Zona Nyaman

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Penulis : Eka Darmaputera

Di kantor saya, salah seorang rekan-sekerja yang saya kagumi adalah Setiawati. Alasan saya, ia selalu siap, sigap dan cepat dalam mengambil keputusan. Prinsipnya, "Lebih baik melakukan sesuatu walau salah, ketimbang takut salah lalu tidak berbuat apa-apa". Siap, sigap, dan cepat mengambil keputusanmemang benartidak otomatis menghasilkan keputusan yang benar. Tapi, seperti saya saksikan pada Setiawati, lebih sering tepatnya ketimbang tidak.. Sebabseperti pada seorang penembak jitubanyak mengambil keputusan itu adalah ibarat terus berlatih. dengan teratur. Tentu meleset juga sih, kadang-kadang. Namun demikian, "kadang- kadang meleset" itu tidak membuat Setiawati "kapok", lalu tak berani lagi mengambil keputusan. Katanya, suatu ketika, "Yang penting bagi saya adalah berusaha mengambil keputusan dengan sebaik-baiknya. Bahwa kemudian yang sebaik-baiknya itu toh masih belum cukup baik juga, biarlah itu saya hadapi pada waktunya. Tapi itu nanti, tidak sekarang".

[block:views=similarterms-block_1]

INILAH yang membuat Setiawati berbeda bak bumi dan langit dibandingkan dengan Siswo, yang juga rekan sekantor saya. Siswo sebaliknya. Ia selalu ragu-ragu, bahkan cenderung tidak mau mengambil sikap. Seolah-olah "alergi" bila harus memilih atau mengambil keputusan. Konon, ini adalah akibat pengalaman buruknya di waktu silam. Ia sangat terpaku pada "sisi gelap" tersebut, dan sulit sekali beranjak dari situ. Dihantui oleh perasaan "kemungkinan meleset" yang hebat, serta bayangan mengenai semua risiko yang mesti ia tanggung, ia jadi "buta". Matanya cuma mampu melihat yang gelap-gelap. Dan bila kita bertanya, mengapa ia memilih untuk menghindar? Padahal ada cukup banyak sahabat yang sebenarnya siap membantu. Mengapa ia tidak minta pertimbangan atau nasihat mereka? O, Siswo punya 1001 macam alasan. Mulai dari tidak mau mengganggu orang lain-lah, sampai enggan membuat orang lain ikut terkena "getah"-lah. Dan sebagainya. Bagi orang-orang semacam Siswo, jalan yang paling aman adalah menjauhkan diri dari risiko. Seraya berharap, bahwa pada satu waktu jalan-keluar yang terbaik dengan sendirinya akan munculsecara alamiah. Malangnya, "jalan-keluar terbaik" yang diharap-harapkan itu jarang sekali muncul secara alamiah. Sekali orang terlambat membuat keputusan, dan menyia-nyiakan kesempatan yang terbuka, biasanya peluang tersebut akan terbuang percuma begitu saja. Seperti kata Goethe, "Berulang-ulang sejarah membuka pintunya. Sayang sekali, orang enggan memasukinya". Jadi? Jadi pintu itu pun akan tertutup kembali. Entah apakah ia akan pernah terbuka lagi.

REAKSI emosional yang paling wajar menghadapi orang-orang tipe "Barangkali", adalah kita dibuat hilang rasa sabar. Jadi "geregetan". Jengkel. Ini adalah reaksi-reaksi yang wajar dan mudah dimaklumi. Namun demikian, juga reaksi-reaksi yang tidak efektif. Tidak menghasilkan apa pun yang positif. Kejengkelanterlebih-lebih yang kelihatan dengan jelasakan membuat orang-orang semacam Siswo kian "mengkeret" dan "ciut nyali" mereka. Membuat mereka merasa lebih terhimpit, "groggy", tambah tidak berani bersikap apa-apa. Akhirnya menutup diri serapat-rapatnya Oleh karena itu, bila Anda benar-benar berniat menolong mereka secara efektif maka, saran saya, begitu Anda merasakan api kejengkelan itu mulai terasa merayap di dalam diri Anda, Anda selesaikan dulu deh persoalan ini dengan diri Anda sendiri. Mengapa? Sebab untuk menolong orang-orang tipe "Barangkali" keluar dari keterbelengguan mereka, mutlak dibutuhkan empat hal dari Anda: (a) kehangatan pribadi; (b) kepekaan serta tenggang rasa; (c) kesabaran; dan (d) niat yang tulus dan serius untuk membantu.

"KEHANGATAN pribadi" dibutuhkan, agar mitra Anda merasa relaks, enak, dan nyaman. Dengan begitu ia akan lebih dapat mendengar, berfikir dan merenung lebih jernih. Bayangkan apa yang bisa dihasilkan, bila ia menghadapi Anda dengan penuh rasa tertekan, ketakutan, atau sungkan! Kemudian "kepekaan" atau "sensitivitas" Anda terhadap perasaan yang terdapat pada mitra Anda. Ini amat diperlukan, sebab tanpanya sulit sekali bagi yang bersangkutan mempercayai maksud baik Anda. Sebaliknya, begitu ia menyadari bahwa Anda memahami perasaan- perasaannya, tanpa ragu-ragu ia akan menerima Anda sebagai "sabahat". Ia tahu bahwa ia berhadapan dengan teman, bukan lawan. Lalu "kesabaran". Ini mutlak harus ada, karenaseperti berulang- ulang kali dikemukakanmendorong perubahan karakter itu sungguh membutuhkan proses yang panjang, lama dan sulit. Tidak secepat mengubah warna rambut. Godaan terbesar tatkala kita berusaha "menolong" adalah ketika yang bersangkutan tidak bersikap koperatif. Dalam keadaan seperti ini, begitu mudah kita "menyerah" dan berkata, "Habis, mereka sendiri tidak mau ditolong, ya untuk apa buang-buang tenaga?!" Di sinilah dibutuhkan "usus yang lebih panjang"! Kesabaran. Dan akhirnya adalah niat yang tulus dan serius untuk menolong. Sebab apa lagi, iya `kan, kalau bukan ini yang memotivasi kesediaan Anda untuk mau bersusah payah bahkan melupakan kejengkelan-kejengkelan Anda? Tanpa sikap ini atau kurang dari ini, maka yang akan muncul adalah sikap, "Forget it!". "Peduli amat! Buat apa susah-susah?!"

JADI kita berniat menolong. Dengan tulus dan dengan serius. Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang paling perlu ditolong? Seumpama menolong orang yang tenggelam maka, kita tahu, yang paling utama adalah: angkat dulu dia dari air. Jangan perhatikan kepalanya yang "benjut" atau kakinya yang berdarah-darah. Ini sekunder, nanti akan ada waktunya memperhatikan itu. Pada manusia-manusia tipe "Barangkali", persoalan utamanya sebenarnya relatif sederhana. Yakni, mereka tidak menguasai metode yang tepat untuk memilih antara dua alternatif yang sama-sama sulit dan sama-sama berisiko. Situasi yang dilematis adalah situasi yang sulit bagi semua orang. Tapi khusus untuk kelompok inikelompok orang-orang "Barangkali" situasi ini sungguh membuat mereka "mati kutu". Tak berdaya. Pertolongan Anda benar-benar menyentuh titik yang amat krusial, bila Anda dapat menolong mereka di sini. Mengajari mereka "strategi pengambilan keputusan" yang tepat. Tapi ingatlah, posisi Anda hanyalah menuntun yang bersangkutan agar ia menemukan sendiri apa yang diperlukannya. Seperti bunyi sebuah pepatah Cina kuno, "Anda bisa memberikan ikan kepada orang yang lapar, maka ia akan mempunyai sesuatu untuk dimakan. Atau Anda bisa mengajari mereka memancing, maka mereka akan mampu mencari ikan sendiri bila kelaparan". Yang kedua, kita tahu, merupakan alternatif yang lebih efektif. Tapi sekaligus juga batas dari yang dapat Anda lakukan. Anda dapat memotivasi orang untuk lebih terdorong mengubah dirinya sendiri. Tapi Anda tak dapat mengubah orang lain menjadi bukan dirinya sendiri. Seperti kata sebuah pepatah Cina yang lain, "Anda dapat menuntun orang ke laut, tapi Anda tak dapat mengubahnya menjadi ikan".

KALAU begitu, apa yang paling perlu kita lakukan? Tak lain adalah menciptakan suasana dan kondisi, di mana yang bersangkutan bisa berada dalam keadaan termotivasi sebegitu rupa, untuk mau merenungkan apa yang dikatakan orang lain tanpa prasangka, dan untuk membuka diri bagi perubahan tanpa terpaksa. Tujuan Anda adalah membuat ia menyadari sendiri keadaan dan kelemahannya, dan membuat ia terdorong mengatasi dan mengubahnya. Di sini kepekaan dan kesabaran Anda benar-benar dituntut. Sebab betapa pun mulianya yang Anda usahakan, jangan pernah memaksakan kehendak Anda kepada orang lain! Kondisi seperti apakah yang memampukan orang untuk melihat, mempertimbangkan dan menilai segala sesuatu dengan lebih jernih? Lalu mau berusaha dengan sungguh-sungguh mengubah diri? Jawabnya adalah, bila yang bersangkutan merasa "nyaman". Tidak merasa gugup karena ditekan. Tidak merasa terancam karena dipaksa. Akhirulkalam, di titik inilah pembahasan kita bermuara. Anda dapat merangsang perubahan, dengan mengusahakan terciptanya "zona nyaman" (= comfort zone) bagi mitra Anda. Di mana ia tidak merasa terancam. Di mana ia bersedia mendengar Anda. Dan bersedia bekerjasama dengan Anda.

Sumber: Sinar Harapan