Integritas: Satunya Kata dengan Perbuatan

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 03 November 2013


Oleh: Samuel T. Gunawan, SE, M.Th

“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu,
dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12b)


PROLOG

Kata integritas berasal dari kata Latin “integer” yang mencakup aspek lahiriah, moral, etika, dan karakter yang mulia. Kata bahasa Inggris “integrity” yang berarti menyeluruh, lengkap atau segalanya. Kamus oxford menghubungkan arti integritas dengan kepribadian seseorang yaitu jujur dan utuh. Kamus Besar Bahasa Indonesia Phoenix mengartikan integritas sebagai “keutuhan, keterpaduan, kesatuan; ketulusan hati, kejujuran”. Ahmad Muda dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menyebut integritas sebagai “kejujuran; mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki kemampuan yang memancarkan kewibawaan”. Ada juga yang mengartikan integritas sebagai keunggulan moral dan menyamakan integritas sebagai “jati diri”. Integritas juga diartikan sebagai bertindak konsisten sesuai dengan nilai-nilai dan kode etik, atau dengan kata lain integritas diartikan sebagai “satunya kata dengan perbuatan”. Kennet Boa menyatakan bahwa integritas berarti “benar, lengkap dan utuh”. Seorang yang berintegritas senantiasa berusaha bertindak berdasarkan prinsip-prinsip kebenaran yang normatif. Seorang yang berintegritas adalah seorang yang memiliki keutuhan pribadi. Seorang yang beritegritas adalah seorang yang jujur dan bermoral teguh. Paul J. Meyer menyatakan bahwa “integritas itu nyata dan terjangkau dan mencakup sifat seperti: bertanggung jawab, jujur, menepati kata-kata, dan setia”.



Jika dirumuskan, integritas adalah karakter pribadi yang melekat pada seseorang. Itu adalah keutuhan, kelengkapan, kesempurnaan, kebulatan, kemurnian, kesegaran (budi), kesehatan, keurusan hati, sifat tidak mencari kepentingan sendiri, ketulusan (tak dapat disuap), kejujuran, kebaikan, kesalehen, sesucian, kemurnian, dan terpercaya”. Jadi, saat berbicara tentang integritas tidak pernah lepas dari kepribadian dan karakter seseorang, yaitu sifat-sifat seperti: dapat dipercaya, komitmen, tanggung jawab, kejujuran, kebenaran, kesetiaan dan lain sebagainya.

Konon, di Tiongkok kuno orang menginginkan rasa damai dari kelompok Barbar utara, itu sebabnya mereka membangun tembok besar. Tembok itu begitu tinggi sehingga mereka sangat yakin tidak seorang pun yang bisa memanjatnya dan sangat tebal sehingga tidak mungkin hancur walau pun didobrak. Sejak tembok itu dibangun dalam seratus tahun pertama, setidaknya Tiongkok telah diserang tiga kali oleh musuh-musuhnya, namun tidak ada satu pun yang berhasil masuk karena temboknya yang tinggi, tebal dan kuat. Suatu ketika, musuh menyuap penjaga pintu gerbang perbatasan itu. Apa yang terjadi kemudian? Musuh berhasil masuk. Orang Tiongkok berhasil membangun tembok batu yang kuat dan dapat diandalkan, tetapi gagal membangun integritas pada generasi berikutnya. Seandainya, penjaga pintu gerbang tembok itu memiliki integritas yang tinggi, ia tidak akan menerima uang suap itu yang tidak hanya menghancurkan dirinya tapi juga orang lain.

Betapa sering kita meremehkan dan memandang sebelah mata terhadap arti penting sebuah integritas. Padahal, walau pun ada pengorbanan dan harga yang harus dibayar demi sebuah integritas, akan lebih banyak risiko dan akibat fatal yang terjadi jika harus mengorbankan integritas. Bila kita tidak memperhatikan sikap dan tindakan, kenikmatan sesaat seringkali berujung pada akibat buruk yang berkepanjangan.

INTEGRITAS DALAM PERSPEKTIF ALKITAB

Kata Ibrani “tom” mengandung mengandung arti “sempurna, kehidupan yang tidak dapat dipersalahkan, hati nurani yang bersih, dan kemurnian”. Mereka yang mempunyai integritas dalam Perjanjian Lama biasanya dihubungkan denga kehidupan yang bergaul karib atau intim dengan TUHAN (Yahwe). Gambaran orang yang berintegritas adalah mereka yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, tidak berjalan dijalan orang berdosa, tidak bergaul dan bersekutu dengan pencemooh (Mazmur 1:1-2). Sebaliknya, mereka adalah orang yang takut akan Tuhan (Amsal 1:7). Mereka menyukai dan merenungkan firman Tuhan secara intensif, berjalan di jalan yang benar dan menjauhkan diri dari kejahatan (Mazmur 1:2,6). Makna Dasar kata integritas dalam Perjanjian Lama adalah “kesehatan karakter dan kepatuhan terhadap prinsip moral”. Mereka adalah orang yang memiliki ketulusan dan kejujuran (Kejadian 20:5). Dalam kitab Amsal, integritas dipandang sebagai karakteristik yang pentig dari kehidupan yang tulus. Tuhan akan melindungi orang-orang yang berjalan dalam integritas (Amsal 2:7), dan keamanan mereka terjamin (2:21; 10:9; 20:7; 28:18). Mereka yang beritegritas akan dituntun (Amsal 11:3), dan memiliki integritas lebih baik daripaa kekayaan (Amsal 19:1; 28:6).

Jadi dalam Perjanjian Lama, integritas merupakan cermin karakter seseorang. Karakter terbentuk dari dan akibat pergaulan seseorang dengan Tuhan, yang mengakibatkan sifat-sifat moral Allah dimiliki orang tersebut.Implikasi etisnya adalah ia berusaha hidup benar dalam relasi dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan tempat ia hidup.

Salah satu isi khotbah Tuhan Yesus di atas bukit adalah “berbahagialah orang yang suci hatinya” (Matius 5:8), hal itu secara langsung menytakan, “dengan sepenuh hati mengikuti perintah-perintah Tuhan”. Integritas tidak hanya berimplikasi tidak terbagi atau utuh tetapi lebih mengandung arti suatu kemurnian moral. Penekanan Perjanjian Baru dalam hal integritas adalah kita harus memiliki level kearifan atau kecerdikan dari kehendak Allah dalam kehidupan kita. Tentu saja yang dituntut adalah sikap dari orang-orang yang berintegritas untuk menjadi murid yang selalu belajar firman Tuhan. Kitab Yakobus memperingatkan kita supaya menjadi “pelaku firman”, dan tidak hanya pendengar saja (Yakobus 1:22).

Dalam persepketif Alkitab, kehidupan yang berintegritas bersumber dari kedewasaan rohani dan psikologis. Integritas moral dirasakan sebagai buah Roh yang menyucikan melalui anugerah Allah (Galatia 5:22-23). Kehidupan yang berintegritas adalah adalah kehidupan dalam segala aspeknya yang memiliki beragam variasi yang terjalin secara harmonis. Integritas juga menyatakan kehidupan yang memiliki kesatuan (unity). Untuh dan segalanya menjadi kesatuan. Dengan demikian dapat dikatakan seorang yang memiliki moral integratif adalah mereka yang menghidupi hidup ini dengan segala imensinya (yang imanen dan transenden) secara utuh. Mereka bukanlah orang-orang yang memiliki kepribadian yang retak (Bandingkan Kisah Para Rasul 6:3-5; 1 Timotius 3:2-13; Titus 1:6-9).

MAKNA SEBUAH INTEGRITAS

Suatu penelitian menyatakan bahwa perbedaan antara negara berkembang (miskin) dan negara maju (kaya) tidak tergantung pada usia negara itu. Contohnya negara India dan Mesir, yang usianya lebih dari 2000 tahun, tetapi mereka tetap terbelakang (miskin). Di sisi lain Negara seperti Singapura, Kanada, Australia dan New Zealand, negara yang umurnya kurang dari 150 tahun dalam membangun, saat ini mereka adalah bagian dari negara maju di dunia, dan penduduknya tidak lagi miskin.

Ketersediaan sumber daya alam dari suatu negara juga tidak menjamin negara itu menjadi kaya atau miskin Jepang mempunyai area yang sangat terbatas, dimana daratannya delapan puluh persen berupa pegunungan dan tidak cukup untuk meningkatkan pertanian dan peternakan Tetapi, saat ini Jepang menjadi raksasa ekonomi nomor dua di dunia. Jepang laksana suatu negara “industri terapung” yang besar sekali, mengimpor bahan baku dari semua negara di dunia dan mengekspor barang jadinya. Swiss tidak mempunyai perkebunan coklat tetapi sebagai segara pembuat coklat terbaik di dunia. Negara Swiss sangat kecil, hanya sebelas persen daratannya yang bisa ditanami. Swiss juga mengolah susu dengan kualitas terbaik. (Nestle adalah salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia). Bank-bank di Swiss juga saat ini menjadi bank yang sangat disukai di dunia.

Para eksekutif dari negara maju yang berkomunikasi dengan temannya dari negara terbelakang akan sependapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal kecerdasan. Para imigran yang dinyatakan pemalas di negara asalnya ternyata menjadi sumber daya yang sangat produktif di negara-negara maju dan kaya di Eropa. Ras atau warna kulit juga bukan faktor penting.

Lalu, apa perbedaannya? Ternyata, perbedaannya adalah pada sikap atau perilaku masyarakatnya, yang telah dibentuk sepanjang tahun melalui kebudayaan dan pendidikan. Berdasarkan analisis atas perilaku masyarakat di negara maju, ternyata bahwa mayoritas penduduknya sehari-harinya mengikuti dan mematuhi prinsip-prinsip dasar kehidupan yang salah satu dari prinsip dasar itu adalah integritas diri.

Apakah makna integritas bagi kita? Pertama, integritas berarti komitmen dan loyalitas. Apakah komitmen itu? komitmen adalah suatu janji pada diri sendiri ataupun orang lain yang tercermin dalam tindakan-tindakan seseorang. Seseorang yang berkomitmen adalah mereka yang dapat menepati sebuah janji dan mempertahankan janji itu sampai akhir, walau pun harus berkorban. Banyak orang gagal dalam komitmen. Faktor pemicu mulai dari keyakinan yang goyah, gaya hidup yang tidak benar, pengaruh lingkungan, hingga ketidakmampuan mengatasi berbagai persoalan kehidupan. Gagal dalam komitmen menujukkan lemahnya integritas diri

Kedua, integritas berarti tanggung jawab. Tanggung jawab adalah tanda dari kedewasaan pribadi. Orang yang berani mengambil tanggung jawab adalah mereka yang bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan, dan melakukan kewajiban dengan kemampuan yang terbaik. Peluang menuju sukses terbuka bagi mereka. Sementara itu, orang yang melarikan diri dari tanggung jawab merasa seperti sedang melepaskan diri dari sebuah beban (padahal tidak demikian). Semakin kita lari dari tanggung jawab, semakin kita kehilangan tujuan dan makna hidup. Kita akan semakin merosot, merasa tidak berarti dan akhirnya menjadi pecundang (penghasut).

Ketiga, integritas berarti dapat dipercaya, jujur dan setia. Kehidupan kita akan menjadi dipercaya, apabila perkataan kita sejalan dengan perbuatan kita; tentunya dalam hal ini yang kita pandang baik atau positif. Sebuah pribahasa mengatakan “Kemarau setahun akan dihancurkan oleh hujan sehari”, yang artinya segala kebaikan kita akan runtuh dengan satu kali saja kita berbuat jahat.

Keempat, integritas berarti konsisten. Konsisten berarti tetap pada pendirian. Orang yang konsiten adalah orang yang tegas pada keputusan dan pendiriannya tidak goyah. Konsisten bukan berarti sikap yang keras atau kaku. Orang yang konsisten dalam keputusan dan tindakan adalah orang yang memilih sikap untuk melakukan apa yang benar dengan tidak bimbang, karena keputusan yang diambil beradasarkan fakta yang akurat, tujuan yang jelas, dan pertimbangan yang bijak. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk sebuah konsistensi dimulai dari penguasaan diri dan sikap disiplin.

Kelima, berintegritas berarti menguasai dan mendisiplin diri. Banyak orang keliru menggambarkan sikap disiplin sehingga menyamakan disiplin dengan bekerja keras tanpa istirahat. Padahal sikap disiplin berarti melakukan yang seharusnya dilakukan, bukan sekedar hal yang ingin dilakukan. Disiplin mencerminkan sikap pengendalian diri, suatu sikap hidup yang teratur dan seimbang.

Keenam, berintegritas berarti berkualitas. Kualitas hidup seseorang itu sangat penting. Kualitas menentukan kuantitas. Bila kita berkualitas maka hidup kita tidak akan diremehkan. Kitab Suci menuliskan dengan gamblang tentang kehidupan para tokoh Alkitab, ada yang gagal ada yang berhasil. Integritas hidup berkualitas adalah kehidupan yang membiarkan orang luar menilai diri kita. Pada saat menyenangkan ataupun pada saat tidak menyenangkan.

NABI SAMUEL : TELADAN SEORANG YANG BERITEGRITAS

Setelah mengadakan survey atas ribuan orang di seluruh dunia dan melakukan lebih dari empat ratus studi kasus tertulis, James Kouzes dan Barry Posner menemukan ciri-ciri yang paling diinginkan orang dari seorang pemimpin. Dalam hapir setiap survey, kejujuran atau integritas paling sering disebut daripada sifat-sifat lainnya. Hal ini masuk akal karena orang ingin mengikuti seseorang yang mereka yakin dapat dipercaya, menepati janji, dan berpegang pada komitmennya.

Memperhatikan hasil riset di atas, tidak mengherankan ratusan tahun yang silam umat Israel memberikan penghormatan yang tinggi kepada Samuel, seorang nabi, imam, dan pemimpin legendaris pada masa itu. Saat pidato perpisahan yang diabadikan dalam 1 Samuel 12:1-25, setelah memimpin Israel selama puluhan tahun, Samuel berjanji akan membayar kembali apapun yang diambilnya secara tidak adil dari siapapun. Suatu janji yang luar biasa! Yang lebih mengesankan adalah tanggapan umat Israel: tidak ada seorangpun yang bangkit untuk menuntut sesuatu dari sang nabi yang berintegritas ini. Perhatikanlah pernyataan Alkitab ini, “Berkatalah Samuel kepada seluruh orang Israel: ‘Telah kudengarkan segala permintaanmu yang kamu sampaikan kepadaku, dan seorang raja telah kuangkat atasmu. Maka sekarang raja itulah yang menjadi pemimpinmu; tetapi aku ini telah menjadi tua dan beruban, dan bukankah anak-anakku laki-laki ada di antara kamu? Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak mudaku sampai hari ini. Di sini aku berdiri. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan TUHAN dan di hadapan orang yang diurapi-Nya: Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu’. Jawab mereka: ‘Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memperlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun’. Lalu berkatalah ia kepada mereka: ‘TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nya pun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku’. Jawab mereka: ‘Dia menjadi saksi.’ Lalu berkatalah Samuel kepada bangsa itu: ‘TUHANlah saksi, yang mengangkat Musa dan Harun dan yang menuntun nenek moyangmu keluar dari tanah Mesir. Maka sebab itu, berdirilah supaya aku bersama-sama dengan kamu berhakim di hadapan TUHAN mengenai segala perbuatan keselamatan TUHAN yang telah dikerjakan-Nya kepadamu dan kepada nenek moyangmu” (1 Samuel 12:1-7).

Kejujuran dan integritas pribadi Samuel meresap dalam seluruh bidang kehidupannya. Kedua ciri ini menjadi penuntun, bagaimana ia memandang milik pribadinya, urusan bisnisnya, serta perlakuannya kepada mereka yang lebih lemah daripada dirinya sendiri. Samuel menganggap dirinya bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya. Ia membuka diri untuk diperiksa dengan cermat oleh setiap orang yang pernah berhubungan dengan dia. Akibat dari kebiasaan itu, kepemimpinan Samuel menjadi legenda yang diceritakan berulang-ulang selama berabad-abad. Ia merupakan salah seorang teladan integritas terbesar dalam Alkitab. Ia menjukkan integritas bukan dengan tujuan supaya dikagumi. Ia jujur karena tujuannya bukan supaya dikenal sebagai orang yang jujur. Ia bertindak adil dan benar karena ia tidak berpikir untuk mengembangkan reputasinya sebagai seseorang yang jujur dan adil. Ia tidak hidup untuk membangun reputasi. Ia hidup untuk Allah. Ia memikirkan kehormatan bagi Allah dan melayani umat Allah. Bagi Samuel, kepemimpinannya adalah penatalayanan kepercayaan dari Allah, dan melaksanakan kepercayaan tersebut dengan penuh tanggung jawab merupakan suatu kehormatan.

Teladan yang Samuel perlihatkan, mengajak kita untuk memakai standar integritas yang sama. Apapun tanggung jawab kita, apakah itu suatu bisnis berharga miliaran rupiah atau usaha yang kecil, pelayanan yang besar atau yang kecil, jabatan dalam organisasi atau pun sebagai staf biasa, bahkan tugas-tugas dalam rumah tangga dan keluarga, kelola itu dengan penuh tanggung jawab dan jujur. Biarlah komitmen kita untuk menjadi pribadi yang berintegritas tampak pada apa yang kita lakukan setiap hari. Hal ini bukan berarti bahwa kita ingin sempurna. Karena ternyata Perjanjian Baru tidak mengajak orang-orang untuk menjadi orang yang sempurna, dalam pengertian perfeksionisme, tetapi memanggil mereka untuk menjadi teladan yang bertumbuh dalam iman (Efesus 4:13-15).

EPILOG

Di dalam bukunya You and Your Family, Dr. Tim La Haye memberikan diagram silsilah dua orang yang hidup pada abad 18. Yang pertama adalah Max Jukes, seorang penyelundup alkohol yang tidak bermoral. Yang kedua adalah Dr. Jonathan Edwards, seorang pendeta yang saleh dan pengkhotbah kebangunan rohani. Jonathan Edwards ini menikah dengan seorang wanita yang mempunyai iman dan filsafat hidup yang baik. Melalui silsilah kedua orang ini ditemukan bahwa dari Max Jukes terdapat 1.026 keturunan : 300 orang mati muda, 100 orang dipenjara, 190 orang pelacur, 100 orang peminum berat. Dari Dr. Edwards terdapat 729 keturunan : 300 orang pengkhotbah, 65 orang profesor di universitas, 13 orang penulis, 3 orang pejabat pemerintah, dan 1 orang wakil presiden Amerika. Dari diagram tersebut kita bisa melihat bahwa kebiasaan, keputusan dan nilai-nilai dari generasi terdahulu sangat mempengaruhi kehidupan generasi berikutnya.

Keteladan adalah syarat paling penting bagi Paulus sebagai pemimpin Kristen terkemuka pada masa itu (1 Korintus 4:16; Filipi 3:17). Paulus menyadari bahwa tidak ada seorang pun yang menaruh hormat kepada orang yang membicarakan permainan yang baik tetapi tidak mengikuti aturan-aturan mainnya (bandingkan 2 Timotius 2:5). Bagi orang-orang yang dipimpin, segala sesuatu yang diperbuat pemimpin akan berdampak lebih besar daripada yang diucapkannya. Rasul Paulus menasehati Titus demikian, “dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan tentang kita” (Titus 2:7-8).

Orang dapat melupakan sembilan puluh persen yang dikatakan pemimpin, tetapi ia tidak akan pernah melupakan bagaimana kehidupan si pemimpin itu. Karena itu, sekitar tahun 65 M silam, Rasul Paulus menasehati pemimpin muda Timotius agar menjadi teladan “dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu” (1 Timotius 4:12b). Kata “teladan” ini dalam bahasa Yunani adalah “tufos” yang berarti “model, gambar, ideal, atau pola”. Menurut pengertian ini orang Kristen harus menjadi teladan dalam perkataan dan tindakan. Menjadi teladan dalam perkataan dan perbuatan inilah yang sekarang ini kita sebut sebagai “integritas”, karena pada dasarnya integritas adalah “satunya kata dengan perbuatan”. Amin.

REFERENSI

Achenbach, Reinhard., 2012. Kamus Ibrani-Indonesia Perjanjian Lama. Terjemahan, Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih: Jakarta.
Bangun, Yosafat., 2013. Integritas Pemimpin Pastoral: Menjadi Pemimpin Yang Memadukan Kata-Perbuatan, Iman-Ilmu, Teori-Praktik, Jabatan-Integritas. Penerbit Andi: Yogyakarta.
Boa, Kenneth, Sid Buzzell & Bill Perkins., 2013. Handbook To Leadership. Terjemahan, Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih: Jakarta.
Chamblin, J. Knox., 2006. Paul and The Self: Apostolic Teaching For Personal Wholeness. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Conner, Kevin J., 2004. A Practical Guide To Christian Belief. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Douglas, J.D., ed, 1996. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, Jilid I dan II. Terj, Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta.
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Erickson J. Millard., 2003. Teologi Kristen. 3 Jilid. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Ezra, Yakoep., 2006. Succes Througgh Character. Penerbit Andi : Yogyakarta.
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.
Meyer, Paul. J., 2007. 24 Kunci Sukses. Terjemahan, Penerbit Andi: Yogyakarta.
Ryrie, Charles C., 1991. Teologi Dasar. Jilid 1 & 2, Terjemahan, Penerbit ANDI Offset : Yogyakarta.
Stamps, Donald. C, ed., 1994. Full Life Bible Studi. Penerbit Gandum Mas : Malang.
Stassen, Glen & David Gushee., 2008. Etika Kerajaan: Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini. Terjemahan, penerbit Momentum : Jakarta.
Susanto, Hasan., 2003. Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, penerbit Literatur SAAT : Malang.
Tomatala, Yakob., 1998. Manusia Sukses: Manajemen Sumber Daya Manusia Mengatasi Tantangan Menjadi Pemimpin Yang Berhasil. Penerbit YT Leadership Foundation: Jakarta.
Warren, Rick., 2013. Untuk Apa Aku Ada Di Dunia Ini? Terjemahan, Penerbit Immanuel : Jakarta.
Wofford, J.C, 2001., Kepemimpinan Kristen Yang Mengubahkan. Terjemahan, penerbit ANDI: Yokyakarta.



Profil : Samuel T. Gunawan, SE, M.Th adalah pendeta dan teolog Protestan Kharismatik, Gembala di GBAP El Shaddai Palangka Raya; Mengajar Filsafat dan Apologetika Kharismatik di STT AIMI, Solo.
Artikel-artikelnya dapat ditemukan di : (1) Google dengan mengklik nama Samuel T. Gunawan; (2) Website/ Situs : e-Artikel Kristen Indonesia; (3) Facebook : Samuel T. Gunawan (samuelstg09@yahoo.co.id.).