Buah Simalakama -- Iman yang Taat pada Tuhan

 Informasi COVID-19 untuk orang Kristen ada di:corona.sabda.org

Oleh: Ev. Margareth Linandi


Apa yang ada di benak kita bila kita baru saja mendapat anugerah seorang anak dari Tuhan lalu Allah kembali mengambil anak itu? Apa kesan kita? Mungkin kita akan berpendapat, "Wah, Tuhan kok kejam, anak satu-satunya masih Tuhan mau ambil juga?!" Tapi kita akan belajar dari iman Abraham. Dia seperti mengalami “buah simalakama” dalam ujian iman yang diberikan kepadanya.

Abram (nama baru Abraham) baru mengenal Allah pada usia tuanya yaitu usia 75 tahun di mana dia dipanggil oleh Allah keluar dari negerinya. Waktu itu dia belum tahu kemana Allah membawanya keluar, tetapi kita melihat iman Abraham yang luar biasa. Dia taat. Mungkin kalau kita jadi Abraham, kita belum kenal siapa orang yang menyuruh kita, kita pasti akan menolak. Tetapi Abraham taat.



Setelah Abram mengenal Allah, Allah membuat perjanjian dengan Abram berupa sunat. Dan Abram saat itu tidak memunyai anak akan tetapi Allah menjanjikan bahwa keturunannya akan seperti pasir di tepi laut dan bintang di langit (sangat banyak). Saat itu umur Abram sudah tua dan Sara menggunakan otaknya sendiri untuk memenuhi janji Allah (karena dia merasa bahwa dia tidak bisa hamil dan usianya sudah mati haid), Sara meminta Abraham untuk kawin dengan Hagar dan dari sana ia mendapat anak bernama Ismael. Karya Tuhan dalam hidup Abram tidak berhenti sampai di sana, malaikat Tuhan datang kepada Abram dan mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan memiliki seorang anak. Anak kandungnya, anak dari istrinya Sara yang sah. Dan sesuai dengan janji Tuhan pada usia Abram (Abraham) yang ke 100, Ishak lahir.

Setelah Ishak lahir, setelah Ishak kanak-kanak, Allah menguji iman Abraham dan ujiannya sangat berat. Betapa tidak, Abraham disuruh mengorbankan satu-satunya anaknya yang tunggal, Ishak, untuk dipersembahkan di bukit Moria. Wow, sungguh suatu ujian iman yang berat! (Kej. 22:1-19)

Saat itu, tentulah Abraham mengalami suatu kegetiran dalam hatinya, seperti buah simalakama. Dia sedih karena di satu sisi dia sangat mengasihi anaknya Ishak, tetapi di lain sisi, dia juga mau taat pada perintah Allah Bapanya. Akhirnya dia memutuskan membawa Ishak lengkap dengan korban bakaran. Setelah mempersiapkan semuanya, Abraham mengikat tangan Ishak dan hendak mengorbankan anaknya. Akan tetapi Allah mencegahnya dan mengganti Ishak dengan anak domba jantan.

Dalam keadaan yang mudah dan membahagiakan, kita mudah percaya dan berserah pada Tuhan. Akan tetapi jika posisi kita seperti Abraham, bagaimana? Apakah kita bisa beriman dan percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan korban pengganti Ishak? Apakah kita bisa beriman walau segala sesuatu buruk, bahkan keadaan sulit, ekonomi sulit, seperti buah simalakama, istri sakit, keluarga sakit, masihkah kita percaya dan taat pada Tuhan seperti Abraham?

Ibrani 11:17-19 mengisahkan alasan mengapa Abraham mau taat di tengah situasi genting, dan bahkan harus siap untuk kehilangan apabila ia taat dan mengorbankan anaknya. Alasannya dalam ayat 19. Ia berpikir bahwa Allah sanggup membangkitkan orang-orang termasuk anaknya jika anaknya mati dan ia percaya dan yakin walau ia belum melihat hal itu terjadi.

Bagaimana dengan kita? Suasana buruk apa yang membuat kita meragukan kasih Tuhan? Kesehatan buruk yang tidak kunjung sembuh, kondisi ekonomi yang morat-marit, apakah itu kehilangan orang yang kita kasihi, apakah di tengah kondisi ”buah simalakama”, akankah kita tetap percaya dan beriman pada Tuhan?

Kiranya Tuhan memberkati kita semua untuk memiliki iman yang kuat sekali pun dalam keadaan genting dan pahit. Tuhan Yesus memberkati iman kita.