Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereKesaksian / Berjuang dalam Pertandingan Iman

Berjuang dalam Pertandingan Iman


Oleh: Sendra Cornelia

Kini aku sudah tidak berhak lagi memilih jalan hidupku sendiri. Dalam tahun ini aku benar-benar diajar menyerahkan seluruh masa depanku kepadaMu, aku di tuntut untuk percaya penuh padaMu. Tapi kenapa aku selalu berjuang hanya untuk percaya. Apakah yang Engkau mau lebih baik dari yang aku mau? [block:views=similarterms-block_1]

Kadang aku sering berpikir "akulah yang tau diriku sendiri". Kenapa aku selalu curiga keinginanMu tidak pernah yang terbaik bagiku. Kenapa aku selalu curiga bahwa Engkau akan menghancurkan semua mimpi-mimpiku, kenapa aku selalu curiga Kau akan membuat perjuangan keluarga kami sia-sia, terkadang aku mencari alasan kenapa kecurigaan ini sangat besar terjadi? Karena aku melihat setiap jalan yang aku tempuh dan jalan yang Kamu rencanakan teramat sangat berbeda. Terkadang aku berpikir Kau tidak pernah kompak denganku, tidak pernah sejalan, tidak pernah satu ide, terkadang aku selalu berpikir kita berseberangan.

Aku berusaha dan berjuang untuk berdamai dan percaya padaMu, tapi Kau suruh aku melaui proses perendahan. Kau bawa aku sampai Palangkaraya untuk bekerja, sampai di kantor aku di suruh mengerjakan tugas gambar, aku sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Aku pulang dengan perasaan memalukan. Apa gunanya pengalaman kerjaku selama ini? Apa gunanya ijazah serjanaku? Bahkan aku sempat berpikir apa gunanya aku melaksanakan pekerjaan religius dengan seluruh yang terbaik dari padaku kalau hanya mengerjakan pekerjaan gambar saja aku tidak bisa. Aku hanya dilihat punya nilai tambah dalam pekerjaan relegius, sedangkan di mata dunia aku NOL BESAR, tidak bisa berbuat apa-apa. Aku ingat akhir tahun 2008 aku mendapat janji pekerjaan sebanyak 5 tempat, dengan petunjuk dalam mimpi Engkau sampai bawa aku ke Jogja, disitu satu persatu apa yang terjadi dalam mimpiku kau nyatakan. Semuanya memberi janji yang hanya selangkah lagi akan dinyatakan.

Masuk awal tahun 2009 di kelompok sel aku belajar tentang banyak hal, salah satunya adalah " menanggalkan kasut ". Di awal tahun 2009 juga, satu persatu tawaran pekerjaan hampir dijawab tapi tiba-tiba dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Saat itu aku masih bisa mengucap syukur karena masih ada cadangan yang lain,misalnya masih ada tawaran di Palangkaraya, Muara Teweh, Barabai. Setelah pekerjaan di Bandung dan Serang di tutup, tiba-tiba teman yang ada di Palangkaraya menelpon dan minta bergabung dan bahkan dia menjanjikan akan memberi tiket untuk pergi.

Dengan sebuah mujizat aku pergi ke Palangkaraya. Sampai di Palangkaraya pekerjaan pun tidak bisa aku dapati karena aku belum bisa gambar dan ahirnya aku terdampar di Palangkaraya tanpa mendapatkan apa-apa. Uang tiket tidak di ganti, uang kos pun tidak ada, uang makan terbatas. Intinya bahwa dari ke-5 janji itu satupun aku tidak dapat dan malah aku rugi. Dalam kondisi seperti ini apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa menangis dan menangis dan menangis lagi. Disela tangisanku aku selipkan sebuah kata " ucapan syukur " yang mungkin bunyinya tidak keras, hanya aku dan Dia.

27 Januari 2009 menjelang hari ulangtahunku Dia datang dan ingin mengajak aku berbicara, tetapi aku menolak, aku tidak mau berdamai dan membahas masalah itu. Aku cuek dan tidur sampai pagi. Tanggal 28 Januari di hari ultahku Dia datang lagi mengunjungi aku dan mengucapkan HaPpy BiRtHdAy. Dia mulai bicara :

Tuhan: Maukah kamu di hari ulang tahunmu, kamu tidak menerima apa-apa, tetapi kamu justru memberi. Mungkin di tahun kemarin kamu berada di tengah - tengah orang - orang yang mengasihimu, ada kue tart, ucapan selamat, hadiah, tapi sekarang sekali lagi Aku meminta, maukah kamu di tahun ini " memberi bukan menerima "

Sendra: Mau Tuhan. Lihatlah sekarang aku ada di dapanMu, dalam proses seperti ini bahkan aku tetap berdiri mencari Engkau dalam batinku, aku tidak bisa menjauh dari padaMu dan aku tidak mampu membenci Engkau karena memory yang pernah kita alami telalu dalam dan sangat berkesan. aku terlalu mencintaiMu melebihi dari logikaku.

Tuhan: Apakah kamu tau kenapa Aku membawa kamu jauh sampai ke tempat ini? karena Aku terlalu cemburu kepadamu. Aku terlalu mencintaimu, Aku hanya ingin menjadi nomor satu di hatimu. Aku terlalu mencintaimu karena ketaatanmu melampaui kekuatan manusia, kamu terlalu percaya hal yang supranatural. Aku membawamu ketempat ini karena Aku hanya ingin menikmati cintamu yang murni, Aku mau menikmati cintamu seorang diri. Terima kasih nak sudah memberi yang terbaik untukKu. Ucapanmu terbukti ketika kamu pernah katakan sekalipun kamu tidak mendapatkan apa-apa dari semua yang Aku janjikan, kamu tetap memiliki hati yang mau berjuang untuk tetap mengucap syukur, terima kasih atas ketaatanmu, terima kasih atas persembahan yang terbaik bagiKu.

Sendra: Tuhan, terima kasih atas pewahyuan ini. Aku mengucap syukur sampai aku berada di tempat ini semua karena rencanaMu, karena aku sangat sedih kalau apa yang aku alami ini adalah karena sebuah kesalahanku. Berarti selama ini aku tidak berjalan dalam kesalahan. Sekarang aku mau bangkit dan berlari lagi untuk menyelesaikan pertandingan ini, ulurkan tanganMu Tuhan, dan bawa aku berlari kembali.

Kita sudah masuk kedalam sebuah pertandingan iman, ingatlah ketika semua kita masuk untuk memulai petualangan seperti ini "ucapan syukur" adalah persembahan yang terharum di hadapan Tuhan, meskipun harus berlinang air mata, mengalami kesendirian, apapun yang terjadi kita harus berjuang untuk mengucap syukur (1 Korintus 10:13).

Ketika aku disini, aku benar-benar bergantung dengan Tuhan (Matius 6: 25-34). Hari ini ketika aku mengerti semua rencana Tuhan , semua berkat itu terbuka dan aku bisa melihat betapa besarNya Tuhan yang kita sembah. Tuhan belum selesai denganku. Terserah Dia akan membawa aku kemana lagi untuk diperlengkapi. Petualangan di tempat ini benar- benar memperlengkapi petualangan yang pernah aku alami bersama dengan Dia.

Selamat Berjuang dalam Pertandingan Iman
Gbu All

Tinggalkan Komentar