Manusia Produktif

Oleh: Yohanes R. Eda, M.Th

Era saat ini menuntut orang-orang yang produktif dan memberikan keuntungan bagi perusahaan atau organisasi tempat mereka mengabdi atau bekerja. Untuk menjadi manusia produktif tentunya melalui suatu proses. Ada orang yang mudah menyerah karena tidak mau melalui proses. Tapi ada juga yang terus bertumbuh karena bersedia mengikuti proses tersebut. Bagaimana menjadi manusia yang produktif? Untuk menjadi manusia yang produktif ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

[block:views=similarterms-block_1]
  1. Mengandalkan Tuhan

  2. Ada banyak orang yang tidak menempatkan Tuhan menjadi sandaran utamanya. Mereka lebih mengandalkan kekuatannya sendiri, logika manusia, kekayaan dan lain sebagainya. Ini memang menjadi pergumulan setiap orang percaya. Pada hal Alkitab mengajarkan bahwa percayalah kepada Tuhan dan jangan bersandar kepada pengertian sendiri. Akuilah Tuhan dalam seluruh hidup kita, maka Dia akan memberkati dan membuat apa yang kita kerjakan atau usahakan berhasil. Andalkanlah Tuhan, bukan yang lain, supaya hidup kita berkenan dan produktif. Firman Tuhan menegaskan, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” – Yeremia 17:5-8.

  3. Sedang Bekerja

  4. Adalah menarik bahwa orang-orang yang sedang bekerjalah, bukan tidur atau bermalas-malasan yang dipilih oleh Tuhan untuk menjadi kepala dan dipromosikan. Dengan bekerjalah kita menunjukkan kualitas diri dan kualifikasi yang layak untuk memperoleh suatu kepercayaan. Itu hanya dapat dilakukan dengan bekerja sebaik-baiknya.

    Ketika Yesus memilih para murid-Nya di danau Galilea, pilihan-Nya jatuh pada beberapa nelayan yang sedang bekerja. Simon Petrus dan Andreas sedang menebarkan jala – Matius 4:18, sementara itu kedua anak Zebedeus sedang membereskan jala di dalam perahu – Matius 4:21. Hal yang sama juga berlaku dalam Perjanjian Lama. Gidion dipilih Tuhan ketika sedang mengirik gandum – Hakim-Hakim 6:11 dan Daud dipilih Tuhan saat sedang menggembalakan kambing domba ayahnya – 1 Samuel 16:11. Karakter pekerja yang ada dalam diri mereka menjadi nilai tambah untuk menggenapi panggilan-Nya. Jangan pernah menganggap remeh pekerjaan yang sedang kita lakukan. Tuhan tidak pernah memandang apakah jenis profesi yang sedang kita geluti. Jadi, mari bekerja dan biarlah kita didapati sedang bekerja kala Tuhan dan pimpinan melawat kita. Firman Tuhan menegaskan, “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan” – Roma 12:11.

  5. Punya Skill Unggulan

  6. Bisnis, perkejaan apapun termasuk penerbitan membutuhkan orang-orang yang memiliki skill yang dapat diandalkan. Ini adalah salah satu modal yang sangat penting. Bila Anda tidak memiliki skill atau biasa-biasa saja, maka Anda cepat atau lambat akan disingkirkan. Skill adalah gabungan dari ilmu pengetahuan, kredibilitas, keuletan, ketekunan, kerja keras, pengalaman mental, pengabdian dan motivasi tingkat tinggi. Semua itu adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Jika Anda hanya punya ilmu (ahli teori) dan pengalaman, tapi tidak punya kredibilitas (diantaranya kejujuran), dipastikan Anda tidak akan sukses. Jika ilmu, pengalaman dan kejujuran Anda miliki, tapi tidak punya motivasi tingkat tinggi, Anda juga tidak akan produktif. Intinya, jika ingin menjadi manusia produktif, milikilah skill unggulan karena hal itulah yang membuat Anda dipertahankan oleh perusahaan dan tempat di mana Anda bekerja.