berangkat kami meminta pastur untuk memberikan sakramen pengurapan orang sakit untuk kesembuhan dan kekuatannya dalam menghadapi cobaan ini.

Tuhan Yesus Luar Biasa!

Sejak Dede dinyatakan relapse, rumah sakit Singapore telah melakukan pencarian donor yang cocok untuk Dede. Pertama kami mendapatkan berita bahwa ada stem cell yang berasal dari plasenta, meskipun tidak 100% cocok namun masih bisa diterima. Kami berdoa kepada Tuhan Yesus untuk bisa mendapatkan donor yang 100% cocok untuknya karena tidaklah mudah untuk mendapatkan donor yang 100% cocok (menurut statistik peluang untuk mendapatkan donor yang cocok adalah1:100.000). Dan Tuhan Yesus menjawab, tidak hanya 1 donor sumsum tulang belakang (bukan stem cell plasenta) yang cocok namun Yesus memberikan 4 donor cocok! Luar biasa!

Kami selalu memberi semangat kepada Dede untuk tidak menyerah, dan setiap malam kami menina-bobokan dengan lagu "Don"t Give Up" dari Josh Groban, dan lagu itu menjadi favoritnya.

Satu keajaiban lagi terjadi, saat donor ditanya kapan dia siap untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya, pendonor menjawab 17 Oktober, tepat ulang tahun Dede! Sehingga tepat saat Dede merayakan ulang tahun yang ke tujuh di ruang isolasi untuk transplantasi, pendonor sumsum tulang belakang tersebut mendonorkan sumsumnya di sebuah rumah sakit di Amerika. Meskipun harus melewati ulang tahun di ruang BMT yang hanya ditemani oleh saya, karena mama dan kakaknya tidak diijinkan masuk ke ruang isolasi, karena hanya 1 orang yang diijinkan menemaninya dan tidak boleh keluar dari ruang tersebut selama 40 hari! dan dibatasi oleh double pintu kaca, namun Dede terlihat amat bahagia.

Tanggal 19 Oktober 2007, adalah "the big day" bagi kami semua, Dede menerima sumsum tulang belakang dari donor. Dia menerima semuanya dengan kepasrahan yang besar dan kami (dan teman-teman lingkungan kami di rumah kami) berdoa tak putus-putusnya untuknya. Transplantasi itu mulai dari tengah hari sampai sore hari dan tiap saat dimonitor terus.

Setelah menjalani transplantasi, Dede masih harus menjalani beberapa test darah. Hampir tiap hari harus ditransfusi darah merah dan trombosit karena berkurang terus sebagai proses dari transplantasi ini. Namun pada hari D+16 mulai terlihat adanya peningkatan (engravement), artinya sumsum dari donor mulai menunjukkan hasil dan menggantikan sumsum yang lama! 40 hari lamanya kami di ruang isolasi, sama sekali tidak boleh keluar untuk menghindari infeksi dan ruangan tersebut juga didisain dengan one way flow untuk arah udaranya sehingga kuman tidak bisa masuk ke ruang tersebut, begitu juga air dan udaranya yang masuk disterilkan terlebih dahulu.

Dan pada hari ke 40 (D+28) kami diizinkan keluar dari ruang tersebut dan kembali ke apartemen. Sebelum keluar dilakukan test BMA dan VNTR untuk mengetahui berapa persen sumsum dari donor telah menggantikan sumsumnya. Saya katakan kepadanya, "Dede, kamu seperti Tuhan Yesus yang berpuasa dan menyendiri selama 40 hari sebelum Dia berkarya, jadi Dede akan berkarya (bersaksi) seperti Yesus juga dan kamu telah lahir kembali dengan darah Tuhan Yesus di dalam badanmu."

Syukur kepada Allah! Hasil test menunjukkan 100% sumsum donor telah mengantikan sumsum tulang Dede. Puji Tuhan! Terima kasih ya Yesus, Engkau begitu baik kepada kami!

Pasca transplantasi masih ada treatment sampai akhirnya pada tanggal 24 Februari kami diijinkan pulang ke Indonesia. Bulan Maret Dede kembali ke Singapore, untuk check-up. Ia ditemani oleh mamanya dan hasilnya menunjukkan hasil yang bagus.

Tidak lama setelah kembali ke Indonesia, Dede pernah mengeluh sakit perut. Kami membawanya ke dokter namun tidak ada perubahan. Maka segera istri saya (karena paspor saya harus diperpanjang) membawanya berobat ke Singapore. Esok harinya di rumah sakit Dede sempat kejang-kejang! Oh, Tuhan! Kami tidak tahu apa penyebabnya, karena menahan sakit perutnya atau ada sesuatu di sistem syarafnya. Istriku yang biasanya tabah sampai tidak tega untuk melihatnya dan hampir putus asa. Dokter pun menscan otaknya dan perutnya, dan hasilnya tidak menunjukkan adanya masalah. Namun ternyata pada hari itu juga muncul bintik-bintik merah seperti cacar air. Ternyata dia kena cacar air, mungkin sakit perutnya karena ada virus cacar air di situ.

Saya bertanya kepadanya, bagaimana rasanya waktu dia kejang. Dede bercerita bahwa dia melihat Tuhan Yesus bersama dengan 11 murid-Nya (bukan 12) datang kepadanya dan Tuhan Yesus memegang kepalanya dan berkata, "Sembuhlah engkau!". Oh, Tuhan! Sungguh luar biasa pengalaman dia. Tuhan sendiri yang menyembuhkan anakku Dede! Lalu saya tanya lagi, "Pada saat Dede lihat Tuhan Yesus jelas atau seperti banyak awan/kabut?" "Banyak awan", jawabnya.

Sepuluh hari menjalani perawatan, tanggal 24 April 2008, kami pun akhirnya kembali ke Indonesia. Ketika sampai di bandara, kami dijemput oleh teman kami, DAAI TV, dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Yayasan kemanusiaan tersebut telah ikut membantu biaya pengobatan Dede. Karya mereka benar-benar nyata, membantu dengan ringan tangan, dan bukan atas nama agama, namun betul-betul karena dasar kemanusiaan.

Mereka menyambut kami di bandara. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan interview kepada Dede. Dan ketika ditanya cita-citanya, Dede menjawab. "Mau menjadi Romo." "Mengapa mau jadi Romo?", tanya mereka. "Biar dekat sama Tuhan." Jawabnya.

Kini telah lewat dari satu tahun setelah transplantasi dan dia semakin baik kondisinya dan bisa mengikuti sekolahnya lagi meskipun harus mengulang di kelas 1 karena dianggapnya cuti 1 tahun sewaktu dia sakit. Kami, sebagai orangtuanya banyak belajar dari dia karena imannya begitu besar kepada Yesus!

Banyak sekali pelajaran iman yang kami petik dari peristiwa ini. Kami semakin dikuatkan, iman kami ditumbuhkan dan kami bisa lebih menyerahkan segalanya kepada kehendak-Nya. Sebelum kejadian ini banyak doa kami yang tidak terkabulkan, tetapi kini Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa-doa kami.

Kami berdoa dengan iman dan pengharapan yang besar kepada-Nya dan tak lupa kami pun berpuasa, seperti yang dikatakan Yesus dalam Mat 17:19-21. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: "Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu? Ia berkata kepada mereka: "Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: "Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana – maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu (Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa dan berpuasa)".

Jadi jika kita menghadapi masalah yang demikian berat, berdoalah dengan penuh iman dan ucapan syukur dan berpuasalah, dan terlebih dahulu mengaku dosa agar karya dan berkat Tuhan dapat bekerja pada diri kita tanpa halangan dan sandungan dosa yang ada dalam diri dan jiwa kita.

Kami percaya sakit leukemia Dede adalah untuk kemuliaan nama-Nya, seperti dikatakan di Yoh. 9:1-3 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?" Jawab Yesus: "Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia."

Jika kita berdoa dengan iman, bukan hanya di bibir, pasti doa itu didengarkan dan dikabulkan Tuhan karena Yesus yang bersabda sendiri:

Mat 7:7-8, "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan."

Mat 21:22, "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya."

Yak 1:6, "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin."

Yoh 15:7, "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya."

Yoh 16:23-24, "Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam Nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu."

Mrk 11:24, "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu."

Mat 18:19-20, "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang darimu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Dalam menghadapi cobaan ini kami selalu berpegang pada Fil 4:13 "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku , sehingga kami bisa berjalan tegak bersama Yesus selalu.

Dan kami percaya dengan sabda dan janji Yesus karena Ia-pun bersabda "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu (Mrk 13:31)".

Kita punya Allah yang ajaib, Allah Tritunggal yang Mahabaik dan Maha Kuasa. Penyakit leukemia adalah masalah kecil bagi-Nya, dan tak dapat dibandingkan dengan kuasa-Nya dan Kasih-Nya kepada kita. Alleluya, Puji Tuhan di tempat yang Maha tingi, selamanya!

(artikel tsb juga pernah dimuat di www.katolisitas.org/2009/01/22/dont-give-up)

Duka Ketidakpastian

Oleh:Henry Sujaya

Saya baru saja membaca sebuah artikel yang ditulis Daniel Gilbert, seorang Profesor Psikologi dari Harvard University, judulnya "The unbearable angst of uncertainty". Di situ dia menulis tentang sebuah eksperimen yang dilakukan peneliti dari Maastricht University di Belanda yang melakukan penelitian pada sekelompok orang dengan memberikan 20 kejutan listrik. Kepada satu kelompok, para peneliti memberitahukan bahwa akan ada 17 kejutan ringan dan 3 kejutan berat, sedangkan kelompok yang lain hanya tahu bahwa mereka akan menerima semua kejutan berat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang justru tahu bahwa mereka cuma menerima 3 kejutan berat, ternyata lebih takut dan kuatir. Jantung mereka berdetak cepat dan mereka berkeringat dingin.

Ini karena orang cenderung lebih stress kala mereka mengetahui kalau sesuatu yang buruk mungkin terjadi, daripada mengetahui sesuatu yang buruk akan terjadi. Kebanyakan orang ternyata, kalau mereka tahu sesuatu yang buruk akan terjadi, walau pada awalnya mereka akan terpukul, setelah beberapa saat mereka akan mulai menerima kenyataan dan bersiap untuk memperoleh yang terbaik dari keadaan yang terburuk.

Ketidakpastian itu adalah beban yang menusuk. Saya jadi ingat satu cerita lagi. Tentang seorang kriminal di Amerika yang divonis hukuman mati. Setelah mencoba pelbagai usaha untuk naik banding, vonisnya tidak berubah. Akan tetapi pada hari H-nya, hukumannya ditunda. Penundaan ini bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali. Entah mengapa, mungkin karena ada kesalahan administrasi. Akhirnya pada hari yang dinanti-nantikan, setelah dengan pasrah, si pesakitan siap menerima nasib...eh....ternyata dibatalkan lagi! Akhirnya saking kesalnya dia malah balik menuntut pemerintah AS, karena dianggap lalai dan menunda-nunda hukuman matinya.

Salah satu duri ketidakpastian adalah karena kita tidak tahu apa yang mesti kita lakukan. Saya ingat, ketika saya memulai bisnis saya. Ternyata tidak berhasil baik. Saya sempat stress. Bukan semata karena usaha saya yang tidak berhasil, tapi karena saya tergantung dalam dilema, dan terjebak dalam lubang kebingungan. Mestikah saya terus bertahan dan menghabiskan uang tabungan saya? Mestikah saya berhenti saja dan kembali jadi karyawan? Kedua-dua langkah mengandung resiko. Jadi berbulan-bulan saya stress karena ketidakpastian, tidak pasti saya akan ke mana, atau apa yang akan terjadi pada saya.

Ketidakpastian, tentu adalah tema sehar-hari sekarang. Dengan krisis ekonomi global ini, tidak jelas apa yang akan terjadi pada pasar saham besok. Mendengar berita PHK di negara-negara paling makmur sekalipun, tidak pasti berapa lama kita bisa duduk di bangku kantor. Mendengar berita flu ini-flu itu, tidak jelas kapan epideminya akan meledak, atau entah virus baru apa lagi besok datang.

Ketidakpastian sekarang bukan hanya melanda orang miskin, tetapi juga orang kaya. Bukan hanya orang tidak berpendidikan, tetapi juga orang-orang pintar. Orang lemah atau berkuasa.

Yesus mengerti. Dunia tidak dapat menyelesaikan persoalan ketidakpastian ini. Selama kita menaruh harap dan rasa aman kita pada sistem dunia, kita tidak akan pernah merasa damai. Itulah sebabnya Dia bersabda, "Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu."

Mungkin tidak ada jawaban instan akan masalah ketidakpastian kita, begitu kita selesai mengucapkan " Amin" dalam doa kita. Namun satu hal pasti, Tuhan bilang, Dia akan berikan kita damai sejahtera yang bukan dari dunia ini. Yang tidak dimengerti dunia ini. Yang akan berikan kekuatan kepada kita untuk terus melangkah.

Kembali pada kisah di atas tentang pengalaman saya. Ya, Tuhan menolong saya. Dan bulan-bulan yang saya habiskan dalam kekuatiran dan stress, sebetulnya sia-sia saja.

Gak Usah Pulang ke Rumah Lagi

Oleh: Walsinur Silalahi

Anak-anak sudah dewasa,tetapi hubungan dengan isteri makin tdk harmonis,aku jadinya stress memikirkan tingkah isteriku yang anggap remeh thd aku. Sudah seringkali isteriku itu kuperingatkan tetapi ,tdk ditanggapi.Dia malah sering mengajak bertengkar .Mungkin suatu saat aku menjadi bahan berita di TV karena kesabaranku ada batasnya.Sudah sepuluh tahun ini dia bertingkah demikian.

Setiap aku pulang kantor dia tdk berada dirumah.Kalau aku pergi kekantor dia belum bangun.Biasanya dia selalu mempersiapkan pakaian yang harus aku gunakan bila kekantor atau ke gereja. Ada perasaan kesal,benci,dongkol,,apalah itu sebutannya..aku tidak mengetahui penyebabnya,mengapa dia betah berjam-jam di rumah janda itu. Sebagai suami,aku merasa tdk dihargainya..Pakaianku juga gak diperhatikannya lagi.Buktinya kancing kemejaku,celana ada yang copot,,dia tdk peduli.

Seringkali aku mengenakan kemeja,kancingnya tdk lengkap.Terpaksa saya betulkan dulu dengan memakai jarum tangan. Tak sabar lagi aku menahan emosi ini,aku memarahinya demikian:"bu,kalau gak betah lagi tinggal dirumah,angkut saja pakaianmu kerumah janda itu,spy kamu tdk terganggu dengan urusan dirumah ini.Tau gak teman,dia malah lebih galak:"Bapak saja yang pergi dari rumah ini. Lagian ngapain sih bapa ngomong begitu?,makanan sudah saya siapkan di meja,tinggal santap saja.Rumah juga sdh ku bersihkan.Bapa cerewet amat sih? Aku tdk mau bengong sendiri terus dirumah,makanya aku pergi berkumpul sama teman2. Aku tdk melarangmu berkumpul bu,tetapi ingat pulang dong.Ibu kadang2 pulang jam 23.00,malah sering pulang pagi.Saya jadi curiga bu, ada apanya disana,kataku menjawab ocehannya."Mikir dong bu,anak-anak sudah besar,umur kita sdh diatas limapulu tahun,masa kita bertengkar terus didepan mereka?"kataku menasehatinya.Ternyata dari pemantauanku,mereka bermain kartu disana.Teman2nya adalah wanita yang penghasilan suaminya cukup,dan seringkali ditinggal suami yang bertugas di luar negeri atau di profinsi lain.

Sudah sering saya komplain atas sikap2nya selama sepuluh tahun ini,tetapi dia tdk mau berobah sikap.Pada saat saya pensiun kebiasaan meninggalkan rumah makin menjadi-jadi. Aku bergumul,kalau kuceraikan,aku ingat janji nikah kami di hadapan Tuhan:Tidak boleh bercerai kalau tidak diceraikan oleh kematian.Tidak etis bertengkar terus-menerus dihadapan anak-anak.Kupendam rasa kecewaku dalam hati.Dari perenunganku thd perjalanan keluargaku aku berkesimpulan bhw manusia tdk akan mampu merubah sifat2 negatif pasangannya,kalau bukan datang dari dirinya sendiri.Yang mampu membuat seseorang bertobat dari perangainya yang negatif adalah Tuhan dan itupun bila pelakunya mau dirobah oleh Tuhan.Hobbynya main kartu sangat sulit saya robah.

Akupun menyerahkan persoalan ini kepada Tuhan,biarlah Tuhan yang memilih waktunya untuk isteriku sadar dan kembali kejalan yang benar. Lalu aku berpikiran bahwa lebih baik melayani daripada saya berusaha merobah sifat2 isteriku.Dirumah,saya selalu mengajak anak-anaku untuk berdoa bersama-sama tanpa kehadiran isteriku.Kami juga membuka pelayanan baru di Bekasi seperti Pondok ungu,Jatimulia,Bekasi.Saya juga menulis buku2 tehnik untuk sekolah kejuruan.Dari hasil2 tulisanku pemerintah memakai buku saya sebagai mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah kejuruan di seluruh Indonesia.Dari kerabat2ku dan kenalanku,ada sindiran sinis kepadaku.Mereka berkata:"bapak itu aktif pelayanan,tetapi isterinya saja main kartu." banyak lagi ocehan2 yang memojokkanku,tetapi pelayananku berjalan terus,aku tdk menggubris ocehan mereka.

Sebagai manusia biasa ,sekalipun saya aktif pelayanan,saya juga mengalami stress atas ocehan mereka.Kadang aku patah semangat.Suatu ketika dalam peristirahatan saya di Cipanas terbetik pemikiran demikian dalam hati saya: Saya sdh berusaha melayani Tuhan maksimal,tetapi mengapa perobahan isteriku tdk kunjung tiba?",Bagaimana nih Tuhan..Apakah saya selamanya menjalani kehidupan begini?.

Tiba2 tanpa sadarkan diri aku collapse dan terjatuh mencium tanah.Mulutku mengeluarkan lendir.Saat itu aku hanya sendiri.Masih dalam keadaan tdk sadar,seorang petani yang melewatiku terkejut melihatku tertelungkup. Dia bertindak cepat membawaku ke rumah sakit terdekat.Setelah diberikan pertolongan darurat,petani itu melihat kartu nama yang tertera dirumahku dan langsung menelpon isteriku yang saat itu berada dirumah. Dengan sigap isteriku dan anak-anakku beserta beberapa handaitolan datang melihatku ke Cipanas.Kulihat Isteriku mengusap kepalaku dengan menangis. Dia berjanji:"Aku akan selalu merawatmu papa",dan maafkan saya yang selama ini sering membuatmu kecewa dan terluka akan sikap2mu.

Merekapun membawa saya ke Rumah sakit Cikini di Jakarta untuk mendapat perawatan selanjutnya.Badanku lumpuh total,berbicara tdk bisa lagi normal. Setelah cukup lama dirawat disana,dokter menyarankan,agar saya berobat jalan saja dan aktif latihan agar sencor motorik(urat syaraf) berfungsi kembali.

Aku duduk saja di korsi roda,sebuah alat dayung sepeda dipersiapkan untuk melatih gerakan2 tangan maupun kaki.Dengan sabar dan tekun aku lakukan semua nasehat dokter tsb.Setiap hari kamis dan jumat,saya dibawa isteriku ketempat rekreasi seperti ancol,sea world dan tempat2 yang menyenangkan lainnya.Kadang saya dibawa melihat-lihat keindahan ciptaan Tuhan di tempat lahirku Brastagi,Danau Toba.Aku bersukacita melihat perobahan isteriku yang waktunya diberikan total mengurus segala kebutuhanku.Perbuatan2nya yang mengecewakan selama ini ditinggalkan.Dia juga ikut melayani pada kebaktian2 gereja yang saya rintis sebelumnya sambil membawa saya.Saya benar2 mengalami curahan kasih Tuhan,sekalipun saya lumpuh.

Ada orang berkata:"mengapa isterinya berobah setelah suaminya lumpuh?" tetapi bagiku Inilah waktu Tuhan yang saya pergumulkan.Nyawakupun kuberikan asal isteriku bertobat dan diselamatkan Tuhan.Kehidupan didunia adalah sementara.Mari kita persiapkan waktu sedikit ini untuk memperoleh kehidupan kekal bersama Tuhan di sorga.Saya bersyukur karena Tuhan memakai kelumpuhan saya untuk menyelamatkan isteri saya. Tanganku dan kakiku berangsur-angsur pulih,dan sekarang saya sdh mampu berdiri sendiri tanpa tongkat.Soli deo Gracia. Saran penulis.sebaiknya jangan tunggu pasanganmu sakit dulu baru mau berobah sikap dari kelakuan2 yang tdk dikehendaki Tuhan.

Hadiah Terindah untuk Seorang Terpenjara

Penulis : Lesminingtyas

Pelayanan saya di Kalimantan Barat yang cukup lama membuat saya merasa dekat dengan orang-orang China di sana. Saya merasa mereka adalah keluarga saya yang kedua. Kecintaan saya terhadap masyarakat Kalimantan Barat dan sekitarnya juga tercermin dari beberapa tulisan saya. Walaupun sekarang saya tidak lagi melayani masyarakat Kalimantan Barat, rasanya sebagian hati saya masih tertinggal di sana. Untungnya rasa kangen saya sedikit terobati dengan kiriman foto dan cerita-cerita dari Ati (adik laki-laki).

Ati adalah seorang pemuda China yang merupakan adik angkat saya di Kalimantan Barat. Ati lahir dan dibesarkan dalam keluarga Konghucu yang hancur berantakan, karena jerat-jerat dosa seksual, perjudian dan minum-minuman beralkohol. Masa lalu Ati yang hitam pekat hampir membuat saya tercengang sekaligus kagum dengan pertobatan dan pemulihan yang telah dialaminya. Sejak menerima Tuhan Yesus, Ati justru mengambil bagian untuk melayani Tuhan.

Setelah sekian lama persaudaraan kami, Ati menceritakan betapa hancurnya jiwa mama gara-gara penghianatan suaminya. Ati dan adik kandungnya; Willy juga pernah terjerumus ke dalam kubangan dosa yang sama dengan papanya. Kejujuran Ati tidak membuat saya menjauhinya, tetapi saya justru merasa perlu menguatkannya. Saya sangat mengerti mengapa Ati dan Willy sampai jatuh dan bergelimang dosa. Saya melihat ada kemarahan dan kekecewaan mereka di bawah alam sadar terhadap papanya. Di sisi lain, papa memang menghadirkan sosok yang tidak layak diteladani.

Saya sangat gembira karena Ati telah mengalami pertobatan dan pemulihan. Bahkan ketika Ati merencanakan untuk studi lanjut di bidang teologi, saya pun memberi dukungan sebisa saya. Pergumulan pribadi dan paper Ati yang perlu saya edit, selalu saya tempatkan pada prioritas pertama. Ini semua saya lakukan sebagai apresiasi dan dukungan saya terhadap kehidupan Ati yang baru.

Menjelang akhir tahun 2004, Ati menelpon dari Kalimantan Barat dan menceritakan bahwa Willy sudah hampir 2 bulan mendekam di tanahan polres karena terlibat kasus penipuan. Kalau saya gembira melihat kehidupan baru Ati, saya punya beban tersendiri dengan kehidupan Willy yang masih bergelimang dosa. Walaupun saat itu kesibukan kerja saya sangat tinggi, tetapi saya yakin Tuhan tidak menginginkan saya mengabaikan Willy. Karena beban dan tanggung jawab Ati di Kalimantan Barat sangat besar, maka saya mencoba menenangkannya dan berjanji untuk ikut memikirkan Willy.

Karena saya tidak bisa mempengaruhi proses hukum yang akan dihadapi, maka saya hanya bisa meminta kakak kandung saya untuk menjadi pengacara Willy, dengan biaya sepenuhnya dari Ati. Dengan demikian saya bisa meyakinkan bahwa keadaan Willy baik-baik saja, sehingga Ati bisa tetap berkonsentrasi mencari uang dan melayani Tuhan di Kalimantan Barat.

Setelah 2 bulan mendekam di Polsek, Willy dipindahkan ke rutan Salemba. Di rutan, Willy ditempatkan di sebuah barak bersama ratusan tahanan yang lainnya. Sebenarnya Willy membutuhkan uang Rp. 2 juta untuk bisa masuk kamar sel di rutan supaya ia tidak harus tidur berdesak-desakan layaknya ikan asin di emper-emper atau di lorong bangsal, bersama penjahat kelas teri yang tidak berduit. Sebenarnya kakak saya juga menyarankan hal yang sama, tetapi saya dan Ati berpikir lain. Kami berdua berpikir, biarlah Willy mendapatkan pelajaran yang berharga dari penderitaannya selama di penjara. Kami berdua berharap siksaan tersebut memiliki efek jera terhadap Willy.

Walaupun ada oknum penegak hukum yang menawarkan kekebasan dengan sejumlah uang, namun saya dan Ati tidak mau melibatkan diri dengan hal-hal yang berbau ketidakadalian dan KKN. Kami berdua justru berharap dengan terkurung di penjara, Willy bisa duduk diam, mendengar dan menerima Firman Tuhan. Setidaknya kami berharap bisa mengetuk pintu hati Willy sehingga ada tersedia tempat bagi Tuhan di hatinya.

Sejak Willy mendekam di rutan Salemba saya rindu untuk melawat, sekedar meminjamkan telinga, hati dan mulut saya, sama seperti saya memperlakukan Ati. Tapi sayang, kakak saya keberatan kalau saya harus datang ke tempat para pendosa itu dikurung. Banyak hal mengerikan yang diceritakan oleh kakak saya, membuat hati saya ciut sehingga tidak ada nyali sedikitpun untuk datang sendirian ke rutan salemba. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa di dalam rutan praktek UUD (Ujung-Ujungnya Duit) masih tetap kental. Bukan hanya para napi dan tahanan yang "diporoti", keluarga atau tama yang membesuk juga "dipalak". Kakak saya yang datang atas nama hukum saja selalu kena "palak" di setiap pintu pemeriksaan.

Waktu Willy merasa putus asa karena hampir seluruh kulitnya borokan dan kejelasan waktu sidang juga belum ada, Willy mengirim SMS yang mengatakan dirinya ingin bunuh diri saja. Willy menantang Ati untuk memutuskan hubungan persaudaraan karena Ati menolak permintaannya untuk membayar kamar dan "salam tempel" untuk oknum yang menjanjikan keringanan perkara. Sekali lagi, saya dan Ati tidak mau menggunakan perasaan. Kami berdua berkeras dan menyerahkan perkara Willy ke dalam jalur hukum yang normal, walaupun beresiko pada vonis hukuman yang cukup berat untuk Willy.

Beberapa saat saya dan Ati tidak mau terlalu berat memikirkan Willy. Kami percaya Tuhan punya rencana tersendiri untuk Willy. Bahkan secara ekstrim saya dan Ati berprinsip bahwa kami bukanlah juru selamat yang bia menolong Willy dan biarlah Willy mencari dan mengandalkan Juru Selamat yang Sejati.

Kamis 10 Maret 2005, menjelang libur hari Raya Nyepi, tiba-tiba HP saya berdering. Ketika saya lihat nama Ati terpampang di layar ponsel, saya bergegas mengangkatnya. Saya tahu persis, kalau Ati menelpon berarti sedang ada masalah yang serius. Ketika Ati menanyakan kesediaan saya untuk membantu membelikan soft lens untuk Willy, saya masih mencoba menawar untuk mengirimkan softlens tersebut lewat kakak saya pada hari Senin. Namun karena Ati mengatakan bahwa softlens Willy sudah kedalu warsa, maka tanpa berpikir lagi saya pun langsung mengiyakan. "Inilah kesempatan saya berkunjung ke rutan Salemba, mumpung tidak ada kakak yang melarang" begitu pikir saya. Memang Ati hanya mempercayakan keuangan untuk Willy melalui saya, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan uang, Ati selalu mentransfer ke rekening saya.

Begitu telepon ditutup saya mulai kebingunan. Di satu sisi saya ingin melawat Willy, di sisi lain saya takut dengan birokrasi untuk masuk ke rutan. Terlebih pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan akibat narapidana salah mengartikan perhatian dan kasih sayang kami. Ketika masih kuliah dulu saya melayani beberapa narapidana di LP Salatiga, Jawa Tengah. Begitu narapida memasuki masa asimilasi dan diberi kesempan bersosialisasi dengan dunia luar, beberapa dari mereka ada mencari ke kampus karena merasa pernah diperlakukan secara special.

Walaupun saya yakin Willy tidak akan menyusahkan saya, tapi saya terus ingat Ati yang selalu wanti-wanti karena sorot mata Willy yang alim, memelas tapi penuh tipuan. Saya mulai bingung dan panik karena membayangkan betapa ngerinya saya masuk sendirian ke dunia yang sangat asing. Saya mencoba menghubungi De De, Di Di dan adik-adik rohani sekaligus teman diskusi saya dari Gereja Kristus Ketapang. Sayang sekali, mereka sudah punya acara sendiri-sendiri.

Sementara itu tanggal 11 Maret jam 11.00 saya sudah membuat janji untuk datang dalam acara jumpa darat member milis Krisen-Katolik teramah yang saya ikuti. Rasanya sangat tidak bijaksana kalau saya ingkar janji atau tidak datang. Terlebih ada seorang rekan milis yang meminta saya untuk membawa asinan Bogor. Otak ini rasanya mau pecah, karena banyak sekali hal yang belum tertangani sore itu.

Sambil menunggu bis jemputan, saya mencoret-coret daftar kegiatan yang harus saya selesaikan, diantaranya : mengambil uang di ATM, membeli soft lens, mencari teman untuk ke rutan, mencari informasi dari kakak mengenai tata cara membesuk Willy, membeli asinan Bogor, datang ke jumpa darat di Mall Artha Gading jam 11.00, dan membesuk Willy jam 13.00.

Dengan banyaknya hal yang harus diselesaikan, saya memutuskan untuk mulai melakukan sebagaian mulai sore itu, paling tidak untuk mengambil uang di ATM dan membeli soft lens. Saya pun sengaja tidak pulang dulu ke rumah, tetapi langsung ke Plaza Jambu Dua, Bogor. Setelah ada cukup uang tunai di tangan, saya mencoba mencari soft lens yang dipesan Willy. Sayang sekali, dari 2 optik yang saya datangi, semuanya tidak menyediakan soft lens untuk ukuran minus 11. Petugas optik tersebut menyarankan saya mencoba mencari soft lens tersebut ke beberapa optik di Plaza Ekaloka, di Sukasari.

Semula saya agak ragu, karena hari sudah gelap sedangkan kacamata saya sendiri tertinggal di bis jemputan. Namun demi Willy, saya nekat juga untuk pergi. Perjalan saya memang agak terhambat karena dalam situasi gelap dan tanpa kacamata, saya tidak berani menyeberang. Mau tidak mau, saya sedikit membuang waktu untuk naik angkot 09 yang ngetem di dekat Plasa Jambu Dua sambil menunggu angkot itu penuh.

Dari tujuh optik yang ada di Ekaloka, ternyata tidak satu pun yang memiliki persed248222n soft lens untuk ukuran yang dimaksud. Saya mencoba menghubungi Ati dan istri Willy, tetapi HP mereka tidak satu pun yang aktif. Semula saya sudah GR (gede rasa) dan menyangka kalau memang Tuhan tidak mengijinkan saya pergi sendirian ke rutan Salemba.

Kira-kira jam 20.30 saya keluar dari Plaza dengan hati yang sangat cemas. Kebetulan penerangan di depan Plaza yang masih relatif baru itu sangat kurang. Di sisi lain, banyak kendaraan yang melintas di depan Plaza dengan kecepatan tinggi. Saya berpikir sejenak supaya bisa menyeberang jalan dengan aman. Sejenak kemudian saya memutuskan untuk naik angkot ke depan Terminal Tas Tajur karena penerangan di sana cukup bagus dan jalanan cukup datar sehingga saya berharap dapat menyeberang dengan mudah.

Sejenak pikiran saya blank dan tahu-tahu saya sampai tempat yang gelap dan sepi. Itulah salah satu kelemahan saya yang mudah sekali mengalami disorientasi ruang di dalam suasana gelap. Karena sudah terlalu jauh, saya pun turun. Dengan setengah berlari, saya menyeberang di tempat yang benar-benar sepi itu. Begitu sampai seberang, saya baru tahu bahwa saya sedang berada di depan tempat bilyard yang remang-remang. Lama saya menunggu angkot yang lewat, hati saya pun mulai menguluh "Tuhan, saya ingin melayani, tapi jangan terlalu sulit seperti ini!"

Begitu ada angkot lewat, saya pun segera naik. Di dalam angkot itu saya masih menggugat Tuhan "Tuhan, dari dulu saya sudah melayani orang-orang miskin yang kelaparan dan hidup menggelandang, masihkan saya harus melawat orang yang di penjara?". Suara hati saya mulai menegur "Kamu pikir, Amanat Agung dalam Matius 25:31-46 sudah kau lakukan dengan sempurna? Kamu jangan terlalu cepat puas, masih banyak yang belum kamu lakukan untukKu. Sekarang saja, untuk melawatKu di penjara, kamu setengah hati"

Begitu sampai rumah saya masih berusaha menelpon Willy, dengan harapan ia sabar menunggu softlens hingga hari Senin. Namun Willy mengeluh, karena matanya sudah memerah dan kulitnya borokan, sehingga ia berharap saya mencarikan soft lens dan caladin cair di Pasar Baru, dan sebelum jam 13.00 saya harus sudah berada di rutan Salemba. Saya kembali bingung. Untung saja, kakak saya segera mengirim SMS mengenai petunjuk besuk narapidana.

Sebelum berangkat tidur, seorang teman sesama warga Bogor yang hendak ikut acara jumpa darat, mengirim SMS menanyakan baju yang akan saya pakai besok. Terus terang saya masih bingung, mencari baju yang layak untuk bertemu dengan orang-orang terhormat di sebuah mall, tetapi juga cocok untuk berkunjung ke penjara. Dengan dua acara yang sangat berbeda itu saya ingin penampilan saya tidak terlalu mencolok ketika di penjara, tetapi juga tidak terlalu njomplang dengan teman-teman dari kalangan yang terpelajar.

Singkat cerita, acara jumpa darat dengan teman-teman sungguh sangat menyenangkan. Rasanya ingin sekali saya melanjutkan curhat dengan beberapa member yang sudah terbiasa curhat di milis. Suasana yang hangat dan penuh persaudaraan itu membuat saya engan untuk meninggalkan acara tersebut. Ada perasaan sedih dan kecewa ketika alarm reminder ponsel saya berdering, tanda saya harus segera pergi ke Pasar Baru. Berat rasanya saya meninggalkan "pesta kecil" dengan makanan lezat dan istimewa yang dibawa oleh rekan-rekan yang jago masak. Ego saya pun sedikit berontak seraya berkata "Willy, kenapa sih kamu bikin kejahatan dan pakai ngrepotin saya segala? Nglawat sih ngalawat, tapi saya kan juga berhak untuk bersuka cita. Masak sih kamu tega merampas kesempatan emas saya bersama teman-teman curhat yang seiman?". Untung saja, pemberontakan itu segera saya tepis sendiri dengan mengingat perkataan Tuhan Yesus "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk Aku"

Sebenarnya saya malu untuk berterus terang dengan teman-teman milis yang sangat terpelajar itu, bahwa saya punya saudara angkat, seorang pendosa yang harus mendekam di penjara. Namun, untuk berbohong saya juga tidak bisa. Lagi pula rasanya tidak ada alasan lain yang lebih tepat dan bijaksana untuk meninggalkan persekutuan itu selain alasan yang sebenarnya. Puji Tuhan, dengan keterusterangan saya beberapa rekan senior justru sangat mengerti. Ibu Ine yang jago masak dan Cik Aina, teman curhat saya yang paling seru membekali saya dengan beberapa bungkus makanan untuk Willy. Walaupun tas plastik hitam berisi makanan sungguh tidak serasi dan merusak penampilan saya, namun demi Willy saya rela melakukannya.

Begitu selesai berpamitan, secepat kilat saya meninggalkan tempat bergensi itu, menuju ke Pasar Baru. Suasana pasar yang tidak teratur dan agak kumuh, membuat saya kurang nyaman. Hati kecil saya pun mulai mengeluh "Tuhan, kenapa sih susah amat melakukan kehendakMu. Di dalam Injil, Engkau hanya memintaku untuk melawat orang di penjara, tapi kenapa Engkau tuntut juga aku untuk keluar masuk tempat yang tidak elit ini?" Suasana yang tidak nyaman tersebut mendorong saya untuk segera meninggalkannya dan dengan dengan langkah seribu, saya menuju ke tempat di mana Willy mendekam.

Walaupun di setiap pintu penjagaan/pemeriksaan, jelas-jelas tertulis "Kunjungan Tidak Dipungut Biaya" tetapi dalam prakteknya tetap saja UUD. Untuk sampai ke dalam dan bertemu dengan kaum terpenjara, saya harus melewati 4 (empat) pintu, masing-masing dengan salam tempel sebesar Rp. 10,000. "Willy, kasus umum, pasal 378" dengan sok PD saya mengucapkan "pasword" yang dipesan kakak, saat masuk pintu pemeriksaan.

Entah pada pintu yang keberapa, saya diminta masuk ke ruang tertutup untuk diperiksa. Semua isi tas harus dikeluarkan. Beberapa saat kemudian, saya diminta mengangkat kedua tangan dan seorang petugas perempuan meraba seluruh permukaan tubuh saya. Kantong-kantong saku saya tak terlewatkan juga dari pemeriksaan petugas. Begitu petugas tahu bahwa saya membawa HP, saya diminta untuk menitipkannya dengan biaya Rp. 10,000 juga. "Duit lagi, duit lagi" kata saya dalam hati setengah geregetan.

Ketika saya sudah lolos pemeriksaan di bagian perempuan, saya pun masuk ke pintu kerangkeng yang berikutnya. Namun sebelum badan saya masuk kerangkeng seluruhnya, tiba-tiba seorang penjaga laki-laki menangkap tangan saya "Eits, dicap dulu!" katanya. Tanpa permisi dan tanpa menanyakan saya suka atau tidak suka, petugas itu membubuhkan stempel di atas pergelangan tangan saya. Walaupun hati saya berontak diperlakukan seperti binatang, saya tak mampu menolaknya. Terlebih kejadiannya sangat cepat dan tidak meminta persetujuan saya sebelumnya.

Begitu sampai di dalam kerangkeng, beberapa pembesuk laki-laki mentertawakan saya sambil berkata "He,he,he.mbak disangka laki-laki, ya?!" Saya pun baru sadar, ternyata dari sekian banyak pembesuk perempuan, hanya saya yang distempel. Saya cuma mesam-mesem, setengah malu bercanpur geli "Akhirnya si tomboy ini kena batunya juga" saya meledek diri sendiri.

Ketika sampai di dalam, saya agak kesulitan mencari Willy karena memang sebelumnya belum pernah bertemu. Namun melihat saya clingak-clinguk, Willy pun menghampiri saya sambil menyodorkan tangan "Ini Mbak Ning, temannya Koko ya?" Saya pun tersenyum. Agak lama kami berputar-putar memilih tempat. Beberapa pembesuk yang punya cukup uang memang membayar petugas supaya bisa duduk dan ngobrol di sofa di ruangan kantor rutan. Namun sayang waktu itu ruangan sudah dipenuhi oleh beberapa tahanan dan keluarganya yang tentunya sudah lebih dulu membayar "O...ternyata bukan cuma hotel yang fullbook" kata saya dalam hati.

Semula Willy mengajak saya berdiri di emper kantor rutan yang cukup terlindung dari sengatan matahari. Namun tak lama, kami diusir oleh petugas karena tempat itu juga sudah "dipajak" oleh tahanan lain. Saya dan Willy pun pindah ke tempat lain. Setelah menengok kesana kemari, tidak ada pilihan lain keculai jongkok berhimpit-himpitan dengan nara pidana lain. Saya berusaha mengambil jarak kira-kira 20 cm supaya tidak bersinggungan dengan Willy, tapi pundak dan badan saya justru menempel dengan tahanan lain. Suasana barak di rutan siang itu mirip dengan terminal Pulo Gadung sehari menjelang lebaran.

Begitu saya siap meminjamkan telinga, Willy memuntahkan segala kekesalan dan kemarahannya terhadap sikap Kokonya; Ati. Saya menjadi merasa bersalah dan bertanggung jawab untuk meluruskan, karena selama ini saya pun banyak mempengaruhi sikap Ati. Ketika Willy menuduh Ati tidak mempedulikannya, dengan jujur saya katakan "Sekarang ini saya ada di sini karena Tuhan dan Ati yang meminta. Sebelumnya kita bukan siapa-siapa dan saya besedia datang ke sini karena Tuhan dan Ati sangat mengasihi Willy".

Tidak mudah untuk meluluhkan hati Willy. Pandangan mata Willy yang memelas dan sok alim yang diceritakan Ati sama sekali tidak terbukti. Yang ada hanyalah pandangan kebencian yang liar. Rasanya dulu selama tinggal di Kalimantan Barat, saya belum pernah menemukan China se-preman Willy. Walaupun kulitnya masih tetap putih dan matanya masih tetap sipit, tetapi wajah Willy sangat jauh dari kesan kalem. Kulit tangannya yang dihiasi borok memang membuat saya jatuh kasihan sekaligus jijik. Tapi mau bag268249223 lagi, untuk sedikit menjauh darinya, sudah tidak ada tempat lagi.

Walaupun saya sudah mengenakan baju yang sederhana mungkin, tapi sejujurnya penampilan saya siang itu paling mencolok. Asli, waktu itu semua orang pasti akan setuju kalau saya paling cantik di antara pembesuk lainnya. Mungkin itulah sebabnya kakak melarang saya duduk bersama dengan para pelaku kejahatan dan keluarganya yang tidak jauh berbeda sangarnya.

Walaupun banyak pembesuk perempuan yang berdandan menor, tapi jelas terlihat bahwa dadanan dan penampilan mereka sangat jauh dari kesan terpelajar. Lipstik tebal, eye shadow mencolok dan blus on kemereh-merahan tidak sanggup menyembunyikan raut muka yang putus asa.

Walaupun pakaian saya cukup sederhana, tetapi kulit tangan saya yang lebih mengkilat karena usapan hand body lotion, dan bau wangi parfum yang menyegarkan serta sepatu boot yang tersemir mengkilat, membuat saya menjadi pusat perhatian para tahanan dan keluarganya. Willy pun berbisik ke telinga saya "Mbak, gara-gara saya ditengok orang keren seperti Mbak, nanti saya malah repot. Petugas pikir, saya ini orang berada dan mereka akan meminta bagian dari saya. Untuk sekali keluar seperti ini saja, saya harus membayar uang pintu Rp. 20,000. Di sini apa-apa harus membayar. Kita juga diijinkan menggunakan HP, tapi juga harus membayar pajak" "Untuk makan bagaimana?" tanya saya. "Sama saja Mbak. Kalau mau mendapatkan makanan yang bersih dan sehat, saya harus membeli sendiri. Saya sudah tidak tahan lagi di sini. Kalau tidak ada uang, saya tidak bisa makan yang layak. Mbak, boleh nggak nanti saya minta uang, biar nanti Koko yang mengganti" pinta Willy "Ini ada uang Rp. 100,000 punya Koko" kata saya. "Sst..hati-hati Mbak ngasihnya. Kalau ada orang yang tahu, nanti saya dipalak" Willy mengingatkan.

Karena wajah Willy masih agak tegang dan sedikit sangar, saya mencoba menawarkan makanan yang saya bawa dari tempat acara jumpa darat. Tanpa rasa canggung sedikitpun, Willy langsung membuka bungkusan yang saya berikan. Hati saya sangat miris ketika melihat Willy melalap habis makanan yang saya bawakan. Willy benar-benar rakus, seperti orang yang sudah seminggu tidak makan. Walaupun saya berusaha membuang padangan, namun sudut mata saya masih saja menangkap pemandangan memilukan yang berjarak kurang lebih 20 cm dari mata saya.

Hati saya semakin teriris, ketika Willy menceritakan malam-malam panjang selama di rutan. Gara-gara tidak bisa membayar uang kamar Rp. 2 juta, Willy terpaksa tidur di emper-emper atau lorong bangsal. Untuk mencegah supaya air mata saya tidak menetes, saya berusaha mengajak Willy berngajaknya ngobrol santai. "Willy, kamu masuk ke sini karena petualangan atau kecelakaan sih? Apa sih enaknya main-main dengan perbuatan tidak baik kalau cuma akhirnya menyengsarakan?" tanya saya. Willy pun mulai tersenyum sambil berkata pelan "Ya, beginilah jalan hidup saya!" Saya tak mau kalah "Dulu Ati juga tidak kalah gilanya, tapi mau bertobat. Seharusnya kamu pun bisa bertobat" "Nanti setelah keluar dari sini, saya akan mengikuti jejak Koko" jawab Willy. "Bener nich? Kalau kamu nggak bertobat, malu-maluin Koko kamu yang jadi pelayan Tuhan" kata saya sekenanya. "Oh iya tho Mbak?! Memangnya Koko mau jadi pendeta ya? Saya juga nggak tahu tuh, kenapa Koko bisa berubah begitu?" Willy keheranan. "Yang aneh bukan Koko, tapi kamu yang keras kepala, nggak mau ndegerin kata-kata Koko kamu. Kamu harusnya sadar, sudah banyak pengorbanan Koko untuk kamu, mama dan adik-adik kamu. Besok kalau Koko kamu pergi sekolah lagi, seharusnya kamu yang mengambil alih tanggung jawab keluarga" saya menasehati. "Iya Mbak, saya janji kalau nanti sudah bebas, saya akan kerja baik-baik biar dapat uang. Makanya tolong bilang ke Koko untuk segera mengeluarkan saya dari sini" Willy memohon dengan wajah yang sudah mulai ramah. "Saya nggak janji lho, Ati orangnya pantang untuk menyuap atau memberi uang pelicin. Ati maunya Willy melalui proses hukum yang normal" jawa saya.

Ketika bel tanda jam besuk berakhir, saya pun begegas keluar. Sama seperti waktu masuk, untuk keluarpun saya harus melewati beberapa kerangkeng besi yang dilengkapi dengan gembok yang teramat besar. Sebelum saya meninggalkan gerbang paling depan, saya menengok ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan bahwa tidak ada teman atau kenalan yang melihat saya keluar dari hotel prodeo itu. Begitu yakin tidak ada seorang pun yang saya kenal di sekitar jalan Percetakan Negara itu, saya pun berusaha kabur secepat mungkin.

Di sepanjang perjalanan dari rutan Salemba hingga Bogor, telapak tangan kanan saya berusaha menutup punggung tangan kiri saya yang masih menyisakan stempel. Di bis, sesekali saya mengintip stempel di tangan saya seraya berkata "Inilah hadiah yang terindah buat seorang terpenjara". Hadiah terindah yang saya berikan memang bukanlah oleh-oleh materi yang kasat mata, tetapi kerelaan saya merendahkan diri, menyangkal keinginan daging dan kesanggupan melewati perjuangan yang panjang untuk bisa melawat dan "jongkok bersama" dengan orang terpenjara yang merupakan sampah di mata masyarakat umum.

Harapan Seorang Pemabuk

Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang misionaris (pendeta dari Korea) yang melakukan pelayanannya di Afrika Selatan.

Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda.

Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal. Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994.

Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut. Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu. Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea. Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus. Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil. Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku.

"Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan. Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut.

Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya. "Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi." Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku, "Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa." Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya.

Sumber: Living Life, Volume 3, Number 12 Judul Artikel: The Drunkard´s Wish

Hidup Dalam Segala Kelimpahan (3)

Oleh: Sunanto Choa

Lima ciri dari orang yang hidup dalam segala kelimpahan :

  1. Satu kali dia berkata kepada saya “ Kamu kelihatan enak sekali ya, tidak seperti saya yang sangat susah”. Saya sangat terkejut mendengar perkataan tersebut. Lalu saja menjawab “ Om, bukannya Om yang seharusnya lebih enak dari saya sebab Anda semua pasti mengenal Elvis Presley, sang legenda musik Rock n Roll. Elvis datang dari latar belakang kehidupan yang sederhana, lalu tiba-tiba menjadi terkenal dan kaya raya sampai mobilnya dilapisi oleh emas. Namun popularitas dan kekayaan itu justru menghancurkan hidupnya sehingga dia ditemukan meninggal akibat over dosis. Hal ini membuktikan bahwa harta dan popularitas tidaklah dapat memberikan kepuasan kepada manusia. Tidak ada orang kaya yang puas dengan kekayaannya, tidak ada orang terkenal yang puas dengan popularitas, tidak ada pejabat yang puas dengan jabatannya. Inilah yang dimaksud oleh pengkotbah dengan penderitaan yang paling pahit yaitu orang yang diberi kuasa untuk memiliki harta namun tidak diberi kuasa untuk menikmatinya. Hanya Tuhanlah yang dapat memberikan kepuasan dan rasa bermakna yang sejati kepada manusia. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan menemukan kepuasan yang tertinggi lewat hubungan dengan intim dengan Tuhan sehingga kesukaan mereka yang utama adalah bersekutu dengan Allah.
  2. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan memiliki gaya hidup yang senantiasa mengucap syukur. Mereka yang telah mengalami hidup dalam segala kelimpahan akan tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan sebab mereka telah menemukan harta pusaka yang terpendam itu. Hal ini ditunjukkan oleh rasul Paulus yang selalu mengawali surat-suratnya dengan ucapan syukur sekalipun ia sedang menunggu hukuman mati dalam penjara. Orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan sorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, duka dan keluh akan menjauh ( Yes 51:11).
  3. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan memiliki gaya hidup yang dipimpin oleh Roh. Sebelum seseorang mengalami hidup dalam segala kelimpahan maka ia cenderung melakukan sesuatu untuk memuaskan keakuannya daripada untuk menyenangkan Tuhan. Mereka mungkin merasa apa yang dilakukan adalah untuk menyenangkan hati Tuhan namun dibalik semuanya itu ada motivasi yang tersembunyi (seringkali tidak disadari) yaitu untuk memuaskan keakuan. Saya telah mengalaminya sehingga saya berani menyatakan hal tersebut.

    Hidup dalam Allah berarti pergi ke suatu tempat menurut rancanganNya yang lebih besar daripada rancangan yang dapat kita minta, pikirkan atau bayangkan. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan tidak lagi mengusahakan sesuatu dengan kekuatanNya sendiri melainkan ia akan sepenuhNya bergantung kepada Roh Kudus. Dalam ketergantungannya kepadaNya, ia telah mematikan pekerjaan-pekerjaannya sendiri; semua agenda, ambisi, kebutuhan dan keakuannya telah mati. Ia benar-benar dipimpin oleh Roh sehingga memikili kepekaaan dan kesabaran untuk melangkah bersama Tuhan. Ia mengetahui sebelum tiba di satu tempat maka Roh Kudus telah tiba di sana terlebih dahulu. Ia menjadi orang yang sukses di mata Tuhan karena ia menjadi orang yang tepat, pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat dan bersama orang yang tepat.

  4. Orang yang Hidup dalam segala kelimpahan akan memiliki hikmat ilahi dan menjadi berkat kemanapun dia pergi. Hikmat ilahi merupakan salah satu ciri dari orang yang hidup berkelimpahan sehingga dia dapat menjadi berkat kemanapun ia pergi. Ia memiliki hikmat dan pengertian sehingga dapat memahami jalan-jalan Tuhan. Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia ( Ams 3:18). Orang ini membawa pengaruh yang positif terhadap lingkungannya sehingga orang di sekelilingnya bisa mengetahui bahwa Roh Allah memenuhi dia seperti apa yang dilihat raja Firaun pada diri Yusuf. Yusuf merupakan salah satu orang yang mengalami hidup dalam segala kelimpahan sehingga ia bisa menjadi berkat, bahkan nasib dua bangsa besar bisa diselamatkan. Kita semua pasti akan menjadi berkat bagi bangsa ini bila memang benar-benar hidup dalam segala kelimpahan.
  5. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan akan memiliki pikiran yang positif. Anda akan merasa aman bila berhadapan dengan orang ini sebab dia sama sekali tidak memandang orang lain dengan penghakiman (pikiran yang negatif). Sama seperti Yesus, dia memandang orang lain dengan kacamata bisa menjadi apa orang ini, bukan semata-mata siapa mereka . Orang ini dapat melihat kelemahan anda namun dia melihat melampaui sisi tak terlihat yang anda miliki yaitu ke arah takdir (destiny) anda. Ketika orang ini menegur anda maka anda tidak akan merasa dihakimi sekalipun kata-kata yang dia ucapkan keras sebab teguran itu disertai oleh kasih bukan roh penghakiman. Dia tidak lagi dikuasai oleh keinginan untuk mengendalikan (mengontrol) orang lain sehingga dia tidak akan memaksakan agenda pribadinya kepada orang lain. Bisa dikatakan orang ini memiliki hati bapa yang dapat mengayomi banyak orang.

Masih banyak lagi ciri-ciri lain dari orang yang hidup dalam segala kelimpahan tetapi bila seseorang memiliki lima ciri di atas maka bisa dikatakan dia telah memperolehnya. Doa saya semoga kita semua berhasil memperoleh hidup dalam segala kelimpahan ini !

Hikmat Roh Kudus

Oleh: Ling-Ling

Pada tgl. 24 Mei 2009, hari Minggu saya ada pelayanan tari di gereja. Pada tgl 23 Mei hari Sabtu saya berlatih dahulu dan mendapatkan kostum apa & acc rambut yang harus saya gunakan di hari Minggu, tentunya pada hari sabtu itu saya pulang ke rumah sudah malam dan langsung saya membereskan barang-barang kebutuhan pelayanan untuk esok hari Minggu tgl.24 Mei 2009.

Rupa-rupanya saya kehabisan karet rambut warna hitam, lalu saya melihat jam dinding telah menunjukkan pk: 09.00 malam, bergegas saya mencari untuk membeli karet rambut warna hitam di beberapa mini supermarket yang terdekat, namun tidak ada persediaan karet rambut warna hitam, saya sangat bingung entah gimana lagi yang harus saya usahakan, untuk esok pagi rasanya tidak keburu ke pasar untuk mencari & membeli karet rambut warna hitam. Sepanjang jalan pulang ke rumah saya berdoa dalam hati, memohon Tuhan memberikan hikmat untuk saya agar mendapatkan karet rambut warna hitam, tiba-tiba saya langsung teringat di sepanjang jalan menuju rumah saya, ada rumah teman seibadah saya, lalu kaki saya menuju ke rumah teman saya itu, untuk teman saya belum tidur malam, karena malam itu sudah menunjukkan pk: 10.00 malam.

Lalu saya mencoba mengetuk rumah teman saya tersebut, dan menceritakan kebutuhan saya, rupa-rupanya teman saya ada stok karet rambut hitam milik cucunya, sehingga saya mendapatkan karet rambut yang saya perlukan untuk esok hari, tidak tanggung-tanggung saya diberi 5 pc karet rambut warna hitam, dimana yang saya butuhkan hanya 1 pc saja.

Saya berterima kasih & bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan jalan keluar yang secara tiba-tiba/tidak disangka, saya mendapatkan sesuatu yang saya butuhkan warlaupun bukan barang yang berharga, terima kasih Tuhan, Amin

Iman Mengalahkan Dunia

Oleh:
Sandy Naiowan Lamtorang

"Sebab semua yang lahir dari ALLAH, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: Iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa YESUS adalah anak ALLAH." (1 Yohanes 5:4-5)

Pergumulan hidup makin lama makin berat. Permasalahan yang dihadapi makin kompleks saja. Kita pun tahu bahwa menjadi orang Kristen bukan berarti bebas dari masalah-masalah itu. Yang menyedihkan adalah melihat kenyataan bahwa ada begitu banyak orang Kristen yang gampang sekali terguncang ketika masalah datang, sehingga mereka kemudian mengambil keputusan untuk mundur atau bahkan meninggalkan TUHAN.

Syaloom! Saudara kasih, mungkin Anda pernah mendengar lagu ini : ".....aku, tak sanggup lagi, menerima derita ini ....". Kalau sampai saya mendengar ada orang menyanyikan lagu itu, saya pasti katakan "....kasihan dech lo!!!....". Tapi kalau orang Kristen yang bernyanyi seperti ini itu GAWAT! Kenapa GAWAT? Karena dia tidak tahu bahwa dia punya senapan yang pelurunya karatan karena nggak pernah dipakai. Kalah sebelum perang! Musuh baru muncul didepannya tapi mentalnya sudah ciut. Sega sude!!! (bahasa Ibrani) hehehe...

Saudara yang YESUS kasihi, mari pakailah senapan itu sebelum karatan! Hancurkan setiap masalah dan pergumulan hidup dengan senapanmu (Imanmu) yang so pasti disertai perbuatan. Apakah Saudara yakin kalau Anda punya sebuah senjata luar biasa dalam kehidupanmu? Asalkan Saudara sudah terima dan percaya YESUS sebagai TUHAN, JURU SELAMAT, dan RAJA atas kehidupanmu, maka Saudara sudah punya senapan handal itu: Iman kita! Yang menjadi persoalannya, apakah kita sudah menerima YESUS dan memakai senapan handal itu? Kebiasaan dari kita, lebih baik diam/malas...alias karatan!! ... ooo mate ma hita!!! Si bolis itu luar biasa jahatnya dan bisa menghancurkan kehidupan dan masa depan kita !!

Seorang prajurit akan berusaha semaksimal mungkin untuk menghancurkan setiap musuh untuk memuliakan rajanya dan kerajaannya. Begitu pula dengan kita, kita ini adalah para prajurit ALLAH dari kerajaan sorga. Kita tidak seharusnya kalah dengan permasalahan dan kelemahan yang ada di dunia ini. YESUS lebih besar di atas segala sesuatu. Amin?? ... sehingga setiap masalah dapat kita tanggung bersamaNYA untuk memuliakan ALLAH sebab jati diri kita yaitu anak anak ALLAH. Jadi bertindaklah dengan IMAN !!

Tuhan Yesus memberkati kita, anak anak RAJA. Amin....Amin....Amin....

Indonesia Membutuhkan Pemimpin yang Berhikmat dan Takut akan Tuhan

Oleh: Billy Fredrik Sobalely

Bacaan: 1 Raja-raja 4 : 21-34
"Dan Allah memberikan salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut"
Indonesia telah selesai memilih para wakil rakyat di lembaga legislative (DPR, MPR, DPRD, DPD). Dan sekarang bangsa Indonesia akan melaksanakan pemilihan presiden dan wakil presiden yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 juli 2014. Ada dua calon capres dan cawapres. No urut 1 ada pasangan Prabowo subianto (capres) dan Hatta rajasa (cawapres). Sedangkan di no urut 2 ada pasangan Jokowidodo (capres) dan Jusuf kalla (cawapres).
Kedua pasang capres dan cawapres sudah memiliki banyak sekali pengalaman di dunia politik Indonesia. Berbagai prestasi dan penghargaan di peroleh oleh para capres dan cawapres tersebut. Tetapi ada satu pertanyaan dalam diri saya apakah mereka memiliki hikmat?. Mungkin bukan hanya saya yang bertanya mungkin kita semua rakyat Indonesia memiliki pertanyaan yang sama. Kita mau belajar dari kepemimpinan raja salomo.
Raja salomo adalah raja ketiga bangsa Israel. Sejak umurnya masih muda salomo sudah diangkat menjadi raja bangsa Israel menggantikan ayahnya raja daud. Pasti kita semua tahu apa yang membuat salomo sukses memimpin bangsa Israel, bangsa yang begitu besar. Yang membuat raja salomo sukses dalam memimpin bangsa Israel adalah HIKMAT dan takut akan Tuhan yang berasal dari Allah. Ketika Allah bertanya kepada salomo apa yang salomo inginkan, salomo meminta hikmat dan pengertian untuk dapat membedakan yang baik dan yang jahat (1 Raja-raja 3 : 9 ). Salomo memiliki kerendahan hati yang begitu besar. Dia tidak meminta umur yang panjang atau pun harta kekayaan.
Bangsa Indonesia memiliki kerinduan untuk memiliki pemimpin seperti raja salomo. Yang memiliki hikmat yang sungguh berasal dari Allah serta takut akan Tuhan dalam kehidupanya. Karena pemimpin yang memiliki hikmat sudah pasti dia takut akan Tuhan.
Banyak sekali sekarang pemimpin yang tidak memiliki hikmat. Buktinya banyak kasus kejahatan yang melibatkan para pemimpin, salah satu kasus yang paling populer adalah kasus korupsi. Sifat keserakahan yang dimiliki manusia membuat manusia tidak pernah bersyukur untuk apa yang boleh dia terima. Oleh sebab itu ketika pemimpin memiliki hikmat dia akan mampu untuk mengucap syukur dalam segala hal ( 1 Tesalonika 5 : 18 ).
Dalam menjalankan tugasnya presiden dan wakil presiden harus siap untuk dipimpin oleh Tuhan, jangan menjadi pemimpin yang hanya mau memimpin. Karena tanpa kerendehan hati di hadapan Tuhan saya yakin pemimpin itu akan gagal. Saat salomo berdoa dengan Allah, salomo begitu rendah hati dihadapan Allah. Salomo tahu tanpa pertolongan Tuhan dia akan gagal dalam memimpin bangsa Israel. Pemimpin harus yakin hikmat dari Allah adalah hal yang paling utama di banding harta kekayaan ( Amsal 8 : 11 ).
Mari kita rakyat Indonesia berodoa bersama untuk para pemimpin bangsa ini agar Allah mengarunikan para pemimpin ini hikmat dan takut akan Tuhan sehingga bangsa ini boleh maju dan bertumbuh bersama Tuhan. Serta boleh mengahasilkan hal positif untuk kemuliaan nama Tuhan. Tuhan Yesus Memberkati. Amin.

Jebakan Pelayanan

Oleh: Sunanto

Beberapa hari yang lalu, secara kebetulan saya membaca sebuah majalah kristen yang biasanya sangat jarang saya baca. Halaman demi halaman saya buka dan ternyata ada sebuah artikel yang membahas tentang Franky Sihombing, sang penyanyi rohani yang saya sukai lagu-lagunya.

Hati saya tersentak saat membaca isi artikel tersebut sebab di sana Franky menceritakan secara terang-terangan bahwa hidup kerohaniannya belakangan ini sempat mengalami kejatuhan/kemerosotan. Selama sekitar 8 bulan, ia sering pergi ke club pada malam hari untuk mendengarkan lagu dan baru pulang sampai pagi.

Franky mengakui waktu itu ia tidak lagi mengalami keintiman dengan Tuhan sehingga hatinya begitu kering. Tetapi ironisnya walaupun begitu ia tetap melayani dan membuat lagu rohani sehingga tidak ada seorangpun kecuali isterinya yang mengetahui bahwa sebenarnya kerohaniannya sedang mengalami kemunduran. Wow, sungguh saya sulit untuk mempercayainya bila tidak membaca sendiri kesaksian tersebut. Puji Tuhan sekarang ini, oleh anugerahNya Franky boleh mengalami pertobatan dan kembali memiliki kasih yang mula-mula. Saya bersyukur dan salut dengan keterbukaannya sebab dengan begitu bisa menjadi pelajaran bagi pelayan Tuhan yang lain. Saya percaya sebenarnya bukan hanya seorang Franky Sihombing yang mengalami hal ini. Saya percaya tidak sedikit pelayan Tuhan yang saat ini terlibat aktif dalam pelayanan tetapi hidup kerohaniannya kering kerontang. Mungkin salah satu orang tersebut adalah anda yang sedang membaca tulisan ini.

Pada hari yang sama juga, saya merasa tergerak untuk membaca sebuah buku yang berjudul "Matters Of The Heart" karangan Dr. Juanita Bynum. Sebenarnya saya sudah lama mengetahui keberadaan buku tersebut tetapi tidak pernah tertarik untuk membacanya. Saya percaya hari itu Roh Kudus yang menggerakkan saya untuk membaca buku tersebut sebab Ia ingin berbicara kepada saya melalui buku itu. Dalam pembukaan buku tersebut, Dr. Bynum menyaksikan bagaimana proses terciptanya buku tersebut yaitu ketika ia ditegur oleh Tuhan karena lebih mengutamakan pelayanan daripada hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidupnya bukan untuk menyenangkan hati Tuhan melainkan untuk menyenangkan manusia dan diri sendiri melalui pelayanan yang ia lakukan melalui mimbar, konferensi dan televisi. Dr. Bynum berkata " Hal yang menakutkan saya adalah bahwa saya sudah lama tidak mengetahui keadaan saya karena pekerjaan saya sangat hebat. Saya bertanya-tanya bagaimana saya dapat menolong orang-orang lain untuk menemukan jalan menuju Kristus sementara saya sendiri tersesat di gereja."

Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila pada hari yang sama saya membaca kesaksian Franky Sihombing dan Juanita Bynum. Ada sebuah pelajaran yang Tuhan sedang ajarkan kepada saya yaitu begitu banyak pelayan Tuhan yang aktif melayani namun sebenarnya mereka sedang tersesat melakukan sesuatu yang bukan kehendak Allah. Tuhan mengingatkan saya bahwa selama tujuh tahun pertama saya mengikuti dan melayani Tuhan juga melakukan kesalahan yang sama yaitu lebih mengutamakan pelayanan daripada melakukan kehendak Allah. Dalam salah satu bukunya Dr. J.I Packer berkata seseorang bisa diselamatkan dan mengalami kelahiran baru dengan bukti pertobatan yang nyata yaitu dilepaskan dari kebiasaan buruk seperti kecanduan alkohol/obat-obatan tetapi ia tetap bisa tidak mengenal kehendak Allah dalam hidupnya.

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan ! (Mat 7:21-23) " Banyak yang berpendapat bahwa orang yang dimaksud Yesus disini bukanlah orang percaya dan sudah lahir baru melainkan orang yang belum percaya. Tetapi bisakah orang yang belum percaya dapat mengusir setan demi nama Yesus sebab di kitab kisah para rasul ada anak-anak Skewa yang mencoba mengusir setan demi nama Yesus justru malah mereka diserang oleh roh jahat yang ingin mereka usir. Menurut saya Yesus menujukan ayat ini kepada para pelayan Tuhan yang sangat giat melayani tetapi tidak mengutamakan hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidup mereka bukanlah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak Allah tetapi melayani untuk memuaskan keakuan diri sendiri.

Saya menyadari bahwa tulisan ini keras dan mungkin banyak diantara anda tidak sependapat dengan apa yang saya utarakan. Namun saya harus mengatakan apa yang saya percaya Tuhan telah taruh di hati saya untuk disampaikan bagi umatNya. Tulisan ini bukan untuk menghakimi atau menakuti siapapun tetapi saya hanya ingin mengingatkan anda semua terutama yang aktif pelayanan untuk melakukan koreksi diri apakah pelayanan yang sedang anda kerjakan benar-benar merupakan kehendak Allah ? Apakah prioritas yang utama dalam hidupmu adalah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendakNya ? Mungkin ada diantara anda yang sangat aktif melayani tetapi hidup kerohanianmu kering kerontang walaupun orang-orang disekeliling anda tidak mengetahuinya. Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila anda membaca tulisan ini sebab Tuhan ingin memulihkan anda. Mintalah kepada Tuhan untuk menyucikan diri anda kembali dan ijinkan Dia memperbaharuhi hatimu. Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu (Yes 30:15).

Joice dan TUHAN

Oleh: Krisetiawan

Joice, anak kami, sudah mulai bisa berjalan sendiri. Sebelumnya harus dipegang tangannya atau dititah. Sebelum itu cuma bisa merangkak. Sebelum bisa merangkak, tidak bisa kemana-mana kecuali digendong. Sebelumnya hanya bisa menangis, sekarang sudah bisa bilang, "papa, mama, matematika" (ups...kalau yang ini belum). Saya dan istri sangat senang melihat pertumbuhan Joice. Saya membayangkan, demikian juga dengan TUHAN. TUHAN pasti senang melihat pertumbuhan kita, anak-anak-Nya. Dulu kita nggak bisa berjalan "dengan benar", sekarang bisa berjalan dalam terang firman-Nya. Dulu suka gosip, sekarang suka mendoakan orang. Seperti saya senang melihat pertumbuhan Joice, TUHAN juga pasti senang melihat pertumbuhan rohani anak-anak-Nya.

Joice, anak kami, juga sudah bisa membuka pintu sendiri. Sebenarnya bukan dia, tapi saya. Saya gendong dia sambil berkata: ayo pintunya dibuka. Tangannya yang mungil segera meraih pintu yang tertutup. Diam-diam, tangan saya memegang handle pintu dan membukanya pelan-pelan, lalu kaki saya membuka pintu itu lebih lebar. Joice tetap dengan tangan yang memegang pintu. Setelah pintu terbuka, Joice tampak senang. Apalagi ketika saya bilang: Wah, pinter, sudah bisa membuka pintu. Joice pun tersenyum manis. Saya membayangkan TUHAN, Bapa kita. Ada banyak hal yang Dia lakukan untuk kita, tapi sering kali kita merasa kitalah yang melakukannya. Ada persoalan berat, TUHAN selesaikan, kita merasa kitalah yang menyelesaikan. Ada pekerjaan berat, tugas berat, kita berhasil melakukan dengan baik, kadang kita lupa, TUHAN "diam-diam" melakukannya untuk kita.

Joice, anak kami, suka main air. Sesudah mandi, biasanya sulit sekali diajak keluar dari tempat dia berendam. Kalau sudah begitu, saya terpaksa menggendong dia dan membawanya keluar dari air, walaupun dia menangis. Dia menangis dengan keras, saya tidak peduli. Pikirnya, mungkin, "Papaku tidak sayang aku, tidak senang melihat aku senang." Saya tidak mau membiarkan Joice berlama-lama di dalam air supaya tidak masuk angin. Saya membayangkan TUHAN juga demikian. Sering kali TUHAN "menarik" kita dari kenikmatan hidup (baca: dosa) agar kita tidak celaka. Kita terkadang sulit memahami apa yang TUHAN lakukan seperti Joice yang masih sulit memahami apa yang saya lakukan. Tapi percayalah, TUHAN melakukan kebaikan dan kebaikan dan kebaikan dan kebaikan untuk kita. Tidak ada hal jahat yang TUHAN lakukan untuk kita. Sekalipun, kita sulit memahaminya.

Joice, anak kami, pernah sakit. Dari mulai sakit mata, batuk, pilek, gatal di kulit, dsb. Sebagai seorang ayah saya merasa kasihan. Terkadang saya berpikir, kalau memungkinkan biarlah saya saja yang menanggung sakit Joice. Saya tidak tega. Tiba-tiba saya teringat Bapa saya, TUHAN. Bukankah firmanNya berkata: sesungguhnya penyakitmulah yang AKU tanggung, dan kesengsaraanmu yang AKU pikul. TUHAN, Bapa kita, juga tidak tega melihat kita sakit. DIA ingin menanggung setiap sakit penyakit kita. Dan DIA sedah melakukan itu di atas kayu salib. Luar biasa!! Sakit jasmani dan sakit rohani (dosa) kita, ditanggung-Nya di atas kayu salib. Ini bukan karena kebaikan kita. Bukan karena kita layak mendapatkannya. Bukan karena kita lebih baik daripada orang lain. Tapi semata-mata karena anugerahNYA.

Joice, anak kami, membuat saya belajar hati Bapa, TUHAN kita.

Semoga memberkati. Amin.

Kesaksian

Sekitar 2 (dua) tahun yang lalu, saya mengalami pencobaan yang cukup berat di dalam pekerjaan sekuler saya di sebuah perusahaan multinasional. Pada saat itu ada orang-orang yang menginginkan dan merebut posisi saya dengan cara yang kurang etis dan fair. Walaupun saya tidak memiliki bukti-bukti, namun saya merasakan bahwa orang-orang ini menggunakan kuasa gelap untuk merebut posisi saya tersebut. Saya merasakan hal itu cukup beralasan, mengingat mereka bukan pengikut Kristus dan dalam kehidupan sehari-harinya memang selalu berhubungan dengan "orang pinter" atau dukun dengan kuasa gelap. Singkat cerita setelah 1 tahun lebih "bertarung", akhirnya usaha mereka kelihatannya berhasil dan saya terus dipojokkan dan difitnah sehingga terpaksa pindah departemen baru di perusahaan yang sama.

Saat itu saya bergumul dengan Tuhan dan sedikit kecewa mengapa hal itu bisa terjadi. Bukankah janjiNya kita ini adalah lebih dari pemenang ? Namun dalam doa-doa saya, Tuhan Yesus selalu menghibur dan menguatkan serta memberi FirmanNya bahwa pencobaan yang saya alami adalah pencobaan biasa yang dapat saya tanggung karena Ia memberi kekuatan.

Di tengah badai tersebut, Iblis masih belum puas, ia mencoba merebut lagi berkat Tuhan dengan cara penutupan departemen tempat saya bekerja (departemen yang baru di perusahaan yang sama). Dan setelah likuidasi tersebut boss saya dan HRD seperti lepas tanggung jawab dan saya hanya diberi alternatif pilihan posisi yang lebih jelek lagi. Ditambah lagi boss di departemen yang lama (bukan pengikut Kristus) bukannya membantu malah menyebarkan fitnah agar saya berhenti bekerja karena dia takut kalau saya dikembalikan ke departemennya mengingat saat itu orang yang menduduki posisi saya melakukan hal-hal yang tidak jujur, tetapi herannya boss tersebut takut sekali dengan orang tersebut, ini pasti pekerjaan dari kuasa kegelapan.

Saat itu rasanya saya sudah tidak kuat, mengapa Tuhan ijinkan pencobaan berat seperti ini. Saya tahu Tuhan Yesus pasti punya rencana yang indah pada saatnya namun saat itu saya belum bisa mengerti. Saya hanya bisa berdiam diri. Memang ada keinginan dalam hati untuk membalas dendam pada orang-orang tersebut. Tetapi Tuhan Yesus terus menghibur dan memberikan nasihat bahwa saya tak perlu membalasnya karena itu semua hak Tuhan. Tunggu waktunya Tuhan.

Singkat cerita, saya diberi alamat seorang head hunter oleh seorang kolega. Sungguh ajaib Tuhan Yesus, pagi saya telpon dia (head hunter) dan mencari posisi seperti posisi saya yang lama dan siangnya dia langsung menelpon mengatakan ada perusahaan multinasional yang tertarik dengan CV saya dan langsung di arrange untuk interview. Dalam waktu hanya 2 minggu, perusahaan multinasional yang jauh lebih besar dari perusahaan tempat kerja saya yang dulu tersebut, langsung menerima saya (setelah proses interview dan tes tentunya). Saya memperoleh posisi, gaji dan benefit yang jauh lebih baik. Sungguh ajaib Tuhan kita. Dengan amat mudahnya Tuhan memutar balikkan rencana jahat orang-orang dan kuasa kegelapan menjadi berkat berkelimpahan. Sungguh anak Tuhan tidak akan dipermalukan. Terpujilah Tuhan sebab kasih setiaNya ditunjukkanNya kepadaku dengan AJAIB pada waktu kesesakan. Kasih SetiaNya sungguh tak berkesudahan.

Kesaksian Didik Nini Thowok

Sosok Didik Nini Thowok adalah sosok yang lekat dengan tarian humoris. Membawakan karakter perempuan dan gerak-gerak tarian yang " diplesetkan", Didik selalu berhasil membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal. Setelah puluhan tahun belajar seni tari dari berbagai daerah, antara lain Jawa, Sunda, Bali, dan Jepang, kini Didik berhasil memadukan semua gaya itu menjadi tarian dengan gayanya sendiri yang khas dan humoris. Dengan kemampuannya itu Didik meraih sukses sebagai penari yang melintas batas budaya dan negara.

Penampilannya yang selalu mengundang kegembiraan itu tidak hanya dapat dinikmati di atas panggung tapi juga dalam hidup kesehariannya. Tawa renyah yang selalu dihadirkannya seolah membuat orang tidak percaya bahwa iapun pernah menderita. Padahal sebenarnya kehidupan lelaki kelahiran Temanggung, 13 November 1954 itu tidak tergolong berkelimpahan.

Terlahir sebagai Kwee Tjoen Lian yang kemudian diganti menjadi Kwee Yoe An karena sakit-sakitan, ia sulung dari lima bersaudara pasangan Kwee Yoe Tiang dan Suminah. Keluarga besarnya hidup pas-pasan. Ayahnya pedagang kulit sapi dan kambing yang bangkrut dan kemudian menjadi supir truk.

Ibunya membuka warung kelontong kecil-kecilan. Begitu seret rejeki keluarga ini sampai-sampai Didik kecil harus ikut bekerja membantu orang tuanya.

Meski dari segi materi tumbuh dalam keluarga yang berkekurangan tetapi Didik kecil selalu berkelimpahan dengan kasih sayang. Dalam kesempitan materi, ia menikmati masa kecilnya dengan bekerja, belajar, dan menonton berbagai kesenian, ketoprak, ludruk, dan wayang yang akhirnya mengasah rasa seninya.

Di masa itu, Didik bukan hanya belajar bekerja keras tapi juga belajar bersabar. Sejak kecil ia memang suka membawakan tarian yang lemah gemulai seperti perempuan, karena itu ia diejek oleh orang-orang sekitarnya, "Kamu ini anak laki-laki apaan sih? Kok menarinya seperti perempuan?".

Setiap kali diejek, ia menjadi sangat sedih. Ia hanya bisa diam, tidak membalas dan tidak mengadu pada orang tuanya. Ia hanya berdoa sambil menangis, "Tuhan, aku marah tapi aku tidak akan membalasnya. Aku yakin Kamulah yang akan membalaskannya untukku." Setelah itu, iapun menjadi lega dan malah lebih semangat berlatih menari. Baru bertahun-tahun kemudian doanya itu terjawab.

Dari pengalaman hidup, perlahan-lahan iapun memahami bahwa semua hal yang membuatnya sedih, kemiskinan, dan penghinaan hanyalah cara Tuhan mengajaknya bercanda. Ia menjadi yakin Tuhan tidak akan membuatnya sengsara sehingga ia lebih tenang dan pasrah menghadapi berbagai persoalan. Pemahamannya ini merupakan buah pengasuhan orang tua dan kakek neneknya yang cukup disiplin. Pendidikan dan kasih sayang mereka menjadikannya pribadi yang setia dalam doa, tegar, suka bekerja keras, dan berperasaan halus.

Semasa kuliah di ASTI ( Akademi Seni Tari Indonesia ), ketika Didik mulai mendapat honor dari pertunjukan dan melatih menari, ia ingin sekali membeli sepeda motor supaya tidak kelelahan mengayuh sepedanya kesana kemari. Sejak itu ia betul-betul berhemat. Setelah uangnya terkumpul Rp 200.000, ia sangat gembira, motor yang diidamkan terbayang di depan mata. Tiba-tiba ia teringat ibunya. Bergegas ia pulang ke Temanggung dan mendapati perut ibunya membesar karena kanker. Dengan uang Rp 200.000 itu, ia segera membawa ibunya ke Yogyakarta untuk dioperasi. Operasi itu berhasil baik dan ibunyapun sehat kembali. Didik sangat bahagia, tak secuilpun rasa kecewa menghinggapinya karena belum bisa mendapatkan sepeda motor. Bagi dia kesehatan dan kebahagiaan ibunya diatas segala harta yang bisa ia punya. Ia memahami, saat itu Tuhan memang hanya mencandainya karena selang beberapa tahun, Didik bukan hanya bisa membeli sepeda motor tapi bahkan mobil dan rumah.

Sedari kecil dengan berbagai cara Didik belajar bersyukur dan berdoa. Ia suka ikut kakeknya yang beragama Konghucu berdoa di kelenteng dan neneknya yang Kristen ke gereja. Kini ia adalah pengikut Kristen Protestan yang taat. Ia mengakui bahwa ia adalah laki-laki yang cengeng (mudah menangis) setiap kali berdoa. Sebenarnya ia ingin sekali rajin ke gereja tapi kesibukan yang sangat padat membuatnya sering tidak punya kesempatan untuk melaksanakannya setiap minggu. Untuk itu setiap ada kesempatan ia mengundang pendeta untuk mengadakan persekutuan doa di rumahnya. Dalam persekutuan doa itulah ia selalu terharu dan menangis saat memberi kesaksian akan kebesaran Tuhan yang telah ia alami.

Salah satu kesaksiannya adalah tentang rahasia kesuksesannya. Dengan mantap ia mengatakan " Ora et Labora ", dalam segala kesibukan saya selalu berdoa, dimanapun. Setiap kali akan manggung, saya selalu menyediakan waktu untuk berkonsentrasi, kemudian berdoa Syahadat Para Rasul, Bapa Kami dan Salam Maria dari buku doa pemberian Suster Leonie, kakak angkat saya. Tak lupa saya juga selalu mohon restu pada semua guru-guru tari saya yang telah almarhum.

Selama bertahun-tahun Didik sungguh-sungguh merasakan bahwa doa adalah kekuatan di balik semua kesuksesannya. Keyakinan ini membuatnya tidak berani sombong." Saya mengakui, ketika menari seolah-olah ada kekuatan di luar diri yang ikut menggerakkan dan menghiasi tubuh saya. Saya yakin, kekuatan saya sendiri tidak akan mampu menyelenggarakannya tetapi kekuatan itulah yang menjadikan tarian yang saya bawakan terlihat begitu indah dan memberi kegembiraan bagi banyak orang".

Menurut pengakuannya sudah ada banyak orang yang mengamini hal itu. Mereka bilang, ketika menonton Didik menari, mereka melihat pancaran aura yang sama sekali lain dari kesehariannya. Misalnya, dalam suatu pertunjukan seorang ibu melihat ada burung merpati mengelilingi Didik menari. Setelah pertunjukan rampung, ia langsung menelepon Didik menyatakan kekagumannya, " Proficiat, Mas! Tarianmu benar-benar indah, apalagi ada burung merpatinya ". Kaget juga Didik menerima komentar itu karena sebenarnya ia sama sekali tidak menggunakan burung merpati dalam tariannya itu.

Dalam suatu perjalanan ke luar negeri, tas Didik yang berisi passport, uang, kamera, dan dokumen berharga lainnya ketinggalan di kereta api.

Menurut staf KBRI yang dilaporinya tidak ada harapan tas akan kembali. Tentu saja Didik shock, tidak bisa makan dan tidur, tapi selang 2 hari setelah kejadian ia ditelepon oleh staf KBRI bahwa tasnya telah ditemukan. Ajaib juga, setelah diperiksa semua isinya utuh, ini pasti karena buku doa kumal pemberian Suster Leonie ada di dalamnya, Didik hanya bisa tertawa bahagia. Lagi-lagi Tuhan mengajaknya bercanda.

Dalam hidup Didik, ada begitu banyak mukjizat yang telah dibuat Tuhan. Dulu Didik masih berdebar-debar dan menangis sedih setiap kali menghadapi persoalan, tapi kini ia benar-benar tenang dan pasrah. Bagi Didik, Tuhan sering kali memberinya hadiah-hadiah yang tak terduga dan membuatnya bahagia. Pernah pada suatu tur kebudayaan di Eropa, karena perubahan jadwal yang tak terduga, ia tiba-tiba punya kesempatan berziarah ke Vatikan dan berdoa di Gereja St. Petrus dengan khusyuk, ia juga sempat ke Gunung Monserrat untuk mengunjungi Patung Bunda Maria Hitam.

Itulah Didik Nini Thowok yang kesuksesannya tak bisa dilepaskan dari ketekunannya berdoa. Semakin ia berdoa, semakin ia meyakini bahwa Tuhanlah satu-satunya kekuatan dalam hidupnya. Dengan demikian, ia tetap tidak sombong. Didik tetap hidup dengan sederhana di rumahnya yang sederhana di Jl. Jatimulyo, Yogyakarta, di pinggir sungai yang ditinggalinya sejak tahun 1980-an.

Kini, setelah semua cita-cita masa kecilnya terwujud, ia hanya ingin bersyukur dan bersyukur. Untuk itu ia berbagi kebahagiaan dengan mendirikan yayasan yang menyantuni biaya pendidikan 60 anak. Dan di usianya yang ke-50, kebahagiaannya semakin lengkap ketika ia boleh mengasuh seorang bayi laki-laki yang ia beri nama Aditya Awaras Hadiprayitno, setelah menantikan selama bertahun-tahun.

Menjadi saksi kebesaran Tuhan atas dirinya, ia hanya bisa berkata, "Saya percaya, kesuksesan dan kebahagiaan saya adalah jawaban Tuhan atas semua doa-doa saya. Bahkan sekarang tidak ada lagi yang bisa menghina saya karena menarikan tarian perempuan. Ya, Tuhan memang selalu menguji saya sampai batas waktu terakhir, sampai-sampai, setiap kali saya berdoa, saya tidak tahu lagi apakah saya harus menangis atau tertawa. Memang, Tuhan itu suka bercanda."

"Love is life and life is love,you must first love yourself before you can give love freely and anyone can love you." by patti quinn "The Irish Poet"

Kesaksian Luput Dari Gempa Di Jogja

Oleh : Yogi Triyuniardi

Seorang penginjil bernama Daud menceritakan sebuah kesaksian dalam kebaktian yang di pimpin olehnya.

"Saudara-saudara, saya adalah salah satu orang yang paling beruntung, yang bisa luput dari gempa di jogja. ceritanya begini. Saya dan isteri sebenarnya berdomisili di kota solo. ketika isteri saya hamil tua, ia menyarankan agar kami pindah ke kota jogja, karena disana masih ada orang tua isteri saya dan saudara-saudaranya, sehingga ketika bayi kami lahir, ada yang momong (mengurusi, red)." Lalu kami kontrak selama setahun di kota jogja. hal itu berlangsung dari awal januari 2005 sampai akhir desember 2005. anak saya lahir bulan november 2005. ketika kontraknya mau habis, oleh teman saya, disarankan agar kami memperpanjang selama setengah tahun lagi, dengan pertimbangan bahwa anak saya sudah cukup besar dan tidak terlalu repot ketika nanti kami pulang ke solo. Pada bulan Februari, Tuhan berbicara pada saya. Daud. Ada apa, Tuhan? Pergilah dari jogja. Kenapa, Tuhan? Jangan banyak tanya, lakukan saja perintahKu.

Saya bertanya-tanya dalam hati, apa yang hendak diperbuat oleh Tuhan. kemudian saya mengajak isteri saya untuk pergi dari jogja, kembali ke rumah kami di solo. Isteri saya tidak setuju. anak kami masih kecil, dan di solo tidak ada yang mengurusi. Bulan April, Tuhan kembali berbicara pada saya. Daud, pergilah dari jogja, karena Aku akan menginjakkan kakiKu di laut. Akan ada gempa. Kapan itu terjadi, Tuhan?

Tidak ada jawaban. Tapi, Tuhan telah berencana. pasti akan terjadi. Saya harus memaksa isteri saya, pikir saya dalam hati. Lalu saya berkata pada isteri saya, kita harus pergi tinggalkan jogja, secepatnya. kenapa? tanyanya. Saya berkata, akan terjadi sesuatu. Isteri saya balik tanya, sesuatu apa? saya menjawab, pokoknya terjadi sesuatu. saya berusaha tidak menyebut gempa, karena takut orang sekeluarga geger. selain itu, Tuhan belum tetapkan waktunya.

Isteri saya tetap menolak. Sebab yang dipikirannya adalah kerepotan yang akan timbul, kalau sampai kita pindah rumah. Saya mulai memaksa. Okey kalau begitu, kamu pilih, mau ikut suamimu atau ikut orang tuamu? saya sedikit menggertak. maklum, bekas dukun sakti, biasa menggertak orang. Akhirnya isteri saya menjawab, ikut suami. Tapi ia bertanya, siapa yang ngurusi pindahan? Saya, karena tahu waktunya begitu mendesak, spontan berkata: Saya sendiri! Lalu, setelah selesai pindah2an, dan menata kembali barang2 perabotan di rumah kami di solo, pada awal bulan mei, Tuhan menyatakan FirmanNya pada saya.

Dengan kudaMu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih. Ketika aku mendengarnya, gemeterlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dam aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami. (Habakuk 3:15-16)

Saya kembali bertanya, kapan, Tuhan? Tuhan tidak menjawab. Tetapi saya tahu bahwa waktunya semakin dekat. Saya berusaha memperingatkan keluarga isteri saya, dan berusaha untuk membatalkan rencana perkawinan saudara isteri saya yang akan dilaksanakan pada bulan juni. Diundur sajalah, sebab Tuhan bilang akan terjadi sesuatu. kata saya pada mereka. Saya kemudian berusaha mengumpulkan persediaan makanan dan kebutuhan pokok di rumah saya di solo. bahkan sampai arang sekalipun saya beli. sebab jika terjadi gempa, pasti minyak tanah susah di dapat, pikir saya.

Ketika menjelang hari-H, pada hari kamisnya (25/5; Hari raya kenaikan Tuhan Yesus), isteri saya telepon ketika saya berada diluar kota, sedang pelayanan. Mana gempanya pak? rupanya isteri saya meragukan apa yang saya dengar dari Tuhan. dan saat hari jumat, ketika sedang berkotbah di bandung, Tuhan berkata dengan jelas, Sekarang Aku akan menginjakkan kakiKu di laut.

Sabtu pagi (27/5), jogja terkena gempa dahsyat. keluarga isteri saya, yaitu ibunya beserta kedua anaknya, berhasil selamat dan langsung melarikan diri ke solo dengan menggunakan sepeda motor. sampainya mereka ke rumah saya, ketika saya berada di rumah, saya berkelakar. Saya tahu bahwa kalian akan mengungsi ke tempat saya, jadi saya sudah siapkan makanan yang banyak.

Itulah kesaksian tentang Tuhan saya, Yesus, yang meluputkan saya dari bencana, sebab orang yang dekat padaNya tidak akan pernah dikecewakan, selalu dilindungi dan diberkati. Haleluya!

Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umatMu, untuk menyelamatkan orang yang Kau urapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kau buka dasarnya sampai batu yang penghabisan. (Habakuk 3:13)

Tuhan Yesus memberkati.

Kesaksianku

Oleh: Yohana Cahyadi

Nama saya Yohana Cahyadi. Melalui kesempatan ini saya ingin memberikan kesaksian hidup dari mama saya. Saya anak pertama dari 4 bersaudara. Saya lahir dari seorang mama yang mengasihi Tuhan. Dari kecil saya sudah dididik untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Mama pun juga adalah seorang yang melayani Tuhan dalam gereja.

Kejadian ini bermula pada tanggal 3 Juli 2010, di mana mama divonis dokter mengidap kanker usus stadium 4 dan sudah menyebar ke bagian paru-paru, rahim dan bagian lainnya. Keadaan demikian membuat mama dan keluarga kehilangan semangat. Saya bertanya pada Tuhan kenapa mama seorang yang mengasihi dan melayani Tuhan bisa mengalami hal yang demikian. Namun di tengah kondisi yang demikian kami tetap datang pada Tuhan.

Pada saat itu mama mengatakan bahwa Tuhan tidak pernah salah, rancangan-Nya adalah yang terbaik. Kata-kata itulah yang membuat saya sekeluarga kembali dikuatkan. Setelah divonis demikian akhirnya pihak keluarga sepakat agar mama mengambil langkah kemotherapy. Pada masa kemo saya dapat melihat bahwa Tuhan yang saya miliki adalah Tuhan yang setia yang menyediakan semua keperluan mama untuk pengobatan. Kami sekeluarga bukan keluarga yang kaya, namun untuk keperluan pengobatan mama selalu aja tercukupi tepat pada waktunya.

Pada saat itu keluarga mulai melihat sedikit pengharapan supaya mama dapat sembuh. Namun setelah kemo yang ketiga ditemukan tumor besar pada bagian otak belakang mama. Tumor ini menjepit syaraf otak sehingga mama merasakan sakit di kepala seperti ditusuk jarum. Saya baru pertama kali melihat mama menangis karena menahan sakit. Saat itu mama menangis karena tidak kuat menahan sakit demikian, namun saat kondisi demikian mama tetap memanggil Tuhan Yesus. Dalam kondisi demikian tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mama yang menyalahkan Tuhan. Mama selalu berkata jalan Tuhan itu benar. Ada sebuah nyanyian berkata, "Sandar Yesus, mesra, nyaman, alami kuasa darah; iman sederhana saja, semua sakit sirnalah." Mama mengalami pujian ini. Setiap ada saudara/saudari menjenguk, mama malah menghibur dan menguatkan saudara/saudari melalui doanya.

Hari demi hari dilewati mama dengan terus bersandar pada Tuhan. Banyak kenalan yang tidak percaya ketika diberitahu kondisi mama yang kanker stadium 4 karena memang badan mama tidak terlihat seperti orang yang memiliki sakit yang mengerikan itu. Hanya saja memang mukanya terlihat pucat. Satu hari sebelum mama meninggal, mama masih sempat mendorong anak rohaninya untuk tetap setia mengikut Tuhan. Bahkan di saat terakhirnya mama menyanyikan sebuah lagu yang berkata, "Aku mengasihi Engkau Yesus dengan segenap hatiku." Saudara/saudari inilah Tuhan yang kita miliki di dalam kita. Meskipun kita berada dalam situasi sulit asalkan kita datang kepada-Nya, belajar bersandar pada-Nya, Tuhan bisa kita alami secara riil. Banyak pelajaran rohani yang mama ajarkan kepada saya selama ia sakit. Satu hal yang paling berharga yang dia ajarkan kepada anak-anaknya adalah imannya. Saya sungguh bersyukur atas kesaksian hidup seorang mama yang Tuhan berikan untuk saya.

Kidung dari Balik Jeruji

Di waktu awan mendung melingkup
jalan gelap tiada harapan
aku berpaling kepada Yesus
agar Yesus arahkan langkahku

Bait demi bait dalam lagu yang berjudul Yesus yang Setia mengalir dengan merdu dari suara Marcel Hukom. Lagu rohani tersebut segera diikuti pendengarnya, karena mudah mengikutinya. Siapa sangka lagu yang berirama pop itu digubah oleh para tahanan dan narapidana di Rumah Tahanan Salemba. Bahkan musik dalam album berjudul Suara Kasih, itu dibuat seorang narapidana beragama Islam, Arifin Bilahmar.

Jeruji besi yang dingin dan ruangan sel yang kecil, tidak membuat kreativitas penghuni Rutan Salemba ikut terpenjara. Bahkan, kesadaran akan kekuasaan Tuhan di saat mereka menjalani hukuman, senantiasa menguatkan dan memberi ketabahan hati kepada mereka. Demikian tulis Lince Eppang untuk Suara Pembaruan.

Kevin Piere, narapidana dalam kasus penipuan yang sudah menjalani hukuman selama delapan bulan di situ, dengan mata berkaca-kaca menceritakan kepada Pembaruan, proses pembuatan lirik lagu yang berjudul Tuhan Ubah Hidupku.

Lagu yang juga menjadi kesaksian dalam hidupnya itu, diciptanya di atas bon-bon hutang di sebuah warung di blok A, tempat ia menjalani hari-hari kehidupannya. "Dengan menggunakan pensil saya menulis lirik itu. Berulang-ulang, saya merobek bon-bon utang yang di belakangnya saya pakai untuk mengarang lirik lagu itu," kata Kevin.

Semalaman dia bekerja, saat itu entah karena semangat untuk menumpahkan kesaksian dalam hidupnya, atau karena kerinduannya memuji Tuhan, yang jelas ia tidak merasakan kantuk sama sekali saat itu.

Dalam waktu satu hari, lirik itu jadi dibuatnya dan diserahkan ke Arifin, yang akan mengaransemen lagu itu. Membaca larik itu, Arifin mengaku kesulitan untuk menemukan musik yang tepat untuk lagu tersebut.

Sambil meminta maaf kepada Kevin karena lirik itu tidak dapat dipakai, Arifin pun berencana tidak menggunakan lirik itu dalam album mereka. Tapi, entah kenapa ia tiba-tiba mendapatkan ilham dan menemukan musik yang tepat untuk lirik tersebut. "Terus terang saya juga tidak paham, saya seperti mendengarkan sesuatu dan di kepala saya seperti terisi oleh musik yang tepat untuk lirik itu," kata Arifin.

Banyak hal-hal yang tidak terduga yang terjadi saat proses pembuatan album itu dilakukan oleh para penghuni Rutan Salemba itu. Bahkan, para tahanan dan narapidana yang masih tinggal di dalam Rutan Salemba, harus lima kali berganti-ganti studio untuk merekam suara mereka, karena menyesuaikan dengan jadwal mereka untuk keluar dari Rutan Salemba.

Usul untuk membuat album itu berawal ketika Didit Wijayanto Wijaya, seorang narapidana dalam perkara penipuan, membaca ayat Alkitab di dalam Mazmur 98 ayat 1 untuk senantiasa menaikkan nyanyian baru bagi Tuhan. Apalagi, penghuni Rutan Salemba yang beragama Kristen banyak yang tekun beribadah di gereja di dalam Rutan Salemba itu. Di antara para tahanan dan narapidana itu pun banyak yang memiliki potensi bermain musik dan menyanyi.

Ajakan untuk membuat album pada bulan Agustus 2003 itu pun, membuat para tahanan dan narapidana bersemangat untuk menciptakan lirik-lirik yang sebagian besar merupakan kondisi yang mereka alami dalam kehidupan mereka.

Bagi Arifin atau pun Kevin, dan penghuni Rutan Salemba lainnya, berada di dalam tahanan membuat orang tersadar akan kekuasaan Tuhan. Dalam hari-hari hukuman yang harus mereka jalani, terpisah dari keluarga dan dunia luar, itu lah yang menjadikan mereka tegar dan pasrah kepada Tuhan. "Mungkin dengan kesaksian yang ada dalam hidup saya, bisa menjadi berkat bagi orang-orang," ujar Kevin terbata. "Saya percaya Tuhan Yesus ada di dalam kehidupan saya," ujarnya.

Walau pun kerabat tidak mengunjunginya, bagi Kevin dan mungkin bagi penghuni Rutan Salemba lainnya yang merayakan natal namun tidak dikunjungi keluarganya, tidak menjadi penghalang untuk merasakan nikmat natal yang diberikan oleh Kristus.

Sumber: www.glorianet.org

Kisah Enam Bulan Penculikan Pendeta Jokran Ratu

Pergumulan Panjang dalam Penantian yang Tak Pasti

Penulis : Izaac Tulalessy

JAKARTA - Kamis (2/6), tepat enam bulan lamanya Pendeta Jokran Ratu yang Pimpinan Jemaat Gereja Pentakosta di Indonesia (GPdI) di Dusun Labuan, Desa Elfule Kecamatan Namrole Kabupaten Pulau Buru, diculik. Nasib sang pendeta entah hidup atau mati hingga saat ini belum diketahui dengan pasti.

Delapan kali aparat kepolisian maupun TNI datang menemui Pendeta Ny Ace Ratu, istri Pendeta Jokran Ratu, untuk memintai keterangan. Setiap kali polisi datang, setiap kali pula mereka mengaku masih mencari sang pendeta.

Pendeta Ny Ace Ratu yang ditemui SH mengisahkan bagaimana para penculik datang dengan besenjatakan lengkap menjemput suaminya pergi untuk selama-lamanya sejak enam bulan yang lalu. Menurutnya, malam itu jam dinding di rumahnya hampir telah menunjukkan pukul 00.00 WIT. Kedua anaknya Larry (8) dan Victor (4) juga sudah tertidur pulas. Namun dirinya dan Pendeta Jokran Ratu yang tidur disamping Larry dan Victor belum juga memejamkan mata.

Keduanya masih asyik bercerita tentang anak-anak dan tugas-tugas pelayanan yang mereka hadapi. Tak ada firasat buruk sekecil apapun bahwa akan datang pencobaan.

Kemesraan pasangan ini mendadak terusik bunyik ketukan pintu. Sebagai Pimpinan Jemaat GPdI yang sering menerima beragam tamu, Pendeta Jokran Ratu spontan beranjak keluar kamar. Tak ada kecurigaan sedikit pun, terutama tamu di luar sangat santun. Si tamu dengan ramah dan santun mengetuk pintu sambil berkata, "Selamat malam, ada kabar gembira".

Namun ternyata inilah dialog pembuka bagi sebuah drama penculikan Pendeta Jokran Ratu. Adegan yang berlangsung tidak lebih sepuluh menit itulah yang terus diingat, tersimpan dalam benak Pendeta Ace Ratu.

Ketika Pendeta Jokran Ratu turun dari tempat tidur, keluar dari kamar lalu membukakan pintu rumah, Pendeta Ace Ratu tetap di kamar. Namun kemudian keluar dan langsung kaget di depan pintu kamar telah berdiri tamu bertopeng ala ninja, bersenjata lengkap, dan menggenggam sebilah sangkur. "Penampilannya sangat mencurigakan dan tampaknya bukan orang baik-baik," kata Pendeta Ace Ratu.

Ace mengaku ingin berteriak, namun niat itu diurungkan. Seorang tamu misterius itu kemudian bicara dengan logat jawa. Lelaki itu meminta Ace tetap tenang karena tidak akan diapa-apakan.

"Kami hanya mau cari senjata di rumah ini. Kami mendapatkan informasi di sini ada disimpan senjata," kata pria bertopeng itu. Ace kemudian membantah tudingan itu dan mempersilakan tamu misterius itu memeriksa seluruh bagian rumah.

Saat itu, Ace melihat suaminya Pendeta Jokran Ratu sudah dalam posisi tersandera di bawah todongan senjata organik sehingga sudah tak bisa berbuat apa-apa. Detik-detik menegangkan terjadi begitu cepat. Tamu misterius itu kemudian mengobrak-abrik isi rumah. Sedikit uang yang ditemukan diambil.

Salah satu anggota kelompok bersenjata itu menanyakan perihal uang Rp 600 juta yang katanya baru diterima Pendeta Jokran Ratu. Dengan logat Jawa, orang tersebut terus memaksa Ace menyerahkan uang tersebut. Ace kemudian menjelaskan bahwa tidak ada uang Rp 600 juta, uang yang ada hanya Rp 10 juta, namun tersimpan pada rekening Pendeta Jokran Ratu pada salah satu bank.

Penjelasan ini tidak memuaskan "para ninja". Mereka kembali meminta Ace menyerahkan buku bank. Di bawah ancaman sangkur yang diselipkan ke perutnya, Ace menuruti permintaan tersebut.

Mereka juga sempat menanyakan harta lain yang dimiliki keluarga Pendeta Jokran Ratu, namun Ace menjelaskan hartanya adalah apa yang ada di dalam rumahnya. "Namun, tamu misterius itu tetap menedask meminta harta kami dalam bentuk perhiasan," kata Ace.

Namun ketika permintaan itu belum dipenuhi Ace, tiba-tiba terdengar bunyi sinyal seperti kode morse dari balik salah satu tamu misterius tersebut. Orang itu kemudian menyeret Ace dari kamar menuju ruang tamu. Sekali lagi sinyal yang sama terdengar dari alat milik seseorang yang tetap mengawasi di depan pintu.

Tak lami kemudian, mereka pun pamit dan meminta izin membawa Pendeta Jokran Ratu serta berjanji akan mengembalikannya lagi. Ace berusaha membujuk orang-orang itu agar tidak membawa suaminya, namun tetap saja dibawa. Mereka mengatakan akan mengembalikan Pendeta Jokran Ratu secara baik-baik.

Enam lelaki bertopeng tersebut, menurut Ace, di antaranya ada yang memakai baju polisi dan rompi loreng, kemudian memaksa Pendeta Jokran Ratu berjalan bersama mereka. Sementara itu, dua lainnya tetap siaga menjaga Ace.

Setelah enam lelaki bertopeng yang membawa Pendeta Jokran Ratu hilang di tengah kegelapan malam dan merasa cukup aman barulah kedua orang ini meninggalkan Ace seraya menyampaikan selamat malam. "Sampaikan salam saya kepada teman-teman bapak. Saya tunggu suami saya kembali," balas Ace.

Ternyata langkah-langkah Pendeta Jokran Ratu bersama rombongan misterius itu merupakan perjalanan panjang dan tidak pernah kembali sebagaimana dijanjikan. "Hampir satu jam menunggu, saya pikir tidak mungin penculik ini ke pantai. Sambil berjalan sekitar 100 meter dari rumah saya kemudian membangunkan para tetangga. Kami pun menunggu hingga pagi namun yang ditunggu tidak muncul," ungkapnya. Pada hari ketiga pencarian, jemaat GPdI di Dusun Labuan, Desa Elfule Kecamatan Namrole, Kabupaten Pulau Buru, hanya menemukan kaos merah berkerah yang dipakai Pendeta Jokran Ratu saat diculik namun kaos tersebut sudah penuh lubang yang diduga akibat tindakan kekerasan yang dilakukan para penculik terhadap sang pendeta.

"Setelah melihat kaos tersebut saya pikir suami saya sudah meninggal tetapi setelah ada pemeriksaan, saya memiliki pengharapkan suami saya masih hidup," kata Ace yang juga alumni Sekolah Tinggi Teologi Cianjur, Jawa Barat, ini.

Hari ini, ketika penculikan Pendeta Jokran Ratu telah memasuki usia enam bulan, Ace yang kini melanjutkan misi suaminya sebagai pimpinan Jemaat GPdI di Dusun Labuan, Desa Elfule, Kecamatan Namrole, Kabupaten Pulau Buru, punya keinginan untuk bertemu Kapolda Maluku Brigjen Pol Adityawarman.

Namun, keinginan tersebut tidak pernah terwujud. Di Mapolda Maluku beberapa hari lalu, dirinya hanya dipertemukan dengan Direktur Reskrim Polda Maluku Kombes Pol Bambang Hermanu.

Pergumulan doa pribadi maupun jemaat GPdI Dusun Labuan tak henti- hentinya terus dilakukan dengan tujuan semata-mata hanya ingin tahu kejelasan nasib Pendeta Jokran Ratu. Ace pun mengaku sangat gundah ketika dua anaknya Larry dan Victor tak hentinya selalu menanyakan sang ayah.

"Setiap saat keduanya selalu menanyakan ayah mereka. Saya tidak tahu mau bilang apa lagi. Saya hanya meminta mereka bersabar dan tetap berdoa," jelasnya.

Kini enam bulan dilaluinya dalam ketidakpastian. Ace tetap berharap suaminya ditemukan. Kehadiran suamnya bukan saja untuk dirinya atau dua anaknya, namun juga 50 anggota jemaatnya yang tetap setiap menunggu sambil terus memanjatkan doa.

Ace dan kedua anaknya masih terus menanti suami dan ayah mereka kembali. Sesekali mereka berada di tepi Pantai Labuan yang membentangkan pasir putih, laut nan bening dengan nelayan tradisional hilir mudik sungguh menebarkan damai.

Bagi mereka, keindahan itu akan menjadi lengkap bila sang suami dan ayah tiba-tiba datang dalam keadaan selamat. Lebih-lebih pada 6 Juni mendatang, ketika tepat ulang tahun kesembilan pernikahan Ace dan Jokran. Semoga pergumulan panjang dalam penantian yang tak pasti dapat membuahkan hasil sebab Allah berkenan tidak ada yang mustahil.

Sumber: www.sinarharapan.co.id

Little Sunshine of Mine

Oleh: Anne Natalia

Kamu tahu, saat-saat pertama mengetahui kehadiranmu itu luar biasa... perasaan antara senang, tak percaya, cemas, takut, semua menjadi satu.

Saat itu, hanya dengan melihat dua garis di tes kehamilan, muncul suatu harapan baru, adalah kamu tumbuh sehat, tak kurang suatu apapun, merasa diingini dan bahagia.

Saat kamu belum dapat merasakan sentuhan, tangan-tangan kami tak berhenti mengusap-usap kamu... saat kamu belum dapat mendengar dan mengenali suara, kami tak berhenti mengajak kamu bicara...

Saat pertama kali mendengar degup jantungmu, itu juga luar biasa. Mataku berkaca-kaca. Betapa agung Dia... menciptakan segala sesuatunya begitu sempurna...

Ya, kamu sempurna... dari seukuran kacang tanah, kamu telah sempurna... bagiku dan bagi-Nya..

Aku merasakan kehadiranmu... kutunggu saat-saat aku bisa merasakan gerakanmu... pertama kali aku merasakan kedutanmu, ada sukacita dalam hatiku... suatu perasaan membuncah dan ragu... apakah itu kamu?

My little sunshine... dari awal mula, kamu sudah teramat lincah luar biasa... gerakanmu kuat. Kadang-kadang di malam hari, aku kewalahan hehe.. perutku bisa berubah bentuk tak menentu...

Aku tak masalah nanti bentuk perutku menjadi melar setelah kamu keluar, aku tak pernah mempermasalahkan berat badanku yang meningkat 16 kg... perhatianku tersita oleh kamu, aku ingin memenuhi segala kebutuhanmu... vitamin, makanan yang disarankan..tak pernah berhenti..

Sampai-sampai musik klasik menemani kamu hampir setiap hari sejak enam bulan kamu kukandung..

Sayangnya little sunshine, ibumu ini pengecut... tidak punya keberanian untuk menghadapi rasa sakit yang sudah Tuhan gariskan... aku memilih untuk operasi caesar... dan syukurlah... Tuhan tetap ijinkan segala sesuatunya terjadi seperti pintaku.

Hari itu, Kamis, 22 Mei 2008, jam 8 pagi... Oma Yeye, Ama Akung, Papah, Ucle Hence, Kukuh Kuliong, Amu Apa, Tuama, Pdt. Agung, Pak Deni... Wow! Banyak skali orang yang menantikan kamu, berdoa untuk kamu. Akhirnya, melihat kamu untuk pertama kalinya. Kalau kamu nanti suatu saat sudah bisa melihat video kelahiran kamu, kamu akan melihat begitu banyak sukacita luar biasa di sana...

Dan kamu...kamu sudah membuka matamu di setengah jam kelahiranmu. Kamu ingin melihat dunia... walaupun akhirnya kami tahu kalau kamu hanya bisa melihat samar-samar ternyata di tiga bulan pertama hehe. Kepalamu saat itu sudah bisa tengok kiri tengok kanan... ekspresimu lucu sekali saat itu..

Dan saat ini, curiositymu memang luar biasa..

Saat saat awal membawamu pulang.. mengurusimu di bulan-bulan pertama memang jadi salah satu saat yg bisa dibilang tidak mudah... tapi tak pernah menyerah.

Aku lelah, kurang tidur. Dua puluh empat jam lebih banyak dihabiskan di kamar bersamamu. Taukah, sampai aku membuka pintu kamar mandi, takut aku tak bisa mendengar tangismu ketika aku mandi atau buang air. Tapi semua itu sepadan. Semua terbayar lunas little sunshine... kamu tak berhutang apa-apa..saat aku melihat senyumanmu..saat aku mendengar celotehanmu... itu luar biasa...

Saat aku menyuapi kamu untuk pertama kali, melihat ekspresi aneh kamu dan terheran-heran mengenal rasa di lidahmu hahaha...

Saat langkah pertama kamu, dan kamu menangis dan ketakutan untuk berjalan lagi setiap terjatuh.. Saat kamu bisa memanggil namaku..

Rasanya little sunshine, ingin kuabadikan setiap saat bersamamu..setiap moment dan ekspresi ingin kurekam..karena aku takut, jika suatu saat ingatanku tak sebaik sekarang aku akan melupakannya. Tapi, aku seharusnya tak usah kuatir. Saat hanya menyebut namamu..perasaan damai dan bahagia sudah menjalar dalam hatiku.. :)

Tanganku pernah mendarat di pantatmu dan beberapa bagian tubuhmu. Amarah, teguran, dan sentakan dariku sering membuat kamu sedih dan menangis. Saat-saat di mana aku tak sabar...

Aku masih ingat betapa kamu beberapa kali berdiri patuh di pojokan kamar karena hukuman dariku. Dan aku juga ingat kamu punya hati yang lebih memaafkan dibanding diriku. Saat kamu sedih dan terluka, kamu dengan mudah meminta peluk dariku... dan melupakan pukulan yang aku daratkan.. :) aku harus belajar darimu..

Tahukah kamu, hari-hari pertama kamu mulai sekolah..aku yang lebih tegang darimu..saat kamu menangis di dalam kelas, aku mondar-mandir di luar kelas, hatiku bergumul... membiarkanmu atau memeluk kamu kembali..

My little sunshine, aku selalu berdoa sejak pertama kamu ada. Dan doaku sampe sekarang tak pernah berubah.

Kiranya Tuhan sertai kamu dalam setiap langkah langkah kecil kamu...tumbuhlah dalam Tuhan little girl, kamu takut akan Dia..kamu punya hati yang mengasihi. Tuhan pelihara kamu..dari lahir hingga sekarang, kehidupanmu.. sekolahmu, kuliahmu, pekerjaanmu, teman hidupmu, masa tuamu... dan biarlah lewat hidup-Mu, kamu memuliakan Dia..

Aku berdoa juga untukku, little sunshine..supaya aku diberi hikmat untuk bisa mendidikmu dalam-Nya, supaya aku diijinkan melihat kebahagiaanmu, melihat kamu tumbuh baik, bahagia..supaya aku boleh diijinkan melepasmu..melihatmu menikah, punya anak..

Jika ada saat-saat sulit..sekarang aku masih kuat untuk menggendongmu, menenangkanmu lewat pelukanku...jika waktu-Nya sudah siap, bersandarlah selalu pada-Nya ya..

Tahukah kamu, kamu banyak menenangkanku dengan cara yang berbeda..

Saat hariku melelahkan, capai dengan berbagai kemelut..ku melihat kamu tertidur pulas di sampingku, beberapa kali kamu ku potret dalam tidur. Somehow, wajah kamu menenangkanku..mengingatkanku..dan aku selalu bersyukur untukmu..

My little girl, goodnight..sleep tight and sweet dream...kecupan ringan..dan bisikan 'I love you' di telingamu, selalu aku berikan setiap malam.. :)

Little sunshine of mine, you are so priceless...I love you. And Jesus loves you so much... Aku ada, kamu ada... semua hanya karena kebaikan Tuhan..

Big hug n kisses from your mommy.

Manusia dalam Fatamorgana Dunia

Oleh : Yon Maryono

Fatamorgana merupakan sebuah fenomena yang biasanya terjadi di tanah lapang luas seperti padang pasir. Suatu bayangan genangan air yang semu, tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. Keinginan duniawi juga sangat mirip dengan ‘FATAMORGANA’, orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati sesuatu pun. Firman Tuhan dalam 1Yohanes 2:15-17 mengatakan: Janganlah kamu mengasihi dunia, dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Hal itu tidak berarti kehidupan manusia menjauhi bahkan terisolir dengan kehidupan dunia. Tetapi ketika hidup hanya mengejar dunia dengan segala yang ditawarkannya maka hasilnya adalah kesia-siaan. Salomo menyimpulkan dalam pengejaran harta, mas, perak dan kekuasaan, serta semua yang indah menurut ukuran dunia adalah sia-sia bila tidak takut dan berpegang perintah Allah (Pkh 12:8, 13-14). Rasul Paulus berbicara mengenai semua hal yang diraih di dunia sebelum berjumpa Yesus yang bangkit, dan berbalik semuanya sampah dibanding pengenalan dirinya akan Yesus Kristus walaupun mengalami penderitaan phisik. Salomo dan Paulus juga keliru menilai kehidupan dunia sebelum menemukan hikmat dari Tuhan.
Semua manusia memiliki keinginan duniawi. Faktanya, keinginan dunia berakibat pengagungan terhadap dunia secara berlebihan. Keinginan berlebihan menjadikan harapan utama pelakunya ketika hidup adalah kenikmatan hidup di dunia itu sendiri, yang menawarkan kenikmatan hidup tenang dan nyaman melalui kekuasaan dan kekayaan. Padahal Hidup manusia bukan sekedar makan, minum, bersenang-senang, tetapi hidup manusia itu berasal dari Allah, atau lebih tepatnya dari setiap firman Allah (bdk Mat 4:4) Mereka menukar kehidupan kekal (bdk. Yoh 3:15-16) dengan kenikmatan yang semu. Karena mereka lebih mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi dan mendahulukan negeri yang fana dari pada negeri yang kekal selamanya. Manusia telah tertipu oleh tipu daya iblis sehingga terjerumus kepada perbuatan daging yang menyesatkan (Gal 5:17-19).
Kehidupan dunia adalah perjalanan iman melakukan kehendak Allah ditengah fatamorgana dunia. Pertanyaannya adalah sudahkah kita memperoleh hikmat Tuhan sebagimana Salomo dan Paulus dapatkan yang menyimpulkan hidup ini kesia-siaan seperti sampah? Seseorang itu tidak akan sampai kepada hakekat perjalanan iman di dalam dunia bila tidak berubah oleh pembaharuan budinya, sehingga manusia dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.( bdk. Roma 12:2).
Tuhan memberkati kita semua.

Mata

Penulis : sonny ar

Papaku sudah berumur 63 tahun dan papa berulang tahun juga setiap tgl. 25 desember 2005. Tapi, kami gak pernah secara khusus merayakan hari ultah papa, karena hari itu kami merayakan hari natal. Cuma, pas memberi salam selamat natal, kami memberi "bonus" selamat ulang tahun juga sama papa.

Papa ini lahir, besar, menikah dan punya 6 anak dan membesarkan ke-6 anaknya di serang. Pendidikannya cuma sampai sma dan dulu isterinya - mama saya - juga cuma sekolah setingkat sd. Tapi, mereka bercita-cita tinggi. Anak2nya mesti sekolah yang tinggi, sampai tamat di perguruan tinggi. Jangan jadi seperti mereka, kata mereka pada suatu kesempatan. Mereka - papa & mama ku - mencari nafkah keluarganya dengan berjualan empek2 palembang di pinggir jalan - kaki5 - di jalan diponegoro di serang. Cukup laku, malah sempat terkenal, empek2 buatan keluarga kami - sekitar tahun 1975 s/d 1992 di se antero serang. Walau lumayan laku, karena masih sekelas kaki5, maka jualan kami kurang berkembang, dalam arti gak punya outlet sendiri yang permanen atawa ruko. Jadi tumbuh enggak, mati juga enggak. Jualannya segitu-gitu aja. Cukup buat makan sehari-hari aja, walau sering juga kalao lagi pas gak laku, makan nasi cuma sama bawang goreng atawa garam saja. Yang jelas, walau begitu, anak2nya tumbuh begitu sehat dan cerdas. Seingat saya, waktu kecil kami suka dicekokin minyak ikan.

Papa doyan membaca. Papa suka membeli dan membaca koran kompas (dan lalu poskota, sejak anak2nya kuliah dan kerja di jakarta). Tahun 1977, keluarga kami punya tv hitam putih 14 inch.selain koran, beliau suka membelikan anak2nya komik, mulai hc andersen, serial bolong jilu, laba2 merah, godam, gundala dll. Beliau juga suka menyewa buku, terutama cersil karangan kho ping hoo. Dari ke-6 anak2nya, saya kayaknya yang banyak diturunin hobby nya, suka baca, suka nonton, suka es sirsak yang tidak di juice bahkan soto nya sama yaitu daging dan babat saja. Tapi, papa juga yang paling keras dengan saya. Saat kecil, ketika saya sakit mencret-mencret dan tidak bisa minum/nelan obat, saya lari dan dikejar papa. Lalu ditendang dan dipegangin mulutnya, lalu dicekokin kapsul obat mencret itu. Mendingan. Besoknya mau minum obat lagi, akhirnya mama membuka atao menggerus obat itu jadi puyer, agar saya bisa minum.

Papa dan mama bekerja keras supaya anak2nya bisa sekolah lebih tinggi lagi dan keluar dari kota serang. Mama rajin nabung, sementara papa cenderung boros, jadi ketika pas lagi lumayan dagangan laku, mama (ternyata) nabung juga. Makanya tahun 1984, ketika cici saya mau kuliah ke jakarta, keluarga kami ada dana untuk membiayai nya. Seperti kata bu Indri, sudah satu mesti yang lain menyusul, maka kemudian satu persatu anak2 dari keluarga kami ini pindah ke jakarta untuk sekolah. Caranya bagaimana? Cici yang sudah kuliah sore, lalu kerja di pagi sampai siang. Dapat duit, cici membiayai saya sekolah dan kuliah, dan juga cici membiayai adik saya yang kuliah. Ketika saya dan adik saya sudah kerja, kami saling bantu untuk membiayai 3 orang adik kami yang kuliah. Begitu seterusnya, yang sudah kerja, boleh (harus) membantu adiknya yang masih kuliah. Terakhir, adik kami yang paling kecil wonny, di wisuda di ui bulan oktober 2004 dan tanggal 7 pebruari 2005 lalu mulai bekerja di salah satu perusahaan consumer goods.

Tahun 1986 s/d 1992, jualan empek2 kami mengalami pasang surut, atau bisa juga penurunan. Dari jualan di kaki5 menjadi jualan asongan. Salah satu alasannya, karena mama saya meninggal tahun 1986, di mana selama ini empek2 itu dibuat langsung oleh mama. Ternyata empek2 buatan papa tidak begitu laku, maka nya tahun 1994an, kami berhenti total jualan empek2.

Dulu, kami sekeluarga bergereja di gki serang. Papa dibaptis dan diteguhkan pernikahannya dengan mama saya di sana juga. Kami anak2nya pun di baptis anak di gki serang. Papa sempat bantu2 kegiatan di gereja, walao pun bukan majelis atau aktivis, tapi lalu surut tidak lagi ke gereja. Lalu, sekitar tahun 1992an sampai sekarang, papa "pindah" ke gereja kristus sidang jemaat allah dan dibaptis lagi. Ketika saya tanya kenapa pindah, kata papa, sekarang (maksudnya tahun 1992an itu) udah banyak orang baru, pendeta nya baru, majelis jemaat nya baru, orang2/ jemaat nya pun banyak yang baru. Kita2 mah udah gak diperhatiin sama pendetanya, mereka lebih merhatiin orang baru yang kaya, dibanding orang lama dan gak berpunya. Saya bilang, mungkin karena gak kenal aja sama pendeta nya ngkali. Mungkin aja pendeta nya sibuk. Ah, masa gak kenal sih, kata papa saya lagi. Mereka kan kenal saya. Mereka kan punya mata dan lihat saya jualan asongan di gerbang gereja. Masa di usir, ganggu lalu lintas, katanya. Di depan gereja jualan loh, bukan minta2 ke orang gereja! Lalu saya tanya lagi, kenapa dibaptis lagi, emang yang dulu gak sah atau gimana. Ya dibaptis aja, kata papa lagi. Tak ada penjelasan. Seiring waktu, anak2 sudah bekerja dan mandiri. Kami menyarankan papa, untuk banyak di rumah saja atau main ke rumah/ tempat kami. Papa dan isteri (baru, menikah tahun 1992) masih jualan asongan di depan gereja2 (gereja katholik, bethel atau gki) di serang di hari minggu. Mereka juga buka warung kecil2an di rumah di serang. Papa masih tiap hari membeli dan membaca kompas dan poskota. Selain itu, papa (dan tante, saya memanggilnya tante) kebanyakan nonton tv, mulai dari berita sampai sinetron nya. Mereka berdua kalao nonton sinetron, bisa tertawa terbahak-bahak duaan.

Karena sudah berumur, papa cenderung demokratis, atau menurut saya malah terlalu permisif. Papa mau supaya kalian bahagia, katanya suatu saat. Makanya, ketika 2 anak nya kawin dengan pasangan yang berbeda agama, papa setuju saja, walau pun saya atau adik ngotot tidak setuju. Papa jalan terus, merestui. Papa ingin lihat kalian semua bahagia, katanya lagi. Saya dan papa berdebat lama, kebanyakan saya yang ngotot menyatakan ketidak setujuan. Tapi, lalu begitu saja. Saudara2 saya itu sudah menikah sekarang.

Minggu lalu, papa nelpon dan minta duit buat berobat. Matanya sakit. Matanya berair terus. Gatel-gatel. Mau berobat ke dokter mata di RS Serang. Papa juga bilang, sejak 1 jan 2005 dia sudah berhenti beli koran kompas dan poskota. Senin nya saya telpon, bagaimana matanya, bagaimana konsultasi dengan dokter nya. Kata papa, dia gak jadi ke rs serang, jadinya ke dokter guntur spesialis mata. Kata dokter, ini katarak, pengobatannya (hingga tuntas)harus dioperasi. Papa nanya, apakah bisa diobatin dengan cara lain. Bisa - kata dokter- disalepin dan minum obat, tapi gak tuntas. Bakalan kambuhan. Ya udah dokter dikasih salep dan minum obat aja. Saya tanya papa, kenapa gak mau dioperasi. Takut buta, kata papa. Bukan soal uang, tanya saya lagi, kan anak2 papa bisa patungan buat biaya operasi. Papa berdengung saja, tidak menjawab... (hari ini, saya di sms in adik saya bernama donny, bahwa papa tidak mau mendengar sarannya untuk operasi mata, dan donny minta saya untuk "bicara" lagi membujuk papa)

Mengapa Kita Memuliakan Allah

Penulis : Pdt. Dr. Stephen Tong

"...semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku, yang Kuciptakan untuk kemuliaan- Ku..." (Yesaya 43:7)

Tuhan menciptakan manusia bukan supaya manusia hidup dan berbuat sekehendak hatinya. Tuhan menciptakan manusia supaya manusia tahu, ia harus memuliakan Allah Pencipta. Inilah tujuan kita diciptakan, tujuan kita ditebus.

Waktu saya masih kecil saya selalu ingat suatu ayat yang mengatakan, "muliakanlah Allah; muliakanlah Tuhan". Lalu saya berpikir, apakah Tuhan tidak malu, tidak sungkan, meminta orang memuliakan Dia? Saya tidak mengerti, maka saya tanya guru sekolah minggu saya. Guru menjawab: "Saya juga tidak mengerti!" Kalau guru tidak mengerti, mana bisa saya mengerti? Tetapi saya merasa, pasti ada jawaban dalam Kitab Suci, karena Allah tidak main-main. Kemudian saya temukan dalam Kitab Suci, dua kali Allah berkata, "Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain. Aku tidak mengizinkan kemuliaan-Ku diberikan kepada ilah-ilah yang palsu." (Yesaya 42:8).

Tidak lama setelah saya menjadi hamba Tuhan, pemuda-pemudi menanyakan pertanyaan sama, "Mengapa Allah minta kita memuliakan Dia?" Saya tanya kembali, "Sebelum kita memuliakan Allah, apakah kemuliaan Allah sudah sempurna?" Jawabnya: sudah! Kalau kemuliaan Allah sudah sempurna sebelum seorang memuliakan Dia, mengapa Dia minta lagi supaya kemuliaan diberikan kepada-Nya? Saya sebenarnya tidak mengerti, tetapi satu hal saya mengerti. Matahari mempunyai cahaya sendiri, tetapi bulan tidak mempunyai cahaya sendiri. Bulan hanya memantulkan 8% dari cahaya matahari yang diterimanya; dia menjadi reflektor untuk memancarkan kembali cahaya itu kepada benda-benda lain.

Andaikata saya mengambil cermin lalu memakainya sebagai reflektor untuk memantulkan kembali cahaya ke sumber cahaya tersebut, apakah dengan demikian sumber cahaya itu bisa menjadi lebih bercahaya? TIDAK! Tetapi di sini ada satu pengertian yang penting, yaitu KEMBALI KEPADA ASAL. Itulah maknanya. Allah mau kita kembali kepada asal. Allah mau kita hidup dalam arah yang benar. Berapa banyak orang yang mempunyai arah hidup yang salah? Berapa banyak orang yang mempunyai suara bagus tetapi tidak memakai suara itu untuk Tuhan? Berapa banyak orang yang namanya kristen tetapi menyanyi di kelab malam? Berapa banyak orang yang namanya anak-anak Tuhan tetapi menyanyi untuk memuja hawa nafsu? Di sinilah letak perbedaan antara anak-anak Tuhan dan mereka yang tidak mengenal Tuhan. Bagi anak-anak Tuhan, bakatku berasal dari-Nya, uangku berasal dari-Nya, kesehatanku berasal dari-Nya. Berapa banyak orang yang dalam hal ini tidak mengerti! Mereka mengatakan, bakatku dariku, kepintaranku dariku, semua sukses dariku, segala keunggulanku adalah karena aku lebih dari orang lain.

Celakalah kalau kita menjadi orang tidak mengetahui sumber. Celakalah kalau kita tidak mengerti, bahwa Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu yang kita terima. Sampai saat Roh Kudus menggerakkan hati kita, barulah kita menjadi sadar bahwa keberadaan kita pada hari ini adalah anugerah Tuhan saja. Demikian dikatakan Paulus, "Karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang." (1Korintus 15:10).

Pada saat seorang Kristen mempunyai kesadaran sedemikian, pada saat dia mengerti akan sumbernya, dia sudah melangkah dalam hidup kerohaniannya ke pangkalan yang benar; dia berdiri di atas batu karang yang benar. Dia tahu, dia adalah dia; dia diciptakan oleh Tuhan, dia menikmati sukses karena Tuhan. Suaranya diberi oleh Tuhan, waktu dan hidupnya berasal dari Tuhan. Kalau kesadaran ini sudah ada, mungkinkah seseorang menjadi sombong, congkak, membanggakan diri dan merebut kemuliaan Tuhan? Itu tidak mungkin. Tetapi kesadaran jangan berhenti di situ saja. Kesadaran itu harus mengarahkan kita kembali kepada Tuhan. Kalau bakatku, suaraku, kesehatanku, berasal daripada-Nya; kalau segala sesuatu yang baik dalam hidupku berasal daripada-Nya, apakah yang seharusnya aku perbuat? Memakai semuanya untuk kemuliaan Allah! Kesadaran itu membawa kita bukan hanya ingat akan sumber, tetapi kembali berarah kepada sumber.

Ketika saya berumur 17 tahun, oleh pekerjaan Roh Kudus saya teringat akan cinta kasih Kristus di atas kayu salib. Sekali lagi saya berkata kepada Tuhan, "Di sini hamba-Mu, aku doulos-Mu, aku hamba- Mu, karena aku telah ditebus dengan harga tunai, dengan darah Kristus yang mahal." Dalam Alkitab, Petrus menyebut tentang darah yang sangat bernilai, the precious blood of Christ (1Petrus 1:19). Pertanyaan ini muncuk satu kali saja dalam Alkitab -darah yang amat berharga, darah dari anak Allah sendiri, yang telah menebus saya. Siapakah saya? Saya adalah tebusan Tuhan. Seorang pendeta yang tua sekali di Tiongkok, dalam khotbahnya 50 tahun lalu berkata demikian, "Sebelum suatu barang saya beli, barang itu milik toko. Setelah saya beli, barang itu milik saya. Mengapa saya membelinya? Karena saya mau mempunyai hak milik atas barang itu." Apa sebabnya saudara ditebus oleh Tuhan? Apa sebabnya saudara dibeli dengan darah yang begitu mahal? Karena Tuhan mau mempergunakan hak milik atas dir imu!

Saudara-saudara, Dia mau memakai saya, Dia mau memakai saudara, dan Dia mau berkata kepada saudara, "Muliakanlah Aku karena darah Anak-Ku yang tunggal. Aku sudah menebus engkau, Aku sudah membeli engkau dan sekarang Aku mau engkau memuliakan Aku." Umat Kristen memiliki agama yang bernyanyi karena ada yang kita puji, yaitu Tuhan penebus kita. Lagu-lagu yang dikumandangkan dalam pagelaran perdana Jakarta Oratorio Society berbicara tentang Kristus, Kristus, Kristus. Kita diingatkan kembali akan Kristus, domba Allah, yang sudah mati disembelih untuk mengangkut dosa dunia; domba Allah yang membersihkan hati nurani kita masingmasing. Dia patut dipuji dan dimuliakan. Marilah kita bersama-sama memuji Dia, bersyukur kepada-Nya dengan hati nurani yang bersih. Mari kita kembalikan kemuliaan kepada Tuhan.

Sumber: Majalah MOMENTUM No. 2 - Juli 1987

Mengasihi Hingga Sakit, Memberi Hingga Tak Tersisa

Penulis : Lesminingtyas

Beberapa minggu yang lalu hidup saya dibuat pontang-panting oleh Uwa; pembantu yang mengasuh si bungsu Mika. Nenek tua itu kembali sakit. Saya pun membawa Uwa ke dokter praktek yang berjarak kurang lebih 50 meter dari rumah. Menurut dokter, tekanan darah Uwa cukup tinggi, yaitu 180/110. Namun saya cukup tenang karena dokter berjanji akan memberikan obat penurun tekanan darah.

Sehari setelah berobat ke dokter, kondisi Uwa justru semakin memburuk. Sorenya, sepulang saya dari kantor, Uwa mengeluh pusing. Saya pun segera memapahnya untuk kembali ke dokter. Belum juga keluar pintu rumah, hidung Uwa mengeluarkan darah segar. Saya pun tetap memapah Uwa menuju tempat praktek dokter. Walaupun tempat praktek dokter tidak terlalu jauh, namun badan Uwa yang lebih tinggi dan lebih besar yang menyandar tak seimbang ke badan saya, membuat langkah kaki saya terseok-seok. "Ternyata memang sangat berat jika ´pasak´ lebih besar dari pada tiang" pikir saya dalam hati. Sebagian berat badan Uwa yang ditimpakan ke pundak kiri saya, membuat tangan kiri serasa lumpuh. Sampai-sampai pundak dan dada kiri saya dibanjiri darah segar pun, saya tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya bau anyir yang menyengat yang membuat saya tidak nyaman. Sebenarnya saya sangat jijik dengan darah, tetapi malam itu tidak ada pilihan lain.

Saya mulai cemas ketika ruang praktek dokter itu gelap gulita. Dari papan nama dokter saya tahu bahwa praktek tersebut baru dibuka jam 20.00. Melihat darah yang mengucur deras dan kondisi badan Uwa yang sangat lemah, saya tidak yakin Uwa bisa bertahan kalau harus menunggu 2 jam lagi. Dengan tertatih-tatih, saya memapah Uwa kembali ke rumah dan mendudukkannya di kursi teras.

Untuk memberikan pertolongan pertama, saya mencoba menundukkan kepala Uwa dan menyiramnya dengan air kran. Seperti biasa, Uwa marah-marah karena kedinginan. Saya pun mencoba dengan cara lain. Pontang-panting, saya berlari ke sana ke mari bak orang kesurupan untuk mencari daun sirih. Sayang sekali tak seorang tetanggapun yang menanam sirih. Tidak ada cara lain, kecuali membawa Uwa ke klinik. Namun untuk meminta bantuan tetangga rasanya tidak mungkin karena semua warga sedang menjalankan sholat maghrib.

Karena darah Uwa terus membanjiri teras, tidak ada pilihan lain selain lari ke perempatan jalan untuk memanggil ojek. Saya mencarter 2 ojek untuk membawa Uwa ke klinik 24 jam. Karena darah Uwa masih terus mengalir, tukang ojek meminta kain untuk menutup hidung Uwa. Tanpa pikir panjang, Dika langsung memberikan sarung kesayangannya.

Karena klinik 24 jam hanya berjarak kurang lebih 2 km, saya tidak menitipkan anak-anak kepada tetangga. Saya pikir Dika sudah cukup besar untuk menjaga adiknya barang 15-30 menit. Saya hanya berpesan kepada Dika untuk menemani adiknya dengan tenang selama saya pergi. Saya berjanji kepada anak-anak untuk segera pulang sambil membawa lauk untuk makan malam. Dokter di klinik 24 jam itu sangat sigap. Dalam hitungan detik, sarung tangan telah membalut kedua tangannya. Dokter itu siap memasukkan tampon ke lubang hidung Uwa. Wajah dokter itu mulai tegang ketika satu tampon yang dimasukkannya langsung terdorong keluar oleh derasnya darah dari hidung Uwa. Dua tampon dicoba dimasukkan ke satu lubang hidung Uwa sekaligus, tapi masih mental juga. Tidak sampai 5 menit memberikan pertolongan, dokter itupun menyerah dan meminta saya untuk segera membawa Uwa ke rumah sakit besar.

Saya bingung sekaligus panik karena tidak ada satu orang dewasa pun di rumah yang menjaga anak-anak. Saya juga bingung dan merasa tidak mampu untuk membawa Uwa sendirian ke rumah sakit. Karena tukang ojek yang saya carter masih ada di situ, saya pun meminta salah satunya untuk menemani saya ke rumah sakit besar. Saya dan dokter memapah Uwa ke pinggir jalan, sementara tukang ojek mencari angkot untuk dicarter ke rumah sakit. Karena saya tidak enak hati mengotori baju dokter saya menyangga seluruh berat badan Uwa yang sudah mulai lemas itu dengan bahu saya. Darah Uwa pun mulai mengalir sampai ke pakaian dalam saya. Jijik sekali rasanya.

Kira-kira 5 menit, tukang ojek itu kembali dengan angkot kosong yang siap mengantar kami ke rumah sakit. Dokter yang tidak mau saya bayar itu pun membantu saya mengangkat Uwa masuk ke dalam angkot.

Selama di perjalanan saya dan tukang ojek yang sebelumnya tidak saya kenal itu mengapit Uwa. Ketika sopir angkot menanyakan rumah sakit mana yang akan kami tuju, saya tidak segera menjawab. Sebaliknya, saya meminta pendapat sopir angkot dan tukang ojek untuk memilih rumah sakit. Sebenarnya rumah sakit langganan keluarga saya tidak terlalu jauh dari rumah, tetapi tarifnya tergolong mahal.

Sambil membiarkan keduanya berdiskusi, saya menelpon dan mengirim SMS ke semua kakak dan orang tua saya. Saya berharap mereka memberikan komitmen untuk membantu biaya, sehingga saya bisa memilih rumah sakit yang terdekat. Namun, hingga rumah sakit langganan saya terlewati, tidak ada seorang kakak pun yang menyatakan kesanggupanya untuk membantu pembiayaan Uwa.

Tangan kanan saya masih terus menyangga Uwa sedangkan tangan kiri sibuk mengirim SMS untuk mengabari anak-anak Uwa dan memintanya datang ke Bogor. Saya berharap setelah masuk rumah sakit, perawatan Uwa sudah menjadi tanggung jawab dokter dan anak-anaknya, sehingga saya tinggal memikirkan biayanya saja. Namun saya harus puas dengan jawaban anak-anak Uwa yang tidak bersedia datang dan menimpakan tanggung jawab seluruhnya kepada saya.

Saya berhenti memainkan ponsel ketika tukang ojek itu meminta saya memilih 2 alternatif rumah sakit pemerintah yang ditawarkannya. Rumah sakit pertama memang cukup murah, tetapi letaknya agak menjorok ke dalam sehingga untuk menengoknya saya harus berjalan kaki agak jauh. Supaya saya bisa menengok Uwa sepulang dari kantor, saya pun memilih rumah sakit kedua yang lebih mahal sedikit tetapi terletak persis di pinggir jalan. Walaupun saya sudah memutuskan rumah sakit yang akan kami tuju, tetapi perjalanan tidak bisa dipacu karena malam itu angkot masih memadati jalanan hingga kota kami layak disebut sebagai "kota angkot" . Saya mulai panik ketika nafas Uwa mulai tersendat-sendat. Saya kuatir kalau-kalau Uwa menghembuskan nafas di dalam angkot. Sambil tangan kiri menyangga kain sarung untuk menadahi darah Uwa yang terus mengalir, tangan kanan tetap menahan badan Uwa.

Rasa dan bau badan saya sudah tak karuan. Saya yang sore itu belum sempat mandi dan masih mengenakan baju kerja, benar-benar harus bermandi darah. Bau anyir dan rasa jijik mulai merata di sekujur tubuh saya. Melihat Uwa terkulai lemas, saya pun semakin panik. Jantung saya bergerak lima kali lebih cepat karena rasa takut yang amat sangat. Saya mencoba kembali mengambil ponsel dari saku celana saya yang sudah mulai basah oleh darah. "Pak, tolong cepat datang. Uwa kayaknya sudah nggak kuat !" saya menelpon bapak saya setengah merengek.

Ayah saya pun menjawab "Mintalah pertolongan Tuhan! Bapak akan segera berangkat ke Bogor" bapak mencoba menenangkan saya. Bapak yang tahu betul bahwa saya tidak tahan mengahadapi orang mati, tidak mungkin tega membiarkan saya menghadapi Uwa sendirian. Saya mencoba berdoa sambil berharap bapak akan datang secepatnya "Tuhan, sekiranya Engkau ingin memanggil Uwa, panggilah! Tapi kalau masih boleh menawar, tolong terlebih dulu kirimkan satu saja penolong untuk saya !"

Melihat kondisi Uwa yang terus melemah dan jalanan yang masih macet, berkali-kali saya berbisik di telinganya "Uwa, minta kekuatan dari Tuhan Yesus, ya!" Kalau Uwa diam saja, tak bosan-bosan saya membisikinya berulang-ulang hingga Uwa menganggukkan kepala sambil mulutnya lirih menyebut nama Tuhan Yesus.

Begitu angkot yang kami tumpangi masuk ke halaman RS, tukang ojek itu meminta saya mendaftar ke UGD. Saya pun mengiyakannya dan langsung meloncat ke luar dan berlari menuju bagian pendaftaran UGD. Tukang ojek bersama sopir angkot mengangkat Uwa masuk UGD.

Sementara Uwa ditangani dokter dan juru rawat di UGD, saya membayar sewa angkot dan meminta tukang ojek untuk tetap tinggal menemani saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya, kalaupun Uwa meninggal, masih ada tukang ojek yang menemani saya mengurus jenazahnya.

Dalam keadaan panik, saya sempat kena marah petugas administrasi karena waktu ditanya umur dan nama suami Uwa, saya tidak tahu. Dengan sok kuasa ia menakut-nakuti saya "Kalau tidak ada suaminya, kita tidak bisa menolongnya?" "Maaf Bu, sejak kecil saya tidak tahu siapa suaminya. Memangnya kenapa harus ditanyakan suaminya?" tanya saya tak mengerti. "Kalau tidak ada suaminya, siapa yang akan bertanggung jawab?" katanya ketus. "O..jadi yang dibutuhkan bukan suaminya, tapi orang yang bertanggung jawab khan? Kalau cuma itu, saya akan berusaha untuk bertanggung jawab" jawab saya merendah.

Mungkin karena melihat saya yang hanya mengenakan sandal jepit dan celana panjang yang kelupaan masih saya gulung mirip orang kebanjiran, petugas administrasi itu mulai meragukan saya. Terlebih badan dan pakaian saya yang tak layak dan menebar aroma tak sedap. "Nih lihat, harus mbayar segini ! Apakah Teteh sanggup?" tanyanya ragu. Petugas itu semakin ragu ketika melihat dompet yang sudah saya kuras hingga ke receh-recehnya, tetap belum memenuhi sejumlah uang yang diminta. Saya minta ijin keluar sebentar untuk meminjam uang kepada tukang ojek itu. Akhirnya saya pun bisa memenuhi uang yang diminta itu setelah tukang ojek bersedia menguras seluruh isi dompetnya.

Hati saya mulai lega ketika Uwa sudah ditangani dokter. Namun rasa lega itu mulai surut ketika dokter jaga yang super jutek itu memanggil saya dan bertanya. "Situ anaknya, ya?" Belum sempat saya menjawab, dokter itu kembali menunjukkan kejutekannya "Kenapa ibunya ditinggalkan sendiri? Jagain dong! Pegangin tuh tampon di hidungnya!" kata dokter itu sambil menyerahkan beberapa gulung tampon dengan kasar "Di sini banyak pasien sedangkan dokter cuma satu, jadi yang seperti ini harus dilakukan oleh keluarga pasien sendiri!" sambungnya ketus. "Apakah tidak ada cara lain untuk menghentikan pendarahannya, Dok?" tanya saya pelan. "Mau dengan cara apa? Menghentikan pendarahan orang yang sudah terlalu tua dan hipertensi seperti ini sangat sulit ! Tunggu saja sampai berhenti dengan sendirinya !" jawabnya tak ramah. "Berapa tensinya sekarang dok? Kemarin 180/110" saya ingin tahu. "Pembuluh darahnya pecah karena hipertensi. Sekarang tensinya 140/90" jawab dokter tanpa memalingkan wajah ke arah saya.

Walaupun sudah 1 jam di rumah sakit, hidung Uwa masih terus memancarkan darah. Karena posisi Uwa benar-benar telentang, darahnya mulai keluar dari mulut dan mengalir ke mana-mana. Sarung kesayangan Dika sudah tidak berwarna lagi, dan berubah menjadi hitam pekat oleh darah. Saya pun membuang sarung itu ke tong sampah. Karena sudah tidak ada lagi kain untuk mengelapnya, saya melepas baju hangat Uwa.

Setengah jam kemudian Uwa sadar. Pertama kali yang ditanyakan Uwa ketika sadar adalah baju hangat kesayangannya. Karena sudah basah kuyup dengan darah yang beraroma anyir, saya pun meminta injin Uwa untuk membuang menyusul sarung Dika di tong sampah. Dalam keadaan tidak berdaya, Uwa masih saja marah. Supaya tidak terdengar oleh pasien-pasien lain di UGD, saya pun berbisik "Sudah lah, besok saya belikan lagi baju hangat yang kayak gitu empat sekaligus!"

Walapun Uwa ngedumel nggak karuan, tangan kiri saya masih memegangi tampon, sementara tangan kanan terus mengelap darah Uwa yang "ngacai" dari mulutnya. "Tuhan, mengapa Engkau uji saya seberat ini?" keluh saya.

Ketika mata saya melirik, mendapati bahwa jam di ruang UGD telah menunjukkan pukul 22.00. Saya panik sekali memikirkan anak-anak saya yang belum makan dan berada di rumah tanpa pengawasan orang dewasa. Saya takut anak-anak menyalakan kompor sendiri untuk membuat makanan gara-gara kelaparan. Saya juga kuatir anak-anak lupa mengunci pintu dan jendela. Banyak sekali kekuatiran saya akan keadaan anak-anak di rumah. Terlebih angka kejahatan di Bogor cukup tinggi.

Saat juru rawat melintas di dekat saya, saya pun meminta bantuan untuk mengurus Uwa karena saya akan menelpon ke rumah. Saya segera lari ke luar. Sebelum menelpon anak-anak, saya berusaha meminta kesabaran tukang ojek untuk tetap menemani saya. Tukang ojek itu pun tampaknya mengerti kekalutan saya. Sambil membersihkan sisa-sisa darah yang mengering di baju, saya mencoba menelpon ke rumah. Lama sekali telepon tidak diangkat. Rasanya ingin sekali saya terbang ke rumah supaya tahu apa yang terjadi.

Kurang lebih satu menit telepon di rumah baru diangkat "Halo, ibu ya? Ibu kok nggak pulang-pulang ...cari duit sampai malam ya?!" tanya Mika yang merasa yakin kalau yang menelpon itu saya. Tanpa menjawab pertanyaan Mika, saya langsung memberi instruksi kepada Mika "Dik, tolong teleponnya kasih Mas Dika!" Dengan setengah cedal Mika menjawab "Mas Dika udah tidul" "Bangunkan Mas Dika, bilang ada telepon dari ibu!" perintah saya kepada Mika yang umurnya baru 3 tahun. "Ya,ya,ya.dadah ibu!" jawab Mika langsung menutup telepon.

Saya kembali mencoba menelpon berkali-kali, tapi tidak ada yang mengakat. Saya menduga Mika sedang berusaha membangunkan Dika yang memang agak susah dibangunkan. Kira-kira 3 menit saya mencoba melepon, akhirnya Dika pun mengangkat telepon. "Ibu kok lama sekali sih? Dika sama adik sudah kepalaran, tapi ibu nggak pulang-pulang. Tadi waktu ibu pergi adik nangis terus, sampai muntah. Dika repot banget nich ngurusin adik. Ibu sekarang di mana sih?" tanya Dika dengan nada kesal. "Dika, ibu masih di rumah sakit. Sekarang pintu dan jendelanya di.....(tit!)" belum sempat memberikan pesan, telepon saya mati karena baterainya habis.

Melihat saya mondar-mandir mencari telepon umum, tukang ojek itu meminjamkan ponselnya kepada saya. Begitu telepon tersambung, tanpa membuang waktu saya berpesan "Dika, makan seadanya dulu. Semua pintu dan jendela..(tit)!" ponsel si tukang ojek itu pun nasibnya sama dengan ponsel saya. Saat itu saya benar-benar tidak bisa menahan tangis. Saya benar-benar mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah. Saya ingin sekali untuk segera pulang ke rumah, tetapi dokter belum mengijinkan saya pergi.

Ketika saya masuk ke UGD lagi, darah Uwa sudah tidak terlalu deras. Juru rawat menyuntikkan beberapa macam obat melalui selang infuse. Uwa juga sudah bisa memegangi sendiri tampon di hidungnya. Beberapa menit kemudian saya dipanggil oleh kasir untuk membayar biaya tindakan dan obat-obatan. Karena saya tidak membawa uang tunai, saya meminta tukang ojek untuk menunggui Uwa, sementara saya mengambil uang di ATM.

Malam itu saya berjalan keluar dari komplek RS sambil menangis. Saya menangis untuk banyak hal. Selain mengkuatirkan keadaan anak-anak di rumah, juga mengkuatirkan keadaan Uwa di rumah sakit. Ditambah lagi, saya yang terbiasa mengelola gaji dengan perencanaan yang ketat, rasanya cukup dipusingkan dengan pengeluaran besar yang tidak ada dalam rencana ERT (Ekonomi Rumah Tangga) saya. Kalau saya mengambil uang gaji di ATM BNI, pasti kehidupan kami selama sebulan serta tagihan rumah, telepon, listrik, asuransi pendidikan dan tabungan kesehatan anak-anak pasti kacau balau. Kalau saya mengambil tabungan pendidikan di ATM Lippo, saya kuatir proses kelanjutan sekolah Dika ke SMP terganggu. Akhirnya malam itu saya putuskan menguras semua tabungan kesehatan anak-anak dari ATM BCA. Saya pun naik becak menembus gelapnya malam kota Bogor menuju ATM BCA yang jaraknya kurang lebih 500 meter dari RS.

Setelah saya menyelesaikan pembayaran di kasir, juru rawat memanggil saya untuk mendatangani persetujuan rawat inap untuk Uwa. Karena juru rawat itu tahu kalau Uwa adalah pembantu saya, ia pun menyarankan saya untuk memilih kamar kelas 3 saja. Saya pun tidak mampu berpikir lagi kecuali mengiyakannya dan berbisik "Tolong ya Mas, usahakan semua urusan malam ini cepat selesai, karena saya harus segera pulang. Anak-anak saya yang masih kecil, sekarang ini di rumah sendirian". "Ibu telpon tetangga dulu untuk minta tolong mereka menjaga anak-anak ibu" juru rawat yang ramah itu menyarankan. "Boro-boro nelpon tetangga Mas, mau nelpon anak sendiri saja tidak bisa karena baterainya habis" jawab saya masih tegang.

Supaya cepat selesai, saya membantu juru rawat itu membawa berkas status pasien dan mendorong kereta dorong ke kamar perawatan di kelas 3, sementara juru rawat menarik kereta itu. Saya kaget ketika tiba-tiba juru rawat menarik kereta pasien masuk ke ruang isolasi. Saya pun deg-degan dan dengan reflek bertanya "Lho, lho,lho! Mas, memangnya penyakit ini menular, kok sampai harus diisolasi?" "Bukan karena menular Bu, tapi kalau pasien ini dicampur dengan pasien lain, dikuatirkan yang lain pada takut atau jijik" jawab juru rawat itu. "Tapi kan kasihan Mas, ibu ini sudah tua sekali dan tidak ada yang menjaga. Kalau nanti terjadi sesuatu dan tidak ada orang yang melihatnya, bagaimana?" tanya saya sambil meminta belas kasihan.

Uwa yang sudah dibaringkan di ruang isolasi kembali kami angkat ke kereta dorong untuk dipindahkan ke barak RPU supaya bisa sekamar bersama belasan pasien lain. Ketika Uwa sudah berada di barak pasien, saya pun berpamitan kepada juru rawat sambil menitipkan Uwa. Tiga juru rawat yang bertugas malam itu dengan kompak memarahi saya. Saya pun berusaha merendah dan memohon pengertian para perawat itu. "Maaf Suster, saya tidak mungkin menungguinya di rumah sakit. Saya juga butuh ganti baju dan mengambilkan baju ganti untuk pasien!" saya memberikan alasan. "Gila ! Ibu ini nggak punya otak, kali ya? Masak tega meninggalkan ibunya yang sudah berumur 67 tahun sendirian di rumah sakit" kata salah satu juru rawat.

Sebenarnya saya ingin menjawab "Justru karena saya punya otak, saya harus pulang untuk mengurus anak-anak saya" Namun karena saya tidak ingin berdebat, sayapun menjawab dengan halus "Maaf Suster, saat ini anak-anak saya di rumah tidak ada yang menjaga. Saya meninggalkan anak yang berumur 3 tahun hanya bersama kakaknya yang masih kecil juga! Tolonglah Bu, mohon pengertiannya. Saya akan bertanggung jawab semua biaya pengobatan untuk pasien, tapi saya tidak mungkin ditahan disini. Besok pagi sebelum saya berangkat kerja, saya akan ke sini mengatar baju ganti untuk pasien"

"Memangnya suami ibu kemana? Ibu nggak punya suami ya?" tanya seorang perawat ketus. Ingin sekali saya menjawab "It is not your business!". Namun belum sempat saya menjawab, seorang perawat dengan sinis berkata "Kalau ibu nggak mau mengurus sendiri, sebaiknya pindahkan pasien ke ruang VVIP yang mahal, jangan cuma di kelas 3 yang murah-murah seperti ini dong!"

Sedetik kemudian perawat dari UGD itu mengedip-ngedipkan matanya memberi isyarat kepada saya. Saya menterjemahkan isyarat tersebut dengan "uang". Tanpa menunggu lagi, saya pun menarik beberapa lembar uang lima puluh ribuan dari dompet. Juru rawat UGD itupun menganggukkan kepala tanda setuju. Tanpa banyak bicara, saya pun meletakkan beberapa lembar uang itu di meja yang ada di depan ketiga perawat yang beramai-ramai "mengadili saya".

"Ibu, bukan kami tidak mau mengurus pasien Bu, tapi kalau tidak ada keluarga yang menunggu, siapa yang harus bertanggung jawab kalau pasien meninggal?" kata seorang perawat yang mulai lembut. "Ya, kalau memang Tuhan menghendaki pasien itu meninggal, kita mau apa lagi?" jawab saya pelan. "Benar nich, kalau ada apa-apa sehingga pasien meninggal, Ibu tidak menyalahkan atau menuntut kami?" tanya perawat yang lain tak kalah lembutnya. "Kalau Tuhan yang memanggil, kenapa saya harus protes?!" jawab saya pelan "Malam ini saya mohon bantuan Suster di sini, karena saya harus pulang. Besok pagi saya akan ke sini membawakan baju-baju yang bersih untuk pasien. Kalau malam ini ada apa-apa atau butuh sesuatu, Suster bisa menelpon saya kapan saja" saya menjamin. "Jadi, kalau nanti kami telpon malam-malam, ibu tetap besedia datang ke mari khan?!" tanya perawat lainnya dengan sopan. "Saya janji Suster! Paling tidak, kalau saya sudah sampai di rumah, saya bisa menitipkan anak-anak dulu ke tetangga" jawab saya pelan.

Sebelum saya meninggalkan RS, suster di kamar perawatan meminta saya untuk menebus obat yang harganya hampir satu juta rupiah. Saya pun kembali mengeluarkan uang lebih dari yang seharusnya dan menyerahkan kepada perawat yang mau membantu saya membelikan obat untuk Uwa di apotik. Saya melakukan hal itu karena bagi saya waktu sangat penting untuk segera tahu keadaan anak-anak.

Akhirnya jam 22.30 saya bisa meninggalkan rumah sakit. Saya pun bersama tukang ojek segera naik angkot menuju klinik 24 jam dimana motor milik tukang ojek itu dititipkan. Dari klinik 24 jam itu saya diantar ke rumah oleh tukang ojek.

Betapa kagetnya saya ketika saya mendapati pintu pagar dan pintu rumah terbuka lebar. Saya minta tolong tukang ojek untuk menemani saya sampai di teras. Jantung saya berdebar-debar ketika tak satupun anak saya yang menyahut panggilan saya. Saya hampir berteriak ketika mendapati Mika yang tertidur di karpet tak jauh dari muntahannya. Dika sendiri tertidur di lantai. Ketika saya yakin tidak terjadi sesuatu pada anak-anak saya, saya pun memberikan uang kepada tukang ojek sebagai ganti penghasilannya malam itu. Sambil memanasi air untuk mandi, saya mengelap muka dan kaki anak-anak dan memindahkan mereka ke kamar masing-masing. Melihat wajah anak-anak yang tidak berdaya, saya merasa sangat bersalah karena telah menelantarkan mereka. Saya pikir kalau sampai terjadi sesuatu pada mereka, saya tidak bisa mengampuni saya sendiri. Malam itu saya menangis, menyesali diri karena tidak bisa menjaga mereka dengan baik. Terlebih lagi ketika melihat sisa mie instant yang Dika rebus tidak sempurna dengan rantang, hati saya sangat miris membayangkan betapa mereka sangat kelaparan menunggu saya yang tidak segera pulang malam itu.

Ketika air sudah panas, saya pun membuka baju untuk mandi. Saya kaget sekali ternyata baju yang saya kenakan malam itu adalah baju putih terbaru yang saya beli dengan harga cukup mahal. Saya pun harus merelakan baju kesayangan yang baru dua kali saya pakai itu tidak seputih dulu lagi. Saya yang biasanya merawat dan mencuci baju kesayangan dengan tangan saya sendiri, mau tidak mau harus merelakan baju tersebut di cuci oleh pembantu/tukang cuci karena saya tidak tahan dengan bau anyir yang menyengat.

Sampai tengah malam saya tidak bisa tidur. Di satu sisi saya masih terus merasa bersalah karena telah menelantarkan anak-anak. Di sisi lain saya juga menyesal karena saya merasa tidak bisa memperlakukan Uwa dengan kasih. Saya sangat menyesal karena selama menyangga tubuh Uwa di angkot, hati saya tidak merelakan 100% Uwa bersandar di dada saya. Selama di angkot saya masih merasa jijik dan bersikap seperti robot yang harus menjalankan tugas kemanusiaan. Apa yang saya lakukan terhadap Uwa sesungguhnya bukan kasih yang keluar dari hati yang paling dalam. Saya hanya memperlalukan Uwa masih sebatas memperlakukannya sebagai pembantu, bukan selayaknya saya melayani Tuhan.

Saya menangis karena kuatir kalau-kalau Uwa meninggal dan saya belum sempat menebus kesalahan dengan memperlakukannya seperti yang Tuhan Yesus kehendaki. Di tengah-tengah kegalauan hati saya, tiba-tiba telepon berdering. Badan saya lemas sekali. Sebelum sampai di meja telepon, saya terjatuh. Tangis saya kontan meledak "Tuhan Yesus, tolong saya ! Jangan panggil Uwa sekarang karena saya belum memperlakukannya seperti yang Engkau kehendaki !" teriak saya yang yakin bahwa telepon itu dari RS.

"Hallo" kata saya sambil menangis. "Jangan nangis, besok pagi bapak berangkat ke Bogor. Tolong kamu cari orang yang bisa dibayar untuk mengurus Uwa karena tidak ada satu pun anaknya yang mau mengurus Uwa" kata bapak saya. "Iya, ya, ya ! Bapak cepat ke sini ya, anak-anak terlantar nich" kata saya gugup karena saking takutnya

Semalaman saya tidak bisa tidur karena bingung membagi waktu untuk esok paginya. Saya juga bingung karena esoknya saya harus menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri. Saya juga bingung bagaimana harus menjaga Mika sampai pembantu yang satunya datang jam 12.00, sedangkan Uwa memerlukan baju bersih dan selimut secepatnya. Malam itu saya benar-benar kalut dan menangis di depan komputer sambil curhat dan minta dukungan doa dari beberapa teman milis. Sebelum mematikan komputer, saya pun berdoa "Tuhan Yesus, ampuni kesalahan saya hari ini. Saya tidak tahu berapa lama lagi Engkau uji saya, tapi saya percaya Engkau sendiri yang akan memampukan saya melewati ujian-unjian itu"

Kurang lebih jam 03.30 anak-anak saya bangunkan. Setelah mandi dengan air panas yang saya siapkan, Dika menyiapkan sendiri sarapan pagi dan bekal makanan yang akan di bawa ke sekolah. Saya sendiri menyiapkan saparan untuk Mika dan bekal makan siang saya untuk di kantor nanti. Setelah selesai memandikan Mika saya segera bergegas pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan Uwa, sembari pergi ke kantor. Sebelum melangkah ke luar rumah, saya menelpon seorang tetangga yang akan menolong saya untuk menjaga Mika selama saya tinggal bekerja.

Pagi itu saya harus meninggalkan Mika dengan sarapannya. Walaupun saya tahu kalau Mika makan tanpa pengawasan selalu menggunakan tangan kirinya hingga makanan tumpah ke mana-mana mirip makanan ayam, tetapi tidak ada pilihan lain, karena saya tidak mungkin mengambil cuti dadakan. Hanya Dika yang masih bisa menemani Mika sambil menunggu mobil jemputan sekolahnya datang pada pukul 06.00 nanti. Sebenarnya saya dan para tetangga sudah berusaha merayu Mika untuk tinggal di rumah tetangga selama Dika sekolah, tetapi Mika selalu menjawab "Mika nggak mau..Mika sudah punya rumah sendiri". Itulah sebabnya beberapa tetangga bersepakat untuk menemani Mika di rumah secara bergiliran.

Jam 04.30 saya cepat-cepat pergi ke rumah sakit, supaya jam 05.30 saya bisa sampai di tempat pemberhentian bis jemputan langganan saya. Sayang sekali begitu sampai di rumah sakit banyak sekali tugas kemanusiaan yang harus saya lakukan. Selain mengganti baju Uwa yang kotor penuh darah yang sudah mengering, saya juga harus mengelap badan Uwa dengan air hangat yang disediakan oleh RS. Jijik sekali rasanya. Selain saya tak pernah membayangkan akan memandikan seorang pembantu, saya juga tidak siap menggunakan peralatan rumah sakit yang biasa dipakai beramai-ramai itu.

Hati saya sungguh tidak siap melihat sikap Uwa yang semakin sulit dimengerti. Rasanya sudah sewajarnya kalau Uwa berterima kasih setelah saya menelantarkan anak-anak demi mengurus Uwa. Saya sungguh tidak menyangka ketika Uwa marah-marah di depan belasan pasien yang lain ketika saya kurang tepat meletakkan pispot sehingga kencing Uwa sedikit tercecer. Walaupun perut saya sangat mual saat membuang kencing Uwa ke kamar mandi, namun Uwa masih saja menuntut lebih.

Karena Uwa sudah bisa saya dudukkan, saya mencoba melepas stagen dan kain panjang yang dikenakannya. Ketika saya salah melilitkan kain panjang ke tubuh Uwa, dengan arah terbaik dari yang seharusnya, Uwa kembali memarahi saya. Bahkan ketika saya jongkok membetulkan kain di bagian kaki Uwa, Uwa menggerakkan kakinya dengan kasar hampir mengenai muka saya. Hampir saja kesabaran saya habis. Ujung bibir saya hampir tak mampu menahan kalimat yang rasanya pantas untuk saya lontarkan "Emang lu siapa?"

Ingin rasanya saya mengembalikan Uwa pada posisi yang seharusnya, yaitu sebagai pembantu. Namun, lagi-lagi saya teringat bahwa ini adalah ujian dari Tuhan. Segala sesuatu Tuhan ijinkan terjadi pada diri saya, demi kebaikan saya sendiri. Hampir saja mengingatkan bahwa Uwa adalah pembantu dan saya adalah majikan yang harus dihormatinya sehingga tidak ada kewajiban bagi saya untuk mengabdi kepadanya. Namun ketika kesombongan itu muncul, tiba-tiba saya merinding membayangkan jika saya tidak sepenuh hati melayani Uwa, jangan-jangan wajah Uwa tiba-tiba berubah menjadi wajah Tuhan Yesus.

Karena terlalu banyak permintaan Uwa, pagi itu saya tidak bisa cepat-cepat meninggalkan RS. Saya pun harus pergi ke kantor dengan kendaraan umum karena sudah ketinggalan bis jemputan. Sudah bisa diduga, kartu absent saya hari itu merah. Tidak main-main, karena 1 menit keterlambatan berarti bonus akhir tahun dipotong sepersekian pesennya.

Selama di kantor, saya tidak tahu lagi apakah saya ini tidur sambil duduk atau duduk sambil tidur. Terpaksa saya harus doping dengan multivitamin dan kopi susu supaya mata bisa diajak melek. Saya sengaja menyelesaikan bahan presentasi yang akan dibawa boss ke luar negeri, supaya waktu selebihnya bisa saya gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kesekretarisan yang agak ringan.

Rasanya makan siang hari itu tidak lagi bisa saya nikmati. Targetnya hanya memasukkan makanan ke dalam perut. Saking ngantuknya, waktu istirahat makan siang yang hanya 30 menit itu saya gunakan 10 menit untuk makan siang dan selebihnya saya pakai untuk tidur di sofa.

Sepulang kerja, sebenarnya saya ingin mampir ke RS seperti yang Uwa minta. Tapi perasaan saya tidak enak karena ingin segera melihat keadaan anak-anak di rumah. Begitu sampai di rumah, saya baru sadar bahwa paginya saya terlalu buru-buru pergi hingga lupa menyiapkan makanan siang untuk anak-anak. Untung saja tetangga yang menemani Mika berinisiatif memasakkan nasi dan menggoreng telor untuk anak-anak.

Malam itu saya tidak punya energi lagi untuk menyiapkan makan malam. Seperti biasanya kalau lagi malas masak, saya meminta Dika membeli japcay di depot mie bangka. Ketika saya menunggui anak-anak makan, saya tertidur di meja makan saking lelahnya. Rencana menjenguk Uwa ke RS malam itu pun batal. Resikonya, saat saya menjenguk ke RS nanti Uwa pasti tak henti-hentikan "menyanyikan" lagu wajib yang semuanya berisi kekecewaan dan kemarahan. Tapi apa hendak dikata, untuk mengontrol anak-anak cuci kaki dan gosok gigi saja, malam itu saya sudah tak sanggup.

Esok paginya, seperti biasa saya membuatkan sarapan untuk anak-anak. Untuk makan siang, saya hanya menyiapkan nasi putih karena saya yakin bapak datang dari kampung membawakan lauk buatan ibu seperti biasanya. Namun karena bapak pergi terburu-buru, dugaan saya kali itu meleset. Bapak yang tidak pernah menuntut dilayani itupun mengajak Dika memasak dari bahan-bahan mentah yang ada di kulkas.

Sore itu saya berencana pergi ke RS setelah mengurus anak-anak dan menyambut kedatangan bapak. Begitu selesai memandikan Mika, saya dan anak-anak menemani bapak minum teh di ruang tamu. Anak-anak saya biarkan "gelendotan" di badan mbah kakungnya, sementara saya merebahkan badan di sofa sambil mendengar kabar keluarga dan suasana di kampung dari bapak. Entah sampai mana saya mendengar cerita bapak, tapi tertidur pulas saat mendengar kisah seru yang bapak ceritakan, memang sudah biasa terjadi sejak saya kecil dulu. Bapak yang tahu kebiasaan buruk saya, memang sudah maklum. Terlebih lagi sore itu saya benar-benar lelah.

Kira-kira jam 20.30 saya dibangunkan Dika karena ada telepon dari RS. Masih setengah tertidur saya menggapai gagang telepon. Saya benar-benar kaget ketika perawat yang menelpon itu meminta saya untuk datang ke RS malam itu juga. "Ada apa suster? Memangnya pasien dalam keadaan gawat?" tanya saya panik. "Bukan Bu! Malam ini pasien memerlukan obat suntik yang harus ibu beli sendiri di apotik" jawab si penelpon. "Apakah tidak bisa dibelikan dulu oleh rumah sakit, terus nanti dimasukkan ke dalam tagihan" saya menawar. "Maaf Bu, untuk pasien kelas 3 tidak ada pelayanan semacam itu. Kalau keluarga Ibu dirawat di VVIP, kami bisa membantu. Untuk pasien kelas 3, keluarga pasien harus membeli obat sendiri" jawab si penelpon kurang bersahabat. "Bagaimana kalau misalnya saya datang besok pagi?" saya masih menawar. "Maaf Bu, ini emergency. Dokter minta obat tersebut harus segera disuntikkan karena kondisi pasien sangat lemah dan HBnya tinggal 6 saja" kata si penelpon dengan nada memerintah. "Kalau begitu, bisa nggak obat tersebut cepat dibelikan dulu dan malam ini juga saya akan datang membayar semua harga obat" saya memohon kebijaksanaan. "Maaf Bu, obatnya sangat mahal dan ibu harus membeli sendiri di apotik. Kami tidak bisa membantu" jawabnya singkat.

Begitu menutup telepon, badan saya rasanya makin loyo saja. Walaupun perjalanan ke RS cuma kira-kira 30 menit, rasanya saya menghadapi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Sambil terdiam menahan segala rasa yang berkecamuk, saya mengambil jaket water proof di lemari gantung. Saya memang biasa mengenakan jaket tersebut sebagai pengganti payung supaya saya bisa bergerak lebih cepat dan lincah walaupun dalam keadaan hujan.

Ketika saya melewati teras di mana anak-anak dan mbah kakungnya sedang makan mie tek-tek, hati saya rasanya kelu sekali. Rasanya saya sudah terlalu banyak mengabaikan mereka hanya untuk mengurus Uwa di RS. Wajah saya yang lelah menahan tangis terbaca oleh bapak. "Lakukan segala sesuatu dengan suka cita. Kalau memang masih lelah, duduk-duduk sebentar sambil makan mie panas biar agak rileks" bapak berusaha menghibur. Saya hanya menggeleng.

Saya sudah berusaha menutupi kesesakan hati saya, tetapi akhirnya toh tidak berhasil menahan air mata. "Nggak usah nangis! Semua ini ujian dari Tuhan dan kamu harus setia menerima dan menjalaninya" bapak menasehati. "Apakah ujian-ujian yang selama ini belum cukup?" tanya saya lirih sambil menangis. "Belum! Masih banyak yang harus kamu pelajari dalam hidup ini" jawab bapak. "Dari semua anak bapak, tidak ada yang diuji Tuhan seberat saya. Saya ingat sekali, dulu waktu saya TK, saya tidak bisa bermain sebebas kakak-kakak yang lain. Waktu itu justru saya yang paling bontot yang harus melayani ibu buang air di pispot selama ibu sakit" kata saya sambil terisak, mengingat masa lalu di mana saya harus drop out dari TK.

"Dulu semua kakakmu kan sudah bersekolah, jadi cuma kamu yang masih TK yang bisa membolos" bapak meminta pengertian. "Tapi, waktu lulus SMA dulu saya juga dikorbankan tidak bisa ikut bimbingan tes dan seleksi UNPTN karena harus merawat Pak Dhe. Kakak-kakak yang lebih disayang Pak Dhe saat sehat, justru bisa cuek" saya mencoba mengingat betapa berat ujian yang saya alami. "Itulah ujian dari Tuhan, supaya kamu bisa belajar melayani orang yang sehari-harinya tidak menyayangimu" bapak terus berusaha menghibur. "Sekarang ini saya benar-benar ibarat sudah jatuh tertimpa tangga juga. Badan saya rasanya sudah remuk, anak-anak tidak terurus, masih juga harus mengurus Uwa yang nggak tahu diri. Kakak yang dulu selalu disayang Uwa, tidak ada perhatian sama sekali. Semua masalah sekarang ditimpakan pada saya " saya memuntahkan kelelahan batin saya. "Kamu nggak boleh bicara seperti itu, pandanglah semua itu sebagai ujian dari Tuhan untuk mengajar kamu supaya menjadi pribadi pengampun yang tegar dan tangguh. Karena kamu sudah melewati ujian-ujian yang belum pernah kakak-kakakmu alami, bapak justru merasa tenang dan lebih siap meninggalkan kamu kalau bapak dipanggil Tuhan nantinya. Kalau bapak meninggal, rasanya bapak tidak ragu lagi meninggalkan kamu yang lebih tangguh dari kakak-kakakmu. Nah, kamu seharusnya mensyukuri ujian-ujian berat itu sebagai berkat Tuhan" bapak berusaha membesarkan hati saya.

Setelah sedikit lega, saya menitipkan anak-anak pada bapak. Tak menunggu waktu lagi, saya bergegas ke rumah sakit. Malam itu saya menembus gelapnya malam yang diselimuti gerimis dank abut tipis.

Sesampainya di RS saya langsung menuju ke ruang perawat untuk mengambil resep yang ditinggalkan dokter. Tak menunggu lama, begitu kertas resep itu di tangan, saya melangkah secepat kilat menuju apotik yang berjarak kurang lebih 100 meter dari kamar perawatan. Saya duduk di kursi tunggu sambil melepas kepenatan yang hampir tak berujung. Saya kaget setengah mati ketika petugas apotik menyebutkan sejumlah rupiah yang harus saya bayar. Jantung saya hampir copot karena malam itu saya harus kembali menguras habis seluruh isi dompet saya.

Sebenarnya begitu obat sudah ditebus, saya ingin sekali segera meninggalkan lingkungan yang memuakkan itu. Saya benar-benar malas menengok Uwa. Tapi apa daya, saya tidak punya ongkos untuk pulang ke rumah. Tidak ada pilihan lain selain menjenguk Uwa di kamar perawatan sekaligus meminjam uang untuk ongkos pulang. Saya tahu persis Uwa pasti punya simpanan uang di stagennya.

Sudah bisa diduga, saya kembali kena damprat Uwa, gara-gara datang terlalu malam. Omelan Uwa kali ini cukup keras hingga didengar oleh semua pasien di barak itu. Dengan gaya memerintah, Uwa menyuruh saya mengambil pispot dan melayaninya untuk buang air kecil. Dengan gaya "setengah budek" saya melayani Uwa tanpa berucap sedikitpun. "Kalau saja ada kenalan di sekitar rumah sakit, malam ini saya nggak perlu meminjam uang Uwa dan kena semprot gaya majikan tuwa itu" pikir saya dalam hati.

Saya tidak tahu apa yang diceritakan Uwa kepada sesama pasien dan orang-orang yang menunggu di bangsal itu. Namun, kepergian saya malam itu diiringi dengan tatapan sinis dan komentar tak mengenakkan. Seorang ibu jutek dengan logat Sundanya yang kental menyindir saya sebagai anak durhaka yang tidak memperlakukan orang tuanya dengan baik. Walaupun sedikit gondok, saya masih berusaha melangkah dengan kepala tegak. "Ya, justru karena saya bukan anak durhaka, malam ini saya harus pulang untuk mengurus orang tua saya sendiri, yang sejak kedatangannya jauh-jauh dari kampung tidak saya sambut sebagaimana mestinya" kata saya dalam hati.

Hari-hari berikutnya, saya hampir seperti robot yang harus bangun jam 03.30 untuk menyiapkan sarapan anak-anak dan air panas untuk mandi. Sebelum berangkat ke kantor, saya harus ke RS untuk melayani Uwa buang air kecil dengan pispot, memandikan dengan waslap dan mengganti pakaiannya. Walaupun saya sudah berusaha melakukan melebihi dari yang seharusnya, tetapi Uwa selalu membalasnya dengan kemarahan dan ketidakpuasannya. Belasan pasang mata juga ikut mengadili saya sebagai anak yang tidak tahu diri. Cemoohan dan sindiran dari orang-orang yang sok tahu, rasanya sudah terlalu biasa di telinga saya.

Begitu juga sore harinya sekembalinya dari kantor, saya langsung ke RS, sementara bapak yang berumur 70 tahun lebih, yang seharusnya saya urus justru sibuk mengurus anak-anak saya. Hati saya sebenarnya berontak. Ya, saya berontak untuk banyak hal. Paling tidak saya berontak karena tidak bisa memperlakukan bapak dengan selayaknya. Saya juga berontak karena semua pengorbanan saya hanya dibalas dengan kekecewaan dan kemarahan Uwa di depan umum.

Rasanya, saya tidakkuat lagi menghadapi sikap Uwa yang arogan itu. Sekali pernah terlintas dalam pikiran saya untuk membiarkan Uwa terlantar di RS, toh dia bukan "siapa-siapa" saya. Namun, setiap benih kebencian itu muncul di hati saya, bayang-bayang wajah Tuhan Yesus selalu muncul di wajah Uwa. Akhirnya, apapun yang terjadi, bagaimanapun perlakukan Uwa dan sikap orang-orang di bangsal itu, saya coba abaikan. Saya selalu men-setting otak saya dengan berikir "Sebodo teuing orang mau bikin apa, yang penting gua melakukan yang Tuhan kehendaki. Biar saja orang jungkir balik, tapi saya mau tetap setia pada Matius 25 : 40"

Memang perlu persiapan khusus setiap pagi dan sore saat hendak menjenguk Uwa di RS. Paling tidak saya harus menyiapkan hati, "menelan pil budek" dan menyiapkan muka hingga setebal tembok. Kadang-kadang saya melucu dalam hati untuk menghibur diri sendiri. Ketika seorang penunggu pasien di sebelah Uwa melepas kepergian saya dengan sindiran sinis "Uh, cantik-cantik kok nggak punya perasaan! Kok tega-teganya menelantarkan orang tuanya sendirian" Saya pun berkelakar dalam hati "Masih mending saya cantik biarpun nggak punya perasaan. Dari pada kamu, udah nggak cantik, nggak punya perasaan pula! Karena saya nggak tega menelantarkan orang tua saya sendiri, makanya saya nggak mungkin menunggui emaknya orang lain di rumah sakit"

Entah malam yang keberapa ketika seorang perawat menyodorkan selembar resep lagi yang harus saya tebus di apotik. Lagi-lagi saya bingung harus mengambil uang dari pos mana. Tabungan kesehatan anak-anak sudah ludes untuk membayar obat-obatan yang sebelumnya. Mau tidak mau saya meminjam dulu seperempat tabungan pendidikan yang saya siapkan untuk biaya Dika masuk SMP. Saya berharap kakak-kakak saya bisa membantu biaya pengobatan Uwa sehingga tabungan pendidikan Dika tidak terganggu.

Setelah mengambil sebagian dari persediaan biaya kelanjutan sekolah Dika, saya minta pendapat bapak. Bapak pun menyarankan saya menghubungi keempat kakak saya yang pernah diasuh oleh Uwa. Malam itu saya mengirim SMS kepada semua kakak saya untuk mengajak mereka memikirkan biaya pengobatan Uwa. Sayang sekali, hanya kakak keempat yang membalas SMS dan mengatakan bahwa kondisi keungannya tidak memungkinkan. Saya pun maklum karena keadaan ekonomi kakak keempat memang tidak lebih baik dari saya.

Ketika ketiga kakak yang cukup berlebih dalam hal ekonomi tidak membalas SMS, saya pun mencoba cara yang lebih sopan dengan menelponnya. Sayang sekali, puluhan ribu pulsa terbuang percuma karena kakak pertama merasa uangnya belum cukup untuk menambah satu mobil lagi untuk memenuhi garasinya. Saya dan bapak hanya geleng-geleng kepala melihat kakak pertama yang masih saja membeli mobil baru, padahal mobil yang telah ada melebihi jumlah anggota keluarganya.

Saya mencoba meminta belas kasihan kakak kedua yang sejak kecil selalu dimanja dan dinomorsatukan oleh Uwa. Kakak kedua yang baru mendapat fee puluhan juta dari kliennya ternyata juga masih merasa kekurangan uang karena harus membayar sejumlah kapling untuk melengkapi 3 rumah yang telah dikoleksinya.

Dengan menangis saya mencoba mengemis belas kasihan kakak ketiga yang suaminya punya jabatan di polantas yang hampir bisa dikatakan tinggal membalikkan tangan untuk mendapat uang dalam jumlah yang cukup. Kakak ketiga yang punya hobby mengkoleksi perhiasan itupun tidak peduli dengan Uwa. Dengan gaya pengemis yang memelas saya mencoba meyakinkan kakak bahwa bantuannya sangat berarti untuk saya dan anak-anak, bukan untuk Uwa. Walaupun urat malu saya telah putus, demi mendapatkan bantuan kakak ketiga, namun kakak hanya menawarkan pinjaman dalam bentuk emas. Saya yang tidak tahu fluktuasi harga emas, tentunya sangat takut kalau-kalau nanti saat saya harus mengembalikan pinjaman, harga emas tiba-tiba melonjak naik.

Tak kurang akal, saya mencoba menelpon kembali kakak kedua yang sedang sibuk mencari kapling. Paling tidak saya ingin meminjam uangnya sebelum kakak menemukan kapling yang cocok. Sayang sekali malam itu kakak mengaku tidak punya otioritas sama sekali atas uang miliknya. Kakak menawarkan saya menempuh prosedur yang panjang dan berbelit-belit untuk meminjam uang lewat istrinya yang tak segan-segan berbicara pedas kepada iparnya.

Kakak kedua yang sering tinggal di rumah saya itupun memberi alternatif kepada saya untuk mengambil semua tabungan pendidikan Dika. Dengan perasaan yang sudah tak karu-karuan, saya hanya menjawab lirih. "Kalau semua tabungan Dika diambil, dengan uang apa lagi Dika masuk SMP? Ironis sekali kalau Dika sampai tidak bisa melanjutkan ke SMP hanya gara-gara saya menolong orang yang seharusnya kita tanggung bersama" Tanpa memperhitungkan perasaan saya sebagai ibu, kakak saya pun menawarkan jalan keluar yang membuat hati saya tercabik-cabik "Kalau tidak bisa membayar uang pangkal ke SMP, Dika bisa dititipkan di rumah bapak, biar disekolahkan di kampung" Mendengar saran kakak, tangis saya kontan meledak. "Masa sih, gara-gara menolong orang, anak-anak saya harus berpencar-pencar?!" tangis saya setengah memprotes.

Dika yang tidak tahu menahu pembicaraan saya dengan kakak, tiba-tiba mendatangi saya sambil bertanya "Bu, kenapa Dika dan adik-adik harus berpencar? Memangnya kalau ibu meminjam uang ke saudara, Dika dan adik-adik harus ditahan untuk jaminan?" Mendengar kata-kata Dika hati saya semakin teriris. "Tuhan, ujian apa lagi yang akan Engkau berikan? Apakah saya belum cukup merelakan apa yang saya miliki untuk menolong orang lain? Apakah kerelaan saya ini akan berbuah penderitaan untuk anak-anak saya? Apakah saya harus merelakan seluruh tabungan Dika, sementara saya tidak punya kepastian dari mana biaya masuk SMP untuk Dika? Tuhan, selama ini saya sudah mengekang nafsu saya hanya supaya bisa menabung untuk anak-anak. Haruskah kedisplinan saya untuk menabung justru hanya membuahkan hasil yang berantakan yang serba tidak teratur ini?"

Bapak yang tahu apa yang sedang saya tangisi, berusaha menguatkan hati saya "Ini adalah pelajaran dari Tuhan untuk menguji seberapa besar kerelaan kamu untuk berkorban" "Ini nggak adil, dari dulu saya selalu berkorban menolong orang lain. Apakah pengorbanan saya belum cukup? Apakah saya harus mengorbankan masa depan Dika hanya untuk menolong seorang pembantu?" saya memprotes sambil terisak. "Ini memang ujian yang berat. Tapi kalau kamu berhasil melewatinya, Tuhan sendiri yang akan menyiapkan masa depan kamu dan anak-anakmu" dengan gaya seorang majelis, bapak menasehati.

Walaupun otak saya blank malam itu, saya bertekad untuk menanggung semua biaya Uwa, tanpa harus mengemis belas kasihan kepada orang lain. Untuk biaya pendidikan Dika, saya pun bertekad untuk tidak meminta belas kasihan atau meminjam kepada sanak saudara. "Saya harus bisa sendiri dan hanya boleh mengandalkan Tuhan" begitu janji saya dalam hati.

Saya mencoba bersikap "legowo" menerima segala sesuatunya dengan suka cita dan rasa syukur supaya beban terasa lebih ringan. Namun tidak semudah membalikkan tangan. Ujian yang lebih berat masih Tuhan berikan kepada saya. Ketika Uwa sudah diperbolehkan pulang, saya hampir pinsan melihat tagihan yang jumlahnya mencapai 8 digit. Malam itu, saya tidak hanya menguras habis tabungan pendidikan Dika di Lippo, tetapi juga harus menguras uang gaji di BNI. Bukan hanya fisik saya yang harus mondar-mandir ke dua lokasi ATM, hati saya pun kacau balau tak menentu. Selain memikirkan biaya masuk SMP yang tinggal satu-dua bulan lagi, saya juga pusing memikirkan bagimana saya akan menyambung hidup sampai gajian bulan berikutnya tiba.

Namun entah mengapa, walaupun sisa uang di dompet kurang dari seratus ribu, saya bangga sekali bisa membayar lunas tagihan RS tanpa bantuan dari anak-anak kandung Uwa maupun keempat kakak kandung saya.

Dengan perasaan gagah bak pahlawan menang perang, saya menghampiri Uwa yang sudah bersiap-siap pulang. Semula saya pikir Uwa akan bangga dengan pengorbanan saya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Uwa kecewa karena kakak saya tidak bisa menjemput dengan mobilnya sehingga Uwa terpaksa saya ajak pulang dengan naik angkot. Sebelum meninggalkan bangsal, Uwa sempat marah-marah karena saya tidak membelikannya sandal. Saya sendiri tidak tahu kemana raibnya sandal yang dipakai Uwa dari rumah. Hilangnya sandal di bangsal itupun Uwa timpakan sebagai kesalahan saya.

Untuk menghindari tatapan mata para penunggu pasien yang tidak ramah, saya pun merelakan sandal saya untuk Uwa. Mau tidak mau, malam itu saya harus menahan jijik menapaki lorong RS yang tidak begitu bersih itu. Tidak tanggung-tanggung, ternyata halaman RS yang harus kami lalui sangat becek sehingga kaki saya mirip kaki petani dari sawah. Orang Sunda yang melihat saya pasti sependapat bahwa keadaan itu benar-benar bikin "geuleuh".

Karena di sekitar RS saya tidak menemukan penjual sandal, saya pun tetap "nyeker" menyeberang jalan untuk mencari angkot yang bisa kami carter sampai di rumah. Tak pelak lagi, setiap sopir angkot selalu memandangi kaki saya yang "udik"; tak beralas sedikitpun lengkap dengan celana panjang yang saya lipat mirip orang kebanjiran.

Sesampainya di rumah, saya tidak bisa langsung istirahat. Saya harus memanaskan air untuk merendam kaki yang mulai gatal-gatal. Perut saya pun kembung karena cukup lama telanjang kaki. Karena banyak tuntutan yang mengharuskan saya gergerak cepat bekas jahitan di lutut saya pun terasa nyeri kembali. Selama ini rasa nyeri tersebut saya hiraukan karena tak sebanding dengan beban yang harus saya selesaikan. Badan saya meriang dan perut saya pun mual. Rasanya kekuatan saya hanya tinggal beberapa persen saja dan mungkin tinggal sejengkal lagi jarak saya dengan sakit.

Ketika bapak menanyakan berapa total uang yang saya keluarkan untuk Uwa, saya hanya menjawab sambil berlinang air mata "Semua gaji, tabungan kesehatan anak-anak dan tabungan pendidikan Dika ludes. Mungkin malam ini, saya adalah orang yang paling miskin di dunia. Cuma ini yang saya punya" kata saya sambil menunjukkan 3 lembar uang dua puluh ribuan "Saya nggak tahu bagaimana saya harus menghidupi anak-anak selama 25 hari lagi, sampai gajian tiba" sambung saya masih dengan berlinang air mata.

Bapak pun menjawab santai "Anak-anakmu itu milik Tuhan, percayalah Tuhan sendiri yang akan memeliharanya. Tuhan itu tidak tidur, tidak kurang bijaksananya dan tidak akan membiarkan anak-anakNya kelaparan" Saya pun merasa tenang karena saya yakin bapak tidak NATO (no action, talk only). Bapak tidak hanya pintar menasehati tetapi juga aktif bertindak. Saya tahu persis, bapak tidak hanya siap dengan nasehat dan doa-doanya, tetapi juga dengan pengorbanan tenaga dan materi yang dimilikinya. "Kira-kira berapa yang kamu butuhkan untuk menyambung hidup sampai kamu gajian? Segini cukup?" tanya bapak sambil menyodorkan segepok uang sisa pensiunnya. "Untuk makan saja sih cukup. Hanya saja, semua uang gaji sudah terpakai untuk membayar rumah sakit, padahal tagihan rumah, telepon, listrik dan SPP Dika belum terbayar" jawab saya ringan, tanpa beban sedikitpun. "Kalau begitu, besok bapak cepat-cepat pulang kampung supaya bisa menjual kopi dan cengkeh yang ada di gudang untuk kamu" bapak menjamin "Nanti untuk biaya masuk SMP Dika, bapak bisa gadaikan SK pensiun ke bank" lanjut bapak. Mendengar kesanggupan bapak, saya kembali menangis. Saya benar-benar tidak tega merampas hak bapak untuk menikmati uang pensiunnya.

Menjelang tidur, saya mencoba-coba membuka email. Sungguh tak terduga, ada beberapa tawaran side job yang saya cukup besar honornya. Saya yang beberapa hari hampir tidak pernah tertawa, malam itu benar-benar girang. "Pak, ternyata berkat Tuhan mengalir pada waktunya. Bapak nggak usah buru-buru pulang kampung, karena saya dapat kerjaan tambahan di beberapa tempat sampai malam hari. Bapak nggak perlu repot-repot membantu keuangan saya. Yang saya perlukan saat ini cuma bantuan tenaga dan perhatian bapak menemani Dika belajar dan menjaga adik-adiknya selama saya tidak ada di rumah" jawab saya kegirangan.

Walaupun semua anak kandung Uwa dan keempat kakak saya yang pernah diasuh Uwa, lepas tangan atas biaya pengobatan Uwa yang mencapai 8 digit, saya masih tetap merelakan puluhan ribu pulsa saya untuk mengabari mereka satu persatu. Kala itu saya tidak lagi mengabarkan kesusahan dan mengemis belas kasihan mereka. Saya hanya ingin menyampaikan kabar suka cita bahwa Uwa sudah sehat dan saya pun telah keluar dari masalah keuangan.

Kakak kedua yang sejak kecil paling dimanja oleh Uwa, waktu itu justru menawarkan rencana yang tidak berpihak pada Uwa. Kakak yang tahu bahwa gaji Uwa masih saya simpan di rekening khusus, menyarankan saya untuk mengambilnya sebagian sebagai penggantian biaya RS. Kalau menilik hubungan saya dengan Uwa sebagai pembantu dan majikan, saran kakak memang masuk akal. Hanya saja saya tidak mau menodai kerelaan saya yang telah saya lakukan untuk Tuhan. Saya tidak mau memotong sesenpun gaji Uwa karena itu murni hak Uwa. Soal tanggung jawab pengobatan Uwa, itu murni urusan saya dengan Tuhan yang mengijinkan hal tersebut terjadi dalam kehidupan saya.

Ujian untuk "memurnikan kerelaan" juga saya lalui ketika para tetangga menjenguk Uwa baik di RS maupun di rumah. Walaupun perhatian, kunjungan dan bantuan finansial dari tetangga merupakan salah satu "tuaian" dari apa yang saya tabur selama ini, tetapi saya tidak mau mengurangi kebahagiaan Uwa. Sebenarnya Uwa juga ingin memberikan semua amplop berisi uang dari para tetangga. Namun dari lubuk hati yang paling dalam, sedikit pun tidak ada keinginan saya untuk mengambil sumbangan yang diberikan kepada Uwa.

Kakak yang sehari-harinya melihat polah tingkah Uwa yang begitu menyesakkan hati, menyarankan saya untuk segera mengirim Uwa pulang dengan mobil travel. Usul kakak memang sangat realistis karena ia tahu persis ketidaksiapan mental dan keuangan saya bila Uwa tiba-tiba sakit hingga meninggal nanti.

Walaupun sejujurnya Uwa sama sekali sudah tidak memberi manfaat untuk saya dan anak-anak, tetapi saya ingin tetap memperlakukannya sebagai manusia. Sangatlah tidak manusiawi jika saya membiarkan Uwa yang masih dalam masa pemulihan untuk menempuh perjalanan ke Jawa. Selain itu saya pun tidak yakin ada salah satu anak kandung Uwa atau kakak saya yang bersedia memberi tumpangan kepada Uwa.

Bapak yang selalu mengikuti "perjalanan iman" saya, tahu persis pergumulan saya. Beberapa kali bapak mengajak saya untuk "rapat rahasia" di belakang Uwa dan anak-anak saya. Kami berdua mencari cara terbaik untuk memberi tumpangan kepada Uwa hingga akhir hayatnya, tanpa harus menimbulkan gejolak pada kehidupan orang lain.

Saya dan bapak cukup lama untuk memikirkan nasib Uwa selanjutnya. Bapak tahu persis, sebenarnya hanya saya dan bapak yang masih memberi tempat untuk Uwa. Saya memang satu-satunya anak yang super cuek dan sangat memaklumi kekacauan perilaku dan arogansi Uwa. Namun karena beban hidup yang harus saya tanggung sendirian sudah cukup berat, bapak tidak tega menambah beban saya lagi. Rumah bapak sebenarnya paling cocok sebagai tempat Uwa menjalani sisa hidupnya. Hanya saja, ibu yang cenderung reaktif dan emosional, sangat tidak menyukai sikap dan perilaku Uwa yang tidak bisa menempatkan diri. Kalau kami memaksakan Uwa tinggal di rumah orang tua saya, kami justru kuatir kesehatan dan emosi ibu terganggu.

Atas permintaan bapak, saya mencoba menghubungi kembali keempat kakak saya untuk meminta sedikit saja hati mereka supaya mau memberikan tumpangan untuk Uwa. Walaupun bapak sudah siap dengan jawaban mereka, tapi saya tahu di mata bapak tersirat kekecewaan yang mendalam atas sikap kakak-kakak saya. "Bapak tahu, diantara kelima saudaramu, cuma kamu yang mengerti kasih Kristus. Walaupun hidup kamu secara materi jauh di bawah kakak-kakakmu, tapi cuma kamu yang merasa berkelimpahan dan bisa menolong orang lain" kata bapak dengan mata yang berkaca-kaca.

Setelah bedoa dan bergumul cukup lama, bapak pun menawarkan jalan keluar yang kami rasa paling baik. Bagaimanapun keadaannya, saya harus tetap merawat Uwa hingga pulih dan benar-benar siap untuk menempuh perjalanan ke Jawa. Otomatis saya harus menambah tenaga pembantu untuk merawat Uwa selama masih di rumah saya. Bapak telah memutuskan setelah pulih dan kembali ke Jawa, Uwa akan tinggal bersama para pekerja di rumah kakak pertama yang berjarak kurang lebih 5 km dari rumah orang tua saya. Untuk kebutuhan makan sehari-hari ibu berjanji akan memberikan bahan-bahan mentah yang bisa Uwa olah sendiri. Bapak pun mengingatkan saya untuk memberikan uang "pensiun" setiap bulan untuk Uwa. Walaupun saya tidak boleh besar kepala, tetapi saya tetap bangga karena saya adalah satu-satunya anak yang diminta oleh bapak untuk memberikan uang bulanan buat Uwa.

Setelah 3 minggu Uwa kami rawat di rumah fisiknya pun membaik kembali. Menurut dokter, Uwa cukup kuat untuk menempuh perajalan ke kampung. Uwa pun secara mental sudah siap. Uwa sendiri memang tahu bahwa saya selalu siap membantu siapapun tetapi belum punya kesiapan mental untuk mengurus hari-hari tua Uwa. Dengan berlinang air mata, Uwa memohon "Walaupun aku sudah menghabiskan uang banyak, dan tidak berguna untuk keluarga di sini, mama Dika masih mau kan memberi santunan sampai nanti aku mati? Aku cuma mengandalkan uang kiriman dari Bogor untuk hidup" pintanya memelas.

"Uwa, nggak usah mikir. Nanti semua gaji Uwa saya kasih utuh dan saya tambahi supaya bisa untuk biaya hidup Uwa sampai akhir tahun ini. Nanti libur natal saya tengok Uwa" kata saya sambil menyodorkan uang gaji dan tambahan lainnya. "Jadi semua biaya pengobatan saya ditanggung seluruhnya sama mama Dika?" tanya Uwa berkaca-kaca. Saya pun hanya mengangguk. "Semua kerelaan mama Dika pasti Tuhan perhitungkan. Tidak ada pengorbanan mama Dika yang Tuhan lupakan. Saya berdoa semoga apa yang mama Dika korbankan untuk saya, Tuhan kembalikan berlipat-lipat" sambung Uwa. "Amen!" jawab saya santai tapi mantap.

Walaupun biaya hidup saya untuk sebulan sudah Tuhan sediakan, tetapi saya masih memutar otak bagaimana mencari uang untuk persiapan Dika masuk SMP. Ketika saya cengar-cengir melihat semua kartu ATM yang tak lagi mengeluarkan uang jika digesek, "manajemen kecil" yang menangangi pemasaran buku saya memberikan laporan yang sangat menggembirakan. Buku "TANGAN YANG MENENUN" cetakan 1-2 yang belum sempat dilaunching secara resmi, ternyata laris manis bak kacang goreng. Hasil royalty yang saya dapat rasanya sudah lebih dari cukup untuk membiayai sekolah Dika di SMP.

Tidak berhenti di situ, Tuhan masih memberikan berkat dari royalty untuk cetakan 3-4 yang sama besarnya. Ternyata benar sekali, ketika saya memberikan seluruh apa yang saya miliki dengan penuh kerelaan, Tuhan menggantikannya dengan jumlah yang tak terkira. Namun demikian saya tetap berdoa supaya Tuhan menjaga hati saya sehingga tidak "maruk" dan tetap menjadi seperti yang Tuhan kehendaki. Saya tetap yakin bahwa apa yang Tuhan berikan, bukan untuk saya pribadi. Tuhan mempercayakan berkat itu kepada saya, supaya orang-orang di sekitar saya bisa merasakan kasih Tuhan. Dan akhirnya merekapun memuliakan nama Bapa di Surga.

Ketika saya telah mencapai tingkat "lilo legowo" (rela dengan sepenuh hati) memberikan semua yang saya miliki untuk orang lain, dan tidak mengukuhi berkat yang saya tuai untuk kepentingan diri sendiri, Tuhan pun mengirimkan anak-anakNya untuk menambal lubang-lubang kekurangan saya. Salah satu hamba Tuhan mengirim SMS yang sungguh menguatkan saya "Baca Kel 35 : 20-29 ! Memberi bukan karena kelebihan, bukan pula supaya Tuhan berbuat baik kepada kita. Berilah karean keinginan hati yang rela untuk berbagi"

Tuhan juga memberikan saya seorang teman sekaligus bapak rohani yang semula hanya saya kenal lewat dunia maya, untuk semakin menguatkan keyakinan saya tentang berkat Tuhan. Tidak hanya memberikan dukungan moral, bapak rohani yang bermukim di Holland selalu menawarkan bantuan materi untuk saya. Bahkan bapak rohani saya meyakinkan akan adanya jalan yang sedang dirintisnya supaya suatu saat Dika bisa melanjutkan sekolah di Eropa.

Tuhan memang sungguh luar biasa dan begitu kreatif untuk memelihara saya dan anak-anak. Dari perkiraan dan hitungan matematis manusia, Dika hampir kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke SMP. Namun ketika kepasrahan saya kepada Tuhan benar-benar total, Tuhan justru memberikan jaminan yang lebih. Tidak hanya jaminan untuk biaya pendidikan di SMP, kemungkinan Dika untuk mendapatkan pendidikan di Eropa pun sudah Tuhan buka.

Ketika "mimpi-mimpi" anak-anak saya harus tertunda karena semua yang ada saya relakan untuk diberikan kepada orang lain, Tuhanpun mengirimkan anak-anakNya untuk menggantikan apa yang tidak bisa saya berikan untuk anak-anak. Ketika mimpi Dika untuk memiliki jam tangan harus saya kalahkan, sebagai anak Dika memang sangat kecewa. Namun sebelum kekecewaan itu mematikan semangat Dika, seorang pendeta senior membawakan oleh-oleh jam tangan dari Singapura untuknya.

Dika sangat girang dengan apa yang ia dapatkan. Perasaan saya pun bercampur aduk antara mensyukuri berkat Tuhan dan terharu melihat ungkapan hati Dika yang disampaikan dalam emailnya kepada pendeta senior itu, sebagai berikut : "Pak terima kasih jamnya. Jamnya bagus sesuai keinginan Dika. Jamnya sudah Dika pakai ke sekolah. Teman-teman ikut kagum. Dika bangga punya jam yang bagus seperti teman-teman lain yang masih punya ayah. Dika mau pakai jam itu sampai selama-lamanya" Ternyata apa yang Dika dapat tidak sekedar jam, seperti yang dimintanya dari saya. Ada kebanggaan tersendiri dalam diri Dika karena jam itu didapatnya dari seorang "bapa".

Menggugat Penyembuhan Ilahi

Oleh:Marolop Simatupang

Tak dapat disangkal bahwa Alkitab-Perjanjian Baru mencatat tanda-tanda ajaib atau mujizat yang pernah dibuat oleh Yesus. Ia membangkitkan orang mati, menyembuhkan berbagai penyakit, meredakan angin ribut, dan tanda-tanda ajaib lain.Para rasul yang dipilih Yesus juga melakukan tanda-tanda ajaib, seperti rasul Petrus, Paulus, dan rasul yang lain. Mereka bisa melakukan itu karena mereka menerima kuasa langsung dari Roh Kudus.

Alkitab mengatakan semua tanda ajaib punya tujuan khusus. Yesus melakukan tanda ajaib untuk membuktikan bahwa Ia adalah Anak Allah (Yoh. 20:30-31). Para rasul mendapat kuasa melakukan tanda ajaib untuk meneguhkan firman Allah kepada para pendengar (Mark. 16:20), juga untuk membuktikan rasul yang sebenarnya (2 Kor. 12:12). Kemudian, tanda ajaib bertujuan untuk menggenapi nubuatan. (Yoel 2:28; Bandingkan dengan Kisah Rasul 2:16-17).

Masalahnya sekarang, banyak orang yang mengaku hamba Tuhan dan mengklaim bisa melakukan tanda ajaib seperti yang terdapat dalam Alkitab. Kadang mereka membuat pertemuan dengan "kedok" penyembuhan ilahi (healing movement). Mereka mengatakan bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti yang timpang, bisu, buta, dan sebagainya.

Kita perlu bertanya, benarkah mereka bisa melakukan tanda ajaib seperti yang tercatat dalam Perjanjian Baru? Hati-hati terhadap guru-guru palsu! Kalau kita bandingkan dengan Alkitab, firman Tuhan mengatakan karunia-karunia roh seperti bernubuat, melakukan tanda ajaib, bahasa lidah, dan sebagainya akan berakhir (1 Kor. 13:8). Kapan? Apabila yang sempurna itu telah tiba. Perhatikan, yang "sempurna" ditujukan kepada firman Allah "wahyu Allah " dan firman itu sudah sempurna. Tanpa tanda ajaib pun kita sudah percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Rasul Paulus bisa melakukan tanda ajaib. Tapi ketika temannya jatuh sakit, ia tidak melakukan tanda ajaib untuk menyembuhkannnya. Kenapa? Sebab tujuan utama tanda ajaib bukan untuk kesombongan, gagah-gagahan, atau cari massa, tapi ada tujuan khusus, bukan sembarang membuat tanda ajaib (2 Tim.4:20).

Orang yang berkata bisa melakukan tanda ajaib "seperti penyembuhan ilahi" perlu ditanya. Orang sakit membutuhkan obat dan perawatan dokter, bukan penyembuhan ilahi. Kalau mereka bisa melakukan penyembuhan ilahi, mengapa tidak pergi saja ke rumah sakit dan melakukan penyembuhan ilahi di sana? Kalau mereka benar punya "kuasa" melakukan tanda ajaib, menyembuhkan berbagai penyakit, rumah sakit akan tutup.

Ketika mereka melakukan penyembuhan ilahi tapi hasilnya nol, mereka akan menyalahkan "pasien" nya, karena kurang iman. Selain itu kadang praktek penyembuhan yang mereka klaim dengan kuasa dari Roh Kudus dan bisa menyembuhkan berbagai penyakit, termasuk membangkitkan orang mati tapi malah sering tidak membuahkan hasil sama sekali. Seringkali gagal total malah. Perhatikan, dalam Kisah Rasul 20:9-12, Euthikus jatuh dari tingkat ketiga ke bawah dan mati. Namun, rasul Paulus menghidupkannya kembali. Euthikus yang sudah mati punya iman? Tanda ajaib yang dicatat dalam Perjanjian Baru, yang dilakukan para rasul-Nya tidak pernah gagal.

Pembaca, harap perhatikan, firman Tuhan dengan jelas mengatakan bahwa tanda ajaib, penyembuhan ilahi, memiliki tujuan khusus. Dan semua karunia roh, karunia melakukan tanda ajaib sudah berakhir sebab kita telah memiliki yang sempurna, yaitu firman Tuhan. Tanda ajaib Alkitab dan penyembuhan ilahi masih berlaku sekarang ini?

Mengintip Bach, Beethoven, Mozart...

Dengan rasa kagum sejarah mengabadikan nama komponis-komponis agung seperti Bach, Handel, Haydn, Mozart, Beethoven, Schubert dan lain-lain. Mereka adalah jenius yang menghasilkan musik yang memberi rasa indah kepada hati umat untuk berabad-abad lamanya. Mungkin kita menduga bahwa sebagai jenius mereka dengan mudah menghasilkan karya-karya besar. Dugaan itu keliru. Karya mereka bukan lahir begitu saja, melainkan melalui banyak pergumulan belajar dan berdoa. Marilah kita mengintip pergumulan mereka.

JOHANN SABASTIAN BACH (1685-1750) sudah menjadi yatim piatu pada usia sembilan tahun, justru pada saat ia belajar mengembangkan minatnya pada musik. Tetapi Bach berkemauan keras. Ia membaca buku hanya dengan sinar bulan yang masuk ke jendela kamarnya. Ia tidak segan berjalan kaki sejauh puluhan bahkan ratusan kilometer selama berhari-hari untuk bisa mendegarkan konser organ. Sebelum mengarah sebuah lagu, lama Bach berdiam diri ... lalu di kertas kosong yang akan digunakannya ia menulis : J.J. (Jesu Juva, artinya Yesus, tolonglah saya) Kemudian kalau sudah selesai pada bagian akhir kertas itu Bach menulis : S.D.G. (Soli Deo Gloria, artinya Kemuliaan bagi Allah). Bach mengagumi Daud yang memberikan tempat yang penting pada nyanyian dan musik dalam ibadah. Dalam Alkitabnya, di bawah 1 Tawarikh 25, Bach mencatat :"Musik adalah buah Roh Kudus." Bach juga sangat terkesan pada 2 Tawarikh 5:13-14 "Lalu para peniup nafiri dan para penyanyi itu serentak memperdengarkan paduan suaranya ... Pada ketika itu rumah Tuhan dipenuhi awan ... kemuliaan Tuhan memenuhi rumah Allah."

GEORGE FREDERIC HANDEL (1685-1759) mempunyai cara lain dalam pergumulan mencari ilham. Untuk mengarang sebuah oratorium Handel mengurung diri selama berhari-hari di kamarnya. Ia tidak mau bertemu dengan siapapun. Pada suatu hari ia pernah keluar dari kamarnya memegang kertas-kertas berisi karyanya sambil menangis dan berteriak, "Saya telah melihat sorga, saya telah melihat Tuhan!"

FRANZ JOSEPH HAYDN (1732-1809) lahir dalam keluarga miskin di desa di pedalaman Austria. Ia mencari nafkah dengan jalan menjadi pemain biola di depan restoran. Baru kemudian hari ia bekerja sebagai musikus di rumah-rumah bangsawan. Haydn dijuluki "Bapak segala simfoni", sebab ia mengarang begitu banyak simfoni. Sebelum ia mengarang suatu simfoni, ia lebih dulu bertelut di depan pianonya dan meneduhkan diri. Ia pernah menjelaskan, "Dalam keteduhan seperti itulah saya meminta bakat yang diperlukan untuk bisa memuliakan Tuhan dengan pantas."

WOLFGANG AMADEUS MOZART (1756-1791) belajar piano pada usia empat tahun, dan pada usia enam tahun ia sudah bermain konser. Segala sesuatu berjalan begitu cepat dalam hidup Mozart. Ia melejit ke atas sebagai pemusik yang paling populer di Austria. Banyak orang jadi penggemarnya, tetapi banyak juga yang membenci dan iri kepadanya. Pernah Mozart menulis kepada ayahnya, "Papa jangan khawatir, saya dipelihara Tuhan. Saya sering takut Tuhan marah ..., tetapi saya merasakan kemurahan hati dan kelemah-lembutan Tuhan." Mungkin karena merasakan kemurahan Tuhan, maka Mozart bermurah hati kepada banyak orang. Ketika rekannya sakit, Mozart menggantikan kawannya untuk menyelesaikan karyanya, lalu seluruh pembayaran untuk karya itu diserahkan kepada kawannya. Mozart meninggal pada usia 35 tahun dalam keadaan yang mengenaskan. Untuk membeli peti jenazah pun tidak tersedia uang.

LUDWIG VON BEETHOVEN (1770-1827) terserang penyakit telinga menjelang usia 30 tahun, lalu ia menjadi tuli secara total. Bayangkan bagaimana terpukulnya seorang komponis lagu kalau ia menjadi tuli. Dalam kesedihannya ia menulis, "Aku merasa sepi, sangat sepi. Tetapi aku merasa Tuhan dekat." Beethoven banyak membaca buku renungan. Buku kegemarannya adalah Imitatio Christi (artinya: Meniru Kristus) karangan Thomas a Kempis. Walaupun Beethoven tuli, namun ia tetap produktif sepanjang hidupnya dengan menghasilkan begitu banyak simfoni, oratorio, opera dan sonata piano yang menakjubkan. Salah satu warisannya adalah nyanyian "Kami Puji Dengan Riang" di Kidung Jemaat, no. 3.

FRANZ PETER SCHUBERT (1797-1828) lahir dalam keluarga guru sekolah dasar yang miskin. Untuk mengarang lagu ia tidak mampu membeli kertas, sehingga ia menulis di kertas bekas. Schubert meninggal dalam usia 32 tahun karena wabah typhus yang melanda perkampungan kumuh di kota Wina tempat ia tinggal. Dalam catatannya ia menulis : "Ketika saya menciptakan musik, saya beribadah kepada Tuhan, dan saya menciptakan musik supaya orang beribadah kepada Tuhan." Tulisan di atas bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa komponis-komponis besar itu orang-orang sempurna. Mereka manusia biasa dengan sifat buruknya masing-masing. Misalnya, Handel dikenal sebagai orang yang suka mengumpat dan memaki. Mozart kurang dewasa dalam kepribadiannya dan suka memboroskan uang untuk berfoya-foya. Beethoven gampang naik darah, sehingga ia pernah melemparkan makanan di piring ke wajah seorang pramusaji restoran hanya karena makanan itu tidak sesuai dengan yang dia pesan. Yang mau dicatat di sini adalah bahwa orang-orang jenius itu dengan rendah hati mencari Tuhan sebagai sumber ilham. Mereka merasakan kedekatan dan keakraban dengan Tuhan sebagai saat-saat yang mengilhami karya musik mereka. Mereka mengaku bahwa bakat mereka adalah pemberian Tuhan dan adalah pantulan kemuliaan Tuhan, karena itu untuk kemuliaan Tuhan jugalah mereka mempersembahkan karya mereka yang agung itu. Kata dan nada yang lahir dari jari mereka adalah sentuhan tangan Tuhan. Ilham yang mereka peroleh adalah percikan Roh Tuhan.

Sumber: Wiempy

Menikmati Proses

Oleh: Jeanette

Yakobus 1:2-3 "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." Ayat ini yang menjadi pedoman dan kekuatan saya ketika saya sudah mulai jenuh dan merasa tidak mampu melewati proses yang Tuhan berikan.

Terkadang hidup yang kita jalani ingin semua serba instant. Apapun ingin dilakukan dengan cara yang instant. Seperti halnya Ketika kita sakit kita berdoa dan ingin minta kesembuhan saat itu juga, ketika kita butuh sesuatu kita berdoa dan ingin mendapatkannya dalam sekejap mata, ketika kita memiliki masalah kita berdoa supaya masalahnya cepat selesai tanpa kita berusaha untuk melakukan sesuatu, ketika kita menghadapi ujian sekolah kita berdoa supaya mendapatkan nilai yang bagus tapi kita tidak belajar, dan ketika kita ingin sukses kita berdoa untuk bisa mendapatkan uang tanpa bekerja dengan giat. Apakah itu yang selama ini kita jalani? Tuhan mengingatkan setiap kita bahwa ada proses yang harus kita hadapi untuk bisa melewati itu semua. Apa yang terjadi jika Tuhan mengabulkan semua doa kita tanpa proses dari-NYA? Kita akan menjadi pribadi yang gampangan, pribadi yang ingin enaknya saja tanpa memikirkan apa apa, tidak menghargai apa yang sudah Tuhan berikan.

Seringkali kita menganggap Tuhan itu jahat, mengapa ujian dan masalah tidak ada habis-habisnya untuk saya? Mengapa hal ini harus terjadi kepada saya? Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup, Dia tak pernah tidur dan selalu mendatangkan rancangan yang indah buat setiap kita anak-anakNYA. Proses itu selalu dianggap hal yang tidak enak, hal yang menyiksa daging kita tetapi pada akhirnya proses itu dirancang Tuhan sedemikiran rupa untuk kita melihat kebaikan dan keagunganNYA sungguh ajaib. Proses membawa kita untuk belajar bagaimana menyangkal diri dan memikul salib. Semakin kita terus menikmati proses-proses dari Tuhan, semakin kita mengerti apa maunya Tuhan untuk hidup kita. Apa tujuan Tuhan untuk hidup kita? Ketika kita menikmati proses itu, Tuhan akan membawa kita naik menjadi kepala dan bukan menjadi ekor.
Tujuan Tuhan simple supaya kita memiliki karakter yang ingin terus dibentuk dan level kedewasaan rohani kita semakin naik. Tuhan ingin kita menikmati proses demi proses karena proses menjadikan kita hari demi hari semakin serupa dan segambar dengan Allah dalam hal karakter, sikap dan perbuatan. Tapi terkadang kita tidak mengerti apa maksud Tuhan bawa kita ke dalam pencobaan yang rasanya kita seperti tidak mampu menjalaninya. Tuhan lebih mengetahui kedalaman hati kita dibanding kita sendiri. Tuhan tahu apa yang terbaik untuk setiap anak-anaknya, Dia tak akan memberikan ujian di luar kemampuan kita. Maka dari itu nikmati setiap proses yang ada. Bersyukur karena Tuhan masih mengijinkan kita untuk menikmati setiap proses sehingga semakin hari karakter kita makin luar biasa. Nikmati proses itu sampai Tuhan berkata kamu sudah berhasil melewatinya dan nantinya kita sudah siap menerima perkara-perkara yang ajaib dan besar yang sudah Tuhan siapkan untuk setiap kita. KEEP FIRE IN GOD!! GOD is very GOOD and GOD loves you ALWAYS. GODBLESS ALL?

Menunggu "Panggilan"????

Oleh: Bill Wilson

Semakin saya dewasa, saya semakin menyadari bahwa jika seseorang ingin diubahkan, mereka harus mengubah pandangan mereka terhadap hidup ini.

Dalam sebuah konvensi misi baru-baru ini, hadirin menyanyikan sebuah lagu misi lama,"Aku mau pergi kemanapun Kau kehendaki, ya Tuhan."Sejenak Saya merenungkan apa yang sedang kami nyanyikan dan rasanya tidak masuk akal.Kebanyakan orang di aula itu tidak pergi kemana-mana.Saya tahu itu, merekapun tahu.Tetapi mereka terus menyanyikan syair yang pada intinya tidak berarti apa-apa bagi mereka.Mereka selalu berbuat demikian.

Kita harus menyendiri bersama Tuhan dan mengevaluasi kembali bagaimana kita menggunakan hidup kita.Saya tidak sedang mengusulkan agar kita menjual semua harta kita dan pindah ke pemukiman penduduk minoritas.Apa yang kami lakukan ini bukan untuk dilakukan oleh semua orang.Namun seharusnya mereka sudi merespons bila mereka melihat adanya kebutuhan disekitar mereka.

Saya menjalani sebuah kehidupan yang jauh berbeda dengan sebagian besar orang Amerika.Ini tidak berarti bahwa ada yang benar atau salah diantara kita, namun kita memang berbeda.

Di sebuah daerah-yang bisa dijangkau dalam waktu singkat dengan kereta bawah tanah dari Bushwick, para eksekutif Wall Street mengadakan persekutuan doa dan pemahaman Alkitab secara rutin di ruang rapat direksi bagi berbagai perusahaan di Manhattan.Pekerjaan mereka sama pentingnya dengan pekerjaan Saya.Mereka melayani orang-orang yang tidak akan pernah saya layani.

Dalam perjalanan-perjalanan saya, saya sering diminta untuk menjadi tamu dalam berbagai acara bincang-bincang dio televisi, baik yang kristen maupun yang sekuler.Apapun acaranya, pertanyaan-pertanyaannya biasanya sama.Saya hampir bisa memastikan- bahwa di menit-menit pertama saya akan ditanya,"Bagaimana Allah memanggil Anda ke New York?"

Suatu kali, dalam sebuah acara yang ditayangkan secara live- langsung- di Midwest, Saya menjawab pertanyaan tersebut dengan,"Allah tidak memanggil Saya ke New York."

Si pembawa acara dengan wajah agak bingung, menoleh kekamera dan berkata,"kami akan kembali setelah pesan penting berikut ini".Dan iklan ditayangkan.

Bolehkan saya menjelaskan apa yang saya maksud dengan ucapan saya itu.

Begitu banyak orang bergantung pada apa yang kita ketahui sebagai "panggilan Allah" atau "suara Allah".Namun ketika keadaan tidak sesuai dengan apa yang menurut mereka benar, mereka tidak bisa bertindak sama sekali.

Jika Anda menantikan penyataan adikodrati atau sesuatu yang mengejutkan, yang tidak Anda sangka-sangka, untuk menuntun masa depan Anda, kemungkinan besar Anda akan menunggu selamanya.Saya telah bertemu banyak orang yang tulus hatinya, yang menunggu seumur hidup sampai Allah berbicara kepada mereka.Mereka mengira, Jika Aku tidak mendengar suara Tuhan, aku tidak boleh terlibat dalam pelayanan.

Sudah tak terhitung banyaknya orang Kristen yang tulus,yang sampai meninggalpun masih menunggu Allah memanggil mereka untuk melakukan sesuatu-dan mereka tidak pernah melakukan apa-apa sementara mereka menunggu.Tentu saja Allah bisa berbicara melalui "semak-semak yang menyala" dan tiang api, tetapi kita tidak perlu menunggu munculnya tanda semacam itu.Saya pernah menulis sebuah artikel yang berjudul, "apa yang Anda lakukan ketika Anda menunggu semak-semak terbakar?"

Tragedi terbesar dalam misi-misi di Amerika adalah banyak orang Kristen yang percaya bahwa misionaris adalah orang yang pernah mendapat penglihatan dan berjumpa dengan Allah secara adikodrati.

Apa yang Anda lakukan seandainya rumah Anda terbakar dan anak Anda masih terjebak di dalamnya?Apakah Anda akan berkata"Aku tidak akan masuk sampai Tuhan menyuruhku"? Tidak!Anda pasti akan segera bergegas masuk karena anak Anda harus diselamatkan.

Motivasi itulah yang saya rasakan ketika saya memutuskan datang ke New York.Saya percaya bahwa kebutuhan itulah yang memanggil saya ke New York.Sebenarnya ini sangat sederhana.Kita hanya membuatnya rumit seperti begitu banyak hal lain dalam hidup ini.

Menyikapi Pengaruh Negatif Sebuah Jaman

Oleh:Renida Ambarita

Perkembangan zaman yang semakin pesat dan serba modern seperti sekarang tentunya banyak memengaruhi perilaku manusia di era globalisasi ini. Dunia sudah berubah, itu kalimat yang sangat sering kita dengar. Perubahan terjadi dalam segala aspek kehidupan yang sangat kompleks ini. Cara berpikir, cara berperilaku, cara berpenampilan (baik itu busana, kendaraan pribadi maupun rumah pribadi), cara memilih makanan sampai hal-hal yang paling sederhana yaitu cara berbicara. Termasuk juga motivasi dari setiap individu, semua sudah berubah.

Manusia sudah terbiasa dengan arus global yang tanpa batas dan hampir tidak bisa dibendung lagi. Tanpa kita sadari perlahan-lahan sudah menuntun semua pola hidup manusia yang saya sebutkan tadi. Manusia hampir tidak mau lagi menerima sebuah koreksi positif ataupun sesuatu yang sifatnya mengatur atau mendisiplin diri. Karena tentunya akan membatasi semua keinginan dan kehendak bebas yang pada dasarnya ada dalam diri setiap manusia secara individu. Kemajuan teknologi lebih mendominasi untuk mengatur ataupun mengarahkan dalam bersikap. Dan tidak jarang kita mendengar kalimat-kalimat yang mengatakan “Ah, ini 'kan sudah ketinggalan zaman, sudah tidak berlaku lagi, sekarang 'kan sudah zaman modern” dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi tentunya, dan saya percaya semuanya diciptakan untuk kepentingan dan kemudahan kita manusia. Namun bagaimana caranya agar pengaruh negatif dari perubahan zaman tidak menjadi alat yang dipakai si jahat sehingga manusia boleh dikatakan menjadi korban dari perubahan zaman tersebut. Karena selain orang-orang dewasa, yang paling ironisnya dampak dari semua ini adalah para remaja dan anak-anak. Tentunya peran orang tualah sebagai orang yang paling bertanggung jawab untuk membentuk seorang anak, selain lingkungan tentunya. Karena keluarga adalah kelompok kecil namun menjadi tolak ukur dan kunci kekuatan sebuah negara. Dari keluargalah akan lahir generasi-generasi yang kuat atau sebaliknya generasi-generasi yang lemah yang kelak akan menjadi penerus bangsa ini.

Hampir tidak ada lagi aturan-aturan lisan yang sifatnya mengikat dalam hal positif yang bisa mengerem perbuatan-perbuatan negatif dalam konteks kecil ataupun besar. Sudah tidak ada lagi kata tabu atau malu di zaman modern sekarang ini. Sehingga sesuatu yang jahat di mata TUHAN sudah menjadi sesuatu yang sangat biasa untuk dilakukan. Banyak konsep berpikir yang awalnya kita tahu sesuatu itu salah tapi karena berulang-ulang dan sering dilakukan akhirnya menjadi sebuah kebenaran. Hati nurani manusia seringkali dikalahkan oleh banyaknya alasan-alasan penuh pertimbangan untuk kompromi dan toleransi dengan kata dosa. Banyak pembenaran-pembenaran yang kita lakukan. Tidak berani mengatakan sesuatu yang salah kepada orang lain, mungkin dengan alasan, “tidak enak, takut menyinggung perasaan orang tersebut, atau dengan ungkapan itukan urusan pribadi masing-masing, atau pendapat lain lagi bahwa semua manusiakan tidak ada yang sempurna”. Semua ini bisa tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari dalam pemerintahan, di dunia pekerjaan, di dunia usaha, di sekolah, di keluarga maupun dalam hubungan sosial lainnya. Demikian juga ketika undang-undang sebagai aturan tertulis kadangkala dilanggar oleh si pelaku kejahatan seperti koruptor, pezina, pembunuh, perampok dan lain sebagainya, si pelaku kejahatan yang harusnya mendapat hukuman atas perbuatannya bisa begitu leluasa bebas tanpa merasa bersalah dan merasa terhukum. Di manakah sebuah kebenaran diletakkan, apakah kebenaran bisa ditawar atau diperjual belikan?

Bukankah hal ini akan memberi dampak negatif bagi generasi berikutnya, ketika mereka melihat para orang tua yang dalam posisi apapun yang harusnya menjadi panutan boleh melakukan kesalahan yang disengaja dan tidak mendapat hukuman apa-apa.

Tatanan hidup manusia sudah sangat berubah. Dibutuhkan figur-figur yang tegas dan yang hidup benar yang memiliki otoritas dan yang peduli berfungsi menegakkan sebuah kebenaran. Pemimpin yang tegas dalam sebuah negara, seorang hamba TUHAN yang tegas dalam sebuah gereja, seorang pemimpin yang tegas dan benar dalam sebuah perusahaan, seorang guru yang tegas di sekolah dan seorang ayah yang tegas dalam sebuah keluarga. Faktor-faktor yang sangat berperan penting dalam memengaruhi pola hidup manusia salah satunya adalah kemajuan-kemajuan teknologi yang menyuguhkan informasi-informasi secara visual. Ini bisa didapatkan dari televisi maupun internet.

Televisi adalah media yang paling murah karena boleh dibilang benda yang satu ini hampir dimiliki oleh seluruh keluarga yang ada di pelosok tanah air kita. Sebagai orang tua, sadar atau tidak sadar perilaku anak-anak dan para remaja bahkan orang tua sendiri dibentuk oleh produk-produk yang disajikan oleh televisi. Dari cara berpakaian, motivasi hidup, cara berbicara, cara berpikir, cara mendapatkan sesuatu yang serba instan, bahkan cara memilih makananpun, semuanya dibentuk oleh suguhan-suguhan yang ada di televisi kita. Televisi ibarat sebuah cermin kehidupan. Banyak tayangan yang tidak mendidik, tapi justru mengubah perilaku anak ataupun orang dewasa ingin menjadi seperti para pemeran yang ada di televisi. Salah satunya sinetron yang selalu ingin menampilkan dan menyajikan mimpi-mimpi sebuah kehidupan yang serba gemerlap dan bergelimang harta, rumah mewah, mobil mewah, perhiasan yang berkilauan sampai busana-busana yang bermerek dan berkelas. Tanpa kita sadari tontonan-tontonan ini telah menggiring pikiran kita, yang lama-kelamaan akan membentuk semua pola hidup manusia. Manusia seakan-akan dituntun untuk memenuhi kebutuhan akan rasa puas dalam memiliki sejumlah materi yang disajikan oleh televisi. Lihat saja pengaruh ini begitu besar membentuk pola pikir para remaja putri yang ingin hidup dengan gaya yang serba gemerlap dengan cara yang singkat dan terlarang. Mereka tidak malu lagi bahkan sudah tidak dianggap sebagai dosa ketika mereka tidak segan-segan menjual diri mereka kepada laki-laki hidung belang untuk mendapatkan uang yang cepat dan banyak, karena orang tua mereka bukanlah orang tua yang cukup mampu untuk memenuhi semua kebutuhan mereka. Studi dengan prestasi yang memuaskan bukan lagi sesuatu yang perlu dikejar ataupun diraih dan tidak memiliki nilai lagi, karena untuk mendapatkannya perlu kerja keras dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Gaya hidup orang dewasa tidak mau kalah glamornya, oleh tuntutan kehidupan yang serba kompleks ini, betapa mudahnya seseorang mencuri uang yang bukan miliknya dengan cara korupsi di pemerintahan maupun di perusahaan tempat bekerja dengan cara-cara yang mungkin bagi sebagian orang itu sah-sah saja. Toh tidak merugikan perusahaan atau yang jelas-jelas merugikan sekalipun asal tidak ketahuan. Sesuatu hanya ingin dicapai dengan waktu yang relatif singkat dan tanpa sebuah pengorbanan. Belum lagi pengaruh brutal yang diperankan dalam adegan perkelahian dalam tayangan-tayangan film-film action oleh seorang jagoan yang ingin menunjukkan kehebatannya, atau adegan kekerasan dalam sinetron antara seorang majikan terhadap pembantunya. Pengaruh ini dalam kehidupan nyata mampu mengubah perilaku seorang anak yang sangat belia yang masih sangat polos dengan tanpa belas kasihan tega menghabisi nyawa seorang teman bermainnya. Atau kasus-kasus perkelahian tawuran antar sekolah yang membawa begitu banyak korban jiwa. Dan banyak lagi kasus-kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak, seorang remaja maupun orang dewasa dengan motif yang beragam.

Orang dewasa bisa begitu tega membunuh orang yang pernah menjadi bagian dalam hidupnya hanya karena sakit hati dan cemburu atau juga karena motivasi uang. Seorang ayah tanpa belas kasihan bisa menghabisi nyawa darah dagingnya sendiri, dan lain sebagainya. Sangat menyedihkan memang. Termasuk juga cara berpakaian para artis ataupun para pemeran televisi lainnya atau para wanita di luar itu, yang semakin hari semakin memilukan akibat kurangnya bahan. Juga dengan pakaian-pakaian yang serba ketat dan minim yang ingin menonjolkan lekukan-lekukan tubuhnya. Yang kapan saja bisa menggoda lawan jenis untuk berpikir negatif. Anak-anak balita laki-laki sudah terbiasa melihat bagian-bagian tubuh tertentu yang sangat pribadi dari seorang wanita yang harusnya ditutupi ini, tapi mereka bisa melihatnya dengan bebas dari tontonan di televisi tanpa ada pendampingan ataupun larangan dari orang tua mereka. Yang akhirnya secara usia, mereka belum mengerti apa itu seks, tapi perkembangan zaman memaksa mereka untuk menerima makanan keras yang seharusnya mereka bisa kunyah dan cerna setelah mereka dewasa nanti. Sangat ironis, karena banyak pemeran televisi ini yang justru menyebut dirinya adalah orang-orang Kristen dan percaya KRISTUS dan diperkuat lagi dengan tambahan asesoris kalung salib di dadanya. Bagaimana kita bisa jadi saksi KRISTUS, apakah TUHAN kita adalah TUHANnya orang-orang yang berpakaian tidak sopan? Tapi ketika kita melihat lagi mengapa banyak wanita dari agama yang non Kristen bisa berpakaian lebih santun. Apakah TUHAN tidak dipermalukan dalam hal ini? Akibatnya seorang dewasa, mudah sekali jatuh dalam dosa perzinaan dengan hidup sebagai layaknya pasangan suami istri dengan orang yang bukan pasangannya. Atau banyak dari kaum hawa yang akhirnya menjadi korban pemerkosaan dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Serta banyak lagi dosa-dosa seks lainnya.

Selain televisi, internet adalah salah satu media penyampai informasi visual paling cepat dan murah. Informasi ini begitu cepatnya sehingga sesuatu yang terjadi di belahan dunia lainnya dengan sekejap mata kita dapat mengetahuinya. Tidak dibutuhkan biaya yang cukup mahal, karena uang saku seorang anak SD sudah cukup untuk mendapatkan semua informasi yang kita inginkan. Akibatnya kejahatan seksual merajalela di mana-mana, baik itu dilakukan oleh anak kecil maupun orang dewasa. Dari hasil survei dari beberapa sumber yang saya dapatkan, anak laki-laki yang masih duduk di bangku SD sudah sering melihat foto-foto wanita tanpa busana, begitu juga dengan para remaja yang masih duduk di bangku SMP, 80% dari jumlah mereka sudah terbiasa melakukan hubungan terlarang dan akhirnya melakukan aborsi. Masih dari hasil survei, diperkiraan dari jumlah pria dewasa, 70% diantaranya sudah sering mengakses internet yang berbau pornografi dan rata-rata dari mereka hidup dalam dosa perselingkuhan. Termasuk masalah kekerasan seksual, hampir tidak bisa dihitung lagi, berapa banyak kekerasan seksual yang terjadi di negara kita ini, baik yang dilakukan oleh orang dewasa maupun para remaja dan anak-anak, sangat memprihatinkan. Akibat semua ini moralitas bangsa kita lambat laun akan menuju sebuah kehancuran. Tapi sayangnya semua berjalan tanpa ada upaya untuk menanggulanginya, seakan-akan hal itu menjadi sesuatu yang wajar dan biasa saja. Mata dan telinga rohani kita sudah tidak peka dan tidak peduli lagi untuk membedakan sesuatu yang benar dan yang salah. Ini yang disebut dengan dosa pembiaran. Atau pendapat lain mengatakan bahwa itu bukanlah menjadi kewajiban kita untuk menyelesaikannya. Semua pihak saling melempar tanggung jawab. Sudah seharusnya kita peduli dan bersama-sama memberantas semua kejahatan yang ada.

Dimulai dari keluarga di mana orang tua harus memberikan contoh yang baik, juga memberi batasan-batasan, menjelaskan apa yang perlu atau boleh ditonton dan apa yang tidak perlu atau tidak boleh ditonton dengan tegas dan benar. Lebih sulit bagi kita kelak untuk membersihkan sesuatu yang sudah terlanjur menempel dan mengotori pikiran anak-anak kita, daripada membatasi dengan memberi pengertian serta pemahaman kepada mereka sejak dini mengapa dan untuk apa kita harus bijaksana memilih tayangan-tayangan yang bermanfaat bagi kita. Dan anak-anak bisa diarahkan dengan memberi kegiatan-kegiatan positif yang bisa membangun kreatifitas mereka, seperti olah raga sambil bermain, membaca buku-buku yang mendidik, bermain musik, bermain sembari belajar memasak dan lain sebagainya. Demikian juga pemerintah harus membuat suatu aturan yang harus dijalankan, apa dan bagaimana sebaiknya televisi harus menjadi sebuah media yang ikut berperan dalam membangun bangsa dan generasi mudanya, bukan malah ikut-ikutan menghancurkan generasi ini. Pemerintah juga harus memblokir setiap akses-akses yang berbau pornografi dan kekerasan. Di pemerintahan ini sangat sedikit para pemimpin bangsa kita yang memiliki ketegasan dalam hal aturan,. Sebut saja Bapak Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok (Wakil Gubernur DKI Jakarta) dan Ibu Risma (Walikota Surabaya) serta beberapa orang lainnya. Ketika mereka ingin menegakkan sebuah kebenaran, tidak sedikit yang menganggap mereka sebagai pemimpin yang arogan dan tidak disenangi karena sikap mereka yang cenderung marah kalau melihat sesuatu yang salah, padahal pemimpin seperti inilah yang justru bisa mengubah perilaku dan kebiasaan negatif dalam sebuah masyarakat. Kita sudah terbiasa dengan pola hidup “asal orang lain senang, yang penting aman dan nyaman, sama-sama enak”. Marah bukanlah sebuah dosa. Yang disebut dosa adalah menjadi seorang pemarah yang diikuti dengan tindakan-tindakan kejahatan. TUHAN YESUS saja pernah marah ketika Bait SuciNYA dijadikan tempat berdagang dan sarang penyamun, yang akhirnya DIA menjungkir balikkan barang-barang yang ada di sana (Lukas 19:45, dan Markus 11:15). Justru sebaliknya saat kita melihat sesuatu yang salah dan membiarkannya serta cenderung memeliharanya itu sama saja kita berbuat dosa. TUHAN YESUS juga sering menghardik orang-orang Farisi dan Ahli Taurat serta orang-orang Saduki yang bersikap munafik di hadapanNYA.

Dalam sebuah keluarga zaman sekarang, orang tua lebih cenderung membiarkan anak-anaknya melakukan kesalahan yang dimulai dari hal-hal kecil. Seperti contoh, pembenaran dengan kata-kata “diakan masih anak-anak, belum tahu apa-apa, nanti juga kalau sudah besar pasti berubah.” Pendidikan anak sejak dini itulah yang akan menentukan karakternya dewasa nanti. Sama seperti ketika masih dalam kandungan, seorang anak akan lahir sehat, pintar dan sempurna ditentukan pada saat si bayi dalam kandungan, bahkan disebutkan jaringan otaknya dibentuk ketika bayi masih dalam kandungan ibunya. Bukankah karena alasan itu seorang ibu akan memberi asupan gizi yang terbaik kepada janin yang ada dalam kandungannya lewat apa yang seorang ibu makan dan minum. Ia akan memilih makanan-makanan yang terbaik dan bukan itu saja bahkan cara berbicara, cara bersikap seorang ibu yang sedang mengandung akan memengaruhi pertumbuhan bayi dalam kandungannya. Padahal makhluk yang ada dalam rahimnya belum tahu apa-apa, lahir saja belum. Lalu bagaimana dengan anak yang sudah lahir di dunia ini dengan panca indera yang sudah lengkap yang TUHAN berikan yang siap menyerap apa saja yang dia lihat dan dengar, sehingga secara otomatis otaknya sebagai mesin penyimpan data akan merekam semua peristiwa-peristiwa yang dia dengar dan lihat baik itu hal-hal buruk maupun hal-hal yang benar. Apakah kita masih berani berkata bahwa dia cuma seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa? Coba kita bayangkan.

Sangat dibutuhkan pendidikan yang tegas dan benar dari orang tua. Anak-anak zaman sekarang hampir tidak memiliki rasa hormat lagi kepada kedua orang tua maupun orang yang dituakan. Anak-anak sudah tidak lagi melihat figur yang tegas dalam diri kedua orang tuanya. Dan orang tua sudah kehilangan figur yang berwibawa yang disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Berbeda dengan orang tua yang hidup pada zaman era 70-80an, figur seorang ayah begitu disegani. Setiap aturan bisa ditegakkan dan seorang anak bisa melakukan sesuatu tanpa sebuah paksaan namun sangat ikhlas . Aturan berjalan dengan konsep yang dibangun atas hubungan yang formal namun keduanya bisa saling memahami. Sementara aturan yang dibuat saat ini sangat berbeda, seorang anak menganggap aturan itu akan mengekang dan cenderung dianggap sebagai tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap anak. Pola pikir anak menjadi rancu, anak merasa dibela haknya ketika orang tua dianggap melakukan kdrt. Ketegasan aturan yang dimaksud bukanlah ketegasan dengan hukuman berupa pukulan-pukulan yang sampai menciderai ataupun menyakiti anak, tapi lebih kepada aturan-aturan yang dibuat dan disepakati bersama yang sifatnya mengikat dan jika tidak dilakukan akan diberi sanksi ringan, yang tujuannya tidak lebih untuk mengatur dan mendisplin si anak agar terbiasa hidup dalam jalur yang benar. Anak perlu diberi penjelasan mengapa sebuah aturan dibuat, dan mengapa harus hidup dalam sebuah aturan yang benar, sehingga hal itu dapat dijalankan dengan kerelaan. Karena kalau kondisi ini dipelihara terus-menerus, lalu generasi seperti apa yang akan muncul 10-20 bahkan 30 tahun ke depan?

Sejak TUHAN menciptakan Adam dan Hawa, TUHAN memberikan kebebasan kepada manusia untuk memakan semua buah yang ada dalam taman, namun melarang salah satu dari pohon yang ada untuk dimakan buahnya. Pada prinsipnya TUHAN sudah memberi aturan main dalam hidup ini. Kamu boleh makan yang ini dan tidak boleh makan yang itu. Kamu boleh melakukan yang ini dan sebaliknya tidak boleh melakukan yang itu. Dan TUHAN memberitahu kepada manusia pada waktu itu, jika kamu melanggar aturan, maka konsekuensinya manusia akan mati. Mati artinya jatuh dalam dosa dan dihukum (Kejadian 2: 16-17). Ada dua pilihan dalam hidup, dan manusia punya kehendak bebas untuk memilih salah satu dari keduanya. Artinya, hidup benar atau hidup dalam dosa adalah sebuah pilihan dan tentunya dengan konsekuensi masing-masing.

TUHAN sangatlah baik, ketika manusia jatuh dalam dosa dan dihukum akibat ketidaktaatannya, DIA masih memberi solusi yang terakhir agar manusia bisa keluar dari lumpur dosa itu. BAPA mengutus PUTRANYA dengan memberi nyawa ANAKNYA untuk menebus dan mengangkat kita keluar dari kutuk dosa. Dengan percaya kepadaNYA dan berbalik kepada jalanNYA artinya berhenti berbuat dosa, maka kita akan diselamatkan dan masuk dalam KerajaanNYA yang kekal. Namun masih banyak manusia yang tidak peduli dengan panggilanNYA dan mengeraskan hati, atau masih ada saja yang sudah percaya kepadaNYA tapi masih senang bermain-main dengan dosanya. Sebagai anak TUHAN yang sudah tahu kebenaran, kita harus berani untuk mengatakan tidak kepada dosa dan iya kepada kebenaran. Jangan kompromi dengan si jahat. Jangan pernah berdiri pada zona abu-abu. Sebab TUHAN akan memuntahkan orang-orang yang hidupnya suam-suam kuku. Tidak panas namun juga tidak dingin (Wahyu 3:16). Saya tidak bermaksud menghakimi siapapun, karena firman TUHAN berlaku untuk siapa saja, firman itu seperti pedang bermata dua (Ibrani 4:12), yang akan menusuk kepada orang yang mendengar atau membaca dan kepada orang yang menyampaikan.

Kita harus saling membangun satu sama lain, karena kedatangan TUHAN yang sudah semakin dekat, agar kita saling meneguhkan dan saling memperbaiki diri, menjadi mempelai wanita KRISTUS yang kudus dan tak bercacat menyongsong kedatanganNYA yang kedua kali. Saya sangat tergerak untuk menyampaikan hal ini dalam artikel saya yang kedua. Semuanya mengalir begitu saja, saya percaya semua karena tuntunan ROH KUDUS.

Menurut kaca mata rohani kekristenan saya, pada dasarnya manusia dibagi dalam 3 tipe :

1. Tipe yang pertama, manusia yang keras kepala dan tegar tengkuk. Manusia tipe ini adalah golongan orang yang tidak mau percaya kepada KRISTUS yang cenderung menganggap bahwa TUHAN YESUS itu tidak ada. Boleh disebut mereka ini termasuk golongan orang-orang di luar Kristen. Sebagian dari mereka ada yang merasa bahwa dengan kekuatan, kehebatan dan perbuatannya serta kepintarannya mampu membawa dia kepada satu tujuan akhir dari sebuah kehidupan. Golongan ini saya sebut golongan hitam.
2. Tipe yang kedua, manusia yang sebenarnya percaya kepada TUHAN dan percaya juga akan keselamatan, tapi tidak pernah mengerjakan keselamatan yang sudah diberikan. Memang keselamatan adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh TUHAN kepada setiap individu dengan gratis, bukan karena perbuatan baik kita maka kita memperolehnya. Tapi apakah mahkota keselamatan yang sudah kita peroleh tidak kita jaga dan pelihara. Artinya apakah keselamatan itu dapat dipermainkan dengan kebiasaan manusia yang masih ingin kembali ke dalam hidup yang lama yaitu dosa. Karena merasa sudah percaya YESUS maka pasti selamat dan masuk surga. Kita masih kompromi dengan dosa kecil maupun besar. Tidak pernah membangun hubungan dengan si PEMBERI mahkota. Jangan-jangan mahkota itu akan diambil dari kita karena kita tidak pernah menjaga dan merawatnya serta membersihkannya dari debu-debu dosa. Golongan ini saya sebut golongan abu-abu.
3. Tipe yang ketiga, tipe ini adalah golongan orang-orang yang percaya kepada KRISTUS yang setia menjaga kekudusannya jangan sampai dikotori dengan hal-hal dunia yang jahat ini. Selalu setia membangun hubungan yang intim dengan KRISTUS dengan rajin berdoa memohon tuntunan dan kekuatan dari TUHAN setiap hari, membaca firmanNYA dan melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh TUHAN, karena hanya dengan cara itulah kita bisa menjauhkan bayang-bayang dosa yang selalu datang menggoda setiap kita. Golongan ini saya sebut golongan putih.

Secara manusia kita memang masih tinggal dan hidup di dunia dan tidak pernah luput dari godaan-godaan yang ditawarkan oleh lingkungan kita, yang kapan saja bisa datang dan lewat apa saja yang dipakai oleh iblis untuk mendakwa manusia di hadapan TUHAN kelak. Si jahat ingin agar mahkota keselamatan itu diambil dari kita. Begitu banyak godaan yang datang setiap hari, setiap jam, bahkan setiap detik yang dia tawarkan dan siap menerkam anak-anak TUHAN yang tidak selalu berjaga-jaga. Di sinilah dibutuhkan latihan disiplin rohani, yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak sejak mereka masih belum mengerti sekalipun. Sejak dini sampai kelak dewasa nanti seorang anak sudah memiliki alat yaitu firman TUHAN yang berfungsi sebagai filter untuk menyaring semua informasi-informasi yang dia terima dalam kehidupan ini.

Anak-anak harus diajarkan untuk berdoa, mengembangkan budaya membaca dan mencintai Alkitab sebagai surat cinta TUHAN kepada anak-anakNYA, dan melakukannya setiap hari, karena firman TUHAN adalah Peta Kehidupan yang akan menuntun langkah-langkah hidup kita setiap saat sejak dari kecil. Bagaimana kita bisa berjalan kepada suatu tujuan kalau kita tidak punya peta yang akan menuntun arah untuk sampai ke sana, dengan peta kita akan tahu jalan mana yang harus kita lewati, apakah ada jurang atau hambatan yang perlu kita tahu sehingga kita tidak jatuh dan terperosok ke dalamnya. Demikian juga sebuah pohon masih bisa dibentuk ketika batangnya masih kecil, sama seperti karakter seorang anak hanya dapat dibentuk pada saat usia dini, karena jika kelak setelah dewasa, batang pohon itu akan patah jika akan dibentuk. Semua ini harus dilakukan oleh seorang otoritas yang mempunyai pengaruh positif yang besar yang bisa menjadi teladan dan panutan. Bisa dimulai dari keluarga, sekolah, gereja, perusahaan dan dalam sebuah pemerintahan.

Jika ini bisa diterapkan, maka tidak mustahil perubahan besar ke arah yang positif dapat terjadi, dan bangsa Indonesia yang kita kasihi ini akan mendapat kemurahan TUHAN, akan banyak orang datang kepada YESUS dan diselamatkan karena dimulai dari orang-orang percaya terlebih dahulu. Ada kebenaran yang ditegakkan dan anak-anak TUHAN akan selalu menjadi terang di sekitarnya. Dunia yang gelap ini membutuhkan terang. Terang itu hanya didapat dari anak-anak TUHAN yang hidupnya benar dan takut TUHAN. Jadilah terang di sekelilingmu, agar lewat kesaksian hidup kita nama TUHAN dipermuliakan bukan dipermalukan (Kisah Rasul 2:18). Dan jangan pernah lupa untuk selalu berdoa bagi keluarga kita, kota kita dan bangsa kita, kalau bukan kita siapa lagi yang akan menjadi pengawal keluarga, kota dan bangsa ini, agar si jahat tidak punya hak kuasa untuk merampas dan mencurinya. Berdoalah dan berjaga-jagalah senantiasa karena si jahat ada di sekelilingmu, seperti singa yang mengaum mencari mangsa yang siap diterkamnya (1 Petrus 5:8).

Demikianlah yang bisa saya bagikan, semoga bisa menjadi berkat bagi kita semua. Amin.
Terima kasih untukMU YESUSku. Terpujilah namaMU selamanya.

Mimpi Tak Mungkin Ken Sudarto

Penulis : Bondan Winarno

To dream the impossible dream,
To fight the unbeatable foe,
To bear with unbearable sorrow,
To run where the brave dare not go.

LAGU The Impossible Dream yang dinyanyikan paduan suara gereja bergema ketika peti jenazah Kenneth Tjahjady Sudarto, 63 tahun, didorong masuk ke Rumah Duka RS Gatot Subroto. Sylvie, istri almarhum, mungkin tak menduga akan mendengar lagu kesayangan suaminya pada saat itu. Ia tertegun sejenak, dan tiba-tiba ia tak sanggup lagi membendung air matanya.

Seingat saya, Ken mulai menyukai lagu itu sejak ia "mempekerjakan" seorang ahli yang berasal dari perusahaan periklanan Leo Burnett di Amerika Serikat. Leo Burnett ketika itu memakai lagu The Impossible Dream sebagai anthem mereka. Ken sangat terkesan akan dalamnya makna semua kata yang dirangkum dalam lagu panjang itu. Dan serta-merta pula ia meng-identifikasi-kan dirinya sendiri dengan lagu itu. Sejak itu, The Impossible Dream selalu lekat dengan Ken Sudarto dan Matari.

Saya ingat pada suatu senja, sekitar 15 tahun yang silam, saya duduk di samping Ken di anak tangga di depan Puri Matari di Kuningan. Saya bertanya, apakah kesukaannya akan lagu The Impossible Dream ada kaitannya dengan kartun goresan Baden Powell dalam buku Scouting for Boys, yang menggambarkan Rowan menendang huruf-huruf IM dari kata IMPOSSIBLE? Ken tertawa sambil menepuk bahu saya. "That"s is exactly it," katanya.

Sekali pandu, tetap pandu. Itulah Ken. Dalam kiprahnya sebagai orang iklan, jiwa pand2unya tetap menonjol. Ia merintis pendirian Matari Advertising, dari sebuah garasi di Cideng, sampai mempunyai beberapa gedung megah di kawasan segitiga emas Kuningan. Ia merintis berbagai inisiatif baru dalam dunia periklanan Indonesia. Siapa pula yang bisa melupakan berbagai iklan layanan masyarakat yang dipelopori oleh Matari? Ia tetap teguh menjaga kemurnian Matari sebagai 100 persen Indonesia, tanpa menumbuhkan sikap anti-asing.

"The Unbeatable Foe"
Perjuangan Ken "melawan" kanker ganas yang menyerangnya sungguh- sungguh merupakan cerminan dari lagu The Impossible Dream itu.

Beberapa hari setelah merayakan Tahun Baru 2004, Ken tiba-tiba jatuh sakit. Semua dokter yang didatanginya tidak tahu penyakit apa yang dideritanya. Ditemani Sylvie, ia kemudian pergi ke Singapura. Di sana pun para dokter tidak menemukan penyakit yang diderita Ken.

Dua minggu kemudian, barulah diketahui Ken ternyata mengidap kanker limfoma stadium 4. Selain sudah pada stadium lanjut, penyakitnya juga aneh. Bila biasanya penyakit itu menyerang organ tubuh lain, dan terakhir menyerang sumsum tulang belakang, maka pada Ken ternyata kankernya hanya menyerang sumsum tulang belakang.

Kebetulan, di rumah sakit Mount Elizabeth Singapura itu ia ditangani oleh tim dokter yang sebelumnya menangani Lee Hsien Loong yang pernah menderita penyakit sama sebelum menjabat Perdana Menteri. BG Lee ketahuan mengidap kanker limfoma pada stadium dini dan berhasil sembuh seratus persen.

Ken segera menjalani satu seri kemoterapi yang menyakitkan. Dalam enam bulan, ia dinyatakan bebas dari kanker limfoma yang dideritanya. Ia pun kembali ke Indonesia dengan penuh kesyukuran.

Tetapi, kabar gembira itu hanya berumur dua bulan. Ken ternyata sakit lagi. Ia kembali ke Singapura untuk memeriksakan diri. Benar saja. Kanker limfomanya kambuh. Kasus relaps secepat itu sebetulnya sangat mengejutkan tim dokternya. Ken kemudian menyepakati upaya yang akan dilakukan tim dokter, yaitu stem cell atau pencangkokan sel. Ini merupakan teknik medis terbaru untuk penyembuhan kanker.

Untuk melakukan stem cell, Ken harus menjalani kemoterapi dengan dosis yang lebih kuat. Tujuannya adalah untuk mematikan semua sel buruk, lalu mengambil sel baik untuk dibiakkan dan "ditransplantasikan" kembali ke tubuhnya. Setelah berbulan-bulan mengalami proses yang menyakitkan di Singapura, akhirnya stem cell berhasil dilakukan.

Sekali lagi terbukti harapan kesembuhan belum tercapai. Untuk kedua kalinya Ken mengalami relaps kembali. Bayangkan, pukulan seperti apa yang dialaminya. Begitu pun, ia masih terdengar ringan ketika menceritakan bahwa Sylvie terpaksa menjual rumah pertama mereka di Tomang untuk membiayai pengobatan.

Ken, dengan tekad yang tetap besar, memutuskan untuk menjalani stem cell ulang.

Romans 14
Suatu pagi, saya menerima SMS dari Ken. Ia mengatakan bahwa sudah sejak seminggu ini melakukan kebiasaan baru setiap pagi. Begitu bangun tidur, ia membaca Kitab Suci. Rupanya ia menemukan The Daily Bible yang membuat kita dapat selesai membaca Alkitab dalam waktu 365 hari. "Ayo baca Romans 14: 1-23 bersama saya," tulis Ken dalam SMS.

Saya ambil Alkitab dan membaca bersamanya. Ia di Singapura, saya di Bukit Sentul. Kami connected! Tidak perlu saya kutip di sini, kalau Anda punya Alkitab, cobalah baca ayat-ayat itu. Serius, ada jiwa Ken di situ!

Karena itulah, sekalipun raganya sudah tiada, Ken akan selalu hidup di hati saya. Sepanjang saya mengenalnya, Ken sendiri identik dengan hidup dan kehidupan. Bahkan pada saat-saat menghadapi ajal, ia masih sibuk merencanakan hidup.

Awal September yang lalu, sebelum berlibur bersama keluarga, saya sempatkan singgah menjenguk Ken di Singapura. Ia "ngotot" mengajak saya makan di "Top of the M", restoran di puncak Meritus Mandarin. Landasannya berputar, sehingga kita bisa melihat pendar-pendar lampu Singapura. Ken datang sendiri. Ia masih menyandang tas yang berisi "mesin" untuk memasukkan obat-obat secara intravenous ke dalam tubuhnya. "This is the mother of chemotherapy," kata Ken "membanggakan" proses pengobatan yang sedang dijalaninya.

Sambil makan enak, kami mengobrol. Ia bergairah sekali menceritakan rencana-rencana 2 tahun, 7 tahun, dan 12 tahun - masing-masing untuk menandai usia 65, 70, dan 75. Salah satunya adalah untuk menerbitkan buletin berisi informasi bagi orang-orang sakit yang memerlukan pengobatan. "Bayangkan, sudah sakit setengah mati, orang-orang seperti saya masih harus buang waktu, tenaga, dan uang untuk mencari informasi tentang pengobatan. Sekarang saya sudah punya informasi lengkap, dan saya mau share dengan semua orang yang membutuhkannya," kata Ken.

Dua hari setelah itu, Ken masuk CCU (critical care unit). Ia mengirim SMS kepada saya di Eropa. "Romo Gino bilang, saya harus menyimpan semua rencana itu. Sekarang perlu fokus dulu ke upaya penyembuhan, dalam nama Kristus."

Determinasi Ken untuk terus hidup bukanlah penyangkalan akan kematian yang merupakan keniscayaan bagi semua orang. Seperti dikatakannya: "Saya tidak akan menyerah. Saya akan menggunakan anak panah yang terakhir untuk menyelesaikan perang."

Bahwa ia melakukan saat teduh setiap pagi, membuktikan bahwa ia pun mempersiapkan kematiannya. Tetapi, pada saat yang sama, ia memang tidak pernah berhenti berjuang untuk hidup.

Saya termasuk teman yang beruntung menikmati berbagai saat indah khusus dengannya. Seminggu sebelum ia berpulang, saya mengunjunginya lagi di rumah sakit. Di bawah pengaruh obat penenang, ia tampak tidur damai. Wajahnya tampak cerah. Si ganteng gagah pasti sedang bermimpi.

Selamat beristirahat, sahabatku, Ken, di haribaan Allah yang kita sapa dengan nama Bapa. Kami semua menyayangimu, tetapi Bapa lebih menyayangimu. Engkau telah meraih bintang yang selama ini kita semua impikan.

"... And the world will be better for this
That one man scorned and covered with scars
Still strove with his last ounce of courage
To reach the unreachable star."

Nutrisi Rohani

Oleh: SMT. Gultom

Kelahiran baru karena firman Tuhan itu menghasilkan suatu sifat yang baru sama sekali semacam kehidupan yang baru. Dari sini kita harus berlanjut dan melihat suatu dampak besar lainnya yang dihasilkan oleh firman Tuhan.
Dalam setiap alam kehidupan ada satu hukum yang tidak pernah berubah: begitu suatu kehidupan baru dilahirkan, yang paling pertama dan paling banyak dibutuhkan oleh kehidupan baru itu adalah "nutrisi" untuk menunjang kehidupan tersebut. Misalnya, apabila seorang bayi manusia dilahirkan, boleh saja bayi itu sehat dalam segala hal, tetapi apabila ia tidak cepat-cepat menerima nutrisi yang diperlukan, ia akan menjadi lemah dan meninggal dunia.
Hukum yang sama juga berlaku di alam rohani. Apabila seseorang mengalami lahir baru, kodrat rohani baru yang tumbuh dalam orang tersebut harus cepat-cepat menerima makanan rohani yang diperlukan supaya tetap hidup dan mengalami pertumbuhan. Makanan rohani yang disediakan Tuhan untuk semua anak-Nya yang lahir baru itu terdapat dalam firman-Nya sendiri. Firman Tuhan itu sedemikian kaya nutrisi dan bervariasi, sehingga ada persediaan makanan yang diperlukan sesuai dengan setiap tahap perkembangan rohani. Persediaan Tuhan untuk tahap-tahap awal pertumbuhan rohani itu digambarkan dalam surat Petrus yang pertama. Di pasal 1 Rasul Petrus menulis mengenai orang yang lahir baru karena benih firman Tuhan yang tidak dapat binasa/rusak, dan langsung sesudah itu ia berkata: "Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan "(1 Petrus 2:1-2). Yang ditetapkan Tuhan sebagai makanan bagi bayi-bayi rohani didalam Kristus adalah "susu murni" firman-Nya sendiri. Susu ini merupakan "bahan bakar" yang diperlukan untuk hidup dan terus mengalami pertumbuhan.

Tuhan Yesus memberkati umat-Nya.

Pengejar Harta Surgawi

Oleh: Sendra Cornelia

Saya adalah orang yang sedang mengumpulkan harta surgawi (harta petualangan mujizat). Percaya dengan mimpi, hati nurani, penglihatan serta hal-hal yang supranatural. Petualangan percaya dengan mimpi dan penglihatan saya ikuti dengan penuh keyakinan yang mengandung resiko, tapi sekarang saya mengucap syukur karena ketika saya taat mengikuti mimpi dan penglihatan semuanya di jawab Tuhan dengan kekuatan yang mengalahkan logika.

A. Berjalan Mengikuti Petunjuk Pengelihatan

Kalau saya cerita mungkin ini adalah cerita yang terbodoh. Ya, saya memang bodoh bagi dunia. Tapi saya adalah pengejar dan pencari harta yang supranatural. Sekarang saya sudah mendapat satu paket harta Cerita tentang sebuah petualangan / perjalanan yang mengikuti petunjuk penglihatan dan mimpi. Saya akan menceritakan petualangan rohani saya dalam mengikuti petunjuk sebuah penglihatan.Berawal dari sebuah penglihatan pada tahun 2006 pada saat terjadi peristiwa gempa bumi di Yogyakarta. Pada saat itu saya bersama seorang teman sedang berdoa, tiba-tiba saya di bawa ke dalam sebuah penglihatan yang luar biasa yaitu ; saya melihat ada 2 orang Sarjana Teknik Sipil berdiri, dengan helm berwarna kuning dan memegang maket di tangannya. Dua orang tersebut berdiri di antara reruntuhan bangunan, dan mereka mulai merencanakan suatu bangunan dengan desain yang luar biasa. Dari desain tersebut terbentuklah gambar bangunan yang luar biasa, setelah gambar tersebut sudah selesai, kedua orang ini mengambil Alkitab dan membacakan Firman. Setiap rumah yang akan di bangun di doakan dan di beri Firman Tuhan pada masing - masing rumah tersebut, kemudian rumah tersebut di kuduskan.

Setelah rumah tersebut selesai di bangun berdasarkan Firman Tuhan ( Keluaran 30: 26 - 30 ), saya melihat lagi ada 3 pasang keluarga yang masuk ke dalam masing-masing rumah yang di sediakan bagi mereka. Pertama, sepasang keluarga dengan pakaian hitam yang setelah memasuki rumah tersebut, pakaian mereka menjadi putih. Kedua, sepasang keluarga dengan pakaian abu-abu, ketika memasuki rumah tersebut pakaian mereka menjadi putih kembali. Dan yang ketiga, sepasang keluarga dengan pakaian putih, ketika memasuki rumah tersebut pakaian mereka menjadi semakin putih berkilau. Begitu sangat spesifik penglihatan tersebut.

Setelah selesai berdoa saya mulai merenung dan mulai berpetualang dalam batin, dengan berbagai macam pertanyaan dan percakapan dengan Tuhan. Tiba-tiba melalui hati nurani saya, Tuhan bicara, bahwa saya adalah salah satu orang yang di dalam penglihatan tersebut. Dan Tuhan pun mulai bertanya kepada saya, Maukah kamu mewujudnyatakan penglihatan tersebut? Saya hanya terdiam. Setelah melalui proses perenungan, saya bertanya apa yang bisa saya lakukan ? Saya mau, tapi saya tidak tau caranya seperti apa ? Waktu pun berlalu, seminggu sesudah bencana gempa bumi saya belum mendapatkan jawaban yang jelas tentang penglihatan tersebut. Saya berpikir penglihatan tersebut hanya suatu penglihatan biasa yang tidak ada artinya.

Saya memutuskan untuk pulang ke Kalimantan Tengah, karena saat itu tugas saya kuliah sudah selesai dan saya harus segera pulang untuk bekerja di kampung halaman. Jam 1 siang saya memasuki pesawat yang akan membawa saya berangkat ke Kalimantan Tengah, di dalam pesawat saya masih bertanya, namun Tuhan hanya diam. Kalaupun Dia bicara saya sudah berada di dalam pesawat dan sangat tidak mungkin untuk kembali lagi. Dalam keheningan saya terdiam dan mulai tertidur ketika pesawat sudah berada di atas awan. Tiba-tiba saya mendengar suara seseorang bertanya kepada saya tanpa saya sadari siapa yang memberi pertanyaan: Kamu tahu tanda-tanda jiwa-jiwa yang siap untuk di tuai ?

Saya memutar otak mencari jawaban. Belum sampai saya menjawab, Suara tersebut sudah memberi jawaban: Jiwa yang siap untuk di tuai adalah jiwa/manusia yang sedang mengalami penderitaan. Saya mulai berpikir, masuk akal juga. Suara itu menyebutkan kota tempat jiwa/manusia yang siap untuk di tuai adalah Bantul/Yogyakarta yaitu orang-orang yang sedang mangalami penderitaan akibat bencana gempa bumi. Saya kemudian tersadar, siapa orang yang telah berbicara kepada saya? Saya menengok ke kiri, kanan, depan, belakang, tak satupun orang yang saya kenal. Saya kemudian tersadar bahwa yang berbicara kepada saya adalah Tuhan Yesus, melalui suatu media yang tidak bisa saya cerna dengan logika.

Tetapi saya pegang perkataan itu dan simpan di dalam hati. Sesampainya di rumah Kalimantan saya merenung kembali, setelah 3 hari saya di rumah, Dia berkata bahwa saya harus cepat pergi karena ini adalah musim tuaian, jangan sampai saya terlewat! Saya bertanya, bagaimana caranya? Tuhan katakan, Dia akan menyediakan uang untuk membeli tiket ke Yogya, selebihnya saya harus bergantung kepada-Nya. Saya tahu saya harus taat, karena saat itu adalah musim tuaian. Saya meminta izin ke orang tua dan mereka mengizinkan, tapi mereka tidak memiliki uang untuk membeli tiket ke Yogya. Saya serahkan semuanya kepada Tuhan walaupun saya sempat berpikir kemana saya akan cari uang, setelah lelah berpikir saya tertidur. Tiba-tiba keseokan paginya jam 6, kakak saya yang berada di Yogya menelpon, dia katakan bahwa saya mendapat bantuan dana berupa uang dari pemerintah daerah Kalimantan Tengah untuk semua mahasiswa yang sekolah di Yogya, saya terdiam dan mengucap syukur.

Tiba-tiba kembali Suara supranatural itu muncul Aku sudah katakan kamu akan pergi dengan cara Ku. Tanpa kutunda lagi, aku pergi ke Yogya dengan sebuah tujuan yang saya belum mengerti caranya melakkan kehendak-Nya. Sampai di Yogya saya menginap di tempat teman dan menceritakan apa yang saya alami sepanjang perjalanan pulang ke Kalimantan Tengah. Dia memberi respon yang baik dan berusaha memberi info pekerjaan.

Setelah mengalami proses beberapa bulan di Yogya akhirnya teman saya memberitahu lowongan pekerjaan di tempat dia bekerja, sebuah LSM yang bergerak di bidang perumahan yang pada saat itu memberi bantuan perumahan korban gempa di Bantul (Yogyakarta). Saya menerima tawaran tersebut dan mulai mengerjakan dengan petunjuk sebuah penglihatan yang pernah saya alami.

Dalam mengerjakannya, berbagai macam proses kesakitan yang saya alami, ternyata menjalankan mandat dari Tuhan tidak segampang yang saya pikirkan. Banyak sekali penghalang antara lain; tidak sepikir dengan orang lain, ketika butuh tim tidak ada yang mau untuk melibatkan diri dalam proses penderitaan, mengalami masa-masa kesendirian, mengalami masa-masa kekurangan uang. Namun saya bersyukur pada saat yang tepat Tuhan kirimkan saya seorang teman untuk berjuang bersama-sama mengerjakan mandat ini. Saya mengucap syukur karena Tuhan tidak membiarkan saya berjuang seorang diri. Walaupun hanya berdua, tetapi saya tau sebuah prinsip yang mengatakan, suatu perubahan tidak perlu menunggu banyak orang, cukup dua orang pasti akan membuat suatu perubahan.

Saya juga sangat berterima kasih kepada teman saya ini yang bersedia tetap berjuang berdiri walaupun terkadang kita terbentur sebuah masalah dalam sebuah pelayanan. Kami bersepakat untuk mengunjungi salah satu keluarga di Bantul seminggu sekali. Apapun keadaan cuaca pada saat itu bila kami sudah berjanji kami akan berusaha untuk datang memberi pelayanan yang terbaik walaupun jaraknya cukup jauh dari kota Yogya.

Kunjungan kami saat itu memang bukan mengadakan suatu acara yang formal, kami hanya berbagi cerita tentang kebaikan Tuhan dalam kehidupan kami dan doa bersama-sama. Itulah pelayanan yang kita lakukan di sana dan akhirnya proses ketaatan tersebut sudah saya lewati dengan hasil yang benar-benar nyata. Saya temukan keluarga yangpernah saya layani untuk lebih kuatkan lagi di dalam Tuhan, sekarang di percayakan oleh donatur mengelola laboraturium komputer dan sanggar tari yang di salurkan melalui LSM tempat saya bekerja.

Saya teringat tindakan profetis yang pernah saya lakukan bersama teman -teman di rumah keluarga tersebut, pada saat itu kami mengajak salah satu anggota keluarga itu berdoa dan menabur minyak urapan serta bernubuat bahwa harta bangsa-bangsa akan mengalir ke tempat tersebut untuk di gunakan menjadi alat melayani sesama melalui laboraturium komputer dan sangar tari, yang saat ini tempat tersebut benar-benar di nyatakan.

Saya bersama teman-teman percaya bahwa segala sesuatu di mulai dengan Firman kemudian akan menjadi daging /nyata. Bukan hanya itu saja, saya juga bertemu dengan komunitas yang luar biasa. Yang memiliki visi yang besar yang bersedia menjadi alat Tuhan dan mau mengambil resiko hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus. Sampai saat ini kami terus bersekutu dan berjuang bersama-sama. Demikianlah cerita saya berjalan dalam mengikuti petunjuk sebuah penglihatan.

B. Berjalan Mengikuti Petunjuk Mimpi

Berikut adalah cerita saya dalam mengikuti petunjuk sebuah mimpi, saat itu saya pindah kerja dari Yogyakarta ke Bandung. 3 bulan lebih saya bekerja di Bandung, kemudian saya memilih untuk mengundurkan-diri dan pulang ke Kalimantan Tengah. Selama 3 bulan saya di Kalimantan Tengah, Tuhan memberi saya mimpi. Dalam mimpi saya saat itu berada di saat suatu sekolah yang sedang mengadakan ujian, saya tiba-tiba ingin keluar sekolah. Sampai di pintu gerbang dua orang penjaga mencegat saya dan berbicara : Mau kemana!. Saya menjawab keluar sebentar.

Kemudian mereka memberi peringatan, "jangan lama-lama karena di sesi akhir ada ujian lagi!" Saya hanya mengiyakan peringatan mereka kemudian keluar dari sekolah tersebut. Saya terbangun dari tidur. Saya mulai merenung, apa arti mimpi tersebut? Saya berdoa dan bertanya kepada Tuhan dan dapat pewahyuan Firman Tuhan (Yosua 2:1-24) tentang pengintai. Saya bertanya ke pada diri saya sendiri, apakah saya pulang hanya sebagai pengintai dan belum menyelesaikan proses sekolah Ilahi / di perlengkapi. Mimpi dan pewahyuan saat itu saya simpan dalam hati.

Waktu berlalu, seminggu berikutnya saya bermimpi hal yang sama lagi dengan makna yang sama. Saya bertanya kenapa mimpi itu terasa seperti berbicara kepada saya, kembali saya simpan dalam hati. Sebulan setelah cerita tersebut berlalu saya mimpi yang terahir kalinya. Dalam mimpi itu saya sedang jalan dengan teman dan bertemu teman-teman semasa saya kuliah dahulu: Hendrik, Euis dan Dayat. Mereka menyapa dan salah satu dari mereka kemudian bertanya,"Kamu kenapa tidak mengikuti ujian ?" Saya kaget dan terbangun jam 3 pagi. Saya renungkan dan bertanya kepada Tuhan, "Engkaukah yang berbicara?"

Saat itu Tuhan bicara melalui hati nurani saya, Ya, kamu harus menyelesaikan ujianmu yang terahir dan keluar dari kota ini. Saat itu saya belum memiliki pekerjaan yang tetap dan saya minta kepada Tuhan melalui doa bahwa saya butuh pekerjaan. Tuhan katakan bergantunglah dengan petunjuk-Ku melalui mimpi itu. Seminggu berlalu saya keluar dari Kalimantan Tengah dan pergi menuju Yogyakarta walaupun saya tidak tau apa tujuan saya berada di kota itu. Akhir November saya tiba di Yogyakarta tanpa tanda-tanda apa yang harus saya kerjakan di tempat itu dan saat itu saya belum memiliki pekerjaan. Saya belajar taat menanti Dia menyatakan petunjuk mimpi itu sambil bergumul untuk pekerjaan.

Tanggal 9 Desember setelah saya berdoa, teman saya bernama Dayat yang saya temui di dalam mimpi menelpon, dia menawarkan pekerjaan dan saat itu saya meresponi tawaran tersebut dan kita banyak ngobrol tentang teman-teman yang lain. Sampai ahirnya pembicaraan pun selesai. Tetapi yang membuat saya heran, bagaimana bisa dia menghubungi saya padahal kami sudah lama kehilangan kontak. Dan yang lebih mengherankan lagi untuk apa dia menelepon saya hanya untuk menawarkan pekerjaan? Apakah dia tau saya sedang tidak bekerja? Mengapa dia tidak menghubungi teman teman dekatnya yang lain ? Berbagai macam pertanyaan di dalam benak saya.

Sampai ahirnya saya sadar bahwa ini adalah petunjuk dari sebuah mimpi saya ketika di Kalimantan Tengah. Saya kaget dan berdoa, Tuhan benar -benar sedang berbicara kepada saya melalui mimpi. Waktu berlalu namun tidak ada kabar dari teman saya Dayat. Dia pernah berpesan saya harus bersabar menanti proses pekerjaan tersebut. Saya menanti, sampai saya dikagetkan lagi tepat tanggal 24 Desember 2008 teman saya Euis yang saya temui di dalam mimpi juga menelepon saya dan menawarkan pekerjaan. Saya benar-benar kaget saat itu dan menangis karena Tuhan itu benar-benar hidup dan nyata. Saya juga meresponi tawaran pekerjaan ini dan saya bawa ke dalam doa. Saya serahkan ke dalam tangan Tuhan dimanakah saya akan bekerja, di Serang (Dayat tawarkan) atau Bandung (Euis tawarkan).

Saya berdoa seperti ini: "Tuhan kalau Engkau suka pekerjaan itu, buka jalan, tetapi kalau Engkau tidak suka tutup jalan." Ternyata Tuhan langsung jawab ketika saya serahkan, Dia tidak suka pekerjaan itu. Pada tanggal 25 Desember 2008 pekerjaan yang di tawarkan Euis kepada saya di batalkan tanpa ada alasan yang jelas. Saat itu saya hanya berserah dan percaya Dia pasti tau yang terbaik bagi saya. Menjelang tahun yang baru saya dengan teman-teman komunitas memiliki komitmen yang baru untuk tahun 2009 bahwa setiap kami sudah tidak berhak lagi mengatur jalan sendiri karena otoritas hidup sudah kami serahkan kepada Tuhan. Jadi kami benar-benar belajar membangun hidup yang di kendalikan oleh Roh Kudus. Memasuki Tahun 2009 saya hanya bisa bertanya-tanya Tuhan, akan kemana Tuhan bawa saya dengan petunjuk mimpi itu. Siang hari tepat pada tanggal 5 Januari 2009 saya di telepon lagi oleh teman saya Euis, dia berkata temannya butuh satu orang untuk melengkapi team mereka dan dia menawarkan pekerjaan itu kepada saya.

Saya sangat senang, dan saya benar-benar percaya bahwa Tuhan menjamin saya. Saat itu saya mengucap syukur di dalam doa dan sudah merencanakan untuk pergi ke Bandung. Tiba-tiba Dia bicara kepada saya, "Kamu sudah tau bahwa Akulah yang berbicara dalam mimpimu, dan Aku lah yang memberi kamu pekerjaan." Apakah kamu rela melepaskan pekerjaan itu kalau Aku minta kembali? Saat itu saya hanya terdiam, dan berjiwa besar melepaskan pekerjaan itu, karena saya tau semua itu juga berasal dari Dia. Saya berkata kepada TUHAN, "Sekalipun saya tidak mendapatkan semua pekerjaan itu saya akan tetap berjuang mengucap syukur."

Seminggu berlalu pekerjaan tersebut benar-benar di batalkan. Kembali saya berdoa dan mengucap syukur. Saya berpikir Tuhan pasti akan segera menggantikan dengan pekerjaan lain. Memang tidak salah, satu hari setelah pembatalan tersebut teman saya yang berada di Kalimantan Tengah menelepon saya dan menawarkan pekerjaan serta jaminan uang transportasi jika saya bersedia bekerjasama. Kesaksian saya sudah saya kirim di situs e-Artikel dengan judul Berjuang dalam Pertandingan Iman

Saya mengerti kenapa saya sampai di bawa ke Kalimantan Tengah dan mengalami peristiwa yang sangat mengecewakan, itu semua karena Tuhan ingin melihat sikap hati saya, apakah benar kalau saya tidak mendapatkan apa-apa dari semua pekerjaan tersebut saya tetap berusaha mengucap syukur? Sekalipun dalam kondisi kesakitan dan pengorbanan, saat itu saya menyadari, di tengah-tengah kekecewaan, kesakitan dan kekurangan, saya benar-benar harus berjuang untuk tetap mengucap syukur, karena pengucapan syukur di tengah kesakitan adalah persembahan yang harum di hadapanNya.

Saya belajar bahwa pengalaman petualangan ini adalah petualangan saya mengejar harta sorgawi dimana saya benar-benar melihat bahwa Tuhan Yesus yang saya sembah benar-benar hidup. Dan hal yang membuat saya lebih terkesan lagi adalah saya memiliki petualangan pribadi bersama dengan Dia. Saya tahu petualangan pribadi ini adalah senjata untuk saya menghadapi peristiwa di akhir zaman, karena satu-satunya yang bisa membuat orang berakar dalam Tuhan adalah memiliki perjumpaan pribadi dengan Tuhan. Sehingga, meskipun bumi bergoncang dan laut bergelora, kita tetap bisa mengatakan bahwa Yesus tetap Tuhan dan Juru Selamat dalam hidup setiap kita. AMIN.

Perbedaan Kita dan 'Mereka'

Oleh: Francisca
"Apa sih bedanya Kristen sama non-Kristen?"
Apakah pertanyaan itu pernah ada di pikiran Anda?
Pikiran serupa pernah ada di benak saya. Ketika saya sudah kenal Tuhan Yesus dan saya sudah mengakui Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat, tapi justru pertanyaan itu muncul di benak saya.
Di dalam keseharian saya, banyak sekali kejadian yang mempertanyakan apa perbedaan saya dengan ‘mereka’. Terkadang, ‘mereka’ hidup lebih diberkati dan mungkin terlihat lebih bahagia.
Begitu banyak kejadian yang mungkin terlihat lebih membahagiakan terjadi kepada ‘mereka’. Mungkin ‘mereka’ bisa hidup tanpa kesusahan ekonomi dengan keluarga yang bahagia, padahal ‘mereka’ tidak kenal Tuhan Yesus dan hidup tidak sesuai dengan ajaran Kristus. Bahkan, ‘mereka’ bermain curang akan tetapi hidup mereka seolah-olah lebih diberkati dibanding saya, yang sudah kenal Tuhan dan belajar melakukan kehendakNya.
Saya, seorang mahasiswi yang hidup di tengah keluarga yang bisa dibilang cukup berantakan. Puji Tuhan, saya sudah merasakan kasih Tuhan Yesus dan percaya bahwa hanya Tuhan satu-satunya jalan kebenaran. Orang tua saya terikat pada perjudian dan kakak saya benci kepada orang tua saya, sehingga ia pergi dari rumah dan hidup sendiri. Perjudian sudah mengikat orang tua saya sebelum kakak saya lahir, sehingga sulit untuk melepaskan tali pengikat tersebut.
Perjudian menyebabkan banyak kehancuran di keluarga saya. Kehilangan sosok orang tua dan juga kakak. Perjudian orang tua saya menyebabkan saya harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan saya, karena orang tua saya tidak mampu menghidupi saya. Puji Tuhan, masih ada saudara yang mau membantu biaya kuliah saya dan keluarga saya.
Bukan hanya dalam hal ekonomi, tapi juga keharmonisan keluarga direnggut oleh perjudian ini. Orang tua saya selalu berantam. Berat rasanya di usia ke-20 saya sudah melihat kejadian yang tidak menyenangkan, di mana barang-barang yang berterbangan di rumah, mulai dari kursi hingga asbak, melihat Ibu saya pingsan karena ditampar Ayah saya hingga pencobaan bunuh diri oleh Ayah saya dengan meminum obat nyamuk, lalu melihat Ayah saya membenturkan kepalanya di tembok, juga Ibu saya yang mencoba bunuh diri dengan pisau.
Mulailah timbul pertanyaan di atas. Saya melihat begitu banyak teman-teman saya yang hidupnya tidak benar, mulai dari merokok hingga free sex, tetapi hidup mereka tetap penuh dengan keluarga yang harmonis dan tidak terlihat kesusahan dalam hidup mereka. Saya mulai merenungkan pertanyaan ini hingga suatu hari saya mendapatkan jawabannya.
Ada dua hal yang saya pelajari, pertama, saya mendapatkan jawaban ini ketika saya sedang sharing dengan paman saya. Beliau berkata, "Ya kamu harus kuat dan tetap bersyukur. Kamu kenal Tuhan Yesus, dan kakak tidak. Inilah apa yang membedakan orang yang hidupnya sungguh-sungguh dalam Tuhan dan tidak. Orang yang hidup sungguh-sungguh dalam Tuhan, ketika diterpa masalah dia tetap setia dan tetap kuat, karena ada Tuhan Yesus yang menopang. Tetapi, orang yang tidak sungguh-sungguh pasti akan pergi dan meninggalkan seperti kakak kamu yang mungkin belum kenal Tuhan." Beliau menambahkan, "Orang Kristen dan non-kristen pasti sama-sama punya masalah. Apa yang membedakan? Ketika masalah datang, orang Kristen tetap kuat dan teguh karena ada pengharapan dari Tuhan Yesus. Sedangkan yang tidak percaya Tuhan pasti akan kehilangan harapan. Karena itu, kita banyak mendengar ada banyak orang yang mau bunuh diri, kan?
Hal kedua, saya dapat ketika saya sedang mempersiapkan bahan untuk sharing di gereja saya. Hal ini membicarakan mengenai grace and favor. Kita sering salah tangkap mengenai definisi grace dan favor, dimana kita pikir keduanya memiliki pengertian yang sama, padahal tidak. Grace atau anugrah adalah hal yang dapat diterima secara cuma-cuma, sedangkan favor atau perkenanan Tuhan adalah hal yang dapat diterima dengan bayar harga atau berkorban, sehingga tidak semua orang dapat merasakannya.
Sebagai ilustrasi, ketika bekerja, semua orang mendapatkan gaji sebesar Rp 3.000.000,00. Ini dinamakan grace karena standar di perusahaan tersebut adalah Rp 3.000.000,00. Tetapi, ketika kita bekerja lebih giat, dimana jam kerja selesai pukul 5 sore akan tetapi kita selesai pukul 6, maka atasan kita berbaik hati dan menggaji kita sebesar Rp 4.000.000,00, ini dinamakan favor. Hal yang tidak dapat dirasakan semua orang, tetapi harus ada pengorbanan.
Di hal kedua ini, saya simpulkan, hal yang membedakan kita sebagai orang percaya dengan orang di luar sana, bahwa ada perkenanan Tuhan di dalam hidup saya. Anugrah Tuhan seperti kehidupan di bumi mungkin dapat didapatkan oleh semua orang, tetapi keselamatan ilahi, hanya dapat dirasakan oleh orang yang hidupnya berkenan di mata Tuhan dan untuk hidup berkenan dibutuhkan pengorbanan seperti melawan keinginan daging. Disaat semua orang memandang korupsi hal yang sudah wajar, kita tetap setia dalam Tuhan, walaupun mungkin kita akan difitnah atau dibenci oleh sekeliling kita.
Biarlah setiap kita boleh didapatkan setia di mata Tuhan dan berpegang pada firmanNya. Walaupun, mungkin terkadang kita melihat ketidakadilan, akan tetapi percayalah bahwa Tuhan punya cara dan Ia selalu mendatangkan kebaikan. Semoga artikel saya dapat memberkati pembaca, Tuhan berkati!
"Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi" Yosua 1:7

Perjalanan Jeng Verina en Den Vincent Ke Eropa -Part 02

Oleh: Den Vincent en Jeng Verina

Hari Rabu tanggal 13 Oktober 2004, pagi, semula kami menjadwalkan untuk ke Basilika Saint Peter, namun pagi itu adalah hari Rabu yang secara rutin dipergunakan Papal Audiensi, maka perjalanan kami tukar dengan menuju Catacombs of San Sebastiano (catacombe kedua terbesar setelah Catacombs of Saint Callixtus). Catacombe di sini ada 3 tingkat ke bawah dan merupakan kuburan pertama-tama bagi pengikut Ajaran Kristus. Memasuki bangunan depan adalah basilika St. Sebastian yang dibangun pada abad 4, dimana di situ ada makam St. Sebastian. Konon jenasah St. Peter dan St. Paulus pernah disembunyikan di sini. Lorong di catacombe ini mencapai 11 km, dengan banyak mosaic dan graffiti.

Di Roma tercatat ada 69 catacombe, kini tinggal 5 catacombe yang dapat dipertontonkan pada umum. 6 catacombe diantaranya adalah milik orang Yahudi (namun 4 diantaranya sudah lenyap tak berbekas). Apabila kita pergi ke Catacombs of Saint Callixtus (atau San Callisto ini yang paling terkenal dari sekian catacombe), kita akan menyaksikan kuburan para martir di bawah tanah yang mengagumkan (dibuat 4 dan kadang 5 tingkat di bawah tanah, dengan luas area 90 acres) beserta ruangan-ruangan dengan meja kecil sebagai altarnya untuk tempat ibadah selama para pengikut Yesus saling menyebarkan Ajaran Kristus secara sembunyi-sembunyi. Tempat ini memang menakjubkan, apalagi bila kita bayangkan bahwa ini terjadi pada jaman abad ke 1. Ruangan-ruangan ini berada kira-kira 20-30 meter (yang diperbolehkan untuk turis hanya 3 tingkat) di bawah permukaan tanah dengan lorong-lorong yang berkilo meter panjangnya (total panjangnya lorong-lorong ini 17 kilometer, memang luar biasa) untuk tempat pelarian bila mereka dikejar-kejar oleh Tentara Romawi pada waktu itu (abad pertama, kira-kira tahun 50 setelah Yesus wafat dan naik ke Surga) hingga tahun 340 an sampai Ajaran Yesus menjadi agama resmi negara yaitu ketika Raja Constantine (Raja Romawi) dibaptis menjadi pengikut Yesus.

Yang mengagumkan pula di semua ruangan bawah tanah ini temperaturnya tetap dingin dan stabil sepanjang tahun, baik dalam musim panas maupun pada musim dingin. Di beberapa ruangan pada langit-langit atau dinding yang banyak ditemukan gambar-gambar tangan tentang Last Supper, lambang-lambang Kristus, dsb. Ruangan-ruangan tersebut diselang-seling dengan ratusan ribu kuburan (totalnya pernah mencapai 160.000 jenasah) yang ditanam pada dinding kiri-kanan lorong secara tumpuk. Di sini dimakamkan jenasah 9 orang martir pengikut Ajaran Kristus awal dan 16 Paus (Pontianus, Antherus, Fabian, Lucius, Eutichian, and Pope Sixtus II) sekitar tahun 280 serta makam Santa Cecilia (santa permusikan).

Jenasah Rasul Petrus dan Santo Paulus sempat disembunyikan di sini untuk pengamanannya waktu itu hingga akhirnya dipindahkan ke Basilika Saint Peter dan Basilika San Paolo. Di Catacombe ini disediakan secara gratis guide yang menguasai beberapa bahasa. Selain untuk menjelaskan sejarah catacombe, mereka juga membimbing arah perjalanan selama berada di bawah tanah tadi. Lorong-lorong yang begitu banyak dan berkelok-kelok sungguh membingungkan (seperti jalan tikus) yang memang dibuat sedemikian rupa supaya para tentara Romawi akan kesulitan untuk menangkap mereka.

Catacombe adalah bukti sejarah bahwa gereja pada mulanya adalah gereja para martir dan orang-orang Kristen yang telah membuktikan cinta dan kesetiaan kepada Kristus dalam hidup kesehariannya. "Hari ini Gereja kembali telah menjadi Gereja Para Martir" (kata Paus Johannes Paulus II). Kenangan akan asal mula dan kunjungan ke Catacombe membantu kita untuk memahami dengan lebih baik lagi arti dan nilai kesaksian para martir, yang ditawarkan oleh gereja kepada dunia di akhir milenium ketiga.

Dari Catacombe San Callixtus, persis di pintu keluar ada pertigaan/persimpangan jalan, yang dikenal sebagai jalan Appia Antica, yakni jalan yang dilalui Rasul Petrus ketika melarikan diri dari Penjara Mamertine di Roma, karena tidak tahan siksaan dan perlakuan orang Romawi, Petrus kemudian memutuskan untuk meninggalkan Roma yang diartikan sebagai meninggalkan penderitaan. Ketika Petrus tiba di suatu persimpangan jalan tadi (yang bercabang dua, persis di depan pintu masuk gerbang Catacombe), ia bertemu dengan seorang asing, yang kemudian disapanya dengan kata: "Domine, quo vadis?", yang kurang lebih artinya "Tuan, mau ke mana?". Orang asing itu kemudian menjawab: "Venio iterum crucifigi", artinya "Aku akan kembali ke Roma untuk disalibkan kedua kalinya". Petrus terhenyak mendengar jawaban itu; ia merasa tersindir dan disadarkan kembali untuk balik ke Roma, karena tugasnya belum selesai.

Kemudian orang tersebut lenyap dengan meninggalkan jejak kaki pada batu tempat berpijaknya. Diyakini bahwa orang asing tersebut adalah Yesus sendiri. Maka di dekat tempat itu dibangun kapel kecil yang dinamakan the Church of Domine Quo Vadis. Petrus sendiri di akhir hidupnya dipenjara dan dihukum mati dengan cara disalib terbalik. Petrus bersama-sama dengan Paulus banyak berkarya di Roma, yang kemudian secara Ajaran Rasuliah terus berkembang menjadi Katolik turun temurun hingga sekarang ini ke seluruh dunia, termasuk Indonesia, China, Rusia, Amerika Latin, dll.

Setelah kenyang makan siang di restoran Jing Yuan (belakang Vatican City), perjalanan dilanjutkan ke Musei Vaticani (Museum Vatican) dan Sistine Chapel yang terkenal lukisan masterpiece Michelangelo yaitu Penghakiman Terakhir. Untuk memasuki Museum Vatican, kita harus beli tiket 12 euro per orang. Masuk melalui Viale del Vaticano, melalui tangga spiral kita tiba di galeri lukisan-lukisan (Pinacoteca). Pinacoteca Vaticana ini terdiri dari 15 ruangan yang menyajikan berbagai goresan dari primitive hingga yang abad 18. Ruangan pertama adalah lukisan-lukisan primitif "Penghakiman Terakhir" (abad 11) oleh Giovanni dan Niccolo. Ruangan ke sembilan adalah lukisan dari Leonardo da Vinci berjudul "St. Jerome" dan ada lukisan yang belum selesai.

Selesai ruangan ke limabelas yaitu ruangan berisi potrait-potrait, kita memasuki museum antik yang kaya akan koleksi seni klasik dunia, dimana banyak koleksi dari para Paus terdahulu (Clement XIV, Pius VI, Pius VII, dan Gregory XVI). Semua yang kita saksikan yaitu lukisan-lukisan dan ukiran patung dari batu marmer yang memang sungguh luar biasa, mungkin terindah dan terbaik di dunia yang tiada bandingannya.

Akhirnya kita memasuki Sistine Chapel (Kapel Sistina), didesign oleh arsitek Giovannino de"Dolci untuk Paus Sixtus IV sebagai kompleks yang sangat penting dari sisi artistik, kepercayaan, dan sejarah. Kapel ini masih dipakai sebagai tempat pertemuan para kardinal untuk pemilihan paus baru, yang kemudian menyiarkan hasilnya kepada dunia melalui asap yang dikeluarkan (asap hitam berarti belum ada keputusan pemilihan, dan asap putih berarti sudah ada paus yang terpilih). Lukisan dinding di Sistine Chapel 1481-1483 dan lukisan pada langit-langit (ceiling) berlangsung 25 tahun berikutnya, melibatkan pelukis terkemuka Michelangelo, Pinturicchio, dan Signorelli; Botticelli, Ghirlandaio, dan Cosimo Rosselli.

Yang paling hebat tiada bandingnya adalah lukisan ceiling tahun 1508-1512 oleh Michelangelo, melukiskan cerita dari Alkitab (yang kalau dirinci ada 300 lukisan). Dengan perpaduan pahatan marmer dari Ignudi mempersembahkan gambar besar "Seven Prophets and Five Sibyls" (7 Nabi dan 5 Sibyls).

Lukisan yang di tengah-tengah ceiling menggambarkan skenario Kitab Kejadian, dimulai dari atas adalah Nabi Yunus (Jonah):
- Penciptaan adanya terang.
- Penciptaan bintang dan tumbuh-tumbuhan.
- Allah memisahkan tanah dari air.
- Penciptaan Adam.
- Penciptaan Hawa.
- Jatuhnya dosa dan pengusiran dari Taman Eden.
- Pengurbanan Nabi Nuh.
- Banjir.
- Mabuknya Nabi Nuh.

Kemudian pada dinding altar oleh Michelangelo dilukis The Last Judgement (Penghakiman Terakhir), ini salah satu karya hebatnya sang maestro segala abad Michelangelo. Setelah puas memandangi dan menikmati lukisan masterpiece tersebut, kita memasuki Raphael Rooms. Di situ Paus Julius II menunjuk anak muda berumur 25 tahun bernama Raphael Sanzio di musim gugur tahun 1508 melukis dinding "Kebakaran di Borgo", "Sala della Segnatura" (ada lukisan "The School of Athens"), "Room of Heliodorus", "Room of Constantine" (lukisan ini setelah Raphael mati, diteruskan muridnya) dan di ruangan ini ada Chapel of Nicholas V.

Setelah hati dan pikiran ini takjub yang tak habis-habisnya selama menyaksikan kehebatan para seniman jaman dahulu (berabad-abad yang lalu) di Museum Vatican dan lebih-lebih di Sistine Chapel dengan mahakarya Michelangelo, kami menuju Basilika Saint Peter yang letaknya bersebelahan dengan Sistine Chapel. Roma merupakan pusat dan asal mula Ajaran Yesus ke seluruh dunia. "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku", kata Yesus kepada murid-Nya bernama Simon alias Peter (yang artinya "batu karang"). Dan ternyata penyebaran "Kabar Baik" Ajaran Yesus ke seluruh dunia yang terbesar memang dari karya Peter dimulai dari Roma.

Kota Vatican adalah negara kecil yang terpisah dari Roma, dengan kepala negaranya adalah Paus. Konon dahulu Roma juga mencakup Vatican, tapi karena dari sejarah gereja, bilamana dua kekuasaan dipegang oleh tangan yang sama (sebagai kepala negara dan kepala agama), maka akan terjadi kekacauan dan penyimpangan-penyimpangan, maka keduanya kini dipisah. Di sinilah tempat para martir, termasuk Santo Petrus, menghadapi ajalnya. Basilika Saint Peter dibangun pada tahun 324 oleh Kaisar Constantinus untuk menghormati ke 12 Rasul Yesus. Berbagai perubahan juga terjadi di sini. Di depan basilika ada lapangan besar berbentuk setengah lingkaran. Di tengah-tengah lapangan ada obelisk, yang merupakan bukti kejayaan Kaisar Nero.

Kabarnya obelisk ini dibawa dari tempat asalnya Mesir sebagai simbol, bahwa dimana ada penderitaan dan kekejaman terbesar, di situlah terjadi kebesaran Tuhan dan kebangkitan bagi yang tertindas (yakni martir-martir yang dibunuh). Di dekat obelisk ini ada tanda seperti bintang; bila kita berdiri di titik itu, maka semua pilar bersusun tiga lapis yang mengelilingi lapangan akan tampak seolah-olah hanya satu lapis pilar. Ini membuktikan salah satu kehebatan para arsitek jaman Romawi. Di sisi obelisk terdapat 2 air mancur karya arsitek terkenal Bernini. Di lapangan inilah biasanya dilakukan berbagai upacara keagamaan, termasuk untuk acara audiensi Paus. Setiap hari Rabu diadakan Doa Angelus yang biasanya dipimpin langsung oleh Paus Johannes Paulus II tepat jam 12:00. Doa berlangsung selama 30 menit.

Basilika Saint Peter dari luar menampakkan 9 buah balkon, satu diantaranya tempat Paus biasa melambaikan tangan dan memberkati umatnya (Urbi et Orbi) pada hari Natal dan Paskah. Ada 5 pintu masuk, dengan atrium yang dihiasi oleh patung-patung besar. Di pintu tengah ada figur Santo Petrus dan Paulus, sebagai salah satu karya seni dari para pemahat. Pintu di sebelah paling kanan adalah Porta Santa. Pintu inilah yang dibuka oleh Paus setiap kali mengawali tahun Jubileum dengan menggunakan palu untuk upacara.

Saat memasuki basilika, yang ada hanyalah rasa kagum, terharu, dan heran yang tidak habis-habisnya. Decak kagum tak lepas-lepas keluar dari bibir, rasanya perpaduan antara karya seni yang hebat, keanggunan, kemegahan, sekaligus ekspresi iman yang begitu kuat untuk memuji dan memuliakan Allah. Mengagumi tempat suci yang bukan sekedar untuk disakralkan dan jauh dari umat, namun justru begitu memasyarakat dan boleh didekati oleh siapapun, termasuk oleh mereka yang non-Kristen. Terlihat juga pengunjung yang berasal dari Arab dengan memakai jilbab menyaksikan kebesaran Basilika Saint Peter yang mengagumkan ini.

Begitu terbukanya gereja bagi manusia, yang secara konsekuen membuktikan filosofi yang dianut, bahwa Tuhan terbuka bagi siapapun. Seluruh gedung dan dekorasi bergaya Renaissance dan Baroque serasa turut memuji kebesaranNya, dikemas dalam selera seni yang tinggi, mencerminkan kesucian Gereja Katolik. Mulai dengan tempat air suci yang dibuat pada abad 18 dan patung perunggu Santo Petrus (abad 13), patung berikutnya adalah karya terkenal dari Michelangelo pada tahun 1499-1500, yakni "Pieta". Patung ini dibuat ketika Michelangelo berusia 24 tahun, satu-satunya karya yang memuat tanda tangannya. Ide yang dimunculkan adalah perpaduan antara kecantikan dan dampak emosional yang kuat serta kelembutan dari Bunda Maria yang sedang menggendong jenasah Yesus, anaknya.

Di pinggir gereja ada kapel-kapel yang diberi nama para Santo, masing-masing mempunyai ciri khas sendiri dalam dekorasinya (Kapel Santo Sebastian, Kapel Sakramen Kudus, Kapel Gregorian, Kapel Santo Michael, Kapel Santo Clementine, kapel untuk paduan suara, kapel untuk presentasi, dll.). Pada Altar Utama (Papal Altar) tampak ada satu kursi singgasana, dengan keempat kakinya disangga oleh 4 Santo, yakni kedua kaki kursi depan disangga oleh St. Ambrose dan St. Augustine dari Gereja Roman serta St. Athanasius dan St. John Chrysostom dari Gereja Greek. Kesemua santo tersebut secara konsisten selalu mengajarkan sesuai doktrin teologi dari St. Peter. Ini memberikan arti bahwa gereja terbuka untuk dunia mana saja, baik Barat maupun Timur. Persis di bawah Papal Altar inilah kuburan Rasul Petrus yang berada di basement basilika. Latar belakang altar utama adalah ruangan dinamakan Chapel Cathedra, dimana di situ ada jendela kaca berbentuk bulat agak oval vertikal bergambar burung merpati sebagai lambang Roh Kudus.

Makam Rasul Petrus (murid Yesus yang sekaligus Paus Pertama), yang ditandai dengan adanya lampu merah menyala. Berjejer setelah makam Petrus terdapat 147 kuburan para Paus yang seluruhnya terbuat dari marmer. Termasuk di antaranya adalah kuburan Paus Johannes Paulus I, Paus Johannes XXIII, Paus Paulus VI, dll. Semua makam tadi berada di basement persis di bawah lantai Basilika Saint Peter yang sangat besar itu, memang sungguh luar biasa. Di bagian kiri gereja tampak dua orang penjaga yang kabarnya merupakan prajurit Swiss (keamanan di Vatican menjadi tanggung jawab pemerintah Swiss). Mereka mengenakan pakaian kreasi Michelangelo dengan warna mencolok dan masih dipertahankan keasliannya sampai sekarang.

Berjalan kurang lebih 300 meter ke luar dari Vatican, ada toko souvenir "Soprani", yang terkenal murah meriah dengan kualitas yang sepadan. Untuk mencapai Basilika Saint Peter ini ada beberapa cara, yaitu naik metro A berhenti di Ottaviano, atau menggunakan bus 62, 98, 46, 482, 881. Sorenya kami menuju Basilika Santa Maria Maggiore (St. Mary Major Basilica) dengan menggunakan metro A atau metro B berhenti di Stasiun Termini, atau bisa juga menggunakan bus 4, 9, 14, 16, 27, 70, 71, 613, 714, 715.

Dari depan luar basilika, tampak bangunan bergaya baroque. Persis di tengah lapangan depan basilika, berdiri kolom marmer dari basilika awal Massentius. Obelisk kuno ini dibawa dan ditaruh ke situ oleh Paus Sixtus V. Masuk ke dalam basilika ini, kita akan kagum kemegahan bangunan dengan interior menampilkan baldacchino serba ukiran wah dan cantik karya Gian Lorenzo Bernini. Ruangan utama dalam basilika ini adalah Sistine Chapel yang dipenuhi karya seni tinggi pada dinding dan ceiling. Ruangan bagus lainnya adalah Kapel Pauline dan Kapel Koor Musim Dingin. Ukiran kayu pada ceiling karya Antonio da Sangallo. Pada altar Kapel Pauline terpampang ikon Sang Perawan.

Perkenanan Tuhan Hanya Sejauh Doa

Oleh: Anastasia Claudya Benedicta

Semua pelayan atau konselor tahu bahwa lebih sulit melayani orang yang pernah sungguh-sungguh terjun dalam pelayanan lalu mundur ketimbang melayani orang yang belum mengenal Tuhan. Kasusnya seperti seseorang yang pernah melayani kemudian mengalami gesekan dengan teman sepelayanan lalu mengundurkan diri dan keluar.

Perlu diketahui untuk kembali lagi butuh energi minimal dua kali lipat dibandingkan dengan orang yang belum mengenal Tuhan terus bertobat. Mengapa? Dalam Matius 12:43-45, Yesus berkata bahwa roh jahat tersebut membawa tujuh roh lain yang lebih jahat. Dan caranya bagaimana? Ada seorang hamba Tuhan yang bernama William Carey, seorang bapak misi, dia merintis misi di dunia modern berkata "Doa yang bersungguh-sungguh dan penuh kepercayaan adalah sumber semua kesalehan pribadi".

Firman Tuhan berkata bahwa kita adalah rumah doa, kita perlu baca firman Tuhan, kita perlu rajin pelayanan, kita perlu khotbah, kita perlu menginjili, kita perlu kunjungan akan tetapi perlu kita ketahui Yesus itu lebih banyak berdoa, Yesus berdoa semalaman, Yesus berdoa seorang diri, pagi-pagi benar sebelum orang lain bangun, Dia sudah bangun terlebih dahulu untuk berdoa. Doa itu persiapan karena waktu kita berdoa, kita mendengar suara Tuhan sehingga kita akan taat mengikuti apa yang yang menjadi kehendakNya. Doa itu sangatlah penting karena doa yang membuat kita bertumbuh serta melepaskan kita dari dosa-dosa kita. Matius 26:41, Yesus mengingatkan bahwa daging itu lemah sehingga manusia masih bisa tergoda, Yesus juga berkata agar kita selalu berjaga-jaga dengan satu cara yaitu berdoa.

Memang pentingnya berdoa tidak dapat digambarkan, tetapi marilah kita ikuti teladan Yesus yang banyak berdoa. Ada opini yang mengatakan mengapa kita memiliki pergumulan sekian lama tetapi tidak selesai-selesai? Hal tersebut terjadi karena kita kurang berdoa. Tahukan bahwa Yesus berdoa selama berjam-jam, para peneliti Alkitab menyimpulkan tiap hari Yesus minimal berdoa tiga jam, itu sebabnya Ia dapat usir setan hanya dua detik, Ia bangkitkan orang mati hanya lima detik, Dia bangkitkan orang lumpuh hanya tiga detik. Di mana kita tahu bahwa Yesus dapat membuat mukjizat yang lumpuh dapat berjalan, yang buta dapat melihat dan bisu dapat bicara. Hal tersebut terjadi karena Dia berdoa.


Ada tiga fungsi rumah doa, jika kita ingin berfungsi untuk menjadi rumah doa lakukan tiga hal ini. Ayat utama Matius 7:7 yang merupakan bagian dari khotbah Yesus di bukit. Ada tiga fungsi rumah doa dari ayat tersebut.
Pertama, rumah doa adalah rumah permintaan. Kita ini adalah rumah permintaan di mana Tuhan dengar apa yang kita minta, akan tetapi masalahnya kita jarang meminta. Tuhan senang saat kita meminta, ada seorang hamba Tuhan yang bernama John Wesley berkata bahwa "Allah tidak melakukan apapun selain menjawab doa. Doa menggerakan tangan Allah untuk bertindak. Melalui doa, Allah membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin", oleh sebab itu Tuhan tidak melakukan apa pun dalam hidup kita selain menjawab doa kita. Artinya, kalau kita jarang beroda, jarang meminta, Tuhan tidak akan membuat apa-apa. Semakin banyak kita meminta kepada Tuhan, semakin Tuhan bekerja dan belajar berani meminta hal-hal yang mustahil.

Banyak ditemukan orang-orang jarang meminta hal-hal yang mustahil, mereka hanya meminta jika mereka sedang dalam kondisi kebingungan. Dan sekarang banyak orang berpikir, semakin kita dewasa dalam Tuhan harusnya semakin sedikit meminta, tapi anggapan tersebut salah. Kedewasaan rohani artinya makin bergantung dengan Tuhan, makin sedikit mengandalkan kekuatan sendiri, makin banyak andalkan Tuhan. Jadi, semakin banyak minta pertolongan kepada Tuhan, itu bisa disebut semakin dewasa rohani.
Kedua, rumah doa adalah rumah penyembahan. Tahukan bahwa kita harus banyak menyembah, di Matius 7:7b berkata "carilah maka kamu akan mendapat", apa yang kita dapat? Saat kita mencari lewat doa, kita dapatkan wajah Tuhan, kita dapatkan kekuatan dari Tuhan. Yohanes 4:23 menyatakan bahwa Tuhan tidak mencari penyembahan akan tetapi Tuhan mencari penyembah, keduanya merupakan dua hal yang berbeda. Dan yang kedua, waktu kita mencari Tuhan kita dapat perkenanan (Yesaya 55:6). Perkenanan atau favor itu artinya kita diperlakukan beda dengan orang lain, seperti Yusuf itu dikenan saat ia di rumah Potifar, saat ia di penjara ia dikenan oleh kepala penjara dan juga saat ia di istana Firaun. Kita butuh perkenanan Tuhan bahkan sekalipun masalah kita belum selesai, Tuhan memberikan perkenanan dan kita tetap mendapat perlakuan khusus dariNya. Ketiga, di saat kita mencari Tuhan kita akan mendapat perlindungan, Zefanya 2:3 ayat ini membicarakan tentang akhir zaman dan kenapa Tuhan ingin kita lebih banyak berdoa? Karena Tuhan berjanji orang yang banyak berdoa, orang yang banyak menyembah, orang yang yang mencari wajahNya akan diselamatkan dan membuat Tuhan akan melindungi kita pada hari kemurkaan.

Terakhir, rumah doa adalah rumah syafaat yang artinya kita berdoa untuk orang lain. Apabila kita berdoa jangan hanya berdoa untuk diri kita sendiri tetapi kita juga harus bersyafaat. Tuhan menghendaki kita bersyafaat berdoa untuk orang lain karena Alkitab berkata jika dua orang bersepakat meminta apapun juga, Bapa di sorga akan mengabulkan (Matius 18:19). Perlu disadari bahwa kita ada di sini hingga saat ini itu juga berkat doa orang lain.



Perpuluhan

Oleh: Satura

 

Ketika Gereja-gereja aliran Neo Pentakosta atau Kharismatik semakin menggurita, ada salah satu fenomena yang menggelitik pribadi saya sebagai orang terlibat dalam dunia pelayanan gerejawi, yaitu soal Perpuluhan atau Persepuluhan.

Perpuluhan menjadi sebuah bagian dari kehidupan "ber-Tuhan" orang-orang Kristen saat ini, bahkan gereja-gereja aliran mainstream yang sebelumnya tidak menggunakan "konsep" Perpuluhan dalam gerejanya, mulai ikut-ikutan mengadopsi persembahan Perpuluhan dalam kegiatan kerohanian mereka. Kalau istilah saya, mulai mengikuti trend yang ada. Hehehehehee..

Namun dari ajaran dan praktik Perpuluhan yang diselenggarakan oleh gereja saat ini, saya kembali merasa GELISAH. Kegelisahan saya ini dikarenakan melihat kenyataan bahwa Perpuluhan menjadi sebuah issue major dalam pemberitaan di mimbar. Tidak main-main, pemberitaan soal perpuluhan dari mimbar-mimbar ditekankan dengan nada sedikit "mengancam" dan promosi. "Ancaman" dan promosi itu seringkali diambil dari teks Maleakhi 3:10-11 bahwa mereka yang tidak memberikan perpuluhan akan mengalami "kerugian", tetapi siapa yang memberikan perpuluhan akan mengalami "keberuntungan" karena "belalang" pelahap di hardik dari hidup mereka. Ajaran perpuluhan yang keliru bukan hanya itu, masih ada yang lainnya tetapi tujuannya sama, yaitu menjadi "senjata" Pendeta atau Gembala yang pada akhirnya "memaksa" jemaat untuk memberikan perpuluhan. Namun, apakah demikian yang diajarkan Alkitab mengenai Perpuluhan?

Ironisnya lagi, saya melihat sebuah realita yang mengiris hati saya. Pendeta atau Gembala yang memang hidupnya bersumber dari pelayanannya sebagai Gembala, memiliki kekayaan dan aset yang melimpah oleh karena Perpuluhan yang diberikan oleh Jemaatnya. Mohon jangan disalah artikan. Saya bukannya tidak setuju seorang gembala menjadi kaya atau memiliki harta banyak atau melimpah, namun yang saya hendak kritisi disini, adalah sebuah hal yang memalukan, jika Pendeta atau Gembala yang memang hidupnya murni dari pelayanan pengembalaannya, memiliki gaya hidup "mewah" atau "wah" sedangkan jemaatnya banyak yang mengalami kesulitan ekonomi dan masih "dituntut" untuk memberikan Perpuluhan. Pendeta atau Gembala dan keluarganya bisa makan enak dari hasil uang perpuluhan sedangkan jemaatnya untuk makan saja harus berpikir keras untuk menghematnya. Anak Gembala atau Pendeta bisa sekolah di luar negeri, sedangkan anak-anak jemaatnya sekolah di sekolah negeri yang semuanya serba terbatas. Gembala atau Pendeta tidur pakai AC dan naik Mobil kemana-mana (sebenarnya itu mobil atas nama gereja tapi dipakai untuk kepentingan pribadi, alias mengatasnamakan "pekerjaan Tuhan" demi kesenangan diri) sedangkan jemaat jalan kaki dan naik angkot dan tidur berpanas-panas ria. Itu semua dari uang perpuluhan (mungkin ditambah uang gereja, tapi itu semua bersumber dari jemaat dan sumbangan orang lain).

Melihat kondisi seperti ini (bahkan mungkin fakta di lapangan lebih parah dari yang saya ungkapkan di atas, karena ada standart juga di kalangan Pendeta atau Gembala, jika jemaatnya minimal 200-300 orang, minimal harus pakai Avanza atau Innova), terlintas di pikiran saya; jika Tuhan Yesus ada saat ini secara fisik atau berinkarnasi menjadi manusia pada jaman ini, akankah IA melakukan hal yang sama dalam pelayanan-Nya. Apakah IA juga memberikan semacam "standart" dalam pelayanan-Nya? Apakah dalam pengajaran-Nya, IA akan mengajarkan seperti yang berkembang saat ini mengenai Perpuluhan? Saudara pasti punya jawaban masing-masing.

Berpijak dari "fenomena" di atas, maka saya memberikan judul dalam tulisan "kegelisahan" saya ini, "Perpuluhan, 'Upeti' Jemaat kepada Pendeta/Gembala?" Tanpa bermaksud menjatuhkan profesi sebagai Pendeta atau Gembala, melalui tulisan yang sederhana ini, saya hanya ingin memberikan sebuah "koreksi" terhadap ajaran dan praktik perpuluhan di kalangan gereja, harapan saya, saudara yang membaca tulisan ini memiliki kedewasaan dan kejujuran serta ketulusan hati dalam merenungkan dan menilai tulisan ini.

Konsep Perpuluhan ternyata bukan asli milik orang-orang Israel apalagi orang-orang Kristen. Dalam Kejadian 14:18, Abram (waktu itu namanya masih Abram belum berganti menjadi Abraham), memberikan Perpuluhan kepada Melkisedek raja Salem. Pada waktu itu, Israel sebagai sebuah umat atau bangsa belum ada, namun Abram telah memberikan perpuluhan. Ini membuktikan bahwa tradisi memberikan perpuluhan bukanlah asli bawaan Israel melainkan bawaan dari bangsa atau kaum sebelum Israel. Saya kurang mengetahui dengan pasti, apa makna perpuluhan pada masa sebelum bangsa Israel ada, namun melihat konteks pada masa Abraham, kemungkinan besar perpuluhan itu semacam ucapan "syukur" dari seseorang kepada mereka yang disebut "rohaniawan" pada masa itu atas ucapan berkat yang disampaikan.

Pada masa Israel, konsep perpuluhan diadopsi. Tuhan memberikan sebuah "perintah" kepada umat Israel dalam PL untuk memberikan perpuluhan. Perintah ini tercatat dalam kitab Musa, yaitu Ulangan 14:28-29 dan 26:12-15. Berbeda dengan bangsa-bangsa lain disekitar Israel, Allah memberikan makna baru terhadap perpuluhan. Untuk memahaminya kita harus kembali kepada konteks historis atau sejarahnya bangsa Israel. Israel adalah sebuah bangsa yang secara fisik merupakan keturunan dari Abraham melalui anak perjanjian yaitu Ishak. Sebelum menjadi sebuah bangsa, Israel menjadi budak di Mesir lebih kurang 400 tahun. Tuhan mengeluarkan Israel dengan mengutus Musa dan Harun. Singkat cerita, Israel akhirnya keluar dari Mesir dan memulai perjalanan menuju Tanah Perjanjian, sebuah tempat yang disediakan Tuhan. Israel terdiri dari 12 suku, satu dari 12 suku itu, yaitu suku Lewi tidak mendapatkan tanah pusaka dari Tuhan sedangkan yang sebelas suku mendapatkan tanah pusaka. Pusaka suku Lewi adalah Tuhan sendiri, maksudnya suku Lewi, dikhususkan oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan kemah suci atau bait Allah. Itulah sebabnya, suku Lewi disebut juga suku Imamat, karena panggilan khusus mereka yang diberikan oleh Tuhan sebagai pelayan yang mengurusi korban persembahan dan kegiatan-kegiatan ibadah bangsa Israel.

Sebelas suku Israel mendapatkan pemenuhan nafkah hidupnya dari tanah pusaka yang diberikan Allah kepada mereka dengan cara bertani atau bercocok tanam dan berternak. Inilah bentuk KASIH dan PEMELIHARAAN Tuhan bagi sebelas suku Israel. Lalu bagaimana dengan suku Lewi? Dengan apakah mereka memenuhi kebutuhan nafkah hidup mereka sedangkan mereka tidak diberikan tanah pusaka oleh Allah? Apakah Allah tidak memiliki Kasih dan tidak adil? Apakah Allah tidak memelihara suku Lewi, sedangkan yang sebelas suku Tuhan pelihara? Jawabannya tentu saja tidak. Allah Israel adalah Allah yang Kasih dan Adil yang tetap memelihara umat pilihan-Nya termasuk di dalamnya suku Lewi. Suku Lewi yang memang dipanggil khusus untuk melayani di bait Allah atau kemah suci tetap mendapatkan pemeliharaan Tuhan dan bentuk pemeliharaan Tuhan adalah melalui perintah Perpuluhan yang dimandatkan kepada sebelas suku melalui hamba-Nya Musa. Ulangan 14:27-28, Allah mengingatkan kepada kesebelas suku Israel untuk tidak melupakan suku Lewi ketika mereka mendapatkan hasil tanah atau hasil panen dengan cara memberikan perpuluhan dari hasil tanah pusaka mereka kepada suku Lewi setiap tiga tahun sekali. Perintah untuk memberikan Perpuluhan kepada suku Lewi dicatat kembali di Ulangan 26:12-13. Perintah untuk memberikan Perpuluhan kepada suku Lewi adalah bukti Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Tuhan kepada Israel. Suku Lewi yang tidak mendapatkan tanah pusaka sehingga tidak bisa mengolah tanah untuk mendapatkan kebutuhan nafkah hidupnya terpelihara oleh karena perpuluhan yang diberikan. Ingat juga, bahwa Alkitab juga mencatat dalam Ulangan 14:27-28 dan 26:12-13, bahwa Perpuluhan yang dikumpulkan oleh sebelas suku Israel bukan hanya semata-mata untuk suku Lewi, melainkan juga untuk kepada orang asing, anak yatim dan kepada janda. Anak yatim dan janda yang telah ditinggal mati ayah dan suaminya adalah tanggung jawab semua suku pada konteks masa itu, semua suku Israel wajib untuk memelihara mereka, pelayanan ini diadopsi di jaman Kisah Rasul yang dikenal dengan istilah pelayanan meja atau diakonia. Sedangkan orang asing disini adalah mereka yang tinggal bersama-sama dengan bangsa Israel dan menjadi bagian bangsa Israel (proselit) juga bangsa asing yang sekedar lewat di perkampungan atau daerah Israel harus di jamu sampai kenyang melalui perpuluhan. Pemberian perpuluhan untuk anak yatim dan janda pada masa itu pun menunjukkan bentuk Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Tuhan atas mereka oleh karena kepala keluarga yang mencari nafkah telah meninggal dan orang asing yang mendapat "jatah" perpuluhan dari sebelas suku Israel juga memiliki maksud yang sama, yaitu agar mereka bisa melihat bahwa Allah Israel adalah Allah yang Kasih, Allah yang Adil dan Allah yang memelihara semua umat manusia, sebab bagi orang-orang asing (bangsa di luar Israel) konsep Allah mereka adalah Allah mereka kasih hanya untuk mereka (bangsa) mereka sendiri tetapi tidak untuk bangsa atau kaum lain. Melalui perpuluhan yang diberikan sebelas suku Israel, orang asing bisa melihat betapa Allah Israel itu berbeda dengan allah-allah asing.

Dalam konteks Malaekhi pun demikian. Bangsa Israel pada jaman Maleakhi mengalami kemerosotan rohani sampai titik nadir. Mereka tidak mau memberikan Perpuluhan dan melupakan tujuan awal dari perpuluhan. Israel pada masa itu menjadikan uang dan kekayaan sebagai illah mereka. Mereka tidak memberikan perpuluhan dan mereka melupakan rumah Tuhan. Pada masa itu, Israel benar-benar bobrok kerohaniannya, Rumah Tuhan yang merupakan lambang kehadiran Tuhan di tengah-tengah Israel tidak dipedulikan oleh Israel, hal ini menunjukkan bahwa Israel sudah tidak peduli lagi dengan Tuhan dan segala ketetapan-Nya. Ketidakpedulian mereka terhadap rumah Tuhan adalah bentuk ketidak pedulian mereka kepada pribadi Tuhan sendiri yang telah membebaskan nenek moyang mereka dari perbudakan di Mesir. Itulah sebabnya Firman Tuhan datang untuk mengingatkan Israel agar kembali menjadikan Allah Yahweh sebagai Allah mereka dan kembali memberikan Perpuluhan dan harus memperhatikan rumah Tuhan. Hal ini dimaksudkan agar Israel bisa kembali menjadi umat Allah dan menjadi saksi kepada bangsa lain bahwa Allah Yahweh adalah Allah yang benar, karena itu dalam Maleakhi Allah mengatakan "ujilah Aku". Jadi memberikan perpuluhan dalam konteks Maleakhi pun sama dengan konteks dalam kitab Ulangan. Belalang Pelahap dalam konteks itu adalah hama belalang yang memang pada masa itu melanda tanah Israel. Membuka tingkap-tingkap langit, maksudnya adalah mencurahkan hujan, karena pada masa itu Israel dilanda kekeringan yang hebat. Jika Israel kembali kepada Tuhan pada masa itu, maka Allah akan menolong mereka sama seperti nenek moyang mereka yang ditolong keluar dari perbudakan di Mesir.

Berdasarkan uraian singkat di atas jelas, bahwa konsep Perpuluhan diberikan bukan supaya kita diberkati atau bertujuan untuk kepentingan pribadi, melainkan perpuluhan diberikan adalah bukti bahwa kita telah diberkati oleh Allah sendiri. Memberikan perpuluhan bukanlah seperti usaha memancing, dengan memberikan sepersepuluh dari penghasilan kita maka kita berharap mendapatkan lebih dari apa yang telah kita beri. Ajaran ini sesat..!!! Sekali lagi Perpuluhan diberikan bukan supaya kita diberkati melainkan karena kita telah diberkati. Lalu, harus diingat pula, bahwa ketika kita memberikan perpuluhan kita di ajarkan bahwa apa yang telah kita terima dari Tuhan bukanlah milik kita sepenuhnya, ada bagian orang lain di dalamnya, sehingga orang lain bisa merasakan bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang Kasih, Adil dan Pemelihara umat manusia.

Lalu untuk konteks sekarang ini, apakah masih relevan untuk memberikan Perpuluhan?

Orang-orang Kristen dituntut oleh Tuhan bukan hanya memberikan Perpuluhan, melainkan seluruh hidup kita, termasuk di dalamnya adalah harta kita. Kita bukanlah pemilik melainkan hanya pengelola, termasuk harta kekayaan dan uang kita. Namun, harus diakui untuk memiliki gaya hidup yang tidak terikat oleh harta kekayaan atau uang adalah hal yang sulit, karena itu dengan belajar memberikan perpuluhan, kita sedang belajar untuk melatih diri kita untuk tidak terikat oleh kekayaan atau uang (mamon). Namun jika 5 tahun, 10 tahun, bahkan 15 tahun kita memberi hanya sekedar perpuluhan dan merasa berat untuk membantu pekerjaan Tuhan, membantu sesama, dll, maka sama saja bohong. Jika kondisi kita seperti itu, maka perpuluhan yang kita berikan hanyalah sebagai "kewajiban" beragama. Ingat tujuan perpuluhan dalam konteks PL adalah agar bangsa Israel tidak terikat oleh kekayaan dunia dan memiliki kesadaran bahwa harta kekayaan yang mereka miliki di dalamnya juga terdapat "hak" orang lain. Bagaimana orang lain bisa mengenal Allah kita sebagai Allah yang Kasih, Adil dan Pemelihara umat manusia jika kita terikat oleh harta kekayaan dan pelit untuk berbagi. Untuk berbagi kita tidak harus menunggu menjadi orang kaya secara materi terlebih dahulu, tetapi bisa dimulai dari sekarang, dari apa yang kita punya.

Lalu, apakah kita harus memberikan Perpuluhan ke gereja?

Ini pertanyaan yang cukup sensitif, namun saya harus menjelaskannya suka atau tidak suka. Perpuluhan kalau kembali ke PL, dibawa ke rumah Tuhan lalu diberikan untuk suku Lewi, orang asing, anak yatim dan para janda. Untuk saat ini, perpuluhan bisa diberikan ke gereja, namun sayangnya banyak Pendeta atau Gembala (tanpa bermaksud menghakimi) tidak transparan dalam mengelola uang perpuluhan ini. Gembala harus transparan dalam mengelola uang perpuluhan. Uang perpuluhan bukanlah mutlak semuanya milik Gembala. Ingat, di dalam perpuluhan terlihat bentuk keadilan Allah bagi manusia atau istilah sekarang adalah keadilan sosial, bukan hanya orang Lewi yang menikmati perpuluhan, melainkan anak yatim, janda dan orang asing. Gembala harus mampu menunjukkan keadilan Allah di dalam mengatur uang perpuluhan. Jemaat yang memang benar-benar kurang mampu harus juga mendapatkan bagian perpuluhan, sehingga mereka bisa menikmati Kasih Allah dalam persekutuan orang-orang percaya. Namun jika Gembala atau Gereja tidak transparan dalam mengelola perpuluhan, malah "memakan" semua uang perpuluhan maka perpuluhan lebih baik diberikan saja langsung kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Kesimpulan :
1. Perpuluhan diberikan bukan supaya kita diberkati, melainkan karena kita telah diberkati oleh Allah melalui hasil usaha yang BENAR.
2. Perpuluhan adalah bentuk Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Allah kepada umat manusia, karena itu Gereja atau Gembala harus menunjukkan Kasih, Keadilan dan Pemeliharaan Allah dalam mengelola Perpuluhan, tidak boleh menjadi hak milik pribadi dan keluarga Gembala.
3. Perpuluhan adalah latihan awal yang melatih kita untuk tidak terikat kepada harta milik atau uang, melainkan terikat kepada Allah.
Inilah perspektif saya mengenai Perpuluhan. Jika ada perpuluhan tidak dimaksudkan untuk kepentingan Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka seperti judul di atas "Perpuluhan, 'Upeti' jemaat kepada Pendeta/Gembala."
Marilah mengajarkan konsep perpuluhan yang benar kepada jemaat, jangan ada tedensi kepentingan pribadi atau manipulasi dalam ajaran kita mengenai perpuluhan. Biarlah kebenaran yang terus kita sampaikan. Selamat memberi. Sola Gracia.

Petualangan iman

Oleh: Hendra Kasenda

Simon yang berusia pertengahan sedang kacau pikirannya karena perusahan yang dipimpinnya akan dilebur jadi satru dengan tiga perusahan lain. Ini berakibat dirinya terancam di PHK dan juga rekan-rekannya yang lain. Kekuatiran Simon diungkapkan dalam sebuah talk show di sebuah radio di Jakarta. Tak lama kemudian ketika line telpon dibuka untuk interaksi pendengar banyak sekali dukungan untuk Simon. Mereka juga sharing bahwa dulu mereka juga mengalami PHK namun Tuhan buka jalan sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Ada pula beberapa single parent yang bercerita betapa sulitnya ketika ditinggal suami tercinta. Tapi berbekal tekad dan doa mereka berhasil mandiri dengan usaha sendiri apakah itu katering, menjahit, bahkan mengajar les. Ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNYA.

Apa yang dialami oleh Simon dan banyak orang lain merupakan suatu jalan berliku yang harus ditempuh dalam kehidupan. Saya memberi nama untuk itu PETUALANGAN IMAN. Setiap kita memiliki petualangan iman masing-masing. Tapi itu semua tidaklah melebihi kekuatan kita. Setiap beban yang kita tanggung menurut Alkitab tidak akan melebihi dari kemampuan kita. Lagipula Allah yang mengijinkan beban itu tahu berapa kekuatan dan kemampuan kita untuk menanggungnya. Tak percuma Ia menyandang gelar Bapa, karena seorang bapak yang baik pasti tahu seberapa besar kekuatan masing-masing anaknya.

Karena perbedaan visi saya meninggalkan sebuah sekolah swasta dimana saya mengabdi selama dua tahun disana. Ini membuat saya terpukul karena tidak ada pekerjaan dan ancaman kelaparan ditengah-tengah ibukota yang permai mengancam di depan mata. Dengan tekad bulat saya berangkat ke sebuah bukit doa di puncak. Tekadnya cuma satu, Tuhan buka jalan disaat sedang krisis ini. Disana saya berdoa dengan sungguh-sungguh. Meskipun doanya masih kalah dibandingkan doa orang-orang Korea yang begitu semangat dan sungguh-sungguh datang berdoa ke sana, tapi sebulan kemudian saya sudah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih baik di sebuah kantor penerbitan majalah.

Setengah tahun disana saya sudah menduduki jabatan puncak. Sayang lepas satu setengah tahun kemudian, saya berbeda pandangan dengan pemimpin redaksinya. Saya memilih mundur, meski belum ada pekerjaan. Saat itu saya baru menikah dan memiliki seorang putri berusia enam bulan. Suatu hal yang sangat berat. Untunglah saya masih punya kerjaan sampingan di terang dunia.

Enam bulan lamanya saya hidup pas-pasan. Siang malam saya berdoa memohon Tuhan memberikan pekerjaan yang lebih bagus lagi. Akhirnya kesempatan itu pun datang. Manakalah saya dipanggil interview di sebuah perusahan bukan karena jasa siapa-siapa tapi murni berkat Tuhan. Sampai hari ini saya bekerja disana. Tuhan memberikan suatu tempat yang luar biasa dengan gaji yang berlipat-lipat dari tempat yang dulu. Bagi saya inilah sebagian petualangan iman.

Untuk ukuran kesembuhan, saya pernah mengalami suatu kesembuhan yang luar biasa. Saat masih sekolah di sekolah Alkitab Cianjur dibawah pimpinan Pdt JE Awondatu saya menderita sakit tipus. Sebagian besar siswa disana juga mengalami hal yang sama. Banyak yang dirawat di rumah sakit, sementara yang tidak mampu tergeletak begitu saja di tempat tidur. Setelah lewat dua hari menderita panas tinggi dan dingin menggigil, akhirnya saya ambil gitar dan mulai menyanyi. Tak berapa lama kemudian sebuah aliran listrik mengalir dahsyat diatas kepala sampai ke ujung kaki. Airmata yang deras mengalir memenuhi pipi saya. Usai memuji Tuhan saya merasakan kesembuhan yang sempurna.

Bulan Maret ditengah isu flu burung anak saya menderita flu dengan panas tinggi. Tapi dengan mengajaknya berdoa dia disembuhkan. Meski panasnya dating lagi selang sehari kemudian tapi dengan doa sakitnya itu hilang hingga sekarang. Tidak ada dokter yang dipanggil, tidak ada obat yang diminum. Bagi saya Yesus lah si penyembuh sejati. Dan terlebih bagi saya inilah petualangan iman yang sejati.

Bulan April 2006, saya mulai mengajak beberapa tetangga yang bukan Kristen untuk beribadah bersama. Mereka rata-rata pengusaha mikro di bidangnya. Gampang saja bagi saya berbicara segala macam teori yang saya terima dari bangku kuliah dan sekolah alkitab, tapi menurut saya itu tidak sesuai konteks dengan kondisi mereka. Mereka butuh bukti dan bukan hanya perkataan omong kosong belaka. Dilain pihak saya juga mulai mendirikan majalah terangdunia yang semi bisnis. Tidak ada modal sama sekali. Yang ada hanya modal iman, doa, dan relasi yang baik dengan semua Tders serta beberapa kenalan. Akhir bulan ini saya harus membayar tagihan dari percetakan untuk ongkos cetak majalah. Hari-hari ini saya berdoa Tuhan berikan jalan keluar untuk itu, supaya saya bisa bersaksi ke banyak orang bahwa Engkau juga ALLAH untuk setiap bisnis mereka. Bahwa Engkaulah TUHAN yang berkuasa atas bumi, dan usaha mereka. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi lari ke Gunung-gunung, tempat ibadah lain dan roh-roh serta dewa-dewa, melainkan lari ke gunung SION, ke tempat kediaman TUHAN YESUS KRISTUS.

Bagi saya inilah petualangan iman. Dan saya masih berharap ini berlanjut sampai saya ke surga. Jika anda mau bergabung dengan saya, tekunilah petualangan iman anda sendiri. Berdoalah untuk saya. Seperti saya juga berdoa untuk anda. Bagi anda yang ingin mencari pekerjaan, yang ingin berganti pekerjaan, ingin mulai berbisnis, dll hadapilah itu dengan iman. Saya rindu menyatakan kepada anda di akhir bulan ini setelah Tuhan menjawab saya untuk majalah terangdunia, bahwa DIAlah ALLAH yang menyediakan segala yang kita butuhkan. Namun toh meskipun DIA tidak buka jalan di akhir bulan ini untuk saya, saya tetap yakin DIA tetap ALLAH yang luar biasa yang menyertai dan memberkati umatNya. Amin.

Sudahkah anda menekuni petualangan iman anda sendiri? Semoga anda tidak menjadi lemah saat mengalami petualangan dilembah yang kelam. Karena sebetulnya TUHAN adalah GEMBALA AGUNG yang menyertai kita dilembah kekelaman.

Sakit itu Perlu

Penulis : Ipul

Siapa bilang sakit itu tidak perlu? Mungkin ada diantara saudara dan saya yang ingin agar dalam kehidupan ini kalau perlu tidak pake sakit. Dari segi kesehatan mungkin sakit itu juga perlu. Sayang, saya bukan ahli kesehatan sehingga bisa menguraikannya.

Ini saya tulis iseng-iseng karena memang saat ini sayang sedang sakit. Tapi, Tuhan sayang saya .... saya masih bisa jalan walau tertatih tatih. Banyak hal yg saya peroleh dari sakit ini. Dan kebetulan inilah sakitku yang paling parah dan, bahkan inilah sakitku yang paling sakit, apalagi hidup hanya sendiri di rantau orang (Kaciaan Deh Kulo :)) ). Tapi, Puji Tuhan ... semua ada maknanya.

Semula kukira kakiku keseleo. Lalu bengkak. Dan, atas anjuran beberapa rekan, aku urut. Untungnya ndak diurut/tekan keras-keras karena kondisi lututku sedang bengkak (sampai tidak bisa ditekuk). Besoknya, aku harus bolos dari tempat aku mengais rejeki. Malamnya kucoba bungkin pake jahe, yang katanya bisa mengurangi bengkak. Tentu saja sambil terus memanjat permohonan pada Tuhan kita. Dalam kondisi sakit, dengan kaki sebelah yang hanya bisa ditekuk 15 derajat, aku tetap harus ke tempat kerja karena ada tanggung jawab dan tugas yang tidak mungkin aku biarkan. "Ayo Pul ... mereka butuh kontribusimu. Percaya saja Tuhan selalu ada menyertaimu. Mungkin ini juga momentnya orang melihat siapa kamu".(Caile) Itulah yg selalu aku dengungkan dalam hati. Akhirnya, sampe juga di tempat kerja (walau harus melewati beberapa tantangan). Belum lagi, aku harus "merangkak" sampai lantai 4 dimana kavlingku berada. Padahal tidak ada lift/eskalator. Pada hari yang sama ..... harus dua kali turun karena ada meeting 2x. Tapi, Puji Tuhan .... toh saya masih hidup.

Ada yang ingin aku sampaikan disini. Malam-malam saat aku merintih kesakitan, otak banyolku (untung bukan otak kotor) sempat menyusun skenario pembicaraan sperti ini. Jadi aku bayangin Tuhan kita bilang begini: "Pul .. pul .... baru dikasi bengkak segitu saja sudah merintih sperti mau mati. Belum lagi kalo dikasi kedalam neraka sana. Nah .... loe mau jauh-jauh dari Gue atau dekat-dekat ama Gue? Pilih mana, hayooo?" (Yah tentu pilih dekat-dekat Babe).

Jadi ini sebenarnya inti dan makna yang aku bisa ambil dari sakit. Jadi, sakit itu hanya setitik teguran dari Dia supaya kita jangan jauh-jauh dari-Nya?

Singkat cerita, akhirnya ketahuan juga kalau aku kena Asam Urat. Itu setelah aku ke Balai Kesehatan di GKI Bintaro. Dan, Puji Tuhan ... kondisi bengkaknya perlahan - lahan mulai berkurang.

Dan inipun karena ada teman - teman khususnya teman chat yang selalu dan selalu memberi nasehat, sampe-sampe Hp ku dibanjiri resep ama dia. Wow .. trims kawan. Tapi maaf kalo aku sering kasi b-( !! Hahaha!!

Dan hari ini dia dan keluarganya sedang bersuka cita karena salah seorang anggotanya berikrar untuk teguh dan patuh pada Tuhan Kita Yesus Kristus lewat Peneguhan Iman. Selamat Berbahagia. Beliau juga member SK

Naaah .. mumpung nih ..... kalo ada kawan-kawan milis yang punya daftar makanan (sayur/buah/dll) yang menjadi pantangan Asam Urat, tolong dong dikirim ke mustivul at gmail dot com. Thanks very big ... oops... very much nggeh.

Okay ini saja deh yg pengen kusampekan ke milis sbagai ungkapan rasa syukur atas sakit yg kuterima.

Akhirnya .. aku juga pengen titip salam buat Mbak Ning. Hallo Mbak ... apa khabar? Wah aku blom sempat ke TB untuk mendapatkan "Tangan Yang Memenun". Wajib aku miliki!!

Oiya Mbak Ning, tadi aku lupa bangat bawa print-print-an tentang TYM. Mau aku minta tempel di GKI Bintaro. Padahal kmaren Sabtu aku udah print .... !! Yah krn fokus ke lutut yg sakit ... jadi lupa deh. Okay Mbak ... salamku untuk Dika, Vika, Mika. GBU All !!

Sekian!

Selamat Pentakosta !!!

Sumber: SahabatKristen

Saksi Dari Kursi Roda

Seorang wanita bernama Nancy memasang iklan berikut di surat kabar lokal: "Jika Anda kesepian atau memiliki masalah, teleponlah saya. Saya memakai kursi roda dan jarang keluar rumah. Kita dapat saling menceritakan masalah kita. Telepon saja. Saya senang bercakap-cakap dengan Anda."

Tanggapan terhadap iklan itu sungguh mengejutkan. Ia menerima 30 telepon atau lebih setiap minggunya.

Apakah yang mendorong wanita ini untuk menjangkau dan menolong orang lain yang sedang membutuhkan dari atas kursi rodanya? Nancy menjelaskan bahwa sebelum ia lumpuh, ia memiliki tubuh yang sehat sempurna. Meskipun demikian, ia merasa sangat putus asa. Karena itu ia mencoba untuk bunuh diri dengan melompat dari jendela apartemennya, namun hasilnya ia justru lumpuh mulai dari pinggang ke bawah.

Di rumah sakit, dalam keadaan benar-benar frustrasi, ia merasakan Yesus berkata, "Nancy, dahulu tubuhmu sehat namun jiwamu cacat. Mulai sekarang engkau akan memiliki tubuh yang cacat, namun jiwa yang sehat." Ia pun menyerahkan hidupnya kepada Kristus. Saat akhirnya diizinkan pulang, ia berdoa agar dapat membagikan kasih karunia Allah kepada orang lain, dan ide untuk memasang iklan surat kabar itu pun muncul. Setiap orang percaya dapat berbuat sesuatu untuk menolong orang lain.

Mungkin kita dibatasi oleh penyakit, usia lanjut, atau cacat tubuh, namun kita dapat berdoa, menelepon, atau menulis. Bagaimana pun kondisi kita, kita dapat menjadi saksi yang efektif bagi Yesus.

HANYA SEUSAI KITA BERBICARA KEPADA ALLAH TENTANG ORANG-ORANG KITA SIAP BERBICARA KEPADA ORANG-ORANG TENTANG ALLAH.

Samurai

Oleh: Rudy tan

Apa yang terbersit dalam pikiran kita saat membaca kalimat "samurai" atau mendengar kata samurai, tentunya yang terpikir adalah kekerasan dan kekerasan, atau kemisteriusan suatu pergerakan organisasi atau perorangan dengan kemampuan yang sangat mumpuni dalam segala bidang.

Kalau kita masuk lebih mendalam akan filosofi kehidupan samurai adalah keluar biasaan manusia yang terdoktrinasi jiwa, perkataan dan perbuatannya serta tanggung jawabnya kepada "tuannya" secara totalitas dalam LOYALITAS, KEJUJURAN, MENJUNJUNG TINGGI WIBAWA, KEHORMATAN&HARGA DIRI serta MELAKSANAKAN TANGGUNG JAWAB dengan segala konsekwensi akibatnya,....hormat kepada orang lain, jantan, berani mati untuk membela yang lemah, menegakkan "kebenaran",....... ini jiwa filosofi hidup seorang samurai.

Jika membandingkan dengan para murid Yesus yang radikal setelah turunnya roh kudus atas mereka, ini ada kemiripan,... bagaimana jika atau kalau jiwa samurai ini ditempakan didoktrinalkan kepada para jemaat pengikut Kristus?

Bukankah akan terciptanya umat pengikut Kristus militan yang luar biasa dalam menTuankan Yesus sebagai Allah? ini akan memberikan proses aplikasi keimanan yang berbuat bukan keimanan yang mati tanpa bekal dan kemampuan.

Bagai mana menurut anda?

Seandainya Kita Mengetahui

Oleh:Imelda Seloadji

"Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya." (Matius 25:13).

Beberapa waktu yang lalu saya menonton film fiksi ilmiah "Knowing" yang bercerita tentang akhir jaman tentu saja menurut versi film tersebut. Dikisahkan bumi berakhir dilanda semburan api dari matahari, semua musnah kecuali mereka yang diambil oleh empat sosok misterius yang hingga akhir cerita tidak memperkenalkan diri mereka, memberi kita kebebasan interpretasi apakah mereka itu alien atau malaikat.

Film ini membawa saya untuk merenung sesuai judulnya. Jika kita TAHU kapan waktu akan berakhir bagi kita, apa yang akan kita lakukan? Hidup kita akan tidak pernah sama lagi. Saya bisa membayangkan jika Yesus akan datang dalam beberapa minggu ini, maka harapan-harapan saya di dunia antara lain untuk mendapat promosi lebih jauh di kantor, mengganti mobil tua kami dengan Nissan X-Trail impian, pindah ke rumah yang lebih luas, luluh seketika. Kalau dunia akan berlalu dalam waktu yang singkat, saya sadar, semua itu tidak ada maknanya. Nilai yang begitu besar pada semua harapan-harapan tersebut tiba-tiba sirna dan ini mengingatkan saya, bahwa memang dunia dan segala isinya tidaklah abadi. Apa yang tampak mulia sebelumnya menjadi begitu hambar, hampa, dan banal. Alangkah tragisnya jika seluruh hidup kita, termasuk segala usaha, pikiran dan hati kita, kita tujukan untuk hal-hal yang maknanya akan dapat musnah dalam sekejap. "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Matius 24: 35).

Beberapa waktu sebelum menonton "Knowing" saya membaca buku rohani berjudul "Pintu Surga Terbuka" yang berisi kesaksian seorang anak muda tentang penglihatan akan surga, neraka, masa pengangkatan dan masa penganiayaan oleh Antikris. dengan komentar tambahan dari Pdt. Petrus Agung Purnomo. Terlepas dengan Anda setuju atau tidak mengenai masih diberikannya penglihatan-penglihatan dari Allah kepada manusia, suka atau tidak dengan Pdt. Petrus Agung, percaya atau tidak dengan Global Warming (yang ini tidak terkait dengan buku tersebut), satu hal yang pasti, sebuah paket aktivitas membaca buku tersebut, ditambah dengan merasakan panas yang sungguh tidak nyaman di siang yang terik di ruangan tanpa AC, dan menonton film "Knowing", setelah itu membaca buku "Black Swan", telah membuat saya menghayati kehidupan saya secara berbeda. Sebuah artikel di Kompas pernah menuturkan bahwa tiap 10 tahun, suhu bumi naik 5 derajat Celcius. Dari sini bisa Anda hitung berapa puluh tahun lagi Anda bisa bertahan dengan mengukur suhu udara yang saat ini Anda rasakan di Jakarta. Anda bisa bayangkan, mungkin Anda tidak percaya pada Alkitab, tapi fakta ilmiah menunjukkan bahwa, bumi yang tua ini sudah tak mungkin lagi kita tinggali untuk waktu yang masih sangat panjang.

Saya bukanlah seorang pengikut sekte tertentu yang meyakini kiamat akan segera terjadi di tanggal tertentu, tapi yang saya ingin bagikan di sini adalah betapa pentingnya untuk kita hidup secara bijaksana. "Jadi jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup.." ( II Petrus 3:11). Kita sering mengabaikan betapa pentingnya fokus menyenangkan hati Tuhan dan sering terjebak dalam "keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup". Tanpa kita sadari, kita tenggelam dalam keseharian, rutinitas hidup dengan segala kepedihan dan kesenangannya, dan lupa bahwa segala sesuatu akan ada akhirnya, dan yang paling penting apakah nama kita tertulis dalam Kitab Kehidupan. Mirip seperti apa yang disampaikan oleh Nicholas Taleb dalam "Black Swan", kemapanan, kenyamanan, keadaan yang berlangsung seperti biasanya, membuat orang tidak siap untuk sebuah peristiwa yang mengejutkan, padahal peristiwa itu toh sebenarnya bukan kejutan. Firman Tuhan telah memperingatkan kita sejak lama. Sikap kita seperti kalkun yang diberi makan enak secara rutin selama seribu hari, lalu tiba-tiba saja, di suatu hari Thanksgiving, kalkun tersebut dipotong oleh si majikan. (Yang terutama harus kamu ketahui ialah, bahwa pada hari-hari zaman akhir akan tampil pengejek-pengejek dengan ejekan-ejekannya, yaitu orang-orang yang hidup menurut hawa nafsunya. Kata mereka, "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meninggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan." (II Petrus 3: 3-4)).

Kita bukan Prof. Koestler, tokoh yang diperankan Nicholas Cage dalam film "Knowing". Kita tidak tahu kapan Yesus akan datang untuk kedua kali. Kita tidak tahu kapan Antikris akan bangkit. Kita tidak tahu kapan bumi yang lama ini akan lenyap. We don"t know when. "...maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya." (Matius 24:50).

Kita tidak tahu, ya, kita tidak tahu. Saya tidak sedang mengajak agar kita menjadi paranoid. Saya hanya sekedar berbagi apa yang saya renungkan saat ini. Jika Anda seorang Kristen yang sangat rasional seperti Thomas murid Yesus, maka marilah kita bermain probabilitas (saya pernah mengajar Statistik di suatu universitas). Seperti dua sisi uang logam, ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama: kedatangan Tuhan sudah sangat dekat, atau mungkin kita tidak mencapai usia tua di bumi ini untuk alasan apapun. Kemungkinan kedua: akhir jaman masih sangat lama, setidaknya untuk generasi kita masih sangat jauh. Kita punya dua pilihan: hidup bergaul karib dengan Tuhan dan bertindak sesuai Firman-Nya, atau hidup menurut keinginan-keinginan duniawi kita. Kalau kita menjalankan pilihan pertama, dan ternyata sampai kita meninggal di usia 90 tahun Yesus belum datang juga, toh setelah meninggal kita akan menerima mahkota dan hidup kekal bersama Dia. Tidak ada ruginya. Kalau Anda memilih yang kedua, ternyata Hari Tuhan datang tiba-tiba dan Anda tertinggal, ini benar-benar celaka.

Saya masih bermimpi suatu hari nanti bisa memiliki Nissan X-Trail baru. Namun impian itu kecil dibanding kerinduan saya untuk berjumpa dengan Bapa Surgawi. X-Trail itu, sampai nanti Dia datang, boleh tercapai atau tidak, karena saya tahu itu sungguh kecil dibandingkan dengan hidup kekal bersama-Nya. Yang terpenting, saya ingin menyelesaikan bagian tugas yang telah Tuhan tetapkan bagi saya, mencapai garis akhir dengan berkemenangan, dan masuk ke Yerusalem Baru yang abadi.

Sebuah Cerita Kecil

Penulis : Ludi Hasibuan

Siang hari ini terasa panas sekali. Duduk sendirian di dalam bus kota PPD Patas 2 jurusan Cililitan Kota. Walaupun penumpangnya bisa dihitung dengan jari dan hampir semua jendela yang ada di bis ini terbuka tetap saja udara panas di dalam bis tidak berkurang.Terlebih lagi kemacetan yang menggila di jalan Hayam Wuruk semakin membuatku pusing dan berkeringat.

Hari ini merupakan hari penting dalam hidupku karena hari ini aku mengikuti test masuk kerja. Setelah tamat STM Pembangunan enam bulan lalu. Aku sibuk mengirimkan surat lamaran ke berbagai perusahaan. Entah berapa puluh surat lamaran dan puluhan ribu rupiah ku habiskan untuk mengirim surat lamaran ke berbagai perusahan.

Selama enam bulan penantian tersebut. Baru kali inilah ada surat panggilan buatku. Surat panggilan itu berasal dari sebuah bengkel mobil yang berlokasi di kawasan kota. Bengkel itu tidaklah besar tapi mempunyai pelanggan yang banyak. Hal itu tampak dari jejeran mobil yang berada ditempat pakiran bengkel tersebut. Aku baru mengetahuinya setelah berada di lokasi tersebut.

Sebelum berangkat menuju ke test kerja. Malam harinya aku berdoa kepada Tuhan Yesus. “Tuhan Yesus, besok saya akan melakukan test kerja. Berilah hal yang terbaik bagi saya. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin, itulah doaku. Aku berdoa singkat-singkat saja karena tidak pandai berdoa. Aku yakin Tuhan Yesus juga sudah tahu maksudku.

Berbekal ijazah dan surat panggilan kerja. Aku mendatangi bengkel mobil itu. Ada sekitar 15 pelamar lainnya yang mengikuti panggilan kerja tersebut. Aku mendapat nomor antrian 9. Belum sampai nomorku dipanggil wawancara, seorang pekerja dalam bengkel tersebut mengatakan bahwa 3 asisten montir yang dibutuhkan telah diperoleh.

Aku gagal mendapat kerja. Padahal belum juga dipanggil untuk diwawancarai. Menghilangkan perasaan kesal dalam diri. Aku pergi ke warung kecil tak jauh dari bengkel tersebut dan meminum the dingin. Secara kebetulan aku mendengar obrolan orang bengkel kalau yang diterima kerja masih ada hubungan saudara dengan pemilik bengkel.

“Ah, sial, gerutuku dalam hati. Tampaknya Tuhan Yesus tidak mau mendengar doaku. Terbayang dalam mataku, wajah ibuku yang sudah menjanda sejak aku kecil. Ia berjuang dengan jualan kue untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Walaupun hanya berjualan kue, ibuku bisa membawaku tamat STM dan adikku bersekolah di SMP. Padahal cita-citaku, ingin membantu ibu dan membiayai adikku sekolah. Keinginanku gagal. Akupun segera naik bis PPD Patas 2 ke arah Cililitan,

Nanti, aku akan turun di Otista dan berjalan kaki selama 20 menit menuju rumahku. Di tengah jalan yang macet ini. Naiklah seorang anak kecil tukang penjual koran. “Koran koran koran, teriaknya sambil berjalan dilorong yang ada dalam bis tersebut. Ia menyodorkan koran tersebut kepadaku. Aku menolaknya.Aku tidak butuh koran karena uangku pas-pasan.

Anak kecil penjual koran turun dari bis. Ia pergi keliling sekitar bis menawakan dagangannya. Bisa yang kutumpangi tetap tidak beranjak karena jalanan disepanjang jalan Hayam Wuruk macet total.

Eh anak kecil penjual koran itu naik lagi. Koran koran koran ia masih menjajakan dagangannya. Tetap saja penumpang dalam bis ini tidak ada yang mempedulikannya. Ia menghampiriku dan setengah memaksa untuk membelinya. Aku tetap tidak mau membelinya. Anak itupun turun dari bis.

Tidak lama kemudian tukang koran yang sama naik dari pintu depan dan menawarkan koran kepada penumpang. Aku melihatnya dan timbul perasaan iba. Aku berandai-andai, seandainya ia bernasib sama denganku. Keuntungan jualan Koran ini digunakan untuk biaya hidup, mungkin untuk uang sekolahnya. “Mungkin nasib kita sama, ujarku dalam hati.

Anak itu kembali ke tempatku dan menyodorkan koran Pos Kota ke pangkuanku. Akupun terpaksa merogoh kantung untuk mengeluarkan beberapa uang logam seharga koran tersebut. Ia pun mengucapkan terima kasih dan tersenyum padaku. Anak itu turun dari bis dan tidak pernah lagi.

Di rumah setelah melepaskan lelah. Aku membaca berita yang ada di koran itu. Aku melihat sebuah iklan tentang sebuah lembaga pendidikan yang menerima siswa dengan bea siswa selain itu langsung bekerja di instansi tersebut. Kebetulan lembaga ini mencari siswa dari STM untuk di didik bagi kepentingan instansi tersebut.

Iseng-iseng, aku mengirim lamaran menjadi siswa di lembaga pendidikan tersebut. Beberapa minggu kemudian, datang surat dari lembaga pendidikan ini. Aku diminta mengikuti test seleksi. Akupun memenuhi panggilan test tersebut.Ternyata aku lulus test yang terbaik dan berhak mengikuti pendidikan di lembaga itu.

Setelah di didik selama tiga tahun. Aku menjadi lulusan terbaik dan diterima di instansin tersebut. Gaji yang ku peroleh bisa memperbaiki kehidupan keluargaku bahkan adikku bisa kubiayai hingga tamat kuliah.

Terkadang aku terpikir akan kejadian diatas bis dulu. Mungkin aku salah sangka (berdosa) dengan mengecam Tuhan Yesus yang tidak mendengar doaku agar di terima di bengkel itu. Ternyata Tuhan Yesus mendengar doaku dan ia telah berencana akan hidupku serta jalan apa yang harus kulalui. Mungkin anak kecil penjual koran itu, malaikat yang menyamar untuk menolong diriku.

Pernah aku menyusuri jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk untuk mencari anak kecil itu. Tapi tidak bisa ketemui. Kini aku menyadari bahwa manusia bisa berencana dan berharap tapi Tuhan Yesus telah mempunyai rencana sendiri bagi diri kita. Amin.

Sebuah Kesaksian Kesembuhan

Oleh : Herlianto

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! (Matius 7:21-23)

Kelihatannya banyak orang yang berseru kepada Tuhan dan mengadakan banyak nubuatan, menyembuhkan bahkan melakukan mujizat ternyata bukan dari Tuhan bahkan ditolak Tuhan, kalau begitu apakah mujizat terutama kesembuhan Ilahi masih dilakukan Tuhan sekarang? Penulis juga sering mengalami kesembuhan ilahi secara pribadi maupun keluarga, atau mendoakan orang lain, baik mendatangkan kesembuhan instan, gradual, ataupun tidak sembuh, dan dari pengalaman itu ada dua pengalaman tentang pembuluh darah yang bisa kita renungkan.

Pada medio 1988, anak penulis mengalami demam tinggi dan muntah-muntah. Ketika dibawa ke dokter langsung dimasukkan rumah sakit dan dari scanning diketahui terjadi perdarahan otak. Setelah pemotretan angiography dideteksi bahwa penyebabnya adalah kelainan formasi pembuluh darah halus otak yang bocor sejak bayi dan biasanya baru diketahui setelah terjadi perdarahan (AVM = Arterio Venous Malformation). Setelah pengobatan konvensional diberitahukan bahwa pembuluh halus yang bocor itu bisa setiap waktu mangalami perdarahan lagi secara fatal bak bom waktu! Kelainan pembuluh otak harus dioperasi dan biayanya mahal dan itupun kala itu hanya bisa dilakukan di Amerika, Eropah atau Jepang. Saudara ipar di Amerika siap membantu bedah otak asal bisa kesana, saudara ipar bendahara Yabina yang neurolog di Nederland ingin mengusahakan disana, dan dokter bedah saraf otak Satyanegara mengusulkan di Kyoto, semuanya membutuhkan dana besar.

Menghadapi ini penulis mempertanyakan Tuhan mengapa penulis yang telah meninggalkan dunia sekular untuk melayani harus menyediakan dana begitu besar, yang tidak menjadi masalah kalau berpraktek arsitek? Dalam situasi demikian penulis sekeluarga berdoa dengan tekun mohon mujizat Tuhan. Heran pada malam Natal 1988 ada informasi di TVRI bahwa ada tehnik pengobatan baru yang tanpa operasi tapi dengan kateterisasi (dengan menyemprotkan zat penyumbat ke bocoran) yang kala itu belum dikenal di Indonesia, informasi mana segera diminta melalui TVRI dan dokter di Amerika Serikat yang ditayangkan TVRI. Mujizat lain terjadi karena kawan dokter tadi yang lebih senior dari Paris akan mendemonstrasikan penemuan baru itu di Singapura! Pada bulan Oktober 1989 pengobatan dijalankan dengan berhasil di General Hospital dan National University Hospital. Mujizat ini bukan usaha manusia tetapi anugerah Allah! Kesembuhan ini disaksikan di majalah Panasea (Maret 1990).

Enam mujizat dialami, yaitu: (1) Tidak perlu dibedah otak tapi dengan tehnik kateterisasi saja; (2) Pengobatan dilakukan di Singapore yang dekat; (3) Dirumah sakit pemerintah yang murah; (4) Mendapat potongan 50% biaya dokter; dan (5) Ada spontanitas teman yang punya apartemen di Singapore untuk ditempati; dan (6) Ada teman yang mencukupi biaya operasi (malah lebih hingga bisa dikembalikan setengahnya). Dari keseluruhan ini biaya yang dikeluarkan hanya sekitar 15% saja dari kalau dibedah otak secara konvensional. Sekalipun dokter menyuruh 6 bulan kembali ke Singapore untuk check-up, penulis tidak kesana karena yakin Tuhan sudah menyembuhkan secara total, dan saat ini sudah 17 tahun lewat dimana si anak yang kala itu masih di SMP bisa berhasil menyelesaikan S-1nya, bahkan sudah setahun ini mencoba bermukim dinegeri dingin tanpa biaya orang tua. Puji Tuhan!

Lain lagi pengalaman penulis. Di tahun 2002 sering dirasakan rasa sakit di dada yang makin kerap terjadi, bahkan ketika melayani di Semarang dirasakan tiga kali rasa sakit dalam waktu 2 hari! Sekembali ke Bandung langsung ke dokter dan di threadmill dan malam itu juga disuruh ke dokter di Jakarta, dan besoknya langsung di kateterisasi, terjadi penyempitan di beberapa tempat dan harus dibalonisasi (tidak di by-pass). Penulis berdoa mohon mujizat kesembuhan Tuhan tetapi Tuhan tidak memenuhi permintaan, itu berarti pembuluh darah jantung harus dibalonisasi. Sementara menunggu dokter yang dua minggu mengikuti seminar di mancanegara dengan istirahat yang cukup sambil doa tetap dipanjatkan dan 10 pelayanan dalam waktu tiga bulan kedepan terpaksa dibatalkan termasuk undangan ke Pematang Siantar, Medan, Serukam, Denpasar, dan Australia.

Mengapa Tuhan tidak menyembuhkan secara ajaib kasus pembuluh darah yang sama padahal anak penulis bisa mengalaminya dan malah 10 pelayanan harus dibatalkan? Rupanya Tuhan punya rencana lain dan mendidik penulis karena selama ini kurang menjaga kesehatan dan keenakan ditraktir jemaat sering makan makanan berlemak (kasus kolesterol mulai mencuat ketika pulang dari mengikuti Billy Graham School of Evangelism 1997 dan mampir ke LA dan dijamu dan menghabiskan satu piring besar kepiting). Sudah 30 tahun penulis melayani dengan non-stop dan belum pernah cuti dan baru kali ini bisa berdiam diri selama 3 bulan untuk mengevaluasikan pelayanan dan setelah dilakukan balonisasi bisa mempersiapkan beberapa buku baru dan pelayanan melalui internet dan sesudahnya dirasakan kesehatan yang jauh lebih prima dari sebelum balonisasi sehingga pelayanan meningkat! Di tahun 1995 penulis berjalan di The Great Wall dan hanya kuat berjalan di tembok miring itu sejauh 200 meter saja dan sekarang seminggu tiga kali bisa berjalan 4 Km di jalan miring pegunungan.

Penulispun beberapa kali diminta mendoakan orang-orang yang sakit parah dan dalam kondisi tidak tersembuhkan. Dalam situasi demikian penulis sering mendoakan mereka dan meminta Tuhan mendatangkan mujizat kesembuhan yang tuntas tetapi jikalau Tuhan berkenan hendaklah Tuhan memanggil si penderita karena penderitaan penderita dan keluarganya sudah tidak tertanggungkan. Mengherankan beberapa di antara mereka benar-benar dipanggil Tuhan dalam beberapa hari sesudah didoakan, padahal mereka sudah berstatus hidup tidak matipun tidak selama berbulan-bulan! (Ada penginjil penyembuh yang men sugesti jemaat agar tetap mendoakan dengan iman menuntut Tuhan menyembuhkan sambil menumpangi jenazah isterinya!)

Yesus tetap sama dari dahulu sampai sekarang, dan Yesuspun banyak menyembuhkan orang tetapi tidak semua disembuhkan dan tidak melakukan penyembuhan massal. Ia dikerumini banyak orang yang memegang jubahnya dan hanya seorang yang disembuhkan, Ia menyembuhkan 10 orang berpenyakit kusta dan hanya seorang yang memiliki hubungan iman dengan Dia, dan menurut Yesus, orang buta yang disembuhkan bukan buta karena dosa orang tua atau dosanya sendiri tetapi agar firman Tuhan dinyatakan!

Paulus juga melakukan pelayanan kesembuhan dan Timotius disembuhkan olehnya tetapi Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit, bahkan Paulus sendiri mengalami sakit tubuh (Gal.4:13) dan tiga kali meminta doa kesembuhan tetapi tidak disembuhkan dan dijawah Yesus: dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2Kor.12:7-10). Rasul Paulus justru merasakan ketidak sembuhannya sebagai kasih karunia Tuhan yang mengingatkannya agar meninggikan diri dan mengandalkan kekuatan diri sendiri!

Lalu bagaimana dengan praktek kesembuhan ilahi pada masa kini? Umumnya: (1) Konsep penebusan yang ekstrim dan keliru yang menganggap bahwa penebusan Kristus memulihkan tubuh manusia dari sakit-penyakit dan kematian; (2) Kesembuhan ilahi masakini sudah banyak disusupi praktek perdukunan/new age (words of faith) yang menekankan hubungan sebab akibat bahwa beriman pasti sembuh kalau tidak beriman tidak sembuh, ini menjadikan banyak yang tidak sembuh frustrasi dan putus asa karena merasa ditolak Tuhan (bukan kebetulan bahwa para penginjil Words of Faith menganggap manusia = allah-allah kecil ); (3) Para penginjil kesembuhan masakini menjadikan kesembuhan sebagai promosi utama demi popularitas berpusat diri dan memperkaya diri, dan menempatkan kesembuhan sebagai prestasi sipenginjil dan ketidak sembuhan sebagai kesalahan sipenderita yang dianggap kurang beriman; dan (4) Kejahatan seperti penipuan dilakukan banyak penginjil penyembuh yang umumnya memperkaya diri dan hidup mewah dan menjadikan doa dan kesembuhan sebagai komoditi, menipu jemaat dengan hipnose massa dan trik-trik promosi kesembuhan, dan menyihir jemaat memberikan persembahan. Semua ini jauh berbeda dengan rasul Paulus sendiri yang tidak disembuhkan padahal ia adalah pahlawan iman dan menekankan konsep iman yang membuat banyak orang bertobat, dan menyerahkan kemuliaan kepada Tuhan.

Banyak media sekuler sudah menyorot mal-praktek dikalangan penginjil penyembuh yang lebih banyak menghasilkan kesembuhan semu karena sugesti dan menolak adanya pemeriksaan medis atas mereka yang dianggap sembuh, KKR kesembuhan ilahi masakini lebih merupakan penyajian teatrikal dengan hipnose massa, jadi dapat dimaklumi kalau adanya kesembuhan-kesembuhan sugestif yang kemudian dirasakan beda kalau seseorang sudah keluar dari situasi ibadat massal yang memukau itu. Memang tidak bisa dibantah bahwa KKR demikian bisa mendatangkan kesembuhan, tetapi kesembuhan perdukunan bukankah termasuk yang disalahkan Tuhan Yesus pada ayat di atas? Tidak juga mustahil adanya orang yang benar-benar memiliki hubungan iman pribadi yang erat dengan Tuhan dan disembuhkan saat ia memohon dalam suasana KKR, dengan iman yang sama ia sebenarnya bisa disembuhkan kalau berada di gereja yang sepi. Kesaksian penulis diatas terjadi mula-mula dirumah dan penulis adalah anggota gereja yang tidak biasa dengan ibadat kesembuhan ilahi.

John Sung juga melakukan kesembuhan ilahi, tetapi berbeda dengan penginjil masakini, John Sung menekankan percaya kepada Yesus dan pertobatan sehingga membuat seorang yang beristeri muda bertobat dan kembali kepada isteri sahnya, dan pertobatan seorang konsul yang akhirnya membentuk sekolah Alkitab yang sekarang sudah menghasilkan ribuan hamba Tuhan. Ia mendoakan secara khusus orang-orang dengan sering meminta foto mereka untuk diingat dan ia tidak memperkaya diri karena keluarganya sering hidup dalam kekurangan, bahkan gelar doktornya dibuang dan tawaran sebagai direktur perusahaan mesiu ditolak demi menjadi berkat sebagai pelayan kerajaan Allah.

Lepas dari semua itu, gereja-gereja memang harus meminta kuasa Tuhan dalam penyembuhan sakit-penyakit di kalangan jemaat gereja, dan para penginjil yang banyak berpraktek kesembuhan ilahi agar memikirkan ulang prakteknya dan tidak mengulangi kesalahan para penginjil kesembuhan yang banyak menipu jemaat, dan kembali menjalankan doa kesembuhan yang tidak palsu yang tidak dikarenakan hipnose massa dan kekuatan batin iman penderita dan sugesti penginjil yang mempraktekkan perdukunan, melainkan dengan doa disertai iman, dan berharap Tuhanlah yang menyembuhkan atau tidak menurut kehendak-Nya dan bukan menurut kehendak manusia!

Sebuah Pelajaran Berharga dari Peristiwa Sederhana

Oleh: Adonia Gita Alfioni

Tanggal 23 Oktober lalu, saya mendapat tugas dari tante saya untuk mengantar adik sepupu ke placement test di sebuah lembaga yang terkemuka di Solo. Sebenarnya, saya mendapat tawaran lain yang lebih menyenangkan untuk saya kerjakan. Tetapi karena saya sudah berjanji, saya tetap harus mengantar adik saya yang blasteran Solo -– Papua itu (selingan). Jam setengah sembilan saya berangkat menuju lembaga itu dengan bekal dari mana–mana. Karena hari in kedua Om saya yang kembar ulang tahun, kami mendapat uang untuk jajan di luar dengan jumlah yang lumayan besar. Puji Tuhan.

Di akhir perjalanan, saya merasa ada sesuatu yang tidak enak dengan motor saya. Kemudian saya bertanya pada adik sepupu saya.

“Div, motornya kok tidak enak yaa... kamu ngerasa nggak?”

Adik sepupu saya menjawab dia tidak merasakan apa-apa. Setelah sampai di lembaga itu dan adik saya menuju ruang placement test, saya mengecek kembali motor saya. Ternyata ban (roda) belakang saya bocor. Biasanya kalau tahu motor saya bocor, saya akan sangat panik dan heboh. Tetapi entah mengapa saat itu saya sangat tenang, bahkan saya bisa bersyukur pada Tuhan. Puji Tuhan saya sudah sampai tempat tujuan, jadi adik saya tidak akan terlambat placement test.

Kemudian saya menelpon dan mengirim sms ke teman–teman saya yang bertempat tinggal di dekat daerah itu. Karena saya punya cukup banyak teman, saya tidak terlalu kesulitan untuk mencari informasi tambal ban. Ternyata di dekat lembaga itu ada tambal ban. Langsung saya ke sana dan menunggu ban belakang motor saya ditambal.

Rencana awal saya sebenarnya, sambil menunggu adik sepupu saya placement test saya akan pergi ke rumah teman SMA saya. Niatnya ingin bercerita banyak sama teman saya, eh, malah jadinya saya yang dicurhatin sama Bapak Tukang Tambal Ban :D. Tapi tidak jadi masalah, saya bersyukur bisa ngobrol dengan Bapak itu. Selain tambah pengalaman juga tambah wawasan tentang motor.

Saat si Bapak ini memperbaiki ban, saya memperhatikan dengan seksama. Dan berpikir, padahal ban luarnya kelihatan baik–baik saja, tidak ada cacat sedikit pun, tapi ban bagian dalamnya bisa berlubang. Betapa parahnya keadaan ban motor saya. Si Bapak Tambal Ban itu memperbaiki bagian dalam ban motor saya. Entah mengapa, pada saat itu saya berpikir, menganalisa, dan menghubungkan hal ini dengan keadaan hati manusia.

Pertama saya mengetahui bahwa ban saya bocor, dan saya bilang kepada si Bapak Tukang Tambal Ban ini kalau ban saya bocor, saya menyerahkan perbaikan ban saya itu kepada Bapak Tukang Tambal Ban. Seperti ban bocor yang membuat motor tidak dapat berjalan dengan baik, begitu juga dengan manusia, hati manusia yang bocor (mungkin karena dosa, kepahitan, dan lain–lain) membuat manusia tidak dapat bergerak dalam pertumbuhan rohaninya. Sehingga manusia perlu tahu apa penyebabnya dia tidak dapat berjalan baik dalam pertumbuhan kerohaniannya dengan meneliti hatinya, seperti saya meneliti ban motor saya. Kemudian dia juga harus mengakui di hadapan seorang Pribadi yang ahli di dalam permasalahan ini, yaitu Tuhan sendiri. Selain mengakui, manusia juga harus menyerahkan seluruhnya kebocoran ini pada Tuhan, bergantung penuh pada Tuhan dan percaya bahwa dia dapat memperbaiki dengan baik kebocoran itu.

Setelah Bapak Tambal Ban itu mengerti di mana letak kebocoran itu. Dia mulai memperbaiki ban itu. Dia menggosok dulu ban itu dengan sebuah penggaris besi, sehingga ban itu terkikis, dan menempel dengan potongan ban yang lain, dengan cara seperti membakar, tetapi sebenarnya tidak membakar. Mungkin api itu sengaja diciptakan oleh si Bapak Tukang Tambal Ban agar potongan ban yang lain menempel kuat dengan ban yang bocor itu.

Dalam perbaikan hati manusia, mungkin seolah Sang Ahli mengikis juga hati itu, sehingga juga akan menimbulkan rasa sakit bagi manusia. Juga mungkin, Tuhan membakar kesenangan–kesenangan manusia yang membuatnya tidak dapat bertumbuh dalam Tuhan. Tentu saja, ini sangat menyakitkan.

Saya pernah mengalami hal–hal ini, ketika Tuhan membakar semua kesenangan–kesenangan saya, dan seolah membuat saya meninggalkan zona nyaman saya. Saat itu saya berpikir, kenapa Tuhan seolah tidak membiarkan saya senang? Tetapi Dia terus menyakiti hati saya. Tapi kemudian saya mendapatkan jawaban setelah saya membaca suatu buku berjudul “Kedewasaan Rohani”. Dalam buku ini, diceritakan bahwa Tuhan memperbolehkan anak-Nya mengalami kesulitan–kesulitan dan penderitaan–penderitaan untuk membentuk hati mereka, dan semua hal itu memang Tuhan lakukan untuk membuat mereka menjadi pribadi yang diinginkan Tuhan. Yah, sesuai dengan salah satu ayat terkenal selama ini bahwa semua yang Tuhan lakukan itu untuk kebaikan manusia sendiri.

Dalam proses perbaikan ini, manusia harus percaya penuh pada Tuhan dan melalui proses ini dengan taat dan setia, serta selalu memikirkan bahwa “rencana Tuhan itu baik, bahkan sangat baik, semua akan mendatangkan kebaikan.”

Dan olala, ban yang sudah ditambal itu dapat membuat motor saya berjalan dengan baik lagi :D. Begitu juga manusia, ketika sudah merasakan ada suatu kebocoran segeralah datang kepada Sang Ahli dan injinkanlah Dia memperbaiki hatimu, sehingga kamu dapat kembali berjalan dalam kehidupan rohanimu.

Saya bersyukur bahwa dari peristiwa yang sangat sederhana dalam hidup saya Tuhan memberikan pelajaran berharga bagi saya. Apapun yang saya alami hari ini, esok dan seterusnya, saya tahu bahwa Engkau mengijinkan semua terjadi untuk membentuk saya. Amin.

Blog penulis: http://alfioniagita.blogspot.com/

Sekali Pembunuh tetap Pembunuh!

Oleh: Mang Ucup


Kisah nyata yang terjadi di Jerman - Sumber: Majalah Spiegel Edisi 30/2006 yang telah ditulis ulang oleh Mang Ucup.

Ketika Bernhard berusia 21 th, ia membunuh istrinya sendiri yang pada saat itu baru berusia 18 tahun dengan harapan bisa menipu uang asuransi sejumlah dua juta AS$. Untuk ini ia di vonis hukuman penjara 25 th, tetapi setelah 16 th ia dibebaskan karena berkelakuan baik.

Selama ia dipenjara telah terjadi perubahan drastis di dalam kehidupannya Bernhard, dimana ia berubah 180 derajat. Tadinya ia benci Alkitab sekarang merupakan bacaan utamanya sehari-hari, tadinya ia egois; sekarang bersedia membantu maupun memberikan apa saja yang ia miliki untuk rekan sesama napi yang membutuhkannya. Bahkan selama ia di penjara tsb, ia mulai kuliah belajar teologi yang telah diakhirinya dengan baik sebagai sarjana teologi.

Setelah Bernhard bebas ia melamar pekerjaan menjadi guru agama di salah satu kota kecil di Jerman di mana akhirnya ia pun diangkat dan dipercayai untuk menggembalakan umat di gereja setempat. Dari awal mula ia telah terbuka terhadap bishop maupun pimpinan dewan gereja tempat dimana ia bekerja, bahwa ia itu sebenarnya adalah seorang eks napi, seorang mantan pembunuh yang berdarah dingin di mana istrinya sendiri saja telah dibunuh olehnya demi uang.

Bernhard telah menerima dan menjalani hukuman duniawi sepenuhnya disamping itu ia telah benar2 bertobat dan berubah total, maka dari itu tidak ada alasan bagi pimpinannya untuk tidak menerima Bernhard sebagai seorang Pdt. Hanya pimpinannya mengajurkan agar masa lampaunya itu sebaiknya tidak diungkapkan terhadap jemaatnya, sebab tidak setiap orang bisa menerima seorang mantan pembunuh sebagai Gembalanya.

Beberapa tahun kemudian ia menikah dengan seorang gadis anggota koor gereja. Kepada istrinya pun ia telah menceritakan semua pengalaman hidupnya, sehingga istrinya pun tahu bahwa suaminya itu sebenarnya adalah mantan seorang pembunuh. Dari hasil pernikahan ini mereka dikaruniakan dua orang anak perempuan.

Seperti juga pepatah asap bagaimana baiknya sekalipun tidak akan bisa ditutup terus. Dimana akhirnya masa lampaunya Bernhard pun terbuka juga dan diangkat untuk diberitakan lagi di koran setempat dengan judul "Seorang pembunuh tetaplah pembunuh". Bernhard menjadi gunjingan seluruh penduduk kota tsb. Mereka menuntut agar Bernhard segera di pecat dari jabatannya sebagai Pdt, sebab tidaklah pantes seorang pembunuh jadi Pdt. Stress maupun kritikan-kritikan semakin hari semakin banyak dan juga semakin keras, sehingga akhirnya ia jatuh sakit, bahkan putrinya sendiri telah mencoba untuk bunuh diri karena malu mempunyai ayah seorang pembunuh.

Walaupun demikian bishop mapun pimpinan gerejanya tetap berpihak kepadanya dan juga memberikan dukungan sepenuhnya maupun membelanya terus-menerus. Mereka ingin membuktikan kebenaran ajaran yang tercantum dalam Alkitab.

Dimana bagi setiap orang yang bertobat, dosa-dosanya tidak akan di ingatnya lagi disamping itu; Jer 31:34 ..sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." Disamping itu "Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." Yesaya 1:18

Bahkan kalau direnungkan: Paulus sendiri sebenarnya adalah seorang pembunuh. Lihat saja ulahnya ketika ia masih bernama Saulus, walaupun mungkin secara langsung ia tidak pernah mau mengotori tangannya sendiri, tetapi ia adalah satu promotor maupun dalang inteleknya. Disamping itu ia sendiri mengatakan, bahwa tidak ada seorang pun yang benar di dunia ini yang bebas dan luput dari dosa. Seperti yang tertulis dalam Alkitab, "Tidak seorang pun yang benar (Roma 3:10).

Tetapi kenyataanna antara teori dan praktek itu bedanya seperti juga bumi dan langit, sebab boro-boro kita bisa menerima seorang pembunuh sebagai pembimbing agama; seorang ex napi saja harapannya minim sekali untuk bisa dipilih dan diterima dengan tangan terbuka oleh jemaatnya.

Oleh sebab itulah saya salut terhadap saudara-saudara kita yang beragama Islam mereka mau menerima dan menghormati Anton Medan untuk jadi Ustad. Mereka tahu, bahwa Anton Medan itu mantan preman dan juga ex napi, walaupun demikian mereka tetap mempercayakan muda-mudinya untuk dibimbing olehnya.

Cobalah Anda renungkan dan jawab dengan jujur:

    1. Apa yang akan Anda anjurkan kepada Pdt Bernhard tsb diatas, apakah sebaiknya ia tetap bertahan terus sebagai Pdt ataukah lebih baik give up saja?.

    1. Apakah menurut Anda seorang pembunuh, seorang napi, maupun seorang pemerkosa boleh jadi Pdt/Romo atau pengurus gereja?

    1. Apakah Anda bisa menghormati dia apabila kita mengetahui latar gelap dia yang sebenarnya?

    1. Apakah Anda bisa mempercayakan dan juga mau menyumbangkan uang dalam jumlah besar kepada seorang pembimbing agama ex napi?
    1. Mungkin ada yang bisa share dengan pengalaman yang serupa?

  1. Sepenggal Duka Dari Bandung

    Penulis : Joshua MS

    Siang yang terik. Gemah Ripah, nama taksi yang membawa rombongan kami, meluncur menyusuri jalanan Kota Bandung. Entah karena efek global pemanasan bumi atau apalah, Kota Bandung sekarang sungguh berbeda bila dibanding 10 tahun yang lalu. Waktu itu untuk pertama kalinya aku mengunjungi Bandung, suhunya masih terasa sejuk. Itulah sebabnya setiap kali liburan semester, aku lebih suka ke Bandung daripada pulang kampung ke Sumatera. Gedung itu beralamat di Jalan Dewi Sartika Nomor 104 Bandung. Gedung yang lebih mirip sebagai rumah toko, memanjang ke belakang. Sepintas aku sudah dapat menduga-duga bahwa ruangan-ruangan yang ada di dalamnya pasti mirip ruko. Kami segera membongkar bagasi taksi. Siang ini, kami akan berbagi kasih dengan anak-anak Panti Asuhan Peduli Kasih. Kami membagikan paket sembako dan paket perlengkapan sekolah. Beberapa anak dengan sigap menyambut paket yang aku jinjing. Mereka sungguh terlatih untuk membantu dan melayani. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya muncul dari pintu bagian dalam. Dengan senyuman yang ramah, wanita itu menyalami kami.

    "Selamat datang Ibu, selamat datang Bapak!" berkali-kali dia mengulang kata-kata salam. Wajah ramahnya sungguh raut tulus yang tidak dipaksakan. Secepatnya barang-barang dan paket kami bereskan di sudut ruangan. Seorang petugas panti muncul lagi dari pintu dalam. Dia juga terlihat santun dan ramah. "Boleh kami lihat-lihat ke dalam Ibu?" Saya mencoba seramah mungkin. "Oh tentu boleh, mari, silakan!" Rombongan kami beriringan masuk ke ruangan dalam melewati koridor sempit. Ruangan standar ruko yang memanjang dan tersambung ke bangunan penyanggah di belakang. Pada ujung ruang penyanggah, kami tiba di ruangan makan dan dapur. Ruangan yang terkesan apa adanya.

    Sebuah meja makan terbuat dari triplek. Beberapa kursi kayu yang dibuat memanjang. Entah mengapa, di atas meja makan itu terpajang satu unit televisi 17 inch yang sudah tua. Agak di pojokan terletak dapur dengan beberapa kompor dan dandang yang menghitam. Paling pojok kanan, dua kamar mandi. Lebih maju ke depan aku lihat ada kamar pengurus panti yang bersebelahan dengan kamar putri panti. Aku yakin itu adalah kamar anak perempuan karena di pintunya ada gambar-gambar lucu, ciri khas perempuan.

    "Kami melakukan hampir semua kegiatan di sini" kata ibu paruh baya itu. "Sekarang kita ke atas, ke kamar laki-laki." Dia mendahului kami melangkah ke arah tangga yang menghubungkan ruang bawah ke lantai satu. Kami kemudian menuju kamar laki-laki di atas. Sebuah ruang tamu yang dipenuhi loker. Di pojok ruangan sebuah pintu kamar yang lumayan besar. Kamar tidur laki-laki berisi 5 tempat tidur tingkat. Tampaknya, mereka tinggal dengan berdesakan di kamar ini. Kamar memang terkesan sangat sesak dengan tempat tidur tingkat dan lemari-lemari pakaian. "Mereka semua tidur di sini," ibu paruh baya itu kembali menerangkan. Sebelum turun, beberapa kali aku mencoba mengabadikan ruangan dengan kamera. Kami turun, ternyata anak-anak sudah banyak yang berdatangan. Mereka baru pulang berenang. Satu acara rutin ketika mereka libur sekolah.

    Hari libur memang selalu dimanfaatkan oleh mereka untuk olah raga dan rekreasi. Aku melihat wajah-wajah sumringah anak yang semuanya berasal dari Nias. Sikap mereka sangat santun. Satu per satu mereka menyalami kami.

    Bencana Tak Terduga

    Sudah 3 hari hujan turun terus. Desember, nama anak laki-laki yang lahir Bulan Desember, berbaring dengan menyelimuti dirinya rapat- rapat. Angin malam terasa menusuk. Anak laki-laki berumur 12 tahun itu terlelap dalam tidurnya. Dia asik dengan mimpinya tanpa mempedulikan hujan yang semakin deras seolah tercurah dari langit. Menjelang tengah malam, Desember dibangunkan oleh ibunya. Kaget, Desember buru-buru bangun. Dalam keadaan setengah sadar dia mengusap mata.

    "Cepat, cepat, bangun!" Seluruh rumah jadi sibuk. Desember dan ketiga saudaranya segera dilarikan ke arah gunung. Suasana mencekam, sementara air luapan sungai mulai mengalir masuk dan menggenangi lantai rumah. Syukurlah, setelah berusaha dengan susah payah, satu keluarga itu akhirnya tiba di gunung dengan selamat. Sementara itu di perkampungan, dalam hitungan menit, rumah-rumah yang termasuk wilayah kecamatan Lohesa kabupaten Nias tenggelam diamuk banjir. Yang ada hanyalah air kotor yang membawa lumpur dan kayu-kayu dari hulu sungai. Seperti air bah, air mengalir deras dari hulu sungai membawa tanah lonsor dan kayu-kayu meluluhlantakkan bangunan-bangunan rumah, sekolah, dan gereja. Desember mengusap air matanya. Beberapa menit sebelum kampung terendam air hingga 15 meter. Ibunda terkasih menitipkan adik dan saudara-saudara padanya. Ibunda berlari turun gunung untuk menyelamatkan harta benda mereka yang tertinggal di rumah. Malang nian nasib ibunya, dia hanyut terbawa arus deras dan jenazahnya baru ditemukan 2 hari kemudian. "Aku sudah melupakannya, aku tidak mau terus hidup dalam bayang- bayang itu," Desember mengakhiri kisahnya. Walaupun di sudut matanya ada titik-titik air mata yang mengkristal. Desember yang kini telah duduk di bangku SMP itu berupaya tersenyum.

    Kejadian tengah malam 31 Juli 2001 yang menenggelamkan 6 kecamatan dan menelan korban hampir 1000 orang itu adalah lembaran kenangan hitam bagi dia. Sekarang, dia bersama anak-anak yang lainnya resmi diadopsi oleh Yayasan Peduli Kasih. Mereka ditempatkan di sebuah rumah panti yang dibina oleh seorang pengusaha di kota Bandung. Sementara waktu terus bergulir, Desember kini belajar giat untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter.

    Duka di Panti Asuhan

    "Dulunya mereka 20 orang," Mbak Dewi, salah seorang juru bahasa yang turut dibawa dari Nias berkisah tentang suka duka melayani di panti asuhan. "Tetapi, ada dua orang yang dipulangkan karena tidak dapat diatur! Mereka nakal dan sudah diingatkan berkali-kali, akhirnya kami pulangkan." "Panti ini lebih kepada sebuah keluarga, jadi kami menerapkan pelayanan sebagaimana layaknya sebuah keluarga," Dewi melanjutkan penjelasannya. "Berhubung karena panti belum memiliki tempat yang tetap, kami beberapa kali harus berpindah-pindah. Puncaknya adalah ketika kami terpaksa menitipkan 18 anak ke sebuah Panti Asuhan di daerah Bekasi," tutur Dewi sedikit serius, gurat wajahnya seketika mendung. "Ke-8 anak yang kami titipkan itu awalnya merasa sangat asing. Mungkin karena lingkungan yang asing dan aturan panti yang berbeda," lanjut Dewi. Tiba-tiba dia memanggil seorang anak panti yang masih lugu, Robyanto Hulu, bocah berumur 10 tahun. "Robi ini dulunya dua bersaudara. Orang tua mereka meninggal dalam bencana banjir, jadi keduanya diadopsi yayasan. Keduanya kami titipkan bersama teman-temannya yang lain ke panti di Bekasi.Adiknya bernama Arisman Hulu, masih sangat kecil kelas satu SD." "Suatu hari, guru sekolah di mana anak-anak panti disekolahkan telepon ke kantor panti. Mereka melaporkan bahwa Aris telah mencuri makanan dari seorang temannya. Jadi guru itu meminta pengurus panti menghadap ke sekolah," tutur Dewi menatap Robyanto. "Setelah diselidiki, ternyata memang benar Aris telah mengambil kue dari tas temannya. Selidik punya selidik Aris mengambil kue itu hanya karena lapar. Kami baru tahu ternyata di pagi hari mereka hanya dikasih sarapan sepotong kue dan teh manis, sehingga sebelum pulang mereka sudah kelaparan. Aris tidak tahan, jadi begitu dia lihat kue ada di tas temannya, dia langsung ambil dan makan," tutur Dewi. Ekspresinya berubah-ubah. "Singkat cerita, petugas panti datang dan membawa Aris pulang.

    Selanjutnya dari cerita anak-anak, Aris dihukum," kata Dewi sambil menahan emosi. "Kalau hanya didisiplin, kami tidak akan marah. Tapi bentuk hukuman itu sungguh biadab dan tidak berprikemanusiaan. Pengurus panti yang nota bene hamba Tuhan itu menghukum Aris dengan cara yang sangat sadis. Aris dipaksa makan dan minum sampai kenyang dan hampir tidak bisa bernafas. Pengurus panti itu bilang ini hukuman untuk orang yang tidak bisa menahan nafsu makan. Setelah selesai makan dan minum hingga kembung, Aris disuruh mandi. Beberapa kali dia dipukul dan ditendang hingga jatuh tertelungkup. Belum puas menghukum dengan cara demikian, Aris dibiarkan terkapar tanpa ada yang menolong di pojok ruangan." "Menjelang sore Aris muntah-muntah dan kesulitan bernafas. Pengurus panti tetap bergeming dan berkilah Aris hanya pura-pura. Dia bahkan melarang anak-anak yang lain yang berniat menolong Aris. Tetapi karena yang lain mulai panik melihat keadaan Aris, akhirnya pelayan panti itu mengizinkan Aris dibawa ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit, Aris mengembuskan nafas terakhir. Bocah cilik itu meninggal oleh kekerasan seorang manusia yang menyebut dirinya hamba Tuhan," kata Dewi, yang langsung terdiam, berusaha menenangkan gejolak hatinya. "Kami dihubungi via telepon ke Bandung, dan kabar yang kami terima Aris meninggal karena sakit.

    Saya segera ke sana dan mengurus segala sesuatunya. Tetapi begitu tiba di Bekasi, saya sudah mengendus adanya ketidakberesan. Anak-anak dipaksa tutup mulut, mereka diancam dan 474uruh masuk kamar. Saya tidak putus asa karena saya memang dekat dengan mereka jadi saya mencoba mendekati beberapa anak. Namanya anak-anak, mereka pasti tidak bisa diajak bohong. Berita kekerasan itu akhirnya terbongkar, saya segera lapor polisi dan dalam waktu yang singkat polisi yang disertai wartawan segera menggerebek Panti Asuhan. Pengurus panti yang berinisial nama rasul itu segera diciduk. Dia mengakui semua dan akhirnya dihukum 10 tahun penjara." "Setelah berembuk, akhirnya kami memutuskan untuk menarik semua anak- anak kembali ke Bandung. Puji Tuhan, seorang dermawan
    memberikan gedung ini untuk kami tempati. Gratis. Tuhan itu sangat baik. Di sini sekarang tinggal 17 anak. Robyanto Hulu sudah dapat melupakan tragedi atas adiknya Aris. Kekerasan yang terjadi di depan matanya sendiri hingga merenggut nyawa adiknya seolah menjadi dorongan yang kuat agar dia terus berusaha dan menjadi anak yang lebih baik."

    Nias yang Malang

    Suasana ruang makan Panti Asuhan Peduli Kasih yang biasanya ramai dengan celoteh dan canda tawa, hening dan murung. Belasan pasang mata mulai berkaca-kaca. Bening mengkristal mengalir seperti anak sungai di pipi anak-anak panti. Sementara itu, reporter televisi swasta terus-menerus dengan terbata-bata dan ekspresi duka melaporkan secara langsung kondisi Kota Nias yang porak poranda. Televisi 17 inci yang di pajang di sudut meja makan triplek itu menjadi saksi bisu tangisan anak-anak Nias penghuni Panti Asuhan Peduli Kasih. Seperti lirik lagu seorang musisi balada, Ebiet G. Ade, Menoreh Luka Baru di Atas Luka Lama. Belum lama berselang, bencana 31 Juli 2001 kembali menoreh luka di jiwa penduduk Nias. Belum tuntas anak-anak panti mengikis trauma air banjir yang menenggelamkan kampung halaman dan merengut nyawa orang-orang yang mereka kasihi, kini dengan mata kepala mereka sendiri menatap duka kembali menjenguk Nias. Gempa Bumi dengan kekuatan 8,7 pada skala richter merobek dan menghantam bumi Nias. Mencabik-cabik pertahanan yang mereka bangun selama hampir empat tahun. Meluluhlantakkan semua yang mereka pernah banggakan di bumi tanah tumpah darah mereka. Sementara itu, teriak dan tangisan bercampur aduk dari para pengungsi yang berebut mendapatkan beras dan mi instan terus-menerus dilaporkan para reporter. Jerita dan air mata yang mengantar anak- anak polos itu beranjak menuju tempat tidur masing-masing. Beribu pertanyaan yang tak bisa mereka jawab memenuhi jiwa mereka. Oh Tuhan, tidakkah ini terlalu berat untuk mereka? Tidakkah Nias juga berhak tahu mengapa bencana tak kunjung berakhir menjenguk tanah dan pulau nan permai itu? Hanya Tuhan yang tahu.

    Sinar Harapan Sabtu, 30 April 2005

    Stand Up For Jesus

    Ini adalah kisah nyata yang terjadi beberapa tahun lalu di USC University of Southern California). Disana ada seorang profesor filosofi yang mengaku ateis.

    Tujuan utamanya selama kelas semester adalah berusaha membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada.

    Para mahasiswanya selalu takut untuk berargumentasi dengan dia karena logikanya yang sangat masuk akal. Telah 20 tahun berselang ia mengajar kelasnya dan tidak seorang pun berani menentangnya.

    Beberapa mahasiswa memang pernah mencoba, tapi tidak seorangpun berhasil karena reputasinya. Di akhir setiap semester, pada hari terakhir, dia selalu berkata dihadapan 300 orang mahasiswanya, "Bila ada yang masih percaya pada Yesus, silahkan berdiri!" Selama duapuluh tahun, tidak seorang pun yang berani berdiri.

    Mahasiswanya sudah tahu apa yang akan dilakukan profesor tsb selanjutnya. Ia akan berkata, "Siapapun yang percaya pada Tuhan adalah seorang yang tolol. Bila Tuhan memang ada, Ia mampu memberhentikan kapur ini jatuh mengenai lantai dan tidak pecah. Contoh sederhana untuk membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, dan memang Ia tidak dapat melakukannya."

    Dan setiap tahun, profesor tersebut menjatuhkan kapur ke lantai dan kapur itu pecah menjadi ratusan potongan. Semua mahasiswanya tidak dapat berbuat apa-apa selain diam dan menyaksikannya. Kebanyakan mahasiswanya terlalu takut untuk berdiri.

    Beberapa tahun kemudian seorang mahasiswa muda mendaftarkan diri Pada kelas profesor tsb. Ia adalah seorang Kristen dan sudah mendengar cerita tentang bakal profesornya. Ia wajib mengikuti kelas profesor tersebut dan dia merasa gentar menghadapinya. Untuk 3 bulan semesternya, ia berdoa setiap pagi supaya ia dimampukan untuk berdiri, apapun yang akan dikatakan profesor dan yang dipikirkan oleh rekan-rekannya. Tidak ada yang dapat melemahkan imannya, ia hanya berharap.

    Akhirnya hari terakhir itu tiba. Profesor tersebut berkata, "Bila ada diantara anda yang masih percaya pada Tuhan, silahkan berdiri." Profesor dan 300 orang mahasiswanya terkejut melihat seorang mahasiswa muda yang berdiri dibagian belakang kelas. Profesor tersebut berteriak,"Anda bodoh !!!

    Bila Tuhan benar-benar ada Ia akan mampu mencegah kapur ini pecah saat menyentuh lantai!"

    Ia bersiap melepaskan kapur yang dipegangnya. Tapi saat ia melepaskannya, kapur tersebut terlepas dari jarinya dan masuk ke lengan bajunya, meluncur terus ke celananya melewati kakinya hingga ke sepatunya. Saat menyentuh lantai kapur tersebut tidak pecah. Kesombongan profesor luluh saat ia melihat kapur tersebut.

    Ia menatap mahasiswa muda tadi dan segera lari dari ruangan kuliah. Mahasiswa yang berdiri tadi, berjalan ke depan kelas dan berbagi iman tentang Yesus selama 30 menit. Tigaratus mahasiswa bertahan dan mendengarkan saat ia menceritakan kasih Tuhan untuk mereka dan Kuasanya melalui Yesus.

    Stroke Jasmani dan Rohani

    Oleh : Yon Maryono

    Ketika bangun tidur, pergelangan tanganku terasa lemas. Yang timbul dalam pikiran, tidur tertindih sehingga cenderung di abaikan dan hanya dikibas-kibaskan saat olahraga. Jam merambat seiring dengan rasa lemas yang ikut merambat disebelah kiri pergelangan yang ternyata Stroke.

    Stroke atau yang dikenal secara medis terjadi karena asupan oksigen ke bagian tertentu dari otak terhalang disebabkan aterosklerosis atau gumpalan darah kecil yang terbawa masuk dari tempat lain dalam tubuh dan menyumbat arteri otak. Dokter meminta dilakukan pemeriksaan MRI (magnetic resonance imaging) pada otak ternyata ada penyumbatan dan puji syukur kepada Tuhan bahwa penyumbatan itu didaerah aman. Pemeriksaan lain atas kondisi jantung dan sirkulasi darah juga dilakukan. Puji Tuhan saat ini dalam pemulihan walaupun mengetik dengan satu tangan.

    Mungkin saudara yang pernah mengalami hal serupa sangat merasakan betapa berat memulihkan kelumpuhan. Keseimbangan sangat terganggu , sulit koordinasi antara perintah dari otak, lengan tangan dan jari-jari. Sensor motoriknya lemah, kurang bekerja. Seperti anak kecil kembali yang harus dilatih dan diajari pegang hidung tetapi selalu salah. Berlatih mengangkat lengan tangan sangat berat bahkan perlu semangat dan pengerahan tenaga dari seluruh tubuh hingga berkeringat. Ternyata kelumpuhan membuat orang malas, apalagi perjuangan cepat pulih menimbulkan emosi dan frustasi. Sebuah resiko kelumpuhan yang harus ditanggung disebabkan cara hidup salah.

    Ini sebuah fakta, walaupun saya membaca dan mengetahui jenis-jenis makanan berlemak yang beresiko, tetapi pola makan rakus, akibatnya tubuh sebagai Bait Allah (bdk. 1 Kor 3:17; 6:19) terserang penyakit. Tanpa disadari dalam kasus ini, stroke jasmani penyebab utamanya adalah nafsu makan yang rakus. Nafsu ingin memanjakan keinginan telah menutup pesan Firman Tuhan bahwa tubuhku bukanlah miliku lagi, melainkan tempat bersemayam Roh Allah yang harus dipelihara. Hal ini juga bermakna, Rohaniku stroke oleh karena perbuatan sendiri. Asupan Roh Kehidupan dalam roh manusia tersumbat disebabkan hawa nafsu yang merupakan perbuatan dan keinginan daging (bdk. Gal 5:19-21).

    Dalam skope yang lebih luas, ujud stroke rohani tidak hanya lumpuh phisik tetapi juga lumpuh dan tidak berdayanya roh manusia, yaitu tempat sinergi pikiran, emosi dan kehendak, untuk melhat, memahami, apalagi melakukan kebenaran Firman Tuhan. Roh manusia tidak mampu bangkit dan diam dalam kegelapan. Jangan dikira, orang yang tersumbat adalah mereka yang jarang ke Gereja dan jarang pula membaca Alkitab, faktanya orang yang rajin ke Gereja dan baca Alkitab tidak terhindar dari sumbatan itu. Demikian, Ahli Tauratpun lumpuh secara rohani, walaupun sehat jasmaninya. Mereka tidak mampu mengakui karya Allah di dalam Yesus walaupun telah melihat karya-Nya. Pemulihan orang buta dihari Sabat lebih dianggap pelanggaran, walupun tindakan itu menolong sesama.

    Persamaan yang mendasar penyebab utama stroke jasmani dan rohani adalah sifat egoism manusia yang faktanya penyebab dari segala masalah hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama. Dan Terapinya juga sama yaitu berlatih secara konsisten walaupun sangat berat. Berlatih selalu menjaga bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Aku hidup tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku? ( bdk. Galatia 2:20) dan berlatih melakukan kegiatan lebih banyak untuk kepentingan orang lain dari pada diri sendiri. Tuhan memberkati kita semua

    Tepat Pada Waktunya

    Penulis : Calvin Palmer

    Dibawah ini adalah kesaksian dari seorang dokter yang saya muat dalam dua bahasa - Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia -- agar bermanfaat berganda bagi pembaca: Oleh Dr. Calvin Palmer (Terjemahan bebas oleh Sammy Lee) "ADA SEORANG WANITA MUDA DIKURSI BELAKANG MOBILKU, dan saya rasa dia sudah mati." Pada hari Jumat pagi itu, saya adalah satu-satunya dokter yang bertugas pada sebuah rumah sakit yang bernama Warburton Sanitarium and Hospital, di Warburton, Australia.

    Pengumuman yang mengejutkan dari pemuda itu menyebabkan saya tersentak dengan melongo.

    "Apa yang sudah terjadi?" saya bertanya.

    "Saya tidak tahu," jawabnya.

    "Tetangga kami - mereka baru saja menikah belum lama. Pagi ini suaminya pergi kerja seperti biasanya, dan isteri saya, yang selalu suka bertindak sebagai tetangga yang baik, pergi melihat bagaimana keadaan isterinya dan menjumpai dia dalam keadaan terbaring pingsan diatas lantai. Ini adalah rumah sakit yang terdekat, sebab itu saya telah meletakkan dia di kursi belakang mobil saya dan telah mengadakan perjalanan sejauh 110 km melalui jalan setapak yang berliku-liku melalui rimba belantara untuk mencapai tempat ini."

    Kami tidak membuang waktu segera berlari menuju ke mobilnya. Disana terjerembab dikursi belakang mobil, terdapat tubuh kaku dari seorang wanita muda. Kulitnya terasa dingin dan pucat. Saya tidak dapat merasakan denyut nadi pada pergelangannya , saya hanya dapat merasakan debaran jantungnya yang sangat lemah. Dia masih hidup, tapi sudah dalam keadaan sangat sekarat.

    Kami segera mengangkat tubuhnya keatas tandu dan membawanya kedalam rumah sakit. Saya menghadapi seorang pasien yang mengalami shock berat, sedang sekarat, tapi tidak mempunyai informasi sedikitpun mengenai apa yang menyebabkan kondisinya itu.

    Dimana Kami Harus Mulai?

    Setelah memeriksa wanita itu lebih lanjut, saya berkata kepada suster kepala, Matron Mitchell, "Perutnya menggelembung dengan cairan. Saya rasa itu adalah darah. Saya rasa kita sedang menghadapi kasus ectopic (pendarahan akibat bagian organ tubuh pecah atau pindah tempat)"

    Keadaan seperti ini yaitu pecahnya pembuluh nadi pada bagian tulang selangka atau pinggul memerlukan pembedahan dengan segera. Kami melakukan terapi infus (intravenous), kemudian menilpon Melbourne, meminta pengiriman darah dengan segera menggunakan taksi. Staff kami mempersiapkan kamar operasi untuk pembedahan darurat. Yang menjadi masalah kami sekarang adalah anastetik. Saya adalah satu-satunya dokter di rumah sakit itu, dan berhubung keadaan wanita itu yang sangat kritis, kami sangat membutuhkan seorang ahli anestesia. Pada zaman itu dimana ether digunakan sekitar 30 tahun yang lalu kebanyakan anestesia itu dilakukan oleh dokter umum.

    Hanya terdapat sedikit sekali ahli anestesia, dan saya tidak ingat nama dari seorang pun. Matron Mitchell, sang suster kepala, mempunyai sedikit pengalaman memberikan anestetik, jadi berhubung tidak ada dokter lain, saya berpaling kepadanya dan berkata: "Saya harus meminta anda mengadakan anestetik." "Kita harus mengadakan operasi terhadap dia karena kalau tidak maka itu akan terlambat. Kalau sampai dia meninggal, anda akan dipanggil ke pengadilan, tapi saya akan pergi bersama anda."

    Sementara staf kami sedang mempersiapkan pasien dan ruang operasi, saya masuk ke kantor saya dan berdoa. "Tuhan, saya dalam keadaan darurat. Nyawa seorang wanita menjadi taruhan. Saya benar-benar sangat membutuhkan seorang ahli anastesi.

    Saya katakan kepada Matron Mitchell, "Saya akan memulai memberikan anestetik itu. Kemudian setelah itu saya akan serahkan kepada Anda sementara saya mengadakan pembersihan dan pembedahan."

    Pada saat saya sedang bersiap-siap melaksanakan anestetik itu, pintu kamar operasi tiba-tiba terbuka. Seorang asing menonjolkan kepalanya dan berkata, "Saya Dr. Smith. Apakah saya bisa menolong anda?"

    Saya harus mengetahui apakah dia ini seorang Ph.D, doktor dalam ilmu musik, ahli penyakit kulit, ataukah ahli ilmu jiwa. Jadi saya bertanya kepadanya, "Apakah bidang pekerjaan anda?"

    "Saya seorang ahli anestesia"

    Saya menjelaskan situasinya kepadanya, dan dia mengambil alih pekerjaan anestetik itu. Seluruh keahliannya dia tumpahkan untuk menjaga supaya wanita itu tetap hidup sementara saya melakukan pembedahan. Saya membedah perutnya dan mendapati bahwa itu penuh sekali dengan darah. Saya tidak pernah melihat baik sebelumnya maupun sesudahnya pendarahan yang demikian hebatnya. Pompa pengisap listrik yang kami gunakan tidak mampu untuk menangani begitu banyak darah. Saya menggunakan kedua tangan saya untuk mengeluarkan darah dari perutnya sama seperti menimba air keluar dari perahu orang-orang di Kepulauan Solomon. Saya dapati urat nadi yang robek masing memuntahkan darah. Waktu saya mengikat urat nadi itu, saya pun yakin bahwa wanita itu akan hidup.

    Ketika wanita itu sudah dipindahkan ke zal, saya berpaling kepada Dr. Smith. "Bagaimana caranya sampai anda boleh muncul didepan pintu kamar operasi kami pada saat yang begitu tepat?"

    "Saya tidak dapat menjelaskannya," dia berkata, "Tapi saya akan ceritakan apa yang telah terjadi."

    Suatu Penunjukan Ilahi

    Dia mulai ceritanya: "Sebagaimana anda tahu, ada sedikit sekali ahli anestesiologi, dan saya sudah bekerja terlalu lama. Pagi ini saya muncul dirumah sakit kami untuk mengadakan beberapa kasus, tapi mendapat informasi, tanpa ada penjelasan, bahwa daftar kasus-kasus itu telah dibatalkan.

    "Saya pikir, Alangkah bagusnya! Saya akan segera meninggalkan kota Melbourne untuk berakhir pekan. Saya akan pergi ke suatu tempat dimana tidak ada seorang pun mengenal saya, dimana tidak ada rumah sakit, tidak ada kamar operasi, dan tidak ada anestetik."

    Kemudian dia berkata, "Saya merasa terdorong untuk pergi ke Warburton. Saya tidak dapat menerangkan apa sebabnya, tapi saya segera menentukan saya harus pergi kesana. Saya tidak pernah ke Warburton sebelumnya tapi saya tahu ada beberapa penginapan dimana saya bisa tinggal selama akhir pekan ini."

    Ketika saya tiba di Warburton, saya melihat sebuah bangunan yang besar terletak diatas bukit. Itu kelihatannya seperti sebuah penginapan, saya berpikir. Jadi saya mengemudikan mobil saya kedalam halaman ini, tapi ternyata bahwa ini adalah sebuah rumah sakit. Pada saat saya baru saja hendak memutarkan mobil saya untuk pergi, seorang wanita muncul didekat pintu gerbang.

    "Nama saya adalah Dr. Smith," saya berkata kepadanya, "Dan saya sedang mencari sebuah penginapan untuk ditempati akhir pekan ini."

    "Dia menjambret tangan saya, ´anda diperlukan dikamar operasi sekarang juga,´ dia mengatakan kepada saya.

    "Saya telah datang ke Warburton untuk menghindarkan diri dari kamar operasi," saya menjawab.

    "Tapi ini adalah keadaan darurat," dia mendesak.

    "Nah, begitulah caranya mengapa sampai saya berada disini." Dr. Smith melanjutkan.

    Membandingkan Catatan

    "Dapatkah anda mengatakan kepada saya" saya bertanya kepadanya, "Jam berapakah itu waktu anda merasakan dorongan untuk datang ke Warburton?"

    "Pagi ini pada jam 8 lewat sepuluh menit."

    Urutan peristiwa yang telah terjadi mulai terbeber dalam otak saya. Pada jam 8 tepat wanita itu telah jatuh pingsan di Matlock, 110 km jaraknya dari Warburton. Pada jam 8:10, Tuhan menanamkan dalam benak ahli anestetik itu, ditempat yang letaknya 80 km sebelah barat, bahwa dia harus pergi ke Warburton. Sekitar jam 10:30 saya memohon kepada Tuhan untuk pertolonganNya, tetapi Dia sudah menjawab doa saya lebih dari dua jam sebelum itu. Permasalahan yang kami hadapi datangnya dari sebelah timur, dan solusinya datang dari sebelah barat, tapi saya tidak tahu apa-apa sama sekali mengenai hal itu.

    Saya telah mendapat suatu pelajaran besar mengenai pemenuhan keperluan kita oleh Tuhan dari pengalaman itu. Dan ini telah memberikan kepada saya penghargaan yang lebih besar terhadap janjinya "Sebelum mereka berseru, Aku akan menjawab" (Yesaya 65:24).

    Sebelum masa pensiunnya Dr. Calvin Palmer, M.D. melayani di rumah sakit kusta yang ada di Solom Island, dan kemudian sebagai ahli bedah di Warburton Hospital, dan setelah itu sebagai dokter ahli bedah di Rumah Sakit Sydney Adventist Hospital. (Saya kenal benar dengan Dr. Palmer karena saya dulu bekerja selama dua tahun di rumah sakit Sydney Adventist Hospital, selama mengikuti kuliah di Macquarie Universityu, dan dialah juga yang menangani pembedahan hernia saya di tahun 1979. Semoga kisah ini telah menguatkan iman anda sekalian bahwa kita mempunyai Tuhan yang telinganya terbuka lebar mendengar doa kita dan menjawabnya sebelum kita berseru kepadaNya. Dalam bahasa Mandarin nama Yesus adalah " Ye Su ", yang terdiri dari huruf "Ye" terdiri dari gambar "dua telinga" berdampingan, dan "Su" terdiri dari gambar "ikan" dan "padi" yang berdampingan, dengan kata lain: "Tuhan Yesus telinganya dua-dua selalu terbuka untuk mendengarkan seruan doa kita, dan Dia selalu menyediakan makanan k672 merupakan nasi atau gandum (roti) serta lauk pauknya untuk kebutuhan kita sehari-hari!" What a wonderful God we have!

    Terang Bagi Bangsa-Bangsa

    Oleh: Sunanto

    Yes 49:6b “Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi." Saya percaya mimpi tersebut datang dari Tuhan dimana lewat mimpi tersebut Dia ingin berbicara bahwa Dia akan memakai saya sebagai terang bagi keluarga dan lingkungan dimana saya berada. Saya merupakan orang pertama dalam keluarga yang mengalami pertobatan dan kelahiran baru dalam Kristus.

    Mimpi itu sudah mulai digenapi dimana saya menyaksikan satu persatu anggota keluarga saya diselamatkan (belum semuanya). Tuhan juga memakai saya untuk menjadi berkat bagi banyak orang baik langsung atau tidak langsung dengan melalui tulisan. Sungguh besar kasih karuniaNya buat hidup saya sehingga saya yang dulunya sering menjadi bahan hinaan dan olok-olokan sejak masih kecil bisa diubah menjadi manusia baru yang memancarkan kemulianNya. Hanya kasih Yesus yang sanggup memulihkan seorang pribadi yang begitu rusak jiwanya dan memakainya untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Itu semua memang hanya karena kemurahan Allah bukan karena saya layak untuk menerimanya.

    Di tahun 1998, setelah membaca sebuah buku berjudul “Roh Kudus” karangan Billy Graham saya mengalami sebuah pengalaman yang mirip turunnya Roh Kudus dalam peristiwa Pentakosta. Pada waktu itu selama berbulan-bulan saya mengalami lawatan Tuhan yang akhirnya membawa saya kepada penyerahan hidup kepadaNya Saya tidak sedang membicarakan pengalaman berbicara dalam bahasa lidah sebab tiga bulan setelah bertobat saya telah menerimanya tetapi jujur saja setelah menerima karunia bahasa lidah itu kehidupan kekristenan saya tidak mengalami perubahan yang berarti. Setelah momen penyerahan itu Tuhan memimpin saya untuk pergi ke kota Sydney Australia. Dia berjanji bila saya menaatiNya untuk pergi maka Dia akan memakai diri saya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa. Saya akhirnya memutuskan untuk berangkat dengan hanya membawa bekal hidup satu bulan.

    Sesampai di Sydney saya mengalami sebuah pergumulan yang sangat berat sebab tidak mudah untuk mencari pekerjaan di sana. Saya sangat mengharapkan Tuhan melakukan mujizatNya tetapi sampai persediaan uang saya hampir habis mujizat tetap tidak terjadi. Saking tidak punya uangnya saya sampai menunggak pembayaran sewa tempat tinggal selama 2 minggu. Untuk menghemat uang saya banyak mengkomsumsi mie instan dan makan nasi hanya dengan telor ceplok Saya masih ingat waktu itu saya jalani lorong-lorong kota Sydney sambil menangis dan bertanya dalam hati, mengapa Tuhan mengijinkanku mengalami masalah seberat ini ? Waktu itu usia saya baru 24 tahun dan masih belum ingin meninggalkan dunia ini sebab masih banyak cita-cita yang belum terwujud. Pada saat terakhir tiba-tiba seseorang menelepon untuk menawarkan sebuah pekerjaan sehingga saya bisa menyambung hidup kembali. Kalau bukan karena anugerahNya yang menopang saya pasti tidak sanggup menanggung beban seberat itu. Satu hal yang saya pelajari dari pengalaman ini, Tuhan tidak akan pernah mengijinkan sebuah pergumulan yang melebihi kekuatan kita dan Ia pasti akan memberi jalan keluar. Sejauh kita taat kepadaNya maka Dia bertanggung jawab untuk memelihara hidup kita.

    Pada tahun 2000 akhir saya kembali ke Indonesia dan kembali harus mengalami pergumulan untuk mencari pekerjaan. Akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk taat kepada Tuhan keluar dari perusahaan tersebut.

    Dengan modal seadanya saya merintis sebuah usaha kecil dengan memanfaatkan koneksi-koneksi yang saya miliki. Pada awalnya sepertinya semuanya berjalan lancar tetapi kemudian banyak sekali terjadi hambatan. Bila kita bertahan dalam masa kesesakan tersebut pada akhirnya kemuliaan Allah akan termanisfestasi dalam hidup kita.

    Saya sengaja menceritakan sedikit pengalaman hidup saya ketika melewati lembah air mata itu sebab melalui itu saya ingin mengatakan bahwa sebelum kita dapat menjadi terang bagi bangsa-bangsa ada sebuah proses yang harus kita alami. Ada harga yang harus dibayar bila kita ingin dipakai untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Memiliki visi yang besar memang sangat baik tetapi untuk menggenapi visi tersebut kita harus membayarnya dengan segenap keberadaan hidup kita. Bila kita ingin dipakai oleh Tuhan maka kita harus memiliki komitmen yang total, tidak bisa dengan komitmen yang hanya setengah hati. Tuhan bukannya senang melihat kita menderita tetapi Ia harus mengijinkannya demi untuk membentuk hidup kita sebab tanpa diproses dan dibentuk maka kita tidak akan bisa dipakai untuk kemulianNya. Sebelum Tuhan memakai kita, Tuhan menuntut kita untuk mempersembahkan hidup kita sepenuhNya kepadaNya. Saya percaya banyak diantara anda yang membaca tulisan ini memiliki sebuah panggilan yang besar dari Tuhan bagi hidup anda. Mungkin anda saat ini sedang mengalami sebuah masa persiapan yang sangat menyakitkan Melalui tulisan ini, saya ingin menguatkan anda agar tetap bertahan sampai akhir. Tetaplah bertahan sampai akhir sebab ada upah besar yang menanti di ujung proses tersebut !

    Terjadilah Apa Yang Tak Pernah Kau Bayangkan!

    Penulis : Tema Adiputra

    Seorang teman saya yang sekarang posisinya sebagai General Manager di sebuah perusahaan bercerita, dulu di tempat kerja sebelumnya, boss-nya seorang pria ganteng dan atletis (katanya! mirip tokoh Eric Estrada bintang film Chips) memiliki kebiasaan unik. Setiap pagi sebelum pergi ke kantor si boss itu berdiri di muka cermin, lalu menatap bayangan dirinya terutama wajahnya, dan berkata : kau pasti akan sukses hari ini! Hal itu sudah menjadi rutinitasnya dan memang menjadi pemacu semangat kerjanya hari itu. Dan memang benar kesuksesan pun diraihnya. Seperti yang ditekadkan dan dibayangkannya pada pagi hari dia bercermin itu.

    Ya! Ada banyak kiat-kiat yang kita ketahui dari berbagai sumber untuk dapat meraih sebuah keberhasilan. Kita bebas mengikuti petunjuknya dan menerapkannya dalam upaya kita untuk dapat sukses/berhasil. Saya masih ingat seorang Profesor teman saya menganjurkan, mulailah bermimpi/memimpikan apa yang kau ingin capai dalam cita-cita hidupmu, dan lalu mulailah bertindak, mulailah melangkah, sekalipun langkah pertama dimulai hanya dengan setengah langkah. Yang penting mulai melangkah dan berlanjut melangkah. Dan jangan pernah putus asa. Berkomitmenlah! Sang profesor memang telah membuktikan sendiri kiat-kiat itu, dan ia sukses! Apa yang diimpikannya satu persatu tercapai.

    Tahun 1982, saat saya masih tinggal sendirian di rumah besar milik abang saya untuk menjagainya, teman yang setia di malam hari adalah sebuah pesawat radio kecil. Sembari membuat tugas dari dosen, atau belajar, saya menyetel radio itu mendengarkan siaran rohani kristen. Saya suka menikmati sajian acara radio rohani tersebut. Sampai pada suatu malam hati saya berkata pada Tuhan : Tuhan saya ingin sekali menjadi penyiar di radio rohani itu, tapi mana mungkin Tuhan, saya tidak tahu seluk beluk dunia radio siaran, dan lagi pula saya mahasiswa sastra. Nah, saya hanya melontarkan sebuah kerinduan dan tidak pernah ada upaya untuk datang ke kantor radio itu karena dilatarbelakangi kontradiktif skill/ketrampilan yang saya miliki saat itu. Jadi hanya pada saat itu saja saya rindukan untuk jadi penyiar tapi tidak berlama-lama memimpikannya. Namun apa yang terjadi kemudian? Dua tahun kemudian, saat saya sedang nongkrong di sekretariat persekutuan mahasiswa kristen di kampus saya, datanglah seorang teman wanita (yang ternyata dia penyiar honorer di radio yang sering saya dengar itu) menghampiri saya sembari berujar: mau nggak kamu melamar posisi peresensi puisi di radio saya? Kamu kan mahasiswa sastra dan sering bikin puisi serta pentas puisi di kampus kita ini. Wah ditantang begitu, tentu saja saya ladeni. Maka mulailah saya berkiprah di stasion radio yang tahun 1982 lalu sempat saya rindukan sesaat. Dari tukang membuat naskah resensi puisi, akhirnya di-test jadi penyiar, lalu jadi penyiar, dan seterusnya tugas-tugas saya di radio itu merambah ke mana-mana sampai dengan berprofesi saat ini sebagai konsultan radio siaran dan menjadi pemandu acara yang direkrut secara khusus oleh lembaga-lembaga kristen maupun gereja yang bersiaran di sebuah stasion radio rohani di Jakarta. Bila merenungkan semua hal ini saat ini maka dalam hidup saya telah terjadi dan terwujud sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Segala pujian hanya untuk Tuhan!

    Bagaimana dengan peristiwa berikut ini yang beberapa waktu lalu menimpa saya? Pada tulisan-tulisan saya sebelum ini, ada saya saksikan bagaimana saya dan tim pelayanan mengatasi persoalan keuangan untuk membayar dana shooting camera, akibat ingkar janjinya seorang donatur. Pada akhirnya Tuhan buka jalan bagi kami sehingga seorang pengusaha yang adalah juga pendeta (ibu Pdt.FAS) tergerak hatinya untuk memberi pinjaman uang yang pelunasannya akan kami cicil selama 8 bulan. Wah betapa lega hati kami waktu itu karena telah lolos dari persoalan yang berisiko tinggi. Maka tentu saja saya dan tim bertekad (dengan berdoa khusus) untuk tepat waktu membayar cicilan setiap bulan itu. Kami buktikan! Pada tanggal 7 bulan pertama cicilan, kami datangi kantor ibu itu, dan bertemu sekretarisnya dan lalu menyerahkan uang di amplop sebagai cicilan pertama. Puji Tuhan lagi! Ya, kami bersukacita untuk bulan berikutnya akan membayar tepat waktu. Sekalipun uang itu hasil saweran bersama.

    Nah kira-kira seminggu sebelum jatuh tempo tanggal bulan cicilan kedua, saya jumpa dengan ibu itu di sebuah pertemuan ministry. Tentu saja saya sedikit kagok namun ibu itu tersenyum dan menyapa saya dengan tidak membicarakan masalah uang tersebut. Sehingga orang banyak di sekitar saya pun tidak tahu menahu urusan ini. Saat bubaran pertemuan ministry itu, ibu yang baik hati ini tiba-tiba menghampiri saya dan berkata, saya ingin bicara sebentar dengan kamu! Lalu kami berdua masuk ke sebuah ruangan dan pintunya saya tutup. Saya pasrah saja, seandainya dia mempersoalkan uang yang kami pinjam itu. Lalu ia berkata: ...hati saya digerakkan Tuhan, uang cicilan yang 7 bulan lagi, tidak perlu kalian lanjutkan pembayarannya! Untuk beberapa detik saya terkesima! Setelah sadar, langsung saya tepuk kening saya dan berkata : Aduhhhhh...! Puji Tuhan! Puji Tuhan! Terima kasih, bu. Terima kasih, bu. Tuhan memberkati ibu dan pelayanan ibu. Sembari berkata begitu tanpa sadar saya tepuk pelan pundak ibu itu sebagai ungkapan sukacita saya. Ibu itu hanya tersenyum penuh ketulusan. Ya! Saya harus berkata apa lagi? Kembali sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, datang menghampiri saya. Terpujilah Tuhan!

    Hanya satu kunci jawaban dari hal yang saya alami seperti di atas itu. Tuhan tahu keperluan kita. Bahkan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh kita ke depan. Juga Tuhan mau menunjukkan betapa berkuasanya Dia. Betapa dia selalu memiliki rencana yang terbaik untuk kita. DIA tahu isi doa kita yang paling dalam yang tak mampu kita ungkapkan dan kita pikirkan. DIA sangat menghargai seruan kita. Seorang bapak pendeta pernah memberikan ayat Firman Tuhan berikut ini untuk saya renungkan : (I Korintus 2 : 9) Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.

    Tribute: Batu Karang yang Teguh

    Penulis : John Adisubrata

    Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. (Yohanes 6:44)

    Menabur benih-benih firman Tuhan sedini mungkin dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita sering mengakibatkan hasil penuaian yang tidak tersangka. Kesempatan untuk bisa menyaksikannya selalu berbeda-beda, sesuai dengan waktu dan kehendak Tuhan, karena hanya Dia yang mampu menumbuhkan benih-benih tersebut.

    Banyak orang menabur firman dengan harapan untuk dapat menyaksikan tuaian tindakan mereka seketika itu juga. Tetapi kenyataan yang sebenarnya, menakjubkan sekali! Buah-buah yang dihasilkan melalui benih-benih firman Tuhan yang ditaburkan ke dalam hidup orang-orang, terkadang baru terlihat nyata bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin beratus-ratus tahun kemudian. Kisah Batu Karang yang Teguh ini sudah membuktikannya!

    Salah satu sekolah dasar di kota Surabaya yang pernah saya kunjungi beberapa puluh tahun yang lalu, telah mempertemukan saya dengan Pak Paliyama, seorang guru SD kelas 6 yang masih muda. Tuhan telah memakai guru ini sebagai alat untuk mempengaruhi kehidupan saya dalam usia yang amat dini. Benih-benih firman yang ditaburkan melalui pelayanannya di sekolah ikut membantu persiapan-persiapan bagi pertobatan hidup saya beberapa tahun yang lalu.

    Setiap hari Jumat segenap siswa sekolah dasar tersebut dipisahkan menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok diwajibkan untuk mengikuti pelajaran-pelajaran agama yang ditawarkan di sana. Entah bagaimana, saya yang baru berumur kira-kira 7 tahun dikategorikan oleh guru saya ke dalam kelompok siswa-siswa yang mengikuti pelajaran agama Kristen, meskipun pada saat itu kami sekeluarga masih belum menjadi penganut agama tersebut. Mungkin sekali, karena kakak saya yang memutuskan bagi adik-adiknya.

    Pak Paliyama selalu mempersiapkan pelajaran agamanya dengan penuh kedisiplinan, dibantu oleh salah seorang dari guru-guru yang lain secara bergantian. Setiap minggu ia memulainya dengan mengajak kami untuk berdoa bersama, dan mengajarkan nyanyian lagu-lagu rohani yang pada waktu itu tidak saya ketahui. Salah satu dari lagu-lagu yang diperkenalkan olehnya, yang amat membekas di dalam hati saya, adalah lagu Hymne kuno: Batu Karang yang Teguh.

    Sebelum pelajaran agama dimulai, ia selalu mempersiapkan lirik dari lagu-lagu tersebut untuk ditulis di papan secara rapi. Tidak jarang ia memberikan tugas tersebut kepada saya. Ia mengetahui, bahwa saya selalu tertarik pada semua hal-hal yang berhubungan dengan kesenian, oleh karena itu sering ia mempercayakannya kepada saya.

    Suaranya selalu terdengar lantang dan bagus, setiap kali ia memimpin kami menyanyi dari depan ruangan kelas. Satu hal yang tidak dapat saya lupakan selama bertahun-tahun mengikuti pelajaran agama Kristen di situ, adalah menyadari, bahwa ia mempunyai kemampuan pendengaran yang amat hebat. Sering kali ia datang menghampiri, berdiri, dan menyanyi di sebelah (bersama) saya, karena di luar pengetahuan saya sendiri, saya sedang menyanyikan irama lagu-lagu tersebut dalam nada suara dua. Pak Paliyama amat menyukainya!

    Selain itu, saya juga terkenang akan ceritera-ceritera bersambung yang selalu dibawakan olehnya dengan penuh ketrampilan. Tentu saja pada waktu itu saya tidak menyadari, bahwa kisah-kisah tersebut sungguh terjadi, bahkan berasal dari dalam firman Allah yang hidup. Tetapi yang pasti, hal itu bukan merupakan suatu masalah yang besar bagi saya!

    Sebagai seorang anak yang masih berjiwa polos, setiap hari Jumat saya terus mendengarkan kisah-kisah yang diceriterakan olehnya dengan penuh perhatian, disertai rasa keingin-tahuan yang berkobar-kobar. Kisah-kisah yang membuat saya selalu tidak sabar untuk mengetahui kelanjutan dan akhirnya. Saya masih ingat akan kekecewaan yang saya rasakan, jika kisah tersebut ternyata harus dihentikan setengah jalan, disebabkan oleh karena jam pelajaran agama sudah berakhir.

    Selain peristiwa ajaib Natal yang mengawali kisah kelahiran Tuhan Yesus, yang paling membekas di dalam hati saya, adalah kisah klasik pengalaman Yusuf dan kesepuluh kakak-kakaknya. Dan di samping kejadian termasyhur tentang peristiwa pembakaran Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari kitab Daniel, yang sampai saat ini tidak pernah saya lupakan, adalah kisah raja Belsyazar, seputar kalimat Mene, mene, tekel ufarsin. (Daniel 5:25)

    Sering kali saya bertanya-tanya mengenai segala kemungkinan yang menyebabkan saya merasa begitu tertarik pada ceritera-ceritera kristiani tersebut, melalui pelajaran agama yang ditawarkan oleh Pak Paliyama.

    Apakah karena pada saat itu, seperti umumnya anak-anak yang masih kecil, saya gemar mendengarkan kisah-kisah yang diceriterakan oleh orang lain, seperti yang dilakukannya dari depan kelas? Atau, apakah karena kepribadian saya yang selalu mengikuti perkembangan buku-buku ceritera dongeng, buku-buku komik, buku-buku silat, bahkan cerpen-cerpen yang ditawarkan oleh koran-koran dan majalah-majalah di Indonesia?

    Atau, apakah karena sedari kecil saya selalu suka mempelajari irama musik-musik populer, sehingga saya menjadi tertarik pada lagu-lagu rohani yang diajarkan olehnya di sekolah? Atau, apakah karena di dalam persepsi kanak-kanak saya, Pak Paliyama adalah seorang (Kristen) yang baik, yang menyebabkan saya mengagumi pribadinya?

    Atau kemungkinan yang lain, apakah semua itu terjadi, karena firman Tuhan harus digenapi? Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus: Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. (Efesus 1:4)

    Taburan benih-benih firman melalui lirik lagu-lagu berdasarkan ayat-ayat Alkitab, dan kisah-kisah menarik yang diambil langsung dari sana, ternyata telah tergores dalam hati. Sekarang sesudah saya lahir baru, pengalaman-pengalaman yang mengawalinya di sekolah tersebut, membawa kembali semua kenangan sangat manis yang terjadi dalam jam-jam pelajaran agama di sana. Bagaimana kami berdoa, bagaimana kami bersama-sama menyanyikan lagu-lagu rohani, dan bagaimana kami sekelas asyik mendengarkan Pak Paliyama berceritera di dalam kelas, semua itu tampak amat jelas dalam ingatan saya!

    demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan padanya. (Yesaya 55:11) Firman Allah, yang diluar pengetahuan saya sendiri, sudah menerobos masuk ke dalam hati saya melalui pelayanannya yang amat sederhana, ternyata telah berhasil menghidupkan roh saya kembali berpuluh-puluh tahun kemudian, karena semenjak saat benih-benih firman tersebut ditaburkan, mereka tidak pernah meninggalkan saya lagi! Itulah bukti kebenaran kasih karunia Tuhan!

    Alhasil, ayat termasyhur ini digenapi dalam kehidupan saya! Dan semua itu terjadi hanya oleh karena jasa bantuan seorang guru, yang bersedia membagikan Kabar Baik firman Tuhan kepada murid-murid di sekolah secara amat sederhana, dengan membagikannya seperti apa adanya, seperti yang tertulis di dalamnya.

    Semenjak kami sekeluarga memutuskan untuk memeluk agama Kristen tidak lama sesudahnya, saya yang masih berusia amat muda, tidak pernah mendapatkan kesempatan seindah itu lagi. Karena itu saya sadar akan pentingnya pelayanan-pelayanan yang tampak sangat tidak berarti pada saat dilakukan, tetapi dapat mempengaruhi dan mengubah kehidupan orang-orang yang terlibat di dalamnya bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan mungkin beratus-ratus tahun kemudian!

    Pelayanan tanpa pamrih, tanpa mengharapkan balasan apa-apa yang dapat menguntungkan diri pribadi!

    Tuhan Yesus mengatakan dalam Injil Yohanes: Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka. (Yohanes 4:36-38)

    Sebelum saya meninggalkan sekolah tersebut, saya sempat menjadi salah seorang dari murid-murid kelas 6 SD yang berada di bawah pengawasan Pak Paliyama.

    Saya harus mengakui, bahwa dari semua guru yang ikut mengambil bagian dalam pendidikan saya di sekolah dasar tersebut, hanya dia seorang saja yang telah meninggalkan suatu kenangan manis yang tak terlupakan. Apakah karena ia seorang Kristen yang transparan? Saya tidak bisa menjawabnya! Yang pasti, ia sudah mempengaruhi masa kanak-kanak saya dengan memperkenalkan Tuhan Yesus Kristus sebagai awal persiapan kelahiran baru yang saya alami beberapa tahun yang lalu.

    Saya percaya, bahwa pelayanannya yang amat sederhana tersebut juga sudah mempengaruhi kehidupan anak-anak yang lain. Saya mengetahui kenyataan ini, karena kakak-kakak saya, yang pernah menjadi murid-muridnya, menyetujui pendapat saya mengenai guru teladan ini!

    Biarlah Tuhan saja yang memberkati Pak Paliyama selalu, dimanapun ia berada. Haleluya!

    Tuhan Meluputkan Kami Dari Tsunami

    Penulis : Yohana Fonny - Jakarta

    Shalom,saya mau bersaksi tentang kemurahan dan penyertaan Tuhan yang telah menyelamatkan keluarga saya dari bencana Tsunami di Aceh. Saya berasal dari kota Banda Aceh tetapi sekarang sedang kuliah di salah satu universitas di Jakarta. Memang rencana Tuhan sungguh indah dan tiada terduga,sebenarnya sebelum ujian tengah semester adik saya berencana untuk pulang ke Banda Aceh. Adik saya lalu menelepon papa saya supaya dia diberi izin pulang. Tetapi papa saya malah marah-marah dan tidak mengijinkan dia pulang karena papa saya menilai itu adalah pemborosan mengingat liburan Natal hanya 2 minggu.Papa saya bahkan mengancam dia kalau berani pulang maka tidak usah kuliah lagi.Lagipula liburan tersebut bertepatan dengan pernikahan paman saya jadi mama saya berencana untuk ke Jakarta. Akan tetapi mendengar rengekan adik saya, mama saya tampaknya ingin membatal kan rencana kedatangannya ke Jakarta.Tetapi papa saya terus mendesak mama saya ke Jakarta dan akhirnya tanggal 12 Desember 2004 mama saya ke Jakarta membawa adik saya yang paling kecil. Pada tanggal 26 Desember pagi jam 8 pagi papa saya menelepon kalau terjadi gempa dan gempanya sangat kuat dan banyak rumah yang roboh.Pada saat itu papa saya lagi di pasar menjual hasil panen udangnya.Biasanya papa saya selesai panen sekitar jam 10an,tetapi pagi itu papa sebelum jam 7 sudah selesai panen.

    Agen yang menampung udang terus mendesak agar papa saya menjual udang kepadanya, padahal papa saya tidak berniat menjual kepadanya. Tetapi akhirnya papa saya juga menjualnya kepada dia. Setelah dari pasar papa saya tidak langsung pulang ke rumah, padahal biasanya dia pasti pulang dan tidur karena kelelahan.Mungkin ini karena tidak ada mama dan adik saya jadi dia tidak perlu mengkhawatirkan keadaan rumah pasca gempa. Dia lalu keliling kota menyaksikan bangunan-bangunan yang runtuh. Sekitar jam 9an dia lalu menelepon bahwa terjadi gempa lagi. Sesudah itu komunikasi terputus.Kami di Jakarta tidak tahu bahwa ada tsunami,ada yang bilang terjadi banjir tetapi saya pikir itu hanyalah banjir yang biasa saja.

    Keesokan harinya terdengar berita bahwa terjadi air bah di Aceh dan banyak yang meninggal.Tetapi puji Tuhan hati saya sedikitpun tidak merasa khawatir tetapi yang ada hanyalah sukacita,mungkin ini adalah karena kuasa Roh Kudus. Mama saya sangat cemas akan keadaan papa saya,tetapi saya berusaha menguat kan dia. Saya juga mau mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman saya maupun pendeta-pendeta yang telah mendukung saya lewat doa. Pada hari Rabu tanggal 29 ada keluarga saya menelepon kalau ada yang melihat papa saya.Sebenarnya pada tanggal 28 keluarga saya mendapat kabar kalau daerah tempat keluarga kami tinggal sudah hancur dan rata dengan tanah dan tetangga kami banyak yang meninggal. Akhirnya sekitar jam 10 pagi tanggal 29 papa saya mene lepon kalau dia bersiap-siap untuk ke Medan menumpang pesawat hercules.

    Air mata saya langsung tertumpah saat itu karena menyadari akan kasih Tuhan yang sangat besar bagi saya.Memang benar kata Firman kalau seorang bertobat seisi keluarga diselamatkan. Rupanya sewaktu datang air bah papa saya berada di tempat yang agak tinggi sehingga dia bisa lari menyelamatkan diri ke rumah paman saya. Padahal paman saya pada tanggal 26 berencana ke Sabang tetapi batal karena gempa.Papa saya berangkat ke Medan bersama 14 orang lainnya,dan puji Tuhan juga berkat yang seharusnya saya terima bisa saya bagikan kepada orang lain. Ke 14 orang itu mau ke Jakarta,akan tetapi tiket pesawat gratis padahal korban yang lain mesti membayar mahal.Saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan akan penyertaan dan pertolongannya.Bahkan pegawai papa saya yang bekerja di tambak semuanya selamat dan kalau dipikir-pikir ini adalah sesuatu yang mustahil karena tambak papa saya berada di pusat gempa. Tetapi tidak ada yang mistahil bagi Tuhan Yesus. Kiranya kesaksian saya bisa membangun dan bisa menyatakan kemuliaan Tuhan. Tuhan Yesus itu mulia,ajaib perbuatannya dan penuh kasih. Haleluyah Amin.

    Tuhan Menyuruh Saya Telepon Ke Nias

    Penulis : Ev. Sonny Eli Zaluchu, MA

    Detik detik Gempa di Nias...
    Saya baru pulang dari perjalanan panjang di Jerusalem, Jordania dan Abu Dhabi dan berjanji pada kedua orang tua saya yang masih tinggal di kota Gunungsitoli Nias untuk menghubungi mereka setelah tiba kembali di Indonesia. Tetapi dua malam berturut-turut ternyata saya "ketiduran" akibat penyesuaian metabolisme tubuh karena melakukan perjalanan melampauhi batas waktu sehingga saya tidak jari menelepon ke Nias. Baru pada hari Senin (28/3/2005) malam pukul 10.30 WIB saya akhirnya berkesempatan menelepon orang tua di Nias, melepas kangen setelah lama meninggalkan Indonesia. Telepon malam itu agak panjang karena kedua anak saya juga ingin berbicara dengan neneknya. Rupanya mereka telah tertidur dan "terpaksa" bangun mendengar deringan telepon di tengah keheningan malam. Saya menutup telepon sekitar setengah jam.

    Rasanya pembicaraan malam itu adalah pembicaraan terakrab antara saya dengan kedua orang tua dan malahan kami sempat membicarakan bagaimana campur tangan Tuhan di dalam kehidupan kami masing-masing. Tanpa perasaan apapun saya pergi tidur.

    Pukul 00.05 malam itu, tiba-tiba HP saya berdering cukup lama. Dengan berat hati saya bangun dan mendapati bahwa telepon berasal dari adik saya yang berdiam di Medan. Pesannya singkat sambil menangis dan membuat jantung saya serasa berhenti.

    "Abang berdoa ya..! Doakan papa dan mama. Nias baru saja dilanda gempa dan terasa sampai di Medan. Kota Gunungsitoli hancur total dan kita kehilangan kontak dengan papa mama! Gempanya berlangsung sekitar pukul 11.20 WIB."

    Kalimat ini seperti guntur di tengah malam. Seluruh persendian saya lemas dan tidak mampu berkata apa-apa. Hubungan telepon ke Nias malam itu putus total. Satu-satunya telepon selular milik adik bungsu saya yang masih tinggal bersama kedua orang tua, juga tidak dapat dihubungi. Saya takut dan tidak mampu berbuat apa-apa. Itu berarti, kejadiannya, berlangsung beberapa menit setelah saya selesai menelepon mereka! Seperti mimpi rasanya, merasa kehilangan kedua orang tua sementara kita tidak tahu harus menghubungi siapa. Komunikasi terputus total.

    Malam itu saya langsung duduk di depan Televisi dan menantikan berita bencana alam tersebut. Tetapi selama dua jam menunggu, tidak ada selingan atau running text. Satu-satunya komunikasi adalah dengan adik saya yang berada di Medan. Kami lalu mengambil inisiatip dan berbagi tugas. Setelah mendapat kepastian bencana di Nias melalui komunikasi selular, adik saya melakukan koordinasi dengan BBC London dan saya kebagian jatah menghubungi TV7 dan Metro TV. Beberapa nomor telepon selular yang kami dapatkan miliki saudara di Nias langsung di data. Dini hari itu, Metro TV tidak bisa dihubungi. Teleponnya tidak diangkat. Puji Tuhan, telepon saya bisa connect ke TV7, diterima oleh Satpam dan langsung diteruskan ke bagian pemberitaan (diterima oleh Sdr. Danang). Malam itu, TV7 bergerak cepat. Mereka menghubungi wakil bupati Nias dan beberapa nomor yang saya berikan kepada mereka. Saya mendapat berita bahwa BBC sudah online. Akhirnya sekitar pukul 03.15, berita resmi pertama tentang gempa Nias muncul di layar kaca. Dunia tahu, bahwa sebuah pulau terpencil, sedang mengalami bencana gempa yang parah. Bangunan beton di kota gunungsitoli, rata dengan tanah! Target kita malam itu adalah agar dunia tahu bahwa sesuatu sedang terjadi di pulau Nias dan itu sangat parah. Kita tidak ingin terjadi keterlambatan yang akhirnya merugikan orang- orang yang ada di sana. Sebab pada saat yang sama, stasiun TV lain hanya menayangkan berita pasca gempa di Medan dan Aceh. Terima kasih untuk TV7. Ini mujizat yang pertama.

    Saya masih bingung bercampur cemas. Hingga setelah berita pertama tentang Nias muncul di TV7, saya masih belum mendapat informasi dimana kedua orang tua saya dan bagaimana keadaan rumah. Kami hanya mendapat berita bahwa listrik di seluruh kota padam, kebakaran muncul di pusat kota akibat korsleting listrik, penduduk meninggalkan rumahnya dan lari ke daerah yang lebih tinggi untuk menyelamatkan diri dari isyu Tsunami yang langsung mencuat di tengah malam itu.

    Mujizat kedua terjadi dan melegakan. Pukul 04.00 pagi, telepon seluler milik tetangga dapat saya hubungi. Melalui kontak itulah saya akhirnya mendapatkan informasi bahwa kedua orang tua dan adik saya selamat dan berada di atas gunung. Saya masih belum yakin sebelum berbicara dengan mereka. Lima belas menit kemudian seseorang menemukan orang tua saya, sedang terduduk lemah dan trauma, disebuah tenda darurat yang dipasang di lereng sebuah bukit, beberapa meter di atas permukaan laut, yang mereka daki dengan susah payah untuk tiba di tempat aman. Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana mereka bisa sampai ke sana. Papa saya adalah seorang penderita paska stroke dan mama rematik di kedua kakinya. Sementara adik bungsu saya sedang dalam keadaan memar. Pasti semangat dan keinginan untuk hidup yang akhirnya membawa mereka ke sana.

    Nomor telepon selular adik saya masih sempat dihubungi oleh TV7 untuk konfirmasi berita dan saya akhirnya bisa berkomunikasi dengan mereka. Pada saat gempa berlangsung, semua benda berguncang dengan kuat dan barang pecah belah jatuh ke lantai. Dinding rumah terbelah. Mereka dengan susah payah keluar rumah karena saking hebatnya getaran, anak kunci tidak bisa masuk ke dalam lubangnya. TV jatuh dan hancur. Meja terbalik. Lantai depan terbelah. Keadaan gelap gulita. Hanya Tuhanlah yang akhirnya membuat mereka bisa lolos dari rumah dan berlari kencang ke arah bukit terjal yang ada di depan rumah.

    Mereka mendapati sudah banyak orang yang bersama mereka di atas bukit itu. Rupanya, bencana telah memicu setiap orang menyelamatkan dirinya sendiri dan tidak lagi peduli dengan nasib orang lain. Kedua orang tua itu, papa dan mama, dengan susah payah naik ke bukit terjal menyelamatkan dirinya tanpa ada yang menolong. Mereka adalah orang terakhir yang tiba di atas tempat itu dan bersaksi, sebelum saya menelepon mereka malam itu, mereka bertiga sudah tertidur. Kalau bukan karena campur tangan Tuhan, hal ini tidak akan pernah terjadi. Deringan telepon interlokal itulah, yang menjadi alarm dari Tuhan untuk membangunkan mereka dari tidur. Pasti akan lain ceritanya apabila malam itu saya tidak menelepon ke Nias.

    Pada waktu mama selesai menerima telepon, mereka akhirnya terjaga. Beliau masih membereskan beberapa hal. Ketika kemudian menidurkan kepalanya beberapa menit kemudian tiba-tiba terdengar suara yang amat keras..dan gempa bumi itu terjadi! Rumah terguncang hebat dan retak. Semua orang egois menyelamatkan dirinya sendiri. Kedua orang tua itu, berjuang sendirian.

    Tuhan Tidak Tinggal Diam

    Oleh: Metha Chandra

    Saya seorang wanita karier yang bekerja di departemen export-import, yang mana sebelum saya bekerja di perusahaan tersebut, sudah ada karyawan lain, sorang pria bapak-bapak yang lebih senior, yang lingkup pekerjaannya sama dengan saya, sebelum saya masuk. Dan karena keseniorannya, dalam perkembangan selanjutnya, dia diangkat menjadi Direktur.

    Entah mengapa, si Bapak ini seperti tidak senang saya menjadi saingannya, padahal dia sudah dimutasi ke jabatan yang lebih tinggi, dan pekerjaan saya pun sudah tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang dia tangani.

    Singkat cerita, pada suatu hari saya kehilangan uang dollar untuk membayar agen pelayaran yang sdh saya siapkan dan saya masukkan dalam amplop2 tertentu. Uang yang hilang waktu itu cukup banyak menurut takaran saya yang hanya karyawan, yakni USD 1000, atau kurang lebih Rp 9,8 Juta.

    Saat saya kehilangan uang ini, si bapak yang jelas-jelas tidak ada hubungan kerja dengan saya, tiba-tiba inisiatif pergi ke dukun di luar kota, dan malah mengajak anak buah saya pergi bersamanya.

    Iblis selelau punya cara menjatuhkan kita sebagai anak-anak Tuhan. Yg saya heran, saat di dukun tersebut, ditanyakan siapa yang mencuri uang perusahaan (yang ada pada saya) saat itu, ditampakkan pada kaca spion besar, seperti shooting video (kata anak buah saya yang diajak tersebut menceritakannya kpd saya),, terlihat lorong tangga menuju ruangan departemen kami, lalu terbuka pintu ruangan, terlihat saya sedang bekerja dgn banyak berkas-berkas dokumen di meja, lalu terlihat amplop itu ada pada saya.

    Intinya, tidak ada pencuri lain, selain saya yang pegang uang tersebut. Pergi ke dukun itu juga disaksikan oleh manager personalia yang diajak juga sama si Bapak direktur mantan manager export-import yang memusuhi saya tersebut.

    Alhasil ada 2 saksi mata selain dia yang melaporkan hasil apa yang mrk lihat kepada Bpk/Ibu Pimpinan perusahaan kami.

    Saya seperti ditempeleng secara keras. Saya menangis.."oh Tuhan, mengapa koq saya melaporkan uang hilang yang akan saya bayarkan ke agen pelayaran, menagapa sekarang tuduhan malah berbalik kpd saya?". Saya merasa semua orang menuduh kepada saya, karena kebanyakan orang Indonesia masih percaya kepada dukun-dukun semacam itu.

    Yang lebih parah lagi, bapak direktur tersebut menaruh kemenyan di depan ruangan saya, dan mengganti aqua minuman galon di ruangan saya dgn galon air minum lain yang telah diisi air jampi-jampi, dan berkata semua orang di departemen saya harus minum air tersebut, dan bila dia pencurinya, maka sehabis minum orang tersebut akan sakit dan akhirnya mengaku bhw dia yang mencuri.

    Ironisnya.. di jaman yang sdh modern seperti ini, di mana Bpk/Ibu Pimpinan adalah juga anak Tuhan beragaman Katolik, berpendidikan barat, koq masih dapat mempercayai direktur yang suka main dukun tersebut.

    Saya sempat protes kepada Tuhan.."Tuhan, mengapa Tuhan? Mengapa koq bisa di dukun itu pada kaca spion bisa keluar gambar saya, dan mengapa kau biarkan anakMu dipermalukan seperti ini?"

    Akhirnya saya hanya bisa menangis dan menerangkan kepada Ibu Pimpinan, bhw saya benar-benar tidak tahu kemana uang itu, dan bahwa saya tidak mencurinya, masa'kan saya bergaji di atas uang yang hilang tersebut, dan sdh bekerja 20 thn, bodoh-bodohnya mengorbankkan semua hny demi uang USD 1000 tersebut.

    Sbg konsekuensi dan pertanggung-jawaban, akhirnya saya menawarkan diri mengganti uang yang hilang tersebut dengan mencicilnya 10x. Bukan karena saya tidak mau menggantinya secara cash, namun karena saya tidak mencurinya, banyak orang di departemen saya, dan saya tidak tahu 1 demi 1 karakter dan persoalan mereka, maka saya tidak rela hrs menggantinya langsung, namun saya cicil 10x.

    Saat ini peritiwa tersebut telah lewat 3 tahun, dan Tuhan sendiri yang melakukan pembalasannya. Entah karena kesalahan apa, Bpk direktur tersebut di-PHK oleh Bpk Pimpinan kami.

    Saya teringat bagaimana dulu direktur ini selalu bikin cara selamatan, bakar kemenyan, potong/sembelih kerbau dan menanam kepala kerbau tersebut di lokasi pabrik pada perusahaan kami, dan sebagai anak Tuhan, saya sedih melihat semuanya ini terjadi dan disetujui oleh Bpk/Ibu Pimpinan, dan bahkan beliau duduk dalam selamatan tersebut.

    Sekarang semuanya berbalik 180%. Direktur yang main dukun tersebut telah menuai kejahatan yang telah dia taburkan. Dan saat ini aura perusahaan kami mulai memancarkan damai sejahtera, karena sekarang di perusahaan kami, telah diadakan Persekutuan Doa tiap 1 bulan sekali untuk kami karyawan yang beragama Kristen & Katolik.

    Saya teringat Firman Tuhan di dalam Roma 12:17 dan 19 "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang. "Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-KU, AKU-lah yang akan menuntut pembalasan, demikian Firman Tuhan". Halleluyah! How great is our God!

    Tuhan, Aku Bukan Orang Samaria itu...

    Penulis : Soni Santana

    Malam mulai merambat kota Jakarta. Hujan yang hampir setiap malam mengguyur Jakarta, malam ini sedang beristirahat. Mungkin Dia yang membuat hujan tahu, kalau anaknya harus berjalan melakukan apa yang Dia lakukan 2000 tahun yang lalu. Mencari yang terhilang, mengunjungi yang terbuang, memberi makan yang lapar, dan menyatakan kabar baik kepada mereka yang tidak mempunyai harapan.

    Yup.. hari ini Ci Merry salah satu rekan dan pemimpin di Yayasan Rumah Roti, mengajak saya untuk pergi melakukan PI dan kunjungan ke jemaat kami yang merupakan jemaat dari ibadah Tuna Wisma, yang isinya pemulung, pengamen, anak-anak jalan, dan orang-orang yang tersingkirkan di kota ini. Entah kenapa, saya yang diajak hari itu, karena sebenarnya kita punya 2 team untuk kunjungan ke anak-anak jalanan yang masih remaja, dan kami biasa menyebutnya anak gaul. Team yang satu Waktu yang tadinya kita tetapkan jam 7 malam untuk jalanadalah Ci Merry dan Roy, sedangkan team yang satu lagi adalah K´ Maria dan saya.

    Sepulang dari kantor, saya sudah mempunyai pikiran lelah, dan semakin lelah karena tahu kalau malam ini saya punya 2 buah agenda yang continyu dan baru selesai sampai jam 5 pagi. yang pertama yaitu PI ke stasiun-stasiun, sedangkan yang satu lagi adalah doa semalaman bersama anak-anak JPJ(Jaringan Pemuda Jakarta) di Plasa Central. Jam 7 malam saya sudah sampai di tempat ci Merry, tapi ternyata Ci Merry pun baru pulang dari kantor, jadi saya harus menunggu ci Merry bersiap-siap. Kebetulan disana ada Yusuf dan Ester, rekan di pelayanan Tuna Wisma juga. sambil ngobrol ngalor-ngidul, dan mulai ada cerita tentang salah satu anak kecil yang ditangkap kamtib di daerah Juanda, dan ibunya minta supaya kami membantu membebaskan anak tersebut. Akhirnya ci Merry siap untuk berangkat dan berpikir sebentar tentang anak kecil tersebut.

    Malam yang semakin gelap, yang membuat semakin was-was apakah akan hujan malam ini ? Sampailah kami di stasiun Mangga Besar, dan saya memarkirkan motor di sebrang stasiun. Pemandangan kumuh mulai menusuk mata, seiring kami memasuki stasiun Mangga Besar. Stasiun yang seharusnya stasiun yang indah, bahkan bisa dibilang melebihi stasiun Gambir dari segi konstruksi dan arsitekturnya, tapi sayang, karena kurang perhatian dari pemerintah setempat, stasiun ini malah menjadi tempat singgah bagi para pemulung dan pengamen, bahkan tempat-tempat yang diperuntukan sebagai tokopun berubah fungsi menjadi tempat tinggal tetap yang disewakan sebulannya hanya 50 ribuan rupiah.

    Memasuki stasiun tersebut, pikiran yang lelah namun masih ada kegairahan dalam roh saya, menjadi hilang seketika dan perasaan marah, kecewa dan sedih mulai masuk ke dalam pikiran saya. Anak-anak jalanan yang biasa saya bina setiap minggu, sedang ngefly dengan lem aibon yang membawa pikiran mereka menuju surga dunia. Ah.. Tuhan apa yang bisa membuat anak-anak ini berubah... Tahu kalau kami datang, merekapun berusaha bersembunyi. Tidak lama kemudian, mereka mulai berani untuk menyapa kami, tapi dengan aibon yang masih tersembunyi di balik baju mereka.

    Mulai banyak hal yang mereka ceritakan, dan seolah suatu koor mereka bercerita kalau mereka mulai ngelem lagi karena kumpulan mereka yang suka ngelem. Sungguh pergaulan sangat berpengaruh sekali dalam kehidupan seseorang. Taufik yang malu-malu dan belum pernah menyentuh aibon, sekarang sudah sangat akrab dengan aibon. Hendra, lelaki kecil yang badung bahkan sudah terbiasa dengan rokok. Si Ambon, anak kecil hitam yang kini sudah sering memakai lexotan. ah.. Tuhan mereka tidak memakainya secara sembunyi-sembunyi, merak tidak melakukannya di ruangan yang tertutup, tapi mereka lakukan ini di tengah keramaian, tapi mengapa tidak ada yang perduli dengan paa yang merak lakukan ????

    Tidak lama kemudian si Ambon mulai merengek-rengek, "ka.. tolong temen saya Ka.. bawa ke dokter, kakinya ngga bisa jalan...". Saya yang sudah sangat kecewa saat itu hanya bisa berpikir, " ah... anak ini sedang mabuk lexotan, paling alesan aja untuk minta duit..." Saya coba alihkan perhatian saya ke Taufik, yang saya kenal santun dan baik, tapi setelah beberapa minggu tidak pernah datang lagi, ternyata sudah tidak asing lagi dengan aibon. Tapi si Ambon masih terus merengek-rengek....

    Akhirnya saya coba dekati anak ini. Seorang anak yang sudah cukup dewasa, dengan usia sekitar 19 tahunan, sedang tergolek lemah sambil tiduran. Bau yang datang dari dirinya membuat saya tidak tahan berlama-lama dekat dengan dia. Saya berpikir saat itu, anak ini habis terjatuh ke dalam Got, karena suasana stasiun yang remang-remang membuat saya tidak bisa melihat dengan jelas kondisinya, saya hanya melihat kotorang hitam yang sudah mengering di bagian kaki kanannya. Saya mulai bertanya apa yang terjadi, dan anak ini yang tidak pernah saya lihat di stasiun ini sebelumnya mulai cerita kalau dia terkena peron kereta, sambil saya perhatikan ternyata terdapat luka-luka seperti sayatan di kakinya, dan ternyata kotoran hitam tersebut adalah darah yang sudah mengering.

    Saat itu perasaan marah, kecewa dan sebagainya yang membuat hati saya tidak damai sejahtera, membuat pikiran saya blank, dan saya hanya bisa cerita ke Ci Merry yang sedang ngobrol dengan anak-anak lainnya, tentang keadaan anak ini, dan bertanya apa yang harus kita lakukan. kemudian ci Merry pun menghampiri anak ini, kemudian tidak lama kamipun berdiskusi dan kami memutuskan untuk membawa anak ini ke klinik Pesona, yang merupakan klinik yang telah bekerja sama dengan kami untuk mengurusi anak-anak jalanan di daerah tersebut. Kamipun memanggil salah satu jemaat kami yang tinggal di stasiun tersebut yaitu Pak Sobari. Setelah saya memanggil Bajaj, Pak Sobaripun memapah anak ini dengan sangat sulit sekali, karena ternyata anak ini tidak bisa jalan. Bahkan untuk naik ke Bajajpun sulit sekali.

    Sesampainya di klinik ini, Puji Tuhan ternyata klinik ini dalam keadaan sepi, karena biasanya kalau saya mengantar mereka ke klinik ini tidak jarang harus menunggu satu sampai dua jam. Setelah anak ini di bawa ke dokter, ternyata dokter melihat ada kemungkinan kalau tulang di daerah lutut terjadi pergeseran, dan melihat hal ini dokter klinik tersebut angkat tangan, tidak bisa melakukan tindakan lebih lanjut. Di Klinik inilah kami bisa mendapatkan cerita lebih banyak tentang kejadian ini.

    Bahkan secara tidak sadar kami tidak mengerti, bagaimana anak ini yang mengalami kejadian di Stasiun Gondangdia bisa dibawa ke stasiun Mangga Besar. Dan yang luar biasanya ternyata anak ini mengalami kejadian ini dari tadi pagi, dan setiap kali lukanya dibersihkan darah akan terus mengalir. Sampai akhirnya darah itu dibiarakan mengering dan menjadi kehitaman. Ah.. ternyta sudah begitu apatisnyakah dunia ini ? Anak yang terbaring dari pagi sampai malam belum ada yang menolongnya. Saya ngga tahu rencana Tuhan begitu ajaib, waktu PI kami yang biasa kami lakukan hari Sabtu pun bisa bergeser ke Hari Jumat.

    Setelah dokter melihat, dokter hanya bisa bilang kalau anak ini harus dirontgent terlebih dahulu untuk mendapatkan tindakan selanjutnya.

    Tindakan selanjutnya yang diambilpun antara di gips atau di pen. Benak saya dipenuhin dengan pikiran-pikiran bahwa ini akan memakan proses dan biaya yang cukup banyak. Bahkan Dokterpun bilang akan sangat banyak biaya yang harus dikeluarkan untuk perawatan anak ini, dan bukan hanya biaya saja, tapi juga waktu yang harus diberikan untuk membawa anak ini rawat jalan, sampai anak ini bisa berjalan normal kembali, karena minimal dalam satu minggu harus dibawa ke dokter 2 kali untuk melakukan perawatan lebih lanjut. Kemudian saat itu kami cuman minta supaya dokter bisa mengambil tindakan seperlunya seperti menyuntik dengan anti tetanus dan memberikan obat untuk menahan rasa sakit. Setelah itu saya mulai mencari tahu rumahsakit yang bisa memberikan pengobatan untuk anak jalanan dengan biaya yang murah, ternyata bahkan dokterpun tidak pernah mendengar ada rumah sakit yang seperti itu. Bahkan yang luar biasanya dokter menyuruh kami untuk bawa ke dukun patah tulang. Dalam hati saya cuman bisa tertawa, kok bisa-bisanya nyuruh kami ambil tindakan seperti itu ?

    Kemudian kami hanya memberikan uang kepada anak tersebut untuk dia bisa makan dan roti-roti yang kami bawa untuk kami berikan ke anak-anak jalanan. Melalui Pak Sobari, kami cuman berpesan untuk melihat-lihat anak tersebut. "Son, dosa ngga ya kita kalau kita cuman bawa ke klinik ini ??" tanya Ci Merry setelah mereka berangkat ke stasiun kembali, saat itu saya cuman bisa bilang kalau kita sudah lakukan apa yang kita bisa.

    Setelah itu kami melanjutkan PI kami ke daerah Gunung Sahari, dan rasa kecewa saya bisa sedikit terobati ketika saya bertemu dengan anak-anak di daerah ini yang rata-rata mereka mengamen, tapi perilaku mereka yang cukup baik dan santun serta cara bicara mereka yang lebih terjaga.

    Ternyata di daerah ini banyak sekali anak-anak jalanan dan mereka mempunyai komunitas yang cukup kuat untuk hal ini. Selesai PI hampir jam 9 lewat 10 menit, saya pun mengantar Ci Merry pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Kemudian saya melanjutkan pulang kerumah untuk menunggu rekan-rekan saya yang mau ikut doa semaleman tersebut.

    Sesampai dirumah, saya dipenuhi pikiran tentang perumpamaan Orang Samaria yang baik hati. Saya tidak tahu posisi saya saat itu ada dimana, sebagai Imam Yahudikah ? sebagai orang Lewikah ? atau sebagai orang Samaria ? Bahkan ketika doa pun saya masih teringat-ingat hal ini.

    Akhirnya setelah selesai doa, kami menuju roti bakar di daerah pancoran, dan disitu mulailah saya bercerita tentang apa yang saya alami, dan saya katakan bahwa ini realita dan saya minta pendapat mereka kalau mereka mengalami hal ini. Rekan-rekan saya yang merupakan pemimpin-pemimpin pun bingung apa yang harus dilakukan. Karena ini bukan perkerjaan sehari saja, tapi harus terus menerus, minimal seminggu dua kali harus membawa anak ini ke sinshe. Ah... ini real, ini nyata dan ini yang harus saya alami. Pertanyaan ci Merry pun tentang apakah dosa dengan perbuatan kami terus menggantung dipikiran saya.

    Sampai keesokan paginyapun pikiran ini terus menggelayuti saya. Sampai akhirnya saya mencoba menghubungi seorang rekan untuk menuju ke stasiun dan membawa dia ke sinshe, karena dia lebih berpengalaman untuk berurusan dengan orang seperti ini. Sayapun juga mengirim sms ke Ci Merry dan menceritakan apa yang saya dapatkan melalui hal ini.

    Ternyata memang perumpamaan yang sering sekali saya ceritakan, yaitu tentang orang Samaria yang Baik Hati, yang mudah sekali sepertinya dilakukan, yang mudah sekali diucapkan, tidak bisa saya lakukan di dunia yang real. Bahkan kondisi seperti inipun membuat saya harus berpikir sangat panjang.

    Tuhan aku bersyukur mengalami hal ini. Terima Kasih aku sudah dibawa mengalami perumpamaan yang telah Kau ajarkan, dan ternyata memang sangat sulit sekali hal ini untuk dilakukan. Saat ini aku gagal Tuhan untuk menjadi Orang Samaria itu.. aku ngga sanggup Tuhan untuk menjadi orang Samaria itu.. aku ngga tahu Tuhan dimanakah posisiku... Imam Yahudikah ?? atau orang Lewikah ?? Tuhan saat ini aku bahkan tidak bisa menyalahkan Imam Yahudi dan Orang Lewi itu, karena akupun ternyata sama seperti mereka, dan bahkan duniapun dipenuhi dengan orang-orang seperti mereka, tapi aku ngga akan pernah melupakan pengalaman ini, dan aku akan terus belajar untuk bisa menjadi orang Samaria itu...

    Untuk Kamu Ketika Kamu Tak Mampu Lagi Bersyukur

    Oleh: Kenia Oktavianie

    Malam itu, di tengah gerimis dan senyapnya malam Jakarta, ketika sebagian orang sedang beristirahat atau menikmati malam minggu yang begitu panjang, kulihat seorang anak kecil yang tidak biasa. Usianya mungkin seumur dengan salah seorang saudaraku yang duduk di bangku kelas 6, ia sedikit kurus, berambut cepak dan menggunakan kaos warna merah.

    Aku melihat ada yang berbeda dengan pribadi ini, ketika kulihat senyumnya yang sarat akan semangat hidup dan perjuangan. Dia berjuang, ya dia seorang pejuang, bahkan mungkin pahlawan bagi keluarganya.

    Malam itu, ketika seharusnya anak seumuran dengannya sibuk bermain game online, atau menonton televisi dengan keluarganya, ia mengayuh sepeda tuanya. Berjalan dari satu tenda ke tenda lain untuk bertahan hidup. Untuk 2000 ribu rupiah untuk setiap bolu, ia mengayuh sepedanya di tengah gerimis untuk menjajakan kue bolu bagi pengunjung yang datang. Aku hanya membayangkan jika aku berada dalam posisinya, apakah aku sanggup untuk tetap hidup dengan rasa syukur, dan menahan malu menjajakan kue ke setiap orang yang tidak ku kenal, dan tetap tersenyum untuk setiap penolakan??

    Malam itu, ketika kebanyakan orang mengeluh atas hidupnya, aku melihat semangat pada sorot matanya, dan terlebih cinta. Cinta yang memampukan dia untuk melakukan sesuatu yang tidak semua orang mau melakukannya. Cinta yang memampukan ia bersyukur ketika ia masih memiliki kesempatan untuk meneruskan hidup keluarganya.

    Beberapa hari kemudian, dalam kelas teologi, aku juga begitu tersentuh ketika seorang dosen menceritakan kesaksian seorang ibu di Surabaya. Ibu ini pribadi yang begitu kuat, dan hidupnya sarat dengan ucapan syukur. Suatu hari, ketika ia mendapati anaknya sakit, dan tidak ada sepeser uang pun yang dapat dihasilkan suaminya yang notabene hanya seorang tukang becak, ibu ini berdoa kepada Tuhan untuk meminta pertolongan. Akhirnya ia berusaha mencari pekerjaan di sekitar rumahnya. Ia mendapati sebuah warung nasi dan mencoba melamar pekerjaan di sana. Singkat cerita, ibu ini mendapatkan pekerjaan di sana untuk mencuci piring. Setelah 3 jam mencuci, akhirnya ia pulang dengan membawa uang Rp. 5000 dan dua bungkus nasi warteg sebagai upahnya. Ibu ini bersaksi dengan berlinang air mata untuk apa yang ia dapatkan, ia bersyukur bahwa Tuhan menolong dia dengan luar biasa.

    Bagi kamu, apakah hari-hari ini kamu masih hidup dengan ucapan syukur pada mulutmu??

    Berapa sering kamu mengeluh untuk makanan yang kurang enak? Keluarga yang bermasalah? Tugas yang begitu menumpuk?? Atau hal yang tidak kamu miliki padahal orang lain miliki??

    Sadarkah kita, ketika kita bersungut-sungut atas hidup kita, saat itu juga kita justru memiliki begitu banyak hal.

    Hiduplah dengan nyanyian syukur dan ucapan Mazmur bagi Allah kita. Lihatlah apa yang kita miliki, bukan apa yang tidak kita miliki, dan terlebih bersyukurlah untuk seseorang yang mau mati untuk kita, Yesus.

    17 November 2010, ketika Tuhan menamparku dan membawaku kembali ke pelukannya..

    Kenia Oktavianie
    Untuk kamu ketika kamu tak mampu lagi untuk bersyukur

    W. Mitchell

    "Pengalaman bukanlah apa yang terjadi pada seseorang. Pengalaman adalah apa yang dapat dilakukan seseorang terhadap apa yang terjadi padanya." Bagaimana seandainya pada umur 46 tahun tubuh Anda terbakar sampai tak dapat dikenali lagi dalam suatu kecelakaan sepeda motor yang mengerikan, dan empat tahun sesudahnya Anda lumpuh dari pinggang ke bawah dalam suatu kecelakaan pesawat terbang?

    Lalu, dapatkah Anda membayangkan diri sendiri menjadi seorang milyuner, pembicara yang disegani, pengantin baru yang berbahagia sekaligus pengusaha yang sukses? Dapatkah Anda melihat diri Anda sendiri menaiki kano? Terjun bebas? Mencalonkan diri untuk jabatan politik?

    W. Mitchell telah menjalani semua hal tersebut dan lebih banyak lagi setelah mengalami dua kecelakaan buruk yang membuat wajahnya tak lebih dari tambalan cangkokan kulit yang beraneka warna, kedua tangannya kehilangan jari-jarinya dan kedua belah kakinya menjadi kecil dan tanpa gerakan di atas kursi roda. Ia menerima enam belas pembedahan sesudah peristiwa kecelakaan sepeda motor itu membakar lebih dari 65% badannya, menyebabkan ia tidak mampu mengambil garpu, memencet tombol telepon atau pergi ke kamar mandi tanpa bantuan orang lain.

    Namun Mitchell, seorang bekas marinir, tidak pernah mau percaya bahwa ia sudah terkalahkan. "Aku bertanggung jawab terhadap pesawatku sendiri," katanya. "Bagaimanapun ini adalah masa suka dan masa duka yang harus kutanggung. Aku dapat memilih untuk memandangnya sebagai suatu kemunduran atau sebagai titik awal."

    Enam bulan kemudian ia mengemudikan pesawat lagi. Mitchell membeli sebuah rumah bergaya Victoria di Colorado, sejumlah properti, sebuah pesawat, dan sebuah bar. Kemudian ia berkongsi dengan dua orang teman dan bersama-sama mendirikan pabrik pendiangan kayu yang tumbuh menjadi perusahaan swasta terbesar kedua di Vermont.

    Lantas empat bulan selepas kecelakaan sepeda motor, pesawat yang dikemudikan Mitchell menabrak landasan pacu saat lepas landas, menghantam dua belas tulang belakangnya yang berhubungan dengan rongga dada dan membuatnya lumpuh secara permanen dari pinggang ke bawah. "Aku bertanya-tanya, apa gerangan yang kualami ini. Apa yang telah kulakukan sehingga aku tertimpa semua ini?"

    Tidak gentar, Mitchell berusaha siang malam untuk meraih sebanyak mungkin kemandiriannya kembali. Ia terpilih sebagai Walikota Crested Butte, Colorado, untuk menyelamatkan kota itu dari pertambangan mineral yang akan merusak keindahan kota itu serta lingkungannya.

    Mitchell kemudian mencalonkan diri untuk duduk di Kongres, mengubah penampilannya yang ganjil menjadi suatu aset dengan slogan-slogan seperti, "Bukan sekedar wajah bagus." Terlepas dari rupanya yang mula-mula amat mengejutkan orang berikut hambatan-hambatan fisiknya, Mitchell mulai naik kano, ia jatuh cinta dan menikah, meraih gelar master dalam bidang administrasi pemerintahan dan tetap menerbangkan pesawat, aktif dalam gerakan lingkungan serta ceramah umum.

    Sikap Mental Positif Mitchell yang tidak tergoyahkan mengganjarnya untuk muncul dalam "Today Show" dan "Good Morning America" sekaligus tampil dalam artikel-artikel di Parade, Time, The New York Times, dan terbitan-terbitan lain.

    "Sebelum aku lumpuh, ada sepuluh ribu hal yang dapat kulakukan," ujar Mitchell. "Kini tersisa sembilan ribu hal. Aku dapat memilih untuk terus-menerus memikirkan seribu yang hilang dariku atau memusatkan diri pada sembilan ribu yang tersisa. Aku memberitahu orang-orang lain bahwa aku mengalami dua kecelakaan besar dalam kehidupanku.Kalau aku saja tak mau menggunakan kecelakaan itu sebagai alasan untuk menyerah, barangkali sejumlah pengalaman yang membuat Anda surut juga akan dapat ditempatkan di dalam suatu perspektif baru.

    Anda dapat melangkah kembali, menggunakan sudut pandang yang lebih luas dan meraih peluang untuk berkata, ´Mungkin itu sama sekali bukan persoalan yang terlalu berarti´." Ingat : "Itu bukanlah apa yang terjadi pada diri Anda, itu adalah apa yang Anda lakukan terhadap hal itu."

    Sumber: Wiempy

    Warisan Popoh

    Oleh: Sion Antonius

    Saya pernah tinggal bersama dengan popoh kurang lebih 18 tahun, mulai dari lahir sampai SMA. Pada saat tinggal bersama rasanya tidak ada sesuatu yang istimewa untuk di kenang. Setelah berpisah rumah dan saya beranjak dewasa maka kenangan baik saat tinggal bersama itu mulai muncul. Apalagi setelah meninggalnya popoh pada 3 januari 2008, ternyata ada hal penting yang harus selalu saya kenang dan simpan dalam hati.

    Kenangan itu adalah sebuah warisan. Wah mungkin banyak yang berpikir saya mendapat harta yang sangat banyak dari popoh. Bukan..bukan.. harta benda, warisan yang saya peroleh. Popoh saya tergolong miskin untuk harta, dia tidak memiliki apapun untuk diwariskan kepada cucunya. Hidupnya hanya berkecukupan saja. Untuk anaknya mungkin masih ada sedikit uang dan sedikit perhiasaan yang ditinggalkan, tetapi itupun tidak bisa dikategorikan warisan yang bernilai sangat besar sehingga diperebutkan para ahli waris tidak tidak seperti itu. Jadi warisan seperti apa yang saya peroleh? Ijinkan saya terlebih dulu bercerita tentang masa kecil ketika hidup bersama satu rumah dengan popoh. Kami adalah keluarga yang sangat sederhana, jika tidak ingin disebut miskin. Untuk sekedar makan memang selalu ada, tidak pernah sampai kelaparan. Begitu juga dengan pendidikan, meskipun bersekolah di sekolah biasa, kami tetap bisa menikmati pendidikan formal. Satu hal yang agak kurang saya nikmati adalah masalah uang jajan. Selama saya bersekolah orang tua kami tidak bisa memberi uang jajan. Jangankan untuk uang jajan, uang sekolah saja sering terlambat bayar.nunggak. Disinilah uniknya rencana Tuhan, orang berkata Blessing in Disguise, ada berkat terselubung. Popoh saya dari hari Senin sampai Sabtu tidak pernah memberi uang, tapi khusus hari Minggu dia selalu memberi uang. Untuk apa popoh memberi uang pada hari Minggu? Sebelum menjawab pertanyaan ini, coba anda bayangkan betapa sukacitanya dan senangnya saya dalam menantikan hari Minggu. Hari tersebut menjadi begitu istimewa dibanding hari-hari lainnya dalam satu minggu. Popoh saya pendidikan formalnya sangat rendah, tapi dalam menarik hati cucunya dia jenius. Dia mengetahui kelemahan cucunya yang haus untuk mendapat uang jajan. Kejeniusan dari popoh saya ini adalah jawaban dari pertanyaan mengapa dia memberi uang pada hari Minggu. Dia punya rencana supaya cucunya mau rajin ke sekolah minggu di gereja.

    Dengan terus menerus ikut sekolah minggu maka lambat laun saya jadi tahu siapa Tuhan Yesus. Dengan semakin mengenal Tuhan Yesus maka saya menjadi percaya dan menerima Dia sebagai juruselamat. Nampaknya kemungkinan seperti ini yang memang diharapkan terjadi oleh popoh ketika memberikan uang pada hari Minggu yaitu supaya cucunya mengenal Tuhan. Popoh saya karena sangat sederhana orangnya (maksudnya dalam hal pendidikan) , dia merasa tidak mampu menjelaskan siapa Tuhan yang disembahnya. Namun di sisi lain dia ingin cucunya bisa mengenal Tuhan dengan benar, maka dia memakai cara sederhana yaitu dengan memberi uang supaya saya senang pergi ke sekolah minggu. Dia mungkin berpikir biar guru sekolah minggu yang memperkenalkan Tuhan Yesus kepada cucunya. Saya sangat menghargai usaha popoh untuk memperkenalkan Tuhan yang dia percaya ini.

    Uang yang diberikan oleh popoh pada setiap hari Minggu selalu dalam bentuk pecahan dua buah, jika Rp 100,00 maka Rp 50,00 x 2. Mengapa selalu 2 buah mata uang? Ini adalah jenius kedua dari popoh saya. Dia memberi 2 buah mata uang karena 1 untuk persembahan dan 1 untuk uang jajan. Di sini dia mengajarkan ketika mendapatkan berkat yang dari Tuhan selain boleh kita nikmati, juga harus ada yang dikembalikan dalam bentuk persembahan sebagai rasa syukur padaNya. Maka setiap hari Minggu saya selalu pergi ke sekolah minggu dengan hati yang gembira. Para pembaca, inilah warisan yang saya maksud. Saya diwarisi dua macam warisan. Yang pertama adalah iman kepercayaan kepada Tuhan yang sama dari popoh. Warisan kedua adalah sikap mau mengembalikan berkat yang sudah diterima dari Tuhan kepada Tuhan. Bagi saya warisan ini sangat berharga melebihi apapun yang ada di dunia ini.

    Banyak orang tua sibuk memikirkan harta benda untuk menjadi warisan bagi anak dan cucunya. Mereka rela berjuang siang malam bekerja supaya tersedia banyak cadangan devisa bagi yang ditinggalkan. Mereka berpikir dengan uang yang banyak maka urusan dunia dan akhirat bisa terjamin. Sungguh keliru pendapat seperti itu, karena harta benda hanya dapat dinikmati kala berada di dunia. Menikmat harta benda walaupun bisa membawa banyak kesenangan namun ada batasannya, ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang, misalnya tidur nyenyak, kesehatan, umur dan juga paspor ke sorga. Ketika di alam baka harta itu tidak ada nilainya lagi, namun banyak yang mengira harta ada gunanya di alam baka, sehingga mereka terus menerus mencari harta dan mewariskan harta. Banyak orang bangga ketika hartanya sangat banyak, sehingga ada yang diberi julukan orang yang banyak harta sampai tidak habis dimakan 7 turunan. Mewariskan harta itu tidak salah, yang salah adalah mengandalkan harta dalam menjalani hidup di dunia ini.

    Sikap mengandalkan harta ini menjadi suatu gaya hidup dalam masyarakat yang semakin individual dan materialistis. Orang tua menjadi kurang percaya diri jika tidak bisa mewariskan harta kepada anaknya. Sering kita mendengar orang tua yang berkata, syukur anak sudah menikah semua dan masing-masing sudah saya beri rumah, hati jadi plong rasanya. Orang tua seperti ini merasa tugas utamanya adalah mencukupkan kebutuhan materil, setelah itu tercukupi maka mereka pikir sudah bisa di wisuda sebagai orang tua yang berhasil. Memang demikianlah tolok ukur dalam masyarakat tentang keberhasilan orang tua. Anakpun demikian, jika punya orang tua yang miskin, mereka akan berkata, saya tidak diberi apa-apa oleh orang tua. Semiskin-miskinnya orang tua sangatlah tidak mungkin tidak memberi apa-apa kepada anaknya. Minimal mereka memberikan kehidupan yaitu melalui makanan yang diusahakan setiap hari untuk anaknya. Bahkan ada orang tua yang rela tidak makan asalkan anaknya mendapat makanan. Jadi setiap anak pasti mendapat pemberian dari orang tuanya, yang membedakan adalah ada orang tua yang bisa memberi banyak harta, ada yang hanya memberi sedikit sekali. Sampai di sini kita harus berpikir dengan benar, yaitu ketika menjadi orang tua berilah anak kita warisan yang bernilai kekal, jangan hanya yang bernilai sementara. Dan ketika menjadi anak jadilah anak yang menghargai orang tua bukan karena pemberian hartanya yang banyak, tetapi karena cinta kasih mereka yang agung. Beruntunglah saya karena memiliki popoh yang berpikiran sangat jauh hingga menembus kekekalan. Dia mewarisi anak-anak dan cucu-cucunya dengan harta yang tidak akan habis dimakan rayap dan rusak oleh karat. Dia mewariskan iman kepercayaannya kepada Tuhan Yesus supaya keturunannya dapat berkumpul bersama di sorga kelak.

    Menyangkut warisan kedua yaitu sikap untuk mau mengembalikan berkat yang dari Tuhan, bagi saya ini adalah didikan yang penting. Pada umumnya manusia hanya mau menerima dan menerima saja, tapi Tuhan menginginkan selain menerima juga harus bisa memberi, sehingga dalam kitab suci dikatakan lebih baik memberi daripada menerima. Ketika kita punya sedikit harta rasanya tidak sukar untuk berbagi, hal ini karena kita berpikir dibagikan atau tidak dibagikan tetap saja sedikit. Jadi menurut saya orang miskin mungkin lebih jujur ketika harus memberi. Kondisi yang sebaliknya adalah pada saat kita punya banyak harta. seringkali sulit sekali untuk berbagi, adakalanya harus diadakan perhitungan dulu sebelum memberi. Orang yang punya banyak harta justru semakin kuatir jika harus memberi, takut memberi terlalu banyak. Pada saat kita memberikan persembahan kepada Tuhan, saya lebih suka dengan cara berpikir mengembalikan berkat. Dengan konsep mengembalikan berkat maka kita berada pada posisi sudah menerima kemudian apa yang sudah diterima itu dikembalikan lagi. Melalui cara berpikir ini maka kita tidak berstatus sebagai pemilik atas harta yang ada, namun sebagai pengelola saja. Jadi alangkah senangnya kita bisa mengembalikan apa yang sudah Tuhan percayakan. Menjadi orang yang hemat atas apa yang sudah dipercayakan oleh Tuhan. Banyak yang berpikir sikap hemat adalah ketika kita memakai uang untuk hal-hal yang perlu saja dan sisanya disimpan dalam tabungan. Saya mempunyai 2 pandangan sikap hemat, yaitu:

    1. Sikap hemat yang positif, yaitu kita hanya memakai uang untuk hal-hal yang perlu saja, tapi uang yang tidak kita pakai bukan semata-mata di tabung, namun harus juga dipakai dalam pekerjaan pelayanan. Contoh konkretnya adalah, satu hari saya ingin membeli celana panjang jean"s, saya punya uang Rp 1 juta, harga sebuah Levi"s yang asli Rp 750 ribu, saya memilih tidak membeli celana tersebut melainkan membeli jean"s biasa seharga Rp 70 ribu, sisanya Rp 500 ribu untuk persembahan dan Rp 430 ribu ditabungkan. Indah bukan sikap seperti ini.

    2. Bagaimana sikap hemat yang negatif? yaitu dengan mengambil contoh tadi, jika sisa uangnya yang Rp 930 ribu seluruhnya dimasukkan dalam tabungan supaya punya uang yang lebih banyak semata. Mengapa negatif? Karena sikap ini adalah hemat supaya dapat mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tanpa tujuan lainnya, kalaupun ada tujuan, biasanya menyangkut pemenuhan keinginannya semata, misalnya uang ditabung supaya bisa beli mobil baru, beli baju yang bermerek terkenal dan lain-lainnya. Sikap ini menahan berkat Tuhan hanya ada pada kita, tidak menjadikannya mengalir untuk orang lain. Banyak orang ketika diberi banyak uang oleh Tuhan, juga memakai banyak uang untuk dirinya sendiri, sikap hemat negatif ini juga salah satu bentuknya, karena fokusnya adalah menjadikan harta untuk apa yang mereka pikirkan saja.

    Mereka menjadi tuan atas harta bendanya, merasa bahwa keberhasilan memperoleh harta semata-mata karena jerih payahnya, tidak ada campur tangan dari Tuhan. Kita harus mengerti pemilik sejati harta adalah Tuhan, Dia yang empunya semuanya. Setiap orang hanyalah pengelolanya, dan kita harus bertanggung jawab seperti di tulis dalam perumpamaan tentang talenta. Bagi mereka yang diberi banyak akan dituntut banyak juga. Dengan 2 macam warisan inilah saya mulai mengenal Tuhan. Pembentukan karakter Kristiani masih terus berlangsung hingga hari ini. Dan saya bersyukur untuk semuanya ini karena mempunyai popoh yang memberikan warisan bernilai kekal. Amin

    Catatan : Popoh (bahasa hakka/mandarin) = Nenek (bahasa indonesia)

    William Cutts

    Tiba-tiba pintu rumah bersalin terbuka. Seorang dokter dengan pakaian khusus keluar. "istri anda dalam keadaan baik, namun sayang keadaan bayinya membahayakan jiwa istri anda. ada satu hal yang harus anda putuskan, keselamatan istri anda atau bayinya. Saya tahu hal ini sulit, namun kami telah berusaha sekuat mungkin. Akhirnya kami harus menemui anda, sebab keputusan anda amat menentukan, jika anda sudah siap, silahkan kami dihubungi dan menandatangi formulir ini." Setelah berkata demikian dokter tsb memeluk bahu pria yang diajak bicara.

    Sorot matanya dibalik kaca mata yang tebal memberi semangat pada pria yang tubuhnya gemetar. Pria yang sedari tadi gelisah, sekarang bertambah gemetar setelah menerima berita yang meluncur dari mulut dokter yang memeluknya.

    Wajahnya jadi pucat seperti mayat. Butiran keringat dingin sebesar kacang kedelai bermunculan di dahinya. Mulutnya menganga. lidahnya kelu, matanya nanar. Setelah berusaha menelan ludahnya, ia berusaha mengeluarkan kata-kata.

    "Dokter..mm, bberi kesempatan saaaaya untuk berdoa." Kepala dokter tsb mengangguk, tanda setuju. Ruangan tunggu kelahiran bayi malam itu sepi menggigit, sinar lampunya nampak pudar.

    Suasana saat itu bisa dingin menutupi tembok sekeliling ruangan itu. Pria itu kemudian tertunduk. Wajahnya ditenggelamkan atas kedua telapak tangannya yang menopangnya. Suara tangis tertahan bercampur kepedihan dan rasa takut menimbulkan suara yang keluar dari mulutnya seperti suara bergumam, tidak jelas. Suasana kembali sunyi. Kemudian ia perlahan bangkit, berjalan menuju perawat yang berdiri menunggunya.

    "Suster, katakan kepada dokter, istri saya perlu diselamatkan, sedapat-dapatnya selamatkan juga anak saya, saya telah melihat harapan."

    Suster itu hanya mengangguk, kemudian menyodorkan sehelai lembaran formulir. Setelah ditandatangi, ia kembali menunggu. Persalinan berlangsung sulit. Dokter berupaya mengeluarkan bayi dari dalam rahim wanita yang sudah mulai kehabisan tenaga. Dengan alat khusus, dokter tersebut mengupayakan kepala sang bayi dapat keluar terlebih dahulu. Namun tiba-2, crot..darah segar muncrat disertai bola mata yang masih terikat ototnya keluar menggelantung, baru kemudian kepala bayi. Merasa berpacu dengan waktu, dokter makin berusaha keras untuk mengeluarkan seluruh tubuh bayi itu. Bunyi gemeretak tulang rawan bayi yang patah karena proses tersebut. Akhirnya tubuh bayi yang mirip seonggok daging tsb utuh keluar dari dalam rahim. Persalinanpun berjalan sampai tuntas.

    Dokter segera memerintahkan seorang perawat agar membersihkan tubuh bayi tersebut dan segera dimasukkan kantong mayat. Namun Tuhan yang mendengar doa bertindak lain. Tubuh bayi yang masih berlumuran darah dibersihkan terlebih dahulu oleh perawat. Saat tangan sang perawat membersihkan tubuh bayi di bagian dada sebelah kiri, nampak denyut jantung yang lemah. Tanda kehidupan. Ruapanya denyut yang lemah terlihat oleh sang perawat tsb. Segera bayi tsb dikirim ke ruang khusus.

    4 th kemudian, bayi itu tumbuh menjadi seorang anak mirip monster hidup. Ia diberi nama William Cutts. Jika bayi normal, diusia sebelas thn telah belajar berjalan, tidak demikian dng William Cutts. Ia baru belajar merangkak seperti anjing. Kepala bagian kanan agak besar, matanya yang kanan rusak berat, tidak mungkin bisa melihat.Bahunya miring. Menjelang remaja, jalannya miring seperti tiang hampir roboh. Dan kata dokter, otaknya tak akan sanggup berkembang alias tidak mungkin bisa belajar seperti manusia normal.

    Sudut pandang dokter rupanya beda dengan kedua orang tuanya, mereka melihat harapan. Orang tuanya terus membesarkannya dengan penuh kasih sayang. "Kelak anakku akan dipakai Tuhan secara luar biasa, sebab aku yakin harapan itu ada" demikian doa kedua orangtuanya, setiap kali melihat William Cutts yang selalu kesulitan dengan menyelaraskan jalannya dengan bahunya. Tuhanpun mewujudkan harapan anak-anakNYA.

    Tepat pada waktuNYA, William Cutts bersimpuh dikakiNYA, satu ayat yang dipegangnya yang menjadi dasar panggilannya. "Justru didalam kelemahan kuasaKU menjadi sempurna" II Kor 12:9 Inilah sumber perharapan baginya.

    Tuhan tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap kepadaNYA. Tuhanpun membuktikan janjiNYA. Apa yang tidak dipandang oleh dunia, dipakai Allah secara luar biasa. Dengan segala keterbatasannya, William Cutts maju untuk taat. Harapan demi harapan terkuak setelah ia taat melangkah.

    Setelah menyelesaikan sarjananya di sekolah theologia, ia menjadi utusan misi ke Irian Jaya, Indonesia. Tuhan meneguhkan janjiNYA, dalam kelemahan, kuasaNYA nyata. Tiap langkah pelayanan William Cutts, Tuhan meneguhkan dengan mujizatNYA. Semua ini diawali dengan orang yang melihat harapan dan mempercayai harapan di dalam Yesus itu pasti ada dan tidak pernah sia-2.

    William Cutts telah meyaksikan apa makna hidup didalam pengharapan yang berlimpah di dalam Kristus

    Sumber: Indri

    Yang Berkenan di Hati Allah

    Oleh: Rick Joyner

    Dalam penglihatan itu saya melihat seorg yg sgt rajin melayani Tuhan. Ia terus menerus bersaksi kpd org org, mengajar dan mengunjungi org sakit utk berdoa bagi mereka. Ia sangat rajin melayani Tuhan dan sungguh mengasihi org-org. Kemudian saya juga melihat seorg gelandangan yg tdk mempuyai rumah. Seekor anak kucing keluyuran di depan kakinya dan ia mulai menendangnya, ttp ia menaha diri, namun demikian anak kucing tsb tertendang juga cukup keras ke pinggir lorong.

    Lalu Tuhan bertanya kpd saya , yg mana dari kedua org itu yg menyenangkan hatiNYA. "Yg pertama" kata saya tanpa keraguan. "Bukan, yg kedua," tanggap Tuhan, dan ia mulai menceritakan kpd saya kisah mereka.

    Org yg pertama dibesarkan di dlm sebuah keluarga yg sgt baik, yg selalu mengenal Tuhan. Ia bertumbuh di dlm sebuah gereja yg berkembang dan kemudian kuliah diseminari yg terkemuka. Tuhan telah memberikan kasihNYA kpdnya seratus bagian,ttp ia hanya mempergunakan tujuhpuluh lima bagian.

    Org kedua dilahirkan tuli. Ia diperlakukan dgn kejam dan ia disekap didlm sebuah kamar loteng yg gelap dan dingin sampai ia ditemukan oleh yg berwajib ketika ia berusia delapan thn. Ia dikirim dari satu sekolah ke sekolah yg lain, dimana ia terus menerus mengalami pelecehan. Akhirnya ia mjd gelandangan. Utk mengatasi hal itu Tuhan hanya memberikan kpdnya tiga bagian KASIH, ttp ia tlh megerahkan kesemuanya itu utk melawan kebuasan yg ada di dlm hatunya utk tdk menganiaya anak kucing tsb.

    Sekarang saya melihat kpd org itu, ia sedang duduk bagaikan seorang raja di atas sebuah takhta yg jau lbh mulia dari yg dpt dibayangkan mengenai salomo.Pasukan malaikat berbaris di sekitarnya siap sedia utk melakukan apa permintaannya. Saya menoleh kpd Tuhan dgn rasa takjub.Saya msh tdk dpt percaya akan realitas org tsb bhw ia benar benar salah satu dari raja raja yg besar.

    " Tuhan, lanjutkanlah kisah MU ttg org ini," pinta saya "Tentu saja krn itulah kita berada disini. Angelo SGT SETIA dgn SEDIKIT KARUNIA yg AKU berikan kpdnya.Ia mempergunakan kesemuanya, utk tdk mencuri.Ia hampir kelaparan,ttp ia tdk mau mengambil apapun yg bukan miliknya. Ia membeli makanannya dari pengumpulan botol botol bekas dan kadang kadang menemukan seseorg utk memberikan pekerjaan di lapangan. Ia tdk dpt mendengar,ttp ia belajar membaca, jadi AKU mengirimkan kepdnya selembar traktat.Ketika ia membacanya ROH KUDUS membuka hatinya dan ia memberikan hidupnya kpdKU. Kembali AKU meliatduakan kasihKU kpdnya dan dgn setia ia menggunakan kesemuanya itu. Ia ingin bersaksi kpd org org lain,ttp ia bisu. Walaupun hidunya begitu miskin, Ia mulai membelanjakan lbh dari separuh miliknya utk membuat traktat dan membagikannya di persimpangan jalan".

    "Bera[a org yg dibawanya kpd Engkau?" tanya saya, mengira bhw tentulah byk org yg telah dibawanya kpd Tuhan shg ia dpt bertkhta dgn raja-raja di situ.

    "Satu" jawab Tuhan, " AKU mengizinkannya menyelamatkan seorg pemabuk yg hamir matu utk memberikan dorongan. Hal itu memberinya semangat yg begitu besar sehingga bertahun-tahun ia berada di persimpangan jalan utk membawa jiwa jiwa yg lain kpd pertobatan. Tetapi seluruh isi surga memohon kpdKU dgn sgt utk membawanya kemari dan AKU mengiginkan agar ia menerima upahnya,"

    "Tetapi apa yg dilakukannya shg ia mjd raja?" tanya saya "IA SETIA DGN APA YG TELAH DIBERIKAN KEPADANYA, ia mjd pemenang atas semua, SAMPAI IA MENJADI SERUPA DGN AKU, dan ia matu sebagai martir?"

    "ia MENGALAHKAN DUNIA DGN kasihKU. Sgt sedikit org yg berhasil mjd pemenang dgn kepunyaan yg demikian sedikit. Kebanyakan umatKU tinggal di rmh sedemikian rupa, yg raja raja bbrp abad yg lalu saja, iri kalau melihatnya krn segala hal yg serba enak dan serba mudah yg ada pada mereka, ttp semuanya itu tdk mereka hargai

    Lain dgn Angelo, ia begitu mnghargai kotak kardus utk melindunginya dari malam yg dingin shg ia dpt mengubahnya mjd bait hadiratKU yg penuh kemuliaan. Ia mulai mengasihi setiap org dan segala sesuatu. Ia bersukacita utk sebuah apel daripada beberapa umatKU YG TDK DPT BERSYUKUR utk makanan pestanya. Ia setia dgn apa yg AKU berikan kpdnya walaupun apa yg AKU berikan itu tdk sebanyak yg AKU berikan kpd yg lainnya, tmsk engkau. AKU memperlihatkan kpd engkau suatu penglihatn krn engkau melewatinya berkali kali. Bahkan engkau pernah membicarakannya kpd salah seorg sahabatmu mengenai dirinya,"

    "Saya/ Apa yg saya katakan?" "Engkau berkata,"Ada Elia yg lain yg tercecer dan stasiun bus, "Engkau mengatakan bhw ia adl seorg gila rohani yg dikirimkan oleh musuh utk memurtadkan org."

    Ini merupakan pukulan telak yg saya dptkan dlm pengalamn ini. Saya merasa lbh dari terkejut, saya terkejut sampai gemetar. Saya berusaha utk mengingat ingat kejadian itu, ttp tdk bisa krn ada begitu byk peristiwa yg semacam itu. Saya MEMANG TDK PERNAH MENGHARGAI PENGINJIL2 JALANAN YG JOROK, YG BAGI SAYA KELIHATANNYA DIUTUS SECARA KHUSUS UTK MEMURTADKAN ORG ORG DARI INJIL YG BENAR.

    " Maafkan saya Tuhan, Saya benar benar menyesal." "Dan engkau sdh diampuni," tanggap Tuhan dgn cepat. " Engkau ada benarnya. Memang ada byk org yg mencoba utk menginjil di jalan jalan dng motivasi2 yg salah bhkan menyimpang. Namun demikian masih byk yg tulus, walaupun mereka tdk terlatih dan tdk bersekolah. SEHARUSNYA engkau JANGAN MENGHAKIMI DARI PENAMPILAN SESEORANG, Msh byk hamba hamba yg benar, yg melakukan sesuai dgn apa yg terlihat sebagaimana mereka yg profesional di dlm gereja gereja dan organisasi yg besar yg dibangun manusia di dlm namaKU"

    Lalu ia mengisyaratkan saya utk melihat kd Angelo.Ketika saya menoleh, ia telah menuruni tangga yg menuju takhtanya dan telah berada tepat di depan saya. Ia membuka kedua lengannya, merangkul saya erat-erat dan mencium dahi saya seperti seorg bapa kpd anaknya. Kasih tercurah atas diri saya dan menembusinya, sampai merasa meluapi sistem saraf saya. Ketika akhirnya ia melepaskannya, saya merasa terhuyung huyung spt org mabuk, ttp ada perasaan yg begitu menyenangkan. Ini adl KASIH yg blm pernah saya alami sebelumnya.

    "Dia dpt memberikan KASIH itu kpd engkau di bumi"Tuhan melanjutkan " Ia memberikan byk kpd umatKU, ttp mrek tdk mau dekat kpdnya. Bahkan nabi-nabiKU menghindarinya. Imannya bertumbuh oleh sebuah alkitab dan dua buku lainnya yg dibelinya, kemudian dibacanya berulang ulang.Ia mencoba ke gereja ttp tdkk mendapatkan seorg pun yg dpt menerimanya. Apabila mereka menerimanya , mereka menerima AKU. Ia adl ketukanKU pd pintu mereka".

    Saya belajar suatu definisi baru mengenai dukacita "Bagaimana dia bisa meninggal?" tanya saya, teringat bhw ia meninggal sebagi martir, setengah mengira bhw saya ikut bertanggung jawab atasnya.

    "Ia mati kedinginan, ketika sedang berusaha menyelamatkan seorg pemabuk tua yg sdg jatuh pingsan dlm cuaca yg dingin."

    Ketika saya melihat Angelo, saya tdk dpt perc aya, betapa kerasnya hati saya terpukul.Namun demikian, saya msh blm mengerti apa yg membuatnya mjd martir, yg menurut pendapat saya istilah martir diperuntukan bagi mereka yg mati krn tdk mau berkompromi mengenal kesaksian yg ada pada mereka.

    "Tuhan, saya tahu bhw ia adl seorg pemenang yg sejati,"kata saya. "Dan memang ia pantas berada disini.Tetapi apakah semua mereka yg mati dgn cara yg seperti itu di sebut martir?"

    "Angelo adl seorg martir setiap hari dlm hidupnya. Ia hanya melakukan secukupnya utk hidupnya saja dan ia dgn sukacita mengorbankan hidupnya demi seorg sahabat yg membutuhkan. Sebagimana yg ditulis oleh Paulus utk jemaat di korintus, walaupun engkau memberikan dirimu tk dibakar, ttp bilamana engkatu TIDAK MEMPUNYAI KASIH, hal itu TIDAK BERMANFAAT. ttp bilaman engkau MEMBERIKAN DIRIMU DGN KASIH, NILAINYA TINGGI SEKALI

    Angelo mati setiap hari krn ia tdk hidup bagi dirinya sendiri, ttp bagi org org lain.m Sementara ia berada didunia ia selalu memperhitungkan dirinya sebagai org kudus yg paling tdk berarti, ttp sebenarnya ia adl seorg yg terbesar. Sebagaimana yg telah engkau pelajari, byk yg menyangka dirinya yg terbesar, dan disangka besar oleh org org lain. berakhir di sini sbg org yg paling tdk berarti. Angelo tdk mati krn doktirin ataupun kesaksiannya, ttp ia mati bagiKU"

    " Tuhan, tolonglah saya mengingat hal ini. Tolonglah agar saya tdk melupakan apa yg saya lihat disini, kalau nanti saya kembali" mohon saya. " Krn itu AKU berada bersamamu disini dan AKU akan bersama dgnmu apabila engkau kembali. HIKMAT adl MELIHAT DGN cara KU melihat bukan MENGHAKIMI ATAS DASAR PENAMPILAN. Aku memperlihatkan Angelo kpdmu di dlm suatu penglihatan shg engkau dpt mengenalnya bilaman engkau melihatnya di jalan. Andaikata engkau memperoleh kesaksian pengetahuan dari masa lalunya, dimana ia telah memberikan hidupnya kpdKU mk engkau mjd murid seorg raja besar di dlm gerejaKU

    Yesuslah Jawaban

    Oleh:Sunanto

    Dalam salah satu bukunya, Anne Graham Lotz, putri dari Billy Graham menceritakan pengalamannya ketika mengalami krisis dalam pernikahannya. Setelah sepuluh tahun menikah, Anne mulai merasakan kasihnya terhadap suaminya mulai memudar. Dalam kepanikan dan merasa terjebak dalam pernikahan yang tanpa kasih, dia memohon pertolongan kepada Tuhan untuk bisa menyelamatkan pernikahannya. Setelah berdoa selama berbulan-bulan memohon pertolongan Tuhan, akhirnya Tuhan memberikan petunjuk kepadanya agar ia bisa memperbaiki hubungan dengan suaminya. Petunjuk yang Tuhan memberikan sama sekali diluar dugaannya.

    Pada awalnya Anne mengira suaminya yang harus berubah supaya perkawinan mereka dapat diperbaiki. Namun Tuhan justru memberikan petunjuk supaya Anne yang harus berubah, bukan suaminya.Tuhan berkata kepadanya, “Engkau tidak dapat mengasihi suamimu karena engkau tidak mengenalKu, barangsiapa mengenalKu akan dapat mengasihi sebab Aku adalah kasih.” Kuncinya bukanlah memfokuskan hubungan dia dengan suaminya melainkan memfokuskan hubungannya dengan Allah. Setelah memfokuskan dirinya pada hubungan dengan Allah melalui doa, studi Alkitab, penyerahan, dan ketaaatan maka hatinya mulai dipenuhi oleh kasih Allah. Karena hidupnya telah dipenuhi oleh kasih Allah maka dia sanggup untuk mengasihi suaminya. Sebuah pernikahan dapat berlansung dengan indah dan penuh kasih bila masing-masing pasa ngan telah terlebih dahulu mengalami kepuasan melalui hubungan dengan Allah. Yesuslah jawaban untuk semua permasalahan dalam sebuah pernikahan.

    Hari-hari belakangan ini saya bertemu dengan banyak anak Tuhan yang sedang dalam pergumulan berat. Kemarin secara tidak di sengaja saya bertemu dengan seorang dokter gigi yang dikuasai oleh ketakutan dan kekuatiran sehingga ia sering sulit untuk tidur. Stress yang berkepanjangan itu juga akhirnya menyebabkan tulang belakangnya terjepit. Salah satu pergumulannya adalah anaknya yang hidupnya jauh dari Tuhan dan memberontak terhadap ayahnya. Lalu Tuhan tiba-tiba memberikan hikmat kepada saya bahwa sang dokter gigi ini menyimpan kepahitan dengan ayahnya sehingga kepahitan itu menurun kepada anaknya yang pemberontak itu. Ternyata memang benar, ia lalu menceritakan bagaimana ia merasa telah disia-siakan oleh ayahnya.Masalah yang sebenarnya dari sang dokter gigi ini bukanlah pada anak-anaknya melainkan dirinya sendiri yang dipenuhi oleh kepahitan.Bila ingin keluarganya dipulihkan, dia harus menerima pemulihan dan jamahan dari kasih Allah.Yesuslah jawaban bagi permasalahan dia.

    Mungkin ada diantara saudara yang membaca tulisan ini yang sedang mengalami pergumulan berat dimana anda merasa sangat sulit untuk bisa meraih kemenangan. Salah satu penyebab mengapa banyak anak Tuhan tidak meraih kemenangan sebab mereka memfokuskan diri pada masalah bukan pada Tuhan. Seringkali kita menuntut orang lain dan keadaaan disekeliling kita untuk berubah sebab kita mengira merekalah sumber masalah kita. Padahal sumber masalah yang sebenarnya terletak pada diri kita sendiri.

    Seberat dan sesulit apapun masalah yang sedang anda hadapi hari ini, Yesus sanggup untuk memberikan jalan keluar. Tidak ada hal yang mustahil bagi Allah, mujizat itu nyata bila kita mau percaya. Percayalah, jika anda bersedia untuk menyerahkan permasalahan anda dan mengijinkan Tuhan untuk bekerj a maka Dia sanggup untuk memberikan anda kemenangan. Yesuslah jawaban untuk hidup anda !