Madu dan Racun Sama Hebatnya di Tangan Tuhan

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Yon Maryono

Kata Madu banyak dikaitkan dengan situasi sukacita, seperti diterapkan dalam istilah Bulan Madu bagi pengantin, demikian sebaliknya kata Racun. Oxford English Dictionary tidak memberikan etimologi sama sekali, tetapi menyebutkan bahwa kata Bulan Madu ini berasal dari abad ke-16: "Bulan pertama setelah pernikahan, ketika yang ada hanyalah kelembutan dan sukacita”. Salah satu kutipan tertua dalam Oxford English Dictionary menunjukkan bahwa, meskipun di masa kini bulan madu mempunyai arti positif, kata ini sesungguhnya merupakan rujukan mengejek kepada memudarnya cinta yang niscaya terjadi seperti tahap-tahap peredaran bulan. Istilah Racun, Beracun digunakan untuk segala sesuatu yang dapat berakibat fatal atau berbahaya apabila dimasukkan dalam jumlah tertentu ke makhluk hidup. Tapi kedua istilah itu dalam pengalaman penulis sama hebatnya di tangan Tuhan.

Suasana bulan Madu dengan Tuhan tidak jauh beda maknanya. Banyak orang percaya mengalami hidup dalam suasana sukacita dalam Tuhan, karena mereka kelimpahan berkat jasmani dan rohani. Tetapi umumnya penilaian itu diukur dari: harta, kekayaan, jabatan dan kekuasaan serta aktivitas mereka dalam pelayanan Gereja dan sesama. Tuhan telah memberikan berkat, itulah pandangan orang umumnya. Suatu pandangan didasarkan penampilan fisik , bahwa ia memasuki masa sukacita yang dapat disebut masa kehidupan berbulan madu dengan Tuhan, karena Tuhan seolah memberikan segala apa yang diminta. Kata “seolah” perlu digaris bawahi karena iblis juga bisa.

Bila kita mencoba memahami pengalaman hidup ini, banyak keberhasilan seseorang atas kenikmatan dunia: Karier, Kekuasaan, Kekayaan ternyata berjalan di luar kemampuan dirinya, tapi ia mengklaim itu upaya sendiri. Iblis tertawa. Manusia dijebak rasa percaya diri yang berlebihan. Keberhasilan itu dianggap semata-mata hasil kekuatan sendiri, seakan-akan manusia tidak memerlukan kekuatan dan kuasa Tuhan. Tanpa disadari, situasi ini telah membentuk bangunan tembok penghalang yang menyekat mata hati dan rohani manusia akan karya Tuhan. Suasana sukacita itu hanya semu, sukacita dalam pujian orang, sukacita dalam kesombongan jasmani maupun rohani. Pujian dan kesombongan itu telah membawa ke dalam alam keserakahan. Dengan mengejar kekayaan, dan kekuasaan kehidupan rohani tercekik (Lukas 8:14), dan dibawa ke dalam pencobaan dan keinginan yang mencelakakan (1 Tim 6:9). Akibatnya, ada di antara kita menghadapi persoalan dalam kehidupan yang berkelanjutan disebabkan ulah sendiri. Seolah luka yang menimpa sangat payah dan sukar disembuhkan bagaikan keracunan yang akut, akibatnya ada yang berkeinginan mau bunuh diri. Ya, masa bulan madu itu telah berlalu, dan masuk dalam suasana kesesakan karena duka dan derita menghadang, ibarat tubuh kemasukan racun dalam jumlah yang berbahaya.

Pada situasi kesesakan, manusia yang sadar akan dirinya akan merasakan bahwa segala kenikmatan yang diperoleh sebelumnya hanyalah sia-sia. Lenyap tanpa bekas. Hidup yang tidak dilandasi rasa syukur dalam segala hal kepada Tuhan akan sangat dirasakan akibatnya. Pada saat inilah, manusia akan dapat merasakan doa adalah bagian pergumulan. Seluruh keluarga bahkan Pendeta membantu berdoa siang dan malam dengan tidak jemu-jemu atas pergumulan hidup yang sedang menghadang. Sehari bagaikan sebulan, tidak sabar menunggu waktu Tuhan sangat dirasakan dalam kungkungan pergumulan. Ketekunan dan penuh berharap bagian pergumulan, tidak seperti masa-masa bulan madu yang penuh sukacita, berkat, berkat, dan berkat datang tanpa diundang.

Kemampuan untuk menyingkapkan tembok penghalang bagi mata hati seseorang adalah Rahasia Tuhan. Tetapi banyak dilihat orang bersaksi bahwa ia terlepas dari situasi kesesakan hanya karena pertolongan Tuhan. Situasi kesesakan yang dianggap racun itu ternyata telah mengubah seseorang untuk berbalik kepada Tuhan. Bahkan berdampak luar biasa, mula-mula maksud dan tujuan doa untuk kepentingan hadapi pergumulan, namun semua itu sekarang lebih suatu kebutuhan untuk memuji dan menyembah Tuhan. Itukah cara Tuhan bekerja untuk menegur umat-Nya? Tuhan bekerja di mana sikap iman ada, sebagaimana Mazmur 37:5-6: Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepadaNya, Ia akan bertindak, Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang. Tuhan tidak lalai janji-Nya, tetapi Ia sabar supaya manusia berbalik dan bertobat (2 Petrus 3:8-9).

Di mana letak masalahnya? Madu dan racun itu pada hakekatnya terbentuk oleh karena perbuatan kita sendiri. Apabila kita mengakui hidup dalam Kristus, seharusnya naluri intim dengan Tuhan dan selalu ucap syukur dalam pertobatan kepada Tuhan adalah kebutuhan. Kenyataannya itu semua sering hanya dalam ucapan di bibir tanpa hati. Naluri manusia selama ini terhalang dengan kemauan daging yang lebih besar sehingga naluri itu tertutup dan tertekan. Inilah kebebalan rohani yang mengakibatkan seseorang menghadapi pergumulan hidup yang disebabkan ulah sendiri. Sehingga, manusia telah gagal mencapai bahkan mendekati kesempurnaan sebagaimana amanat Tuhan Yesus hendaknya kamu sempurna sama seperti Bapa-Mu yang di surga adalah sempurna (Matius 5:48).

Rasul Paulus menyampaikan pesan Tuhan. Tetaplah berdoa, mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.(1 Tesalonika 5:17-18). Inilah makna pesan Tuhan: Percayakah engkau bahwa Aku butuh persembahanmu dari hati yang bersalah? Apa artinya uang atau harta dari bibirmu yang tak pernah ucap syukur dan berdoa. Bagi-Ku cukup setetes air mata dari hati yang siap dibentuk.

Tuhan memberkati kita semua.