Hormat Kepada Para Penguasa

"Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita." (Rom. 13:5, LAI).
Sabbath, 7 August Perspektif David

PENDAHULUAN
1 Sam. 26:23

Tampaknya jauh lebih gelap dari dasar goa tempat persembunyianku. Bulan tampak keperakan. Langit berawan bermain petak umpet dengan kelipan bintang. Aku tidak mendengar apapun, bahkan tidak simponi jangkrik-hanya napas pendek dan dangkal dari orang yang terbaring di tanah. Dia berbalik. Jendral Abner terbaring dalama tumpukan tak jauh dari situ. Para pengawal menggorok dengan kerasnya, tubuh mereka yang kecapekan menutupi bebatuan.

Sebercak cahaya dipantulkan oleh emas yang melingkari kepalanya. Tombaknya tertancap di tanah. Panjinya terjuntai dan bergoyang oleh tiupan angin sepoi. Ya, ini adalah Raja Saul, orang yang memburuku seperti binatang buruan. Dia telah jatuh dari Allah. Bagaimana Allah kok ingin dia jadi raja? Samuel telah mengurapiku sebagai raja Israel. Sekarangkah waktunya?

Apa itu penguasa? Apakah Allah benar-benar awal dari semua penguasa? Apakah penguasa itu memilih untuk mengikuti Allah atau tidak itu adalah pilihan mereka. Allahku bukanlah Allah yang pemaksa. Aku tahu Dia menginginkan aku untuk mengikuti Dia, jadi menjadi yang paling baik dari kemungkin yang mungkin. Sekarang apa pilihanku?

Apakah Allah punya hak untuk jadi pengendali? Ya! (Maz. 100:3). Hak apa yang dipunyainya untuk jadi pengendali? Segalanya! (Kej. 1:1, Maz. 47:7). Bagaimana hal ini mempengaruhi hubunganku dengan Allah? Allah telah memberikan kita figur penguasa sebagai teladan dari apa yang diinginkannya. Raja Saul telah membuktikan bahwa dia tidak lagi ingin mengikuti Tuhan Allah kita. Saya tahu, walaupun begitu, bukanlah jadi alasan bagi kita untuk tidak menghormati dia atau, paling jelek, mencelakainya dalam hal apapun.

Ini adalah kali kedua aku menghadapi keputusan seperti ini. Disini dia tertidur. Tidak ada seorangpun yang tahu aku di sini. Aku tahu bagaimana cara membunuh. Banyak pertempuran telah mengajarkanku caranya. Sekali pukul maka akan selesai segalanya. Tetapi apa akibat dari pengambilan nyawa ini? Akhirnya aku akan jadi raja juga. Tetapi akan jadi seperti apa aku ini nantinya, dari kerajaan Allah? Dapatkah aku menjadi Raja yang diberkati Allah? Apa yang diinginkan Allah aku lakukan?

Disini saya berdiri. Ditanganku aku memegang tombak yang bukan milikku, buli-buli air yang bukan milikku. Aku berteriak. Aku memanggil. Dia mendengar. "TUHAN menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN" (1 Sam. 26:23 LAI)

Bagi sobat-sobatku di tahun 2004 satu-satunya waktu seseorang tidak mesti mematuhi figur penguasa adalah pada waktu mereka memberikan perintah yang bertentangan dengan hukum Allah (Kis. 4:19 LAI). Kita (ya, kita juga) perlu untuk mengerti pentingnya mendengar dan mematuhi para figur penguasa bumi. "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi," Kita melakukan semuanya ini demi Tuhan. Allah ingin kita mengetahui bahwa Dia adalah raja kita, seseorang yang dapat dipercaya dan dipatuhi. Allah menginginkanku untuk menjadi Teladan kepada dunia tentang bagaimana para pengikut Allah menghubungkanku dengan orang lain (ayat 15-17).. Allah menginginkanku untuk menunjukkan kepadaNya kesetianku dan melakukan apa yang dimintaNya karena kasihku kepadaNya (Yoh. 14:15)

Aku tidak sempurna, banyak kali aku berantakan. Ambillah kebenaran ini dariku untukmu: Allah menginginkau suatu hubungan yang padu, kasih, hidup, dan rajani dengan kamu. Aku tahu itu! (Maz. 9:9-11).

Dalam Kasih Allah, hambamu,

David bin Isai

Richard Gray, Mount Pearl, Newfoundland

Kutipan: Apakah Allah benar-benar awal dari semua penguasa?

Minggu 8 August Apakah saya Warganegara Model?

LOGOS

Matt. 5:13-16; 22:15-21; Kis 5:29; Rom. 13:1-5; 1 Pet. 2:13-15

Kota Di atas Gunung (Mat 5:13-16)

John Calvin menyatakan Genewa segagai "Kota diatas Gunung" (Mat. 5:14, LAI), dimana warganegara yang dipilih Allah mendemonstrasikan nasib akhir mereka dengan perbuatan baik. Pada tahun 1630, John Winthrop mengutip Mat 5:13-16 pada waktu dia mengungkapkan missinya dan teman-teman Puritannya di Massachusetts. Baru-baru ini administrator Gereja Advent telah mencoba untuk menciptakan masyarakat model di rumahsakit, industri, dan sekolah. Beberapa yang hidup di lingkungan ini menyenanginya. Tetapi seringkali usaha terbaik kita untuk menciptakan sorga di dunia ini melahirkan penolakan, kritik, dan kemarahan.

Mungkin penterjemahan pada waktu Calvin dan Winthrop dalam menghormati perikop ini salah. Mungkin Jesus tidak membicarakan tentang membuat masyarakat Kristen. Sisa dari kotbah di atas bukit kelihatannya diarahkan kehubungan individu manusia dengan masyarakatnya. Masyarakat model rohani mengarah ke Parisian, suatu kepercayaan yang dapat diciptakan untuk orang-orang benar dengan cara membuat dan memaksakan aturan-aturan ketat. Kota yang dinyatakan Yesus bukanlah diterangi oleh lampu yang dinyalakan oleh pemerintah. Gantinya itu diterangi oleh banyak lilin kecil, diletakkan di jendela individu-individu, setiapnya digerakkan oleh rasa kepribadian yang menyatakan mereka membutuhkan terang.

Kaisar versus Allah (Mat. 22:15-21; Kis. 5:29; 1 Pet 2:13-15)

Sepanjang pelayananNya, Kristus menunjukkan ketidakpedulian terhadap politik yang membuat banyak murid menjadi frustrasi. Itu adalah era yang disebut sebagai pemimpin revolusioner. Tetapi pada waktu tentara Roma memaksa sahabat Yahudi mereka untuk menjadi kuda beban, Yesus mengatakan kepada yang tertindas untuk berjalan mil yang kedua (Mat. 5:41). Pada waktu orang-orang bangkit untuk mengangkat dia menjadi pemimpin mereka, Yesus menolak (Yoh 6:15). Pada waktu ditanya apakah pajak Roma yang mereka benci mesti diboikot dengan dasar keagamaan, Yesus mengatakan, "Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi hak Kaisar" (Mat. 22:21, LAI)

Bahkan dalam pengadilanNya Yesus menunjukkan hormat kepada Imam besar (Yoh. 18:21-23). Dan menurut Yesus, otoritas Pilatus untuk mengadili diberikan kepadanya oleh Allah (19:11). Baik imam besar maupun Pilatus menggunakan otoritas yang diberikan Allah dengan baik. Tetapi Yesus, melihat mereka sebagai alat Illahi, patuh sampai mati.

Tetapi sebaliknya pengikutnya, Petrus dan para rasul, berdiri tegak melawan otoritas lokal mereka. Diinstruksikan untuk tidak mengajar dalam nama Yesus, mereka mengatakan kepada Senat, "Kita harus lebih taat kepada Allah dari pada kepada manusia" (Kis 5:29 LAI). Petrus sendiri akan dihukum dan tentu, menurut tradisi, dihukum, karena ketidak patuhannya kepada otoritas dunia. Tetapi Petruslah yang menasehati kita bahwa Gubernus dikirim oleh Allah untuk menghukum orang yang salah (1 Pet. 2-13-17). Apakah ini membuat Petrus sebagai orang yang bersalah?

Lakukan apa yang dikatakan Paulus, bukan apa yang dilakukan Paulus? (Rom. 13:1-5)

Dalam cara yang sama tulisan Paulus tampaknya berlawanan dengan tindakannya. Dia memerintahkan orang Kristen Romawi untuk mematuhi otoritas yang berkuasa. Tetapi dalam buku Kisah, kita baca bahwa Paulus ditahan karena memulai huru hara (Kis 24:5). Walaupun orang Kristen mula-mula tampaknya ingin menjadi warganegara model yang patuh akah hukum, mereka mempunyai reputasi untuk menjadi pembuat masalah.

Tentu saja saya membesar-besarkan kontradiksi Paulus (dan juga Petrus) untuk penekanan argumen. Ada bukti bahwa Paulus bangga menjadi warganegara Roma (21:39). Dia naik banding ke sistem pengadilan Roma untuk menyelamatkan dia (22:25; 25:10, 11). Salam seperti banyak orang lain dalam masyarakatnya, dia rindu untuk mengunjungi kota terkenal itu, hanya saja dalam kasus Paulus adalah mimpinya untuk mengevangelisasi ibukota kerajaan itu (Rom 1:15).

Paulus (seperti Yesus) tidak ingin merubah dunia dengan revolusi massa, tetapi dengan perubahan individu. Sebagai warganegara dia mengagumi sistem Romawi, tetapi sebagai orang Kristen dia mempunyai iman akan otoritas Allah yang lebih tinggi. Pada waktu pengadilan Roma menjatuhkannya, iman Paulus akan Illahi dibangkitkan oleh kunjungan malam Yesus di penjara. "Kuatkanlah hatimu" kata Yesus kepadanya, "sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma." (Kis. 23:11, LAI)

Setia sampai Mati (Fil 1:19-21)

Sebagai orang Kristen kita dipanggil untuk menjadi setia kepada figur otoritas pilihan Allah. Tetapi jika otoritas itu bertentangan dengan hukum Allah, HukumNya yang terutama.

Seperti Yesus, Petrus, dan Paulus, Orang Kristen dari seluruh generasi telah menemukan diri mereka ditangkap karena iman mereka. Tetapi sementara Petrus mengayunkan pedangnya di taman Yesus memperingatkan dia, kita tidak membela Tuha kita dengan paksaan. Sebagai gantinya penurutan kita akan otoritas mestilah penurutan sampai mati.

Mungkin seperti Pulus, kita dapat men356akan, "bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil" (Fil. 1:19-21).

REAKSI