Harga Diri
Oleh:Sion Antonius
Manusia sering salah dalam menilai harga dirinya, kadangkala terlampau tinggi, kadangkala terlalu rendah. Sangat jarang seseorang dapat dengan tepat menilai harga dirinya. Sebagai sebuah contoh perenungan mari kita lihat kesalahan orang dalam menilai harga dirinya, yaitu dalam keluarga.
Apa yang Kau Beri untuk Anakmu?
Oleh: Sion Antonius
Satu sore, anak saya yang pertama datang menghampiri dan kemudian berkata bahwa ia kehilangan kaos tim basketnya. Ia berkata bahwa kaos tersebut sudah dimasukkan kedalam tas, namun ketika diperiksa di rumah hanya ada celananya saja, kaos atasnya entah dimana. Ia menceritakan hal tersebut dengan gaya yang sedih dan bingung. Sebagai orang tua maka saya dapat mengerti apa yang diinginkannya, ia ingin supaya tidak dimarahi dan ingin ditolong, sebab beberapa hari kemudian ia harus ikut kompetisi bola basket antar sekolah, maka sangatlah tidak mungkin jika anak kami tidak memiliki kaos tersebut. Dengan kondisi seperti itu maka saya sebagai orang tua harus bijaksana dan menolongnya dengan serius.
Pengejar Harta Surgawi
Oleh: Sendra Cornelia
Saya adalah orang yang sedang mengumpulkan harta surgawi (harta petualangan mujizat). Percaya dengan mimpi, hati nurani, penglihatan serta hal-hal yang supranatural. Petualangan percaya dengan mimpi dan penglihatan saya ikuti dengan penuh keyakinan yang mengandung resiko, tapi sekarang saya mengucap syukur karena ketika saya taat mengikuti mimpi dan penglihatan semuanya di jawab Tuhan dengan kekuatan yang mengalahkan logika.
Berjuang dalam Pertandingan Iman
Oleh: Sendra Cornelia
Kini aku sudah tidak berhak lagi memilih jalan hidupku sendiri. Dalam tahun ini aku benar-benar diajar menyerahkan seluruh masa depanku kepadaMu, aku di tuntut untuk percaya penuh padaMu. Tapi kenapa aku selalu berjuang hanya untuk percaya. Apakah yang Engkau mau lebih baik dari yang aku mau? [block:views=similarterms-block_1]
Seeking His WiLLing
Oleh: Uchy Simanjuntak
Terkadang ada hal-hal yang tak dapat didapat sejalan dengan kehendak kita walaupun kita telah memperjuangkannya dalam waktu dan pergumulan yang besar. Apakah sesungguhnya kita mengerti bahwa hidup kita adalah milik Allah, dan maka dari itu saat bukan kehendak kita yang terjadi, sesungguhnya itu adalah kehendak Tuhan. Sadarkah kita, seberapa terbatasnya kita dan sebaliknya betapa tak terjangkaunya Allah dan semua mujizat-mujizatNya. Atau?? Belumkah kita menyadari bahwa kita ada untuk sebuah karyaNya yang besar yang telah Ia rancangkan, bahkan saat ini sedang berlangsung dalam hidup kita?? Apa arti hidup kita yang sesunggunya???
Apakah Ada Keselamatan di Luar Yesus Kristus?
Oleh : Pdt. DR. Budyanto
Biasanya setiap orang Kristen berpendapat bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus Kristus, bahkan lebih sempit lagi tidak ada keselamatan di luar gereja. Adapun dasar yang dipakai adalah Yohanes 14:6: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.
Hukum Ke-10 Membangunkan Setiap Orang (1)
Penulis: Robert J. Wieland
Jangan mengingini .apapun yang dipunyai sesamamu." (Keluaran 20:17).
Sepuluh Hukum adalah Kabar Baik tentang apa yang Juruselamat lakukan. Sebagian besar orang melihat Sepuluh Hukum sebagai peraturan keras yang tidak mungkin dituruti, meskipun demikian Allah memberikannya pada umat-Nya di Gunung Sinai sebagai sepuluh pesan mulia dari Kabar Baik.
Betapa Berartinya Keluarga
Sumber: Oliver N
Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: "Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh.(Lukas 11 : 17).
Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga, saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Busuk
Penulis : Timur Citra Sari
BUKAN main! Rasanya belum pernah sesuatu yang berlabel busuk mendapat liputan dan pembahasan yang sangat luas, seperti yang tengah terjadi di negeri kita belakangan ini. Mungkin karena label busuk kali ini tidak disandang oleh telur, atau pepaya, atau daging, melainkan oleh manusia. Mungkin juga karena mengenali kebusukan manusia tidak semudah mengenali kebusukan telur, pepaya, atau daging.