Wawancara dengan: Rev. Dr. Peter Youngren
Rev. Dr. Peter Youngren ialah seorang penginjil yang amat diberkati. Pria asal Kanada ini dikenal memiliki kerinduan besar kepada orang-orang yang belum tersentuh firman Allah. Peter telah melakukan perjalanan penginjilan ke lebih dari 70 negara. Ia telah melayani Kebaktian Kebangunan Rohani yang dihadiri sampai 500 ribu jiwa dalam satu kebaktian. Di Indonesia Rev. Dr. Peter Youngren telah mengadakan Festival dan KKR di berbagai kota, seperti Semarang, Bandung dan Manado.
Peter juga telah melatih lebih dari 110 ribu pendeta dan pemimpin dalam seminar 'Global Harvest Praise'. Dalam dua kali ibadah di Graha Bethany Nginden, pendiri World Impact Ministries ini melayani Kebaktian Kesembuhan Ilahi dihadiri 20 ribu jemaat di setiap kali ibadahnya.
Suasananya amat meriah. Mujizat kesembuhan terjadi. Yang stroke dipulihkan, yang datang dengan kursi roda pulang dalam keadaan merdeka. Yang tuli bisu sejak lahir mulai bisa mendengar bunyi tepukan dan belajar mengucapkan kata-kata.
Kesembuhan terjadi di saat doa kesembuhan dinaikkan. Bahkan ada beberapa jemaat dipulihkan dari sakitnya saat Firman Tuhan dilangsungkan.
Tim Warta Plus Bethany yang didampingi Pdp. Sinwo Susanto, MM, MA telah melangsungkan obrolan santai dengan Dr. Peter Youngren pada tanggal 17 Januari, 2005, dalam perjalanan pulang menuju bandara Juanda.
Dr. Peter Youngren, pada dasarnya, apakah yang dimaksud dengan kesembuhan ilahi itu?
Kesembuhan ilahi didasarkan pada karya Kristus yang sudah dilakukan bagi kita, yang disediakan bagi kita lewat kematian Kristus, kebangkitan-Nya dan juga pencurahan Roh Kudus-Nya. Kesembuhan ilahi merupakan suatu hasil proklamasi dari Injil Kristus dimana kita mengkhotbahkan apa yang telah Tuhan Yesus lakukan dan kesembuhan mengikutinya.
Jadi kesembuhan memang sudah tersedia dalam setiap pemberitaan Injil?
Saya ingin mengatakan demikian bahwa kita memberikan informasi tetapi Tuhan yang memberikan konfirmasi atau peneguhan kepada siapa yang percaya.
Kalau demikian, berarti percaya atau beriman sangat penting dalam memperoleh kesembuhan ilahi?
Menurut saya, yang paling penting adalah proklamasi itu sendiri. Ada kuasa dalam proklamasi. Kami menemukan bahwa kalau kami melakukan KKR atau yang kami sebut dengan festival selama beberapa malam di suatu kota, saat kami memproklamasikan apa yang Kristus telah kerjakan maka iman secara otomatis akan bertumbuh. Jadi, kami tidak berkata bahwa orang yang sakit itu harus memiliki iman, karena hal ini akan menjadi beban bagi si sakit. Misalkan seseorang yang telah menderita kanker dan hidupnya tinggal beberapa bulan lagi. Jika kita berkata, “Engkau harus memiliki imanâ€Â, maka pernyataan ini akan menjadi beban tambahan bagi si penderita karena bebannya memang sudah berat. Walau pun iman memang penting tetapi dalam keadaan seperti ini orang yang sakitnya parah akan sulit untuk bisa percaya. Yang kami lakukan bukan mengatakan engkau harus beriman, tapi kami memproklamasikan apa yang Yesus telah lakukan, maka iman akan dihasilkan dalam hati mereka. Sebab iman timbul dari pendengaran akan Firman Kristus.
Ada ayat dalam Perjanjian Lama yang mengatakan bahwa Tuhan akan kirimkan Firman-Nya dan sembuhkan sakit penyakit kita. Kalau begitu Firman itulah yang sesungguhnya menyembuhkan sakit penyakit?
Benar, karena dikatakan bahwa “Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu adalah Kristus Yesus.†Jadi saat Firman disampaikan berarti Bapa mengirim Yesus. Masih ingat bahwa Firman Tuhan berkata mengenai Filipus yang mengkhotbahkan Kristus? Saat kita khotbahkan bahwa Kristus adalah kebenaran, maka ini berarti kita memberikan posisi aman pada seseorang sehingga dia menyadari betapa Tuhan sungguh mengasihi dia. Saya percaya bahwa semakin seseorang merasakan kasih Tuhan maka semakin mudah bagi orang itu untuk menerima kesembuhan. Adalah suatu yang alamiah untuk menerima sesuatu yang baik dari seseorang yang sungguh mengasihi kita.
Bukankah sesungguhnya dalam hati Bapa, Dia tidak ingin menahan seorang pun dari anak-Nya untuk menerima kuasa kesembuhan-Nya?
Itu benar. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya mencoba berkhotbah secara kuat dan saya katakan bahwa si sakit yang mau sembuh memerlukan iman, perlu ini dan itu. Walau ini benar tetapi ini tidak menghasilkan iman. Jadi sekarang saya hanya khotbahkan sesuatu yang menghasilkan iman saja. Saya tidak membicarakan masalahnya tapi saya khotbahkan solusinya. Saya tidak mengutuk kegelapan tapi saya khotbahkan tentang terang.
Dalam festival yang Anda layani, jemaat yang sakit selalu didoakan secara umum saja dan banyak yang disembuhkan. Tetapi mengapa masih ada juga yang mendesak maju ke mimbar untuk ditumpangkan tangan, padahal sudah dijelaskan bahwa yang maju untuk ke mimbar hanya mereka yang akan bersaksi karena telah menerima kesembuhan dari Tuhan?
Kita harus memahami sifat alamiah umat Tuhan. Saya tidak terganggu dengan hal ini. Dalam berbagai festival yang kami adakan saya sudah belajar suatu hal bahwa jika saya mendoakan mereka secara individu maka hasilnya ada yang sembuh dan ada juga yang tidak sembuh, sehingga terjadi disintegrasi dalam ibadah. Memang ada yang minta didoakan secara individu tetapi saya tidak menanggapi hal ini secara negatif tapi dalam ibadah yang kami adakan selama 4-5 hari berturut-turut, maka hasilnya akan jauh lebih baik. Ada yang berkata bahwa dia sudah mengikuti dari hari pertama sampai ketiga dan hari itu dia disembuhkan Tuhan. Dengan cara inilah Tuhan membantu saya, dan hasilnya pun jauh lebih banyak walaupun saya tidak menolak untuk mendoakan orang secara individu. Saya doakan mereka secara umum dan dalam doa kesembuhan itu saya ucapkan apa yang Yesus telah lakukan. Saya juga belajar dari pengalaman Pdt. T.L Osborn yang memberikan KKR di Surabaya pada tahun 1954 di mana KKR berlangsung sedemikian indahnya dan kesembuhan terjadi pada ribuan orang yang hadir dalam KKR itu. Jika saya harus menumpangkan tangan pada seseorang secara individu maka saya akan menjadi sangat keletihan.
Dengan banyaknya yang sembuh di festival-festival itu, apakah ini seturut dengan khotbah Anda yang disebut dengan kesembuhan massal?
Kesembuhan massal didasarkan pada penanganan Tuhan secara pribadi dengan umat-Nya, juga iman si individu di dalam Kristus. Tetapi itu semua terjadi pada waktu yang bersamaan.
Karena bersifat individu, apakah itu sebabnya tidak semua yang sakit memperoleh kesembuhan?
Jika dalam festival itu kita berikan pengajaran selama beberapa hari maka iman akan bertumbuh. Seringkali yang hadir berkata bahwa dia telah mengikuti festival selama beberapa hari dan pada hari ketiga, dia telah disembuhkan dari segala sakit penyakitnya. Jika ada yang tidak sembuh kita tidak menghakimi atau menghukum mereka dengan mengucapkan perkataan yang negatif, tetapi kita bertanya berapa dari saudara yang sudah mendengarkan Firman Tuhan selama beberapa hari dan merasa imannya sudah dikuatkan?
Saya tidak berusaha kumpulkan alasan mengapa ada yang sembuh dan mengapa sebagian dari mereka tidak sembuh, tapi saya serahkan ini semua kepada Tuhan. Paulus berkata agar kita tidak menilai sesuatu dari luarnya. Tugas saya adalah memberitakan kabar baik kepada mereka dan bukan untuk menghakimi mereka.
Seringkali ada juga yang disembuhkan setelah beberapa hari dan bukan seketika di tempat festival berlangsung. Apakah ini yang disebut kesembuhan progresif?
Kesembuhan progresif bisa saja terjadi karena Firman Tuhan masih sedang bekerja dalam hati orang itu. Demikian juga dalam pelayanan Yesus, ada yang seketika sembuh tetapi ada juga yang sembuh beberapa saat kemudian setelah didoakan.
Mengapa dalam ibadah kesembuhan Anda menyebutnya sebagai Festival dan bukan Crusade atau Revival Meetings (KKR)?
Kata Crusade (KKR) adalah kata yang melukai saudara sepupu kita dari agama lain, sedangkan kata Revival tidak kita gunakan dalam ibadah kita. Kita menyebutnya Festival atau Celebration (perayaan). Misalkan kalau diadakan di Surabaya, kami menyebutnya di poster sebagai Surabaya Festival bukan Jesus Festival atau Festival Injil. Ini sama sekali tidak memberikan kesan agamawi. Orang bertanya apa ini? Mereka tidak tahu dan datang menghadirinya. Kita bahkan tidak gunakan lambang gereja seperti salib dan sebagainya. Ada yang bertanya kepada saya apakah saya telah berkompromi? Kita tidak berkhotbah di poster atau di iklan tetapi kita berkhotbah di festival. Setelah mereka ada di festival, baru kita sampaikan Injil kepada mereka.
Seringkali orang Kristen memiliki suatu konsep yang salah dalam hal bersaksi tentang Kristus kepada orang lain yaitu dengan cara membawa orang ke gereja atau menjadikan dia Kristen dan bukan memberitakan Kristus kepada orang tersebut. Apakah pendapat Bapak tentang hal ini? Kita tidak pernah meminta orang-orang untuk menjadi Kristen tetapi menjadikan mereka orang yang percaya kepada Yesus (Jesus' believers). Bukan merubah agama orang itu. Yesus dan Petrus sendiri tidak pernah menggunakan istilah Kristen untuk orang percaya. Saya juga tidak gunakan istilah ini. Kalau hal ini terjadi maka kita akan disangka mengkristenkan mereka. Kita menawarkan hidup baru dalam Kristus. Saya percaya bahwa setelah mereka terima Kristus mereka akan mengerti bahwa mereka harus pergi ke gereja.
Bagaimana Anda mulai mengalir dalam pelayanan kesembuhan seperti ini?
Saya menerima panggilan dari Tuhan saat berusia 19 tahun. Panggilan ini berjalan dalam beberapa tahap yang terus berkelanjutan, bukan dalam seketika secara sekaligus. Pertama, Tuhan meletakkan rasa lapar di hati saya dan untuk mengenal kuasa kesembuhan-Nya dan juga mereka yang terhilang tanpa Kristus. Lalu saya mulai mengejar setiap kesempatan ketika masih berusia remaja dan satu hal itu terus menuntun saya untuk lebih maju dalam hal berikutnya. Saat saya melihat pernyataan mujizat Tuhan dinyatakan, iman saya terus bertumbuh untuk lakukan hal yang lebih besar. Dalam Festival saya yang pertama di Toronto, saya belum pernah melihat seorang pun yang disembuhkan, satu-satunya orang yang disembuhkan Tuhan adalah seorang pria dengan telinga yang tuli. Saya tidak berdoa untuk dia, bahkan saya tidak berani bertanya apakah ada yang sembuh. Sesuatu yang tidak bisa saya percaya yaitu saat dia berkata bahwa dia telah disembuhkan dari tulinya.
Apakah anda juga mengkhotbahkan tentang kesembuhan pada saat itu?
Saya memang mengkhotbahkan tentang kesembuhan. Sesungguhnya ada perbedaan yang besar antara seseorang yang berkhotbah tentang kesembuhan dengan hamba Tuhan yang mempraktekkan tentang kesembuhan itu. Orang yang berkhotbah tentang kesembuhan tidak terjadi sesuatu lalu jemaat pulang setelah ibadah selesai. Tapi, yang mempraktekkan kesembuhan akan berkata bahwa kesembuhan itu akan terjadi sekarang. Iman saya bertambah setelah menyaksikan pria yang telinganya disembuhkan dari tulinya. Beberapa bulan kemudian saya melihat yang matanya buta melihat. Dua tahun setelah peristiwa itu, iman saya bertambah kuat saat saya melihat yang timpang berjalan. Pria itu bukan seorang Kristen tetapi Hindu, saat saya doakan secara umum dia belum bangkit dari tempat tidurnya tetapi keluarganya menempatkan dia di tengah mimbar. Saat saya doakan dia secara pribadi, dia tiba-tiba bangkit dan berjalan. Sejak saat itu saya mulai menyadari bahwa kuasa kesembuhan Tuhan itu nyata.
Festival Anda di Bandung tahun lalu dihentikan oleh massa yang tidak senang dengan pelayanan Anda. Sesungguhnya, apa yang terjadi di sana?
Singkatnya, sebelum festival berlangsung, mereka yang dari kelompok agama yang fanatik mengadakan demo dan berbaris hampir di seluruh kota Bandung. Foto saya diinjak-injak mereka sambil menjerit-jerit. Polisi ada di mana-mana dan mereka hanya ijinkan dua hari saja untuk festival di Bandung. Tetapi pada malam kedua, terjadi hal yang luar biasa indahnya. Sebelumnya, polisi berkata agar festival harus dihentikan pada pukul 19.00 WIB tetapi pada pukul 18.57 WIB, Tuhan ikut campur tangan saat seorang wanita dari agama sepupu kita tiba-tiba bangkit dari kursi rodanya dan berjalan. Demo itu tiba-tiba berhenti dan semua orang yang di luar mendesak masuk. Setelah itu banyak yang timpang berjalan. Yang tidak banyak orang ketahui adalah bahwa setelah festival usai para pemimpin dari agama lain dan pemimpin partai politik di sana datang kepada saya dan meminta maaf. Ini sangat mengharukan. Salah satu dari mereka yang menangani anak-anak cacat berkata bahwa beberapa dari anak asuh mereka telah disembuhkan Tuhan. Mereka meminta saya untuk datang kembali ke kota Bandung, bahkan saya ditawari militer sipil untuk melindungi saya. Hal ini sangat positif. Mereka berkata bahwa kalau saja mereka tahu bahwa pelayanan saya seperti ini mereka tidak akan ijinkan demo terjadi. Mereka juga menyurati saya dan berkata bahwa mereka sudah tidak sabar untuk menantikan kedatangan saya berikutnya di kota Bandung dan berkata kepada gereja-gereja agar mendukung festival saya. Tentu saja kita tidak berharap mereka akan duduk di mimbar bernyanyi atau berkhotbah, tetapi dukungan mereka dalam bentuk bantuan keamanan. Jadi setiap saya pergi ke suatu kota saya senantiasa mencoba bertemu dengan para pemimpin agama mayoritas di sana, berdiskusi sambil makan malam. Alkitab berkata bahwa seorang yang bodoh selalu memulai suatu pertengkaran, tetapi orang yang bijak akan mencari sahabat. Saya memilih untuk menjadi orang bijak dan hasilnya di Bandung justru di luar dugaan banyak orang. Kami semua mengalami waktu yang menyenangkan di sana.
(sinwo, jojo, jos)
2 Agustus 2005.
sumber :http://www.bethanygraha.org/
- Printer-friendly version
- Login or register to post comments













sabda.org