Error message

  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 23 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 24 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 25 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 26 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 27 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).
  • Warning: mktime() expects parameter 6 to be long, string given in eval() (line 28 of /home/sabdaorg/public_sabda/artikel/modules/php/php.module(80) : eval()'d code).

Kesaksian

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Sebuah Pelajaran Berharga dari Peristiwa Sederhana

Oleh: Adonia Gita Alfioni

Tanggal 23 Oktober lalu, saya mendapat tugas dari tante saya untuk mengantar adik sepupu ke placement test di sebuah lembaga yang terkemuka di Solo. Sebenarnya, saya mendapat tawaran lain yang lebih menyenangkan untuk saya kerjakan. Tetapi karena saya sudah berjanji, saya tetap harus mengantar adik saya yang blasteran Solo -– Papua itu (selingan). Jam setengah sembilan saya berangkat menuju lembaga itu dengan bekal dari mana–mana. Karena hari in kedua Om saya yang kembar ulang tahun, kami mendapat uang untuk jajan di luar dengan jumlah yang lumayan besar. Puji Tuhan.

Baca selengkapnya ... about Sebuah Pelajaran Berharga dari Peristiwa Sederhana

Pengorbanan yang Tersembunyi

Oleh: Gideon

Syalom. Puji Tuhan!! Saya akan menyaksikan keberadaan hidup saya bersama dengan Tuhan Yesus Kristus. Ketika saya datang ke Bali, saya bingung apa yang harus saya kerjakan. Sementara saya juga berapi-api untuk menjadi Misionaris di Bali. Ketika tiba di sana, saya tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian saya bekerja di sebuah radio swasta, tapi hanya mampu 1 bulan karena memang saya tidak ada niat untuk bekerja.

Baca selengkapnya ... about Pengorbanan yang Tersembunyi

Kesaksianku

Oleh: Yohana Cahyadi

Nama saya Yohana Cahyadi. Melalui kesempatan ini saya ingin memberikan kesaksian hidup dari mama saya. Saya anak pertama dari 4 bersaudara. Saya lahir dari seorang mama yang mengasihi Tuhan. Dari kecil saya sudah dididik untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Mama pun juga adalah seorang yang melayani Tuhan dalam gereja.

Kejadian ini bermula pada tanggal 3 Juli 2010, di mana mama divonis dokter mengidap kanker usus stadium 4 dan sudah menyebar ke bagian paru-paru, rahim dan bagian lainnya. Keadaan demikian membuat mama dan keluarga kehilangan semangat. Saya bertanya pada Tuhan kenapa mama seorang yang mengasihi dan melayani Tuhan bisa mengalami hal yang demikian. Namun di tengah kondisi yang demikian kami tetap datang pada Tuhan.

Baca selengkapnya ... about Kesaksianku

Joice dan TUHAN

Oleh: Krisetiawan

Joice, anak kami, sudah mulai bisa berjalan sendiri. Sebelumnya harus dipegang tangannya atau dititah. Sebelum itu cuma bisa merangkak. Sebelum bisa merangkak, tidak bisa kemana-mana kecuali digendong. Sebelumnya hanya bisa menangis, sekarang sudah bisa bilang, "papa, mama, matematika" (ups...kalau yang ini belum). Saya dan istri sangat senang melihat pertumbuhan Joice. Saya membayangkan, demikian juga dengan TUHAN. TUHAN pasti senang melihat pertumbuhan kita, anak-anak-Nya. Dulu kita nggak bisa berjalan "dengan benar", sekarang bisa berjalan dalam terang firman-Nya. Dulu suka gosip, sekarang suka mendoakan orang. Seperti saya senang melihat pertumbuhan Joice, TUHAN juga pasti senang melihat pertumbuhan rohani anak-anak-Nya.

Baca selengkapnya ... about Joice dan TUHAN

Ayahku Membuka Mata Hatiku Tentang Hal Memaafkan

Oleh: Janni

Menurut saya, ayah adalah seorang yang jahat. Namun, di lubuk hati terdalam saya mengetahui bahwa dia melakukan yang terbaik untuk saya. Dia melarang kami, anak-anaknya, untuk berpacaran. Dia selalu memberi nasehat bahwa pacaran bisa dilakukan saat kami sudah kuliah atau sudah berkerja. Itu adalah salah satu perintah ayah yang saya langgar.

3 Februari 2006 adalah hari yang paling mengecewakan dalam hidup saya. Waktu itu, saya bersama ayah pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan, karna keesokan harinya ada acara keluarga di rumah. Waktu itu hari Sabtu, saya baru saja pulang sekolah dan sangat capek. Ayah saya menyuruh mama untuk ikut ke pasar membeli barang-barang, tapi mama urung ikut karena sedang sakit. Saya merasa kasihan kalau ayah harus ke pasar sendirian, akhirnya, saya putuskan untuk menemani ayah belanja. Baca selengkapnya ... about Ayahku Membuka Mata Hatiku Tentang Hal Memaafkan

Kesaksian dan Pergumulanku

Oleh: Gentarku

Suatu ketika aku mendengar khotbah seorang pendeta dari Jakarta tentang bagaimana kita mengucap syukur dalam segala hal. Aku berkata di dalam hati, "Tuhan Yesus, apakah aku sanggup melakukan itu?" Setelah ibadah aku langsung pulang dengan saudaraku. Kebetulan minggu depannya aku akan menghadapi ujian akhir semester. Aku membutuhkan uang untuk melunasi SPP karena waktu itu kondisi orangtua agak sedikit tidak memungkinkan. Baca selengkapnya ... about Kesaksian dan Pergumulanku

Don't Give Up

Oleh: Dede's Parent

Berjuang Melawan Kanker

Kami tidak pernah menyangka ataupun siap menerima ketika harus menghadapi masalah ini. Dede (nama panggilan/kesayangan), anak kedua kami, yang periang, lucu, dan aktif, ternyata mengidap penyakit berbahaya dalam tubuhnya. Vonis dokter tentang penyakit Dede kami terima saat berumur 5 tahun, dan betapa hancur hati kami saat kami mendengarnya.

Kira-kira awal tahun 2006, kaki Dede sering sekali memar, kami berpikir bahwa itu disebabkan karena terbentur sesuatu. Memang Dede adalah anak yang tak bisa diam, aktif sekali. Maka, setiap kali dia memar kami beri dia Thrombopop gel. Namun belum satu memar hilang dari kakinya, sudah ada memar baru lagi. Di samping itu, setiap kali dia muntah, di mukanya akan muncul bintik-bintik merah seperti pembuluh darah yang pecah. Bintik merah itu muncul pertama kali pada saat dia pingsan karena tersedak makanan. Peristiwa itu terjadi satu minggu sebelum Natal 2004. Dia muntah dan ada potongan daging ayam yang menyangkut di lehernya dan tersedak. Mukanya membiru dan badannya telah lemas. Puji Tuhan, saya masih bisa memberikan pertolongan secepatnya meskipun dalam kepanikan yang amat sangat saat itu. Sejak saat itu setiap kali dia muntah muncul bintik-bintik merah lagi di muka atau badannya. Baca selengkapnya ... about Don't Give Up

Sekali Pembunuh tetap Pembunuh!

Oleh: Mang Ucup


Kisah nyata yang terjadi di Jerman - Sumber: Majalah Spiegel Edisi 30/2006 yang telah ditulis ulang oleh Mang Ucup.

Ketika Bernhard berusia 21 th, ia membunuh istrinya sendiri yang pada saat itu baru berusia 18 tahun dengan harapan bisa menipu uang asuransi sejumlah dua juta AS$. Untuk ini ia di vonis hukuman penjara 25 th, tetapi setelah 16 th ia dibebaskan karena berkelakuan baik. Baca selengkapnya ... about Sekali Pembunuh tetap Pembunuh!

Petualangan iman

Oleh: Hendra Kasenda

Simon yang berusia pertengahan sedang kacau pikirannya karena perusahan yang dipimpinnya akan dilebur jadi satru dengan tiga perusahan lain. Ini berakibat dirinya terancam di PHK dan juga rekan-rekannya yang lain. Kekuatiran Simon diungkapkan dalam sebuah talk show di sebuah radio di Jakarta. Tak lama kemudian ketika line telpon dibuka untuk interaksi pendengar banyak sekali dukungan untuk Simon. Mereka juga sharing bahwa dulu mereka juga mengalami PHK namun Tuhan buka jalan sehingga mereka bisa mendapatkan pekerjaan lagi. Ada pula beberapa single parent yang bercerita betapa sulitnya ketika ditinggal suami tercinta. Tapi berbekal tekad dan doa mereka berhasil mandiri dengan usaha sendiri apakah itu katering, menjahit, bahkan mengajar les. Ternyata Tuhan tidak pernah meninggalkan umatNYA. Baca selengkapnya ... about Petualangan iman

Aku Harus Pergi

Oleh:Walsinur Silalahi

Waktu umur pernikahan kami menjelang lima tahun dan anak-anak sudah mulai sekolah,isteri saya banyak memberikan waktunya hanya kepada anak-anak.Kami tdk mempunyai pembantu,sehingga isteri saya sendiri bekerja ngepel lantai rumah,mencuci,seterika dll. Seringkali dia bekerja hingga larut malam. Badannya mulai kurus,tdk secantik dulu lagi dan setiap hari kelihatan capek. Suatu hari saya melihatnya sedang membersihkan tumpukan pakaian kotordi kamar mandi.Dahinya basah oleh cucuran keringat. Lalu aku pelan2 menghampirinya dan tiba2 aku peluk tubuhnya dan berkata:"Ma,biarkan aku membersihkan pakaian2 kotor ini".Dia tersenyum,dan mempersilahkan saya meneruskan pekerjaan mencuci. Baca selengkapnya ... about Aku Harus Pergi

Pages