Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereWanita / Hakekat Perempuan

Hakekat Perempuan


Penulis : Bagus Pramono

1. A. DASAR PENCIPTAAN PEREMPUAN :
Kejadian 1:26-28, 1:26 Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." 1:27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 1:28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."

Kejadian 2:18-24, 2:18 TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." 2:19 Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 2:20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 2:21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 2:22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 2:23 Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." 2:24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.

HAWA
Pertama kali Adam menyebut Hawa sebagai ´isysa´ sebab ia diambil dari laki-laki (Kej 2:23). Dan kemudian Adam menyebutnya Hawa, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Allah mempunyai maksud dalam penciptaan Perempuan adalah sebagai "penolong yang sepadan". Apa maksud Allah mengambil "rusuk" bukan mengambil dari bagian kepalanya atau bagian dari kaki-nya? Jika diambil dari bagian kepala bisa jadi Perempuan akan berkuasa atas Adam. Dan jika diambil dari bagian kaki, Allah tidak merancangkan Perempuan sebagai tempat injakan laki-laki. Melainkan Perempuan adalah penolong yang "sepadan" bagi laki-laki. Allah sudah merencanakan sesuatu yang mulia. Allah tidak menempatkan kaum perempuan lebih rendah daripada laki-laki.

1.B . PERBEDAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

1.B.1. FISIK
Kejadian 2:18-23. Laki-laki dan perempuan diciptakan dalam perbedaan fisik. Tujuan perbedaan ini adalah untuk saling melengkapi. Dalam perbedaan ini memberikan hasil untuk kelangsungan kehidupan, ini sudah didalam rancangan Allah :

Bentuk fisik antara laki-laki dan perempuan, kita semua sudah bisa membedakan. Dari perbedaan fisik tersebut Laki-laki dan perempuan mempunyai fungsi yang berbeda :

Fungsi Laki-laki : Memberikan benih Fungsi Perempuan : Memelihara pertumbuhan

Secara umum fisik laki-laki lebih kuat dibanding perempuan, ini melambangkan fungsinya sebagai pelindung.

1.B.2. TUNTUTAN BUDAYA
Tiap budaya dan jaman memiliki tuntutan yang berbeda-beda. Biasanya tuntutan seperti ini sudah diterapkan sejak mereka kecil. Untuk kebudayaan kita di Indonesia, Tuntutan masyarakat terhadap Laki-laki: laki-laki harus to be number one dalam persaingan. Berpikir secara strategi dan problem solver. Tuntutan masyarakat terhadap perempuan: orientasi relasional, melayani orang lain.

2.B.3. KEBUTUHAN
Seorang pria dan wanita pada dasarnya mempunyai kebutuhan yang berbeda karena Tuhan mencipta pria sebagai kepala dan wanita sebagai seorang penolong yang sepadan. Seorang pria akan sangat membutuhkan dihormati karena bernatur kepala, sehingga ketika ia tidak dihormati maka ia akan mengalami problematik psikologis, identitas dan akhirnya ia akan mengambil keputusan yang tidak beres. Justru ketika pria itu tidak dihormati, ia akan mengambil tindakan yang drastis terhadap isterinya. Namun jikalau istrinya dapat menghormatinya, ia akan maju dan isterinya akan sungguh-sungguh menikmati cinta kasih yang sejati.

Efesus 5:33, Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya. Kolose 3:18-19, 3:18. Hai isteri-isteri, tunduklah kepada suamimu, sebagaimana seharusnya di dalam Tuhan. 3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.

1.B.4. PERAN
Efesus 5:22-23, 5:22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 5:23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh.

Panggilan Allah bagi laki-laki adalah menjadi pemimpin: Head of the family, menjadi cerminan kasih Kristus kepada jemaat. Mendidik istri dan anak-anaknya untuk melakukan pekerjaan dengan bertanggungjawab. Servanthood, pelayanan dalam melayani istri dan keluarga.

Panggilan Allah terhadap istri adalah submissive/tunduk: Sebagai penolong yang sepadan, mengerjakan segala sesuatu sehingga suami bisa menjadi pemimpin yang baik.

1.B.5 GENDER
Gender berasal dari bahasa Latin, yaitu "genus", berarti tipe atau jenis. Gender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya.

PERBEDAAN SEKS DENGAN GENDER

Gender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat, sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan. Misalnya laki-laki memproduksi sperma dan memberikan benih, sementara perempuan mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui.

INTERAKSI ANTAR GENDER

Hubungan gender ialah hubungan sosial antara laki-laki dengan perempuan yang bersifat saling membantu atau sebaliknya. Hubungan gender berbeda dari waktu ke waktu, dan berbeda antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, akibat perbedaan suku, agama, status sosial maupun nilai (tradisi dan norma yang dianut).

KETIDAK-ADILAN ATAS DASAR GENDER :

Ketidakadilan gender merupakan bentuk perbedaan perlakuan berdasarkan gender, seperti pembatasan peran, dan penindasan terhadap hak-haknya.

Bentuk-bentuknya adalah sebagai berikut :

  • Marginalisasi (peminggiran) : Peminggiran terjadi dengan adanya asumsi perempuan lebih tidak mampu melakukan pekerjaan formal dibanding laki-laki.
  • Subordinasi (penomorduaan): Perempuan dianggap lemah, tidak mampu memimpin, cengeng dan lain sebagainya, mengakibatkan perempuan ditempatkan menjadi nomor dua setelah laki-laki
  • Stereotip (citra buruk) : Pandangan buruk terhadap perempuan. Misalnya perempuan yang pulang larut malam adalah pelacur, jalang dan berbagai sebutan buruk lainnya. Anehnya perlakuan ini juga dilakukan oleh sebagian besar kaum perempuan terhadap kaumnya sendiri.
  • Violence (kekerasan), yaitu serangan fisik dan psikis. Perempuan adalah pihak paling rentan mengalami kekerasan. Perkosaan, pelecehan seksual atau perampokan contoh kekerasan paling banyak dialami perempuan.

Sebagian perempuan juga mempunyai beban kerja berlebihan, yaitu tugas dan tanggung jawab perempuan yang berat dan terus menerus. Misalnya, seorang perempuan selain melayani suami, hamil, melahirkan, menyusui, juga harus menjaga rumah, dan mengurus anak-anak. Disamping itu, kadang ia juga ikut mencari nafkah.

1.C. APAKAH PEREMPUAN SUMBER DOSA?

Kejadian 3:1-6 MANUSIA JATUH KE DALAM DOSA
3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?" 3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, 3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati." 3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: "Sekali-kali kamu tidak akan mati, 3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.

Sering kali perempuan (Hawa) dianggap sebagai biang keladi kejatuhan manusia dalam dosa. Jika demikian perempuan dianggap lebih bodoh daripada laki-laki, karena dengan mudah ditipu oleh ular. Ayat 1 mengatakan bahwa ular merupakan binatang yang paling cerdik.

Benarkah perempuan biang keladi terhadinya dosa mula-mula? A340ah Hawa itu manusia bodoh dan lemah sehingga gampang ditipu? Untuk menjawab pertanyaan ini timbul pertanyaan selanjutnya "di manakah laki-laki (Adam) saat perempuan (Hawa) sedang bercakap-cakap dengan ular?".

Bukankah yang menerima amanat larangan memetik buah pengetahuan akan yang baik dan yang jahat adalah Adam (laki-laki)? Disini Adam (laki-laki) tidak menempatkan dirinya menjadi pengemban amanat Allah. Adam hanya pasif. Ketika perempuan itu menyodorkan buah petikannya kepada laki-laki, ia langsung memakannya tanpa bertanya ini-itu. Padahal laki-laki tahu persis bahwa itu dilarang.

Allah memberikan teguran dan kutuk kepada Adam :

Kejadian 3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan 2perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:

Dosa yang fatal yang menyebabkan Adam terusir hanya karena "telinga" yang salah mendengar dan tidak mengkonfirmasikan ulang.

Sebaliknya perempuan digambarkan berperan aktif. Ini sesuai dengan keberadaannya yang sepadan dengan laki-laki (Kejadian 2:18-25). Perempuan itu dikisahkan sedang berdiskusi secara serius dengan ular. Mereka saling berargumentasi. Yang namanya berargumentasi tentunya menggunakan otak. Maka perempuan bukanlah sebagai makhluk yang bodoh. Karena dalam hal ini laki-laki tidak tampak peranannya. Namun tindakan ini mengakibatkan kesalahan fatal, karena Hawa berjalan sendiri tanpa Adam.

Dilain pihak, Laki-laki dalam hal ini bersikap "pasif" Adam hanya menunggu makanan yang dipersiapkan oleh perempuan. Ketika Allah meminta pertanggungan-jawab laki-laki itu malahan melempar kesalahan kepada perempuan. Jadi sebenarnya siapakah yang salah? Di sini sebenarnya bukan persoalan siapa yang bodoh atau siapa yang salah dan siapa yang teledor, karena bagaimanapun laki-laki dan perempuan diciptakan sepadan. Allah menghukum manusia bukan karena kesalahan perempuan saja, tetapi kesalahan manusia laki-laki dan perempuan.

Keduanya bersalah.

1.D. BERKAT BAGI PEREMPUAN
Akibat dosa, manusia terpisah dari Allah. Namun selanjutnya kitab Kejadian menulis bahwa benih perempuan akan meremukkan kepala kepala ular, melalui Perempuan akan datang sang penebus dosa "Yesus Kristus"

Kejadian 3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya."

Melalui perempuan, jalur perdamaian antara Allah dan manusia yang rusak akibat dosa dipulihkan dengan lahirnya Yesus Kristus.

Kaum perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai pemeliara pertumbuhan (keturunan/ chain of life). Peran sebagai ibu adalah hal yang menakjubkan. Ibu dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan sebagai ibu telah masuk ke dalam "rekan sekerja" dengan Bapa kita di Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang juga merupakan pewaris kerajaan Surga ini.

Anak-anak yang dikaruniakan adalah berkat dari surga. Dengan demikian seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan dalam pertumbuhan mereka di dunia ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang ibu. Bukankah ini tugas mulia?

Sebagai rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus mendidik anak-anaknya sejak kecil :

Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.

Pepatah bijak lainnya mengatakan, "Jika rantingnya bengkok, maka pohonnya pun menyusut"

Ajarlah anak-anak sejak mereka masih kecil, dan jangan pernah menyerah. Sepanjang mereka berada di rumah, biarkan mereka menjadi perhatian utama. Ajarlah mereka untuk mencari teman-teman yang baik. Mereka akan memiliki teman- teman yang baik dan tidak baik. Melalui pegaulan antar-teman mereka akan membuat perbedaan yang cepat dalam kehidupan mereka. Adalah penting agar mereka mengembangkan suatu sikap toleransi terhadap semua orang, tetapi yang lebih penting adalah mereka dapat berkumpul di sekitar orang- orang yang baik yang akan mendatangkan kebaikan bagi mereka. Kalau tidak mereka dapat tercemar oleh cara-cara teman mereka.

Ketika anak-anak beranjak remaja-dewasa, ini adalah hal yang cukup sulit bagi para orang tua untuk mendidik mereka, sebab ada banyak hal yang dianggap sebagai tren gaul, padahal dampaknya buruk sekali contohnya : pergaulan bebas, begadang, mentato tubuh, minuman keras, narkoba dan seks bebas dan sebagainya. Ajari mereka untuk menghormati tubuh mereka. Bahwa tubuh kita adalah Bait Allah yang kudus.

1 Korintus 3:16-17 3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu? 3:17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu"

Ajarlah mereka untuk menjadi manusia yang baik. Ajarlah remaja putra kita untuk menghormati remaja putri sebagai para putri Allah. Ajari para putri Anda untuk menghargai remaja putra, karena anak-anak lelaki yang memegang imamat, adalah anak-anak lelaki yang hendaknya dan harus menentang kejahatan- kejahatan yang dunia yang tidak berarti.

Ajarlah mereka untuk berdoa. Tidak seorang pun di antara kita cukup bijak untuk melakukannya sendiri. Kita memerlukan pertolongan, kebijaksanaan, bimbingan dari Roh Kudus dalam mengambil keputusan-keputusan yang amat penting dalam kehidupan kita. Tidak ada yang dapat menggantikan doa. Tidak ada sumber yang lebih besar dari kekuatan Tuhan.

Perempuan bersama Laki-laki tentunya (ayah-ibu) bersama-sama memegang sebuah mandat dari Tuhan untuk menyediakan pembelajaran terhadap anak-anak yang dilahirkan. Hal itu akan memberkati kehidupan mereka sekarang dan di tahun- tahun yang akan datang. Apabila kita semua melaksanakan tugas mulia ini maka kita dapat menyatakan dengan rasa syukur sebagaimana yang dilakukan Yohanes :

3 Yohanes 1:4 Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

Tinggalkan Komentar