Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are herePergaulan: Modis Ataukah Etis?

Pergaulan: Modis Ataukah Etis?


Oleh: Pdt. Samuel T. Gunawan, M.Th

Khotbah dalam ibadah “Weekend Celebration” El Shaddai Youth Ministry Sabtu, 29 September 2012

“Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33)

Pendahuluan
Manusia adalah mahluk yang dependen, yang bergantung pada yang lain! Pernyataan tersebut berdasarkan alasan: Pertama, manusia adalah mahluk ciptaan yang berpribadi. Sebagai mahluk ciptaan, manusia bergantung pada Tuhan, Sang penciptaNya, bagi keberlagsungan hidupnya; ia tidak bisa berdiri sendiri; hidupnya bergantung pada Allah pencipta. Di dalam Allah manusia hidup, bergerak, dan bernafas (Kejadian 1:26; 2:7; Kisah Para Rasul 17:28). Sebagai mahluk berpribadi, manusia memiliki kemandirian yang relatif (tidak mutlak), dalam pengertian bahwa ia memiliki kemampuan untuk membuat keputusan dan membuat pilihan-pilihannya sendiri. Kedua, manusia adalah mahluk sosial, yang membutuhkan peran orang lain dalam menjalani kehidupannya (Kejadian 2:18-23). Manusia tidak dapat menjalankan kehidupan yang wajar tanpa keterlibatan orang lain disamping hidupnya. Hal inilah yang menyebabkan manusia yang satu membutuhkan manusia lainnya, demikian juga sebaliknya. Salah satu bentuk pemenuhan kebutuhan sosial tersebut adalah keinginan manusia untuk bergaul satu dengan lainnya.

Apakah yang Dimaksud dengan Pengaulan Itu?
Pergaulan adalah hubungan pertemanan atau persahabatan dengan orang lain dalam suatu lingkup lingkungan masyarakat tertentu. Ditinjau dari luas jangkauannya, pergaulan meliputi ruang lingkup keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan kerja, lingkungan gereja, hingga lingkungan masyarakat luas. Ditinjau dari sifatnya pergaulan meliputi: pergaulan bisnis, pergaulan seniman, pergaulan karena kesamaan hobi, dan lain sebagainya. Ditinjau dari strata, tingkat atau kelas kehidupan masyarakat, pergaulan meliputi kelas atas, menengah dan ke bawah.

Apakah yang Dimaksud dengan Modis dan Etis?
“Modis” adalah kata sifat dari kata “mode”. Mode adalah penampilan atau bentuk gaya terbaru pada sutu waktu. Mode juga disebut trend. Jadi, modis adalah kecenderungan mengikuti mode atau trend tertentu pada suatu waktu. Sedangkan “etis” adalah kata sifat dari kata “etika”. Etika adalah pengetahuan tentang nilai-nilai baik atau buruk, benar atau salah, dan berhubungan dengan moralitas yang dijadikan sebagai acuan, aturan, standar, atau norma yang berlaku. Jadi, etis adalah hal-hal yang sesuai dengan etika, yaitu aturan, standar, atau norma yang berlaku dalam kelompok atau masyarakat tertentu.

Di dalam pergaulan terjadi interaksi satu dengan yang lain. Interaksi ini akan saling mempengaruhi atau dipengaruhi, dan berdampak baik maupun buruk. Pergaulan akan lebih baik dan bermakna apabila terjadi saling mengenal, saling menghargai, saling memperhatikan, saling membangun satu dengan yang lainnya. Di dalam pergaulan ada kecenderungan untuk mengikuti trend atau mode yang sesuai dengan lingkup pergaulan tersebut. Tentunya hal ini ada nilai positif dan negatifnya. Contohnya, kemajuan teknologi internet sangat bermanfaat dan memberi banyak kemudahan bagi penggunanya, tidak hanya untuk keperluan informasi, tetapi juga keperluan bisnis. Saat ini banyak bisnis yang menjanjikan dilakukan melalui internet, sehingga banyak orang sudah mengikuti trend tersebut. Tetapi, penyalahgunaan internet ini pun dapat terjadi yaitu untuk melakukan penipuan, pernografi, dan lain sebagainya.

Gaya Hidup Modern: Modis Atau Etis?

Apakah gaya hidup modern itu? Gaya hidup modern adalah cara manusia saat ini dalam menjalani hidupnya dengan cara terbaru atau terkini. Contoh: Dulu memasak dengan kayu dan api, sekarang dengan gas atau listrik, dan lain-lain. Dulu, orang pacaran dengan menulis surat dan dikirim via pos, saat ini komunikasi dapat dengan telpon, dan jaringan sosial melalui internet. Saat ini inovasi dan kreasi dari kecanggihan teknologi lebih cepat dari peradaban manapu sebelumnya. Kemajuan teknologi ini telah mempengaruhi gaya hidup manusia tidak hanya positif tetapi juga negatif, yang dapat membawa semakin jauh dari kehendak Tuhan, antara lain:
1. Manusia semakin menjadi individualisme, yaitu sikap mementingkan dirinya sendiri, semaunya, sesukanya, dan mengabaikan aturan dan norma.
2. Manusia juga menginginkan kebebasan tanpa atauran (liberalisme) dan kenikmatan hidup sebagai tujuan utama (hedonisme).
3. Manusia juga semakin berkecenderungan ingin memiliki apa yang diinginkannya dengan menghalalkan segala cara. Saat ini konsumerisme telah menjadi trend yang membudaya diberbagai tempat, akibatnya materialisme telah mempengaruhi sikap dan keputusan banyak orang. Jabatan, popularitas, dan persabatan sering diukur dari materi.
4. Manusia juga menganggungkan dan menyalahgunakan seks. Ini disebut dengan paham seksualisme. Materi pembicaraan dan canda yang paling menarik perhatian di media seperti surat kabar, majalah, televisi, dan lainnya adalah tentang seks. Baik diperkumpulan kaum bapa di warung kopi, kumpulan arisan ibu-ibu, di tempat nongkrongnya kawula muda, diwarnai dengan percakapan dan canda mengenai seks.

Kira-kira 2000 tahun yang lalu, Tuhan Yesus telah memberikan perumpamaan tentang “Anak yang Hilang” dalam Lukas 15:11-31, untuk menggambarkan gaya hidup modern yang terjadi saat ini. Pertama, pada ayat 12 menekankan pada sikap seorang anak yang egois dan dipengaruhi oleh sikap individualisme dan materialisme. Kedua, pada ayat 13 menggambarkan sikap liberalisme (kebebasan tanpa aturan) dalam diri anak tersebut, dan pengagungan seks (seksualisme, bandingkat ayat 30); sikap pengaruh hedonisme, yaitu kenikmatan dalam berfoya-foya; serta konsumerisme melalui pemborosan dan menghambur-hamburkan uang. Benar kata Alkitab “pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33).

Apakah Standar dan Norma Bagi Orang Kristen dalam Hal Pergaulan? 

Standar moral dan patokan kelakuan manusia seharusnya ditetapkan oleh Tuhan Penciptanya. Standar ini adalah "gambar Allah". Segala sesuatu yang "kehilangan kemuliaan Allah" adalah "dosa" (Roma 3:23). Sebagai anak Tuhan, kita diperintahkan: "Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (1 Korintus 10:31). Maka standar moral yang benar adalah kelakuan yang sesuai dengan kehendak Tuhan dan demi kemuliaan-Nya.

Namun, bagaimana menentukan bahwa kelakuan kita sesuai dengan kehendak Tuhan dan memuliakan-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, banyak sarjana teologi mulai mengadakan penyelidikan tentang kebutuhan dan situasi masyarakat dewasa ini. Mereka memakai waktu dan tenaga untuk mengenal perkembangan budaya-budaya yang berbeda. Hal ini mungkin membantu pengertian kita, tetapi dengan tegas kita katakan bahwa Tuhan sudah memberitahukan isi hati-Nya, rencana-Nya yang tertulis Alkitab. Kita boleh membahas kebutuhan masyarakat, kita boleh menyelidiki latar belakang kebudayaan yang berbeda, tetapi patokan yang kekal bagi moral kehidupan manusia adalah Firman Tuhan. Segala hakekat yang tidak mempercayai atau tidak menaati firman Tuhan adalah dosa dan "upah dosa ialah maut" (Roma 6:23). 

Apakah Norma-Norma Alkitabiah dalam Pergaulan?

Alkitab menyebutkan prinsip-prinsip pergaulan yang dapat menjadi acuan bagi orang Kristen, yaitu: Pertama, kita harus memahami bahwa tujuan hidup kita adalah untuk kemuliaan Tuhan (Roma 11:33-36). Arah tujuan kita di dunia ini adalah Tuhan, Sang Pencipta. Apapun yang kita lakukan haruslah untuk memuliakan Tuhan. Kedua, kita harus menjalankan kehidupan secara bebas dan bertanggung jawab. Artinya tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya tanpa bertanggung jawab. Demikian juga sebaliknya, tidak ada tanggung jawab tanpa kebebasan di dalamnya. (kejadian 2:16-17). Ketiga, kita perlu menyadari bahwa manusia itu unik dan mulia. Manusia diciptakan dengan dua gander (jenis kelamin) yang berbeda dalam fungsi, walaupun sama dalam derajat, harkat dan martabat. Setiap orang juga berbeda satu dengan yang lainnya. Tetapi dalam keperbedaan ini semua dikasihi oleh Tuhan (Yesaya 43:4). Keempat, kita harus manjalankan kehidupan secara wajar. Artinya, kita perlu berpikir, berkata-kata, bekerja, belajar, dan bertingkah laku, yang hendaknya secara wajar. Kelima, dalam bergaul hendaklah selalu mengingat perintah firman Tuhan berikut ini, yaitu: Hiduplah bergaul dengan Allah (Kejadian 6:9-10); bergaul dengan sesama saudara seiman dengan rukun dan damai (Mazmur 133;1-3); hidup kudus dan tak bercela (Roma 12:1-2); Menjauhkan diri dari isme-isme yang mencemarkan (Efesus 5:3-4); Tidak bergaul dengan penipu (Mazmur 26:4), orang bebal (Amsal 13:20), dengan orang bocor mulut (Amsal 20:19), orang rakus (Amsal 27:8), dan orang cabul (1 Korintus 5:9).

Nasihat Praktis Untuk Pargaulan Muda Remaja?

Bagimanakah muda remaja Kristen mempertahankan kehidupan yang berkenan dihadapan Tuhan? “Dengan menjaganya sesuai dengan firman Tuhan” (Mazmur 119:9). Perhatikanlah tujuh langkah praktis, khususnya dalam kaitan pergaulan muda-mudi berikut ini:

Pertama, jangan membiarkan mata dan otak kita dicemari dengan tontonan yang bersifat pornografi atau sejenisnya yang dapat membangkitkan pikiran kotor, membangkitkan gairah seksual yang tidak sehat. Alkitab menasehati “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Efesus  4:17).

Kedua, bagi wanita biasakan diri memakai pakaian yang sopan. Jangan memakai pakaian KTP (ketat, tipis, pendek), atau pakaian T3 (transparan, terbelah, dan terbuka) walaupun dengan alasan sedang mode (modis). Karena secara sadar atau tidak dapat menggoda kaum pria untuk berdosa melalui penglihatan, dan pikiran yang berorientasi seksual atau perjinahan. Alkitab menasehati “Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal” (1 Timotius 2:9).

Ketiga, bagi kaum pria jangan melibatkan diri dalam situasi dan kegiatan yang merangsang kegairahan seksual, tetapi belajar menarik dan mengontrol hawa nafsu dengan mengingat bahwa Tuhan menuntut kekudusan bagi kaum pria juga. Alkitab menasehati “tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1 Petrus 1:15-16)

Keempat, bila saudara berpacaran, hindari TTS (tempat tempat sepi/sunyi), TTM (tempat-tempat maksiat/mesum), dan tempat-tempat yang dapat membangkitkan gairah seksual dan yang mengakibatkan terlepasnya kontrol diri. Alkitab menasehati “jangan kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya” (Pengkhotbah 2:7; 3:5; 8:4).

Kelima, jauhi pembicaraan atau candaan yang saling membangkitkan hawa nafsu seksual, tetapi pusatkan pembicaraan dan canda yang berorientasi pada pertumbuhan moral dan spiritual. Alkitab menasehatkan, “Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan saja pun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan” (Efesus 5:11-12).

Keenam, ingat selalu hukum emas “jika ingin mendapatkan pasangan yang asli dan baik” harus menjaga diri agar tetap asli dan baik. Dan harus saling mengingatkan satu sama lain untuk tetap memelihara “asli dan baik”. Alkitab menasehatkan “jagalah kemurnian dirimu” (1 Timotius 5:22).

Ketujuh, mohon pertolongan Tuhan melalui doa dan hidup berjaga-jaga serta belajar tanggap terhadap pimpinan Tuhan melalui Roh Kudus dan firman Tuhan.

Akhirnya bersama dengan Rasul Yohanes, saya mengatakan:

“Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu telah mengalahkan yang jahat” (1 Yohanes 2:13)

“Aku menulis kepada kamu, hai orang-orang muda, karena kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu dan kamu telah mengalahkan yang jahat” (1 Yohanes 2:14)

Tinggalkan Komentar