Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereHidup Baru dalam Kristus (Regenerasi)

Hidup Baru dalam Kristus (Regenerasi)


Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah Minggu Pagi di GBAP El Shaddai Palangka Raya 04 November 2012

2 Korintus 15:17 “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang”

Pendahuluan

Dasar dari ajaran perlunya hidup baru (regeneration) adalah anggapan tentang natur keberdosaan manusia. Manusia telah mati secara rohani sehingga memerlukan kelahiran kembali atau hidup baru secara rohani. Akibat dari dosa pertama Adam dan Hawa, citra Allah dalam diri manusia telah tercoreng dan mengakibatkan dosa masuk dan menjalar kepada setiap manusia (Roma 3:10-12, 23; 5:12). Adam dan Hawa telah membuat dosa menjadi aktual pada saat pertama kalinya di Taman Eden, sejak saat itu natur dosa telah diwariskan kepada semua manusia (Roma 5:12; 1 Korintus 15:22). Manusia telah rusak total (total depravity). Yang dimaksud dengan kerusakan total adalah (1) kerusakan akibat dosa asal menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk pikiran, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15), dan (2) secara natur, tidak ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk berhadapan dengan Allah yang benar (Roma 3:10-12). Yang dimaksud dengan kerusakan total bukanlah berarti (1) bahwa setiap orang telah menunjukkan kerusakannya secara keseluruhan dalam perbuatan, (2) bahwa orang berdosa tidak lagi memiliki hati nurani dan dorongan alamiah untuk berhubungan dengan Allah, (3) bahwa orang berdosa akan selalu menuruti setiap bentuk dosa, dan (4) bahwa orang berdosa tidak lagi mampu melakukan hal-hal yang baik dalam pandangan Allah maupun manusia.

Jadi, manusia dalam natur lamanya yang berdosa tidak menyadari dan tidak mampu menanggapi hal-hal rohani dari Allah. Manusia bukan hanya tidak mampu melakukan apapun untuk mengubah natur maupun keadaan keberdosaannya (Roma 3:9-20). Maka jelaslah bahwa manusia memerlukan suatu perubahan yang radikal dan menyeluruh yang memampukannya untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan.

Arti Regenerasi

Regenerasi adalah perubahan yang radikal dan seketika yang diperlukan untuk memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Regenerasi merupakan suatu perubahan radikal dari kematian rohani menjadi kehidupan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Kita tidak memiliki peran apapun dalam kelahiran baru ini; sepenuhnya merupakan tindakan Allah. Sebab jika kita telah mati secara rohani, bagaimana mungkin orang mati dapat bekerjasama dengan Allah untuk menghidupkan dirinya sendiri? (Efesus 2:5). Kata Yunani “palingensia” muncul dalam Matius 19:28 dengan kata penciptaan kembali dan dalam Titus 3:5 diterjemahkan dengan kata kelahiran kembali. Kata ini berkaitan dengan pribadi seseorang dan juga alam semesta serta bersifat eskatologi. Kata Yunani yang berhubungan dengan perubahan dan dilahirkan oleh Roh Kudus adalah “anothen” dan “gennao” yang berarti memperanakkan atau melahirkan kembali (Yohanes 3:3-8; Galatia 4:9). Beberapa sebutan untuk regenarasi antara lain : (1) Hati yang baru (Yehezkiel 36:26). (2) Ciptaan baru (2 Korintus 5:17). (3) Sunat hati (Roma 2:29; Kolose 2:11). (4) Batin yang diubah (Roma 7:22; 2 Korintus 4:16).

Natur Esensi dari Regenerasi

Regenerasi merupakan suatu perubahan radikal dari kematian rohani menjadi kehidupan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus yang memampukan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Manusia tidak memiliki peran apapun dalam kelahiran baru ini; sepenuhnya merupakan tindakan Allah. Berdasarkan definisi tersebut, ada empat natur esensial dari regenerasi:

1. Regenerasi merupakan perubahan yang terjadi secara seketika. Regenerasi bukan suatu proses bertahap seperti pengudusan yang progresif, tetapi terjadi seketika. Paulus mengatakan, “telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita -- oleh kasih karunia kamu diselamatkan --” (Efesus 2:5). Di sini, kata kerja yang diterjemahkan “menghidupkan” adalah “synezoopoiesen”, memakai bentuk aorist tense yang berarti tindakan yang seketika atau sekejap.

2. Regenerasi merupakan perubahan yang supernatural Kelahiran baru bukan merupakan peristiwa yang dapat dilaksanakan oleh manusia (Yohanes 3:6). Kelahiran baru sepenuhnya merupakan tindakan Allah. Secara khusus merupkan karya Roh Kudus.

3. Regenerasi merupakan perubahan yang radikal. Istilah radikal bersal kata Latin “radix” yang berarti “akar”, sehinga regenerasi merupakan suatu perubahan pada akar natur kita. Dengan demikian regenerasi berarti: (a) penanaman (pemberian) kehidupan rohani yang baru, karena pada dasarnya manusia telah mati secara rohani (Efesus 2:5; Kolose 2:13; Roma 8:7-8); (b) perubahan yang total yaitu perubahan mempengaruhi seluruh keberadaan kepribadian, yaitu pikiran, hati nurani, kehendak, emosi. Alkitab menyebutnya sebagai pemberian “hati yang baru” (Yehezkiel 36:26). Hati menurut Alkitab adalah inti rohani dari satu pribadi, pusat dari seluruh aktivitas; sumber yang darinya mengalir semua pengalaman mental dan spiritual, berpikir, merasakan, menghendaki, mempercayai, dan sebagainya (Bandingkan dengan Matius 15:18-19).

4. Regenerasi adalah awal dari seluruh proses pembaharuan. Karena regenerasi merupakan pemberian hidup yang baru, maka artinya regenerasi merupakan awal dari proses-proses pembaharauan hidup. Dengan demikian, orang yang lahir baru telah mengalami langkah pertama dari pembaharuan. Proses-proses pembaharuan hidup yang mengikuti regenerasi itu bersifat progresif dan disebut “pengudusan yang dinamis”. Paulus mengingatkan “..karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya” (Kolose 3:9-10). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah lahir baru kita harus terus menerus mengalami proses pengudusan mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani. Alkitab menyebutnya dengan istilah “pengudusan” yang dinamis atau pengudusan yang progresif (1 Tesalonika 5:23; Ibrani 10:14; 2 Petrus 3:18)

Akibat dari Regenerasi

Regenerasi merupakan misteri karena merupakan karya Allah semata-mata dan kita tidak pernah dapat melihat dan merasakan; kita tidak pernah tahu persis kapan regenerasi itu terjadi. Kita hanya dapat mengamati efek-efek dari regenerasi itu saja; dan mengamati bukti-bukti dari perubahan yang terjadi. Berikut ini akibat-akibat dari kelahiran kembali.

1. Memampukan seseorang untuk bertobat dan percaya. Pada saat seseorang dilahirkan baru maka ia dimampukan bertobat dari dosa-dosanya dan percaya kepada Kristus untuk keselamatannya. Seseorang dapat memberi respon di dalam pertobatan dan iman hanya setelah Tuhan memberikan kehidupan yang baru kepadanya. Bertobat dan percaya disebut dengan istilah perpalingan (convertion). Bertobat merupakan suatu keputusan sadar untuk berpaling dari dosa-dosa dan iman berarti berpaling kepada Kristus untuk mengampuni dosa-dosa. Jenis iman ini mengakui bahwa seseorang tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri dan pada saat yang sama mengakui hanya Kristus yang dapat melakukannya (Yohanes 6:44).

2. Perubahan atau transformasi. Kelahiran baru oleh Roh Kudus mengakibatkan perubahan. Kelahiran baru ini tidak disadari atau tidak dirasakan saat terjadi, tetapi dapat diamati lewat kepekaan baru terhadap hal-hal rohani, arah hidup yang baru, serta kemampuan untuk hidup benar dan menaati Allah. Perubahan ini meskipun tidak disadari, menghasilkan hati (kardia) yang diubahkan yang memimpin kepada karakter yang diubahkan dan kemudian menghasilkan hidup yang diubahkan (2 Korintus 5:17). Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa setelah lahir baru kita harus terus menerus mengalami proses pengudusan mencakup pengudusan pikiran, kehendak, emosi, dan hati nurani. Alkitab menyebutnya dengan istilah “pengudusan” (1 Tesalonika 5:23; Ibrani 10:14; 2 Petrus 3:18).

3. Pembaharuan pikiran. Paulus dalam Roma 12:2 mengatakan “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna”. Kata Yunani “nous” yang digunakan di sini berarti “akal budi atau pikiran”. Pembaharuan nous adalah syarat untuk bisa mengenal dan melakukan kehendak Allah. Apa yang diyakini oleh pikiran (nous) akan mempengaruhi perilaku (behavior) seseorang (Rm 14:1-8). Pembaharuan akal budi (nous) akan menghasilkan perubahan perilaku (behavior transformation). Yang dimaksud dengan perilaku (behavior) ialah karakter, sikap, perbuatan atau tindakan seseorang yang dapat dilihat (visible), diamati (observable), dan dapat diukur (measurable). Jadi, perubahan perilaku akan teraktualisasi dalam sikap, tindakan dan perbuatan karena telah mengalami pembaharuan nous (Efesus 4:17-32).

4. Menghasilkan buah Roh. Baptisan Roh Kudus mengakibatkan kita mampu menghasilkan buah Roh Kudus (Galatia 6:22-23). Buah Roh Kudus di sini ditulis dalam bentuk tunggal yaitu kata Yunani “karpos”. Walaupun buah Roh itu satu (bentuknya), tetapi majemuk (sifatnya). Kesatuan dan banyak segi dari buah Roh ini mencerminkan integritas dan keharmonisan. Dengan kata lain buah Roh Kudus hanya satu, tetapi memiliki sembilan rasa. Buah Roh Kudus berasal dari dalam dan tidak ditambah dari luar. Ini adalah hasil kehidupan baru saat orang percaya dibaptis Roh Kudus.

5. Relasi yang baru. Regenerasi yang dikerjakan Roh Kudus membawa orang percaya dalam relasi yang baru dengan Tuhan, suatu relasi yang akrab dan dinamis. Relasi yang akrab, karena kita dijadikan sebagai anak-anak Allah, dan kita memanggil Allah sebagai Bapa kita. Paulus mengatakan, “.. Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!” (Roma 8:15); Relasi yang dinamis, karena Ia menyertai kita senantiasa, dan bekerja di dalam dan melalui orang percaya. Tuhan Yesus mengatakan “yaitu Roh Kebenaran... kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:17).

6. Arah yang baru. Regenerasi memampukan seseorang untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Regenerasi memampunya untuk mengenal dan melakukan kehendak. Orang-orang yang telah lahir baru sekarang berjalan dan hidup didalam terang (Yohanes 3:21; Roma 13:12; Efesus 5:9; 1 Yohanes 1:7).

7. Menerima Karunia Roh Kudus. Roh Kudus yang melahirbarukan juga memberikan karunia-karunia Roh kepada setiap orang percaya, dimana setiap orang memiliki karunia yang berbeda (1 Korintus 12:7-11; Rm. 12:3-9). Kata Yunani untuk “karunia-karunia” adalah “charismata” bentuk tunggalnya “charis”. Tujuan dari karunia-karunia Roh adalah memampukan orang-orang percaya untuk melakukan berbagai bentuk pelayanan guna pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian tidak satupun dari orang percaya yang tidak diberi karunia Roh.

8. Menjadi anggota Tubuh Kristus. Pada saat seseorang dilahirkan baru maka seketika ia menjadi bagian dari anggota tubuh Kristus (1 Korintus 12:13). Berdasarkan 1 Korintus 12:13, tujuan dari baptisan Roh Kudus adalah untuk menempatkan orang-orang percaya ke dalam tubuh Kristus. Semua orang percaya disebutkan sebagai objek baptisan, Roh Kudus merupakan “unsur” yang ke dalam mana atau dengan (en) mana mereka dibaptiskan, dan tujuan baptisan adalah agar orang-orang percaya dapat membentuk satu tubuh (eis hen sõma). Tubuh Kristus ini disebut dengan gereja (ekklesia) baik yang tidak kelihatan (gereja universal) maupun yang kelihatan (gereja lokal). Jika kita membaca seluruh Kisah Para Rasul maka kita mendapat pengertian betapa pentingnya gereja lokal bagi setiap orang yang lahir baru. Jelas sekali, bahwa sesudah menerima Tuhan, orang-orang selalu akan bergabung menjadi anggota suatu gereja lokal. Kita juga mendapatkan bahwa tidak seorangpun yang belum diselamatkan yang berhak bergabung menjadi anggota jemaat lokal, dan tidak seorangpun yang sudah diselamatkan yang tidak mempunyai tempat tinggal (penampungan) rohani. Bahkan rasul Paulus sendiri, misionaris yang ternama itu, tetap tergabung dan mempunyai hubungan erat dengan gereja lokal Antiokhia yang mengutusnya.

Penutup

Manusia dalam natur lamanya yang berdosa tidak menyadari dan tidak mampu menanggapi hal-hal rohani dari Allah. Manusia juga tidak mampu melakukan apapun untuk mengubah natur maupun keadaan keberdosaannya (Roma 3:9-20). Maka jelaslah bahwa manusia memerlukan suatu perubahan yang radikal dan menyeluruh yang memampunkannya untuk dapat kembali melakukan hal yang benar menurut pandangan Tuhan. Akibat dari dosa warisan atau dosa asal, maka manusia mengalami kematian rohani yang ditandai dengan terputusnya / terpisahnya hubungan dengan Allah dalam kehidupan sekarang ini (Yohanes 5:24; Roma 5:12-21; 8:6; Efesus 2:1; 1 Timotius 5:6). Jika hal ini tidak berubah dalam diri manusia di sepanjang hidupnya, maka kematian kekal atau kematian yang kedua akan menyertainya (wahyu 20:11-15). Kematian kekal dimana manusia akan dibuang ke tempat yang gelap dan penuh dengan siksaan yang akhirnya membawa mereka jauh dari hadirat Allah untuk selama-lamanya (Matius10:28; 25:41; 2 Tesalonika 1:9; Ibrani 10:31; Wahyu 14:11; 20:11-15).

Jalan keluar bagi dosa warisan atau dosa asal ini adalah hidup baru di dalam Kristus. Pemberian hidup baru ini merupakan solusi bagi kematian rohani manusia. Orang-orang yang telah lahir baru adalah bagian dari ciptaan baru Allah. Mereka telah menjadi ciptaan baru dalam Kristus (2 Korintus 5:17; Efesus 2:10) dan karunia Roh Kudus memberi kuasa kepada orang percaya sehingga dapat hidup bebas kekuasan hidup lama (Galatia 5:16-25).

Referensi:

Chamblin, J. Knox., 2006. Paul and The Self: Apostolic Teaching For Personal Wholeness. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Enns, Paul., 2004.The Moody Handbook of Theology, jilid 2. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT : Malang
Erickson J. Millard., 2003. Christian theology. Jilid 2 & 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Grudem, Wayne., 1994. Systematic Theology: A Introduction to a Biblical Doctrine. Zodervan Publising House : Grand Rapids, Michigan.
Gutrie, Donald., 1991 New Testamant Theology, Jilid 1, diterjemahkan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Hoekema, Anthony A., 2010. Saved By Grace. Terjemahan, Penerbit Momentum : Jakarta.
Ladd, George Eldon., 1999. A Theology of the New Tastament, Jilid 1 & 2, Terjemahkan, Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
Milne, Bruce., 1993. Knowing The Truth : A Handbook of Christian Belief. Terjemahan (1993). Penerbit BPK : Jakarta.
Morris, Leon., 2006. New Testamant Theology. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Sproul, R.C., 1997. Essential Truths of the Christian Faith. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Ridderbos, Herman., 2004. Paul: An Outline of His Theology. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.

* Pdt. Samuel T. Gunawan adalah seorang Protestan-Kharismatik, Pendeta dan Gembala di GBAP Jemaat El Shaddai; Pengajar di STT IKAT dan STT Lainnya.

Tinggalkan Komentar