Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs Artikel

Loading

You are hereElemen-Elemen Pertumbuhan Iman Kristen 1

Elemen-Elemen Pertumbuhan Iman Kristen 1


Oleh : Pdt. Sutjipto Subeno, S.Th., M.Div.
Nats : Efesus 1: 15-23

Seorang Kristen sejati bukan seorang yang statis dan juga bukan orang yang sempurna. Seorang Kristen sejati adalah seorang yang terus berproses. Dari realita menuju ideal yang Tuhan inginkan. Memahami proses antara realita di sini dengan ideal di sana kita perlu mengerti elemen-elemen pertumbuhan. Hal ini dibicarakan oleh Paulus dalam Ef 1:15-23. Di dalam Ef 1:15-23 ini, kita menemukan enam elemen yang menjadi dasar pertumbuhan. Keenam elemen ini ialah: pertama Iman di dalam Kristus (ay. 15); kedua, Kasih terhadap semua orang kudus (ay. 15); ketiga Roh hikmat (ay. 17); keempat Wahyu (ay. 17); kelima Pengharapan di dalam panggilan Kristus (ay. 18); keenam Kuasa Kebangkitan Kristus (ay. 19).

Keenam hal ini harus berproses di dalam hidup kita. Jika keenam elemen ini bertumbuh dengan baik, itu membuktikan Gereja tersebut sukses. Penilaian Allah tentang kriteria kesuksesan Kristen berbeda dengan penilaian manusia. Kesuksesan Gereja menurut pandangan manusia seringkali diukur secara mekanis dengan kriteria yang bisa diukur dan secara fenomena. Ini terjadi karena kita seringkali dibentuk oleh format dunia. Contoh, ketika Saul ditolak oleh Tuhan, maka Tuhan mengutus Samuel kerumah Isai untuk mengurapi salah satu anak Isai menjadi raja. Ketika Samuel melihat anak-anak Isai, kita melihat justru apa yang dinilai oleh Samuel berbeda dengan penilaian Tuhan. Samuel melihat apa yang kelihatan sedangkan Tuhan melihat hati manusia.

Bagi Samuel Daud tidak cocok menjadi raja tetapi itulah yang Tuhan pilih. Jadi prinsip kesuksesan Kristen adalah kembalinya seseorang di dalam proses yang Tuhan kehendaki. Kesuksesan Kristen tergantung pada proses pertumbuhan dari keenam elemen yang Paulus bicarakan dalam Ef 1:15-23. Bertumbuh dalam iman, kasih, hikmat, wahyu, pengharapan, dan di dalam kuasa kebangkitan. Keenam elemen ini harus bertumbuh di dalam hati kita. Inilah tanda dari seorang Kristen sejati. Oleh sebab itu Gereja wajib melakukan semua daya agar keenam elemen ini bisa bertumbuh. Hanya dengan demikian orang-orang Kristen bisa menjadi contoh ditengah dunia. Sekarang mari kita telusuri mulai dari poin pertama. Di dalam bagian pertama yang Paulus soroti adalah iman di dalam Kristus. Hal ini penting karena prinsip pertumbuhan Kristen di mulai dari iman kepada Kristus. Ini tidak bisa diganggu gugat.

Iman merupakan basis dari semua cara berpikir kita dan kehidupan kita. Di dalam bidang apapun kita memulainya dengan iman. Misalnya, seorang ilmuwan sejati dimulai dengan iman bukan rasio. Ketika kita mempelajari baik ilmu pengetahuan maupun filsafat kita akan mulai dengan paradigma. Paradigma di sini istilah lain untuk iman. Pengertian paradigma adalah satu set kepercayaan yang dipegang pertama menjadi hipotesa untuk melakukan segala sesuatu. Hipotesa ini sendiri belum dibuktikan kebenarannya. Tidak ada satu ilmu pengetahuan yang tidak mulai dengan iman. Fakta membuktikan kita memulai sesuatu dengan iman. Sejak dibangku sekolah kita mulai dengan iman, misalnya 2 + 2 = 4 kita percaya tanpa ragu. Apa yang guru kita katakan kita percaya tanpa kita menguji dan membuktikan kebenarannya. Celakanya ditengah dunia ini kita berdiri di atas iman yang diterpa oleh filsafat postmodern yang bersifat relatif. Apa yang aku percaya dengan yang kamu percaya, dua hal yang berbeda. Iman ini bersifat subyektif. Celakanya kondisi ini bukan hanya dialami oleh orang-orang diluar Kekristenan.

Hal ini terjadi juga di dalam Kekristenan. Itu sebabnya kita perlu mengerti iman dengan benar. Di dalam Ef 1:15, Paulus membicarakan konsep iman yang menyeluruh. Hari ini kita akan menelusuri sedikit demi sedikit dalam kitab Efesus ini. Pertama, Paulus mengatakan, "iman sejati adalah iman yang harus terkait dengan Kristus (ay. 15). Jika kita bandingkan dengan Ef 4:13, maka tujuan hidup kita adalah sampai kita semua telah mencapai kepenuhan iman. Iman di sini merupakan satu proses dari titik awal hingga titik akhir. Di sini Paulus menuntut kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah. Kaitan antara iman dengan pengertian yang benar tentang Kristus merupakan dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Pengertian iman jika tidak kembali kepada Kristus yang sejati berarti bukan iman Kristen. Di dalam Roma 1, membicarakan bahwa hidup Kristen dimulai dari iman menuju kepada iman (Rm 1:16-17). Di sini prinsip kebenaran Allah dimulai dari iman menuju kepada iman. Di dalam Why. 2, jemaat Efesus dipuji karena mereka tidak sembarangan mempermainkan dan menjual iman mereka ketika rasul-rasul palsu mencoba mempengaruhi mereka. Hanya sayang kasih mereka kemudian luntur. Kedua, iman bukan sekedar iman yang kembali kepada Kristus dan pengenalan yang sejati kepada Kristus. Yang kedua, iman harus mencapai integritas iman. Iman yang sejati haruslah iman yang mempengaruhi seluruh pikiran dan hidup kita. Ketika kita mendengar firman Tuhan seringkali timbul benturan. Benturan ini merupakan benturan iman. Kita hanya melihat fenomena terbenturnya konsep tetapi sebenarnya terbenturnya akar. Ketika hal ini terjadi kita mengalami konflik. Akibatnya Iman menjadi iman yang tidak bersatu.

Iman hanya bersifat permukaan dan iman tidak menggarap persatuan yang sejati. Padahal dalam ayat ini, Yesus menuntut kesatuan iman. Iman sejati harus terimplementasi secara integritas dan inilah yang dituntut dari kita setiap orang Kristen. Kita hidup ditengah-tengah situasi relatif dan subyektif. Dan ini sangat berpengaruh di dalam Kekristenan sendiri. Jika imanku dengan imanmu berbeda, lalu bagaimana? Tidak usah ribut-ribut yang penting kita bersatu. Disini terjadi penggabungan namun bukan integrasi yang sejati. Di sini kelihatannya bersatu namun belum mencapai kesatuan iman yang sesungguhnya. Belum kembali kepada pengenalan Kristus yang sejati. Paulus tegas sekali dalam hal ini. Pengetahuan iman tentang Kristus harus dibereskan. Masalahnya, siapa yang melakukan? Di dalam Ef 4:11-12 jawabannya jelas bahwa setiap orang Kristen harus menggarap imannya. Pendeta, penginjil, pengajar, semua Tuhan berikan untuk memperlengkapi jemaat Tuhan. Gereja yang sejati adalah Gereja yang mendidik setiap jemaat untuk belajar firman Tuhan dengan baik. Gereja yang tidak mendidik setiap jemaat untuk belajar firman dengan baik berarti Gereja itu lumpuh. Tugas mengerti firman Tuhan dengan baik adalah tugas jemaat. Gereja Reformed Injili berdiri menegakkan firman Tuhan dan kita tidak main-main. Tuhan menugaskan kita untuk memperlengkapi diri supaya kita bisa menjadi alat Tuhan di dalam pembangunan tubuh Kristus. Setiap orang Kristen harus mencapai kesatuan iman. Setiap orang Kristen harus mendapatkan pengetahuan yang benar tentang anak Allah. Setiap orang Kristen harus mencapai kedewasaan penuh dan mencapai kepenuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Ini yang dituntut dalam Efesus 4. Ketiga, Iman sejati bukan sekedar diintegrasikan tetapi iman sejati harus bertahan di dalam penderitaan dan kesengsaraan. Ditengah-tengah berbagai macam terpaan badai dan berbagai iming-iming kemanisan dunia yang berdosa.

Disinilah Kekristenan diuji dalam dua hal. (1) Dengan penderitaan dan kerelaan kita untuk berkorban demi Kristus. Ini membuktikan seberapa jauh kita mengenal Kristus (bnd II tim 1:12). Iman kita kepada Dia menyebabkan kita berani untuk menderita semuanya ini. II Tim 3:12 mengatakan, "Memang setiap orang yang mau beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. "Ajaran mengenai penderitaan ini berulang kali diajarkan dalam PB. (2) Barang siapa mempunyai pengetahuan iman yang sejati di dalam Kristus, dia tidak mudah dijatuhkan di dalam berbagai- bagai pencobaan dan iming-iming dunia ini. Hari ini banyak orang Kristen dijatuhkan oleh berbagai iming-iming dunia, misalnya oleh materialisme. Seberapa jauh pengenalan kita kepada Kristus sejauh itu jugalah kita bisa melatih dan mendidik iman kita untuk tetap bertahan dan tidak mudah dipancing dengan berbagai macam pancingan dunia ini. Iman yang sejati adalah iman yang terbentuk menjadi satu keutuhan yang saling mengikat satu sama lain. Dan ini dibuktikan di dalam praktika hidup kita ditengah pencobaan dan tipuan dunia baik melalui kekerasan maupun melalui pancingan manis. Jika ini terjadi berarti iman kita sedang bertumbuh menuju kesempurnaan yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman. Orang benar akan hidup oleh iman.?

Tinggalkan Komentar