Pembelaan Bahwa Yesus Bisa Membaca dan Menulis

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Samuel T. Gunawan, M.Th


“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Lukas 2:52)


PROLOG

Pertanyaan yang ditujukan kepada Kekristen itu sering kali sederhana, tetapi jawabannya tidaklah sesederhana pertanyaan tersebut. Satu dari banyak pertanyaan itu adalah “apakah Yesus bisa membaca dan menulis?”. Terhadap pertanyaan ini orang Kristen dituntut untuk memberikan penjelasan yang cerdas, rasional, dan bukti-bukti yang valid, serta sesuai dengan Kitab Suci.



Saat mendengar pertanyaan “apakah Yesus bisa membaca dan menulis?”, banyak orang Kristen dengan segera menegaskan bahwa Yesus tidak buta huruf, dengan kata lain Yesus bisa membaca dan menulis. Kata mereka, bagaimanapun, Yesus adalah Anak Allah yang bisa melakukan apapun. Tetapi, apakah semudah itu jawabannya, bila hal ini ditanyakan oleh para skeptis maupun non Kristen, yang tidak mengakui keilahian Yesus Kristus. Karena itu, dalam anggapan saya dua hal ini perlu kita sepakati dulu sebelum kita menuju ke bukti-bukti atau jawaban kita.

Pertama, kita perlu memastikan bahwa pertanyaan “apakah Yesus bisa membaca dan menulis?” adalah pertanyaan yang sah untuk diajukan ataukah tidak. Jika pertanyaan ini tidak layak untuk diajukan, apa alasannya. Tetapi, jika kita menganggap pertanyaan ini layak untuk diajukan, marilah kita mendiskusikannya dengan menunjukkan bukti-bukti primer maupun sekunder, baik dari Alkitab (internal) maupun catatan historis diluar Alkitab (eksternal), untuk menunjukkan bahwa memang benar Yesus bisa membaca dan menulis sekaligus membantah praduga yang menuduh Yesus buta huruf.

Kedua, kita percaya pada ineransi dan infabilitas kitab-kitab kanonik yaitu 66 kitab yang kita sebut dengan Alkitab. Ineransi Alkitab berarti bahwa Alkitab tidak ada kekeliruan atau kesalahannya. Infabilitas Alkitab berarti Alkitab bebas dari kecenderungan melakukan kesalahan. Karena Alkitab diispirasikan oleh Allah, maka Alkitab tidak dapat salah atau tidak memiliki kekeliruan. Ketidakkeliruan Alkitab berarti bahwa Alkitab hanya mengatakan yang benar. Charles C. Ryrie mendefinisikan inspirasi atau pengilhaman sebagai berikut: “Allah mengawasi sedemikian rupa sehingga para penulis Alkitab itu menyusun dan mencatat tanpa kekeliruan pesanNya kepada manusia dalam bentuk kata-kata pada penulisan aslinya.” Dalam 2 Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran”, kata Yunani untuk inspirasi atau ilham adalah Theopneustos yang berarti Allah menghembuskan.

Kita juga menganggap bahwa Alkitab dapat dipercayai (kredibilitas). Kredibilitas Alkitab tidak hanya karena Alkitab diinspirasikan tetapi juga karena Alkitab telah lulus uji. Ini disebut kanonitas Alkitab. Kata “kanon” berarti tongkat pengukur dan menunjuk kepada suatu standar atau peraturan. Dalam hubungan dengan Alkitab, kanonitas berarti bahwa Alkitab telah diukur dengan suatu standar, telah melewati ujian dan lulus ujian yang meliputi ujian sejarah, arkeologi maupun filologi. Dengan presuposisi ini kita memastikan bahwa data-data atau catatan-catatan Alkitab yang diajukan untuk menjawab pertanyaan di atas adalah valid (dapat diterima) kebenarannya. Dengan kata lain “Alkitab menjadi otoritas tertinggi dan final untuk iman dan kehidupan orang percaya.”

IMAN KRISTEN DAN RASIONALITAS

Telah disebutkan di atas bahwa saat mendengar pertanyaan “apakah Yesus bisa membaca dan menulis?”, banyak orang Kristen dengan segera menegaskan bahwa Yesus tidak buta huruf, dengan kata lain Yesus bisa membaca dan menulis. Kata mereka, bagaimanapun, Yesus adalah Anak Allah yang bisa melakukan apapun. Tetapi apakah semudah itu jawabannya, bila hal ini ditanyakan oleh para skeptis maupun non Kristen, yang tidak mengakui keilahian Yesus Kristus. Saat ini kita hidup di era yang sangat mengedapankan intelektualitas dan pembuktian yang valid. Karena itu kekristenan dituntut untuk memberikan jawaban cerdas, rasional dan bukti-bukti yang valid. Menurut saya ini penting! Karena itu, saat membicarakan iman kristen dan rasionalitas, kita perlu mempertimbangkan tiga hal berikut:

Pertama, kapasitas berpikir kita merupakan bagian dari gambar Allah di dalam diri kita. Rasionalitas manusia mencerminkan rasionalitas Pencipta. Penggunaan pikiran atau akal budi kita merupakan tindakan yang memuliakan Allah. (Matius 22:37).

Kedua, iman Kristen bukanlah tidak masuk akal. Tidak satupun yang irasional dari kepercayaan yang diwariskan kepada kita. Iman selalu melibatkan unsur-unsur pengetahuan (fakta-fakta), ketaatan (kebenaran) dan tindakan kehendak (percaya). Kita mendengar, memproses, dan merespon Tuhan (firman) dengan menggunakan pikiran kita. Iman dan akan budi tidak bertentangan tetapi saling berhubungan dan tidak dapat dipisahkan.

Ketiga, kepercayaan Kristen itu sangat masuk akal. Berbeda dengan kepercayaan dan agama-agama lainnya di dunia ini, iman Kristen bersedia untuk diuji secara rasional baik fakta-faktanya maupun keakuaratannya. Dengan demikian, seseorang yang menjadi Kristen tidak berarti ia menjadi tidak logis. Iman Kristen bukanlah “lompatan di dalam kegelapan” melainkan didukung oleh bukti-bukti dan dapat dipertanggung jawabkan. Sebagai orang Kristen justru kita seharusnya logis dalam pemikiran, menaruh perhatian dengan berpegang pada kebenaran yang sungguh-sungguh dan bukan yang salah, terutama mengenai Tuhan dan apa yang dikatakanNya di dalam Alkitab. Kecerobohan yang disebabkan oleh suatu pemikiran yang tidak logis tidaklah merefleksikan kerohanian, tetapi merupakan sesuatu yang bertentantangan dengan kerohanian itu. Justru orang-orang Kristen yang irasional dan tidak logis menyatakan kurangnya rasa kasih kepada Allah, dasar dari segala pemikiran dan kelogisan (Matius 22:37).

Tetapi, ada hal yang seharusnya tidak kita lupakan. Saat kita mempertimbangkan kepercayaan yang rasional, kita perlu mengingat bahwa kecerdasan manusia yang terbatas itu tidak dapat sepenuhnya memahami kebenaran ilahi yang tidak terbatas. Tetapi, kenyataan bahwa segala sesuatu itu tidak dapat dimengerti sepenuhnya bukan berarti bahwa sesuatu itu tidak masuk akal (irasional).

MEMBUKTIKAN BAHWA YESUS BISA MEMBACA DAN MENULIS

Prasangka bahwa Yesus buta huruf merupakan serangan yang serius terhadap Kekristenan. Apalagi hal ini dikuatkan dalam The Jesus Seminar, yaitu sekumpulan kecil sarjana Perjanjian Baru liberal di awal abad kedua puluh, yang meragukan ontentitas Kitab-kitab Injil sebagai yang benar-benar diucapkan oleh Yesus. Ditambah lagi dukungan beberapa ahli yang berpendapat bahwa tingkat kemampuan baca dan tulis pada zaman Yesus masih rendah, yaitu 5 persen atau kurang. Pendapat para ahli memang berbeda dalam hal persentasi ini. Sebab ahli lainnya berpendapat bahwa angka kemampuan baca tulis pada zaman Yesus lebih tinggi dari angka 5 persen tersebut. Tetapi mereka yang mempunyai kepentingan tertentu bersikukuh mempertahankan angka 5 persen atau kurang dari itu. Jadi, berdasarkan pendapat ahli di atas, beberapa orang dengan mudahnya memasukkan Yesus sebagai berada di luar daftar dari 5 persen orang-orang yang bisa membaca dan menulis pada zamanNya. Tetapi sekali lagi, ini hanyalah prasangka yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Mengapa? Jika diperhatikan, pendapat beberapa ahli tersebut bersifat terlalu umum. Bukti tersebut tidak secara khusus menyebutkan daftar orang-orang tertentu yang termasuk pada 5 persen yang bisa membaca dan menulis, karena itu terlalu prematur bila menyimpulkan bahwa Yesus termasuk buta huruf atau yang berada diluar 5 persen orang-orang yang bisa menulis dan membaca, dengan bukti-bukti yang tidak cukup valid tersebut.

Sekarang saya mengajak kita untuk melihat bukti-bukti yang menunjukkan hal sebaliknya dari prasangka diatas, bahwa sebenarnya Yesus bisa membaca dan menulis. Pertama-tama kita akan melihat bukti-bukti eksternal, yaitu bukti-bukti diluar Alkitab, kemudian kita akan melihat bukti-bukti internal berdasarkan pernyataan Alkitab sendiri.

Bukti-Bukti Eksternal Yesus Bisa Membaca dan Menulis

1. Orang-orang Kristen pada abad kedua dan ketiga, dan seterusnya percaya bahwa Yesus bisa membaca dan menulis. Beberapa memberi kesaksian bahwa Yesus adalah seorang murid yang cerdas. Kesaksian ini jelas mendapat dukungan dari Alkitab. Lukas yang menulis Injil Lukas mencatat “Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya” (Lukas 2:47). Sebagai manusia Yesus bertumbuh dan belajar. Sebagai kanak-kanak Dia belajar berbicara; sebagai anak Dia belajar bermain; sebagai remaja Dia belajar keterampilan dari keluarganya; dan sebagainya. Perhatikan ungkapan Lukas berikut mengenai Yesus “Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Lukas 2:40). Selanjutnya lukas menambahkan “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia” (Lukas 2:52). Alkitab tampaknya mendukung bahwa dalam kemanusiaanNya Yesus bertumbuh dan belajar. Penulis Kitab Ibrani mencatat “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibrani 5:8).

2. Menurut penulis-penulis Yahudi yang hidup se zaman dengan Yesus, orang tua Yahudi mendidik anak-anak mereka dalam hukum Taurat, serta mendidik mereka membaca dan menulis. Pertama, seorang Penulis yang tidak dikenal pada abad pertama menuliskan “Ajarkanlah huruf-huruf kepada anak-anakmu juga, supaya mereka memiliki pemahaman sepanjang hidup mereka pada saat mereka membaca Taurat Allah tanpa henti” (Perjanjian Imamat 13:12). Kedua, Flavious Josephus, seorang ahli sejarah Yahudi abad pertama mengatakan “diatas semuanya kami membanggakan diri kami sendiri dalam bidang pendidikan kepada anak-anak kami dan memandang pengamalan hukum Taurat dan paktik kesalehan yang dibangun darinya, yang kami warisi, sebagai tugas penting dalam kehidupan” (Against Apion 1:60). Selanjutnya Yosephus juga mengatakan “(Hukum Taurat) memerintahkan agar (anak-anak) diajar membaca supaya dapat belajar hukum Taurat maupun perbuatan nenek moyang mereka” (Against Apion 2:204).

Dari catatan sejarah diatas, kita dapat melihat tingginya nilai yang diletakkan orang Yahudi terhadap Kitab Suci, khususnya hukum Taurat yang diajarkan oleh Musa. Hukum Taurat inilah yang diajarkan oleh orang-orang tua Yahudi kepada anak-anak mereka baik dengan cara lisan maupun tulisan. Kita juga dapat yakin, itulah yang dialami oleh Yesus dalam kemanusiaan; Yesus yang dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga dan tradisi Yahudi. Semasa hidupNya, di kitab Injil, kita menemukan catatan bahwa Yesus belajar hukum Taurat, Ia menaatiNya, Ia mengutipnya, Ia mengajarkanya, bahkan Ia berdebat dengan imam-iman, ahli Taurat dan pemuka-pemuka agama. Sebagaimana akan dijelaskan kemudian dalam tulisan ini. Pertanyaan yang patut kita pikirkan adalah “mungkinkah seorang yang buta huruf dapat berdebat dengan cerdas dengan merujuk pada kutipan-kutipan dalam Kitab Suci dengan tepat?”. Jadi, sebagaimana tradisi dikalangan keluarga-keluarga Yahudi yang begitu mementing nilai pendidikan, Yesus pun terdidik demikian, sehingga kita dapat menyimpulkan bahwa Yesus bisa membaca dan menulis.

Bukti-bukti Internal Yesus Bisa Membaca dan Menulis

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, kita perlu memiliki presuposisi bahwa Alkitab secara keseluruhannya memuat data-data dan catatan-catatan valid sehingga dapat diterima kebenarannya. Hal ini kita yakini karena kita mengakui ineransi, infabilitas, dan kredibilitas Alkitab karena pengilhaman dan kanonitasnya. Karena itu, setelah menunjukkan bukti dari luar Alkitab bahwa Yesus bisa membaca dan menulis, maka berikut ini kita akan melihat bukti-bukti dari dalam Alkitab sendiri yang menunjukkan bahwa Yesus memang bisa membaca dan menulis.

Pertama, bukti-bukti implisit yang menunjukkan bahwa Yesus bisa membaca dan menulis. Pertama, dalam Perjanjian Lama, orang tua Yahudi harus mengajarkan hukum Taurat kepada anak-anak mereka. Ulangan 6:6-9 mencatat: “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”. Dari ayat-ayat diatas kita mendapatkan informasi bahwa orang tua Yahudi diperintahkan mengajarkan hukum Taurat kepada anak-anak mereka dengan cara lisan (perhatikan kata “membicarakannya”) maupun tulisan (perhatikan kata “menuliskannya”). Perintah untuk mengajarkan hukum Taurat ini diulangi kembali dalam Ulangan 11:19-20, “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun; engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu”. Alasan orang tua Yahudi diwajibkan untuk mengajar anak-anak mereka ini jelas sekali, kaena menyangkut kelangsungan hidup mereka. Perhatikanlah pernyataan berikut, “supaya panjang umurmu dan umur anak-anakmu di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepada mereka, selama ada langit di atas bumi” (Ulangan 11:21). Jadi perintah dan janji Tuhan inilah yang mendorong mereka mengajar anak-anak mereka baik lisan maupun tertulis, sehingga dapat dipastikan dikalangan orang Yahudi sangat jarang ditemukan anak-anak yang buta huruf. Kedua, dalam Perjanjian Baru, Yohanes dalam Injilnya mencatat peristiwa dimana Yesus pernah menulis, walaupun tidak disebutkan apa yang ditulisNya, apakah Ia menulis huruf atau sekedar mencoret biasa. “Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah” (Yohanes 8:6). Karena itu kita menyebutnya sebagai bukti implisit, yang menyiratkan bahwa Yesus tidak buta huruf.

Bukti-bukti Eksplisit yang menunjukkan bahwa Yesus bisa membaca dan menulis.

Pertama, Yohanes 7:15 tampaknya membahas langsung pertanyaan apakah Yesus bisa membaca dan menulis atau tidak. Perhatikanlah, “Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: "Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!". Secara literal, mereka (orang-orang Yahudi) bertanya “bagaimana Ia mengenal huruf-huruf, tanpa belajar atau belum belajar”, atau tepatnya “tanpa belajar formal dibawah bimbingan ahli Kitab”. Jadi, ayat ini bukan menunjukkan bahwa Yesus belum belajar atau belum terdidik secara informal, melainkan belum terlatih dalam pendidikan formal oleh seorang ahli Kitab. Dan dari pertanyaan orang-orang Yahudi tersebut tersirat pengetahuan yang dimiliki Yesus, tanpa belajar atau duduk dibawah kaki seorng rabi terkenal yang terlatih atau bijaksana. Bagaimanapun, data Alkitab ini menjelaskan kepada kita bahwa Yesus pada saat itu dikenali sebagai seorang yang memiliki pengetahuan, serta kemampuan baca dan menulis, tanpa melalui pendidikan formal dibawah bimbingan seorang rabi. Kita diingatkan kembali pada penjelasan sebelumnya, bahwa orang tua Yahudi (termasuk orang tua Yesus), mendidik anak-anak mereka dalam hal hukum Taurat baik secara lisan maupun tulisan. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Yesus memiliki pengetahuan walaupun ia belum atau tidak belajar secara formal.

Kedua, Lukas 4:16-21 menjelaskan bahwa Yesus membaca dari gulungan kitab Yesaya dan setelah itu menyampaikan khotbahNya. “Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya. Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya”. Kita tidak perlu ragu-ragu dengan keotentikan ayat-ayat di dalam Lukas ini, karena ayat-ayat ini bukanlah pengembangan dari Markus 6:1-6. Markus dan Lukas menceritakan hal yang benar-benar terjadi dari versi mereka masing-masing sebagai dua orang penulis yang berbeda.

Ketiga, pada peristiwa pencobaan terhadap Yesus yang dilakukan oleh Iblis, terlihat Yesus mengutip pernyataan atau ayat-ayat tertentu dalam Perjanjian Lama dengan formula “ada tertulis” yang sangat terkenal itu sebagai konfrotansi terhadap perkataan Iblis. Hal ini dicatat dalam Matius 4:1-11 dan Lukas 4:1-13. Jadi saat mengatakan “ada tertulis....”, Yesus telah mengetahui atau telah membaca sendiri kutipan tersebut.

Keempat, dalam banyak kesempatan Yesus berbicara dan mengutip Perjanjian Lama. Ia bertanya kepada orang-orang farisi yang mengkritik murid-muridNya karena memetik gandum pada hari Sabat. “Jawab-Nya kepada mereka: "Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan” (Markus 2:25). Matius menambah kometar pada perikop ini, “Atau tidakkah kamu baca dalam kitab Taurat, bahwa pada hari-hari Sabat, imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam Bait Allah, namun tidak bersalah?” (Matius 12:5). Dalam konteks polemik lainnya Yesus juga bertanya dan memberi jawab kepada orang farisi, “Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca..” (Matius 19:4) dan kepada imam-imam dan tua-tua, “Tidak pernahkah kamu membaca nas ini...” (Markus 12:10). Kepada orang-orang Saduki yang tidak percaya kepada kebangkitan Yesus mengajukan pertanyaan “Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!" (Markus 12:26-27). Dalam suatu diskusi dengan ahli Taurat, Yesus bertanya “Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." (Lukas 10:16).

Dari bagian-bagian Injil yang dikutip diatas, kita melihat bahwa semasa hidupNya, kita melihat dalam banyak kesempatan Yesus mengutip Perjanjian Lama, Ia mengajarkanya, bahkan Ia berdebat dengan Imam-iman, ahli Taurat dan pemuka-pemuka agama dengan mengutip ayat-ayat tertentu dari Perjanjian Lama tersebut. Pertanyaan yang patut kita pikirkan adalah “mungkinkah seorang yang buta huruf dapat mengajar dan berdebat dengan cerdas dengan merujuk pada kutipan-kutipan dalam Kitab Suci dengan tepatnya?”. Kesimpulan kita hanya satu, Yesus dapat membaca dan menulis, Dia tidak buta huruf. Lagi pula, kalimat Yesus dan rujukan “belum pernahkan kamu membaca?” yang menjadi gaya khasNya, tidak akan memiliki kekuatan argumentatif jika jika Ia sendiri tidak membaca.

Bukti-Bukti Lain Bahwa Yesus Bisa Membaca dan Menulis

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Yesus bisa membaca dan menulis adalah sebutan “guru” yang dikenakan kepadaNya. Yesus sering kali dipanggil dengan sebutan guru (dalam bahasa Ibrani “rabbi” atau bahasa Aram “rabuni”). Yesus menyebut diriNya demikian dan dipanggil demikian oleh para pendukungNya, musuhNya maupun orang yang netral. Hal ini bisa dibaca dalam ayat-ayat berikut: Matius 8:18; 9:11; 10:24-25; 12:38; 17:24; 19:16; 22:16,24,36; 26:18. Yesus dan orang-orang lain memanggil pengikut terdekatnya “murid”, yang dalam bahasa Ibrani (limmud), Yunani (mathetei) dan Latin (discupulus) secara literal berarti “pelajar” atau “siswa”. Terminologi “guru” dan “murid” ini menciptakan dugaan kuat yang mendukung kemampuan membaca dan menulis Yesus. Dalam lingkungan Yahudi, sulit mempercayai adanya rabi atau guru yang buta huruf, yang dikelilingi oleh murid-murid yang berdebat tentang Kitab Suci dan penafsirannya dengan rabi-rabi dan ahli-ahli Taurat lain.

EPILOG

Berdasarkan data-data dan bukti-bukti yang telah dipresentasikan di atas, kemampuan membaca (dan menulis) dari Yesus tidak pernah dipermasalahkan. Tidak ada bukti-bukti yang memadai bahwa Yesus buta huruf. Kemampuan membaca Yesus tampaknya merupakan hal yang wajar di kalangan orang-orang Yahudi pada saat itu, yang mendidik anak-anak mereka sejak kecil dalam hukum Taurat dengan cara lisan maupun tulisan. Kesimpulan yang bisa kita ambil dari penjelasan di atas adalah seberapapun persentasi atau tingkat kemampuan membaca dan menulis pada zaman Yesus, bukti-bukti menunjukkan bahwa Yesus bisa membaca dan menulis.

Akhirnya, bersama dengan Michael Eaton saya mengajak kita semua “belajar tentang Yesus secara bertahap. Hal itu juga dialami oleh murid-muridNya yang pertama. Mereka pertama kali menemukan bahwa Dia adalah seorang yang sangat mengesankan. Kemudian mereka belajar melihat Dia lebih dari manusia biasa. Setelah kebangkitanNya mereka mulai menyembah Dia sebagai Allah. Akhirnya mereka mulai melihat kisahNya dari awal sampai akhir, dari pra-eksistensiNya yang kekal sampai kedatanganNya yang terakhir dalam kemuliaan untuk menyerahkan kerajaan Allah kepada Bapa”.