Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereLain-lain / Benediktus, Tidak Sekadar Sebuah Nama

Benediktus, Tidak Sekadar Sebuah Nama


Ketika Kardinal Joseph Ratzinger (78) terpilih menjadi Paus ke-265, ia kemudian memilih nama Benediktus XVI. Mengapa ia tidak memilih nama Yohanes Paulus III? Bukankah Ratzinger sangat menghormati Yohanes Paulus II yang wafat 2 April lalu? Atau mengapa ia tidak menggunakan nama Paulus VII sebagai kelanjutan dari pemerintahan konservatif Paus Paulus VI (1963-1978)? Tentu Kardinal Ratzinger memilih nama Benediktus-artinya "yang diberkati"-bukan karena ia membaca Ramalan St Malachi (sekitar 1139). Ramalan itu menyebutkan bahwa Paus pengganti Yohanes Paulus II adalah seseorang yang hidup dan kerjanya memiliki ciri sebagai Gloria Olivae (Kemuliaan Zaitun). Tafsiran mengenai nama simbolik tersebut memang mengaitkannya dengan seorang tokoh bernama Benediktus dari Nursia, Italia (480-543).

Sebagai orang yang taat pada tradisi Gereja Katolik, pasti Kardinal Ratzinger tak memercayai Ramalan St Malachi. Ambisi dan ramalan itu tabu dalam kepemimpinan Gereja (Kompas, 18/4).

"Ada yang memilih sebuah nama karena nama tersebut mencerminkan sebuah keutamaan," tulis Hergemoeller. "Nama Innosensius, misalnya, mencerminkan sebuah kesucian. Sementara Clemensius menggambarkan sebuah watak penyayang," lanjutnya.

Hergemoeller juga menemukan bahwa ada Paus yang memilih sebuah nama karena Paus yang digantikannya telah mengangkatnya sebagai kardinal. Itu dilakukan, misalnya, oleh Paus Benediktus XIV (menjabat Paus: 1740-1758), Pius VIII (1829-1830), atau Pius XII (1939-1958).

Alasan duniawi dan keluarga juga ada. Misalnya, Kardinal Antonio Pignatelli (1615-1700) memakai nama Innosensius XII karena ia sangat kagum dengan cara hidup yang mewah dari Paus Innosensius XI (1676- 1689). Selain ingin hidup segemerlap Innosensius XI, Pignatelli memilih nama tersebut karena idolanya itu juga telah membantu kehidupan keluarganya.

Lepas dari alasan-alasan duniawi atau keluarga, pada umumnya pemilihan nama itu memang banyak didasarkan pada rasa terima kasih dan-ini yang lebih penting-keinginan untuk melanjutkan warisan spiritual atau sebaliknya untuk memulai sesuatu yang baru. Hergemoeller menyebutkan bahwa Kardinal Angelo Guiseppe Roncalli (1881-1963) memilih nama Yohanes XXIII karena "ia ingin mengakhiri era kepausan para Pius". Dua pendahulunya memang memakai nama Pius XI (1922-1939) dan Pius XII (1939-1958).

Sumber: Kompas

Tinggalkan Komentar