Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereKeluarga yang Beribadah Kepada Tuhan

Keluarga yang Beribadah Kepada Tuhan


Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan,M.Th

Khotbah Ibadah Raya GBAP El Shaddai Palangka Raya
Minggu, 14 April 2013

“Sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:14-15)

PENDAHULUAN

Kata ibadah kepada TUHAN disini saya terjemahkan sebagai “melayani, berbakti, dan mengabdi kepada Tuhan”. Ibadah dalam konsep Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru mempunyai arti “pelayanan”. Kata Ibrani untuk ibadah adalah “avoda” sedangkan kata Yunani yang dipakai adalah “latreia”. Kata “avoda” dan “latreia” pada mulanya menyatakan pekerjaan budak atau hamba upahan. Dan dalam rangka mempersembahkan “ibadat” ini kepada Allah, maka para hamba-Nya harus meniarap (Ibrani “hisytakhawa”, atau Yunani “proskuneo”) dan dengan demikian mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh puja.

Konteks Yosua pasal 24 ini adalah pidato perpisahan Yosua kepada orang Israel sebelum ia purna tugas sebagai pemimpin Israel. Yosua memberikan nasihat-nasihat dan peringatan kepada orang Israel agar setia kepada Tuhan, tidak berpaling kepada berhala atau ilah lainnya. Nasihat-nasihat ini penting mengingat orang Israel yang telah berhasil memasuki tanah Kanaan pernah melupakan Tuhan yang telah memberi keberhasilan kepada mereka. Dalam prakteknya, Israel terjatuh dalam godaan untuk menyembah kepada “allah orang Mesir” yang pernah disembah menek moyang mereka atau kepada “allah orang Amori” yang disembah oleh masyarakat lokal. Dalam persimpangan iman itulah Yosua mengingatkan mereka untuk kembali beribadah kepada TUHAN.

Yosua juga memberikan tantangan agar orang Israel mengambil keputusan tegas (komitmen) untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Ini bukan sekedar tantangan kepada orang Israel, tetapi juga kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Yosua memberi teladan dan memutuskan bahwa ia dan seisi rumahnya telah membuat keputusan untuk tetap setia beribadah kepada Tuhan Allah Israel. Itu berarti istri, anak-anaknya, bahkan semua kaum keluarganya beribadah hanya kepada Tuhan.

EMPAT POINT PENTING DALAM IBADAH

Berdasarkan dua ayat dalam Yosua 24:14,15, saya akan membagi empat hal kebenaran penting tentang ibadah bagi orang percaya, khususnya arti pentingnya bagi keluarga Kristen saat ini.

Pertama, Ibadah Harus Didasarkan Pada Takut Akan Allah.

Kebenarannya: Orang yang beribadah belum tentu takut akan Tuhan, tetapi orang yang takut akan Tuhan pasti beribadah, bagaimanapun situasi dan kondisinya. Contoh : Daniel, sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah orang yang takut akan Tuhan dan tetap ibadah kepada Tuhan walaupun bahaya menanti dan rintangan menghadang mereka.

Takut akan Tuhan ini selalu ditempatkan pada urutan pertama dalam Alkitab. Sebetulnya, ada lebih dari 300 contoh penggunaan kata takut akan Tuhan ini dalam Alkitab. Berikut ini dua diantaranya : 1 Samuel 12:14; Mazmur 34:10. Takut akan Tuhan ini berasal dari kata Ibrani Yira dan Pakhat; serta kata Yunani fabos mengandung pengertian yaitu : hormat, gentar, kagum pada Allah, dan kasih yang dalam pada Allah yang membawa pada ketaatan dan pengabdian kepadaNya. Dalam Mazmur pasal 112 dan 128 kita menemukan kata ”berbahagialah” yang dalam bahasa asli Alkitab dan bahasa Inggris adalah ”diberkatilah”. Di dalam kedua pasal tersebut ada berkat yang luar biasa bagi seorang yang takut akan Tuhan, dan berkat itu akan diwariskan juga kepada anak dan cucu mereka.    

Di dalam bukunya You and Your Family, Dr. Tim La Haye memberikan diagram silsilah dua orang yang hidup pada abad 18. Yang pertama adalah Max Jukes, seorang penyelundup alkohol yang tidak bermoral. Yang kedua adalah Dr. Jonathan Edwards, seorang penginjil yang saleh dan pengkhotbah kebangunan rohani. Jonathan Edwards ini menikah dengan seorang wanita yang mempunyai iman dan filsafat hidup yang baik. Melalui silsilah kedua orang ini ditemukan bahwa dari Max Jukes terdapat 1.026 keturunan : 300 orang mati muda, 100 orang dipenjara, 190 orang pelacur, 100 orang peminum berat. Dari Dr. Edwards terdapat 729 keturunan : 300 orang pengkhotbah, 65 orang profesor di universitas, 13 orang penulis, 3 orang pejabat pemerintah, dan 1 orang wakil presiden Amerika. Dari diagram tersebut kita bisa melihat bahwa kebiasaan, keputusan dan nilai-nilai dari orang tua di atas kita sangat mempengaruhi kehidupan kita. Demikian juga dengan apa yang kita berikan kepada anak-anak kita bukan saja mempengaruhi mereka tetapi juga mempengaruhi generasi dibawah kita selanjutnya.

Kedua, Ibadah Kepada Allah Harus Berasal Dari Hati Yang Tulus Iklas.

Kata tulus iklas dapat diartikan sebagai: rela, sungguh-sungguh, dan penuh penyerahan. Ketulusan kita berbakti kepada Tuhan terlihat dari sikap dan tindakan-tindakan kita. Contoh : Ketika saya meminta putra saya mengambilkan secangkir air minum atau mengambil sesuatu untuk saya, maka saya akan tahu dengan segera apakah ia melakukannya dengan tulus atau tidak, reaksinya terlihat atau tergambar dari raut mukanya dan tindakannya.

Ketiga, Ibadah Kepada Allah Harus Dilakukan Dengan Setia.

Saya mengartikan ibadah dengan setia ini dalam tiga pengertian, yaitu : Ibadah dengan komitmen, ibadah dengan tekun atau terus menerus, dan ibadah yang menjadi gaya hidup kita. Kesetiaan diawali dari sebuah komitmen (keputusan) yang kuat. Komitmen adalah sebuah penyerahan yang total. Komitmen yang setengah-setengah tidak dapat disebut komitmen. (contoh raja Saul). Komitmen dimulai dari sikap hati. Selanjutnya komitmen itu harus dilakukan, sebab sebuah komitmen tidak dapat disebut komitmen jika tidak dilakukan. Dan ibadah ini akhirnya harus menjadi gaya hidup yang dilaksanakan tanpa paksaan tetapi dengan sukacita dan karena kasih kepada Tuhan.

Keempat, Peranan Seorang Ayah (Pria) Untuk Membawa Seluruh Keluarga Beribadah Kepada Tuhan Tidak Dapat Ditawar-Tawar.

Inilah yang dilakukan Yosua terhadap keluarganya. Ia mendemonstrasikan peran ini. Peranan orang tua terutama, seorang ayah (pria) untuk membawa seluruh keluarga beribadah kepada Tuhan berlaku dalam Perjanjian Lama dan tidak dibatalkan dalam Perjanjian Baru. Dari sekian banyak peranan ayah dalam Alkitab, saya membagikan dua hal kepada kita, yaitu : (1) Peranan ayah sebagai kepala rumah tangga, (Efesus 5:22-29). Yaitu: Pemimpin keluarga dan pengambil keputusan; Pengayom bagi semua anggota keluarga; Pelindung yang melindungi dan bertanggung jawab; Mendidik, menegor dan menasihati (Efesus 6:4); Memberi contoh dan teladan yang baik bagi keluarga. Ada yang mengatakan “anak adalah blue print dari orang tua”. (2) Peranan ayah sebagai imam, yaitu: Sebagai imam Ia harus memimpin dan mengatur ibadah dalam keluarga; Berdoa setiap waktu kepada Allah bagi seluruh anggota keluarganya dan juga bagi dirinya sendiri.

IBADAH KELUARGA

Perhatikan ketegasan Yosua dalam kalimat terakhir di ayat 15, ia berkata “ Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 24:14-15). Pernyataan tersebut diucapkan Yosua didepan seluruh orang Israel, sebagai tekad dan kemantapan imannya yang tidak bisa ditawar-tawar. Yosua, sebagai seorang kepala keluarga mengetahui dengan jelas tanggung jawabnya untuk memimpin seisi keluarganya untuk setia beribadah kepada Tuhan yang hidup, yang sudah menyelamatkan, memelihara, dan memberkati hidupnya.

Ketegasan dan komitmen Yosua seharusnya menjadi teladan bagi orang tua Kristen, khusus setiap kepala keluarga untuk memimpin seisi keluarganya mengenal Kristus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Hal ini penting sebab keselamatan dan kehidupan kekal hanya ada dalam Kristus. Selain itu, kepala keluarga juga perlu atas semua kebutuhan seluruh isi keluarganya termasuk kebutuhan rohani. Ia perlu memimpin seisi keluarganya bertumbuh dewasa dalam iman, kebenaran, kasih, dan pelayanan yang setia. Salah satu cara untuk mencapai pertumbuhan dan kedewasaan rohani adalah melalui ibadah keluarga yang disebut dengan istilah “mezbah keluarga” atau “family altar”.

Istilah ibadah keluarga yang disebut dengan “mezbah keluarga” hendaknya tidak disamakan dengan istilah ibadah keluarga dalam pengertian “kebaktian keluarga”. Ibadah keluarga dalam pengertian kebaktian keluarga adalah ibadah yang dilakukan di dalam keluarga oleh gereja (jemaat) tertentu kepada keluarga Kristen. Secara teknis, pelaksanaan kebaktian keluarga diatur oleh gereja (jemaat) secara bergilir di rumah keluarga Kristen, khususnya anggota jemaat. Sedangkan yang dimaksud dengan mezbah keluarga adalah ibadah khusus secara rutin yang yang dilaksanakan oleh suatu keluarga dengan melibatkan semua anggota keluarga. Secara teknis, mezbah keluarga diatur oleh kepala keluarga. Melalui mezbah keluarga, sebuah keluarga menyediakan waktu khusus secara rutin untuk bersama dalam keluarga dengan membaca Alkitab, renungan singkat, memuji Tuhan, berdoa, dan belajar membangun relasi yang akrab secara vertikal dan horizontal.

Dalam memulai suatu mezbah keluarga, berikut ini beberapa petunjuk yang disarankan untuk dilaksanakan, yaitu: (1) Sediakan waktu khusus setiap hari dimana semua anggota keluarga dapat berkumpul bersama. Idealnya di pagi atau malam hari. (2) Sebaiknya menggunakan waktu yang tidak terlalu lama disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dianjurkan mulailah dengan waktu 10 – 15 menit. (3) Gunakan buku renungan harian dalam setahun sebagai penuntun. Gunakan lebih dari satu buku renungan sehingga bisa diselang-seling sesuai kebutuhan. (4) Membaca Alkitab sebaiknya bergantian setiap harinya sehingga semua anggota keluarga terlibat; sedangkan renungan bisa dibacakan oleh ayah atau ibu atau yang ditunjuk oleh ayah. (5) Untuk doa bersama, boleh dipimpin oleh ayah, ibu, atau bergiliran. Porlu ada pokok-pokok doa yang tetap, tetapi juga perlu mendoakan pokok-pokok doa yang khusus diusulkan oleh anggota keluarga untuk didoakan. Perlu juga mencatat daftar pokok doa untuk mengetahui bila yang didoakan sudah terlaksana atau terjawab. (6) Yang memimpin mezbah keluarga adalah ayah, dan diganti oleh ibu bila ayah tidak ada. Karena itu, ayah atau ibu perlu bertanya kepada anak-anak atau anggota keluarga lainnya jika ada sesuatu yang tidak dimengerti. Jika mengalami kesulitan, dapat bertanya kepada pendeta atau gembala, atau hamba Tuhan yang dapat memberi penjelasan dan bimbingan.

Waktu untuk mezbah keluarga sangat penting dan indah. Karena pada saat itu semua anggota keluarga berkumpul bersama. Hal ini merupakan sarana untuk membangun iman, kerohanian, pengetahuan dan pengenalan akan Tuhan dan firmanNya, mengembangkan kasih dan komunikasi dengan Tuhan dan sesama anggota keluarga. Karena Tuhan dan keluarga kita penting, mengapa kita tidak memulai mezbah keluarga didalam keluarga kita segera mungkin? Jadi, bertekad dan komitmenlah seperti Yosus yang berkata, “Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” (Yosua 2415b).

PENUTUP
   
Tidak sedikit orang tua yang merasa malu memulai ibadah keluarga bersama anaknya. Rasa malu ini dapat menjadi penghalang bagi berkat Allah untuk keluarganya. Padahal, Tuhan memberi perintah dalam Mazmur 78:5, “Telah ditetapkan-Nya peringatan di Yakub dan hukum Taurat diberi-Nya di Israel; nenek moyang kita diperintahkan-Nya untuk memperkenalkannya kepada anak-anak mereka”. Tuhan memerintahkan agar para orangtua memperkenalkan kisah perbuatan-Nya yang ajaib dalam sejarah Israel dan hukum-hukum-Nya kepada anak-anak mereka. Hal ini bertujuan agar anak-anak hidup taat akan Tuhan dan menaruh harapan kepada-Nya.

Menurut penulis-penulis Yahudi yang hidup se zaman dengan Yesus, orang tua Yahudi mendidik anak-anak mereka dalam hukum Taurat, Seorang penulis yang tidak dikenal pada abad pertama menuliskan “Ajarkanlah huruf-huruf kepada anak-anakmu juga, supaya mereka memiliki pemahaman sepanjang hidup mereka pada saat mereka membaca Taurat Allah tanpa henti” (Perjanjian Imamat 13:12). Flavious Josephus, seorang ahli sejarah Yahudi abad pertama mengatakan “diatas semuanya kami membanggakan diri kami sendiri dalam bidang pendidikan kepada anak-anak kami dan memandang pengamalan hukum Taurat dan paktik kesalehan yang dibangun darinya, yang kami warisi, sebagai tugas penting dalam kehidupan” (Against Apion 1:60). Selanjutnya Yosephus juga mengatakan “(Hukum Taurat) memerintahkan agar (anak-anak) diajar membaca supaya dapat belajar hukum Taurat maupun perbuatan nenek moyang mereka” (Against Apion 2:204).

Jadi, orangtua adalah penanggung jawab utama pendidikan rohani bagi anak-anaknya. Tanggung jawab ini tidak dapat dialihkan kepada para guru disekolah maupun guru sekolah minggu karena waktu yang mereka miliki untuk bergaul dengan anak-anak di sekolah aupun di gereja jauh lebih sedikit dibandingkan dengan waktu yang dimiliki oleh orangtua. Itu sebabnya, penting bagi setiap keluarga untuk membangun ibadah keluarga setiap hari. Waktu sekitar 15 menit yang disisihkan untuk hal pujian, doa, dan membaca firman Tuhan dalam mezbah keluarga meruapak hal yang sangat berharga. Jika hal ini dilakukan, keluarga itu tidak hanya akan bertambah kokoh, berkat Allah pun akan turun semakin melimpah.
 
REFERENSI
Douglas, J.D., ed, 1988. The New Bible Dictionary. Universities and Colleges Christian Fellowship, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Ensiklopedia Alkitab Masa Kini, 2 Jilid, diterjemahkan (1993), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Drewes, B.F, Wilfrid Haubech & Heinrich Vin Siebenthal., 2008. Kunci Bahasa Yunani Perjanjian Baru. Jilid 1 & 2. Penerbit BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Ferguson, B. Sinclair, David F. Wright, J.I. Packer., 1988. New Dictionary Of Theology. Inter-Varsity Press, Leicester. Edisi Indonesia, jilid 1, diterjemahkan (2008), Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Gutrie, Donald., ed, 1976. The New Bible Commentary. Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Masa Kini, Jilid 3, diterjemahkan (1981), Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Gutrie, Donald., 1981 New Tastament Theology, . Intervarsity Press, Leicester, England. Edisi Indonesia dengan judul Teologi Perjanjian Baru, 3 Jilid, diterjemahkan (1991), BPK Gunung Mulia : Jakarta.
Homrighausen, E.G dan Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, Cetakan ke IV, Penerbit BPK Gunung Mulia, Jakarta 2001.
Kristianto, Paulus L, Prinsip dan Praktik Pendidikan Agama Kristen, Andi Offset, Yokyakarta, 2006.
Ladd, George Eldon., 1974. A Theology of the New Tastament, Grand Rapids. Edisi Indonesia dengan Judul Teologi Perjanjian Baru. 2 Jilid, diterjemahkan (1999), Penerbit Kalam Hidup : Bandung.
Lewis, C.S., 2006. Mere Christianity. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung
Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Pfeiffer, Charles F & Eferett F. Herrison., ed, 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Edisi Indonesia dengan judul Tafsiran Alkitab Wycliffe Perjanjian Baru, volume 3, diterjemahkan (2004), Penerbit Gandum Mas : Malang.
Piper, John & Justin Taylor, ed., 2005. Kingdom Sex and the Supremacy of Christ. Edisi Indonesia dengan judul Seks dan Supremasi Kristus, Terjemahan (2011), Penerbit Momentum : Jakarta.
Prokopchak, Stave and Mary., 2009. Called Together. Destiny image, USA,. Terjemahan Indonesia (2011), Penerbit ANDI : Yogyakarta.
Sijabat, B. Samuel, Membesarkan Anak Dengan Kreatif, Penerbit Yayasan ANDI, Yogyakarta, 2008.
Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terj, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Susanto, Hasan., 2003.Perjanjian Baru Interlinier Yunani-Indonesia dan Konkordansi Perjanjian Baru, jilid 1 dan 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang.
Tong. Stephen., 1991. Keluarga Bahagia. Cetakan kesebelas (2010), Penerbit Momentum : Jakarta.

(Pdt. Samuel T. Gunawan, seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya. Menyandang gelar Sarjana Ekonomi (SE) dari Universitas Palangka Raya; S.Th in Christian Education; M.Th in Christian Leadership (2007) dan M.Th in Systematic Theology (2009) dari STT-ITC Trinity. Setelah mempelajari Alkitab selama ± 15 tahun menyimpulkan tiga keyakinannya terhadap Alkitab yaitu : 1) Alkitab berasal dari Allah. Ini mengkonfirmasikan kembali bahwa Alkitab adalah wahyu Allah yang tanpa kesalahan dan Alkitab diinspirasikan Allah; 2) Alkitab dapat dimengerti dan dapat dipahami oleh pikiran manusia dengan cara yang rasional melalui iluminasi oh Kudus; dan 3) Alkitab dapat dijelaskan dengan cara yang teratur dan sistematis)

Tinggalkan Komentar