Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereWanita / Kegagalan dan Keberhasilan Hana

Kegagalan dan Keberhasilan Hana


"aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur atau minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan" [ I Samuel 1:15 ].

Seperti pengakuannya, Hana adalah seorang perempuan yang sangat bersusah hati. Karena dari tahun ke tahun, ia selalu disakiti oleh madunya, sebab Tuhan telah menutup kandungannya, dan bahkan kesusahan Hana sampai membuatnya tidak mau makan. [ I Sam. 1:6-7 ]. Kita tidak tahu dengan pasti, mengapa Tuhan menutup kandungannya sehingga ia tidak dapat melahirkan anak. Secara manusia, kita cenderung menilai bahwa ada dosa tertentu atau kutuk tertentu, yang menyebabkan Tuhan menutup kandungan Hana. Sama seperti murid-murid Tuhan ketika mereka melihat orang yang buta sejak lahirnya, dan bertanya, "Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta ?". Tetapi Tuhan menjawab, "bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia" [ Yoh. 9:3 ]. Sebab itu, lebih baik kita berpandangan bahwa Tuhan menutup kandungannya, karena memiliki pekerjaan dan rencana, yang harus dinyatakan di dalam kehidupan Hana.

Tetapi, yang perlu kita perhatikan adalah respon Hana terhadap masalah yang dihadapinya. Hana menjadi sedemikian susah, atau istilah sekarang, stress, sehingga ia tidak mau makan. Dari sudut pandang Tuhan, disinilah kegagalan Hana. Tetapi, dari sudut pandang Hana, tentu ia mengatakan bahwa penyebab ia stress adalah sikap Penina, madunya, yang selalu menyakiti hatinya. Manusia memang cenderung menyalahkan keadaan sekitarnya, untuk stress atau kesusahan yang dialaminya. Tetapi, apakah benar sikap sedemikian? Mari kita lihat contoh dari kehidupan Yesus Kristus. Dalam Yohanes 14:27, Ia berkata, "Damai sejahteraKu Kuberikan kepadamuJanganlah gelisah dan gentar hatimu". Disini jelas kita lihat bahwa Yesus menjalani kehidupanNya selama didunia ini, dalam kondisi penuh damai sejahtera, tidak gelisah dan gentar, sekalipun harus menghadapi dan menyelesaikan masalah manusia yang terbesar, yaitu dosa. Di Taman Getsemani, Ia tidak gelisah dan gentar, melainkan secara manusia, Ia dalam pergumulan untuk menyerahkan kehendakNya kepada Bapa. Kita perlu melihat hal ini dengan jelas, supaya jangan kita menyalahkan keadaan sekitar kita, sebagai penyebab kesusahan kita. Kalau kita stress, apalagi sampai tidak mau makan, mari kita mengakui itu sebagai suatu kegagalan, supaya Tuhan Yesus memberikan damai sejahteraNya, dan mengajari kita untuk hidup dalam damai sejahtera di tengah-tengah pergumulan dan persoalan rumah tangga.

Hana telah gagal ketika ia menjadi stress karena masalah yang dihadapinya, tetapi Hana berhasil dalam hal, "aku mencurahkan isi hatiku kepada Tuhan". Persoalan rumah tangga seringkali bertambah rumit ketika seorang isteri mencurahkan isi hatinya kepada "pihak ketiga", entah itu keluarga besar suaminya atau keluarga besarnya sendiri. Semakin tidak ada "orang ketiga" dalam kehidupan suami- isteri, akan semakin baik rumah tangga itu. Disini Hana mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan dalam doa. Dan Hana berdoa sedemikian sehingga Tuhan mendengarkan doanya. Bukan saja Hana melahirkan Samuel, seorang yang dipakai Tuhan pada zamannya, tetapi juga ia melahirkan tiga anak laki-laki dan dua anak perempuan lagi. Sungguh luar biasa doa Hana dihadapan Tuhan. Doa yang baik adalah doa yang dijawab Tuhan, dan Hana adalah seorang pendoa yang baik dan berhasil.

Bagaimana dengan para isteri Kristen, ketika menghadapi masalah dalam rumah tangganya? Apakah menjadi stress dan menyalahkan keadaan sekitarnya? Atau seperti Hana, yang pada akhirnya menjadi pendoa yang baik?

Sumber: Gema Sion Ministry

Tags

Tinggalkan Komentar