Error message

  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 23 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 24 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 25 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 26 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 27 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 28 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).

Sulit Tersenyum

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Ev. Sudiana

Pengalaman saya, ketika terjadi masalah saya sulit sekali tersenyum, saya sudah berusaha melupakan masalah itu dalam arti kata "saya meletakkan beban itu dan meminta bantuan Tuhan Yesus untuk menolong saya", karena memang tidak ada jalan , hanya Tuhan Yesus lah yang bisa menolong dan menyelesaikan setiap masalah kita. Dan saudara tahu ada orang-orang di sekitar saya "ketika mereka melihat saya tidak tersenyum , tidak gembira -- hal ini ternyata sangat mempengaruhi mereka, saya kemudian berusaha untuk tersenyum, tetapi suatu keanehan "senyum yang dipaksa atau terpaksa -- tidak membawa dampak yang baik"

Sepanjang hari pemahaman itu sudah tertanam dipikiran dan dihati saya, tapi memang heran sepanjang hari yang saya lalui sulit sekali untuk tertawa lepas atau hati yang gembira, tetapi ketika malam hari saya sudah melihat pertolongan Tuhan Yesus, hati saya seperti mengalami kelegaan dan berubah saya menjadi ceria, saya bisa tertawa lepas. Alkitab menuliskan "Ia datang memberi kelepasan".



Seharusnya jika kita tahu bahwa Tuhan Yesus baik, dahsyat, dan hanya Dia yang sangat menolong kita "kita tidak boleh kehilangan sukacita".

Ada seorang wanita yang tidak bisa tersenyum. Setiap hari wajahnya selalu cemberut. Nada bicaranya juga ketus. Suatu hari gadis itu mendapat sebuah hadiah dari seseorang. Ternyata hadiahnya berupa tanaman.

Si gadis sangat senang mendapatkan hadiah itu. Ditaruhnya tanaman di samping jendela dan disiraminya dengan rajin. Namun entah mengapa tanaman itu bukannya semakin subur, namun malah semakin layu.

Gadis itu mulai sadar bahwa bukan hanya manusia saja yang dapat “layu” hatinya namun tanaman pun juga dapat layu. Dia pun menatap wajahnya pada sebuah cermin. Perlahan-lahan ia mulai belajar untuk menarik secara perlahan kedua ujung bibirnya sehingga membentuk setengah lingkaran. Dia menjadi sangat terkejut saat melihat pantulan wajahnya sangat berbeda. Dia melihat seorang gadis yang cantik dan ramah. Kini gadis itu telah berubah menjadi gadis yang murah senyum dan ramah. Tanaman yang semua layu juga kini telah mengeluarkan bunganya.

Tersenyum mampu mengubah banyak hal. Keramahan yang tersirat dari sebuah senyum mampu “menyuburkan” hati seseorang. Hati yang keras pun akan melunak. Saat kita mampu untuk tersenyum dengan tulus, maka kita akan mampu juga untuk bersyukur dalam segala hal.

Menjadi berkat bagi orang lain bukan hanya dengan memberi secara materi namun dengan sikap dan sifat kita yang ramah, sesungguhnya itu juga merupakan berkat bagi orang lain.

Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat. (Amsal 15:13)