Menyelamatkan Bumi Melalui Gereja

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Penulis : Gurgur Manurung

Kita seringkali mendengar pemanasan global di media elektronik dan media cetak. Hutan dibababat orang-orang nakal yang sering disebut illegal logging. Kita dikejutkan dengan berhasilnya departemen kehutanan bersama aparat keamanan menyelamatkan triliunan rupiah uang negara dari penangkapan illegal logging di Papua baru-baru ini. Kita juga dikejutkan kasus Teluk Buyat yang kontraversi itu. Kita tahu tragedy banjir bandang di Bukit Lawang kabupaten Karo provinsi Sumatera Utara. Hal itu semua terjadi akibat ulah rakusnya manusia. Hal itu tidak terjadi apabila manusia memahami keseimbangan alam. Apakah kita pernah membicarakan krisisnya bumi ini di Gereja?. Seberapa jauh Gereja peduli tentang hal itu?. Atau, jangan-jangan penghuni Gereja yang terlibat orang-orang rakus itu. Dan, apakah mereka para penyumbang bagunan Gereja?. Sudah berapa banyak Gereja yang menyuarakan jemaatnya agar memelihara bumi?. Jangan-jangan para pendeta masih mengkotbahkan “kuasailah bumi?. Kuasailah bumi dalam pengertian apa yang disampaikan para pendeta?. Sudah berapa kali pendeta kita mengkhotbahkan keseimbangan alam?

[block:views=similarterms-block_1]

Sebenarnya apakah krisisnya bumi menjadi tugas Gereja?. Bukankah itu tugas negara?. Bagaimana sebenarnya konsep yang benar?. Konsep yang benar dalam hal ini agaknya sulit kita cari, karena masih jarang kita dengar. Kita patut prihatin melihat Gereja yang masih sibuk mengurus dirinya sendiri tanpa ada tanda-tanda yang menggembirakan.

Dari pengamatan saya, baru satu kali pernah terjadi Gereja secara institusi bersuara akibat krisis lingkungan. Hal itu pernah dilakukan secara kolektif oleh para pemimpin Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Gereja Kristen Batak Simalungun (GKPS), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA) untuk menolak almarhum PT.Inti Indorayon Utama (PT IIU) tatkala mau berubah nama menjadi PT.Toba Pulp Lestari (PT.TPL). Itupun tatkala masyarakat Porsea telah menderita.

Secara umum Gereja bertugas untuk membina Jemaatnya untuk taat kepada Firman Tuhan dan kemudian para jemaat menjadi garam terang ditengah-tengah dunia yang penuh kemunafikan ini. Dalam pembinaan itu berfungsi untuk mendorong para Jemaat untuk mengabarkan Injil dimana dan kemana jemaat akan pergi. Kenyataanya, kini penginjilan semakin hari semakin tidak menggema. Kadang pemahaman pluralisme dianggap sebagai toleransi untuk tidak mengabarkan Injil. Semangat pluralisme dianggap seolah-olah melupakan kita akan pentingnya pemberitaan Injil. Bahkan, kita tidak jarang mendengar teologia yang mengatakan bahwa ada keselamatan di luar Kristus. Jikalau ada keselamatan di luar Kristus, untuk apa kita mengabarkan Injil Kristus?. Disini saja Gereja kini memiliki masalah yang sangat besar. Disatu sisi Gereja yang memiliki semangat penginjilan, seringkali lupa akan pembinaan Jemaat untuk melestarikan keseimbangan alam. Disisi lain Gereja yang lupa penginjilan sangat semangat menyuarakan pelestarian lingkungan walaupun masih tahap wacana. Pola hidup kedua Gereja ini belum pada tahap yang ideal sebagai umat Allah. Kita sangat jarang melihat Gereja yang semangat penginjilan yang tinggi menunjukkan jemaat dengan pola hidup sederhana. Celakanya, ada Gereja yang menawarkan kemakmuran hidup dengan mengatakan mengikuti Yesus hidup adalah mapan secara ekonomi, sebab kemiskinan adalah kutuk. Saya pribadi sangat miskin secara materi. Apakah saya ini kutuk dari Allah?. Saya kira pendapat ini sungguh memprihatinkan. Di tengah kemiskinan materi yang saya miliki, tiap hari, jam, menit, detik saya selalu mengucap syukur karena kebaikan Tuhan. Apakah pemilik materi lebih bahagia dari hidup saya?. Bagi saya, kesederhanaan hidup, memberi hidup bagi sesama adalah syarat untuk menyelamatkan bumi yang diobok-obok para konsumerisme. Kerusakan alam telah menimbulkan berbagai penyakit, kemiskinan kelompok masyarakat pinggiran, penggundulan hutan telah memiskinkan masyarakat di sekitar hutan. Sementara hasil hutan dinikmati para konsumerisme yang umumnya tinggal di perkotaan.

Melihat semakin kritisnya alam, khususnya di Indonesia maka Gereja harus terpanggil memberikan kontribusi. Kita harus sadar, bahwa kerusakan lingkungan bersumber dari perilaku manusia. Perilaku kolektif manusia yang konsumtif telah mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kita memahami bahwa bumi ini menjadi tanggungjawab kita kepada Tuhan. Oleh sebab itu, pelestarian bagi umat Kristus semestinya bagian yang tidak terpisahkan dari Penginjilan. Jikalau kita telah menerima Injil Yesus Kristus, semestinya kita menjadi pelopor untuk melestarikan lingkungan hidup dengan cara memulai diri sendiri, komunitas Kristen yang kemudian bersama-sama dengan umat lain untuk melestaraikan lingkungan hidup.

BAGAIMANA HARUS MEMULAINYA?.

Saya sudah menjelaskan bahwa penyelamatan lingkungan adalah perilaku, maka gaya hidup kita sehari-hari harus berubah. Dimulai dari kebutuhan makan, minum, perjalanan, tidur, mandi dan lain sebagainya. Dengan kata lain segala aktifitas kita harus mempertimbangkan ramah lingkungan atau tidak. Misalnya, jika anda mau membeli pulsa telepon genggam apakah lebih memilih pulsa elektronik dibandingkan voucher yang memiliki sampah puluhan tahun baru hilang. Jika anda mau membeli makanan, cobalah pikirkan sampah mana yang paling sedikit atau memilih yang sampahnya bisa di recycling, reuse, dan direcovery. Waktu membeli minuman, apakah anda lebih memilih produk yang ramah lingkungan atau tidak. Singkatnya, pilihlah kebutuhan kita sehari-hari atau usahakan membeli produk yang sampahnya sangat minimal bahkan yang tidak memiliki sampah menahun.

Kita sadar, bahwa petunjuk pemerintah kita kepada masyarakat dalam memilih mana produk yang ramah lingkungan atau tidak belum memadai, tapi sebelum itu muncul sebagai orang yang menerima Injil harus menjadi pionir dalam melestarikan lingkungan.

Jika kita sudah memulai menyelamatkan lingkungan dari selektifnya kita untuk kebutuhan pribadi dan keluarga, kemudian kita sudah mulai berbicara untuk kalangan Gereja kita. Apakah kebutuhan Gereja kita sudah mempertimbangkan ramah lingkungan?. Mulai dari kertas, kebutuhan listrik, investasi seperti kendaraan, dan perilaku jemaat sudah ramah lingkungan?. Masihkah perilaku jemaat kita lebih menonjolkan kemewahan daripada ramah lingkungan?. Misalnya, apakah makanan untuk rapat atau kegiatan Gereja lebih memilih produk dalam negeri dengan mempertimbangkan agar ekonomi masyarakat lokal meningkat?. Seperi lebih memilih pepaya, apel Malang, jeruk berastagi agar petani pepaya, jeruk Berastagi dan apel Malang itu ekonominya meningkat?. Mulailah kita mempengaruhi jemaat yang lain, sehingga Gereja menunjukkan suasana yang sederhana dan pionir untuk menyelamatkan bumi dan peduli sesamanya. Jadi, jika seseorang warga jemaat masih bergaya kemewahan, dengan sendirinya berubah menjadi menunjukkan kesederhanaan.