Artikel-artikel yang berisi kesaksian atau pengalaman hidup seseorang yang dapat dibagikan untuk memberkati orang lain
Penulis : Andar Ismail
TAHUN 2004 ini merupakan tahun persiapan menyambut perayaan "200 Tahun Hans Christian Andersen". Perayaan itu akan berpuncak pada tanggal 2 April 2005. Seluruh dunia akan merayakan "200 Years HCA". Siapakah Hans Christian Andersen? Apakah makna hidup dan karyanya? Hans Christian Andersen (selanjutnya: HCA) mengarang 156 buku cerita yang sudah diterjemahkan ke dalam ratusan bahasa. Bukunya disukai oleh tua dan muda di segala benua. Beberapa ceritanya sudah begitu meluas sampai orang tidak tahu lagi bahwa itu karangan HCA. Misalnya, cerita tentang raja yang keranjingan baju mewah sehingga tertipu membeli kain "begitu halus sampai tidak tampak" padahal sebenarnya ia telanjang bulat. Atau cerita tentang anak yang menyalakan korek api dagangannya sebatang demi sebatang untuk menahan dingin salju lalu batang terakhir menyala menjadi sinar dari sorga bersama neneknya yang menjemput dia.
Tahun ini penerbit di seluruh dunia sibuk mencetak ulang atau mencetak perdana buku-buku HCA. Selain itu, puluhan buku cerita akan digubah menjadi naskah sandiwara untuk dipentaskan oleh murid sekolah. Di Kopenhagen, Denmark, sebagai pusat perayaan "200 Tahun HCA" akan diluncurkan buku The Complete Works of HCA terdiri dari 18 jilid setebal 9.000 halaman langsung dalam berbagai bahasa.
Cerminan Realitas
Ciri pertama cerita HCA adalah unsur otobiografi. Di situ terselip secuil riwayatnya sendiri. HCA lahir dalam keluarga miskin pada tanggal 2 April 1805 di Odense, Denmark. Ayahnya tukang sepatu, ibunya tukang cuci.
Para pelaku cerita HCA tampil hidup karena mereka adalah simbolisasi orang- orang di masa kecil HCA. Di situ ada Si Baik dan Si Jahat. Hidup ini terdiri dari babak yang indah dan buruk yang silih berganti.
Contohnya terdapat dalam buku Siti Jempol. Siti Jempol lahir dalam kelopak bunga dan badannya hanya sebesar jempol orang. Angin dan arus air mudah menyeretnya. Dalam jalan hidupnya ada tokoh-tokoh yang menjahati dia, seperti Si Katak dan Si Kumbang. Namun banyak pula tokoh yang suka menolong seperti Si Kupu-Kupu dan Si Burung. Dalam buku Anak Bebek yang Jelek diceritakan penderitaan seekor anak bebek yang dicibirkan masyarakat, padahal kemudian ternyata ia sebenarnya seekor angsa yang anggun.
Terpuruk untuk Bangkit Kembali
Cerita-cerita HCA mengandung nilai edukatif. Pelaku cerita dihadang kendala dan krisis. Ia terpuruk. Kuncinya ada pada mental pelaku itu sendiri. Apakah ia cuma meratapi keterpurukannya? Apakah ia cuma berputar-putar di situ juga dan sibuk mencari kambing hitam? Apakah ia melarikan diri dari akar persoalan lalu mengurusi perkara sepele? Atau sebaliknya, ia punya sense of crisis, cepat bertindak mencari solusi dan bekerja keras memperbaiki situasi lalu bangkit kembali.
Banyak cerita HCA memandang penderitaan dan kejatuhan dari perspektif iman. Pelaku cerita bisa mencari dan menemukan hikmah di balik musibah. Allah bisa menjadikan suatu kegagalan sebagai sebuah pelajaran yang membuat kita lebih kreatif dan dinamis. Yusuf memakai perspektif itu ketika ia berkata, "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud..." (Kejadian 50:20).
Tamat Bukan Kiamat
Pelaku cerita HCA juga menghadapi realitas bahwa tidak ada keberhasilan yang abadi. Kita bisa naik ke bukit namun tidak bisa seterusnya ada di puncak bukit. Cepat atau lambat, semua akan tamat. Kiprah HCA pun tamat. Ia menjadi tua renta, sakit kanker dan tidak punya cukup uang untuk berobat. Ia meninggal dalam usia 70 tahun.
Penderitaan masa tua HCA tergambar dalam buku Pohon Cemara. Di situ diceritakan tentang sebatang pohon cemara kecil yang ingin cepat menjadi besar. Benarlah ia cepat bertumbuh menjadi pohon yang bagus. Lalu ia ditebang dan dijadikan pohon Natal di sebuah rumah. Seusai Natal ia dibuang ke luar dan diinjak-injak orang. Daunnya layu. Ia menjadi sampah buangan. Sambil menitikkan air mata ia berdesah, "Masa jayaku di hutan telah berlalu. Masa indahku sebagai pohon Natal juga sudah berlalu. Riwayatku sudah tamat. Tetapi aku tidak menyesal. Pada malam Natal di rumah itu, aku mendengar cerita Natal. Itu cerita bagus ..."
Riwayat pohon cemara itu sudah tamat. Namun hidupnya tidak sia-sia. Ia telah memberi diri untuk dijadikan pohon Natal. Sebaliknya, ia telah menerima diri Sang Tokoh cerita Natal.
Riwayat HCA pun sudah tamat. Namun cerita-ceritanya terus bergema ke seluruh dunia selama 200 tahun ini. Hari kelahiran HCA, yakni 2 April, kini dirayakan sebagai Hari Buku Anak Internasional (International Children's Book Day).
Sumber: Suara Pembaruan Daily
Penulis : S.P. Sinambela
"There is not a single inch in the whole domain of our human existence over which Christ, who is sovereign over all, does not cry: Mine!"
Itulah kalimat terkenal dari Abraham Kuyper yang masih terus menggema sampai saat ini. Dilahirkan 29 Oktober 1837 di Maassluis, Belanda, dengan ibu seorang guru dan ayah seorang gembala di Dutch Reformed Church.
Sebagai seorang mahasiswa muda di akhir 1850-an, Kuyper diajar berdasarkan pekembangan teologi modern Jerman dan Belanda yang sangat liberal. Kehidupan kampusnya dipengaruhi banyak oleh professor teologinya, J.H. Scholten (1811-1885) dan professor literaturnya, M. de Vries (1820-1892).
Salah satu pengaruh yang didapatnya adalah ketika Kuyper - atas undangan de Vries - berhasil menggondol medali emas dan penghargaan lainnya atas sebuah perlombaan penulisan essay yang bertema tentang perbandingan pemikiran Calvin dan J. A Lasco atas gereja. Dia menyelesaikan penulisan ini selama tujuh bulan, dan akhirnya keletihan dan tidak dapat mengikuti studinya. Dengan terpaksa, Kuyper mengajukan istirahat selama enam bulan. Dia akhirnya menyelesaikan studi dan paper tersebut dijadikannya disertasi doktoralnya (Th.D.) di Universitas Leyden, Belanda. Sebelumnya, Kuyper menyelesaikan tingkat sarjananya dalam bidang literature, filsafat dan bahasa klasik dengan summa cum laude.
Gembala yang Diubahkan
Kuyper menjadi gembala pada kongregasi pertamanya di sebuah desa, Beesd. Di sini Tuhan mengubahnya menjadi seorang beriman ortodoks melalui "sekumpulan kecil Calvinis keras kepala yang sudah ketinggalan zaman" yang sangat bertentangan dengan teologi liberalnya. Kumpulan orang-orang sederhana ini begitu kuat imannya dan pemahaman atas doktrin tradisional Calvin. Dalam setiap perbincangan, mereka membicarakan tentang Kebenaran Sejati yang telah menjadi abstrak dalam pemikiran Kuyper yang liberal. Kuyper mengungkapkan kesaksiannya atas jemaat tersebut dengan mengatakan:
"I did not set myself against them, and still thank my God that I made the choice I did. Their unwavering persistence has been a blessing for my heart... In their simple language, they brought me to that absolute conviction in which alone my soul can find rest - the adoration and exaltation of a God who works all things, both to do and to will, according to his good pleasure." (Louis Praamsma, Let Christ be King: Reflection on the Life and Times of Abraham Kuyper, Jordan Station, Ontario, Canada: Paideia Press, 1985.p.49)
Berangkat dari titik ini, Kuyper menjadi sangat dipakai Tuhan dalam pelayanan Firman Tuhan. Kuyper membentuk satu pengajaran Firman Tuhan dan pemahaman iman reformed ortodoks. Dengan pemahaman yang semakin dewasa secara biblical, Kuyper banyak mengadakan perubahan dalam Dutch Church dan masyarakat Belanda. Perubahan ini berpengaruh dalam penggembalaan gereja-gereja di Utrecht dan Amsterdam dan masih tersisa sampai pada abad ke-20.
Jurnalis
Kuyper menjadi editor-in-chief pada koran mingguan De Heraut (The Herald) mulai 1871 dan chief editor pada harian De Standaard (The Standard) sejak 1872. Melalui media ini Kuyper memberikan kepemimpinan yang jelas dan inspirasional yang sangat berpengaruh terhadap reformasi kekristenan - dari teologi yang liberal menuju teologi reformed di Belanda. Kuyper menulis kepada orang kelas bawah seperti petani, nelayan, dan pegawai toko sama-baiknya dengan dia menulis kepada guru-guru sekolah, pelajar, mahasiswa, gembala dan pebisnis. Pesannya singkat namun dalam: "prinsip-prisip Iman Kristen terhadap dosa, keselamatan dan pelayanan harus diaplikasikan dalam setiap area kehidupan untuk kemuliaan Allah."
Dalam sebuah komentarnya pada De Standaard tanggal 18 September 1877, atas sebuah pergumulan percaya dan ketidakpercayaan mengenai permasalahan konsep pendidikan publik dan pendidikan Kristen, Kuyper menuliskan,
"Those who have definitely broken with Christendom defend the religiously neutral public school with all their might. They may claim that such a school is not anti-Christian, but is what it promotes. Christians, on other hand, recognize that education in Christian virtues without Christ leads to doctrinal vagueness. They deny that Christian Education leads to rank intolerance. The Liberals in public express their hatred for Christian education, while many Christian schools witness to the truth of our claims."
Kuyper menghabiskan waktu hampir 50 tahun sebagai editor pada harian De Standaard. Dia menghasilkan kira-kira 4.700 tulisan pada harian ini, dengan berbagai topik mulai filsafat, teologi, pendidikan, politik dan budaya. Selain itu Kuyper juga menulis beberapa buku teologi, salah satu yang terkenal berjudul The Crown of Christian Heritage, yang aslinya ditulis dengan judul Lectures on Calvinism (Grand Rapids, MI: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1931)
Politikus dan Negarawan
Pada tahun 1869, Kuyper bertemu dengan Green van Prinsterer, seorang Calvinis yang juga anggota parlemen. Dengan Prinsterer, Kuyper membentuk suatu partai politik modern bernama Anti-Revolutionary Party. Partai ini memiliki program politik yang mencakup semua bidang hukum publik, pergumulan sekolah, masalah penjajahan dan masalah- masalah sosial. Kuyper dan partainya juga mencetuskan penghentian penjajahan atas negara-negara koloni Belanda dan perbaikan kesejahteraan buruh industri. Di akhir 1901, partai ini meraih suara yang sangat besar di parlemen, yang mengantarkan Kuyper menjadi Perdana Menteri Belanda. Kuyper melayani dalam kapasitas ini sampai pada 1905.
Fitur karakteristik dalam pemikiran politik yang diperkenalkan oleh Abraham Kuyper adalah prinsip soevereignity in eigen kring atau dalam bahasa Inggrisnya Sphere Sovereignity. Sphere Sovereignity berimplikasi pada tiga hal: (1) Kedaulatan yang Mutlak hanya milik Allah; (2) semua kedaulatan yang ada di muka bumi berada di bawah dan diturunkan dari Kedaulatan Allah; (3) tidak ada satu kedaulatan di bumi yang lebih tinggi dari kedaulatan lain yang ada di bumi. Sphere sovereignity berfungsi sebagai cara untuk membatasi manusia dan institusi yang korup dan memberikan tuntunan dalam tindakan ketika konflik terjadi.
Pendidik dan Teolog
Selain mengajar di Free University, Belanda, yang dibentuk Kuyper untuk menghasilkan sarjana-sarjana menantang jamannya saat itu, melalui kuliah-kuliahnya di Princeton Theological Seminary dan Westminster Seminary Kuyper juga membuka wawasan teologia bagi dunia- berbahasa-Inggris dengan Stone Lectures, judul yang dibawakannya dalam mata kuliah Calvinisme. Kuliah ini adalah sebuah pemahaman komprehensif atas kekristenan yang ditarik dari tradisi Calvin. Stone lectures berisi enam diktat membahas tentang: (1) On Calvinism as a Life System; (2) On Calvinism and Religion; (3) On Calvinism and Politics; (4) On Calvinism and Science; (5) On Calvinism and Art dan (6) On Calvinisme and the Future. Dalam teologi, J. Gresham Manchen dari Baltimore dan Cornelius van Til adalah dua orang yang sangat dipengaruhi Kuyper Hampir semua hidup Abraham Kuyper dibaktikan untuk men-TUHAN-kan Kristus dalam segala aspek. Sangat sulit untuk menjumpai seorang gembala yang juga teolog, politikus, jurnalis, pendidik, ilmuwan, budayawan di zaman kita ini.
"Kuyper's greatest legacy is the witness of a worldview - a witness that is greatly needed in our dying culture."
McKendree R. Langley
Oleh:Walsinur Silalahi
Waktu umur pernikahan kami menjelang lima tahun dan anak-anak sudah mulai sekolah,isteri saya banyak memberikan waktunya hanya kepada anak-anak.Kami tdk mempunyai pembantu,sehingga isteri saya sendiri bekerja ngepel lantai rumah,mencuci,seterika dll. Seringkali dia bekerja hingga larut malam. Badannya mulai kurus,tdk secantik dulu lagi dan setiap hari kelihatan capek. Suatu hari saya melihatnya sedang membersihkan tumpukan pakaian kotordi kamar mandi.Dahinya basah oleh cucuran keringat. Lalu aku pelan2 menghampirinya dan tiba2 aku peluk tubuhnya dan berkata:"Ma,biarkan aku membersihkan pakaian2 kotor ini".Dia tersenyum,dan mempersilahkan saya meneruskan pekerjaan mencuci.
Begitulah saya membantunya pada saat2 libur.Setiap saya membantunya senyumnya selalu menghiasi wajahnya.Aku turut senang dan bahagia. Tetapi suatu ketika saya kecewa berat dibuatnya.Kejadiannya pada suatu Minggu,setelah mencuci pakaian dan menjemurnya sampai kering. Karena saya merasa lelah,saya tiduran di sofa,dan dia langsung melihat hasil cucian saya.Tiba2 dia berteriak keras dan marah:"Pa,koq cuciannya masih kotor?",coba lihat nih,katanya sembari menunjukkan saku celana anakku.Ternyata memang masih ada ditemukan kotoran berupa pasir. Kesalahan saya saat itu,tdk mebuka saku celananya. Ya, deh..aku ngaku salah,,jawabku kepada sang isteri.Dia mengambil semua pakaian yg sdh kering itu dan memasukkannya lagi ke ember untuk dicuci."Mengapa semua mama ambil?"tanyaku !,Dia diam,dan sambil berjalan dia berkata:"kalau papa tdk dari hati mengerjakannya,biarlah mulai saat ini,papa tdk usah membantuku."Biarkan saja saya yg mengerjakannya"
Mulai saat itu hubungan kami sebagai suami/isteri terganggu.Dalam hatiku,aku berkata:"Biar saja,aku bantu koq,gak diterima. Karena kesibukannya terus-menerus,sehingga perhatiannya terhadapku juga berkurang.Tadinya,kami biasa bersenda gurau,sdh tidak ada lagi canda..Mukanya yang tdk ceria membuatku tdk betah dirumah.Saya sengaja pulang dari kantor malam hari,agar langsung istirahat tidur. Setelah jam kerja usai,saya biasa dating atau curhat kepada teman satu kelasku dulu di Sumut.Dia seorang wanita yg butuh perhatian dari seorang pria.Wanita tsb belum menikah karena tdk ada pria yang menaksirnya berhubung sebelah kakinya lumpuh sejak kecil.Keluarganya termasuk orang berada.She is chinese girl.Aku pernah minta tolong kepadanya untuk mengirimkan kue putu medan dan mika ambon ke rumahku. Alamat dan nomor telepon rumah juga kuberikan kepadanya.Nama temanku itu si " Ong Lie".Kami saling curhat ttg suka maupun duka.Dia benar2 sahabat yang baik,dan selalu memberi solusi bila aku kesukaran.
"Bang",aku tadi sdh mengirimkan pesananmu ke alamatmu,katanya dalam teleponnya.Aku senang,dan hari itu aku bergegas pulang ke rumah Sampai dirumah,aku melihat isteriku menangis diatas korsi."Mengapa mama menangis?"tanyaku.Dia langsung berdiri,dan memarahiku:"Ternyata kamu punya simpanan isteri ya..dia menuduhku.Mika ambon dan putu medan terletak diatas meja.Itu buktinya,kiriman dari isterimu yang di Medan..dia menunjuk kearah kiriman itu...Oh..itu yang bikin kamu marah toh? Mengapa isteriku menuduh demikian?Ternyata sebelum aku tiba Ong lie bertelepon ke rumah menanyakan kiriman tsb apakah sdh sampai.Yang angkat telepon isteriku sendiri yang mengaku sebagai adikku. Pengakuan Ong lie sendiri kepada isteriku bahwa dia hanya sahabat.tetapi isteriku tdk percaya. "Saya harus pergi menemuinya,kata isteriku" Besoknya, pagi2 sekali,isteriku pergi ke Medan menemui Ong lie dengan pesawat Adam Air.Buru2 aku hubungi Onglie,agar tdk kaget menghadapi isteriku nanti.Katakan saja apa adanya tentang hubungan kita sebagai sahabat ,kataku kepada Ong lie.
Isteriku sampai di Medan,dan langsung menuju alamat sebuah bangunan mewah,isteriku mengetok pintunya.Seorang gadis cacat mempersilahkan masuk.Isteriku mengira dia adalah pembantu di rumah mewah itu.Aku ingin bertemu dengan Ong lie,kata isteriku. Ibu siapa?,tanya Ong lie. Oh..Saya datang dari Jakarta,saya ingin bertemu dengan Ong lie,kata isteriku mendesak. Sayalah yang bernama Ong lie,kata sahabatku itu.Isteriku tdk percaya mendengar jawabannnya.Setelah berkali-kali dikatakan,isteriku baru percaya dan menanyakan ttg hubungan kami.Bu,kami hanya sahabat biasa,kata onglie.Isteriku baru yakin bahwa kami hanya sahabat biasa,dia bukan isteri gelapku.Begitulah seorang isteri,bila tdk mempercaya suaminya,akhirnya mengeluarkan biaya yg tdk sedikit untuk mencari kepastian. Seorang isteri bila tdk memperhatikan suaminya,maka suami bisa mencari teman yang dapat memperhatikannya.Untung suami pergi ke sahabatnya,bukan mencari jalan yang salah atau meninggalkan isterinya. Mulai saat itu isteri mulai memperhatikan suami dan kebahagiaan yang hilang spt canda,senda gurau,pelukan..kami raih kembali.
Penulis : Daniel Alamsjah
Suatu pagi dibulan Februari yang cerah, jam baru menunjukan jam 6 pagi… Anak-anak sudah rapi bergerombol didepan gereja dengan seragam dari TK, SD dan SMP. Mereka adalah anak-anak sekolah minggu yang ingin berangkat ke sekolah Dari wajah2 mereka sangat ceria setelah melewati liburan hari minggu, Mereka membiasakan diri berdoa digereja sebelum berangkat ke sekolah yg berjarak 3 km Pagi itu aku berniat bersama-sama mereka untuk pulang setelah pelayanan semalam di desa.
3 tahun yl, Tuhan memanggilku untuk masuk desa ini dalam pelayanan perintisan mereka yang saat ini duduk di SMP masih di SD, adik2 mereka belum bersekolah.. aku ingat diantara mereka masih ada yang bersandal pergi ke sekolah waktu itu. Puji Tuhan kini mereka semuanya sudah bisa bersepatu seperti anak2 dikota, Ada 4 anak yg baru masuk TK kecil bersama-sama kakak-kakaknya. Sepeda ontelpun belum bisa digunakan untuk daerah ini, Biasanya ku masuk desa ini dengan Taft tuaku tahun 81….. Karena terlalu seringnya keluar masuk desa, turun naik gunung,saat ini sering rewel, Minggu ini aku terpaksa harus naik kendaran umum, berjalan kaki utk sampai didesa.
Hatiku kagum memuji Tuhan.. melihat anak-anak ini yang begitu riang gembira menapakkan kakinya ditanah setapak yg masih lembab karena guyuran hujan semalam, mereka sudah menjadi bagian dalam hidupku, terbesit dalam pikiranku, kalau saja anak-2 dikota tinggal didaerah seperti ini pasti mereka tidak bisa kesekolah, karena mereka bukan seperti anak-anak gunung, dikota- anak2 sudah terlalu dimanja, anak2 desa ini mereka sudah terbiasa harus melewati jalan2 setapak yang curam, turun naik perbukitan, melewati sungai dengan jembatan bambu, karena harus memotong pintas kejalan raya yang terdekat. Lia yang terkecil baru berusia 4,5 tahun, aku ter-kagumkagum melihatnya, ia ber-lari2 tidak nampak keletihan, usiaku yang sudah memasuki kepala enam, dengan nafas yg tersengal-sengal ketika harus melewati jalan yang mendaki, anak-anak harus menunggui aku beberapa kali……
Ketika berada didesa jemaat ada yang bercerita baru2 terjadi terhadap penduduk yang sedang mencari rumput ditebing gunung, karena terpeleset masuk kedalam jurang dan ditemukan sudah meninggal dunia. Hatiku pagi itu hanya bisa ber-teriak2 kepada anak2 yang berjalan di-muka “hati-hatiâ€Â, karena aku sendiri telah beberapa kali terpeleset ingin jatuh. Setiap pagi pergi sekolah dan pulang sekolah mereka harus melewati jalan2 tikus yang membahayakan itu untuk memotong jalan pintas yang terdekat dari desa mereka ke jalan raya, kemudian dari jalan raya baru mereka menantikan kendaraan umum yg akan membawa mereka kesekolah
“Tuhan, tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka, Engkau yang menjaga langkah2 kaki mereka agar tidak terjatuh, bahkan kehidupan mereka kelak…jadikan mereka menjadi anak-anakMu yang berhasil untuk membangun keterbelakangan desa mereka. Amin “
Penulis : Joshua MS
Semilir angin bertiup. Aku mencoba untuk tetap terlihat tenang. Koridor Rumah Sakit PGI Cikini murung dan kaku. Sekali aku kaget ketika seorang berteriak keras. Satu kali lagi aku merinding karena seorang menangis tersedu-sedu sambil memegang ponsel kuat-kuat. Kali ini aku benar-benar bergidik ngeri.
Ruangan yang penuh alat-alat menyeramkan bergantungan di dinding putih. Beberapa bunyi aneh mengikuti garis-garis di monitor terasa sangat menyiksa. Kalau bisa, aku ingin cepat-cepat meninggalkan ruangan aneh dan asing ini. Bergegas aku meninggalkan ruangan M2. Seorang Efendy Troy Sitorus, SH terbaring lemah di balik kaca ruangan cuci darah. Sudah hampir dua jam dia menjalani proses cuci darah di sana. Walau dia mencoba tersenyum, aku tahu dia menderita kesakitan yang tak tergambarkan. Perlahan aku mengalihkan perhatian. Aku tidak mau kegundahan hatiku tergambar jelas di matanya. Seorang perempuan 50 tahun, Ibu yang menjadi saksi hidup perjalanan panjang seorang notaris muda yang memiliki masa depan cerah. Saksi dari seorang Efendy Sitorus yang seharusnya duduk di kantor menangani banyak order dari klien, tetapi sekarang terkapar tak berdaya. Sebuah riwayat penyakit berantai membelenggunya. Seolah enggan pergi, penyakit itu begitu erat dan kuat mencengkeram. Penyakit itu seperti sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidupnya.
"Dia anak ke-2 dari 6 bersaudara." Ibu Sitorus berupaya untuk memulai pembicaraan pastoral dengan aku. Ini menjadi sedikit berbeda karena tidak dilakukan di kantor gereja sebagaimana biasanya. Koridor rumah sakit yang lengang menjadi sebuah pilihan untuk duduk dan bercerita dengan seorang ibu yang tertatih dalam tuntutan memikul salib. Mengikut Kristus dalam perjalanan panjang padang gurun yang gersang. Pembicaraan pastoral yang menjadi sangat berbeda karena disampaikan oleh seorang ibu yang melahirkan anak laki-laki dengan segala cinta dan kasih sayang. Seorang ibu bagi anak laki-laki yang tergeletak tak berdaya dalam gerogotan penyakit yang silih berganti.
"Awalnya ibu tidak menyangka jadi serumit ini." Raut wajah perempuan itu terlihat lelah, bukan hanya karena semalaman dia tidak bisa tidur mengingat darah kental yang kehitam-hitaman dimuntahkan anak yang paling dikasihinya. Lebih dari itu, raut wajahnya perempuan itu menggambarkan penderitaan selama bertahun-tahun merawat anak laki-laki yang terkasih.
"Waktu itu, keluarga kita terpaksa harus pindah-pindah karena tugas bapak." Ibu Sitorus mengatur posisi duduknya yang sejak tadi kaku dan tegang.
"Bapak bekerja sebagai hakim dan sering berpindah-pindah. Tapi karena anak-anak sudah kuliah, Efendy akhirnya kuliah di UNILA Lampung. Setelah tamat ambil S2 di UI. Dalam waktu yang singkat, dia dapat panggilan kerja di sebuah instansi pemerintah. Tapi karena lebih suka usaha sendiri, Efendi lebih memilih mundur dan membuka kantor sendiri. Dia memulai kantor Notaris dan PPAT di Jawa Barat tepatnya Kota Padalarang." Ibu Sitorus berdiam sejenak.
"Ketika kantor di Padalarang siap operasional, tiba-tiba Efendy jatuh sakit. Ibu kira mungkin karena dia kecapaian jadi ibu minta pulang ke Jakarta sekalian medical chek up. Tapi sangat aneh, ketka dicek oleh dokter tensi darah Efendy sangat tinggi dan sangat berisiko. Kami semua kalang kabut. Dokter menganjurkan untuk tes laboratorium. Diagnosis sementara dokter, Efendy mengalami gangguan ginjal." Aku melihat mendung bergayut di raut muka Ibu Sitorus.
"Berita buruk itupun akhirnya datang, ginjal Efendy tinggal 9%. Ibu mulanya berpikir yang rusak 9% tetapi ternyata yang tertinggal justru hanya 9%. Ibu sungguh terpukul dengan angka-angka yang membingungkan itu. Menurut dokter, satu-satunya cara adalah transplantasi ginjal. Seluruh anggota keluarga berunding dan diputuskan untuk segera dibawa ke Mount Elizabeth Hospital di Singapore. Kami tidak mau ambil risiko. Setibanya di Singapura, dokter di sana geleng-geleng kepala, mereka berkata mengapa selalu setelah parah baru dibawa ke sini? Ibu tidak mau pusingkan itu, yang penting anakku sembuh." Ibu Sitorus mengusap wajahnya yang kuyu. Garis-garis wajahnya masih terlihat cantik. Perempuan Batak kelahiran Pematang Siantar ini memang masih tetap terlihat cantik di usianya yang menjelang senja.
"Singkat cerita, seluruh keluarga berunding, adik perempuannya yang sekarang tinggal di Lampung bersedia mendonorkan ginjalnya. Puji Tuhan, setelah melalui beberapa tes medis yang ketat, semua syarat-syarat medis untuk transplantasi memenuhi syarat. Hati Ibu benar-benar terguncang dan pilu ketika melihat kedua kakak beradik itu didorong ke ruang bedah. Ibu hanya berdoa dan menangis. Tuhan tolonglah kami, hanya itu yang dapat ibu katakan."
"Puji Tuhan, operasi berjalan dengan baik dan ketakutan yang sempat dipikirkan keluarga ternyata tidak terjadi. Adik perempuan Efendy ternyata tetap dapat melahirkan dan Efendy dapat hidup dengan normal dengan ginjal dari adiknya sendiri. Ibu berpikir Tuhan sudah membawa keluarga ini keluar dan melalui badai yang berat. Walau semua harta tersita dan terkuras untuk membayar semua biaya rumah sakit, akomodasi, dan transportasi ke Singapura, yang penting semua anak- anak sehat dan bahagia, itu doa Ibu." Aku melihat ada setitik garis sendu di wajah Ibu Sitorus. Garis senyum yang memancarkan aura keteguhan iman dan hatinya. Dia kemudian menarik nafas dalam-dalam untuk melanjutkan kesaksiannya.
"Selama hampir satu tahun, semua berjalan dengan baik. Ginjal Efendy berfungsi dengan baik. Tapi tahun kedua masalah baru datang. Efendy waktu itu sudah pindah kantor ke Jakarta, jadi ibu dapat mengontrol. Lagi-lagi Efendy harus dilarikan ke rumah sakit. Hasil diagnosis dokter, levernya mengalami gangguan serius. Ibu menyaksikan sendiri perlahan-lahan perut Efendy membesar. Seperti perempuan hamil delapan bulan. Ya! Seperti orang yang sedang hamil, sedangkan badannya kurus kering. Ibu kembali menjerit kepada Tuhan. Dokter menganjurkan agar cairan yang tidak terkendali akibat lever yang tidak berfungsi disedot secara rutin. Ya Tuhan, ujian apa lagi ini yang harus kami alami? Ibu benar-benar sangat bingung." Mendung kembali bergayut di raut wajahnya.
"Ibu berdoa, Tuhan aku minta lagi mujizat-MU. Jikalau cairan yang memenuhi perut anak saya harus di sedot, aku minta cukup satu kali saja. Ajaib sekali, Tuhan mendengarkan doa ibu. setelah di sedot satu kali, Efendy bisa pulang ke rumah dan tidak perlu di sedot lagi. Belakangan dokter yang melakukan operasi penyedotan itu bertemu Efendy setelah satu tahun berlalu. Tuhan bekerja dengan sangat ajaib. Bahkan dokterpun terhera-heran. Ibu sungguh sangat terheran-heran dan mengucap syukur atas mujzat ini." Segaris senyum di paras ibu Sitorus.
"Waktu bergulir, ternyata Tuhan masih terus menguji. Sejujurnya Ibu sudah tidak kuat. Bermula dari ketiadaan dana untuk pulang-pergi ke rumah sakit di Singapura, akhirnya perawatan dirujuk di salah satu rumah sakit di Jakarta. Entah karena apa, anak saya jatuh sakit lagi, kali ini benar-benar berat dan tidak terkira-kira."
"Dua hari yang lalu Ibu pergi mengunjungi adik ipar Efendy di Pondok Kopi, Jakarta Timur, adik iparnya yang berdarah Eropa itu jatuh sakit. Tapi karena takut rumah sakit Indonesia, dia tidak mau di bawa ke rumah sakit. Di rumah Ken, adik ipar Efendy, sangat tiba-tiba suhu badan Efendy naik. Dia juga merasa mual dan pusing. Ibu mencoba mengolesi dengan minyak angin. Bukan membaik, ternyata malah semakin tidak keruan," katanya.
"Puncaknya, Efendy muntah darah kental yang menghitam. Ibu panik, keluarga panik, kami semua panij dan menjerit-jerit. Segera kami larikan dia ke rumah sakit PGI Cikini." Ibu Sitorus mengatur desah nafasnya. Rasa galau, takut, dan sedih bercampur aduk tidak karuan.
"Apalagi Tuhan yang hendak Engkau lakukan? Ibu terus bertanya-tanya pada Tuhan. Tapi kali ini Tuhan memvonis sangat berat, analisis dokter sudah positif, Efendy terserang Hepatitis C. Dugaan sementara penularan penyakit akibat terapi dan penggunaan alat-alat medis rumah sakit yang tidak steril. Sepertinya dunia ini berwarna kelabu, hitam pekat dan mengerikan. Ibu benar-benar terpukul, anakku terserang penyakit yang mengerikan. Ibu pikir Tuhan sudah keterlaluan!" Ibu Sitorus terengah-engah. Nafasnya memburu, air matanya mulai jatuh, biji matanya berkaca-kaca menambah sendu dan suaranya pun mulai serak.
"Kemarin ususnya mengalami varises, jadi pembuluh darahnya ada yang pecah. Efendy harus menjalani rawat intensif. Cuci darah secara rutin. Ibu sudah pasrah, Ibu tidak punya apa-apa lagi. Uang sudah habis dan semua angota keluarga sudah letih. Yang Ibu tahu dan masih ingat Tuhan Yesus tidak memberikan ujian melebihi kemampuan kita. Ibu masih percaya bahwa Tuhan dapat melakukan apa yang mustahil bagi manusia. Ibu percaya mujizat."
Aku terhenyak mendengar kata-kata Ibu Sitorus kali ini. Dalam keadaan terempas dan tergeletak, Ibu yang berhati teguh ini berhasil mengkhotbahi aku. Pikiranku cepat-cepat berlari kepada sebuah ayat dalam Kitab Suci, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab A265239h setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberkan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." 1 Korintus 10:13. Matahari sudah tergelincir ke ufuk barat. Senja mulai membiaskan jingga di langit Jakarta. Perlahan-lahan malam akan turun menyelimuti bumi. Akupun telah sedari tadi pamit setelah menumpangkan tangan dan berdoa.
"Firman Tuhan berkata, Oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh, jadi berdoalah dengan Iman!" Aku mencoba untuk membangun kembali iman dan pengharapan ibu yang hampir terpuruk ini. Masih sempat aku bacakan beberapa ayat yang sudah menjadi kesukaanku sebagai seorang pelayan dan konselor Kristen kalau akan mendoakan orang sakit. Akupun masih menyaksikan wajah Effendy yang berseri-seri dan mengangguk-angguk. Dia sangat senang mendengar Yesaya 53 : 3-5 yang sengaja aku bacakan lembut di sampingnya. Sekarang akupun harus pulang dan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit yang telah menguras segenap perasaanku. Meningalkan Ibu Sitorus yang dengan setia tidak mau beranjak dari sisi anak laki-laki kesayangannya. Langkahku berat menuruni tangga. Sebuah pikiran aneh tiba-tiba mengejarku. Tuhan apakah aku tidak sedang menipu diriku sendiri? Sejujurnya akupun tidak menyakini akan mampu berdiri tegar dengan ujian seberat Effendy. Aku bahkan hampir tidak bisa berpikir akan ada sebuah mujizat lagi yang akan menyelamatkan dia dari penyakit maut itu. Ah, peduli amat dengan apa yang aku pikirkan. Yang aku tahu, aku punya iman yang membuatku harus menawan segala pikiran dan menaklukkannya. Aku harus mengenakan pikiran Kristus. Bukankah dengan mendengarkan firman Tuhan akan mengalirkan iman dalam jiwa? Aku kemudian berjalan melintas pelataran parkir. Jiwaku mulai menghafalkan ayat favoritku, "Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil (Lukas 1 :37)".Amin.
Sumber: http://www.sinarharapan.co.id/
(Kisah Selamatnya Seorang Atlit Olimpiade)
Pada tahun 1967 ketika mengikuti pelajaran di kelas fotografi Universitas Cincinnati, aku berkenalan dengan seorang pemuda bernama Charles Murray, siswa pada sekolah yang sama, yang sedang dilatih untuk persiapan Olimpiade musim panas tahun 1968 sebagai seorang pelompat indah papan kolam renang. Charles sangat sabar terhadapku ketika aku berbicara selama berjam-jam dengannya tentang Yesus Kristus dan bagaimana Ia telah menyelamatkanku.
Charles tidak dibesarkan di dalam keluarga yang berbakti di gereja manapun, jadi semua yang kuceritakan kepadanya mempesonakannya. Ia bahkan mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang pengampunan dosa. Akhirnya tibalah harinya di mana aku mengajukan sebuah pertanyaan kepadanya. Aku bertanya apakah ia menyadari kebutuhan dirinya akan seorang penebus dan apakah ia siap untuk mempercayai Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Aku melihat wajahnya berubah dan perasaan bersalah tergambar di situ. Namun jawabannya tegas sekali "Tidak".
Di hari-hari berikutnya, ia tampak diam dan sering kali aku merasa bahwa ia menjauhiku, sampai aku menerima telepon, yang datangnya dari Charles. Ia ingin mengetahui di mana ia dapat menemukan beberapa ayat di dalam Perjanjian Baru yang telah kuberikan kepadanya mengenai keselamatan.
Aku memberikan kepadanya referensi menuju beberapa pasal dan bertanya apakah aku dapat menemuinya. Ia menolak tawaranku dan mengucapkan terima kasih untuk ayat-ayat yang kuberikan. Aku dapat menebak bahwa ia amat gelisah, namun aku tak tahu di mana ia berada atau bagaimana cara untuk menolongnya. Oleh karena ia sedang berlatih untuk pertandingan Olimpiade, maka Charles memperoleh fasilitas khusus di kolam renang Universitas kami.
Di antara pukul 22.30 dan 23.00 malam itu, ia memutuskan untuk berenang dan melakukan sedikit latihan lompat papan. Malam di bulan Oktober itu sangat cerah dan bulan tampak penuh dan cemerlang. Kolam renang Universitas kami berada di bawah langit-langit kaca sehingga bulan dapat bersinar terang melalui puncak dinding di areal kolam.
Charles mendaki papan lompat yang paling atas untuk melakukan lompatannya yang pertama. Pada saat itu, Roh Allah mulai menempelaknya akan dosa-dosanya. Semua ayat-ayat yang telah dibacanya, semua saat-saat bersaksi kepadanya tentang Kristus, mulai memenuhi benaknya. Ia berdiri di atas papan dengan membelakangi kolam untuk melakukan lompatannya, merentangkan kedua tangannya untuk keseimbangan, memandang ke atas dinding dan melihat bayang-bayangnya sendiri yang disebabkan oleh cahaya bulan. Bayang-bayangnya berbentuk sebuah salib. Ia tak dapat menahan beban dosanya lebih lama lagi. Hatinya hancur dan ia duduk di atas papan lompat itu dan meminta Allah untuk mengampuninya dan menyelamatkannya. Ia percaya kepada Yesus Kristus di ketinggian lebih dari pada dua puluh kaki dari tanah.
Tiba-tiba, lampu-lampu di areal kolam menyala. Petugasnya masuk untuk mengadakan pemeriksaan kolam. Ketika Charles menengok ke bawah dari atas papannya, maka yang dilihatnya adalah kolam yang kosong yang telah dikeringkan untuk beberapa perbaikan. Hampir saja ia menerjunkan dirinya menuju kematian, namun salib telah menghentikannya dari bencana tersebut.
I Korintus 1:18 "Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah."
Sumber: Highways Of Hope
Oleh : Walsinur Silalahi
Aku,Sony sdh bekerja 10 tahun sebagai sopir bis PPD.Saat itu umurku sdh menjelang 32 tahun.Orangtuaku sdh sering menanyakan via surat agar aku segera menikah.Permintaan mereka aku anggap wajar2 saja,berhubung di usia demikian berbagai pertanyaan timbul dari sanak-saudara .Ada perasaan minder didalam hatiku untuk mempersunting gadis Tapanuli.Salah satunya karena biaya pernikahan/adat sangat menguras biaya.
Padahal pendapatan seorang sopir bis tdk terlalu banyak.Cari pagi makan sore.Nggak sempat menabung.Dengan pertimbangan itu aku berketetapan hati menikah dengan seorang gadis jawa yg berprofesi sebagai guru SD.Pacarku itu putri seorang haji. Pada saat hubungan pacaran kami sudah menjelang satu tahun dan sdh mengenal pribadi masing2,kami berdua sepakat untuk menikah. Tibalah kami pada persoalan acara nikah apakah dilakukan dengan cara agama Islam atau diberkati digereja.Saya ngotot tdk mau dinikahkan dengan cara agama Islam.Diapun berkeras tdk mau diberkati di gereja.Jalan tengah kami ambil yaitu menikah di kantor catatan sipil.
Kehidupan baru berjalan biasa-biasa saja.Sebagaimana keluarga lainnya,keluarga kami dikaruniakan 4 orang anak. Selama itu juga isteriku selalu melakukan sholat 5 waktu dengan tekun.Saya juga selalu melakukan doa bersama dengan anak2 di rumah.Setiap hari minggu saya dan anak ibadah di gereja.Demikianlah kami menjalani kehidupan beragama dan saling menghormati agama masing-masing. Kami saling mengingatkan kewajiban beribadah.Memang ,satu hal yang kujaga adalah agar aku selalu dekat dengan anak-anak. Setiap malam,aku sisihkan waktuku bagi anak-anak untuk berdoa bersama-sama.Setiap kami kebaktian,saya selalu bilang sama isteriku demikian:"Ma..kami dan anak2 mau kebaktian dulu,karena mama Islam,saya mhn agar mama masuk kamar atau sholat saja".
Demikianlah saya lakukan selama sembilan tahun kehidupan rumah tangga kami.Rupanya dari pantauan isteri saya selama ini:Dia bekata dalam hati demikian(pengakuan isteri saya):"koq kompak amat ,anak dgn bapa?".Diam2,tanpa saya ketahui,selama itu juga dia mepelajari Alkitab. Dia membaca Firman Tuhan dalam Matius 22 ;37-40 yaitu tentang kasih.Selama ini dia selalu berpikir negatif ttg Alkitab bhw itu adalah tulisan manusia yg sdh dirubah disana-sini.Informasi ini dia dapat dari kotbah2 jumat di Masjid.Kitab suci orang Kristen ternyata mengajarkan Kasih. Yang dikatakan pemimpin2 agama Islam di Masjid ternyata tdk benar.Itulah kesimpulan isteriku.
Suatu hari aku berkata sama isteriku:"Ma..aku mau membawa anak2 untuk di babtis."Tak saya sangka pernyataan Isteriku demikian:"Pa..jangan anak-anak saja di baptis,aku juga ikut dibabtis". Hatiku sangat bersuka saat itu.Pengakuan yang datang dari mulut isteri saya sendiri.Aku menangis terharu karena begitu gembiranya saya saat itu. Puji Tuhan,aku bersyukur,ternyata Tuhan mengabulkan doaku yang cukup lama.Ternyata kita harus bertekun dalam doa menunggu waktu Tuhan. Pada hari Minggu berikutnya,kami sama-sama pergi ke gereja dan hamba Tuhan membaptis Isteriku dan anak-anak.. Demikianlah kesaksian hidup Sony dalam menjalani kehidupan beda agama.Akhirnya mereka bersatu dalam kasih Tuhan yesus.
Malam itu hujan deras luar biasa membasahi dusun Wates, waktu telah menunjukan jam 7,30, jemaat baru sebagian yang hadir untuk kebaktian malam, hati ku bertanya-tanya, kenapa masih banyak keluarga yg belum hadir, apakah hujan yang menghalangi mereka? Ataukah terlalu cape mereka, karena siang harinya warga dusun Wates baru saja merayakan Saparan, dimana seluruh warga dusun tsb. Merayakan bulan Sapar seperti lebaran, tiap keluarga memasak paling tidak memotong seekor ayam dan membuat jenang, pokoknya hari itu aku kenyang sekali, tiap warga mengundangku untuk mencicipi masakan keluarga mereka, kita tidak etis kalau diundang warga tidak makan, walau aku sudah katakan, "kulo nembih mawon "(aku baru saja makan), tidak sopan kalau tuan rumah sudah menyediakan makanan kita tidak makan, biarpun sedikit kita harus makan.
Malam itu kebaktian agak terlambat dimulai, banyak yg tidak hadir usai kebaktian hujan masih turun, sampai jam 10 lewat masih belum berhenti, hawa dingin dilereng gunung Merbabu membuat tidurku malam itu tak bisa lelap seperti aku tidur di rumah, sekitar jam 3 pagi aku dikejutkan Tuan rumah Bp Hadi mengetok- ngetok pintu kamarku, rupanya ada warga yang sakit ingin melahirkan untuk meminta tolong aku menghantarkan ke rumah sakit, aku meloncat dari tempat tidur langsung kemobil untuk menghidupkan mobil, dengan susah payah karena jalan yang licin karena hujan semalam achirnya tiba juga didepan rumah Pak Selamet, kulihat orang2 desa sudah pada kumpul, isteri dan anak2 Pak Selamat lagi menangiskan kakanya yang akan melahirkan sejak jam 6 sore belum juga keluar bayinya, aku melihat ani ibu yg akan melahirkan digotong badannya sudah lemas kemobil, untung hari itu aku membawa mobil kijang yg bangku tengahnya bisa dilipat sehingga ibu ani bisa direbahkan didalam mobil, perjalanan dari dusun Wates kekota yang terdekat di Magelang memakan waktu 1,5 jam perjalanan, aku hanya berdoa Tuhan berikan kekuatan pada ibu ani, hatiku dak dik duk dijalan Keluar desa yang berbatuan dan menanjak mesin mobil berhenti tidak kuat menanjak, aku berteriak dalam hati "Tuhan tolong" aku serba salah kalau tancap gas, bagaimana nantinya ibu ani yg akan melahirkan pasti kesakitan karena jalannya bergelombang, aku hanya berdoa Tuhan tolong perjalanan ini dan kuatkan ibu ani , penumpang yg ikut berjumlah 7 orang, ketika mesin mobilnya mati 2 orang langsung turun mencari batu untuk mengganjal ban agar tidak turun kebelakang sangat bahaya sekali karena sebelah kiri adalah jurang, mobil kuhidupkan kembali untung mobil kuat sampai diujung jalan yg menanjak, dalam 20 menit perjalanan berbatuan yg bergelombang baru sampai dijalan raya beraspal ke Magelang, suasana pagi yg masih gelap dan banyak kabut yang membuat perjalanan tidak lancar, aku hanya berani menjalankan mobil sekitar 40km /jam, konsentrasi ku pusatkan kedepan jalan yg selalu menurun tajam, aku sudah hafal melewati jalan yg berliku2 menurun ini, sudah hampir 4 tahun aku lewati jalan ini setiap minggu, kali ini perjalanan yg sama aku tidak bisa menikmati pagi indah dengan pemandangan pegunungan, suasana sekitarnya masih gelap gulita, se-kali2 papasan dengan mobil yg dari bawah, dan tangisan2 kaum ibu yg mengantar dibelakang kemudiku meminta agar ibu ani jangan memejamkan matanya supaya eling, aku mempercepat larinya kendaraan dengan hati-2.
Tak kudengar teriakan kesakitan dari ibu ani seperti biasanya teriakan2 wanita atau isteriku yg akan melahirkan, aku menyuruh mereka yg dibelakang memijat jari2 tangan dan kakinya ibu ani, aku takut jangan2 dia pingsan, perjalanan yg menegangkan aku hanya dapat berdoa : tolong Tuhan, berikan ia kekuatan sampai dirumah sakit, kira2 � jam perjalanan, aku mendengar suara bayi menangis, rupanya ibu ani telah melahirkan dimobilku, aku berteriak bagaimananih? Berhenti atau terus jalan? Aku disuruh terus berjalan, waktu itu baru setengah perjalanan, hatiku berdebar-debar dan berdoa tolong Tuhan kuatkan ibu ani, lewat Tegalrejo aku baru mendengar suaru azan subuh, berarti jam 5 pagi baru sampai di Magelang, teriakan dan tangisan dari arah belakang kemudiku meminta ibu ani Eling menyebut Gusti, didekat Banyu Asin aku diminta berhenti dan rupanya ada rumah bidan, pintu diketok-ketok keluar seorang ibu rupanya ia bidannya, kemudian ia memotong tali pusarnya bayi, ibu ani digotong kedalam ruang prateknya dan setelah diperiksa oleh ibu bidan sebentar dan ia berkata " maaf dibawah keluar lagi saya tidak sanggup menolongnya harus dibawah kerumah sakit segera" terpaksa kami gotong kembali ibu ani yg sudah tidak bergerak itu ke rumah sakit RSU Magelang, dalam seperempat jam aku sudah sampai diMagelang, dan ibu ani didorong keruang ICU, hanya sebentar dokter jaga keluar lagi menemui kami dan berkata, dia sudah tidak ada apakah ari-arinya mau dikeluarkan atau dibiarkan saja, ketika itu juga suami dan ibu2 yg mengantar meraung-raung menangis memecahkan kesunyian pagi diruang ICU, sampai aku yg menjawab kepada dokter itu utk mengeluarkan ari2nya, terpaksa pagi itu aku membawah kembali ibu ani yg sudah tak bernyawa itu kedusun wates, suaminya ber-teriak2 menangis, membuat aku teringat 20 tahun yg lewat, dimana aku menyaksikan sendiri bagaimana isteriku berjuang dengan maut ketika akan melahirkan Yosua anakku yg kini sedang kuliah, isteri ku mengalami takdir seperti ibu ani, tetapi aku percaya isteriku sudah berada dirumah Bapa disurga saat ini dibanding ibu ani yg belum mengenal Tuhan.
Disepanjang perjalanan pulang suaminya berteriak-teriak memanggil nama isterinya, aku dari balik stir hanya bisa menasehatkan Parwidi suaminya, "Tuhan mempunyai rencana indah buat kamu Par, Pakde telah mengalami sendiri seperti kamu, tabahkan hatimu", hatiku bertanya-tanya sama Tuhan apakah ini rencanaMu Tuhan, semua boleh terjadi agar Parwidi bisa kembali lagi kepadaMu, dahulu sebelum menikah dengan ibu ani, Parwidi sebenarnya adalah anak Tuhan yg sudah mengenal Yesus, tetapi sejak dia mengenal dengan gadis ani, dia sudah jarang kegereja, bahkan meninggalkan Tuhan dan murtad menikah di KUA, aku bertanya- tanya dalam hati apakah ini semua rencanaMu Tuhan…? karena terus terang jemaat masih sering berdoa untuknya.
Hari itu aku benar2 cape sekali, pulangnya ke Borobudur , mobilku yg kurang fit hampir masuk jurang, untung Tuhan senantiasa menyertaiku, orang2 desa berbondong-bondong mengangkat mobil yg tinggal 15 cm dari tepi jurang. Itulah suka dukanya melayani dipedesaan.
Peristiwa kelahiran seorang bayi dan kematian ibu ani diatas mobil, sebagai hamba Tuhan mengingatkan kaum muda-mudi, jangan engkau tinggalkan Yesus karena "Cinta", peristiwa ini juga mengingatkan saya, dimana saya yang saat itu melihat sendiri disaat-saat orang yg saya kasihi sedang berjuang dengan maut, dan achirnya dia menang kesurga, secara manusia saat itu juga aku ingin ikut dengannya, aku shock aku dipressi waktu itu, tetapi ada seorang yg menguatkan saya melalui firmanNya:
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firnman Tuhan, yaitu rangcangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" Yermia 29 : 11 Terima kasih Tuhan… karena sejak itu aku dididik oleh Tuhan untuk melayani Tuhan, bahkan Tuhan percayakan aku utk mengelola sebuah bukit doa di Borobudur dan melayani dipedesaan.
BRUDER Henk (59) tiba-tiba memutus pembicaraan dan batal menyuap nasi. Sorot matanya tajam mengikuti gerakan benda mungil tak beraturan di sela-sela pepohonan taman di belakang sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. "Itu kupu-kupu pendatang di Papua," kata dia menelisik. Bruder kelahiran Heerlen, Belanda, itu selain seorang misionaris juga dikenal sebagai pencinta serangga sejati, khususnya kupu-kupu.
KETAJAMAN matanya mengidentifikasi kupu-kupu sebaran Papua terasah sejak tahun 1974, awal pertama kali tiba di pulau tersebut. Sejak itu, seakan tiada hari tanpa observasi kupu-kupu. Hingga kini, jumlah koleksinya berkisar 40.000 ekor dengan 4.000-an jenis. Semua disimpan di ruangan khusus; gelap dan berpendingin udara. Di sana, deretan lemari berisi ribuan rak berpenutup kaca. Semua ia tangani sendiri. Baru sekitar dua tahun lalu dua dosen dan satu mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) membantu komputerisasi data. "Awalnya saya minta kiriman alat pengawet dari ayah," kata bruder yang berayah peminat serangga amatir itu. Minat yang ditularkan sang ayah itulah yang katanya membuat dirinya tak bisa berjauhan dari dunia seputar serangga, khususnya kupu-kupu. Dan, hutan-hutan Papua pun menjadi "laboratorium" alam yang tak habis-habis ia jelajahi. Beberapa seminar pun ia ikuti. Intensitas penjelajahan di pedalaman Papua membuatnya kagum atas pengetahuan masyarakat adat terhadap fenomena alam. Pengetahuan mereka terhadap jenis serangga riang ria (serangga hutan yang berbunyi) ternyata sama persis dengan data ilmiah pakar serangga di Amsterdam, Belanda. Beda penamaan saja. "Mata alam suku-suku Papua sungguh sangat mengagumkan," tutur dia. Kini, ia sangat senang karena menemukan beberapa anak muda yang mencintai ilmu dengan hati, bukan sekadar rutinitas.
PERTEMUAN dengan bruder ramah itu bersamaan dengan peluncuran buku panduan lapangan setebal 126 halaman berjudul Kupu-kupu untuk Wilayah Mamberamo sampai Pegunungan Cyclops, yang ia tulis bersama sarjana lulusan Fakultas Pertanian Uncen yang pernah ia bimbing pengerjaan skripsinya, Edy Michelis Riyanto. Buku dengan sponsor Conservation International Indonesia itu merupakan satu-satunya buku kupu-kupu daerah Papua di Indonesia. Bahkan, dunia. Sebelum menjadi buku, di sela-sela kesibukannya sebagai ekonom Keuskupan Agung Jayapura-kini bruder Henk menjabat sebagai Delegate Keuangan dan Harta Benda-dibantu beberapa dosen dan mahasiswa Jurusan Biologi dan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Uncen, ia keluar masuk hutan untuk observasi lapangan. Itu dilakukan mulai Mamberamo hingga pulau-pulau di pantai Timur, Ubrub, serta di kaki pegunungan Cyclops, Yongshu. Tarekatnya memberinya keleluasaan selama tanggung jawabnya lancar. Tak pelak, hari-hari sibuknya mengurus harta milik umat semakin dipadati observasi, membaca literatur, serta wawancara dengan para ahli serangga dari Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang. Asal tahu saja, identifikasi biologis bukan pekerjaan ringan. Akhirnya, setelah efektif bekerja lima tahun, buku yang didedikasikan bagi mahasiswa, akademisi, peneliti, dan pencinta kupu- kupu itu pun terbit. Bruder Henk puas karena para peminat kupu-kupu dapat memperoleh referensi lebih baik. Gratis lagi. Sebelumnya, para peneliti di lapangan umumnya harus membawa buku tebal dengan berat hingga satu kilogram. Selain berbahasa asing, harga buku-buku itu ada yang mencapai 1.500 euro. "Saya punya, tapi tidak saya kasih pinjam. Maaf ya," kata bruder yang tinggal di biara St Fransiskus, Jayapura, itu sambil tertawa. Meski memuaskan, lemahnya inventarisasi kekayaan keanekaragaman hayati Papua merupakan fakta lain. Khusus kupu-kupu, masih banyak yang belum bernama atau terdata. Beberapa di antaranya terpublikasi dalam skripsi mahasiswa bimbingannya. Bagi bruder Henk, terbitnya buku serupa hanya soal waktu seiring tumbuhnya api semangat meneliti. Sebagai indikator mutu lingkungan, hilangnya satu jenis kupu-kupu pada kurun waktu tertentu di suatu kawasan mengindikasikan terjadinya degradasi lingkungan. Di Inggris, misalnya, kepunahan satu jenis kupu-kupu ternyata disebabkan punahnya satu jenis semut yang menjadi kunci siklus hidup kupu-kupu tersebut. Para petani memusnahkan jenis semut itu karena menganggapnya musuh. "Itu hanya bisa dihindari bila sebelumnya ada informasi detail saling keterkaitan sesama penghuni alam," kata dia.
BRUDER Henk merupakan anak kedua pasangan Eef van Mastrigt, seorang arsitek dan ahli serangga (entomolog) amatir Belanda, dengan An van Doorn. Ia bernama asli Henk van Mastrigt. Ia tiba di Indonesia setelah tamat sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam tahun 1973. Ada dua pilihan pengabdian, Brasil atau Papua. "Keduanya memiliki hutan dan kekayaan alam anugerah Tuhan yang luar biasa," kata bruder yang pernah bercita-cita menjadi polisi hutan itu. Papua menjadi pilihan karena banyak masukan dari rekannya yang pernah bertugas di sana. Keseriusan, kecintaan, dan dedikasi membuat dirinya dipercaya membimbing skripsi mahasiswa Uncen sejak tahun 1996. Dan, makin intensif empat tahun kemudian. Rencananya, tahun ini ia akan melepaskan jabatannya di keuskupan dan berkonsentrasi membimbing dosen serta mahasiswa. Bila di keuskupan ia memiliki kader, di bidang penelitian kupu-kupu ia mengaku belum menemukan kader yang siap menggantikannya. "Kegiatan meneliti kupu- kupu merupakan salah satu alasan kenapa saya masih bertahan di Papua," kata dia. Ia menerima tawaran membimbing dengan syarat tidak hanya sebatas mendampingi penelitian di Jayapura. Semua mahasiswa yang ingin ia bimbing pun harus berpengalaman dua tahun meneliti di lapangan. Alasannya, menghindari kesamaan obyek penelitian. Ia menghindari meneliti sesuatu yang pernah diteliti. Bersama besarnya minat meneliti kupu-kupu dan serangga lain, hatinya gundah melihat langsung eksploitasi kekayaan alam Papua habis- habisan. Kegundahan hatinya ia tunjukkan ketika menutup pidato dalam peluncuran bukunya. Di sana ia berujar, "Syukur dan pujian kepada Tuhan semoga nyata dalam memelihara alam." Amin
Sumber: Kompas
Penulis : John Powell, S.J.
Sekitar 14 tahun yang lalu, aku berdiri menyaksikan para mahasiswaku berbaris memasuki kelas untuk mengikuti kuliah pertama tentang teologi iman. Pada hari itulah untuk pertama kalinya aku melihat Tommy. Dia sedang menyisir rambutnya yang terurai sampai sekitar 20 cm dibawah bahunya. Penilaian singkatku: dia seorang yang aneh ? sangat aneh.
Tommy ternyata menjadi tantanganku yang terberat. Dia terus-menerus mengajukan keberatan. Dia juga melecehkan tentang kemungkinan Tuhan mencintai secara tanpa pamrih.
Ketika dia muncul untuk mengikuti ujian di akhir kuliah, dia bertanya dengan agak sinis, "Menurut Pastor apakah saya akan pernah menemukan Tuhan?" Tidak," jawabku dengan sungguh-sungguh.
"Oh," sahutnya.
"Rasanya Anda memang tidak pernah mengajarkan bagaimana menemukan Tuhan." Kubiarkan dia berjalan sampai lima langkah lagi dari pintu, lalu kupanggil. "Saya rasa kamu tak akan pernah menemukan-Nya. Tapi, saya yakin Dialah yang akan menemukanmu."
Tommy mengangkat bahu, lalu pergi.
Aku merasa agak kecewa karena dia tidak bisa menangkap maksud kata-kataku. Kemudian kudengar Tommy sudah lulus, dan saya bersyukur.
Namun kemudian tiba berita yang menyedihkan: Tommy mengidap kanker yang sudah parah. Sebelum saya sempat mengunjunginya, dia yang lebih dulu menemui saya. Saat dia melangkah masuk ke kantor saya, tubuhnya sudah menyusut, dan rambutnya yang panjang sudah rontok karena pengobatan dengan kemoterapi.
Namun, matanya tetap bercahaya dan suaranya, untuk pertama kalinya, terdengar tegas. "Tommy ! Saya sering memikirkanmu. Katanya kamu sakit keras?" tanyaku langsung. "Oh ya, saya memang sakit keras. Saya menderita kanker. Waktu saya hanya tinggal beberapa minggu lagi."
"Kamu mau membicarakan itu?"
"Boleh saja. Apa yang ingin Pastor ketahui?"
"Bagaimana rasanya baru berumur 24 tahun, tapi kematian sudah menjelang?" Jawabnya, "Ini lebih baik ketimbang jadi lelaki berumur 50 tahun namun mengira bahwa minum minuman keras, bermain perempuan, dan memburu harta adalah hal-hal yang 'utama' dalam hidup ini."
Lalu dia mengatakan mengapa dia menemuiku. "Sesuatu yang Pastor pernah katakan pada saya pada hari terakhir kuliah Pastor. Saya bertanya waktu itu apakah saya akan pernah menemukan Tuhan, dan Pastor mengatakan tidak. Jawaban yang sungguh mengejutkan saya. Lalu, Pastor mengatakan bahwa Tuhanlah yang akan menemukan saya. Saya sering memikirkan kata-kata Pastor itu, meskipun pencarian Tuhan yang saya lakukan pada masa itu tidaklah sungguh-sungguh. "Tetapi, ketika dokter mengeluarkan segumpal daging dari pangkal paha saya", Tommy melanjutkan "dan mengatakan bahwa gumpalan itu ganas, saya pun mulai serius melacak Tuhan. Dan ketika tumor ganas itu menyebar sampai ke organ-organ vital,saya benar-benar menggedor-gedor pintu surga.
Tapi tak terjadi apa pun.."
Lalu, saya terbangun di suatu hari, dan saya tidak lagi berusaha keras mencari-cari pesan itu. Saya menghentikan segala usaha itu. Saya memutuskan untuk tidak peduli sama sekali pada Tuhan, kehidupan setelah kematian, atau hal-hal sejenis itu."
"Saya memutuskan untuk melewatkan waktu yang tersisa melakukan hal-hal penting," lanjut Tommy. "Saya teringat tentang Pastor dan kata-kata Pastor yang lain: Kesedihan yang paling utama adalah menjalani hidup tanpa mencintai. Tapi hampir sama sedihnya, meninggalkan dunia ini tanpa mengatakan pada orang yang saya cintai bahwa kau mencintai mereka.
Jadi saya memulai dengan orang yang tersulit: ayah saya. "Ayah Tommy waktu itu sedang membaca koran saat anaknya menghampirinya." "Pa, aku ingin bicara." "Bicara saja." "Pa, ini penting sekali." Korannya turun perlahan 8 cm. "Ada apa?" "Pa, aku cinta Papa. Aku hanya ingin Papa tahu itu." Tommy tersenyum padaku saat mengenang saat itu. "Korannya jatuh ke lantai. Lalu ayah saya melakukan dua hal yang seingatku belum pernah dilakukannya. Ia menangis dan memelukku. Dan kami mengobrol semalaman, meskipun dia harus bekerja besok paginya."
"Dengan ibu saya dan adik saya lebih mudah," sambung Tommy. "Mereka menangis bersama saya, dan kami berpelukan, dan berbagi hal yang kami rahasiakan bertahun-tahun. Saya hanya menyesalkan mengapa saya harus menunggu sekian lama. Saya berada dalam bayang-bayang kematian, dan saya baru memulai terbuka pada semua orang yang sebenarnya dekat dengan saya.
"Lalu suatu hari saya berbalik dan Tuhan ada di situ. Ia tidak datang saat saya memohon pada-Nya. Rupanya Dia bertindak menurut kehendak-Nya dan pada waktu-Nya. Yang penting adalah Pastor benar. Dia menemukan saya bahkan setelah saya berhenti mencari-Nya."
"Tommy," aku tersedak,
"Menurut saya, kata-katamu lebih universal daripada yang kamu sadari. Kamu menunjukkan bahwa cara terpasti untuk menemukan Tuhan adalah bukan dengan membuatnya menjadi milik pribadi atau penghiburan instan saat membutuhkan, melainkan dengan membuka diri pada cinta kasih."
"Tommy," saya menambahkan, "boleh saya minta tolong? Maukah kamu datang ke kuliah teologi iman dan mengatakan kepada para mahasiswa saya apa yang baru kamu ceritakan?"
Meskipun kami menjadwalkannya, ia tak berhasil hadir hari itu. Tentu saja, karena ia harus berpulang. Ia melangkah jauh dari iman ke visi. Ia menemukan kehidupan yang jauh lebih indah daripada yang pernah dilihat mata kemanusiaan atau yang pernah dibayangkan.
Sebelum ia meninggal, kami mengobrol terakhir kali. Saya tak akan mampu hadir di kuliah Pastor," katanya. "Saya tahu, Tommy." "Maukah Pastor menceritakannya untuk saya? Maukah Pastor menceritakannya pada dunia untuk saya?" "Ya, Tommy. Saya akan melakukannya."
Dalam Hikmatnya Sendiri, Manusia Sering Menggunakan Agama Sebagai Alat Mencapai Tujuannya!!
Penulis : Nomi Br Sinulingga
Beberapa waktu yang lalu, satu keluarga selebriti yang keluar dari agama Kristen mengatakan bahwa di dalam agama mereka yang baru, mereka mendapatkan ketenangan dan sangat cocok bagi kehidupan mereka. Mereka yang dulunya ada dalam kegiatan gerejawi dan mungkin tidak jauh dari pelayanan memiliki pandangan dan perasaan bahwa agama yang tidak mengenal Kristus itu lebih baik bagi jiwa mereka. Mereka bukanlah orang yang mudah dipengaruhi oleh orang lain untuk pindah agama. Semua yang mengenal mereka akan mengakui kalau mereka cerdas dalam pemikiran. Ketika mereka memutuskan memeluk agama yang sekarang, pastilah mereka sudah memikirkannya matang-matang. Dan dalam kebijakan mereka dan dengan penuh hikmat manusia, merekapun memberitahukan kepada umum kalau mereka bukan orang Kristen lagi.
Alkitab sudah mengingatkan supaya kita tidak menipu diri sendiri. Kesalahan yang fatal dari orang yang mengaku Kristen adalah mereka tidak menjadikan Alkitab sebagai santapan bagi jiwa mereka. Sehingga kekayaan firman Tuhan tidak pernah mereka mengerti. Manusia kadang lebih peduli dengan makanan jasmani saja, mereka mau membayar mahal kepada seorang dokter untuk mengatur makanan mereka. Mereka bisa menggunakan waktu berjam-jam untuk olahraga supaya mereka mendapat kesegaran jasmani. Tetapi untuk kebutuhan jiwa yang jauh lebih mulia daripada kebutuhan jasmani tidak mereka penuhi. Alkitab yang merupakan santapan bagi jiwa, yang akan membuat jiwa yang haus dipuaskan dan jiwa yang lapar dikenyangkan tidak pernah mereka sentuh. Olah jiwa yang akan memberikan mereka jiwa yang kuat melalui perbuatan kasih kepada sesama dan menjadi pelaku firman Tuhan, mereka abaikan.
Orang yang menyebut dirinya Kristen sering menipu dirinya sendiri, (I Kor 3 : 18). Bahkan banyak orang Kristen yang tidak pernah mengatakan, saya merasa nyaman dengan agama saya yang baru, namun sesungguhnya mereka juga nyaman dengan agama Kristen mereka yang tertera di KTP saja, tanpa pernah menjadi orang Kristen yang sesungguhnya. Agama sering menjadi alat untuk memenuhi semua yang kita inginkan dalam hidup ini. Hal ini membuat banyak orang Kristen yang memiliki pemahaman menjadi murid Kristus sangat dangkal. Agama bukan menjadi kehidupan yang mejadi nafas dalam hidup mereka tetapi agama menjadi alat bagi mereka untuk mencapai tujuan mereka.
Mereka menginginkan kenyamanan dan ketenangan dalam hidup ini dan menurut mereka seharusnya agama memberikan itu. Mereka lupa bahwa sejarah memberikan banyak bukti bahwa kedamaian dan kenyamanan mengikut Yesus bukan seperti apa yang diimpikan manusia. Hidup yang damai sejahtera dari Allah sering diwarnai dengan pengejaran dari orang yang ingin membinasakan murid Kristus, diiringi dengan kesulitan dan penyiksaan serta disingkirkan dari komunitas. Namun semua itu memberikan sejahtera dalam hati karena bisa mengalami penderitaan karena menjadi saksi Kristus.
Kedamaian yang dari Allah adalah kedamaian yang melampaui akal dan pikiran manusia.
Kita juga tidak menutup mata kalau banyak anggota permata menjadikan agama dan gereja adalah alat untuk mendapatkan keinginnya, seperti untuk mendapatkan jodoh, teman atau kepopuleran. Mereka menggumulkan teman hidup dan dengan hikmatnya sendiri mencarinya di tengah-tengah gereja. Mencari jodoh melalui kegiatan gereja tidak salah, dan memang lebih baik kita mendapatkan teman hidup dari komunitas gereja. Tetapi ketika kehadiran di tengah Permata dijadikan alat untuk mendapatkan semua yang diinginkan ini, maka mereka akan kecewa ketika tidak mendapatkannya. Kegagalan mereka mendapatkan tujuan melalui kehadirannya dalam kegiatan Permata sering membuat mereka akhirnya menjauh dari Permata. Kebutuhan akan teman hidup lebih besar daripada kebutuhan untuk bersekutu dalam tubuh Kristus. Jadi jangan heran kalau mereka bisa juga keluar dari Kristen karena mendapatkan teman hidup yang bukan agama Kristen. Tepatnya, seseorang yang menjadi religius dengan tujuan memperoleh dunia ini akan dengan senang hati membuang agama untuk memperolehnya. Yudas sudah dengan pasti memiliki tujuan dalam dunia ini dengan menjadi beragama, dia juga dengan pasti menjual agama dan Tuannya untuk tujuan yang sama.
Ketika orang Kristen karena pernikahan, jabatan atau banyak alasan lain meninggalkan agama Kristen, kita sangat sedih dan ingin melakukan sesuatu supaya hal itu tidak terjadi. Hal ini sangat baik dan memang seharusnya kita melakukan sesuatu untuk mencegahnya, karena tugas kita untuk menyatakan kebenaran kepada orang lain. Namun sering sekali mata mereka sudah tertutup dan mereka merasa bahwa keputusan mereka itu tepat dan bijak sekali, Allah mengatakan bahwa hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Dalam hikmatnya sendiri, manusia akan memperalat agama untuk memenuhi keinginannya yang fana. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia ini, akan dipilih Allah untuk mempermalukan orang-orang yang berhikmat. Dalam I Korintus 1 : 25 tertulis, sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia.
Penulis : Esther Ueberall
Hari ini hari Jumat, hari pertama kami membuka usaha kami. Dengan berseri-seri, saya (17 tahun, pengantin baru) berdiri di sebelah suami saya Solomon, di dalam toko kami yang bernama UEBERALL 3-9-19 Sen. Terletak di Brooklyn, Amerika Serikat, toko ini menjual barang-barang dengan harga pas, senilai 3, 9 atau 19 sen. Tamu pertama kami melangkah masuk. Belia u seorang Pastor Katolik muda usia, dari sebuah gereja (Katolik) kecil, namanya Pastor Caruana. Beliau berbelanja sedikit, dan mukanya gelap, semuram warna jubahnya. "Mengapa sedih Bapa?" suami saya bertanya. Pastor Katolik biasa disapa dengan sebutan Father/Bapa, Solomon tergolong orang yang sangat mudah "jatuh hati".
Pastor tersebut berbicara pelan, seolah menerawang menjawab, "Gereja kami harus ditutup...." "Mengapa?" bagi suami saya, agama adalah penyembahan dari menit ke menit. Kami menjalankan semua ritual agama kami. Keluarga Ueberall, sebagaimana sebagian besar orang-orang Yahudi, beragama Yahudi. Mereka menyembah Allah Yehovah yaitu Allah Abraham, Ishak & Yakub, dan mematuhi hukum Taurat Musa. Mereka bukan beragama Kristen Katolik. Bukan demi ritus itu semata-mata, namun kepatuhan kami kepada Allah. Pastor tersebut menjelaskan bahwa Beliau membutuhkan $500, untuk Senin mendatang. Jemaatnya miskin, dan tidak mungkin memenuhi tuntutan $500 itu. Gereja pusatnya tidak dapat membantu, dan rasanya tidak ada jalan keluar.
Suami saya mendengarkan dengan cermat, dan tangannya meremas-remas jemari saya. Saya merasakan perasaan hatinya yang terdalam.
Kami berdua ad alah orang-orang Yahudi, pindah dari Austria (suami saya) dan saya dari Rusia. Kami mencari kehidupan yang lebih aman dan baik di Amerika. Di Eropa, keadaannya kurang begitu baik untuk bangsa kami. "Tidak! tidak boleh terjadi...." Solomon menggerutu. Ia berpikir keras, dan kemudian berkata: "Jangan kawatir Bapa, kita usahakan uang itu...." Saya melotot ke arah Solomon. Nggak salah? Lima dollar saja tidak kami miliki saat ini. Pastor Caruana juga melotot memandangi suami saya. Kemudian dengan wajah tidak percaya, Beliau meninggalkan kami. Solomon menatap saya. "Esther, kita memiliki begitu banyak hadiah pernikahan. Kita gadaikan itu semua. Suatu saat kita tebus itu semua kembali, namun sekarang kita cari 500 dollar...." Solomon melepaskan jam emas beserta rant ainya yang merupakan hadiah dari ayah saya. Ia melihat kepada cincin kawin saya. Terpaksa saya buka perlahan dan menyerahkan kepadanya.
MASIH KURANG BANYAK
Solomon kembali petang itu dengan wajah kurang cerah. Ia hanya berhasil mendapatkan $250. Pada saat makan malam ia menjadi riang kembali dan berseri-seri berkata: "Saya tahu, kita pinjam! Keluarga kita besar dan kompak bukan?" Dan sepanjang hari minggu i tu, Solomon pergi mengunjungi para paman, ipar, sepupu, dan kawan kawan yang pernah ia tolong. Beberapa dengan simpatik langsung menolong. Beberapa berkeras hati. Solomon memohon-mohon, ia mengemis-ngemis, ia menghimbau, ia membangkit-bangkit, akhirnya terkumpul lagi sebesar $250.-. Sejak saat itu, tiap hari Senin, Pastor Caruana merupakan pengunjung toko kami yang paling pagi. Beliau senantiasa membawa sebuah dompet kulit, dan membayar sebagian demi sebagian. Uang tersebut adalah hasil kolekte jemaatnya. Persahabatan kami meningkat. Kemudian seluruh hutangnya terbayar lunas....
BERKAT MELIMPAH
Cincin kawin saya telah berhasil ditebus, dan semua barang-barang yang kami gadaikan kembali dengan selamat. Keberuntungan senantiasa mewarnai toko kami, dan berkat bagaikan luber tercurah. Tak lama sesudah itu kami mengganti nama toko menjadi TOKO SERBA ADA UEBERALL. Demikianpun dengan jemaat Pastor Caruana. Dengan pelan namun pasti, jemaat itu makin kuat dan makin besar. Mereka bahkan bisa membangun gereja yang lebih kokoh dan bagus, dengan nama Santa Lucia. Tahun 1919 Pastor Caruana dipanggil pulang ke Roma, dan perpisahannya dengan Solomon lebih merupakan perpisahan dua saudara kandung.
TAHUN - TAHUN KEMUDIAN
Solomon secara tiba tiba dipanggil Allah pulang, meninggalkan saya dan dua anak anak. Pukulan keras ini berdampak dua tahun. Saya kemudian bekerja sendiri, dan melatih putera saya mengambil alih usaha. Secara pelan-pelan, ingatan akan Pastor Caruana menghilang dari pikiran saya. Perang dunia II meletus, dan Hitler menderap masuk Austria. Kesulitan besar terjadi di sana, dan kami menerima surat-surat permohonan dari saudara serta kerabat Solomon, yang ingin disponsori untuk pindah ke Amerika. Tanpa kepindahan ini, kamp-kamp konsentrasi dan maut menanti mereka. Saya berusaha keras menolong. Namun pemerintah Amerika kemudian menutup kemungkinan migrasi dengan memberlakukan sebuah kuota. Surat-surat permintaan terus masuk. Tiap menerima sebuah, terasa satu tikaman di ulu hati saya. Saya akan bersandar di dinding dan menangis: "Oh Solomon, kalau saja engkau masih hidup...."
Akhirnya saya menghubungi Departemen Perburuhan di Washington, dan mereka menyarankan agar saya membiayai para pelarian masuk Cuba. (Saat itu Cuba masih bersahabat dgn Amerika Serikat). Syaratnya, harus ada tokoh kuat di Cuba yang bisa mensponsori, dan menjamin akan kelangsungan hidup di sana. Siapa? Saya tak kenal seorang pun di Cuba. Terbersit sebuah ilham. Cuba negara Katholik, mungkin gereja Santa Lucia bisa menolong. Seorang Pastor muda langsung mengirim kawat (telex) kepada pimpinan Gereja Katholik di Havana memberi kabar kedatangan saya.
HAVANA INTERNATIONAL AIRPORT, CUBA, 2 HARI KEMUDIAN...
Turun dari pesawat terbang, udara hangat menerpawajah. Seorang anak laki-laki kecil berlari-lari menemui saya di tangga pesawat dengan sebuah buket kembang mawar. Saya mencium pipi anak kecil ini, terheran heran akan penyambutan VIP macam ini. Pelan pelan saya melihat sepasang sepatu coklat di sisi anak itu. Mata saya naik ke atas, terpandang sebuah gaun beludru berwarna merah darah dengan rumbai-rumbai kuning. Mata saya terangkat lagi ke atas, dan melihat langsung kepada sepasang mata ramah, berkeriput, yang memandang dalam-dalam, dengan riak-riak gelombang hangat di dalamnya. Orang itu tersenyum kepada saya. Saya memusatkan perhatian. Tangannya terulur kepada saya, dan berkata pelan: "Esther Ueberall... tidak ingatkah kau pada saya?" Pastor Caruana!! Saya berenang dalam air mata....Di dalam mobil menuju pusat kota, Pastor Caruana bercerita bagaimana Beliau kemudian ditugaskan Roma di Cuba, dan menjadi Bishop Kepala (Uskup Agung?) di sana.
Dengan pertolongannya, dua lusin keluarga kami melarikan diri dari cengkeraman Hitler, dan tiba di Cuba. Mereka menantikan dibukanya kuota imigrasi Amerika, dan tidak diperkenankan bekerja. Namun, gereja Katolik Cuba melindungi mereka, memberi makanan, pakaian, sayur mayur segar dari kebun-kebun sendiri, daging, dan enam bulan kemudian mereka telah aman di Amerika.
KEMBALI KE AMERIKA SERIKAT
Sejak saat itu, saya dan Pastor Caruana berkirim-kiriman surat. Beliau kemudiah jatuh sakit dan dirawat di kota Philadelphia, Amerika Serikat. Beberapa kali saya menyempatkan diri menengok, dan dalam tiap doa.... saya selalu ingat keadaan beliau.
Suatu hari, sebuah surat tiba di meja kerja saya, dari pimpinan Gereja Katolik Philadelphia, dan isinya mengatakan bahwa keadaan Pastor Caruana sangat gawat.
Beliau tidak ingin ditemui oleh siapapun, namun terus menerus memanggil-manggil nama saya. 3 jam kemudian saya telah tiba di sana, dan duduk dengan diam di sisi tempat tidurnya. Beliau tampak kurus, lemah, dan tidak berdaya...
"Esther....", katanya memegang tangan saya. Kami berdiam diri disana, saling memand ang. Saya tahu, bahwa Beliau sebentar lagi akan "berangkat".
Kemudian Beliau berkata: "Esther, jaga diri baik-baik, saya selalu berdoa untukmu dan untuk keluargamu" Kemudian, dengan banyak kesulitan, Beliau mengeluarkan dari bawah bantalnya sesuatu yang diletakkan dalam genggaman tangan saya. Beliau memberikan kepada saya sebuah bros perak yang selalu dikenakannya.
Air mata yang panas membanjiri saya, dan sambil memegang tangannya erat-erat. Pergilah dengan tenang Bapa, KENANGAN akan engkau sangat MANIS di dalam hati saya. Lambang dari suatu hubungan yang manis, dari sekian banyak perbedaan-perbedaan umat manusia, namun...saling berbuat baik, karena kenal DIA!! Ini adalah terjemahan bahasa Indonesia, riwayat kehidupan Esther Ueberall ini, dimuat dua kali dalam majalah Guideposts, Februari 1974 dan Mei 1987.
Pesan dari PHW : " Di tengah ketidakadilan yang semakin sering umat Kristen alami di negeri ini, marilah kita menyingkirkan semua perbedaan kita dan saling membantu satu sama lain sebagai umat yang mengenal Allah...."
Oleh: Walsinur Silalahi
Anak-anak sudah dewasa,tetapi hubungan dengan isteri makin tdk harmonis,aku jadinya stress memikirkan tingkah isteriku yang anggap remeh thd aku. Sudah seringkali isteriku itu kuperingatkan tetapi ,tdk ditanggapi.Dia malah sering mengajak bertengkar .Mungkin suatu saat aku menjadi bahan berita di TV karena kesabaranku ada batasnya.Sudah sepuluh tahun ini dia bertingkah demikian.
Setiap aku pulang kantor dia tdk berada dirumah.Kalau aku pergi kekantor dia belum bangun.Biasanya dia selalu mempersiapkan pakaian yang harus aku gunakan bila kekantor atau ke gereja. Ada perasaan kesal,benci,dongkol,,apalah itu sebutannya..aku tidak mengetahui penyebabnya,mengapa dia betah berjam-jam di rumah janda itu. Sebagai suami,aku merasa tdk dihargainya..Pakaianku juga gak diperhatikannya lagi.Buktinya kancing kemejaku,celana ada yang copot,,dia tdk peduli.
Seringkali aku mengenakan kemeja,kancingnya tdk lengkap.Terpaksa saya betulkan dulu dengan memakai jarum tangan. Tak sabar lagi aku menahan emosi ini,aku memarahinya demikian:"bu,kalau gak betah lagi tinggal dirumah,angkut saja pakaianmu kerumah janda itu,spy kamu tdk terganggu dengan urusan dirumah ini.Tau gak teman,dia malah lebih galak:"Bapak saja yang pergi dari rumah ini. Lagian ngapain sih bapa ngomong begitu?,makanan sudah saya siapkan di meja,tinggal santap saja.Rumah juga sdh ku bersihkan.Bapa cerewet amat sih? Aku tdk mau bengong sendiri terus dirumah,makanya aku pergi berkumpul sama teman2. Aku tdk melarangmu berkumpul bu,tetapi ingat pulang dong.Ibu kadang2 pulang jam 23.00,malah sering pulang pagi.Saya jadi curiga bu, ada apanya disana,kataku menjawab ocehannya."Mikir dong bu,anak-anak sudah besar,umur kita sdh diatas limapulu tahun,masa kita bertengkar terus didepan mereka?"kataku menasehatinya.Ternyata dari pemantauanku,mereka bermain kartu disana.Teman2nya adalah wanita yang penghasilan suaminya cukup,dan seringkali ditinggal suami yang bertugas di luar negeri atau di profinsi lain.
Sudah sering saya komplain atas sikap2nya selama sepuluh tahun ini,tetapi dia tdk mau berobah sikap.Pada saat saya pensiun kebiasaan meninggalkan rumah makin menjadi-jadi. Aku bergumul,kalau kuceraikan,aku ingat janji nikah kami di hadapan Tuhan:Tidak boleh bercerai kalau tidak diceraikan oleh kematian.Tidak etis bertengkar terus-menerus dihadapan anak-anak.Kupendam rasa kecewaku dalam hati.Dari perenunganku thd perjalanan keluargaku aku berkesimpulan bhw manusia tdk akan mampu merubah sifat2 negatif pasangannya,kalau bukan datang dari dirinya sendiri.Yang mampu membuat seseorang bertobat dari perangainya yang negatif adalah Tuhan dan itupun bila pelakunya mau dirobah oleh Tuhan.Hobbynya main kartu sangat sulit saya robah.
Akupun menyerahkan persoalan ini kepada Tuhan,biarlah Tuhan yang memilih waktunya untuk isteriku sadar dan kembali kejalan yang benar. Lalu aku berpikiran bahwa lebih baik melayani daripada saya berusaha merobah sifat2 isteriku.Dirumah,saya selalu mengajak anak-anaku untuk berdoa bersama-sama tanpa kehadiran isteriku.Kami juga membuka pelayanan baru di Bekasi seperti Pondok ungu,Jatimulia,Bekasi.Saya juga menulis buku2 tehnik untuk sekolah kejuruan.Dari hasil2 tulisanku pemerintah memakai buku saya sebagai mata pelajaran wajib di sekolah-sekolah kejuruan di seluruh Indonesia.Dari kerabat2ku dan kenalanku,ada sindiran sinis kepadaku.Mereka berkata:"bapak itu aktif pelayanan,tetapi isterinya saja main kartu." banyak lagi ocehan2 yang memojokkanku,tetapi pelayananku berjalan terus,aku tdk menggubris ocehan mereka.
Sebagai manusia biasa ,sekalipun saya aktif pelayanan,saya juga mengalami stress atas ocehan mereka.Kadang aku patah semangat.Suatu ketika dalam peristirahatan saya di Cipanas terbetik pemikiran demikian dalam hati saya: Saya sdh berusaha melayani Tuhan maksimal,tetapi mengapa perobahan isteriku tdk kunjung tiba?",Bagaimana nih Tuhan..Apakah saya selamanya menjalani kehidupan begini?.
Tiba2 tanpa sadarkan diri aku collapse dan terjatuh mencium tanah.Mulutku mengeluarkan lendir.Saat itu aku hanya sendiri.Masih dalam keadaan tdk sadar,seorang petani yang melewatiku terkejut melihatku tertelungkup. Dia bertindak cepat membawaku ke rumah sakit terdekat.Setelah diberikan pertolongan darurat,petani itu melihat kartu nama yang tertera dirumahku dan langsung menelpon isteriku yang saat itu berada dirumah. Dengan sigap isteriku dan anak-anakku beserta beberapa handaitolan datang melihatku ke Cipanas.Kulihat Isteriku mengusap kepalaku dengan menangis. Dia berjanji:"Aku akan selalu merawatmu papa",dan maafkan saya yang selama ini sering membuatmu kecewa dan terluka akan sikap2mu.
Merekapun membawa saya ke Rumah sakit Cikini di Jakarta untuk mendapat perawatan selanjutnya.Badanku lumpuh total,berbicara tdk bisa lagi normal. Setelah cukup lama dirawat disana,dokter menyarankan,agar saya berobat jalan saja dan aktif latihan agar sencor motorik(urat syaraf) berfungsi kembali.
Aku duduk saja di korsi roda,sebuah alat dayung sepeda dipersiapkan untuk melatih gerakan2 tangan maupun kaki.Dengan sabar dan tekun aku lakukan semua nasehat dokter tsb.Setiap hari kamis dan jumat,saya dibawa isteriku ketempat rekreasi seperti ancol,sea world dan tempat2 yang menyenangkan lainnya.Kadang saya dibawa melihat-lihat keindahan ciptaan Tuhan di tempat lahirku Brastagi,Danau Toba.Aku bersukacita melihat perobahan isteriku yang waktunya diberikan total mengurus segala kebutuhanku.Perbuatan2nya yang mengecewakan selama ini ditinggalkan.Dia juga ikut melayani pada kebaktian2 gereja yang saya rintis sebelumnya sambil membawa saya.Saya benar2 mengalami curahan kasih Tuhan,sekalipun saya lumpuh.
Ada orang berkata:"mengapa isterinya berobah setelah suaminya lumpuh?" tetapi bagiku Inilah waktu Tuhan yang saya pergumulkan.Nyawakupun kuberikan asal isteriku bertobat dan diselamatkan Tuhan.Kehidupan didunia adalah sementara.Mari kita persiapkan waktu sedikit ini untuk memperoleh kehidupan kekal bersama Tuhan di sorga.Saya bersyukur karena Tuhan memakai kelumpuhan saya untuk menyelamatkan isteri saya. Tanganku dan kakiku berangsur-angsur pulih,dan sekarang saya sdh mampu berdiri sendiri tanpa tongkat.Soli deo Gracia. Saran penulis.sebaiknya jangan tunggu pasanganmu sakit dulu baru mau berobah sikap dari kelakuan2 yang tdk dikehendaki Tuhan.
Penulis : Lesminingtyas
Pelayanan saya di Kalimantan Barat yang cukup lama membuat saya merasa dekat dengan orang-orang China di sana. Saya merasa mereka adalah keluarga saya yang kedua. Kecintaan saya terhadap masyarakat Kalimantan Barat dan sekitarnya juga tercermin dari beberapa tulisan saya. Walaupun sekarang saya tidak lagi melayani masyarakat Kalimantan Barat, rasanya sebagian hati saya masih tertinggal di sana. Untungnya rasa kangen saya sedikit terobati dengan kiriman foto dan cerita-cerita dari Ati (adik laki-laki).
Ati adalah seorang pemuda China yang merupakan adik angkat saya di Kalimantan Barat. Ati lahir dan dibesarkan dalam keluarga Konghucu yang hancur berantakan, karena jerat-jerat dosa seksual, perjudian dan minum-minuman beralkohol. Masa lalu Ati yang hitam pekat hampir membuat saya tercengang sekaligus kagum dengan pertobatan dan pemulihan yang telah dialaminya. Sejak menerima Tuhan Yesus, Ati justru mengambil bagian untuk melayani Tuhan.
Setelah sekian lama persaudaraan kami, Ati menceritakan betapa hancurnya jiwa mama gara-gara penghianatan suaminya. Ati dan adik kandungnya; Willy juga pernah terjerumus ke dalam kubangan dosa yang sama dengan papanya. Kejujuran Ati tidak membuat saya menjauhinya, tetapi saya justru merasa perlu menguatkannya. Saya sangat mengerti mengapa Ati dan Willy sampai jatuh dan bergelimang dosa. Saya melihat ada kemarahan dan kekecewaan mereka di bawah alam sadar terhadap papanya. Di sisi lain, papa memang menghadirkan sosok yang tidak layak diteladani.
Saya sangat gembira karena Ati telah mengalami pertobatan dan pemulihan. Bahkan ketika Ati merencanakan untuk studi lanjut di bidang teologi, saya pun memberi dukungan sebisa saya. Pergumulan pribadi dan paper Ati yang perlu saya edit, selalu saya tempatkan pada prioritas pertama. Ini semua saya lakukan sebagai apresiasi dan dukungan saya terhadap kehidupan Ati yang baru.
Menjelang akhir tahun 2004, Ati menelpon dari Kalimantan Barat dan menceritakan bahwa Willy sudah hampir 2 bulan mendekam di tanahan polres karena terlibat kasus penipuan. Kalau saya gembira melihat kehidupan baru Ati, saya punya beban tersendiri dengan kehidupan Willy yang masih bergelimang dosa. Walaupun saat itu kesibukan kerja saya sangat tinggi, tetapi saya yakin Tuhan tidak menginginkan saya mengabaikan Willy. Karena beban dan tanggung jawab Ati di Kalimantan Barat sangat besar, maka saya mencoba menenangkannya dan berjanji untuk ikut memikirkan Willy.
Karena saya tidak bisa mempengaruhi proses hukum yang akan dihadapi, maka saya hanya bisa meminta kakak kandung saya untuk menjadi pengacara Willy, dengan biaya sepenuhnya dari Ati. Dengan demikian saya bisa meyakinkan bahwa keadaan Willy baik-baik saja, sehingga Ati bisa tetap berkonsentrasi mencari uang dan melayani Tuhan di Kalimantan Barat.
Setelah 2 bulan mendekam di Polsek, Willy dipindahkan ke rutan Salemba. Di rutan, Willy ditempatkan di sebuah barak bersama ratusan tahanan yang lainnya. Sebenarnya Willy membutuhkan uang Rp. 2 juta untuk bisa masuk kamar sel di rutan supaya ia tidak harus tidur berdesak-desakan layaknya ikan asin di emper-emper atau di lorong bangsal, bersama penjahat kelas teri yang tidak berduit. Sebenarnya kakak saya juga menyarankan hal yang sama, tetapi saya dan Ati berpikir lain. Kami berdua berpikir, biarlah Willy mendapatkan pelajaran yang berharga dari penderitaannya selama di penjara. Kami berdua berharap siksaan tersebut memiliki efek jera terhadap Willy.
Walaupun ada oknum penegak hukum yang menawarkan kekebasan dengan sejumlah uang, namun saya dan Ati tidak mau melibatkan diri dengan hal-hal yang berbau ketidakadalian dan KKN. Kami berdua justru berharap dengan terkurung di penjara, Willy bisa duduk diam, mendengar dan menerima Firman Tuhan. Setidaknya kami berharap bisa mengetuk pintu hati Willy sehingga ada tersedia tempat bagi Tuhan di hatinya.
Sejak Willy mendekam di rutan Salemba saya rindu untuk melawat, sekedar meminjamkan telinga, hati dan mulut saya, sama seperti saya memperlakukan Ati. Tapi sayang, kakak saya keberatan kalau saya harus datang ke tempat para pendosa itu dikurung. Banyak hal mengerikan yang diceritakan oleh kakak saya, membuat hati saya ciut sehingga tidak ada nyali sedikitpun untuk datang sendirian ke rutan salemba. Terlebih lagi dengan kenyataan bahwa di dalam rutan praktek UUD (Ujung-Ujungnya Duit) masih tetap kental. Bukan hanya para napi dan tahanan yang "diporoti", keluarga atau tama yang membesuk juga "dipalak". Kakak saya yang datang atas nama hukum saja selalu kena "palak" di setiap pintu pemeriksaan.
Waktu Willy merasa putus asa karena hampir seluruh kulitnya borokan dan kejelasan waktu sidang juga belum ada, Willy mengirim SMS yang mengatakan dirinya ingin bunuh diri saja. Willy menantang Ati untuk memutuskan hubungan persaudaraan karena Ati menolak permintaannya untuk membayar kamar dan "salam tempel" untuk oknum yang menjanjikan keringanan perkara. Sekali lagi, saya dan Ati tidak mau menggunakan perasaan. Kami berdua berkeras dan menyerahkan perkara Willy ke dalam jalur hukum yang normal, walaupun beresiko pada vonis hukuman yang cukup berat untuk Willy.
Beberapa saat saya dan Ati tidak mau terlalu berat memikirkan Willy. Kami percaya Tuhan punya rencana tersendiri untuk Willy. Bahkan secara ekstrim saya dan Ati berprinsip bahwa kami bukanlah juru selamat yang bia menolong Willy dan biarlah Willy mencari dan mengandalkan Juru Selamat yang Sejati.
Kamis 10 Maret 2005, menjelang libur hari Raya Nyepi, tiba-tiba HP saya berdering. Ketika saya lihat nama Ati terpampang di layar ponsel, saya bergegas mengangkatnya. Saya tahu persis, kalau Ati menelpon berarti sedang ada masalah yang serius. Ketika Ati menanyakan kesediaan saya untuk membantu membelikan soft lens untuk Willy, saya masih mencoba menawar untuk mengirimkan softlens tersebut lewat kakak saya pada hari Senin. Namun karena Ati mengatakan bahwa softlens Willy sudah kedalu warsa, maka tanpa berpikir lagi saya pun langsung mengiyakan. "Inilah kesempatan saya berkunjung ke rutan Salemba, mumpung tidak ada kakak yang melarang" begitu pikir saya. Memang Ati hanya mempercayakan keuangan untuk Willy melalui saya, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan uang, Ati selalu mentransfer ke rekening saya.
Begitu telepon ditutup saya mulai kebingunan. Di satu sisi saya ingin melawat Willy, di sisi lain saya takut dengan birokrasi untuk masuk ke rutan. Terlebih pengalaman masa lalu yang kurang menyenangkan akibat narapidana salah mengartikan perhatian dan kasih sayang kami. Ketika masih kuliah dulu saya melayani beberapa narapidana di LP Salatiga, Jawa Tengah. Begitu narapida memasuki masa asimilasi dan diberi kesempan bersosialisasi dengan dunia luar, beberapa dari mereka ada mencari ke kampus karena merasa pernah diperlakukan secara special.
Walaupun saya yakin Willy tidak akan menyusahkan saya, tapi saya terus ingat Ati yang selalu wanti-wanti karena sorot mata Willy yang alim, memelas tapi penuh tipuan. Saya mulai bingung dan panik karena membayangkan betapa ngerinya saya masuk sendirian ke dunia yang sangat asing. Saya mencoba menghubungi De De, Di Di dan adik-adik rohani sekaligus teman diskusi saya dari Gereja Kristus Ketapang. Sayang sekali, mereka sudah punya acara sendiri-sendiri.
Sementara itu tanggal 11 Maret jam 11.00 saya sudah membuat janji untuk datang dalam acara jumpa darat member milis Krisen-Katolik teramah yang saya ikuti. Rasanya sangat tidak bijaksana kalau saya ingkar janji atau tidak datang. Terlebih ada seorang rekan milis yang meminta saya untuk membawa asinan Bogor. Otak ini rasanya mau pecah, karena banyak sekali hal yang belum tertangani sore itu.
Sambil menunggu bis jemputan, saya mencoret-coret daftar kegiatan yang harus saya selesaikan, diantaranya : mengambil uang di ATM, membeli soft lens, mencari teman untuk ke rutan, mencari informasi dari kakak mengenai tata cara membesuk Willy, membeli asinan Bogor, datang ke jumpa darat di Mall Artha Gading jam 11.00, dan membesuk Willy jam 13.00.
Dengan banyaknya hal yang harus diselesaikan, saya memutuskan untuk mulai melakukan sebagaian mulai sore itu, paling tidak untuk mengambil uang di ATM dan membeli soft lens. Saya pun sengaja tidak pulang dulu ke rumah, tetapi langsung ke Plaza Jambu Dua, Bogor. Setelah ada cukup uang tunai di tangan, saya mencoba mencari soft lens yang dipesan Willy. Sayang sekali, dari 2 optik yang saya datangi, semuanya tidak menyediakan soft lens untuk ukuran minus 11. Petugas optik tersebut menyarankan saya mencoba mencari soft lens tersebut ke beberapa optik di Plaza Ekaloka, di Sukasari.
Semula saya agak ragu, karena hari sudah gelap sedangkan kacamata saya sendiri tertinggal di bis jemputan. Namun demi Willy, saya nekat juga untuk pergi. Perjalan saya memang agak terhambat karena dalam situasi gelap dan tanpa kacamata, saya tidak berani menyeberang. Mau tidak mau, saya sedikit membuang waktu untuk naik angkot 09 yang ngetem di dekat Plasa Jambu Dua sambil menunggu angkot itu penuh.
Dari tujuh optik yang ada di Ekaloka, ternyata tidak satu pun yang memiliki persed248222n soft lens untuk ukuran yang dimaksud. Saya mencoba menghubungi Ati dan istri Willy, tetapi HP mereka tidak satu pun yang aktif. Semula saya sudah GR (gede rasa) dan menyangka kalau memang Tuhan tidak mengijinkan saya pergi sendirian ke rutan Salemba.
Kira-kira jam 20.30 saya keluar dari Plaza dengan hati yang sangat cemas. Kebetulan penerangan di depan Plaza yang masih relatif baru itu sangat kurang. Di sisi lain, banyak kendaraan yang melintas di depan Plaza dengan kecepatan tinggi. Saya berpikir sejenak supaya bisa menyeberang jalan dengan aman. Sejenak kemudian saya memutuskan untuk naik angkot ke depan Terminal Tas Tajur karena penerangan di sana cukup bagus dan jalanan cukup datar sehingga saya berharap dapat menyeberang dengan mudah.
Sejenak pikiran saya blank dan tahu-tahu saya sampai tempat yang gelap dan sepi. Itulah salah satu kelemahan saya yang mudah sekali mengalami disorientasi ruang di dalam suasana gelap. Karena sudah terlalu jauh, saya pun turun. Dengan setengah berlari, saya menyeberang di tempat yang benar-benar sepi itu. Begitu sampai seberang, saya baru tahu bahwa saya sedang berada di depan tempat bilyard yang remang-remang. Lama saya menunggu angkot yang lewat, hati saya pun mulai menguluh "Tuhan, saya ingin melayani, tapi jangan terlalu sulit seperti ini!"
Begitu ada angkot lewat, saya pun segera naik. Di dalam angkot itu saya masih menggugat Tuhan "Tuhan, dari dulu saya sudah melayani orang-orang miskin yang kelaparan dan hidup menggelandang, masihkan saya harus melawat orang yang di penjara?". Suara hati saya mulai menegur "Kamu pikir, Amanat Agung dalam Matius 25:31-46 sudah kau lakukan dengan sempurna? Kamu jangan terlalu cepat puas, masih banyak yang belum kamu lakukan untukKu. Sekarang saja, untuk melawatKu di penjara, kamu setengah hati"
Begitu sampai rumah saya masih berusaha menelpon Willy, dengan harapan ia sabar menunggu softlens hingga hari Senin. Namun Willy mengeluh, karena matanya sudah memerah dan kulitnya borokan, sehingga ia berharap saya mencarikan soft lens dan caladin cair di Pasar Baru, dan sebelum jam 13.00 saya harus sudah berada di rutan Salemba. Saya kembali bingung. Untung saja, kakak saya segera mengirim SMS mengenai petunjuk besuk narapidana.
Sebelum berangkat tidur, seorang teman sesama warga Bogor yang hendak ikut acara jumpa darat, mengirim SMS menanyakan baju yang akan saya pakai besok. Terus terang saya masih bingung, mencari baju yang layak untuk bertemu dengan orang-orang terhormat di sebuah mall, tetapi juga cocok untuk berkunjung ke penjara. Dengan dua acara yang sangat berbeda itu saya ingin penampilan saya tidak terlalu mencolok ketika di penjara, tetapi juga tidak terlalu njomplang dengan teman-teman dari kalangan yang terpelajar.
Singkat cerita, acara jumpa darat dengan teman-teman sungguh sangat menyenangkan. Rasanya ingin sekali saya melanjutkan curhat dengan beberapa member yang sudah terbiasa curhat di milis. Suasana yang hangat dan penuh persaudaraan itu membuat saya engan untuk meninggalkan acara tersebut. Ada perasaan sedih dan kecewa ketika alarm reminder ponsel saya berdering, tanda saya harus segera pergi ke Pasar Baru. Berat rasanya saya meninggalkan "pesta kecil" dengan makanan lezat dan istimewa yang dibawa oleh rekan-rekan yang jago masak. Ego saya pun sedikit berontak seraya berkata "Willy, kenapa sih kamu bikin kejahatan dan pakai ngrepotin saya segala? Nglawat sih ngalawat, tapi saya kan juga berhak untuk bersuka cita. Masak sih kamu tega merampas kesempatan emas saya bersama teman-teman curhat yang seiman?". Untung saja, pemberontakan itu segera saya tepis sendiri dengan mengingat perkataan Tuhan Yesus "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudaraKu yang paling hina, kamu telah melakukannya untuk Aku"
Sebenarnya saya malu untuk berterus terang dengan teman-teman milis yang sangat terpelajar itu, bahwa saya punya saudara angkat, seorang pendosa yang harus mendekam di penjara. Namun, untuk berbohong saya juga tidak bisa. Lagi pula rasanya tidak ada alasan lain yang lebih tepat dan bijaksana untuk meninggalkan persekutuan itu selain alasan yang sebenarnya. Puji Tuhan, dengan keterusterangan saya beberapa rekan senior justru sangat mengerti. Ibu Ine yang jago masak dan Cik Aina, teman curhat saya yang paling seru membekali saya dengan beberapa bungkus makanan untuk Willy. Walaupun tas plastik hitam berisi makanan sungguh tidak serasi dan merusak penampilan saya, namun demi Willy saya rela melakukannya.
Begitu selesai berpamitan, secepat kilat saya meninggalkan tempat bergensi itu, menuju ke Pasar Baru. Suasana pasar yang tidak teratur dan agak kumuh, membuat saya kurang nyaman. Hati kecil saya pun mulai mengeluh "Tuhan, kenapa sih susah amat melakukan kehendakMu. Di dalam Injil, Engkau hanya memintaku untuk melawat orang di penjara, tapi kenapa Engkau tuntut juga aku untuk keluar masuk tempat yang tidak elit ini?" Suasana yang tidak nyaman tersebut mendorong saya untuk segera meninggalkannya dan dengan dengan langkah seribu, saya menuju ke tempat di mana Willy mendekam.
Walaupun di setiap pintu penjagaan/pemeriksaan, jelas-jelas tertulis "Kunjungan Tidak Dipungut Biaya" tetapi dalam prakteknya tetap saja UUD. Untuk sampai ke dalam dan bertemu dengan kaum terpenjara, saya harus melewati 4 (empat) pintu, masing-masing dengan salam tempel sebesar Rp. 10,000. "Willy, kasus umum, pasal 378" dengan sok PD saya mengucapkan "pasword" yang dipesan kakak, saat masuk pintu pemeriksaan.
Entah pada pintu yang keberapa, saya diminta masuk ke ruang tertutup untuk diperiksa. Semua isi tas harus dikeluarkan. Beberapa saat kemudian, saya diminta mengangkat kedua tangan dan seorang petugas perempuan meraba seluruh permukaan tubuh saya. Kantong-kantong saku saya tak terlewatkan juga dari pemeriksaan petugas. Begitu petugas tahu bahwa saya membawa HP, saya diminta untuk menitipkannya dengan biaya Rp. 10,000 juga. "Duit lagi, duit lagi" kata saya dalam hati setengah geregetan.
Ketika saya sudah lolos pemeriksaan di bagian perempuan, saya pun masuk ke pintu kerangkeng yang berikutnya. Namun sebelum badan saya masuk kerangkeng seluruhnya, tiba-tiba seorang penjaga laki-laki menangkap tangan saya "Eits, dicap dulu!" katanya. Tanpa permisi dan tanpa menanyakan saya suka atau tidak suka, petugas itu membubuhkan stempel di atas pergelangan tangan saya. Walaupun hati saya berontak diperlakukan seperti binatang, saya tak mampu menolaknya. Terlebih kejadiannya sangat cepat dan tidak meminta persetujuan saya sebelumnya.
Begitu sampai di dalam kerangkeng, beberapa pembesuk laki-laki mentertawakan saya sambil berkata "He,he,he.mbak disangka laki-laki, ya?!" Saya pun baru sadar, ternyata dari sekian banyak pembesuk perempuan, hanya saya yang distempel. Saya cuma mesam-mesem, setengah malu bercanpur geli "Akhirnya si tomboy ini kena batunya juga" saya meledek diri sendiri.
Ketika sampai di dalam, saya agak kesulitan mencari Willy karena memang sebelumnya belum pernah bertemu. Namun melihat saya clingak-clinguk, Willy pun menghampiri saya sambil menyodorkan tangan "Ini Mbak Ning, temannya Koko ya?" Saya pun tersenyum. Agak lama kami berputar-putar memilih tempat. Beberapa pembesuk yang punya cukup uang memang membayar petugas supaya bisa duduk dan ngobrol di sofa di ruangan kantor rutan. Namun sayang waktu itu ruangan sudah dipenuhi oleh beberapa tahanan dan keluarganya yang tentunya sudah lebih dulu membayar "O...ternyata bukan cuma hotel yang fullbook" kata saya dalam hati.
Semula Willy mengajak saya berdiri di emper kantor rutan yang cukup terlindung dari sengatan matahari. Namun tak lama, kami diusir oleh petugas karena tempat itu juga sudah "dipajak" oleh tahanan lain. Saya dan Willy pun pindah ke tempat lain. Setelah menengok kesana kemari, tidak ada pilihan lain keculai jongkok berhimpit-himpitan dengan nara pidana lain. Saya berusaha mengambil jarak kira-kira 20 cm supaya tidak bersinggungan dengan Willy, tapi pundak dan badan saya justru menempel dengan tahanan lain. Suasana barak di rutan siang itu mirip dengan terminal Pulo Gadung sehari menjelang lebaran.
Begitu saya siap meminjamkan telinga, Willy memuntahkan segala kekesalan dan kemarahannya terhadap sikap Kokonya; Ati. Saya menjadi merasa bersalah dan bertanggung jawab untuk meluruskan, karena selama ini saya pun banyak mempengaruhi sikap Ati. Ketika Willy menuduh Ati tidak mempedulikannya, dengan jujur saya katakan "Sekarang ini saya ada di sini karena Tuhan dan Ati yang meminta. Sebelumnya kita bukan siapa-siapa dan saya besedia datang ke sini karena Tuhan dan Ati sangat mengasihi Willy".
Tidak mudah untuk meluluhkan hati Willy. Pandangan mata Willy yang memelas dan sok alim yang diceritakan Ati sama sekali tidak terbukti. Yang ada hanyalah pandangan kebencian yang liar. Rasanya dulu selama tinggal di Kalimantan Barat, saya belum pernah menemukan China se-preman Willy. Walaupun kulitnya masih tetap putih dan matanya masih tetap sipit, tetapi wajah Willy sangat jauh dari kesan kalem. Kulit tangannya yang dihiasi borok memang membuat saya jatuh kasihan sekaligus jijik. Tapi mau bag268249223 lagi, untuk sedikit menjauh darinya, sudah tidak ada tempat lagi.
Walaupun saya sudah mengenakan baju yang sederhana mungkin, tapi sejujurnya penampilan saya siang itu paling mencolok. Asli, waktu itu semua orang pasti akan setuju kalau saya paling cantik di antara pembesuk lainnya. Mungkin itulah sebabnya kakak melarang saya duduk bersama dengan para pelaku kejahatan dan keluarganya yang tidak jauh berbeda sangarnya.
Walaupun banyak pembesuk perempuan yang berdandan menor, tapi jelas terlihat bahwa dadanan dan penampilan mereka sangat jauh dari kesan terpelajar. Lipstik tebal, eye shadow mencolok dan blus on kemereh-merahan tidak sanggup menyembunyikan raut muka yang putus asa.
Walaupun pakaian saya cukup sederhana, tetapi kulit tangan saya yang lebih mengkilat karena usapan hand body lotion, dan bau wangi parfum yang menyegarkan serta sepatu boot yang tersemir mengkilat, membuat saya menjadi pusat perhatian para tahanan dan keluarganya. Willy pun berbisik ke telinga saya "Mbak, gara-gara saya ditengok orang keren seperti Mbak, nanti saya malah repot. Petugas pikir, saya ini orang berada dan mereka akan meminta bagian dari saya. Untuk sekali keluar seperti ini saja, saya harus membayar uang pintu Rp. 20,000. Di sini apa-apa harus membayar. Kita juga diijinkan menggunakan HP, tapi juga harus membayar pajak" "Untuk makan bagaimana?" tanya saya. "Sama saja Mbak. Kalau mau mendapatkan makanan yang bersih dan sehat, saya harus membeli sendiri. Saya sudah tidak tahan lagi di sini. Kalau tidak ada uang, saya tidak bisa makan yang layak. Mbak, boleh nggak nanti saya minta uang, biar nanti Koko yang mengganti" pinta Willy "Ini ada uang Rp. 100,000 punya Koko" kata saya. "Sst..hati-hati Mbak ngasihnya. Kalau ada orang yang tahu, nanti saya dipalak" Willy mengingatkan.
Karena wajah Willy masih agak tegang dan sedikit sangar, saya mencoba menawarkan makanan yang saya bawa dari tempat acara jumpa darat. Tanpa rasa canggung sedikitpun, Willy langsung membuka bungkusan yang saya berikan. Hati saya sangat miris ketika melihat Willy melalap habis makanan yang saya bawakan. Willy benar-benar rakus, seperti orang yang sudah seminggu tidak makan. Walaupun saya berusaha membuang padangan, namun sudut mata saya masih saja menangkap pemandangan memilukan yang berjarak kurang lebih 20 cm dari mata saya.
Hati saya semakin teriris, ketika Willy menceritakan malam-malam panjang selama di rutan. Gara-gara tidak bisa membayar uang kamar Rp. 2 juta, Willy terpaksa tidur di emper-emper atau lorong bangsal. Untuk mencegah supaya air mata saya tidak menetes, saya berusaha mengajak Willy berngajaknya ngobrol santai. "Willy, kamu masuk ke sini karena petualangan atau kecelakaan sih? Apa sih enaknya main-main dengan perbuatan tidak baik kalau cuma akhirnya menyengsarakan?" tanya saya. Willy pun mulai tersenyum sambil berkata pelan "Ya, beginilah jalan hidup saya!" Saya tak mau kalah "Dulu Ati juga tidak kalah gilanya, tapi mau bertobat. Seharusnya kamu pun bisa bertobat" "Nanti setelah keluar dari sini, saya akan mengikuti jejak Koko" jawab Willy. "Bener nich? Kalau kamu nggak bertobat, malu-maluin Koko kamu yang jadi pelayan Tuhan" kata saya sekenanya. "Oh iya tho Mbak?! Memangnya Koko mau jadi pendeta ya? Saya juga nggak tahu tuh, kenapa Koko bisa berubah begitu?" Willy keheranan. "Yang aneh bukan Koko, tapi kamu yang keras kepala, nggak mau ndegerin kata-kata Koko kamu. Kamu harusnya sadar, sudah banyak pengorbanan Koko untuk kamu, mama dan adik-adik kamu. Besok kalau Koko kamu pergi sekolah lagi, seharusnya kamu yang mengambil alih tanggung jawab keluarga" saya menasehati. "Iya Mbak, saya janji kalau nanti sudah bebas, saya akan kerja baik-baik biar dapat uang. Makanya tolong bilang ke Koko untuk segera mengeluarkan saya dari sini" Willy memohon dengan wajah yang sudah mulai ramah. "Saya nggak janji lho, Ati orangnya pantang untuk menyuap atau memberi uang pelicin. Ati maunya Willy melalui proses hukum yang normal" jawa saya.
Ketika bel tanda jam besuk berakhir, saya pun begegas keluar. Sama seperti waktu masuk, untuk keluarpun saya harus melewati beberapa kerangkeng besi yang dilengkapi dengan gembok yang teramat besar. Sebelum saya meninggalkan gerbang paling depan, saya menengok ke kanan dan ke kiri untuk meyakinkan bahwa tidak ada teman atau kenalan yang melihat saya keluar dari hotel prodeo itu. Begitu yakin tidak ada seorang pun yang saya kenal di sekitar jalan Percetakan Negara itu, saya pun berusaha kabur secepat mungkin.
Di sepanjang perjalanan dari rutan Salemba hingga Bogor, telapak tangan kanan saya berusaha menutup punggung tangan kiri saya yang masih menyisakan stempel. Di bis, sesekali saya mengintip stempel di tangan saya seraya berkata "Inilah hadiah yang terindah buat seorang terpenjara". Hadiah terindah yang saya berikan memang bukanlah oleh-oleh materi yang kasat mata, tetapi kerelaan saya merendahkan diri, menyangkal keinginan daging dan kesanggupan melewati perjuangan yang panjang untuk bisa melawat dan "jongkok bersama" dengan orang terpenjara yang merupakan sampah di mata masyarakat umum.
Berikut ini adalah kesaksian dari salah seorang misionaris (pendeta dari Korea) yang melakukan pelayanannya di Afrika Selatan.
Ladang misiku adalah suatu wilayah di Naral, yang ada di bagian timur Afrika Selatan. Saat ini, aku bekerja di dua tempat yaitu di suatu daerah perkotaan bernama Kwamashu dan daerah pertanian bernama Ruganda.
Sehubungan dengan kebijaksanaan apartheid yang diberlakukan di Afrika Selatan, banyak daerah perkotaan -- terdiri atas kota- kota mono-ethnis yang didiami orang-orang "campuran" (keturunan dari pasangan yang berbeda ras), orang-orang Indian dan orang-orang berkulit hitam -- berkembang pesat di daerah-daerah pinggiran kota- kota, tempat di mana penduduk asli Afrika (keturunan Eropa) tinggal. Kota Kwamashu terkenal dengan tindak-tindak kekerasan yang terjadi hampir setiap hari sebelum dilangsungkannya pemilihan bersejarah di negara Afrika yang melibatkan setiap ras yang ada di negara tersebut, tepatnya pada tanggal 28 April 1994.
Menyadari resiko yang harus dihadapi karena situasi kekerasan yang ada di Kwamashu, beberapa peristiwa tertentu terus menguatkanku untuk meneruskan pelayanan misi di kota tersebut. Salah satu dari peristiwa-peristiwa tersebut terjadi ketika aku sedang melakukan penginjilan dari rumah ke rumah di sebuah desa di Kwamashu. Pada sebuah rumah yang aku kunjungi, aku menjumpai dua orang pria sedang minum bersama. Kami mulai berbincang-bincang dan aku memperkenalkan diri kepada mereka sebagai pendeta Korea. Nampaknya mereka tertarik dengan pembicaraan tentang gereja dan mereka mulai melontarkan banyak pertanyaan yang berkaitan dengan kekristenan. Untuk menanggapi rasa ingin tahu mereka, aku mulai mensharingkan Injil -- berita keselamatan yang diberikan kepada mereka melalui pengorbanan Yesus Kristus. Selain itu aku juga mensharingkan tentang pentingnya berpartisipasi dalam kehidupan bergereja untuk menguatkan dan menumbuhkan ke kedewasaan mereka dalam iman. Meskipun kedua pria tersebut dalam keadaan benar-benar mabuk, mereka mengundangku untuk datang lagi, sebagai ungkapan kerinduan mereka untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang Injil. Setelah menyelesaikan kunjungan di desa tersebut, aku kembali ke gereja untuk mengadakan PA bersama-sama anggota-anggota gereja lainnya. Begitu aku bersiap-siap hendak pulang setelah PA, salah satu dari dua orang pria peminum yang aku kunjungi tadi datang menghampiriku.
"Misionaris Kim," katanya memanggilku, "Apakah anda memiliki waktu luang malam ini?" "Saya ingin anda menceritakan lebih banyak lagi tentang Injil kepada saya dan tunangan saya," lanjutnya menjelaskan. Salah satu anggota gereja yang kebetulan ikut mendengarnya sangat terkejut. Demikian pula aku yang merasa ragu karena Kwamashu bukanlah kota yang aman. Namun demikian, aku terima juga undangan tersebut.
Matahari telah terbenam dan hembusan angin mengantarkan kami memasuki Wilayah "J" di kota Kwamashu -- wilayah yang paling berbahaya di kota Kwamashu. Setelah kami tiba di rumah pria pemabuk itu, dia mulai memperkenalkan anggota keluarganya yaitu ibu, adik, kakak, dan juga tunangannya. "Ini tunangan saya," katanya kepada saya, "Dulu ia biasa pergi ke gereja yang dipimpin oleh misionaris dari Barat. Bahkan waktu dia kecil, dia juga pernah mengikuti Sekolah Minggu. Tetapi sekarang ia tidak mau melakukannya lagi. Tolong sharingkan Injil kepadanya dan bantulah dia untuk memulai kehidupan kristennya lagi." Begitu mendengar permintaan tersebut, sebuah doa terucap dalam hatiku, "Oh Tuhan, Engkau sungguh Allah yang Mahakuasa." Aku benar-benar heran saat melihat bagaimana Allah membuat diriku memiliki keberanian untuk memasuki daerah berbahaya tersebut, sehingga seorang pemabuk dan tunangannya dapat mendengar berita Injil. Aku berdoa memuji Tuhan yang telah mengatur dunia dengan kuasa-Nya.
Sumber: Living Life, Volume 3, Number 12 Judul Artikel: The Drunkard´s Wish
Oleh: Sunanto Choa
Lima ciri dari orang yang hidup dalam segala kelimpahan :
Hidup dalam Allah berarti pergi ke suatu tempat menurut rancanganNya yang lebih besar daripada rancangan yang dapat kita minta, pikirkan atau bayangkan. Orang yang hidup dalam segala kelimpahan tidak lagi mengusahakan sesuatu dengan kekuatanNya sendiri melainkan ia akan sepenuhNya bergantung kepada Roh Kudus. Dalam ketergantungannya kepadaNya, ia telah mematikan pekerjaan-pekerjaannya sendiri; semua agenda, ambisi, kebutuhan dan keakuannya telah mati. Ia benar-benar dipimpin oleh Roh sehingga memikili kepekaaan dan kesabaran untuk melangkah bersama Tuhan. Ia mengetahui sebelum tiba di satu tempat maka Roh Kudus telah tiba di sana terlebih dahulu. Ia menjadi orang yang sukses di mata Tuhan karena ia menjadi orang yang tepat, pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat dan bersama orang yang tepat.
Masih banyak lagi ciri-ciri lain dari orang yang hidup dalam segala kelimpahan tetapi bila seseorang memiliki lima ciri di atas maka bisa dikatakan dia telah memperolehnya. Doa saya semoga kita semua berhasil memperoleh hidup dalam segala kelimpahan ini !
Oleh: Sunanto
Beberapa hari yang lalu, secara kebetulan saya membaca sebuah majalah kristen yang biasanya sangat jarang saya baca. Halaman demi halaman saya buka dan ternyata ada sebuah artikel yang membahas tentang Franky Sihombing, sang penyanyi rohani yang saya sukai lagu-lagunya.
Hati saya tersentak saat membaca isi artikel tersebut sebab di sana Franky menceritakan secara terang-terangan bahwa hidup kerohaniannya belakangan ini sempat mengalami kejatuhan/kemerosotan. Selama sekitar 8 bulan, ia sering pergi ke club pada malam hari untuk mendengarkan lagu dan baru pulang sampai pagi.
Franky mengakui waktu itu ia tidak lagi mengalami keintiman dengan Tuhan sehingga hatinya begitu kering. Tetapi ironisnya walaupun begitu ia tetap melayani dan membuat lagu rohani sehingga tidak ada seorangpun kecuali isterinya yang mengetahui bahwa sebenarnya kerohaniannya sedang mengalami kemunduran. Wow, sungguh saya sulit untuk mempercayainya bila tidak membaca sendiri kesaksian tersebut. Puji Tuhan sekarang ini, oleh anugerahNya Franky boleh mengalami pertobatan dan kembali memiliki kasih yang mula-mula. Saya bersyukur dan salut dengan keterbukaannya sebab dengan begitu bisa menjadi pelajaran bagi pelayan Tuhan yang lain. Saya percaya sebenarnya bukan hanya seorang Franky Sihombing yang mengalami hal ini. Saya percaya tidak sedikit pelayan Tuhan yang saat ini terlibat aktif dalam pelayanan tetapi hidup kerohaniannya kering kerontang. Mungkin salah satu orang tersebut adalah anda yang sedang membaca tulisan ini.
Pada hari yang sama juga, saya merasa tergerak untuk membaca sebuah buku yang berjudul "Matters Of The Heart' karangan Dr. Juanita Bynum. Sebenarnya saya sudah lama mengetahui keberadaan buku tersebut tetapi tidak pernah tertarik untuk membacanya. Saya percaya hari itu Roh Kudus yang menggerakkan saya untuk membaca buku tersebut sebab Ia ingin berbicara kepada saya melalui buku itu. Dalam pembukaan buku tersebut, Dr. Bynum menyaksikan bagaimana proses terciptanya buku tersebut yaitu ketika ia ditegur oleh Tuhan karena lebih mengutamakan pelayanan daripada hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidupnya bukan untuk menyenangkan hati Tuhan melainkan untuk menyenangkan manusia dan diri sendiri melalui pelayanan yang ia lakukan melalui mimbar, konferensi dan televisi. Dr. Bynum berkata " Hal yang menakutkan saya adalah bahwa saya sudah lama tidak mengetahui keadaan saya karena pekerjaan saya sangat hebat. Saya bertanya-tanya bagaimana saya dapat menolong orang-orang lain untuk menemukan jalan menuju Kristus sementara saya sendiri tersesat di gereja."
Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila pada hari yang sama saya membaca kesaksian Franky Sihombing dan Juanita Bynum. Ada sebuah pelajaran yang Tuhan sedang ajarkan kepada saya yaitu begitu banyak pelayan Tuhan yang aktif melayani namun sebenarnya mereka sedang tersesat melakukan sesuatu yang bukan kehendak Allah. Tuhan mengingatkan saya bahwa selama tujuh tahun pertama saya mengikuti dan melayani Tuhan juga melakukan kesalahan yang sama yaitu lebih mengutamakan pelayanan daripada melakukan kehendak Allah. Dalam salah satu bukunya Dr. J.I Packer berkata seseorang bisa diselamatkan dan mengalami kelahiran baru dengan bukti pertobatan yang nyata yaitu dilepaskan dari kebiasaan buruk seperti kecanduan alkohol/obat-obatan tetapi ia tetap bisa tidak mengenal kehendak Allah dalam hidupnya.
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan ! (Mat 7:21-23) " Banyak yang berpendapat bahwa orang yang dimaksud Yesus disini bukanlah orang percaya dan sudah lahir baru melainkan orang yang belum percaya. Tetapi bisakah orang yang belum percaya dapat mengusir setan demi nama Yesus sebab di kitab kisah para rasul ada anak-anak Skewa yang mencoba mengusir setan demi nama Yesus justru malah mereka diserang oleh roh jahat yang ingin mereka usir. Menurut saya Yesus menujukan ayat ini kepada para pelayan Tuhan yang sangat giat melayani tetapi tidak mengutamakan hubungan dengan Tuhan. Prioritas hidup mereka bukanlah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendak Allah tetapi melayani untuk memuaskan keakuan diri sendiri.
Saya menyadari bahwa tulisan ini keras dan mungkin banyak diantara anda tidak sependapat dengan apa yang saya utarakan. Namun saya harus mengatakan apa yang saya percaya Tuhan telah taruh di hati saya untuk disampaikan bagi umatNya. Tulisan ini bukan untuk menghakimi atau menakuti siapapun tetapi saya hanya ingin mengingatkan anda semua terutama yang aktif pelayanan untuk melakukan koreksi diri apakah pelayanan yang sedang anda kerjakan benar-benar merupakan kehendak Allah ? Apakah prioritas yang utama dalam hidupmu adalah untuk menyenangkan hati Tuhan dan melakukan kehendakNya ? Mungkin ada diantara anda yang sangat aktif melayani tetapi hidup kerohanianmu kering kerontang walaupun orang-orang disekeliling anda tidak mengetahuinya. Saya percaya bukan sebuah kebetulan bila anda membaca tulisan ini sebab Tuhan ingin memulihkan anda. Mintalah kepada Tuhan untuk menyucikan diri anda kembali dan ijinkan Dia memperbaharuhi hatimu. Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu (Yes 30:15).
Oleh: Herlianto
Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! (Matius 7:21-23)
Kelihatannya banyak orang yang berseru kepada Tuhan dan mengadakan banyak nubuatan, menyembuhkan bahkan melakukan mujizat ternyata bukan dari Tuhan bahkan ditolak Tuhan, kalau begitu apakah mujizat terutama kesembuhan Ilahi masih dilakukan Tuhan sekarang? Penulis juga sering mengalami kesembuhan ilahi secara pribadi maupun keluarga, atau mendoakan orang lain, baik mendatangkan kesembuhan instan, gradual, ataupun tidak sembuh, dan dari pengalaman itu ada dua pengalaman tentang pembuluh darah yang bisa kita renungkan.
Pada medio 1988, anak penulis mengalami demam tinggi dan muntah-muntah. Ketika dibawa ke dokter langsung dimasukkan rumah sakit dan dari scanning diketahui terjadi perdarahan otak. Setelah pemotretan angiography dideteksi bahwa penyebabnya adalah kelainan formasi pembuluh darah halus otak yang bocor sejak bayi dan biasanya baru diketahui setelah terjadi perdarahan (AVM = Arterio Venous Malformation). Setelah pengobatan konvensional diberitahukan bahwa pembuluh halus yang bocor itu bisa setiap waktu mangalami perdarahan lagi secara fatal bak bom waktu! Kelainan pembuluh otak harus dioperasi dan biayanya mahal dan itupun kala itu hanya bisa dilakukan di Amerika, Eropah atau Jepang. Saudara ipar di Amerika siap membantu bedah otak asal bisa kesana, saudara ipar bendahara Yabina yang neurolog di Nederland ingin mengusahakan disana, dan dokter bedah saraf otak Satyanegara mengusulkan di Kyoto, semuanya membutuhkan dana besar.
Menghadapi ini penulis mempertanyakan Tuhan mengapa penulis yang telah meninggalkan dunia sekular untuk melayani harus menyediakan dana begitu besar, yang tidak menjadi masalah kalau berpraktek arsitek? Dalam situasi demikian penulis sekeluarga berdoa dengan tekun mohon mujizat Tuhan. Heran pada malam Natal 1988 ada informasi di TVRI bahwa ada tehnik pengobatan baru yang tanpa operasi tapi dengan kateterisasi (dengan menyemprotkan zat penyumbat ke bocoran) yang kala itu belum dikenal di Indonesia, informasi mana segera diminta melalui TVRI dan dokter di Amerika Serikat yang ditayangkan TVRI. Mujizat lain terjadi karena kawan dokter tadi yang lebih senior dari Paris akan mendemonstrasikan penemuan baru itu di Singapura! Pada bulan Oktober 1989 pengobatan dijalankan dengan berhasil di General Hospital dan National University Hospital. Mujizat ini bukan usaha manusia tetapi anugerah Allah! Kesembuhan ini disaksikan di majalah Panasea (Maret 1990).
Enam mujizat dialami, yaitu:
Dari keseluruhan ini biaya yang dikeluarkan hanya sekitar 15% saja dari kalau dibedah otak secara konvensional. Sekalipun dokter menyuruh 6 bulan kembali ke Singapore untuk check-up, penulis tidak kesana karena yakin Tuhan sudah menyembuhkan secara total, dan saat ini sudah 17 tahun lewat dimana si anak yang kala itu masih di SMP bisa berhasil menyelesaikan S-1nya, bahkan sudah setahun ini mencoba bermukim dinegeri dingin tanpa biaya orang tua. Puji Tuhan!
Lain lagi pengalaman penulis. Di tahun 2002 sering dirasakan rasa sakit di dada yang makin kerap terjadi, bahkan ketika melayani di Semarang dirasakan tiga kali rasa sakit dalam waktu 2 hari! Sekembali ke Bandung langsung ke dokter dan di threadmill dan malam itu juga disuruh ke dokter di Jakarta, dan besoknya langsung di kateterisasi, terjadi penyempitan di beberapa tempat dan harus dibalonisasi (tidak di by-pass). Penulis berdoa mohon mujizat kesembuhan Tuhan tetapi Tuhan tidak memenuhi permintaan, itu berarti pembuluh darah jantung harus dibalonisasi. Sementara menunggu dokter yang dua minggu mengikuti seminar di mancanegara dengan istirahat yang cukup sambil doa tetap dipanjatkan dan 10 pelayanan dalam waktu tiga bulan kedepan terpaksa dibatalkan termasuk undangan ke Pematang Siantar, Medan, Serukam, Denpasar, dan Australia.
Mengapa Tuhan tidak menyembuhkan secara ajaib kasus pembuluh darah yang sama padahal anak penulis bisa mengalaminya dan malah 10 pelayanan harus dibatalkan? Rupanya Tuhan punya rencana lain dan mendidik penulis karena selama ini kurang menjaga kesehatan dan keenakan ditraktir jemaat sering makan makanan berlemak (kasus kolesterol mulai mencuat ketika pulang dari mengikuti Billy Graham School of Evangelism 1997 dan mampir ke LA dan dijamu dan menghabiskan satu piring besar kepiting). Sudah 30 tahun penulis melayani dengan non-stop dan belum pernah cuti dan baru kali ini bisa berdiam diri selama 3 bulan untuk mengevaluasikan pelayanan dan setelah dilakukan balonisasi bisa mempersiapkan beberapa buku baru dan pelayanan melalui internet dan sesudahnya dirasakan kesehatan yang jauh lebih prima dari sebelum balonisasi sehingga pelayanan meningkat! Di tahun 1995 penulis berjalan di The Great Wall dan hanya kuat berjalan di tembok miring itu sejauh 200 meter saja dan sekarang seminggu tiga kali bisa berjalan 4 Km di jalan miring pegunungan.
Penulispun beberapa kali diminta mendoakan orang-orang yang sakit parah dan dalam kondisi tidak tersembuhkan. Dalam situasi demikian penulis sering mendoakan mereka dan meminta Tuhan mendatangkan mujizat kesembuhan yang tuntas tetapi jikalau Tuhan berkenan hendaklah Tuhan memanggil si penderita karena penderitaan penderita dan keluarganya sudah tidak tertanggungkan. Mengherankan beberapa di antara mereka benar-benar dipanggil Tuhan dalam beberapa hari sesudah didoakan, padahal mereka sudah berstatus hidup tidak matipun tidak selama berbulan-bulan! (Ada penginjil penyembuh yang men sugesti jemaat agar tetap mendoakan dengan iman menuntut Tuhan menyembuhkan sambil menumpangi jenazah isterinya!)
Yesus tetap sama dari dahulu sampai sekarang, dan Yesus pun banyak menyembuhkan orang tetapi tidak semua disembuhkan dan tidak melakukan penyembuhan massal. Ia dikerumini banyak orang yang memegang jubahnya dan hanya seorang yang disembuhkan, Ia menyembuhkan 10 orang berpenyakit kusta dan hanya seorang yang memiliki hubungan iman dengan Dia, dan menurut Yesus, orang buta yang disembuhkan bukan buta karena dosa orang tua atau dosanya sendiri tetapi agar firman Tuhan dinyatakan!
Paulus juga melakukan pelayanan kesembuhan dan Timotius disembuhkan olehnya tetapi Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit, bahkan Paulus sendiri mengalami sakit tubuh (Gal.4:13) dan tiga kali meminta doa kesembuhan tetapi tidak disembuhkan dan dijawah Yesus: dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. (2Kor.12:7-10). Rasul Paulus justru merasakan ketidak sembuhannya sebagai kasih karunia Tuhan yang mengingatkannya agar meninggikan diri dan mengandalkan kekuatan diri sendiri!
Lalu bagaimana dengan praktek kesembuhan ilahi pada masa kini? Umumnya:
Banyak media sekuler sudah menyorot mal-praktek dikalangan penginjil penyembuh yang lebih banyak menghasilkan kesembuhan semu karena sugesti dan menolak adanya pemeriksaan medis atas mereka yang dianggap sembuh, KKR kesembuhan ilahi masakini lebih merupakan penyajian teatrikal dengan hipnose massa, jadi dapat dimaklumi kalau adanya kesembuhan-kesembuhan sugestif yang kemudian dirasakan beda kalau seseorang sudah keluar dari situasi ibadat massal yang memukau itu. Memang tidak bisa dibantah bahwa KKR demikian bisa mendatangkan kesembuhan, tetapi kesembuhan perdukunan bukankah termasuk yang disalahkan Tuhan Yesus pada ayat di atas? Tidak juga mustahil adanya orang yang benar-benar memiliki hubungan iman pribadi yang erat dengan Tuhan dan disembuhkan saat ia memohon dalam suasana KKR, dengan iman yang sama ia sebenarnya bisa disembuhkan kalau berada di gereja yang sepi. Kesaksian penulis diatas terjadi mula-mula dirumah dan penulis adalah anggota gereja yang tidak biasa dengan ibadat kesembuhan ilahi.
John Sung juga melakukan kesembuhan ilahi, tetapi berbeda dengan penginjil masakini, John Sung menekankan percaya kepada Yesus dan pertobatan sehingga membuat seorang yang beristeri muda bertobat dan kembali kepada isteri sahnya, dan pertobatan seorang konsul yang akhirnya membentuk sekolah Alkitab yang sekarang sudah menghasilkan ribuan hamba Tuhan. Ia mendoakan secara khusus orang-orang dengan sering meminta foto mereka untuk diingat dan ia tidak memperkaya diri karena keluarganya sering hidup dalam kekurangan, bahkan gelar doktornya dibuang dan tawaran sebagai direktur perusahaan mesiu ditolak demi menjadi berkat sebagai pelayan kerajaan Allah.
Lepas dari semua itu, gereja-gereja memang harus meminta kuasa Tuhan dalam penyembuhan sakit-penyakit di kalangan jemaat gereja, dan para pengi