Manusia dalam Fatamorgana Dunia

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh : Yon Maryono

Fatamorgana merupakan sebuah fenomena yang biasanya terjadi di tanah lapang luas seperti padang pasir. Suatu bayangan genangan air yang semu, tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. Keinginan duniawi juga sangat mirip dengan ‘FATAMORGANA’, orang yang kehausan menyangkanya sebagai air, padahal jika ia mendekatinya ia tidak akan mendapati sesuatu pun.

Firman Tuhan dalam 1Yohanes 2:15-17 mengatakan: Janganlah kamu mengasihi dunia, dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Hal itu tidak berarti kehidupan manusia menjauhi bahkan terisolir dengan kehidupan dunia. Tetapi ketika hidup hanya mengejar dunia dengan segala yang ditawarkannya maka hasilnya adalah kesia-siaan. Salomo menyimpulkan dalam pengejaran harta, mas, perak dan kekuasaan, serta semua yang indah menurut ukuran dunia adalah sia-sia bila tidak takut dan berpegang perintah Allah (Pkh 12:8, 13-14). Rasul Paulus berbicara mengenai semua hal yang diraih di dunia sebelum berjumpa Yesus yang bangkit, dan berbalik semuanya sampah dibanding pengenalan dirinya akan Yesus Kristus walaupun mengalami penderitaan phisik. Salomo dan Paulus juga keliru menilai kehidupan dunia sebelum menemukan hikmat dari Tuhan.
Semua manusia memiliki keinginan duniawi. Faktanya, keinginan dunia berakibat pengagungan terhadap dunia secara berlebihan. Keinginan berlebihan menjadikan harapan utama pelakunya ketika hidup adalah kenikmatan hidup di dunia itu sendiri, yang menawarkan kenikmatan hidup tenang dan nyaman melalui kekuasaan dan kekayaan. Padahal Hidup manusia bukan sekedar makan, minum, bersenang-senang, tetapi hidup manusia itu berasal dari Allah, atau lebih tepatnya dari setiap firman Allah (bdk Mat 4:4) Mereka menukar kehidupan kekal (bdk. Yoh 3:15-16) dengan kenikmatan yang semu. Karena mereka lebih mendahulukan khayalan dari pada sesuatu yang hakiki, mendahulukan impian daripada kenyataan, mendahulukan kenikmatan sesaat daripada kenikmatan abadi dan mendahulukan negeri yang fana dari pada negeri yang kekal selamanya. Manusia telah tertipu oleh tipu daya iblis sehingga terjerumus kepada perbuatan daging yang menyesatkan (Gal 5:17-19).
Kehidupan dunia adalah perjalanan iman melakukan kehendak Allah ditengah fatamorgana dunia. Pertanyaannya adalah sudahkah kita memperoleh hikmat Tuhan sebagimana Salomo dan Paulus dapatkan yang menyimpulkan hidup ini kesia-siaan seperti sampah? Seseorang itu tidak akan sampai kepada hakekat perjalanan iman di dalam dunia bila tidak berubah oleh pembaharuan budinya, sehingga manusia dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.( bdk. Roma 12:2).
Tuhan memberkati kita semua.