Being Led by the Holy Spirit

Penulis : DR. David Yonggi Cho

Salah satu hal terpenting di dalam pelayanan bukanlah membuat rencana dengan pimpinan Roh Kudus. Meskipun berkali-kali kita merasa perlu untuk memulai suatu rencana atau proyek yang baru, tetapi kita harus menunggu sampai Roh Kudus memimpin kita. Kita harus mengikuti pimpinan Roh Kudus. Apabila Roh Kudus menggerakkan kita untuk melakukan suatu hal tertentu, maka kita harus meninggalkan rencana kita dan mematuhiNya dengan segera.

[block:views=similarterms-block_1]

Alkitab membandingkan Roh Kudus dengan angin. Hal ini tertulis dalam Yohanes 3:8, Angin bertiup kemana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau kemana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh. Oleh karena itu, para pendeta yang sedang melakukan pekerjaan Tuhan harus mengakui pimpinan yang kuat dari Roh Kudus.

Namun, kebanyakan para pendeta membuat rencana besar secara detail untuk pelayanan mereka tanpa membicarakannya dulu dan tanpa menaati pimpinan dari Roh Kudus. Ini salah! Rencana yang seperti itu bukan berasal dari inspirasi dan pimpinan Roh Kudus, dan rencana yang seperti itu tidak didukung oleh kekuatan Allah.

Tentu saja seorang pendeta harus membuat rencana-rencana untuk pelayanannya. Seorang pendeta juga harus membuat suatu program untuk kebaktian. Tetapi yang terpenting dari semuanya, seorang pendeta harus dipimpin oleh Roh Kudus, ia harus selalu peka terhadap pimpinan Roh Kudus dan tunduk pada pimpinan Roh Kudus. Oleh karena itu, seorang pendeta harus berdoa tanpa henti. Melalui doa, seseorang harus melatih dirinya untuk berkomunikasi dengan Roh Kudus. Seorang pendeta yang tidak melatih dirinya, tidak akan mampu mengenali pekerjaan Roh Kudus sehingga ini akan meminimalisasi keefektifan Roh Kudus.

Sebagai hamba Tuhan, kita tidak boleh melupakan Roh Kudus sebagai Partner Senior kita di dalam pelayanan kita. Kita tidak dapat melayani dengan kekuatan kita sendiri. Ketika kita berdiri di belakang mimbar untuk menyampaikan Firman Tuhan, Roh Kudus harus menjadi Tuan kita. Kita harus membiarkan Roh Kudus menyampaikan pesanNya. Ketika pesan itu telah sampai, kita harus menggunakan karunia Roh Kudus. Karunia Roh Kudus yang telah diberikan Tuhan kepada kita harus dibukakan.

Selain itu, seorang pendeta harus menyampaikan pesan tersebut dengan penuh urapan diikuti dengan adanya tanda-tanda dari Roh Kudus. Hal ini tertulis dalam Markus 16:17, Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya.Tanda-tanda akan menyertai pengajaran kita tentang Injil.

Kita harus merasakan karunia Roh Kudus. Jika tidak, mujizat tidak akan terjadi. Selain itu, karena karunia Roh Kudus merupakan tanda-tanda yang mengikuti pesan dari Roh Kudus, maka mula-mula kita harus berjalan dalam iman. Jika kita hanya diam, maka Roh Kudus juga akan diam, dan tidak akan ada tanda-tanda yang terlihat. Ketika kita memiliki iman di dalam Tuhan dan terus mempercayai Dia, Roh Kudus akan menolong kita dan tanda-tanda akan mengikuti pelayanan kita.

Ada satu alasan mengapa pekerjaan Roh Kudus yang ajaib dan besar tidak terjadi dalam Gereja Tuhan, seperti yang terjadi pada waktu Gereja mula-mula. Hal itu dikarenakan kita tidak bisa menaati Roh Kudus, kita tidak mengenali cara kerjaNya, meskipun Ia sedang menunggu kita dan ingin bekerja bersama kita.

Bahkan sekarangpun Tuhan ingin bekerja bersama kita dan membukakan tanda-tanda dari Roh Kudus.

Oleh karena itu, seorang pendeta harus memiliki kemampuan rohani untuk mengenali dengan peka cara kerja Roh Kudus.

Seperti kita dapat dengan mudah mengenali suara teman-teman kita di telepon, maka kita juga dapat dengan mudah mengenali suara Tuhan apabila kita memiliki hubungan yang dalam dengan Tuhan setiap harinya melalui renungan FirmanNya dan melalui doa doa bersama Roh Kudus.

Apabila seorang hamba Tuhan menaati Dia dan dipimpin olehNya, maka pelayanannya akan penuh semangat dan sukses besar.

Sumber: Spiritual Leadership For The New Millenium