Betlehem : Kota Kelahiran Kristus Sang Juruselamat

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

(LUKAS 2:1-20; MATIUS 2:1-18)
Oleh: Samuel T. Gunawan, SE., M.Th

“(2:10) Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: (2:11) Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat,
yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Lukas 2:10-11)
“(2:6) Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel” (Matius 2:6; Bandingkan Mikha 5:2)


PENDAHULUAN

Penulis Injil Matius melihat keunikan dari kelahiran Kristus sebagai penggenapan dari ramalan (nubuat) para nabi Perjanjian Lama mengenai kedatangan Mesias, Sang Penyelamat yang dijanjikan. Bahkan para penulis kitab Injil mengemukakan sejumlah ramalan yang digenapi menyangkut kedatangan Kristus ke dunia. Tidak diragukan lagi ada begitu banyak rujukan ramalan tentang Kristus dalam Perjanjian Lama yang dinyatakan digenapi dalam Perjanjian Baru, mulai dari kelahiran di Betlehem hingga kebangkitanNya dari kematian. Ratusan ramalan Perjanjian Lama yang telah digenapi oleh Kristus membuktikan bahwa Allah itu benar dan Kitab Suci dapat dipercayai, karena berasal dari Allah yang benar dan berdaulat. Secara khusus ramalan Perjanjian Lama yang digenapi berkaitan dengan kelahiran Kristus, misalnya : (1) Kristus berasal dari keturunan raja Daud diramalkan dalam 2 Samuel 7:12-13 dan digenapi dalam Matius 1:1; (2) Kristus lahir dari seorang anak dara atau seorang perawan diramalkan dalam Yesaya 7:14 dan digenapi dalam Matius 1:21; (3) Kristus lahir di Betlehem diramalkan dalam Mikha 5:2 dan digenapi dalam Matius 2:6; (4) Kristus yang masih bayi dibawa oleh orang tuanya ke Mesir diramalkan dalam Hosea 11:1 dan digenapi dalam Matius 2:15; (5) Pembunuhan massal bayi-bayi di Betlehem oleh Raja Herodes dengan maksud membunuh bayi Yesus telah diramalkan dalam Yeremia 31:15 dan digenapi dalam Matius 2:18.

Kelahiran Juruselamat di Betlehem seperti yang diramalkan oleh Nabi Mikha merupakan satu dari banyaknya ramalan tentang Kristus yang telah digenapi secara tepat. Menurut Injil Matius, ramalan Mikha 5:2 tersebut merujuk kepada Kristus dan dengan demikian telah digenapi pada peristiwa kelahiran Kristus di Betlehem (Matius 2:5-6). Pastilah maksud utama penggenapan ramalan Perjanjian Lama oleh Kristus tersebut merupakan suatu penyataan ilahi yang memberikan nilai penting bagi keunikan Kristus dan menjadi bukti keakuratan Kitab Suci. Kelahiran Kristus di Betlehem menunjukkan bahwa Allah sudah mengkonfirmasikan identitas Kristus mulai sejak dari kelahiranNya bahwa Kristus yang telah ada sejak sebelum segala zaman sungguh telah lahir di Betlehem sebagai keturunan Daud. Dan bagi kita, penggenapan dari ramalan tersebut telah menjadi hal yang menguatkan dan meneguhkan keyakinan kita kepadaNya bahwa Ia benar-benar Mesias, Juruselamat dunia (Bandingkan : Lukas 2:10-11; Yohanes 1:29; Yohanes 3:16; 2 Korintus 5:14-15; 1 Timotius 2:6; 4:10; Titus 2:11; 1 Yohanes 2:2; 4:14).

SEKILAS TENTANG KOTA BETLEHEM

Kata “Betlehem” berasal dari dua kata Ibrani “bèt” yang berarti “rumah” dan “lekhem” yang berarti “roti”. Jadi secara harfiah kata “Betlehem” adalah “bèt lekhem” yang berarti “rumah roti”. Ini langsung mengingatkan kita akan begitu banyaknya ladang gandum yang seperti yang dikisahkan dalam Kitab Rut (Rut 2). Dalam Alkitab, ada dua kota yang dikenal dengan sebutan Betlehem, yaitu : (1) Betlehem di Zebulon (Yosua 19:15), yakni tempat tinggal hakim Ebzan (Hakim-hakim 12:8,10). Lokasi Betlehem ini kira-kira 11 kilometer barat laut kota Nazaret tempat Yesus dibesarkan (Bandingkan : Matius 2:23; Lukas 2:39; Matius 21:11; 26:71; Kisah Para Rasul 2:22); (2) Betlehem di Efrata (Rut 1:2; Mikha 5:2; Matius 2:6) yang disebut juga Betlehem Yehuda. Disebut dengan Betlehem Efrata karena memang dahulu namanya adalah Efrata (Kejadian 35:19). Letak kota ini sekitar 9 kilometer di sebelah selatan Kota Yerusalem.

Jika Betlehem di Zebulon merupakan kota yang tidak terlalu penting dalam Alkitab, maka tidaklah demikian dengan Betlehem di Efrata. Kota ini begitu penting dalam Alkitab karena beberapa alasan, yaitu : (1) Kuburan Rahel istri Yakub leluhur bangsa Israel terletak di dekat Betlehem Efrata (Kejadian 35:16-20; 48:7). Itulah sebabnya mengapa Matius langsung menghubungkan Yeremia 31:15 dengan peristiwa pembantaian terhadap bayi-bayi yang berumur 2 tahun ke bawah di Betlehem dan sekitarnya yang dilakukan atas perintah raja Herodes (Matius 2:15-17). Tetapi mungkin ada yang bertanya, mengapa Yeremia 31:15 menyebut Rama bukan Betlehem? Ini berarti Matius keliru mengutip Yeremia 31:15 dan menghubungkannya dengan peristiwa pembantaian bayi-bayi di Betlehem oleh raja Herodes! Sebenarnya, hal ini tidak perlu dipermasalahkan karena Rama memang dekat dengan Betlehem. Letak Rama kira-kira 8 kilometer disebelah utara Yerusalem. Matius dengan teliti mencatat bahwa pembantaian terhadap bayi-bayi yang dilakukan oleh raja Herodes terjadi di “Betlehem dan sekitarnya”. Ini berarti termasuk juga bayi-bayi di Rama yang dibantai (Matius 2:16). (2) Nenek moyang Daud tinggal di Betlehem (Rut 4:17-22), dan Daud lahir di kota ini. Itu sebabnya Betlehem di sebut juga dengan nama “Kota Daud” (1 Samuel 17:12, Lukas 2:4). Di Betlehem ini jugalah Daud diurapi menjadi raja oleh Samuel (1 Samuel 16:4-13); (3) Kota Betlehem ini telah ditentukan sebagai tempat kelahiran “Mesias” yang akan memerintah Israel (Mikha 5:2). Karena itu, Matius dan Lukas melaporkan bahwa Yesus, yang mereka beritakan sebagai Sang Mesias, dilahirkan di Betlehem (Matius 2:1; Lukas 2:4-11).

PERAN KAISAR AGUSTUS DALAM PERISTIWA KELAHIRAN YESUS

Nabi Mikha meramalkan bahwa Mesias akan dilahirkan di Betlehem (Mikha 5:1) dan itu menurut Matius menunjuk kepada Kristus yang dilahirkan di Betlehem (Matius 2:5-6; Bandingkan Lukas 2:4-11). Namun kita mengetahui bahwa Yusuf dan Maria tinggal di kota Nazaret di Galilea, bukan di Betlehem. Ketika kelahiran Yesus diberitahukan oleh malaikat Gabriel, Maria yang sudah bertunangan dengan Yusuf, tinggal di Nazaret di daerah Galilea (Lukas 1:26-27). Sampai usia kandungan Maria mencapai sembilan bulan, Yusuf dan Maria masih tinggal di Nazaret. Bahkan Yesus dibesarkan oleh Yusuf dan Maria di Nazaret, sehingga Yesus disebut sebagai “orang Nazaret” (Matius 2:23; Lukas 2:39; Matius 21:11; 26:71; Kisah Para Rasul 2:22). Menurut pikiran manusia yang terbatas, ini adalah sebuah masalah! Bagaimana Allah akan mengaturnya agar Yesus yang sedang dikandung dalam rahim Maria, harus lahir di Betlehem dan bukan diNazaret?

Lukas melaporkan sebuah peristiwa penting yaitu sensus penduduk pertama di dunia yang diperintahkan oleh Kaisar Agustus dari Romawi, melalui Kirenius yang pada saat itu yang menjabat sebagai gubernur Siria, dan dilaksanakan oleh Herodes Agung selaku raja Yahudi pada masa itu. (Lukas 2:1-2), di mana setiap orang diwajibkan untuk kembali ke kota dan keluarga asal mereka. Hal inilah yang memaksa Yusuf, dengan membawa istrinya Maria yang sedang mengandung sembilan bulan untuk kembali ke Betlehem karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud (Lukas 2:3-5). Tidak ada pilihan lain bagi Yusuf ataupun pengecualian bagi Maria yang sedang hamil tua itu selain kembali ke Betlehem dengan menempuh perjalanan sejauh 96 kilometer dari Nazaret, sebuah perjalanan yang cukup jauh dan ditempuh selama beberapa hari dengan kondisi jalan dan transportasi yang ada pada masa itu. Karena perintah sensus penduduk oleh Kaisar Agustus tersebut, maka Yusuf dan Maria dengan terpaksa berangkat dari dataran rendah Nazaret di utara menuju dataran tinggi Betlehem di perbukitan Yudea sebelah Selatan. Dan tepat pada waktu mereka berada di Betlehem, tiba waktunya bagi Maria untuk bersalin dan melahirkan Yesus. Jadi, Allah sebenarnya memakai Kaisar Oktavianus dari Romawi yang lebih dikenal dengan sebutan Kaisar Agustus, untuk memindahkan Yusuf dan Maria ke tempat yang tepat di Betlehem dan pada waktu yang tepat ketika usia kandungan Maria telah siap untuk bersalin dan melahirkan Yesus (Lukas 2:6-7). Hal tersebut di atas menyingkapkan kebenaran yang sangat penting bagi kita.

Pertama, Allah tidak bergantung kepada siapa pun untuk menggenapi rencanaNya. Ia memakai orang-orang dan siapa saja menurut kehendakNya. Apakah kita mengetahui atau tidak, Allah tetaplah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Apakah kita mengakui atau tidak mengakui, sedikit pun tidak berpengaruh terhadap kedaulatan Allah. Ia tetap Allah yang berdaulat! Seringkali kita dengan salahnya berpikir bahwa Tuhan hanya memakai mereka yang sepenuhnya mengabdi kepada Dia. Tentu saja itu tidak terjadi di sini! Kaisar Agustus adalah salah satu kaisar yang paling jahat dari semua kaisar. Ia mengumumkan dirinya sebagai allah, namun dialah yang Allah pakai untuk memindahkan Yusuf dan Maria, yang adalah orang tua Kristus secara jasmaniah ke tempat yang benar. Kaisar ini sama sekali tidak mengerti bahwa Allah memakainya untuk melakukan hal tersebut saat ia mengumumkan sensus penduduk dunia pada waktu itu.

Kedua, tampaknya Yusuf dan Maria tidak mengetahui nubuatan Mikha. Seandainya mereka mengetahui sekalipun, mereka tidak pernah berpikir bahwa nubuatan itu akan melibatkan mereka. Jadi di sini mereka pergi ke Betlehem bukan karena kesadaran mereka sendiri dalam pengertian karena mereka mengetahui nubuatan nabi Mikha, atau pun karena ketaatan mereka kepada Allah, melainkan dilakukan karena terpaksa karena sensus penduduk atas perintah Kaisar Agustus. Di sini kita melihat, bahwa Allahlah yang mengatur segala sesuatunya. Hal ini juga mengajarkan kita bahwa kita tidak harus menggenapi rencana kehendak Allah dengan kekuatan kita sendiri; Ia mampu secara ilahi mengatur keadaan-keadaan kita untuk mengarahkan jalan kita di jalan-jalanNya. Yang harus kita lakukan adalah mencari Dia, dan Ia akan mengarahkan jalan-jalan kita (Amsal 3:6).

PARA SAKSI KELAHIRAN YESUS DI BETLEHEM

Tepat sekali, tidak lama setelah Yusuf dan Maria tiba di Betlehem dan mendaftarkan diri mereka di sana, tiba waktunya bagi Maria untuk bersalin dan ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang segera mereka menamainya Yesus, sesuai dengan pesan yang disampaikan melalui malaikat Gabriel beberapa bulan sebelumnya (Lukas 1:30-33; Bandingkan Matius 1:20-23). Perlu diketahui, pada masa itu jika seorang perempuan melahirkan anak, biasanya hanya dihadiri oleh kaum perempuan. Namun, jauh dari rumah di Nazaret, Maria tidak mendapat dukungan dan kehadiran dari ibunya serta sanak saudara perempuannya yang dikenalnya. Bahkan ia harus melahirkan di sebuah rumah di tempat hewan karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. Hal ini dapat dimengerti karena penginapan telah penuh oleh para peziarah yang datang ke Betlehem dengan maksud yang sama, yaitu mendaftarkan diri dalam sensus yang diperintahkan Kaisar Agustus. Jadi, tidak ada pilihan lain bagi Yusuf dan Maria, kecuali menerima bayi mereka dilahirkan di rumah sementara di dekat hewan. Bayi Yesus dibungkus dengan kain lampin, yakni kain-kain panjang yang mirip dengan kain yang dipakai untuk membungkus mumi-mumi Mesir, negara tetangga. Kemudian sebuah palungan, yaitu tempat makanan hewan, digunakan sebagai pengganti tempat tidur bagi bayi yang baru lahir yang dibungkus ini.

Kita tidak di beritahu siapa dan berapa orang perempuan yang membantu Maria dalam persalinannya yang menjadi saksi kelahiran Mesias, Sang Juruselamat yang dijanjikan tersebut. Namun yang kita tahu, bahwa Yusuf dan Maria adalah saksi-saksi pertama, bahwa Yesus benar-benar dilahirkan di Betlehem, dan hal ini kita tahu merupakan penggenapan ramalan nabi Mikha (Mikha 5:2) dan keakuratan Kitab Suci (Matius 2:4-6). Selain Yusuf dan Maria, ada saksi-saksi lainnya yang disebutkan dalam Alkitab untuk meneguhkan peristiwa kelahiran Kristus benar-benar di Betlehem, yaitu beberapa gembala di padang Efrata dan orang-orang Majus dari Timur.

1. Gembala-Gembala di Padang Efrata (Lukas 2:8-20)

Betlehem merupakan wilayah peternakan domba karena termasuk dataran tinggi. Bukit-bukit digunakan sebagai padang rumput tempat domba-domba dipelihara untuk diambil bulunya menjadi wol, untuk dimakan dagingnya, dan untuk dipersembahkan sebagai kurban di Bait Allah Yerusalem yang tidak begitu jauh letaknya. Para gembala menjaga kawanan domba milik masyarakat di sana. Dalam tatanan sosial budaya, para gembala ini memiliki status yang rendah. Karena itu, sangatlah mengejutkan ketika seorang malaikat menampakkan diri pada sekelompok gembala di perbukitan Efrata di luar Betlehem. Sinar ilahi yang cemerlang meneranginya sementara ia berkata kepada para gembala yang ketakutan itu “jangan takut. Aku memberitahukan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa. Hari ini, di kota Daud, telah lahir bagimu Juruselamat: yaitu Kristus, Tuhan. Inilah tandanya bagimu : Kamu akan menjumpai seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan”. (Lukas 2:10-12). Kemudian sejumlah besar malaikat bergabung dengan malaikat yang pertama itu dan berkata kepada para gembala dengan serempak, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi. Damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya”. (Lukas 2:13-14).

Munculnya malaikat-malaikat itu secara tiba-tiba tentunya lebih membingungkan para gembala ketimbang berita yang disampaikan. Mengapa? Seorang bayi yang dibungkus dengan kain lampin adalah hal yang biasa pada masa itu. Namun yang tidak lazim adalah bahwa bayi itu ditidurkan di sebuah palungan. Dan, karena menyadari bahwa mereka berada di tengah-tengah peristiwa yang supranatural, maka para gembala itu saling berunding dengan penuh kegembiraan, dan akhirnya bersepakat pergi ke Betlehem untuk melihat dan menyaksikan apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahukan Tuhan kepada mereka (Lukas 2:15-20). Mereka yakin bahwa berita dari malaikat itu merupakan berita yang berasal dari Tuhan. Di kota itu, mereka menemukan Maria, Yusuf, dan Sang Bayi persis seperti yang digambarkan malaikat kepada mereka. Ketika mereka meninggalkan tempat itu, mereka menceritakan pengalaman mereka keseluruh penjuru Betlehem dan sekitarnya, meskipun mungkin banyak orang berpendapat bahwa kisah mereka itu sulit untuk dipercaya. Namun, para gembala itu tahu bahwa mereka telah menyaksikan dan menerima hal itu sebagai kehendak Tuhan. Mereka menyembah dan memujiNya karena telah mengikutsertakan mereka di seputar kelahiran Kristus.

2. Orang-orang Majus dari Timur (Matius 2:1-18)

Selain para gembala di padang Efrata, Tuhan juga berkenan menyatakan kelahiran Sang Juruselamat dunia kepada sekelompok orang-orang Majus. Istilah “orang Majus” adalah istilah yang dipakai oleh Herodotus untuk suatu suku dari bangsa Madai, yang mempunyai jabatan imam di Kerajaan Persia. Bagi penulis-penulis kuno lainnya, istilah itu sama artinya dengan imam. Kitab Daniel memberitahu kita dukungan bagi hal ini (Daniel 1:20; 2:27; 5:15). Daniel menyebut mereka sebagai “orang bijaksana” atau “ahli nujum” yang menafsirkan mimpi dan pesan-pesan ilahi. Tetapi sayangnya, dalam Perjanjian Baru pemakaian kata itu meluas maknanya sehingga meliputi semua orang yang mempraktikkan ilmu-ilmu sihir (Bandingkan Kisah Para Rasul 8:9; 13:6-8). Penjelasan di atas membantu kita untuk memahami bahwa “orang-orang Majus” dalam Matius 2:1-12 adalah para ilmuwan dan ahli nujum yang juga memiliki pengetahuan dalam hal perbintangan, tetapi tidak berkaitan dengan peramalan dan penyembahan berhala. Bintang terang yang muncul di langit sebelah timur tersebut hanyalah suatu tanda atau simbol kelahiran Kristus. Hal ini merupakan penggenapan nubuat Bileam yang terdapat di kitab Bilangan, untuk memberitahu kepada umat manusia bahwa Juruselamat “telah” lahir (Bilangan 24:17). Dengan demikian bintang tersebut bukan untuk suatu peramalan hal yang akan (belum) terjadi, melainkan suatu pemberitahuan hal yang sudah terjadi. Lagi pula, Alkitab mencantumkan beberapa hal yang bersangkutan dengan matahari, bulan dan bintang-bintang, misalnya Matius 24:30; Yoel 2:28-32; Kisah Para Rasul 2:19-20, dan lain-lain. Hal-hal tersebut sama sekali tidak menyangkut astrologi.

Orang-orang Majus yang melihat bintang terang itu tidak terlibat dalam penyembahan berhala atau benda-benda di langit, bahkan ada kemungkinan mereka pernah membaca atau mendengar nubuat Bileam tentang bintang Yakub, sehingga tatkala mereka melihat bintang terang, dengan segera mereka mengetahui bahwa itu adalah tanda kelahiran seorang anak raja yang agung. Beberapa ahli mengatakan bahwa orang-orang Majus tersebut adalah pengikut Zoroaster, yang mempercayai dan menyembah Allah yang Esa, serta menentang ajaran polytheisme dan penyembahan terhadap berhala, sehingga mereka tidak ada sangkut pautnya dengan ilmu peramalan bintang. Zoroaster bukanlah pemujaan terhadap Zoro melainkan sebuah agama yang didirikan oleh Zoroaster, yang hidup sekitar 600 sebelum Masehi. Selama seribu tahun dari abad ketiga sebelum Masehi sampai abad ketujuh Masehi, zoroaster merupakan agama resmi dari Persia.

Tafsiran yang lebih mendekati, sesuai dan masuk akal adalah pengaruh Daniel terhadap orang-orang Persia. Matius 2:1 (KJV) menyebut para pria ini “orang bijak (wise men)”. Kata aktual yang digunakan dalam bahasa Yunani adalah “magos” yang berasal dari bahasa asing, mengindikasikan seorang ilmuwan dari negeri timur atau ahli nujum. Menurut para ahli Alkitab, para pria ini berasal dari Persia. Ini sangat penting karena Babel adalah tempat di mana Daniel dan beberapa pemuda Yahudi ditawan dan diangkat menjadi kepala dari semua ahli sihir. Ia selamat dari lubang singa dengan berkemenangan dan telah mendapatkan reputasi sebagai orang bijaksana terbesar (Daniel 6). Pada akhirnya Daniel dipromosikan menjadi kepala dari semua orang bijaksana (Daniel 2:48). Daniel adalah nabi yang kepadanya Allah memberikan penafsiran dari nubuatan 70 minggu Yeremia, yang menunjukkkan kedatangan Mesias (Daniel 9:2; 24-27; Bandingkan Yeremia 25:11). Sebagai kepala ahli nujum dan orang bijaksana (ilmuwan) di Persia, Daniel membuat pengetahuan ini diketahui oleh rekan-rekannya. Tidak diragukan lagi, selama berabad-abad kemudian nubuatan tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya, dan mereka terus mempelajari nubuatannya dan mengantisipasi peristiwa itu. Sangat dimengerti bahwa penampakkan sebuah bintang baru yang bergerak dengan cara berbeda dapat dianggap sebagai tanda khusus dari kelahiran Mesias orang Yahudi. Para ahli nujum Persia tersebut tidak terkejut dengan kemunculan bintang tersebut, sementara para ahli Taurat Yahudi dikejutkan ketika di beritahu bahwa bintang itu menandakan kelahiran seorang raja besar Yahudi. Mengapa? Karena para ahli nujum tersebut telah mempelajari firman Allah melalui Daniel. Firman itu membuat mereka bijaksana terhadap keselamatan (2 Timotius 3:15; Bandingkan 2 Petrus 1:19).

PENUTUP

Kelahiran Kristus di Betlehem merupakan penggenapan dari apa yang telah diramalkan sebelumnya (Bandingkan Mikha 5:2, Matius 2:4-6). Agar dapat meramalkan masa depan secara akurat seseorang harus omniscient (mengetahui segala sesuatu), omnipresent (hadir di mana-mana), dan omnipotent (memiliki segala kuasa). Peramal sejati harus mengetahui segala sesuatu, harus berada setiap saat di semua tempat, dan harus memiliki segala kuasa untuk memastikan bahwa ramalannya digenapi. Tuhan di dalam Alkitab mengajukan tantangan terhadap siapa saja yang hendak menjadi lawan terhadap supremasiNya atas alam semesta. Dasar dari tantangan itu adalah bahwa hanya Tuhan yang benar dan berdaulat yang dapat meramalkan masa depan secara akurat. Alkitab memberikan penegasan tentang kemampuan Tuhan menyingkapkan masa depan, misalnya seperti yang diungkapkan dalam Yesaya 41:21-24; 42:9; 44:6-8; 46:8-10; Daniel 2:20-22.

Tuhan di dalam Alkitab memberikan gambaran tentang peristiwa-peristiwa masa depan yang akan terjadi dan digenapiNya. Mengapa? Karena Tuhan kita adalah Tuhan yang berdaulat. KedaulatanNya berarti bahwa Ia adalah Pribadi yang utama di alam semesta dan yang tertinggi kekuasaanNya di alam semesta. Ia mencipta, memelihara, dan memerintah segala sesuatu secara sempurna. Ia sepenuhnya menguasai segala sesuatu, dan semua mahluk ciptaan berada dibawahNya, dan ia berbuat segala sesuatu kepada mereka sesuai dengan yang dikehendakiNya. Ia bertindak dan melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan rencanaNya dalam kekekalan menurut kehendakNya. Dengan demikian Allah bebas dan tidak dibatasi oleh apapun selain oleh kehendakNya sendiri, untuk merencanakan dan bertindak sesuai sesuai dengan yang dikehendakiNya. KedaulatanNya meliputi seluruh alam semesta (Ulangan 10:14; Mazmur 103:19; 135:6; Daniel 4:35), mengendalikan setiap keadaan, mengendalikan alam dan makluk ciptaan, mengarahkan kehidupan baik individu maupun bangsa, serta mengarahkan sejarah sesuai kehendakNya. Kekuasaan-Nya kekal dan kerajaan-Nya turun-temurun (Daniel 4:34). Setiap kejadian dalam sejarah umat manusia langsung dalam pengendalian-Nya (Wahyu 9:15). Ia menentukan zaman sejarah umat manusia dan batas-batas kediaman mereka (Kisah Para Rasul 17:26). Ia bekerja secara tidak kelihatan dalam kejadian dan proses-proses, untuk melaksanakan tujuan-tujuan-Nya yang mengandung berkat-berkat.

Alkitab juga mengajarkan bahwa Allah berdaulat atas setiap keadaan. Dia menentukan apa yang terjadi dalam peristiwa-peristiwa manusia (Amsal 16:33; bandingkan Yunus 1:7). Ia berkuasa memperpendek hidup atau memperpanjangnya (Ayub 1:21; Mazmur 102:24). Tuhan mendatangkan baik kebahagiaan maupun malapetaka (Yesaya 45:7), keberhasilan dan kemenangan dalam pertempuran (1 Samuel 11:13), dan kekuatan untuk memperoleh kekayaan (Ulangan 8:18) datang dari pada-Nya, begitu juga kekuatan mendatangkan penyakit atau menjauhkannya (Ulangan 7:15). Kehendak Allah dapat dilaksanakan dalam apa yang kelihatan sekalipun nampak sebagai kebetulan (Keluaran 21:13; 1 Raja-raja 22:28,34) dan dianggap tidak berarti (Matius 10:29-30). Justru berbagai bukti yang di dinyatakan di dalam Alkitab bertujuan membawa kita agar mengetahui dan mengakui kedaulatan Allah atas segala sesuatu, termasuk sejarah manusia dan dalam kehidupan kita. Mengetahui dan mengakui kedaulatan Allah, bahwa Ia bertindak dan melaksanakan segala sesuatu sesuai dengan rencanaNya dalam kekekalan menurut kehendakNya membawa kita kepada : (1) Pemujaan dan penyembahan yang semakin dalam bagi Allah; (2) Memberi penghiburan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan kita; (3) Meneguhkan keyakinan akan kemahakuasaan dan kebaikan Tuhan yang pada akhirnya memberi kita rasa aman; (4) Memberi kepastian kepada kita bahwa apa yang difirmanNya, khususnya tentang peristiwa-peristiwa masa depan itu, akan terlaksana dan digenapi juga.

Akhirnya, ratusan ramalan Alkitab yang telah digenapi oleh Kristus membuktikan bahwa Allah itu benar dan Alkitab dapat dipercayai, karena Alkitab berasal dari Allah yang benar dan berdaulat.

REFERENSI
Anderson, Leith. A., 2009. Yesus : Biografi Lengkap Tentang PribadiNya, NegaraNya, dan BangsaNya. Terjemahan, Penerbit Gloria Graffa : Yogyakarta.
Browning, W.R.F., 2007. Kamus Alkitab. Terjemahan, Penerbit BPK Gunung Mulia: Jakarta.
Cornish, Rick., 2007. 5 Menit Sejarah Gereja. Terjemahan, Penerbit Pionir Jaya : Bandung.
Douglas, J.D., ed, 1993. Ensiklopedia Alkitab Masa Kini. Jilid 1 & 2. Terjemahkan Yayasan Komunikasi Bina Kasih : Jakarta.
Eaton, Michael 2008. Jesus Of The Gospel. Terjemahan, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.
Enns, Paul., 2004. The Moody Handbook of Theology. Jilid 1. Terjemahan, Penerbit Literatur SAAT: Malang.
Geisler, Norman & Ron Brooks., 2010. Ketika Alkitab Dipertanyakan. Terjemahan, Penerbit Andi Offset: Yogyakarta.
Guthrie, Donald, dkk., 1982. Tafsiran Alkitab Masa Kini. Jilid 3. Terjemahan. Penerbit Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF : Jakarta.
Guthrie, Donald., 2010. Teologi Perjanjian Baru. Terjemahan, Penerbit BPK : Jakarta.
__________________., 2009. Pengantar Perjanjian Baru. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Pfeiffer F. Charles & Everett F. Harrison., ed. 1962. The Wycliffe Bible Commentary. Volume 3. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas Malang.
Ladd, George Eldon., 1999. Teologi Perjanjian Baru. Jilid 1, Terjemahkan, Penerbit Kalam Hidup: Bandung.
Misler, Chuck, 2006. Learn The Bible In 24 Hours. Penerbit Visimedia : Tangerang.
Morris, Leon., 2006. Teologi Perjanjian Baru. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Ryken, Leland, James C. Wilhoit, Tremper Longman III, editor., 2002. Kamus Gambaran Alkitab. Terjemahan, Penerbit Momentum: Jakarta.
Ryrie, Charles C., 1991. Teologi Dasar. Jilid 1, Terjemahan, Penerbit ANDI Offset: Yogyakarta.
Sandison, George & Staff., 2013. Bible Answers for 1000 Difficult Questions. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Stamps, Donald C., ed, 1995. Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Tenney, Merril C., 1992. Survei Perjanjian Baru. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas : Malang.
Thiessen, Henry C., 1992. Lectures in Systematic Theology, direvisi Vernon D. Doerksen. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.
Yancey, Philip, 1997. Bukan Yesus Yang Saya Kenal. Terjemahan, Penerbit Profesional Books : Jakarta.
Yancey, Philip & Brenda Quinn., ______. Kenalilah Alkitab. Terjemahan, Penerbit Gospel Press : Tanggerang.
Zuck, Roy B, editor., 2011. A Biblical of Theology The New Testament. Terjemahan, Penerbit Gandum Mas: Malang.