Rayap-Rayap Pernikahan

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Ayub Yahya

Coptotermes dan Sedoterme, adalah dua jenis rayap yang paling cepat
menyerang bangunan. Akhir Maret 2006, binatang kecil dari ordo
Isoptera ini mendadak ngetop. Enggak tanggung-tanggung, ia ketahuan
merusak Istana Negara dan Istana Merdeka!

[block:views=similarterms-block_1]

Pejabat negara ikutan kebakaran jenggot. Menteri Pekerjaan Umum jadi punya tugas tambahan. Para pakar rayap Indonesia, ikut sibuk. Wajar saja, karena rayap ternyata bisa membahayakan keselamatan Presiden Yudhoyono. Layaknya teroris saja!

Di Indonesia, masalah rayap bukan hal baru. Para pakar mengklaim 50
persen gedung di Jakarta telah diserang rayap. Tiap tahun kerugian
mencapai sekitar Rp 238 miliar. Jumlah yang fantastis untuk ukuran
hewan seimut rayap.

Gerogotan rayap memang bisa membahayakan. Pelan tapi pasti,
bangunan semegah apa pun, bisa hancur gara-gara rayap. Rayap sanggup
menembus penghalang fisik. Bahkan, gedung dengan struktur yang sangat
kokoh pun tidak bebas rayap. Jadi, satu-satunya cara adalah dengan
melakukan pencegahan dan perawatan. Harus ada antisipasi.

Demikian juga dengan hidup pernikahan. Sebuah pernikahan yang
dibangun di atas cinta yang menggebu, di atas komitmen yang begitu
kuat sekalipun, tidak lantas imun dari "rayap-rayap". Maka, adalah
baik dan perlu kita mengantisipasinya. Minimal mengenalinya.

Berikut beberapa "rayap" berbahaya yang bisa menggerogoti dan
menghancurkan hidup pernikahan kita.

Pertama, harapan yang tidak realistis. Seperti cinta romantis ala
dongeng pengantar tidur, Cinderella, Putri Salju, Beauty and the
Beast, yang selalu berakhir indah. Seakan-akan pernikahan isinya
melulu kebahagiaan. Tanpa masalah. Hanya ada keajaiban. Penuh bunga.
Kemesraan yang tidak pernah berlalu.

Padahal, jelas tidak begitu kan. Pernikahan tidak melulu berisi
bunga. Kadang juga berisi kerikil. Atau, kalau pun berisi bunga;
bunga bangkai berduri. Jadi sudah bangkai, berduri pula. Pernikahan
juga tidak selalu berselimut kemesraan. Kadang juga ada kebosanan,
tangisan, keruwetan.

Kedua, berkurangnya sikap saling mengerti. Kesalahan kecil, bisa
bikin ledakan emosi mahahebat. Herannya, waktu pacaran pengertian
bisa terjembatani begitu mulus. Berjalan dengan begitu kuat. Tapi
setelah menikah, tingkat pengertian kerap bagai terjun bebas ke
titik nadir. Toleransi menjadi rendah sesudah menikah.

Waktu pacaran, kakinya doi terantuk batu saja langsung heboh. Seolah mendadak ada gempa bumi. Kaki doi dipijit, diusap-usap, disayang-sayang. Keadaan bisa terbalik 180 derajat setelah menikah. "Matamu ke mana sih?"

Ketiga, berkurangnya tekad untuk mempertahankan pernikahan.
Menganggap pernikahan seolah sesuatu yang sekali pakai lalu buang.
Berantem dikit, pengen cerai. Kesal dikit, bilangnya, "Sudah deh,
kembalikan aku ke rumah orang tuaku!" Bila badai mengguncang biduk
rumah tangga, kita lekas putus asa. Enggak punya daya juang untuk
mempertahankan. Gampang menyerah.

Lalu bagaimana kita menangani "rayap-rayap" penggeregot itu,
sehingga pernikahan kita tetap kokoh kuat?

Yaitu, dengan membangun sikap positif. Mikha 6:8, "Hai manusia,
telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut
Tuhan daripadamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan
hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Konteks ayat ini adalah umat Tuhan yang sudah terjebak dalam ibadah
yang legalistis. Tuhan ingin umat-Nya itu tidak hanya terpaku pada
aturan-aturan formal keagamaan, tapi juga memperhatikan hidup sehari-
hari. Sebab ibadah kepada Tuhan tidak hanya soal kultis, tapi juga
soal etis.

Namun, ayat ini juga bisa dikenakan dalam konteks hidup pernikahan,
khususnya dalam "membasmi rayap-rayap penggerogot" tadi. Adil,
mencintai kesetiaan, dan rendah hati.

Adil artinya, apa yang kita ingin pasangan kita lakukan kepada kita, lakukan lebih dahulu kepadanya. Kalau kita ingin pasangan kita
menghargai kita, hargailah ia lebih dulu. Kalau kita ingin pasangan
kita bersikap baik kepada kita, bersikap baiklah lebih dulu kepada
ia, dan seterusnya.

Mencintai kesetiaan, teguh pada janji, komit dengan tanggung jawab.
Enggak suka nyeleweng, lalu cari-cari alasan pembenaran. Setia
kepada sesama, setia kepada Tuhan. Kesetian harus dimulai dari
perkara-perkara sederhana.

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-
perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar."
(Lukas 16:10). Jadi jangan harap kita bisa setia dalam hidup
pernikahan kita, kalau janji mau nonton saja, misalnya, kerap
diingkari.

Rendah hati tumbuh dari kesadaran bahwa kita membutuhkan pasangan
kita. Kita ini seumpama burung dengan satu sayap. Pasangan kita
punya sebelah sayap yang lain. Kita hanya bisa terbang kalau
menggunakan kedua sayap tersebut.

Rendah hati juga berarti, kesediaan untuk meminta maaf, kalau salah. Kesediaan memberi maaf dan memahami bahwa pasangan kita pun bisa khilaf.

Rendah hati juga membuat mulut kita ringan dan tulus mengucapkan
terima kasih dan memuji.