Kupang

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Seorang teman mengajakku untuk makan jagung bakar. Aku pikir ada baiknya sambil melihat-lihat kota Kupang pada malam hari. Setelah berputar sebentar ke kota maka kami duduk-duduk di trotoar makan jagung bakar. Penjual jagung adalah seorang ibu. Dia begitu bersemangat ketika melihat kami datang. Memang di sepanjang jalan ini banyak sekali orang berjualan jagung bakar. Aku pikir mereka berjualan tidak ditempat yang strategis. Jalan ini memang lebar tapi cukup sepi. Jarang sekali kendaraan yang berlalu lalang. Apalagi orang berjalan kaki. Bagaimana akan laku bila jalan begitu sepi?

[block:views=similarterms-block_1]

Sambil makan kami ngobrol dengan ibu penjual jagung. Salah satu topik adalah soal busung lapar yang saat ini ramai diberitakan oleh media. Ibu itu cerita bahwa di desanya banyak anak yang terjangkit busung lapar. Itu sudah menjadi pemandangan biasa. Dia menyebutkan nama sebuah desa yang aku lupa. Konon kalau mau ke desanya dia harus naik kapal selama 10 jam. Kapal biasanya berangkat sekitar pk 16.00 dari pelabuhan Kupang dan sampai di pulau tempat tinggalnya sekitar pk 6.00. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dengan naik truk sekitar 3 jam lagi. Ongkos naik truk sekitar Rp 50.000 tapi kalau ada banyak penumpang bisa turun sampai Rp 35.000. Sopir truk akan menunggu sampai truk penuh. Bila tidak penuh maka akan menunggu, sehingga dia akan sampai desanya baru esok hari lagi. Betapa sulitnya untuk pulang.

Menurut ibu itu di desanya saat ini banyak yang busung lapar. Penduduk mengalami gagal panen, sebab hidup mereka tergantung pada ladang. Panen mereka gagal, sebab sudah sejak Februari hujan sudah tidak turun. Tanaman mereka kekurangan air, sehingga mat2i. Aku tanya lalu mereka makan apa? Ibu itu menjelaskan bahwa banyak orang yang hanya minum air dari pohon kelapa atau siwalan. Mereka tidak makan sama sekali kecuali hanya minum air itu. Aku mengerutkan kening. Apakah mungkin orang hanya hidup dari minum air hasil menderes? Tapi wajah ibu itu tidak menyiratkan kebohongan. Dia bercerita dengan jujur dan polos. Dia terus bercerita tentang kemiskinan di desanya, maka dia terpaksa pergi ke kota untuk berjualan jagung.

Mendengar cerita itu hatiku jadi bingung. Gelisah. Akhirnya temanku membayar jagung dengan lebih. Tampak sekali betapa bahagianya wajah ibu itu. Dia sangat bersyukur pada temanku dan memanggilnya bapa raja. Malam hari di pembaringan hatiku gelisah. Betapa ngeri cerita ibu itu. Sudah sekian puluh tahun negara ini merdeka ternyata masih ada saja orang yang tidak bisa makan sesuatupun kecuali minum air dari pohon kelapa. Bila cerita ini pada saat penjajahan Belanda atau Jepang aku masih bisa maklum. Tapi ini cerita pada saat negara ini sudah merdeka bertahun-tahun. Negara ini sudah mengatakan swadaya pangan. Sudah masuk dalam negara industri. Tapi ternyata masih ada penduduk yang hanya minum air kelapa.

Sepintas aku melihat Kupang bukanlah daerah yang subur. Tanahnya terdiri dari bebatuan dan padas. Rumput kering tumbuh dimana-mana. Hanya ada sedikit persawahan. Siang tadi sopir yang menjemputku dari bandara menceritakan bahwa banyak sawah sekarang sudah dijadikan rumah dan supermarket. Dia menunjukkan beberapa petak sawah yang mengering. Menurut dia sebentar lagi pasti semua ini akan berubah menjadi rumah. Aku pikir betapa cerobohnya mereka. Mengapa mereka tidak membuat rumah di perbukitan yang tandus dan membiarkan sawah ini tetap sebagai sawah? Mengapa lahan subur yang hanya sedikit dijadikan rumah?

Memang sering kali orang bertindak sesuka hatinya. Dia tidak berpikir tentang orang lain dan masa depan banyak orang. Sebuah koran daerah menceritakan bahwa saat ini sedang diributkan soal korupsi beberapa pejabat di kota Kupang. Wali kota Kupang dituduh telah korupsi sebesar 1,4 milyard sedangkan bupati Kupang dituduh telang korupsi sebesar 800 juta. Semula aku tidak peduli dengan kasus korupsi mereka, sebab dimana-mana pejabat tersangkut korupsi. Tapi ketika mendengar cerita ibu itu hatiku jadi jengkel, gemas, gregetan dan sebagainya yang bercampur aduk. Mengapa mereka masih tega korupsi uang rakyat sedang di depan mata mereka banyak rakyat yang busung lapar?

Menurut data di koran lokal di kota Kupang terdapat 8 kasus anak busung lapar, 200 anak yang kekurangan gizi yang parah. Sedangkan di kabupaten Kupang ada 7 kasus busung lapar, 1396 bayi kekurangan gizi yang sangat parah dan 5357 kekurangan protein yang parah dari total 32.296 bayi. Dengan demikian ada 4,5% anak yang menderita kurang gizi dan protein. Bila anaknya kurang gizi dan protein yang parah pasti orang tuanya juga terkena yang sama. Aku rasa tidak mungkin orang tuanya dapat makan kenyang sedang anaknya tidak diberi makan.

Membayangkan semua itu aku semakin gelisah. Berapa ton beras yang dapat dibeli oleh uang 1,4 milyard? Bila harga beras Rp 4000 per kilogram maka uang itu dapat dibelikan 350.000 kg atau 350 ton. Total jumlah bayi yang kekurangan pangan di kabupaten Kupang sebanyak 6760 anak. Bila beras itu diberikan kepada semua bayi yang kurang gizi maka setiap bayi akan mendapatkan 51,7 kg. Bila satu hari seorang bayi butuh 1 ons, maka beras itu dapat dimakan selama 517 hari atau hampir dua tahun. Mereka dapat bertahan selama 2 tahun. Ada 6760 masa depan bangsa terselamatkan. Namun karena wali kota lebih mementingkan diri sendiri, maka 6760 anak itu terancam masa depannya.

Betapa mengerikannya hati nurani bangsa ini. Hati nurani bukan saja tumpul tapi sudah mati. Bahkan mungkin sudah tidak ada lagi hati nurani. Hampir setiap hari rakyat disuguhi kasus korupsi dalam angka milyar bahkan trilyun. Banyak pejabat, orang yang dipercaya oleh rakyat untuk membawa mereka ke dalam kesejahteraan, ternyata tidak ubahnya seperti lintah. Menghisap rakyat sampai kering. Mereka membiarkan rakyat mati kelaparan asal mereka dapat menikmati kekayaan yang berlimpah. Padahal semua mengaku beragama. Apakah agama tidak mengajarkan akan hati nurani? Apakah beragama cukup dengan berdoa, berziarah ke tanah suci, mengundang pengkotbah ulung, pendoa yang hebat dan kondang, tapi menutup mata terhadap kenyataan disekitarnya? Negara ini membutuhkan hati nurani. Dimanakah dapat ditemukan hati nurani bangsa?

Aku bukan pejabat. Aku tidak korupsi sampai milyard. Apakah aku tidak terlibat dalam dosa mereka? Aku teribat. Disini aku sering memboroskan makanan. Aku dengan tenang membiarkan makanan membusuk. Membuang makanan. Memboroskan air bersih. Tapi disini ada ribuan anak yang hanya minum air kelapa. Ribuan anak yang tergangu perkembangannya akibat kekuranga protein dan karbohidrat yang cukup parah. Anak yang mungkin tidak akan mempunyai masa depan seperti yang mereka impikan.

Aku tidak bisa hanya menuding orang yang korupsi. Aku juga bersalah bila membiarkan hidupku terseret pada pola jaman ini yang rakus. Pola jaman yang hedonis dan konsumtif. Aku pun bersalah bila kejahatan dibiarkan berkembang. Sikap diam dan tidak peduli membuat kejahatan merajalela. Akibatnya banyak orang yang menderita akibat kejahatan itu. Bila aku tidak mampu menembus benteng kekuasaan yang melindungi para koruptor, maka aku harus mulai mati raga untuk diriku sendiri. Menangis dengan orang yang menangis. Tertawa dengan orang yang tertawa. Bila ada ribuan anak busung lapar, masih tegakah aku memboroskan makanan? Memang itu uangku dan anak itu jauh di NTT dan NTB, tapi bukankah mereka masih sebangsa dan setanah air denganku? Mereka adalah saudaraku sendiri. Aku juga seharusnya turut prihatin bersama mereka.

Anjing di luar kamar melolong panjang. Dia menangisi dunia yang tidak adil. Dia menangis bersama ribuan anak yang kelaparan. Menangis pada Tuhan. Dimanakan Tuhan ketika anak-anak itu lahir dalam kemiskinannya? Dimanakah Tuhan ketika sebagian orang menyimpan ratusan juta uang rakyat dalam rekening pribadi? Dimanakah Tuhan ketika mereka menghamburkan uang rakyat di dunia gemerlap? Apakah Tuhan mendengarkan doa-doa mereka agar selamat dari pemeriksaan KPK? Apakah Tuhan tersenyum bila melihatku duduk membuat sebuah tata liturgi yang indah? Apakah Tuhan akan lebih mulia bila aku mengikuti tata aturan liturgi yang baru? Bukankah Tuhan itu Maha yang tidak akan lebih mulia meski aku berdoa dengan bahasa Inggris atau Jawa? Bukankah Tuhan itu Mahakuasa yang tidak perlu aku bela dengan membawa pedang dan bom? Apakah Tuhan akan turun derajatNya bila aku menuliskan lambang Tuhan di bukuku secara sembarangan?

Tuhan telah mati dalam diri banyak orang. Tuhan hanya ada di surga yang jauh. Dia sudah tua dan lemah sekali, sehingga orang hanya ribut untuk membelaNya. Orang sangat bersemangat mengangkat pedang bahkan bom bila ada yang berani mengejek Tuhan. Orang berdiskusi panjang lebar dan penuh keributan hanya persoalan cover kaset. Orang ribut soal duduk atau berdiri dalam berdoa, tapi menutup mata akan penderitaan sesama. Apakah masuk surga ditentukan oleh duduk atau berdiri dalam doa? Atau berbahasa ini atau itu? Atau mempersoalkan lambang-lambang? Tapi semua diam ketika ada ribuan anak mati kelaparan. Inikah perwujudan iman? Aku semakin gelisah. Anjing di luar kamar terus melolong ngeri. Angin malam semakin dingin. Mataku tetap terbuka. Sebatang roko225unyalakan. Kucoba hilangkan resah hati. semakin kutekan semakin menusuk. Sampai kapan bangsa ini terbuka akan penderitaan sesama? Pertanyaan keluar bersama asap rokokku melalui celah jendela menuju kegelapan malam