Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereDoktrin / Siapakah yang Dikurbankan Abraham?

Siapakah yang Dikurbankan Abraham?


Penulis : Yogi Triyuniardi

Saudara-saudariku yang kukasihi dalam Tuhan Yesus,
Agama Kristen, Islam dan Yahudi berpangkal pada satu orang ini, yaitu Abraham. Namun dalam ajaran kitab suci, ada perbedaan kisah antara riwayat hidup Abraham yang tertera dalam Kitab Suci agama Kristen, Yahudi, maupun Islam. Salah satunya adalah peristiwa dimana Allah menguji keimanan Abraham kepadaNya dengan memerintahkan Abraham untuk mempersembahkan anaknya sebagai kurban. Anak manakah yang dikurbankan? marilah kita selidiki bersama-sama. Alkitab mencatat bahwa Abraham, atau sebelumnya bernama Abram, adalah seorang penduduk babilonia (Irak), tinggal di Ur-Kasdim bersama dengan sanak keluarganya. Lalu Allah memberinya perintah dan janji. Demikian bunyinya:

"Pergilah dari negrimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu menjadi mashyur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Kejadian 12:1-3.

Sebuah perintah yang juga berisi janji yang amat luar biasa indahnya. mari kita teliti satu per satu.

  • Pergilah dari negerimu, yaitu Negri Babel, negri orang kasdim.
  • Pergilah dari sanak saudaramu, yaitu Nahor dan Haran, saudara dari Abram (juga lot, keponakannya)
  • Pergilah dari rumah bapamu, yaitu Terah.
  • ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu, yaitu masih dirahasiakan oleh Allah.
  • Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, artinya: keturunan Abram akan menjadi suatu bangsa yang besar.
  • Aku akan memberkati engkau dan membuat namamu menjadi mashyur.
  • Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau dan juga sebaliknya.
  • Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

Siapa yang tidak tergiur oleh janji yang begitu indah ini? namun, syaratnya cukup berat, yaitu meninggalkan ayahnya, sanak saudaranya, negerinya, untuk pergi ke suatu negeri yang belum diberitahukan oleh Allah. Abraham melaksanakannya, namun ia pergi dari bapanya di Haran bersama-sama dengan isterinya, sarai, dan juga keponakannya, Lot. Abraham berumur 75 tahun saat ia pergi.

Omong-omong, sebelumnya perlu saya jelaskan, bahwa saat itu manusia tidak ada yang mengenal Allah yang benar. Semua orang, suku, bangsa, negri, menyembah allah-allah yang sebenarnya bukan Allah. mereka mendirikan tugu-tugu berhala, mempersembahkan kurban, bahkan mengkurbankan anaknya sendiri agar keluarganya mendapatkan berkat dan perlindungan dari allah-allah yang sebenarnya palsu ini. bapak dari Abram, Terah, tercatat dalam Alkitab maupun kitab Yahudi sebagai pembuat patung berhala. Abram pun sebenarnya masih belum mengenal Allah dengan baik saat itu, karena ia dibesarkan dengan adat dan tradisi kepercayaan terhadap allah-allah yang palsu.

Setelah sampai ke kanaan, Allah menunjuk negeri inilah yang akan diberikan kepada keturunan Abram. Abram mendirikan mezbah, sebuah tempat seperti meja yang biasa dipakai untuk mempersembahkan kurban sembelihan, untuk Allah. Namun ketika kelaparan melanda negeri itu, Abram bukannya bertanya pada Allah, tetapi dengan kehendaknya sendiri ia dan isterinya menyingkir ke mesir. Isterinya berparas cantik, oleh karena itu Abram takut kalau2 ia dibunuh oleh orang mesir karena isterinya. Oleh sebab itu ia menyuruh isterinya untuk mengakui di hadapan orang mesir bahwa ia adalah adik perempuan Abram.

Dari hal ini kita dapat memetik suatu pelajaran, bahwa saat itu, Abram belum percaya bahwa Allah sanggup memelihara mereka dari kelaparan, juga sanggup melindungi mereka dari marabahaya dan kecelakaan. Abram masih menganggap Allah yang menuntunnya kira-kira sama dengan allah-allah yang lain. Ia kurang percaya akan Janji Allah yang telah ia terima, bahwa ia akan mempunyai keturunan dan diberkati.

Sekeluarnya dari mesir, Abram kembali ke kanaan. Ia punya banyak ternak, dan juga orang-orang yang melayaninya. kekayaan Abram dan Lot begitu besarnya, sehingga mereka tidak dapat tinggal bersama-sama. Lot seharusnya menyadari bahwa ia diberkati karena ia ikut pamannya. Allah memberkati Abram dan siapapun yang memberkati Abram, diberkati juga oleh Allah. Namun Lot tidak sadar, ia memutuskan untuk berpisah, lalu memilih padang rumput yang kelihatan hijau, tinggal dekat kota Sodom, dimana kejahatan manusia sudah memuncak sampai ke langit.

Suatu pelajaran lagi, hendaklah kita menyadari bahwa dekat dengan orang yang diurapi Allah akan kebagian berkat pula, tetapi kita pun sebenarnya lebih baik menjadi orang yang diurapi Allah daripada hanya menjadi orang dekatnya saja. plus, apa yang kita pandang sebagai sesuatu yang baik, belum tentu benar-benar baik. Hanya Allah saja yang bisa menunjukkan apa yang baik.

Sekarang umur Abram 85 tahun. 10 tahun sejak ia menerima janji Allah, tapi belum ada tanda-tanda bahwa ia akan memiliki anak dari Sarai, yang berumur 75 tahun. Kemudian kali ini mereka merasa bahwa Allah tidak memenuhi janjiNya, karena tidak Sarai merasa tidak mungkin lagi ia melahirkan dalam umur setua ini. Lalu, mulailah mereka merangcangkan penggenapan janji Allah menurut kehendak mereka sendiri.

Bagaimana caranya? Sarai memiliki budak yang masih muda, bernama Hagar, yang didapatnya ketika mereka ada di mesir. Sarai merancangkan bahwa suaminya bersetubuh dengan budaknya, lalu anak dari Hagar inilah yang akan mereka klaim sabagai anak dari Abram dan Sarai. Ajaib, memang begitulah manusia jika mulai meragukan janji Allah. Hagar memang hamil, tetapi kelakuannya menjadi sombong dan tidak menganggap Sarai sebagai nyonya majikannya lagi.

Singkat cerita, lahirlah Ismael anak hasil percobaan Abram untuk menggenapi janji Allah. Namun, Allah tetap setia akan janjiNya dan mengatakan bahwa anak yang lahir dari Sarai lah yang akan disebut sebagai keturunannya. Ketika Abraham berumur 99 tahun (sarai 89 tahun), Allah mengulangi janjiNya dan mengatakan bahwa tahun depan Sarai akan melahirkan anak. Sarai mendengar dan tertawa, namun ia takut Allah menghukumnya ketika Allah menanyakannya. Abram diubah namanya menjadi Abraham dan Sarai menjadi Sara.

Bagaimana mungkin seorang perempuan melahirkan anak dalam usia 90 tahun? namun, bagi Allah, tiada yang mustahil. Sara melahirkan anak dan menamai dia Ishak. Ishak disunat ketika dia berumur 8 hari, sesuai dengan perintah Allah. Ketika Ishak besar, Sara melihat bahwa Ismael menganiaya anaknya, Ishak. maka ia meminta agar Hagar dan Ismael diusir dari tempat kediaman Abraham, supaya mereka tidak memperoleh hak warisan yang seharusnya jatuh ke tangan anak yang dijanjikan Allah, Ishak.

Kisah Pengurbanan Ishak

Abraham kini telah percaya kepada Allah, bahwa apa yang telah dijanjikanNya pasti akan digemapiNya pula. Allah tidak pernah lalai dalam mengenapi janjiNya. Lewat perkara yang kelihatan mustahil sekalipun, Allah tetap sanggup. Namun, Allah mengujinya sekali lagi, apakah Abraham sekarang benar-benar percaya kepadaNya ataukah masih ragu. Iman harus diuji lewat perbuatan. Allah berkata pada Abraham:

"Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia disana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." Kejadian 22:2.

Suatu perintah yang kelihatannya bertolak belakang dan tidak sesuai dengan janji Allah sebelumnya. Jika Allah berjanji dan memastikan bahwa Ishak sebagai keturunannya yang sah, mengapa Allah memerintahkan untuk menjadikan Ishak sebagai kurban bakaran?

Namun Abraham tahu bahwa ini suara Allah. Ia bergaul akrab dengan Allah, dan jika ini bukan Allah, pasti ia mengenalinya. Abraham segera tahu bahwa ia sedang diuji. kalau Abraham yang dulu, ketika masih bernama Abram, tentu saja ia akan menolak perintah ini. Namun sekarang, Abraham percaya bahwa Allah-lah yang selalu melindunginya, memberkatinya, dan menggenapi janjiNya sendiri. Abraham percaya penuh kepada Allah.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa Abraham sudah percaya penuh kepada Allah? Alkitab yang menjelaskannya. Abraham patuh, pagi-pagi benar ia bersiap-siap dan berangkat bersama dengan anaknya, Ishak, dan 2 orang bujangnya. Mereka pergi ke tempat yang Allah tunjukkan, jadi Allah tetap berkomunikasi dengan Abraham saat melakukan perjalanan ke tempat yang dituju, dan Abraham tidak sangsi bahwa ini benar-benar Allah yang dulu memerintahkannya untuk keluar dari negrinya sendiri ketempat yang ia sendiri belum diberitahu.

Sesudah tiga hari, sampailah mereka. Abraham berpisah dengan kedua bujangnya. Namun Abraham berkata pada mereka: Kami akan kembali kepadamu. Artinya, Abraham dan Ishak, setelah melakukan apa yang Tuhan perintahkan, akan kembali. Abraham percaya bahwa Ishak, yang mungkin akan dikurbankan, dipercaya Abraham akan kembali bersama-sama dengannya, entah bagaimana caranya.

Ketika ditanya anaknya, Ishak, tentang domba yang akan dipersembahkan, Abraham pun berkata: Allah yang akan menyediakan korban b680ran bagiNya. Artinya, Abraham yakin bahwa Allah yang ia sembah bukanlah allah-allah lain yang biasanya meminta untuk dikurbankan nyawa seorang manusia, apalagi anak-anak. Allah yang ia sembah adalah Allah yang mengasihinya dan setia menggenapi janji-janjiNya.

Saat paling kritis pun tiba. Ia mengikatkan anaknya sendiri dan siap untuk menyembelih Ishak. Ia yakin dan percaya bahwa Allah yang ia sembah tidak mungkin ingkar janji, dan Allah yang ia sembah adalah Allah yang Maha Kuasa. Jika nyawa Ishak melayang saat itu, Abraham percaya bahwa Allah sanggup menghidupkannya kembali. Allah adalah pemilik kehidupan semua umat manusia. tentu saja Allah yang sanggup memberinya anak pada usia mustahil, sanggup pula mengembalikan nyawa anaknya.

Secara lahiriah, tentu saja ia amat sangat menyayangi anak ini. Ishak adalah anak yang lahir dari isteri sahnya, Sara. Juga Ishak adalah anak yang dijanjikan Allah menjadi sebuah bangsa yang diberkati. Namun, rohnya patuh kepada Allah, dan ia tidak ragu untuk melaksanakan perintah Allah. Dan yang perlu saya tambahkan, sekarang Abraham memiliki perasaan baru, yaitu Perasaan dimana seorang Bapa yang rela mengorbankan Anaknya demi sesuatu yang lebih besar. apakah itu?

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak akan binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Yohanes 3:16.

Pelajaran yang perlu kita tarik dari kisah ini:

  • Manusia harus memiliki pengenalan yang benar akan Allahnya lewat pengalaman hidupnya.
  • Allah yang benar adalah Allah yang tidak pernah ingkar janji.
  • Allah mengasihi kita, dengan mengutus AnakNya, Yesus Kristus, untuk mati demi menebus dosa kita, agar kita pun disucikan, diangkat menjadi anak-anakNya dan berhak untuk menerima janji Allah, yaitu memperoleh hidup yang kekal bersama Bapa di Sorga.

Tuhan Yesus memberkati.

Tinggalkan Komentar