Just My Note=Peepesan Kosong

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Samuel

Banyak orang beranggapan intensitas orang yang beribadah atau datang ke gereja lebih sering maka kehidupan rohaninya itu sudah baik, dan menjadikan itu sebagai tolak ukur, namun faktanya banyak orang yang justru intensitas ibadahnya lebih sering pun tidak sertamerta menjamin orang itu hidup kudus, bahkan sering kali kita temukan orang-orang yang notabennya sebagai pelayan-pelayan TUHAN pun kehidupan sehari-harinya tidak merepresentasikan anak-anak ALLAH... . Mereka pun melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan ALLAH, seringkali itu terjadi, memang saya juga tak menampik bahwa orang-orang yang jarang ke gereja akan lebih baik bahkan mungkin lebih rentan ke arah yang tidak benar, tapi tidak semua begitu juga.


Kalau itu saja yang menjadi tolak ukur waduh! gampang banget jadi orang kristen tinggal datang tiap minggu duduk manis terus pulang sudah bisa dibilang sudah baik alias sudah mempunyai “kebenaran yang utuh”, dibanding dengan orang kristen yang lain, great!

Dan saya banyak menemukan hal-hal atau kejadian-kejadian yang menurut saya dapat jadi pertimbangan akan kasus semacam ini contoh: ada seseorang sekalipun dia sering datang ibadah tapi kadar rohaninya pun tak sebaik saat dia beribadah di gereja mungkin di gereja serasa sudah menjadi malaikat saja nampaknya tapi realitas nya nihil di kehidupan sehari-harinya malah yang ada terus-menerus jadi batu sandungan bagi orang lain.

Dan saya juga pernah menemui beberapa orang yang jarang ke gereja mungkin dia ke gereja cuma seminggu sekali tapi dia punya kadar rohani yang lebih baik, kenapa saya bisa berbicara seperti itu karena dia membawa gereja itu selalu kemana-mana sebab dia menjadikan hatinya sebagai gereja yang portable itu istilah saya saja, kenapa? Karena saya bisa lihat dari apa yang dia bicarakan dan perbuat, firman itu menjadi realitas dalam hidupnya, words of GOD itu tidak selalu dia dapatkan dari institusi seperti gereja tapi lewat waktu yang ia sisihkan untuk membaca Alkitab dan berdoa membangun intimacy with GOD, bersekutu dan berusaha menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berkenan bagi TUHAN, berusaha mencari dan mendapatkan informasi dari sumber-sumber lain yang dapat membangun keimanan rohaninya.

Jadi tak benar rasanya jika keimanan seseorang itu di ukur hanya dengan seberapa sering mereka beribadah saja, menurut saya ada hal-hal atau point-point yang lain yang menentukan kadar rohani seseorang ,saya pernah mendengar hamba TUHAN yang berkata: orang yang jarang ke gereja itu kebenaran yang mereka dapat “pasti salah!” ,wow! ...jujur saya sedikit gusar dengan pernyataan yang agak sedikit menghakimi ini, pertanyaan saya apakah orang yang sering ke gereja itu semua benar-benar sudah hidup kudus dan berkenan di hadapan TUHAN?... dan bisa dipertanggungjawabkan? ... dan apakah orang yang jarang ke gereja itu lebih hancur kehidupan rohaninya?...

Dan jika kalau memang di gereja itu sudah menjadi rumah orang-orang yang mempunyai kebenaran yang utuh maka seharusnya “KEBENARAN“ itu disebarkan dan menjadi dampak untuk orang-orang yang berada di sekitarnya, ’jangan menerangi tempat yang sudah terang, jadi bagikanlah terang itu di tengah-tengah kegelapan!’ itu lebih baik dan ngefect menurut saya daripada mendeclare diri sebagai orang-orang yang mengaku mempunyai “kebenaran yang lebih utuh” di antara yang lain itu terlalu naif.

Dan ada juga beberapa hal yang perlu di klarifikasi tentang perubahan karakter seseorang jika ada seorang yang berkata: karakter seseorang itu hanya bisa diubah oleh dirinya sendiri karena adanya kemauan dan niat dari dirinya sendiri dan tanpa ada niat tersebut itu mustahil, hei kita mah apaan atuh? Tanpa TUHAN..?! berarti anda tidak percaya kuasa TUHAN... dan itu berarti juga sama saja mengandalkan kekuatan sendiri, bagaimana mungkin jika seandainya seseorang mau berubah taruhlah dia sudah ada niat untuk berubah tapi tanpa ada kasih karunia dari TUHAN apakah bisa berubah?? Saya rasa juga tidak akan bisa berubah, dan ini yang disebut GRACE (Anugerah ) dan TUHAN mengasihi semua orang di dunia ini tanpa terkecuali buktinya DIA mati di kayu salib untuk kita semua, DIA tidak memilih-milih siapa saja orang-orang yang DIA kasihi, keselamatan itu untuk semua orang, tinggal orangnya saja mau merespon dengan baik atau tidak.

Sumber: samuel
Situs Anda: samnotgain_blog