Setitik Nila dalam Pelayanan

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh : Yon Maryono

Peribahasa mengatakan karena setitik nila rusak susu sebelanga artinya hanya disebabkan oleh kesalahan atau kejahatan sekelompok kecil pelayan Tuhan, maka seluruh perkara pelayanan menjadi ternoda.. Setitik nila tak ubahnya dengan sebuah masalah, seperti orang Israel berubah setia dengan mengambil barang-barang yang dikhususkan, tetapi karena Akhan… mengambil sesuatu dari barang-barang yang dikhususkan itu. Lalu bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel.” (bdk Yosua 7:1)

Kisah dalam Alkitab dan Jaman Sekarang

Pada tahun sekitar 56 Masehi Paulus menerima kabar buruk dari orang-orang Kloe. Berita buruk tersebut adalah timbulnya persoalan-persoalan, seperti keikutsertaan jemaat Korintus dalam upacara-upcara keagamaan kafir, penghakiman di depan orang-orang kafir dan pelacuran, selain masalah-masalah etis dan moral jemaat di Korintus. Paulus menulis suratnya di Efesus kemudian mengirimkan surat penggembalaan sekaligus teguran kepada Jemaat di Korintus karena penyimpangan moral jemaat Korintus yang dipengaruhi Gnostisisme. Demikian pula, Jemaat di Korintus juga terlibat dalam praktik penyembahan berhala, dan dipengaruhi oleh pemikiran Yunani yang rasionalis.
Pada jaman sekarang, pada saat diberitakan seorang Pendeta dari Kolombia ditangkap di Bandara Sheremetyevo, Moskow karena selundupkan narkoba, dengan alasan tidak punya pilihan karena dipaksa oleh sebuah gang mafia. Persistiwa lain, Uskup Gereja di Australia diminta mundur oleh karena tindakan amoral. Demikian pula, kita dengar ulah amoral dalam jabatan Gerejawi juga terjadi di negeri ini. Akhirnya pelayanan kepada Tuhan dihadapkan suatu pilihan antara Pelayanan sebagai karier atau panggilan; Pelayanan sebagai Keharusan atau sampingan, Pelayanan kepada Tuhan tempat ajang persaingan, serta dilema yang rumit lainnya yang merusak konsentrasi Pelayanan
Belajar dari situasi dan kondisi jaman Paulus dan saat ini tampak ada persamaan dan perbedaan yang menonjol. Persamaannya, mereka yang terlibat “melayani Tuhan” terjebak kebingungan dalam memilih, apa yang baik dan utama dalam pelayanannya. mereka terpengaruh iblis yang menawarkan kenikmatan duniawi yang membuat hati gamang. Perbedaannya, Rasul Paulus menganggap peristiwa itu sangat serius sehingga perlu mengirim surat tegoran sekaligus penggembalaan bagi jemaat Korintus. Saat ini, pada saat belum muncul dilingkungan umat Kristen seorang tokoh yang menjadi panutan, dan belum kuatnya lembaga koordinasi antar denominasi, peristiwa itu seperti setitik nila dalam pelayanan, dibiarkan seolah waktu yang akan menyelesaikan.

Pelayan yang Berintegritas

Pelayan Tuhan yang gagal sering disebut bahwa mereka tidak mempunyai Integritas. Integritas, saat ini selalu menjadi jargon utama dalam Ilmu manajemen. Banyak artikel menulis tentang Integritas (integrity), termasuk dalam Pelayanan yang kenyataannya memang mudah diucapkan, namun sulit bahkan ada yang gagal melaksanakan. Integritas didefinisikan sebagai satunya pikiran dengan kata-kata dan tindakan secara konsisten. Integritas juga berhubungan erat dengan standar-standar moral dan kejujuran intelektual yang menjadi kerangka tingkah laku kita (Warren Bennis, 2001). Konsep manajemen terkait karakter integritas sepenuhnya ada didalam Alkitab. Seperti karakter setia, benar dan jujur, takut akan Allah seperti perintah hidup sempurna seperti Kristus hidup. Pertanyaannya, mengapa ada pelayan yang jatuh dalam pilihan yang salah dalam melayani Tuhan ? Apakah mereka tidak mengerti dan memahami unsur integritas dalam pelayanan ?
Dalam organisasi sekuler, penegakan Integritas dapat dilakukan melalui peraturan, pakta organisasi, penilaian keinerja dan sebagainya. Demikian pula, ada dorongan sejawat berupa komitmen secara bersama untuk menerapkan dan menegakkan kode etik, peduli pada yang melanggar dengan menegur atau melaporkan adanya pelanggaran kode etik atau aturan perilaku akan mendorong ditegakkannya integritas dan nilai etika. Tetapi bagaimana penegakan integritas dalam pelayanan kepada Tuhan. Yesus menegur Martha ketika ia kehilangan sense of integritynya. Paulus mengirimkan surat penggembalaan sekaligus teguran kepada Jemaat di Korintus karena penyimpangan moral di jemaat Korintus. Apa ada rekan sejawat yang menegur atau mengggembalakan seperti dilakukan Yesus kepada Martha atau Paulus kepada jemaat di Korintus ?
Apa yang harus dilakukan, sementara kebingungan terus terjadi ? Adalah baik bila direnungkan tentang sikap Pelayanan dalam satu Tubuh Kristus melalui tindakan nyata. Antara lain, Penyatuan etika Pelayanan antar denominasi ; Menumbuhkan, mengembangkan Sikap Toleransi antar pelayan dalam satu dan atau antar denominasi, Membuka Forum Komunikasi Pelayanan lintas denominasi agar teman sejawat ada yang menegurnya. Mari kita berdoa dan berharap. Tuhan memberkati kita semua.

Sumber: Pribadi