Liberalisme di Belanda

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Liberalisme di Belanda

Oleh: Herlianto

Di Eropa, negeri yang paling sekuler dan liberal adalah Belanda, ini dimungkinkan karena bangsa Belanda termasuk yang paling bebas, terbuka, dan sangat toleran, ini berarti bahwa sifat itu membawa negeri Belanda pada situasi dimana semua faham baru dan perilaku bisa ditoleransikan. Akibat kebebasan sekuler dan liberal telah menjadikan Amsterdam sebagai pusat peredaran obat bius bahkan ada anggota dewan kota yang pecandu narkoba, dan juga menjadi surga perilaku homoseksual.

[block:views=similarterms-block_1]

Kebebasan bukannya tidak terbatas, dalam dua dasawarsa terakhir masyarakat umum mulai mempertanyakan: tidakkah kebebasan di Belanda sudah terlalu jauh? (Backlash and Debate, Permissiveness: the Dutch are wondering if things have gone too far, Time Magazine, August 1987, hlm.20-25). Soalnya, kebebasan penggunaan narkoba, pornografi, sex bebas dan perilaku homoseksual sudah merangsang peningkatan kejahatan dan mengganggu kebebasan penduduk lainnya. Belanda adalah negara pertama yang melegalkan Euthanasia. Ruud Lubbers, ketika menjabat perdana menteri, mengeluhkan bahwa Belanda sudah menghadapi Demokrasi yang kelewat batas.

Eropa kini menjadi makin sekuler, dan negara yang paling sekuler adalah Belanda. ... Menurut Prof Jongeneel ... penduduk Amsterdam, yang 200 tahun yang lalu hampir seluruhnya beragama Kristen (99%), sekarang tinggal 10% saja yang dibaptis dan ke gereja, kebanyakan mereka tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi sekuler. (Sekularisasi Ancaman Bagi Semua Agama, Berita Oikumene, September 1995).

Di Belanda, sejalan dengan sekularisme, liberalisme masuk jauh termasuk kedunia gereja. Kenyataan ini memperngaruhi banyak pendeta dan teolog yang termasuk Nederlandze Hervormde Kerk (NHK) yang sudah lebih dahulu terpengaruh Liberalisme maupun

Sebenarnya GKN sangat ketat menganut faham pengakuan iman reformasi yang teguh dan melepaskan diri dari NHK tetapi sejak tahun 1960-an NHK mengikuti keterbukaan dimana beberapa teolognya mulai menganggap tradisi gereja sebagai tradisi manusia belaka dan Alkitab sekedar buku dongeng. Keterbukaan akan kesimpulan kritik historis mulai menghinggapi pemikiran para teolog muda setelah para teolog konservatif satu-persatu memasuki masa pensiun mereka.

Dalam hubungan perubahan arah digereja arus utama di Belanda, teolog Klaas Runia mengemukakan bahwa penyebab utamanya adalah sekularisme yang kuat melanda negeri Belanda. Dan seperti biasanya usaha para teolog muda untuk menyesuaikan berita mimbarnya dengan tuntutan sekularisme, suatu usaha yang akhirnya tidak bisa direm, sehingga sejak tahun 1972 banyak kritik justru datang dari kalangan Reformed Ecumenical Council (REC, organisasi gereja-gereja Reformed Sedunia) ditujukan kepada GKN, bahkan liberalisme yang makin jauh dipraktekkan pendeta-pendeta GKN, dalam beberapa Sidang Raya REC kemudian, GKN diusulkan untuk dikeluarkan. (Klaas Runia, Perplexing Cousins: The Dutch Churches, The Banner Magazine, May 31, 1993, hlm.8).

Memang NHK dan GKN cenderung lebih berurusan dengan pertanyaan modern mengenai Apa arti iman bagi manusia sekuler, apa berita yang bisa disampaikan pada orang di luar gereja, bagaimana mencegah para pemuda keluar dari gereja, dan bagaimana mengembalikan hubungan transendental dengan yang ilahi yang makin menghilang? Namun, karena pendekatan yang dilakukan adalah lebih bersifat sekuler dan liberal, maka hasilnya banyak gereja ditinggalkan jemaatnya terutama kaum muda. Banyak gereja menjadi kosong, diubah peruntukannya menjadi kelab malam atau bar, bahkan ada gereja yang dibeli konglomerat Indonesia dan dijadikan mesjid!

Menarik mendengarkan komentar ahli sosiologi agama Jan Jonkers berkenaan dengan kecenderungan gereja-gereja mapan di Belanda sekarang, yaitu adanya tiga kemungkinan:

1. Gereja kembali kepada tradisionalisme kuno dan konservatisme kaku, atau
2. Gereja terus menerus membuka diri terhadap sekularisme, atau
3. Gereja mencoba secara kreatif mencari terobosan baru dalam menjawab kebutuhan dunia modern.

Jonkers mengatakan bahwa kemungkinan 1 dan 2 menjurus pada jalan buntu, karena itu sebaiknya kita memilih kemungkinan ke-3, tetapi ia juga mengatakan bahwa kemungkinan ke-3 tidak hanya membutuhkan kreativitas saja tetapi juga spritualitas yang dalam, ini diaminkan oleh Klaas Runia yang yakin bahwa hal itu membutuhkan:
dengar-dengaran dengan taat akan firman Tuhan, disertai doa yang terus menerus agar gereja diurapi dengan kaya oleh Roh Kudus, khususnya juga para teolog dan para pemimpin gereja. (Klaas Runia, Perplexing Ciousins: Where Are The Dutch Churches Headed?, The Banner Magazine, June 7 1993, hlm.13)

Yang menarik untuk diamati bahwa akhir abad-20 peradaban dunia diwarnai dengan semangat kembali kepada transendentalisme, maka bilamana gereja membuang yang transendental, dan liberalisme cenderung mengerlingkan mata kepada spiritualitas mistik pantheisme (new age), maka sebagian umat mendapat jalan keluar dalam persekutuan-persekutuan injili dan kharismatik yang kembali menekankan spiritualitas Kristen yang membuka diri pada pekerjaan Roh Kudus.

Bagaimana dengan di Indonesia? Gereja-gereja mapan di Indonesia memang umumnya berdiri karena pekerjaan misi NHK (NZG dan NZV) dan juga GKN (NGZV). Sebagian besar gereja-gereja mapan (GPIB, GKI, GKJW, GKP, GMIM dll.) berasal dari pekerjaan misi Hervorm, dan ada juga yang berasal dari pekerjaan misi Gereformeerd (GKI Jateng, GKJ), namun gereja-gereja mapan di Indonesia ini tidak mengalami nasib malang seperti saudara-saudara mereka gereja di Nederland. Ini disebabkan beberapa kondisi yang berbeda:

1. Para utusan misi NHK dan GKN perintis gereja-gereja itu adalah pendeta/utusan misi yang beriman konservatif;
2. Masyarakat Indonesia sebagai bagian masyarakat Timur masih konservatif dan jauh dibandingkan liberalisme Belanda. Orang-orang Indonesia yang konservatif masih sangat terbuka akan hal-hal transendental berbeda dengan orang-orang Belanda yang sekuler dan liberal. Sekularisme belum menjadi masalah;
3. Dikalangan jemaat Tionghoa, ada pengaruh pelayanan penginjil John Sung yang berbekas pada jemaat Tionghoa baik yang baba dan terutama yang totok (Di Tiongkok John Sung melayani bersama Andrew Gih, karena berbeda orientasi dimana Sung menekankan penginjilan massal sedangkan Gih menekankan pelayanan gereja dan sekolah Teologi, keduanya kemudian berjalan sendiri-sendiri. Andrew Gih juga melayani ke Indonesia dan mendirikan Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT);
4. Sekalipun pengaruh liberalisme masuk juga melalui beberapa utusan misi Belanda/Barat terutama melalui pendidikan di STT tertentu, tetapi pengaruh mereka baru sebatas pengaruh terhadap pribadi-pribadi pendeta dan kaum elit tertentu, pengaruhnya kecil ditengah mayoritas jemaat Indonesia yang konservatif;
5. Adanya kebangunan gerakan Injili dan Kharismatik dalam kekristenan di Indonesia merupakan nafas segar bagi konservatisme Kristen (fakta menunjukkan bahwa dalam beberapa dasawarsa terakhir, nyaris tidak ada pembukaan STT ekumenis yang baru, tetapi pada saat yang sama puluhan STT injili dan kharismatik berdiri).

Dari pengalaman di Belanda itu, kita bisa melihat bahwa liberalisme cenderung membuat gereja kosong, tetapi konservtisme membuat gereja tetap bertahan mengarungi ombak jaman.

Sumber: www.yabina.org