Error message

  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 23 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 24 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 25 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 26 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 27 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 28 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).

Apakah Ada Hari Esok

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Yon Maryono

Pada saat melihat tayangan TV, penyanyi Utha Lekumahuwa kembali ke pangkuan Bapa di Sorga, yang diiringi background soundtrack musiknya "esok ‘kan masih ada", terbesit pesan optimis dalam kehidupan esok bagi pribadinya. Lagu itu telah memberikan kenangan bagi penggemarnya yang sekaligus rasa duka mendalam. Pada akhir hidupnya, didasarkan pemberitaan diabdikan dalam pelayanan Gereja telah memberikan pesan lain bahwa hari esok sungguh telah dipersiapkan dan dipertanggungjawabkan dengan baik di hadapan Bapa. Pertanyaan bagi kita adalah: Apakah hari esok ada bagi kita? Apakah sisa waktu hidup kita telah diisi kehidupan sesuai kehendak Tuhan, dan memberi buah kepada sesama?

Saya mengenal sepasang suami isteri doktor Teologi. Mereka pernah ditawari dalam jabatan dalam kekuasaan pemerintahan, tetapi tawaran jabatan dan fasilitas tersebut ditolaknya. Cerita ini pernah diungkapkan pada suatu kesempatan kepada saya: "Sepanjang perjalanan hidup saya," kata sang suami, "kami sudah cukup berbahagia dan bersuka cita karena tidak pernah melakukan sesuatu, yang menurut penilaian kami pribadi kurang baik di mata Tuhan. Kami kuatir kalau masuk dalam lingkaran kekuasaan, tergiur dan kami jatuh, sehingga kehidupan yang telah terbina 50 tahun tidak berarti dihadapan-Nya." Pasangan suami-isteri ini berfikir tentang sisa perjalanan hidup, hari esok mereka yang dapat runtuh oleh karena pengaruh duniawi, sehingga tidak dapat mengakhiri pertandingan dalam hidup ini dengan baik. Pantaslah, kalau hidup mereka sederhana, hidupnya tidak di jalan utama atau komplek orang kaya. Saya pun juga mengenal saudara seiman eks salah satu menteri di negeri ini yang parkir kendaraan jabatannya di tepi gang, pernah makan dengan nasi bungkusan. Hidupnya sederhana tidak seperti manajer yang penuh segala fasilitas mengelilinginya. Memang, kehidupan terasa aneh bila berbeda dengan kehidupan dunia.

Kemungkinan masalahnya tidak terletak pada usia, penampilan sederhana, kekayaan atau kemewahan, tetapi pandangan dan sikapnya terhadap kehidupan esok yang merupakan bagian sisa waktu hidup yang tidak pasti. Mereka selalu berjaga dan waspada, sebagaimana Surat 1 Petrus 4:2: Supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. Sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu (Mark 12:15b). Selanjutnya, Paulus dalam 2 Timotius 2:7 menuliskan pengakuan yang luar biasa: aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memeliharan iman. Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah (Fil 1:21-22b). Coba kita perhatikan kata "telah" yang diucapkan Paulus "mencapai garis akhir" saat dia masih hidup. Mampukah kita katakan demikian saat ini.

Ada kisah heroik yang luar biasa yang banyak menginspirasi spirit untuk bertanding sampai akhir, seseorang bernama John Stepen Akhwari. Seorang pelari marathon dari Tanzania yang mengikuti Olimpiade Meksiko 1968. Ia menjadi terkenal bukan karena nomor satu dalam Marathon itu, tetapi justru yang paling buncit. Itu pun saat lapangan pertandingan sudah ditinggalkan penonton, dan masih tersisa beberapa panitia pertandingan. Pada saat berlari ia cedera dilutut sampai terlepas engselnya, keluar darah. Lututnya dibalut, ia terus berlari dan berlari, sambil menahan derita sakitnya. Ia menyeret kakinya setapak demi setapak... terus... terus... dengan kekuatan akhirnya sampai ke garis finish. Tahukah saudara, juara pertama dalam Marathon ini bernama Mamo Wolde dari Ethiopia dengan waktu 2:20:26. Dan Akhwari masuk finish dengan waktu 3:25:27 artinya pertandingan sudah berakhir 1 jam lebih yang lalu. Pada terik matahari dan panitia sudah membersihkan lapangan, salah satu Panitia terkejut dan menghampiri bertanya: "Mengapa dalam kondisi luka seperti ini saudara tetap meneruskan pertandingan?" Jawab Akhwari, "Negaraku mengirim aku sejauh 10000 mil dari tempat ini bukan untuk memulai pertandingan tetapi negaraku mengirim aku untuk mengakhiri pertandingan dengan baik." Koran paginya yang menjadi "Head Line" bukan juara satunya tetapi orang yang paling akhir masuk ke garis finsh oleh karena semangatnya menyelesaikan pertandingan. Spirit Paulus yang telah mengakhiri pertandingan telah dicontoh dengan baik oleh Akhwari.

Dari perenungan ini, membawa dalam suatu pembelajaran bahwa hidup ini ternyata tidak tergantung dari lamannya tetapi kualitasnya, hidup ini tidak tergantung awalnya tetapi akhirnya. Oleh karena itu, selalu menganggap hari esok adalah hari akhir telah mendorong tindakan berjaga dan waspada untuk mencapai akhir kehiduan yang berkualitas di hadapan Kristus.