Oleh: Richard L. Strauss
" Apa salah dengan kerohanianku? Kenapa aku tidak mempunyai damai dan kegembiraan yang dimiliki orang Kristen lainnya?" Saya tidak bisa lagi menghitung banyaknya orang-orang yang menanyakan pertanyaan seperti itu selama pelayanan saya. Mereka sudah membaca Alkitab yang seharusnya mempunyai " kegembiraan yang tak dapat dilukiskan dan penuh dengan kemuliaan" ( 1 Petrus 1:8), tetapi mereka tidak bisa membayangkan apa itu pengalaman Kristen. Jika mereka menulis suatu acuan hidup Kristen itu akan lebih seperti " kemuraman yang tidak tertahan dan penuh dengan keraguan."
"Aku Saladin, bukan mereka. Pergilah ke negeri-negeri Kristen ...." Yerusalem, 1187. Di luar gerbang kota suci itu, Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi (Saladin) berdiri tegap berhadapan dengan Balian of Ibelin, panglima Tentara Salib. Di pinggang kanan kedua perwira itu terhunus pedang tajam. Keduanya bersiaga untuk saling bunuh. Ratusan ribu tentara Islam berbaris di belakang Saladin. Dari balik gerbang, warga Kristen menanti dengan cemas pertemuan itu. Sebagian Yerusalem sudah hancur. Mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Di belakang Balian, ribuan Tentara Salib bersiap menyerang. "Ketika Tentara Salib merebut Yerusalem seratus tahun lalu, seluruh Muslim dibantai," Balian mulai pembicaraan.
Penulis : R.P Borrong
Terminologi pasifis (Inggris pacifist) berarti cinta damai. Tidak ada manusia berpikiran normal yang tidak cinta damai. Terutama di saat begitu banyak kekerasan dan permusuhan ditampilkan dan dikedepankan. Tetapi justru pada saat terjadi kekerasan dan permusuhan ada orang tertentu cenderung menolak bersikap pasifis. Sebut saja sebagai contoh adalah sikap yang ditempuh Dietrich Bonhoeffer terhadap kekerasan dan kebrutalan massal yang dilakonkan Nazi. Walaupun tidak terang-terangan, Bonhoeffer bergabung dengan komplotan Klandestin, yang berikhtiar mengakhiri kekerasan dan kebrutalan Nazi dengan jalan membunuh pemimpinnya sang Fuhrer, Adolf Hitler. Sayangnya, sebelum ikhtiar itu berhasil, komplotan tersebut keburu terbongkar. Bonhoeffer sendiri dihukum gantung oleh anggota Nazi hanya beberapa saat sebelum Hitler sendiri "tewas" dan mengakhiri kekerasan dan kebrutalan Nazi.